BAB II
UKHUWAH ISLAMIAH
A. Pengertian Ukhuwah Islamiah 1. Secara Etimologi (kebahasaan)
Dari segi bahasa, kata ukhuwah berasal dari kata dasar akhun (ُخَا ). Kata akhun (ُخَا ) ini dapat berarti saudara kandung/seketurunan atau dapat juga berarti kawan. Bentuk jamaknya ada dua, yaitu ikhwat ( ٌةَﻮ ْﺧِإ) untuk yang berarti saudara kandung dan ( ٌناَﻮ ْﺧِإ) untuk yang berarti kawan.1 Jadi ukhuwah bisa diartikan “persaudaraan”.
Sedangkan ukhuwah (ukhuwwah) yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti memperhatikan. Makna asal kata ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang bersaudara.
Boleh jadi, perhatian itu pada mulanya lahir karena adanya persamaan di antara pihak-pihak yang bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian berkembang dan pada akhirnya ukhuwah diartikan sebagai setiap persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan, dari segi ibu bapak, atau keduanya maupun dari segi persusuan secara majazi kata ukhuwah (persaudaraan) mencakup persamaan salah satu unsur seperti suku, agama, profesi dan perasaan. Dalam kamus-kamus bahasa Arab ditemukan bahwa kata akh yang membentuk kata ukhuwwah digunakan juga dengan anti teman akrab atau sahabat.2
2. Secara Terminologi
Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Ukhuwah Islamiah adalah ikatan kejiwaan yang melahirkan perasaan yang mendalam dengan
1 Louis Ma’luf al Yasui,
Kamus al Munjid fi al Lughah wa al A’lam, (Beirut: Dar al
Masyriq), Cet. XXVIII, 1986, hlm. 5.
2 M. Quraish Shihab,
kelembutan, cinta dan sikap hormat kepada setiap orang yang sama-sama diikat dengan akidah Islamiah, iman dan takwa. 3
Ukhuwah Islamiah merupakan suatu ikatan akidah yang dapat menyatukan hati semua umat Islam, walaupun tanah tumpah darah mereka berjauhan, bahasa dan bangsa mereka berbeda, sehingga setiap individu di umat Islam senantiasa terikat antara satu sama lainnya, membentuk suatu bangunan umat yang kokoh.4
Terhadap ukhuwah (persaudaraan) ini, al Ghazali, menegaskan bahwa persaudaraan itu harus didasari oleh rasa saling mencintai. Saling mencintai karena Allah Swt dan persaudaraan dalam agama-Nya merupakan pendekatan diri kepada Allah Swt.5
Adapun maksud Ukhuwah Islamiah menurut Dr. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran diuraikan bahwa :
“Istilah Ukhuwah Islamiah perlu didudukkan maknanya, agar bahasan kita tentang ukhuwah tidak mengalami kerancuan. Untuk itu terlebih dahulu perlu dilakukan tinjauan kebahasaan untuk menetapkan kedudukan kata Islamiah dalam istilah di atas. Selama ini ada kesan bahwa istilah tersebut bermakna persaudaraan yang dijalin oleh sesama muslim, sehingga dengan demikian kata lain “Islamiah” dijadikan pelaku ukhuwah itu.
Pemahaman ini kurang tepat, kata Islamiah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami sebagai ajektifa, sehingga Ukhuwah Islamiah berarti persaudaraan yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam”.6
Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Ukhuwah Islamiah merupakan suatu ikatan jiwa yang kuat terhadap penciptanya dan juga terhadap sesama manusia karena adanya suatu kesamaan akidah, iman dan takwa. Adapun dari pendapat ketiga dapat disimpulkan bahwa ukhuwah Islamiah merupakan suatu persaudaraan antar sesama orang
3 Abdullah Nashih Ulwan,
Pendidikan Anak Menurut Islam, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1990), hlm. 5.
4 Musthafa Al Qudhat,
Mabda’ul Ukhuwah fil Islam, terj. Fathur Suhardi, Prinsip Ukhuwah dalam Islam, (Solo: Hazanah Ilmu, 1994), hlm. 14.
5 Al Ghazali,
Mutiara Ihya’ Ulumuddin, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 152-154.
6 M. Quraish Shihab,
Islam, bukan karena keturunan, profesi, jabatan dan sebagainya melainkan karena adanya persamaan akidah.
B. Dasar Ukhuwah Islamiah
Ukhuwah Islamiah merupakan salah satu ajaran Islam yang harus kita laksanakan, sebagaimana ajaran yang lain, Ukhuwah Islamiah juga mempunyai atau berdasarkan firman-firman Allah Swt dan juga sabda Rasulullah Muhammad saw. Dalam al-Quran kata akh (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali.7 Kata ini dapat berarti :
1. Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti pada ayat yang berbicara tentang kewarisan, atau keharaman mengawini orang-orang tertentu, misalnya :
ﺧﻭ ﻢﹸﻜﺗﺎﻤﻋﻭ ﻢﹸﻜﺗﺍﻮﺧﹶﺃﻭ ﻢﹸﻜﺗﺎﻨﺑﻭ ﻢﹸﻜﺗﺎﻬﻣﹸﺃ ﻢﹸﻜﻴﹶﻠﻋ ﺖﻣﺮﺣ
ﻢﹸﻜﺘﹶﻠ
ِﺥَﻷﹾﺍ ﺕﺎﻨﺑﻭ
)
ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ
:
23
(
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki…(Q. S. An Nisa’ : 23)8
2. Saudara yang dijalin dengan ikatan keluarga, seperti bunyi doa Nabi Musa a.s. yang diabadikan dalam al-Quran :
ﻲِﻠﻫﹶﺃ ﻦِﻣ ﺍﺮﻳِﺯﻭ ﻲِﻟ ﹾﻞﻌﺟﺍﻭ
.
ﻲِﺧﹶﺃ ﹶﻥﻭﺭﺎﻫ
)
ﻪﻃ
:
29
-30
(
Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku” (Q. S. Thaahaa : 29-30). 9
3. Saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama, seperti dalam firman-Nya :
ﺍﺩﻮﻫ ﻢﻫﺎﺧﹶﺃ ٍﺩﺎﻋ ﻰﹶﻟِﺇﻭ
)
ﻑﺍﺮﻋﻷﺍ
:
65
(
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum `Aad saudara mereka, Hud.” (Q. S. al-A’raf : 65) 10
7
Ibid, hlm. 487.
8 H. A. Soenarjo,
Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: Depag RI, 1989), hlm. 23.
9
Ibid, hlm. 478.
10
4. Saudara semasyarakat walaupun berselisih paham
ِﺇ
ﺎﻬﻴِﻨﹾﻠِﻔﹾﻛﹶﺃ ﹶﻝﺎﹶﻘﹶﻓ ﹲﺓﺪِﺣﺍﻭ ﹲﺔﺠﻌﻧ ﻲِﻟﻭ ﹰﺔﺠﻌﻧ ﹶﻥﻮﻌﺴِﺗﻭ ﻊﺴِﺗ ﻪﹶﻟ ﻲِﺧﹶﺃ ﺍﹶﺬﻫ ﱠﻥ
ِﺏﺎﹶﻄِﺨﹾﻟﺍ ﻲِﻓ ﻲِﻧﺰﻋﻭ
)
ﺹ
:
23
(
Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.(Q. S. Shaad : 23)11
Dalam sebuah hadits Nabi bersabda saw :
ﻨﻋ ﷲﺍ ﻰﺿﺭ ﺲﻧﺃ ﻦﻋ
ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻝﺎﻗ ﻪ
ﻙﺎﺧﺃ ﺮﺼﻧﺍ
ﺎﻣﻮﻠﻈﻣ ﻭﺃﺎﳌﺎﻇ
)
ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ
(
12Belalah saudaramu, baik ia berlaku aniaya maupun teraniaya.
Ketika beliau ditanya seseorang, bagaimana cara membantu orang yang menganiaya, beliau menjawab
ﻪﻳﺪﻳ ﻕﻮﻓ ﺬﺧﺄﺗ
13
Engkau halangi dia agar tidak berbuat aniaya. 5. Persaudaraan seagama
Ini ditunjukkan oleh firman Allah dalam Q. S, Al Hujurat ayat 10 :
ﹲﺓﻮﺧِﺇ ﹶﻥﻮﻨِﻣﺆﻤﹾﻟﺍ ﺎﻤﻧِﺇ
)
ﺕﺍﺮﺠﳊﺍ
:
10
(
Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara. (Q. S. Al Hujurat : 10)14
C. Sejarah Ukhuwah Pada Zaman Nabi Muhammad Saw
11
Ibid, hlm. 735.
12 Imam Abi Abdullah Muhammad Ibnu Ismail,
Shahih Bukhari, (Beirut: Darul Kitab
Al-Ilmiah, 1992), hlm. 138. 13
Ibid.
14 Soenarjo,
Kehidupan umat yang dicita-citakan oleh Islam ialah satu umat yang hidup dalam kerukunan, sejahtera damai dan kompak seperti sebatang tubuh. Banyak anjuran yang termuat dalam sumber ajaran Islam yang menghendaki agar umat Islam bersatu, bersandar dalam, kebersamaan, bermusyawarah yang berasaskan persamaan, keadilan dan kebenaran, saling menasehati, saling tolong-menolong dan sebagainya. Kehidupan seperti ini pernah terwujud dalam kehidupan generasi pertama dalam masa dakwah Islamiah (zaman Nabi).15
Pada waktu Nabi Muhammad saw mulai membangun masyarakat muslim di Madinah, maka ukhuwah ini menjadi salah satu di antara catur darmanya: 1) membangun masjid, 2) menggalang ukhuwah Islamiah, 3) membuat piagam Madinah bersama golongan Yahudi Nasrani, 4) menyusun garda Nasional/pasukan keamanan.16 Puncak hubungan sosial ini dapat digambarkan dalam masyarakat Islam yang pertama yaitu persaudaraan kaum Anshor dan Muhajirin yang dibangun atas dasar cinta yaitu ikatan hidup yang mengikat masyarakat bagaikan satu bangunan yang kokoh.
Persaudaraan antara golongan Muhajirin dan Anshar ini bukan hanya sekedar kolektif, tetapi juga secara individual (semacam saudara angkat) sehingga diantara mereka mengira dapat saling mewarisi. Disamping antara mereka terbentuk solidaritas sosial yang selama ini belum pernah mereka rasakan.17 Mereka telah mengaplikasikan nilai-nilai yang tinggi itu (ukhuwah) sehingga mereka dapat mencapai menara gading kegemilangan dan kesempurnaan. Hal ini tidak lain karena mereka selalu berpegang teguh pada tali keilmuan yang Allah ikatkan di hati mereka. Selain itu mereka juga menentang siswa yang tidak selaras dengan nilai-nilai keimanan mereka. Namun apa yang terlihat dalam lintasan sejarah umat Islam setelah Nabi saw wafat, ialah suatu fenomena yang menggambarkan wajah umat Islam yang terpcah belah dan bermusuhan satu sama lain.
15 Musthafa al-Qudhaf,
Op. Cit., hlm. 24.
16 Muhammad Tholchah Hasan,
Diskursus Islam dan Pendidikan (Sebuah Wacana Kritis),
(Jakarta: Bina Wiraswasta Insan Indonesia, 2002), hlm. 98. 17 Ibid.
Nabi wafat dengan hanya meninggalkan petunjuk bagaimana seharusnya kaum muslimin hidup dalam bermasyarakat dan bernegara secara umum. Tidak ada penjelasan terperinci yang berupa wasiat bagaimana masyarakat dan negara dikelola setelah beliau wafat, ini merupakan masalah besar umat Islam. Karena tidak ada petunjuk terperinci inliah maka ketika Nabi wafat, belum lagi jenazahnya disemayamkan di persada bumi, kaum muslimin sudah terpecah dalam dua ide politik: demokrasi dan hereditary.18
Pada paruhan kedua masa pemerintahan Ustman bin Affan yang berusia dua belas tahun, gejala perpecahan mulai muncul, lahir kelompok oposan terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan yang beliau ambil. Tanpa memperhatikan maksud dan tujuan dari kebijaksanaan khalifah, mereka menolak pengangkatan pejabat-pejabat negara yang berasal dari satu klan dan khalifah. Mereka menuduh Utsman menganut nepotismen dan menggunakan uang negara untuk mendapat dukungan politik. Ustman tewas diujung pedang kelompok penentang.
Kewafatan ustman melahirkan tiga kelompok kaum muslimin yang berdiri saling berhadapan. Pertama mendukung Ali bin Abi Thalib. Kedua, mendukung muawiyah Ibn Abu Sufyan. Ketiga namakanlah kelompok Jamal terdiri dari penduduk Madinah di bawah pimpinan Aisyah, Thalhah dan Az-Zubeir. Pertentangan Ali dan Mu’awiyah mengulang kembali sejarah lama yakni perang antara Byzantium dengan Persia di masa pra Islam.
Tahkim Shuffin yang merupakan hasil perundingan di Adruh selama enam bulan antara pihak Ali dan pihak Mu’awiyah melahirkan perpecahan di kubu Ali yang berakibat lahir pula kelompok politik baru. Denan terjadinya perpecahan di kubu Ali, maka muncullah ide politik yakni Syiah, Khawarij dan Dinasti (pendukung Mu’awiyah) ketiga kelompok ini antara satu sama lain slaing bermusuhan dan berbunuh maka sejarah pun mencatat begitu banyak darah kaum muslim tertumpah membahasi bumi, hanya karena
18 Nouruzzaman Ash-Shidqi,
Jeram-jeram Peradaban Muslim, (Yogyakarta: Pustaka
perbedaan pandangan politik. Satu tragedy yang berakibat panjang, sampai sekarang. Ukhuwah Islamiah makin dilupakan.
Dinasti Umaiyah yang berkedudukan di Damaskus bertahan hidup hanya satu abad. Dia diganti oleh dinasti Abasiyah yang berkedudukan di Baghdad. Dinasti Abasiyah walaupun pada segi perkembangan budaya memperlihatkan prestasi cemerelang sehingga mampu menempatkan diri sebagai pemegang obor penerang dunia, namun mereka tetap tidak mampu melahirkan ukhuwah.19
Dengan terjadinya keberagaman dalam ide politik dan perbedaan-perbedaan dalam apa yang dianggap sebagai kepentingan nasional, maka benturan-benturan yang terjadi adalah hal yang sukar terelakan. Ini memang suatu hal yang tragis dan sangat menyedihkan, namun adalah suatu kenyataan. Sekarang timbul pertanyaan apakah terhadap hal ini belum ada pemikiran atau upaya-upaya menemukan jalan keluarnya. Jawabannya, sudah. Namun hasil yang menggembirakan belum menampakkan diri.
Untuk melahirkan kerukunan sesama muslim demi tegaknya persatuan, ada enam langkah atau upaya yang layak dikerjakan. 1) menghilangkan sikap fanatisme golongan, 2) menghindari sengketa masalah cabang agama (furu’iyah), 3) mengutamakan persatuan, 4) menumbuhkan rasa kebersamaan, 5) mencegah lahirnya berbagai macam fatwa sebagai hasil ijtihad, maka sebaiknya dilakukan secara kolektif, dan 6) pengertian tentang umat Islam, harus mencakup semua orang yang mengaku dirinya muslim tanpa memperhatikan sikap dan pandangan politiknya.20
D. Tujuan Ukhuwah Islamiah
Agama Islam sebagai Dienullah yang hak bagi seluruh manusia. Nilai-nilai ajarannya meliputi dan menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia yang sangat kompleks. Kesempurnaan ajarannya Islam mampu memberikan respon positif terhadap seluruh persoalan dalam aspek kehidupan manusia dan masyarakat.
19 Ibid.
20
Pada hakikatnya, setiap manusia dalam kehidupan bermasyarakat berkeinginan untuk hidup dengan damai, aman, tenteram, penuh kebahagiaan dan sejahtera. Kondisi seperti ini, sebagaimana dicita-citakan Islam, melukiskan gambaran masyarakat ideal yang diibaratkan organ tubuh manusia. Banyak anjuran yang termuat dalam al-Quran menghendaki agar manusia bersatu dalam kebersamaan dan permusyawaratan yang berazaskan kebersamaan, keadilan dan kebenaran, saling tolong-menolong, saling menasihati dan sebagainya.
Salah satu di antara landasan pokok Islam, di samping azas persamaan dan keadilan ialah azas persaudaraan yang dalam istilah Islam biasa disebut ukhuwah. Ukhuwah/persaudaraan itu dapat didukung oleh bermacam-macam tali dan ikatan. Adakalanya karena pertalian darah dan keturunan (biologis, karena hubungan perkawinan, ikatan keluarga, budaya adat dan lain-lain).
Berbeda dengan persaudaraan Islam, tali yang menghubungkannya yakni akidah, persamaan kepercayaan yang diperkuat pula oleh ruh dan semangat ketaatan yang sama kepada pencipta alam semesta ini.
Adapun salah satu tampilan yang menjadi ciri khas muslim sejati yakni cintanya kepada sesama saudara seiman. Sebuah cinta yang tidak ternoda oleh kecenderungan-kecenderungan duniawi atau hasrat-hasrat yang tersembunyi. Ini merupakan cinta persaudaraan sejati yang kemurniannya diturunkan dari cahaya petunjuk Islam. Pengaruhnya terhadap perilaku manusia sangat unik dalam sejarah hubungan manusia. Ikatan yang menghubungkan seorang muslim dengan saudaranya, tanpa memandang ras, warna kulit atau bahasa merupakan ikatan iman kepada Allah.
Persaudaraan karena iman merupakan ikatan yang kuat antara hati dan pikiran. Tidak mengherankan perasaan persaudaraan/ukhuwah ini akan melahirkan perasaan-perasaan mulia dalam jiwa seorang muslim dan membentuk sikap positif serta menjauhkan sikap-sikap negatif.
Adapun akhlak terhadap sesama muslim yang diajarkan oleh syariat Islam secara garis besarnya menurut K.H. Abdullah Salim sebagai berikut : 21 1. Menghubungkan tali persaudaraan
2. Saling tolong-menolong 3. Membina persatuan
4. Waspada dan menjaga keselamatan bersama 5. Berlomba mencapai kebaikan
6. Bersikap adil
7. Tidak boleh mencela dan menghina
8. Tidak boleh menuduh dengan tuduhan fasiq atau kafir 9. Tidak boleh bermarahan
10. Memenuhi janji 11. Saling memberi salam 12. Menjawab bersin
13. Melayat mereka yang sakit
14. Menyelenggarakan pemakaman jenazah 15. Membebaskan diri dari suatu sumpah 16. Tidak bersikap iri dan dengki
17. Melindungi keselamatan jiwa dan harta 18. Tidak boleh bersikap sombong
19. Bersifat pemaaf
Sifat-sifat dan akhlak yang harus dipelihara dan yang harus disingkirkan di atas dimaksudkan untuk membina persaudaraan dan persahabatan juga untuk memelihara persatuan ukhuwah Islamiah.
E. Macam-macam Ukhuwah Islamiah
Dilihat dari segi bentuknya, bahasa tentang ukhuwah Islamiah dalam al-Quran muncul dalam dua bentuk, yaitu jamak dan tunggal. Bentuk tunggal dengan memakai kata akh (saudara laki-laki) dan kata ukht (saudara perempuan). Adapun bentuk jamaknya memakai kata ikhwan, akhwat dan ikhwat.
Ukhuwah pada mulanya berarti persamaan dan keserasian dalam banyak hal. Karenanya persamaan dalam keturunan mengakibatkan persaudaraan dan persamaan dalam sifat-sifat mengakibatkan persaudaraan.22
21 Abdullah Salim,
Akhlak Islam Membina Rumah Tangga dan Masyarakat, (Jakarta: Media
Dakwah, 1994), hlm. 123-153.
22 Quraish Shihab,
Membumikan Al-Quran : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Mizan: Bandung, 1995), hlm. 358.
Contoh beberapa ayat di depan yang mengisyaratkan bentuk atau jenis “persaudaraan” yang disinggung oleh al-Quran. Semuanya dapat disimpulkan bahwa kitab suci ini memperkenalkan paling tidak empat macam persaudaraan.23 Adapun empat macam ukhuwah tersebut adalah :
1. Ukhuwah Ubudiyah
Ukhuwah Ubudiyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah yaitu bahwa seluruh makhluk adalah bersaudara dalam arti memiliki persamaan.24
2. Ukhuwah Insaniyah
Ukhuwah Insaniyah atau saudara sekemanusiaan adalah dalam arti seluruh manusia adalah bersaudara. Karena mereka semua bersumber dari ayah ibu yang satu yaitu Adam dan Hawa.25 Hal ini berarti bahwa manusia itu diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. (Q.S. Al Hujurat : 13).26
Demikian al-Quran memandang semua manusia mengisyaratkan adanya Ukhuwah Insaniyah sebab dalam persaudaraan ini juga tidak memandang perbedaan agama, bahkan persaudaraan ini merupakan persaudaraan dalam arti yang umum sehingga tidak dibenarkan adanya saling menyakiti, mencela atau perbuatan buruk lainnya.
3. Ukhuwah Wathaniyah Wa Nasab
Ukhuwah Wathaniyah Wa Nasab yaitu persaudaraan dalam kebangsaan dan keturunan. Ayat-ayat macam ini banyak dan hampir mendominasi semua ukhuwah. Sebagaimana dikemukakan oleh Quraish Shihab tentang macam-macam makna akh (saudara) dalam al-Quran yaitu dapat berarti :
a. Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti ayat yang berbicara tentang warisan atau keharaman menikahi orang-orang tertentu. b. Saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga
23 TIM Redaksi Tanwirul Afkar Ma’had Aly PP. Salafiyah Sukorejo Situbondo,
Fiqh Rakyat : Pertautan Fiqh dengan Kekuasaan, (Yogyakarta: LKIS, 2000), hlm, 14.
24 Quraish Shihab,
Membumikan Al-Quran…Op. Cit., hlm. 358.
25
Ibid.
26 R. H. A. Soenarjo,
c. Saudara dalam arti sebangsa walaupun tidak seagama. d. Saudara semasyarakat walaupun berselisih paham. e. Saudara seagama.27
Sebenarnya jika dilihat lebih jauh saudara seketurunan dan saudara sebangsa ini merupakan pengkhususan dari persaudaraan kemanusiaan. Lingkup persaudaraan ini dibatasi oleh suatu wilayah tertentu. Baik itu berupa keturunan, masyarakat ataupun oleh suatu bangsa atau negara.
4. Ukhuwah fi Din al Islam
Ukhuwah fi Din al Islam adalah persaudaraan antar sesama muslim. Lebih tegasnya bahwa antar sesama muslim menurut ajaran Islam adalah saudara. Sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Hujurat ayat 10 :
ﻤﹾﻟﺍ ﺎﻤﻧِﺇ
ﻥﻮﻤﺣﺮﺗ ﻢﹸﻜﱠﻠﻌﹶﻟ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺍﻮﹸﻘﺗﺍﻭ ﻢﹸﻜﻳﻮﺧﹶﺃ ﻦﻴﺑ ﺍﻮﺤِﻠﺻﹶﺄﹶﻓ ﹲﺓﻮﺧِﺇ ﹶﻥﻮﻨِﻣﺆ
َ)
ﺕﺍﺮﺠﳊﺍ
:
10
(
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.28
Ukhuwah fi Din al Islam mempunyai kedudukan yang luhur dan derajat yang tinggi dan tidak dapat diungguli dan disamai oleh ikatan apapun.29 Ukhuwah ini lebih kokoh dibandingkan dengan ukhuwah yang berdasar keturunan, karena ukhuwah yang berdasarkan keturunan akan terputus dengan perbedaan agama, sedangkan ukhuwah berdasarkan akidah tidak akan putus engan bedanya nasab.30 Konsep ukhuwah fi Din al Islam merupakan suatu realitas dan bukti nyata adanya persaudaraan yang hakiki, karena semakin banyak persamaan maka semakin kokoh pula persaudaraan, persamaan rasa dan cita. Hal ini merupakan faktor dominan yang mengawali persaudaraan yang hakiki yaitu persaudaraan antar
27 Quraish Shihab,
Wawasan Al-Quran…Op. Cit., hlm. 487-488.
28 R. H. A. Soenarjo,
Al-Quran… Op. Cit., hlm. 846.
29 Nashir Sulaiman al-Umar,
Tafsir Surat al Hujurat : Manhaj Pembentukan Masyarakat Berakhlak Islam, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1994), hlm. 249.
30 Ali Abdul Halim Mahmud,
Fiqh al Ukhuwah fi al Islam, Terj. Hawn Murtahdo, Merajut Benang Ukhuwah Islamiah, (Solo: Era Intermedia, 2000), hlm. 14.
sesama muslim. Dan iman sebagai ikatannya. Implikasi lebih lanjut adalah dalam solidaritas sosialnya bukan hanya konsep take and give saja yang bicara tetapi sampai pada taraf merasakan derita saudaranya.31
Kaum muslimin tidak dapat mencapai tujuan-tujuannya, yaitu mengaplikasikan syariat Allah ditengah-tengah manusia kecuali jika mereka bekerja sama dalam amalnya. Persaudaran disini bukan hanya berarti kerja sama, saling mengenal atau saling dekat, karena persaudaraan dalam Islam lebih kuat dari segala pengertian saling mengenal, saling mengerti, saling membantu dan solidaritas. Makna-makna ini hanya dapat diperkuat dan ditingkatkan dengan persaudaraan dalam Islam mendorong tercapainya keharmonisan dan menghilangkan persaingan dan permusuhan pada diri manusia dalam kehidupan bermasyarakat mereka. Karena, persaudaraan ini mengharuskan adanya rasa cinta dan kebencian karena Allah, yaitu cinta kepada orang yang memegang kebenaran, kesabaran dan ketakwaan serta membenci orang yang memegang kebatilan, mengikuti hawa nafsu serta berani melanggar keharaman yang telah digariskan Allah.32
Seorang mukmin haruslah menyadari dan memahami makna tentang persaudaraan ini, sehingga mengakui orang mukmin lainnya sebagai saudaranya. Dari sini akan timbul suatu kerja sama dan gotong royong sehingga terciptalah suatu masyarakat muslim yang serasi dan harmonis.
Akhirnya terbentuklah suatu masyarakat yang ideal, yaitu sosok masyarakat yang diwarnai oleh jalinan solidaritas sosial yang tinggi, rasa persaudaraan yang solid antar manusia. Sebagaimana dalam sejarah manusia. Masyarakat seperti ini pernah eksis dalam masyarakat madani yang dibina Rasul saw. Sesama warganya terjalin cinta, semangat gotong royong dan kebersamaan yang tinggi.
31 Quraish Shihab,
Wawasan Al-Quran…Op. Cit., hlm. 491.
32 Ali Abdul Halim Mahmud,
Fiqh Responsibilitas : Tanggung Jawab Muslim dalam Islam, (Jakarta: Gema Insani, 1998), hlm. 140.
F. Faktor-faktor Penunjang Persaudaraan
Ukhuwah sebagaimana dijelaskan sebelumnya, merupakan suatu kondisi saling berhubungan dan saling keterikatan dengan dasar saling mencintai diantara dua orang, atau dalam hal ini antara orang-orang mukmin karena keimanan mereka. Maka diantara mereka harus saling mencintai dan seorang mukmin hendaknya memperlakukan mukmin lain selayaknya saudara sendiri dan melaksanakan hak-hak yang ada di antara mereka.
Ukhuwah (persaudaraan) tidak lahir begitu saja. Lahirnya ukhuwah disebabkan adanya suatu faktor penunjang, yaitu faktor persamaan. Misalnya, persamaan keturunan, suku, bangsa, ideologi, keyakinan (agama) dan sebagainya. Oleh karena itu, semakin banyak faktor persamaan yang ada maka akan semakin memperkokoh ukhuwah tersebut.
Seseorang yang lebih terikat dalam ikatan ukhuwah itu akan mempunyai rasa cinta saudaranya dan ia akan merasakan derita saudaranya. Dia juga akan dengan suka dan rela mengulurkan tangannya untuk membantu saudaranya meskipun dirinya sendiri dalam keadaan serba kekurangan.33
Dalam hal ini, faktor penunjang lahirnya ukhuwah adalah persamaan iman (akidah). Persamaan iman antar mukmin itu menjadikan mereka bersaudara. Di antara mereka terdapat tali Allah (hablullah) yang mengikat erat. Mereka telah disadarkan agar supaya jangan merusak persaudaraan itu dengan percerai-beraian karena alasan apapun.34 Keimanan merupakan unsur pengikat dalam rangka upaya menumbuhkan dan membina ukhuwah tersebut. Ikatan akidah itu lebih kuat daripada ikatan darah dan keturunan. Ikatan ini merupakan pondasi yang kokoh bagi suatu bangunan yang dinamakan Ukhuwah Islamiah.35 Bagi setiap mukmin, ukhuwah merupakan suatu konsekuensi logis daripada keimanan mereka. Iman dan ukhuwah merupakan dua hal yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.
Seorang mukmin seharusnya menyadari sepenuh hati bahwa muslim lain merupakan saudaranya sendiri. Adapun mereka berbeda sebagai bangsa,
33 Quraish Shihab,
Wawasan Al-Quran…Op. Cit., hlm.
34 Ali Yafie,
Op. Cit., hlm. 195.
35 Sahal Mahfudh,
warna kulit, bahasa dan adat istiadat, itu tidak akan menghilangkan sifatnya sebagai saudara. Persaudaraan Islam didasarkan pada tali agama dan kesamaan iman serta penyerahan diri kepada Allah Swt. Persatuan umat Islam diikat dengan semangat tolong menolong saling menghormati persamaan hak dan kewajiban, cinta kasih dan sebagainya. Ukhuwah Islamiah tidak memandang perbedaan bangsa dan keturunan, warna kulit, pangkat derajat atau kekayaan.36 Mereka harus saling menjaga hubungan diantara mereka agar terbina ukhuwah yang harmonis. Mereka harus mencintai saudaranya yang seiman itu sebagaimana halnya dia mencintai dirinya sendiri. Keimanan itu mampu menumbuhkan cinta kasih yang mendalam, yang kemudian diwujudkan dalam beberapa bentuk sikap dan perilaku luhur dan positif yang sarat dengan akhlakul karimah dan solidaritas sosial yang mendalam.37
Adanya sikap saling mencintai akan tercipta suatu tatanan kehidupan sosial yang harmonis dan dinamis di kalangan umat mukmin khususnya dan dikalangan masyarakat umumnya.
G. Petunjuk Al-Quran untuk Memantapkan Ukhuwah
Guna memantapkan ukhuwah tersebut pertama kali al-Quran menggarisbawahi bahwa perbedaan merupakan hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Selain perbedaan tersebut merupakan kehendak Illahi. Juga demi kelestarian hidup, sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan makhluk dipentas bumi. Seandainya Tuhan menghendaki kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah dan memilih, karena hanya dengan demikian seluruhnya akan menjadi satu pendapat.
Seorang muslim dapat memahami adanya pandangan atau bahkan pendapat yang berbeda dengan pandangan agamanya, karena semua itu tidak mungkin berada diluar kehendak Illahi. Kalaupun nalarnya tidak dapat memahami kenapa Tuhan berbuat demikian, kenyataan yang diakui Tuhan itu
36 Moedjono Sosrodirdjo,
Ungkapan dan Istilah Agama Islam, (Jakarta: Pradnya Paramita,
t.t.), hlm. 134
37 Sahal Mahfudh,
tidak akan menggelisahkan atau mengantarkannya “mati” atau memaksa orang lain secara halus maupun kasar agar menganut pandangan mereka.
Untuk menjamin terciptanya persaudaraan dimaksud, Allah Swt memberikan beberapa petunjuk sesuai dengan jenis persaudaraan yang diperintahkan. Adapun petunjuk-petunjuk yang berkaitan dengan persaudaraan secara umum dan persaudaraan seagama Islam, sebagai berikut:38
1. Untuk memantapkan persaudaraan dalam arti umum, Islam memperkenalkan konsep khalifah. Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing dan mengarahkan segala sesuatu agar mencapai maksud dan tujuan penciptaannya. Karena itu Nabi Muhammad saw. juga melarang memetik buah sebelum siap untuk dimanfaatkan, memetik kembang sebelum mekar, atau menyembelih binatang yang terlalu kecil. Nabi Muhammad saw juga mengajarkan agar selalu bersikap bersahabat dengan segala sesuatu sekalipun terhadap benda tak bernyawa. Al-Quran tidak mengenal istilah “Penaklukan alam”, karena secara tegas al-Quran menyatakan bahwa yang menaklukkan alam untuk manusia adalah Allah. Secara tegas pula seorang muslim diajarkan untuk mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk menundukkan sesuatu kecuali atas penundukan Illahi.39
Selain tugas khalifah manusia harus membina peradaban dan kebudayaan diatas bumi sesuai dengan petunjuk Allah, atau dengan istilah mu’amalah ma’allah dan mu’amalah ma’al khalqi. Sesungguhnya tugas khalifah manusia adalah juga merupakan tugas ibadah dalam arti luas. karena penunaian khalifah itu merupakan kebaktian juga kepada Allah.40
Pengangkatan manusia sebagai khalifah Allah (khalifatullah) memang dikehendaki-Nya. Untuk memahami kehendak-Nya, diperlukan telaah, fakta, faktor, fungsi dan peran. Kenyataannya, peran khalifah itu
38 Quraish Shihab,
Wawasan Al-Quran…Op. Cit., hlm. 491-492.
39
Ibid, hlm. 492-493.
40 Nasruddin Razak,
memerlukan syarat-syarat tertentu yaitu seluruh nama-nama benda. Yang karena sistem penamaan itu tenaga (malaikat) menjadi sujud (sistematik) kecuali iblis yang enggan sujud karena ia tertutup oleh kesombongan diri ke-akuan-nya. Dalam hal ini dapat dilihat kegagalan iblis membedakan fakta, faktor, fungsi dan peran. Iblis merasa superior dari asal usulnya, karena ia berasal dari api sedangkan Adam berasal dari tanah. Padahal, yang Allah wajibkan untuk disujudi adalah Adam yang memerankan peran “ketuhanan” yaitu yang agendanya, sistem naitnya, sepenuhnya tumbuh dengan iradahnya. Jadi bukanlah Adam himself melainkan Adam yang bismillah, yang illah, billah, yang ikhlas.41
Sebagai penguasa di bumi, manusia berkewajiban membudayakan alam ini guna menyiapkan kehidupan yang bahagia. Tugas dan kewajiban itu merupakan ujian Tuhan pada manusia. Siapa diantaranya yang paling baik menunaikan amanah itu. Dalam pelaksanaan kewajiban dan amanah, semua adalah sama berdasar bidang masing-masing.
Semua manusia diciptakan dari satu asal yang sama. Tidak ada kelebihan yang satu dari yang lainnya, kecuali yang paling baik dalam menunaikan fungsinya sebagai khalifah Tuhan di bumi, yang lebih banyak manfaatnya bagi kemanusiaan, dan yang paling takwa kepada Allah Swt. Perbedaan ras, dan bangsa hanya sebagai pertanda dan identitas dalam pergaulan Internasional.
Demikian Islam menegaskan prinsip persamaan seluruh manusia. Atas dasar prinsip persamaan itu maka setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Islam tidak memberikan hak-hak istimewa bagi seseorang atau golongan lainnya, baik dalam bidang kerohanian, maupun dalam bidang politik sosial dan ekonomi. Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam kehidupan masyarakat dam masyarakat mempunyai kewajiban bersama atas kesejahteraan tiap-tiap anggotanya. Karenanya
41 Machendrawaty, M. Ag., & Agus Ahmad Safei, M. Ag.,
Pengembangan Masyarakat Islam Dari Ideologi Strategi Sampai Tradisi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 150.
Islam menentang setiap bentuk diskriminasi karena keturunan, maupun karena warna kulit, kesukuan, kebangsaan dan kekayaan.42
2. Untuk mewujudkan persaudaraan antar pemeluk agama, Islam memperkenalkan ajaran
ِﻦﻳِﺩ ﻲِﻟﻭ ﻢﹸﻜﻨﻳِﺩ ﻢﹸﻜﹶﻟ
)
ﻥﻭﺮﻓﺎﻜﻟﺍ
:
6
(
Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku43
Al-Quran juga mengajurkan agar mencari titik singgung dan titik temu antar pemeluk agama. Al-Quran menganjurkan agar dalam interaksi sosial, bila tidak ditemukan persamaan hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain dan tidak perlu saling menyalahkan.44
Dalam bahasa al-Quran, titik persamaan itu adalah kalimah sawa’. Diantara titik persamaan tersebut adalah penciptaan sesuatu kehidupan bermoral yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dalam segala aspek kehidupan manusia. Sesuai blue print Tuhan yang diberikan kepada manusia melalui teks-Nya yang disampaikan oleh Isa as dan Muhammad saw.45
Bahkan al-Quran mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. dan umatnya untuk menyampaikan kepada agama lain, setelah kalimat sawa’ (titik temu) tidak dicapai.
Jalinan persaudaraan antara seorang muslim dan non muslim sama sekali tidak dilarang oleh Islam, selama pihak lain menghormati hak-hak kaum muslim. Dalam monoteisme, kekuatan supranatural itu dipandang sebagai Tuhan pencipta alam semesta, termasuk manusia di dalamnya. Ini mengandung arti bahwa manusia seluruhnya merupakan makhluk Tuhan. Manusia sebenarnya bersaudara. Manusia seluruhnya adalah bersaudara, dalam arti bahwa sesungguhnya mempunyai keyakinan agama yang
42 Nasruddin Razak,
Op. Cit., hlm. 27-28.
43 Soenarjo,
Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: Depag RI, 1989), hlm. 1112.
44 Quraish Shihab,
Wawasan Al-Quran…Op. Cit., hlm. 493.
45 Alwi Shihab,
Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama, (Bandung: Mizan,
berlainan, mereka tetap bersaudara dipandang dari sudut asal, mereka sama-sama makhluk Tuhan.46
Islam bersikap toleran terhadap agama-agama monoteisme lain, terutama agama Yahudi dan Kristen. Dengan kedua agama ini Islam mempunyai hubungan yang erat. Islam mengakui bahwa kedua agama ini berasal dari satu sumber, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran dasar yang disampaikan kepada Yesus adalah sama dengan ajaran yang disampaikan kepada Nabi Muhammad. Ajaran dasar yang dimaksud ialah Islam, yaitu percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menyerahkan diri kepada-Nya. Bukti bahwa Islam bersifat toleran terhadap agama lain yaitu diperbolehkannya pria Islam mengikat perkawinan dengan wanita Yahudi dan Kristen dengan tidak disyaratkan harusnya wanita yang bersangkutan mengubah agamanya. Islam memperbolehkan umatnya mengadakan bukan hanya hubungan persaudaraan, malahan hubungan yang lebih erat lagi, yaitu hubungan perkawinan.47
Perintah Islam agar umatnya bersikap toleran, bukan hanya pada agama Yahudi dan Kristen, tetapi juga kepada agama-agama yang lain. Ayat 256 surat al-Baqarah mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama karena jalan lurus dan benar telah dapat dibedakan dengan jelas dari jalan yang salah dan sesat. Terserahlah kepada manusia memilih jalan yang dikehendakinya. Telah dijelaskan mana jalan yang akan membawa kepada keselamatan dan mana jalan yang salah yang akan membawa pada kesengsaraan. Manusia merdeka memilih jalan yang dikehendakinya. Manusia telah dewasa dan mempunyai akal, tidak perlu dipaksa, selama kepadanya telah dijelaskan perbedaan antara jalan salah dan jalan benar. Kalau ia memilih jalan salah ia harus berani menanggung resikonya yaitu kesengsaraan kalau ia takut pada kesengsaraan, harusla ia memilih jalan benar.
46 Quraish Shihab,
Wawasan Al-Quran…Op. Cit., hlm. 493-494.
47 Harun Nasution,
Islam Rasional : Gagasan dan Pemikiran, (Bandung: Mizan, 1996),
Dalam hubungan ini ayat 29 surat al-Kahfi mengatakan : kebenaran telah dijelaskan Tuhan, siapa yang mau percaya, percayalah dan siapa yang tak mau janganlah ia percaya. Ayat ini memberikan kemerdekaan bagi orang untuk percaya kepada ajaran yang dibawa Nabi Muhammad dari tidak percaya kepada-Nya. Manusia tidak dipaksa untuk percaya kepada-Nya.48
3. Untuk memantapkan persaudaraan antar sesama muslim. Al-Quran pertama kali menggarisbawahi perlunya menghindari segala macam sikap lahir dan batin yang dapat mengeruhkan hubungan antar mereka.
Al-Quran menyatakan bahwa orang-orang mukmin bersaudara, dan memerintahkan untuk melakukan Islah (perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi kesalahpahaman diantara dua orang (kelompok) kaum muslim.
Manusia marah terhadap manusia lain adalah wajar, tetapi kemarahan yang berlarut-larut merupakan pelanggaran terhadap ajaran agama. Kalau dikatakan bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa, maka berarti setiap manusia pasti mempunyai kesalahan dan kelalaian. Seorang yang marah terhadap kesalahan orang lain, kecuali orang lain itu secara berulang-ulang dan sengaja membuat kesalahan, merupakan orang yang sombong, seakan-akan dirinya tidak pernah salah. Oleh karena itu, Islam mengajarkan apabila ada seorang muslim bermarahan kepada sesamanya, tidak boleh lebih tiga hari.49
Al-Quran juga memerintahkan orang mukmin untuk menghindari prasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, serta menggunjing, yang diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia.
Purbasangka merupakan satu sikap jiwa yang senantiasa diliputi oleh sakwasangka atau curiga. Akibat purbasangka itu dapat meruntuhkan suatu bangunan yang telah lama dibina dengan susah payah. Umpamanya,
48 Quraish Shihab,
Wawasan Al-Quran…Op. Cit., hlm. 494-495.
49 Abdullah Salim,
Akhlaq : Islam Membina Rumah Tangga dan Masyarakat, (Jakarta:
jika seorang suami atau seorang isteri ataupun kedua-duanya dihinggapi oleh penyakit tersebut, maka hilanglah kerukunan dan ketenangan dalam rumah tangga. Akhirnya, timbullah disharmoni, kericuhan dan pertengkaran, dan kemudian terjadi perceraian dengan segala akibat-akibatnya yang menghancurkan.
Demikian halnya dalam hubungan pribadi dengan pribadi. Dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat dan lain-lain. Selama penyakit yang demikian masih terlingkung dalam hubungan pribadi dengan pribadi, maka akibatnya hanyalah dirasakan oleh orang-orang yang bersangkutan saja, atau paling tinggi oleh keluarga-keluarga yang terdekat, seumpama istri, anak dan lain-lain. Tapi jika purbasangka itu hinggap ke lingkungan yang lebih luas, maka ia akan menjelma menjadi semacam penyakit kanker yang akan merusak keseluruhan tubuh masyarakat.
Akibat purbasangka itu dapat menghilangkan hak-hak manusia, mengenyampingkan perasaan kemanusiaan, memperkosa keadilan, meruntuhkan kebenaran, menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan.50
Menarik untuk diketengahkan bahwa al-Quran dan hadits Nabi saw. tidak merumuskan definisi persaudaraan (ukhuwah), tetapi yang ditempuhnya adalah memberikan contoh praktis. Pada umumnya contoh-contoh tersebut berkaitan dengan sikap kewajiban. Misalnya melarang mengolok-olok orang lain.
Semua itu wajar karena sikap batiniahlah yang melahirkan sikap lahiriah. Demikian pula, bahwa sebagian dari redaksi ayat dan hadis yang berbicara tentang hal ini dikemukakan dengan bentuk larangan. Inipun dimengerti bukan saja karena at takhliyah (menyingkirkan yang jelek) harus di dahulukan daripada at tahliyah (menghiasi diri dengan kebaikan), melainkan juga karena melarang sesuatu mengandung arti memerintahkan lawannya, demikian pula sebaliknya.
50 M. Yunan Nasution,
Semua petunjuk al-Quran dan hadis Nabi Muhammad saw. yang berbicara tentang interaksi antar manusia pada akhirnya bertujuan untuk memantapkan ukhuwah.
H. Konsep-konsep Dasar Pemantapan Ukhuwah
Persamaan dalam bidang akidah dan toleransi dalam bidang furu’ apabila dipahami secara benar, pasti akan dapat mengantarkan kepada pemantapan ukhuwah Islamiah, baik toleransi tersebut didasari oleh :51
a. Konsep tanawwu’ al ibadah (keragaman cara beribadah)
Konsep ini mengakui adanya keragaman yang dipraktekkan Nabi Muhammad saw. dalam bidang pengalaman agama, yang mengantakankan pada pengakuan akan kebenaran semua praktik keagamaan, selama semuanya itu merujuk kepada Rasulullah saw. Anda tidak perlu meragukan pernyataan ini, karena dalam konsep yang diperkenalkan ini, agama tidak menggunakan pertanyaan, berapa hasil 5 + 5 ?’, melainkan yang dipertanyakan adalah jumlah sepuluh itu merupakan hasil penambahan berapa tambah berapa ?”
b. Konsep al mukhti’I fi al-ijtihad lahu ajr (yang salah dalam berijtihad pun (menetapkan hukum) mendapatkan ganjaran).
Ini berarti bahwa selama seseorang mengikuti pendapat seorang ulama, ia tidak akan berdosa. Bahkan tetap diberi ganjaran oleh Allah Swt., walaupun penentuan yang benar dan salah bukan wewenang makhluk, tetapi wewenang Allah Swt yang perlu digaris bawahi, bahwa yang mengemukakan ijtihad maupun orang yang pendapatnya diikuti haruslah memiliki otoritas keilmuan, yang disampaikannya setelah melakukan ijtihad (upaya bersungguh-sungguh untuk menetapkan hukum) setelah mempelajari dengan seksama dalil-dalil keagamaan (al-Quran dan sunnah).
51 Quraish Shihab,
c. Konsep al hukma lillah qabla ijtihad al-mujtahid (Allah belum menetapkan suatu hukum sebelum ijtihad dilakukan oleh seorang mujtahid).
Ini berarti bahwa hasil ijtihad itulah yang merupakan hukum Allah bagi masing-masing mujtahid, walaupun hasil ijtihadnya berbeda-beda. Sama halnya dengan gelas-gelas kosong yang disodorkan oleh tuan rumah mempersilahkan masing-masing tamunya memilih minuman yang tersedia di atas meja dan mengisi gelasnya penuh atau setengah. Sesuai dengan selera dan kehendak pengisi. Jangan mempermasalahkan seseorang yang mengisi gelasnya dengan kopi, dan andapun tidak wajar dipersalahkan jika memilih setengan air jeruk yang disediakan oleh tuan rumah.
Menurut al-Quran dan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. tidak selalu memberikan interpretasi yang pasti dan mutlak. Yang mutlak adalah Tuhan dan firman-firman-Nya, sedangkan interpretasi firman-firman itu sedikit sekali yang bersifat pasti ataupun mutlak. Cara kita memahami al-Quran dan sunnah Nabi berkaitan erat dengan banyak faktor antara lain lingkungan, kecenderungan pribadi, perkembangan masyarakat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan tentu saja tingkat kecerdasan dan pemahaman masing-masing mujtahid.
Dari sini terlihat bahwa para ulama sering bersikap rendah hati dengan menyebutnya, “pendapat kami benar, tetapi boleh jadi keliru dan pendapat anda menurut hemat kami keliru tetapi mungkin saja benar.” Berhadapan dengan teks-teks wahyu, mereka selalu menyadari bahwa sebagai manusia mereka mempunyai keterbatasan dan dengan demikian, tisdak mungkin seseorang akan mampu menguasai atau memastikan bahwa interpretasinyalah yang paling benar.52
52 Quraish Shihab,