• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUPATI KUTAI BARAT PERATURAN BUPATI KUTAI BARAT NOMOR 90 TAHUN 2011 TENTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUPATI KUTAI BARAT PERATURAN BUPATI KUTAI BARAT NOMOR 90 TAHUN 2011 TENTANG"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BUPATI KUTAI BARAT

PERATURAN BUPATI KUTAI BARAT

NOMOR 90 TAHUN 2011 TENTANG

STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PEMBERIAN IJIN USAHA PERTAMBANGAN DALAM WILAYAH KABUPATEN KUTAI BARAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI KUTAI BARAT

Menimbang : a. bahwa mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan Kabupaten Kutai Barat merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian daerah dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan;

b. bahwa kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang merupakan kegiatan usaha pertambangan yang mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi daerah dan pembangunan daerah secara berkelanjutan;

c. bahwa untuk tertib administrasi pemberian Ijin Usha Pertambangan serta untuk menjamin kepastian Hukum perlu segera terbitkan Standar Operasional dan Prosedur Pemberian Ijin Usaha Pertambangan;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Peraturan Bupati tentang Standar Operasional dan Prosedur pemberian Ijin Usaha Pertambangan dalam wilayah Kabupaten Kutai Barat.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888); 2. Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pembentukan

Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3962);

3. Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

(2)

2

4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

5. Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724); 6. Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 7. Undang-Undang Nomor 30 tahun 2007 tentang Energi (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746);

8. Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756); 9. Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan

Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);

10. Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5058);

11. Undang - Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang - Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5110);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5111);

16. Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Barat Nomor 03 Tahun 2008 Tentang Urusan Pemerintah Yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Kutai Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Kutai Barat Tahun 2008 Nomor 03);

17. Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Barat Nomor 05 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Kutai Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Kutai Barat

(3)

3

Tahun 2008 Nomor 05, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Kutai Barat Nomor 130).

BUPATI KUTAI BARAT MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN BUPATI KUTAI BARAT TENTANG STANDAR OPERASIONAL

DAN PROSEDUR PEMBERIAN IJIN USAHA PERTAMBANGAN DALAM WILAYAH KABUPATEN KUTAI BARAT.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Daerah Otonomi Kabupaten Kutai Barat;

2. Pemerintah Daerah Kabupaten yang selanjutnya disebut Pemerintah Kabupaten adalah unsur penyelenggara pemerintahan daerah Kabupaten yang terdiri atas Bupati dan Perangkat Daerah Kabupaten;

3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disebut DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah;

4. Pemerintahan Kabupaten adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing;

5. Kepala Daerah adalah Bupati Kabupaten Kutai Barat;

6. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Barat;

7. Dinas Pertambangan dan Energi adalah Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Barat;

8. Kas Daerah adalah Kas Daerah Pemerintah Kabupaten Kutai Barat; 9. Peraturan Bupati adalah Peraturan Bupati Kutai Barat;

10. Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengolahan dan pengusahaan mineral dan batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang;

11. Mineral adalah senyawa organik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan Kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu;

12. Batubara adalah endapan senyawa organik karbonat yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan;

13. Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau batuan, di luar panas bumi, minyak dan gas bumi, serta air tanah;

14. Pertambangan Batubara adalah pertambangan endapan karbon yang terdapat di dalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal;

15. Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta pasca tambang;

16. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan

(4)

4

sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup;

17. Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan;

18. IUP Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan;

19. IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan IUP Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi;

20. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut IPR, adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas wilayah dan investasi terbatas;

21. Izin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut dengan IUPK, adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan khusus; 22. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi

geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi;

23. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan serta perencanaan pascatambang;

24. Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan dan penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan;

25. Konstruksi adalah kegiatan usaha pertambangan untuk melakukan pembangunan seluruh fasilitas operasi produksi, termasuk pengendalian dampak lingkungan;

26. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya;

27. Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan untuk meningkatkan mutu mineral dan/atau batubara serta untuk memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutan;

28. Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan mineral dan/atau batubara dari daerah tambang dan atau tempat pengolahan dan pemurnian sampai tempat penyerahan;

29. Penjualan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk menjual hasil pertambangan mineral atau batubara;

30. Badan Usaha adalah setiap badan hukum yang bergerak di bidang pertambangan yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

31. Jasa Pertambangan adalah jasa penunjang yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertambangan;

32. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang selanjutnya disebut amdal, adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan;

33. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya;

34. Kegiatan pasca tambang, yang selanjutnya disebut pascatambang, adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan;

(5)

5

35. Pemberdayaan Masyarakat adalah usaha untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, baik secara individual maupun kolektif, agar menjadi lebih baik tingkat kehidupannya; 36. Wilayah Pertambangan, yang selanjutnya disebut WP, adalah wilayah yang memiliki

potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional;

37. Wilayah Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WUP, adalah bagian dari WP yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi;

38. Wilayah Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WIUP, adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUP;

39. Wilayah Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut WPR, adalah bagian dari WP tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat;

40. Wilayah Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut WUPK, adalah bagian dari WPN yang dapat diusahakan;

41. Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus dalam WUPK yang selanjutnya disebut WIUPK, adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus;

42. Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

43. Pemerintah daerah adalah gubernur, Bupati atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah;

44. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertambangan mineral dan batubara.

45. Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral dan batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang;

46. Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu;

47. Batubara adalah endapan senyawa organic karbonan yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan, termasuk di dalamnya jenis steam (thermal) coal dan coking (metallurgical) coal;

48. Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau batuan, diluar panas bumi, minyak dan gas bumi, serta air tanah;

49. Pertambangan Batubara adalah pertambangan endapan karbon yang terdapat di dalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal;

50. Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta pascatambang;

51. Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan;

52. WIUP adalah wilayah atau bagian dari WUP yang merupakan area usaha pertambangan yang akan diterbitkan izin usaha pertambangan (IUP) atau yang sudah mendapatkan ijin sebelum undang-undang minerba diberlakukan;

53. IUP Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan;

54. IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan IUP Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi;

(6)

6

55. WIUP Eksplorasi adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUP Eksplorasi; 56. WIUP OPERASI Produksi adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUP Operasi

Produksi;

57. Izin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut IUPK, adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan khusus;

58. Wilayah Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut WUPK, adalah bagian dari WPN yang dapat diusahakan;

59. IUPK Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan di wilayah izin usaha pertambangan khusus;

60. IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan IUPK Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi di wilayah izin usaha pertambangan khusus;

61. WIUPK Eksplorasi adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUPK Eksplorasi; 62. WIUPK Produksi adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUPK Operasi

Produksi;

63. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya IPR, adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas wilayah dan investasi terbatas;

64. Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan dan penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan;

65. Afiliasi adalah badan usaha yang mempunyai kepemilikan saham langsung dengan pemegang IUP atau IUPK;

66. Peningkatan Nilai Tambah adalah kegiatan pengolahan mineral dan batubara untuk mempertinggi harga mineral dan batubara yang bersangkutan sehingga dapat memberikan pendapatan yang lebih tinggi bagi Negara dan meningkatkan kegiatan perekonomian;

67. Steam (Thermal) coal adalah batubara yang digunakan sebagai bahan bakar pada pembangkit listrik dan mesin uap pada industri, umumnya mempunyai nilai kalor lebih rendah dan mempunyai abu terbang lebih tinggi disbanding coking (metallurgical) coal; 68. Coking (metallurgical) coal adalah batubara yang digunakan pada industri metalurgi

sebagai pereduksi pada proses pembuatan besi dan baja;

69. Harga Patokan mineral adalah harga mineral yang ditetapkan oleh Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya sebagai patokan penentuan Harga Mineral yang diproduksi oleh Pemegang IUP dan IUPK Mineral;

70. Harga patokan Batubara adalah harga batubara yang ditetapkan Menteri c.q. Direktur Jenderal sebagai patokan penentuan harga Batubara yang diproduksikan oleh Pemegang IUP dan IUPK Batubara;

71. Harga Mineral adalah harga mineral yang disepakati antara penjual dan pembeli mineral pada suatu saat tertentu;

72. Harga Batubara adalah harga batubara yang disepakati antara penjual dan pembeli batubara pada saat tertentu;

73. Biaya Penyesuai Mineral adalah biaya penambah atau pengurang terhadap harga Patokan Mineral karena titik penjualan mineral tidak pada titik acuan yang ditetapkan; 74. Biaya Penyesuai Batubara adalah biaya penambah atau pengurang terhadap Harga

Patokan batubara karena titik penjualan batubara tidak pada titik Free on Board di atas kapal pengangkut (vessel) batubara;

(7)

7

76. Penjualan Jangka Tertentu (term) adalah penjualan batubara untuk jangka waktu 12 bulan lebih;

77. Batubara Jenis Tertentu adalah batubara dengan dan pemakaian tertentu, antara lain : fine, coal, own used coal, batubara dengan impunties tertentu; batubara dengan kalori sangat rendah; dan batubara untuk pengembangan daerah tertinggal;

78. Badan Usaha adalah setiap badan hukum yang bergerak di bidang pertambangan yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

79. Penanaman Modal Dalam Negeri adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanaman modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri;

80. Penanaman Modal Asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri;

81. Modal asing adalah modal yang dimiliki oleh Negara Asing, perseorangan warga negara asing, badan usaha asing, badan hukum asing, dan/atau seluruh modalnya dimiliki oleh pihak asing;

82. Modal dalam negeri adalah modal yang dimiliki oleh negara Republik Indonesia, perseorangan warga negara Indonesia, atau badan usaha yang berbentuk badan hukum atau tidak berbadan hukum;

83. Divestasi saham adalah jumlah saham asing yang harus ditawarkan untuk dijual kepada Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), atau Badan Usaha Swasta Nasional;

84. Perseroan adalah Perseroan Terbatas sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal;

85. Pusat Kegiatan adalah bagian Wilayah Usaha Pertambangan yang memiliki potensi untuk ditambang dan areal yang digunakan untuk sarana dan prasarana pendukung kegiatan eksplorasi dan operasi produksi pertambangan.;

86. Masyarakat adalah masyarakat yang berada di wilayah Kabupaten yang sama dengan WIUP dan/atau yang berada di sekitar WIUP;

87. Pengembangan dan Pemberdayaan masyarakat adalah usaha untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, baik secara individual maupun kolektif, agar menjadi lebih baik tingkat kehidupannya;

88. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertambangan mineral dan batubara;

89. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan gerekan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.

Pasal 2

(1) Pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara ditujukan untuk melaksanakan kebijakan mengutamakan penggunaan mineral dan/ atau batubara untuk kepentingan daerah;

(2) Pertambangan mineral dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokan ke dalam 5 (lima) golongan komoditas tambang :

a. mineral radioaktif meliputi radium, thorium, uranium, monasit dan bahan galian radioaktif lainnya;

b. mineral logam meliputi litium, berilium, maknesium, kalium, kalsium, emas, tembaga, perak, timbal, seng, timah, nikel, mangaan, platina, bismuth, molibdenum, bauksit, air raksa, wolfram, titanuium, barit, vanadium, kromit, antimoni, kobalt, tantalum,

(8)

8

cadmium, galium, indium, yitrium, magnetit, besi, galena, alumina, niobium, zirkonium, ilmenit, khrom, erbium, yttbium, dysprosium, thorium, cesium, lanthanum, niobium, neodimium, hafnium, scandium, aluminium, palladium, rhodium, osmonium, ruthenium, iridium, selenium, tulluride, stronium, garmanium, dan zenotin;

c. mineral bukan logam meliputi, intan, korondum, grafit, arsen, pasir kuarsa, fluorspar, kriolit, yodium, brom, klor, belerang, fosfat, halit, asbes, talk, mika, magnesit, yarosit, oker, fluorit, ball clay, fire clay, zeolit, kaolin, feldspar, bentonit, gipsum, dolomit, kalsit, rijang, pirofilit, kuarsit, zirkon, wolastonit, tawas, batu kuarsa, perlit, garam batu, clay, dan batu gamping untuk semen;

d. batuan meliputi pumice, tras, toseki, obsidian, marmer, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth), slate, granit, granodiorit, andesit, gabro, peridotit, basalt, trakhit, leusit, tanah liat, tanah urug, batu apung, opal, kalsedon, chert, kristal kuarsa, jasper, krisoprase, kayu terkersikan, gamet, giok, agat, diorit, topas, batu gunung quarry besar, kerikil galian dari bukit, kerikil sungai, batu kali, kerikil sungai ayak tanpa pasir, pasir urug, pasir pasang, kerikil berpasir alami (sirtu), bahan timbunan pilihan (tanah), urukan tanah setempat, tanah merah (laterit), batu gamping, onik, pasir laut, dan pasir yang tidak mengandung unsur mineral logam atau unsur mineral bukan logam dalam jumlah yang ditinjau segi ekonomi pertambangan; dan

e. batubara meliputi bitumen padat, batuan aspal, batubara, dan gambut.

BAB II ASAS DAN TUJUAN

Pasal 3

Pertambangan mineral dan atau batubara dikelola berasaskan : a. manfaat, keadilan, dan keseimbangan;

b. keberpihakan kepada kepentingan bangsa; c. partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas; d. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Pasal 4

Dalam rangka mendukung Pembangunan Nasional dan Pembangunan Daerah yang berkesinambungan, tujuan pengelolaan mineral dan batubara adalah:

a. menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha pertambangan secara berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing;

b. menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup;

c. menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku dan atau sebagai sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri;

d. mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional agar lebih mampu bersaing di tingkat daerah, nasional, regional, dan internasional;

e. meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta menciptakan lapangan kerja untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat; dan

f. menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara.

(9)

9

BAB III

IZIN USAHA PERTAMBANGAN Bagian Kesatu

Umum Pasal 5

(1) IUP terdiri atas dua tahap :

a. IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan;

b. IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.

(2) Pemegang IUP Eksplorasi dan pemegang IUP Operasi Produksi dapat melakukan sebagian atau seluruh kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 6

IUP diberikan oleh Bupati apabila WIUP berada di dalam satu wilayah KabupatenKutai Barat.

Pasal 7

IUP diberikan kepada: a. badan usaha; b. koperasi; dan c. perseorangan.

Pasal 8

(1) IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a wajib memuat ketentuan sekurang-kurangnya:

a. nama perusahaan; b. lokasi dan luas wilayah; c. rencana umum tata ruang; d. jaminan kesungguhan; e. modal investasi;

f. perpanjangan waktu tahap kegiatan; g. hak dan kewajiban pemegang IUP; h. jangka waktu berlakunya tahap kegiatan; i. jenis usaha yang diberikan;

j. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan;

k. perpajakan; l. Reklamasi

m. Laporan Kegiatan sesuai tahapan; n. penyelesaian perselisihan;

o. iuran tetap dan iuran eksplorasi; dan p. amdal.

(2) IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b wajib memuat ketentuan sekurang-kurangnya:

(10)

10

a. nama perusahaan; b. luas wilayah;

c. lokasi penambangan;

d. lokasi pengolahan dan pemurnian; e. pengangkutan dan penjualan; f. modal investasi;

g. jangka waktu berlakunya IUP; h. jangka waktu tahap kegiatan; i. penyelesaian masalah pertanahan;

j. lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pasca tambang; k. dana jaminan reklamasi dan pasca tambang;

l. perpanjangan IUP;

m. hak dan kewajiban pemegang IUP;

n. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan;

o. perpajakan; p. Reklamasi

q. Laporan kegiatan sesuai tahapan;

r. penerimaan negara bukan pajak yang terdiri atas iuran tetap dan iuran produksi; s. penyelesaian perselisihan;

t. keselamatan dan kesehatan kerja; u. konservasi mineral atau batubara;

v. pemanfaatan barang, jasa, dan teknologi dalam negeri;

w. penerapan kaidah keekonomian dan keteknikan pertambangan yang baik; x. pengembangan tenaga kerja Indonesia;

y. pengelolaan data mineral atau batubara; dan

z. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan mineral atau batubara;

aa. Memiliki kontrak kerjasama dengan badan usaha daerah (Koperasi) yang keanggotaannya berasal dari warga sekitar daerah konsesi areal tambang, sebagai afliasi bidang penjualan dan pemasaran.

Pasal 9

(1) IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral atau batubara;

(2) Pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menemukan mineral lain di dalam WIUP yang dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya;

(3) Pemegang IUP yang bermaksud mengusahakan mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2), wajib mengajukan permohonan IUP baru kepada Bupati sesuai dengan kewenangannya;

(4) Pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menyatakan tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan tersebut;

(5) Pemegang IUP yang tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), wajib menjaga mineral lain tersebut agar tidak dimanfaatkan pihak lain;

(11)

11

(6) IUP untuk mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat diberikan kepada pihak lain oleh Bupati sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 10

IUP tidak dapat digunakan selain yang dimaksud dalam pemberian IUP.

Bagian Kedua IUP Eksplorasi

Pasal 11

(1) IUP Eksplorasi untuk pertambangan mineral logam dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 8 (delapan) tahun;

(2) IUP Eksplorasi untuk pertambangan mineral bukan logam dapat diberikan paling lama dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun dan mineral bukan logam jenis tertentu dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) tahun;

(3) IUP Eksplorasi untuk pertambangan batuan dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun;

(4) IUP Eksplorasi untuk pertambangan batubara dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) tahun.

Pasal 12

(1) Dalam hal kegiatan eksplorasi dan kegiatan studi kelayakan, pemegang IUP Eksplorasi yang mendapatkan mineral atau batubara yang tergali wajib melaporkan kepada pemberi IUP;

(2) Pemegang IUP Eksplorasi yang ingin menjual mineral atau batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengajukan izin sementara untuk melakukan pengangkutan dan penjualan.

Bagian Ketiga IUP Operasi Produksi

Pasal 13

(1) Setiap pemegang IUP Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUP Operasi Produksi sebagai kelanjutan kegiatan usaha pertambangannya;

(2) IUP Operasi Produksi dapat diberikan kepada badan usaha, koperasi, atau perseorangan atas hasil pelelangan WIUP mineral logam atau batubara yang telah mempunyai data hasil kajian studi kelayakan dan persyaratan lainnya.

Pasal 14

(1) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral logam dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 10 (sepuluh) tahun;

(2) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral bukan logam dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 5 (lima) tahun;

(3) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral bukan logam jenis tertentu dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 10 (sepuluh) tahun;

(4) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan batuan dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 5 (lima) tahun;

(12)

12

(5) IUP Operasi Produksi untuk Pertambangan batubara dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 10 (sepuluh) tahun.

Pasal 15

IUP Operasi Produksi diberikan oleh Bupati apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta pelabuhan berada di dalam satu wilayah Kabupaten Kutai Barat;

Pasal 16

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, Pasal 37 dan IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, Pasal 39, Pasal 40 diatur dengan Peraturan Bupati.

Bagian Keempat Pertambangan Mineral

Paragraf 1

Pertambangan Mineral Radioaktif Pasal 17

WUP mineral radioaktif ditetapkan oleh Pemerintah dan pengusahaannya dilaksanakan sesuai dengan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Paragraf 2

Pertambangan Mineral Logam Pasal 18

WIUP mineral logam diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan cara lelang.

Pasal 19

(1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral logam diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5.000 (lima ribu) hektar dan paling banyak 100.000 (seratus ribu) hektar;

(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral logam dapat diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda; (3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah

mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.

Pasal 20

Pemegang IUP Operasi Produksi mineral logam diberi WIUP dengan luas paling banyak 25.000 (dua puluh lima ribu) hektar.

Paragraf 3

Pertambangan Mineral Bukan Logam Pasal 21

WIUP mineral bukan logam diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan cara permohonan wilayah kepada Bupati.

Pasal 22

(1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral bukan logam diberi WIUP dengan luas paling sedikit 500 (lima ratus) hektar dan paling banyak 25.000 (dua puluh lima ribu) hektar;

(13)

13

(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral bukan logam dapat diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda;

(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.

Pasal 23

Pemegang IUP Operasi Produksi mineral bukan logam diberi WIUP dengan luas paling banyak 5.000 (lima ribu) hektar.

Paragraf 4 Pertambangan Batuan

Pasal 24

WIUP batuan diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan cara permohonan wilayah kepada pemberi izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27.

Pasal 25

(1) Pemegang IUP Eksplorasi batuan diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5 (lima) hektar dan paling banyak 5.000 (lima ribu) hektar;

(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batuan dapat diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda;

(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.

Pasal 26

Pemegang IUP Operasi Produksi batuan diberi WIUP dengan luas paling banyak 1000 (seribu) hektar.

Bagian Kelima Pertambangan Batubara

Pasal 27

WIUP batubara diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan cara lelang.

Pasal 28

(1) Pemegang IUP Eksplorasi Batubara diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5.000 (lima ribu) hektar dan paling banyak 50.000 (lima puluh ribu) hektar;

(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batubara dapat diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda;

(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.

Pasal 29

Pemegang IUP Operasi Produksi batubara diberi WIUP dengan luas paling banyak 15.000 (lima belas ribu) hektar.

(14)

14

BAB IV

TATA CARA MENDAPATKAN WILAYAH DAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN

Pasal 30

Tata cara mendapatkan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP)

(1) WIUP adalah Wilayah atau bagian dari wilayah usaha pertambangan batubara, mineral logam, mineral bukan logam dan batuan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah;

(2) Setiap usaha pertambangan bahan galian mineral logam dan batubara dapat dilaksanakan setelah mendapat WIUP dengan cara lelang dan kepada pemenang lelang langsung diberikan IUP;

(3) Setiap usaha pertambangan bahan galian mineral bukan logam dan batuan dapat dilaksanakan setelah mendapat WIUP dengan cara permohonan wilayah;

(4) WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diberikan oleh Bupati sesuai dengan kewenangannya kepada Badan Usaha, Koperasi atau Perorangan.

Tatacara Lelang WIUP Pasal 31

(1) Dalam rangka pelelangan, Bupati sesuai kewenangannya mengumumkan WIUP secara terbuka kepada Badan Usaha, Koperasi dan Perorangan;

(2) Sebelum dilakukan pelelangan WIUP mineral logam atau batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3), Bupati sesuai dengan kewenangannya mengumumkan secara terbuka WIUP yang akan dilelang kepada badan usaha, koperasi atau perseorangan dalam jangka waktu paling 3 (tiga) bulan sebelum pelaksanaan lelang;

(3) Dalam pelaksanaan penawaran WIUP, Bupati sesuai kewenangannya membentuk panitia lelang sebagai pelaksana;

(4) Panitia Lelang WIUP dibentuk oleh Bupati yang beranggotakan paling sedikit 5 orang yang memiliki kompetensi meliputi bidang pertambangan mineral dan / atau batubara, keuangan dan lingkungan;

(5) Tugas dan Wewenang panitia lelang WIUP :

a. Menyiapkan lelang dan besaran nilai Kompensasi Informasi Data (KID); b. Menyusun jadwal;

c. Menyiapkan dokumen lelang;

d. Mengumumkan waktu pelaksanaan lelang;

e. Melaksanakan pengumuman ulang sebanyak-sebanyaknya 2 (dua) kali apabila peserta lelang hanya 1 (satu);

f. Menilai kualifikasi peserta lelang;

g. Melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk; h. Melaksanakan lelang;

i. Mengesahkan pemenang.

(6) Untuk mengikuti lelang peserta harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Administrasi meliputi :

1. Mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang; 2. Company Profile;

3. Akte pendirian yang sudah disyahkan yang berwenang yang tujuannya bergerak di usaha pertambangan, kecuali koperasi;

(15)

15

4. Susunan pengurus dan daftar pemegang saham; 5. Anggaran dasar dan rumah tangga (bagi koperasi); 6. Kartu tanda pengenal bagi perorangan;

7. Keterangan domisili (bagi badan usaha). b. Syarat Teknis meliputi :

1. Badan Usaha dan Perorangan yang bergerak dibidang usaha pertambangan mineral dan batubara;

2. Rencana kerja dan anggaran biaya untuk kegiatan 1 Tahun;

3. Persetujuan Penanaman Modal dari Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BP2T); 4. Membuat Kontrak Karya dengan Pemerintah Daerah.

c. Syarat Finansial meliputi : 1. NPWP dan NPWPD;

2. Laporan keuangan 1 Tahun terakhir yang sudah diaudit oleh instansi yang berwenang;

3. Menempatkan jaminan kesungguhan lelang dalam bentuk uang tunai di bank pemerintah daearah sebesar 5% dari nilai KID (Kompensasi Informasi Data); atas nama Panitia lelang qualita qua(q.q) pemohan yang bersangkutan.

4. Pernyataan bersedia membayar nilai lelang dalam waktu selambat-lambatnya 5 hari kerja, setelah pengumuman pemenang lelang;

5. Pengambilan jaminan kesungguhan lelang bagi peserta yang dinyatakan tidak menang lelang dilaksanakan dalam waktu 5 hari kerja setelah pengumuman lelang.

(7) Prosedur lelang meliputi tahap : a. Pengumuman prakualifikasi;

b. Pengambilan dokumen prakualifikasi; c. Pemasukan dokumen prakualifikasi; d. Evaluasi prakualifikasi;

e. Klarifikasi dan konfirmasi terhadap dokumen prakualifikasi; f. Penetapan hasil prakualifikasi;

g. Pengumuman hasil prakualifikasi;

h. Undangan kepada peserta yang lulus prakualifikasi; i. Pengambilan dokumen lelang;

j. Penjelasan;

k. Tahap pemasukan penawaran harga; l. Pembukaan sampul;

m.Penetapan peringkat;

n. Penunjukan/pengumuman pemenang lelang yang dilakukan berdasarkan penawaran harga dan pertimbangan teknis;

o. Apabila peserta lelang yang memasukan penawaran harga sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf k, hanya terdapat 1 (satu) peserta lelang dilakukan pelelangan ulang;

p. Dalam hal peserta lelang ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf o, tetap hanya 1 (satu) peserta, ditetapkan sebagai pemenang dengan ketentuan harga penawaran harus sama atau lebih tinggi dari harga dasar lelang yang telah ditetapkan;

(16)

16

q. Memberi kesempatan adanya sanggahan atas keputusan lelang.

(8) Penjelasan lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf j wajib dilakukan oleh panitia lelang WIUP kepada peserta pelelangan WIUP yang lulus prakualifikasi untuk menjelaskan data teknis berupa :

a. lokasi; b. koordinat;

c. jenis mineral, termasuk mineral ikutannya dan batubara; d. ringkasan hasil penelitian dan penyelidikan;

e. ringkasan hasil eksplorasi pendahuluan bila ada; f. status lahan.

(9) Pemenang lelang beserta dokumen lelang diserahkan oleh Panitia Lelang kepada Bupati sesuai dengan kewenangannya untuk diproses lebih lanjut penerbitan IUP atas nama pemenang lelang setelah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (6); (10)Dalam hal pemenang lelang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada

ayat (6), maka kesempatan diberikan kepada pemenang urutan selanjutnya.

Tata Cara Permohonan WIUP Untuk Mineral Bukan Logam dan Mineral Batuan Pasal 32

(1) Permohonan WIUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) diajukan pada Bupati sesuai dengan kewenangannya;

(2) Pelaksanaan pelayan permohonan WIUP wajib menerapkan sistem permohonan pertama yang telah memenuhi persyaratan, mendapat prioritas pertama untuk mendapat WIUP;

(3) Pertambangan WIUP dibatasi oleh koordinat geografis lintang dan bujur sesuai dengan ketentuan sistem informasi geografis nasional;

(4) Bupati sesuai dengan kewenangannya memberikan persetujuan atau penolakan atas permohonan WIUP paling lama 15 (lima belas hari) dari sejak diberikannya tanda terima Bukti Permohonan WIUP;

(5) Permohonan yang memenuhi persyaratan permohonan wilayah diberikan peta WIUP berikut koordinat oleh Bupati sesuai dengan kewenanganya, sebagai lampiran Keputusan IUP;

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur permohonan wilayah diatur dengan Peraturan Bupati.

Prosedur Penerbitan Izin usaha Pertambangan (IUP) Pasal 33

Tatacara penerbitan IUP bagi pemenang lelang WIUP :

a. Pemenang lelang menetapkan jaminan kesungguhan, membayar harga kompensasi informasi data, persyaratan finansial, dan pernyataan kesanggupan untuk memenuhi kewajiban lingkungan;

b. Bupati sesuai kewenangannya langsung menerbitkan IUP kepada pemenang lelang WIUP;

c. Membayar iuran tetap sesuai tahapannya masing – masing;

d. Mengenai tarif, nilai jaminan kesungguhan dan iuran tetap diatur dengan Peraturan Bupati.

Pasal 34

(17)

17

a. Pemohon sudah melakukan prosedur permohonan wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 bagi yang sudah memenuhi persyaratan pencadangan WIUP diberikan peta WIUP berikut koordinat sebagai lampiran SK IUP;

b. Bupati sesuai kewenangannya menerbitkan IUP kepada pemohon yang memenuhi persyaratan administratif, teknis dan finansial.

(2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b untuk IUP Eksplorasi adalah : a. Persyaratan Administratif badan usaha meliputi :

1. Surat permohonan;

2. Menyebutkan bahan galian yang dimohon;

3. Akte pendirian yang salah satu maksud dan tujuannya bergerak dibidang pertambangan yang telah disahkan oleh menteri hukum dan HAM;

4. Daftar tenaga ahli (pertambangan /geologi yang berpengalaman minimal 3 tahun).

b. Persyaratan Administratif untuk koperasi sebagai berikut : 1. Akte pendirian Koperasi;

2. NPWP dan NPWPD, SPT, SIUP; 3. Keterangan domisili;

4. Melampirkan laporan Rapat Anggota Tahunan (RAT). c. Persyaratan administratif untuk perorangan sebagai berikut:

1. Kartu tanda pengenal; 2. NPWP dan NPWPD; 3. Keterangan domisili;

4. Daftar tenaga ahli (pertambangan/geologi yang berpengalaman minimal 3 tahun).

d. Persyaratan teknis meliputi:

1. Peta wilayah dilengkapi dengan batas koordinat-koordinat geografis lintang dan bujur sesuai dengan ketentuan sistem informasi geografi nasional; dan

2. Pengalaman kerja perusahaan koperasi, perorangan dalam bidang pertambangan minimal 1 tahun.

e. Persyaratan finansial meliputi :

1. Bukti pembayaran pencadangan wilayah (bagi pemohon bukan lelang); 2. Bukti pembayaran jaminan kesungguhan (bagi pemohon bukan lelang );

3. Laporan keuangan 1 tahun terakhir yang sudah diaudit oleh instansi yang berwenang;

4. Daftar pemegang saham (bagi badan usaha); 5. Daftar pengurus (bagi koperasi).

Pasal 35

Persyaratan untuk IUP Operasi Produksi adalah: a. Persyaratan administratif badan usaha meliputi: b. surat permohonan;

c. menyebutkan bahan galian yang dimohon;

d. akte pendirian perusahaan yang salah satu maksud dan tujuannya bergerak dibidang pertambangan yang telah disahkan oleh menteri hukum dan HAM;

(18)

18

e. laporan lengkap eksplorasi; f. laporan studi kelayakan; g. persetujuan AMDAL/UKL-UPL.

Pasal 36

Persyaratan administratif untuk koperasi sebagai berikut: a. akte pendirian koperasi;

b. NPWP dan NPWPD, SPT, SIUP; c. keterangan domisili;

d. laporan lengkap eksplorasi; e. laporan studi kelayakan; f. persetujuan AMDAL/UKL-UPL;

g. melampirkan laporan rapat anggota tahunan (RAT).

Pasal 37

Persyaratan administratif untuk perorangan sebagai berikut: a. Kartu Tanda Penduduk;

b. NPWP dan NPWPD; c. keterangan domisili;

d. daftar tenaga ahli (pertambangan/geologi yang berpengalaman minimal 3 tahun).

Pasal 38

Persyaratan teknis peningkatan ke operasi produksi (peningkatan IUP Eksploitasi ) meliputi : a. peta wilayah dilengkapi dengan batas koordinat geografis lintang dan bujur sesuai

dengan ketentuan sistem informasi geografi nasional; b. laporan lengkap eksplorasi;

c. laporan studi kelayakan; d. persetujuan AMDAL/UKL-UPL;

e. Mempresentasikan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya Kontruksi.

Pasal 39

Persyaratan finansial meliputi :

a. bukti pembayaran pemenang lelang (proses lelang); b. bukti pembayaran pancadangan wilayah;

c. bukti pembayaran jaminan kesungguhan (pancadangan wilayah);

d. laporan keuangan 1 tahun terakhir yang sudah diaudit oleh instansi yang berwenang; e. tanda bukti pembayaran iuran tetap.

Pasal 40

Persyaratan IUP Batuan :

a. Menyampaikan permohonan kepada Bupati Kutai Barat bermaterai Rp. 6000,- (melalui Dinas Pertambangan dan Energi);

(19)

19

1. Foto copy KTP pemohon yang masih berlaku; 2. Rekomendasi Petinggi setempat;

3. Rekomendasi Camat setempat;

4. Foto copy identitas badan usaha, koperasi dan perorangan yang di legalisir; 5. Rekomendasi dari Dinas Kehutanan (jika lokasi didalam kawasan Hutan);

6. Rekomendasi dari Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi (jika lokasi disungai);

7. Rekomendasi Dinas PU (jika lokasi dekat jembatan, jalan umum, fasilitas umum dan fasilitas lainnya);

8. Bukti Kepemilikan/Alas Titel;

9. Peta lokasi lengkap dengan titik koordinat;

10. Dokumen AMDAL (ANDAL, UKL dan UPL) melalui Badan Lingkungan Hidup. c. Membayar biaya pendaftaran SIPD pada Dinas Pertambangan dan Energi; d. Biaya penerbitan Peta (pada Dinas Pertambangan dan Energi);

e. Biaya pemblokiran nomor kode wilayah / pencadangan lokasi pada Dinas Pertambangan dan Energi;

f. Retribusi dan Pajak pada Dinas Pendapatan Daerah (setelah mendapat Surat Pengantar dari Dinas Pertambangan dan Energi).

Tata Cara Permohonan IUP Eksplorasi Pasal 41

(1) IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi dan studi kelayakan; (2) IUP Eksplorasi diberikan oleh Bupati sesuai dengan kewenangannya;

(3) IUP Eksplorasi diberikan oleh Bupati apabila WIUP berada pada satu wilayah Kabupaten.

Pasal 42

(1) Kepada pemegang IUP Eksplorasi diberikan prioritas pertama untuk mengusahakan bahan galian lain (bukan asosiasi mineral utama) yang keterdapatannya berada dalam WIUP dan WIUPK Eksplorasi dengan mengajukan permohonan baru;

(2) Apabila pemegang IUP Eksplorasi tidak berminat atasa bahan galian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka kesempatan pengusahaannya dapat diberikan kepada pihak lain dengan cara lelang;

(3) Permohonan baru pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) perlu mendapat persetujuan dari pemegang IUP pertama;

(4) Pemegang IUP Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUP Operasi Produksi sebagai peningkatan dengan mengajukan permohonan dan melampirkan persyaratan peningkatan operasi produksi.

Pasal 43

Jaminan Kesungguhan

(1) Untuk membuktikan kesungguhan dan kemampuan pemegang IUP Pertambangan Penyelidikan Umum atau Kuasa Pertambangan Eksplorasi,yang bersangkutan wajib menyetor uang jaminan kesunggguhan dalam rekening dinas pertambangan dan energi; (2) Uang Jaminan kesungguhan sebaimana dimaksud dalam ayat (1) ditempatkan dalam deposito berjangka atas nama Dinas Pertambangan dan Energi qulita qua(q.q) pemohonan yang bersangkutan;

(20)

20

(3) Uang Jaminan kesungguhan sebaimana dimaksud dalam ayat (1) dihitung berdasarkan luas daerah IUP Eksplorasi dikalikan 5.00 USD per hektar.

Pasal 44

Dalam hal Pemegang IUP tidak pernah menyampaikan laporan kegiatan dan nyata-nyata tidak melakukan kegiatan sejak diberikan IUP pertambangan yang dimaksud, maka pada masa berakhirnya IUP Penyelidikan Umum dan Eksplorasi uang jaminan kesungguhan atau sisanya beserta bunga menjadi milik negara.

Pasal 45

Tatacara Permohonan IUP Operasi Produksi

(1) IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian serta pengangkutan dan penjualan;

(2) IUP Operasi Produksi dapat dimohon dan diberikan kepada badan usaha, koperasi dan perorangan sebagai peningkatan dari IUP Eksplorasi;

(3) IUP Operasi Produksi diberikan oleh, Bupati sesuai dengan kewenangannya;

(4) IUP Operasi produksi dapat diberikan kepada badan usaha, koperasi dan perorangan yang telah mempunyai data IUP Eksplorasi, dengan persyaratan laporan lengkap eksplorasi , studi kelayakan dan AMDAL (ANDAL, UKL dan UPL) sudah dipenuhi oleh pihak lain sesuai aturan yang berlaku;

(5) IUP Operasi Produksi dapat diberikan oleh Bupati apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan pemurnian berada dalam satu wilayah Kabupaten.

BAB V

IZIN PERTAMBANGAN RAKYAT Bagian Kesatu

Umum Pasal 46

(1) IPR diberikan oleh Bupati berdasarkan permohonan yang diajukan oleh penduduk setempat, baik orang perseorangan maupun kelompok masyarakat dan/atau koperasi;

(2) IPR diberikan setelah ditetapkan WPR oleh Bupati;

(3) Dalam 1 (satu) WPR dapat diberikan 1 (satu) atau beberapa IPR.

Bagian Kedua Pemberian IPR

Pasal 47

(1) Setiap usaha pertambangan rakyat pada WPR dapat dilaksanakan apabila telah mendapatkan IPR;

(2) Untuk mendapatkan IPR, pemohon harus memenuhi : a . persyaratan administratif;

b . persyaratan teknis; dan c . persyaratan finansial.

(3) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a untuk : a. orang perseorangan, paling sedikit meliputi:

1. surat permohonan; 2. kartu tanda penduduk;

(21)

21

3. komoditas tambang yang dimohon; dan

4. surat keterangan dari kelurahan/desa setempat. b. kelompok masyarakat, paling sedikit meliputi:

1. surat permohonan;

2. komoditas tambang yang dimohon; dan

3. surat keterangan dari kelurahan/desa setempat. c. koperasi setempat, paling sedikit meliputi:

1. surat permohonan; 2. nomor pokok wajib pajak;

3. akte pendirian koperasi yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang;

4. komoditas tambang yang dimohon; dan

5. surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.

(4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b berupa surat pernyataan yang memuat paling sedikit mengenai:

a. sumuran pada IPR paling dalam 25 (dua puluh lima) meter;

b. menggunakan pompa mekanik, penggelundungan atau permesinan dengan jumlah tenaga maksimal 25 (dua puluh lima) horse power untuk 1 (satu) IPR; dan

c. tidak menggunakan alat berat dan bahan peledak.

(5) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c berupa laporan keuangan 1 (satu) tahun terakhir dan hanya dipersyaratkan bagi koperasi setempat.

BAB VI

REKOMENDASI IZIN PERTAMBANGAN KHUSUS Pasal 48

IUPK yang diberikan oleh Menteridi dalam wajib memperoleh Rekomendasi dari Bupati dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Barat.

BAB VII

PENCIUTAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN Pasal 49

(1) Pemegang IUP dapat sewaktu-waktu mengajukan permohonan kepada Bupati untuk menciutkan sebagian atau mengembalikan dari WIUP;

(2) Penciutan atau pengembalian wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyerahkan :

a. Laporan, data dan informasi penciutan atau pengembalian yang berisikan semua penemuan teknis dan geologis yang diperoleh pada wilayah yang akan diciutkan dan alasan penciutan atau pengembalian serta data lapangan hasil kegiatan dan menjadi milik pemerintah atau pemerintah Daerah sesuai kewenangannya;

b. Peta wilayah penciutan atau pengembalian beserta koordinatnya; c. Tanda bukti pembayaran kewajiban keuangan;

d. Laporan kegiatan sesuai status tahapan terakhir;

(22)

22

Pasal 50

(1) Pemegang IUP Eksplorasi mempunyai kewajiban untuk melepaskan WIUP dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Untuk IUP mineral logam, pada tahun keempat wilayah yang dipertahankan maks 50.000 Ha. Pada tahun kedelapan atau pada akhir tahapan eksplorasi harus mempertahankan wilayah maksimum 25.000 Ha;

b. Untuk IUP batubara pada tahun keempat wilayah yang dipertahankan maksimum 25.000 Ha. Pada tahun ketujuh atau pada akhir tahapan eksplorasi harus mempertahankan wilayah maksimum 15.000 Ha;

c. Untuk IUP mineral bukan logam pada tahun kedua wilayah yang dipertahankan maksimum 12.000 Ha. Pada tahun ketiga atau pada akhir tahapan eksplorasi harus mempertahankan wilayah maksimum 5000 Ha;

d. Untuk IUP mineral batuan pada tahun kedua wilayah yang dipertahankan maksimum 2.500 Ha. Pada tahun kedelapan atau pada akhir tahap eksplorasi harus mempertahankan wilayah maksimum 1.000 Ha.

(2) Apabila luas wilayah maksimum yang dipertahan sudah dicapai sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka pemegang IUP Eksplorasi tidak diwajibkan lagi menciutkan wilayah.

BAB VIII

PENGHENTIAN SEMENTARA KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN Bagian Kesatu

Kriteria Penghentian Sementara Pasal 51

(1) Penghentian sementara dapat diberikan kepada pemegang IUP apabila terjadi keadaan kahar atau keadaan yang menghalang-halangi dan atau kondisi daya dukung lingkungan yang tidak memungkinkan sehingga menimbulkan penghentian sebagian atau seluruh usaha pertambangan;

(2) Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan :

a. Keadaan kahar antara lain perang, kerusuhan sipil, pemberontakan, epidemik, gempa bumi, banjir, kebakaran dan lain-lain bencana alam di luar kemampuan manusia;

b. Keadaan yang menghalang-halangi antara lain, blockade, pemogokan-pemogokan, perselisihan perburuhan di luar kesalahan pemegang IUP dan IUPK dan Peraturan Perundang-undangan yang diterbitkan oleh pemerintah yang menghambat kegiatan usaha pertambangan yang sedang berjalan;

c. Kondisi daya dukung lingkungan adalah apabila kondisi daya dukung lingkungan wilayah tersebut tidak dapat menanggung beban kegiatan Operasi Produksi sumber daya mineral dan atau yang dilakukan di wilayahnya.

Bagian Kedua Tata Cara Permohonan

Pasal 52

(1) Permohonan penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada pasal 51 ayat (2) huruf a dan b diajukan secara tertulis paling lama 14 hari sejak terjadinya keadaan kahar/keadaan yang menghalang-halangi;

(2) Permohonan diajukan kepada Bupati sesuai kewenangannya dengan menyampaikan Laporan Keadaan memaksa.

(23)

23

Pasal 53

(1) Bupati sesuai kewenangannya jika dipandang perlu dapat menguji kebenaran Laporan Keadaan Memaksa sebagaimana disebutkan pada pasal 51 ayat (2);

(2) Untuk menyatakan keadaan kahar harus disertai dengan pernyataan dari Bupati sesuai kewenangannya (dijelaskan dalam ‘Penjelasan’, contoh: kerusuhan sipil, Pemerintah mengeluarkan maklumat keadaan darurat sipil);

(3) Dalam hal laporan keadaan kahar/memaksa yang dilaporkan merupakan kegagalan yang disebabkan oleh kelalaian.

Pasal 54

Penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada pasal 51 ayat (2) huruf c dapat dilakukan oleh Kepala Inspektur Tambang dan atau dilakukan berdasarkan permohonan masyarakat kepada Bupati sesuai dengan kewenangannya;

Pasal 55

Bupati sesuai dengan kewenangannya wajib menerima atau menolak disertai alasannya paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak menerima permohonan.

Pasal 56

Jangka waktu penghentian sementara karena keadaan kahar dan atau keadaan yang menghalang-halangi diberikan paling lama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang paling banyak 1 (satu) kali untuk 1 (satu) tahun.

Pasal 57

Permohonan perpanjangan penghentian sementara sebagaimana dimaksud dalam pasal 51 diajukan secara tertulis paling lama 30 (tiga puluh) hari sebelum berakhirnya izin penghentian sementara;

Bagian Ketiga

Kewajiban Selama Penghentian Sementara Pasal 58

(1) Pemegang IUP yang telah diberikan izin penghentian sementara dikarenakan kahar, tidak mempunyai kewajiban untuk memenuhi kewajiban keuangan baik kepada Pemerintah maupun kepada Pemerintah Daerah;

(2) Pemegang IUP yang telah diberikan izin penghentian sementara dikarenakan keadaan yang menghalangi kegiatan usaha pertambangan dan atau keadaan kondisi daya dukung lingkungan wilayah, mempunyai kewajiban untuk menyampaikan pelaporan baik kepada Pemerintah maupun Pemerintah Daerah, memenuhi kewajiban keuangan dan tetap melaksanakan pengelolaan lingkungan dan keselamatan dan kesehatan kerja serta pemantauan lingkungan.

Bagian Keempat

Pengakhiran Penghentian Sementara Pasal 59

Izin Penghentian Sementara berakhir karena : a. habis masa berlakunya;

(24)

24

Pasal 60

Dalam hal jangka waktu yang ditentukan dalam izin penghentian sementara telah habis dan tidak diajukan permohonan perpanjangan atau pengajuan permohonan tetapi tidak disetujui, maka penghentian sementara tersebut berakhir.

Pasal 61

Apabila dalam kurun waktu sebelum habis penghentian sementara berakhir pemegang IUP sudah siap melakukan kegiatan operasinya dan mengajukan permohonan pencabutan penghentian sementara serta disetujui oleh Bupati sesuai dengan kewenangannya, maka penghentian sementara tersebut berakhir.

BAB IX

BERAKHIRNYA IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS

Pasal 62

IUP berakhir karena: a. dikembalikan; b. dicabut; atau

c. habis masa berlakunya.

Pasal 63

(1) Pemegang IUP dapat menyerahkan kembali IUP-nya dengan pernyataan tertulis kepada Bupati sesuai dengan kewenangannya dan disertai dengan alasan yang jelas;

(2) Pengembalian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan sah setelah disetujui oleh Bupati sesuai dengan kewenangannya dan setelah memenuhi kewajibannya.

Pasal 64

IUP dapat dicabut oleh Bupati sesuai dengan kewenangannya apabila:

a. pemegang IUP tidak memenuhi kewajiban yang ditetapkan dalam IUP serta peraturan Perundang-undangan;

b. pemegang IUP melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini; atau

c. pemegang IUP dinyatakan pailit.

Pasal 65

Dalam hal jangka waktu yang ditentukan dalam IUP telah habis dan tidak diajukan permohonan peningkatan atau perpanjangan tahapan kegiatan atau mengajukan permohonan tetapi tidak memenuhi persyaratan maka , IUP tersebut dinyatakan berakhir.

Pasal 66

(1) Pemegang IUP yang IUP-nya berakhir karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63, Pasal 64, dan Pasal 65 wajib memenuhi dan menyelesaikan kewajiban sesuai dengan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan;

(2) Kewajiban pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggap telah dipenuhi setelah mendapat persetujuan dari Bupati sesuai dengan kewenangannya.

(25)

25

Pasal 67

(1) IUP yang telah dikembalikan, dicabut, atau habis masa berlakunya dikembalikan kepada Bupati sesuai dengan kewenangannya;

(2) WIUP yang IUP-nya berakhir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditawarkan kepada badan usaha, koperasi, atau perseorangan melalui mekanisme sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini.

Pasal 68

Apabila IUP berakhir, pemegang IUP wajib menyerahkan seluruh data yang diperoleh dari hasil eksplorasi dan operasi produksi kepada Bupati sesuai dengan kewenangannya.

BAB X

KETENTUAN TAMBAHAN Pasal 69

(1) Apabila didalam wilayah Ijin Usaha Pertambangan terdapat Perijinan lain diluar Ijin Usaha Pertambangan maka, Pemegang ijin lainnya tersebut wajib memberikan kesempatan kepada pemilik Ijin Usaha Pertambangan untuk melakukan kegiatan di wilayah tersebut;

(2) Dalam hal Pemegang Ijin lainnya telah melakukan aktivitas di wilayah yang menjadi pusat kegiatan Pemegang Ijin Usaha Pertambangan maka, Pemegang Ijin Usaha Pertambangan wajib memberikan kompensasi sesuai dengan biaya yang telah dikeluarkan Pemegang Ijin lainnya.

(3) Besarnya kompensasi yang dikeluarkan pemegang Ijin Usaha Pertambangan berdasarkan hasil penetapan Tim yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah yang terdiri dari unsur:

a. Sekretariat Kabupaten Kutai Barat;

b. Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Barat;

c. Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Perikanan Kabupaten Kutai Barat; d. Kecamatan Setempat;

e. Badan Pertanahan Nasional; f. Dispenda Kabupaten Kutai Barat;

g. Badan Perijinan Terpadu Kabupaten Kutai Barat; h. Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Barat.

Pasal 70

Pemegang Ijin Usaha Pertambangan sebagaimana dimaksud pada Pasal 69 wajib melaksanakan kegiatan reklamasi untuk memulihkan kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.

(26)

26

BAB XI

KETENTUAN PENUTUP Pasal 71

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Kutai Barat.

ditetapkan di Sendawar.

pada tanggal, 28 Desember 2011.

BUPATI KUTAI BARAT

ISMAIL THOMAS

diundangkan di Sendawar.

pada tanggal, 28 Desember 2011.

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN KUTAI BARAT

AMINUDDIN

Referensi

Dokumen terkait

(2) Bupati menetapkan 5 (Lima) orang dari unsur masyarakat yang diusulkan oleh tim seleksi sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (1) menjadi calon pimpinan

(1) WIUP mineral logam dan/atau batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a dan huruf b diberikan kepada badan usaha, koperasi, atau

(6) Dalam hal Kampung telah memenuhi persyaratan penyaluran kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b sebelum minggu kedua bulan Juni tahun

(9) Dalam hal telaahan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) disetujui, maka segera memberikan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atau

(3) Bantuan Sosial sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), sebelum disalurkan kepada penerima bantuan terlebih dahulu melalui proses Pengajuan Surat Perintah Pembayaran (SPP)

(9) Dalam hal telaahan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) disetujui, maka segera memberikan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa

(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya menerbitkan Surat Keputusan pemberian IUP/IUPK Eksplorasi mineral logam atau batubara, kepada

(2) Pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan berpedoman pada SPIP sebagaimana diatur dalam Peraturan