1
BAB I PENDAHULUAN
Koneksi politik merupakan fenomena umum yang terjadi di berbagai negara. Karya besar Faccio (2006, 2007) di 47 negara telah membuktikan bahwa tidak ada satu negara pun di dunia ini yang terbebas dari fenomena tersebut. Selama bertahun-tahun, para ekonomi telah mengakui bahwa perusahaan-perusahaan yang terkoneksi politik telah menerima insentif yang berharga dari pemerintah, namun bukti empiris terkait hal ini tidak konsisten. Sebagian besar peneliti sepakat bahwa koneksi politik dominan berkembang pada lingkungan negara yang inhenren dengan praktek korupsi dan pada perusahaan dengan governance yang buruk.
Berbagai studi empiris telah mendoukumentasikan bahwa sebagian besar fenomena koneksi politik dominan berkembang pada perusahaan-perusahaan Asia. ASEAN merupakan salah satu kawasan di Asia yang memiliki kasus koneksi politik yang tinggi. Umumnya, negara-negara yang berada dalam ruang lingkup ini juga tergolong sebagai negara yang sangat inheren dengan praktek korupsi, tetapi tidak semua perusahaan yang beroperasi di lingkungan ini memiliki governance yang buruk. Oleh karena itu, penelitian terkait hubungan antara koneksi politik dan kinerja, dengan efek moderasi lingkungan korupsi dan corporate governance sangat relevan dilakukan di kawasan ini. Disamping itu,
kondisi yang demikian juga memungkinkan hasil penelitian ini untuk digeneralisasikan sebagai fenomena umum yang mungkin juga berlaku di berbagai negara.
2 Melalui konsep corporate governance, penelitian ini akan membahas bagaimana hubungan antara koneksi politik dan kinerja perusahaan, dan bagaimana peran lingkungan korupsi dan corporate governance pada hubungan tersebut. Sebagai latar belakang penelitian, bab ini menguraikan fenomena-fenomena koneksi politik pada perusahaan-peusahaan publik di regional ASEAN, sekaligus memuat rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.
1.1 Latar Belakang
Skandal Enron Corporation kembali menunjukkan betapa besar koneksi politik bermain dalam kegiatan perusahaan. Keberadaan 35 orang pejabat birokrasi Gedung Putih dalam struktur pemegang saham dan partisipasi perusahaan bagi kepentingan partai politik hingga US$ 4,7 juta serta hubungan “manis” antara Kenneth Lay (komisaris dan CEO Enron) dengan Presiden George W. Bush, telah membebaskan perusahaan dari masalah perpajakannya. Tercatat bahwa lima tahun berturut-turut sebelum kebangkrutannya (2001), Enron sama sekali tidak membayar pajak pendapatannya kepada negara, meskipun ia memiliki laba bersih hingga miliaran dolar AS. Kasus ini juga kembali menunjukkan bahwa fenomena koneksi politik tidak hanya bermain di lingkungan negara berkembang yang umumnya sangat inheren dengan praktek korupsi, tetapi juga pada negara-negara maju yang umumnya kurang inheren dengan praktek korupsi.
Meskipun peran koneksi politik sudah lama diakui dapat berdampak positif bagi kinerja perusahaan, namun beberapa bukti empiris juga telah mendokumentasikan hal sebaliknya. Beberapa peneliti menemukan bahwa nilai perusahaan yang terkoneksi politik akan sangat bergantung pada kekuatan
3 koneksinya itu (Goldman et al., 2009; Fisman, 2001), rendahnya tingkat transparansi dan akuntabilitas perusahaan (Faccio, 2007; Bushman et al., 2004), dan cenderung akan meningkatkan praktek korupsi (Domadenic et al., 2014; Ang et al., 2010; Shleifer & Vishny, 1994). Disamping itu, perusahaan juga dapat
mengalami intervensi dari koneksi politiknya tersebut, misalnya perusahaan dapat dipaksa untuk memenuhi tuntutan koneksi politiknya yang bersifat non-profitable, seperti membuka lapangan kerja yang berlebihan (Xu et al., 2002).
Berbagai studi empiris juga belum menunjukkan hasil yang konsisten terkait hubungan antara koneksi politik dan kinerja. Sebagian peneliti menemukan hubungan yang positif (misalnya, Niessen & Ruenzi, 2009; Drombovsky, 2008; Goldman et al., 2006), sebagian tidak menemukan hubungan yang signifikan (misalnya, Jackowicz et al., 2014; Osad & Andrew, 2013), dan beberapa diantaranya justru menemukan hubungan yang negatif (misalnya, Hadani & Schuler, 2013; Agrawal et al., 2012; Gillabert, 2011; Boubakri et al., 2008; Hersch et al., 2008; Fan et al., 2007; Ansolabehere et al., 2004). Ketidakkonsistenan tersebut menyebabkan bagaimana perbedaan kinerja antara perusahaan yang terkoneksi politik dengan perusahaan yang tidak terkoneksi politik, juga tidak konsisten. Beberapa diantaranya menemukan, bahwa perusahaan yang terkoneksi politik memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang tidak terkoneksi (misalnya, Niessen & Ruenzi, 2009; Ferguson & Voth, 2008; Goldman et al., 2006; Johnson & Mitton, 2003; Fisman, 2001), dan beberapa diantaranya justru menunjukkan hasil yang sebaliknya (misalnya Boubakri et al., 2008; Fan et al., 2007; Xu et al., 2002).
4 Terkait dengan ketidakkonsistenan tersebut, Faccio (2006, 2007) berpendapat bahwa koneksi politik hanya akan berdampak positif bagi kinerja perusahaan, jika dengan koneksi yang ada perusahaan mampu mendapatkan rente ekonomi dari pemerintah, di mana praktek rekte ekonomi itu sendiri dominan berkembang pada lingkungan negara yang inheren dengan praktek korupsi. Dengan menggunakan sampel lebih dari 28.000 korporasi di 47 negara, ia menemukan bahwa terdapat interaksi yang sangat kuat antara koneksi politik dengan lingkungan korupsi di suatu negara. Perbedaan karakteristik antara perusahaan yang terkoneksi politik dengan perusahaan yang tidak terkoneksi politik, semakin jelas terlihat pada negara-negara yang sangat inheren dengan praktek korupsi. Pada kondisi ini, perusahaan-perusahaan yang terkoneksi politik memiliki peluang yang besar untuk mendapatkan rente ekonomi dari pemerintah melalui lobi-lobi koneksi yang dimilikinya, sehingga dengan rente itulah yang akan membawa kinerja perusahaan yang memiliki koneksi politik menjadi lebih unggul dibandingkan dengan kinerja perusahaan yang tidak memiliki koneksi politik.
Pada dasarnya, praktek rente ekonomi (kronisme) dan koneksi politik tidak hanya tumbuh subur di lingkungan negara yang inheren dengan praktek korupsi, tetapi juga bermain di lingkungan negara yang kurang inheren dengan praktek korupsi. Hal ini dapat terjadi karena tidak semua perusahaan yang beroperasi di lingkungan yang kurang inheren dengan praktek korupsi memiliki governance yang baik, sebagaimana kasus Enron yang telah disinggungkan di muka. Disamping itu, kehadiran direksi-direksi yang memiliki koneksi politik juga tidak sepenuhnya menjamin keberhasilan perusahaan, sebagaimana yang telah diyakini
5 selama ini. Faccio (2006, 2007) berpendapat bahwa koneksi politik akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan, jika perusahaan berhasil mengekstrak insentif yang berharga (rente ekonomi) dari pemerintah, tetapi jika semua atau sebagian dari insentif itu dikonsumsi/digunakan oleh direksi-direksi yang saling terkoneksi, maka pemegang saham (terutama minoritas) hanya akan mendapatkan sedikit dari nilai yang tersisa atau mungkin tidak sama sekali. Dengan demikian, selain bergantung pada lingkungan korupsi, hubungan koneksi politik dan kinerja juga sangat bergantung pada governance perusahaan itu sendiri. Beberapa studi empiris juga telah mendokumentasikan bahwa fenomena koneksi politik lebih dominan berkembang pada perusahaan-perusahaan dengan governance yng buruk (misalnya, You & Du, 2012; Kang & Zhang, 2012; Yeh &
Shu, 2010; Xu et al., 2002).
ASEAN merupakan salah satu kawasan di Asia yang memiliki kasus koneksi politik yang tinggi. Secara berturut-turut, Faccio (2006) mendokumentasikan bahwa hampir 22,08% dari total perusahaan publik di Indonesia memiliki jalur politik, Malaysia 19,08%, Thailand 15,05%, Singapura 7,86% dan Filipina 4,39%. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa sekitar 59,5% dari koneksi tersebut terjadi melalui direksi dan sisanya (40,5%) melalui pemegang saham terbesar. Dari berbagai kasus koneksi yang ada, sekitar 15,5% koneksi politik tersebut (direksi dan pemegang saham) terjadi dengan para pemimpin negara atau menteri, dan sisanya (59,6%) dengan anggota parlemen. Dari 24,9% kasus-kasus koneksi politik di ASEAN, kebanyak terjadi di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand, sementara di Singapura sangat rendah.
6 Fenomena koneksi politik di regional ASEAN memang telah lama dan banyak menarik perhatian para peneliti. Misalnya, Fisman (2001) di Indonesia yang telah mendokumentasikan bagaimana insentif yang didapati oleh perusahaan-perusahaan yang terkoneksi dengan Presiden Soeharto, dan secara konsisten temuan tersebut juga didukung oleh berbagai studi empiris lainnya (misalnya, Leuz & Oberholzer-Gee, 2006). Demikian pula di Filipina, Hutchcoft (1988) telah mendokumentasikan bahwa perusahaan-perusahaan yang terkoneksi dengan Presiden Marcos juga memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang tidak terkoneksi.
Di Malaysia, studi terkait hal ini juga telah banyak dilakukan, misalnya Johnson & Mitton (2003) yang juga menemukan bahwa perusahaan-perusahaan yang terkoneksi politik dengan Perdana Menteri Mahatrhir, Anwar Ibrahim, dan Daim Zainuddin juga memiliki hubungan yang positif dengan kinerja. Akan tetapi, temuan mereka tidak sepenuhnya didukung oleh studi-studi lainnya, misalnya Faccio (2007) tidak menemukan adanya hubungan yang signifikan antara koneksi politik dan kinerja perusahaan publik di Malaysia. Demikian pula Polsiri & Wiwattanakantang (2006) di Thailand juga telah mendokumentasikan bagaimana insentif yang didapati oleh perusahaan-perusahaan yang terkoneksi dengan Perdana Menteri Thaksin dan Crown Property Biro. Temuan mereka juga didukung oleh beberapa studi lainnya, seperti Charumilind et al. (2006) dan Wiwattanakantang et al. (2008), tetapi studi Faccio (2007) justru menolak hasil temuan-temuan mereka.
Tidak seperti negara-negara ASEAN lainnya, fenomena koneksi politik di Singapura tampaknya kurang berkembang. Hal ini mungkin didukung oleh
7 kualitas kelembagaan hukumnya yang sangat kuat, meskipun negara ini dikelilingi oleh negara-negara yang justru bertolakbelakang dengan kondisinya itu. Menariknya lagi, negara ini juga tampaknya tidak terpengaruh oleh sejarah dan budaya etnisnya sendiri, yaitu Cina, India, dan Melayu, di mana mereka sangat inheren dengan praktek tersebut. Studi Faccio (2006, 2007) memang menemukan kasus koneksi politik di negara ini, tetapi ia tidak menemukan adanya hubungan yang signifikan antara koneksi politik dan kinerja perusahaan. Akan tetapi, baru-baru ini, Ang et al. (2014) justru menemukan bahwa perusahaan-perusahaan publik di Singapura yang terkoneksi politik dengan elit birokrasi juga mungkin telah menerima insentif yang berharga, hal ini terlihat dari kinerja mereka yang sangat signifikan berbeda dibandingkan dengan kinerja perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki koneksi politik. Jika ditelusuri lebih jauh, perbedaan karakteristik antara perusahaan yang terkoneksi politik dengan perusahaan yang tidak terkoneksi politik akan semakin jelas terlihat pada sektor-sektor industri tertentu.
Selain tingginya kasus koneksi politik pada perusahaan-perusahaan publik di regional ASEAN, Rajan & Zingales (1998) dan Kunio (1988) juga menyatakan bahwa negara-negara di regional ini memiliki praktek kronisme yang tinggi. Beberapa istilah yang digunakan untuk fenomena itu, antara lain crony capitalist dan keluarga presiden di Filipina, kapitalis kerajaan di Malaysia, keluarga cendana dan kapitalis konco di Indonesia, dan kapitalis birokrat di Thailand. Dengan demikian, ada indikasi yang kuat bahwa tingginya kasus koneksi politik di negara-negara ASEAN, mungkin erat kaitannya dengan kasus kronisme yang juga tinggi di regional tersebut.
8 Disamping itu, berdasarkan hasil survei Lembaga Transparansi Internasional, selama periode 2011 hingga 2014 rata-rata Corruption Perseptions Index (CPI) negara-negara di kawasan ASEAN berada pada posisi yang sangat
bervariasi, yakni mulai dari yang terbaik (Singapura, rata-rata peringkat CPI: 5,5), tergolong baik (Malaysia, rata-rata peringkat CPI: 54,3), dan tidak baik (Indonesia, 104,3; Filipina 103,3; dan Thailand, 88,8). Tinggi-rendahnya CPI ini akan menggambarkan kondisi budaya penegakan hukum anti-korupsi di suatu negara. Suatu negara dengan CPI tinggi menunjukkan bahwa negara tersebut sangat inheren dengan praktek korupsi, dan begitu pula sebaliknya. Hasil survei ASEAN Capital Market Forum (ACMF), selama tahun 2011 hingga 2014 menunjukkan bahwa implementasi governance pada perusahaan-perusahaan publik di regional ini juga sangat variatif, yakni mulai dari yang sangat baik (Thailand, rata-rata skor ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS): 71,0), tergolong baik (Malaysia, 66,4), dan kurang baik (Indonesia, 48,2 dan Filipina, 52,9, dan Singapura, 62,7).
Dengan demikian, secara umum terindikasi bahwa tingginya kasus koneksi politik di negara-negara ASEAN (khususnya bagi Indonesia dan Filipina), mungkin erat kaitannya dengan praktek rente ekonomi (kronisme) yang juga tinggi. Di samping itu, tingginya kedua kasus tersebut juga mungkin didukung oleh lingkungan negaranya yang sangat inheren dengan praktek korupsi dan dengan governance perusahaan yang buruk. Tetapi, spesifiknya di Malaysia dan Thailand, ada indikasi bahwa tingginya kasus koneksi politik dan rente ekonomi tidak sepenuhnya didukung oleh lingkungan korupsi dan governance perusahaan,
9 sehingga hal ini yang mungkin menyebabkan terjadinya ketidakkonsistenan pada hasil kajian empiris di kedua negara tersebut.
Sedangkan di Singapura, kasus koneksi politik dan rente ekonomi mungkin tidak memiliki peluang besar untuk terjadi negara ini. Hal ini disebabkan oleh lingkungan negara tersebut yang kurang inheren dengan praktek korupsi dan kronisme. Tetapi bagaimanapun, studi empiris terbaru juga telah menangkap adanya insentif yang sangat berharga bagi perusahaan-perusahaan yang terkoneksi politik dengan elit birokrasi di negara itu. Hal ini mungkin didukung oleh governance perusahaan yang lemah, sebagaimana yang dilansir oleh ACMF
bahwa secara umum perusahaan-perusahaan publik di Singapura memiliki governance yang lebih lemah dibandingkan governance perusahaan-perusahaan
publik di Malaysia dan Thailand. Dengan demikian, fenomena-fenomena tersebut sangat mendukung untuk dilakukan pengujian terhadap hipotesis yang diajukan.
Berdasarkan hasil survei Lembaga Transparansi Internasional dan ACMF tersebut, fenomena koneksi politik pada perusahaan-perusahaan publik di regional ASEAN dapat digolongkan ke dalam empat ketegori: (1) perusahaan dengan governance yang baik dan beroperasi di lingkungan negara yang kurang inheren
dengan praktek korupsi; (2) perusahaan dengan governance yang baik, tetapi beroperasi di negara yang inheren dengan praktek korupsi; (3) perusahaan dengan governance yang buruk, tetapi beroperasi di lingkungan negara yang kurang
inheren dengan praktek korupsi; dan (4) perusahaan dengan governance yang lemah dan beroperasi pada lingkungan negara sangat inheren dengan praktek korupsi. Oleh karena itu, fenomena ini akan semakin mendukung untuk dilakukan
10 pengujian terhadap hipotesis yang diajukan, karena dapat digeneralisasikan sebagai fenomena umum yang mungkin juga berlaku di berbagai negara.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana hubungan antara koneksi politik dan kinerja perusahaan?
2. Apakah terdapat perbedaan antara kinerja perusahaan yang terkoneksi politik dengan perusahaan yang tidak terkoneksi politik?
3. Apakah hubungan antara koneksi politik dan kinerja perusahaan bergantung pada lingkungan korupsi dan juga bergantung pada governance perusahaan itu sendiri?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Menguji hubungan koneksi politik dan kinerja perusahaan.
2. Menguji dan membandingkan antara kinerja perusahaan yang terkoneksi politik dengan kinerja perusahaan yang tidak terkoneksi politik.
3. Menguji efek moderasi dari lingkungan korupsi dan corporate governance pada hubungan antara koneksi politik dan kinerja perusahaan.
11 1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Pemerintah dan otoritas pasar modal, dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam merumuskan kebijakan serta pengambilan keputusan terkait dengan aturan politik pada perusahaan-perusahaan publik.
2. Perusahaan Publik, dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam merumuskan kebijakan dan pengambilan keputusan terkait dengan peran koneksi politik dalam perusahaan demi meningkatkan kinerja atau menjaga reputasi perusahaan.
3. Investor, dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam proses pengambilan keputusan untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan publik.
4. Empirikal, dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan metode penelitian, serta dapat dijadikan sebagai sumber rujukan bagi penelitian lebih lanjut, khususnya terkait dengan masalah koneksi politik.