• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Pendidikan Angka Melek Huruf (AMH)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Pendidikan Angka Melek Huruf (AMH)"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

71

IV.

GAMBARAN UMUM

4.1 Pendidikan

Faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu negara diantaranya adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Pendidikan merupakan salah satu jalan bagi peningkatan kualitas SDM tersebut. Oleh sebab itu pemerintah secara terus menerus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dimulai dengan pemberian kesempatan yang seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengenyam pendidikan terutama pada tingkat dasar hingga pada peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan. Upaya yang saat ini masih digalakkan diantaranya mengupayakan anggaran pendidikan sesuai dengan amanat amandemen Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31, agar program sekolah gratis minimal pada tingkat dasar di seluruh wilayah di Indonesia dapat terwujud sehingga tidak ada hambatan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tersebut.

Untuk mengukur keberhasilan dalam implementasi kebijakan bidang pendidikan diantaranya dapat diukur melalui tiga indikator, seperti angka melek huruf (literacy rate), angka partisipasi sekolah (school enrollment ratio) dan lama studi yang ditempuh (mean years of schooling). Ketiga indikator tersebut akan dipakai sebagai instrumen analisis untuk menilai sejauh mana keberhasilan atau kinerja implementasi kebijakan pembangunan pendidikan.

4.1.1 Angka Melek Huruf (AMH)

Menurut UNESCO (2009), melek huruf adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari rangkaian teks yang terdapat pada bahan-bahan cetak dan tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi. Kemampuan baca-tulis dianggap penting karena melibatkan pembelajaran berkelanjutan oleh seseorang sehingga orang tersebut dapat mencapai tujuannya, dimana hal ini berkaitan langsung dengan bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan, menggali potensinya, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat yang lebih luas.

(2)

Definisi singkat dari angka melek huruf adalah proporsi dari populasi orang dewasa berusia 15 tahun ke atas yang melek huruf, dan dinyatakan dalam satuan persentase (%). Melek huruf sering diukur melalui melek huruf anak (kelompok usia 15-24) khususnya terkait keberhasilan kebijakan pendidikan dalam hal cakupan sekolah dan pencapaian pendidikan; serta melalui melek huruf orang dewasa (kelompok usia 15 tahun ke atas) berfokus pada orang dewasa sebagai warga negara dan angkatan kerja produktif. Indikator ini dapat memberikan ukuran mengenai stok orang yang melek huruf dalam populasi orang dewasa yang mampu menggunakan kata-kata yang ditulis dalam kehidupan sehari-hari dan untuk terus belajar. Hal ini mencerminkan prestasi akumulasi pendidikan dalam menyebarkan melek huruf. Setiap kekurangan dalam melek huruf akan memberikan indikasi upaya yang diperlukan di masa depan untuk memperluas melek huruf pada populasi orang dewasa buta huruf yang tersisa.

Melek huruf sangat penting untuk mempromosikan dan mengkomunikasikan pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mengatasi masalah-masalah pembangunan. Melek huruf memfasilitasi pencapaian kesadaran lingkungan dan etika, nilai-nilai, dan keterampilan yang konsisten dengan pembangunan berkelanjutan dan partisipasi publik yang efektif dalam pengambilan keputusan. Melek huruf berhubungan erat dengan indikator yang mencerminkan kebutuhan dasar seperti pendidikan, pembangunan kapasitas, informasi dan komunikasi.

Berdasarkan data BPS, Gambar 4.1 memperlihatkan box plot angka melek huruf (AMH) penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia selama periode tahun 2006-2010. Box plot menggambarkan kelompok data numerik melalui lima ringkasan: pengamatan terkecil (minimum sampel), kuartil bawah (Q1), median (Q2), kuartil atas (Q3), dan observasi terbesar (maksimum sampel). Box plot juga bisa menunjukkan pengamatan yang dianggap outlier, jika ada. Jarak antara bagian yang berbeda dari box plot menunjukkan derajat dispersi (penyebaran).

Dari gambar tersebut, dapat dilihat bahwa rata-rata AMH KBI lebih tinggi dari KTI, serta sebaran di KBI lebih merata dibandingan KTI. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi AMH di KBI lebih baik dan lebih homogen antarprovinsi, dibandingkan wilayah KTI yang lebih heterogen. Hal ini dapat

(3)

dimungkinkan karena belum meratanya pembangunan sumberdaya manusia antar kawasan di Indonesia, karena pembangunannya sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis dan sosial budaya setempat. Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap ketertinggalan wilayah di KTI antara lain adalah aksesibilitas, infrastruktur, sumberdaya manusia, kemampum keuangan lokal, perekonomian masyarakat, serta karakteristik daerah (Rosalina 2008).

dum A M H10 AM H09 A M H08 A M H0 7 A M H06 KT I KBI KT I KBI KT I KBI KT I KBI KT I KBI 100 95 90 85 80 75 70 % P ap u a P ap u a P ap u a P ap u a 89,96 93,39 90,77 93,69 91,08 94,20 91,29 94,55 91,67 94,97 Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Gambar 4.1 Box plot angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas menurut kawasan di Indonesia, tahun 2006-2010.

Rata-rata AMH di kedua kawasan cenderung mengalami peningkatan dan dengan sebaran yang relatif konstan. Meningkatnya AMH ini terutama terjadi pada kelompok usia muda yaitu usia 15-24 tahun, seiring dengan meningkatnya partisipasi pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. Peningkatan partisipasi pada jenjang pendidikan dasar telah mendorong peningkatan kemampuan penduduk dalam membaca dan menulis (Bappenas 2011). Sedangkan sebaran yang relatif konstan mengindikasikan masih terjadi kesenjangan antardaerah. Rata-rata tingkat melek huruf antarprovinsi selama periode tahun 2006-2010, masih beragam antarprovinsi dengan kisaran angka melek huruf antara 71,52 % di Provinsi Papua sampai dengan 99,15% di Provinsi Sulawesi Utara, dengan rata-rata nasional sebesar 92,83 %.

(4)

Namun demikian, telah terjadi peningkatan pada kelompok kuintil kedua (kelas median). Artinya semakin banyak provinsi-provinsi yang mengalami peningkatan AMH, dan beberapa daerah belum mengalami peningkatan AMH. Salah satu daerah yang memiliki AMH terendah, bahkan mengalami penurunan, selama periode tersebut adalah Provinsi Papua. Hal ini mungkin terkait dengan aksesibilitas dan distribusi untuk bersekolah maupun program-program melek huruf yang masih terbatas. Kendala geografis di Papua menjadi salah satu sebab keterbatasan aksesibilitas tersebut.

Gambar 4.2 memperlihatkan rata-rata AMH dan perubahannya selama periode tahun 2006-2010. Pada Kuadran I menunjukkan provinsi dengan AMH tinggi dan perubahan yang cepat, di atas rata-rata nasional. Terdapat 4 provinsi pada kuadran I, antara lain: Provinsi NAD, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan dan Lampung. Kuadran II yaitu provinsi dengan rata-rata AMH rendah namun dengan perubahan yang besar. Pada kuadran II terdapat 9 provinsi, antar lain Provinsi Papua Barat, DIY, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, NTT, NTB, Bali dan Jawa Tengah. Hal ini bisa dikaitkan dengan usaha peningkatan AMH dan/atau semakin berkurangnya kelompok usia tua.

Kuadran III menunjukkan provinsi dimana rata-rata AMH dan perubahannya rendah, di bawah rata-rata nasional. Terdapat 3 provinsi pada kuadran III ini, yaitu: Provinsi Papua, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kelompok usia 45 tahun ke atas dan/atau terbatasnya akses pelayanan pendidikan bagi kelompok usia muda, terutama bagi daerah di luar jawa. Provinsi Papua merupakan satu-satunya provinsi yang mengalami penurunan AMH mulai tahun 2007, hal ini mungkin disebabkan jangkauan layanan pendidikan yang jauh ataupun karena ketiadaan guru di daerah-daerah pedalaman Papua (BPS Papua 2009).

Pada Kuadran IV menunjukkan provinsi dengan rata-rata AMH tinggi namun tren perubahannya lambat. Terdapat 17 provinsi, antara lain: Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku dan Maluku Utara. Hal ini terkait karena pencapaian AMH sudah tinggi, maka

(5)

perubahannya cenderung kecil. Tingkat persistensi, terutama pada kelompok usia tua, tidak bisa ditingkatkan lagi.

1.6 1.2 0.8 0.4 0.0 100 95 90 85 80 75 70 Tr e nd Pe r uba ha n A M H (%) R a ta -r a ta A M H ( % ) 0.41 92.61 J a T e n g J a T i m K a l Ba r K a l Se l K a l Te ng K a l Ti m K e p Ri La m pun g M a l uku M a l U t B a B e l N AD N TB N TT P a p Ba r P a p ua Ria u S ul Ba r S ul Se l S ul Te ng S ul Tr a B a l i S ul U t S um B a r S um S e l S uM ut B a n te n B e n gkul u D IY D KI G o r o n ta l o J a B a r J a m bi SIN G P A P B M U M A SR G O SG SN ST SA K I K S K T K B N T N B B A B T JI YO JT JB JK K R B B LA B E SS JA R I SB SU A C I II III IV Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Gambar 4.2 Rata-rata angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas dan tren perubahannya menurut provinsi di Indonesia, periode tahun 2006–2010.

4.1.2 Angka Partisipasi Sekolah (APS)

Untuk mengetahui seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan, dapat dilihat dari penduduk yang masih sekolah pada umur tertentu yang lebih dikenal dengan angka partisipasi sekolah (APS). APS merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah, terlepas dari tingkat pendidikan, sebagai persentase dari populasi pada usia yang sama. Pada bahasan yang dimaksud disini partisipasi sekolah berkaitan dengan aktivitas pendidikan formal dan non formal seseorang. Secara teoritis, nilai maksimum adalah 100%. Jika APS berada di bawah 100%, maka perbedaan dengan 100% memberikan ukuran proporsi penduduk usia tertentu yang tidak terdaftar.

Rata-rata APS usia 7-24 tahun di Indonesia selama periode tahun 2006-2010 cenderung mengalami peningkatan dari 62,45.% hingga 65,52.%. Namun masih terjadi kesenjangan antarprovinsi, baik dalam satu kawasan maupun antarkawasan dengan keragaman antara 56,44.% di Papua hingga 74,52.% di DIY (Gambar 4.3).

(6)

Kesenjangan APS antarprovinsi di KBI lebih tinggi dibanding KTI. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur pendidikan maupun kapasitas daerah yang beragam antardaerah di KBI. Provinsi Maluku sejak tahun 2007 memilik APS yang tinggi, sedangkan Provinsi Papua memiliki capaian angka partisipasi sekolah yang masih rendah.

dum APS10 APS09 APS08 APS07 APS06 KTI KBI KTI KBI KTI KBI KTI KBI KTI KBI 75 70 65 60 55 50 % Maluku Papua Maluk u Papua Maluku 62,75 62,46 63,62 63,61 64,47 64,50 64,86 64,60 65,43 65,61 Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Gambar 4.3 Box plot angka partisipasi sekolah penduduk usia 7–24 tahun menurut kawasan di Indonesia, tahun 2006-2010.

Gambar 4.4 memperlihatkan rata-rata APS penduduk usia 7–24 tahun dan rata-rata perubahannya menurut provinsi di Indonesia, periode tahun 2006–2010. Provinsi dengan pencapaian rata-rata dan perubahan APS tertinggi adalah Provinsi DIY dan Sumatera Barat. Selain itu Provinsi Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali NTT, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara memiliki capaian APS yang tinggi dan perubahan relatif besar (Kuadran I).

Provinsi dengan rata-rata APS terendah namun mengalami perubahan cepat (Kuadran II) antara lain Provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Jambi, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Gorontalo. Kuadran III yaitu daerah dengan APS dan perubahan yang rendah, antara lain: Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, DKI, Jawa Barat, Banten, dan

(7)

Kalimantan Selatan. Selain itu, terdapat dua provinsi yang memiliki rata-rata perubahan APS yang negatif pada periode tersebut yakni Provinsi Kalimantan Tengah dan Papua. Hal ini diduga karena akses dan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan masih terbatas.

1.5 1.0 0.5 0.0 -0.5 75 70 65 60 55

Rata-rata Perubahan APS (%)

R a ta -r a ta A P S ( % ) 0.73 64.19 JaTeng JaTim KalBar KalSel KalTeng KalTim KepRi Lampung Maluku MalUt BaBel NAD NTB NTT PapBar Papua Riau SulBar SulSel SulTeng SulTra Bali SulUt SumBar SumSel SuMut Banten Bengkulu DIY DKI Gorontalo JaBar Jambi SING Papua PapBar MalUt Maluku SulBar Gorontalo SulTra SulSel SulTeng SulUt KalTim KalSel KalTeng KalBar NTT NTB Bali Banten JaTim DIY JaTeng JaBar DKI KepRi BaBel Lampung Bengkulu SumSel Jambi Riau SumBar SuMut NAD I II III IV Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Gambar 4.4 Rata-rata angka partisipasi sekolah penduduk usia 7–24 tahun dan trend perubahan menurut provinsi di Indonesia, periode tahun 2006–2010.

4.1.3 Rata- rata Lama Sekolah (RLS)

Salah satu indikator tunggal lainnya untuk menggambarkan tingkat pendidikan masyarakat adalah rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk usia 15 tahun ke atas. RLS penduduk 15 tahun ke atas merupakan cerminan tingkat pendidikan penduduk secara keseluruhan. RLS merupakan indikator yang menunjukkan rata-rata jumlah tahun efektif untuk bersekolah yang dicapai penduduk, yang diformulasikan oleh UNDP pada tahun 1990 untuk penyusunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Jumlah tahun efektif adalah jumlah tahun standar yang harus dijalani oleh seseorang untuk menamatkan suatu jenjang pendidikan, misalnya tamat SD adalah 6 tahun, tamat SMP adalah 9 tahun dan

(8)

seterusnya. Perhitungan RLS dilakukan tanpa memperhatikan apakah seseorang menamatkan sekolah lebih cepat atau lebih lama dari waktu yang telah ditetapkan. Rata-rata lama sekolah dapat menunjukkan komposisi pendidikan penduduk usia 25 tahun ke atas, atau persediaan dan kualitas modal manusia dalam suatu negara, sehingga dapat digunakan untuk mengukur kebutuhan dan menetapkan kebijakan untuk peningkatan pendidikan. Indikator ini juga mencerminkan struktur dan kinerja dari sistem pendidikan dan dampaknya terhadap pembentukan akumulasi modal manusia (UNESCO 2009). Pencapaian pendidikan terkait erat dengan keterampilan dan kompetensi penduduk suatu negara, dan bisa dilihat sebagai proxy dari aspek kuantitatif dan kualitatif dari stok modal manusia.

Sesuai dengan target pemerintah melalui program wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan sejak tahun 1994, RLS penduduk diharapkan dapat mencapai 9 tahun (pendidikan dasar), yaitu minimal tamat jenjang pendidikan SMP. Namun demikian, tampak bahwa program tersebut masih belum mencapai sasaran yang diharapkan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5 bahwa RLS penduduk baru mencapai 7,77 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa secara rata-rata pendidikan penduduk usia 15 tahun ke atas belum mencapai kelas 2 SMP.

d u m R LS 1 0 R LS 0 9 R LS 0 8 R LS 0 7 R L S 0 6 KT I KBI KT I K BI KT I KBI KT I KBI KT I KBI 1 1 1 0 9 8 7 6 R a ta -r a ta L a m a S e k o la h ( ta h u n ) D K I D K I D K I D K I D K I 7 , 2 1 7 , 8 3 7 , 4 1 7 ,9 1 7 ,4 5 7 ,9 4 7 , 5 9 8 ,1 2 7 , 8 2 8 ,3 5 Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Gambar 4.5 Box plot rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas menurut kawasan di Indonesia, periode tahun 2006-2010.

(9)

Tabel 4.1 menyajikan RLS menurut status daerah dan jenis kelamin. Dari tabel tersebut terlihat bahwa RLS di daerah perkotaan cenderung lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan. Pola tersebut terlihat bagi penduduk laki-laki maupun perempuan. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa penduduk di daerah perkotaan memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah perdesaan. Hal ini diduga berkaitan dengan ketersedianan sarana maupun prasarana untuk setiap jenjang pendidikan di lokasi sekitar tempat tinggal mereka.

Tabel 4.1 Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas menurut status daerah kelamin di Indonesia, tahun 2006-2010

Rata-rata Lama Sekolah Kota Desa Laki-laki Perempuan

Minimal 7,46 4,75 6,73 5,54

Maksimal 10,66 8,03 10,72 9,72

Rata-rata 9,51 6,57 8,16 7,38

Standar Deviasi 0,79 0,74 0,85 0,89

Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Berdasarkan Tabel 4.1 terlihat pula bahwa RLS yang dicapai penduduk laki-laki secara umum lebih tinggi dari penduduk perempuan. Kondisi ini terlihat di daerah perkotaan maupun perdesaan. Faktor yang diduga turut mempengaruhi kondisi tersebut adalah “sex preference”, kecenderungan mengutamakan anak laki-laki untuk bersekolah dibandingkan anak perempuan (BPS 2010d).

Gambar 4.6 menunjukkan rata-rata lama sekolah dan trend perubahannya. Pada kuadran I terlihat bahwa RLS penduduk usia 15 tahun ke atas, tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta, Sulawesi Utara, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau, dengan RLS berkisar 9 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa secara rata-rata pendidikan penduduk usia 15 tahun ke atas di provinsi-provinsi tersebut sudah menamatkan jenjang pendidikan dasar SMP. Provinsi dengan RLS yang masih rendah antara lain Provinsi Sulawesi Barat, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Papua, dengan RLS sebesar 6 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa secara rata-rata

(10)

pendidikan penduduk usia 15 tahun ke atas di provinsi-provinsi tersebut baru menamatkan jenjang pendidikan dasar SD.

0 .6 0 . 5 0 . 4 0 .3 0 .2 0 .1 0 . 0 1 0 9 8 7 6 Tr e n P e r u b a h a n R L S ( t a h u n ) R a ta -r a ta R L S ( th n ) 0 .1 4 7 .7 7 J a T e n g J a T i m K a l Ba r K a l S e l K a l T e n g K a l T i m K e p Ri La m p u n g M a l u ku M a l U t B a B e l N AD N T B N T T P a p Ba r P a p u a R ia u S u l Ba r S u l S e l S u l T e n g S u l T r a B a l i S u l U t S u m B a r S u m S e l S u M u t B a n te n B e n g ku l u D I Y D KI G o r o n ta l o J a B a r J a m b i S I N G P ap u a P a p B a r M alU t M alu ku S u lB a r G o ro n ta lo Su lTra Su lS el Su lTen g Su lU t K a lTim K a lSel K a lTen g K alB a r N TT N TB B ali B an ten J aTim D IY Ja Ten g Ja B a r D K I K ep R i B a B el L a m p u n g B en g ku lu S u m S el J am b i R iau Su m B ar S u M u t N A D I II III IV Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Gambar 4.6 Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas dan tren perubahan menurut provinsi di Indonesia, periode tahun 2006–2010.

Rata-rata perubahan RLS nasional selama periode tahun 2006-2010 adalah sebesar 0,14.tahun. Provinsi dengan rata-rata perubahan tertinggi dicapai oleh Provinsi Papua Barat, Kepulauan Riau, NAD, Maluku, Maluku Utara dan Bali. Provinsi yang memiliki rata-rata perubahan lama sekolah relatif rendah pada periode tersebut yakni Provinsi DKI Jakarta, Sulawesi Utara dan Kalimantan Tengah. Hal ini karena pencapaian angka partisipasi dan RLS di provinsi-provinsi tersebut sudah relatif tinggi. Provinsi Papua masih menjadi provinsi dengan capaian RLS yang rendah.

4.2 Anggaran Fungsi Pendidikan

Alokasi anggaran merupakan instrumen penting bagi pemerintah untuk mempromosikan pembangunan ekonomi dan mengurangi kemiskinan absolut. Upaya pembangunan sumberdaya manusia dapat dilakukan melalui investasi disektor pendidikan. Keberhasilan pembangunan dibidang pendidikan turut ditentukan juga dengan jumlah anggaran bidang pendidikan yang disediakan. Pendidikan diselenggarakan sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa

(11)

dan menjadi langkah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup warga negara. Peningkatan derajat pendidikan diprioritaskan sebagai upaya untuk dapat mengurangi kemiskinan.

Rasio anggaran pendidikan terhadap total anggaran digunakan sebagai proksi pengeluaran pemerintah daerah untuk investasi publik bidang pendidikan. Angka ini dapat digunakan untuk menilai penekanan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, relatif terhadap nilai dari investasi publik lainnya. Angka ini juga mencerminkan komitmen pemerintah untuk berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia. Semakin tinggi persentase pengeluaran pemerintah untuk pendidikan menunjukkan kebijakan prioritas pemerintah untuk pendidikan lebih tinggi relatif terhadap nilai dari investasi publik lainnya, termasuk pertahanan dan keamanan, kesehatan, jaminan sosial, dan sektor sosial atau ekonomi lainnya.

Perumusan program pembangunan bidang pendidikan pada akhirnya akan berimplikasi pada besarnya kebutuhan anggaran yang harus disediakan oleh pemerintah. Selama ini, kekurangan anggaran atau keterbatasan anggaran masih menjadi alasan klasik dari lambatnya kemajuan pembangunan pendidikan nasioanl. Namun demikian, mengingat pentingnya pendidikan tersebut, pemerintah tetap memprioritaskan anggaran pembangunan dibidang pendidikan. Keseriusan pemerintah dalam memajukan pendidikan ditunjukkan dalam Amandemen UUD 1945 dan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Langkah pemerintah dalam pembiayaan pendidikan diwujudkan dengan memprioritaskan anggaran pendidikan dialokasikan minimal 20.% –selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan– dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Berdasarkan data yang diperoleh, rata-rata nasional rasio anggaran fungsi pendidikan di Indonesia selama periode tahun 2006-2010 sudah mencapai lebih dari 20.%. Namun jika dilihat masing-masing provinsi, masih terdapat perbedaan kemampuan daerah dalam memenuhi alokasi yang ditetapkan perundangan. Kemampuan masing-masing daerah berkisar antara 8-38.%, dengan kecenderungan semakin meningkat (Gambar 4.7).

(12)

d u m R E DU 1 0 R E DU0 9 R E DU 0 8 R E DU 0 7 KT I KBI KT I KBI KT I KBI KT I KBI 4 0 3 5 3 0 2 5 2 0 1 5 1 0 R a s io A n g g ar a n P e n d id ik an ( % ) 1 9,12 22 ,8 6 20,41 24,83 2 2,72 27,65 22 ,69 27,96 Sumber: Kemenkeu 2007-2010.

Gambar 4.7 Box plot rasio anggaran fungsi pendidikan di Indonesia, tahun 2007-2010.

Provinsi-provinsi dengan rasio anggaran fungsi pendidikan tertinggi antara lain Provinsi Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, dan Lampung, berkisar antara 29.% hingga 37.%. Sedangkan provinsi-provinsi dengan rasio anggaran fungsi pendidikan terendah antara lain Provinsi Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Papua Barat, dan Papua berkisar antara 12 – 20.% (Gambar 4.8). Jika dilihat, besaran PDRB yang dimiliki oleh Provinsi Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Papua Barat, dan Papua tergolong tinggi, tetapi rasio anggaran fungsi pendidikannya termasuk rendah. Hal ini ditengarai karena fungsi pelayanan umum lainnya masih memiliki persentase tinggi terhadap total belanja daerah provinsi, namun dengan kecenderungan menurun dibanding dengan fungsi pendidikan yang memiliki kecenderungan meningkat (DJPK 2011).

Gambar 4.8 memperlihatkan rata-rata perubahan rasio anggaran fungsi pendidikan secara nasional dan provinsi selama periode tahun 2007-2010. Rata-rata perubahan rasio anggaran fungsi pendidikan nasional sebesar 1,45.%. Rata-rata perubahan rasio anggaran fungsi pendidikan tertinggi adalah Provinsi DKI Jakarta, Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Hal ini dapat mengindikasikan peningkatan perhatian pemerintah daerah terhadap pendidikan di wilayahnya. Sedangkan enam provinsi yaitu Provinsi Kalimantan Timur, DI. Yogyakarta, Sumatera Barat, Papua Barat, NTT dan Maluku Utara memiliki rata-rata

(13)

perubahan negatif pada periode tersebut. Berarti terjadi penurunan rasio anggaran fungsi pendidikan di provinsi-provinsi tersebut.

6 5 4 3 2 1 0 -1 35 30 25 20 15 10

Rat a - ra t a pe r uba ha n ra s io a nggar a n pe ndidika n (%)

R a ta -r a ta R a s io A n g g a ra n P e n d id ik a n ( % ) 1.45 23.6 J a T e n g J a T i m K a l Ba r K a l Se l K a l Te ng K a l Ti m K e p Ri La m pun g M a l uku M a l U t B a B e l N AD N TB N TT P a p Ba r P a p ua Ria u S ul Ba r S ul Se l S ul Te ng S ul Tr a B a l i S ul U t S um B a r S um S e l S uM ut B a n te n B e n gkul u D IY D KI G or on ta l o J a B a r J a m bi S IN G P ap u a P ap Bar M alU t M alu ku Su lB ar G o ro n talo Su lTra Su lSel Su lTen g Su lU t K alTim K alSel K alTen g K alBar N TT N TB Bali Ban ten JaTim D IY JaTen g JaBar D K I K ep Ri BaB el Lam p u n g Ben gku lu Su m Sel Jam b i Riau Su m Bar Su M u t N AD Sumber: Kemenkeu 2007-2010.

Gambar 4.8 Rata-rata rasio anggaran fungsi pendidikan dan tren perubahan menurut provinsi di Indonesia, periode tahun 2007– 2010.

4.3 Kesempatan Kerja menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Pendidikan yang ditamatkan merupakan salah satu ukuran kualitas sumber daya manusia (SDM). Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, semakin tinggi tingkat kesejahteraannya. Daya saing suatu daerah tidak bisa dipisahkan dari mutu dan kualitas sumber daya manusianya. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar, yang merupakan salah satu modal dasar pembangunan. Modal dasar yang berkualitas menjadi alat dan tujuan utama pembangunan. Tingginya tingkat pencapaian pendidikan biasanya menyebabkan kesempatan kerja yang lebih besar dan tingkat partisipasi angkatan kerja yang lebih tinggi. Hal ini terutama karena orang yang lebih berpendidikan menempati posisi yang lebih kompetitif di pasar tenaga kerja, dan juga karena orang tersebut telah berinvestasi yang besar dalam modal manusia dan perlu pengembalian atas investasi pendidikan mereka. Gambaran besaran SDM Indonesia dalam kegiatan perekonomian dapat dilihat dari rasio yang bekerja menurut pendidikan yang ditamatkan terhadap total angkatan kerja, disajikan pada Gambar 4.9.

(14)

Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Gambar 4.9 Perkembangan rasio tingkat kesempatan kerja penduduk usia 15 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan di Indonesia, periode tahun 2003–2010.

Gambar 4.9 menunjukkan bahwa tingkat kesempatan kerja menurut jenjang pendidikan cenderung semakin kecil sejalan dengan makin meningkatnya jenjang pendidikan. Hal ini juga sejalan dengan angka partisipasi sekolah ke jenjang pendidikan lebih tinggi yang cenderung menurun. Kondisi ini secara umum menunjukkan bahwa taraf pendidikan pekerja di Indonesia sebagian besar masih berpendidikan SD. Namun demikian, perkembangan tingkat kesempatan kerja (TKK) menunjukkan kecenderung yang menurun bagi pekerja tidak lulus SD dan lulusan pendidikan SD dan SMP. Sedangkan TKK bagi lulusan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi cenderung meningkat. Semakin besar angka tingkat kesempatan kerja berpendidikan tinggi, semakin baik pula kondisi ketenagakerjaan suatu wilayah.

Pembangunan ekonomi yang telah terjadi di Indonesia telah menyebabkan perubahan struktur ekonomi. Apabila terjadi perubahan kondisi perekonomian, secara ekonomi akan berdampak terhadap perubahan struktur ketenagakerjaan. Meski telah terjadi perubahan struktur perekonomian di wilayah Indonesia, namun belum sepenuhnya semua wilayah mampu mengimbangi dengan pergeseran struktur tenaga kerja terampil. Hal ini mengindikasikan bahwa laju pergeseran tenaga kerja di wilayah Indonesia relatif lebih lambat dibanding laju pergeseran perekonomian sektoral (BPS 2010f). 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 SD 035 034 034 033 035 033 026 027 SMP 018 018 018 017 017 017 017 018 SMU 012 011 011 012 012 013 013 014 SMK 005 006 005 006 005 006 007 008 D I/II/III 002 002 002 002 002 003 002 003 DIV-S1/2/3 002 003 003 003 003 004 004 005 0 5 10 15 20 25 30 35 40 %

(15)

Gambar 4.10 menunjukkan rata-rata tingkat kesempatan kerja menurut jenjang pendidikan masing-masing provinsi di Indonesia periode tahun 2006-2010. Berdasarkan data yang ada, secara umum rasio pekerja dengan pendidikan SMP kebawah lebih dari 53.%, sedangkan rasio pekerja berpendidikan SMA ke atas baru sekitar 38.%. Provinsi dengan rasio pekerja berpendidikan dasar yang relatif besar antara lain Provinsi Kalimantan Tengah, NTT, Lampung, Sulawesi Tengah dan Jawa Tengah. Provinsi-provinsi tersebut mempunyai struktur perekonomian sebagian besar dari sektor pertanian. Sedangkan provinsi dengan rasio pekerja berpendidikan tinggi yang relatif besar antara lain Provinsi Kalimantan Timur, DIY, Papua, DKI dan Kepulauan Riau. Pada provinsi-provinsi ini, struktur perekonomiannya sebagian besar adalah sektor industri dan jasa.

Tingkat pendidikan pekerja bisa dianggap sebagai indikator yang mampu mencerminkan kualitas dari para pekerja. Dengan semakin tinggi pendidikan yang ditamatkan dan semakin baik keahlian yang dimiliki angkatan kerja, diharapkan akan dapat mengisi lapangan kerja yang menuntut kualifikasi tertentu atau diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi para pekerja lainnya. Kondisi angkatan kerja antarprovinsi di Indonesia masih cukup memprihatinkan jika ditinjau dari tingkat pendidikan, dimana masih tingginya rasio pekerja berpendidikan rendah dan masih rendahnya rasio pekerja berpendidikan tinggi.

Gambar 4.11 menyajikan rata-rata perubahan tingkat kesempatan kerja menurut pendidikan selama periode tahun 2006-2010. Terlihat bahwa pekerja dengan pendidikan dasar (SD dan SMP) mengalami penurunan sebesar -2,47 %, atau masing-masing sebesar -2,23.% dan -0,24.%. Artinya bahwa kesempatan kerja atau jumlah tenaga kerja lulusan SD dan SMP semakin menurun. Penurunan tenaga kerja berpendidikan SD relatif besar. Hal ini diduga terkait dengan program wajib belajar 9 tahun, sehingga diharapkan penduduk Indonesia dapat menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMP dan dapat meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dari gambar tersebut juga terlihat bahwa kesempaan kerja bagi lulusan sekolah menengah mengalami peningkatan dengan rata-rata perubahan sebesar 0,83.%. Demikian pula dengan perubahan kesempatan kerja bagi lulusan pendidikan tinggi mengalami peningkatan, meskipun kesempatan kerja untuk lulusan pendidikan tinggi masih relatif kecil.

(16)

Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Gambar 4.10 Rata-rata tingkat kesempatan kerja menurut pendidikan dan provinsi di Indonesia, periode tahun 2006–2010.

Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c (diolah).

Gambar 4.11 Rata-rata perubahan tingkat kesempatan kerja menurut pendidikan di Indonesia, periode tahun 2006–2010.

016 0 10 20 30 40 50 60 K EP R I D K I K A LT IM B A LI SU M U T SU LU T R IA U D IY N A D M A LU K U SU M B A R P A P B A R B A N TE N B EN G K U LU B A B EL SU LT R A JA M B I M A LU T SU LS EL JA B A R SU LT EN G K A LS EL SU M SE L JA TI M K A LT EN G SU LB A R N TB LA M P U N G K A LB A R G O R O N TA LO JA TE N G P A P U A N TT T K K %

TKK Menengah Rata-rata TKK Menengah IND

0 1 0 0 0 8 0 0 6 0 0 6 0 0 6 005 0 10 20 30 40 50 60 D K I D IY B A LI K EP R I N A D P A P B A R SU M B A R K A LT IM SU LS EL SU LB A R SU LT R A B EN G K U LU SU LU T SU LT EN G B A N TE N R IA U M A LU T JA B A R K A LS EL K A LT EN G M A LU K U JA M B I JA TI M G O R O N TA LO NTB JA TE N G SU M U T B A B EL SU M SE L P A P U A K A LB A R LA M P U N G N TT T K K %

TKK Tinggi Rata-rata TKK Tinggi IND

-002 001 000 -03 -03 -02 -02 -01 -01 00 01 01

Dasar Menengah Tinggi

% Perubahan TKK IND 039 0 10 20 30 40 50 60 K A LT EN G N TT LA M P U N G SU LT EN G JA TE N G SU M SE L K A LS EL JA M B I JA B A R K A LB A R JA TI M M A LU T B EN G K U LU G O R O N TA LO SU LB A R B A B EL SU LT R A M A LU K U N A D SU M U T R IA U SU LU T N TB SU M B A R B A LI B A N TE N SU LS EL P A P B A R K A LT IM DIY P A P U A D K I K EP R I T K K %

(17)

4.4 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita

Pembangunan ekonomi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi lazim menggunakan PDRB per kapita. Dengan menggunakan PDRB per kapita, ketimpangan pembangunan antardaerah menjadi lebih terukur dan dapat dibandingkan. Pertumbuhan PDRB per kapita tinggi jika di atas 3.% dan rendah jika di bawah 3.% (Tambunan 2009).

Gambar 4.12, memperlihatkan perkembangan PDRB per kapita Indonesia selama periode 2006–2010. Selama periode tersebut, PDRB per kapita Indonesia mengalami peningkatan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 3,85 %, dengan standar deviasi menunjukkan adanya kecenderungan untuk meningkat pula. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran PDRB per kapita yang semakin beragam antarprovinsi atau bisa dikatakan semakin timpang. Provinsi-provinsi dengan besaran PDRB tertinggi antara lain adalah Provinsi DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau dan Riau.

dum KAP10 KAP09 KAP08 KAP07 KAP06 KTI KBI KTI KBI KTI KBI KTI KBI KTI KBI 40 30 20 10 0 P D R B p e rk a p it a ( Ju ta R p ) DKI KalTim KepRi Riau KalTim DKI KepRi Riau KalTim DKI KepRi Riau KalTim DKI KepRi Riau KalTim DKI KepRi Riau 6,79 9,70 9,91 6,72 10,22 6,92 10,40 7,17 10,80 7,52 Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c (diolah).

Gambar 4.12 Box plot Perkembangan PDRB per kapita (ADHK 2000) Indonesia, tahun 2006-2010.

(18)

Jika dilihat berdasarkan kawasan, PDRB per kapita penduduk di Kawasan Barat Indonesia lebih tinggi daripada di Kawasan Timur Indonesia selama periode tersebut. Tingginya PDRB per kapita di Kawasan Barat Indonesia mengindikasikan bahwa perekonomian di Indonesia bagian barat secara relatif lebih baik daripada Indonesia bagian timur.

Jika dibandingkan antarProvinsi, DKI Jakarta menduduki posisi pertama di Kawasan Barat Indonesia maupun nasional. Selama periode tahun 2006-2010, rata-rata nilai PDRB per kapita (ADHK 2000) DKI Jakarta sebesar 34,30 juta rupiah. Besarnya PDRB per kapita di DKI Jakarta menunjukkan bahwa perekonomian di ibukota negara jelas lebih baik dibandingkan dengan provinsi lainnya (Gambar 4.13). Pusat aktivitas ekonomi ada di ibukota dengan segala fasilitas pendukungnya seperti kemajuan infrastruktur, fasilitas umum yang mendukung, tingginya kualitas sumberdaya manusia dan fasilitas lainnya.

Provinsi dengan tingkat PDRB per kapita di atas rata-rata nasional lainnya yaitu Provinsi Kalimantan Timur, Kepulauan Riau dan Riau. Provinsi-provinsi tersebut merupakan penghasil barang tambang, baik minyak dan gas (migas) maupun non-migas, juga terdapat industri pengolahan. Selanjutnya Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Papua dan Papua Barat, yang memiliki kekayaan sumber daya alam mineral, mempunyai nilai PDRB per kapita sedikit di atas rata-rata nasional.

Provinsi yang mempunyai nilai PDRB per kapita terendah adalah Nusa Tenggara Timur sebesar 2,38 juta rupiah dan Provinsi Gorontalo sebesar 2,26 juta rupiah. Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah yang relatif tertinggal di Kawasan Timur Indonesia. Rendahnya nilai PDRB per kapita menunjukkan bahwa perekonomian yang ada relatif belum maju dibandingkan dengan provinsi lainnya. Perhatian pemerintah untuk memajukan ekonomi di Nusa Tenggara Timur sangat penting agar kesempatan kerja lebih banyak, pengangguran dapat berkurang dan kesejahteraan penduduk dapat ditingkatkan.

(19)

Sumber: BPS 2002a, 2003a, 2004a, 2005a, 2006a, 2007a, 2008a, 2009a, 2010a, 2011.

Gambar 4.13 Rata-rata produk domestik regional bruto per kapita ADHK 2000 menurut provinsi di Indonesia, tahun 2001-2010.

Rata-rata laju pertumbuhan PDRB per kapita periode 2001-2010 masing-masing provinsi disajikan pada Gambar 4.14. Provinsi Papua, Kalimantan Timur, NAD dan Riau, memiliki rata-rata pertumbuhan PDRB per kapita negatif yang berarti terjadi penurunan PDRB per kapita. Provinsi-provinsi tersebut merupakan penghasil barang tambang, baik mineral maupun minyak dan gas. Penurunan terbesar di NAD terjadi pada tahun 2005. Konflik internal yang berkepanjangan dan bencana alam tsunami memiliki pengaruh terhadap proses pembangunan di NAD. Selain adanya inflasi, Kalimantan Timur mengalami penurunan output sektor pertambangan dan penggalian. Penutupan beberapa area tambang menjadi penyebabnya.18 Berbeda kondisinya antara Provinsi Papua dengan Provinsi Papua Barat yang memiliki rata-rata pertumbuhan PDRB per kapita tertinggi selama periode 2001-2010.

Sumber: BPS 2002a, 2003a, 2004a, 2005a, 2006a, 2007a, 2008a, 2009a, 2010a 2011.

Gambar 4.14 Rata-rata laju pertumbuhan produk domestik regional bruto per kapita atas dasar harga konstan 2000 menurut provinsi di Indonesia, tahun 2001-2010. 18 http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Ekonomi_Regional/ 03 4 0 3 2 0 2 3 0 17 0 09 009 009 008 002 008 002 -5 5 15 25 35 D K I J K T K A LT IM K EP R I R IA U N A D P A P U A P A B A R B A B EL SU M SE L SU M U T JA TI M K A LS EL K A LT IM B A N TE N SU M B A R JA B A R SU LU T B A LI K A LB A R D IY SU LT EN G SU LS EL JA M B I JA TE N G LA M P U N G SU LT R A B EN G K U LU N TB SU LB A R M A LU T M A LU K U N TT G O R O N TA LO Ju ta (R p .) Prov IND (2,0) ,0 2,0 4,0 6,0 8,0 P A P U A K A LT IM N A D R IA U K EP R I M A LU T M A LU K U N TT B A LI B A N TE N B A B EL JA B A R JA M B I D IY N TB LA M P U N G K A LB A R K A LS EL K A LT EN G SU M SE L D K I SU M B A R SU LU T SU M U T JA TI M G O R O N TA LO JA TE N G B EN G K U LU SU LB A R SU LT EN G SU LS EL SU LT R A P A B A R L a j u % Prov IND

(20)

4.5 Distribusi Pendapatan

Dalam proses pembangunan ekonomi, perubahan ketidakmerataan pendapatan senantiasa menyertai pertumbuhan ekonomi. Perubahan ketidakmerataan pendapatan dapat digambarkan dengan perubahan angka indeks gini. Ketidakmerataan pendapatan menurut Oshima (1970 diacu dalam Suhartini 2011) dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan angka indeks gini yaitu:

1. Ketidakmerataan rendah apabila angka indeks gini lebih kecil dari 0,3. 2. Ketidakmerataan sedang apabila angka indeks gini terletak antara 0,3 - 0,4. 3. Ketidakmerataan tinggi apabila angka indeks gini lebih besar dari 0,4.

Secara umum tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia termasuk ke dalam kategori rendah, tetapi kecenderungannya sejak tahun 2002 menunjukkan bahwa distribusi pengeluaran penduduk cenderung memburuk. Pada tahun 2002 angka indeks gini tercatat sebesar 0,33 kemudian meningkat menjadi 0,37 pada tahun 2007 dan semakin meningkat pada tahun 2010 menjadi sebesar 0,38 (Gambar 4.15).

Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Gambar 4.15 Perkembangan indeks gini menurut status daerah di Indonesia, periode tahun 2002–2010.

Dari Gambar 4.15, terlihat angka indeks gini di perkotaan mengalami fluktuasi dengan nilai yang hampir sama dengan indeks gini nasional. Selama periode tahun 2002-2010, indeks gini daerah perkotaan mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut menunjukkan proses redistribusi pendapatan tidak berjalan

000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 In d e ks G in i

(21)

dengan baik sehingga meningkatkan ketidakmerataan pendapatan. Demikian pula di daerah perdesaan, ketidakmerataan pendapatan juga semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan angka indeks gini yang terus meningkat. Ketimpangan pendapatan di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. Hal ini terkait dengan banyaknya jenis pekerjaan, luasnya bidang usaha dan jenjang jabatan yang terdapat di perkotaan. Lain halnya di perdesaan dimana lapangan usahanya relatif homogen, sehingga ketimpangan pendapatan juga relatif rendah.

Gambar 4.16 menunjukkan perkembangan ukuran statistik deskriptif dari indeks gini tahun 2002–2010. Ketimpangan pendapatan di tingkat provinsi di Indonesia sangat beragam, meskipun nilai maksimum menunjukkan ketidakmerataan yang tinggi, tetapi secara rata-rata menunjukkan ketidakmerataan sedang. Mulai tahun 2005, nilai rata-rata indeks gini meningkat. Demikian pula dengan standar deviasi yang meningkat menunjukkan sebaran indeks gini yang semakin beragam antarprovinsi.

Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c.

Gambar 4.16 Statistik deskriptif indeks gini Indonesia, tahun 2002-2010. Rata-rata indeks gini masing-masing provinsi selama periode tahun 2005– 2010, disajikan pada Gambar 4.18. Provinsi Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Nangroe Aceh Darussalam, Jambi, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau termasuk sebagai sepuluh provinsi dengan rata-rata indeks gini terendah selama tahun 2005–2010. Sedangkan Provinsi Papua, D.I.Yogyakarta, Jawa Barat, Papua Barat, Sulawesi Selatan dan Gorontalo termasuk provinsi dengan rata-rata indeks gini terbesar, memiliki ketimpangan pendapatan di atas ketimpangan nasional.

2002 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Min. 000 000 000 000 000 000 000 Maks. 000 000 000 000 000 000 000 Rata-rata 000 000 000 000 000 000 000 Std Dev 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 001 G i n i

(22)

Meskipun Papua dan Papua Barat menikmati tingkat PDRB per kapita di atas rata-rata nasional, terutama dari industri yang terkait dengan sumber daya alam, namun keberhasilan ekonomi tersebut tidak dinikmati oleh kebanyakan masyarakat Papua. Output sektor pertambangan dan penggalian yang menopang perekonomian Provinsi Papua dan Papua Barat lebih banyak dirasakan oleh sebagian kecil penduduk, diduga berakibat pada meningkatnya ketimpangan.

Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c (diolah).

Gambar 4.17 Rata-rata indeks gini provinsi di Indonesia, tahun 2005–2010.

Perubahan distribusi pendapatan dapat dilihat dari perubahan nilai indeks gini, dengan nilai positif maupun negatif. Perubahan positif berarti terjadi peningkatan ketidakmerataan atau distribusi yang semakin timpang, sebaliknya perubahan negatif berarti terjadi penurunan ketidakmerataan. Berdasarkan rata-rata pertumbuhan indeks gini periode tahun 2005–2010, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Tengah, mempunyai rata-rata pertumbuhan indeks gini yang besar. Angka ini berarti terjadi ketimpangan yang semakin melebar di provinsi-provinsi tersebut.

Sedangkan Provinsi Kepulauan Riau, Jawa Barat, Sulawesi Barat, Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, Lampung, Jambi, Papua Barat dan NAD mengalami pertumbuhan indeks gini negatif, yang berarti terjadi penurunan ketimpangan pendapatan di provinsi-provinsi tersebut. Namun demikian, Provinsi Jawa Barat dan Papua Barat masih termasuk provinsi dengan ketimpangan yang tinggi, di atas rata-rata ketimpangan nasional. Berbeda dengan Provinsi Kepulauan Riau yang memang memiliki rata-rata ketimpangan pendapatan yang rendah, di bawah rata-rata nasional selama periode tahun 2005–2010.

000 000 000 000 000 000 000 000 000 B A B EL K A LT EN G N A D JA M B I SU M B A R K EP R I M A LU K U SU M SE L R IA U K A LB A R SU M U T JA TI M B EN G K U LU SU LB A R B A LI SU LT EN G SU LU T JA TE N G D K I M A LU T N TB K A LS EL SU LT R A N TT K A LT IM LA M P U N G B A N TE N P A P U A D IY JA B A R P A P B A R SU LS EL G O R O N TA LO I n d e k s

(23)

Sumber: BPS 2006c, 2007c, 2008c, 2009c, 2010c (diolah).

Gambar 4.18 Rata-rata pertumbuhan indeks gini menurut provinsi di Indonesia, periode tahun 2005–2010.

4.6 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin

Indonesia sebagai negara sedang berkembang dengan penduduk terpadat keempat di dunia, mempunyai salah satu permasalahan utama yaitu kemiskinan. Kemiskinan merupakan fenomena yang kompleks dan bersifat multidimensi. Luasnya wilayah dan keragaman sosial-budaya maupun ekonomi masyarakat menyebabkan kondisi dan permasalahan kemiskinan di Indonesia menjadi sangat beragam dengan sifat-sifat lokal yang heterogen.

Konsep definisi penduduk miskin yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan konsep kemiskinan dari BPS. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs

approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai

ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Menurut pendekatan ini, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan.

Garis kemiskinan adalah nilai uang yang harus dikeluarkan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup minimumnya, yaitu kebutuhan hidup minimum makanan (konsumsi pengeluaran per kapita perbulan yang setara dengan 2100 kilokalori per kapita per hari) ditambah dengan nilai kebutuhan minimum konsumsi bukan makanan. Jadi, Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan

(4,0) (2,0) ,0 2,0 4,0 6,0 8,0 K EP R I JA B A R SU LB A R K A LT EN G JA TE N G LA M P U N G JA M B I P A P B A R N A D SU LU T SU LS EL B EN G K U LU K A LT IM P A P U A JA TI M SU M U T SU M B A R SU M SE L B A B EL K A LB A R R IA U SU LT R A D K I B A LI G O R O N TA LO B A N TE N K A LS EL DIY M A LU K U M A LU T N TT N TB SU LT EN G %

(24)

dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dan konsumsi lainnya). Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.

BPS menetapkan garis kemiskinan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor sebagai sumber data utama. Setiap tahun, besarnya garis kemiskinan berubah disesuaikan dengan perkembangan harga paket komoditi yang menjadi acuan dalam penentuan garis kemiskinan. Penyesuaian pengeluaran per kapita dilakukan secara terpisah antara daerah perkotaan dan perdesaan karena keduanya memiliki garis kemiskinan yang berbeda dan agar diperoleh keterbandingan antarprovinsi dan antarwaktu.

Rata-rata garis kemiskinan di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya (Gambar 4.19). Hal ini akibat naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok yang juga digambarkan oleh inflasi umum. Sepanjang tahun 2000–2010, tingkat inflasi Indonesia pada tingkat nasional maupun pada tataran provinsi selalu bernilai positif (Subekti 2010). Dari Gambar 4.19, terlihat peningkatan nilai standar deviasi yang berarti menunjukkan keragaman di tingkat provinsi.

Sumber: BPS 2002a, 2003a, 2004a, 2005a, 2006a, 2007a, 2008a, 2009a, 2010a, 2011 (diolah).

Gambar 4.19 Statistik deskriptif garis kemiskinan Indonesia, tahun 2000-2011. 83.828 194.161 108.781 355.480 94.076 267.177 6.451 46.800 0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 350.000 400.000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 R p .,

(25)

Rata-rata garis kemiskinan tertinggi selama periode tahun 2000–2011 antara lain di Provinsi Papua, Papua Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau dan DKI Jakarta. Sementara, provinsi dengan rata-rata garis kemiskinan terendah antara lain adalah Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Timur. Hal menarik dari data ini adalah bahwa pada beberapa provinsi dengan rata-rata garis kemiskinan tergolong tinggi seperti Provinsi Bangka Belitung, DKI Jakarta dan Kepulauan Riau, namun demikian tingkat kemiskinannya tergolong rendah. Sedangkan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat meskipun rata-rata garis kemiskinannya tergolong rendah, namun rata-rata tingkat kemiskinannya masih cukup tinggi. Berbeda dengan Provinsi Papua Barat dimana rata-rata garis kemiskinannya tinggi, begitu pula dengan rata-rata tingkat kemiskinannya yang tinggi. Gambar 4.20 di bawah ini menyajikan rata-rata garis kemiskinan dan rata-rata persentase penduduk miskin menurut provinsi di Indonesia selama periode tahun 2000–2011.

Sumber: BPS 2002b, 2003b, 2004b, 2005b, 2006b, 2007b, 2008b, 2009b, 2010b, 2011 (diolah).

Gambar 4.20 Rata-rata garis kemiskinan dan rata-rata persentase penduduk miskin menurut provinsi di Indonesia, periode tahun 2000-2011.

Hal ini terkait dengan harga barang-barang konsumsi dan tingkat pendapatan per kapita di masing-masing provinsi. Di Provinsi Bangka Belitung, DKI Jakarta dan Kepulauan Riau, meskipun tingkat harga relatif mahal (IHK umum 2009 ≈ 119) namun pendapatan per kapita masyarakat juga relatif tinggi

-30 -20 -10 0 10 20 30 -355 -255 -155 -55 45 145 245 P ap ua M alu ku N T B P ab ar N T T G oro nt alo N A D D IY La m pu ng B en gk ulu Ja te ng Ja tim S ult en g S um se l S ult ra S ulb ar Ja m bi K alb ar Ja ba r S um ut S uls el K alt im S um ba r R ia u M alu t S ulu t B an te n K ep ri B ab el K alt en g K als el B ali DKI (%) R p . 0 0 0

,-Garis Kemiskinan (GK) Tingkat Kemiskinan (TK) Rata-rata GK Nas Rata-rata TK Nasional

(26)

berkisar antara Rp..8.juta.–.Rp..34.juta (dengan indeks gini 2009 = 0,31). Sedangkan di Provinsi NTB dan NTT, meskipun harga barang-barang relatif murah (IHK umum 2009 ≈ 116), namun tingkat pendapatannya pun masih rendah sekitar Rp..2.juta.–.Rp..3,5.juta (dengan indeks gini 2009 = 0,39). Lain halnya dengan Provinsi Papua dan Papua Barat, meskipun pendapatan per kapita relatif tinggi, sekitar Rp..8.juta.–.Rp..9.juta (dengan indeks gini 2009 = 0,38), tetapi harga barang-barang disana tergolong mahal (IHK umum 2009 ≈ 130). Beberapa hal tersebut menjadi faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat kemiskinan di Provinsi Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur. Hal ini bisa menunjukkan adanya ketimpangan antarprovinsi dan juga perbedaan kondisi kemiskinan di Indonesia.

Menurut berita resmi statistik mengenai kemiskinan, komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. Selain beras, komoditi makanan lain yang berpengaruh besar terhadap garis kemiskinan adalah gula pasir, rokok kretek filter, minyak kelapa, telur, dan mie instant. Untuk komoditi bukan makanan, biaya perumahan dan pendidikan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap garis kemiskinan, baik di perdesaan maupun di perkotaan. Biaya untuk listrik, angkutan dan bahan bakar minyak mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk daerah perkotaan, sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil.

Sumber: BPS 2002b, 2003b, 2004b, 2005b, 2006b, 2007b, 2008b, 2009b, 2010b, 2011 (diolah).

Gambar 4.21 Statistik deskriptif persentase penduduk miskin Indonesia, 2000-2011. 4,96 3,75 34,88 22,81 18,25 11,74 7,97 5,22 0 5 10 15 20 25 30 35 40 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 (%)

(27)

Berdasarkan ukuran statistik deskriptif yang diperoleh, secara rata-rata persentase penduduk miskin Indonesia cenderung menurun selama tahun 2000-2011. Demikian juga dengan nilai standar deviasinya yang cenderung menurun, yang berarti terjadi penurunan persentase penduduk miskin di tingkat provinsi.

Gambar 4.22 memperlihatkan rata-rata tingkat kemiskinan masing-masing provinsi selama periode tahun 1999–2011. Dapat dilihat, terdapat sebanyak 15 provinsi dengan rata-rata tingkat kemiskinan berada di atas rata-rata tingkat kemiskinan nasional, yang tersebar di wilayah pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Sumber: BPS, diolah.

Gambar 4.22 Rata-rata persentase penduduk miskin menurut provinsi, periode tahun 1999–2011.

Jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode tahun 1999–2010 di masing-masing provinsi berfluktuasi dari tahun ke tahun, dengan kecenderungan menurun hingga tahun 2005. Sempat terjadi kenaikan persentase penduduk miskin pada tahun 2006, yang disebabkan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak yang memicu kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. Dampak kenaikan harga barang-barang ini lebih besar pengaruhnya terhadap kemiskinan di daerah perkotaan, seperti terjadi di Kalimantan Tengah, DKI Jakarta, Sulawesi Utara dan Kalimantan Selatan.

Selanjutnya, selama periode tahun 2006–2011, persentase penduduk miskin di masing-masing provinsi cenderung menurun. Provinsi yang mengalami tingkat penurunan terbesar selama periode tahun 1999–2011 adalah seluruh provinsi di

0 3 0 0 2 6 0 2 6 0 2 6 0 2 5 0 2 3 0 2 2 0 2 2 0 2 1 0 2 0 0 2 0 0 1 9 0 1 9 0 1 9 0 1 7 0 1 6 0 1 4 0 1 4 0 1 4 0 1 4 0 1 3 0 1 3 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 9 0 0 9 0 0 8 0 0 7 0 0 2 017 0 5 10 15 20 25 30 P A P U A M A LU K U N TB P A B A R N TT G O R O N TA LO DIY LA M P U N G B EN G K U LU JA TE N G JA TI M SU LT EN G SU M SE L N A D SU LT R A SU LB A R JA M B I K A LB A R JA B A R SU M U T SU LS EL K A LT IM SU M B A R R IA U M A LU T SU LU T B A N TE N K EP R I B A B EL K A LT IM K A LS EL B A LI D K I %

(28)

pulau Kalimantan dan Provinsi Jambi. Sedangkan Provinsi DKI Jakarta dan Kepulauan Riau, dimana tingkat kemiskinannya tergolong rendah, lambat dalam penurunan kemiskinan. Kemungkinan kemiskinan yang terdapat di provinsi tersebut tergolong dalam kemiskinan kronis. Sehingga perlu penanganan yang lebih komprehensif dalam jangka panjang dan konsisten untuk menanggulangi kemiskinan di provinsi-provinsi tersebut. Lain halnya dengan Provinsi Papua Barat, dimana tingkat kemiskinannya tinggi dan proses pengurangan kemiskinan masih lambat. Tantangan utama dalam pengentasan kemiskinan di Papua Barat antara lain, peluang ekonomi yang terbatas dan tingkat pendidikan yang rendah (UNDP 2005).

Gambar 4.23 memperlihatkan perubahan persentase penduduk miskin masing-masing provinsi selama tahun 1999–2011. Dari Gambar 4.22 dan Gambar 4.23, dapat dilihat bahwa Provinsi Sulawesi Barat dan Kalimantan Barat, meskipun memiliki rata-rata tingkat kemiskinan di bawah rata-rata nasional, masih dapat menurunkan tingkat kemiskinan di atas rata-rata pertumbuhan kemiskinan nasional. Selain itu, beberapa provinsi dengan rata-rata tingkat kemiskinan relatif tinggi, seperti Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Jawa Tengah dan NAD, juga mengalami penurunan tingkat kemiskinan diatas rata-rata perubahan kemiskinan nasional. Hal ini dimungkinkan karena keberhasilan program-program pengentasan kemiskinan di provinsi bersangkutan selama periode tersebut. Meskipun tingkat kemiskinan di provinsi tersebut sampai sekarang masih tergolong tinggi.

Provinsi NAD mengalami perubahan persentase penduduk miskin tertinggi. Hal ini dapat dikaitkan dengan rehabilitasi yang dilakukan pasca bencana tsunami dan gempa bumi yang menimpa masyarakat Aceh pada tahun 2004, yang sebelumnya juga telah mengalami penderitaan sebagai dampak dari konflik yang berkepanjangan selama 30 tahun. Bencana dan konflik telah menyebabkan terganggunya program pengentasan kemiskinan pasca krisis ekonomi (Bank Dunia 2008). Sedangkan Provinsi DKI Jakarta dan Kepulauan Riau, penurunan kemiskinan yang kecil karena tingkat kemiskinannya rendah.

(29)

Sumber: BPS, diolah.

Gambar 4.23 Rata-rata perubahan persentase penduduk miskin menurut provinsi, tahun 1999–2011.

Kondisi berbagai daerah di Indonesia baik dari aspek geografis, sosial budaya, ekonomi serta infrastruktur dasar sangat mempengaruhi karakteristik kemiskinan suatu wilayah. Kondisi geografis sangat mempengaruhi perilaku penduduk. Penduduk yang tinggal di daerah terpencil dan terisolasi akan mengalami kesulitan untuk mengakses layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan. Sehingga, kualitas sumber daya manusia dan produktivitas mereka di daerah terpencil akan rendah. Produktivitas yang rendah akan berkaitan dengan pendapatan yang mereka terima sehingga mereka akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup secara layak dan kemiskinan akan sulit untuk diturunkan. Faktor lain yang menjadi penghambat pengentasan kemiskinan adalah keterbatasan kapasitas individu. Pada konteks tersebut, maka strategi penanggulangan kemiskinan yang ditempuh tidak dapat bersifat seragam, karena masalah dan tantangan kemiskinan yang dimiliki oleh suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya. (001) -002 -002 -001 -001 000 N A D Su lB ar Ja Ti m N TB P ap B ar Su lT en g Su lT ra G o ro n P ap u a K al B ar Ja Te n g B en g Su m Se l N TB M al u ku K al Ti m La m p B aB el K al Te n g Su m U t M al U t R ia u Su lS el Su m B ar Su lU t Ja B ar K ep R i D IY Ja m b i B an te n K al Se l B al i D K I %

Gambar

Gambar 4.1  Box  plot  angka  melek  huruf  penduduk  usia  15  tahun  ke  atas  menurut kawasan di Indonesia, tahun 2006-2010
Gambar 4.2  Rata-rata  angka  melek  huruf  penduduk  usia  15  tahun ke  atas  dan tren perubahannya menurut provinsi di Indonesia, periode  tahun 2006–2010
Gambar 4.3  Box  plot  angka  partisipasi  sekolah  penduduk  usia  7–24  tahun  menurut kawasan di Indonesia, tahun 2006-2010
Gambar 4.4  Rata-rata angka partisipasi sekolah penduduk usia 7–24 tahun  dan  trend  perubahan  menurut  provinsi  di  Indonesia,  periode  tahun 2006–2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

~ Penghitungan frekuensi alel-alel pada dua atau lebih lokus ketika setiap Penghitungan frekuensi alel-alel pada dua atau lebih lokus ketika setiap Penghitungan frekuensi alel-alel

Tujuan Tugas Akhir ini adalah memperoleh pengalaman nyata di bidang pertanian secara luas, menambah wawasan dan keterampilan kerja, meningkatkan kompetensi

Dalam memenuhi kebutuhan hunian yang layak, Ditjen Cipta Karya turut serta. dalam pembangunan Rusunawa yang dilakukan berdasarkan UU

Berdasarkan Berita Acara Hasil Pelelangan Nomor : 12/DISPORA/PIL.BAHP/I.1 tanggal 3 MARET 2012 dan lampiran-lampirannya dan PENETAPAN PEMENANG Nomor:

The value of water rent is the amount of water contribution in rice farming in Buahdua Village and can also be used to determine water fees or irrigation cost

Based on the background above, the research carried out in vitro propagation Jabon by trying to do a combination of various concentration of Benzyl Amino

Kumpulan data statistik yang telah dianalisis dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi atau tabel distribusi frekuensi kumulatif dapat pula kita sajikan dalam

Surat ijin keluar, Rincian biaya perkara yang telah diputus Pemegang Kas Petugas Meja 1 Sistem Informasi Eksekutif Keuangan SKUM ttd, surat gugatan telah dibubuh nomor &