• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHASA INDONESIA DAN PERSPEKTIFNYA DALAM KOMUNIKASI GLOBAL BERBASIS MULTIKULTURAL. Sutji Muljani ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAHASA INDONESIA DAN PERSPEKTIFNYA DALAM KOMUNIKASI GLOBAL BERBASIS MULTIKULTURAL. Sutji Muljani ABSTRAK"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAHASA INDONESIA DAN PERSPEKTIFNYA DALAM KOMUNIKASI GLOBAL BERBASIS MULTIKULTURAL

Sutji Muljani

ABSTRAK

Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dapat menjadi bahasa pergaulan antarbangsa dalam komunikasi global, seperti bahasa-bahasa asing lainnya, jika identitas bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dimapankan terlebih dahulu. Mapannya dan mantapnya identitas kenasionalan bahasa Indonesia akan terwujud jika seluruh pemakai bahasa Indonesia, mulai dari kaum elit sampai dengan kawula alit, sudah memiliki sikap posistif bahasa dan menyadari betul arti penting bahasa Indonesia dalam proses menuju Indonesia bersatu. Untuk itu, pembinaan terhadap sikap positif pemakai bahasa Indonesia perlu diupayakan secara terus-menerus oleh pemerintah dan masyarakat.

Di samping pembinaan terhadap sikap positif bahasa, langkah pemodernan bahasa juga perlu dilakukan. Langkah ini harus dilakukan dengan pendekatan idealisme, realisme, dan pragmatisme, baik pemodernan alami, maupun pemodernan terencana. Landasan idealisme, yang terdapat dalam masyarkat kita, yaitu dengan digunakannya bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Lamdasan realisme dan pragmatisme, yaitu landasan pembinaan dan pengembangan bahasa yang didasarkan pada sikap masyarakat modern dalam menghadapi kehidupan dewasa ini; dan perilaku mereka dalam menghadapi berbagai persoalan yang semakin realistis dan pragmatis.

Dengan pemodernan bahasa dan pembinaan sikap positif bahasa dari para pemakai bahasa Indonesia, diharapkan bahasa Indonesia dapat bertumbuh dan berkembang menjadi bahasa pergaulan antarbangsa. Jika bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa pergaulan antarbangsa, tidak menutup kemungkinan, suatu saat bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa internasional.

(2)

Kata kunci: bahasa Indonesia, komunikasi global

A. Pengantar

Bahasa menunjukkan bangsa. Peribahasa ini menunjukkan bahwa sebuah bahasa bisa menjadi identitas nasional suatu bangsa. Identitas atau jati diri suatu bangsa bisa dilihat dari peran bahasa nasional yang dimilikinya. Semakin kuat peran dan kedudukan bahasa nasional suatu bangsa, semakin kuatlah kedudukan bangsa itu di tengah-tengah pergaulan dunia yang sangat beragam bahasa dan budayanya.

Jika dikembalikan kepada peran bahasa Indonesia (BI) sebagai bahasa nasional, sudah mapankah bahasa Indonesia menjadi identitas bangsa Indonesia? Jika sudah mapan peran dan kedudukan bahasa Indonesia, sampai di manakah kemampuan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dapat menjadi identitas bangsa di tengah-tengah komunikasi masyarakat dunia yang multikultural? Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab terlebih dahulu sebelum berbicara tentang bahasa Indonesia dalam komunikasi global berbasis multikultural. Mengapa demikian?

Didasarkan kenyataan bahwa sebuah bahasa tidak akan mungkin menjadi bahasa pergaulan antarbangsa dalam komunikasi global tanpa didukung oleh sikap positif bahasa para pemakai bahasa itu sendiri, termasuk bahasa Indonesia. Bagaimana mungkin bangsa lain akan menghargai bahasa Indonesia, sementara kita sebagai pemakai bahasa Indonesia tidak bangga terhadap bahasa Indonesia, tidak setia terhadap bahasa Indonesia, dan tidak mengetahui norma atau kaidah bahasa Indonesia? Kalau sudah demikian, pertanyaan selanjutnya, yaitu apakah mungkin sebuah bahasa nasional yang tidak didukung oleh sikap positif pemakainya mampu menjadi bahasa pergaulan antarbangsa? Jawabnya adalah jelas sekali bahwa tidak akan mungkin sebuah bahasa nasional yang tidak didukung oleh sikap positif para

(3)

pemakainya dapat menjadi bahasa dalam pergaulan antarbangsa, apalagi jika tidak didukung kebijakan politik (political wheel) pemerintah. Jika demikian keadaannya, tidak menutup kemungkinan bahasa nasional tersebut justru akan menjadi bahasa mati, padahal menghidupkan bahasa yng telah mati ibarat mendirikan benang basah. Sangat sulit hal itu dilakukan.

Berkaitan dengan hal tersebut, dalam makalah ini akan diulas tentang sikap positif bahasa dan landasan pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern. Dengan demikian, diharapkan bahasa Indonesia memiliki perspektif sebagai bahasa dalam komunikasi global.

B. Sikap Pemakai Bahasa Indonesia

Yang dimaksud dengan sikap pemakai di sini, yaitu sikap positif dan sikap negatif para pemakai bahasa Indonesia terhadap bahasa Indonesia. Jadi, sikap di sini bukanlah berkaitan dengan ragam bahasa yang disebut langgam atau gaya. Sikap positif bahasa, yaitu setia terhadap bahasa, bangga terhadap bahasa, dan tahu norma atau kaidah bahasa. Sikap negatif bahasa merupakan kebalikan dari sikap positif bahasa.

Sikap pemakai bahasa Indonesia yang diharapkan dapat mendukung proses pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia, yaitu sikap positif bahasa. Dengan sikap positif para pemakai bahasa Indonesia dan didukung oleh kebijakan politik pemerintah, bahasa Indonesia akan memapu berkembang ke ruang lingkup yang lebih besar, baik tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Untuk itu, pembinaan masyarakat untuk bersikap positif bahasa harus dilaksanakan seiring dengan pembinaan atau penstandaran struktur dan sistem bahasa itu sendiri. Pembinaan terhadap sistem dan struktur bahasa akan lebih bermakna jika diikuti dengan pembinaan sikap positif para pemakai bahasa. Bagaimanakah cara yang paling efektif dalam penanaman dan pembinaan terhadap sikap positif bahasa para pemakai bahasa?

Untuk menjawab permasalahan tersebut, sudah seharusnya tiap-tiap individu memiliki rasa tanggung jawab terhadap upaya pembinaan sikap

(4)

positif bahasa. Masalah tersebut menjadi tugas kita sebagai masyarakat Indonesia sekaligus pemilik bahasa Indonesia.

Hal tersebut dapat dimulai dari para pejabat di tingkat yang paling rendah sampai yang paling tinggi untuk bisa memberikan teladan kepada masyarakat tentang pentingnya pemakaian bahasa yang baik dan benar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegeara. Di samping itu, para dosen di lingkungan perguruan tinggi, para guru di lingkungan sekolah, dan para tokoh yang berpengaruh di masyarakat harus mampu memberikan teladan kepada orang-orang terdekatnya dalam hal pemakaian bahasa Indonesia.

Hal tersbut perlu dikemukakan karena, tanpa bermaksud mengecilkan sikap positif bahasa para pemakai bahasa Indonesia, pada kenyataannya masih banyak lembaga pemerintahan, lembaga perbankan, lembaga perhotelan, penamaan jalan, bahkan perguruan tinggi yang lebih mendahulukan pemakaian kata dan istilah asing daripada kata atau istilah dalam bahasa Indonesia. Banyak perhotelan yang lebih bangga menuliskan kata welcome dengan huruf yang lebih besar dan lebih dikedepankan daripada selamat datang. Kata medical center lebih dikedepankan daripada pusat kesehatan, Bahari Inn daripada Hotel Bahari, cek in, cek out, deadline, delete, handle, cancel, dan masih banyak lagi kata dan istilah asing dikedepankan daripada pemakaian kata dan istilah dalam bahasa Indonesia.

Sikap positif bahasa yang dimiliki oleh para pemakai bahasa Indonesia bukan berarti menutup diri atau menutup peluang dan kesempatan untuk belajar bahasa asing lainnya. Belajar bahasa asing mana pun boleh dilakukan, bahkan harus dilakukan oleh pemakai bahasa Indonesia untuk menunjang kemampuan kita dalam berbahasa. Kemampuan berbahasa asing harus digunakan sebagai pendukung kemampuan kita dalam berbahasa Indonesia. Jangan sampai kemampuan berbahasa asing kita digunakan untuk meremehkan fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia.

Bersikap positif bahasa dengan penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta didukung dengan penguasaan bahasa asing, terutama

(5)

bahasa Inggris, menjadi sangat penting bagi masyarakat pemakai bahasa Indonesia pada masa global saat ini. Dengan demikian, yang menjadi harapan kita tentang bahasa Indonesia dalam komunikasi global dapat terwujud.

Jadi, pembinaan terhadap sistem dan struktur bahasa melalui pemodernan bahasa, pembinaan sikap positif bahasa terhadap masyarakat, dan kebijakan politik pemerintah terhadap bahasa Indonesia menjadi penentu yang strategis dalam mewuudkan eksistensi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Dengan begitu, bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa pergaulan antarbangsa dalam komunikasi global.

C. Landasan Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Modern

Untuk memantapkan bahasa nasional dalam komunikasi global, langkah pemodernan bahasa perlu dilakukan. Langkah pemodernan bahasa, yaitu langkah memutakhirkan bahasa Indonesia agar dapat berkembang selaras dengan keperluan komunikasi dewasa ini. Pemodernran bahasa dapat dilakiukan secara alami dan secara terencana. Pemodernan alami dilakukan akibat tuntutan komunikasi yang menggiring perkembangan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pemodernan alami dimulai sejak masyarakat bersentuhan dengan masyarakat dan budaya asing. Pemodernan bahasa secara terencana sudah dimulai sejak 1972 sejak diberlakukannya Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Pola dan strategi pembinaan serta pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern tidak hanya dilandasi semangat idealisme, tetapi juga semangat realisme dan pragmatisme (Halim, 2004: 7). Landasan idealisme, yang terdapat dalam masyarkat kita, yaitu dengan digunakannya bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Lamdasan realisme dan pragmatisme, yaitu landasan pembinaan dan pengembangan bahasa yang didasarkan pada sikap masyarakat modern dalam menghadapi kehidupan dewasa ini; dan perilaku mereka dalam menghadapi berbagai persoalan yang semakin realistis dan pragmatis. Strategi pembinaan dan pengembangan bahasa yang berlandaskan realis pragmatis akan lebih luwes jika tetap

(6)

berpijak pada landasan idealis. Jika bahasa Indonesia menjadi bahasa yang modern, sangat dimungkinkan ke depannya bahasa Indonesia dapat bertumbuh dan berkembang menjadi bahasa internasional dalam komunikasi global.

D. Simpulan dan Saran

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dapat menjadi bahasa pergaulan antarbangsa dalam komunikasi global, seperti bahasa-bahasa asing lainnya, jika identitas bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dimapankan terlebih dahulu. Mapannya dan mantapnya identitas kenasionalan bahasa Indonesia akan terwujud jika seluruh pemakai bahasa Indonesia, mulai dari kaum elit sampai dengan kawula alit, sudah memiliki sikap posistif bahasa dan menyadari betul arti penting bahasa Indonesia dalam proses menuju Indonesia bersatu. Untuk itu, pembinaan terhadap sikapa positif pemakai bahasa Indonesia perlu diupayakan secara terus-menerus oleh pemerintah dan masyarakat.

Di samping pembinaan terhadap sikap positif bahasa, langkah pemodernan bahasa juga perlu dilakukan. Langkah ini harus dilakukan dengan pendekatan idealisme, realisme, dan pragmatisme, baik pemodernan alami, maupun pemodernan terencana. Dengan pemodernan bahasa dan pembinaan sikap positif bahasa dari para pemakai bahasa Indonesia, diharapkan bahasa Indonesia dapat bertumbuh dan berkembang menjadi bahasa pergaulan antarbangsa. Jika bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa pergaulan antarbangsa, tidak menutup kemungkinan, suatu saat bahasa indonesia mampu menjadi bahasa internasional.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Avianto. 2004. “Bilingualisme (minimal) itu Penting sekali di Era Globalisasi” (www.google.com)

Baryradi, I.Praptomo. 2000. “Bahasa, Demokrasi, dan Integritas Bangsa dalam Konteks Menuju Indonesia Baru” (PIBSI XXII, 13 s.d. 14 November 2002. Universitas Veteran Bangun nuisantara Sukoharjo)

Depdiknas. 2008. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Halim, amaran. 2003. “Fungsi dan Kedudukan Bahasa Asing dalam Pengmebangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia” Suara Merdeka, 23 Oktober 2003

Kusnen dan Subandi. 2001. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Universitas Jendral Sudirman Purwokerto.

Johnson, Ben. 2006. “Indonesian Language Teaching in Victorian, a Personal Perspektif” (http://www.pegs.vic.edu.su.au/lote/indekx.htm, 28 April 2006)

Setiawan, Budi. 2002. “Bahasa Indonesia sebagai Sarana komunikasi dalam Mengungkapkan Pembangunan Indonesia”. PIBSI XXIV, 15 s.d. 16 Oktober 2002. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(8)

Referensi

Dokumen terkait

Penambahan vitamin C dalam media pengencer dapat mempengaruhi tingkat motilitas, viabilitas, abnormalitas dan integritas membran plasmaa spermatozoa tanpa sexing

Penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Veronica & Utama (2006) menemukan bahwa praktik corporate governance yang diukur dari

Selanjutnya Patty dkk (1982) dalam Lambok (2006) membedakan dua faktor yang menyebabkan sesuatu menjadi obyek perhatian. Faktor tersebut adalah faktor objektif dan faktor

Berdasarkan Pasal 1 angka 4 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2017 (selanjutnya disebut Permenkes Nomor 28 Tahun 2017), bidan yang akan menjalankan praktik

• Persetujuan transaksi akuisisi 100% saham PT Retower Asia oleh Perseroan melalui mekanisme pembelian dan pelaksanaan opsi saham dan transaksi pembelian piutang atas PT Retower

Sebelum mengamati objek langit, terlebih dahulu harus mengatur bagian- bagian teleskop agar objek dapat terlihat. Pertama-tama yang dilakukan adalah mengendurkan klem

Tugas kita adalah memperbaiki diri kita sendiri ke arah yang lebih baik, menjadi manusia pancasilais dan mengimplemntasikan septiap butir nilai pancasila pada kehidupan

Syukur Alhamdulillah penulis haturkan kehadirat Allah AWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Fakultas Sains dan