• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Program Prima Tani

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Program Prima Tani"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Program Prima Tani

Badan Litbang Pertanian sebagai lembaga pertanian dengan misi utamanya adalah menemukan atau menciptakan inovasi pertanian yang maju dan strategis, mengadaptasikannya menjadi tepat guna spesifik bagi pemakai dan lokasi. Berbagai kendala ditemukan oleh Badan Litbang Pertanian dalam mengkomunikasikan inovasi teknologi pertanian kepada petani. Adanya program Prima Tani, diharapkan dapat memecahkan masalah tersebut sehingga petani lebih cepat memahami berbagai inovasi yang dapat diaplikasikan dalam usahataninya.

Evaluasi eksternal maupun internal menunjukkan bahwa kecepatan dan tingkat pemanfaatan inovasi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian oleh petani cenderung lambat bahkan menurun. Tenggang waktu sampainya informasi dan adopsi kepada petani melalui penyuluh mengalami kemacetan (bottleneck) sehingga dengan sendirinya informasi yang disampaikan kepada petani menjadi terlambat. Hal ini disebabkan karena subsistem penyampai (delivery subsystem) dan subsistem penerima (receiving subsystem) mengalami kemacetan informasi sehingga menyebabkan lambannya penyampaian informasi kepada petani (Suryana, 2005).

Dengan alasan di atas, maka Program Prima Tani ini digulirkan sebagai program untuk mengatasi kemacetan penyampaian informasi kepada petani dengan benar dan tepat sasaran. Program Prima Tani merupakan kepanjangan dari Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian yang dicetuskan oleh Badan Litbang Pertanian yang penerapannya di mulai tahun 2005 sebagai model baru dalam diseminasi teknologi yang dapat mempercepat penyampaian informasi dan bahan dasar inovasi. Program Prima Tani diharapkan sebagai jembatan penghubung antara Badan Litbang Pertanian sebagai penghasil inovasi dengan lembaga penyampai maupun pelaku agribisnis pengguna inovasi di daerah. Di samping itu, Prima Tani digunakan sebagai wahana pengkajian partisipatif yang berarti merupakan implementasi dari paradigma baru penelitian untuk pembangunan dari paradigma lama penelitian dan pengembangan dari Badan Litbang Pertanian (Suryana, 2005).

(2)

Program Prima Tani ini berarti terobosan pembuka, pelopor atau inisiatif, penyampaian dan penerapan inovasi teknologi pertanian kepada dan oleh masyarakat luas. Dalam program Prima Tani terdapat arti bahwa: pertama, Prima Tani haruslah dipandang sebagai langkah inisiatif Badan Litbang Pertanian untuk mengatasi masalah kebuntuan atau kelambanan penerapan inovasi teknologi dan memperpendek waktu dari penciptaan inovasi teknologi ke pengguna. Kedua, Prima Tani hanyalah tindakan pembuka atau pelopor sehingga harus sesegera mungkin dilepaskan kepada masyarakat dan pemerintah setempat. Dengan demikian, pengembangan Prima Tani dilaksanakan dengan prinsip “bangun, operasikan dan serahkan” (build, operate and transfer).

Adapun tujuan Prima Tani meliputi: 1) mempercepat diseminasi dan adopsi teknologi inovatif, 2) memperoleh umpan balik mengenai karakteristik teknologi tepat-guna spesifik pengguna dan lokasi, 3) mewadahi dan mensinkronkan program lingkup Departemen Pertanian, departemen terkait, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, 4) mempercepat pencapaian kesejahteraan petani, melestarikan sistem pertanian dan lingkungan (Drajat, 2007).

Prima Tani yang dimulai pada tahun 2005 di 14 provinsi dengan 22 lokasi, pada tahun 2006 bertambah menjadi 25 provinsi yang meliputi 33 desa. Mulai tahun 2007, Prima Tani akan melaksanakan di 200 desa yang tersebar di 200 kabupaten di seluruh provinsi.

Kegiatan akhir Prima Tani diharapkan terbentuknya unit Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) dan Sistem Usahatani Intensifikasi dan Diversifikasi (SUID) yang merupakan representasi industri pertanian dan usahatani berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi di suatu kawasan pengembangan. Kawasan ini mencerminkan pengembangan agribisnis lengkap dan sinergi antar subsistem yang berbasis agroekosistem dan mempunyai kandungan teknologi dan kelembagaan lokal yang diperlukan (Deptan, 2006).

Karakteristik Personal

Karakteristik personal menurut Rogers (2003) adalah meliputi status sosial-ekonomi, ciri kepribadian dan perilaku komunikasi. Secara lebih rinci karakteristik personal tersebut dijabarkan lagi ke dalam umur, pendidikan formal, pendidikan

(3)

nonformal, jumlah keluarga, pengalaman berusahatani, usaha keluarga, penghasilan keluarga, kekosmopolitan, partisipasi, kelembagaan masyarakat partisipasi dalam kelompok dan kontak media. Profil petani dan kelompoknya menentukan tingkat penerimaan inovasi dan kemampuan adopsinya.

Pendidikan nonformal menurut Sudjana (2004) merupakan sistem pendidikan nasional yang terdiri dari subsistem pendidikan nonformal berlangsung di dalam keluarga dan lingkungannya serta subsistem pendidikan nonformal berlangsung secara optimal didapat di mana saja. Pendidikan nonformal adalah setiap kegiatan terorganisasi dan sistematis di luar sistem sekolah yang mapan dilakukan secara mandiri atau bagian penting dari kegiatan yang lebih luas sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu di dalam mencapai tujuan belajarnya. Pendidikan nonformal mempunyai beragam nama misalnya kursus, pelatihan, penataran, upgrading, bimbingan belajar, tutorial. Dengan pendidikan nonformal maka seseorang akan meningkat pengetahuannya, sikap dan keterampilannya di samping pendidikan formal.

Menurut Soekartawi (1988) pengalaman kursus yang dimiliki seseorang akan ikut mempengaruhi kecepatan dalam mengambil keputusan. Dari kursus atau pelatihan pertanian diperoleh penambahan pengetahuan, kecakapan dalam pengelolaan usahatani, keterampilan dalam melaksanakan tugas operasional, kreativitas dan percaya diri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap tingkat penerimaan inovasi baik yang diperoleh secara langsung maupun tidak langsung atau melalui media. Slamet (1987) menyatakan bahwa tingkat pendidikan dapat dibedakan dalam beberapa jenjang yang masing-masing mempunyai fase waktu tertentu, yang mudah diamati adalah pendidikan formal. Seseorang yang mempunyai jenjang pendidikan lebih tinggi umumnya lebih cepat mengadopsi teknologi. Prayitnohadi (1987) menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan petani mempengaruhi kecepatan dalam mengambil keputusan terhadap teknologi pertanian. Abdurachman (1998) mengemukakan bahwa pengalaman mengikuti kursus mempunyai korelasi nyata dengan tingkat adopsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pendidikan nonformal dapat diketahui dengan cara mengukur frekuensi seseorang dalam mengikuti pendidikan nonformal yang berupa kursus, penataran dan pelatihan.

(4)

Hare (1962) mengemukakan ada beberapa hal yang mempengaruhi karakteristik individu yaitu: usia, jenis kelamin, kelas sosial, kesukuan dan kekeluargaan. Soekartawi (1988) mengemukakan bahwa karakteristik individu antara lain umur, pendidikan, keberanian mengambil resiko, pola hubungan, sikap terhadap perubahan, motivasi berkarya, aspirasi, fatalistik, sistem kepercayaan tertentu dan karakteristik psikologi.

Anggota sistem sosial memegang peranan penting dalam proses adopsi inovasi suatu teknologi. Salah satu sifat penting yang berpengaruh pada proses penyebaran inovasi teknologi dalam program Prima Tani adalah profil petani. Jones dalam Soekartawi (1988) menyebutkan bahwa peubah yang berpengaruh terhadap penyebaran dan penyerapan inovasi adalah: (a) umur, (b) tingkat pendidikan, (c) tingkat pengetahuan, (d) tingkat pendapatan dan (e) latar belakang ekonominya. Gonzales dalam Jahi (1988) menyatakan individu dengan status sosial-ekonomi lebih tinggi umumnya berpeluang menduduki posisi atas seperti pemimpin formal dan informal. Status ekonomi biasanya diukur dari jumlah kepemilikan ternak sapi, pendapatan keluarga, jumlah materi serta fasilitas yang dimiliki oleh seseorang. Semakin banyak materi dan fasilitas yang dimiliki oleh seorang calon adopter maka semakin termotivasi untuk mengadopsi suatu inovasi. Prayitnohadi (1987) menyebutkan bahwa tingkat penyerapan teknologi dipengaruhi oleh umur, pendidikan, luas garapan, status penguasaan lahan yang mempengaruhi perilaku komunikasi dan jaringan komunikasi sehari-hari dipengaruhi oleh umur. Inovasi yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari memerlukan ketangguhan fisik.

Pengalaman adalah suatu akumulasi ingatan individu dengan mewujudkan pemahamannya dalam bentuk ucapan, tindakan, perilaku dan sikap. Pengalaman bagi seseorang mengandung arti yang mendalam serta mempunyai nilai tersendiri dalam kehidupannya. Pengalaman bertani merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan tingkat adopsi teknologi inovasi. Menurut Soekartawi (1988) petani yang berpengalaman lebih cepat menyerap teknologi pertanian dibandingkan dengan petani yang belum atau kurang pengalaman bertaninya. Tamarli (1994) menyimpulkan bahwa pengalaman bertani mempunyai korelasi nyata dengan penerapan program Supra Insus. Abdurachman (1998) mengemukakan bahwa

(5)

pengalaman bertani dapat diketahui dengan cara mengukur berapa lama seseorang pernah melaksanakan usahatani.

Lionberger (1968) menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi difusi suatu inovasi meliputi: a) faktor sosial, b) faktor status, c) faktor budaya, d) faktor personal dan e) faktor situasional. Sementara Rogers (2003) dan Soekartawi (1988) mengatakan ada empat faktor yang saling berkaitan dalam proses difusi yaitu: a) adanya inovasi, b) adanya komunikasi, c) adanya sistem sosial, d) adanya kesenjangan waktu. Menurut Primawati (1988) bahwa keputusan untuk menerima atau menolak suatu inovasi ditentukan oleh: a) proses pengambilan keputusan, b) keinovatifan petani, c) adanya manfaat yang besar, d) efektivitas tinggi, e) resiko yang kecil, f) kemudahan dalam pelaksanaannya. Menurut Soekartawi (1988) ada faktor yang mempengaruhi kecepatan adopsi suatu inovasi antara lain adalah umur dan ukuran usahatani. Sedangkan menurut hasil penelitian Prayitnohadi (1987) bahwa umur, pendidikan, luas lahan garapan dan status pemilikan lahan mempengaruhi faktor kecepatan inovasi. Begitu pula dengan Mulyani (1992) mengemukakan bahwa karakteristik individu seperti pendidikan nonformal, penghasilan petani, luas lahan garapannya, banyaknya kredit yang diambil dan curahan kerja ternyata berkorelasi nyata dengan tingkat penerapan teknologi.

Dengan demikian dari uraian hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek umur, jenis kelamin, pendidikan, pendidikan nonformal, pendapatan, pengalaman bertani, luas lahan garapan, status lahan garapan dan status dalam kelompok ternyata dapat mempengaruhi tingkat persepsi petani di dalam partisipasinya di bidang usahatani.

Aksesibilitas Kelembagaan Tani

Lazarsfeld dan Merton (1971) mengajukan gagasan mengenai komunikasi dua tahap (two step flows of communication) dan konsep pemuka pendapat. Sering- kali informasi mengalir dari radio dan surat kabar kepada para pemuka pendapat dan dari pemuka pendapat kemudian kepada orang lain yang kurang aktif berkomunikasi dalam masyarakat. Secara garis besar menurut teori media massa tidak bekerja dalam suatu situasi sosial yang pasif, tetapi memiliki suatu akses ke dalam jaringan

(6)

hubungan sosial yang sangat kompleks dan bersaing dengan sumber-sumber gagasan, pengetahuan dan kekuasaan lainnya.

Letak suatu wilayah juga sangat mempengaruhi aspek komunikasi atau aksesibilitas masyarakatnya. Pada kenyataannya, akses petani pada suatu daerah dengan daerah lainnya tidak selalu sama. Hal ini sangat terkait dengan ketersediaan fasilitas dan sumber informasi serta keragaman informasi yang diperlukan. Myers (2003), Tubbs dan Moss (2000) dan Purwanto (2003) menyatakan bahwa globalisasi yang dipicu oleh kemajuan teknologi komunikasi telah mendorong semua bangsa ke arah komunikasi massa. Pada kondisi seperti itu kerapatan maupun keterbukaan komunikasi menjadi relatif karena dipengaruhi oleh eksistensi fasilitas komunikasi. Fasilitas yang dimaksud adalah stasiun radio, televisi, surat kabar, majalah, buku, telepon, expert system, internet, fax, komputer, kantor pos, kelompok/ organisasi tani, lembaga penyuluhan, pusat informasi pasar dan kelembagaan lainnya. Fasilitas komunikasi yang dimaksud tidak hanya terbatas pada yang dikelola oleh pemerintah semata, tetapi meliputi yang dikelola oleh swasta, komunitas dan swadaya masyarakat. Pada masyarakat pedesaan, fasilitas komunikasi seringkali berwujud ruang-ruang pertemuan dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang oleh Soekanto (2000) disebut ajang dialog sosial atau ruang semi-otonom dan otonom.

Kelembagaan penyuluhan pertanian sebagai sumber informasi tampaknya perlu mendapat perhatian khusus. Meskipun teknologi komunikasi sudah berkembang pesat, namun eksistensi kelembagaan penyuluhan masih dan akan tetap diperhitungkan sebagai mediator, fasilitator, agen konsultan atau pemberdaya bagi para petani. Hal ini dapat kita saksikan di negara-negara yang pertanian dan teknologi komunikasinya sudah canggih sebut saja Amerika, Jerman, Australia, Inggris, Belanda, Jepang dan negara maju lainnya. Kelembagaan penyuluhan yang dimaksud, tentu bukan hanya tertuju pada kelembagaan penyuluhan pemerintah semata seperti PPL, tapi juga kelembagaan penyuluhan swasta seperti perusahaan agribisnis, koperasi, asosiasi petani (farmers union), perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga swadaya masyarakat dan kelompok tani (Ravera dan Daniel, 1991).

Dalam praktek, sering penggunaan metode penyuluhan dilakukan dengan mengkombinasikan satu sama lain. Hal ini dilakukan untuk memperoleh hasil yang

(7)

optimal. Pemilihan penggunaan metode penyuluhan perlu memperhatikan dua hal yaitu: a) isi pesan (umum/ khusus), b) target sasaran (individu, kelompok, umum). Dalam kegiatan Prima Tani, sifat pesan yang akan disampaikan dapat digolongkan khusus karena berupa inovasi (teknologi, kelembagaan, kebijakan) yang diperuntukkan bagi kelompok tertentu. Sedangkan target sasaran adalah terbatas pada sekelompok masyarakat tani di lokasi Prima Tani. Dengan demikian metode penyuluhan yang paling tepat adalah metode kelompok. Akan tetapi untuk beberapa kasus dapat dikombinasikan dengan metode media massa dan metode individu. Misalnya untuk mengatasi masalah spesifik pada individu petani, maka metode individu dapat diterapkan. Untuk menyebarkan keberhasilan program Prima Tani ke khalayak umum dapat menggunakan media massa (Musyafak dan Ibrahim, 2005).

Untuk lebih menjamin keberhasilan dalam diseminasi inovasi ke petani, maka penggunaan metode penyuluhan kelompok harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1. Menggunakan bahasa yang paling mudah dimengerti oleh petani

2. Penyampaian harus praktis, tidak bertele-tele agar mudah dipahami

3. Menggunakan alat bantu yang tepat sehingga diperoleh ilustrasi yang lengkap 4. Harus diperbanyak peragaan/ demonstrasi/ percontohan/ pembuktian teknologi

untuk menyakinkan petani.

Pemanfaatan Media Komunikasi

Media komunikasi sebagai sarana atau alat penyampaian pesan atau informasi sangat diperlukan dalam setiap proses komunikasi. Di dalam pembangunan ternyata berbagai media komunikasi seringkali digunakan di dalam menyampaikan berbagai pesan atau informasi kepada masyarakat luas. Salah satu media yang digunakan adalah media tradisional yang kerapkali dipakai bagi sebagian besar masyarakat desa masih menikmatinya. Di Indonesia sendiri media tradisional masih cukup memikat bagi masyarakat banyak seperti pertunjukan rakyat. Menurut Jahi (1988) bahwa pertunjukkan rakyat biasanya lebih komunikatif sehingga mudah dipahami oleh masyarakat pedesaan khususnya petani. Dalam penyajiannya, pertunjukkan ini biasanya diiringi oleh musik daerah setempat.

Pemanfaatan media komunikasi oleh masyarakat pedesaan, selama ini tidak hanya menggunakan media tradisional maupun media modern, juga penggunaan

(8)

media cetak ternyata dapat memberikan kontribusi besar untuk penyebaran informasi kepada petani khususnya masyarakat pedesaan. Media cetak seperti poster, leaflet dan brosur ternyata mempunyai peranan penting di dalam menyebarkan informasi kepada petani. Isi materi poster, leaflet ataupun brosur memuat semua peristiwa atau informasi yang berkenaan dengan kebijakan instansi kepada publik luarnya. Poster adalah selembar kertas atau karton yang diberi suatu ilustrasi dan beberapa kata sederhana. Menurut Maunder dalam Jahi (1988) bahwa poster didesain untuk menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang, menimbulkan kesan pada yang bersangkutan akan suatu fakta atau ide dan merangsangnya untuk menyokong suatu ide, mencari lebih banyak informasi atau melakukan semacam tindakan. Sekarang ini poster dipakai pula di bidang pertanian untuk memberikan informasi kepada petani mengenai pesan khusus tentang penemuan, penggunaan bibit unggul, pengolahan lahan, pemberantasan hama dan penyakit atau pengumuman kebijakan pemerintah. Di beberapa daerah telah menggunakan poster untuk memberikan informasi di bidang pertanian, perkebunan dan peternakan. Sekarang ini setiap departemen atau dinas di tingkat daerah sudah biasa menggunakan poster sebagai media komunikasi kepada masyarakat desa khususnya petani. Berbagai kebijakan dan teknologi dalam bidang pertanian dan peternakan disampaikan melalui media ini, di samping media cetak lainnya. Untuk lebih efektif digunakan kepada petani maka poster tersebut harus memiliki tujuan yang jelas. Desainnya harus baik, diujicoba pada sasaran yang dituju dan harus dipasang sesuai dengan prinsip-prinsip komunikasi yang baik (Lozare, 1981).

Setiap orang melakukan hubungan dengan orang lain (melakukan transaksi) karena mengharapkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya. Beberapa tahap hubungan interpersonal meliputi: (1) pembentukan hubungan, (2) peneguhan hubungan, (3) pemutusan hubungan. Duck dalam Melkote (1991) menyampaikan bahwa perkenalan adalah suatu proses penyampaian informasi dan upaya untuk memperoleh informasi dari petani yang merupakan proses komunikasi. Menurut Rogers dan Shoemaker (1995) perilaku komunikasi dapat menggambarkan tingkatan petani dalam mengadopsi inovasi yang digambarkan oleh peubah perilaku komunikasi meliputi: (1) partisipasi sosial, (2) hubungan dengan orang di luar sistem

(9)

sosial, (3) hubungan dengan agen pembaharu, (4) penguasaan informasi, (5) tingkat kepemimpinan, (6) sistem norma yang dianut dan (7) aksesibilitas media massa.

Aksesibilitas media komunikasi merupakan salah satu unsur dari perilaku komunikasi. Perilaku komunikasi diartikan sebagai suatu aktivitas verbal dan nonverbal yang berkaitan dengan penyampaian ide, informasi, sikap atau emosi. Media komunikasi berupa komunikasi personal, interpersonal dan komunikasi massa (Istiana, 1998).

Kemudahan petani dalam mendapatkan benih padi varietas unggul tersebut mencerminkan bahwa aksesibilitas petani terhadap teknologi yang dikembangkan Badan Litbang Pertanian semakin baik. Kemudahan petani dalam mendapatkan benih padi yang sesuai kebutuhan dalam varietas, kuantitas, kualitas dan tepat waktu mencerminkan pula bahwa kaitan fungsional antara petani dan lembaga sarana produksi khususnya benih semakin baik.

Bentuk media massa dapat dibedakan menjadi media audio, visual, audio-visual dan cetak. Contoh media audio adalah radio, media audio-audio-visual seperti televisi, vcd, cd-interaktif, film sedangkan media cetak seperti surat kabar, buku, folder, poster dan lainnya (Fardiaz, 1996). Masing-masing bentuk media komunikasi ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Media massa seperti LIPTAN (Lembar Informasi Pertanian), siaran radio pedesaan, majalah pertanian mempunyai kemampuan untuk memberikan informasi secara efektif sehingga dapat dikatakan bahwa media massa dapat menjalankan peranannya yaitu memperluas cakrawala, memusatkan perhatian, menumbuhkan aspirasi, menciptakan suasana membangun, mengubah sikap dan sebagai pendidik dimana kontribusinya tergantung kepada perbedaan perilakunya (Jahi, 1988).

Media komunikasi cetak mempunyai keuntungan karena dapat disimpan dan dibaca berulang-ulang. Kelemahan media komunikasi cetak adalah dibatasi oleh pendidikan pengguna. Hal ini berarti bahwa untuk dapat memahami isi pesan yang disampaikan maka pengguna harus melek huruf.

Perilaku komunikasi petani selalu berkaitan dengan usaha untuk mendapatkan informasi teknologi usahatani sebagai bahan pengambilan keputusan inovasi. Perilaku komunikasi dapat menggambarkan tingkatan dalam pengadopsian suatu inovasi.

(10)

Mosher (1981) menyatakan kebanyakan petani enggan untuk mencoba suatu input baru atau teknologi pertanian pada waktu barang ini baru pertama kali ditawarkan. Kebanyakan orang dewasa dimana pun sebelum mau mencoba sesuatu yang baru dengan disaksikan oleh lingkungannya, terlebih dahulu ingin yakin benar bahwa barang itu betul-betul akan berhasil baik. Dalam model Prima Tani dilakukan gelar teknologi pertanian, sesuai yang dikatakan Mosher (1981) yaitu uji lokal atau pemeriksaan setempat. Wajar jika seorang petani bersikap skeptis terhadap manfaat teknologi atau metode baru untuk diterapkan di lahannya walaupun dapat dipakai, apakah menguntungkan juga kecuali kalau teknologi atau metode tersebut sudah dicoba di banyak tempat yang kondisinya praktis sama dengan lahannya. Maka inovasi Prima Tani untuk petani menggunakan pendekatan komunikasi secara persuasif atau bujukan, menyentuh aspek visual (Gelar Teknologi). Prima Tani memberikan contoh produknya dan teknik-tekniknya pada lahan percontohan program Prima Tani di Desa Jatiwangi Kabupaten Garut, Desa Citarik Kabupaten Karawang, Jawa Barat dan di Desa Sapanang Kabupaten Pangkep dan Desa Kamanre Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Melakukan peragaan/ demonstrasi/ percontohan/ pembuktian teknologi di lapangan harus diperbanyak agar petani dapat melihat secara langsung. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa indera penglihatan mempunyai pengaruh yang lebih besar dibanding indera yang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Soekartawi (1988) bahwa tahapan mengetahui atau melihat lebih besar dilakukan oleh manusia (83%), lalu mendengar (11%), tahapan membau melalui indera hidung (3,5%), tahapan meraba dengan tangan (1,5%) dan merasa dengan indera lidah (1%).

Di samping itu penggunaan media modern seperti radio dan televisi banyak digunakan untuk mendukung pembangunan pedesaan. Kedua media ini mempunyai kemampuan besar untuk menghantarkan dan menyebarkan pesan-pesan pembangunan kepada masyarakat luas yang tersebar di pedesaan dan di perkotaan dengan cepat dan serentak. Tetapi penggunaan radio lebih banyak dijumpai di masyarakat pedesaan dalam mengakses informasi penting dan hiburan.

Ternyata pemanfaatan radio di dalam bidang pertanian pun patut dicatat. Keberhasilan sekolah radio pertanian menarik minat sejumlah besar petani. Akibatnya banyak petani mendaftarkan diri untuk mengikuti pelajaran tentang cara

(11)

menanam padi dan gandum, memupuk, beternak sapi perah, beternak ayam, memelihara ikan dan cara-cara bertani lainnya melalui radio. Jahi (1988) menyatakan bahwa di beberapa negara seperti India telah melahirkan beberapa program sekolah melalui radio dan studi korespondensi radio bagi petani. Begitu pula di Taiwan telah berkembang radio pemerintah yang membuka sekolah di udara yang menawarkan berbagai program pendidikan kejuruan lengkap khusus petani di desa. Radio juga dipakai secara luas untuk menyiarkan program penyuluhan pertanian yang bernilai tinggi. Seperti di Nigeria Utara, Malawi dan Ekuador telah serius menggunakan radio sebagai alat penyebar informasi media pertanian (Jenkins, 1982).

Untuk keberhasilan suatu program diperlukan agen penyuluhan dalam bidang pembangunan baik bidang pertanian maupun bidang lainnya. Agen penyuluhan diperlukan untuk melakukan sosialisasi dan mengenalkan suatu program kepada masyarakat luas. Keberhasilan suatu program dipengaruhi agen penyuluhan. Dengan demikian agen penyuluhan mempunyai korelasi yang sangat kuat terhadap keberhasilan suatu program. Menurut Mundy (2000) kecepatan adopsi suatu inovasi tergantung pada beberapa hal yaitu sifat inovasi, sifat adopter dan perilaku pengantar perubahan (peneliti atau penyuluh). Setelah inovasi tepat guna diperoleh, metode penyuluhan yang efektif diketahui, selanjutnya adalah memilih agen penyuluhan yang baik. Dengan kata lain, produk/ inovasi yang akan disampaikan ke petani harus bermutu (good innovations), cara menyampaikan produk/ inovasi ke petani harus bermutu (good extension methods) dan orang yang menyampaikan harus bermutu (good extension agent). Akhirnya dengan penerapan total quality management dalam penyuluhan, diharapkan percepatan adopsi dan difusi inovasi akan berhasil.

Agen penyuluhan merupakan individu atau institusi yang mempunyai tugas pokok memberikan pendidikan informal kepada petani dan keluarganya tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan usahatani bertujuan agar mereka mampu, sanggup dan berswadaya memperbaiki atau meningkatkan kesejahteraan keluarganya dan masyarakat sekelilingnya.

Klinik agribisnis merupakan tempat penyuluh, peneliti dan petugas dinas terkait dalam memberikan pelayanan terpadu kepada pelaku agribisnis. Lembaga tersebut dapat dipandang sebagai elemen lembaga lokal yang memasok teknologi spesifik lokasi dan spesifik pengguna teknologi. Klinik agribisnis terkait secara

(12)

langsung dan tidak langsung dengan lembaga inovasi milik pemerintah yang menghasilkan teknologi dasar (universitas), teknologi terapan (Balit/ Puslit), teknologi matang yang bersifat spesifik lokasi dan pengguna (BPTP) dan produsen teknologi komersial seperti benih varietas unggul, industri pupuk, industri pestisida serta industri rancang bangun alat dan mesin pertanian. Secara langsung klinik agribisnis memberikan pelayanan jasa kepada pelaku agribisnis melalui kegiatan konsultasi, advokasi dan penyampaian informasi teknologi (benih, budidaya dan pascapanen), informasi pasar komoditas dan memberikan informasi permodalan. Dalam prakteknya lembaga tersebut melibatkan empat institusi utama dengan peran masing-masing sebagai berikut:

1. BPTP yang berperan sebagai pemasok materi penyuluhan, menyiapkan teknologi matang dan advokasi kelembagaan.

2. Penyuluh (dari dinas daerah dan BPTP) yang berperan sebagai konsultan inovasi teknologi, manajemen usaha, manajemen finansial dan pengembangan jaringan usaha.

3. Dinas pertanian yang berperan menyiapkan informasi pasar dan permodalan, memperkuat kelembagaan AIP, advokasi dan konsultasi pengembangan jaringan usaha.

4. Asosiasi komoditas yang berperan menyediakan informasi dan konsultasi pengembangan jaringan usaha.

Klinik agribisnis merupakan salah satu lembaga pelayanan jasa konsultan, diseminasi dan informasi yang terkait dengan pengembangan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP), sehingga klinik ini dapat menjadi wadah untuk menampung permasalahan dan ketersediaan teknologi pertanian yang dibutuhkan oleh pelaku usahatani atau pelaku agribisnis. Inovasi teknologi pertanian tersebut berupa teknologi produksi, panen dan pascapanen, sosial ekonomi, kelembagaan sampai pemasaran. Peran klinik agribisnis adalah lebih mendekatkan sumber-sumber teknologi pertanian kepada khalayak pengguna, khususnya petani dan sekaligus menjadi wahana mendapatkan umpan balik untuk penyempurnaan penyelenggaraan penelitian, pengkajian dan diseminasi.

(13)

Pelayanan informasi melalui klinik agribisnis dilakukan dengan tiga kegiatan utama yakni: 1) penyebaran informasi melalui media cetak, 2) pemberian jasa konsultasi usahatani dan 3) pelayanan pemecahan masalah di lapangan usahatani. Hal-hal yang akan dipersiapkan antara lain: materi yang diseminasikan, lokasi klinik, tenaga pengelola, peralatan dan lahan sebagai tempat untuk mendemonstrasikan inovasi teknologi yang akan diterapkan (visitor plot). Materi yang diseminasikan, dirancang dan disusun dengan rinci dan disesuaikan dengan kebutuhan petani. Materi disajikan dengan menggunakan multimedia dan multimetoda.

Berdasarkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada klinik agribisnis, maka klinik agribisnis dilengkapi dengan: 1) tenaga konsultan agribisnis; 2) peragaan inovasi pertanian dalam bentuk leaflet, warta, poster, 3) informasi agribisnis yang mencakup aspek input dan output jenis komoditas, harga, kebutuhan pasar, permodalan, kualitas, 4) informasi inovasi teknologi budidaya, pascapanen, penyuluhan dan pemasaran, 5) informasi tentang manajemen pengelolaan alat dan mesin pertanian.

Arah kegiatan klinik agribisnis ditujukan untuk: 1) memecahkan permasalahan yang ada di lapangan, 2) memanfaatkan dan mengembangkan potensi dan peluang yang tersedia, 3) memperbaiki teknologi eksisting dengan inovasi teknologi sesuai kebutuhan lapangan, 4) meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani dalam mengelola usaha pertaniannya (Tim LKDRIB Kabupaten Garut, 2007).

Agar peranannya tidak menimbulkan ketimpangan, maka pembentukan klinik agribisnis dilaksanakan secara bersama-sama oleh BPTP, dinas terkait, Pemda, petani dan pelaku agribisnis lainnya. Sesuai dengan perannya untuk meningkatkan pelayanan informasi yang berkaitan dengan agribisnis maka lokasi klinik agribisnis harus memenuhi syarat berikut:

1. Strategis dan mudah diakses oleh masyarakat tani sebagai pelaku agribisnis di wilayah lokasi Prima Tani.

2. Mempunyai ruang yang bisa digunakan untuk menyimpan alat bantu kegiatan usaha dan memamerkan teknologi yang berkaitan dengan usahatani yang banyak dilakukan.

(14)

3. Mempunyai ruangan tempat petani/ pelaku usaha melakukan konsultasi tentang masalah–masalah usahataninya.

Pada pelaksanaannya, ada tenaga yang khusus mengelola klinik agribisnis agar dapat memberikan pelayanan yang baik kepada khalayak pengguna. Mengingat jauhnya lokasi klinik agribisnis dengan pakar atau peneliti berada, maka dibuat jadwal kunjungan dari pakar atau peneliti yang menangani bidang tertentu dan jadwal disosialisasikan kepada masyarakat luas agar petani dapat memanfaatkan kesempatan berkonsultasi sesuai dengan permasalahan dan waktunya.

Persepsi

Seiler (1992) menyebutkan bahwa persepsi merupakan jantungnya dalam berkomunikasi. Persepsi adalah proses dimana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. Menurut DeVito (1997) bahwa persepsi mempengaruhi stimulus atau pesan yang diserap dan makna yang diberikan kepada komunikan ketika komunikan mencapai kesadaran. Sementara Rakhmat (2005) mengatakan bahwa persepsi adalah pengalaman mengenai objek, peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Selanjutnya Krech dan Krutchfield dalam Rakhmat (2005) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses kognitif yang kompleks dan ditentukan oleh faktor personal dan situasional yang menghasilkan suatu gambaran unik tentang kenyataan yang berbeda dari fakta adanya. Menurut Kemp et al., (1975) bahwa persepsi adalah suatu proses dimana seseorang memperoleh kesadaran mengenai keadaan sekitar lingkungannya. Pengertian lebih spesifik dikemukakan oleh McMahon (1986) bahwa persepsi adalah proses penyusunan penginderaan terhadap informasi untuk membuat penafsiran dan pengertian.

Mendukung pendapat di atas, Sadli (1976) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan suatu proses aktif dimana yang memegang peranan bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga keseluruhan pengalaman, motivasi dan sikap yang relevan terhadap stimulus. Thoha (1999) mengatakan bahwa persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah

(15)

terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi.

Menurut Zanden (1984) bahwa persepsi adalah proses pengumpulan dan penafsiran dari informasi. Persepsi merujuk kepada beberapa proses dimana kita menjadi tahu dan berpikir mengenai beberapa hal berupa karakteristik, kualitas dan pernyataan diri. Kita membentuk pandangan mengenai beberapa hal untuk menetapkan dan membuat perkiraan serta mengatur pandangan kita mengenai masyarakat berdasarkan informasi.

Sementara itu van den Ban dan Hawkins (1999) menyatakan bahwa persepsi adalah proses penerimaan informasi atau stimuli dari lingkungan dan mengubahnya ke dalam kesadaran psikologis. Persepsi manusia sangat selektif menerima stimuli dari sekelilingnya dengan melihat objek, mendengar suara, mencium bau dan sebagainya. Dalam hal ini kapasitas memproses informasi terbatas, tidak semua informasi dapat ditangkap dan tergantung pada faktor-faktor fisik serta psikologis seseorang. Lewis dalam Muhammad (2000) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengamatan, pemilihan, pengorganisasian stimulus yang sedang diamati dan membuat interpretasi mengenai pengamatan tersebut.

Menurut Litterer dalam Asngari (1984) persepsi adalah the understanding or view people have of the things in the world around them. Selanjutnya persepsi orang dipengaruhi oleh pandangan seseorang pada sesuatu yang ada di sekitarnya, keadaan, fakta atau tindakan. Ada tiga mekanisme pembentukkan persepsi yaitu selektivitas, pemaknaan dan interpretasi. Pada mulanya individu akan menanggapi secara selektif terhadap stimulus yang ada sebelum berlangsungnya proses pemaknaan. Setelah stimulus tersebut diseleksi dan kemudian disusun sedemikian rupa baru kemudian proses pemberian makna berlangsung, akhirnya terjadilah interpretasi tertentu secara menyeluruh tentang stimulus tersebut.

Berlo (1960) dan Endaryanto (1999) mengemukakan bahwa individu dalam memberikan makna pada suatu stimulus seringkali tidak sama antara individu yang satu dengan yang lainnya tergantung pada faktor yang ada pada diri dan di luar individu tersebut yang mempengaruhi persepsi. Akibatnya tidak jarang terjadi ketidaksamaan persepsi antara individu yang satu dengan lainnya tentang objek yang sama sehingga peluang terjadinya kesalahan mempersepsikan selalu ada. Menurut

(16)

Irawan et al., (1997) seseorang dapat muncul dengan persepsi yang berbeda terhadap objek rangsangan yang sama karena tiga proses yang berkenaan dengan persepsi. Proses tersebut adalah penerimaan rangsangan secara selektif, perubahan makna informasi secara selektif dan mengingat sesuatu secara selektif.

Menurut Myers (2003) setiap orang berbeda kebutuhan, motivasi, minat dan lainnya. Karena itu persepsinya terhadap sesuatu cenderung menurut kebutuhan, minat dan latar belakang masing-masing. Persepsi dua orang mengenai objek yang sama bisa berbeda, yang satu mungkin memiliki persepsi yang baik sedangkan yang satunya lagi mungkin sebaliknya. Adakalanya persepsi seseorang terhadap suatu objek bisa tepat dan bisa keliru atau mendua. Faktor terpenting untuk mengatasi kekeliruan persepsi adalah kemampuan untuk mendapatkan pengertian yang tepat mengenai objek persepsi.

Menurut Schiffman dan Kanuk (1983) terkait dengan persepsi yang merupakan bagian dari sikap disebutkan terdapat tiga komponen yang mempengaruhi pandangan seseorang terhadap suatu objek tertentu yaitu komponen kognitif, afektif dan konatif. Komponen kognitif menekankan kepada pengetahuan dan persepsi seseorang terhadap objek berdasarkan pengalaman langsung yang dihubungkan dengan sumber informasi. Pengetahuan dan persepsi ini akan menghasilkan kepercayaan terhadap objek tertentu. Komponen afektif menekankan kepada perasaan atau emosi dalam menilai objek tertentu. Komponen konatif menekankan kepada kecenderungan dan merupakan perilaku aktual seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang dipersepsikan. Selanjutnya Sujanto (1983) menjelaskan bahwa informasi yang sampai kepada seseorang merupakan perangsang (stimuli) yang diteruskan ke otak syaraf sensoris kemudian orang menyadari perangsang itu dan dilanjutkan dengan keputusan tindakan.

Dari batasan-batasan tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa “persepsi ialah pandangan dan pengamatan, pengertian dan interpretasi seseorang atau individu terhadap suatu kesan obyek yang diinformasikan kepada dirinya sehingga orang tersebut dapat memandang, mengerti dan menginterpretasikan informasi itu dengan keadaan dirinya dan lingkungannya dimana ia berada sehingga dapat menentukan tindakannya.“

(17)

Pandangan adalah masa persiapan menuju pengamatan atau perhatian yang mengarahkan persiapan menuju pengamatan atau perhatian yang mengarahkan persiapan diri untuk melakukan pengamatan terhadap suatu obyek ataupun terhadap pelaksanaan suatu perbuatan.

Pengamatan ialah proses mengenal dunia luar dengan menggunakan indera (Sujanto, 1983). Menurut Kartono (1984) pengamatan adalah produk dari kesadaran dan pikiran terutama merupakan abstraksi yang dikeluarkan dari arus kesadaran. Selanjutnya dikemukakan bahwa pengamatan adalah kesan-kesan yang diterima sewaktu rangsangan menyentuh indera individu dan rangsangan masih terlihat. Bila kesannya masih tertinggal sedangkan perangsangnya sudah tidak tampak lagi maka peristiwa inilah yang disebut tanggapan.

Pengertian adalah penerimaan cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksud oleh komunikator. Pengertian mempunyai fungsi penting bagi seseorang untuk menunjukkan benda, orang dan masalah baik mulai dari benda yang konkrit maupun sampai masalah yang diinformasikan kepadanya sehingga komunikasinya berjalan efektif (Kartono, 1984).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Rogers dan Shoemaker (1995) mengungkapkan bahwa sering terjadi jarak pemisah antara agen pembaharu dengan orang atau sistem yang menjadi sasarannya karena mereka berbeda dalam bahasa, status sosial-ekonomi, kemampuan teknis atau nilai dan sikapnya. Hal ini sering mengakibatkan konflik peranan pada diri agen pembaharu dan kesulitan dalam berkomunikasi. Dari hasil penelitian Rogers dan Svening dalam Rogers and Shoemaker (1995) menyatakan bahwa agen pembaharu mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi dari beberapa sumber dan lebih banyak menggunakan saluran alternatif, pesannya akan mudah diterima oleh sasarannya. Kohler dalam Jahi (1988) mengatakan bahwa segmen khalayak yang dapat mempengaruhi khalayak dalam menggunakan media komunikasi yaitu karakteristik, geografis, demografis, perilaku atau psikografis. Tubbs dan Moss (2000) mengungkapkan bahwa setiap orang memiliki penafsiran sendiri-sendiri terhadap objek yang sama. Cara penafsiran mengungkapkan suatu keinginan dan pengalaman masa lalu. Dari stimuli yang tersedia pengalaman masa lalu berpengaruh kepada cara

(18)

penilaian suatu stimuli. Selanjutnya digambarkan bahwa dalam mengorganisasikan persepsi, generalisasi (allness) yang didasarkan pada pengalaman pribadi yang amat terbatas seringkali tidak cermat dan tidak tepat. Dengan demikian cara kita mempersepsi orang tergantung pada generalisasi yang berasal dari pengalaman bersama sebagai anggota masyarakat.

Berlo (1960) menyatakan bahwa seseorang membuat keputusan tentang apa yang akan diterima dan ditolaknya. Ia menyusun persepsi yang mendukung keputusannya itu. Dalam hal ini pengalaman sebelumnya serta nilai yang dianut tidak dapat dipisahkan dan saling mengkait dalam kebutuhan dan persepsinya.

Lebih jauh Rakhmat (2005) mengungkapkan bahwa faktor-faktor personal yang secara langsung mempengaruhi kecermatan persepsi adalah: 1) pengalaman

yang tidak selalu diperoleh lewat proses belajar formal, 2) motivasi dan 3) kepribadian. Sejalan dengan pendapat di atas, Tubbs dan Moss (2000) mengatakan

bahwa perangkat psikologis mempengaruhi persepsi antarpesona. Cara penafsiran mengungkapkan suatu keinginan dan pengalaman masa lalu. Hal ini sejalan dengan pendapat DeVito (1997) yang mengemukakan bahwa karakteristik seseorang merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang.

Komunikasi

Komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia sejak lahir dan selama proses kehidupannya dimana manusia akan selalu terlibat dalam aktivitas komunikasi. Komunikasi adalah suatu proses dimana komunikator menyampaikan pesan untuk orang lain. Kincaid dan Schramm (1987) mengemukakan bahwa komunikasi adalah proses saling membagi atau menggunakan informasi secara bersama dan bertalian antara pelaku dalam proses komunikasi informasi. DeVito (1997) menyatakan bahwa komunikasi adalah mengacu kepada tindakan oleh satu orang atau lebih yang mengirimkan dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik. Kincaid dan Schramm (1987) menyatakan komunikasi sebagai suatu proses dimana para partisipannya saling membuat dan bertukar informasi dari seseorang kepada orang lain agar didapatkan suasana saling pengertian di antara mereka. Definisi hakekatnya menjelaskan suatu hubungan

(19)

dengan adanya pertukaran informasi (pesan) diharapkan akan menimbulkan perubahan sikap, tingkah laku dan kebersamaan dalam menciptakan suasana saling pengertian di antara orang yang ikut serta dalam proses komunikasi.

Menurut Tubbs dan Moss (2000) bahwa berdasarkan hasil penelitian, 83% manusia menggunakan waktunya untuk berkomunikasi. Djuarsa (1993) menyimpulkan bahwa tindakan komunikasi dapat terjadi dalam berbagai konteks kehidupan manusia mulai dari kegiatan yang bersifat individual, di antara dua orang atau lebih, berkelompok, keluarga (organisasi dalam konteks publik secara lokal, regional dan global) atau melalui media massa. Tindakan komunikasi dapat dilakukan secara verbal maupun nonverbal, langsung atau tidak langsung.

Book (1980) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu transaksi yaitu proses simbolik yang menghendaki orang mengatur lingkungannya dengan: 1) membangun hubungan antarsesama manusia, 2) melalui pertukaran informasi, 3) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain serta 4) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu.

Komunikasi pada hakekatnya bukan saja ilmu pengetahuan tetapi juga seni bergaul. Kincaid dan Schramm (1987) berpendapat bahwa untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan efektif seseorang dituntut tidak hanya memahami proses tetapi juga mampu menerapkan pengetahuannya secara kreatif. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi dimana makna yang distimulasikan oleh komunikan serupa dengan yang dimaksud komunikator.

Komunikasi mempunyai multimakna dan memberikan cara pandang yang beragam, sehingga lahirlah berbagai paradigma. Salah satu paradigma komunikasi yang terkenal adalah karya Lasswell (Arifin, 1992). Proses komunikasi yang sering dipakai dalam menganalisa komunikasi politik di Amerika saat itu. Adapun formula Lasswell dari perspektif mekanistis adalah who–says what–in which channel–to whom–with what effect. Begitu pula dengan pendapat Berlo (1960) yang terkenal dengan model SMCR-nya mengusulkan bahwa ada lima unsur-unsur di dalam keduanya sumber atau encoder dan penerima yang mempengaruhi ketepatan. Ada paradigma model SMCR dilihat dari aspek sumber dan penerima yaitu agak berbeda dari yang diusulkan oleh model transmisi secara langsung di dalamnya menempatkan penekanan pada komunikasi dyadic, oleh karenanya menekankan aturan hubungan

(20)

antara sumber dan penerima sebagai suatu peubah penting di dalam proses komunikasi. Pada prinsipnya semakin maju keterampilan komunikasi dari sumber dan penerima, maka semakin efektif pesan akan disandikan dan dikodekan. Menurut Berlo (1960) menyatakan bahwa sumber mungkin ditentukan oleh keterampilan yang lebih tinggi yang tidak dimiliki satu penerima, tetapi bersama oleh yang lain. Kita tidak bisa meramalkan sukses sumber dari keterampilannya mengukur sendiri. Menurut Berlo (1960) bahwa komunikasi bisa mencapai efektif apabila terdapat kondisi yang homophili antara sumber (source) dan penerima (receiver). Bila digambarkan maka model komunikasi Berlo sebagai berikut :

feedback emphati

Gambar 2. Model Komunikasi Linier (Berlo, 1960)

Ahli Komunikasi seperti DeVito (1997) memberikan pendapat bahwa komunikasi tidak terjadi secara linier atau satu arah melainkan secara berkesinambungan. Maksudnya, akan terjadi pergantian peran dan fungsi dari sumber dan penerima. Setelah pesan sampai kepada penerima, maka penerima akan memberi tanggapan atau umpan balik. Umpan balik yang disampaikan kepada orang yang semula menjadi sumber pesan, menempatkan orang yang semula pada posisi penerima pesan menjadi sumber pesan.

Oleh karena itu tujuan komunikasi menurut Effendy (2000) ada empat yaitu: 1) mengubah sikap, 2) mengubah opini pendapat atau pandangan, 3) mengubah perilaku dan 4) mengubah masyarakat.

Sering dijumpai dalam suatu organisasi terjadi salah pengertian antara satu anggota dengan anggota lainnya atau antara atasan dengan bawahannya mengenai pesan yang mereka sampaikan dalam berkomunikasi. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal di antaranya berasal dari cara orang memproses pesan yang mereka kirim atau diterima dan faktor-faktor personal ikut memberikan kontribusi pada distrosi pesan. Ketepatan komunikasi menunjukkan pada kemampuan orang untuk memproduksi pesan dengan tepat. Ketepatan memproduksi pesan digunakan untuk menguraikan tingkat persesuaian arti pesan yang dimaksudkan oleh si pengirim

(21)

dengan arti yang diinterpretasikan oleh si penerima. Perbedaan atau kekurangtepatan di antara yang dimaksud oleh si pengirim dengan interpretasi si penerima dinamakan distrosi. Perbedaan arti atau distorsi pesan dapat merupakan hal yang kritis dalam organisasi (Muhammad, 2000). Sejalan pendapat di atas, Sears et al., (1999) bahwa komunikasi semakin akan menemukan kesulitan apabila semakin besar kesenjangan pesan. Kesenjangan pesan dalam hal ini adalah perbedaan antara pendapat komunikan dengan pendapat yang dianjurkan oleh komunikator.

Demikian juga dikatakan oleh DeVito (1997) bahwa komunikasi bisa macet atau menemui hambatan dalam proses dari pengiriman ke penerima dalam pesan- pesan verbal yang disebut distrosi kognitif yang dapat muncul dalam komunikasi antarpesona, kelompok kecil atau pembicaraan di muka umum. Hambatan-hambatan tersebut antara lain: 1) polarisasi yaitu kecenderungan untuk melihat dunia dalam bentuk lawan kata dan menguraikannya dalam bentuk ekstrim (baik atau buruk) padahal kebanyakan orang berada di tengah-tengah keadaan ekstrim tersebut, 2) orientasi intensional yaitu kecenderungan melihat manusia, objek dan kejadian sesuai dengan ciri (label) yang melekat pada diri mereka misalnya menilai seseorang sebagai orang yang ‘tidak menarik’ secara intensional menilainya ‘tidak menarik’ sebelum mendengar apa yang dikatakannya, 3) implikasi pragmatis adalah kesimpulan yang mungkin ada tetapi belum tentu benar. Dengan kata lain, pernyataan yang timbul dibuat berdasarkan bukan hanya kepada apa yang dilihat melainkan pada apa yang disimpulkan, 4) bypassing adalah pola kesalahan evaluasi dimana orang gagal mengkomunikasikan makna yang mereka maksudkan. Pola salah menurut Haney dalam DeVito (1997) mendefinisikan sebagai pola salah komunikasi yang terjadi bila pengirim pesan dan penerima saling menyalahartikan makna pesan mereka, 5) kesemuaan (allness) yaitu suatu pernyataan yang mengandung kata ‘selalu’ dan ‘tidak pernah.’ Padahal sesungguhnya orang tidak bisa mengetahui semua hal atau mengatakan tahu segalanya tentang sesuatu, 6) evaluasi statis yaitu suatu pernyataan perumusan verbal tentang suatu kejadian atau seseorang yang bersifat statis dan tidak berubah. Padahal disadari bahwa objek atau seseorang yang kita bicarakan bisa saja berubah dan (7) indiskriminasi yang terjadi bila kita memusatkan perhatian pada kelompok orang, benda atau kejadian dan tidak mampu melihat bahwa masing-masing bersifat unik dan perlu diamati secara individual.

(22)

Hambatan komunikasi dapat terjadi karena adanya perbedaan kerangka acuan (frame of reference) dan bidang pengalaman antara komunikator dan komunikan. Akibatnya kedua orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut berbeda dalam penafsiran makna pesan (Tubbs dan Moss, 2000).

Berdasarkan uraian di atas, komunikasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengiriman pesan oleh satu orang atau lebih sebagai sumber kepada penerima atau suatu pertukaran informasi melalui saluran untuk mencapai kesamaan makna pesan yang dapat terdistorsi oleh gangguan (noise) baik secara fisik maupun secara psikis. Di dalam penelitian ini faktor-faktor yang diduga menimbulkan kendala di

dalam berkomunikasi mencakup: 1) perbedaan persepsi antara partisipan, 2) penggunaan kata-kata atau bahasa, 3) gangguan pada saluran komunikasi, 4) kredibilitas sumber, 5) perbedaan status, 6) menyimak selektif dan 7) perbedaan kerangka acuan.

Teknologi Introduksi

Salah satu konsep proses perubahan sosial adalah adanya penemuan baru yang dikomunikasikan kepada pihak lain kemudian diadopsi oleh masyarakat atau sistem sosial. Menurut Rogers dan Shoemaker (1995) bahwa inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Menurut Harper (1989) inovasi ada tiga yaitu: a) variasi yang merupakan modifikasi bentuk sesuatu yang telah ada, b) substitusi adalah dimana ide atau bahan baru digunakan untuk mengganti yang lama dan c) mutasi adalah kombinasi dan reorganisasi elemen- elemen yang telah ada atau lama dengan yang baru. Penyebaran inovasi baru ke dalam suatu sistem sosial disebut difusi. Menurut Rogers (2003) menyebutkan bahwa faktor yang berhubungan dengan proses difusi adalah: a) adanya inovasi, b) adanya komunikasi, c) adanya sistem sosial dan d) adanya kesenjangan waktu.

Adams (1988) menyatakan an innovation is an idea or object perceived as new by an individual. Kotler (2003) mengartikan inovasi sebagai barang, jasa dan ide yang dianggap baru oleh seseorang. Sedangkan van den Ban dan Hawkins (1999) menyatakan an innovation is an idea, method or object which is regarded as new by individual but which is not always the result of recent research. Dari beberapa definisi yang disebutkan, inovasi mempunyai tiga komponen yaitu: a) ide atau

(23)

gagasan, b) metode atau praktek dan c) produk (barang dan jasa). Untuk dapat disebut inovasi, ketiga komponen tersebut harus mempunyai sifat “baru.” Sifat “baru” tersebut tidak selalu berasal dari penelitian mutakhir. Hasil penelitian yang telah lalu pun dapat disebut inovasi apabila diintroduksikan kepada masyarakat tani yang belum pernah mengenal sebelumnya. Jadi, sifat “baru” pada suatu inovasi harus dilihat dari sudut pandang masyarakat tani (calon adopter), bukan kapan inovasi tersebut dihasilkan. Pada tataran pemahaman yang lebih operasional, inovasi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian dapat berwujud teknologi, kelembagaan dan kebijakan.

Ukuran dari kebaruan suatu inovasi adalah bersifat subjektif menurut pandangan individu sehingga diterima atau ditolaknya suatu inovasi merupakan suatu proses mental sejak ia mengetahui sampai dengan keputusan yang diambil untuk menolak atau menerima inovasi tadi. Inovasi menurut Rogers (2003) mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1) Keuntungan relatif (relative advantage) yaitu ketika suatu inovasi lebih menguntungkan dibandingkan dengan yang lama.

2) Kesesuaian (compatibility) yaitu ketika suatu inovasi masih tetap konsisten dengan nilai-nilai budaya yang ada.

3) Kerumitan (complexity) yaitu ketika suatu inovasi mempunyai sifat-sifat yang rumit sulit dipahami dan diikuti.

4) Keujicobaan (trialability) yaitu ketika suatu inovasi dapat diuji-coba dengan mudah sesuai situasi dan kondisi setempat.

5) Kekasatmataan (observability) yaitu ketika suatu inovasi segera dapat dilihat atau kasat mata dan dirasakan hasilnya.

Adopsi Teknologi Introduksi

Rogers dan Shoemaker (1995) mendefinisikan adopsi inovasi sebagai suatu proses pengambilan keputusan seperti the mental process of an innovation to a decision to adopt or to reject and to confirmation of this decision. Selanjutnya Mardikanto (1993) mengartikan adopsi sebagai proses perubahan perilaku baik berupa pengetahuan, sikap maupun keterampilan pada diri seseorang yang telah menerima inovasi yang disampaikan dari penyuluh. Mengikuti definisi yang

(24)

diberikan Rogers dan Shoemaker (1995), maka ada beberapa elemen penting yang perlu diperhatikan dalam proses adopsi yaitu: (1) adanya sikap mental dan (2) adanya konfirmasi dari keputusan yang diambil.

Proses adopsi inovasi mengandung pengertian yang kompleks dan dinamis karena menyangkut proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi banyak faktor. Soekartawi (1988) menjelaskan tentang proses pengambilan keputusan untuk melakukan adopsi inovasi dalam suatu sistem sosial dibutuhkan jangka waktu tertentu. Dimensi waktu terlihat pada proses pengambilan keputusan, kecepatan adopsi inovasi dalam sistem sosial dan keinovatifan individu terhadap inovasi. Lionberger (1968) menyebutkan faktor yang mempengaruhi difusi inovasi adalah: (a) faktor sosial, (b) faktor status, (c) faktor budaya, (d) faktor personal dan (e) faktor situasional, sedangkan faktor yang mempengaruhi kecepatan adopsi adalah: umur, tingkat pendidikan, pendapatan, ukuran luas, sumber informasi yang digunakan. Slamet (1987) menyebutkan lima hal yang mempengaruhi kecepatan adopsi yaitu: (a) sifat inovasi, (b) jenis keputusan inovasi, (c) saluran komunikasi yang digunakan, (d) ciri-ciri sistem sosial, (e) kegiatan promosi yang dilakukan oleh agen pembaharu.

Proses penyebaran teknologi introduksi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan adopsi. Proses adopsi terjadi pada orang secara individual sedangkan proses difusi terjadi di masyarakat. Harper (1989) menyatakan bahwa untuk mengembangkan inovasi supaya berhasil diadopsi dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: (a) kemudahan untuk dikomunikasikan (communication ability), (b) kesiapan adopter atau unit sosial untuk menerima resiko (perceived risk) dari inovasi yang diadopsi dan (c) terjadi proses perembesan (pervasiveness). Lebih jauh Mosher (1981) mengemukakan bahwa suatu teknologi baru akan diterapkan tidak segera diterima oleh petani dan bahkan mungkin akan menolak sama sekali, sebab ada kesangsian atau sifat petani yang selalu waspada terhadap setiap metode baru.

Ada lima tahap dalam proses adopsi teknologi introduksi yaitu: (1) kesadaran, pada tahap ini petani untuk pertama kalinya belajar dan mengetahui tentang ide baru dimana tingkat pengetahuannya masih bersifat umum, (2) menaruh minat, petani mulai mengembangkan informasi yang diperoleh dalam menimbulkan dan mengembangkan minat untuk melakukan adopsi inovasi, (3) evaluasi, seseorang

(25)

yang telah mendapatkan informasi dan bukti yang telah dikumpulkan pada beberapa tahapan sebelumnya dalam menentukan apakah ide itu akan diadopsi atau tidak maka diperlukan evaluasi, (4) mencoba, petani dihadapkan pada suatu kondisi dimana harus menuangkan pikirannya untuk kemudian dituangkan dalam praktek, (5) adopsi, pada tahapan ini petani telah memutuskan bahwa ide baru yang dipelajari cukup baik untuk diterapkan (Soekartawi dan Anwar, 1987).

Untuk pembangunan pertanian atau Agribisnis Industrial Pedesaan akan berhasil dengan baik bila adanya persamaan persepsi petani dalam menerapkan teknologi introduksi yang digulirkan dalam program Prima Tani. Dengan adanya persepsi petani yang benar diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai teknologi introduksi yang dianjurkan dalam program Prima Tani serta dapat menerapkannya di dalam usahataninya. Penerapan teknologi introduksi yang benar ini pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas hasil pertanian atau Agribisnis Industrial Pedesaan.

Mosher (1981) menyebutkan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan pertanian atau Agribisnis Industrial Pedesaan untuk meningkatkan produksi hasil usahatani adalah:

1. Seseorang di suatu tempat yang mau membeli hasil-hasil usahatani perlu ada suatu permintaan (demand) untuk hasil-hasil ini. Permintaan yang dimaksud Mosher ini ada dua macam yaitu: permintaan pasaran yang kuat terhadap hasil-hasil pertanian di dalam negeri itu sendiri (local demand) dan jika suatu negara sangat cocok untuk menghasilkan suatu tanaman yang banyak diminta oleh pasaran internasional (international demand).

2. Seseorang yang penyalur di dalam penjualan hasil-hasil usahatani suatu sistem tataniaga (marketing system). Hal-hal yang membentuk sistem tataniaga yang efisien, dengan adanya fungsi-fungsi yang dijalankan oleh sistem tataniaga yaitu: pengangkutan (transporting), penyimpanan (storage), pengolahan (processing), perkembangan fasilitas pengangkutan, pergudangan, pengolahan dan memperluas pasaran untuk hasil usahatani.

3. Kepercayaan para petani pada kelancaran sistem tataniaga itu. Walaupun ada orang yang bersedia menjadi pembeli (permintaan pasar) dan ada orang yang bersedia menjadi penyalur (sistem tataniaga). Keduanya tidak memberikan

(26)

sumbangan penuh kepada pembangunan pertanian, apabila para petani tidak menaruh kepercayaan terhadap sistem tataniaga itu. Ada syarat-syarat yang tercakup di dalam meningkatkan kepercayaan petani terhadap sistem tataniaga yaitu: (a) kesadaran dan pengertian petani tentang pentingnya jasa yang diberikan pedagang dan bahwa tiap jasa tersebut memerlukan biaya yang bisa dibenarkan, (b) lancar-tidaknya sistem tataniaga itu di masa lampau dan (c) derajat fluktuasi harga hasil pertanian dan kemungkinan meramalkan harga-harga tersebut jauh sebelumnya sehingga petani bisa tepat menyusun rencana produksinya.

Mosher (1981) menambahkan bahwa meningkatnya produksi pertanian adalah akibat dari pemakaian teknologi pertanian atau metode-metode baru oleh petani di dalam usahataninya. Teknologi pertanian berarti cara-cara bertani yang sesuai dengan yang dianjurkan. Di samping diakibatkan oleh teknologi pertanian, diperlukan juga bahan dan alat produksi secara lokal. Kebanyakan metode baru yang dapat meningkatkan produksi pertanian memerlukan bahan-bahan dan alat-alat produksi yang khusus dipakai oleh para petani. Di antaranya termasuk bibit, pupuk, obat pemberantas hama, makanan dan obat ternak dan perkakas. Dengan demikian, pembangunan pertanian atau Agribisnis Industrial Pedesaan dapat dilakukan dengan melihat aspek biofisik seperti penerapan teknologi dalam sistem usahatani terpadu berdasarkan karakteristik agroekosistem terutama jenis komoditas pertanian unggulan, potensi pasar yang menyangkut daya jual dan daya tampung, kondisi sosial dan ekonomi di sekitar lingkungan petani. Sedangkan dalam aspek ekonomi, penerapan teknologi introduksi dengan melakukan pembinaan petani dalam kerjasama kelompok untuk menerapkan pola usahatani yang berorientasi pasar dan keuntungan serta dalam aspek sosial melihat lingkungan fisik, psikologis petani dan keterpaduan antara seluruh subsistem yang terkait dalam sistem bisnis pertanian atau Agribisnis Industrial Pedesaan.

Teknologi Introduksi Agribisnis Industrial Pedesaan

Pelaksanaan Prima Tani pada intinya adalah membangun suatu model percontohan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) yang selanjutnya dapat berperan sebagai “laboratorium agribisnis”. Di dalam laboratorium agribisnis dikembangkan interaksi langsung antara kegiatan Penelitian-Penyuluhan-Agribisnis-Pelayanan

(27)

Pendukung. Di dalam laboratorium tersebut para peneliti, penyuluh, praktisi agribisnis dan pengelola lembaga pelayanan pendukung agribisnis dapat saling berinteraksi langsung dalam mengembangkan dan mewujudkan AIP di lokasi Prima Tani. Ada tiga upaya pokok yang dikembangkan melalui pembentukan model AIP yaitu: pertama, merajut ulang hubungan sinergis Penelitian-Penyuluhan yang cenderung semakin melemah bahkan putus di beberapa wilayah akibat belum mantapnya pelaksanaan otonomi daerah. Kedua, merajut hubungan sinergis Badan Litbang Pertanian dengan petani dan praktisi agribisnis secara umum, secara tidak langsung melalui perantara penyuluh lapang dan lembaga pelayanan maupun secara langsung melalui kolaborasi dalam pembangunan dan pengembangan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP). Ketiga, merajut hubungan sinergis antara seluruh elemen lembaga agribisnis dan lembaga pendukungnya dalam suatu bingkai kelembagaan AIP yang terkait secara langsung dan tidak langsung dengan kegiatan produksi pertanian hingga pemasaran pertanian kepada konsumen. Melalui pendekatan kelembagaan AIP diharapkan dapat diwujudkan usaha pertanian yang berorientasi pasar, bernilai tambah tinggi, berdaya saing tinggi dan menghasilkan pembagian nilai tambah secara proporsional di antara pelaku usaha agribisnis. Maka model AIP yang dikembangkan melalui Prima Tani pada dasarnya merupakan perpaduan dari dua sistem yaitu sistem inovasi pertanian dan sistem agribisnis. Ada tiga fungsi utama dari elemen lembaga yaitu: 1) membantu pengguna agribisnis dalam mengatasi masalah teknis dan manajemen usaha, 2) menyediakan informasi yang berkaitan dengan teknologi siap guna, pasar komoditas dan permodalan, 3) sebagai umpan balik bagi pengembangan teknologi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan pengguna teknologi (Irawan, 2004).

Kegiatan Prima Tani terdiri atas dua bagian besar yaitu ‘inovasi teknologi’ dan ‘inovasi kelembagaan’. Sebagaimana dengan aspek teknologi, maka aspek kelembagaan harus secara eksplisit diungkapkan dan dikaji dalam seluruh tahap. Secara berurutan, permasalahan kelembagaan dalam Prima Tani dimulai dari penggalian saat melakukan studi pendasaran (baseline survey), PRA dan penyusunan rancang bangun (roadmap) laboratorium agribisnis serta implementasi di lapangan. Intensitas perhatian kepada permasalahan kelembagaan dapat lebih besar dibandingkan dengan teknologi, karena kondisi sosial ekonomi dan budaya

(28)

masyarakat yang sangat variatif dan spesifik. Untuk itu, maka harus dipahami oleh seluruh pihak yang terlibat dalam Prima Tani tentang apa itu kelembagaan, bagaimana metodologi untuk memasukkan aspek kelembagaan dalam perencanaan, bagaimana mengkaji sebuah kelembagaan, bagaimana metodologi mengembangkan kelembagaan, serta bagaimana pula menyusun indikator dan variabel untuk mengukur bahwa kelembagaan telah berjalan dengan baik.

Sedangkan untuk penentuan komoditas dan teknologi yang diintroduksikan kepada petani dalam usahataninya, maka disesuaikan dengan kondisi biofisik, sosial, ekonomi, budaya dan kebutuhan pengguna di lingkungan setempat. Kesesuaian inovasi teknologi dikembangkan dalam suatu usahatani terpadu yaitu integrasi antara komoditas pertanian dengan peternakan yang dapat digunakan untuk peningkatan usahataninya. Penentuan komoditas dan teknologi dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:

1. inventarisasi komoditas eksisting berdasarkan potensi, masalah dan kendala teknis (on farm dan off farm) dan kelembagaan melalui metoda PRA.

2. Survai tanah dan air.

3. Survei pendasaran (baseline survey).

4. Pertemuan perencanaan partisipatif dengan melibatkan peneliti (BPTP, Puslit, Balit), penyuluh, penyuluh lapang, Pemda, Dinas/ instansi terkait, petani, KTNA dan unsur pendukung kelembagaan agribisnis (Irawan, 2004).

Dalam kegiatan Prima Tani ini, kelembagaan di tingkat lapang disebut dengan “Laboratorium Agribisnis” atau disebut dengan “Kelembagaan Agribisnis Industrial Pedesaan” (AIP). Kelembagaan di tingkat ini membutuhkan perhatian yang lebih mendalam dibandingkan kelembagaan di atasnya, sebagaimana telah disebutkan di atas. Lembaga-lembaga yang dapat berada dalam sebuah kelembagaan AIP adalah lembaga-lembaga ekonomi pedesaan yang terlibat langsung dalam Prima Tani, di antaranya adalah: kelompok tani, koperasi, klinik agribisnis, kelompok arisan warga, kelompok simpan pinjam, kelompok pengguna air irigasi (P3A), kelompok pengolah hasil dan lain-lain. Jadi dimaksud dengan “kelembagaan AIP” adalah sejumlah lembaga-lembaga yang lebih kecil dan otonom, saling terkait satu sama lain secara fungsional, menggerakkan sistem agribisnis di lokasi Prima Tani.

(29)

Implementasi Model Agribisnis Industrial Pedesaan

Model AIP diimplementasikan dengan pendekatan kawasan dan pendekatan agroekosistem. Pendekatan kawasan yang dimaksud melalui wilayah administrasi desa sedangkan pendekatan agroekosistem meliputi tujuh agroekosistem yaitu: 1) sawah intesif, 2) sawah semi intensif, 3) lahan kering dataran rendah iklim basah, 4) lahan dataran rendah iklim kering, 5) lahan dataran tinggi iklim basah, 6) lahan dataran tinggi iklim kering dan 7) lahan rawa pasang surut.

Berdasarkan kondisi lokasi sasaran terdapat dua pola implementasi model AIP yaitu: pola introduksi dan pola lanjutan atau pola renovasi. Secara operasional perbedaan antara kedua pola tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pola introduksi merupakan implementasi model AIP yang dilaksanakan di daerah agroekosistem dimana komoditas dominan yang diusahakan petani di daerah tersebut belum tersentuh program pengembangan yang dilaksanakan oleh Departemen Pertanian dan institusi lainnya misalnya kimbun, Proksimantap dan sebagainya.

2. Pola lanjutan atau pola renovasi merupakan implementasi model AIP yang dilaksanakan di daerah agroekosistem dimana komoditas dominan yang diusahakan petani di daerah tersebut sudah melaksanakan program pengembangan yang diprakarsai oleh Departemen Pertanian dan institusi lainnya. Dengan demikian, implementasi model AIP di daerah tersebut hanya merupakan lanjutan dari program pengembangan yang sudah dilaksanakan sebelumnya (Irawan, 2004).

Karakteristik Kelembagaan Agribisnis Industrial Pedesaan

Pengembangan agribisnis diarahkan untuk melakukan proses transformasi struktur agribisnis dari pola dispersal menjadi pola industrial. Dalam agribisnis pola industrial, setiap perusahaan agribisnis tidak lagi berdiri sendiri atau bergabung dalam asosiasi horizontal. Setiap perusahaan memadukan diri dengan perusahaan-perusahaan lain yang bergerak dalam seluruh bidang usaha yang ada pada satu alur produk vertikal (dari hulu hingga hilir) dalam satu kelompok usaha yang selanjutnya disebut sebagai unit Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP). AIP merupakan model inovasi agribisnis yang digunakan dalam Prima Tani, dimana keluaran akhir Prima

(30)

Tani adalah terbentuknya unit Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) dan Sistem Usahatani Intensifikasi dan Diversifikasi (SUID). AIP dan SUID merupakan representasi industri pertanian dan usahatani berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi di suatu kawasan pengembangan. Pada kawasan dimaksud tercermin pengembangan agribisnis lengkap dan padu padan antarsubsistem yang berbasis agroekosistem dan mempunyai kandungan teknologi dan kelembagaan lokal yang diperlukan (Tim Teknis Pusat Prima Tani, 2007).

Di lokasi dengan AIP yang sudah matang akan terlihat di antaranya:

1. Sebagian besar produk yang dihasilkan memenuhi kebutuhan mutu termasuk konsistensinya dan dalam jumlah cukup.

2. Sebagian besar petani mengadopsi teknologi yang diimplementasikan. 3. Munculnya petani-petani progresif sebagai agen pembaharuan pertanian. 4. Sebagian besar petani menikmati nilai tambah secara proporsional.

5. Sebagian besar petani berkembang usahanya yang dapat dilihat dari kemampuan memupuk modal untuk pembiayaan operasional, tabungan dan investasi.

6. Sebagian besar petani mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah fluktuasi harga hasil usahataninya.

7. Hasil pertanian mempunyai daya saing tinggi di pasar lokal maupun internasional. Setidaknya ada tiga ciri AIP yang sudah matang yaitu:

1. Lengkap secara fungsional. Seluruh fungsi yang diperlukan dalam menghasilkan, mengolah, dan memasarkan produk pertanian hingga ke konsumen akhir (alur produk vertikal) dapat dipenuhi.

2. Satu kesatuan tindak. Seluruh komponen atau anggota melaksanakan fungsinya secara harmonis dan dalam satu kesatuan tindak.

3. Ikatan langsung secara institusional. Hubungan di antara seluruh komponen atau anggota terjalin langsung melalui ikatan institusional (nonpasar).

Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) berusaha untuk menumbuhkan dua aspek pokok yaitu:

1. Menumbuhkan seluruh elemen lembaga agribisnis di antaranya berupa kelembagaan produksi pertanian, kelembagaan penyediaan sarana produksi, jasa

(31)

alsintan, jasa penyuluhan, pelayanan informasi, dan pelayanan permodalan, dan lain-lain.

2. Menumbuhkan keterkaitan fungsional yang harmonis dan keterkaitan institusional yang saling menguntungkan di antara pelaku agribisnis, terutama antara petani dan pelaku agribisnis lainnya.

Untuk mewujudkan kelembagaan AIP yang operasional maka dibutuhkan serangkaian kegiatan penumbuhan kelembagaan secara efektif dan efisien untuk seluruh elemen serta penumbuhan keterkaitan fungsional dan institusional yang harmonis di antara elemen tersebut. Dalam tulisan ini dikemukakan aspek-aspek yang berkaitan dengan penumbuhan kelembagaan tersebut. Informasi yang dikemukakan bersifat dinamis, dalam arti dapat disempurnakan sesuai dengan kondisi setempat.

Elemen dalam Kelembagaan AIP

Gambar 3 memperlihatkan elemen kelembagaan AIP yang akan dikembangkan melalui pelaksanaan Prima Tani. Seluruh elemen lembaga tersebut saling terkait satu sama lain dan membentuk satu unit AIP di setiap lokasi Prima Tani.

Gambar 3 Jaringan Kelembagaan Agribisnis Industrial Pedesaan Kelembagaan penyedia input usahatani Kelembagaan penyedia permodalan Lembaga penyedia tenaga kerja Kelembagaan penyedia air irigasi

Kelembagaan usahatani Kelembagaan pengolahan hasil pertanian Kelembagaan pemasaran hasil pertanian

(32)

Penumbuhan Keterkaitan Antar Elemen dalam Kelembagaan AIP

Keterkaitan antar elemen AIP di lapangan perlu ditumbuhkan melalui upaya khusus. Paling tidak ada tiga aspek yang dibutuhkan, yaitu:

1. Penumbuhan keterkaitan fungsional antar elemen kelembagaan AIP.

Setiap elemen kelembagaan AIP tidak hanya harus berfungsi, namun antar elemen harus memiliki keterkaitan hubungan fungsional. Sebagai gambaran, di suatu tempat bisa ditumbuhkan lembaga permodalan dan penyuluhan. Jika kedua lembaga tadi tidak berfungsi mendukung lembaga produksi, maka dapat dikatakan bahwa keduanya tidak memiliki keterkaitan fungsional. Setelah semua elemen kelembagaan AIP berhasil ditumbuhkan, seluruh elemen tersebut harus memiliki keterkaitan fungsional. Penumbuhan elemen lembaga pengolahan, pemasaran dan permodalan yang terkait fungsional dengan lembaga produksi, bisa dipandang sebagai kunci dibangunnya keterkaitan fungsional antar elemen.

2. Penumbuhan keterkaitan institusional antar elemen kelembagaan AIP. Tumbuh dan terbentuknya keterkaitan fungsional antarelemen kelembagaan AIP dinilai belum mencukupi, karena masing-masing elemen bisa jadi hanya berorientasi untuk memenuhi kepentingannya sendiri. Jika hal ini terjadi, maka keterkaitan fungsional antarelemen diperkirakan akan rentan terhadap dinamika pasar dan aksi sepihak satu atau lebih elemen kelembagaan AIP yang kontra produktif. Oleh sebab itu, keterkaitan fungsional antar kelembagaan AIP harus ditempatkan dalam bingkai hubungan keterkaitan institusional. Dalam kaitan ini, keterkaitan antar elemen kelembagaan AIP harus tercermin dalam hubungan sharing system yang adil berdasar kesepakatan bersama.

3. Pembuatan aturan main bersama antar elemen kelembagaan AIP.

Aturan main berfungsi sebagai panduan bersama antar elemen kelembagaan AIP ataupun panduan intern antar anggota dalam satu elemen kelembagaan AIP. Dalam aturan main dirumuskan juga sanksi jika ada pelanggaran terhadap panduan yang telah disepakati bersama, termasuk di dalamnya hak dan kewajiban masing-masing elemen dan juga masing-masing-masing-masing anggota dalam satu elemen. Mengingat aturan main adalah panduan bersama, maka harus dibuat bersama oleh semua anggota dalam satu elemen kelembagaan AIP. Aturan main antar elemen kelembagaan AIP dibuat oleh perwakilan dari masing-masing elemen AIP dengan

(33)

melibatkan aparat BPTP, pemda, pakar lokal dan tokoh masyarakat. Aturan main tidak bisa dibuat sekali jadi, tapi membutuhkan proses modifikasi dari waktu ke waktu. Hal ini perlu dilakukan agar aturan main memiliki kesesuaian dengan perkembangan mental anggota yang terlibat dalam elemen AIP, perubahan iklim usaha, kebijakan pemda, dan aspek sosio-ekonomi-budaya yang belum diperhitungkan sebelumnya. Aturan main yang perlu dibuat secara khusus adalah yang menyangkut (1) pembagian resiko, (2) penentuan harga, (3) sistem pembayaran, (4) cara transaksi, (5) sistem pemilikan usaha dan (6) cara memperoleh modal dan penentuan harga modal. Aturan main dibuat agar permasalahan antar anggota atau antar elemen kelembagaan AIP bisa diselesaikan secara kelembagaan (Tim Teknis Pusat Prima Tani, 2007).

Oleh karena itu, peningkatan persepsi oleh petani dalam program Prima Tani diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan menerapkan teknologi introduksi AIP dalam usahataninya. Akibat penerapan teknologi introduksi dalam usahataninya diharapkan mampu meningkatkan hasil produktivitas hasil pertanian yang dilihat dalam aspek biofisik, sosial dan ekonomi yang membantu peningkatan kesejahteraan petani.

Gambar

Gambar 2.  Model Komunikasi Linier (Berlo, 1960)
Gambar 3 memperlihatkan elemen kelembagaan AIP yang akan  dikembangkan melalui pelaksanaan Prima Tani

Referensi

Dokumen terkait

Memimpin dan melaksanakan urusan umum dan administrasi Kepegawaian, sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku sebagai acuan dalam pelaksanaan

Dalam portofolio kita investasi pada lebih dari satu jenis saham dengan nilai investasi yang berbeda, yang menjadi masalah sekarang adalah berapa besarnya return portofolio

Ada atau tidaknya interaksi antar genotipe atau genotipe-genotipe tanaman dengan kisaran variasi lingkungan spasial yang luas, ataupun dengan variasi lingkungan pada

Manfaat penelitan ini bagi mahasiswa adalah melatih kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh departemen Teknik Industri FT-USU dalam menghasilkan para

Perusahaan Bisnis Tunggal Tingkat Korporasi / Bisnis Strategi Produksi Operasi / Litbang Strategi Keuangan / Akunting Strategi Pemasaran Strategi Hubungan Karyawan.

Fungsi dari karang taruna adalah sebagai SDM untuk mengajari masyarakat dalam pengelolaan sampah dan juga sebagai sumber daya manusia tambahan dalam menjalankan

Primipara atau melahirkan anak pertama saat usia >35 tahun juga lebih banyak memiliki resiko gangguan emosional, hal ini disebabkan karena ibu usia >35

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi disminore yaitu dengan melakukan kompres hangat, yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman, mengurangi