BAB II
LANDASAN TEORI
Di dalam bab II akan membahas tentang teori-teori yang berhubungan dengan penelitian yang dipetakan ke dalam sub-sub bab yaitu; (1) Keterampilan mengajar, (2) Pembelajaran tematik, (3) Supervisi akademik, (4) Observasi kelas. 5) Tinjauan hasil penelitian yang relevan, 6) Kerangka berpikir, 7) Hipotesis tindakan. Berikut uraian selengkapnya∶
2.1 Keterampilan Mengajar
Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, keterampilan merupakan “kecakapan untuk menyelesaikan tugas”, sedangkan mengajar adalah “melatih”. DeQueliy dan Gazali (Slameto,2010; 30) mendefinisikan mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat. Keterampilan mengajar adalah merupakan sejumlah kompetensi guru yang menampilkan kinerja seorang guru yang profesional. Keterampilan juga merupakan bagaimana seorang guru memperlihatkan perilakunya selama melakukan proses belajar mengajar. Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru menurut Suprayekti yang dikutip oleh Kunandar (2012) di bagi dalam 7 keterampilan, yaitu: (1) Keterampilan
menciptakan suasana yang menjadikan siswa siap mental sekaligus menimbulkan perhatian siswa terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. (2) Keterampilan menutup pelajaran, yaitu kegiatan guru untuk mengakhiri proses belajar mengajar. (3) Keterampilan menjelaskan, yaitu usaha penyajian materi pembelajaran yang diorganisasikan secara sistematis. (4) Keterampilan mengelola kelas, yaitu kegiatan guru untuk menciptakan siklus belajar yang kondusif. (5) Keterampilan bertanya, yaitu usaha guru untuk mengoptimalkan kemampuan menjelaskan melalui pemberian pertanyaan kepada siswa. (6) Keterampilan memberikan penguatan, yaitu suatu respon positif yang diberikan guru kepada siswa yang melakukan perbuatan baik atau kurang baik. (7) Keterampilan memberi variasi, yaitu usaha guru untukmenghilangkan kebosanan siswa dalam menerima pelajaran melalui variasi gaya mengajar, penggunaan media, pola interaksi kegiatan siswa, dan komunikasi non verbal (suara, mimik, kontak mata, dan semangat.
Menurut Turney (Uzer Usman, 2010; 74) mengemukakan ada 8 (delapan) keterampilan mengajar yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelaajrannya, diantaranya;
1. Keterampilan bertanya
2. Keterampilan memberikan penguatan 3. Keterampilan mengadakan variasi 4. Keterampilan menjelaskan
5. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran 6. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
7. Keterampilan mengelola kelas
8. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.
Berdasarkan pengertian tersebut maka yang dimaksud dengan keterampilan mengajar guru adalah seperangkat kecakapan guru dalam membimbing aktivitas dan pengalaman seseorang serta membantunya berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan. Jadi, persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru adalah penilaian berupa tanggapa siswa terhadap kecakapan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar. Keterampilan mengajar sangat penting dimiliki oleh seorang guru sebab guru memegang peranan penting dalam dunia pendidikan.
Setelah melihat beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan keterampilan mengajar guru adalah seperangkat kecakapan guru dalam membimbing aktivitas dan pengalaman seseorang serta membantunya berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan.
2.2
Pembelajaran Tematik
Dalam Kurikulum 2006 pembelajaran tematik dinyatakan sebagai pemaduan materi pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, proses pembelajarannya mengintegrasi kan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu topik pembelajaran atau tema. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (2006: 35)
yang harus dilakukan pada siswa Sekolah Dasar (SD) terutama kelas rendah (kelas 3). Penetapan pembelajaran tematik di SD kelas rendah, pada umumnya berada pada tingkat perkembangan yang masih melihat segala sesuatunya secara holistik (keutuhan), serta baru memahami konsep secara sederhana. Pendapat Hernawan (2007∶ 39) Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik. Sedangkan Srihendrawati (2010∶ 17) Pembelajaran tematik pada dasarnya menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu, pengalaman belajar disajikan pada peserta didik, hendaknya mengakomodasi setiap kekhususan dari mata pelajaran yang dikaitkan tersebut, sehingga walaupun model pembelajarannya tematik namun esensi dari mata pelajaran tetap disampaikan. Selanjunya Menurut Akbar (2010∶ 26) pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema tertentu, dalam pelaksanaannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran.
Dari beberapa pendapat tentang definisi pembelajaran tematik adalah model pembelajaran yang mengacu pada tema sebagai gagasan utama dengan mengaitkan beberapa mata pelajaran di kelas awal sekolah dasar sebagai pedoman pokok untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Menurut Kovalik dalam Suryanti (2010∶ 37) tema yang dipilih
hendaknya menyediakan struktur jalan pijakan ke konsep-konsep yang penting yang membantu siswa melihat pola dan membuat hubungan-hubungan diantara fakta-fakta dan ide-ide yang berbeda. Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, diantaranya: (1) siswa mudah memusatkan perhatian pada tema tertentu, (2) siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama, (3) pemahaman materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan, (4) kompetensi dasar dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa, (5) siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas, (6) siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran dan sekaligus mempelajari mata pelajaran lain, (7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remidial, pemantapan, dan pengayaan. 2.1.1 Karakteristik Pembelajaran Tematik
Karakteristik dari pembelajaran tematik menurut TIM Pengembang PGSD (1997∶ 3-4) adalah;
1) Holistik
Suatu gejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi.
2) Bermakna
Pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek sehingga memungkinkanterbentuknya semacam jalinan antar schermata yang dimiliki oelh siswa yang pada gilirannya nanti akan memberikan dampak kebermaknaan materi yang dipelajari
3) Otentik
Pembelajaran tematik memungkinkan siswa memahami secara langsung konsep dari prinsio yang ingin dipelajari.
4) Aktif
Pembelajaran tematik pada dasarnya dikembangkan dengan berdasarkan kepada pendekatan diskoveri inkuiri. Siswa perlku terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, muali dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasi.
Menurut Barbar Rohde dalam Suryanti (2010∶ 41) ada 7 (tujuh) karakteristik pembelajaran tematik, antara lain: (a) tema memberikan pengalaman langsung dengan obyek-obyek yang nyata bagi anak untuk memanipulasi, (b) tema menciptakan kegiatan yang memungkinkan anak untuk menggunakan pemikir annya, (c) membangun sekitar minat-minat umum anak, (d) menyediakan kegiatan dan kebiasaan yang menghubungkan semua
aspek perkembangan kognitif, sosial, emosi, dan fisik, kemandirian, dan harga diri yang positif, (e) mengakomodasi kebutuhan anak-anak untuk bergerak dan melakukan kegiatan fisik, interaksi sosial, kemandirian, dan pengalaman di keluarga yang dibawa anak-anak ke kelasnya, dan (f) menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga anak.
Jumanto Hamdayana (2014∶ 2-3) bahwa karakter pembelajaran terpadu, di antaranya seperti berikut∶ a) Pembelajaran terpadu berpusat pada siswa, b) Pembelajaran terpadu dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa, c) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, d) Menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran, e) Bersifat luwes (fleksibel), f) Hasil pembelajaran dapat sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa atau peserta didik.
Dari beberapa pendapat tentang karakteristik pembelajaran tematik adalah berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran , bersifat fleksibel, hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, dan prinsip belajar sambil bermain.
2.2 Supervisi Akademik
2.2.1 Pengertian
Supervisi merupakan usaha memberikan layanan dan bantuan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran, maka tujuan supervise adalah memberikan layanan dan batuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas (Sahertian, 2010: 19). Menurut Glickman dan Sergiovanni yang dikutip oleh Priansa dan Somad (2014: 106) supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru pada waktu melaksanakan pembelajaran dikelas, guru menguasai pengelolaan kelas yang sedang diampu. Guru dapat mengetahui karakter setiap peserta didik, sehingga guru dapat memberikan pelayanan kepada peserta didik secara individu maupun kelompok. Guru dapat mengetahui hasil evaluasi belajar peserta didik, guna menentukan program remedial dan pengayaan. Guru dapat mengintrospeksi diri kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran yang sedang dilaksanakan, guna perbaikan pembelajaran yang akan datang. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru dalam mengelola proses pembelajaran, dan membantu guru untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya.
Menurut Asmani (2012: 19) supervisi akademik adalah usaha pejabat sekolah dalam memimpin guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk memperbaiki pengajaran, termasuk dalam menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan dan perkembangan jabatan guru, menyeleksi dan merevisi tujuan pendidikan, bahan pengajaran, dan metode mengajar, serta mengevaluasi pembelajaran. Supervisi pembelajaran/ akademik adalah serangkaian kegiatan membentu guru untuk mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran (Mukhtar dan Iskandar, 2013: 55). Tiga pokok supervisi pembelajaran/akademik yaitu: (1) Supervisi pembelajaran secara langsung mempengaruhi dan mengembangkan perilaku guru dalam proses pembelajaran; (2) Perilaku supervisor dalam membantu guru mengembang kan kemampuaannya harus didesain secara ofisial, jelas kapan mulai dan mengakhiri program pengembangan tersebut; (3) Tujuan akhir supervisi pembelajaran agar guru semakin mampu menfasilitasi proses pembelajaran bagi para siswanya.
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi akademik adalah bantuan dari supervisor baik pengawas sekolah maupun kepala sekolah kepada guru baik individu maupun kelompok agar dapat mengelola pembelajaran dengan baik untuk mencapai mencapai tujuan yang diinginkan.
supervisi ialah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar di kelas yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Bukan saja memperbaiki kemampuan mengajar tetapi juga untuk mengembangkan potensi kualitas guru.
2.2.2 Fungsi Supervisi Akademik
Fungsi supervisi akademik yaitu dapat membantu guru dalam memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, memahami kebutuhan siswa, mendorong terjadinya perubahan kearah yang lebih baik, sehingga mutu pendidikan dapat meningkat (Mukhtar & Iskandar, 2013: 48). Fungsi utama supervisi adalah perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran serta pembinaan kepada guru untuk perbaikan pembelajaran. Supervisi bertujuan mengembangkan situasi kegiatan pembelajaran yang lebih baik bertujuan pada pencapaian tujuan pendidikan sekolah, membimbing pengalaman mengajar guru menggunakan alat pembelajaran yang modern, dan membantu guru dalam menilai kemajuan peserta didik. Upaya peningkatan mutu pembelajaran dan profesional guru dapat melalui supervisi pembelajaran/akademik. Pelaksanaan supervisi akademik dilakukan secara sistematis oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah yang bertujuan memberikan pencerahan, pembinaan, pemberdayaan, inovasi, kepada guru agar dapat melaksanakan tugas secara efektif dan efisien.
Pengembangan kemampuan dalam konteks ini janganlah ditafsirkan secara sempit, semata-mata
ditekankan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar guru, melainkan juga pada peningkatan komitmen (commitment) atau kemauan (willingness) atau motivasi (motivation) guru, sebab dengan meningkatkan kemampuan dan motivasi kerja guru, kualitas dan hasil pembelajaran akan meningkat. Dalam Supervisi akademik memiliki beberapa fungsi diantaranya yaitu:
1) Perencanaan
Perencanaan pada dasarnya menentukan kegiatan yang akan laksanakan pada waktu yang akan datang. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Perencanaan merupakan tindakan menetapkan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, apa yang harus dikerjakan dan siapa yang mengerjakannya (Fattah, 2008: 49). Perencanaan merupakan prinsip manajemen yang utama dan karena itu setiap pelaksanaan program harus diawali dengan perencanaan program yang baik (sistematis, sistemik, dan obyektif) (Soegito, 2013: 57).
Fungsi perencanaan (Sa’ud, 2011: 5) antara lain: (a) Sebagai pedoman pelaksanaan dan pengendalian; (b) Menghindari pemborosan sumberdaya; (c) Alat bagi pengembangan quality
Dari beberapa pendapat, disimpulkan bahwa perencanaan merupakan suatu pedoman pelaksanaan dan pengendalian untuk menetapkan kegiatan yang akan dilakukan diwaktu mendatang. 2) Pelaksanaan
Pelaksanaan disebut juga gerakan aksi mencakup kegiatan yang dilakukan seseorang manajer untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar tujuan-tujuan dapat tercapai (Terry, 2009: 17). Peneliti mengamati pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan oleh Kepala sekolah terhadap guru, untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian.
Pelaksanaan supervisi akademik dilakukan oleh Kepala sekolah sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Dengan berbekal instrumen supervisi akademik, Kepala sekolah melaksanakan supervisi kelas, dan supervisi guru mata pelajaran. Dalam melaksanakan supervisi akademik Kepala sekolah sekolah masuk dalam kelas mengobservasi kegiatan guru dalam pembelajaran. Guru diamati sejak dari membuka pembelajaran, apersepsi, motivasi terhadap peserta didik, guru mengadakan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, pengelolaan kelas, memilih metode pembelajaran, melaksanakan penilaian terhadap peserta didik, melaksanakan
penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan terhadap peserta didik, mengadakan analisis nilai untuk menentukan remedi dan pengayaan pembelajaran. Kadang kala supervisi akademik dilaksanakan diluar kelas sesuai dengan guru mata pelajaran yang melaksanakan pembelajaran diluar kelas. Supervisi akademik diselenggarakan dengan maksud untuk memonitor kegiatan pembelajaran di sekolah. Kegiatan memonitor ini bisa dilakukan melalui kunjungan kepala sekolah ke kelas-kelas pada saat guru sedang mengajar, percakapan pribadi dengan guru, teman sejawatnya, maupun dengan sebagian murid-murid. Supervisi akademik diselenggarakan untuk mendorong guru menerapkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas mengajarnya, mendorong guru mengembangkan kemampuannya. Pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan guru secara sistematis yang dimulai dari merencanakan aktivitas pembelajaran, menyiapkan sarana pendukung, mengatur aktivitas anak, menata ruang kelas, serta membangun iklim kelas yang kondusif bagi pembelajaran anak secara efektif (Kusdaryani, 2009: 259).
Dari beberapa pendapat, disimpulkan pelaksanaan supervisi akademik merupakan kegiatan akademik yang diselenggarakan untuk
mendorong guru untuk mengembagkan kemampuannya.
3) Tindak lanjut
Hasil supervisi perlu ditindaklanjuti agar memberikan dampak yang nyata untuk meningkatkan profesionalisme guru. Tindak lanjut berupa penguatan dan penghargaan, teguran yang bersifat mendidik dan kesempatan untuk mengikuti pelatihan atau penataran lebih lanjut (Priansa & Somad, 2014: 117). Peneliti merefleksi hasil supervisi akademik terhadap guru kelas 3 SD Negeri Serangan 1 Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak.
Supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik. Titik tekan supervisi akademik yang demokratis adalah aktif dan kooperatif. Supervisor harus melibatkan secara aktif guru yang dibinanya. Tanggung jawab perbaikan program akademik bukan hanya pada supervisor melainkan juga pada guru. Oleh sebab itu supervisi akademik sebaiknya dikembangkan dan dilaksanakan bersama secara kooperatif terhadap pihak lain yang terkait di bawah koordinasi supervisor (Mukhtar & Iskandar, 2013: 59).
Dari beberapa pendapat, disimpulkan bahwa tindak lanjut supervisi akademik memberikan dampak yang nyata untuk meningkatkan profesionalisme guru.
2.4 Observasi Kelas
Observasi kelas dilakukan bersamaan dengan kunjungan kelas adalah suatu kegiatan yang dilakukan supervisor untuk mengamati guru yang sedang mengajar di suatu kelas (Syaiful Sagala, 2010∶ 188). Tujuan observasi kelas ingin memperoleh data dan informasi secara langsung mengenai segala sesuatu yang terjadi saat proses belajar mengajar berlangsung. Data dan informasi ini digunakan sebagai dasar bagi supervisor untuk melakukan terhadap guru yang diobservasinya. Selama berada di kelas, supervisor melakukan pengamatan yang teliti, dengan menggunakan instrument tertentu, terhadap suasana kelas yang diciptakan dan dikembangkan oleh guru pada waktu pelajaran berlangsung dengan tujuan untuk memperoleh data yang riil dan obyektif.
Menurut Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan (2014∶ 6) bahwa observasi kelas adalah mengamati proses pembelajaran secara teliti di kelas. Tujuannya adalah untuk memperoleh data obyektifitas aspek-aspek situasi pembelajaran, kesulitan-kesulitan guru dalam usaha memperbaiki pembelajaran. Secara umum, aspek-aspek yang diobservasi adalah usaha-usaha dan aktivitas guru-peserta didik dalam proses pembelajaran, cara menggunakan media pengajaran, variasi metode, ketepatan menggunakan media dengan materi, dan reaksi mental para peserta didik dalam proses
tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, penutupan, penilaian hasil observasi dan tindak lanjut.
Sedangkan menurut Pidarta (2009; 88). Tujuan teknik observasi kelas yaitu∶ (1) Untuk mengetahui secara keseluruhan cara-cara guru mendidik dan mengajar, termasuk pribadi dan gaya mengajarnya. (2) Untuk mengetahui respon kelas atau para siswa.
Dari beberapa pendapat, disimpulkan bahwa observasi kelas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran dikelas secara langsung dapat memperoleh data dan informasi aspek-aspek situasi pembelajaran.
2.5 Tinjauan Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian Sa’adah (2014) yang berjudul “Peningkatan Kompetensi Guru Melakukan Penilaian Proses Pembelajaran Melalui Supervisi Akademik”, menunjukkan bahwa supervisi akademik dapat meningkatkan kinerja guru pada aspek penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan meningkatkan motivasi guru pada aspek pelaksanaan pembelajaran di SD Negeri Klampok 06 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes Jawa Tengah.
Selanjutnya penelitian oleh Sopiyah Ginawati (2014) dengan judul “Supervisi Akademik Berbasis Open
Class Dalam Pembelajaran Tematik Terpadu” menunjukkan hasil bahwa kemampuan Guru Kelas I-IV dalam Menerapkan Pendekatan Tematik Terpadu dalam proses pembelajaran dapat ditingkatkan”
Pramita Surya Hasanah. 2014. Pelaksanaan Supervisi Observasi Kelas oleh Kepala Sekolah untuk meningkatkan Kinerja Guru di SMK Negeri 2 Surabaya. Hasil Penelitian (1) Pelaksanaan supervise dilakukan secara terjadwal selama dua kali selama satu semester melalui teknik observasi kelas dengan mempersiapkan lembar observasi penilaian serta menghimbau guru untuk mempersiapkan perangkat mengajar; (2) Persepsi guru terhadap terhadap pelaksanaan supervise oleh kepala sekolah mendapat tanggapan yang positif; (3) Hambatan yang dialami kepala sekolah ini diperoleh dari guru dan dari kepala sekolah sendiri yaitu guru masih belum siap untuk disupervisi dan jadwal kepala sekolah yang padat.
Journal Effectiveness of the blended Supervision model; a case study of student teachers learning to teach in High schools of Zimbabwe oleh Mutandwa Muropa and
Gadzirayi (2007∶ 11) menjelaskan bahwa model supervisi merupakan upaya mengkolaborasikan atau mencampur kan model tutorial guru dan murid dalam pembelajaran. Metode ini banyak memfokuskan pada aktivitas diskusi. Perbedaannya terletak pada subyek yang melakukan supervisi, yaitu apabila dalam penelitian terdahulu yang melakukan supervisi adalah kepala sekolah terhadap guru. Persamaannya adalah penggunaan metode kualitatif dan pembahasan metode supervisi dengan cara hubungan kerja sama atau diskusi.
Northern Sydney Institut menyatakan bahwa kepala
sekolah harus mempunyai strategi dalam memanajemen guru. Kepala sekolah merupakan kunci utama dalam pengelolaan tersebut. Banyak kegiatan guru yang dipengaruhi oleh supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah. Kegiatan supervise ini untuk meningkatkan kinerja guru dalam pendidikan. Supervisi ini mampu mempengaruhi kinerja guru secara berkelanjutan. Dengan demikian apabila factor semangat guru sudah termotivasi denganbaik maka semua yang berkaitan dengan tugas guru akan menghasilkan produk yang optimal.
Selanjutnya penelitian oleh Suyadi. 2015. Supervisi melalui Teknik Observasi Kelas untuk Peningkatan Kemampuan Guru Merancang Perangkat Pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri Mijen 1 Kebonagung Demak, menunjukkan bahwa (1) Pelaksanaan supervisi dilakukan secara terjadwal selama dua kali selama satu semester melalui teknik observasi kelas dengan mempersiapkan lembar observasi penilaian serta menghimbau guru untuk mempersiapkan perangkat mengajar; (2) Persepsi guru terhadap terhadap pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah mendapat tanggapan yang positif; (3) Hambatan yang dialami kepala sekolah ini diperoleh dari guru dan dari kepala sekolah sendiri yaitu guru masih belum siap untuk disupervisi dan jadwal kepala sekolah yang padat.
Dari beberapa penelitian diatas, mempunyai persamaan yaitu fungsi utama supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah dapat meningkatkan
kinerja guru. Dapat memotivasi semangat guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga akan menghasilkan produk yang berkualitas.
Melihat hasil penelitian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian sejenis yaitu dengan judul “Peningkatan Keterampilan Guru Kelas 3 dalam Pembelajaran Tematik Melalui Supervisi Akademik Observasi Kelas di SD Negeri Serangan I UPTD Dikpora Kecamatan Bonang Kabupaten Demak”.
2.6 Kerangka Berpikir
Kerangaka berpikir merupakan alur penalaran yang didasarkan pada masalah penelitian yang digambarkan dengan skema secara holistik dan sistematik. Salah satu yang menentukan keberhasilan pendidikan di sekolah adalah kinerja guru. Semakin tinggi kinerja guru semakin berkualitas pendidikan di sekolah.
Berikut gambar kerangka berpikir penelitian ini∶
KONDISI AWAL TINDAKAN KEPSEK BELUM MELAKUKAN SUPERVISI SCR MENGGUNAKAN SUPERVISI AKADEMIK KETERAMPILAN GR DLM PBM BLM BAIK SIKLUS I SUPERVISI KLASIKAL SIKLUS II SUPERVISI INDIVIDU
2.7 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah: Penerapan supervisi akademik observasi kelas dapat meningkatkan keterampilan guru kelas 3 SD Negeri Serangan 1 UPTD Dikpora Kecamatan Bonang Kabupaten Demak dalam pembelajaran tematik.