MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA PEMAHAMAN SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA

20 

Teks penuh

(1)

MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA

MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA

MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA

MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA

PEMAHAMAN

PEMAHAMAN

PEMAHAMAN

PEMAHAMAN SILA KETUHANAN YANG

SILA KETUHANAN YANG

SILA KETUHANAN YANG

SILA KETUHANAN YANG

MAHA ESA

MAHA ESA

MAHA ESA

MAHA ESA

DISUSUN OLEH :

NAMA : MAKHARIS AGUS YAHYA NIM : 11.12.5711

KELOMPOK : H (PERSATUAN) PROG. STUDI : S1

JURUSAN : SISTEM INFORMASI

DOSEN : MUHAMMAD IDRIS P,DRs. MM

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

(2)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan Makalah Pendidikan Pancasila yang berjudul “Pemahaman Sila Ketuhanan Yang Maha Esa” tepat pada waktunya.Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas akhir semester Mata Kuliah Pendidikan Pancasila.Kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dari isi maupun cara penulisannya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan wawasan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan di masa yang akan datang.A t a s s e g a l a b a n t u a n y a n g t e l a h d i b e r i k a n s a y a m e n g u c a p k a n t e r i m a k a s i h semoga Allah memberikan balasan yang setimpal.

Mudah-mudahan Allah SWT.meridhoi sehingga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Yogyakarta, Oktober 2011

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ………..i

D A F T A R I S I … … … . . i i ABSTRAKSI………iii

PEMAHAMAN SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA………1

1.Latar Belakang Masalah………1

2.Rumusan Masalah………....5 3.Pendekatan……….6 3.1. Historis………...6 3.2. Sosiologis………6 3.3. Yuridis………7 4.Pembahasan………..8

1. Pemahaman Dan Pelanggaran Terhadap Pancasila…………..8

2. Kasus Ahmadiyah……….11

2.1.Tinjauan Pustaka………...11

2.2.Analisis………..12

5.Kesimpulan Dan Saran………14

(4)

ABSTRAK

Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk. Mengapa begitu besar pengaruh Pancasila terhadap bangsa dan negara Indonesia? Kondisi ini dapat terjadi karena perjalanan sejarah dan kompleksitas keberadaan bangsa Indonesia seperti keragaman suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta warna kulit jauh berbeda satu sama lain tetapi mutlak harus dipersatukan.

Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Bahwasanya Pancasila yang telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa, yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia.

Menyadari bahwa untuk kelestarian kemampuan dan kesaktian Pancasila itu, perlu diusahakan secara nyata dan terus menerus penghayatan dan pengamamalan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah.

(5)

PEMAHAMAN SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA

1 . LATAR BELAKANG MASALAH

Pancasila adalah dasar filsafat Negara Republik Indonesia yang secara resmidisahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam PembukaanUUD 1945, diundangkan dalam Berita Republik Indonesia tahun II No. 7 bersama-sama dengan batang tubuh UUD 1945.Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsaIndonesia yang majemuk.

Mengapa begitu besar pengaruh Pancasila terhadap bangsadan negara Indonesia? Kondisi ini dapat terjadi karena perjalanan sejarah dan kompleksitas keberadaan bangsa Indonesia seperti keragaman suku, agama, bahasa dae-rah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta warna kulit jauh berbeda satu samalain tetapi mutlak harus dipersatukan.

Sejarah Pancasila adalah bagian dari sejarah inti negara Indonesia. Sehinggatidak heran bagi sebagian rakyat Indonesia, Pancasila dianggap sebagai sesuatu yangsakral yang harus kita hafalkan dan mematuhi apa yang diatur di dalamnya. Ada pulasebagian pihak yang sudah hampir tidak mempedulikan lagi semua aturan-aturanyang dimiliki oleh Pancasila. Namun, di lain pihak muncul orang-orang yang tidak sepihak atau menolak akan adanya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

1.1.1. Arti Penting Keberadaan Pancasila

Pancasila sebagai dasar negara memang sudah final. Menggugat Pancasilahanya akan membawa ketidakpastian baru. Bukan tidak mungkin akan timbul chaos(kesalahan) yang memecah-belah eksistensi negara kesatuan. Akhirnya Indonesia a-kan tercecer menjadi negara-negara kecil yang berbasis agama dan suku.

(6)

Untuk menghindarinya maka penerapan hukum agama (juga hukum-hukum adat)dalam sistem hukum-hukum negara menjadi urgen untuk diterapkan.

Sejarah Indonesia yangawalnya merupakan kumpulan Kerajaan yang berbasis agama dan suku memperkuat kebutuhan akan hal ini. Pancasila yang diperjuangkan untuk mengikat agama-agamadan suku-suku itu harus tetap mengakui jati diri dan ciri khas yang dimiliki setiap a-gama dan suku.

1.1.2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna adanya keyakinan terhadapTuhan Yang Maha Esa Tunggal, yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dandiantara makhluk ciptakan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini ia-lah manusia. Sebagai Maha Pencipta, kekuasaan Tuhan tidaklah ter-batas, sedang-kanselainNya adalah terbatas.

Dalam memahami dan mengamalkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa tak pat dikotak-kotakkan dengan keempat sila lainnya karena Hakikat manusia sebagaimahluk Tuhan yang Maha Esa (sebagai sebab) (hakikat sila I dan II )yang memben-tuk persatuan mendirikan negara dan persatuan manusia dalam suatu wilayah disebutrakyat (hakikat sila III dan IV ) dan yang ingin mewujudkan suatu tujuan bersama yai-tu keadilan dalam suatu persekutuan hidup masyarakat negara (keadilan sosial) (haki-kat sila V ).Negara Indonesia didirikan atas landasan moral luhur, yaitu berdasarkan Ke-tuhanan Yang Maha Esa yang sebagai konsekuensinya, maka negara menjamin kepa-da warga negara dan penduduknya untuk memeluk dan untuk beribadah sesuai de-ngan agama dan kepercayaannya, seperti pengertiannya terkandung dalam:

a. Pembukaan UUD 1945 aline ketiga, yang antara lain berbunyi:

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa .... “Dari bunyi kalimat ini membuktikan bahwa negara Indonesia tidak menganut paham maupun mengandung

(7)

sifat sebagai negara sekuler. Sekaligus menunjukkan bahwa negara Indonesia bukan merupakan negara agama, yaitu negara yang didiri-kan atas landasan agama tertentu, melainkan sebagai negara yang didirikan ataslandasan Pancasila atau negara Pancasila.

b. Pasal 29 UUD 1945

1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya.Oleh karena itu di dalam negara Indonesia tidak boleh ada pertentangan da-lam hal Ketuhanan Yang Maha Esa, dan sikap atau perbuatan yang anti terhadap Tu-han Yang Maha Esa, anti agama.

Sedangkan sebaliknya dengan paham KetuhananYang Maha Esa ini hendaknya diwujudkan dan dihidup suburkan kerukunan hidup beragama, kehidupan yang penuh doleransi dalam batas-batas yang diizinkan olehatau menurut tuntunan agama masing-masing, agar terwujud ketentraman dan ke-sejukan di dalam kehidupan beragama.Untuk senantiasa memelihra dan mewujudkan 3 model kerukunan hidup yangmeliputi :

1. Kerukunan hidup antar umat seagama 2. Kerukunan hidup antar umat beragama

3. Kerukunan hidup antar umat beragama dan Pemerintah.

Tri kerukunan hidup tersebut merupakan salah satu faktor perekat kesatuan bangsa. Di dalam memahami sila I Ketuhanan Yang Maha Esa, hendaknya para pe-muka agama senantiasa berperan di depan dalam menganjurkan kepada pemeluk a-gama masing-masing untuk menaati norma-norma kehidupan beragama yang dia-nutnya.Sebagai negara yang bermayoritas penduduk agama Islam, Pancasila sendiriyang sebagai dasar negara Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh agama yang tertu-ang dalam sila pertama yang berbunyi sila “

(8)

Ketuhanan yang Maha Esa

”. yang pada awalnya berbunyi “…

dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluknya

” yang sejak saat itu dikenal sebagai Piagam Jakarta. Namun dua ormas Islam terbesar saat itu dan masih bertahan sampai sekarang yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menentang penerapan Piagam Jakartatersebut, karena dua ormas Islam tersebut menyadari bahwa jika penerapan syariatIslam diterapkan secara tidak langsung namun pasti akan menjadikan Indonesia se- bagai negara Islam dan secara “fair” hal tersebut dapat memojokkan umat beragamalain. Yang lebih buruk lagi adalah dapat memicu disintegrasi bangsa terutama bagi provinsi yang mayoritas beragama nonislam. Karena itulah sampai detik ini bunyi sila pertama adalah “ketuhanan yang maha esa” yang berarti bahwa Pancasila mengakuidan menyakralkan keberadaan Agama, tidak hanya Islam namun termasuk juga Kristen, Katolik, Budha dan Hindu sebagai agama resmi negara pada saat itu.

1.1.3. Butir-Butir Pancasila Sila Pertama

Searah dengan perkembangan, sila Ketuhanan yang Maha Esa dapat dijabar-kan dalam beberapa point penting atau biasa disebut dengan butir-butir Pancasila.Diantaranya:

Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaanya kepada TuhanYang Maha Esa.

Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuaidengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaanyang adil dan beradab.

Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan YangMaha Esa.

(9)

Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaanterhadap Tuhan Yang Maha Esa

Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yangmenyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadahsesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing

Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang MahaEsa kepada orang lain.Dari butir-butir tersebut dapat dipahami bahwa setiap rakyat Indonesia wajibmemeluk satu agama yang diyakini. Tidak ada pemaksaan dan saling toleransi antaraagama yang satu dengan agama yang lain.

2 . RUMUSAN MASALAH

a.Mengapa begitu besar pengaruh Pancasila terhadap bangsa dan negara Indonesia?

b.Bagaimana toleransi bisa dibangun di atas konstruksi filsafat yang meng hasilkan anarkisme ideologi seperti ini?

c.Apakah FPI, Majelis Mujahidin, dan Hizbut Tahrir. bukan tindakan anarkis? d.Mengapa kita saling terpecah jika tujuan kita sama?

e.Mengapa berjuang demi agama dengan terror yang harus menelan banyak korban?

(10)

3. PENDEKATAN

a.Historis

Mari kita telusuri fakta-fakta sejarah tentang kelahiran pancasila. Dalam rapat BPUPKI pada tanggal 1 juni 1945, Bung Karno menyatakan antara lain:”Saya mengakui, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S. di Surabaya, saya dipengaruhi seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, – katanya : jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan seluruh dunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 1917. akan tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, ia adalah Dr. Sun Yat Sen ! Di dalam tulisannya “San Min Cu I” atau “The THREE people’s Principles”, saya mendapatkan pelajaran yang membongkar kosmopolitanisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh“The THREE people’s Principles” itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwasanya Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat dengan sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, -sampai masuk ke liang kubur.”Sejarah Pancasila adalah bagian dari sejarah inti negara Indonesia. Sehingga tidak heran bagi sebagian rakyat Indonesia, Pancasila dianggap sebagai sesuatu yang sakral yang harus kita hafalkan dan mematuhi apa yang diatur di dalamnya.

Ada pula sebagian pihak yang sudah hampir tidak mempedulikan lagi semua aturan-aturan yang dimiliki oleh Pancasila. Namun, di lain pihak muncul orang-orang yang tidak sepihak atau menolak akan adanya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

b.Sosiologis

(11)

berdasarkan etnis dan Bahasa. Masyarakat Indonesia mengakui dan menghargai lintas budaya, betapa pun kecilnya. Perbedaan ini harus dipandang sebagai potensi kekuatan bangsa.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keragaman ini diikat dalam norma dan aturan untuk menjaga harmoni kehidupan untuk mewujudkan kesadaran moral dan hukum.

Arus informasi yang berdampak pada goyahnya jati diri bangsa, diperlukan komitmen kebangsaan untuk mewujudkan cinta tanah air, kesadaran bela negara, persatuan nasional dalam suasana saling menghargai keberagaman.

Persatuan dalam keberagaman budaya, adat istiadat, tradisi harus dibina dan ditingkatkan secara demokratis, terpola dan terus-menerus.

c.Yuridis

Alinea IV Pembukaan UUD 1945 merupakan landasan yuridis konstitusional antara lain di dalamnya terdapat rumusan dan susunan sila-sila Pancasila sebagai dasar negara yang sah, benar dan otentik sebagai berikut :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin olrh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Batang tubuh UUD 1945 pun merupakan landasan yuridis konstitusional karena dasar negara yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 dijabarkan lebih lanjut dan rinci dalam pasal-pasal dan ayat-ayat yang terdapat di dalam Batang Tubuh UUD 1945 tersebut.

Bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

(12)

Rasa ini diwujudkan dalam bentuk bela negara, seperti yang tercantum dalam UUD 1945 hasil Amandemen, yaitu pasal 27 ayat 3, Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.

Ditegaskan kembali pada pasal 30 ayat 1, bahwa Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan keamanan negara

4. PEMBAHASAN

1. PEMAHAMAN DAN PELANGGARAN TERHADAP PANCA-SILA

Sebagai dasar negara RI, Pancasila juga bukanlah perahan murni dari nilai-ni-lai yang berkembang di masyarakat Indonesia. Karena ternyata, sila-sila dalam Pan-casila, sama persis dengan asas Zionisme dan Freemasonry. Seperti Monoteisme (Ke-tuhanan YME), Nasionalisme (Kebangsaan), Humanisme (Kemanusiaan yang adildan beradab), Demokrasi (Musyawarah), dan Sosialisme (Keadilan Sosial). Tegas-nya, Bung Karno, Yamin, dan Soepomo mengadopsi (baca: memaksakan) asas Zionisdan Freemasonry untuk diterapkan di Indonesia.

Selain alasan di atas, agama-agama yang berlaku di Indonesia tidak hanya Islam, tetapi ada Kristen Protestan dan Katolik, Hindu, Budha, bahkan Konghucu. Ke-semua agama itu, menganut paham atau konsep bertuhan banyak, bahkan pengikut a-nimisme. Hanya agama Islam saja yang memiliki konsep Berketuhanan Yang MahaEsa (Allahu Ahad).Sejak awal, Pancasila agaknya tidak dimaksudkan sebagai alat pemersatu, apalagi untuk mengakomodir ke-Bhinekaan yang menjadi ciri bangsa Indonesia. Te-tapi untuk menjegal peluang berlakunya Syari’at Islam. Para nasionalis sekuler, ter-utama Non Muslim, hingga kini menjadikan Pancasila sebagai senjata ampuh untuk menjegal Syariat Islam, meski konsep Ketuhanan yang terdapat dalam Pancasila ber- beda dengan konsep bertuhan banyak yang mereka anut.Mereka lebih sibuk menye-rimpung orang Islam yang mau menjalankan

(13)

menjalankan ibadah dan menerapkan ketentuanagamanya.

Dalam memperingati hari lahir Pancasila, 4 Juni 2006, di Bandung, munculsejumlah tokoh nasional berupaya memperalat isu Pancasila untuk kepentingan zio-nisme. Celakanya, mereka menggunakan cara yang tidak cerdas dan manipulatif.

Dengan berlandaskan asas Bhineka Tunggal Ika, mereka memosisikan agama seolah-olah perampas hak dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Segala hal yang berkaitandengan agama dianggap membelenggu kebebasan. Kebencian pada agama, pada gi-lirannya, menyebabkan parameter kebenaran porak-poranda, kemungkaran akhlak merajalela. Kesyirikan, aliran sesat, dan perilaku menyesatkan membawa epidemikerusakan dan juga bencana.Anehnya, peristiwa bencana gempa bumi yang menewaskan lebih dari 6000 jiwa di Jogjakata, 27 Mei 2006, malah yang disalahkan Islam dan umat Islam. Seo-rang paranormal mengatakan,”Bencana gempa di Jogjakarta, terjadi akibat pendukung RUU APP yang kian anarkis.” Lalu, pembakaran kantor Bupati Tuban, cap jempol atau silang darah di Jatim, yang dilakukan anggota PKB dan PDIP, dan meny-atroni aktivis FPI, Majelis Mujahidin, dan Hizbut Tahrir.

Upaya penyeragaman budaya, maupun moral atas nama agama, juga dikritik pedas. “Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan awal bangsa Indonesiaharus dipertahankan.Masyarakat Indonesia beraneka ragam, sehingga tindakan menyeragamkan budaya itu tidak dibenarkan,” kata Megawati.

Penyeragaman yang dimaksud, sebagaimana dikatakan Akbar Tanjung,”Keberagaman itu tidak dirusak dengan memaksakan kehendak. Pihak yang merongrong Bhineka, adalah kekuatan-kekuatan yang ingin menyeragamkan.”Padahal, justru Bung Karno pula orang pertama yang mengkhianati Pancasila.Dengan memaksakan kehendak, ia berusaha menyeragamkan ideologi, budaya, danseni. Ideologi NASAKOM (Nasionalisme,

(14)

agama, dan komunis) dipaksakan berlakusecara despotis. Demikian pula, seni yang boleh dipertunjukkan hanya seni gaya Le-kra. Sementara yang berjiwa keagamaan dinyatakan sebagai musuh revolusi. Begitu pun Soeharto, berusaha menyeragamkan ideologi melalui asas tunggal Pancasila.Hasilnya, kehancuran.

Dari berbagai aliran keagamaan Islam di Indonesia, Ahmadiyah merupakankasus yang paling kontroversional. Hal ini disebabkan oleh tiga faktor utama.Yang pertama,dari sudut pandang hukum Islam, Ahmadiyah telah divonissebagai aliran sesat dan dinyatakan sebagai kelompok di luar Islam melalui fatwaMUI, dan didukung kuat oleh kelompok Islam beraliran keras.

Kedua,munculnya sebagian aktivis kemanusiaan yang menganggap Ahmad-iyah sebagai gerakan keagamaan yang melakukan tafsir keagamaan, yang meskipun berbeda dan bertentangan dengan keyakinan Islam mainstream, tapi harus dihargaisebagai bentuk keyakinan yang dijamin oleh konstitusi.

Ketiga,di satu sisi, Ahmadiyah merupakan organisasi yang sah dan resmi se-cara hukum. Tapi di sisi lain, Ahmadiyah juga dianggap melanggar undang-undanglain yang populer dengan pasal-pasal penodaan agama. Ketiga faktor inilah yangsaling berbenturan dan seakan masing-masing berusaha mendapatkan simpatik pu-blik.Puncak titik klimaksnya adalah pada tragedi Monas pada tanggal 1 Juli 2008,dimana sekelompok orang yang mengatasnamakan diri mereka Komando Laskar Is-lam, menyerang kelompok massa AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk KebebasanBeragama dan Berkeyakinan), yang berbaur dengan massa Ahmadiyah. Insiden inisempat menjadi Headline di beberapa media cetak maupun elektronik. Insiden ini berujung pada ditangkapnya beberapa anggota FPI (Front Pembela Islam),yangdiyakini sebagai motor penggerak dalam penyerangan tersebut.Dari segi keamanan sendiri, Ahmadiyah sebenarnya tidak bermasalah. Perso-alan muncul justru dari penentang Ahmadiyah, yang cenderung bersikap anarkis, se-hingga

(15)

kosekuensi yang muncul akibat penentangan yang bersifat anarkis itu

Ideologi Pancasila merupakan dasar negara yang mengakui dan mengagung-kan keberadaan agama dalam pemerintahan. Sehingga kita sebagai warga negara In-donesia tidak perlu meragukan konsistensi atas Ideologi Pancasila terhadap agama.Tidak perlu berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi berbasis agamadengan alasan bahwa ideologi Pancasila bukan ideologi beragama.

Ideologi Pancasila adalah ideologi beragama.Sesama umat beragama seharusnya kita saling tolong menolong. Tidak perlumelakukan permusuhan ataupun diskriminasi terhadap umat yang berbeda agama, berbeda keyakinan maupun berbeda adat istiadat.Hanya karena merasa berasal dari agama mayoritas tidak seharusnya kita me-rendahkan umat yang berbeda agama ataupun membuat aturan yang secara langsungdan tidak langsung memaksakan aturan agama yang dianut atau standar agama terten-tu kepada pemeluk agama lainya dengan dalih moralitas.Hendaknya kita tidak menggunakan standar sebuah agama tertentu untuk dija-dikan tolak ukur nilai moralitas bangsa Indonesia.

Sesungguhnya tidak ada agamayang salah dan mengajarkan permusuhan.Sebuah kesalahan fatal bila menjadikan salah satu agama sebagai standar to-lak ukur benar salah dan moralitas bangsa. Karena akan terjadi

Chaos dan timbul ge-sekan antar agama. kalaupun penggunaan dasar agama haruslah mengakomodir stan-dar dari Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu bukan berdasarkan salah satu aga-ma entah agama mayoritas ataupun minoritas. 2. KASUS AHMADIYAH

1. Tinjauan Pustaka

Keyakinan warga Ahmadiyah bahwa Mirza Ghulam Ahmad mendapat statuskenabian merupakan persoalan kunci, yang memicu kontroversi dengan umat Islam mainstream, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara Muslim di dunia. Selainitu, hasil pengalaman spiritual Mirza Ghulam Ahmad yang kemudian

(16)

dikompilasioleh pengikutnya dalam buku ’Tadzkirah

’, diposisikan sebagai ’kitab suci’.Dalam rapat kerja nasional (RAKERNAS) 4-6 November 2007 Majelis Ula-ma Indonesia menetapkan sepuluh kriteria aliran sesat, salah satunya adalah Meng-ingkari salah satu dari rukun Iman dan rukun Islam. Juga apabila ada yang meleceh-kan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul.Selain mengaku sebagai rasul, beberapa paham Amadilla yang dianggap sesat, antaralain:1 . P e n g a k u a n M i r z a G h u l a m A h m a d s e b a g a i Tuhan

.“Engkau dariku dan Akudarimu, punggungmu hádala punggung-Ku” (Tadzkirah 700)2.Sikap Mirza Ghulam Ahmad terhadap Muhammad SAW. “Sesungguhnya Nabisaw memiliki tiga ribu mukjizat” (Kitab Tuhfan Kolrawiyah 67, RK 17/153). Dansesungguhnya mukjizatku lebih dari satu juta mukjizat.” (Tadzkirah asy-Syahadatain 41, RK20/43)3.Hujatan Mirza Ghulam Ahmad terhadap nabi Isa a.s. “Ya, dialah (Yesus Al-Masih) yang terbiasa banyak memaki dan Sangay jelek akhlaknya.” (RK 11/289,lampiran Injam Atiham 5 (foot note)).4.Iuran wajib organisasi. “Candah (iuran) yang dinyatakan wajib oleh hazrat aqdasmasih mau’ud a.s. (Mirza Ghulam Ahmad, pen) lepada setiap ahmadi untuk membayarnya dan siapa-siapa yang sampai tiga bulan berturut-turut tidak membayar, dikatakan keluar dari jemaat beliau. Itu sama sekali lain dan terpisahdari zakat”5.Sakralisasi desa Qadian. “Sesungguhnya bumi Al-Qadian berhak untuk dihargai,karena menyerang dia sama dengan menyerang tanah haram.” (Durr Tsami 52)

2. Analisis

Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Esensinya adalah Tuhan. bungan dengan Agama. Bagaimana agama memandang Ahmadiyah?1.Ahmadiyah bukan beda dalam masalah furu’ (khilafiyah) tapi sudah beda dalamhal Aqidah. Sedangkan dalam hal Aqidah itu mutlak harus diikuti. Barangsiapayang

(17)

platform ajaran sendiri, tidak seperti agama lain yangmemiliki platform ajarannya masing-masing. Jadi lebih baik ahmadiyahmendirikan agama sendiri, tanpa membawa-bawa Islam beserta segalaatributnya.3.Kitab-kitab karangan Mirza Ghulam Ahmad beserta tadzkirahnya menyebutkan bahwa setiap orang yang mengingkari kenabian Mirza Ghulam Ahmad (tidak mengakuinya) dianggap KAFIR oleh kalangan Ahmadiyah. Jadi bagi setiap umatIslam yang membela Ahmadiyah, pelajarilah dulu semuanya. Padahal jelas-jelasmereka menganggap setiap orang yang tidak mengakui kenabian Mirza GhulamAhmad dianggap KAFIR.4 .

S e t i a p u m a t b e r a g a m a y a n g m e m p e l a j a r i a g a m a n y a d e n g a n b a i k d a n b e n a r , d i a akan merasakan nikmatnya beribadah dan menjalani ajaran agama tersebut. Danakan menjadi sakit sekali bila agamanya itu dinodai. jadi bila ada umat Islamyang justru malah membela Ahmadiyah, berarti dia tidak mempelajari Islamdengan baik dan benar (lihat juga poin-poin di atas).5.Ahmadiyah juga telah membajak kitab suci Al-Qur’an. Tapi (juga) dibiarkan o-leh pemerintah dan para aparatnya. Tapi bila lagu ‘Indonesia Raya’ dibajak atau‘Indonesia’ dinodai langsung ditangkap dan ditindak tegas.6.Dalam buku karangan nabi palsu tersebut juga ada yang isinya menghina NabiIsa a.s.7.Mirza Ghulam Ahmad tidak hanya mengaku dirinya nabi, tapi juga mengaku di-rinya itu malaikat, juga mengaku sebagai tuhan pencipta langit dan bumi (bacatadzkirah)

Jadi sudah jelas bahwa Ahmadiyah itu tidak sesuai dengan ajaran agamaIslam yang telah diakui, tidak pantas menganggap diri-nya Islam. Wajar bila ba-nyak umat Islam yang melakukan berbagai aksi. Ini karena agama mereka telah dinodai.Dan juga dipandang dari Pancasila, Ahmadiyah jelas melanggar karena setiapumat beragama yang mempelajari agamanya dengan baik dan benar, dia akan merasa-kan nikmatnya beribadah dan menjalani ajaran agama tersebut. Dan akan

(18)

menjadi sakit sekali bila agamanya itu dinodai, seperti yang dijelaskan diatas. Hal ini berten-tangan dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan juga Sila Kemanusiaan Yang Adildan Beradab.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan yaitu :

1.Pancasila adalah ideologi yang sangat baik untuk diterapkan di negara Indonesiayang terdiri dari berbagai macam agama, suku, ras dan bahasa karena Pancasilamengakui adanya pluralitas.

2.Dengan mempertahankan ideologi Pancasila sebagai dasar negara, jika melak-sanakannya dengan baik, maka perwujudan untuk menuju negara yang aman dansejahtera pasti akan terwujud.

3 . D a l a m m e m a h a m i s i l a K e t u h a n a n Y a n g M a h a E s a t a k d a p a t d i p i s a h k a n d a r i k e - empat sila lainnya.

4.Ditinjau dari Pancasila Sila Ketuhanan Yang Maha Esa kasus Ahmadiyah meru- pakan suatu pelanggaran karena Pancasila mengajarkan kebebasan memeluk aga-ma dan keyakinan masing-masing bukan kebebasan mengubah ajaran suatu aga-ma yang dalam hal ini agama Islam.

SARAN

Berdasarkan pembahasan diatas, ada beberapa saran yang perlu untuk diper-timbangkan untuk lebih meningkatkan pemahaman terhadap nilai Pancasila, yaitu : 1.Untuk semakin memperkokoh rasa bangga terhadap Pancasila, maka perlu ada-nya peningkatan pengamalan butir-butir Pancasila khususnya sila ke-1. Salahsatunya dengan saling menghargai antar umat beragama.

(19)

ada di da-lamnya. Khususnya jaminan keamanan dalam melaksanakan kegiatan beribadah.

3.Pemerintah sebaiknya melakukan pendekatan yang persuasif untuk membawa pengikut Ahmadiyah kembali pada koridor Islam.4.Jika pengikut Ahmadiyah tetap bersikukuh dengan keyakinannya, sebaiknya me-reka mendirikan agama baru tanpa membawa-bawa Islam beserta atributnya un-tuk menghindari keresahan dan ketegangan di dalam masyarakat. Hal ini sesuaidengan butir sila Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu membina kerukunan hidup diantara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

1.Paradigma.http://jangkrikmuda.blog.friendster.com/http://lasonearth.wordpress.co m/makalah/makalah-pancasila-pancasila-vs-agama/ 2.http://lets-belajar.blogspot.com/2007/09/sila-ketuhanan-yang-maha-esa.html 3.http://www.anakciremai.com/2008/09/makalah-ppkn-tentang-landasan.html 4.http://www.scribd.com/doc/40739880/Makalah-Sila-Ke-1-Pancasila

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :