• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Pemantauan Terapi Obat Hanny

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Pemantauan Terapi Obat Hanny"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1

1.1 LataLatar Ber Belakalakangng

Pe

Pelalayyananan an fafarmrmasasi i klklininis is di di rurumamah h sasakikit t sasangngat at didipeperlrlukukan an ununtutuk k  memberikan jaminan pengobatan yang rasional kepada pasien.

memberikan jaminan pengobatan yang rasional kepada pasien. Penggunaan obatPenggunaan obat dikatakan rasional jika obat yang digunakan sesuai indikasi, kondisi pasien dan dikatakan rasional jika obat yang digunakan sesuai indikasi, kondisi pasien dan  pemilihan

 pemilihan obat obat yang yang tepat tepat (jenis, (jenis, sediaan, sediaan, dosis, dosis, rute, rute, waktu waktu dan dan lamalama  pemberian),

 pemberian), mempertimbangkan mempertimbangkan manfaat manfaat dan dan resiko resiko dari dari obat obat yang yang digunakan.digunakan. Terapi menggunakan obat terutama ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau Terapi menggunakan obat terutama ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau mempertahankan hidup pasien.

mempertahankan hidup pasien. Pa

Pada da sesekakararang ng inini i tutugagas s dadari ri seseororanang g farfarmamasisis s titidadak k hahanynya a sesekekedadar r  meyediakan obat namun juga memberikan informasi mengenai obat kepada meyediakan obat namun juga memberikan informasi mengenai obat kepada  pasien.

 pasien. Hal Hal ini ini dinamakan dinamakan sebagai sebagai asuhan asuhan kefarmasian kefarmasian yang yang bersifatbersifat  patient  patient  oriented 

oriented  yyanang g ppadada a awawalalnynya a adadalalahah drug drug orieorientented d . . TTuujujuan an dadari ri asasuhuhanan

kefarmasian ini adalah meningkatkan kualitas hidup pasien dimana hal ini kefarmasian ini adalah meningkatkan kualitas hidup pasien dimana hal ini dilakukan melalui beberapa pelayanan kefarmasian yang mana tidak hanya dilakukan melalui beberapa pelayanan kefarmasian yang mana tidak hanya mencakup terapi obat (penyediaan obat saja) tetapi yaitu pengambilan keputusan mencakup terapi obat (penyediaan obat saja) tetapi yaitu pengambilan keputusan un

untutuk k memengnggugunanakakan n ataatau u titidadak k memengnggugunanakakan n obobat at papada da seseororanang g papasisienen,,  penilaian

 penilaian kerasionalan kerasionalan penggunaan penggunaan obat obat mengenai mengenai dosis, dosis, rute, rute, dan dan metodemetode  pemberian,

 pemberian, pemantauan pemantauan terapi terapi obat, obat, penyediaan penyediaan informasi informasi obat, obat, dan dan pemberianpemberian konseling kepada pasien.

konseling kepada pasien.

 Pharmaceutical

 Pharmaceutical carecare adalah tanggung jawab langsung seorang apoteker  adalah tanggung jawab langsung seorang apoteker 

 pada

 pada pelayanan pelayanan yang yang berhubungan berhubungan dengan dengan pengobatan pengobatan pasien pasien dengan dengan tujuantujuan men

mencapacapai i hashasil il yanyang g ditditetaetapkapkan n yanyang g memmemperbperbaiki aiki kuakualitalitas s hidhidup up paspasienien.. Asuhan kefarmasian tidak hanya melibatkan terapi obat tetapi juga keputusan Asuhan kefarmasian tidak hanya melibatkan terapi obat tetapi juga keputusan  penggunaan obat pada pasien.

 penggunaan obat pada pasien.

onsep asuhan kefarmasian menjadi penting karena meningkatnya biaya onsep asuhan kefarmasian menjadi penting karena meningkatnya biaya ke

kesesehahatatan n dadann advadverse drug erse drug rereactactionionss dari obat!obat yang diresepkan. "batdari obat!obat yang diresepkan. "bat

menjadi lebih mahal, penggunaanya meningkat, biaya kesalahan penggunaan menjadi lebih mahal, penggunaanya meningkat, biaya kesalahan penggunaan obat (

(2)

adalah konsep yang melibatkan tanggung jawab farmasis yang dapat menjamin adalah konsep yang melibatkan tanggung jawab farmasis yang dapat menjamin terapi optimal terhadap pasien secara indi#idu sehingga pasien membaik dan terapi optimal terhadap pasien secara indi#idu sehingga pasien membaik dan kualitas hidupnya meningkat.

kualitas hidupnya meningkat. As

Asuhauhan n kefkefarmarmasiasian an memmemiliiliki ki funfungsi gsi sansangat gat penpentinting g daldalam am kaikaitantannyanya dengan terapi obat diantaranya, mengidentifikasi secara aktual dan potensial dengan terapi obat diantaranya, mengidentifikasi secara aktual dan potensial ma

masasalah lah yyang ang beberhrhububunungagan n dedengngan an obobat, at, memenynyeleelesasaikikan an mamasasalalah h yayangng  berhubungan dengan

 berhubungan dengan obat dan obat dan mencegah termencegah terjadinya masalah jadinya masalah yang berhubunganyang berhubungan dengan obat. $engan adanya asuhan kefarmasian, juga sangat bermanfaat dalam dengan obat. $engan adanya asuhan kefarmasian, juga sangat bermanfaat dalam du

duninia a kekesesehathatan an didiantantararanyanya a memendndapaapat t pepengngalaalamaman n yayang ng lelebibih h efiefisisienen memantau terapi obat, memperbaiki komunikasi dan interaksi antara farmasis memantau terapi obat, memperbaiki komunikasi dan interaksi antara farmasis dengan profesi kesehatan lainnya, membuat dokumentasi kaitan dengan terapi dengan profesi kesehatan lainnya, membuat dokumentasi kaitan dengan terapi oba

obat, t, dapdapat at menmengidgidententifikifikasiasi, , menmenyelyelesaesaian ian dan dan penpencegcegahan ahan masmasalah alah yayangng  berkaitan

 berkaitan dengan dengan obat obat dan dan jaminan jaminan mutu mutu dalam dalam layanan layanan farmasi farmasi secarasecara keseluruhan.

keseluruhan. Pas

Pasien ien yanyang g menmendapdapatkatkan an teraterapi pi obaobat t memmempunpunyayai i resresiko iko menmengalgalamiami masalah terkait obat. ompleksitas penyakit dan

masalah terkait obat. ompleksitas penyakit dan penggunaan obat, serta responspenggunaan obat, serta respons  pasien

 pasien yang yang sangat sangat indi#idual indi#idual meningkatkan meningkatkan munculnya munculnya masalah masalah terkait terkait obat,obat, Penggunaan obat yang tidak perlu, penggunaan obat!obatan yang berlebihan Penggunaan obat yang tidak perlu, penggunaan obat!obatan yang berlebihan dengan indikasi yang tidak sesuai dengan gejala pasien atau

dengan indikasi yang tidak sesuai dengan gejala pasien atau disebut juga dengandisebut juga dengan  polifarmasi.

 polifarmasi. Hal Hal tersebut tersebut menyebabkan menyebabkan perlunya perlunya dilakukan dilakukan pemantauan pemantauan terapiterapi obat untuk mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan efek yang tidak  obat untuk mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan efek yang tidak  dikehendaki.

dikehendaki.

1.2

1.2 TTuujuanjuan

%.

%. &enget&engetahui kahui keefektieefektifan dan rfan dan rasionasionalitas palitas penggenggunaan ounaan obat padbat pada pasiea pasienn kejang demam di 'umah akit Angkatan aut $r. &intohardjo yang kejang demam di 'umah akit Angkatan aut $r. &intohardjo yang  berada di Pulau aut.

 berada di Pulau aut. *.

(3)

adalah konsep yang melibatkan tanggung jawab farmasis yang dapat menjamin adalah konsep yang melibatkan tanggung jawab farmasis yang dapat menjamin terapi optimal terhadap pasien secara indi#idu sehingga pasien membaik dan terapi optimal terhadap pasien secara indi#idu sehingga pasien membaik dan kualitas hidupnya meningkat.

kualitas hidupnya meningkat. As

Asuhauhan n kefkefarmarmasiasian an memmemiliiliki ki funfungsi gsi sansangat gat penpentinting g daldalam am kaikaitantannyanya dengan terapi obat diantaranya, mengidentifikasi secara aktual dan potensial dengan terapi obat diantaranya, mengidentifikasi secara aktual dan potensial ma

masasalah lah yyang ang beberhrhububunungagan n dedengngan an obobat, at, memenynyeleelesasaikikan an mamasasalalah h yayangng  berhubungan dengan

 berhubungan dengan obat dan obat dan mencegah termencegah terjadinya masalah jadinya masalah yang berhubunganyang berhubungan dengan obat. $engan adanya asuhan kefarmasian, juga sangat bermanfaat dalam dengan obat. $engan adanya asuhan kefarmasian, juga sangat bermanfaat dalam du

duninia a kekesesehathatan an didiantantararanyanya a memendndapaapat t pepengngalaalamaman n yayang ng lelebibih h efiefisisienen memantau terapi obat, memperbaiki komunikasi dan interaksi antara farmasis memantau terapi obat, memperbaiki komunikasi dan interaksi antara farmasis dengan profesi kesehatan lainnya, membuat dokumentasi kaitan dengan terapi dengan profesi kesehatan lainnya, membuat dokumentasi kaitan dengan terapi oba

obat, t, dapdapat at menmengidgidententifikifikasiasi, , menmenyelyelesaesaian ian dan dan penpencegcegahan ahan masmasalah alah yayangng  berkaitan

 berkaitan dengan dengan obat obat dan dan jaminan jaminan mutu mutu dalam dalam layanan layanan farmasi farmasi secarasecara keseluruhan.

keseluruhan. Pas

Pasien ien yanyang g menmendapdapatkatkan an teraterapi pi obaobat t memmempunpunyayai i resresiko iko menmengalgalamiami masalah terkait obat. ompleksitas penyakit dan

masalah terkait obat. ompleksitas penyakit dan penggunaan obat, serta responspenggunaan obat, serta respons  pasien

 pasien yang yang sangat sangat indi#idual indi#idual meningkatkan meningkatkan munculnya munculnya masalah masalah terkait terkait obat,obat, Penggunaan obat yang tidak perlu, penggunaan obat!obatan yang berlebihan Penggunaan obat yang tidak perlu, penggunaan obat!obatan yang berlebihan dengan indikasi yang tidak sesuai dengan gejala pasien atau

dengan indikasi yang tidak sesuai dengan gejala pasien atau disebut juga dengandisebut juga dengan  polifarmasi.

 polifarmasi. Hal Hal tersebut tersebut menyebabkan menyebabkan perlunya perlunya dilakukan dilakukan pemantauan pemantauan terapiterapi obat untuk mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan efek yang tidak  obat untuk mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan efek yang tidak  dikehendaki.

dikehendaki.

1.2

1.2 TTuujuanjuan

%.

%. &enget&engetahui kahui keefektieefektifan dan rfan dan rasionasionalitas palitas penggenggunaan ounaan obat padbat pada pasiea pasienn kejang demam di 'umah akit Angkatan aut $r. &intohardjo yang kejang demam di 'umah akit Angkatan aut $r. &intohardjo yang  berada di Pulau aut.

 berada di Pulau aut. *.

(4)

BAB II BAB II

TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA 2.1

2.1 Masalah TMasalah Tererkat !"at #D$Pkat !"at #D$Ps%s% 2.1

2.1.1.1 De&De&nns Ms Masaasalah lah TTeerkarkat !"t !"at #at #D$PD$Ps%s%  Pharmaceutical

 Pharmaceutical Care Care Network Network EuropeEurope mendmendefinisiefinisikan kan masalamasalah h terkaitterkait

obat (

obat ( DRPs DRPs) adalah kejadian suatu kondisi terkait dengan terapi obat yang) adalah kejadian suatu kondisi terkait dengan terapi obat yang

secara nyata atau potensial mengganggu hasil klinis kesehatan yang diinginkan secara nyata atau potensial mengganggu hasil klinis kesehatan yang diinginkan (( Pharmaceutical Care Netw Pharmaceutical Care Network Europe.ork Europe., *++)., *++).

2.1

2.1.2.2 KlaKlas&s&kakas Mas Masalsalah Tah Teerkarkat !"at !"at #D$t #D$Ps%Ps%

-erdasarkan Pharmaceutical are /etwork 0urope (The P/0 lassification -erdasarkan Pharmaceutical are /etwork 0urope (The P/0 lassification 12

12.+.+%) %) yyanang g tetermrmasasuk uk mamasasalalah h teterkrkaiait t obobat at adadalalah ah sesebabagagai i beberirikukutt (( Pharmaceutical Care  Pharmaceutical Care Network Europe.Network Europe., *++)3, *++)3

%%.. ''eeaakkssi i oobbaat t yyaanng g ttiiddaak k ddiikkeehheennddaakkii44''""TT$ $ (( Adverse  Adverse Drug Drug   Reaction/ADR

 Reaction/ADR))

Pasien mengalami reaksi obat yang tidak dikehendaki seperti efek  Pasien mengalami reaksi obat yang tidak dikehendaki seperti efek  samping atau toksisitas.

samping atau toksisitas. *.

*. &a&asasalalah ph pememiliilihahan on obabat (t ( Drug choice prob Drug choice problemlem))

&asalah pemilihan obat di sini berarti pasien memperoleh atau &asalah pemilihan obat di sini berarti pasien memperoleh atau akan memperoleh obat yang salah (atau tidak memperoleh obat) untuk  akan memperoleh obat yang salah (atau tidak memperoleh obat) untuk   penyakit

 penyakit dan dan kondisinya. kondisinya. &asalah &asalah pemilihan pemilihan obat obat antara antara lain3 lain3 obatobat dir

direseesepkapkan n taptapi i indindikaikasi tidak jelassi tidak jelas, , benbentuk sedituk sediaan tidak sesuaan tidak sesuai,ai, kontraindikasi dengan obat yang digunakan, obat tidak diresepkan kontraindikasi dengan obat yang digunakan, obat tidak diresepkan untuk indikasi yang jelas.

untuk indikasi yang jelas. 5.

5. &as&asalaalah ph pembemberiaerian dn dosiosis os obat bat (( Drug dosing pro Drug dosing problemblem))

&asalah pemberian dosis obat berarti pasien memperoleh dosis &asalah pemberian dosis obat berarti pasien memperoleh dosis yang lebih besar atau lebih kecil daripada yang dibutuhkannya.

(5)

6. &asalah pemberian4penggunaan obat ( Drug use/administration  problem)

&asalah pemberian4penggunaan obat berarti tidak  memberikan4tidak menggunakan obat sama sekali atau memberikan4menggunakan yang tidak diresepkan.

2. 7nteraksi obat ( Interaction)

7nteraksi berarti terdapat interaksi obat!obat atau obat!makanan yang bermanifestasi atau potensial.

. &asalah lainnya (thers)

&asalah lainnya misalnya3 pasien tidak puas dengan terapi, kesadaran yang kurang mengenai kesehatan dan penyakit, keluhan yang tidak jelas (memerlukan klarifikasi lebih lanjut), kegagalan terapi yang tidak diketahui penyebabnya, perlu pemeriksaan laboratorium.

2.2 Pe'antauan Tera( !"at

Pemantauan terapi obat (PT") adalah suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional untuk   pasien. egiatan PT" ini meliputi3 pengkajian pemilihan obat, dosis, cara  pemberian obat, respon terapi, reaksi obat yang tidak dikehendaki ('"T$), dan rekomendasi perubahan atau alternatif terapi. Pemantauan terapi obat harus dilakukan secara berkesinambungan dan die#aluasi secara teratur pada periode tertentu agar keberhasilan ataupun kegagalan terapi dapat diketahui.

2.) Penatalaksanaan Pe'antauan Tera( !"at 2.).1 Seleks Pasen

Pemantauan terapi obat (PT") seharusnya dilaksanakan untuk seluruh pasien. &engingat terbatasnya jumlah apoteker dibandingkan dengan jumlah pasien, maka perlu ditentukan prioritas pasien yang akan dipantau. eleksi dapat dilakukan berdasarkan3

(6)

• Pasien yang masuk rumah sakit dengan multi penyakit sehingga

menerima polifarmasi.

• Pasien kanker yang menerima terapi sitostatika.

• Pasien dengan gangguan fungsi organ terutama hati dan ginjal. • Pasien geriatri dan pediatri.

• Pasien hamil dan menyusui.

• Pasien dengan perawatan intensif.

*. "bat

a. 8enis "bat

Pasien yang menerima obat dengan risiko tinggi seperti3 i. "bat dengan indeks terapi sempit (contoh3digo9in,fenitoin).

ii. "bat yang bersifat nefrotoksik (contoh3 gentamisin) dan hepatotoksik (contoh3 "AT).

iii. itostatika (contoh3 metotreksat).

i#. Antikoagulan (contoh3 warfarin, heparin).

#. "bat yang sering menimbulkan '"T$ (contoh 3 metoklopramid, A7/).

#i. "bat kardio#askular (contoh3 nitrogliserin).  b. ompleksitas 'egimen

i. Polifarmasi.

ii. 1ariasi rute pemberian. iii. 1ariasi aturan pakai.

i#. ara pemberian khusus (contoh3 inhalasi)

2.).2 Pengu'(ulan Data Pasen

$ata dasar pasien merupakan komponen penting dalam proses PT". $ata tersebut dapat diperoleh dari3

(7)

 b. Profil pengobatan pasien4pencatatan penggunaan obat.

c. :awancara dengan pasien, anggota keluarga, dan tenaga kesehatan lain.

'ekam medik merupakan kumpulan data medik seorang pasien mengenai  pemeriksaan, pengobatan dan perawatannya di rumah sakit. $ata yang dapat diperoleh dari rekam medik, antara lain3 data demografi pasien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat penggunaan obat, riwayat keluarga, riwayat sosial, pemeriksaan fisik, laboratorium, diagnostik, diagnosis dan terapi.

2.).) I*ent&kas Masalah Terkat

etelah data terkumpul, perlu dilakukan analisis untuk identifikasi adanya masalah terkait obat. &asalah terkait obat menurut Hepler dan trand dapat dikategorikan sebagai berikut3

a. Ada indikasi tetapi tidak dilakukan terapi

Pasien yang diagnosisnya telah ditegakkan dan membutuhkan terapi obat tetapi tidak diresepkan. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua keluhan4gejala klinik harus diterapi dengan obat.

 b. Pemberian obat tanpa indikasi

Pasien mendapatkan obat yang tidak diperlukan. c. Pemilihan obat yang tidak tepat

Pasien mendapatkan obat yang bukan pilihan terbaik untuk kondisinya (bukan merupakan pilihan pertama, obat yang tidak cost e!!ective, dan

kontra indikasi. d. $osis terlalu tinggi e. $osis terlalu rendah

f. 'eaksi obat yang tidak dikehendaki ('"T$) g. 7nteraksi obat

(8)

h. Pasien tidak menggunakan obat karena suatu sebab

-eberapa penyebab pasien tidak menggunakan obat antara lain3 masalah ekonomi, obat tidak tersedia, ketidak patuhan pasien, dan kelalaian petugas.

Apoteker perlu membuat prioritas masalah sesuai dengan kondisi  pasien, dan menentukan masalah tersebut sudah terjadi atau berpotensi akan terjadi. &asalah yang perlu penyelesaian segera harus diprioritaskan.

2.).+ $ek,'en*as Tera(

Tujuan utama pemberian terapi obat adalah peningkatan kualitas hidup  pasien, yang dapat dijabarkan sebagai berikut3

a. &enyembuhkan penyakit (contoh3 infeksi).

 b. &enghilangkan atau mengurangi gejala klinis pasien (contoh3 nyeri). c. &enghambat progresi#itas penyakit (contoh3 gangguan fungsi ginjal). d. &encegah kondisi yang tidak diinginkan (contoh3 stroke).

-eberapa faktor yang dapat mempengaruhi penetapan tujuan terapi antara lain3 derajat keparahan penyakit dan sifat penyakit (akut atau kronis). Pilihan terapi dari berbagai alternatif yang ada ditetapkan berdasarkan3 efikasi, keamanan, biaya, regimen yang mudah dipatuhi.

2.).- $enana Pe'antauan

etelah ditetapkan pilihan terapi maka selanjutnya perlu dilakukan  perencanaan pemantauan, dengan tujuan memastikan pencapaian efek terapi dan

meminimalkan efek yang tidak dikehendaki. Apoteker dalam membuat rencana  pemantauan perlu menetapkan langkah!langkah3

(9)

Hal!hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih parameter   pemantauan, antara lain3

a. arakteristik obat (contoh3 sifat nefrotoksik dari allopurinol, aminoglikosida). "bat dengan indeks terapi sempit yang harus diukur kadarnya dalam darah (contoh3 digo9in).

 b. 0fikasi terapi dan efek merugikan dari regimen.

c. Perubahan fisiologik pasien (contoh3 penurunan fungsiginjal  pada pasien geriatri mencapai 6+;).

d. 0fisiensi pemeriksaan laboratorium.

• epraktisan pemantauan (contoh3 pemeriksaan kadar kalium

dalam darah untuk penggunaan furosemide dan digo9in secara  bersamaan).

• etersediaan (pilih parameter pemeriksaan yangtersedia).

• -iaya pemantauan.

*. &enetapkan sasaran terapi (end point  )

Penetapan sasaran akhir didasarkan pada nilai atau gambaran normal atau yang disesuaikan dengan pedoman terapi. Apabila menentukan sasaran terapi yang diinginkan, apoteker harus mempertimbangkan hal!hal sebagai berikut3

a. <aktor khusus pasien seperti umur dan penyakit yang bersamaan diderita pasien (contoh3 perbedaan kadar teofilin pada pasien Penyakit Paru "bstruksi ronis4PP" dan asma).

 b. arakteristik obat

-entuk sediaan, rute pemberian, dan cara pemberian akan mempengaruhi sasaran terapi yang diinginkan (contoh3  perbedaan penurunan kadar gula darah pada pemberian insulin dan

anti diabetes oral). c. 0fikasi dan toksisitas.

(10)

<rekuensi pemantauan tergantung pada tingkat keparahan  penyakit dan risiko yang berkaitan dengan terapi obat. ebagai contoh  pasien yang menerima obat kanker harus dipantau lebih sering dan  berkala dibanding pasien yang menerima aspirin. Pasien dengan

kondisi relatif stabil tidak memerlukan pemantauan yang sering.

-erbagai faktor yang mempengaruhi frekuensi pemantauan antara lain3

a. ebutuhan khusus dari pasien

ontoh3 penggunaan obat nefrotoksik pada pasien gangguan fungsi ginjal.

 b. arakteristik obat pasien

ontoh3 pasien yang menerima warfarin. c. -iaya dan kepraktisan pemantauan. d. Permintaan tenaga kesehatan lain.

$ata pasien yang lengkap mutlak dibutuhkan dalam PT", tetapi pada kenyataannya data penting terukur sering tidak ditemukan sehingga PT" tidak dapat dilakukan dengan baik. Hal tersebut menyebabkan penggunaan data subyektif sebagai dasar PT". 8ika  parameter pemantauan tidak dapat digantikan dengan data subyektif 

maka harus diupayakan adanya data tambahan. Proses selanjutnya adalah menilai keberhasilan atau kegagalan mencapai sasaran terapi. eberhasilan dicapai ketika hasil pengukuran parameter klinis sesuai dengan sasaran terapi yang telah ditetapkan. Apabila hal tersebut tidak  tercapai, maka dapat dikatakan mengalami kegagalan mencapai sasaran terapi. Penyebab kegagalan tersebut antara lain3 kegagalan menerima terapi, perubahan fisiologis4kondisi pasien, perubahan terapi  pasien, dan gagal terapi.

alah satu metode sistematis yang dapat digunakan dalam PT" adalah"ub#ective b#ective Assessment Planning  ("AP).

(11)

" $ "ub#ective

$ata subyektif adalah gejala yang dikeluhkan oleh pasien. ontoh 3  pusing, mual, nyeri, sesak nafas.

 $ b#ective

$ata objektif adalah tanda4gejala yang terukur oleh tenaga kesehatan. Tanda!tanda obyektif mencakup tanda #ital (tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, kecepatan pernafasan), hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostik.

 A $ Assessement 

-erdasarkan data subyektif dan obyektif dilakukan analisis untuk  menilai keberhasilan terapi, meminimalkan efek yang tidak  dikehendaki dan kemungkinan adanya masalah baru terkait obat.

 P $ Plans

etelah dilakukan "A maka langkah berikutnya adalah menyusun rencana yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah. 'ekomendasi yang dapat diberikan3

• &emberikan alternatif terapi, menghentikan pemberian obat,

memodifikasi dosis atau inter#al pemberian, merubah rute  pemberian.

• &engedukasi pasien.

• Pemeriksaan laboratorium.

• Perubahan pola makan atau penggunaan nutrisi parenteral4enteral. • Pemeriksaan parameter klinis lebih sering.

2.)./ Tn*ak Lanjut

Hasil identifikasi masalah terkait obat dan rekomendasi yang telah dibuat oleh apoteker harus dikomunikasikan kepada tenaga kesehatan terkait. erjasama dengan tenaga kesehatan lain diperlukan untuk mengoptimalkan  pencapaian tujuan terapi. 7nformasi dari dokter tentang kondisi pasien yang menyeluruh diperlukan untuk menetapkan target terapi yang optimal.

(12)

omunikasi yang efektif dengan tenaga kesehatan lain harus selalu dilakukan untuk mencegah kemungkinan timbulnya masalah baru.

egagalan terapi dapat disebabkan karena ketidak patuhan pasien dan kurangnya informasi obat. ebagai tindak lanjut pasien harus mendapatkan omunikasi, 7nformasi dan 0dukasi (70) secara tepat. 7nformasi yang tepat sebaiknya3

%. Tidak bertentangan4berbeda dengan informasi dari tenaga kesehatan lain.

*. Tidak menimbulkan keraguan pasien dalam menggunakan obat. 5. $apat meningkatkan kepatuhan pasien dalam penggunaan obat.

2.).0 D,ku'entas

etiap langkah kegiatan pemantauan terapi obat yang dilakukan harus di dokumentasikan. Hal ini penting karena berkaitan dengan bukti otentik   pelaksanaan pelayanan kefarmasian yang dapat digunakan untuk tujuan

akuntabilitas atau pertanggungjawaban, e#aluasi pelayanan, pendidikan dan  penelitian. istimatika pendokumentasian harus dibuat sedemikian rupa sehingga mudah untuk penelusuran kembali. Pendokumentasian dapat dilakukan  berdasarkan nomor rekam medik, nama pasien, penyakit, ruangan dan usia. $ata dapat didokumentasikan secara manual, elektronik atau keduanya. $ata bersifat rahasia dan disimpan dengan rentang waktu sesuai kebutuhan. esuai dengan etik penelitian, untuk publikasi hasil penelitian identitas pasien harus disamarkan.

2.+ Kejang De'a'

2.+.1 De&ns *an Klas&kas Kejang De'a'

ejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak berusia 5 bulan sampai dengan 2 tahun dan berhubungan dengan demam serta tidak didapatkan adanya infeksi ataupun kelainan lain yang jelas di intrakranial. ejang demam di bagi menjadi dua kelompok yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks.

(13)

Tabel *.%. Perbedaan kejang demam sederhana dan kompleks

 /o. linis $ sederhana $ kompleks

% $urasi = %2 menit >%2 menit

* Tipe kejang ?mum ?mum4fokal

5 -erulang dalam satu episode % kali @% kali

6 $efisit neurologis ! 

2 'iwayat keluarga kejang demam  

 'iwayat keluarga tanpa kejang demam  

B Abnormalitas neurologis sebelumnya  

ebagian besar (5;) kejang demam berupa kejang demam sederhana dan 52; berupa kejang demam kompleks.

2.+.2 E(*e',l,g Kejang De'a'

Pendapat para ahli tentang usia penderita saat terjadi bangkitan kejang demam tidak sama. Pendapat para ahli terbanyak kejang demam terjadi pada waktu anak berusia antara 5 bulan sampai dengan 2 tahun. &enurut %he American  Academ& o! Pediatrics  (AAP) usia termuda bangkitan kejang demam  bulan.

ejang demam merupakan salah satu kelainan saraf tersering pada anak.

-erkisar *;!2; anak di bawah 2 tahun pernah mengalami bangkitan kejang demam. ebih dari C+; penderita kejang demam terjadi pada anak berusia di bawah 2 tahun. Terbanyak bangkitan kejang demam terjadi pada anak berusia antara usia  bulan sampai dengan ** bulan. 7nsiden bangkitan kejang demam tertinggi terjadi pada usia %D bulan.

$i berbagai negara insiden dan pre#alensi kejang demam berbeda. $i Amerika erikat dan 0ropa pre#alensi kejang demam berkisar *!2;. $i Asia  pre#alensi kejang demam meningkat dua kali lipat bila dibandingkan di 0ropa dan di Amerika. $i 8epang kejadian kejang demam berkisar D,5; ! C,C;. -ahkan di kepulauan &ariana (Euam), telah dilaporkan insidensi kejang demam yang lebih  besar, rnencapai %6;. Prognosis kejang demam baik, kejang demam bersifat

 benigna. Angka kematian hanya +,6 ; ! +,B2 ;. ebagian besar penderita kejang demam sembuh sempurna, sebagian kecil berkembang menjadi epilepsi sebanyak 

(14)

*!B;. 0mpat persen penderita kejang demam secara bermakna mengalami gangguan tingkah laku dan penurunan tingkat intelegensi.

2.+.) Pat,&s,l,g Kejang De'a'

ejang merupakan manifestasi klinik akibat terjadinya pelepasan muatan listrik yang berlebihan di sel neuron otak karena gangguan fungsi pada neuron tersebut baik berupa fisiologi, biokimiawi, maupun anatomi.

el syaraf, seperti juga sel hidup umumnya, mempunyai potensial membran. Potensial membran yaitu selisih potensial antara intrasel dan ekstrasel. Potensial intrasel lebih negatif dibandingkan dengan ekstrasel. $alam keadaan istirahat potensial membran berkisar antara 5+!%++ m1, selisih potensial membran ini akan tetap sama selama sel tidak mendapatkan rangsangan. Potensial membran ini terjadi akibat perbedaan letak dan jumlah ion!ion terutama ion /aF,  F dan aF F. -ila sel syaraf mengalami stimulasi, misalnya stimulasi listrik akan

mengakibatkan menurunnya potensial membran. Penurunan potensial membran ini akan menyebabkan permeabilitas membran terhadap ion /aF akan meningkat,

sehingga /aF akan lebih banyak masuk ke dalam sel. elama serangan ini lemah,

 perubahan potensial membran masih dapat dikompensasi oleh transport aktif ion  /aF dan ion  F, sehingga selisih potensial kembali ke keadaan istirahat.

Perubahan potensial yang demikian sifatnya tidak menjalar, yang disebut respon lokal. -ila rangsangan cukup kuat perubahan potensial dapat mencapai ambang tetap ( !iring level ), maka permiabilitas membran terhadap /aF akan meningkat

secara besar!besaran pula, sehingga timbul spike potensial atau potensial aksi.

Potensial aksi ini akan dihantarkan ke sel syaraf berikutnya melalui sinap dengan  perantara Gat kimia yang dikenal dengan neurotransmiter. -ila perangsangan telah

selesai, maka permiabilitas membran kembali ke keadaan istiahat, dengan cara  /aF akan kembali ke luar sel dan  F  masuk ke dalam sel melalui mekanisme

 pompa /a! yang membutuhkan ATP dari sintesa glukosa dan oksigen. &ekanisme terjadinya kejang ada beberapa teori3

(15)

a. Eangguan pembentukan ATP dengan akibat kegagalan pompa /a!  misalnya pada hipoksemia, iskemia, dan hipoglikemia. edangkan pada kejang sendiri dapat terjadi pengurangan ATP dan terjadi hipoksemia.

 b. Perubahan permeabilitas membran sel syaraf, misalnya hipokalsemia dan hipomagnesemia.

c. Perubahan relatif neurotransmiter yang bersifat eksitasi dibandingkan dengan neurotransmiter inhibisi dapat menyebabkan depolarisasi yang  berlebihan. &isalnya ketidakseimbangan antara EA-A atau glutamat akan

menimbulkan kejang.

Patofisiologi kejang demam secara pasti belum diketahui, diperkirakan  bahwa pada keadaan demam terjadi peningkatan reaksi kimia tubuh. $engan demikian reaksi!reaksi oksidasi terjadi lebih cepat dan akibatnya oksigen akan lebih cepat habis, terjadilah keadaan hipoksia. Transport aktif yang memerlukan ATP terganggu, sehingga /a intrasel dan  ekstrasel meningkat yang akan menyebabkan potensial membran cenderung turun atau kepekaan sel saraf  meningkat.

Pada saat kejang demam akan timbul kenaikan konsumsi energi di otak,  jantung, otot, dan terjadi gangguan pusat pengatur suhu. $emam akan menyebabkan kejang bertambah lama, sehingga kerusakan otak makin  bertambah. Pada kejang yang lama akan terjadi perubahan sistemik berupa hipotensi arterial, hiperpireksia sekunder akibat akti#itas motorik dan hiperglikemia. emua hal ini akan mengakibatkan iskemi neuron karena kegagalan metabolisme di otak.

$emam dapat menimbulkan kejang melalui mekanisme sebagai berikut3

a. $emam dapat menurunkan nilai ambang kejang pada sel!sel yang belum matang4immatur.

 b. Timbul dehidrasi sehingga terjadi gangguan elektrolit yang menyebabkan gangguan permiabilitas membran sel.

c. &etabolisme basal meningkat, sehingga terjadi timbunan asam laktat dan "* yang akan merusak neuron.

(16)

d. $emam meningkatkan Cerebral 'lood (low (C'( ) serta meningkatkan

kebutuhan oksigen dan glukosa, sehingga menyebabkan gangguan  pengaliran ion!ion keluar masuk sel.

ejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak akan meninggalkan gejala sisa. Pada kejang demam yang lama (lebih dari %2 menit)  biasanya diikuti dengan apneu, hipoksemia, (disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet), asidosis laktat (disebabkan oleh metabolisme anaerobik), hiperkapnea, hipoksi arterial, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. 'angkaian kejadian di atas menyebabkan gangguan peredaran darah di otak, sehingga terjadi hipoksemia dan edema otak, pada akhirnya terjadi kerusakan sel neuron.

2.+.+ akt,r $sk, Bangktan Kejang De'a'

Terdapat enam faktor yang berperan dalam etiologi kejang demam, yaitu3 demam, usia, dan riwayat keluarga, faktor prenatal #usia saat ibu hamil, riwayat

 pre!eklamsi pada ibu, hamil primi4multipara, pemakaian bahan toksik), faktor   perinatal (asfiksia, bayi berat lahir rendah, usia kehamilan, partus lama, cara

lahir) dan faktor pascanatal (kejang akibat toksik, trauma kepala). a. <aktor demam

$emam apabila hasil pengukuran suhu tubuh mencapai di atas 5B,D aksila atau di atas 5D,5 rectal. $emam dapat disebabkan oleh berbagai sebab,

tetapi pada anak tersering disebabkan oleh infeksi. $emam merupakan faktor  utama timbulnya kejang demam berulang. $emam yang disebabkan oleh infeksi #irus merupakan penyebab terbanyak timbul bangkitan kejang demam.

Perubahan kenaikan temperatur tubuh berpengaruh terhadap nilai ambang kejang dan eksitabilitas neural, karena kenaikan suhu tubuh berpengaruh pada kanal ion dan metabolisme seluler serta produksi ATP. etiap kenaikan suhu tubuh satu derajat celsius akan meningkatkan metabolisme karbohidrat %+!%2;, sehingga dengan adanya peningkatan suhu akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan glukosa dan oksigen. Pada demam tinggi akan dapat mengakibatkan hipoksi jaringan termasuk jaringan otak. Pada keadaan metabolisme di siklus

(17)

reb normal, satu molekul glukose akan menghasilkan 5D ATP, sedangkan pada keadaan hipoksi jaringan metabolisme berjalan anaerob, satu molekul glukosa hanya akan menghasilkan * ATP, sehingga pada keadaan hipoksi akan kekurangan energi, hal ini akan menggangu fungsi normal pompa /aF dan

reuptake asam glutamat oleh sel. e dua hal tersebut mengakibatkan masuknya

ion /aF ke dalam sel meningkat dan timbunan asam glutamat ekstrasel.

Timbunan asam glutamat ekstrasel akan mengakibatkan peningkatan  permeabilitas membran sel terhadap ion /aF  sehingga semakin meningkatkan

masuknya ion /aF ke dalam sel. &asuknya ion /aF ke dalam sel dipermudah

dengan adanya demam, sebab demam akan meningkatkan mobilitas dan  benturan ion terhadap membran sel. Perubahan konsentrasi ion /aF intrasel dan ekstrasel tersebut akan mengakibatkan perubahan potensial membran sel neuron sehingga membran sel dalam keadaan depolarisasi. $isamping itu demam dapat merusak neuron EA-A!ergik sehingga fungsi inhibisi terganggu.

-erdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa demam mempunyai peranan untuk terjadi perubahan potensial membran dan menurunkan fungsi inhibisi sehingga menurunkan nilai ambang kejang. Penurunan nilai ambang kejang memudahkan untuk timbul bangkitan kejang demam. -angkitan kejang demam terbanyak terjadi pada kenaikan suhu tubuh  berkisar 5D,C!5C,C (6+!2;). -angkitan kejang terjadi pada suhu tubuh 5B!5D,C sebanyak %%; penderita dan sebanyak *+ ; penderita kejang demam terjadi pada suhu tubuh di atas 6+. Tidak diketahui secara pasti saat timbul bangkitan kejang, apakah pada waktu terjadi kenaikan suhu tubuh ataukah pada waktu demam sedang berlangsung. esimpulan dan berbagai basil  penelitian dan percobaan binatang menyimpulkan bahwa kejang terjadi

tergantung dari kecepatan waktu antara mulai timbul demam sampai mencapai suhu puncak (onset) dan tinggiya suhu tubuh.etiap kenaikan suhu +,5 secara

cepat akan menimbulkan discharge di daerah oksipital. Ada discharge di daerah

oksipital dapat dilihat dari hasil rekaman 00E. enaikan mendadak suhu tubuh menyebabkan kenaikan kadar asam glutamat dan menurunkan kadar glutamine tetapi sebaliknya kenaikan suhu tubuh secara pelan tidak menyebabkan kenaikan kadar asam glutamat. Perubahan glutamin menjadi asam glutamat

(18)

dipengaruhi oleh kenaikan suhu tubuh. Asam glutamat merupakan eksitator. edangkan EA-A sebagai inhibitor tidak dipengaruhi oleh kenaikan suhu tubuh mendadak. esimpulan dan uraian tersebut di atas menunjukkan apabila kejang demam pertama terjadi pada kenaikan suhu tidak mendadak dengan puncak  tidak terlalu tinggi (berkisar 5D ! 6+) serta jarak waktu antara mulai demam sampai timbul bangkitan kejang singkat (kurang dari satu jam), merupakan indikator bahwa penderita tersebut mempunyai nilai ambang terhadap kejang rendah. /ilai ambang kejang rendah merupakan faktor risiko untuk terjadi  bangkitan kejang demam.

 b. <aktor usia

Tahap perkembangan otak dibagi  fase yaitu3 %) neurulasi *)  perkembangan prosensefali, 5) proliferasi neuron, 6) migrasi neural, 2) organisasi, dan ) mielinisasi. Tahapan perkembangan otak intrauteri dimulai fase neurulasi sampai migrasi neural. <ase perkembangan organisasi dan mielinisasi masih berlanjut sampai tahun!tahun pertama paska natal. ehingga kejang demam terjadi pada fase perkembangan tahap organisasi sampai mielinisasi. <ase perkembangan otak merupakan fase yang rawan apabila mengalami bangkitan kejang, terutama fase perkembangan organisasi. <ase  perkembangan organisasi meliputi %) diferensiasi dan pemantapan neuron pada

 subplate) *) Pencocokan, orientasi, pemantapan dan peletakan neuron pada

korteks, 5) Pembentukan cabang neurit dan denrit, 6) pemantapan kontak di sinapsis, 2) kematian sel terprogram ) proliferasi dan diferensiasi sel. Pada fase  proses diferensiasi dan pemantapan neuron di  subplate. terjadi diferensiasi

neurotransmiter eksitator dan inhibitor. Pembentukan reseptor untuk eksitator  lebih awal dibandingkan inhibitor. Pada fase proses pembentukan cabang! cabang akson (neurit dan denrit), terjadi proses eliminasi sel neuron yang tidak  terpakai. inapsis yang dieliminasi berkisar 6+ ;. Proses ini disebut proses regresif. Proses tersebut terjadi sampai anak berusia * tahun. Apabila pada masa  proses regresif terjadi bangkitan kejang demam dapat mengakibatkan trauma  pada sel neuron sehingga mengakibatkan modifikasi proses regresif . Apabila

 pada fase organisasi ini terjadi rangsangan berulang!ulang seperti kejang demam  berulang akan mengakibatkan aberrant plasticit&, yaitu terjadi penurunan fungsi

(19)

EA-A!ergic dan desensitisasi reseptor EA-A serta sensitisasi reseptor 

eksitator. Pada keadaan otak belum matang reseptor untuk asam glutamat

sebagai reseptor eksitator padat dan aktif, sebaliknya reseptor EA-A sebagai inhibitor kurang aktif, sehingga otak belum matang eksitasi lebih dominan

dibanding inhibisi. orticotropin releasing hormon ('H) merupakan

neuropeptid eksitator , berpotensi sebagai prokon#ulsan. Pada otak belum

matang kadar 'H di hipokampus tinggi. adar 'H tinggi di hipokampus  berpotensi untuk terjadi bangkitan kejang apabila terpicu oleh demam.

&ekanisme homeostasis pada otak belum matang masih lemah, akan berubah sejalan dengan perkembangan otak dan pertambahan usia, meningkatkan eksitabilitas neuron. Atas dasar uraian di atas, pada masa otak belum matang mempunyai eksitabilitas neural lebih tinggi dibandingkan otak yang sudah matang. Pada masa ini disebut sebagai developmental window dan rentan

terhadap bangkitan kejang. 0ksitator lebih dominan dibanding inhibitor, sehingga tidak ada keseimbangan antara eksitator dan inhibitor. Anak mendapat serangan bangkitan kejang demam pada usia awal masa developmental window

mempunyai waktu lebih lama fase eksitabilitas neural dibanding anak yang mendapat serangan kejang demam pada usia akhir masa developmental window

. Apabila anak mengalami stimulasi berupa demam pada otak fase eksitabilitas akan mudah terjadi bangkitan kejang. Developmental window merupakan masa

 perkembangan otak fase organisasi yaitu pada waktu anak berusia kurang dari * tahun.

Arnold (*+++) dalam penelitiannya mengidentifikasikan bahwa sebanyak 6; anak akan mengalami demam kejang, terjadi dalam satu kelompok  usia antara 5 bulan sampai dengan 2 tahun dengan demam tanpa infeksi intrakranial, sebagian besar (C+;) kasus terjadi pada anak antara usia  bulan sampai dengan 2 tahun dengan kejadian paling sering pada anak usia %D sampai dengan *6 bulan, faktor riwayat keluarga yang positif kejang demam sebanyak  *2; dari anak yang mengalami kejang demam. epertiga anak akan mengalami kejang demam, %2; atau lebih akan mengalami kejang demam yang berulang. <aktor resiko yang paling penting adalah usia, sebanyak 2+; anak mengalami kejang demam yang berulang pada usia kurang dari % tahun dibandingkan dengan hanya *+; anak pada usia lebih dari 5 tahun.

(20)

$i &ario dalam penelitiannya mengidentifikasikan bahwa sebagian  besar kejadian kejang yang dialami oleh anak adalah kejang demam, sebanyak 

6; sampai dengan 2; anak pada usia kurang dari 2 tahun yang terjadi di Amerika dan 0ropa. $i negara lain, frekuensi kejang demam dapat lebih tinggi antara %+; sampai dengan %2;. Penelitian yang dilakukan oleh Talebian terhadap %++ anak yang mengalami kejang demam pada usia kurang dari 2 tahun mengidentifikasikan bahwa usia anak kurang dari % tahun positif  mengalami kejang demam sebanyak  anak (26,22;), pada usia antara % sampai dengan 2 tahun positif kejang demam sebanyak  anak (%2,5D;).

c. <aktor riwayat keluarga

-elum dapat dipastikan cara pewarisan sifat genetik terkait dengan kejang demam. Tetapi nampaknya pewarisan gen secara autosomal dominan  paling banyak ditemukan. Penetrasi autosomal dominan diperkirakan sekitar 

+; !D+;. Apabila salah satu orang tua penderita dengan riwayat pernah menderita kejang demam mempunyai risiko untuk terjadi bangkitan kejang demam sebesar *+;!**;. $an apabila ke dua orang tua penderita tersebut mempunyai riwayat pernah menderita kejang demam maka risiko untuk terjadi  bangkitan kejang demam meningkat menjadi 2C!6;, tetapi sebaliknya apabila kedua orangnya tidak mempunyai riwayat pemah menderita kejang demam maka risiko terjadi kejang demam hanya C;. Pewarisan kejang demam lebih  banyak oleh ibu dibandingkan ayah, yaitu *B ; berbanding B;.

&enurut penelitian yang dilakukan oleh -ethune et. al di Halifa9,

 /o#a cosia, anada mengemukakan bahwa %B; kejadian kejang demam dipengaruhi oleh faktor keturunan. Hal ini juga di dukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Talebian et. al yang memperoleh hasil bahwa sebesar 6*,%;

kejadian kejang demam pada bayi disebabkan oleh riwayat keluarga yang juga  positif kejang demam. $emikian pula diungkapkan oleh Annergers et. al(%CDB)

 pada hasil penelitian yang dilakukannya di &innesota Amerika pada DB anak, dapat dibuktikan bahwa riwayat keluarga kejang demam memicu terjadinya kejang demam pada anak. Hasil penelitian dewasa ini menunjukkan adanya  pengaruh faktor riwayat keluarga pada insiden kejang demam. Hal ini

dimungkinkan dengan terjadinya frekuensi kejang demam yang meningkat pada anggota keluarga penderita dengan kejang demam.

(21)

-iasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang kejang sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang  paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diaGepam yang diberikan secara

intra#ena. $osis diaGepam intra#ena adalah +,5!+,2 mg4kg perlahan!lahan dengan kecepatan %!* mg4menit atau dalam waktu 5!2 menit, dengan dosis maksimal *+ mg.

"bat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau di rumah adalah diaGepam rektal (le#el 77!*, le#el 77!5, rekomendasi -). $osis diaGepam rektal adalah +,2!+,B2 mg4kg atau diaGepam rektal 2 mg untuk anak dengan berat  badan kurang dari %+ kg dan %+ mg untuk berat badan lebih dari %+ kg. Atau diaGepam rektal dengan dosis 2 mg untuk anak dibawah usia 5 tahun atau dosis B,2 mg untuk anak di atas usia 5 tahun (lihat bagan penatalaksanaan kejang demam).

-ila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari  jenis kejang demam apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor 

risikonya.

Pemberian obat pada saat demam

a. Antipiretik 

Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang demam (le#el 7, rekomendasi $), namun para ahli di 7ndonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan (le#el 777, rekomendasi -). $osis  parasetamol yang digunakan adalah %+ I%2 mg4kg4kali diberikan 6 kali sehari

dan tidak lebih dari 2 kali. $osis 7buprofen 2!%+ mg4kg4kali ,5!6 kali sehari. &eskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat menyebabkan sindrom 'eye terutama pada anak kurang dari %D bulan, sehingga penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan.

". Antikon#ulsan

Pemakaian diaGepam oral dosis +,5 mg4kg setiap D jam pada saat demam menurunkan risiko berulangnya kejang pada 5+;!+; kasus, begitu pula dengan diaGepam rektal dosis +,2 mg4kg setiap D jam pada suhu @ 5D,2. $osis tersebut cukup tinggi dan menyebabkan ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup  berat pada *2!5C; kasus. <enobarbital, karbamaGepin, dan fenitoin pada saat

(22)

BAB III DATA PENAMATAN ).1 Data Pasen 'ekam &edik 3 +C5+2  /ama 3 An. /A ?mur 3 *,2 tahun -erat -adan 3 %% kg Tinggi -adan 3 ! Agama 3 7slam

Alamat 3 8l. $anau 'anau 'aya, ota $epok   &asuk ' 3 *% &aret *+%6

'uangan 3P. aut

).2 Ana'ness Pasen

eluhan ?tama 3 $emam

eluhan Tambahan 3 -atuk, pilek, kejang

'iwayat Penyakit ekarang 3 $emam timbul tiba!tiba, setelah satu hari tak  kunjung turun disertai kejang.

).) Pe'erksaan U'u'

eadaan Tss

esadaran ompus mentis

Tekanan darah !

 /adi %%+94menit

uhu 5D,2

Pernapasan *+94menit

).+ Data La",rat,ru'

).+.1 Data La",rat,r' 23 Maret 231+

Hasl La",rat,ru'

 /o. Pemeriksaan lab /ormal Hasil

% eukosit 2+++!%++++4Jl CC++ * 0ritrosit 6,2! 2,2 juta4mm5 6,DD 5 Hemoglobin P 3%6!%gr4d : 3 %*!% gr4d %*,% 6 Hematokrit ; P 3 65!2% 5B

(23)

;: 3 5D!6

2 Trombosit %2+ ribu!6++ ribu4mm5

*D* ri  bu

).+.2 Data la",rat,ru' 21 Maret 231+

Hasl La",rat,ru'

 /o. Pemeriksaan lab /ormal Hasil

% eukosit 2+++!%++++4Jl D++ * 0ritrosit 6,2! 2,2 juta4mm5 6,B* 5 Hemoglobin P 3%6!%gr4d : 3 %*!% gr4d %%, 6 Hematokrit ; P 3 65!2% ;: 3 5D!6 5 2 Trombosit %2+ ribu!6++ ribu4mm5 *D rib u

).- Data $eka' Me*s

*% &aret *+%6  $emam tinggi, kejang, pilek, batuk  

"

T$ 3 !

 /adi 3 %%+94menit uhu 3 5B,6"

Pernafasan 3 *+94menit esadaran 3 compus mentis

Pemeriksaan imia aboratorium

A "bs. <ebris

ejang demam sederhana <aringitis akut

P 7nfus ' %+ tetes4menit 7njeksi eftria9one %9%gr 

(24)

Paracetamol *+ mg $iaGepam * mg uminal *9*+ mg

tesolid ! rectal (bila kejang)

** &aret *+%6  emah, -atuk, pilek  

"

T$ 3 !

 /adi 3 %*+94menit uhu 3 5B,%"

Pernafasan 3 *+94menit esadaran 3 compus mentis

Pemeriksaan imia aboratorium A "bs. <ebris <aringitis akut P 7nfus ' %+ tetes4menit 7njeksi eftria9one %9%gr  Paracetamol *+ mg $iaGepam * mg uminal *9*+ mg

(25)

*5 &aret *+%6  Tidak demam, pilek, batuk  

"

T$ 3 !

 /adi 3 %*+94menit uhu 3 5"

Pernafasan 3 *+94menit esadaran 3 compus mentis

Pemeriksaan imia aboratorium A &asalah teratasi

P 7nter#ensi dihentikan

(26)

).0 20-03-14 21-03-14 22-03-14 23-03-14 34 35 36 37 38 3938.5 37.4 37.1 36 Grafk Suhu Suhu tanggal pemeriksaan Suhu tubuh

$eka(tulas Pe'"eran !"at Pasen

25  /o. T0'AP7  /A&A L $"7 "-AT 'egimen *%454*+%6 **454*+%6 *5454*+%6

Pagi i o &alam Pagi i o &alam Pagi i ore

A7'A/ 7/<? L $ % 'inger aktat %+ tts M M M M M M M M M ! ! "-AT 7/807 % eftria9one %9%gr M M ! "-AT "'A % Paracetamol 59%*+ mg M M M M M M M * $iaGepam 59*mg M M M M M M M

(27)

).4 In&,r'as !"at #MIMS5 IS!%

%. Paracetamol

7ndikasi 3 meringankan rasa sakit kepala, sakit gigi, nyeri setelah operasi, menurunkan demam, antipiretik  dan analgesik.

&ekanisme erja 3 menghambat sintesis prostaglandin pada ssp. Peringatan 3 hati!hati pada pasien dengan gangguan gagal

ginjal dan penggunaan jangka panjang pada  pasien anemia.

ontraindikasi 3 hipersensitifitas pada paracetamol dan penderita gangguan fungsi hati.

0fek samping 3 dosis tinggi menyebabkan kerusakan fungsi hati. $osis 3 =% tahun +!%*+ mg, %!2 tahun %*+ mg!*2+ mg,

!%* tahun *2+!2++ mg, @%* tahun maks 6 gram sehari.

7nteraksi obat 3 resin penukar anion 3 kolesteramin menurunkan aborpsi paracetamolK antikoagulan3 penggunaan

 /o. T0'AP7

 /A&A L $"7 "-AT

'egimen

*%454*+%6 **454*+%6 *5454*+%6

Pagi i o &alam Pagi i o &alam Pagi i ore

A7'A/ 7/<? L $ % 'inger aktat %+ tts M M M M M M M M M ! ! "-AT 7/807 % eftria9one %9%gr M M ! "-AT "'A % Paracetamol 59%*+ mg M M M M M M M * $iaGepam 59*mg M M M M M M M 5 uminal *9*+ mg M M M M

(28)

PT secara rutin dalam waktu yang lama mungkin meningkatkan warfarin.

*. $iaGepam

7ndikasi 3 pemakaian jangka pendek pada ansietas atau insomnia, tambahan pada putus alkohol akut, status epileptikus, kejang demam dan spasme otot. Peringatan 3 dapat mengganggu kemampuan mengemudi atau

mengoperasi kan mesin, hamil, menyusui, bayi  premature, penyakit hepar dan ginjal, kurangi dosis pada usia lanjut dan debil, hindari  pemakaian jangka panjang, peringatan khusus

untuk injeksi i#, porfiria.

ontraindikasi 3 depresi pernapasan, gangguan hepar berat, miastenia gra#ia, insufisiensi pulmoner akut, kondisi fobia dan obsesi, psikosis kronik, serangan asma akut, trisemester pertama kehamilan, tidak boleh digunakan sendiri pada kondisi depresi atau ansietas dengan depresi.

0fek samping 3 mengantuk, kelemahan otot, ataksia, reaksi  paradoksikal dalam agresi, gangguan mental, amnesia, ketergantungan, depresi pernapasan, kepala terasa ringan hari berikutnya, bingung. $osis 3 oral *!2mg 594hariK inj 2!%+ mg 7&471.

7nteraksi obat 3 kadar plasmasebagian benGodiaGpin dinaikkan oleh flu#oksamin.

5. eftria9one

7ndikasi 3 infeksi gram positif dan negatif pada saluran napas bawah, saluran kemih, infeksi gonoreal, kulit, infeksi tulang dan jaringan.

Peringatan 3 pasien gangguan fungsi ginjal, gangguan sintesa #itamin  atau mendapat asupan #itamin   rendah

ontraindikasi 3 hipersensiti#itas terhadap sefalosporin dan  penisilin, riwayat anafilaksis.

(29)

0fek samping 3 gangguan saluran cerna, reaksi hipersensiti#itas, sakit kepala, nyeri pada tempat injeksi

$osis 3 dewasa dan anak @%* tahun sehari %9%!* gr   secara 71, dapat dinaikkan sampai 6 gr sehari dgn inter#al %* jamK bayi s4d %6 hari 3 sehari %9*+! 2+mg4kg --. -ayi %2 hari s4d %* thn 3 sehari %9 *+!D+ mg4kg--.

7nteraksi obat 3 aminoglikosida, diuretik.

6. uminal (Phenobarbital)

6ara Kerja !"at7 <enobarbital adalah antikon#ulsan turunan

 barbiturat yang efektif dalam mengatasi epilepsi  pada dosis subhipnotis. &ekanisme kerja menghambat kejang kemungkinan melibatkan  potensiasi penghambatan sinaps melalui suatu kerja  pada reseptor EA-A, rekaman intrasel neuron korteks atau spinalis kordata mencit menunjukkan  bahwa fenobarbital meningkatkan respons terhadap

EA-A yang diberikan secara iontoforetik. 0fek ini telah teramati pada konsentrasi fenobarbital yang sesuai secara terapeutik. Analisis saluran tunggal  pada out patch bagian luar yang diisolasi dari

neuron spinalis kordata mencit menunjukkan bahwa fenobarbital meningkatkan arus yang diperantarai reseptor EA-A dengan meningkatkan durasi ledakan arus yang diperantarai reseptor EA-A tanpa merubah frekuensi ledakan. Pada kadar yang melebihi konsentrasi terapeutik, fenobarbital juga membatasi perangsangan berulang terus menerusK ini mendasari beberapa efek kejang fenobarbital

(30)

 pada konsentrasi yang lebih tinggi yang tercapai selama terapi status epileptikus.

In*kas 7ejang umum tonik!klonikK kejang parsialK kejang

 pada neonatusK kejang demamK status epileptikus.

(engelolaan insomnia jangka pendek 5 'eredakan

kecemasan dan ketegangan5 'eredakan gejala

epilepsi

K,ntran*kas 7 Hipersensitif terhadap barbiturat atau komponen

sediaan, gangguan hati yang jelas, dispnea, obstruksi saluran nafas, porfiria, hamil.

D,ss 7  ejang umum tonik!klonik, kejang parsial, per 

oral, $0:AA +!%D+ mg saat malamK A/A  sampai D mg4kg sehariK ejang demam, per oral, A/A sampai D mg4kg sehariK ejang neonatal, injeksi intra#ena (larutkan %3%+ dengan air untuk  injeksi), neonatus 2!%+ mg4kg tiap *+!5+ menit sampai konsentrasi plasma 6+ mg4liter. tatus epileptikus, injeksi intra#ena (larutkan %3 %+ dengan air untuk injeksi), $0:AA %+ mg4kg dengan kecepatan tidak lebih dari %++ mg4menit (sampai dosis maksimal % g)K A/A 2!%+ mg4kg dengan kecepatan tidak lebih dari 5+ mg4menit.

Perngatan *an Perhatan7 ?sia lanjut, lemah!tidak berdaya, anak 

(dapat menyebabkan perubahan perilaku), gangguan fungsi ginjal atau fungsi hati, depresi napas (hindari  jika berat), hindari penghentian mendadak, dapat

menggangu kemampuan melakukan tugas terampil, contoh mengoperasikan mesin, menyetir.

E&ek Sa'(ng 7&engantuk, kelelahan, depresi mental, ataksia dan

(31)

hiperkinesia pada anakK anemia megaloblastik(dapat diterapi dengan asam folat)

(32)

BAB I8 PEMBAHASAN

Pemantauan terapi obat (PT") adalah suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional untuk   pasien. egiatan PT" ini meliputi3 pengkajian pemilihan obat, dosis, cara  pemberian obat, respon terapi, reaksi obat yang tidak dikehendaki ('"T$), dan rekomendasi perubahan atau alternatif terapi. Pemantauan terapi obat harus dilakukan secara berkesinambungan dan die#aluasi secara teratur pada periode tertentu agar keberhasilan ataupun kegagalan terapi dapat diketahui.

$alam pemantauan terapi obat dilakukan identifikasi masalah terkait obat dimana kegiatan tersebut meliputi ada indikasi penyakit tetapi tidak dilakukan terapi, pemilihan obat yang tidak tepat, dosis terlalu tinggi, dosis terlalu rendah, reaksi obat yang tidak dikehendaki ('"T$), dan interaksi obat. etelah hal tersebut dikaji kemudian dilakukan rekomendasi terapi sehingga pelaksanaan terapi bisa berjalan efektif.

Pada hari amis, *+ &aret *+%6 pasien masuk ?E$ dengan keluhan demam disertai kejang, batuk, pilek. emudian dilakukan pemeriksaan suhu tubuh dan kondisi #ital lainnya, setelah itu diberikan penanganan dengan  pemberian proris syrup dan stesolid rectal apabila timbul kejang lagi, diagnosa

yang diberikan adalah obs. febris.

Pada tanggal *% &aret, pasien tersebut masuk ke dalam rawat inap Pulau aut, hasil laboratorium pasien tersebut menunjukkan kadar hemoglobin dan hematokrit yang berada dibawah batas normal. Penatalaksanaan yang dilakukan di Pulau aut adalah pemberian infus ', injeksi ceftria9one, paracetamol, diaGepam dan luminal. Pemberian injeksi ceftria9one dilakukan pada pagi hari, alasan digunakannya antibiotik dalam penatalaksanaan ini dimungkinkan karena febris yang timbul pada pasien belum jelas penyebabnya maka dari itu pemberian antibiotik spektrum luas diharapkan mampu mengobati demam yang sebagian  besar pada anak disebabkan karena infeksi. Paracetamol diberikan dalam

(33)

menurunkan kadar paracetamol dengan meningkatkan metabolisme paracetamol. 7nteraksi tersebut merupakan interaksi minor yang tidak terlalu signifikan.

Pada tanggal ** &aret *+%6, kondisi pasien sudah mulai membaik, suhu tubuh turun dan sudah tidak timbul demam, namun pasien masih tidak memiliki napsu makan maka dari itu infus ' dilanjutkan.

Pada tanggal *5 &aret *+%6, pasien sudah tidak demam dan napsu makan sudah kembali normal. &asalah teratasi dan inter#ensi dihentikan.

Penggunaan obat!obatan pada pasien ini sudah tepat karena pemberian dilakukan berdasarkan petunjuk pengobatan dari penyakit. elain itu dosis yang digunakan juga sudah tepat (&7&, 7"). alaupun ada interaksi pada obat! obatan yang digunakan, interaksi ini tidak mengharuskan untuk dihindari  pemakaian obat!obatannya melainkan cukup dipantau dari efek yang dihasilkan atau pemakaian dosisnya saja sehingga penggunaannya tetap aman, efektif, efisien, serta rasional (tockley,%CC6).

(34)

BAB 8

KESIMPULAN DAN SA$AN -.1 Kes'(ulan

• $ilihat dari pemantauan terapi obat pada pasien di Pulau aut ini,

 penatalaksanaan yang dilakukan telah tepat.

• Adanya interaksi antara diaGepam dan parasetamol merupakan

interaksi minor yang tidak terlalu signifikan.

• Penatalaksanaan kejang demam secara cepat dapat dengan

menggunakan stesolid rectal.

• Tidak ada perubahan penggunaan obat dalam kasus ini, hanya

 perlu dipantau efek dan dosis yang digunakan.

-.2 Saran

• Penggunaan diaGepam dan paracetamol dipantau efeknya dan

diberi jeda penggunaan untuk mengurangi terjadinya interaksi.

• $ilakukannya pemberian informasi terhadap penanganan kejang

Referensi

Dokumen terkait

Kariadi Semarang menunjukkan bahwa anak yang berusia &lt;2 tahun mempunyai risiko 3,4 kali lebih besar mengalami kejang demam dibandingkan dengan anak yang

Kejang demam menurut International League Against Epilepsy (ILAE) adalah kejang yang terjadi setelah usia 1 bulan yang berkaitan dengan demam yang bukan disebabkan oleh

Kejang demam adalah kejang yang terjadi saat demam (suhu rektal diatas 380c) tanpa adanya infeksi SSP atau gangguan elektrolit akut, terjadi pada anak diatas

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat bayi atau anak mengalai demam tanpa infeksi sisitem saraf pusat yang terjadi pada suhu lebih dari 38 0 C. Kejang demam

Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures (1980), kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak yang biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5

Arnold (2000) dalam penelitiannya mengidentifikasikan bahwa sebanyak 4% anak akan mengalami demam kejang, terjadi dalam satu kelompok usia antara 3 bulan sampai dengan 5

Kriteria inklusi adalah adalah kejang demam sederhana, namun kejang demam kejang demam sederhana, usia 6 bulan sampai 5 tahun, dengan onset fokal, durasi berkepanjangan, atau

Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada kejang demam yang tidak khas, misalnya: kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, kejang demam fokal.. Pemeriksaan CT Scan dilakukan