BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Brachionus plicatilis
Brachionus plicatilis merupakan salah satu Rotifera yang diklasifikasikan berdasarkan tingkat hirarkinya Edmonson (1963) sebagai berikut:
Phylum : Rotifera (Rotatoria) Kelas : Monogononta Ordo : Ploima Famili : Brachionidae Genus : Brachionus
Spesies : Brachionus plicatilis
Beberapa jenis Brachionus lain yang di kenal antara lain adalah: B. mulleri, B. angularis, B. calyciflorus, B. urceolaris, B. leydigi, B. quadridentatus, B. pterodinoides, B. rubeus, B. pala, B. punctatus, B. quadratus, dan B. Mollis (Mujiman, 1998). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Dahril (1996) menyatakan bahwa pada kolam-kolam ikan air tawar di pekan Baru-Riau ditemukan 5 spesies Brachionus, yaitu spesies B. calyciflorus, B. angularis, B. caundatus, B. quadridentatus dan B. falcatus.
2.2 Morfologi Brachionus plicatilis
Brachionus merupakan zooplankton yang berukuran sekitar 0,1-0,3 mm (Sunyoto & Mustahal, 1997). Tubuh umumnya tidak berwarna atau transparan, mempunyai indra seperti bintik mata (Hyman, 1951). Tubuh terbagi atas tiga bagian, yaitu kepala, badan dan kaki atau ekor. Bagian kepala terdapat enam buah duri. Pada duri yang panjang terdapat ujung bagian depan dilengkapi dengan gelang-gelang cilia yang kelihatan seperti spiral disebut korona yang berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam
mulut (Isnansetyo & Kurniastuty (1995). Ciri khas yang merupakan dasar pemberian nama Rotatoria atau Rotifera adalah terdapatnya suatu bangunan yang disebut korona. Korona ini bentuknya bulat dan berbulu-bulu getar, yang memberikan gambaran seperti sebuah roda (Mujiman, 1998).
Brachionus plicatilis memiliki struktur tubuh masih sangat sederhana dengan tubuh berbentuk bilateral simetris, menyerupai piala. Kulit terdiri dari dua lapisan yaitu, hipodermis dan kutikula (Cole, 1993). Antara jenis jantan dan betina terdapat perbedaan bentuk yang menyolok (Gambar 2.1), dimana yang jantan mempunyai bentuk tubuh jauh lebih kecil daripada betina, selain itu jantan juga mengalami regenerasi. Brachionus jantan biasanya hanya muncul pada musim-musim tertentu saja. Sedangkan yang betina hampir ditemukan setiap saat, dan berkembang biak secara partenogenesis (aseksual) dan kawin (seksual) (Mujiman, 1998). Menurut ukurannya Brachionus plicatilis dibagi menjadi dua tipe yaitu B. plicatilis yang berukuran besar yang disebut dengan tipe-L dan yang berukuran kecil yang disebut dengan tipe-S (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995).
2.3 Ekologi Brachionus plicatilis
Brachionus plicatilis hidup di perairan tawar, payau dan laut, bersifat planktonik (Djarijah, 1995; Hyman, 1951). Brachionus dapat dijumpai di perairan yang banyak nannoplankton maupun detritusnya, organisme ini ditemui secara melimpah. Nannoplankton dan detritus merupakan pakan dari Brachionus, selain partikel organik lain, seperti ganggang renik, bakteri, dan protozoa, asalkan sesuai dengan bukaan mulutnya (Priyambodo & Tri, 2001). Brachionus plicatilis bersifat euthermal. Pada suhu 15oC masih dapat tumbuh, tetapi tidak dapat bereproduksi, sedangkan pada suhu di bawah 10oC akan terbentuk telur istirahat. Kenaikan suhu antara 15-35oC akan menaikkan laju reproduksinya. Kisaran suhu antara 22-30oC merupakan kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan dan reproduksi, disamping itu Brachionus plicatilis juga bersifat euryhalin (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995).
Pennak (1978) menyatakan bahwa Brachionus ini juga memiliki kisaran toleransi yang luas terhadap kondisi asam atau basa suatu perairan, karena masih dapat bertahan hidup pada pH 5 dan pH 10. Sedangkan pH optimum untuk pertumbuhan dan reproduksi berkisar antara 7,5-8,0. Pada umumnya Rotifera planktonik secara normal membutuhkan O2 yang cukup tinggi. Namun genus
Brachionus plicatilis dapat bertahan pada kondisi yang anaerob dalam jangka waktu pendek dan mampu bertahan pada konsentrasi oksigen terlarut yang cukup rendah untuk jangka waktu yang panjang.
Ayodhyoa (1981) menyatakan bahwa kondisi suhu di suatu perairan sangat erat kaitannya dengan intensitas cahaya. Di samping itu intensitas cahaya juga berpengaruh terhadap kehadiran zooplankton, diantaranya dari jenis Brachionus plicatilis. Selanjutnya Isnansetyo & Kurniastuty (1995) menyatakan bahwa kepadatan pakan, jenis pakan, suhu air, salinitas, penetrasi cahaya dan sifat genetik sangat mempengaruhi perkembangbiakan zooplankton ini. Ukuran zooplankton ini juga mempengaruhi laju pertumbuhan populasi. Semakin besar ukurannya, maka laju pertumbuhan populasi semakin kecil.
2.4 Daur Hidup dan Reproduksi Brachionus plicatilis
Sistem reproduksi rotifera ini terjadi secara seksual (kawin) dan aseksual (parthenogenesis). Secara seksual, organ reproduksi betina terdiri dari ovarium, yolk gland dan oviduct, sedangkan organ reproduksi pada jantan dari satu testis yang dihubungkan oleh satu saluran sperma ke penis (Djuhanda, 1980). Brachionus plicatilis mempunyai kelamin terpisah, dapat bereproduksi secara aseksual dengan parthenogenesis, yaitu menghasilkan telur tanpa terjadi pembuahan dan individu baru yang dihasilkan bersifat diploid. Selain secara aseksual, Rotifera ini juga bereproduksi secara seksual (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995).
Ada dua tipe Brachionus betina, yaitu betina amiktik dan betina miktik. Betina amiktik yaitu betina yang menghasilkan telur dan melakukan pembelahan meiosis, sedangkan betina miktik yaitu betina yang menghasilkan telur secara parthenogenesis. Brachionus betina yang amiktik menghasilkan telur yang akan berkembang menjadi Brachionus betina yang amiktik pula. Namun, dalam keadaan tidak normal, telur betina amiktik tersebut dapat menetas menjadi betina miktik. Selanjutnya betina akan menghasilkan telur yang berkembang menjadi hewan jantan. Apabila Brachionus jantan dan betina miktik kawin, telur yang dihasilkan berupa telur kista (dormant egg). Telur kista ini tahan terhadap kondisi lingkungan yang jelek maupun kondisi kekeringan dan selanjutnya baru menetas setelah kondisi lingkungan menjadi normal kembali. Brachionus betina dapat hidup 12-19 hari, sedangkan yang jantan antara 3-6 hari (Priyambodo & Tri, 2001).
Pada mulanya betina miktik menghasilkan 1-6 telur kecil. Betina miktik adalah betina yang dapat dibuahi. Telur yang dihasilkan oleh betina miktik akan menetas menjadi jantan. Jantan ini akan membuahi betina miktik dan menghasilkan 1-2 telur istirahat. Telur istirahat yang dihasilkan oleh betina miktik akan menetas menjadi betina amiktik dan betina miktik dan amiktik tidak dapat dibedakan secara eksternal (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995).
berkembang biak secara parthenogenesis dan dalam banyak hal yang jantan jarang sekali muncul, bahkan banyak diantara jenisnya tidak dikenal pejantannya. Untuk lebih jelasnya siklus Brachionus plicatilis dapat dilihat pada Gambar 2.2 dibawah ini:
Gambar 2.2 Skema siklus hidup dan reproduksi Brachionus plicatilis menurut Barnes (1987).
2.5 Peranan Pupuk dalam Pembudidayaan Brachionus plicatilis
Pupuk dibedakan menjadi dua macam, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik atau pupuk alam merupakan hasil akhir dari perubahan dan penguraian sisa (serasah) tanaman dan binatang, misalnya pupuk kandang, pupuk hijau dan sebagainya, sedangkan pupuk anorganik atau pupuk buatan, yaitu pupuk yang
merupakan hasil industri pabrik-pabrik pembuatan pupuk, misalnya pupuk Urea, TSP, DAP dan sebagainya (Kadarini, 1997).
Menurut Saifuddin (1985) dan Setyamidjaja (1986) pemakaian pupuk organik, yaitu kotoran ternak dapat merangsang pertumbuhan populasi mikroorganisme. Selanjutnya Sutejo (1995) dan Mujiman (1998) menyatakan bahwa beberapa jenis kotoran ternak, terutama kotoran ayam merupakan pupuk organik yang banyak dimanfaatkan dalam usaha bercocok tanam, dan pada saat ini banyak juga dimanfaatkan dalam usaha perkembangan budidaya perikanan, diantaranya digunakan dalam pembudidayaan pakan alami ikan, seperti Rotifera dari genus Brachionus.
Pupuk kandang berfungsi sebagai pupuk alami untuk meningkatan jumlah alga yang merupakan pakan Rotifera. Pupuk ini memiliki beberapa kelebihan antara lain mudah untuk didapat dan Rotifera tidak mudah mengalami defisiensi nutrisi karena terdapat alga dalam jumlah berlimpah dan keanekaragaman yang tinggi. Pada kadar oksigen rendah B. plicatilis masih tetap dapat berkembang biak. Salah satu faktor penyebab dapatnya B. plicatilis bertahan hidup pada kadar oksigen rendah di perairan adalah karena B. plicatilis ternyata membutuhkan Vitamin B12 untuk
kehidupannya (Dahril, 1996). Kotoran ayam juga banyak mengandung bakteri, dan beberapa diantaranya berperan menghasilkan Vitamin B12 (Chumaidi & Djajadiredja,
1982). Disamping itu kotoran ayam juga mengandung bahan makanan yang belum dicerna sekitar 80% (Naegel, 1989).
Menurut Sachlan (1980) Rotifera dapat tumbuh banyak jika kolam dipupuk dengan pupuk kandang. Selanjutnya mengatakan bahwa pupuk kotoran ayam mempunyai kandungan unsur hara yang cukup tinggi, karena bagian yang padat bercampur dengan yang cair (urine) (Setyamidjaja 1995 ; Hardjowigeno 1987). Selain itu pupuk kotoran ayam adalah pupuk yang lengkap karena mengandung hampir semua unsur hara yang bekerja secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama (Rafnida, 1986). Bahkan dari hasil penelitian Setiabudiningsih (1998) menunjukkan bahwa pemupukan dengan menggunakan kotoran ayam cenderung memberikan kandungan unsur hara yang lebih lengkap sehingga meningkatkan produktivitas primer perairan. Selanjutnya Sutejo (1995) menyatakan bahwa berdasarkan
kandungan unsur hara, pupuk urea dan TSP termasuk pupuk tunggal, karena hanya mengandung satu macam unsur hara. Urea hanya mengandung N sedangkan TSP hanya mengandung P. Urea dan TSP termasuk pupuk buatan (pupuk anorganik) yang berkadar hara tinggi. Komposisi mineral dan kandungan air beberapa jenis kotoran ternak dan unggas dapat di lihat pada Tabel 2.1 dibawah ini:
Tabel 2.1 Komposisi Mineral dan Kandungan Air Beberapa Jenis Kotoran Ternak dan Unggas
Jenis ternak Kadar zat dan air dalam %
Nitrogen Fosfor Kalium Air
Kuda : - padat - cair 0,55 1,40 0,30 0,02 0,40 1,60 75 90 Sapi : - padat - cair 0,40 1,00 0,20 0,50 0,10 1,50 85 92 Kerbau : - padat - cair 0,60 1,00 0,30 0,15 0,34 1,50 85 92 Kambing : - padat - cair 0,60 1,50 0,30 0,13 0,17 1,80 60 85 Domba : - padat - cair 0,75 1,35 0,50 0,05 0,45 2,10 60 85 Babi : - padat - cair 0,95 0,40 0,35 0,10 0,40 0,45 80 87 Ayam :
- padat dan cair 1,00 0,80 0,40 55
Sumber: Lingga (1995)
Pupuk yang banyak digunakan baik dalam usaha pembudidayaan tanaman maupun perikanan adalah pupuk Urea dan TSP, karena kandungan unsur hara kedua pupuk ini tinggi dan termasuk pupuk tunggal yaitu pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur saja, dimana pupuk urea hanya mengandung nitrogen dan pupuk TSP hanya mengandung fosfor (Lingga, 1995; Sutejo, 1995). Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa defisiensi fosfor dan nitrogen di perairan menentukan fitoplankton serta akhirnya mengurangi produktivitas dalam suatu perairan (Sumawidjaja, 1981).
Nutrien dibagi menjadi menjadi makronutrien dan mikronutrien. Nitrat dan fosfat tergolong makronutrien yang merupakan pupuk dasar yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Nitrat adalah sumber nitrogen yang penting bagi fitoplankton baik di air laut maupun air tawar. Bentuk kombinasi lain dari nitrogen seperti ammonia, nitrit dan senyawa organik dapat digunakan apabila kekurangan nitrat (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
Fitoplankton secara umum dapat mempengaruhi pertumbuhan rotifera, karena dapat meningkatkan pertumbuhan Rotifera B. plicatils tersebut. Unsur hara esensial yang harus ada diperairan dan merupakan faktor pembatas fitoplankton adalah unsur fosfor dan nitrogen (Dahril, 1996). Fosfor adalah suatu nutrien metabolik kunci dan unsur ini sering mengatur produktivitas perairan alami. Senyawa N organik biasanya terdapat dalam bentuk terlarut, hanya sedikit sekali di dalam perairan alami sehingga nutrien yang essensial bagi produsen primer, fosfor lebih banyak berperan dari pada nitrogen sebagai faktor pembatas pertumbuhan (Effendi, 2004). Beberapa jenis pupuk nitrogen dan fosfor beserta haranya dapat dilihat pada Tabel 2.2 dibawah ini:
Tabel 2.2 Beberapa Jenis Pupuk Nitrogen dan Fosfor Beserta Kadar Haranya
Jenis pupuk Kadar N (%) Kadar P (%)
Zwavelzure ammoniak Urea Chilisalper Natronsalpeter Kalkammonsalpeter Kalkstikastof Superposfat/Enkel uperposfat Dubble superposfat (DS) Triple Superposfat (TSP) Posfat Cirebon
Fused Magnesium posfat (EMP)
20-21 45-46 14-16 16 20 20-21 - - - - - - - - - - - 18-20 36-40 48-54 25-28 19 Sumber : Lingga (1995)
2.6 Peranan Vitamin dalam Pembudidayaan Brachionus plicatilis
Vitamin merupakan salah satu nutrien yang bukan merupakan sumber tenaga tetapi sangat dibutuhkan untuk kelangsungan semua proses di dalam tubuh. Vitamin merupakan senyawa organik dan biasa disebut dietary essensial yaitu harus diberikan
dari luar tubuh karena tubuh tidak dapat mensintesis sendiri, kecuali beberapa vitamin misalnya vitamin C pada ayam dan vitamin B pada ruminansia, oleh sebab itu harus disuplai dari makanan (Steffens, 1989). Vitamin dibutuhkan untuk pertumbuhan, pemeliharaan tubuh, dan reproduksi. Vitamin dibagi menjadi dua yaitu yang larut dalam lemak (vitamin A,D, E, dan K) dan vitamin yang larut dalam air seperti riboflavin, vitamin C, thiamin, dan lain-lain (Giri, Suwirya & Marzuqi, 1999).
Menurut Erlina & Hastuti (1986) pemberian tambahan vitamin B1 dengan cara pengayaan dengan dosis 0,2 mg/l pada media pengayaan Rotifera dapat meningkatkan kelulusan hidup dan pertumbuhan larva. Selanjutnya Merchie et al., (1995) menyatakan bahwa tehnik pengayaan Rotifera dengan penambahan vitamin dilakukan selama 24 jam. Selanjutnya Tacon (1991) menyatakan bahwa tiamin (B1) berperan sebagai kofaktor enzim untuk metabolisme karbohidrat dalam menghasilkan energi dan proses dekarboksilasi (pelepasan karbondioksida) dalam reaksi enzim multiple. Di dalam tubuh tiamin tidak dapat disimpan dalam jumlah banyak, oleh karena itu kelebihan tiamin di dalam tubuh akan dibuang melalui urin. Kebutuhan tiamin untuk berbagai jenis Rotifera berbeda komposisi pakannya. Apabila kandungan tiamin tidak mencukupi dalam pakan akan menyebabkan berkurangnya nafsu makan, pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya lambat.
Menurut Djarijah (1995) dan Mujiman (1998) terkadang beberapa jenis plankton membutuhkan tambahan vitamin. Untuk itu dapat ditambahkan Vitamin B1 0,2 mg/l; Vitamin B2 1,0 mikrogram/l dan Vitamin B12 1,0 mikrogram/l. Selanjutnya Tacon (1991) menyatakan bahwa untuk mempertahankan generasi Rotifera yang berlanjut perlu penambahan nutrisi ke dalam kultur Rotifera seperti vitamin B kompleks, kalsium pantotenat, biotin dan thiamin.