PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TALKING STICK DAN STUDENT TEAMS
ACHIEVEMENT DIVISION MATERI ALJABAR BAGI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 TUNTANG
JURNAL
Diajukan untuk memenuhi syarat guna mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi S1 Pendidikan Matematika
Disusun Oleh:
SYARIF HIDAYATI
202013013
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
1
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TALKING STICK DAN STUDENT TEAMS
ACHIEVEMENT DIVISION MATERI ALJABAR BAGI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 TUNTANG
Syarif Hidayati1), Tri Nova Hasti Yunianta2)
[email protected]), [email protected])
Program Studi S1 Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan–Universitas Kristen Satya Wacana
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika siswa pada model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick dan Student Teams Achievement Division materi aljabar bagi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Tuntang. Jenis penelitian ini merupakan mixed method dengan model sequential explanatory. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas yaitu kelas VII C menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dengan jumlah siswa 34 orang dan kelas VII E menggunakan model pembelajarn kooperatif tipe STAD dengan jumlah siswa 31 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, tes, dan dokumentasi. Data kedua kelas homogen sebelum diberi perlakuan. Hasil analisis data menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick adalah 83,68 lebih baik dari rata-rata hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah 78,71. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji Mann-Whitney U yang menunjukkan Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,029, dimana 0,029 < 0,05, sehingga diperoleh kesimpulan bahwa ada perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
talking stick dan STAD. Pada kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick hanya siswa yang memegang tongkat yang menjawab pertanyaan dari guru dan menjawabnya secara lisan, sehingga membuat siswa lebih antusias saat pembelajaran agar siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut. Berbeda dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa mengerjakan kuis dengan waktu yang bersamaan dan bersifat tertulis. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick lebih baik daripada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Kata kunci: hasil belajar matematika, talking stick, student teams achievement division
PENDAHULUAN
2
Hambatan ini berpengaruh terhadap pembelajaran yang dilakukan. Pembelajaran tersebut harusnya sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada, baik potensi yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri maupun potensi yang ada di luar diri siswa (Sanjaya, 2009: 26). Potensi-potensi tersebut dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.
Agar siswa mendapat hasil belajar yang memuaskan, seharusnya guru menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan mata pelajaran melalui aktivitas eksplorasi, elaborasi, dan konfrimasi. Aktivitas tersebut dapat dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang, sehingga momotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran (Departemen Pendidikan Nasional, 2007). Oleh karena itu untuk melaksanakan proses pembelajaran matematika sekarang tidak cukup hanya mengandalkan metode ceramah saja. Model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa juga perlu adanya dalam pembelajaran, salah satunya model pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran dalam model pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja atau belajar kelompok yang terstruktur, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud (Suprijono, 2015:73). Adapun tipe-tipe model pembelaajran kooperatif antara lain
talking stick dan student teams achievement division (STAD).
Model pembelajaran kooperatif tipe talking stick adalah pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat, dengan cara siapa yang memegang tongkat, dialah yang menjawab pertanyaan (talking) (Suprijono, 2010: 109). Menurut Aris Shoimin (2014: 199) kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick adalah menguji kesipan peserta didik dalam pembelajaran, sedangkan kelemahannya membuat senam jantung karena tegang dan ketakutan akan pertanyaan yang akan diberikan oleh guru.
3
memotivasi semangat untuk berhasil bersama, serta siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama, sedangkan kelemahannya adalah siswa berprestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan karena peran anggota yang pandai lebih dominan.
Setiap kelebihan dan kelemahan model pembelajaran pasti akan mempengaruhi kemampuan siswa, salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dan STAD. Model pembelajaran tersebut memiliki ciri khas yang berbeda yaitu pada akhir pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick guru memberikan tongkat, kemudian siswa yang memegang tongkat harus menjawab pertanyaan dari guru, sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD setiap akhir pembelajaran selalu diadakan kuis. Pada model pembelajaran kooperatif tipe talking stick hanya siswa yang memegang tongkat yang menjawab soal dari guru yang dapat membuat siswa senam jantung, sedangkan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD semua siswa mengerjakan kuis pada waktu yang bersamaan. Oleh karena kedua model tersebut memiliki ciri khas yang berbeda, maka dipandang perlu untuk melihat perbedaan hasil belajar kedua model tersebut.
Penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Hakim dan Pramukantoro (2012) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan perpaduan metode pembelajaran
Snowball Throwing dengan Talking Stick berpengaruh signifikan lebih tinggi terhadap hasil belajar siswa dibandingkan sebelum diberi pembelajaran dengan metode tersebut. Riana dan Hasruddin (2016) menunjukkan bahwa bahwa ada perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together dan Student Teams Achievement Divisions pada materi pokok sistem pencernaan manusia di kelas VIII SMP Negeri 1 Tanah Jawa Kabupaten Simalungun Tahun Pembelajaran 2015/2016. Bayu Hidayat dan Nur Kholis (2014) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran tallking
stick dengan kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran students teams achievement divisions (STAD).
4
Sehingga guru harus memilih model pembelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa tertarik dan aktif di dalam kelas.
Berdasarkan urian di atas, peneliti melakukan penelitian dengan judul “Perbandingan Hasil Belajar Matematika Pada Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick dan
Student Teams Achievement Division Materi Aljabar Bagi Siswa Kelas VII SMP Negeri 2
Tuntang”. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika siswa pada model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick dan Student Teams
Achievement Division materi aljabar bagi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Tuntang.
HASIL BELAJAR
Menurut Supratiknya (2012: 5), hasil belajar adalah objek penilaian kelas berupa kemampuan-kemampuan baru yang diperoleh murid sesudah mereka mengikuti proses belajar-mengajar tentang mata pelajaran tertentu. Pemerolehan kemampuan baru tersebut akan terwujut dalam perubahan tingkah laku tertentu, seperti dari tidak tahu menjadi tahu tentang seluk-beluk gejala tertentu, dari acuh-tak-acuh menjadi menyukai objek atau aktivitas tertentu, serta dari tidak bisa menjadi cakap melakukan ketrampilan tertentu.
Bloom dalam Sudjana (2006: 22) membagi hasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan dan ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Adapun jenis hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatianya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk ketrampilan dan kemampuan bertindak individu.
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
5
biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas (Suprijono, 2015:73). Tipe-tipe model pembelajran kooperatif antara lain talking stick dan student teams achievement division (STAD).
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TALKING STICK
Menurut Shoimin (2014: 197), talking stick adalah model pembelajaran yang pada mulanya digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk mengajak semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum (pertemuan antarsuku). Talking Stick (tongkat berbicara) telah digunakan selama berabad-abad oleh suku-suku Indian sebagai alat menyimak secara adil dan tidak memihak. Tongkat berbicara juga sering digunakan kalangan dewan untuk memutuskan siapa yang mempunyai hak berbicara pada saat rapat. Pada saat pimpinan rapat mulai berdiskusi dan membahas masalah harus memegang tongkat. Tongkat akan berpindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau menanggapinya. Dengan cara ini tongkat berbicara akan berpindah dari satu orang ke orang lain jika orang tersebut ingin berbicara, tongkat itu lalu dikembalikan lagi ke ketua atau pimpinan rapat. Penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa talking stick dipakai sebagai tanda seseorang mempunyai hak suara (berbicara) yang diberikan secara bergiliran atau bergantian.
Pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick, sebelum pembelajaran guru menyiapakan tongkat yang panjangnya kurang lebih 20 cm. Pada saat pembelajaran, guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian siswa dibagi dalam kelompok untuk berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana. Setelah siswa selesai membaca wacana, guru mempersilahkan siswa untuk menutup buku. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu siswa. Siswa yang memegang tongkat menjawab pertanyaan dari guru. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan dari guru, kemudian guru memberi kesimpulan dan melakukan evaluasi (Huda, 2013: 277).
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS
ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)
6
2007: 51). Menurut Slavin (2008: 143), STAD terdiri lima komponen utama yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individu, dan rekognisi tim. Pada komponen presentasi kelas yaitu guru menyajikan materi pelajaran. Pada komponen tim, guru membagi siswa dalam kelompok secara heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Pada komponen kuis, setiap siswa mengerjakan kuis secara individu. Pada tahap komponen kemajuan individu, guru men-score
kuis tersebut dan mencatat pemerolehan hasil saat itu serta hasil pada pertemuan sebelumnya dengan kriteria skor tertentu. Berikut merupakan tabel pemberian skor individu.
Tabel 1. Skor Kemajuan Individu
Nilai tes Skor Perkembangan
1. Lebih dari 10 poin dibawah skor awal 0 poin 2. 10-1 poin dibawah skor awal 10 poin 3. Skor awal sampai 10 poin diatas skor awal 20 poin 4. Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30 poin 5. Nilai sempurna (tanpa memperhatikan skor awal) 30 poin
(Slavin, 2009: 159)
Pada komponen rekognisi tim, tim akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan apabila skor rata-rata kelompok mencapai kriteria tertentu. Rekognisi dilakukan pada saat terakhir pembelajaran.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini merupakan mixed method dengan model sequential explanatory, karena dalam penelitian ini pengumpulan data dan analisis data kuantitatif pada tahap pertama, dan diikuti dengan pengumpulan dan analisis data kualitatif pada tahap kedua, guna untuk memperkuat hasil penelitian kuantitatif yang dilakukan pada tahap pertama. Analisis data kuantitatif digunakan untuk olah data hasil belajar. Adapun data kuantitatif diperoleh menggunakan desain penelitian quasi experimental design untuk mengetahui perbedaan hasil belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dan STAD. Desian ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen (Sugiyono, 2010). Deskripsi hasil belajar mengguanakan deskriptif kualitatif, sedangkan analisis data kualitatif untuk mendeskripsikan proses hasil belajar untuk mendukung data kuantitatif.
7
235 siswa yang terbagi atas tujuh kelas. Adapun pengambilan sampel menggunakan teknik
cluster random sampling yang dilakukan secara bertahap. Pertama-tama populasi dalam
penelitian ini dikelompokkan menjadi 7 cluster sesuai dengan kelas masing-masing, selanjutnya dipilih 2 cluster secara acak dan secara acak pula kedua kelas tersebut dipilih sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kemudian, seluruh siswa dalam kelas tersebut diambil sebagai sampel sehingga terpilihlah kelas VII C sebanyak 34 siswa sebagai kelas eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dan kelas VII E sebanyak 31 siswa sebagai kelas kontrol dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, tes, dan dokumentasi. Lembar observasi digunakan untuk mendapatkan data tentang pencapaian guru dalam memberikan perlakuan di dalam kelas, sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran benar-benar sesuai dengan kondisi proses yang diharapkan. Adapun instrumen observasi yang digunakan adalah lembar observasi implementasi RPP untuk aktifitas guru dan siswa, serta lembar observasi aktivitas siswa dalam kelompok untuk mengetahui aktivitas siswa dalam kelompok saat proses pembelajaran. Adapun tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang digunakan untuk mengukur pencapaian siswa sebelum diberi perlakuan dengan pretest dan juga setelah diberi perlakuan dengan posttest. Nilai pretest diambil dari nilai UTS, sedangkan nilai posttest tentang materi aljabar yang diberikan kepada siswa berbentuk uraian berjumlah 10 soal untuk mengetahui hasil belajar siswa sehingga dapat mengetahui perbedaan hasil belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan talking stick. Sebelum digunakan sebagai instrumen dalam pengambilan data, instrumen posttest terlebih dahulu dilakukan validasi isi melalui experts judgement yaitu penilaian yang dilakukan oleh para ahli. Validasi isi instrumen tes hasil belajar pada penelitian ini dilakukan oleh tiga ahli, yaitu dua dosen pendidikan matematika Universitas Kristen Satya Wacana dan satu guru matematika SMP negeri 2 Tuntang. Setelah dinyatakan layak digunakan maka instrumen siap digunakan dalam penelitian. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan awal siswa dan foto-foto saat pembelajaran.
8
untuk mengetahui uji beda rerata yang digunakan maka dilakukan uji normalitas terlebih dahulu. Jika uji normalitas terpenuhi maka uji beda rerata yang digunakan adalah parametik
(Independent Sampel T-Test), sebaliknya jika uji normalitas tidak terpenuhi maka uji beda rerata yang digunakan adalah non parametik (Mann-Whitney). Uji Independent sampel t-test
terdiri dari dua macam sampel yaitu equal variances assumed (diasumsikan bahwa kedua variansi sama) dan equal variances not assumed (diasumsikan bahwa kedua variansi tidak sama).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Kemampuan Awal Siswa
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII C dan VII E SMP Negeri 2 Tuntang. Kelas VII C sebagai kelas eksperimen yang berarti kelas ini diberi perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick, dan kelas VII E sebagai kelas kontrol yang berarti kelas ini diberi perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Data awal yang diperoleh dari penelitian ini adalah hasil belajar siswa yaitu nilai pretest
yang diambil dari nilai Ulangan Tengah Semester (UTS). Pretest dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dari masing-masing sampel. Hasil pretest
antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Kemampuan Awal Siswa
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Pretest Pretest
N 34 31
Minimum 40 35
Maksimum 93 83
Rata-rata 55,76 53,97
Uji Normalitas 0,87 0,96
Uji Homogenitas 0,633
Uji t 0,592
Judgment Kedua kelas sampel memiliki kemampuan
matematika awal yang sama atau seimbang.
Berdasarkan Tabel 2 hasil pretest siswa SMP Negeri 2 Tuntang kelas VII C yang digunakan sebagai kelas eksperimen dapat dilihat dari 34 subjek penelitian, nilai terendah sebesar 40 dan nilai tertinggi sebesar 93 dengan rata-rata sebesar 55,76. Pada kelas VII E yang digunakan pada kelas kontrol dapat dilihat dari 31 subjek penelitian, nilai terendah sebesar 35 dan nilai tertinggi sebesar 83 dengan rata-rata 53,97.
9
signifikansi 0,96. Hal ini berarti nilai signifikansi kedua kelas memiliki taraf signifikansi lebih dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelas masing-masing berasal dari populasi yang berdistribusi normal sehingga dapat dilakukan uji selanjutnya, yaitu uji homogenitas dan uji beda rerata.
Uji homogenitas dan uji beda rerata dilakukan menggunakan uji Independent sampel t-test. Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa taraf signifikansi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 0,633 (lebih dari 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelas berasal dari varians yang sama (homogen). Dengan demikian analisis uji beda t-test harus menggunakan equal variances assumed. Hasil dari uji ini menghasilkan nilai signifikan 0,592 (lebih dari 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan nilai pretest. Jadi kedua kelas memiliki kemampuan awal yang sama.
2. Kemampuan Akhir Siswa
Soal posttest yang digunakan berjumlah 10 soal uraian. Pemberian posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dan STAD. Hasil posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Kemampuan Akhir Siswa
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Pretest Pretest
N 34 31
Minimum 70 70
Maksimum 100 100
Rata-rata 83,68 78,71
Uji Normalitas 0,000 0,008
Uji Mann-Whitney U 0,029
Judgment
Terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick
dan STAD
Berdasarkan Tabel 3 hasil posttest kelas eksperimen dapat dilihat dari 34 subjek penelitian, nilai terendah sebesar 70, nilai tertinggi sebesar 100 dengan rata-rata sebesar 83,68. Hasil posttest kelas kontrol dapat dilihat dari 31 subjek penelitian, nilai terendah sebesar 70, nilai tertinggi sebesar 100 dengan rata-rata sebesar 83,68.
10
signifikansi kedua kelas memiliki taraf signifikansi kurang dari 0,05, yang berarti data tersebut tidak berasal dari distribusi yang normal. Oleh karena itu, pengujian beda rerata menggunakan uji Mann-Whitney U.
Uji Mann-Whitney U dapat menghasilkan nilai signifikansi 0,029 (kurang dari 0,05),
dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelas eksperimen (83,68) lebih tinggi daripada siswa kelas kontrol (78,71) maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara hasil belajar yang dikenakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dan STAD dimana hasil belajar siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe talking stick lebih baik dibanding dengan siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD bagi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Tuntang.
3. Deskripsi Proses Pembelajaran Menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
talking stick dan STAD
Proses pembelajaran kelas VII C SMP Negeri 2 Tuntang dengan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick pada saat guru mengelompokkan siswa menimbulkan kegaduhan, hal tersebut terlihat pada hasil lembar observasi aktivitas siswa dalam kelompok yang diisi oleh salah satu guru matematika SMP Negeri 2 Tuntang pada Gambar 1.
Gambar 1. Hasil Lembar ObservasiAktivitas Siswa Dalam Kelompok Pada Kelas VII C
Berdasarkan Gambar 1, saat pembagian kelompok kondisi kelas gaduh, hal ini disebabkan karena siswa mengalami kebingungan dengan adanya suatu model pembelajaran yang masih baru bagi siswa dan siswa ingin berkelompok. Guru kemudian memberi pengarahan kepada siswa, sehingga pada akhirnya siswa mengikuti arahan dari guru untuk berkelompok dengan kondisi yang telah ditentukan oleh guru.
11
menggunakan permainan. Tetapi terlihat siswa merasa takut jika saat memegang tongkat, siswa tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru. Jika siswa yang tidak dapat menjawab pertanyaan dari guru, maka siswa mendapat hukuman, hukuman tersebut adalah menyanyi di depan kelas. Dengan adanya hukuman, siswa menjadi lebih antusias saat proses pembelajaran dan lebih giat belajar, agar tidak mendapat hukuman tersebut. Hal-hal tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick sangat baik. Gambar permainan menggunakan tongkat pada kelas VII C sebagai berikut.
Gambar 2. Pembelajaran Menggunakan Model Kooperatif tipe Talking Stick
Proses pembelajaran kelas VII E SMP Negeri 2 Tuntang dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tidak jauh berbeda dengan kelas sebelumnya, kondisi siswa gaduh saat pembagian kelompok. Hal tersebut terlihat pada hasil lembar observasi aktivitas siswa dalam kelompok yang diisi oleh salah satu guru matematika SMP Negeri 2 Tuntang pada Gambar 3.
Gambar 3. Hasil Lembar Observasi Aktivitas Siswa Dalam Kelompok Pada Kelas VII E
12
kriteria skor tertentu. Hal tersebut membuat siswa pada akhirnya siswa mengikuti arahan dari guru untuk berkelompok dengan kondisi yang telah ditentukan oleh guru.
Pada akhir pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD selalu diadakan kuis. Pada saat siswa mengerjakan kuis dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Kuis pada Model Pembelajaraan Kooperatif tipe STAD
Pada Gambar 4, terlihat siswa antusias mengerjakan kuis, meskipun pada awalnya siswa mengeluh karena setiap akhir pertemuan selalu diadakan kuis, tetapi guru membimbing agar siswa mau mengerjakan kuis tersebut. Guru juga memberitahu bahwa kelompok akan mendapatkan penghargaan apabila skor rata-rata kelompok mencapai kriteria tertentu. Hal tersebut membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran dan siswa lebih giat belajar, agar rata-rata kelompoknya mencapai kriteria tertentu, sehingga kelompoknya mendapatkan penghargaan. Hal tersebut yang mengakibatkan hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD baik. Tetapi hasil belajar siswa kelas sebelumnya lebih baik daripada kelas ini, karena pada kelas sebelumnya hanya siswa yang memegang tongkat yang menjawab pertanyaan dari guru dan menjawabnya secara lisan, sehingga membuat siswa lebih antusias saat pembelajaran agar siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut. Berbeda dengan kelas ini, siswa mengerjakan kuis dengan waktu yang bersamaan dan bersifat tertulis. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick lebih baik daripada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
PENUTUP
13
Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,029, dimana 0,029 < 0,05. Kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick memiliki rata-rata hasil belajar 83,68 lebih tinggi daripada kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang memiliki rata-rata 78,71. Pada kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick hanya siswa yang memegang tongkat yang menjawab pertanyaan dari guru dan menjawabnya secara lisan, sehingga membuat siswa lebih antusias saat pembelajaran agar siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut. Berbeda dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa mengerjakan kuis dengan waktu yang bersamaan dan bersifat tertulis. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick lebih baik daripada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar diantara siswa yang diajar menggunakan model kooperatif tipe talking stick lebih baik daripada siswa yang diajar dengan menggunkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Tuntang, maka dalam proses pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dapat digunakan sebagai alternatif ajaran sehingga proses pembelajaran tidak hanya berpusat kepada guru.
DAFTAR PUSTAKA
A.Supratiknya. 2012. Penilaian Hasil Belajar Dengan Teknik Nontes. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Hidayat, Bayu dan Nur Kholis. 2014. Perbandingan Metode Pembelajaran Talking Stick Dengan Student Teams Achievement Divisions Pada Standar Kompetensi Memperbaiki Compact Cassete Recorder di Kelas X Teknik Audio Video SMK Muhammadiyah 1 Gresik. Universitas Negeri
Surabaya. Jurnal Pendidikan Teknik Elektro. Volume 03, Nomor 03, Tahun 2014, 605 – 611.
Depdiknas. 2007. Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus dan Contoh/ Model Silabus SMA/MA. Jakarta: Depdiknas.
Hakim A. H. R, dan Pramukantoro J. A. 2013. Pengaruh Perpaduan Metode Pembelajaran Snowball Throwing Dengan Talking Stick Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi
Menerapkan Dasar-Dasar Elektronika. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Jurnal
Penelitian Pendidikan Teknik Elektro. Volume 01 Nomor 1, Tahun 2013, 11-20. Huda, M. 2015. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Isjoni. 2007. Pembelajaran Visioner: Perpaduan Indonesia -malaysia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rejika, Riana dan Hasruddin. (2016). Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dan STAD Terhadap Hasil Belajar SIswa Pada Materi Sistem Pencernaan Manusia. Medan: Universitas
Negeri Medan. Jurnal Pelita Pendidikan. Volume 04. Nomor 2, Tahun 2016, 053 – 060.
Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Prenada: Jakarta. Shoimin, A. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-ruzz Media. Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.
Slavin, Robert E. 2009. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Indah.
14
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D.
Bandung: Alfabeta.