BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam dengan pasar domestik besar, perekonomian Indonesia semestinya mampu tumbuh pesat. Namun Indonesia belum bisa memetik peluang meraih pertumbuhan ekonomi lebih besar. Perekonomian Indonesia dari tahun ke tahun khususnya tahun 2009 secara umum mencatat perkembangan yang lambat dibandingkan tahun 2008 lalu, namun ekonomi Indonesia sampai dengan akhir tahun 2009 masih mampu untuk tumbuh di atas 4%. Dari sisi moneter, laju inflasi sepanjang tahun 2009 terbilang rendah. Rendahnya inflasi terutama terkait dengan terkoreksinya harga barang kebutuhan pokok, terjaganya pasokan domestik, lancarnya distribusi, dan harga Komoditas Internasional yang belum mengalami kenaikan. Sementara dari sisi fundamental, penurunan inflasi mitra dagang, nilai tukar yang cenderung terapresiasi dan menurunnya ekspetasi inflasi masyrakat, turut mendukung adanya penurunan tekanan inflasi sehingga inflasi pada akhir tahun 2009 secara keseluruhan hanya mencapai sebesar 2,78%. Angka ini merupakan angka inflasi terendah sepanjang perjalanan sejarah perekonomian Indonesia selama dekade 10 tahun terakhir ini.
Sejalan dengan permulihan ekonomi dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2010 diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2009. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2010 berada di kisaran 5,0-5,5% dengan sumber pertumbuhan utama masih berasal dari permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga. Para pemeharti ekonomi memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2011 diperkirakan mencapai rata-rata di kisaran 6,3-6,5 persen per tahun, lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada 2010 dengan tingkat inflasi berada pada posisi 5 persen plus minus 1 persen. Namun jauh hari sebelum para pakar ekonomi memperkirakan meningkatnya laju ekonomi Indonesia di Tahun 2011, Sri Mulyani seperti yang dilansir Metro TV tanggal 20 mei 2010 lalu (semasih menjabat Menkeu) berpesan agar peningkatan ekonomi 2011 nanti harus lebih berkualitas. Berkualitas, lanjut Sri nantinya akan terlihat dalam tiga indikator, seperti yang tertuang dalam pidatonya terkait pokok-pokok Pendahuluan Rancangan APBN 2010 di DPR, Senayan, Jakarta, akhir Mei 2010 lalu. Indikator pertama, lanjut Sri Mulyani terlihat dari perekonomian yang mampu membuka lapangan kerja yang menurunkan pengangguran dan kemiskinan. Indikator kedua, perekonomiannya harus bersifat inklusif dan memiliki dimensi pemerataan. Sedangkan indikator ketiga adalah perekonomiannya ditopang secara proposional oleh sektor pendukung yang berdasar pada agregat supply dan agregat demand.
Lembaga keuangan dalam dunia keuangan bertindak selaku lembaga yang menyediakan jasa keuangan bagi nasabahnya, dimana pada umumnya lembaga ini diatur oleh regulasi keuangan dari pemerintah. Bentuk umum dari lembaga keuangan ini adalah termasuk perbankan, building society (sejenis koperasi di Inggris), Credit Union, pialang
saham, aset manajemen, modal ventura, koperasi, asuransi, dana pensiun, dan bisnis serupa lainnya. Lembaga keuangan ini menyediakan jasa sebagai perantara antara pemilik modal dan pasar utang yang bertanggung jawab dalam penyaluran dana dari investor kepada perusahaan yang membutuhkan dana tersebut. Kehadiran lembaga keuangan inilah yang memfasilitasi arus peredaran uang dalam perekonomian, dimana uang dari individu investor dikumpulkan dalam bentuk tabungan sehingga risiko dari para investor ini beralih pada lembaga keuangan yang kemudian menyalurkan dana tersebut dalam bentuk pinjaman utang kepada yang membutuhkan. Ini adalah merupakan tujuan utama dari lembaga penyimpan dana untuk menghasilkan pendapatan. Di Indonesia lembaga keuangan ini dibagi kedalam 2 kelompok yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank (asuransi, pegadaian, perusahaan sekuritas, lembaga pembiayaan, dll).
Lembaga keuangan bukan bank yang sedang berkembang salah satunya adalah Pegadaian. Sejarah pegadaian dimulai pada saat pemerintahan penjajahan Belanda (VOC) mendirikian BANK VAN LEENING yaitu lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai, lembaga ini pertama kali didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746, akan tetapi Pegadaian Negara pertama didirikan Sukabumi ( Jawa Barat ) pada tanggal 1 April 1901, selanjutnya pada tanggal 1 April diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian. Kantor pusat pegadaian sekarang berada di Jalan Kramat Raya 132 Jakarta. Selama kurun waktu 110 tahun, perum pegadaian sebagai salah satu BUMN yang bergerak di bidang pembiayaan dan jasa keuangan tetap konsisten dengan misinya yaitu membantu pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya golongan menengah ke bawah dengan memberikan solusi keuangan terbaik melalui penyaluran pinjaman kepada usaha miko dan kecil.
Sebagai salah satu lembaga jasa keuangan, Perum pegadaian memahami masalah dan menelaah indikator-indikator penting ekonomi tersebut serta mencoba melakukan implementasi terhadap upaya peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Implementasi tersebut terlihat dari bertambahnya Kantor Wilayah dibeberapa provinsi yang tertera di tabel 1.1 berikut ini:
Tabel 1.1
Daftar Kantor Wilayah di 13 Provinsi
Kantor
Wilayah
Alamat
Provinsi
I
Jalan Pegadaian No. 112 Medan 20151
Sumatera Utara
II
Jalan Jenderal Sudirman No. 455 Pekanbaru 28166
Riau
III
Jalan Proklamasi No. 22 Padang 25121
Sumatera Barat
IV
Jalan Merdeka No. 11 Palembang 30132
Sumatera Selatan
V
Jalan Jenderal Sudirman No. 38 Stalkuda Balikpapan 76114
Kalimantan Timur
VI
Jalan Dr. Soetomo No. 199 Kel. Pinaesaan Manado 95112
Sulawesi Utara
VII
Jalan H.A. Mappanyuki No. 49 Makassar 91125
Sulawesi Selatan
VIII
Jalan Raya Puputan No. 23C Renon
Denpasar Bali
IX
Jalan Senen Raya No. 36 Jakarta 10410
Jakarta Pusat
X
Jalan Senen Raya No. 36 Jakarta 10410
Jakarta Pusat
XI
Jalan Pungkur No. 125 Bandung 40252
Jawa Barat
XII
Jalan Ki Mangun Sarkoro No. 7 Semarang 50241
Jawa Tengah
XIII
Jalan Dinoyo No. 79 Surabaya 60262
Jawa Timur
Sumber : www.pegadaian.co.id
Dari 33 provinsi, saat ini telah diresmikan 13 Kantor Wilayah dan selanjutnya akan menyusul Kantor Wilayah di beberapa provinsi. Setiap Kantor Wilayah membawahi beberapa Kantor Cabang dan setiap Kantor Cabang membawahi beberapa Kantor Unit Pelayanan Cabang (UPC) yang tersaji dalam tabel berikut:
Tabel 1.2
Jumlah Kantor Cabang dan Unit Pelayanan Cabang (UPC)
Kantor
Wilayah
Kantor
Cabang
Unit Pelayanan
Cabang (UPC)
I
39
42
II
51
51
III
23
46
IV
24
87
V
54
75
VI
55
104
VII
67
75
VIII
75
102
IX
82
62
X
53
56
XI
71
65
XII
175
104
XIII
74
265
Jumlah
843
1134
Sumber: www.pegadaian.co.idUntuk Kantor Cabang yang khususnya berada di provinsi Jawa Barat saat ini telah memiliki 71 Kantor Cabang. Daftar ke 71 Kantor Cabang tersebut tersaji di dalam tabel berikut ini:
Tabel 1.3
Jumlah Kantor Cabang Provinsi Jawa Barat
No
Kantor Cabang
No
Kantor Cabang
No Kantor Cabang1
Sukajadi25
Ciamis49
Pamanukan2
Cikudapateuh26
Cibatu50
Ciranjang3
Cimahi27
Leles51
Pegadenbaru4
Sumedang28
Singaparna52
Cimindi5
Soreang29
Ciawi53
Padalarang6
Darmaja30
Banjarsari54
Harjamukti7
Tanjungsari31
Majalengka55
Suci8
Lembang32
Jatiwangi56
Klayan9
Pungkur33
Arjawinangun57
Garuda10
Ciparay34
Kadipaten58
Pasar Kordon11
Cirebon35
Leuwimunding59
Sayati12
Plered36
Indramayu60
Cikajang13
Jamblang37
Karangampel61
Cileunyi14
Losari38
Jatibarang62
Pasar Banjran15
Gebang39
Ujungberung63
Buahbatu16
Ciledug40
Pangandaran64
Jamika17
Sindang Laut41
Kiaracondong65
Kalijati18
Kuningan42
Subang66
Holis19
Cilimus43
Purwakarta67
Cicurug20
Ciawigebang44
Caringin68
Sukabumi21
Tasikmalaya45
Cianjur69
Cilamaya22
Garut46
Pacet70
Cikampek23
Cicalengka47
Cikalong Kulon71
Cibadak24
Banjar48
AnjatanSumber: www.pegadaian.co.id
Dari 71 Kantor Cabang yang berada di Wilayah Provinsi Jawa Barat, Kantor Cabang Pungkur Kelas 1 yang dibawahi oleh Kantor Wilayah XI Jalan Pungkur No. 125 Bandung 40252 merupakan salah satu Kantor Cabang yang akan dijadikan sebagai objek penelitian penulis. Kantor Cabang Pungkur Kelas 1 tersebut telah membawahi beberapa Kantor Unit Pelayanan Cabang (UPC) diantaranya: UPC Buah Batu Jalan Buah Batu No. 263 A Bandung, UPC Astana Anyar Jalan Astanya Anyar No. 109 Bandung, UPC BTC Mall Jalan Pasteur Bandung Blok LGF-3 No. 3, UPC BIP Mall Jalan Merdeka No. 56 Lantai 1 No. 25 A Bandung, UPC Pasar Leuwi Panjang Jalan Pasar Leuwi Panjang Blok A.9 & A.10 Bandung, UPC Sriwijaya Jalan Sriwijaya No. 4 Bandung, UPC Cigereleng Jalan Moh.Toha No. 411 Cigereleng-Wates Bandung.
Keberhasilan perusahaan yang bergerak dibidang jasa tercermin dalam kemampuan memberikan pelayanan yang baik, kemampuan dalam memberikan pelayanan yang baik inilah yang akan menciptakan citra yang baik dan menciptakan kepuasan pelanggan. Untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat, maka dalam memperingati 110 Tahun Pegadaian membuat tema dalam pelayanannya yakni, "Mengasah Si Intan, Memacu Kualitas, Menuju Sang Juara". Tema ini mengacu pada upaya mewujudkan sikap dan perilaku insan Pegadaian yang dalam budaya kerja Pegadaian Si INTAN, akronim dari Inovatif, Nilai Moral Tinggi, Trampil, Adi Layanan, Nuansa Citra, dalam menjalankan kegiatan usaha dan organisasi perusahaan sehari-hari. Perilaku dan komitmen Si INTAN ini diharapkan senantiasa terus terasah, mampu meningkatkan kualitas pelayanan guna memenangkan persaingan, serta mampu memberikan kepuasan kepada nasabah dengan mengutamakan kecepatan (speed), menjaga kerahasiaan nasabah (privacy), dan kenyamanan (convenience). Dalam rangka meningkatkan pelayanannya terhadap nasabah, saat ini pegadaian menerapkan system pelayanan online yang dinamakan “INTANS” yaitu Integrated Informations and Networking Systems of Pegadaian. Hal ini bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi dimana saja. Dengan system pelayanan online, maka nasabah pegadaian bisa melakukan transaksi pembayaran di UPC mana saja yang sudah menerapkan system pelayanan online.
Akan tetapi dalam perjalanannya masih terdapat kendala-kendala yang dihadapi oleh Perum Pegadaian, salah satunya konsistensi juru taksir dalam menaksir nilai jaminan milik nasabah, hal ini terutama karena sering bergantinya-gantinya juru taksir yang ditugaskan. Penaksir disini perannya sangat penting, karena penaksir merupakan ujung tombak dari keberhasilan Perum Pegadaian dalam menjalankan usaha yang dijalaninya. Kredibilitas dan kapabilitas penaksir tidak hanya berpengaruh terhadap citra pelayanan perusahaan saja, tetapi juga berpengaruh terhadap kepuasan para nasabah. Lalu dari sistem pelayanan secara online masih sering dikeluhkan para nasabah, karena pelayanannya sangat memakan waktu yang lama dikarenakan jaringan koneksi yang buruk. Seharusnya dengan adanya sistem pelayanan secara online dapat mempermudah nasabah, dengan begitu sistem perpanjangan jatuh tempo bisa dilakukan secara online tanpa nasabah harus datang langsung ke tempat yang bersangkutan.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena di atas, maka penulis bermaksud
melakukan penelitian terhadap Perusahaan Umum Pegadaian sebagai bahan
pokok skripsi dengan judul :
“ Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Nasabah Kantor Cabang Kelas 1 Perum Pegadaian Pungkur Bandung ”.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian, maka beberapa pokok
permasalahan dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Unsur-unsur kualitas pelayanan seperti apa yang telah diberikan oleh
Kantor Cabang Kelas 1 Pungkur Bandung?
2. Bagaimana tanggapan nasabah pegadaian terhadap kualitas pelayanan
Kantor Cabang Kelas 1 Pungkur Bandung?
3. Bagaimana tingkat kepuasan nasabah pegadaian terhadap Kualitas
pelayanan yang telah diberikan Kantor Cabang Kelas 1 Pungkur
Bandung?
4. Seberapa besar pengaruh kualitas pelayanan yang telah diberikan terhadap
kepuasan nasabah pegadaian di Kantor Cabang Kelas 1 Pungkur
Bandung?
1.3 Maksud Dan Tujuan Penelitian
Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan
informasi mengenai kegiatan usaha pegadaian di Kantor Cabang Pungkur
Bandung. Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui unsur-unsur pelayanan yang telah diberikan oleh Kantor
Cabang Kelas 1 Pungkur Bandung.
2. Untuk mengetahui bagaimana tanggapan responden terhadap kualitas
pelayanan yang telah diberikan oleh Kantor Cabang Kelas 1 Pungkur
Bandung.
3. Untuk mengetahui bagaimana tingkat kepuasan nasabah Pegadaian
terhadap pelayanan yang telah diberikan oleh Kantor Cabang Kelas 1
Pungkur Bandung.
4. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kualitas pelayanan terhadap
kepuasan nasabah Pegadaian di Kantor Cabang Kelas 1 Pungkur Bandung.
1.4
Kegunaan Penelitian
Dengan dilaksanakannya penelitian ini, penulis berharap agar hasil
penelitian ini dapat bermanfaat:
1.
Bagi perusahaan, diharapkan hasil
penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pemikiran dan dan masukan
dalam meningkatkan kualitas pelayanan pada usaha yang sedang dijalani.
2.
Bagi penulis, diharapkan penelitian
ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai
masalah-masalah kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan, sehingga
penulis dapat membandingkan antara teori yang didapatkan di bangku
perkuliahan dengan kenyataan yang ada di lapangan.
3.
Bagi pihak lain yang berminat
terhadap masalah mengenai kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan,
diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi
tambahan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
1.5 Kerangka Pemikiran
Pemasaran merupakan kegiatan yang berorientasi kepada konsumen
karena menawarkan kepuasaan konsumen melalui proses yang di dalamnya
mengandung konsep pokok berupa kebutuhan, keinginan, permintaan, produk dan
pertukaran.
Adapun pengertian pemasaran menurut Kotler dan Keller (2007;6),
mengungkapkan bahwa :
“Pemasaran adalah suatu proses sosial yang dengan proses itu
individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan
dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas
mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain”.
Dalam pemasaran juga terdapat strategi yang disebut bauran pemasaran
(Marketing Mix) yang mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi
konsumen untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan ke pasar.
Setelah perusahaan menentukan startegi pemasaran kompetetitifnya secara tepat,
maka perusahaan sudah merencanakan rincian dari bauran pemasaran. Berikut ini
adalah pengertian bauran pemasaran (Marketing Mix) menurut para ahli :
Menurut Kotler dan Amstrong (2008;23) yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran, bauran pemasaran didefinisikan sebagai :
“Bauran pemasaran (marketing mix) adalah kumpulan alat pemasaran taktis terkendali yang dipadukan perusahaan untuk menghasilkan respons yang digunakannya di pasar sasaran”.
Pada perusahaan jasa, startegi pemasaran tidak cukup hanya dengan
menggunakan pendeketan pemasaran tradisonal (4P yaitu product, price, place,
promotion) tetapi harus ditunjang dengan adanya sistem jasa yang baik sehingga
konsumen merasa puas dan menjadi 7p jika ingin dipergunakan dalam perusahaan
jasa. Adapun 7p tersebut adalah produk (Product), harga (price), tempat (Place),
promosi (Promotion), People or Participant (orang), Physical Evidence (bukti
fisik), Process (proses), semuanya tergabung dalam marketing mix.
menurut Valerie A. Zeithaml dan Mary Jo. Bitner yang dikutip dan
dialih bahasa oleh Alma dalam bukunya Manajemen Pemasaran dan
Pemasaran Jasa ((2007;243) :
“Jasa adalah suatu kegiatan ekonomi yang outputnya bukan produk
dikonsumsi secara bersamaan dengan waktu produksi dan
memberikan nilai tambah (seperti kenikmatan, hiburan, santai, sehat)
bersifat tidak berwujud”.
Jasa tersebut produk tidak berwujud (intangible) sebab kita tidak dapat memegang suatu jasa itu berbentuk seperti apa, tetapi yang kita peroleh adalah proses kerja jasa itu apakah berkualitas atau tidak berkualitas.
Menurut Lovelock – Wright ( 2007 ;96) mengemukan bahwa :
“Kualitas jasa adalah evaluasi kognitif jangka panjang pelanggan
terhadap penyerahan jasa suatu perusahaan.
Terdapat lima dimensi kualitas jasa menurut Parasuraman et. Al yang dikutip oleh Rambat Lupiyoadi dan A. Hamdani dalam bukunya yang berjudul Manajemen Pemasaran Jasa (2006 : 182) yaitu :
1. Berwujud (tangible)
kepada pihak ekternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana
fisik perusahaan yang dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya
merupakan bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa.
Hal ini meliputi fasilitas fisik (contoh: gedung, gudang, dan lain-lain),
perlengkapan dan peralatan yang digunakan (teknologi), serta penampilan
pegawainya.
2. Kehandalan (reliability)
Yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan
yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan
harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama
untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan
akurasi yang tinggi.
3. Ketanggapan (responsiveness)
Yaitu suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang
cepat (responsive) dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian
informasi yang jelas. Membiarkan konsumen menunggu persepsi yang
negatif dalam kualitas pelayanan.
4. Jaminan dan Kepastian (assurance)
Yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai
perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada
perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen antara lain: komunikasi
(communication),
kredibilitas
(credibility),
keamanan
(security),
kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy).
5. Empati (empathy)
Yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau
pribadi yang diberikan kepada para konsumen dengan berupaya
memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan
memiliki pengertian dan pengetahuan tentang konsumen, memahami
kebutuhan konsumen secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian
yang nyaman bagi konsumen.
Kualitas jasa perlu mendapatkan perhatian besar dari perusahaan jasa, sebab kualitas mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan bersaing dan tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan. Kualitas jasa yang rendah akan menempatkan perusahaan pada posisi yang kurang menguntungkan sehingga konsumen tidak puas.
Kepuasan konsumen merupakan kajian dalam penelitian ini. Menurut Kotler dan Keler (2007;177) menyatakan bahwa :
“Perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (hasil) yang diharapkan”.
Tingkat kepuasaan konsumen dapat diukur dengan melihat apakah kualitas
pelayanan telah memenuhi harapan atau tidak. Oleh karena itu perusahaan dapat
mengetahui unsur - unsur pelayanan mana yang harus ditingkatkan kualitasnya
dan meminimkan ketidakpuasan pelanggan dan memberikan pelayanan yang
semakin hari semakin baik.
Bila seorang konsumen merasa puas mereka akan lebih sering
menggunakan jasa – jasa yang ditawarkan dari perusahaan tersebut. Keuntungan
lainnya adalah bahwa perusahaan memiliki konsumen yang berpotensi untuk
melakukan pembelian dan jika merasa puas mereka akan setia terhadap
perusahaan. Bukan itu saja, konsumen yang setia itu akan ikut mempromosikan
perusahaan dengan cara menceritakan kepuasaan yang mereka peroleh dari
perusahaan.
Menurut Fandi Tjiptono (2000;44) :
Skor Kualitas Jasa = (skor kinerja)
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasaan adalah persepsi
yang didapat konsumen mengenai performa atau kinerja suatu produk atau jasa.
Kepuasaan merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang dipilih
sekurang-kurangnya memberikan hasil (outcome) sama sedangkan ketidakpuasaan timbul
apabila hasil yang diperoleh memenuhi harapan konsumen.
Gambar 1.1
Model Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas penulis dapat menarik hipotesis sebagai berikut : “ Bahwa kualitas pelayanan yang diberikan Kantor Cabang Kelas 1 Perum
Pegadaian Pungkur Bandung mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasaan nasabah ”.
1.6 Metode Penelitian Yang Digunakan
Dalam melakukan penelitian dan penyusunan skipsi ini digunakan metode deskriptif. Adapun pengertian menurut Nazir (2003:54), yang mengemukan bahwa:
“Metode deskriftif adalah sesuatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu system pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriftif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki“.
1.7 Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian untuk memperoleh data guna penyusunan skripsi ini dilakukan di Kantor Cabang Kelas 1 Perum Pegadaian Pungkur No. 125 Bandung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 sampai dengan selesai.
Kualitas Pelayanan