20
KONSEP NASIONALISME DALAM MAJALAH
DAULAT RA’JAT, 1931-1934
Ilham Nur Utomo & Neilia Kamal
Alumni Program Studi Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia Corresponding Email: [email protected]
Abstract
This article aims to discuss nationalism concept in the Daulat Ra’jat magazine in 1931-1934. Nationalism became an important issue in national movement periode were disseminated through the press. This study is based on historical methods: heuristic, criticism, interpretation, and historiography. The published of Daulat Ra’jat magazine was affected by the conflict between two groups of PNI members after disbaded. The group named Golongan Merdeka which later envolved into PNI Baru publised Daulat Ra’jat as movement media and cadres education. Daulat Ra’jat became education magazine because it purpose to educating cadres and contains theoretical and conceptual writings. Nationalism became an interesting topic to be published because it vocalizes national conscious and was at the same time actualized in the PNI Baru Movement. This study showed that ethnicity still became important issue and probleme in Indonesia national movement after Sumpah Pemuda in 1928. Nationalism in Daulat Ra’jat not fully oriented to the West, but it also based on the diversity people of Hindia Belanda, disseminated by education, different from the most movement groups at the time which tend to be aggressive. In this case, Daulat Ra’jat required a national with no sence of superiority in certain races, neutral towards religion, and ruled out a sense of provinsialism amid the enthnic diversity.
.
Keywords: Daulat Ra’jat, Nationalism, PNI Baru. Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mendedah konsep nasionalisme dalam majalah Daulat Ra’jat tahun 1931-1934. Nasionalisme menjadi isu penting selama masa pergerakan nasional yang disebarluaskan melalui pers, sehingga penting mengetahui konsep nasionalisme yang dimuat dalam Daulat Ra’jat. Studi ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Terbitnya Daulat Ra’jat dilatarbelakangi oleh pertentangan antara dua kelompok anggota PNI setelah dibubarkan. Kelompok yang menamakan sebagai Golongan Merdeka yang kemudian berkembang menjadi PNI Baru menerbitkan Daulat Ra’jat sebagai media pergerakan dan pendidikan kader. Daulat Ra’jat menjadi majalah yang bersifat edukatif karena bertujuan mendidik kader dan memuat tulisan-tulisan teoritis dan konseptual. Nasionalisme menjadi topik yang menarik untuk dimuat karena menyuarakan kesadaran berbangsa dan sekaligus diaktualisasikan dalam pergerakan PNI Baru. Kajian ini menunjukkan bahwa etnisitas masih menjadi isu dan permasalahan penting dalam pergerakan nasional Indonesia setelah peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1928. Nasionalisme dalam Daulat Ra’jat tidak sepenuhnya berkiblat pada Barat, tetapi juga bersumber dari keberagaman penduduk Hindia Belanda, yang disebarluaskan secara edukatif, berbeda dengan kebanyakan kelompok pergerakan pada masa itu yang cenderung agitatif. Konsep bangsa dalam Daulat Ra’jat adalah tidak adanya rasa superioritas pada ras tertentu, netral terhadap agama, dan mengenyampingkan rasa provinsialisme di tengah keberagaman suku bangsa.
21
PENDAHULUAN
Dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, pers tidak dapat dipisahkan dari konstelasi pergerakan politik bumiputra untuk mencapai Indonesia merdeka. Diberlakukannya politik etis pada awal abad XX memberikan sumba-ngan bagi perkembasumba-ngan pemikiran bumiputra melalui pendidikan yang pada saat itu mulai menjangkau struktur sosial bawah. Pendidikan menjadi katalisator lahirnya ide-ide baru yang bersifat modern. Di sisi lain, pers muncul se-bagai media untuk mengekspresikan ide-ide bumiputra yang terus mengalami kemajuan, khususnya mengenai pergerakan nasional.
Pers dan pergerakan nasional saling ber-kelindan, di mana sejak lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908, pers digunakan sebagai sarana komunikasi yang utama guna menumbuhkan kesadaran dan menyebarluaskan kebangkitan bangsa Indonesia (Hutagalung, 2013). Di sam-ping itu, menurut (Yuliati, 2000: 228) pergera-kan nasional dan pers bumiputra merupapergera-kan dua bidang kegiatan bangsa Indonesia yang hidup berdampingan secara simbiotik.
Pergerakan nasional pun tidak dapat di-lepaskan dari konsep-konsep bangsa yang pada awal abad XX merupakan konsep baru yang berkembang di Hindia Belanda. Bangsa atau nasion menurut Stalin adalah komunitas yang stabil, terbentuk secara historis berdasar kesamaan wilayah, bahasa, ekonomi, dan ka-rakter psikologis sebagaimana termanifestasi-kan dalam kebudayaan bersama (Budiawan, 2017: 3). Momentum Sumpah Pemuda tahun 1928 semakin menandakan bahwa nasionalisme menempati posisi penting dalam pergerakan nasional. Berkaitan dengan hal itu, nasio-nalisme secara sederhana diartikan sebagai ideologi yang menekankan para pengikutnya untuk mencintai bangsanya (Sulistiyono, 2018; 4). Kesadaran akan berbangsa semakin kuat, dan nasionalisme semakin didengungkan oleh pers pergerakan nasional.
Pers memiliki makna yang meliputi alat atau mesin pencetak, percetakan dan
pener-bitan, media cetak seperti koran, majalah, bule-tin, dan sebagainya (Yuliati, 2018: 253). Daulat Ra’jat merupakan majalah yang pertama kali terbit pada tahun 1931 dengan memuat tulisan-tulisan mengenai pergerakan nasional. Posisi penting Daulat Ra’jat sebagai pers pergerakan nasional tidak terlepas dari peran Mohammad Hatta sebagai pendiri, dewan redaksi, dan seka-ligus kontributor. Tokoh pergerakan seperti Sjahrir, Bondan dan Boerhanoedin juga ber-konstribusi banyak dalam penerbitan Daulat Ra’jat, melalui tulisan yang merepresentasikan gagasan-gagasan mereka mengenai pergerakan nasional.
Legge (1981) melalui tulisannya berjudul Daulat Ra'jat and the Ideas of the Pendidikan Nasional Indonesia menjelaskan mengenai gagasan-gagasan PNI Baru yang terdapat dalam Daulat Ra’jat. Menurutnya, nasionalisme, de-mokrasi dan gagasan tentang gerakan massa yang menuju kemerdekaan tetap menjadi pusat retorika PNI Baru seperti halnya retorika para pendahulunya (Legge, 1981: 166). Namun, Legge tidak banyak mengupas konsep nasio-nalisme dalam Daulat Ra’jat. Ia lebih fokus membahas bagaimana pergerakan PNI Baru yang diselaraskan dengan gagasan-gagasan PNI Baru dalam tulisan-tulisan yang diterbitkan dalam Daulat Ra’jat, di mana rivalitas antara PNI Baru dan Partindo ditampilkan sebagai bahan perbandingan. Oleh karena itu, konsep nasionalisme dalam majalah yang dijadikan sebagai media pendidikan kader tersebut perlu untuk diperdalam lagi dan ditekankan pada peran Daulat Ra’jat sebagai pers pergerakan nasional.
Pers atau media massa menurut Suroyo (2002: 9) menjadi faktor penting untuk menum-buhkan kesadaran berbangsa yang proses persebarannya disalurkan ke masyarakat luas. Begitu pula tulisan tentang nasionalisme yang diterbitkan dalam Daulat Ra’jat memiliki peranan penting terhadap pergerakan nasional. Daulat Ra’jat menjadi media perekam perkem-bangan nasionalisme sebelum proklamasi
ke-22 merdekaan, karena tulisan yang diterbitkan dipengaruhi oleh jiwa zaman pada masa itu dan merupakan elaborasi dari masa sebelumnya. Hal tersebut menjadi penting karena menurut (Nasution, 2018: 199), nasionalisme Indonesia terikat dengan sejarah kolonialisme. Pentingnya Daulat Ra’jat dalam hal ini juga tidak terlepas dari kedudukannya sebagai majalah pendidikan kader yang memiliki fungsi edukatif untuk para kader PNI Baru, terutama terkait pemahaman tentang nasionalisme.
Dengan memahami konsep nasionalisme dalam Daulat Ra’jat diharapkan dapat membe-rikan gambaran mengenai alur perkembangan nasionalisme Indonesia, khususnya pada masa pergerakan nasional. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mendedah bagaimana konsep nasionalisme dalam Daulat Ra’jat tahun 1931-1934. Berdasar uraian tersebut, pembahasan dalam artikel ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu latar belakang kelahiran Daulat Ra’jat, peran Daulat Ra’jat sebagai majalah pendi-dikan kader PNI Baru, dan konsep nasionalisme dalam Daulat Ra’jat.
METODE
Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode sejarah, yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Menurut Gottschalk (1975: 32), metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa reka-man dan peninggalan masa lalu sebagai sumber sejarah secara kritis. Sumber-sumber yang digunakan dalam kajian ini meliputi majalah Daulat Ra’jat terbitan tahun 1931-1934 sebagai sumber primer, dan buku-buku yang berkaitan dengan Daulat Rajat sebagai sumber pendu-kung. Dilakukan kritik terhadap sumber-sumber tersebut dengan melakukan koroborasi dan me-ninjau siapa yang menyusun sumber tersebut.
Guna memahami konsep nasionalisme yang terbit dalam bentuk tulisan, digunakan pendekatan analisis isi. Menurut Krippendorf (2004: 24), analisis isi adalah teknik penelitian untuk menghasilkan kesimpulan yang replikatif
dan valid dari teks ke dalam konteks yang sesuai dengan penggunanya. Melalui analisis isi, tulisan-tulisan yang memuat pengertian nasionalisme dalam Daulat Ra’jat dianalisis dengan melihat konteks zaman dan menekan-kan pada subtansi tulisan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kelahiran Daulat Ra’jat
Penangkapan terhadap pimpinan Partai Na-sional Indonesia (PNI) pada akhir tahun 1929 berdampak terhadap konstelasi pergerakan nasional yang semakin meredup. Sukarno sebagai tokoh pergerakan turut ditangkap dalam aksi yang dilakukan oleh polisi Hindia Belanda. Terjadi perbedaan pendapat di antara kader PNI atas peristiwa penangkapan pimpinan PNI, hingga pada akhirnya Sartono membubarkan PNI. Para mantan kader PNI kemudian terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang kemudian mendirikan Partai Indonesia (Par-tindo) dan kelompok yang menamakan diri sebagai Golongan Merdeka.
Golongan Merdeka terdiri dari para man-tan anggota PNI dan mahasiswa-mahasiswa bumiputra yang sedang menempuh pendidikan di Belanda. Mereka kecewa dengan pem-bubaran PNI yang diputuskan oleh Sartono. Mohammad Hatta merupakan salah satu tokoh pergerakan yang menentang keputusan Sartono tersebut. Ia kemudian berkeinginan mendirikan sebuah organisasi pergerakan yang lebih terarah dengan membentuk kader yang mandiri. Kesepakatan kemudian dilakukan Hatta dengan Soedjadi, salah seorang tokoh terkemuka Go-longan Merdeka untuk menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama Daulat Ra’jat (Hatta, 1978: 242). Pada Desember 1931, Golongan Merdeka berkembang menjadi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) dan sejak saat itu Daulat Ra’jat menjadi organ PNI Baru (Legge, 1981: 156).
Majalah Daulat Ra’jat terbit sepuluh hari sekali, terhitung sejak 20 September 1931. Terbitan pertama memuat tulisan berjudul Kata
23 Pendahoeloean Boeat Daulat Ra’jat di halaman awal majalah. Disebutkan bahwa penggunaan nama Daulat Ra’jat didasarkan pada maksud untuk bekerja guna menguatkan cita-cita ke-daulatan diri dalam hati rakyat (Daulat Ra’jat, 20 September 1931). Asas kerakyatan menjadi jalan Daulat Ra’jat dalam mewujudkan ke-daulatan rakyat. Istilah “Daulat Ra’jat” tidak hanya sekadar nama, tetapi juga merepresen-tasikan semangat dan tujuan penerbitan majalah tersebut.
Gambar 1. Terbitan awal Daulat Ra’jat. Sumber: Daulat Ra’jat, 20 September 1931.
Dalam menjalankan aktivitasnya, alamat kantor Daulat Ra’jat terbagi menjadi dua. Pertama, alamat administrasi di Struiswijk-straat 57 Batavia Centrum. Kedua, di Gang Lontar IX/42 Batavia Centrum sebagai kantor redaksi. Proses pencetakan dilakukan di perce-takan Kenanga, sehingga dibutuhkan mobilitas dari kantor ke tempat percetakan dan se-baliknya. Adapun dalam proses produksinya digerakan oleh Commissie van Redactie di bawah pimpinan Sukarta, dan untuk kon-tributornya terdiri dari Wijono, Samidin, Siswarahardja, Mohammad Hatta, Sjahrir, dan Suparman (Daulat Ra’jat, 20 September 1931). Para pengurus tersebar di beberapa daerah Hindia Belanda, dan sebagian berada di Belanda seperti Hatta (Rotterdam), Sjahrir (Amsterdam), dan Suparman (Leiden). Adanya
kontributor yang berada di Belanda memberi warna tersendiri bagi Daulat Ra’jat karena dalam proses penulisan dan produksi tidak mengenal batasan wilayah.
Perubahan kepengurusan terjadi ketika Mohamamad Hatta kembali ke Hindia Belanda. Sejak terbitan tanggal 10 Agustus 1932, Mo-hammad Hatta tidak lagi terdaftar sebagai kontributor Eropa. Kemudian pada September 1932, dewan redaksi dipimpin oleh Mohammad Hatta (Daulat Ra’jat, 10 September 1932) Ia menunjukkan peran signifikan dalam pergera-kan Daulat Ra’jat setelah kembali ke Hindia Belanda dan memimpin majalah yang ber-kantor di Gang Lontar tersebut.
Guna menjaga konsistensi dan men-dukung kegiatan penerbitan, setiap eksemplar majalah Daulat Ra’jat dijual dengan harga 15 sen. Selain itu, ditarik biaya iklan sebesar 20 sen untuk satu barisnya. Iklan-iklan tersebut dimuat di halaman akhir majalah dengan berbagai gambar yang menawarkan produk tertentu. Daulat Ra’jat juga memiliki perwa-kilan di Bandung, Jakarta, Malang, Palembang dan Surabaya untuk memudahkan keperluan yang berhubungan dengan distribusi. Dalam hal ini, kelahiran Daulat Ra’jat sebagai majalah pergerakan nasional tidak semata-mata dido-rong oleh semangat politik, tetapi dikelola pula dengan cara yang penuh pertimbangan dan secara matang agar majalah dapat terus ber-kembang. Di tahun berikutnya, Daulat Ra’jat mengalami perkembangan signifikan dengan dukungan para kader PNI Baru.
Majalah Pendidikan Kader
Terbitnya Daulat Ra’jat memiliki latar be-lakang politis, didorong oleh inisiatif Golongan Merdeka untuk mengaktualisasikan gagasan pergerakan mereka. Berdasar latar belakang tersebut, Daulat Ra’jat merupakan majalah penting bagi Golongan Merdeka. Hatta (1978: 242) menekankan Daulat Ra’jat sebagai ma-jalah untuk mendidik kader dan mama-jalah tersebut akan mempertahankan asas kerakyatan
24 dalam susunan politik, ekonomi dan sosial. Berdasar pandangan Hatta mengenai majalah pendidikan kader, sejalan dengan jalan perge-rakan Golongan Merdeka yang membangun kader menggunakan jalan pendidikan.
Perkembangan Golongan Merdeka men-jadi PNI Baru tidak merubah dasar dari Daulat Ra’jat dari segi substansi dan repetisi terbitan. Selain itu, perkembangan tersebut tidak me-rubah landasan Daulat Ra’jat sebagai majalah yang berperan untuk mendidik kader, karena dalam anggaran dasar PNI Baru (Daulat Ra’jat, 30 Agustus 1932) pasal 4 tentang jalan yang dipakai PNI Baru dalam pergerakan tidak berubah, yaitu tetap untuk mendidik rakyat dalam hal politik, ekonomi dan sosial dengan memperhatikan asas kedaulatan rakyat. Dengan adanya PNI Baru, pengaruh positif didapat Daulat Ra’jat karena jumlah kader yang semakin meningkat berdampak pada ke-dudukan majalah yang semakin penting. Secara substantif semakin banyak pembahasan me-ngenai PNI Baru yang terdiri dari penjelasan tentang asas-asas dan aktivitas pergerakan.
Dalam kursus-kursus yang digelar oleh PNI Baru untuk para kader, Daulat Ra’jat dijadikan sumber bacaan bagi mereka yang bertugas memberikan kursus. Selain Daulat Ra’jat, sumber bacaan tersebut meliputi Indo-nesia Vrij dan Tujuan dan Politik Pergerakan Nasional di Indonesia karya Mohammad Hatta, serta Indonesia Menggugat karya Sukarno (Hatta, 1978: 262). Dijadikannya Daulat Ra’jat sebagai sumber bacaan untuk mengisi kursus semakin menguatkan kedudukan majalah tersebut sebagai media pendidikan kader. Keputusan tersebut bukan suatu kesalahan, karena sebagian besar materi yang diterbitkan berisi mengenai teori-teori dan penjelasan ten-tang konsep-konsep pergerakan. Oleh karena itu, Daulat Ra’jat juga disebut sebagai majalah teori yang edukatif.
Gambar 2. Surat Kiriman yang terbit dalam Daulat Ra’jat. Sumber: Daulat Ra’jat, 30 September 1932.
Selain tulisan pimpinan PNI Baru, Daulat Ra’jat menerima kiriman tulisan dari para kader, sehingga menjadi media untuk meng-ekspresikan gagasan kader selama menerima pendidikan dan aktif dalam pergerakan bersama PNI Baru. Hal itu tidak terlepas dari dorongan Hatta kepada para pimpinan PNI Baru agar mereka membiasakan diri menulis, terutama dalam Daulat Ra’jat (Noer, 2018: 11). Daulat Ra’jat juga menerima surat kiriman yang kemudian diterbitkan. Semisal pada terbitan 30 September 1932, dimuat surat kiriman berjudul No Sacrifice is Wasted: Tidak Ada Korban jang Terbuang. Surat kiriman tersebut membahas mengenai kelemahan organisasi-organisasi gerakan dan gagasan untuk mengatasi per-masalahan tersebut. Meski tidak ditulis oleh tim redaksi, tulisan surat kiriman memiliki nilai edukatif bagi para kader PNI Baru (Daulat Ra’jat, 30 September 1932).
25 Pada tahun 1932, Daulat Ra’jat meru-pakan salah satu majalah yang masuk dalam “zwarte lijst” (daftar hitam) yang dikeluarkan oleh otoritas militer Hindia Belanda. Majalah yang masuk dalam daftar hitam dianggap bersifat nasionalistis (De Tribune: Sociaal Democratie Weekblad, 12 Juli 1932). Sifat ter-sebut yang membahayakan bagi otoritas militer jika dibaca oleh para anggotanya. Dalam hal ini, Daulat Ra’jat merupakan antitesis bagi pemerintah, di mana bagi organisasi pergerakan majalah tersebut memberikan semangat nasio-nalisme secara edukatif.
Tulisan-tulisan yang edukatif dan menye-diakan ruang untuk menyuarakan gagasan kader, sudah lebih dari cukup menunjukkan bahwa Daulat Ra’jat merupakan majalah pen-didikan kader. Daulat Ra’jat merepresentasikan bahwa pers dan pergerakan nasional saling berkelindan dan memiliki peran sentral sebagai media pendidikan yang dapat dijangkau oleh kader yang tersebar di berbagai daerah di Hindia Belanda. Pergerakan pers seperti ini yang seringkali diangggap sebagai ancaman oleh pemerintah kolonial karena mengancam stabilitas politik di tanah jajahan.
Konsep Nasionalisme dalam Daulat Ra’jat
Daulat Ra’jat merupakan majalah pergerakan yang digerakan oleh PNI Baru sebagai majalah pendidikan kader dengan memuat topik tulisan berkaitan dengan pergerakan nasional. Dari sekian topik yang diterbitkan, nasionalisme menjadi salah satu yang terpenting karena men-cerminkan ide-ide persatuan sebagai sebuah bangsa, terlebih periode terbitnya Daulat Ra’jat tidak jauh dari peristiwa Sumpah Pemuda. Dalam beberapa terbitannya, pembahasan mengenai konsep nasionalisme ditulis oleh pimpinan PNI Baru, sekaligus merepresen-tasikan pemahaman mengenai konsep nasiona-lisme yang dipahami dan diaktualisasikan oleh PNI Baru.
Nasionalisme merupakan paham yang mulai berkembang di Hindia Belanda pada
periode awal abad XX. Organisasi pergerakan banyak menyadari pentingnya nasionalisme karena adanya keinginan untuk hidup bersama dan terlepas dari kungkungan kolonialisme. Menurut Sulistiyono (2003: 4), kesadaran dan kemauan untuk hidup bersama tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Oleh karena itu, konsep nasio-nalisme dalam Daulat Ra’jat secara ontologis dipengaruhi oleh konsep-konsep nasionalisme yang berkembang di tahun-tahun sebelumnya dan tidak lahir dengan sendirinya. Latar belakang pendidikan dan lingkungan mereka tinggal juga berpengaruh dalam membangun konstruk pemikiran tentang nasionalisme. Terutama pendidikan modern yang sebagian besar ditempuh pimpinan PNI Baru dan pertentangan yang mereka hadapi langsung antara bumiputra dengan pemerintah kolonial.
Dalam terbitan 10 Juni 1932, melalui tu-lisan berjudul Nasionalisme dijelaskan menge-nai pengertian-pengertian bangsa. Realpolitiker sebagai penulis menyitir pengertian bangsa dari enam ahli, yaitu Otto Bauer, Kant, Vierkandt, Ernest Renan, Meinieke dan Weber. Jika disim-pulkan secara sederhana dari keenam ahli tersebut adalah bahwa bangsa merupakan suatu kelompok atau kumpulan orang. Namun, dalam bagian lain dengan mengutip pandangan Tonnies, diterangkan bahwa di dalam pe-ngertian bangsa terdapat pertentangan dengan paham rakyat (volk) yang menunjukkan per-satuan keturunan atau darah, meskipun ke-duanya bersaudara (Daulat Ra’jat, 10 Juni 1932). Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa rakyat lahir secara organik, sedangkan bangsa lahir dari buah ide manusia yang bersifat modern.
Bangsa yang dipahami bukan bangsa seperti yang dikehendaki Hitler, Mussolini dan borjuis, tetapi bangsa dipahami sebagai tanda “nationaliteit” dalam pergaulan internasional (Daulat Ra’jat, 10 Januari 1934). Bangsa yang dikehendaki dalam Daulat Ra’jat adalah rakyat
26 yang tidak mengenal kelas, sehingga tidak ada superioritas pada ras tertentu, bersikap netral terhadap agama, serta tidak mengenal rasa provinsialisme. Bangsa merupakan entitas yang kosmopolitan. Bentuk tersebut dikategorikan sebagai nasionalisme sekuler. Kalangan kaum intelektual sebagai produk pendidikan Barat yang aktif dalam organisasi pergerakan menjadi ruang berkembangnya nasionalisme sekuler (Yuliati, 2012: 20).
Nasionalisme adalah ideologi dari bangsa, yaitu ikhtiar-ikhtiar, pikiran-pikiran, pelajaran-pelajaran yang berhubungan dengan bangsa (Daulat Ra’jat, 10 Juni 1932). Pergera-kan suatu bangsa tergantung bagaimana mereka memahami apa yang disebut nasionalisme, karena nasionalisme merupakan ideologi dari bangsa yang memiliki latar belakang berbeda. Setiap bangsa memiliki ragam ideologi ter-sendiri. Bahkan, nasionalisme di Indonesia dan Barat sama sekali tidak serupa (Daulat Ra’jat, 10 Juni 1932). Nasionalisme yang berkembang di kalangan bumiputra melalui organisasi-organisasi pergerakan menginginkan adanya kemerdekaan sebagai bangsa yang berdaulat. Pertentangan antara penjajah dan yang dijajah memupuk kelahiran dan perkembangan nasi-onalisme. Rasa antikolonialisme yang semakin meningkat turut meningkatkan kesadaran ber-bangsa. Hal ini dikarenakan nasionalisme Indonesia yang berbeda dengan nasionalisme Barat mempunyai basis sejarah pada kolo-nialisme, sehingga sifat antikolonialisme men-jadi bagian utamanya (Kartodirdjo, 1972: 55).
Permasalahan nasionalisme tidak sekadar berkutat pada permasalan antikolonialisme, tetapi juga dihadapkan pada permasalahan in-ternal bangsa. Mohammad Hatta dalam Daulat Ra’jat tanggal 20 Januari 1934 menuliskan tentang tantangan persatuan dalam bangsa. Menurutnya, masih banyak orang yang me-ngaku sebagai nasionalis Indonesia, akan tetapi sikap dan semangatnya masih terikat pada daerah dan tempat kelahiran (Daulat Ra’jat, 20 Januari 1934). Sikap tersebut dikenal dengan
istilah provinsialisme yang menghambat cita-cita persatuan bangsa. Provinsialisme berkaitan erat dengan sifat kedaerahan, yang meliputi bahasa, kepercayaan, hingga adat yang berlaku. Nasionalisme seseorang disebut representatif jika mereka tetap merasa gembira di manapun mereka berada, selagi masih berada di tanah airnya.
Keadaan suatu bangsa tidak ditentukan oleh bahasa yang sama dan agama yang serupa, melainkan oleh kemauan untuk bersatu (Daulat Ra’jat, 20 Januari 1934). Pandangan tersebut menegaskan, sebagaimana menurut Sulistiyono (2003: 4) bahwa nasionalisme berhubungan dengan kesadaran sebagai suatu komunitas untuk hidup bersama dengan cara tertentu guna mencapai suatu tujuan. Mohammad Hatta melalui tulisannya merepresentasikan bahwa nasionalisme tidak mengenal sekat-sekat keda-erahan, meskipun tiap daerah memiliki ke-biasaan dan adat masing-masing karena mereka disatukan oleh suatu tujuan bersama.
Konsep nasionalisme yang diterbitkan dalam Daulat Ra’jat semata-mata bukan se-kadar teori atau sebatas pengetahuan saja. Namun, sebagai bentuk ekspresi ide-ide atau gagasan-gagasan pimpinan dan kader PNI Baru dalam pergerakan nasional. Daulat Ra’jat menyuarakan ide-ide bumiputra sebagai anti-tesis pers kolonial. Hal itu sesuai dengan paham liberal, di mana setiap orang memiliki hak yang sama untuk berpendapat melalui pers, hak alamiah yang bukan berasal dari penguasa (Yuliati, 2018: 254). Pergerakan nasional yang erat dengan pertentangan antara bangsa Barat dengan bumiputra memengaruhi lahirnya nasi-onalisme. Ide-ide nasionalisme dalam Daulat Ra’jat juga dipengaruhi oleh ide-ide Barat yang berakumulasi dengan jiwa masyarakat bumi-putra, sehingga menumbuhkan corak khusus, dan tentunya berbeda dengan nasionalisme Barat.
27
SIMPULAN
Perbedaan pandangan antara dua kelompok pergerakan nasional setelah pembubaran PNI telah melatarbelakangi terbitnya Daulat Ra’jat. Kelompok yang mengikuti Sartono mendirikan Partai Indonesia, dan kelompok yang bersebe-rangan menamakan diri sebagai Golongan Merdeka serta menerbitkan majalah Daulat Ra’jat sebagai media pergerakan sekaligus pendidikan kader. Soedjadi dan Mohammad Hatta menjadi tokoh penting akan lahirnya Daulat Ra’jat. Golongan Merdeka menekankan pergerakan pada pedagogi, sehingga Daulat Ra’jat tidak terlepas dari fungsi didaktis. Daulat Ra’jat dijadikan sebagai bacaan wajib kader, terutama bagi kader yang memberikan kursus-kursus di cabang-cabang PNI Baru. Karena tujuan tersebut, Daulat Ra’jat dikenal pula sebagai majalah teori yang berisi tulisan-tulisan bersifat teoritis, berbeda dengan kebanyakan majalah organisasi pergerakan yang seringkali banyak berisi propaganda-propaganda politik.
Salah satu pembahasan penting dalam Daulat Ra’jat adalah mengenai konsep nasi-onalisme. Tulisan tersebut tidak hanya bersifat mendidik, tetapi digunakan sebagai jalan perge-rakan PNI Baru. Meski mengutip pengertian bangsa dari beberapa ahli, Daulat Ra’jat menyimpulkan bahwa nasionalisme Indonesia berbeda dengan nasionalisme Barat karena nasionalisme tidak lahir dengan sendirinya, tetapi melalui proses, dan tiap bangsa menga-lami proses masing-masing. Nasionalisme Indonesia juga dihadapkan pada permasalahan provinsialisme yang menurut Mohammad Hatta menjadi penghambat persatuan bangsa. Oleh karena itu harus disingkirkan dengan hidup gembira ketika berada di daerah manapun selagi masih di tanah air. Konsep nasionalisme tersebut memiliki corak khas yang berasal dari kehidupan bumiputra yang dipengaruhi pula oleh jiwa zaman.
REFERENSI
Budiawan, B. (2017). Nasion & Nasionalisme. Yogyakarta: Ombak.
Daulat Ra’jat, 10 Januari 1934. Daulat Ra’jat, 10 Juni 1932. Daulat Ra’jat, 10 September 1932. Daulat Ra’jat, 20 Januari 1934. Daulat Ra’jat, 20 September 1931. Daulat Ra’jat, 30 Agustus 1932. Daulat Ra’jat, 30 September 1932.
De Tribune: Sociaal Democratie Weekblad, 12 Juli 1932.
Gottschalk, L. (1975). Mengerti Sejarah. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.
Hatta, M. (1978). Memoir. Jakarta: Tintamas Indonesia.
Hutagalung, I. (2013). Dinamika Sistem Pers di Indonesia. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(2), 53–60. https://doi.org/ 10.14710/interaksi.2.2.156-163
Kartodirdjo, S. (1972). Kolonialisme dan Nasionalisme di Indonesia pada Abad-19 dan Abad-20. Lembaran Sejarah, Nomor. 8.
Krippendorf, K. (2004). Content Analysis: An Introduction to its Methodology. Cali-fornia: Sage Publication.
Legge, J. D. (1981). Daulat Ra’jat and the Ideas of the Pendidikan Nasional Indonesia. Indonesia, 32, 151–168. https://doi.org/ 10.2307/3350859
Nasution. (2018). The Process of Indonesian Nation State Formation, 1901-1998. Paramita: Historical Studies Journal, 28(2), 198–213. https://doi.org/10.15294/ paramita.v28i2.12795
Noer, D. (2018). Biografi Politik Mohammad Hatta & Pemikirannya, Jilid I. Jakarta: Kompas.
28 Sulistiyono, S. T. (2003). Refleksi 95 Tahun
Kebangkitan Nasional Perlunya Kesa-daran Rakyat Menuju Indonesia Mandiri (pp. 1–11). Makalah Disampaikan Pada Diskusi Bersama Refleksi Pergerakan 20 Mei 1908, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Semarang, 28 Mei 2003. http://eprints.undip.ac.id/27991/1/singgih _tri_sulistiyono.pdf
Sulistiyono, S. T. (2018). Nasionalisme, Negara-Bangsa, dan Integrasi Nasional Indonesia: Masih Perlukah? Jurnal
Sejarah Citra Lekha, 3(1), 3–12.
https://doi.org/10.14710/jscl.v3i1.17912 Suroyo, A. M. D. (2002). Integrasi Nasional
dalam Perspektif Sejarah Indonesia - Sebuah Proses yang Belum Selesai. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Semarang, 9 Februari 2002. http://eprints.undip.ac.id/ 308/1/AM_Djuliati_Suroyo.pdf
Yuliati, D. (2000). Semaoen, Pers Bumiputera, dan Radikalisasi Sarekat Islam Sema-rang. Semarang: Bendera.
Yuliati, D. (2012). Nasionalisasi Buruh dalam Sejarah Indonesia. HUMANIKA, 16(9), 1–26.
https://doi.org/10.14710/humanika.16.9. Yuliati, D. (2018). Pers, Peraturan Negara, dan
Nasionalisme Indonesia. Anuva: Jurnal
Kajian Budaya, Perpustakaan dan
Informasi, 2(3), 253–272. https://doi.org/ 10.14710/anuva.2.3.253-272