Deskripsi keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit
Bebas
127
0
0
Teks penuh
(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena tanpa berkatNya penulis tidak mungkin sampai di titik ini, kepada kedua orang tua dan adik saya, serta kepada sahabat-sahabat saya Chrysantus Erastianto, Andreas Ajik Brata, Pazkalis dimas Priambodo dan Bonaventura Winas Gaung Kumara serta segenap teman-teman yang setia memberi doa, dukungan dan motivasi serta pertolongan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.. iv.
(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. MOTTO “lakukan yang terbaik, sehingga aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri atas segalanya” (Magdalena Nuener) “jangan mundur sebelum melangkah, setelah melangkah jalani dengan cara terbaik yang bisa dilakukan” (Petrus Widya Arnawa). v.
(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK ABSTRAK Skripsi ini berjudul DESKRIPSI KETERLIBATAN ORANG MUDA KATOLIK DI LINGKUNGAN SANTA MONICA PINGIT. Judul ini dipilih berdasarkan keingintahuan penulis akan keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan dalam hidup menggereja. Di zaman sekarang ini orang muda secara perlahan berubah dari manusia lama ke arah modern, sehingga membawa dampak lupa akan identitas diri. Keprihatinan besar yang penulis lihat yakni kebanyakan Orang Muda Katolik sangat sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan mereka, Sehingga keterlibatan dalam hidup menggereja di lingkungan menjadi kurang terarah. Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah untuk mendapat gambaran bagaimana peran keterlibatan Orang Muda Katolik guna meningkatkan keterlibatan di lingkungan, serta menemukan kesadaran diri bahwa mereka merupakan perpanjangan tangan Tuhan untuk kepentingan bersama. Skripsi ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode penulisan deskriptif analitis. Populasi yang digunakan adalah Orang Muda Katolik di Santa Monica Pingit dengan jumlah sampel sepuluh Orang Muda Katolik. Instrumen menggunakan wawancara terstruktur melalui tatap muka langsung menggunakan pertanyaan terbuka. Sebagai metode pengumpulan data, sebelumnya penulis telah menyiapkan instrumen penelitan berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis kemudian dilengkapi dengan tanya jawab secara langsung jika jawaban secara tertulis masih belum mengarah kepada permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit masih perlu ditingkatkan. Untuk itu penulis mengusulkan kegiatan Rekoleksi agar dapat memperkaya Orang Muda Katolik dalam memperkembangkan iman mereka dan juga menyadarkan peran di lingkungan sebagai Orang Katolik sehingga mereka semakin menyadari identitas diri sebagai Orang Muda Katolik di tengah perkembangan zaman dalam hidup keterlibatan menggereja di tengah masyarakat. Dengan demikian mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dewasa dalam iman. Kata Kunci : Keterlibatan, Orang Muda Katolik, Lingkungan.. viii.
(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT This undergraduate thesis entitled “DESCRIPTION OF THE INVOLVEMENT OF CATHOLIC YOUNG PEOPLE IN THE NEIGHBORHOOD OF SANTA MONICA PINGIT”. This title was chosen based on the author’s curiousity on the involvement of Chatolic Young People in the environment in church life. In this day and age young people are slowly changing from traditional people to modern ones, so that bringing the effect of forgetting their identity. The great concern is that most Catholic Youth are very busy with their work and activities, so that involvement in church life in the enciroment becomes less directed. The main issue in this undergraduate thesis is to get an idea of the role of Catholic young people in order to improve services in the environment, and to find out the awareness that they are the extension of God for the common good. This undergraduate thesis is a qualitative research with analytical descriptive method. The population used was Catholic Youth in Santa Monica Pingit district with ten people as sample. The instrument used here was structured interviews through face-to-face meeting and using open ended questions. As a method for collecting data, the author prepared a research instrument in the form of written question and then had interviews if the written answers still did not lead to research problems. The result showed that the involvement of young Catholic in the environment in Santa Monica Pingit still needs to be improved. So the author purposes a recollection in order to enrich Catholic Youth in developing their faith and also realizing their role in society as Catholic people, so that they know their identitiy as Catholic Youth to serve the people in digital era .Thus they can grow to become responsible and nature person in the faith. Keywords : Involvement, Catholic Young People, environment. ix.
(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR. Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat kasih dan penyertaan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul DESKRIPSI KETERLIBATAN ORANG MUDA KATOLIK DI LINGKUNGAN SANTA MONICA PINGIT. Skripsi ini ditulis sebagai bentuk perhatian penulis terhadap perkembangan zaman yang begitu pesat di tengah hidup Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit dan juga berbagai situasi dan kekhawatiran yang penulis rasakan terkait perkembangan keterlibatan hidup menggereja di lingkungan, Dengan begitu diharapkan melalui penulisan skripsi ini dapat membantu melihat keterlibatan Orang Muda Katolik terhadap keterlibatan di lingkungan, khususnya bagi Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit. Oleh karena itu, penulisan skripsi ini dimaksudkan sebagai sumbangan pemikiran bagi Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit agar semakin menyadari peran dan tanggung jawab di lingkungan. Dalam penyusunan skripsi ini banyak hambatan serta rintangan yang penulis hadapi namun pada akhirnya dapat melaluinya berkat adanya bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak secara moral ataupun spiritual. Penulis menyadari dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis dengan sepenuh hati mengucapkan banyak terimakasih kepada:. x.
(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 1.. Dr. B.Agus Rukiyanto, SJ selaku dosen pembimbing utama, sekaligus dosen pembimbing akademik dan Ketua Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, memberikan perhatian, memberikan semangat, meluangkan waktu dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran, memberi masukanmasukan dan kritikan-kritikan sehingga penulis dapat semakin termotivasi dalam menuangkan gagasan-gagasan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini.. 2.. Y.H. Bintang Nusantara, SFK, M.Hum. selaku dosen penguji II yang penuh kesabaran dan perhatian memberikan saran dan masukan sehingga ssemakin optimal.. 3.. FX. Dapiyanta, SFK., M.Pd. selaku dosen penguji III yang telah bersedia meluangkan. waktu. dan. bersedia. menjadi. dosen. penguji. pada. pertanggungjawaban skripsi ini serta memberikan tambahan wawasan untuk skripsi ini. 4.. Segenap dosen dan staf karyawan Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam studi maupun penulisan skripsi ini.. 5.. Staf secretariat Progam Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma, Anastasia Wulan yang membantu dalam mengurus adminitrasi skripsi.. xi.
(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 6.. G. Sarwo Yuwono selaku ketua Lingkungan Santa Monica Pingit yang sudah memberikan izin dalam penulis melakukan penelitian di Lingkungan Santa Monica Pingit.. 7.. Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit yang telah meluangkan waktu menjadi narasumber penelitian.. 8.. Orang tua saya, Emmanuel Widiyono P dan Brigita Yuniarti yang selalu menyayangi, mendoakan, menyemangati, memotivasi dan memfasilitasi penulis hingga terselesaikan skripsi ini.. 9.. Paskaliz Dimaz Priambodo yang selalu. memberi motivasi dan bantuan. kepada penulis 10. Sahabat-sahabat mahasiswa Pendidikan Keagamaan Katolik khususnya angkatan 2014 terutama kepada Aji yang bersedia saya pinjam flasdisknya, Santi-Eras sebagai pembuat heboh dan penyemangat serta Winas rekan seperjuangan menyelesaikan skripsi dan juga teman-teman angkatan yang selalu memberikan semangat, motivasi dan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 11. Seluruh staf perpustakaan Puskat, Perpustakaan Kolsani, Perpustakaan Santa Dharma yang dengan penuh kesabaran dan kemurahan hati membantu penulis dalam mencari buku-buku serta turut memberi sumber buku terkait penulisan skripsi ini. 12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang selama ini dengan sepenuh hati memberikan bantuan hingga selesainya skripsi ini.. xii.
(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL …………………………………………………..... i. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……………………...... ii. HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………... iii. HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………………….. iv. MOTTO…………………………………………………………………... v. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA…………………………………. vi. PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ……………………….. ABSTRAK……………………………………………………………….. vii viii. ABSTRACT……………………………………………………………….. ix. KATA PENGANTAR……………………………………………………. x. DAFTAR ISI……………………………………………………………... xiii. DAFTAR SINGKATAN…………………………………………………. xvii. BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1. A. Latar Belakang ………………………….....……………………. 1. B. Rumusan Masalah………………….……………………………. 4. C. Tujuan Penulisan.……………...…..……………………………. 4. D. Manfaat Penulisan…..………………………….……………….. 5. E. Metode Penulisan……………………………………………....... 5. F. Sistematika Penulisan……………………………………………. 6. BAB II KEGIATAN MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI LINGKUNGAN ……………………………………......................... 8. A. Gambaran umum Orang Muda Katolik ……………………... 8. 1. Pengertian Orang Muda Katolik ……………………….... 9. 2. Keadaan Orang Muda Katolik …………………….......... 11. 3. Situasi Hidup Orang Muda ………………………............. 13. 4. Gaya Hidup Orang Muda ……………….……………….... 14. B. Sejarah Perkembangan Hidup Menggereja ………………….. xiv. 15.
(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. C. Harapan Gereja Terhadap Orang Muda Katolik …………….. 16. D. Keterlibatan Orang Muda Katolik di lingkungan ……………... 17. 1) Bidang Liturgi ………………………………………… 2) Bidang Pewartaan ………………………………………. 3) Bidang Perseketuan ……………………………………. 4) Bidang Pelayanan ………………………………………. 5) Bidang Kesaksian ………………………………………. Peran Orang Muda Katolik dalam Keterlibatan …………….. 19 19 19 20 20 20. E.. F. Faktor-fakto yang mempengaruhi Keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan ……………………………………….. 1.. Faktor Ekternal dan Internal ………………..…………….. 22 22. a. Kesibukan ……………………………………………….. 22. b. Individualis …………………………………………….... 22. c. Canda berlebih ………………………………………….. 23. d. Alokasi waktu dan jam karet ……………………………. 23. e. Pertemuan-pertemuan lingkungan yang membosankan … f. Konflik dan perbedaan antar individu ………………….... 23 23. Faktor-faktor dari Lingkungan ………………………………. 24. Kekuatan Lingkungan ……………………………………. 24. b. Kelemahan Lingkungan ………………………………….. 25. Tantangan Lingkungan …………………………………... 25. d. Peluang Lingkungan ……………………………………... 26. G. Rangkuman ……………………………………………………. 27. 2.. a.. c.. BAB III PENELITIAN TENTANG KETERLIBATAN ORANG MUDA KATOLIK DI LINGKUNGAN SANTA MONICA PINGIT....................................................................................... 29. A. Berdirinya Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran……………………………………………………….. 29. B. Gambaran Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran ………………………………………………………. 34. 1. Situasi Umum………………………...………..........…….... 34. 2. Visi dan Misi…………………………………...…………... 36. xv.
(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. a. Visi…………………………………..……….………........ 36. b. Misi ………………………...………..........………........... 36. C. Sejarah Lingkungan Santa Monica Pingit……………………..... 36. D.Penelitian Tentang Keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit ……………………………... 1. Metode Penelitian………………………………………….. 37 37. a. Latar Belakang Penelitian ………………………………... 37. b. Permasalahan …………………………………………….. 37. c. Tujuan Penelitian ……………………………………….... 39. d. Manfaat Penelitian ………………………………………. 39. e. Tempat dan Waktu Penelitian ………………………….... 40. f. Jenis Penelitian ………………………………………....... 40. g. Narasumber Penelitian ………………………………….. 40. 1) Fokus Penelitian ……………………………………. 41. 2) Pertanyaan Penelitian ………………………………. 41. h. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ………………. 41. 1) Teknik Penelitian …………………………………... 42. a) Wawancara ……………………………………... 42. b) Observasi ………………………………………... 42. c) Studi Dokumen ………………………………….. 42. 2) Instrument Pengumpulan Data …………………….. 43. 3) Pedoman ……………………………………………. 43. i. Teknik Keabsahan Data …………………………………. 44. j. Teknik Analisis Data ……………………………………. 45. 1) Reduksi …………………………………………….. 45. 2) Penyajian Data ……………………………………... 45. 3) Verifikasi Data …………………………………….. 45. E. Laporan Hasil Penelitian Keterlibatan Orang Muda Katolik Di Lingkungan Santa Monica Pingit Yogyakarta 1. Profil Narasumber ………………………………………. 2. Hasil Penenlitian ……………………………………….. F. Pembahasan Hasil Penelitian Tentang Keterlibatan Orang Muda Katolik Di Lingkungan Santa Monica Pingit Yogyakarta. xvi. 46 46 48 56.
(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB. IV USULAN PROGAM REKOLEKSI PENTINGNYA KETERLIBATAN ORANG MUDA KATOLIK DI LINGKUNGAN SANTA MONICA PINGIT …………………….. 62. A. Latar Belakang Kegiatan Rekoleksi Pentingnya Keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit ….. 62. B. Progam Rekoleksi Pentingnya Pentingnya Keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit …............ 64. 1. Latar Belakang Progam ……..…….….………….....……. 64. 2. Tujuan Pemilihan Progam ……..…….….………….....…. 65. 3. Usulan Progam ……..…….….………….....………………. 65. a. Tema Umum ……..…….….………….....……………. 65. b. Peserta ……..…….….………….....…………………... 65. c. Tempat dan Waktu ……..…….….………….....……... 65. d. Metode Rekoleksi ……..…….….………….....………. 65. e. Sarana ……..…….….………….....…………………... 66. f. Matriks Program ……..…….….………….....………... 67. g. Susunan Acara ……..…….….………….....…………... 69. h. Rincian Susunan Kegiatan ……..…….….…………..... 72. BAB V PENUTUP..................................................................................... 79. A. Kesimpulan………………....…………………………………. 79. 1. Keterlibatan Secara Umum …………………………………... 80. 2. Usaha Mengembangkan ………………………………………. 80. 3. Tantangan dan Hambatan …………………………………….... 81. B. Saran……………………....……………………………………. 82. DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………. 84. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Permohonan Ijin Penelitian……………………. (1). Lampiran 2 : Lembar Pertanyaan Kosong………………………….. (2). xvii.
(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Lampiran 3 : Contoh Jawaban Wawancara………………………... (3). Lampiran 4 : Observasi lapangan ………………………………….. (7). Lampiran 5 : Teks Misa ……………………………………………. (9). Lamiran 6 : Dokumen Observasi ……………. ………………….. (18). Lampiran 7 : Undangan kegiatan di lingkungan …. .………………. (20). xviii.
(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR SINGKATAN. . Untuk. singkatan. nama-nama. kitab. disesuaikan. dengan. Alkitab. Deuterokanonika terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (2005). . Untuk singkatan nama-nama ordo/tarekat/kongregrasi disesuaikan dengan kaidah yang berlaku. Kitab Suci Kej Kis Mrk. : Kejadian : Kisah Para Rasul : Markus. Dokumen Gereja AA. GS KGK KWI LG. : Apostolicam Actuositatem, Dekrit Konsili Vatikan II tentang kerasulan kaum awam Tahun Terbit 7 Desember 1965 : Gaudium et Spes konstitusi pastoral Konsili Vatikan II mengenai Gereja di dunia masa kini Tahun Terbit 1996 : Katekismus Gereja Katolik, dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II 11 Oktober 1992 : Konfrensi Waligereja Indonesia Tahun Terbit 1994 : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964. Kongregrasi Mgr Pr SJ. : Monsignor (Monsinyur, gelar untuk uskup) : Projo : Serikat Jesus. Lain lain APP ARDAS FKKD HKY HSPMTB. : Aksi Pembangunan Puasa : Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang : Forum Komunikasi Kerasulan Doa : Hati Kudus Yesus : Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela. xix.
(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KRT PGPM RI RI-KAS SGA SMA St. : Kanjeng Raden Tumenggung : Pengurus Gereja dan Papa Miskin : Republik Indonesia : Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang : Sekolah Guru Agama : Sekolah Menengah Atas : Santo/Santa. xx.
(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Allah secara istimewa menaruh orang muda dalam hati-Nya. Allah memanggil orang muda sebagai rekan kerja. Gereja melalui dokumen (AA 12) menyatakan pandangan terhadap orang muda merupakan kekuatan amat penting dalam masyarakat zaman sekarang. Situasi hidup, sikap serta hubungan mereka dengan sekitar telah amat berubah. Bertambah penting peran mereka dalam menuntut dari mereka keterlibatan di lingkungan. Di dalam buku Iman Katolik (1996: 452) memberikan gambaran bahwa melalui Gereja yang merupakan suatu lembaga keagaam yang mempunyai tempat dan perannya dalam masyarakat, sehingga Gereja juga dituntut memperhatikan sikap pelayanan Kristus, yang artinya Gereja ingin memperlihatkan Kristus kepada masyarakat, Gereja semestinya tampail sebagai Gereja yang memasyarakat. Melalaui orang muda Gereja menampakan diri di tengah umat. Gereja memiliki tugas mengembangkan persatuan dan cinta kasih serta pewartaan kepada seluruh dunia. Sejak awal mula keberadaan Gereja Senantiasa membangun persekutuan, persekutuan itu digambarakan dalam (Kis 2:41-47) Gerja merupakan kumpulan orang beriman yang dipersatukan oleh kesaksisan iman para rasul, orang-orang yang berada di dalam Kristus telah mengalami pembaharuan hidup dan dipanggil untuk menjadi sama seperti Dia. Dengan demikian setiap orang yang percaya kepada Kristus dan telah dibaptis memiliki peran dan tugas, termasuk juga Orang Muda Katolik..
(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Gereja mengajak Orang Muda untuk mau terlibat dalam keterlibatan dalam salah satu bentuk yaitu persekutuan (communio) yaitu terarah pada kesatuan yang jauh melampaui batas-batas Gereja dan terarah kepada kesatuan semua orang (2Tim 2:22) salah satunya adalah kegitan doa bersama di Lingkungan. Perkembangan zaman yang begitu pesat membawa berbagai dampak yang untuk berbagai kalangan barang kali juga hal itu yang dialami oleh Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit. Padahal Gereja dalam (AA 12) menegaskan bahwa mereka sendiri harus menjadi rasul-rasul pertama dan langsung dengan menjalankan dikalangan mereka sendiri sambil mengindahkan lingkungan sosial mereka, bukan tergoda dengan tawaran dunia dalam bentuk kesenangan sementara. Orang Muda Katolik pada umumnya memiliki kemauan maupun minat untuk pergi ke gereja ataupun mengikuti kegiatan. Namun penulis melihat partisipasi mereka untuk terlibat masih sedikit. Berdasarkan situasi tersebut, penulis merasa perlu untuk menyadarkan pentingnya keterlibatan dengan berbagai kegiatan bagi perkembangan iman dan keterlibatan mereka. Dengan mengajarkan kebiasaan terlibat mengembangkan kepedulian. Aspek lingkungan sosial juga berperan penting dalam perkembangan keterlibatan Orang Muda Katolik, sehingga lingkungan sekitar juga bertanggung jawab atas perkembangan Orang Muda Katolik tersebut. Namun Orang Muda Katolik juga terkadang kurang mendapat kepercayaan penuh ataupun tempat, dimana kesiapsediaan Orang Muda Katolik berhadapan dengan otoritarianisme dan ketidakpercayaan kaum dewasa.
(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. dan para gembala, yang tidak cukup mengakui kreativitas dan usaha keras mereka (Dokumen Akhir dari Sidang Umum Biasa XV No 54). Orang Muda Katolik dapa ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ada di Gereja seperti mengikuti Doa Lingkungan, Doa Rosario, Pendalaman Bulan Kitab Suci, atau juga pertemuan-pertemuan. Keterlibatan yang mereka ikuti merupakan gambaran hidup menggereja dalam tanggungjawab membangun persaudaraan dan keterlibatan di tengah lingkungan untuk Gereja masa depan, Keterlibatan itu dapat dilakukan dalam hal hal kecil seperti doa di lingkungan, bahwa seperti doa bersama yang merupakan unsur yang amat penting dalam hidup menggereja. Kesatuan orang-orang yang memiliki kerinduan yang sama akan Tuhan dipersatukan oleh Roh Kudus sebagai anggota Gereja. Kesatuan orangorang inilah yang dikumpulkan oleh Roh Kudus dan selalu dikumpulkan kembali disatu tempat (Kis 1:15). Tetapi, persoalan yang terjadi pada saat ini dimana Orang Muda Katolik justru menunjukan sifat cuek, acuh dan tidak peduli serta masa bodoh dengan apa yang terjadi di sekitar. Jika hal itu terus menerus terjadi maka Gereja kedepan akan semakin kehilangan generasi yang bisa diandalkan untuk memberi kontribusi dalam kehidupan menggereja. Lingkungan Santa Monica Pingit merupakan lingkungan yang cukup banyak memiliki Orang Muda Katolik, mereka terdiri dari mahasiswa-mahasiswi, dan juga pekerja. Situasi jaman yang terus berkembang dengan cepat mungkin mempengaruhi mereka dalam berbagai hal yang salah satunya adalah keterlibatan di lingkungan.
(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Dengan permasalahan yang telah diuraikan di atas dan sebagai tanggapan atas keprihatinan tersebut, penuli bermaksud menyumbangkan suatu pemikiran, ide serta saran terhapa Lingkungan Santa Monica Pingit. Maka penulis tertarik mengambil. judul. “DESKRIPSI. KETERLIBATAN. ORANG. MUDA. KATOLIK DI LINGKUNGAN SANTA MONICA PINGIT”. Dengan begitu diharapkan melalui penulisan skripsi ini dapat membantu. meningkatkan. keterlibatan Orang Muda Katolik di lingkungan.. B. Rumusan Permasalahan Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1.. Bagaimana deskripsi keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit?. 2.. Usaha apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit untuk lebih terlibat?. C. Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan-rumusan masalah diatas, dapat dirumuskan tujuan sebagai birukut: 1.. Memaparkan deskripsi tentang keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit. 2.. Menjelaskan upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit..
(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. D. Manfaat Penulisan 1.. Agar penulis juga memiliki pengalaman dan pengetahuan dalam penulisan ilmiah, khususnya dalam mengetahui deskripsi keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit. 2.. Memperoleh gambaran yang jelas dalam bentuk deskripsi tentang sejauh mana keterlibatan yang dilakukan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit. 3.. Agar penulis memperoleh pengetahuan tentang apa saja peluang yang dapat diusahakan sehingga Orang Muda Katolik juga dapat lebih terlibat aktif dalam kegiatan menggereja di Lingkungan Santa Monica Pingit. E. Metode Penulisan Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis. Sebagaimana yang diungkapkan Bogdan dan Tylor dalam lexy J. Moleong (2014:4) sebagai prosedur penulisan yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis yaitu metode dengan memaparkan data yang diperoleh melalui penelitian dan studi pustaka untuk menarik sebuah kesimpulan. Bertujuan untuk membuat dan menggambarkan data secara sistematis, faktual dan akurat. Untuk melengkapi data digunakan penelitian kualitatif, dengan memaparkan, menguraikan serta menganalisis data wawancara..
(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. F. Sistematika Penulisan Sebagai gambaran umum tentang hal apa saja yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini, berikut adalah sistematika penulisannya. Tulisan ini mengambil judul “DESKRIPSI KETERLIBATAN ORANG MUDA KATOLIK DI LINGKUNGAN SANTA MONICA PINGIT” Dikembangkan menjadi 5 Bab: Bab I: Pendahuluan. Bab ini merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang penulisan, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sitematika penulisan. Bab II: Pengertian kegiatan menggereja Orang Muda Katolik di Lingkungan. Dalam bab ini pada bagian A mengenai gambaran umum Orang Muda Katolik. B mengenai Perkembangan Hidup Menggereja. Pada bagian C menjelaskan Harapan Gereja Terhadap Orang Muda Katolik. Bagian D mengenai Keterlibatan Orang Muda Katolik di lingkungan. Pada bagian E mengenai Peran Orang Muda Katolik dalam Keterlibatan dan kemudian pada bagian F menyebutkan kesulitan dan hambatan keterlibatan di lingkungan. Bab III: Metodologi penelitian dan Hasil Pembahasan. Bab ini penulis akan mendeskripsikan mengenai Metodologi Penelitian yang meliputi: Latar belakang penelitian, waktu dan tempat penelitian, narasumber penelitian,teknik analisis data, dan variabel penelitian kemudian divalidasi dengan hasil pengamatan. Pada bagian akhir akan dibahas mengenai laporan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan..
(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Bab IV: Usulan Progam. Pada bab ini penulis memberikan usulan tentang kegiatan rekoleksi sebagai upaya meningkatkan keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit Bab V : Penutup. Berisi tentang kesimpulan dan saran..
(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. BAB II KEGIATAN MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI LINGKUNGAN. Menurut Purwa Hadiwardaya (1994: 184) Kaum muda adalah generasi penerus dan sekaligus pembaharu. Generasi ini sudah berperan sekarang, dan akan menjadi pemegang peranan utama dalam hidup kenegaraan, kemasyarakatan dan kegerejaan nantinya Aloysius Purwa (1994: 183) mengatakan saya percayakan pada kalian semua tugas mulia yang berkaitan dengan dengan panggilan hidup kalian masing-masing dihadapan Allah, diharapkapkan pula mereka mulai melibatkan diri dalam kehidupan menggereja dengan mengambil peran yang bisa memberi dampak kemajuan untuk menggembangkan kehidupan menggereja yang lebih baik dengan keterlibatan mereka.. A. Gambaran Umum Orang Muda Katolik Menurut Purwa Hadiwardaya (1994: 179) orang muda adalah orang yang sedang berada dalam usia peralihan, dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa itu diwarnai dengan perkembangan yang sangat pesat, yang dalam waktu relatif singkat mengubah seorang anak menjadi seorang dewasa. Sementara itu Mangunhardjana (1986: 11) dalam bukunya berjudul Pendampingan Kaum Muda merumuskan berbagai pengertian tentang kaum muda berdasarkan rentang usia salah satunya menurut organisasi pemuda, kaum muda dapat saja mencakup semua muda-mudi berumur antara 15-40 tahun.
(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Kaum muda adalah mereka yang berusia 13 sampai dengan 30 tahun dan belum menikah, sambil memperhatikan situasi dan kebiasaan masing-masing tempat (KWI, 1993: 8). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan pada pasal 1 menyebutkan bahwa kaum muda ialah manusia yang berusia 16-30 tahun (KWI, 2014 : 17). Bagaimanapun juga, kaum muda harus dilihat sebagai pribadi yang sedang berada pada taraf tertentu dalam perkembangan hidup seorang manusia, dengan kualitas dan ciri tertentu dan khas, dengan hak dan peranan serta kewajiban tertentu dengan potensi dan kebutuhan tertentu pula (Tangdilintin, 1984: 5). 1. Pengertian Orang Muda Katolik Dalam buku “Sahabat Sepeziarahan” Orang Muda Katolik adalah orang yang berusia 13 hingga 35 tahun, telah dibaptis atau telah diterima dalam Gereja Katolik atau lajang (Komisi Kepemudaan KWI, 2004:17-18). Sedangkan menurut Mangunharjana (1986: 12) Orang Muda Katolik adalah para muda-mudi yang berumur 15 sampai 21 tahun. Orang Muda Katolik adalah mereka yang oleh ilmu psikologi disebut remaja, yang mencakup para muda-mudi dalam usia Sekolah Menengah Atas serta ilmu Perguruan Tinggi tingkat I-IV. Orang muda katolik adalah mereka yang sedang mengalami transformasi menuju kepribadian yang integral. Rentang masa muda yang panjang yaitu usia 13 sampai 35 Tahun adalah masa dimana mencari, mempertanyakan, belajar dan mengambil keputusan. Masa muda tentu merupakan saat yang sukar, menantang.
(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. sekaligus menggairahkan karena penemuan-penemuan baru yang mereka alam (http://www.katolisitas.org). Suhardiyanto (2012: 387) mengatakan hal yang serupa bahwa Kaum muda Katolik ialah warga Gereja Katolik usia tingkat SMA dan Perguruan Tinggi yang belum menikah. Dengan demikian remaja yang pada umumnya adalah siswisiswa Sekolah Menengah Pertama tidak termasuk. Orang muda Katolik bukan sekedar objek karya pastoral. Melainkan anggota hidup dari tubuh Gereja yang satu, mereka telah dibaptis dan di dalam mereka Roh Tuhan hidup dan berkarya. Mereka ikut serta memperkaya keberadaan Gereja dan bukan sekedar apa yang dilakukan Gereja. Mereka adalah masa sekarang dan bukan hanya masa depan Gereja. Orang muda adalah pelaku utama dari banyak aktivitas gerejawi, dimana mereka menawarkan pelayanan mereka murah hati (Dokumen Akhir dari sidang Umum biasa XV No 54). Mereka yang dengan sudah dibaptis dan menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus, dijadikan umat Allah dan caranya sendiri mengambil bagian dalam tugas Kristus sebgai iman, nabi, dan raja, dan karena itu sesuai dengan peranan mereka menjalakan perutusan umat Kristen dalam Gereja dan dunia (KWI, 1996:379). Orang Muda Katolik dipandang oleh Gereja sebagai kekuatan yang amat penting dalam masyarakat zaman sekarang. Situasi hidup, sikap-sikap batin serta hubungan-hubungan mereka dengan keluarga sendiri telah amat berubah. Seringkali mereka terlalu cepat beralih kepada kondisi sosial ekonomis yang baru. Dari hari ke hari peran mereka di bidang sosial juga politik semakin penting. Padahal agaknya mereka kurang mampu menanggung beban-beban baru dengan.
(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. baik. Bertambah pentingnya peran mereka dalam masyarakat itu menuntut dari mereka kegiatan merasul yang sepadan. Sifat-sifat alamiah mereka pun memang sesuai untuk untuk menjalakan kegiatan itu. Sementara kesadaran akan pribadi bertambah masak, terdorong oleh gairah hidup dan semangat kerja yang meluap, mereka sanggup memikul tanggung jawab sendiri, dan ingin memainkan peran mereka dalam kehidupan sosial dan budaya. Bila gairah diresapi oleh semangat Kristus dan dijiwai oleh sikap patuh dan cinta kasih terhadap para Gembala Gereja. Mereka sendiri harus mampu harus menjadi rasul-rasul pertama dan langsung kaum muda, dengan menjalankan sendiri di kalangan mereka, sambil mengindahkan lingkungan sosial kediaman mereka (AA 12). Di dalam Gereja, Orang Muda Katolik tidak hanya hadir dalam kehidupan jemaat, tetapi juga dipercaya dalam aneka tugas di tingkat lingkungan maupun paroki sebagai penguru. Orang Muda Katolik mempertanggungjawabkan imannya baik melalui sikap maupun aktivitas yang dijalaninya. Keterlibatan menggereja menjadi tanggungjawab iman sehingga tidak dijalani dengan terpaksa, tetapi sebagai panggilan. Keterlibatan itu menjadi wujud iman mereka (Dewan Karya Pastoral KAS, 2014:47) 2. Keadaan Orang Muda Katolik Sebagai manusia yang mendekati masa dewasa, kaum muda sedang mengalami proses pertumbuhan fisik, perkembangan mental, emosional, sosial, moral dan religius dengan segala permasalahan (Mangunhardjana, 1986:12). Sedangakan pada usia dewasa kehidupan sosial mereka umumnya dipusatkan di rumah dan anggota-anggota keluarga menggantikan peran teman. Karena pola.
(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. kehidupan tidak sama bagi semua orang muda, maka bentuk peran serta sosial mereka juga bervariasi (Hurlock, 1980:262). Pada masa remaja orang muda kerap sekali berbenturan dengan iman mereka, Dewan Karya Pastoral KAS (2014:40) menyebutkan bahwa aspek iman kepercayaan (Religius) remaja mulai membentuk ideologi (sistem kepercayaan). Mereka juga mulai mencari identitas diri dan menjalin hubungan pribadi dengan Allah. Imannya adalah apa yang diyakini masyarakat. Elizabeth Hurlock (1980: 222) menambahkan pada masa remaja lebih banyak ingin mempelajari agama dalam segi pengertian intelektual dan tidak ingin menerimanya begitu saja. Namun pada saat dewasa hal iman mereka sudah memiliki kenyamanan untuk mengahayati lebih baik secara persomal atupun komunal. Mereka bisa mempertanggungjawabkan imannya baik melalui sikap atau pikiran dan aktivitas yang mereka jalani (Dewan Karya Pastoral KAS, 2014:40) Orang muda juga tidak ingin dijadikan produk orang tua, yang artinya orang muda sedang mencerminkan ciri utama perkembangan kaum muda yakni sedang menemukan identitasnya. Mereka menyadari dan karena itu menolak segala upaya orang lain untuk “membentuk” mereka. mereka mau mencari dan membentuk pribadinya dan identitasnya sendiri. Tetapi itu tidak berarti mereka tidak mau menerima campur tangan luar, mereka juga mengakui perlunya diberi bimbingan dan pengeritan dari generesi sebelumnya (Tangdilintin, 1984: 8). Aris Purnomo (2015:31) juga menambahkan bahwa Orang Muda Katolik adalah Katolisitas yang artinya sebagai suatu iman pengikut Yesus yang menyadari diri sebagai orang yang diselamatkan sekaligus saluran keselamatan.
(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. bagi orang lain, hal itu diwujudkan dalam tindakan kesadaran dalam perjuangan Orang Muda Katolik dengan terlibat. 3. Situasi Hidup Orang Muda Kaum muda yang sedang tumbuh dan berkembang itu ada dalam situasi hidup yang berbeda-beda, karena berbagai sebab. Antara lain, karena proses pertumbuhan dan perkembangan mereka tidak sama. Ada kaum muda yang sudah mencapai kedewasaan, namun ada juga orang muda yang sedang menuju kedewasaan. Hal itu juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang tidak berpadanan: ada yang terpelajar, ada yang setengah terpelajar, dan ada yang tidak terpelajar. Faktor tempat tinggal dan lingkungan yang berlainan. Baik yang tinggal dikota besar ataupun yang berada di kota kecil. Jadi kaum muda yang sedang ada dalam proses pertumbuhan di segala bidang, mengalami situasi hidup yang berbeda satu sama lain. Dan tingkat perbedaan itu hanya kecil , tetapi dapat besar, bahkan kerap kali menjadi berlawanan. Situasi hidup tidak selalu mudah bagi semua kaum muda. Kalau benar bahwa 80% penduduk Indonesia termasuk dalam golongan rakyat miskin, maka mayoritas kaum muda Indonesia pun termasuk dalam kelompok‘ tidak mampu’ dengan mbegitu situasi tersebut dapat mendorong kaum mudah untuk jatuh ke dalam tindak dan dunia kriminal (Mangunhardjana, 1986:16). Kaum muda merupakan kekuatan amat penting dalam masyarakat zaman sekarang. Dari hari ke hari peran mereka di bidang sosial dan juga politik semakin penting Kesadaran kaum muda yang mulai terbentuk dan bertambah masak, terdorong oleh gairah hidup dan semangat kerja yang meluap, mereka sanggup.
(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. memikul tanggung jawab sendiri, dan ingin memainkan peran mereka dalam kehidupan sosial dan budaya. Mereka sendiri haru menjadi rasul pertama dan langsung bagi kaum muda, dengan menjalankan tugas kerasulan di kalangan mereka sendiri, sambil mengindahkan lingkungan sosial kediaman mereka. (AA 12). 4. Gaya Hidup Orang Muda Sisi buram yang yang terlihat di era digital di kalangan orang muda antara lain kecenderungan orang untuk mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya ketika ia berkomunikasi dengan yang lain di dunia virtual dengan gadget-gadget milik pribadi (Yap Fu Lan, 2012: 51) Dengan berkembangnya kemajuan yang sangat pesat membawa setiap individu memilki sifat masing-masing, seperti egosentris yang berlebihan. Hal ini memiliki kecenderungan melihat dan memahami realitas sebagai yang berpusat pada diri sendiri. Orang-orang seperti ini memiliki kencenderungan menempatkan pandangan dan nilai-nilai sendiri lebih unggul daripada pandangan dan nilai orang lain (Sihotang, 2019:20). Paul Suparno (2011: 73) mengungkapkan bahwa di dalam era sekarang banyak sekali perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar bahkan pada setiap individunya. Baik itu perubahan positif di mana di era yang begitu cepat ini orang ditantang juga untuk ikut cepat dan dipacu untuk menyelesaikan pekerjaan atau masalah secara efisien. Hal ini jelas memacu mereka untuk membuat strategi untuk memajukan. Namun di lain itu ada juga pengaruh negatif yang terjadi, seperti halnya orang tidak tahan jika menghadapi tantangan atau kerjaan yang.
(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. lama dengan daya tahan yang lama, selain itu ingin cepat mendapatkan hasil tanpa usaha keras, sehingga menggiring orang untuk bertindak curang atau kriminal Menurut Paul Suparno (2011: 74) perubahan di era digital ini juga berdampak pada perubahan gaya hidup. Beberapa orang yang telah hidup digenerasi sebelumnya menjadi sedikit kager dengan perubahan sekarang ini. Bahkan masih banyak yang belum siap menerimanya. Tetapi untuk generasi sekarang, justru langsung menyatu dan menerima perubahan yang ada. Namun hal itu tidak diimbangin dengan budaya yang ada, dimana hal itu membawa dampak bagi generasi sekarang. Budaya digital secara tidak langsung membawa orang menuju ke arah budaya konsumtif. Rasa ingin memiliki suatu barang secara berlebihan yang tidak semuanya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.. B. Dasar Keterlibatan dalam Hidup Menggereja Kehidupan umat kristiani setelah Yesus naik ke surga, merupakan buah didikan Yesus selama aktif di tengah masyarakat sebelum wafat. Kehidupan menggereja Jemaat Pedana telah mengungkapkan tugas Gereja, yang dikisahkan pada Kisah Para Rasul : Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagibagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus.
(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. ( Kis 2: 41-47) Ibadah yang dilakukan Jemaat Perdana sungguh-sungguh, bertekun di dalam pengajaran rasul, mengadakan perjamuan kudus dan berdoa kepada Tuhan. Dengan cara ini Jemaat Perdana terus menambah pengetahuan akan Allah dan mendapat kekuatan agar bertahan dalam penganiayaan. Meskipun dalam penganiayaan namun mereka bergembira karena boleh menderita bagi Tuhan dan akhirnya jumlah mereka bertambah Paul Suparno (2007: 33) menjelaskan bahwa kehidupan menggereja mengalami perubahan besar pada zaman ini yang ditandai dengan pesatnya jumlah umat beriman aktif dalam kegiatan menggereja. Partisipasi umat dalam hidup menggereja dan juga dalam perutusan Gereja. Banyak umat rela bekerja dan bekarya bagi perkembangan Kerajaan Allah dan bersedia dikirim menjadi misi. Hidup menggereja ini dihidupi oleh keluarga. Persekutuan Gereja melakukan tugasnya sebagai pewarta (Kerygma), liturgi (Liturgia), persekutuan (Koinonia), dan pelayanan (Diakonia) secara konkrit dihidupi dan diaktualisasi lewat hidup menggereja (LG 25-27).. C. Harapan Gereja Terhadap Orang Muda Katolik Gereja memiliki harapan besar terhadap Orang Muda Katolik karena mereka adalah generasi yang akan meneruskan pewartaan Yesus. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama diungkapkan, Allah menaruh harapan besar kepada orang.
(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. muda dengan memanggil orang muda sebagai rekan kerja-Nya seperti Nabi Yeremia (Komisi Kepemudaan KWI, 2014: 42). Sebagai generasi Gereja, Orang Muda Katolik tidak boleh tinggal diam. Orang Muda Katolik harus mampu memaikan peran dalam hidup bernegara dengan hidup jujur, wajar, dengan cinta kasih dan ketegasan politik dri bagi kesejahteraan semua orang (GS 75). Komisi Kemudaan KWI (2014: 44-46) menegaskan bahwa gereja harus yakin bahwa dengan kebaikan dan kelemahan Orang Muda Katolik, Allah menawarkan Gereja bagi mereka suapa hidup sepenuhnya dan mereka dapat melakukan evangelisasi. D. Keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Orang Muda Katolik adalah bagian dari gereja, dan mereka memiliki tugas dalam gereja sebagai kaum awam, mereka menurut (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:24) baik kaum awam, para iman, dan biarawan-biarawati memiliki tugas untuk memberikan kesaksian hidup Kristiani dan mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Apostolicam Actuositatem (15-16) menyebutkan Kaum awam dapat menjalankan kerasulan mereka secara perorangan atau tergabung dalam berbagai paguyuban atau perserikatan. Semua awam dalam keadaan mana pun juga dipanggil dan wajib menjalankan kerasulan. Terdapat banyak bentuk kerasulan, yang bagi kaum awam merupakan jalan untuk membangun Geraja, menguduskan dunia serta menjiwainya dalam Kristus ..
(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. Keterlibatan adalah pengabdian yang sukarela dan luhur dari pribadi-pribadi dalam pertukaran sosial. Sesuai dengan tempat dan peranannya semua orang harus turut serta dalam peningkatan kesejahteraan umum, kewajiban ini secara mutlak berkaitan denga mertabat pribadi manusia (KGK 1913). Keterlibatan ini pertamatama berarti bahwa manusia berkarya di dalam bidang-bidang untuk mana ia menerima tanggung jawab pribadi. Dengan memperhatikan pendidikan keluarga dan bekerja dengan seksama, seorang menyumbang demi kesejateraan orang lain dan masyarakat. (KGK 1914). Kitab Suci juga menegaskan bahwa sebagai pelayan, Yesus menyuruh para murid-Nya untuk selalu bersikap “yang paling rendah dari semua dan sebagai pelayan dari semua” (Mrk 9:5). Pelayanan adalah keikutsertaan dalam karya karitatif atau cinta kasih melalui aneka kegiatan amal kasih Kristiani, khususnya kepada mereka yang miskin, terlantar dan tersingkir. Melalui bdang karya ini, umat beriman menyadari akan tanggung jawab pribadi mereka akan kesejateraan sesamanya. Oleh karena itu dibutuhkan adanya kerjasama dalam kasih, keterbukaan yang penuh empatik, partisipasi dan keiklasan hati untuk berbagi satu sama lain demi kepentingan jemaat (Kis 4:32-35). Pelayanan berarti usaha terus menerus untuk menjadikan pencarian Allah yang dilakukan sendiri, dengan kepahitan dan kegembiraannya, putus asa dan harapannya, siap dipakai oleh mereka yang ingin menggabungkan diri dalam pencarian itu akan tetapi tidak tahu jalannya. Oleh karena itu pelayanan sama sekali bukanlah suatu hak istimewa. Sebaliknya pelayanan adalah inti kehidupan kristiani (Nouwen,1986: 134).
(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. Terdapat wadah dalam Gereja yang dapat mefasilitasi Orang Muda Katolik dalam berorganisasi atau berkegiatan untuk pengembangan iman dan keterlibatan mereka. kegiatan-kegiatan tersebut dapat di uraikan sebagai berikut: 1. Bidang Liturgi Liturgi (Leitourgia) berarti terlibat aktif dalam perayaan ibadat resmi yang dilakukan Yesus Kristus dalam Gereja-Nya kepada Allah Bapa, aktif dalam bidang peribadatan memimpin ibadat sabda, pendalaman iman, rekoleksi, retret (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:453). 2. Bidang Pewartaan Pewartaan (Kerygma) berarti ikut serta membawa Kabar Gembira bahwa Allah telah menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa melalui Yesus Kristus, Putra-Nya. Dalam bidang ini umat diharapkan mendalami dan mewartakan kebenaran Firman Allah, menumbuhkan semangat Injili, seperti : katekese calon baptis dan persiapan sakramen-sakramen. Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, dan kegiatan pendampingan bagi meningkatkan hehidupan iman Orang Muda Katolik (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:455-456). 3. Bidang Perseketuan Persekutuan (Koinonia) berarti ikut serta dalam persekutuan atau persaudaraan sebagai anak-anak Bapa dengan pengantara Kristus dalam kuasa Roh Kudus-Nya. Sebagai orang beriman, dipanggil dalam persatuan erat denga Allah Bapa dan sesama manusia melalui Yesus Kristus, Putra-Nya, dalam kuasa Roh Kudus. Oleh karena itu lingkungan diharapkan dapat menciptakan kesatuan antar umat, umat dengan paroki/keuskupan dan umat dengan masyarakat, seperti:.
(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20. olahraga, rekreasi,ziarek,arisan,perayaan hari-hari raya, hari pelindung lingkungan (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:456). 4. Bidang Pelayanan Pelayanan (Diakonia) berarti ikut serta dalam melaksanakan karya cinta kasih melalui aneka kegaitan amal kasih Kristiani, khususnya kepada mereka yang miskin, terlantar, dan tersingkir. Umat beriman diajak menyadari tanggung jawab pribadi mereka akan kesejahteraan sesamanya, seperti : bakti sosial, sembako murah, pengobatan gratis, menjadi orang tua asuh, membantu warga yang mengalami musibah, kecelakaan, kematian, dan penderitaan (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:457). 5. Bidang Kesaksian Kesaksian (Martyria) berarti ikut serta dalam menjadi saksi Kristus bagi dunia. Hal ini dapat diwujudkan dalam menghayati hidup sehari-hari sebagai orang beriman di tempat kerja ataupun ditengah masyarakat, ketika menjalin relasi dengan umat lain dan dalam relasi hidup di tengah masyarakat. Melalui bidang ini umat diharapkan dapat menjadi ragi, garam dan terang ditengah masyarakat dan sekitarnya, seperti: aktif dalam kegiatan RT,RW dan lingkungan, kerja bakti, arisan, Karang Taruna (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:457).. E. Peran Orang Muda Katolik dalam Keterlibatan di Lingkungan Komisi Kepemudaan KWI (2014:102) mengatakan bahwa orang muda dapat terlibat dalam berbagai macam kegiatan yang ada yang sifatnya efektif guna. memberikan ruang keterlibatan dan memupuk iman mereka dalam.
(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. kebersamaan, tidak hanya sekedar berkumpul tetapi juga memberikan pengalaman bagi mereka baik itu iman, emosional dan sikap. Ditegaskan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama diungkapkan, Allah menaruh harapan besar kepada orang muda dengan memanggil orang muda sebagai rekan kerja-Nya seperti Nabi Yeremia (Komisi Kepemudaan KWI, 2014: 42). Sehingga Orang Muda Katolik haruslah menjadi basis yang menginspirasi dan memotivasi untuk sekitar dengan keterlibatan yang mereka ikuti dalam kegiatan di lingkungan. Kegiatan yang dapat mereka ikut seperti pendalaman iman, kegiatan doa bersama, dan lainnya. Kaum muda adalah mereka yang juga merupakan bagian dari Gereja dan sudah diterima oleh Gereja serta “mereka yang yang dipanggil oleh Allah, untuk menunaikan tugas mereka sendiri dengan dijiwai semangat Injil. begitulah cara mereka memancarkan iman, harapan dan cinta kasih terutama dengan kesaksian hidup mereka, serta menampakkan Kristus kepada sesama” (LG 31). Orang muda berkeinginan untuk memanfaatkan talenta, kemampuan serta kreativitas mereka dan bersedia untuk memikul tanggung jawab. Di antaranya yang paling disukai oleh mereka adalah kelestarian sosial dan lingkungan, diskriminasi, serta rasisme. Keterlibatan orang muda sering mengikuti pendeketan-pendekatan yang belum pernah terjadi, termasuk menggunakan potensi komunikasi digital didalam hal mobilitas dan tekanan politik, penyebaran gaya hidup dan pola-pola komsumtif serta investasi yang kritis, dalam solidaritas dan ramah lingkungan, bentuk komitmen dan partisipasi dalam masyarakat (Dokumen Akhir dari sidang Umum biasa XV No 52). Keterlibatan Orang Muda.
(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22. Katolik tidak terlepas dalam peran sertanya melalui tugas mereka guna menjadi pelayan bagi Tuhan sebagai pewarta iman. Dengan semangat keberadaan dan keterlibatan mereka dan mampu melakukan tugas serta peran keterlibatannya maka bahwa Gereja Katolik sungguh berkembang dalam peran mereka.. F. Faktor-Fakor yang Mempengaruhi Keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan 1. Faktor ekternal dan internal Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi antara lain kesulitan baik itu kesulitan dari luar (eksternal), yaitu kesulitan yang berasal dari luar diri seseorang, atau juga kesulitan dari dalam (internal) yaitu kesulitan yang datangnya dari diri sendiri atau dalam dan hal ini tidak bisa dipisahkan dari pengaruh-pengaruh dari luar. Seperti berikut: a. Kesibukan Kesibukan merupakan faktor paling klasik yang selalu dikemukakan jika seseorang tidak aktif dalam kegiatan Lingkungan. Bahwa benar kesibukan mencari nafkah atau kepentingan lain menyita waktu namun menggunakan alasan ini untuk tidak terlibat dalam kegiatan lingkungan jelas menunjukkan persepsi individualitis yang menganggap bahwa bergabung dengan umat lain di lingkungan kurang bermanfaat bagi kehidupan (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:462). b. Individualisme Sikap individualis “lu-lu, gue-gue” yang lazim di kota-kota besar juga memicu bertumbuhnya sikap acuh terhadap orang lain, dan keengganan untuk.
(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23. bersekutu, baik dalam kegiatan Gereja maupun lingkungan (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:461). c. Canda berlebihan Ada kalanya orang lupa bahwa warga lingkungan terdiri dari bapak dan ibu yang sudah berkeluarga, mereka bukan lagi anak-anak. Akibatnya dalam bercanda mereka sering kelewatan sampai menyinggung perasaan (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:462). d. Alokasi waktu dan jam karet Ini adalah masalah klasik dalam setiap pertemuan lingkungan yang sering kali menyebabkan orang enggan bergabung dalam pertemun lingkungan (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:463). e. Pertemuan-pertemuan lingkungan yang membosankan Sering kali alasan orang enggan untuk bergabung dalam pertemuan lingkungan adalah kurang bermutunya isi pertemuan. Mereka merasa kurang mendapat bekal atau isi dari pertemuan yang diselenggarakan. Akibatnya mereka enggan untuk kut dalam pertemuan itu lagi (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:463). f. Konflik dan perbedaan antar individu Pergaulan bersama tidak terlepas dari adanya perbedaan pendapat yang bisa memuncak menjadi konflik. Konflik lepas antar individu bisa berkembang menjadi konflik antar kelompok di lingkungan (Danan Widharsana dan Rudy Hartono, 2017:462)..
(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24. 2. Faktor-faktor dari lingkungan Selain itu (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner,2007:35) kehidupan di lingkungan tentu tak lepas dari faktor Kekuatan, Kelemahan,Tantangan, dan Peran Peluang yang dihidupi umat di lingkungan, bahwa Kekuatan dan Kelemahan mengungkapkan unsur-unsur dari dalam Lingkungan, sedangkan Tantangan dan Peluang mengungkapkan unsur-unsur dari luar Lingkungan. Faktor-faktor tersebut yaitu: a. Kekuatan Lingkungan Lingkungan mempunyai posisi strategis untuk mewujudkan diri Gereja sebagai “garam bagi masyarakat”, sebab warga lingkungan, dalam kehdiupan sehari-hari sebagai bagian tak terpisahkan dalam masyarakat, dengan ikut masuk terlibat dengan menjadi “suara hati” masyarakat, meneguhkan yang sudah baik dan mengajak mengatasi kendala (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:35). Kemudian melebur bersama dan menjadi padu dengan sekitar secara spontan. Suasana yang membawa pada suasana yang ramah, bersaudara, gotong royong, musyawarah mufakat terjalin melalui rukun hidup yang terjadi terus menerus dan berkelanjutan (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:36). Juga menjalin dialog kehidupan yang terus menerus dengan sesama yang beragama dan berkeyakinan lain. Hal ini menjadi saluran kesaksian iman, yang dapat membawa pada kesatuan, cinta kasih kebenaran, keadilan dan damai (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:36)..
(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25. b. Kelemahan Lingkungan Lingkungan kerap melupakan segi keterarahan bahkan sering tidak menyadari pentingnya arah bagi dinamika kemajuan bersama. Banyak hal dilakukan secara spontan dan lentur sehingga kurang mendapat gambaran visioner dalam kehidupan paguyuban Lingkungan (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:37). Serta pada umunya umat di lingkungan tidak begitu menyadari hadirnya gejolak-gejolak dan arus yang terdapat dalam masyarakat lebih luas. Fungsi dialog dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi tanpa disertai kesadaran akan situasi dalam konteks yang lebih luas dan pertimbangan secara lebih mendalam (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:37). Serta lingkungan kurang memberi perhatian pada hadirnya kelompok dengan kepentingan khusus atau kategorial seperti : kaum muda, pelajar, mahasiswa, petani, buruh, dan para pegawai. Kekhasan kelompok tersebut sukar terkembangkan dalam lingkungan (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:37). c. Tantangan Lingkungan Konteks hidup orang zaman sekarang ini berada dalam arus besar zaman yang lahir karena proses globalisasi. Keadaan ini menantang Paguyuban Lingkungan untuk mewujudkan jati dirinya segai paguyuban iman yang menghidupi dan senantiasa memperjuangkan nilai-nilai Injil Yesus, sesuai kemajuan perkembangan zaman dan budaya. Nilai Injil dihayati dalam proses kehidupan dan selalu menjujung tinggi martabat manusia (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:38). Situasi zaman kini juga.
(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26. ditandai kenyataan kemiskinan yang diperparah dengan terjadinya proses pemiskinan yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk kepentingan sendiri. Hal tersebut menunjukan kemrosotan kepedulian di kalangan masyarakat. Justru seharusnya hal ini menantang seluruh umat untuk saling peduli dan berbagi (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:38). Kemudian warisan feodalisme, yakni mentalitas menghargai orang lain karena status atau kedudukan sosialnya yang lebih tinggi, membawa orang terlalu menekankan “ tampilan luar” tanpa mempertimbangkan kenyataan terdalam/batin. (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner,2007:24). d. Peluang Lingkungan Adanya kerinduan hubungan personal, relasi yang bercorak personal semakin menjadi dambaan dan kerindunan banyak oarng zaman kini. Ditengah masyarakat keterasinganya karena zaman yang penuh persaingan. Dalam konteks bermasyarakat kelompok bermunculan untuk memenuhi kerinduan orang dari pola hidup yang semakin individualistis. Sedangkan dalam konteks beragama kelompok bermunculan untuk memenuhi kerinduan dari keterasingan karena corak hidup beragama yang terlalu institusionalistis, hal ini memberi peluang bagi lingkungan untuk mewujudkan jatidirinya sebagai paguyuban yang dilandasi jiwa kasih Kristus (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:39). Era globalisasi membawapola baru hubungan manusia. Kemajuan teknologi informatika yang dipicu hadirnya satelit komputer mendobrak berbagai batasan bagi umat manusia. Sehingga semua saling terhubung hidup dalam jalinan jaringan, terlepas dari sekat pembatas kesukuan, kenegaraaan, kebudayaan,.
(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. keagamaan, maupun keunikan kelompok lainnya. Hal ini mendorong lingkungan mewujudkan jati dirinya sebagai Gereja inti, meskipun skalanya kecil, namun kerena keterbukaannya menjadi pusat bagi persekutuan yang lebih luas (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:39). Kesadaran akan jati diri sebagai manusia yang semartabat dan sederajat mendorong banyak orang zaman kini pada perjuangan demokratisasi, gerakan reformasi yang dijalankan untuk kemajuan dan kemakmuran segenap rakyat Indonsia. Paguyuban Lingkungan. juga. berpeluang. untuk. mewujudkan. kesemartabatan. dan. kesederajatan sebagai anak Allah (Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner, 2007:40).. G. Rangkuman Di dalam hidup bermasyarakat tentulah kita sebagai umat ciptaan Tuhan harus saling hidup bersama dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Namun hal itu berbanding terbalik dengan keadaan di zaman sekarang. Tidak sedikit orang yang memiliki sifat individualis atau sulit membaur dengan orang lain di kerenakan sudah sibuk dengan kegiatan pribadi. Hal itu juga dialami oleh sebagaian besar Orang Muda Katolik yang ada, dengan rentang usia yang masih belasan tahun sehingga masih mudah terbawa arus zaman, padahal orang muda adalah harapan gereja ke depan. Tantangan yang mereka hadapi baik itu dari diri sendiri maupun orang orang sekitar juga dari zaman yang ada tentu membuat orang muda mudah goyah. Terlebih tuntutan zaman yang sekarang menambah mereka untuk sibuk dan sulit melakukan interaksi yang sifatnya bersama atau.
(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. kelompok. Dalam hal ini, penulis mengambil salah satu contoh, yakni sulitnya orang muda untuk terlibat, sebab mereka sudah memiliki jadwal sendiri dan pekerjaan yang menuntut untuk profesional di bidang masing-masing. Melalui keterlibatan di tengah masyarakat diharapkan bisa meningkatkan mutu diri dan melebur dengan orang lain , dan sebagai wujud komunikasi antara dirinya dengan Tuhan. Agar setiap tindakan yang dilakukan selalu melibatkan Tuhan di dalamnya. Sehingga suasana persaudaraan dan cinta kasih dapat tercipta ditengah hidup bermasyarakat. Gereja menaruh harapan kepada orang muda sebagai generasi penerus untuk mengembangkan Gereja menjadi lebih luas dan dengan kemampuan mereka. Sehingga minat orang muda harus kembali dibangkitkan dengan berbargai kegiatan. Seperti halnya doa bersama di lingkungan, akan membantu mereka untuk secara perlahan memahami arti hidup bersama di tengah umat dan dengan begitu mulai berani menampakkan diri di tengah umat. Agar Orang Muda Katolik juga tidak kehilangan jati diri mereka dan malah tenggelam di dalam tantangan zaman yang ada di sekitar mereka. Dengan demikian Orang Muda Katolik tetap dapat tumbuh di tengah zaman yang begitu cepat namun tidak meninggalkan iman mereka dan dapat menampakan diri di tengah masyarakat sebagai pribadi yang berguna dan bermanfaat. Sehingga di sini penulis mengajak Orang Muda Katolik menyadari akan pentingnya keterlibatan ..
(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29. BAB III PENELITIAN TENTANG KETERLIBATAN ORANG MUDA KATOLIK DI LINGKUNGAN SANTA MONICA PINGIT PAROKI HATI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA KUMETIRAN YOGYAKARTA. Penelitian bab III ini dilaksanakan sebagai upaya untuk memperoleh informasi yang mendalam mengenai keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit. Pada bagian ini penulis menjelaskan latar belakang penelitian, permasalahan, tujuan, tempat dan waktu penelitian, jenis penelitian, narasumber penelitian, teknik, instrumen pengumpulan data, hasil dan pembahasan.. A. Berdirinya Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran Pada Buku Pesta Sembilan Windu Paroki Kumetiran (2016: 15-21) Pada tahun 1917 Romo H. Van Drissche SJ, seorang imam Jesuit mengunjungi umat Pribumi di Yogyakarta, beliau mengajar agama dan mempersiapkan baptisan baru, kemudian pada Tahun 1922 Romo Frans Strater SJ, Pimpinan Novisiat Jesuit di Yogyakarta (kemudian menjadi Kolese St. Ignatius, Kotabaru), mendukung karya Romo Van Drissche dengan mendirikan Sekolah Guru Agama. Atas bantuan Bupati KRT Harjokusumo, Romo Frans Strater mendapat tanah 5.400 meter dan rumah. joglo. milik. bapak. R.D. Penewu. Kartokasyoso,. di. kampong. Pringgokusuman dan diatas namakan Romo A. Djajasepoetra SJ. Pada tahun 1939 tempat tersebut menjadi Asrama Calon Guru Agama (1939-1944), kemudian tentara Dai Nippon datang pada tahun 1942 dan menduduki kota Yogyakarta. Para.
(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30. Gembala ditangkap, Seminari dan Gereja Kotabaru di jadikan gedung pemerintahan dan gudang perbekalan Jepang. Di tahun 1943 Gereja Kotabaru yang menjadi Asrama SGA ditutup. Kaum awam katolik terpanggil untuk berhimpun mengambil alih kegiatan gerejani. Brudet Mathias Endrarsana SJ (1944-1952) seorang putra Jawa kelahiran Kadisaba, Sleman, Pengurus Asrama Calon Guru Agama, Romo Strater SJ, menawarkan agar asramanya dipakai untuk kegiatan gerejani, pengganti Gereja Kotabaru. Tepat 13 Agustus 1944, pertama kalinya tempat tersebut diadakan Perayaan Ekaristi oleh Romo B Sumarno SJ dari Paroki Bintaran. Selanjutnya tempat itu menjadi tempat beribadat dan pengembangan agama katolik. Tahun 1945 ada 23 baptisan baru. Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 jatuhnya Bom Atom atas Hiroshima dan Nagasaki, membuat tentara jepang ditarik ke negerinya. Gereja kotabaru difungsikan kembali untuk peribadatan dan sebagian umat kembali ke Kotabaru. Sebagian umat yang tinggal disekitar Kumetiran tetap menginginkan beribadat di Kampung bekas Asrama SGA itu. Sejak 31 Desember, adminitratif, Gereja Kampung Kumetiran ditetapkan sebagai Paroki mandiri dengan nama Pelindung Santa Perawan Maria Tak Bercela. 8 Desember 1950 Romo Alexander Sandiwan Broto membentuk Yayasan Gereja dan Kemiskinan (sekarang, Pengurus Gereja dan Papa Miskin/PGPM). 11 Maret Tahun 1951 Romo Alexander Sandiwan Broto membentuk Pengurus Paroki (sekarang Dewan Paroki) untuk pertama kalinya. Di tahun 1952 Romo Alexander Sandiwan membagi Gereja Kumetiran dalam 8 Kring dan 1 Stasi Gampung (pisah dari kumetiran, 24 Desember 1 970) tanggal 25 Mei , saat.
(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31. Krisma di Kumetiran Romo Alexander Sandiwan mengajukan izin pembangunan gedung kepada Mgr. Albertus Soegijapranoto SJ dan dikabulkan. Juli 1953, penyerahan Makam Kuncen dari Kantor Pangruktilaya Yogyakarta untuk dikelola Paroki Kumetiran. 17 Desember 1954, Panitia Pembangunan Gereja Kumetiran terbentuk.30 Desember 1955, peletakan batu pertama Pembangunan Gedung Gereja oleh Mgr Albertus Soegijapranoto SJ. Pada tanggal 16 Febuari 1958 , Pemberkatan/ Peresmian Gedung Gereja oleh Albertus Soegijapranoto SJ. Tahun 1959 Romo Emmanuel Hardjowardojo Pr, saat menjadi pastor pembantu membentuk Kor Gregorius (putra) dan Kor Caecilia (putri). Perayaan Ekaristi menjadi 2 kali perminggu. Tahun 1961 Romo Berbadus Liem Bian Bing SJ, bersama Dewan Paroki membuat Garis Besar Haluan Paroki, dengan prioritas di bidang Liturgi, Pewartaan, Persekutuan dan Sosial. Pada tahun 1963 Perayaan Ekaristi menjadi 3 kali per minggu. Di tahun 1967 Politeknik Dharmabakti Gereja Kumetiran diresmikan untuk umum. Hingga tahun 1980, ditutup menyusul kesulitan tenaga dan sudah tersedianya Puskesmas di Gedong Tengen. 21 Januari 1968 Balai Kesehatan Ibu dan Anak Gereja Kumetiran diresmikan. Untuk pertama kalinya di tahun 1970 Kumetiran menyusun Anggaran Penggeluaran dan Belanja Paroki, dan menyelanggarakan mesyawarah besar untuk menyusun Garis Besar Haluan Paroki. Di Tahun 1971 di mana 8 Kring di Paroki Kumetiran ditata ulang menjadi 13 Kring. Romo Joannes Reijnders SJ (1973-1979) saat misa di Kring Kentheng (Kentheng, Nusupan dan Bedog) muncul ide untuk mendirikan Kapel, akhrinya mendapat tanah seluas 455 meter persegi di bulak Ngeban. Bulan Juni 1975 resmi.
(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32. tebentuk Pengurus Pemuda Paroki Kumetiran. 1976 Romo Joannes Reijnders dibantu Theo Sunu Widodo, mengadakan Kursus Organis guna menambah jumlah organis, tahun 1977 di Paroki Kumetiran berkembang menjadi 17 Kring. Pembangun Kapel Santa Lidwina Bedog dimulai pada tahun 1978 dan di tahun 1980 Pemberkatan Kapel Santa Lidwina Bedog oleh Rm Raymundus Nonnatus Mardisuwignyo Sutrisno Pr. Di tahun yang sama di Gereja Kumetiran sering diadakan Perayaan Paskah Ekumene dan pada tanggal 28 Mei Persekutuan Doa Karismatik Katolik terbentuk. Selang setahun kemudian 1981 paguyuban Ibu-Ibu Paroki terbentuk. Paroki Kumetiran berkembang pesat di tahun 1982 dengan memiliki 23 Kring, dan di tahun 1986 berkembang menjadi 26 Kring dan sebutan Kring di ganti menjadi Lingkungan. Pada tanggal 29 Mei 1988 Mei, Pemberkatan Gua Maria Gereja Kumetiran oleh Mgr Julius Darmaatmadja. Terjadi petimbangan adminitratif yang terjadi di Tahun 1989 sehingga dibentuk wilayah yang terdiri atas 3 lingkungan. Maka di Kumetiran terbagi menjadi 8 Wilayah. 1995 Mei, Misa dengan iringan gamelan yang diperjuangkan Romo E Rusgiharto dihidupkan kembali dan ditahun yang sama dimulainya Pembangungan Gedung Gereja Kumetiran. 4 Januari 1996, Pendalaman Kitab Suci (PKS) yang dirintis oleh Romo G.A Notobudyo Pr untuk pertama kalinya diadakan. 2 Agustus 1998 peletakan batu pertama Pemugaran Gedung Gereja Kumetiran oleh Mgr Ignatius Suharyo Pr, Uskup Agung Semarang. Bulan Oktober Pembangungan Gedung Pasturan dan bulan Desember wilayah mulai dilibatkan sebagai panitia Natal dan Paskah secara bergiliran dan bekerjasama dengan Dewan Paroki..
(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33. 17 Juni 2001 Gedung baru sudah mulai digunakan untuk Perayaan Ekaristi, di tanggal 9 September Pemberkatan Gedung Gereja Kumetiran oleh Mgr Ignatius Suharyo Pr, Uskup Agung Semarang. 8 Desember Sultan Hamengku Buwono X Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta meresmikan Gedung Gereja Kumetiran. Berkembang di tahun 2004 secara bergiliran wilayah diberi tugas menyusun doa-doa dalam teks perayaan ekaristi mingguan. April 2005 mulai dibuka kelompok kor dari luar lingkungan untuk mendukung ekaristi mingguan. 31 Agustus pemberkataan Panti Paroki Kumetiran. Pada tahun 2007 format Teks Misa berubah dari lembar folio dilipat tiga, menjadi Boklet ¼ folio putih, 12 halaman. Ruang Adorasi Kumetiran diresmikan 4 Mei oleh Johanes Pujasumarta Pr. Penetapan Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki Kumetiran oleh Mgr Ignatius Suharyo Pr dan 20 Mei lahir Forum Komunikasi Kerasulan Doa ( FKKD) Paroki Kumetiran dengan Domitianus Djumadi sebagai ketuanya. 30 September 2009, lahir Forum Komunikasi Muda Katolik Paroki Kumetiran. 19 lomba paduan suara anta Lingkungan/ wilayah se-Paroki Kumitan dan untuk pertama kalinya Romo Atas menggelar Ekaristi Ruwatan, sebuah upacara tradisi Jawa yang coba untuk kembali dilestarikan. Dengan Juru Ruwat, Ki Mas Lurah Cermoh Sutejo dan Romo Simon Atas Wahyudi Pr. Tanggal 28 Desember 2011, Temu Kangen Alumni Pemuda Paroki dan Kompak Gereja Kumetiran serta Romo FI. Hartosubono Pr membangi Paroki Kumetiran atas 3 Rayon Lingkungan. 10 Mei 2015 Ekaristi Berbahasa Inggris pertama kalinya diadakan di Paroki Kumetiran ..
Dokumen terkait