• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS PETERNAKAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN (Revisi Kedua)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS PETERNAKAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN (Revisi Kedua)"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)

DINAS PETERNAKAN PROVINSI SUMATERA BARAT

TAHUN 2010 – 2015

(Revisi Kedua)

PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA BARAT

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya sehingga revisi ke dua Rencana Strategis (Renstra) Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat tahun 2010 - 2015 dapat diselesaikan.

Rencana Strategis merupakan suatu proses rencana yang berorientasi pada hasil yang dicapai dalam kurun waktu lima tahun dengan memperhitungkan berbagai kekuatan/potensi, hambatan dan peluang yang ada atau mungkin timbul. Dokumen Renstra memuat visi, misi, tujuan dan sasaran serta kebijakan dan program selama periode 2010 - 2015.

Renstra Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 - 2015 ini dalam implementasi setiap tahunnya dijabarkan dalam bentuk Rencana Kerja Tahunan (Renja) serta Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat dalam kurun waktu 2010 - 2015.

Dari hasil evaluasi maka diperlukan perbaikan / revisi ke dua Rencana Strategis (Renstra) SKPD Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 – 2015.

Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha dan upaya

kita. Amin.

Padang, Desember 2014 KEPALA DINAS PETERNAKAN PROVINSI SUMATERA BARAT

Drh. ERINALDI, MM Pembina Utama Muda, NIP. 19641111 199103 1 006

(3)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Landasan Hukum 1.3 Maksud dan Tujuan 1.4 Sistimatika Penulisan 1 1 2 3 4

BAB 2 GAMBARAN PELAYANAN DINAS PETERNAKAN

PROVINSI SUMATERA BARAT

2.1. Tugas Fungsi dan Struktur Organisasi 2.2. Sumberdaya SKPD

2.3. Kinerja Pelayanan SKPD

2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat

6 6 15 17 27

BAB 3 ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI

3.1. Identifikasi Permasalahan berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat 3.2. Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah

3.3. Telaahan Rentra Ditjen Peternakan, Ditjen PPHP dan Ditjen PSP Kementrian Pertanian

3.4. Telahaan Rangcangan Tata Ruang Wilayah 3.5. Penentuan Isu – isu Strategis

36 36 37 39 41 42 BAB 4 VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN

KEBIJAKAN 4.1. Visi dan Misi

4.2. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat

4.3. Strategi dan Kebijakan

44 46 48 54 BAB 5 RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA

DAN PENDANAAN INDIKATIF

5.1. Rencana Program Prioritas 1 : Pengembangan Sentra Kawasan Produksi Peternakn (KSP)

5.2. Rencana Program Prioritas 2: Peningkatan Produksi, Produktifitas dan Mutu dan Keanmanan Produk Peternakan secara Berkesinambungan

5.3. Rencana Program Prioritas 3 : Peningkatan Ketahanan dan Keamanan Pangan Asal Hewan

5.4. Rencana Program Prioritas 4 : Peningkatan Pemasaran Hasil Produk Peternakan

5.5. Rencana Program Prioritas 5 : Program Terpadu 61 62 63 65 65 68

(4)

5.6. Rencana Program Prioritas 6 : Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Peternakan

5.7. Rencana Program Prioritas 7: Peningkatan Kualitas Kelembagaan Dan SDM Pelaku Peternakan

5.8 Program Prioritas 8 : Pemberdayaan Penyuluh Peternakan

5.9 Program Prioritas 9 : Program Pengembangan Kelembagaan Sosial Dan Ekonomi Peternakan

Rencana Program, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran dan Pendanaan Indikatif Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 -2015 70 71 72 73 74 BAB 6 PENUTUP 90

Indikator Kinerja dan Sasaran RPJMD Tahun 2010 – 2015

(5)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Pembangunan sektor peternakan secara kontinyu dan terarah dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan sumbangan bagi pembangunan daerah, secara langsung seperti penyediaan bahan pangan hewani, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat, dan tidak langsung melalui penciptaan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan sektor lain. Sumber daya manusia bersamasama dengan sumber daya alam, teknologi dan kelembagaan merupakan faktor utama yang secara sinergis menggerakkan pembangunan peternakan untuk mencapai peningkatan produksi peternakan. Kontribusi sektor peternakan yaitu pada penyediaan bahan pangan asal hewan dan bahan baku industri, serta ikut berperan dalam pengentasan kemiskinan melalui penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan riil masyarakat.

Sektor peternakan merupakan salah satu bidang usaha yang hampir merata tersebar dan dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di Sumatera Barat. Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu penyangga kebutuhan nasional, dengan komoditas utama yaitu daging dan telur. Kedua komoditas tersebut harus ditunjang dengan ketersediaan populasi ternak yang memadai dengan produktivitas yang tinggi.

Masyarakat peternakan di Sumatera Barat sebagai salah satu stakeholder berperan sangat penting dalam upaya pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, karena masyarakat adalah pelaku utama bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Selanjutnya dengan telah ditetapkan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Nomor 5 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Tahun 2010 –2015, maka Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat sebagai salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) harus menyusun Rencana Strategis (Renstra) sebagai bentuk penjabaran operasional

(6)

Penyusunan Renstra Dinas Peternakan disamping berpedoman pada RPJMD juga harus memperhatikan Rencana Strategis Kementerian Pertanian, Rencana Strategis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Renstra Dinas Kab/Kota yang menangani bidang peternakan, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Barat, serta memperhatikan hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), hasil evaluasi kinerja Dinas Peternakan Periode 2005-2010, serta dengan memperhatikan isu-isu dan faktor-faktor strategis bidang peternakan, baik pada tingkat global, nasional, maupun regional.

Renstra Dinas Peternakan Provinsi Sumatera merupakan dokumen perencanaan periode 5 (lima) tahun, di dalamnya memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Dinas Peternakan sebagai penyusun dan pelaksana kebijakan daerah di bidang pembangunan peternakan, serta bersifat indikatif. Selain itu juga memberikan gambaran perwujudan pelayanan Dinas Peternakan selama 5 (lima) tahun ke depan.

Proses penyusunan Renstra Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 – 2015 dilakukan melalui tahapan persiapan, penyusunan rancangan Renstra, rancangan akhir Renstra, hingga penetapan Renstra, dan telah dimulai sejak dimulainya penyusunan Rancangan Awal RPJMD.

Keterkaitan dengan tahapan penyusunan Renstra Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 -2015 mengacu pada Permendagri Nomor 54 Tahun 2010.

1.2. Landasan Hukum

Penyusunan Renstra Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat 2011-2015 secara yuridis berlandaskan kepada:

1. Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sisitim Perencanaan Pembangunan Nasional.

(7)

4. Undang-undang No. 33, tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah;

5. Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 tentang Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan.

6. Peraturan Pemerintah No. 79, tahun 2001, tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;

7. Peraturan Pemerintah No. 56, tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;

8. Peraturan Pemerintah No. 65, tahun 2005 tentang Standar Pelayanan Minimal;

9. Peraturan Pemerintah No. 8, tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 54, tahun 2010 tentang Pelaksanaan PP No. 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

11. Surat Keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor KEP/214/MPPN/11/2004 tentang Pedoman Perencanaan Pembangunan Nasional;

12. Rencana Strategis Departemen Pertanian 2010-2015;

13. Rencana Strategis Direktorat Jendral Peternakan 2010-2015;

14. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Sumatera Barat tahun 2010 – 2015.

1.3. Maksud dan Tujuan

Renstra disusun sebagai penjabaran secara operasional visi, misi dan program Gubernur yang digambarkan dalam bentuk program dan kegiatan terkait urusan pembangunan peternakan yang harus dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat selama kurun waktu Tahun 2010 – 2015.

(8)

Tujuan Penyusunan Renstra Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 – 2015 :

1. Merumuskan gambaran umum kondisi pelayanan yang akan diselenggarakan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat sebagai penjabaran visi dan misi Gubernur terpilih;

2. Menerjemahkan visi dan misi Gubernur ke dalam tujuan dan sasaran pembangunan daerah selama 5 (lima) tahun sesuai dengan tugas dan fungsi Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat dengan berpedoman kepada RPJMD Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 – 2015;

3. Menetapkan berbagai program dan kegiatan prioritas disertai dengan indikasi pagu anggaran dan target indikator kinerja yang akan dilaksanakan selama periode RPJMD Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 – 2015;

4. Mempermudah pengendalian kegiatan serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan.

1.4. Sistimatika Penulisan

Sistematika penulisan Renstra Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010-2015 adalah sebagai berikut :

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang, maksud, tujuan, dan landasan hukum penyusunan, serta sistematika penulisan.

BAB 2 GAMBARAN PELAYANAN DINAS PETERNAKAN PROVINSI SUMATERA BARAT

Bab ini memberikan gambaran pelayanan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat terkait dengan tugas, fungsi dan struktur organisasi dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah, sumber daya yang dimiliki dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya, kinerja pelayanan yang telah dihasilkan sesuai Renstra periode sebelumnya,

(9)

BAB 3 ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI Bab ini menggambarkan tentang identifikasi permasalahan; telaah visi, misi, dan program-program Gubernur terpilih; faktor-faktor penghambat ataupun pendorong pelayanan ditinjau dari sasaran jangka menengah Renstra K/L, telaah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan isu-isu strategis yang mempengaruhi permasalahan pelayanan terkait dengan tugas dan fungsi Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat.

BAB 4 VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN Bab ini menjelaskan visi, misi, tujuan dan sasaran serta rumusan strategi dan kebijakan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat lima tahun mendatang.

BAB 5 PROGRAM DAN KEGIATAN

Bab ini memuat rencana program, kegiatan, kelompok sasaran,

pendanaan indikatif dan indikator kinerja yang merupakan

penjelasan prioritas-prioritas program dan kegiatan beserta

indikasi pendanaan dan sumber daya, baik yang berasal dari

APBD Provinsi, APBN dan sumber pandanaan lainnya yang sah.

Indikator kinerja merupakan refleksi capaian prioritas program

dan kegiatan yang telah direncanakan dan terukur.

BAB 6 PENUTUP

Bab ini memuat kaidah pelaksanaan yang antara lain meliputi

penjelasan

Renstra

yang

merupakan

pedoman

dalam

penyusunan Renja, penguatan peran para stakeholder, dasar

evaluasi dan laporan serta catatan dan harapan Kepala Dinas

Perternakan Provinsi Sumatera Barat

(10)

BAB 2

GAMBARAN PELAYANAN

DINAS PETERNAKAN PROVINSI SUMATERA BARAT 2.1. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi

Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 110 Tahun 2009 tentang Rincian Tugas Pokok Fungsi Dan Tata Kerja Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat, Dinas Peternakan mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan daerah bidang Peternakan. Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, Dinas Peternakan mempunyai fungsi :

1. Perumusan kebijakan teknis bidang Peternakan;

2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang Peternakan;

3. Pembinaan dan fasilitasi bidang Peternakan lingkup Provinsi dan Kabupaten/Kota;

4. Pelaksanaan kesekretariatan Dinas; 5. Pelaksanaan tugas di bidang Peternakan;

6. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Peternakan;

7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Rincian tugas Kepala Dinas :

1. Menyelenggarakan pembinaan dan pengendalian pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas;

2. Menyelenggarakan penetapan kebijakan teknis dinas sesuai dengan kebijakan umum Pemerintah Daerah;

3. Menyelenggarakan perumusan dan penetapan pemberian dukungan tugas atas penyelenggaraan pemerintahan Daerah di bidang Peternakan;

4. Menyelenggarakan penetapan program kerja dan rencana pembangunan Peternakan;

(11)

veteriner, usaha pengolahan dan pemasaran hasil, produksi peternakan, sumberdaya dan teknologi;

6. Menyelenggarakan koordinasi kegiatan teknis sosial; 7. Menyelenggarakan koordinasi dan pembinaan UPTD; 8. Menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait;

9. Menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

Kepala Dinas, membawahi: 1. Sekretariat;

2. Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner; 3. Bidang Bina Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil;

4. Bidang Produksi Peternakan;

5. Bidang Penyuluhan dan Pengelolalan Kawasan; 6. UPTD;

Adapun tugas pokok dan fungsi masing-masing Sekretariat dan Bidang adalah sebagai berikut :

1. Sekretariat

Sekretariat mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kijakan teknis, pembinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang program, keuangan, umum dan keuangan.

Sekretariat mempunyai fungsi :

a. Penyelenggaraan koordinasi perencanaan dan program dinas;

b. Penyelenggaraan pengkajian perencanaan dan program kesekretariatan; c. Penyelenggaraan pengelolaan urusan keuangan, umum dan kepegawaian; dengan rincian tugas Sekretariat :

a. Menyelenggarakan pengkajian serta koordinasi perencanaan dan program Dinas;

b. Menyelenggarakan pengkajian perencanaan dan program kesekretariatan; c. Menyelenggarakan pengelolaan administrasi keuangan;

d. Menyelenggarakan pengkajian anggaran belanja; e. Menyelenggarakan pengendalian administrasi belanja; f. Menyelenggarakan pengelolaan administrasi kepegawaian;

(12)

g. Menyelenggarakan penatausahaan, kelembagaan dan ketatalaksanaan; h. Menyelenggarakan pengelolaan urusan rumah tangga dan perlengkapannya; i. Menyelenggarakan penyusunan bahan rancangan pendokumentasian

peraturan perundang-undangan, pengelolaan perpustakaan, protokol dan hubungan masyarakat;

j. Menyelenggarakan pengelolaan naskah dinas dan kearsipan; k. Menyelenggarakan pembinaan Jabatan Fungsional;

l. Menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan;

m. Menyelenggarakan pengkajian bahan Rencana Strategis, Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), LKPJ dan LPPD Dinas; n. Menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait;

o. Menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Sekretariat membawahi :

a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian; b. Sub Bagian Keuangan;

c. Sub Bagian Program.

2. Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner

Bidang kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan, pelayanan medik dan pengawasan obat hewan, dan kesehatan masyarakat veteriner.

Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner mempunyai fungsi :

a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan;

b. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pelayanan medik dan pengawasan obat hewan;

(13)

dengan rincian tugas :

a. Menyelenggarakan pengkajian program kerja Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner;

b. Menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan teknis pembinaan Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner;

c. Menyelenggarakan pengkajian bahan fasilitasi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner;

d. Menyelenggarakan fasilitasi Kesehatan Hewan dan Kesehatan masyarakat Veteriner;

e. Menyelenggarakan koordinasi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner;

f. Menyelenggarakan fasilitasi dan pengembangan Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner;

g. Menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan;

h. Menyelenggarakan pelaporan dan evaluasi kegiatan Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner;

i. Menyelenggarakan koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan di Kabupaten/Kota;

j. Menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait;

k. Menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, membawahi : a. Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan;

b. Seksi Pelayanan Medik dan Pengawasan Obat Hewan; c. Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner.

3. Bidang Bina Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil

Bidang Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang permodalan investasi dan perizinan, informasi, promosi dan pengembangan usaha, dan pasca panen pengolahan hasil dan standarisasi.

(14)

a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang permodalan investasi dan perizinan;

b. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang informasi, promosi dan pengembangan usaha;

c. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Pasca panen pengolahan hasil dan standarisasi;

d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai tugas dan fungsinya.

dengan rincian tugas :

a. Menyelenggarakan pengkajian program kerja Bidang Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil;

b. Menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan teknis pembinaan Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil;

c. Menyelenggarakan pengkajian bahan fasilitasi Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil;

d. Menyelenggarakan fasilitasi Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil; e. Menyelenggarakan koordinasi Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil; f. Menyelenggarakan fasilitasi dan pengembangan Usaha Pengolahan dan

Pemasaran Hasil;

g. Menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan;

h. Menyelenggarakan pelaporan dan evaluasi kegiatan Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil;

i. Menyelenggarakan koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan di Kabupaten/Kota;

j. Menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait;

k. Menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Bidang Bidang Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil, membawahi : a. Seksi Permodalan Investasi dan Perizinan;

b. Seksi Informasi, Promosi dan Pengembangan usaha; c. Seksi Pasca Panen Pengolahan Hasil dan Standarisasi.

(15)

4. Bidang Produksi Peternakan

Bidang Produksi Peternakan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang pakan ternak, perbibitan dan budidaya.

Bidang Produksi Peternakan mempunyai fungsi :

a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Pakan Ternak;

b. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang perbibitan;

c. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang budidaya.

d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai tugas dan fungsinya.

dengan rincian tugas Bidang Produksi Peternakan :

a. Menyelenggarakan pengkajian program kerja Bidang Produksi Peternakan; b. Menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan teknis pembinaan Produksi

Peternakan;

c. Menyelenggarakan pengkajian bahan fasilitasi Produksi Peternakan; d. Menyelenggarakan fasilitasi Produksi Peternakan;

e. Menyelenggarakan koordinasi Produksi Peternakan;

f. Menyelenggarakan fasilitasi dan pengembangan Produksi Peternakan;

g. Menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan;

h. Menyelenggarakan pelaporan dan evaluasi kegiatan Produksi Peternakan; i. Menyelenggarakan koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan

di Kabupaten/Kota;

j. Menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait;

k. Menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Bidang Produksi Peternakan, membawahi :

a. Seksi Pakan Ternak; b. Seksi Perbibitan; c. Seksi Budidaya.

(16)

5. Bidang Penyuluhan dan Pengelolalan Kawasan

Bidang Penyuluhan dan Pengelolalan Kawasan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan pengembangan Sumberdaya, Sarana Prasarana, Optimalisasi Pengelolaan Kawasan Peternakan dan Penguatan Kelembagaan

Dalam menyelenggarakan tugas pokok, Bidang Penyuluhan dan Pengelolalan Kawasan mempunyai fungsi :

a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis pembinaan dan pelaksanaan pengembangan Sumberdaya;

b. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis pembinaan dan pelaksanaan pengembangan Sarana Peternakan;

c. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis pembinaan dan pelaksanaan penguatan Kelembagaan serta Pengelolaan Kawasan.

dengan rincian tugas Bidang Penyuluhan dan Pengelolalan Kawasan:

a. Menyelenggarakan pengkajian program kerja bidang Penyuluhan dan Pengelolalan Kawasan;

b. Menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan teknis pembinaan Sumberdaya, Sarana, serta Penguatan Kelembagaan dan Pengelolaan Kawasan;

c. Menyelenggarakan pengkajian bahan fasilitasi dalam pengembangan Sumberdaya, serta Penguatan Kelembagaan dan Pengelolaan Kawasan; d. Menyelenggarakan fasilitasi pelaksanaan pengembangan Penyuluhan dan

Pengelolalan Kawasan;

e. Menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan;

f. Menyelenggarakan pelaporan dan evaluasi kegiatan bidang Penyuluhan dan Pengelolalan Kawasan

g. Menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait;

h. Menyelenggarakan tugas kedinasan lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

(17)

c. Seksi Sarana Prasarana dan Teknologi.

Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat juga memiliki UPTD yang dipimpin oleh Kepala UPTD yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Dinas sesuai dengan Keputusan Gubernur Sumatera Barat No. 49 Tahun 2002 tentang Pedoman Umum Tata Hubungan Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) dilingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Struktur Organisasi masing-masing UPTD adalah :

1. Struktur Organisasi Balai Pembibitan / Pengembangan dan Makanan Ternak Simpang Empat UPTD terdiri dari :

a. Kepala Balai

b. Sub Bagian Tata Usaha

c. Seksi Pembibitan / Makanan Ternak

d. Seksi Pengawasan dan Pemeliharaan Makanan Ternak

2. UPTD Balai Inseminasi Buatan (BIB)Tuah Sakato

UPTD Balai Inseminasi Buatan Tuah Sakato merupakan unsur pelaksana Teknis Operasional Dinas di Lapangan yang dipimpin oleh seorang Kepala UPTD yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat .

Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Barat No. 70 tahun 2009 tanggal 14 Desember 2009, bahwa UPTD. Balai Inseminasi Buatan Tuah Sakato ( BIB TS ) merupakan unit pelayanan teknis yang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas teknis operasional Dinas sesuai dengan bidang teknis, disamping menyelenggarakan fungsi teknis juga melaksanakan urusan Tata Usaha dan Rumah Tangga.

Struktur Organisasi UPTD Balai Inseminasi Buatan Tuah Sakato terdiri dari : a. Kepala UPTD

b. Sub Bagian Tata Usaha

c. Seksi Produksi Semen Beku dan Bioteknologi d. Seksi Pemeliharaan dan Pengembangan

3. Struktur Organisasi Balai Laboratorium Kesawan dan Klinik Hewan terdiri dari:

(18)

b. Sub Bagian Tata Usaha c. Seksi Klinik Hewan

d. Seksi Pengujian dan Penelitian

Secara lengkap struktur dan organisasi Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat dapat dilihat pada gambar berikut ini :

UPTD BIB TS UPTD BLKKH UPTD BPPMT UPTD RPHM

SEKSI PENGELOLAAN KAWASAN SEKSI KESEHATAN

MASYARAKAT VETERINER

SEKSI PASCA PANEN PENGOLAHAN HASIL DAN

STANDARISASI

SEKSI PENYEBARAN DAN PENGEMBANGAN SEKSI PENGENDALIAN DAN

PEMBERANTASAN PENYAKIT HEWAN

SEKSI PERMODALAN

INVESTASI DAN PERIZINAN SEKSI PAKAN TERNAK SEKSI PENYULUHANDAN DIKLAT

SEKSI PELAYANAN MEDIK DAN

PENGAWASAN OBAT HEWAN DAN PENGEMBANGAN USAHASEKSI INFORMASI, PROMOSI SEKSI PERBIBITAN SEKSI SARANAPRASARANA

SUB BAGIAN PROGRAM

BIDANG KESEHATAN HEWAN DAN KESMAVET

BIDANG BINA USAHA PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL

BIDANG BINA PRODUKSI PETERNAKAN BIDANG BINA PENYULUHAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN KEPALA DINAS KELOMPOK JABATAN SEKRETARIAT FUNSIONAL

SUB BAGIAN UMUM DAN

(19)

2.2. Sumber Daya Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat

Jumlah Pegawai di Lingkup Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat sebanyak 156 orang yang terdiri atas :

1. Jumlah Pegawai PNS di Provinsi 124 orang

2. Jumlah Pegawai PNS di Daerah (SPT Aneka Ternak Simpang Empat, SPT Labor Simpang Empat, SPT Limbukan) berjumlah 32 orang

Jumlah Pegawai PNS Menurut Pangkat / Golongan terdiri atas : 1. Pangkat / Golongan IV berjumlah : 17 orang

2. Pangkat / Golongan III berjumlah : 90 orang 3. Pangkat / Golongan II berjumlah : 40 orang 4. Pangkat / Golongan I berjumlah : 9 orang Jumlah Pegawai menurut Pedidikan terdiri dari : 1. Magister (S2) : 8 orang

2. Sarjana (S1) : 69 orang 3. Diploma (DIII) : 5 orang 4. SLTA : 57 orang 5. SLTP : 10 orang

6. SD : 7 orang

Jumlah Pejabat Struktural adalah :

1. Kepala Dinas : 1 orang

2. Sekretaris/Kepala Bidang/Ka.UPTD : 8 orang 3. Kepala Seksi/Ka. Subag :19 orang Jumlah Jabatan Fungsional adalah :

1. Pengawas Mutu Pakan : 5 orang

2. Pengawas Bibit : 8 orang

Aset yang dimiliki Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat berupa aset bergerak dan aset tidak bergerak. Aset bergerak berupa kendaraan dinas dan hewan-hewan ternak, sedang aset tidak bergerak berupa gedung dan tanah

(20)

NO. NAMA/JENIS BARANG HARGA (Rp.)

1 2 4

I TANAH 5 Unit 28.950.886.000

II PERALATAN DAN MESIN 550 Unit 2.833.000.480

1 Alat-alat Berat 3 Unit 51.500.000

2 Alat-alat Angkutan Darat Bermotor 18 Unit 276894650 3 Alat-alat Angkutan Darat Tidak Bermotor 15 Unit 17.773.000 4 Alat-alat Bengkel 2 Unit 4.050.000 5 Alat-alat Pengolahan Pertanian dan

Peternakan

17 Unit 60.560.000

6 Peralatan Kantor 15 Unit 19.925.000

7 Perlengkapan Kantor 123 Unit 286.622.000

8 Komputer 60 Unit 467154500

9 Meubelair 106 Unit 287459330

10 Peralatan Dapur 18 Unit 58.824.000

11 Penghias Rumah Tangga 24 Unit 18.000.000

12 Alat-alat Studio 22 Unit 150.321.000

13 Alat-alat Komunikasi 9 Unit 117.020.000

14 Alat-alat Ukur 5 Unit 35.335.000

15 Alat-alat Laboratorium 111 Unit 971.549.000 16 Alat-alat Persenjataan/Keamanan 2 Unit 10.013.000 III Gedung dan Bangunan 25 Unit 4.307.194.600 1 Gedung dan Bangunan 6 Unit 3.130.673.900 2 Gedung Rumah Dinas 9 Unit 580.608.100 3 Gedung Gudang 2 Unit 15.800.000 4 Atap, Parkir, Garase, Pagar 2 Unit 318.812.600 5 Konstruksi/Pembelian Sarana Umum 6 Unit 261.300.000 IV Jalan, Jaringan dan Instalasi 3 Unit 50.949.250 V Aset Tetap Lainnya 500.176.400

1 Buku dan Kepustakaan 82 Buku 7.505.000

2 Hewan/Ternak dan Tanaman 1.214 Ekor 492.671.400 VI Aset Lainya 12 Unit 485.578.000 1 Alat-alat Angkutan Darat Bermotor 9 Unit 385.100.000 2 Gedung dan Bangunan 3 Unit 100.478.000

JUMLAH 36.642.206.730

JUMLAH 3

(21)

2.3. Kinerja Pelayanan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Pelayanan yang diberikan oleh Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat dalam pembangunan peternakan di Sumatera Barat sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Dinas Peternakan tersebut. Berkenaan dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No. 4 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Sumatera Barat, maka terjadi perombakan struktur organisasi dari Dinas Peternakan. Secara prinsip gambaran pelayanan yang diberikan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kontribusi pembangunan peternakan dalam pembangunan Sumatera Barat. Pembahasan gambaran layanan yang diberikan adalah dengan mengadopsi TUPOKSI berdasarkan peraturan di atas yaitu: Bidang Kesekretariatan (Kelembagaan dan Keorganisasian), Bidang Bina Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Bidang Bina Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil, Bina Produksi Peternakan, dan Bina penyuluhan dan Pengelolaan Kawasan.

2.3.1 Bidang Kesekretariatan (Kelembagaan dan Keorganisasian)

Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi Sumatera Barat yang pada dasarnya mengemban tugas utama mengembangkan pembangunan peternakan Provinsi Sumatera Barat dengan mewujudkan ketahanan pangan, agribisnis dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan dukungan personil sebanyak 156 orang dengan proporsi berpendidikan Sarjana 1 (S1) 55%, S2 sebanyak 6.2%, D3 sebanyak 2,3%, SLTA sebanyak 30,2% dan sisanya adalah berpendidikan SLTP dan SD. Jika dicermati masa kerja yang dimiliki personil Dinas Peternakan terlihat bahwa yang memiliki masa kerja di atas 15 tahun adalah 58%, masa kerja 5-15 tahun 33% dan masa kerja di bawah 5 tahun adalah 8%.

Dengan kekuatan personil sedemikian rupa, Dinas Peternakan memberikan pelayanan pengembangan peternakan secara berkesinambungan. 2.3.2 Bina Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner a. Pelayanan pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan yang di

(22)

yang pernah berjangkit di Sumatera Barat antara lain: Rabies, Septichaemia Epizootica/SE, Newcastle Disease, Jembrana, TBC, Anaplasma/Piroplasmosis, Surra, Anthrax, Brucellosis, Gumboro, Hog colera dan Flu Burung/Avian influenza. Beberapa di antara penyakit tersebut sudah dapat dibebaskan seperti Brucellosis, Antrax, Hog Cholera, namun masih perlu dilakukan surveillance secara rutin dan pengawasan yang ketat terhadap lalu lintas ternak.

b. Pelayanan medik yang diberikan kepada peternakan Sumatera Barat adalah melakukan pembinaan pos pelayanan kesehatan hewan yang tersebar sebanyak 52 unit di masing- masing kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Selanjutnya juga memberikan insentif petugas Poskeswan yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja pelayanan medik. Pemerintah juga melakukan sosialisasi beberapa wabah penyakit hewan yang berbahaya kepada masyarakat dan melakukan pelatihan terhadap kader vaksinator,

c. Pelayanan untuk kesehatan masyarakat veteriner antara lain adalah kegiatan pengambilan sampel susu dan daging. Hal ini dilakukan dalam untuk mengetahui derajat pencemaran dan pencegahan yang perlu dilakukan untuk melindungi masyarakat. Pemerintah daerah melaksanakan pertemuan pembinaan dan pemberdayaan pengawas kesmavet dan PPNS. Disamping itu juga dilakukan beberapa workshop dalam rangka peningkatan keamanan produk (ASUH).

2.3.3 Bidang Bina Usaha, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan a. Permodalan, Investasi dan Perizinan

Berkenaan dengan permodalan untuk peternakan di Sumatera Barat, pemerintah memberikan bantuan permodalan untuk pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis. Disamping itu pemerintah juga memberikan dana bergulir untuk pengembangan ekonomi rakyat dan pengembangan lumbung ternak nagari.

(23)

Spanyol memberikan bantuan lebih kurang 48 milyar rupiah untuk pembangunan peternakan sapi berteknologi embrio transfer dalam bentuk pengadaan laboratorium dan alat kesmavet untuk penelitian. Selanjutnya juga pada kelompok peternakan ayam petelur juga mendapatkan bantuan pembiayaan dari pihak swasta sebesar 5,8 milyar rupiah. Kemudian setelah pertemuan Indonesia – Malaysia – Thailand growth Treagle (IMT-GT), Sumatera Barat ditetapkan sebagai sentra pembibitan sapi potong (International Breeding Center for Cattle) untuk pembibitan sapi di wilayah Indonesia Bagian Barat. Hal ini diharapkan mampu mendorong nilai investasi dan bantuan pihak-pihak berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan peternakan di Sumatera Barat dan Indonesia.

b. Informasi, Promosi dan Pengembangan Usaha

Aspek informasi, promosi dan pengembangan usaha merupakan terpenting dalam pengembangan peternakan. Pemerintah telah melakukan berbagai promosi baik yang bersifat lokal di masing Kota dan Kabupaten, maupun di tingkat Provinsi. Selanjutnya pemerintah daerah juga sering melakukan promosi produk peternakan di berbagai Provinsi lain dan kota-kota besar di Indonesia. Pemerintah memfasilitasi pertemuan petugas pelayanan infomasi pasar peternakan dalam mengapresiasikan produk-produk peternakan Sumatera Barat di pasar lokal, nasional dan regional. Disamping itu pemerintah juga melakukan pengolahan informasi permintaan pasar produk peternakan kepada masyarakat peternak di Sumatera Barat dengan menggunakan sistem informasi teknologi.

c. Pasca panen Pengolahan Hasil dan Standardisasi

Pemerintah melakukan berbagai usaha dalam mendorong pengolahan hasil produk peternakan pasca panen antara lain adalah pengembangan dan pembinaan agroindustri pedesaan. Pelaksanaan penjaminan mutu produk, labelisai produk olahan hasil peternakan. Pemerintah juga melakukan sosialisasi konsumsi daging ayam potong ASUH.

(24)

2.3.4. Bidang Produksi Peternakan a. Pakan Ternak

Beberapa kontribusi yang diberikan pemerintah daerah dalam pengembangan pakan ternak adalah :

- melakukan sosialisasi bahan pakan dan ransum ternak yang baik.

- diseminasi pengolahan limbah pertanian (jagung dan coklat) sebagai pakan ternak.

- pemanfaatan teknologi diseminasi pengolahan limbah pertanian sebagai pakan ternak.

- pemberian pelatihan kepada masyarakat berupa penyusunan rangsum berbasis bahan baku lokal.

b. Perbibitan

Salah satu aspek yang memberikan kontribusi adalah pada perbibitan. Pemerintah telah melakukan pembinaan terhadap masyarakat berkenaan dengan Inseminasi Buatan (IB) secara berkesinambungan. Kemudian juga melakukan pengawasan terhadap mutu dan handling semen beku, peningkatan angka kelahiran ternak melalui program GEBU-ASAP (Gerakan Seribu Anak Sapi). Kemudian pemerintah juga melakukan pembinaan kelompok dan pengawasan mutu bibit di kawasan perbibitan. Pelaksanaan Embrio Transfer (ET) di lokasi perbibitan ternak rakyat. Intensifikasi kawin alam, Sosialisasi penerapan komputerisasi recording ternak, Pembinaan pengembangan sapi perah, kambing dan domba, unggas.

c. Penyebaran dan Pengembangan Peternakan

Pengembangan usaha peternakan di Sumatera Barat selama kurun waktu 5 (lima) tahun belakangan secara umum digambarkan pada tabel berikut berupa perkembangan populasi ternak, produksi ternak dan konsumsi pangan asal ternak.

(25)

Tabel 1. Perkembangan Populasi Ternak (Ekor)

No. Jenis Ternak 2006 2007 2008 2009 2010

1. Sapi Perah 608 688 768 826 857 2. Sapi Potong 440,461 446,473 469,859 492.272 513.255 3. Kerbau 211,531 190,015 196,854 202.997 207.648 4. K u d a 4,123 4,466 3,726 3.467 3.191 5. Kambing 223,836 221,276 227,561 254.449 259.034 6. D o m b a 6,806 5,874 5,335 4.523 5.737 7. B a b i 14,258 12,920 12,870 12.403 47.465

8. Ayam Ras Petelur 6,396,311 6,347,337 6,684,013 7.203.319 7.801.317 9. Ayam RasPedaging 12,847,327 12,648,143 14,202,592 13.495.318 14.946.984 10. Ayam Buras 5,107,278 4,529,106 4,638,908 5.873.480 5.130.660 11. I t i k 1,050,752 1,003,445 1,054,957 1.106.046 1.147.848 Dari Tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan populasi

dibandingkan pada tahun 2006 kecuali pada ternak Kuda.

Tabel 2. Perkembangan Produksi Daging (Kg)

No. Jenis Komoditi 2006 2007 2008 2009 2010

1. Daging Sapi 15,561,671 16,367,892 17,609,374 18,322,309 20,611,200 2. Daging Kerbau 2,922,632 2,828,488 2,649,847 3,134,664 2,608,541 3. Daging K u d a 11,550 16,154 6,897 70,967 87,300 4. Daging Kambing 935,376 2,168,545 2,589,346 1,901,506 876,114 5. Daging Domba 43,742 21,184 48,739 17,354 12,641 6. Daging Babi 381,660 922,466 941,999 973,024 1,085,965 7. Daging Ayam RasPetelur 3,904,948 4,650,059 4,896,708 5,255,559 5,473,709 8. Daging Ayam RasPedaging 11,651,882 13,004,712 14,602,984 16,145,030 16,256,110 9. Daging Ayam Buras 5,505,644 4,882,376 5,000,743 7,193,122 6,130,267 10. Daging Itik 658,821 629,160 661,458 647,047 659,274 Jumlah 41,577,926 45,491,037 49,008,095 53,660,582 53,801,121 Dari Tabel 2 dapat dilihat terjadinya peningkatan produksi daging ternak kecuali pada daging kerbau, kuda, kambing dan domba.

(26)

Tabel 3. Perkembangan Produksi Telur dan Susu (Kg) No. Produksi 2006 2007 2008 2009 2010 I. Telur 1. Ayam Ras Petelur 49,315,559 49,937,968 51,533,740 55,537,590 57,842,872 2. Ayam Buras 3,262,273 2,892,966 2,963,102 3,751,685 3,197,337 3. I t i k 5,768,629 5,508,913 5,791,714 6,072,193 6,186,940 Jumlah 58,346,461 57,339,848 60,288,556 65,361,468 67,227,149 II. Susu 1. Sapi 1,092,420 1,092,420 1,175,040 1,263,780 1,294,380 2. Kerbau 1,410,207 1,950,609 2,033,974 2,214,586 2,227,033 Jumlah 2,502,627 3,043,029 3,209,014 3,478,366 3,521,413 Dari Tabel 3 dapat kita lihat terjadinya peningkatan produksi telur ayam ras dan itik. Produksi telur ayam buras mengalami penurunan pada tahun 2010 karena populasi turun yang disebabkan oleh virus AI/Flu burung. Sedangkan untuk produksi susu sapi tidak terjadi peningkatan dari tahun 2006 dibandingkan tahun 2007 dan pada tahun 2008 terjadi peningkatan, begitu juga halnya dengan produksi susu kerbau terjadi peningkatan, hal ini disebabkan karena telah tingginya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi susu dan dadiah.

Tabel 4. Perkembangan Konsumsi Daging, Telur dan Susu

No. Uraian 2006 2007 2008 2009 2010

1. Konsumsi Provinsi (ton)

a. Daging 27,953 30,666 33,202 35,948 36,400 b. Telur 32,861 32,209 32,391 32,574 41,749

c. Susu 21,124 25,535 28,522 31,858 46,938

2. Konsumsi Protein Hewani/

Kapita/hari (gram) 5.239 5.750 6.180 6.695 12,389

a. Daging 2.940 3.140 3.400 3,681 3,024

b. Telur 2.240 2.210 2,220 2,230 2,750

(27)

Dari Tabel diatas dapat kita lihat sejak tahun 2006 sampai tahun 2010 terjadi peningkatan konsumsi protein hewani/kapita/hari (gram) yang berasal dari daging, telur, maupun susu.

Dilihat dari perkembangan komoditas dalam bentuk populasi peternakan dalam satu dekade terakhir dikelompokan kepada peternakan besar, peternakan kecil dan peternakan unggas. Peternakan besar meliputi sapi perah, sapi potong dan kerbau, peternakan kecil adalah kambing dan domba serta kelompok peternakan unggas meliputi ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging.

Populasi terbesar berurutan adalah adalah kelompok sapi potong, kerbau dan sapi perah. Sejak tahun 1998-2000 perkembangan sapi potong dan kerbau di Sumatera Barat terlihat belum memperlihatkan perkembangan dan percepatan yang berarti. Namun sejak tahun 2000-2004 terjadi percepatan penambahan populasi baik untuk sapi potong maupun kerbau. Tetapi memasuki tahun 2005 terjadi penurunan populasi yang sangat tajam yang setara dengan kondisi awal tahun 1993-2000 dan memasuki tahun 2006-2010 perkembangan populasi menunjukan pertumbuhan positif khusus sapi potong dimana tercatat populasi mencapai 513.255 ekor (2010).

Distribusi sapi perah menurut kabupaten dan Kota di Sumatera Barat selama tahun 2010 yang memiliki populasi terbesar secara berturut turut adalah adalah di Kota Padang Panjang 341 ekor dengan jumlah 65 KK. Kota Padang 148 ekor dengan 12 KK dan Kabupaten tanah Datar 138 ekor dengan 17 KK. Selanjutnya, perkembangan produksi susu di Sumatera Barat selama 2006 - 2010 memperlihatkan produksi susu kerbau lebih banyak dari pada susu sapi. Produksi susu sapi dan susu kerbau memperlihatkan perkembangan yang cenderung naik.

Perkembangan populasi sapi potong memperlihatkan bahwa tiga daerah utama yang memiliki populasi tertinggi pada tahun 2010 adalah Kabupaten Pesisir Selatan (94.218 ekor), Kabupaten Limapuluh Kota (66.232 ekor) dan Kabupaten Padang Pariaman (65.933 ekor). Diperkirakan populasi sapi di Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Padang Pariaman didominasi oleh jenis sapi lokal. Namun disamping itu untuk total populasi sapi yang ada di Sumatera Barat juga dipengaruhi oleh jenis populasi sapi impor yang berasal dari daerah dan negara

(28)

lain. Sulit ditemukan informasi dengan jelas dan tepat berapa jumlah populasi impor yang ada di daerah Sumatera Barat sampai saat ini. Jumlah pemotongan sapi potong di Sumatera Barat menurut kabupaten dan Kota di Sumatera Barat tahun 2010 bahwa tiga daerah yang tertinggi melakukan pemotongan sapi di Sumatera Barat adalah Kota Padang (18.203 ekor), Kabupaten Agam (8.401 ekor) dan Kabupaten Solok (7.514 ekor). Diperkirakan pada tingginya tingkat pemotongan sapi potong di daerah tersebut tidak terlepas untuk kebutuhan konsumsi pangan hewani secara langsung oleh masyarakat dan kebutuhan untuk sebagai input produksi untuk produk-produk turunan peternakan lainnya.

Selanjutnya, tahun 2010, tiga daerah tertinggi yang memiliki populasi kerbau adalah Kabupaten Padang Pariaman (44.226 ekor), Kabupaten Pesisir Selatan (33.231 ekor), Kabupaten Limapuluh (22.643 ekor) dan Kabupaten Tanah Datar (22.306 ekor). Namun emapt daerah yang melakukan pemotongan kerbau tertinggi adalah Kota Padang Panjang (1.970 ekor), Kota Bukittinggi (1.292 ekor) dan Kabupaten Padang Pariaman (1.259 ekor). Diperkirakan pada daerah tersebut juga didominasi untuk kebutuhan langsung konsumsi hewani masyarakat dan kebutuhan input produksi untuk produk turunan peternakan. Perkembangan populasi kambing tahun 2006 - 2010 meningkat sebesar 3,83 % Penguasaan ternak kecil ini lebih banyak dilakukan oleh kelompok petani ternak yang memiliki kapasaitas ekonomi di bawah peternak sapi dan kerbau. Hal ini dikarenakan biaya pengadaan dan proses produksi dari ternak ini lebih murah dan mudah. Tiga daerah yang melakukan pemotongan kambing tertinggi pada tahun 2010 adalah Kabupaten Solok (9.620 ekor), Kota Padang (4.867 ekor) dan Kabupaten Limapuluh Kota (3.469 ekor).

Perkembangan populasi Ayam Ras Petelur dan Pedaging memperlihatkan kecenderungan yang positif dan relatif sama. Namun hal berbeda dengan populasi Ayam Buras mengalami penurunan yang sangat drastis pada tahun 2008 dengan populasi adalah 4,638.908 ekor. Selanjutnya empat daerah yang memiliki populasi Ayam Ras Pedaging pada tahun 2010 adalah Kabupaten Limapuluh Kota (4.081.580 ekor), Kabupaten Padang Pariaman (3.936.026 ekor),

(29)

Tiga Kabupaten dan Kota terbesar yang memproduksi telur Ayam Buras pada tahun 2010 adalah Kabupaten Limapuluh Kota (601.804 kg), Kabupaten Padang Pariaman (511.000 kg), dan Kabupaten Pesisir Selatan (510.134 kg).

Terdapat salah satu kabupaten yang cukup mencolok dalam melakukan produksi telur ini yaitu Kabupaten Limapuluh Kota (36.983 ton). Total produksi keseluruhan telur Ayam Ras Sumatera Barat tahun 2010 adalah 57.842 ton. Artinya Kabupaten Limapuluh Kota berkontribusi sebesar 63,94% dari total produksi. Selanjutnya nilai konsumsi telur ayam ras Sumatera Barat adalah 34.128 ton. Terdapat kelebihan produksi telur ini sebesar 23.714 ton dimana kelebihan ini dipasarkan ke daerah lain seperti ke Provinsi Riau, Jambi dan Pulau Jawa.

Hasil pembangunan peternakan tersebut diatas dicapai melalui perencanaan, pelaksanaan, pengawalan dan evaluasi program kerja pembangunan peternakan yang tepat tujuan, tepat sasaran dan tepat pengganggaran. Program dan kegiatan dirancang sesuai dengan kebutuhan yang dijaring melalui penjaringan aspirasi masyarakat, stake holder yang dituangkan dalam Rencana Strategik Pembangunan Peternakan yang tidak terlepas dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Sumatera Barat.

2.3.5. Penyuluhan dan Pengelolaan Kawasan a. Penyuluhan dan Pelatihan

Berbagai usaha yang dilaksanakan pemerintah berkenaan dengan penyuluhan dan pelatihan adalah pelaksanaan penyuluhan kepada masyarakat di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat baik untuk ternak besar, kecil maupun unggas dengan bekerjasama dengan perguruan tinggi. berbagai pelatihan pemberdayaan ekonomi masyarakat peternakan juga dilakukan dan Pelatihan peningkatan motivasi wirausaha generasi muda peternakan untuk mengembangan pembangunan peternakan di Sumatera Barat.

b. Pengelolaan Kawasan Peternakan

Sumatera Barat memiliki luas wilayah 42,2 ribu Km persegi atau 2,17 % dari luas wilayah nusantara. Daerah yang terdiri dari 19 daerah Kota dan Kabupaten.

(30)

peternakan dan perkebunan) dimaksudkan untuk dapat menciptakan produktivitas maksimal dengan masukan terbatas, tanpa mengurangi keseimbangan lingkungan, baik untuk pertanian tanaman pangan maupun perkebunan.

Berdasarkan RTRW Sumatera Barat 2009 – 2029 serta pemanfaatan RTRW bagi budidaya pertanian (sub sektor pertanian, peternakan dan perkebunan) jika dikonversi luas daerah tersebut kedalam hitungan hektar. Terdapat luas areal Sumatera Barat adalah 4,045 Juta Ha areal Provinsi Sumatera barat. Tahun 2006, Sub Sektor Peternakan (pengembalaan). Areal daerah ini dimanfaatkan baru berkisar 0,48%. Juga ditemukan bahwa lahan kering yang ada di Sumatera Barat yang masih tergolong sebagai lahan tidur sebesar 4,11% dari total luas lahan kering keseluruhan Sumatera Barat. Tercatat bahwa jika dimanfaatkan lahan kering yang belum termanfaatkan (tidur) tersebut untuk peternakan maka terdapat 8,5 kali luas lahan pengembalaan yang ada saat ini. Menurut RTRW Sumtera Barat 2009 – 2029, Provinsi Sumatera Barat memiliki 14 kawasan strategis yang terdiri dari kawasan strategis pertumbuhan ekonomi, kawasan strategis sosial budaya dan kawasan strategis fungsi dan daya dukung lingkungan

Saat ini Pemerintah Provinsi bersama Pemerintah Kabupaten dan Kota telah menetapkan kawasan-kawasan peternakan yang penetapannya berdasarkan kepada aspek agroclimate dan tata ruang, aspek sosio-culture, dan aspek sosial ekonomi. Berdasarkan indikator tersebut maka dikelompokan kawasan peternakan tersebut kepada kawasan Agibisnis Peternakan, Kawasan Peternakan Penyangga, dan Kawasan Peternakan Andalan.

c. Sarana dan Prasarana Peternakan

Kualitas sarana dan prasarana peternakan yang ada di Provinsi Sumatera Barat terdiri dari tiga kelompok yaitu sarana dan prasarana yang dikelola oleh Pemerintah Pusat , Pemerintah Provinsi dan masing-masing oleh Pemerintah Kota dan Kabupaten di Sumatera Barat. Sarana dan prasarana yang dikelola oleh penerintah Provinsi meliputi Gedung Dinas Peternakan (kondisi rusak berat

(31)

Selanjutnya Dinas juga memiliki UPTD Balai Insiminasi Buatan Tuah Sakato, UPTD Balai Pembibitan dan Pengembangan Makanan Ternak, UPTD Laboratorium Keswan dan Klinik Hewan. Seluruh sarana dan prasarana yang ada di Sumatera Barat bertujuan untuk memberikan pelayanan peternakan secara optimal di Sumatera Barat.

2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat

1. Fungsi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner

Provinsi Sumatera Barat termasuk wilayah yang rawan tertular penyakit dari wilayah Provinsi lain karena merupakan daerah lalu lintas ternak antar Provinsi. Kondisi tersebut mengandung konsekuensi tindakan pencegahan dini terhadap kemunginan timbulnya penyakit menular dari wilayah lain. Beberapa jenis penyakit hewan menular (PHM) yang perlu diwaspadai antara lain rabies, anthrax, avian influenza (AI), dan brucellosis.

Anthrax merupakan penyakit hewan menular yang hanya dapat dikendalikan namun tidak dapat dibebaskan. Hal ini berkaitan dengan sifat spora bakteri Anthrax yang dapat bertahan di dalam tanah selama lebih dari 60 (enam puluh) tahun.

Penyakit hewan menular lain di Sumatera Barat yang perlu mendapatkan prioritas pengendalian dan pemberantasan adalah brucellosis dan avian influenza (AI).

Peranan Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan dalam mewujudkan keamanan pangan ke depan khususnya penyediaan Pangan Asal Hewan (PAH) yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal) serta produk hewan sangatlah penting. Perlindungan konsumen akan pangan asal hewan yang ASUH tidak lagi sebagai tuntutan, tetapi sudah menjadi persyaratan mutlak yang harus dipenuhi oleh semua pelaku usaha yang berasal dari bahan asal hewan. Pelayanan Kesmavet melalui penertiban peredaran bahan Pangan Asal Hewan yang ASUH melalui pengawasan (bersama instansi terkait maupun Tim Pengawasan), Pemeriksaan dan Pengujian di Labor UPTD BLKKH, pembinaan, bimbingan teknis, monitoring, surveilans, sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner

(32)

(NKV), sosialisasi kepada petugas maupun kepada pelaku usaha, public awareness, standarisasi, penataan dan evaluasi kios daging guna memotivasi perdagangan yang lebih hiegines, dan sosialisasi pada pelaku usaha tentang PAH ASUH.

Keberhasilan fungsi kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner di Sumatera Barat didukung oleh Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, UPTD Balai Labour dan Klinik Hewan, Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner.

Berikut secara rinci tantangan, peluang, kekuatan dan kelemahan fungsi kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner :

a. Tantangan

1) Tata niaga peredaran hewan, dan bahan asal hewan yang berdampak pada keamanan sumber daya ternak genetik Sumatera Barat sulit dikendalikan.

2) Adanya ancaman penyakit hewan endemik dan eksotik sebagai akibat mobilitas hewan yang tidak terkendali.

3) Perubahan iklim global yang ekstrim.

4) Luasnya cakupan wilayah pelayanan kesehatan hewan.

5) Beragamnya kelembagaan kesehatan hewan di Kabupaten/Kota.

6) Masih adanya zoonosis dan penyakit yang ditularkan melalui pangan asal hewan (food born disease).

7) Masih adanya penyimpangan terhadap prinsip-prinsip kesejahteraan hewan.

8) Masih adanya peredaran daging glonggongan, daging illegal, daging babi, bahan pengawet pada pangan hewani, cemaran kimiawi, biologis dan fisik yang meresahkan masyarakat konsumen.

(33)

10) Kurangnya pemahaman produsen, konsumen maupun petugas lapangan terhadap produk pangan hewani yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH).

11) Kurangnya kesadaran masyarakat/pelaku usaha untuk mengujikan produk hewani di Laboratorium Kesmavet.

12) Prasarana dan sarana yang dimiliki RPH/RPU, TPH, Los/kiosDaging, Usaha Pangan hewani (daging, telur, susu) masih kurang memenuhi standard teknis.

13) Masyarakat dan pelaku usaha maupun Dinas yang membidangi fungsi kesmavet di kab/kota se Sumatera Barat belum optimal dalam memanfaatkan fungsi Laboratorium Kesmavet.

14) Belum diberlakukannya penerapan sanksi terhadap pelanggaran peraturan perundangan di bidang Kesmavet.

b. Peluang

1) Globalisasi komunikasi dan informasi menuntut pelayanan kesehatan hewan prima yang membutuhkan kesiapan sarana dan prasarana serta SDM yang memadai di bidang kesehatan hewan.

2) Pelaku usaha di bidang peternakan dan kesehatan hewan yang semakin meningkat.

3) Tuntutan kompetensi terhadap petugas medis dan paramedis veteriner serta standarisari pelayanan bidang kesehatan hewan.

4) Tuntutan standarisasi keswan dibidang usaha peternakan dan kesehatan hewan.

5) Keselarasan kegiatan kesehatan hewan di tingkat Pusat dan Daerah. 6) Terjaminnya keamanan, kesehatan, dan ketentraman batin masyarakat

dalam mengkonsumsi pangan asal hewani yang Aman Sehat Utuh dan Halal (ASUH).

7) Adanya tuntutan global terhadap penerapan kesejahteraan hewan (animal welfare).

(34)

8) Meningkatnya permintaan masyarakat akan labelisasi halal pada produk peternakan.

9) Tuntutan pelaku Usaha (eksportir, distributor, industri produk pangan hewani) terhadap sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) unit usaha pangan hewani.

10) Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap konsumsi produk hewani. 11) Meningkatnya jumlah usaha di bidang produk pangan asal hewan.

12) Meningkatnya kebutuhan kemampuan uji laboratorium dan pengujian laboratorium terakreditasi.

13) Berkembangnya teknologi pengujian yang semakin modern.

2. Fungsi Perbibitan

Benih/bibit ternak berkualitas merupakan salah satu faktor yang menentukan dan mempunyai nilai strategis dalam upaya pengembangan ternak. Hal tersebut terkait dengan peningkatan populasi dan produktivitas ternak dalam penyediaan daging dan susu.

Sesuai tugas pokok dan fungsi, ketersediaan benih/bibit ternak menjadi tanggung jawab Bidang Produksi, Balai Inseminasi Buatan (BIB) Tuah Sakato, Balai Pembibitan / Pengembangan dan Makanan Ternak.

Untuk memenuhi ketersediaan bibit tersebut, perlu dilakukan beberapa hal antara lain : pengembangan pembibitan ternak dalam suatu wilayah berbasis sumber daya lokal melalui pemberdayaan kelompok, penerapan good breeding practice di kelompok pembibitan, pengelolaan dan pemanfaatan Sumber Daya Genetik Hewan lokal (SDGH), penerapan Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB) bagi ternak ternak yang memenuhi standar bibit serta peningkatan produksi semen beku.

Berikut secara rinci tantangan, peluang, kekuatan dan kelemahan fungsi perbibitan :

(35)

2) Tingginya pemotongan betina produktif; 3) Lemahnya kelembagaan kelompok pembibitan; 4) Belum dilaksanakannya good breeding practice.

5) Rendahnya produksi dan produktivitas sumber daya genetik hewan (SDGH);

6) Tingginya ketergantungan replacement bull; 7) Penyakit hewan menular strategis;

8) Perubahan cuaca ekstrim. b. Peluang

1) Tingginya permintaan bibit ternak berkualitas; 2) Meningkatnya usaha pembibitan sapi lokal;

3) Tingginya permintaan semen beku di Sumatera Barat; 4) Potensi pasar untuk bibit ternak cukup luas;

5) Tumbuhnya kelompok-kelompok pembibitan di pedesaan; 6) Tersedianya wilayah-wilayah sumber bibit ternak.

3. Fungsi Budidaya

Pelaksanaan kegiatan fungsi budidaya merupakan suatu rangkain usaha pemeliharaan atau pengelolaan peternakan dalam rangka menghasilkan (daging, susu dan telur) guna memenuhi kebutuhan atau ketersedian sumber protein asal hewan. Namun demikian dalam pelaksanaannya kegiatan budidaya ini tidak terlepas dari faktor internal dan eksternal.

Keberhasilan fungsi budidaya di Sumatera Barat didukung oleh Bidang Produksi, Balai Inseminasi Buatan (BIB) Tuah Sakato.

Berikut secara rinci tantangan, peluang, kekuatan dan kelemahan fungsi budidaya.

a. Tantangan :

(36)

2) Persepsi masyarakat terhadap produk ternak masih rendah; 3) Munculnya wabah dan penyakit hewan menular;

4) Ketidakstabilan harga ternak dan produknya;

5) Cuaca ekstrim dan anomali iklim yang berpengaruh terhadap performan ternak.

b. Peluang :

1) Carrying capacity ternak belum merata pada suatu wilayah; 2) Aspek ekonomi usaha budidaya ternak sangat menjanjikan; 3) Manajemen budidaya ternak lebih mudah dilaksanakan; 4) Tingginya permintaan masyarakat terhadap produk ternak; 5) Berkembangnya IPTEK peternakan.

4. Fungsi Pakan

Pakan ternak memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produktifitas ternak dan menyerap hampir 80% dari total biaya produksi usaha dan budidaya peternakan. Penyediaan pakan ternak selain harus mempertimbangkan kualitas, kuantitas dan kontinyuitas juga memperhatikan aspek keamanannya.

Pengelolaan pakan ternak dimulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan hingga menjadi pakan jadi, memerlukan pengawasan baik dalam produksi maupun peredarannya.

Upaya peningkatan carrying capacity dilaksanakan dengan mencetak kebun rumput baru, memanfaatkan lahan marjinal maupun terintegrasi dengan kegiatan pertanian lainnya.

Pengolahan pakan ternak harus menggunakan standart mutu pakan yang telah ditetapkan untuk masing-masing komoditas ternak.

(37)

Keberhasilan fungsi pakan di Sumatera Barat didukung oleh Bidang Produksi, Bidang Penyuluhan dan Pengelolaan Kawasan dan Balai Pembibitan Ternak dan Makanan Ternak.

Berikut secara rinci tantangan, peluang, kekuatan dan kelemahan fungsi pakan. a. Tantangan :

1) Penggunaan pakan unggas sebagai pakan ruminansia; 2) Kondisi cuaca ekstrim dan bencana alam;

3) Alih fungsi lahan pertanian menjadi perusahaan/pemukiman. b. Peluang :

1) Banyaknya kawasan potensial ternak sapi potong dan sapi perah; 2) Tingginya kebutuhan benih dan bibit HPT untuk masyarakat; 3) Tingginya populasi ternak unggas.

5. Fungsi Sumber Daya Manusia (SDM)

Dalam rangka mengantisipasi tantangan perubahan lingkungan strategis yang berkembang dengan isu globalisasi, desentralisasi, demokratisasi, pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim global diperlukan sumberdaya manusia yang siap pakai, professional, inovatif, kreatif dan berwawasan global guna mewujudkan pertanian yang tangguh, produktif, efisien, berdaya saing dan dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku pembangunan pertanian.

Berikut secara rinci tantangan, peluang, kekuatan dan kelemahan fungsi SDM. a. Tantangan

1) Adaptasi Teknologi Informasi lambat

2) Masuknya sektor industri ke desa, memungkinkan berpindahnya potensi tenaga kerja peternakan ke sektor lain.

3) Peternak yang dilatih meninggalkan tempat pada waktu pelatihan karena tidak ada yang memelihara ternaknya selama mengikuti pelatihan.

(38)

b. Peluang

1) Masih rendahnya pengetahuan, sikap dan ketrampilan peternak; 2) Tingginya minat peternak untuk mengikuti pelatihan;

3) Derajat kesehatan ternak, budidaya dan pakan masih kurang; 4) Tersedianya peluang usaha dan pasar untuk para peternak.

6. Bidang Usaha Peternakan

Pembangunan peternakan Sumatera Barat selama ini masih didominasi usaha peternakan rakyat. Ciri usaha ini diantaranya adalah kepemilikan modal usaha ternak yang sangat terbatas, skala usaha yang kecil, minimnya penguasaan teknologi, akses pasar yang terbatas, dan sifat kegiatan atau usaha belum efisien karena hanya bersifat sebagai usaha sambilan. Dengan demikian maka fungsi usaha peternakan dalam pelaksanaannya adalah sebagai fasilitator dan motivator agar kegiatan usaha peternakan rakyat dapat lebih berkembang dan memiliki nilai tawar yang dapat dijadikan sumber penghidupan atau kegiatan usaha tani yang mapan.

Keberhasilan fungsi usaha peternakan di Sumatera Barat didukung oleh Bidang Bina Usaha, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan.

Berikut secara rinci tantangan, peluang, kekuatan dan kelemahan fungsi budidaya.

a. Tantangan

1) Kurangnya modal kerja dan SDM dalam pengembangan usaha peternakan di pedesaan.

2) Masih sulit kelompok ternak dan pelaku usaha peternakan mempersiapkan usahanya untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh kredit lunak (skim kredit) dari lembaga pembiayaan.

3) Kurangnya pemahaman dan kesadaran pelaku usaha pengolahan produk ternak dalam penerapan Good Manufacturing Practice (GMP)/Good

(39)

4) Terbatasnya akses informasi harga pasar dan pemasaran produk olahan hasil peternakan.

b. Peluang

1) Program Pemerintah dalam pemberian subsidi bunga melalui lembaga perbankan.

2) Kemitraan (Inti Plasma) antara Poknak/Gapoknak dengan pihak investor perusahaan peternakan.

3) Terbukanya kerjasama dengan industri pengolahan hasil produk peternakan dalam pembinaan, pelatihan dan pemasaran bagi peternak/poknak/pelaku usaha produk olahan hasil ternak.

4) Fasilitasi penyebaran informasi pasar (komoditas peternakan) oleh media cetak dan elektronik.

(40)

BAB 3

ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI 3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi

Pelayanan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat

Permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat berdasarkan tugas dan fungsi adalah sebagai berikut:

1. Tingginya kebutuhan Pangan Asal Hewan yang ASUH yang dipengaruhi oleh Pertumbuhan dan Pertambahan penduduk

2. Regulasi impor ternak dan produk hasil ternak yang tidak memihak usaha peternakan rakyat

3. Kurangnya modal kerja dan SDM dalam pengembangan usaha peternakan di pedesaan

4. Cuaca dan musim yang ekstrem mengakibatkan fluktuasi produktivitas ternak dan ancaman penyakit menular.

5. Rendahnya pemahaman produsen, konsumen maupun petugas lapangan terhadap produk Pangan hewani yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) 6. Adanya ancaman penyakit hewan endemik dan eksootik sebagai akibat

mobilitas hewan yang tidak terkendali.

7. Tidak berkembangnya usaha perbibitan di masyarakat.

8. Fluktuasi harga ternak yang membuat usaha peternakan rakyat mengalami pasang surut sehingga membuat minat masyarakat untuk beternak rendah. 9. Belum optimalnya sinergitas kelembagaan antar kabupaten dan kota di

Provinsi Sumatera Barat dalam pembangunan dan pengembangan peternakan. Hal ini terlihat belum terintegrasinya proses perencanaan, dan pelaksanaan pembangunan peternakan antar Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat.

(41)

swasta baik dari investasi lokal maupun asing dikarenakan berbagai faktor penghambat diantaranya adalah isu sosial seperti tingginya konflik kepemilikan lahan di Sumatera Barat.

12. Informasi, promosi dan pengembangan usaha peternakan di Sumatera Barat masih tergolong belum profesional.

13. Promosi usaha peternakan pada umunya masih didominasi oleh pemerintah daerah melalui expo atau pameran pembangunan.

14. Saat ini Provinsi Sumatera Barat untuk bahan pakan utama masih mengimpor dari luar negeri yang dipergunakan untuk konsentrat diantaranya adalah tepung ikan, jagung, dan bungkil kedelai.

15. Investasi baik dari pemerintah maupun swasta sulit terealisasi. Hal ini dikarenakan terbenturnya dalam aspek hukum dan sosiologis lahan yang akan digunakan. Pemerintah dan masyarakat belum mampu mengelola “tanah Ulayat” yang berguna untuk kesejahteraan.

3.2. Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

Visi pemerintah daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 – 2015 didalam RPJM Daerah Provinsi Sumatera Barat adalah : ”Terwujudnya Masyarakat

Sumatera Barat Madani yang Adil, Sejahtera dan Bermartabat”.

Misi pembangunan jangka menengah daerah Provinsi Sumatera Barat adalah sebagai berikut :

1. Mewujudkan tata kehidupan yang harmonis, agamais, beradat dan berbudaya berdasarkan falsafah ”Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”;

2. Mewujudkan tata-pemerintahan yang baik, bersih dan profesional;

3. Mewujudkan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, beriman dan berkualitas tinggi;

4. Mewujudkan ekonomi masyarakat yang tangguh, produktif, berbasis kerakyatan, berdaya saing regional dan global;

5. Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

(42)

Perwujudan ekonomi masyarakat yang tangguh, produktif, berbasis kerakyatan, berdaya saing regional dan global merupakan unsur penting untuk mendorong kemajuan ekonomi dan kemakmuran masyarakat, terutama dalam era globalisasi dewasa ini. Kondisi tersebut diwujudkan melalui pengembangan ekonomi agribisnis dan agroindustri serta industri jasa. Usaha ekonomi yang demikian akan dapat diwujudkan dengan penciptaan persaingan yang sehat dalam dunia usaha, mencegah timbulnya monopoli dan monopsoni serta ketidakadilan dalam berusaha, mengembangkan kewirausahaan daerah, menyediakan prasarana dan sarana pembangunan yang berkualitas secara merata keseluruh pelosok daerah dan mewujudkan kepastian hukum dan iklim investasi yang kondusif bagi para investor.

Tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah daerah dari misi 4 yang sesuai dengan tugas dan fungsi Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat adalah berkembangnya peternakan unggul dan berkelanjutan secara profesional untuk mewujudkan ketahanan dan keamanan pangan hewani serta meningkatkan kesejahteraan peternak. Untuk mewujudkan ketahanan pangan, keamanan pangan dan kesejahteraan peternak, diperlukan arah kebijakan sebagai berikut :

1. Membangun dan mengembangkan sarana dan prasarana pendukung pengembangan kawasan utama peternakan;

2. Membangun dan mengembangkan sarana dan prasarana pendukung pengembangan produksi peternakan;

3. Membangun dan mengembangkan sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran hasil peternakan;

4. Memberdayakan peternak untuk penerapan bio teknologi peternakan;

5. Memberdayakan aparatur di bidang peternakan untuk penyebarluasan teknologi dan informasi peternakan;

6. Meningkatkan kemampuan/kualitas SDM peternakan sehingga handal dalam pengelolaan pembangunan peternakan dan SDM peternak sehingga handal dalam pelaksanaan usaha dan memiliki daya saing;

(43)

peningkatan pelayanan keswan, pengawasan dan pengujian kualitas produk asal hewan;

9. Pengembangan kawasan peternakan yang ramah lingkungan;

10. Mengembangkan sistem dukungan dan pelayanan pemerintah dan swasta untuk sektor peternakan guna meningkatkan skala usaha peternakan;

11. Fasilitasi sistem informasi dan teknologi untuk mengembangkan jaringan pemasaran dan informasi pasar;

12. Menambah jumlah aktifitas dan komoditi usaha pertanian.

Adapun program prioritas untuk mewujudkan Misi 4 dalam mewujudkan ketahanan dan keamanan pangan hewani serta meningkatkan kesejahteraan peternak adalah :

1. Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pertanian;

2. Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Pertanian;

3. Pengembangan Teknologi Informasi Pertanian dan Peningkatan Penerapan Teknologi Tepat Guna;

4. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan SDM Pertanian;

5. Peningkatan Produksi dan Mutu Pertanian Secara Berkelanjutan; 6. Pengamanan Sumber Daya Hewani;

7. Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian;

8. Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing Produksi Pertanian; 9. Pengembangan Satu Petani Satu Sapi.

3.3. Telaahan Renstra Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dirketorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil, dan Direktorat Prasarana dan Sarana Pertanian.

Sebagai indikator kinerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dirketorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil, dan Direktorat Prasarana dan Sarana Pertanian, sasaran strategis masing Direktotara diuraikan sebagai berikut :

1. Sasaran straregis pembangunan dari Direktorat Jenderal Peternakan 2010-2014 adalah meningkatnya ketersediaan produk daging, telur, dan susu serta meningkatnya kontribusi produk ternak dalam negeri yang mencakup:

(44)

a. Meningkatnya ketersediaan benih dan bibit ternak yang berkualitas dengan memanfaatkan sumber daya lokal;

b. Meningkatnya populasi dan produktivitas ternak ruminansia dengan memanfaatkan sumber daya lokal;

c. Meningkatnya populasi dan produktivitas ternak non-ruminansia dengan memanfaatkan sumber daya lokal;

d. Meningkatnya derajat kesehatan ternak dan wilayah bebas penyakit; e. Menurunnya derajat kontaminan dan residu produk hewan;

f. Meningkatnya kualitas pelayanan kepada masyarakat.

2. Sasaran strategis pembangunan dari Direktorat Pengembangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian yang ingin dicapai dalam periode 2010-2014 adalah:

a. Meningkatnya kapasitas, kemampuan dan kemandirian petani dan pelaku bisnis lainnya dalam usaha agroindustri;

b. Menurunnya tingkat kehilangan hasil pertanian;

c. Tercapainya kemandirian dan ketahanan pangan dengan harga yang terjangkau;

d. Meningkatnya nilai tambah dan daya saing produk pertanian;

e. Meningkatnya daya serap pasar domestik dan devisa negara dari ekspor produk pertanian;

f. Meningkatnya keragaman produk olahan hasil pertanian; g. Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani.

3. Sasaran strategis pelaksanaan pembangunan dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut:

a. Terwujudnya pengembangan (pembangunan dan rehabilitasi) infrastruktur pertanian seperti, pembuatan jalan usaha tani 7.000 km dan jalan produksi 5.500 km.

b. Terwujudnya perluasan areal pertanian pada kawasan tanaman pangan seluas 250.000 ha untuk sawah dan 400.000 ha untuk lahan kering, hortikultura seluas 400.000 ha, perkebunan seluas 600.000 ha

Gambar

Tabel 1. Perkembangan Populasi Ternak (Ekor)
Tabel 3. Perkembangan Produksi Telur dan Susu (Kg) No. Produksi 2006 2007 2008 2009 2010 I

Referensi

Dokumen terkait

dan Perikanan Terhadap Pencapaian Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Misi 2 : Membangun perekonomian daerah berbasis potensi lokal yang berdaya

e. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Gubernur terkait dengan tugas dan fungsi Dinas Kesehatan. 2) Sekretariat mempunyai tugas koordinasi pelaksanaan tugas,

Sebagaimana diatur dalam pasal 3 Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi

Bidang Sarana Prasarana dan Pengembangan Kawasan Permukiman dipimpin oleh seorang Kepala Bidang, mempunyai tugas pokok memimpin dan melaksanakan perumusan

Pada sistim peternakan terpadu (ILCSs) di kawasan agroekologi dataran rendah ditemui jumlah peternak sebanyak 39 orang yang meliputi sistim peternakan sapi

Pemeliharaan rutin/ berkala pusat-pusat etalase/eksibisi/ promosi atas hasil produksi peternakan 6. Promosi atas hasil produksi peternakan unggulan

Rencana ini menggambarkan arah, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program dan kegiatan penyelenggaraan pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan yang sesuai dengan tugas

Rencana program untuk tahun 2009–2014 kedepan penyusunan program pembangunan peternakan dan kesehatan hewan Provinsi Jawa Timur, akan terus berlanjut