5 GAMBARAN UMUM
5.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian 5.1.1 Kondisi Geografis
Desa Dayah Tanoh secara administratif terletak di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Jarak desa dengan kecamatan sejauh tiga kilometer, dengan kabupaten 15 kilometer dan dengan ibukota provinsi sekitar 112 kilometer. Untuk mencapai Desa Dayah Tanoh dari pusat kota kabupaten dapat ditempuh dengan menggunakan kenderaan pribadi dan tidak ada angkutan umum untuk menunju desa ini.
Secara geografis Desa Dayah Tanoh berbatasan dengan beberapa wilayah:Sebelah Utara dengan Mesjid Jeurat Manyang, Sebelah Selatan dengan Jiem, Sebelah Timur dengan Sagoe Jeurat Manyang, dan Sebelah Barat dengan Beureueh II. Desa ini memiliki luas sekitar 100 hektar dengan topografi dataran rendah. Suhu rata-rata 30 derajat celcius, dengan curah hujan 1250 mm per tahun.
5.1.2 Karakteristik Demografi
Mengacu pada data kependudukan dari buku profil desa tahun 2011, total penduduk 579 jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki 272 jiwa dan penduduk perempuan 307 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk 5.79 jiwa/km2. Adapun jumlah rumahtangga adalah 129 kepala keluarga. Seluruh masyarakat menganut agama Islam.
Menurut penjelasan Bapak MYH (kepala desa), tingkat pendidikan masyarakat Desa Dayah Tanoh pada umumnya adalah sampai jenjang SLTP. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan masih relatif rendah, hal ini tidak dapat dipisahkan dari rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat sehingga anak-anak usia sekolah lebih tertarik untuk bekerja daripada bersekolah. Ditinjau dari aspek gender, akses laki-laki dan perempuan terhadap pendidikan relatif seimbang karena masyarakat dinilai sudah cukup menyadari pentingnya pendidikan. Keterbatasan akses terhadap pendidikan biasanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi.
Dalam hal mata pencaharian, mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian (80 persen), angka ini didominasi oleh katagori buruhtani atau penggarap. Sedangkan sisanya bekerja sebagai wiraswasta (jualan kios, jualan kue) dan pegawai negeri sipil. Proporsi gender pada sektor pertanian cenderung didominasi oleh perempuan, karena para janda yang ada di desa tersebut umumnya juga bekerja sebagai petani penggarap. 5.1.3 Alokasi Lahan dan Aktivitas Pertanian
Berdasarkan data profil desa tahun 2011 luas keseluruhan Desa Dayah Tanoh 100 ha, dengan peruntukan bangunan rumah/ pekarangan 72 ha, persawahan 21 ha dan sisanya lahan kering 7 ha.
Pertanian utama adalah padi yang dikelola oleh masyarakat sendiri. Aktivitas pertanian dikerjakan bersama-sama antara perempuan dan laki-laki. Aktivitas
perempuan biasanya dimulai dari menyemai benih, menanam, membersihkan rumput dan pengangkutan padi ketika panen, sedangkan aktivitas yang dilakukan oleh laki-laki adalah mengolah tanah, menyemprot hama dan memanen.
Sistem persawahan yang diterapkan oleh masyarakat adalah sistem irigasi. Sebagian besar masyarakat yang bekerja di sektor pertanian, statusnya adalah buruhtani atau penggarap. Pemilik lahan sebagian bertempat tinggal di Desa Dayah Tanoh dan sebagian lagi bertempat tinggal di desa tetangga. Adapun sistem pertanian yang diterapkan adalah bagi hasil antara pemilik lahan dan penggarap dengan perbandingan sebesar 75 persen: 25 persen. Pemilik lahan mendapat sepertiga bagian dari hasil panen dan dua pertiga bagian untuk penggarap. Penggarap lebih banyak karena penggarap berkewajiban menyediakan semua yang berkaitan dengan sarana produksi pertanian. Jika terjadi gagal panen maka resiko yang ditanggung lebih banyak oleh penggarap. Hal ini dikarenakan semua biaya produksi ditanggung oleh penggarap.
Umumnya, hasil pertanian sebagian dijual dan sebagian lagi disimpan untuk konsumsi. Sebagian besar hasil panen berupa padi dijual ke Koperasi Unit Desa yang ada di Desa Dayah Tanoh dan sebagian kecil dijual kepada pengecer.
Meskipun laki-laki dan perempuan terlibat dalam kegiatan pertanian, namun terdapat perbedaan upah antara buruh laki-laki dan buruh perempuan. Buruh laki-laki mendapat upah Rp30 000 per hari ditambah kopi dan rokok, sedangkan buruh perempuan hanya mendapat Rp20 000 per hari ditambah kopi. Perbedaan ini terjadi karenaada pandangan atau stereotipe bahwa laki-laki memiliki tenaga yang lebih besar dan kuat dibandingkan dengan buruh perempuan. Pandangan lain yang memarginalkan buruh perempuan adalah bahwa pekerjaan laki-laki dinilai lebih berat dibandingkan dengan perempuan serta peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama dan perempuan sebagai pencari nafkah tambahan.
5.1.4 Sarana dan Prasarana
Desa Dayah Tanoh memiliki beberapa sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan formal dan informal. Sarana pendidikan formal yang ada di Desa Dayah Tanoh terdiri dari satu buah Taman Kanak-Kanak yang dikelola oleh ibu-ibu PKK dan satu buah Sekolah Dasar milik Pemerintah. Desa Dayah Tanoh tidak memiliki sarana pendidikan formal keagamaan. Desa Dayah Tanoh juga menyelenggarakan pendidikan non formal seperti pengajian untuk anak-anak yang dikelola oleh remaja putri Desa Dayah Tanoh.
Dalam menunjang kegiatan keagamaan di Desa Dayah Tanoh terdapat dua buah surau (meunasah). Meunasah tersebut digunakan oleh masyarakat untuk ibadah shalat lima waktu, pengajian anak-anak dan rapat. Di Desa Dayah Tanoh tidak terdapat mesjid, sehingga warga harus melaksanakan shalat jumat di mesjid yang terletak di desa tetangga.
Kebutuhan air bersih bagi semua masyarakat adalah sumur galian. Bagi masyarakat yang tidak memiliki sumur atau sarana MCK (Mandi Cuci Kakus) sendiri biasa menggunakan sumur umum yang dibangun atas bantuan pemerintah yang terletak di meunasah.
Desa Dayah Tanoh tidak memiliki sarana olah raga apapun. Jika ada masyarakat terutama pemuda yang ingin berolah raga atau main sepak bola harus menggunakan lapangan yang ada di desa tetangga. Hal ini dikarenakan, kegiatan olah raga bukanlah salah satu kebutuhan masyarakat sehingga masyarakat tidak terlalu memikirkan untuk menyediakan lahan sebagai sarana olah raga.
Kondisi jalan utama sudah cukup baik, di mana jalan-jalan yang menghubungkan desa dengan kecamatan atau dengan kota Sigli sudah beraspal. Sebagian besar jalan sudah diaspal tetapi masih ada jalan-jalan desa (lorong)yang belum beraspal. Menurut informasi dari kepala desa belum ada dana dari pemerintah untuk melakukann pengaspalan jalan tersebut. Alat transportasi yang umum digunakan masyarakat adalah sepeda, ojek, mobil, motor, truk barang, serta mobil
pick-up. Sementara alat transportasi umum yang sering digunakan hanya ojek, tidak
ada angkutan kota.
Akses masyarakat terhadap sarana komunikasi biasa diperoleh melalui televisi, radio, surat kabar dan telepon genggam. Perkembangan zaman juga menunjukkan bahwa masyarakat desa telah mengalami kemajuan pada sistem komunikasinya, di mana hampir setiap rumah tangga telah memiliki telepon genggam minimal satu unit. Namun tidak terdapat layanan komunikasi umum seperti telepon umum dan warung internet.
Di Desa Dayah Tanoh tidak tersedia sarana dan prasarana kesehatan seperti puskesmas pembantu atau balai pengobatan lainnya, namun terdapat seorang bidan desa yang merupakan penduduk asli desa dan membuka layanan kesehatan bagi masyarakat di rumahnya sendiri. Jika masyarakat ingin berobat harus pergi ke puskesmas pembantu yang ada di kecamatan atau rumah sakit umum di ibukota kabupaten.
Dalam menjalankan aktivitas pemerintahan, Desa Dayah Tanoh memiliki ruangan yang terletak di samping meunasah yang digunakan untuk kegiatan PKK. Sedangkan pelayanan bagi masyarakat biasanya dilakukan di rumah kepala desa atau sekretaris desa.
5.1.5 Kelembagaan Desa
Kelembagaan di pedesaan dapat terbagi ke dalam dua kelompok yaitu lembaga formal dan kelembagaan lokal yang bersifat informal. Kelembagaan formal yang terdapat di Desa Dayah Tanoh adalah Pemerintahan Desa, BPD (Badan Perencanaan Desa), LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), Tuha Peut (kelompok orang yang dituakan di desa), PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) dan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu).
Berdasarkan hasil wawancara dengan aparat desa, tidak semua lembaga tersebut aktif. Lembaga yang aktif adalah Pemerintahan Desa, Tuha Peut, PKK dan Posyandu. PKK dan Posyandu dikelola oleh ibu-ibu dan bidan desa yang bertugas. Sedangkan LPM dan BPD tidak berjalan dengan aktif meskipun memiliki struktur kepengurusan yang jelas serta anggaran kegiatan. Pada bidang ekonomi, lembaga formal yang berjalan hanyalah kelompok simpan pinjam PEKKA ini. Desa Dayah Tanoh tidak memiliki Koperasi Unit Desa (KUD) maupun Lumbung Desa (Bumdes).
Akses masyarakat Desa Dayah Tanoh terhadap kelembagaan lokal dapat dikatakan timpang dari segi gender, khususnya akses dalam kepengurusan. Struktur kepengurusan pemerintahan desa, LPM, BPD dan Tuha Peut hampir semuanya didominasi oleh laki-laki, perempuan tidak dilibatkan. Keterlibatan kaum perempuan sangat dominan dalam kelembagaan formal dapat dilihat pada struktur kepengurusan PKK, Posyandu dan kelompok simpan pinjam PEKKA.Desa Dayah Tanoh memiliki beberapa kelembagaan lokal yaitu kelompok pengajian ibu-ibu dan kelompok pengajian anak-anak.
Kelembagaan gotong royong di Desa Dayah Tanoh masih cukup baik. Rasa kekeluargaan dan kebersamaan warga masih cukup tinggi. Misalnya dalam pembangunan sarana umum yang umumnya melibatkan partisipasi warga, baik laki-laki maupun perempuan, meskipun tugas perempuan hanya sebagai penyedia makanan dan minuman untuk laki-laki. Contoh lain adalah jika ada salah satu warga menderita sakit, warga lain yang memiliki sumberdaya yang dibutuhkan dengan suka rela membantu, begitu juga jika ada salah satu warga mengadakan pesta perkawinan atau kematian maka warga yang lain akan membantu dengan suka rela.
5.2 Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) 5.2.1 Pelaksanaan PEKKA Nasional
Program PEKKA ini digagas berdasarkan pengalaman program penanggulangan kemiskinan masyarakat desa melalui penguatan institusi-institusi lokal, bernama Program Pengembangan Kecamatan (PPK), yang dijalankan oleh pemerintah. Melalui refleksi dan evaluasi program, disadari bahwa skema program ini masih belum mampu menjangkau kelompok termiskin di wilayah-wilayah tertentu, terutama rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan dan lebih khusus lagi keluarga janda. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala baik yang sifatnya teknis seperti kurangnya penguasaan terhadap metode pengorganisasian rakyat khususnya perempuan maupun kendala struktural yaitu rendahnya posisi perempuan kepala keluarga dalam struktur sosial masyarakat.
Program ini difokuskan pada perempuan yang menjadi kepala keluarga rumah tangga miskin dan merupakan salah satu upaya untuk memfasilitasi mereka agar memiliki akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan kebijakan yang ada di wilayahnya, mempunyai status dan posisi setara dengan anggota masyarakat lain, serta dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan di wilayahnya.
Berdasarkan laporan tahunan sekretariat nasional PEKKA (2010), PEKKA mulai digagas pada akhir tahun 2000 dari rencana awal Komnas Perempuan yang ingin mendokumentasikan kehidupan janda di wilayah konflikdan keinginan Bank Dunia melalui Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dalam merespons permintaan janda korban konflik di Aceh untuk memperoleh akses sumberdaya agar dapat mengatasi persoalan ekonomi dan trauma mereka.
Semula upayaini diberi nama “Widows Project” yang sepenuhnya didukung dana hibah dari Japan Social Development Fund (JSDF) melalui Trust Fund Bank Dunia. Komnas Perempuan kemudian bekerjasama dengan Pusat Pengembangan
Sumberdaya Wanita (PPSW) membentuk Seknas PEKKA untuk mengembangkan gagasan awal ini. Melalui proses refleksi dan diskusi intensif dengan berbagai pihak, kedua gagasan ini kemudian diintegrasikan ke dalam sebuah upaya pemberdayaan yang lebih komprehensif.
Untuk itu “Widows Project”atau “ Proyek untuk Janda” diubah tema dan judulnya menjadi lebih provokatif dan ideologis, yaitu dengan menempatkan janda lebih pada kedudukan, peran, dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Selain itu, upaya ini diharapkan mampu membuat perubahan sosial dengan mengangkat martabat janda dalam masyarakat yang selama ini terlanjur mempunyai stereotype negatif. Judul Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga kemudian ditetapkan dan disepakati untuk menamai inisiatif baru ini. Selanjutnya kata PEKKA juga dipergunakan untuk menyebut secara singkat Perempuan Kepala Keluarga.
Dari sebuah pilot proyek yang berkembang dalam kerangka program pembangunan, akhirnya PEKKA mampu menjadi sebuah gerakan kelompok perempuan miskin melawan kemiskinan dan ketidakadilan. Hal ini terlihat dari karakteristik PEKKA dalam perjalanannya yang berbasis sangat kuat di masyarakat, menjadi organisasi yang organik, mempunyai agenda politik yang kuat yaitu pengakuan fakta maupun hukum atas status perempuan kepala keluarga dengan dimensi perubahan sosial yang kuat, serta mempunyai potensi kesinambungan pergerakan jangka panjang dengan impact yang lebih luas.
PEKKA bertujuan untuk memahami persoalan perempuan kepala keluarga yang komprehensif, sehingga program ini menerapkan strategi pengorganisasian masyarakat atau community organizing (CO) dengan menyoal ketidakadilan gender dan kelas yang ada dalam masyarakat. Untuk mendukung strategi tersebut maka ada lima prinsip dasar program yang diterapkan dalam pelaksanaan PEKKA yaitu partisipatif, fleksibel, pendampingan dan fasilitasi, berkelanjutan, dan terdesentralisasi. Melihat dari strategi yang diterapkan, maka PEKKA ini merupakan salah satu contoh konsep pembangunan yang bersifat buttom-up planning. Konsep
buttom-up planning merupakan sebuah konsep pembangunan yang mengedepankan
masyarakat sebagai pemeran utama dalam proses pembangunan pada setiap tahap, tercakup di dalamnya proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan.
Namun demikian, sebagai sebuah gerakan PEKKA menghadapi empat tantangan yaitu kemandirian, kesinambungan, keterbukaan, dan keterlibatan yang sebetulnya sudah dirintis sejak program ini dilaksanakan. Untuk menjawab tantangan yang telah diuraikan diatas, maka sejak tahun 2008 upaya pemberdayaan di unit terbawah dalam masyarakat telah dilakukan secara intensif. Pendidikan kritis dan peningkatan kapasitas masyarakat miskin telah dilakukan secara terstruktur dan terus menerus melalui Program Pengembangan Pusat Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Kepemimpinan Perempuan di tingkat desa dan kecamatan. Sentra kegiatan ini diberi nama PRIME (Perempuan Indonesia Memimpin).
Seknas PEKKA mendampingi perempuan miskin yang melaksanakan peran dan tanggung jawab sebagai pencari nafkah, pengelola rumah tangga, dan pengambil keputusan dalam keluarga yang mencakup:
1) Perempuan yang ditinggal/dicerai hidup 2) Perempuan yang suaminya meninggal dunia
3) Perempuan yang membujang atau tidak menikah
4) Perempuan bersuami, tetapi oleh karena suatu hal, suaminya tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai kepala keluarga
5) Perempuan bersuami, tetapi tidak mendapatkan nafkah lahir dan batin karena suaminya bepergian lebih dari satu tahun.
Seknas PEKKA mempunyai visi untuk pemberdayaan perempuan kepala keluarga dalam rangka ikut berkontribusi membangun tatanan masyarakat yang sejahtera, adil gender, dan bermartabat. Untuk mewujudkan visi tersebut, Seknas PEKKA mengemban misi untuk:
1) Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan Perempuan Kepala Keluarga 2) Membuka akses perempuan kepala keluarga terhadap berbagai sumberdaya
3) Membangun kesadaran kritis Perempuan Kepala Keluarga baik terhadap kesetaraan peran, posisi, dan status mereka, maupun terhadap kehidupan sosial politiknya.
4) Meningkatkan partisipasi perempuan kepala keluarga dalam berbagai proses kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya
5) Meningkatkan kontrol perempuan terhadap proses pengambilan keputusan mulai di tingkat rumah tangga hingga negara.
Untuk mencapai cita-cita ini Seknas PEKKA mengembangkan strategi empat pilar pemberdayaan, yaitu:
1) Membangun visi; pada dasarnya membangun kesadaran kritis PEKKA terhadap hak sebagai manusia, perempuan dan warga negara, menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki kehidupan, dan pada akhirnya memfasilitasi mereka untuk membangun visi dan misi kehidupan. Visi dan Misi menjadi landasan utama PEKKA untuk bergerak selanjutnya.
2) Peningkatan kemampuan; meningkatkan kapasitas PEKKA untuk mengatasi berbagai persoalan kehidupan melalui pendampingan intensif, berbagai pelatihan dan lokakarya terkait dengan membangun kepercayaan diri, meningkatkan keterampilan teknis dan manajerial. Melatih dan mengembangkan pemimpin dan fasilitator masyarakat dari kalangan PEKKA.
3) Pengembangan organisasi dan jaringan; melalui penumbuhan, pengembangan dan penguatan kelompok berbasis di masyarakat yang diberi nama Kelompok Perempuan Kepala Keluarga (Kelompok PEKKA) di seluruh wilayah program. Kelompok-kelompok ini kemudian difasilitasi untuk mengembangkan organisasinya menjadi Serikat PEKKA yang mandiri dan berjaringan mulai dari tingkat kecamatan hingga nasional, serta berjaringan dengan lembaga lain yang dapat mendukung kerja-kerja mereka.
4) Advokasi untuk perubahan; Fokus pada akses terhadap informasi, sumberdaya kehidupan dan pengambilan keputusan serta akses terhadap keadilan hukum. Perubahan tata nilai negatif terhadap perempuan dan perempuan kepala keluarga melalui kampanye dan pendidikan pada masyarakat luas.
Strategi Seknas PEKKA di operasionalkan ke dalam program-program yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan, kondisi dan sumberdaya yang tersedia.
a. Pemberdayaan Ekonomi
1. Pengembangan sumberdaya keuangan bersama PEKKA melalui kegiatan simpan pinjam dengan sistem koperasi.
2. Peningkatan sumber pendapatan keluarga PEKKA melalui pengembangan usaha individu dan usaha bersama.
b. Pendidikan Sepanjang Hayat
1. Pemberantasan buta huruf dan angka bagi keluarga PEKKA melalui kelas keaksaraan fungsional dan akses program Penyetaraan Pendidikan.
2. Akses pendidikan yang murah dan berkualitas termasuk akses beasiswa bagi anak-anak PEKKA yang putus sekolah 9 tahun.
3. Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini, Mengorganisir Kelas Belajar anak-anak PEKKA.
c. Pemberdayaan Hukum
1. Kegiatan penyadaran tentang hak dan perlindungan hukum bagi PEKKA 2. Melatih kader PEKKA menjadi Kader Hukum agar mampu mendampingi
akses proses hukum yang adil bagi PEKKA dan keluarganya dalam penyelesaian kasus kekerasan dalam rumah tangga.
3. Advokasi reformasi hukum dan proses hukum yang adil gender. d. Pemberdayaan Politik
6) Penyadaran kritis akan hak politik PEKKA.
7) Mengorganisir PEKKA untuk terlibat dan mengawasi proses pengambilan keputusan di berbagai tingkatan dan terlibat dalam proses politik di berbagai tingkatan.
e. Hak Kesehatan Sepanjang Masa
1. Gerakan hidup sehat dan berkualitas melalui kegiatan penyadaran kritis akan hak dan kesehatan khususnya kesehatan reproduksi.
2. Mengembangkan kader-kader kesehatan dari kalangan PEKKA agar dapat mengorganisir akses pelayanan kesehatan yang murah dan berkualitas.
3. Advokasi kebijakan terkait hak pelayanan kesehatan yang mudah, murah dan berkualitas bagi masyarakat miskin.
f. Media Komunitas
1. Sistem pendukung kegiatan pengorganisasian PEKKA dan memperjuangkan hak akses teknologi informasi bagi masyarakat miskin.
2. Melatih dan mengembangkan kader-kader pengelola dan pengembang media rakyat termasuk radio komunitas, video komunitas, fotografi, dan penulisan. 3. Mengembangkan penggunaan media komunitas untuk kegiatan pendidikan
bagi rakyat, kampanye perubahan sosial, dan advokasi kebijakan.
Rintisan tahap awal program ini dilaksanakan sebagai pilot proyek di Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Timur pada tahun 2000. Kemudian diperluas ke Maluku Utara dan Nusa Tenggara Barat. Pemilihan lokasi berdasarkan pertimbangan keberadaan jumlah perempuan kepala keluarga dan karakteristik wilayah, misal: angka migrasi laki-laki tinggi, konflik sumberdaya alam, dan konflik sosial budaya lokal. Saat ini, PEKKA dianggap
telah mampu memberikan alternatif pendekatan pengorganisasian basis yang efektif sehingga telah dapat dikembangkan hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Selama pelaksanaan program jumlah penerima manfaat PEKKA terus mengalami peningkatan dengan pertambahannya bervariasi di setiap wilayah dampingan yang ada. Penambahan kelompok terkait dengan semakin bertambah luasnya wilayah dampingan. Di beberapa wilayah terjadi perubahan jumlah anggota. Ada penambahan anggota baru, tetapi ada juga kelompok yang anggota berkurang akibat meninggal, pindah ke lokasi lain, menikah dan keluar dari program. Wilayah kerja PEKKA dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Jumlah anggota PEKKA nasional per Maret 2012 No Propinsi Kabupaten/ Kota Kecamatan Desa/ Kelurahan Nama kelompok Jumlah anggota 1 Aceh 9 31 140 154 3579 2 Jawa Barat 4 10 42 87 1385 3 Jawa Tengah 3 6 23 46 766 4 Kalimantan Barat 3 7 23 48 583
5 Nusa Tenggara Barat 2 7 32 67 1444
6 Nusa Tenggara Timur 1 8 51 95 1453
7 Sulawesi Tenggara 1 13 44 53 714 8 Maluku Utara 1 6 31 35 477 9 Sumatera Selatan 1 5 17 20 403 10 Sumatra Utara 1 4 14 40 556 11 Jawa Timur 2 7 10 34 477 12 Sulawesi Utara 1 3 10 14 189 13 Sulawesi Selatan 1 3 4 12 187 14 Bali 3 3 3 3 88 15 DI Yogyakarta 1 3 6 14 284 16 Banten 1 3 8 12 168 17 Kalimantan Selatan 1 3 11 12 148 18 Sumatra Barat 1 1 7 17 260 19 Jakarta 1 3 2 3 26 Total 38 126 478 766 13187
Sumber: Seknas PEKKA, Juni 2012
5.2.2 Pelaksanaan PEKKA di Aceh
Program PEKKA di Aceh dimulai awal tahun 2002, merupakan salah satu wilayah pilot proyek program ini. Pada awalnya, perkembangan PEKKA di Aceh tidak sesuai dengan rencana dan menghadapi banyak rintangan. Berdasarkan hasil evaluasi PEKKA tahun 2001-2004, target pembentukan 10 kelompok di setiap kecamatan tidak berhasil dan hanya Kecamatan Mutiara Timur yang berhasil mencapainya. Hal ini bukan berarti jumlah PEKKA yang potensial untuk menjadi
kelompok terbatas atau tidak ada upaya dari PL melakukan usaha untuk mencapainya, tetapi karena lebih banyak terbentur situasi keamanan yang harus diakui tetap merupakan faktor kunci.
Pendampingan yang sempat tidak berjalan maksimal saat adanya Darurat Militer, dan ternyata tidak juga menjadi lebih mudah setelah adanya Darurat Sipil. Bahkan tingkat keamanan di beberapa desa dampingan sangat rawan. Sebagai gambaran di kecamatan Idi Rayeuk sebenarnya sudah terbentuk sembilan kelompok, namun satu kelompok akhirnya terpaksa menghentikan kegiatannya, karena kelompok tersebut dianggap oleh pihak yang bertikai sebagai bentukan pihak yang menjadi lawannya. Akibatnya keselamatan mereka yang terlibat dalam kelompok baik PL, kader yang mendampingi maupun masyarakat yang menjadi anggota menjadi terancam.
Pada akhir tahun 2004 telah ada 55 kelompok PEKKA di 53 Desa di 8 Kecamatan, dan lima Kabupaten di Aceh dengan anggota mencapai 1264 rumah tangga dengan lebih dari 6 000 anggota penerima manfaat program. Namun, Pada tanggai 26 Desember 2004, provinsi Aceh dilanda gempa dan tsumani yang menghancurkan sebagian wilayah tersebut, lebih dari 300.000 orang meninggal dan hilang. Ada tiga Kabupaten wilayah PEKKA yang terkena dampak langsung tsunami, yaitu Kabupaten Aceh Timur (Kecamatan Idi Rayeuk), Kabupaten Bireun (Kecamatan Jeunib, Pelimbangan dan Samalanga) serta Kabupaten Pidie (Mutiara Timur dan Kembang Tanjong). Sedangkan wilayah Kabupaten Aceh Selatan dan Aceh Besar tidak langsung terkena tsunami, namun ada di antara mereka yang menjadi korban karena mencari nafkah di Banda Aceh.
Dalam musibah gempa dan tsunami tersebut, 15 orang anggota PEKKA meninggal dan satu orang tidak diketahui nasibnya atau dinyatakan hilang. Lebih dari seratus anggota kehilangan rumah dan tempat usahanya, serta ratusan anggota rumahnya mengalami rusak berat. Sebagian besar mengalami kesulitan ekonomi karena efek domino musibah ini. Sebagian mereka juga mengalami kehilangan anggota keluarga besarnya, serta didera perasaan takut akan musibah susulan.
Pasca musibah gempa dan tsunami, anggota PEKKA menghadapi berbagai masalah seperti kehilangan rumah tinggal, kerusakan berat rumah tinggal, kehilangan sumber pendapatan (warung, perahu, lahan garam, hewan peliharaan), berkurangnya pendapatan dan menurunnya daya beli, kehilangan anggota keluarga, trauma dan perasaan tidak aman, kesedihan yang mendalam, kebingungan dalam kesendirian, ketidakpastian kehidupan selanjutnya, proses belajar mengajar yang terganggu bahkan tidak dapat diselenggarakan bagi anak-anak sekolah serta kesehatan dan gizi buruk. Hal tersebut mengakibatkan banyak bantuan tanggap darurat yang datang dari berbagai pihak guna meringankan beban mereka.
Namun demikian, Seknas PEKKA pada saat itu telah mengidentifikasi potensi masalah yang akan muncul selanjutnya dalam jangka lebih panjang. Dari sekian banyak potensi masalah tersebut, Seknas PEKKA mengidentifikasi beberapa hal yang khusus dihadapi oleh ibu-ibu Pekka antara lain:
1) Penumbuhan kembali kegiatan ekonomi produktif yang menjadi sumber penghidupan keluarga PEKKA
2) Pengadaan kebutuhan perumahan yang memadai bagi anggota PEKKA yang kehilangan rumah tinggal.
3) Akses pendidikan bagi anak-anak yang berada di tempat pengungsian, yang kehilangan orang tua dan sumbar pembiayaan, dalam berbagai tingkatan, mulai dari SD hingga SMA.
4) Penanganan trauma, kesedihan dan rasa kesendirian, dan mengatasi perasaan takut. Berdasarkan analisa kondisi yang telah diuraikan di atas, maka Seknas PEKKA mengajukan usulan program ke JSDF guna mengembangkan strategi yang berkelanjutan dalam pengembangan PEKKA pasca bencana tsunami di Aceh. Persetujuan JSDF untuk mendanai upaya ini kemudian mengharuskan Seknas mengembangkan secara khusus PEKKA di Aceh dengan pendekatan yang khusus pula. Namun, hingga sekarang perkembangan PEKKA di Aceh sudah kembali normal dan tidak mengalami hambatan-hambatan yang berarti terutama hambatan keamanan karena tidak ada lagi konflik di Aceh.
Wilayah kerja PEKKA di Aceh sampai akhir Maret 2012 mencapai 140 desa di 31 kecamatan di 9 kabupaten yaitu; Aceh Besar, Pidie, Bireun, Aceh Timur, Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil, yang terbagi dalam 140 desa, 154 kelompok dengan total jumlah anggota sebanyak 3579 jiwa. 5.2.3 Kegiatan- Kegiatan PEKKA Aceh
1) Pemberdayaan Ekonomi
Perkembangan simpan pinjam memang sangat terkait dengan kondisi ekonomi yang ada. Perubahan kondisi ekonomi berdampak pada simpanan kelompok. Ada saat simpanan berlangsung lancar, tetapi saat kondisi ekonomi mereka menurun, simpanan tidak selancar biasanya. Pada awalnya, secara umum kegiatan simpanan kelompok berjalan cukup lancar dan cenderung meningkat. Demikian juga perputaran pinjaman di beberapa kelompok menunjukkan tingkat yang menggembirakan. Nilai pinjaman yang berputar relatif lebih besar dari dana yang terkumpul. Artinya, dana simpanan yang ada benar-benar digunakan oleh anggota kelompok. Memang bagi mereka kelompok telah menjadi wadah tempat meminjam, karena sebagai perempuan kepala keluarga sering tidak mudah untuk mendapat pinjaman.
Namun, perkembangan kegiatan simpan pinjam di beberapa daerah di Aceh terutama di Pantai Barat Aceh sekarang mulai menurun. Motivasi anggota untuk menyimpan dananya di kelompok belum terbangun, sebagian besar anggota lebih memanfaatkan kelompok sebagai tempat meminjam dan belum memfungsikannya sebagai tempat aman untuk menyimpan dananya pada saat tertentu kemudian mengambilnya pada saat butuh. Padahal mereka umumnya setiap bulan hanya menabung simpanan pokok dan wajib yang tidak bisa diambil selama masih menjadi anggota kelompok. Rendahnya motivasi anggota untuk menabung bertambah parah setelah gelombang lembaga donor berdatangan ke Aceh pasca bencana tsunami. Banyak lembaga donor menawarkan pinjaman atau dana untuk pengembangan usaha tanpa harus menyimpan terlebih dahulu.
Berdasarkan Laporan PRIME PEKKA per Juni 2012, kelompok-kelompok PEKKA Aceh telah mampu menggalang dana simpanan Rp430 268 300; dana pinjaman Rp4 864 491 900; dana angsuran Rp2 845 964 425; dan dana sisa Rp2 018
527 475. Dana simpanan telah diputar dengan meminjamkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan anggota. Sementara dana jasa pinjaman Rp209 920 980.
2) Pemberdayaan Hukum untuk Keadilan
Kegiatan PEKKA di bidang hukum untuk keadilan masih mengurusi kasus-kasus yang dialami oleh ank-anak dan perempuan, seperti kasus-kasus pencabulan dan KDRT di pantai Barat Aceh. PLdan kader PEKKA cukup stress dan tertekan menghadapi berbagai persolan tersebut. Terutama saat diminta polisi untuk mendampingi anak „down sindrome‟ yang menjadi korban pemerkosaan. Di samping mengurusi berbagai kasus hukum, PEKKA juga selalu mensosialisasikan dan memberikan materi tentang hukum kepada anggotanya terutama pada anggota kelompok yang rawan terhadap tindakan hukum.
3) Pendidikan Politik
Kursus politik sudah berjalan di 12 desa di Aceh Timur, Aceh Barat Daya dan Nagan Raya. Namun waktu pelaksanaan kursus di tiga wilayah tersebut berbeda-beda. Misalnya di Aceh Timur, menurut kesepakatan kursus dilaksanakan sebulan sekali, namun jika ibu-ibu sedang sibuk kesawah untuk tanam atau panen serta musim kenduri, maka waktu kursus diundur ke bulan berikutnya. Faktor ini menyebabkan peserta kursus belum juga selesai. Sementara di Nagan Raya, kursus politik sempat dihentikan menjelang pemilukada lalu. PLdan kader PEKKA khawatir dengan meningkatnya suhu politik di Aceh.
Aspek positif dari membangun kesadaran kritis melalui pendidikan politik di PEKKA adalah munculnya keberanian kader PEKKA untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif di tingkat Kabupaten melalui beberapa partai politik. Meskipun belum ada kader PEKKA yang lolos dalam pemilu lalu, namun tawaran dari beberapa partai politik terhadap mereka menunjukkan bahwa PEKKA merupakan kelompok masyarakat yang sudah diperhitungkan.
4) Pendidikan Sepanjang Hayat
Kegiatan tambahan penyelenggaraan PEKKA adalah pada bidang pendidikan, seperti penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hingga saat ini ada beberapa PAUD yang dikelola oleh kader PEKKA. Data tentang jumlah desa dan jumlah peserta kelompok belajar anak dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5 Jumlah desa dan peserta kelompok belajar anak tahun 2012
No Wilayah Jumlah desa Jumlah peserta (orang)
1. Aceh Jaya 3 90
2. Pidie 16 306
3. Aceh Timur 8 108
4. Aceh Besar 1 20
5. Aceh Barat Daya 4 185
6. Bireun 3 32
Total 35 741
Selain kegiatan PAUD, PEKKA Aceh juga menyelenggarakan kegiatan Keaksaraan Fungsional (KF) bagi masyarakat yang buta huruf. Peserta KF yang telah mengikuti kegiatan selama enam bulan atau sudah bisa baca tulis akan mendapatkan sertifikat dari Dinas Pendidikan. Sertifikat tersebut setara dengan paket A dan dapat dipergunakan untuk mengikuti kejar paket B. Hal ini tentu saja dapat mendorong ibu-ibu PEKKA dan masyarakat yang saat ini mengikuti kelas KF untuk lebih giat lagi belajar agar bisa baca, menulis dan berhitung. Selanjutnya mereka akan mengikuti ujian dalam rangka memperoleh sertifikat tersebut.
5.2.4 Pelaksanaan PEKKA di Desa Dayah Tanoh
Program PEKKA di Desa Dayah Tanoh dilakukan pada awal tahun 2002 hampir bersamaan dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Mutiara Timur. Kelompok PEKKA di desa ini diberi nama Kelompok Jeumpa, dan merupakan satu-satunya kelompok PEKKA yang ada di Desa Dayah Tanoh.
Tahap pertama dalam pembentukan kelompok adalah dilakukan kegiatan sosialisasi program oleh PL (saat itu dijabat oleh warga Desa Dayah Tanoh). Kegiatan sosialisasi bertujuan memberikan penjelasan maksud, tujuan, sasaran, pendekatan dan penerima manfaat program. Kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan individu, pertemuan formal dan informal. Sasaran sosialisasi adalah pihak pemerintah (camat, kepala desa), tokoh masyarakat (tuha peut, teungku imum), dan masyarakat umum dan calon penerima manfaat. Melalui proses ini PLingin melihat bagaimana respon dan dukungan dari berbagai pihak untuk melaksanakan tugasnya di lapangan. Namun pada awal pembentukan kelompok PEKKA Jeumpa mengalami banyak hambatan, sama halnya dengan daerah-daerah lain di Aceh, karena pada saat itu Aceh masih dalam kondisi konflik. Menurut wawancara dengan mantan PL:
“Pembentukan dan pendampingan kelompok di sini tidaklah mudah. Faktor keamanan menjadi penentu. Pada awalnya dikira PEKKA ini antek-antek RI yang mau saingi kelompok inong balee (janda korban DOM yang dibentuk oleh GAM) makanya sangat dicurigai terutama oleh pihak GAM. Untung saya orang desa ini, jadi agak mudah melakukan pendekatan dan memberikan keterangan tentang kegiatan PEKKA ini walaupun harus hati-hati juga, nyawa jadi taruhannya. Karena waktu itu salah ngomong sedikit besok bisa hilang kita. Saya juga berupaya bersikap netral kepada pihak-pihak yang bertikai.Namun demikian saya sempat diperiksa juga oleh pihak-pihak yang bertikai, karena disangka menjadi kaki tangan pihak lawan. (MD)”
Selain mendapat ancaman keamanan, sosialisasi program ini pada awalnya juga mengalami kendala yang berasal dari masyarakat sendiri misalnya banyak cemoohan dari pihak yang tidak menyukai program ini dan sering terjadi perbedaan pendapat dengan masyarakat yang bukan anggota.
“Pertama dibentuk banyak ejekan dari masyarakat lain yang bukan anggota, sering terjadi perbedaan pendapat antara anggota dengan
yang bukan anggota. Namun lama-lama dilihat dari perkembangan dan manfaat yang didapat dari adanya program ini mereka jadi berubah pikiran dan sekarang sangat mendukung program ini. (MD)”
Setelah sosialisasi, proses berikutnya adalah penumbuhan dan pengembangan kelompok perempuan kepala keluarga. Ini merupakan sarana untuk mengefektifkan dan mengefisienkan kegiatan pemberdayaan perempuan kepala keluarga. Ada berbagai strategi yang diterapkan PL dalam membentuk kelompok. Tahap awal PL mendatangi setiap perempuan kepala keluarga ke rumah-rumah, berkenalan dan berdialog secara non formal dengan mereka. PLkadang-kadang juga meminta bantuantokoh-tokoh perempuan dan/atau aparat desa dalam melakukan kunjungan. Melalui proses ini, PL membangun motivasi perempuan kepala keluarga untuk mau bekerja dalam kelompok bersama anggota lainnya. Setelah banyak yang termotivasi, PL kemudian mengundang pertemuan formal untuk pembentukan kelompok, menentukan nama, memilih pengurus, dan membuat kesepakatan kelompok.Hasilnya terbentuklah kelompok PEKKA Jeumpa dengan jumlah anggota awal 33 orang. Persyaratan untuk menjadi anggota antara lain janda, perempuan yang memiliki tanggungan, perempuan yang memiliki suami sakit-sakitan dan penduduk tetap.
“Yang tidak memiliki suami, bertanggung jawab terhadap keluarga
walaupun belum berkeluarga (menikah), memiliki suami yang sedang sakit-sakitan, bersedia aktif mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh pekka, harus orang yang menetap. (MD)”
Seiring berjalannya waktu, banyak manfaat yang dirasakan oleh anggota, sehingga dukungan terhadap program datang dari seluruh masyarakat. Namun, masih ada hambatan sering yakni situasi keamanan yang belum kondusif. Kondisi tidak aman menyebabkan PLsering tidak dapat mendampingi kelompoknya secara rutin. Kadang terpaksa pendampingan tertunda atau dihentikan sementara untuk alasan keamanan bagi PL dan juga masyarakat dampingan. Karenanya, pertemuan sering dilakukan di meunasah. Selain itu, kegiatan juga kadang dilakukan di Kantor Serikat PEKKA di Desa Jiem Kecamatan Mutiara Timur yang berjarak 15 km dari desa.Setelah konflik berkahir, sekarang pelaksanaan program PEKKA Desa Dayah Tanoh sudah normalseperti dengan wilayah-wilayah dampingan lainnya di seluruh Indonesia. Saat ini jumlah anggota telah mengalami pengurangan yaknisisa 22 orang karena ada anggota yang meninggal, pindah ke desa lain dan/atau mengundurkan diri. Kegiatan pendampingan meliputi kunjungan pada pertemuan rutin, kunjungan ke rumah anggota dan pengurus kelompok, pendampingan simpan pinjam kelompok, dan pendampingan pembukuan. Karena banyak anggota yang masih sungkan dan malu mengungkapkan pendapat di depan umum, kegiatan pendampingan sering dengan cara pertemuan personal melalui kunjungan ke rumah. Kegiatan tambahan lainnya lebih banyak yang berkaitan dengan keagamaan seperti pengajian wirid yasin, sholawat, dan lain-lain. Selain itu, kelompok Jeumpa juga membuat kegiatan tambahan seperti arisan, ketrampilan, baca tulis, belajar tanda tangan dan belajar buta huruf yang terbuka untuk ibu-ibu selain PEKKA.
5.2.5 Kegiatan-Kegiatan PEKKA di Desa Dayah Tanoh 1) Pemberdayaan Ekonomi
Kegiatan pemberdayaan ekonomi menjadi kegiatan pokok program pemberdayaan kepala keluarga di Desa Dayah Tanoh, karena persoalan ekonomi adalah masalah yang sangat mendasar yang dihadapi oleh semua perempuan kepala rumah tangga. Strategi pemberdayaan yang dilakukan adalah pengembangan sumberdaya keuangan melalui kegiatan simpan pinjam dari tingkat kelompok hingga LKM/koperasi, dan pengembangan usaha baik individu anggota atau pun pengembangan usaha bersama di berbagai tingkatan.
Tabel 6 Daftar simpan pinjam anggota kelompok, tahun 2012
No. Nama Anggota Simpanan (Rp) Total (Rp)
Pokok Wajib Sukarela
1. Jh 10 000 200 000 20 000 230 000 2. Kt 10 000 198 000 5 000 213 000 3. BR 10 000 180 000 10 000 200 000 4. Hf 10 000 184 000 10 000 204 000 5. AMD 10 000 180 000 8 000 198 000 6. Wd 10 000 190 000 6 000 206 000 7. Rh 10 000 180 000 20 000 210 000 8. CN 10 000 200 000 50 000 260 000 9. PA 10 000 180 000 16 000 206 000 10. Sy 10 000 200 000 50 000 260 000 11. By 10 000 150 000 8 000 168 000 12. NC 10 000 60 000 6 000 76 000 13. As 10 000 100 000 2 000 112 000 14. AA 10 000 70 000 5 000 85 000 15. AAb 10 000 160 000 8 000 178 000 16. Bg 10 000 86 000 5 000 101 000 17. PA 10 000 86 000 5 000 101 000 18. NT 10 000 140 000 300 000 450 000 19. Am 10 000 76 000 9 000 95 000 20. Sb 10 000 2 000 0 12 000 21. Nh 10 000 2 000 0 12 000 22. Hmm 10 000 130 000 6 000 146 000
Pada awalnya kegiatan simpan pinjam hanya di tingkat kelompok Jeumpa saja. Namun sekarang, secara bertahap kegiatan simpan pinjam berkembang menjadi gabungan simpan pinjam kelompok satu Kecamatan Mutiara Timur dalam bentuk Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan sudah berbadan hukum koperasi. Menurut bendahara kelompok, NT, simpanan pokok setiap anggota sebesar Rp10 000, simpanan wajib tiap bulan sebesar Rp2 000 dan simpanan sukarela tergantung kepada masing-masing anggota. Dana kelompok tersebut dapat dipinjam oleh setiap anggota
sebesar Rp100 000 atau lebih tergantung dari jumlah dana yang tersedia di kas kelompok dan tidak dikenakan bunga. Namun peminjaman di tingkat LKM Kecamatan setiap anggota dapat meminjam lebih dari Rp500 000 dengan bunga sebesar satu persen yang disetorkan ke kelompok.
“Simpanan wajib kelompok dua ribu perbulan, simpanan pokok sepuluh ribu sekali pembayaran. Simpanan wajib untuk tabungan kelompok agar mudah dalam peminjaman, kalo anggota keluar maka setiap simpanan dikembalikan kecuali jasa. Untuk kampong bisa meminjam seratus ribu atau lebih tergantung kas, untuk LKM bisa di atas lima ratus ribu. Bunganya untuk kelompok 1%. (NT)”
Tabel 7 Daftar pinjaman dana BLM kelompok Jeumpa Desa Dayah Tanoh No. Nama
anggota
Jenis usaha Jumlah pinjaman (Rp) Jumlah pengembalian (Rp) Sisa (Rp) 1. Jh Tidak usaha 1 000 000 1 000 000 0 2. Kt Tidak usaha 1 000 000 1 000 000 0 3. BR Jualan kue 1 000 000 500 000 500 000 4. Hf Usahatani 2 000 000 1 200 000 800 000 5. AMD Usahatani 3 000 000 1 000 000 2 000 000 6. Wd Tidak usaha 1 500 000 1 500 000 0 7. Rh Usahatani 1 500 000 1 300 000 200 000 8. CN Tidak usaha 0 0 0 9. PA Tidak usaha 0 0 0 10. Sy Jualan kue 500 000 300 000 200 000 11. By Jualan kue 1 500 000 800 000 700 000 12. NC Jualan kue 1 500 000 1 500 000 0 13. As Tidak usaha 0 0 0 14. AA Usahatani 1 500 000 1 500 000 0
15. AAb Jualan kue 500 000 500 000 0
16. Bg Usahatani 3 000 000 1 400 000 2 600 000 17. PA Jualan kue 400 000 250 000 150 000 18. NT Jualan kios 4 000 000 3 100 000 900 000 19. Am Usahatani 1 500 000 1 000 000 500 000 20. Sb Tidak usaha 0 0 0 21. Nh Tidak usaha 0 0 0 22. Hmm Usahatani 1 500 000 500 000 1 000 000
Dari semua jenis aktivitas, pengembangan simpan pinjam dipersepsikan memberikan kontribusi manfaat yang paling baik. Sebagian besar anggota menyatakan salah satu manfaat yang dirasakan adalah kemudahan untuk bisa mendapatkan pinjaman untuk berbagai keperluan baik yang terkait dengan pengembangan usaha (memulai atau meningkatkan usaha) atau kebutuhan non usaha
(sekolah anak, keluarga sakit, kebutuhan harian, perbaikan rumah, dan sebagainya). Nilai besaran pinjaman yang bisa diakses pada awalnya berkisar Rp400 000 hingga Rp5 000 000 disesuaikan dengan tingkat kebutuhan. Pengajuan pinjaman harus disertakan proposal dari jenis usaha yang ingin dijalankan. Pinjaman harus dikembalikan secara bertahap, untuk jenis usaha pertanian diberi batas waktu selama enam bulan disesuaikan dengan masa panen dan untuk jenis usaha lainnya selama setahun. Jika tidak dapat mengembalikan dalam batas waktu yang ditentukan maka dikenakan denda. Hasil wawancara dengan bendahara kelompok:
“..pembayarannya bergilir untuk kelompok lagi bukan modal mati, peminjamannya tergantung kebutuhan modal usaha yang harus dikembalikan,kalo petani 6 bulan masa pembayaran karena jadwal panen.Masa peminjamannya setahun tapi ada juga yang menunggak, kalo belum lunas tidak boleh melakukan peminjaman selanjutnya. Bunga peminjaman 2 persen, kalo SPP (simpan pinjam perempuan) tidak berkelompok. (NT)”
Masih menurut NT, sebagian besar anggota belum dapat melunasi pinjamannya. Kecilnya minat anggota untuk mengembalikan pinjamannya dikarenakan beberapa faktor antara lain adalah kegagalan usahataninya atau usahanya tidak berjalan lancar dan menguntungkan, adanya pinjaman lain yang memiliki bunga lebih besar sehingga mereka lebih mengutamakan untuk mengembalikannya, dan kurangnya kesadaran anggota akan manfaat simpan pinjam. Bagi anggota yang sudah mengembalikan pinjaman awal maka mereka bisa melakukan pinjaman selanjutnya.
“Banyak anggota yang belum mengembalikan pinjamannya, ada yang masih setengah ada yang sepertiga lagi. Agak susah karena banyak alasan kalau kita minta, ada yang bilang padi gak jadi, usaha kue gagal, dan lain-lain. Pengembalian berapa aja, ada seratus ribu juga boleh, yang penting disetor. Yang susah kalau sama orangtua, ditagih terus-terusan jadi gak enak, gak ditagih saya yang kena kalau ada rapat, jadinya susah. Padahal kalo yang lama dah lunas bisa pinjam lagi. (NT)”
2) Pendidikan
Bentuk aktivitas pendidikan adalah pemberian beasiswa, penyelenggaran KF dan PAUD. Kegiatan beasiswa diberikan kepada anak/cucu anggota PEKKA yang masih sekolah (SD dan SLTP) dan juga anak-anak lainnya di Desa Dayah Tanoh yang membutuhkan. Nilai beasiswa yang diberikan maksimal Rp300 000 per anak dalam bentuk barang seperti buku pelajaran, seragam, sepatu, dan alat tulis. Jumlah keseluruhan anak yang mendapat beasiswa adalah 25 orang terdiri dari 13 orang siswaSD dan 12 orang siswa SLTP. Saat ini, program beasiswa untuk telah berakhir.Untuk kegiatan KF, pesertanya terdiri dari anggota PEKKA dan juga masyarakat umum yang tertarik untuk mengikutinya. Seiring berjalannya waktu, intensitas dan jumlah anggota mulai berkurang. Saat ini jumlah peserta adalah aktif
tinggal 10 orang. Kegiatan PAUD dilakukan untuk menyediakan sarana pendidikan bagi anak usia dini yang terjangkau bagi masyarakat sekitar. Jumlah peserta PAUD Jeumpa sekarang 17 orang dengan usia dua tahun sampai lima tahun. Tenaga pengajarnya adalah anggota PEKKA. Modal awal penyelenggaraan PAUD berasal dari simpanan kelompok. Para murid tidak diwajibkan biaya pendidikan, namun ada kebijakan infak setiap hari sekolah Rp1 000 secara sukarela. Aktivitas PAUD dilakukan di meunasah dengan sumberdaya seadanya, belajar dengan menggunakan alas karpet dan tanpa meja. Sarana bermain hanya memiliki dua ayunan yang dibuat menggunakan kayu dan tali serta dua buah jungkat-jangkit.
3) Pemberdayaan Hukum
Tujuan kegiatan pemberdayaan hukum adalah untuk memberikan penyadaran tentang hak dan perlindungan hukum bagi PEKKA, melatih kader PEKKA menjadi kader hukum yang mampu mendampingi akses proses hukum yang adil bagi diri dan keluarganya dalam penyelesaian berbagai kasus kekerasan dalam rumah tangga, dan advokasi reformasi dan proses hukum yang adil gender. Di Desa Dayah Tanoh, kegiatan dilakukan melalui diskusi tentang berbagai persoalan hukum yang sering dialami dan terjadi di sekitar mereka. Kegiatan biasanya dilakukan bersamaan dengan pertemuan rutin kelompok sebulan sekali. Selain itu, beberapa anggota kelompok Jeumpa juga mengikuti kursus/kelas yang diadakan di PEKKA Center.
Dengan meningkatnya pemahaman dan kapasitas PLdan kader terkait dengan hukum, PEKKA juga berupaya memfasilitasi pelayanan hukum baik bagi anggotanya maupun masyarakat umum lainnya. Pelayanannya meliputi penyadaran hukum, memberikan informasi hukum, membantu memfasilitasi pemecahan persoalan hukum yang ada. Diantara kegiatan tersebut seperti memfasilitasi pengurusan akte kelahiran, KK dan KTP, memfasilitasi masyarakat untuk melakukan proses itsbat nikah dan gugat cerai. Serikat PEKKA bersama PL juga telah membantu memfasilitasi penyelesaian beberapa kasus KDRT yang terjadi di Desa Dayah Tanoh ini.
4) Pendidikan Politik
Tujuan pendidikan politik adalah untuk mendorong masyarakat menjadi kritis, paham tentang hak, fungsi, peran dan tanggung jawabnyasebagai warga negara, peduli dengan lingkungan, dan kontrol terhadap kerja para legislatif dan eksekutif. Untuk mencapai pemahaman tersebut, maka dilakukan upaya penyadaran politi kepada masyarakat sekitar melalui pertemuan rutin di kelompok, pelatihan dan dialog langsung dengan pemerintah dan anggota dewan. Kegiatan pendidikan politik yang pernah diikuti oleh anggota kelompok Jeumpa Desa Dayah Tanoh antara lain adalah: (1) pelatihan di tingkat kabupaten untuk para pengurus dan anggota kelompok PEKKA; (2) diskusi rutin untuk memahami politik; (3) kursus politik; (4) dialog dengan berbagai pemerintahan tingkat kecamatan sampai dengan kabupaten; (5) dialog dan hearing dengan anggota dewan di tingkat kabupaten/provinsi.
5) Pengembangan Media Komunitas
Pengembangan media komunitas bertujuan untuk mengembangkan sistem pendukung kegiatan pengorganisasian PEKKA dan memperjuangkan hak akses
teknologi informasi bagi masyarakat miskin. Untuk itu Seknas PEKKA telah melatih kader-kader pengelola dan pengembang media rakyat termasuk radio komunitas, video komunitas, fotografi dan penulisan, serta mengembangkan penggunaan media komunitas untuk kegiatan pendidikan bagi rakyat, kampanye perubahan sosial, dan advokasi kebijakan.
Tabel 8 Produksi video komunitas Kelompok Jeumpa tahun 2008-2011
No. Judul Video Sinopsis
1. Udeep di Lapak (Hidup di Lapak)
Kisah perseteruan para pedagang kaki lima dengan Satpol PP.
2. Kaween Loom Cerita tentang tradisi laki-laki di Bireuen yang „gemar‟ berpoligami.
(Kawin Lagi..)
3. Dialog Dengan PP
Sosialisasi PEKKA dengan PP, di mana Ibu Zahra selaku Kepala PP sangat senang dengan kehadiran PEKKA dan mengharapkan PEKKA dan PP bisa saling bekerja sama. 4. Dialog Dengan
Kapolres
Sosialisasi PEKKA dan tanya jawab tentang narkoba, KDRT, Qanun
5. Musrenbang Kegiatan Musrenbang di wilayah Bireuen yg berlangsung ricuh karena beberapa peserta yang tidak menyetujui hasil keputusan instansi.
6. Putus Sekolah Profil Sulaiman, Nuarani, dan Neung. Kisah tentang anak-anak putus sekolah karena ketiadaan biaya. Saat ini mereka bekerja sebagai buruh tani.
7. PAUD PEKKA „Cahaya‟
Aktivitas PAUD „Cahaya‟ dengan ragam kegiatannya, seperti Membaca, Menghitung, Menyanyi, dan Bahasa Arab
8. Keaksaraan Fungsional
Kisah tentang Bu Nurma, seorang tutor KF yang menggunakan sistem pengenalan bahan-bahan kue dalam proses belajar, agar ibu-ibu lebih cepat mengingat.
9. Kue PEKKA Praktek pembuatan kue kering dan kue basah di Center oleh klp Rahmat Mulia, dengan tutor Ibu Suryani.
10. Kunjungan ke Mahkamah Syariah
Dialog dengan Ketua, Wakil, hakim, dan Panitera. Ibu-ibu bertanya tentang Itsbat Nikah, Prodeo, dan Harta Warisan.
11. Dialog Sosial Sosialisasi PEKKA dan dialog dengan SKB, PKBM, dan Sekcam. Dinas Sosial meminta ibu-ibu untuk membuat proposal.
Sumber: Seknas PEKKA, Tahun 2012.
Di Desa Dayah Tanoh ada dua media yang dikembangkan yaitu video komunitas dan foto komunitas. Pembuatan video komunitas ini dibantu oleh tenaga-tenaga ahli yang telah dilatih oleh serikat PEKKA. Hingga tahun 2011, kelompok
Jeumpa telah memproduksi beberapa judul video (Tabel 8). Sementara kegiatan foto komunitas dilakukan untuk mendokumentasikan berbagai kegiatan PEKKA sekaligus penyeberan informasi kepada masyarakat luas berbagai kegiatan dalam program. Penanggungjawab utama kegiatan adalah sekretaris kelompok. Foto-foto yang diambil secara berkala juga dikirimkan ke Seknas PEKKA.
6) Kesehatan Perempuan
Program ini bertujuan mendorong kesadaran gerakan hidup sehat dan berkualitas melalui kegiatan penyadaran kritis akan hak dan kesehatan khususnya kesehatan reproduksi, mengembangkan kader-kader kesehatan dari kalangan PEKKA agar dapat mengorganisir akses pelayanan kesehatan yang murah dan berkualitas, dan advokasi kebijakan terkait hak pelayanan kesehatan yang mudah, murah dan berkualitas bagi masyarakat miskin. Aktivitas kegiatan ini meliputi kesehatan umum, kesehatan reproduksi dan kesehatan khusus manula. Biasanya materi diberikan oleh divisi kesehatan Serikat PEKKA dari propinsi. Pemateri terdiri dari dokter, bidan, dan juga kader posyandu. Selain topik diatas, diskusi juga membahas hak-hak kesehatan masyarakat seperti jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Selain di