ANALISIS PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI
KECAMATAN LAWEYAN TAHUN 2006 – 2015
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Geografi Fakultas Geografi
Oleh:
RIEKE ARIYANTI E 100 130 076
PROGRAM STUDI GEOGRAFI FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2017
1
ANALISIS PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN LAWEYAN TAHUN 2006 – 2015
Abstrak
Kecamatan Laweyan merupakan kecamatan tertua yang ada di Kota Surakarta. Kecamatan ini merupakan pusat dari budaya yang ada di Jawa Tengah, salah satunya adalah sebagai sentra batik dengan adanya “Kampoeng Batik Laweyan.” Selama sepuluh tahun terakhir, kecamatan tersebut mengalami perkembangan permukiman karena adanya arus urbanisasi. Meningkatnya perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan dengan lahan yang tetap tersebut kemudian dilakukan penelitian dengan tujuan : mengetahui persebaran dan pola persebaran perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan selama sepuluh tahun dari tahun 2006 sampai dengan 2015 serta faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman di kecamatan tersebut. Metode pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Unit analisis pada penelitian ini yaitu : (1) blok, (2) kelurahan dengan populasinya adalah penduduk di Kecamatan Laweyan. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah: (1) pengumpulan data primer yang dilakukan secara langsung di antaranya: (a) melakukan pengambilan Citra Landsat DigitalGlobe Kecamatan Laweyan tahun 2006 dan tahun 2015 menggunakan
software pendukung, (b) observasi lapangan, (c) wawancara dengan penduduk di Kecamatan Laweyan yang tempat tinggalnya berada pada lingkup blok dengan perubahan penggunaan lahan untuk permukiman paling tinggi dengan pengambilan sampel sebanyak 20-25% dengan cara cluster proportional random sampling; (2) pengumpulan data sekunder yang diambil dari Instansi Pemerintah terkait; (3) dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan pada peta yang telah di
intersect dengan mendeskripsikannya dan menggunakan analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola permukimannya, serta mengkaitkan kedua analisis tersebut dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman di kecamatan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persebaran perkembangan permukiman dipengaruhi oleh tiga penggunaan lahan yaitu : (1) persawahan, (2) lahan kosong, dan (3) perluasan permukiman. Perubahan penggunaan lahan menyebar di seluruh kecamatan dan membentuk pola persebaran perkembangan permukiman. Secara garis besar, pola perkembangan permukiman yang terbentuk pada seluruh kelurahan adalah mengelompok, namun ada kelurahan yang memiliki pola perkembangan permukiman menyebar atau seragam. Faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman yang terjadi di Kecamatan Laweyan adalah : (1) faktor pertumbuhan penduduk, dimana selama sepuluh tahun terakhir pertumbuhan penduduk di kecamatan tersebut mengalami peningkatan, (2) faktor aksesibilitas dan transportasi, dimana pola yang terbentuk adalah mengelompok maka semakin tinggi kepadatan jalannya, sehingga transportasi yang tersedia semakin baik, (3) faktor lingkungan atau penarik sehingga penduduk memilih untuk tinggal di Kecamatan Laweyan adalah mencari tempat tinggal yang menyenangkan, mendekati pusat kegiatan pendidikan,
2
mencari tempat yang lebih luas karena harga tanah yang masih murah, mendekati tempat bekerja, dan Ingin berdiri sendiri
Kata Kunci : Analisis, Perkembangan, Permukiman.
Abstracts
Laweyan Sub-District is the oldest sub-district in Surakarta. It is the central of culture heritage in Central Java, one of the most familiar culture heritage is “Kampoeng Batik Laweyan”. In the latest decade, the settlement of this sub-district have been developed because of urbanization. The increasing development of settlement in settled land of Laweyan is started up with research which aims to: Know the distribution and its pattern of settlement developing of Laweyan Sub-District in last decade from 2006 to 2015 and to know about factor that affect the development. This research method is using descriptive method. The unit of this research is : (1) block, (2) sub-sub district with the population is people in Laweyan Sub-District. The technique for data’s accumulation of this research is : (1) primary data accumulation which direct between : (1) get for Landsat DigitalGlobe Image of Laweyan Sub District from 2006 and 2015 using software, (b) observation, (c) interview with people in Laweyan Sub-District who live in block with land use for settlement which highest, sample from 20-25% using cluster proportional random sampling; (2) secondary data accommodation from institute of government; (3) documentation. Analysis technique did in maps which have intersect with description and using nearest neighborhood analysis and to know about the developing of pattern of settlement, link that two analysis with factors which effect development settlemet in the Sub-District. The result of this research showed that distribution of settlement is affected by three kinds of land use: (1) Cropping, (2) Vacant Land, and (3) Settlement Expansion. Land use change distributed in whole sub-district and made distribution pattern of settlement. Generally, the development pattern which was formed in whole sub-sub-district was forming a group, while there some sub-sub-sub-districts were forming dispersion/distribute or uniform. The factors that affect the development are: (1) Population increase, which in the last decade happened, (2) Accessibility and Transportation, which pattern was formed group, then street density is become higher, so that the availability of transportation become better, (3) Environment factors or attractions that makes people choose to stay are to look for fine place to stay, near the central of education activity, look for the expansion because of land cost is still cheap, near working place, and want to work themselves.
3 1. PENDAHULUAN
Setiap tahun jumlah penduduk yang tinggal di permukaan bumi selalu mengalami peningkatan, disebabkan oleh tujuan makhluk hidup yaitu meneruskan keturunannya. Setiap keturunan baru akan terus membutuhkan tempat tinggal sebagai kebutuhan utama selain makanan dan pakaian. Pesatnya pertumbuhan penduduk di permukaan bumi dapat dilihat dari dua wilayah yaitu desa dan kota. Kota merupakan wilayah dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi. Kota memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan sebagai tempat tinggal karena segala sarana dan prasarana yang menunjang kehidupan ada di kota.
Salah satu kota yang ada di Indonesia khususnya di Jawa Tengah yang menjadi tempat tujuan untuk tinggal adalah Kota Surakarta. Kota ini terkenal dengan budaya dan kesenian Jawa yang masih dilestarikan hingga sekarang. Salah satu budaya yang sudah diresmikan oleh UNESCO sebagai budaya dari Indonesia khususnya Jawa Tengah adalah batik. Sentra batik yang ada di Kota Surakarta berada di Kecamatan Laweyan, dimana terdapat “Kampoeng Batik” yang banyak menjadi tujuan wisatawan ketika berkunjung ke Kota Surakarta.
Kuatnya budaya Jawa khususnya batik yang dapat dijadikan sebagai penghasilan utama para penduduknya menarik minat penduduk lain untuk mencari penghasilan hingga menetap di kecamatan tersebut, sehingga padatnya penduduk yang ada di Kecamatan Laweyan disebabkan salah satunya oleh arus urbanisasi yang dilakukan oleh penduduk diluar kecamatan kemudian bermigrasi di kecamatan tersebut. Tingginya arus urbanisasi menyebabkan tingginya kebutuhan tempat tinggal serta sarana dan prasarana yang menunjang kehidupan, sehingga lahan di Kecamatan Laweyan sebesar luas 863,8 ha atau 8,638 km² kemudian digunakan sebagai permukiman sekitar 559 ha. (Kecamatan Laweyan dalam Angka, 2016)
Penelitian ini dilakukan dengan tujuannya adalah mengetahui persebaran perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan tahun 2006 sampai dengan tahun 2015, mengetahui pola persebaran perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan pada tahun tersebut, dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan. Berdasarkan
4
uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Perkembangan Permikiman Di Kecamatan Laweyan Tahun 2006-2015”.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang (Moh.Nazir, 1988). Penelitian ini menggunakan data primer yaitu (1) Citra Landsat DigitalGlobe Kota Surakarta Skala 1 : 15.000 tahun 2006 dan 2015, (2) kuesioner untuk mendapatkan hasil dari wawancara dengan warga.
Data sekunder yaitu (1) data yang bersumber dari Badan Pusat Statistik Kota Surakarta serta data dari Instansi Pemerintah yang terkait, (2) dokumentasi yang merupakah hasil dari observasi untuk mengecek keadaan di lapangan agar sesuai dengan keadaan yang tergambar pada peta, (3) referensi-referensi terkait studi geografi khususnya studi kewilayahan dari berbagai sumber buku, jurnal dan penelitian sebelumnya.
Unit analisis pada penelitian ini ada dua yaitu (1) berdasarkan blok dimana yang diteliti adalah 11 kelurahan kemudian dilakukan deliniasi sesuai blok menggunakan citra Kecamatan Laweyan sebagai peta dasar dilakukan dengan menggunakan ArcGIS untuk menjawab tujuan pertama dan kedua pada penelitian khususnya pada persebaran perkembangan permukimannya, dan metode Analisis Tetangga Terdekat digunakan untuk mengetahui pola persebaran perkembangan permukimannya, (2) penduduk yang tinggal di kelurahan untuk dasar wawancara guna menjawab tujuan ketiga. Teknik pengambilan sample pada penelitian digunakan dalam melakukan penentuan responden dalam wawancara. Teknik yang digunakan adalah cluster proportional random sampling. Pengambilan sample sebesar 20-25%.
5 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pada penelitian ini dibagi menjadi tiga cangkupan yaitu (1) persebaran perkembangan permukiman berdasarkan peruban penggunaan lahannya dan letaknya, (2) pola persebaran perkembangan permukiman, (3) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman baik dalam faktor fisik maupun faktor non fisik.
3.1 Persebaran Perkembangan Permukiman di Kecamatan Laweyan Tahun 2006-2015
Ada tiga perubahan penggunaan lahan yang besar yang terjadi di Kecamatan Laweyan, yaitu perubahan penggunaan lahan dari Sawah menjadi permukiman, lahan kosong menjadi permukiman dan perluasan permukiman. Selama sepuluh tahun, dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2015 perubahan penggunaan lahan luas setiap sawah, lahan kosong dan permukiman yang belum mengalami perluasan mengalami penurunan, artinya perubahan penggunaan lahan yang dimanfaatkan sebagai permukiman mengalami peningkatan.
Gambar 1 Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Laweyan Tahun 2006-2015
Sumber : Data diolah Oleh Penulis
Perubahan penggunaan lahan menjadi permukiman bila dilihat lebih rinci menjadi sawah-permukiman (+4,8 Ha), lahan kosong- permukiman (+7,4 Ha) dan perluasan permukiman (+35,7 Ha). Hasil dari perhitungan tersebut kemudian
0 20 40 60 80 100 120 sawah lahan kosong perluasan 15.9 8.5 100.1 11.1 1.1 64.4 HA 2006 2015
6
menjadi dasar untuk mengelompokkan persebaran perkembangan permukiman sehingga menjadi dasar dalam pembuatan blok perkembangan permukiman.
Letak persebaran perkembangan permukiman yang terdapat di Kecamatan Laweyan dibagi sesuai dengan deliniasi perubahan penggunaan lahannya, yaitu tiga perubahan penggunaan lahan utama. Hasil dari perhitungan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1
Letak Persebaran Perkembangan Permukiman setiap Keluarahan di Kecamatan Laweyan
No Penggunaan Lahan Kelurahan Luas (Ha) 1 Sawah - Permukiman Karangasem 3,565159
Jajar 1,279064
2 Lahan Kosong - Karangasem 1,202333
Permukiman Jajar 0,888507 Kerten 0,185489 Pajang 2,127836 Laweyan 2,167166 Sondakan 0,190918 Bumi 0,395178 Panularan 0,257954
3 Permukiman - Perluasan Jajar 3,936987
Kerten 2,059284 Pajang 12,62852 Sondakan 2,139499 Laweyan 0,133482 Purwosari 7,023283 Bumi 2,171667 Penumping 2,597085 Sriwedari 2,821879 Panularan 0,224928
7
Gambar 2 Peta Persebaran Perkembangan Permukiman di Kecamatan Laweyan Tahun 2006-2015
Blok persebaran perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan dihitung dan deliniasi berdasarkan hasil sebelumnya. Deliniasi persebaran perkembangan permukiman dibagi menjadi tiga blok yaitu Blok Rendah, Blok Sedang dan Blok Tinggi. Pemberian nama pada blok tersebut didasarkan pada hasil perubahan penggunaan lahan menjadi permukiman dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak.
Blok Rendah merupakan hasil dari perhitungan perubahan penggunaan lahan dari sawah menjadi permukiman, Blok Sedang merupakan hasil dari perhitungan perubahan penggunaan lahan dari lahan kosong menjadi permukiman, dan Blok Tinggi merupakan perluasan permukiman. Hasil perhitungan perubahan penggunaan lahan dari sawah menjadi permukiman paling kecil, disusul lahan kosong menjadi permukiman adalah sedang dan perluasan permukiman adalah
8
yang paling tinggi hasilnya. Klasifikasi blok dan kelurahan yang termasuk di dalamnya telah dijelaskan pada tabel berikut :
Tabel 2
Klasifikasi Blok dan Kelurahannya di Kecamatan Laweyan
Sumber: Hasil Perhitungan SIG diolah Oleh Penulis
No Blok Kelurahan A (km²) 1 Rendah Karangasem 0,859143 Jajar 0,044333 Jajar 0,123576 2 Sedang Karangasem 0,239669 Jajar 0,019146 Jajar 0,008174 Kerten 0,018855 Pajang 0,010949 Pajang 0,015688 Pajang 0,047429 Sondakan 0,045324 Laweyan 0,163791 Bumi 0,009815 Bumi 0,01054 Panularan 0,051378 Panularan 0,002501 3 Tinggi Jajar 0,430499 Kerten 0,310265 Pajang 0,105033 Sondakan 0,237737 Laweyan 0,002673 Laweyan 0,003565 Purwosari 0,609772 Bumi 0,216176 Penumping 0,223195 Sriwedari 0,352161 Panularan 0,091901 Panularan 0,005609
9
Gambar 3 Peta Blok Persebaran Perkembangan Permukiman di Kecamatan Laweyan Tahun 2006-2015
3.2 Pola Persebaran Perkembangan Permukiman di Kecamatan Laweyan Menurut Bintarto dan Surastopo Hadisumarno (1979:74) pola permukiman yang dikatakan seragam (uniform), random, mengelompok (cluster) dan lain sebagainya dapat diberi ukutan yang bersifat kuantitatif. Cara sedemikian ini perbandingan antara pola permukiman dapat dilakukan dengan lebih baik bukan hanya dari segi waktu namun juga dari segi ruang (space). Pendekatan sedemikian ini disebut analisis tetangga terdekat (nearest neightbour analysis).
10 Keterangan:
a. Apabila nilai T = 0-0,7, maka termasuk dalam pola mengelompok, dimana jarak antara lokasi satu dengan lokasi lainnya berdekatan dan cenderung mengelompok pada tempat tertentu.
b. Apabila nilai T = 0,7- 1,4, maka termasuk dalam pola random, dimana jarak antar lokasi satu dengan lokasi lainnya tidak teratur.
c. Apabila niali T = 1,4 - 2,15, maka termasuk dalam pola seragam, dimana jarak antara lokasi satu dengan lokasi lainnya relatif sama.
Pengukuran Analisis Tetangga Terdekat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Menentukan batas wilayah.
2) Mengubah penyebaran permukiman dalam hal ini yang tergambar dalam peta penggunaan lahan menjadi titik penyebaran.
3) Memberikan nomor urut tiap titik untuk mempermudah perhitungan jarak dan menganalisisnya.
4) Mengukur jarak terdekat antara satu titik dengan titik lain yang merupakan tetangga terdekatnya.
5) Menghitung besar parameter tetangga terdekat atau nilai T dengan menggunakan rumus seperti berikut:
Keterangan:
T : indeks persebaran tetangga terdekat
Ju : jarak rata-rata yang diukur antara satu titik dengan titik yang terdekat Jh : jarak rata-rata yang diperoleh jika semua titik mempunyai pola random
dihitung dengan menggunakan rumus : . Keterangan:
P : kepadatan titik dalam tiap kilometer persegi dari jumlah titik yang ada dibagi dengan luas wilayah dalam km².
11
Tabel 3
Pola Persebaran Perkembangan Permukiman di Kecamatan Laweyan
No Blok Desa JU JH T Keterangan
1 Rendah Karangasem 0,064571428 0,10113305 0,638479982 Mengelompok
Jajar 0 0,074442091 0 Mengelompok
Jajar 0,10275 0,087883445 1,169162178 Menyebar
2 Sedang Karangasem 0,218 0,1413238 0,90572147 Menyebar
Jajar 0,0625 0,048920854 1,277573773 Menyebar Jajar 0 0,045205088 0 Mengelompok Kerten 0 0,068656754 0 Mengelompok Pajang 0,0675 0,067543196 0,999360468 Menyebar Pajang 0 0,062625873 0 Mengelompok Pajang 0 0,076997564 0 Mengelompok Sondakan 0 0,075269515 0 Mengelompok Laweyan 0,0465 0,071543474 0,649954459 Mengelompok Bumi 0 0,04953534 0 Mengelompok Bumi 0,2545 0,051332251 0 Mengelompok Panularan 0,0375 0,065433172 0,191034602 Mengelompok Panularan 0 0,025004999 0 Mengelompok
3 Tinggi Jajar 0,045 0,094703374 0,475167864 Mengelompok
Kerten 1,1535 0,11370008 1,690851935 Seragam Pajang 0,097279411 0,087880684 1,106948724 Menyebar Sondakan 0,052166666 0,081263802 0,641942226 Mengelompok Laweyan 0 0,025850531 0 Mengelompok Laweyan 0 0,0295381 0 Mengelompok Purwosari 0,068210526 0,089572963 0,761507978 Menyebar Bumi 0,1588125 0,082191848 1,932217171 Seragam Penumping 0,0369375 0,083515529 0,442283015 Mengelompok Sriwedari 0,0501 0,093829766 0,533945699 Mengelompok Panularan 0,0618 0,067786798 0,911681947 Menyebar Panularan 0 0,037446628 0 Mengelompok
Sumber : Hasil Perhitungan SIG diolah oleh Penulis
Hasil dari perhitungan pada tabel di atas adalah sebagain besar pola yang terjadi di pada Kecamatan Laweyan adalah mengelompok. Ada beberapa kelurahan yang mengalami pola persebaran perkembangan permukiman menyebar dan seragam pada bloknya seperti pada Kelurahan Jajar pada Blok Rendah, Kelurahan Karangasem, Kelurahan Kerten dan Kelurahan Jajar pada Blok Sedang,
12
Kelurahan Kerten, Kelurahan Pajang, Kelurahan Purwosari, Kelurahan Bumi dan Kelurahan Panularan pada Blok Tinggi.
Gambar 4 Peta Pola Persebaran Perkembangan Permukiman di Kecamatan Laweyan Tahun 2006-2015
3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Permukiman di Kecamatan Laweyan
Permukiman sebagai hunian atau tempat tinggal dan pembangunan sarana dan prasarana yang ada di dalamnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, semuanya dibangun di atas permukaan bumi atau disebut dengan lahan. Pembangunan sebuah permukiman kemudian tidak semerta-merta dapat dilakukan pada setiap wilayah yang ada di permukaan bumi. Ada banyak faktor yang menyebabkan mudah atau tidaknya, sesuai atau tidak sesuainya permukiman dibangun di wilayah tersebut, salah satunya adalah faktor kemiringan lereng. Kemiringan lereng digambarkan dengan derajat atau persen dari tingkat terjalnya lereng
13
tersebut, sehingga semakin terjal maka akan semakin sulit untuk dibangun permukiman. Ada enam kelas kemiringan lereng yaitu datar, landai, agak miring, miring, terjal dan sangat terjal (Zuidam, 1978).
Kemiringan lereng yang terjadi di Kecamatan Laweyan terdiri atas dua kelas yaitu landai dan agak miring. Pada kemiringan tersebut memiliki pola perkembangan permukiman yang sebagian besar adalah mengelompo, artinya pola tersebut dapat terjadi pada daerah yang kemiringan lerengnya landai dan agak miring. Hal ini disebabkan karena pada kemiringan tersebut mudah untuk dilakukan pembangunan.
Berdasarkan kelas kemiringan lereng dapat dilakukan pengkelasan pada setiap kelurahannya serta dapat dilihat berdasarkan pola perkembangan permukimannya, sehingga menghasilkan tabel sebagai berikut :
Tabel 4
Kemiringan Lereng dan Pola Perkembangan Permukiman pada Tiap Kelurahan di Kecamatan Laweyan
No Kelurahan Kemiringan Lereng (°)
Kelas Kemiringan Lereng Keterangan Pola Perkembangan Permukiman
1 Pajang 0-40 4 Agak miring Menyebar dan
Mengelompok
2 Laweyan 0-40 4 Agak miring Mengelompok
3 Bumi 0-40 4 Agak miring Mengelompok
dan Seragam
4 Panularan 0-40 4 Agak miring Menyebar dan
Mengelompok
5 Sriwedari 0-20 5 Landai Mengelompok
6 Penumping 0-20 5 Landai Mengelompok
7 Purwosari 0-20 5 Landai Menyebar
8 Sondakan 0-40 4 Agak miring Mengelompok
9 Kerten 0-20 5 Landai Seragam
10 Jajar 0-20 5 Landai Mengelompok
11 Karangasem 0-20 5 Landai Menyebar dan
Mengelompok Sumber : Data Kecamatan Laweyan dalam Angka 2016 dan Hasil Analisis 2017
Selain faktor fisik, faktor lain yang mempengaruhi perkembangan permukiman adalah faktor non fisik pertama yaitu pertumbuhan penduduk yang terjadi di Kecamatan Laweyan selama sepuluh tahun dari tahun 2006-2015 mengalami peningkatan. Pada penelitian ini perhitungan dilakukan dari tahun
14
2007 dikarenakan ketidaktersediaan data pada tahun 2006 dari pemerintah. Secara umum pertumbuhan penduduk mengalami meningkat, namun melihat kondisi dari setiap kelurahannya, ada yang mengalami peningkatan dan ada yang mengalami penurunan.
Penurunan jumlah penduduk inilah yang kemudian membuat pertumbuhan penduduk di kelurahan tersebut rendah. Sebaliknya, kenaikan jumlah penduduk akan menyebabkan pertumbuhan penduduk menjadi sedang dan tinggi. Pertumbuhan penduduk dipengaruhi luas wilayahnya, apabila luas wilayahnya tinggi, maka pertumbuhan penduduknya juga demikian. Namun hal tersebut tidak sesuai dengan beberapa kelurahan seperti Kelurahan Karangasem yang pertumbuhan penduduknya rendah, sedangkan luas wilayahnya besar.
Tabel 5
Pertumbuhan Penduduk, Luas Wilayah dan Pola Perkembangan Permukiman Tiap Kelurahan di Kecamatan Laweyan
No Kelurahan Jumlah Penduduk
Pertumbuhan Penduduk Luas Wilayah Pola Perkembangan Permukiman 2007 2015 % Ket km² Ket
1 Pajang 23.967 9.930 27,5 Tinggi 1,553 Tinggi Menyebar dan
Mengelompok
2 Laweyan 2.552 5.625 6 Rendah 0,248 Rendah Mengelompok
3 Bumi 7.002 4.245 5,41 Rendah 0,373 Rendah Mengelompok
dan Seragam
4 Panularan 9.694 25.209 30,5 Tinggi 0,544 Rendah Menyebar dan
Mengelompok
5 Sriwedari 4.760 2.652 4,13 Rendah 0,513 Rendah Mengelompok
6 Penumping 5.546 7.482 3,8 Rendah 0,503 Rendah Mengelompok
7 Purwosari 13.044 12.960 0,16 Rendah 0,843 Sedang Menyebar
8 Sondakan 11.952 13.261 2,56 Rendah 0,785 Sedang Mengelompok
9 Kerten 1.150 9.389 16,2 Sedang 0,921 Sedang Seragam
10 Jajar 9.642 8.600 2,04 Rendah 1,055 Sedang Mengelompok
11 Karangasem 9.438 10.285 1.7 Rendah 1,300 Tinggi Menyebar dan Mengelompok
Jumlah 109.447 109.638 100 8,638
Sumber: Data Kecamatan Laweyan dalam Angka 2016 dan Hasil Analisis 2017
Kedua yaitu aksesibilitas dan transportasi. Tingkat aksesibilitas dipengaruhi oleh panjang jalan dengan luas suatu wilayah. Pada perhitungan aksesibilitas, panjang jalan dihitung dan disesuaikan dengan deliniasi blok masing-masing agar hasil perhitungan sesuai dengan pola perkembangan permukiman yang terjadi di
15
dalamnya. Panjang jalan pada setiap deliniasi blok akan selaras dengan luasnya wilayah blok tersebut, namun ada pula yang keadaannya berbalikan. Keadaan tersebut kemudian dikaitkan dengan tingkat aksesibilitas dan pola permukimannya, sehingga hasil yang didapat kemudian ada yang sebanding namun tidak sedikit yang berkebalikan dengan keadaan yang seharusnya.
Semakin padat aksesibilitas atau kepadatan jalannya, maka suatu wilayah akan diasumsikan permukimannya akan semakin mengelompok, sedangkan semakin rendah aksesibilitas maka permukimannya akan semakin menyebar. Secara garis besar tingkat aksesibilitas di Kecamatan Laweyan adalah sedang hingga tinggi, artinya keadaan aksesibilitas di Kecamatan Laweyan cukup padat hingga padat. Keadaan tersebut kemudian berbanding lurus dengan pola perkembangan permukiman yang secara umum adalah mengelompok.
Ada beberapa kelurahan yang tingkat aksesibilitasnya tidak demikian. Kelurahan Karangasem pada Blok Rendah memiliki tingkat aksesibilitas yang rendah, namun pada keadaan pola perkembangan permukimannya justru mengelompok. Keadaan tersebut juga didapati pada Kelurahan Jajar pada Blok Rendah dan Blok Sedang, Kelurahan Bumi pada Blok Sedang, Kelurahan Laweyan pada Blok Tinggi dan Kelurahan Sriwedari pada Blok Tinggi.
Apabila sarana transportasi dan kondisi jalan baik maka akan mempengaruhi perkembangan wilayah tersebut, karena transportasi merupakan bagian dari penunjang kehidupan. Tingkat aksesibilitas dan pola perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan dapat dilihat pada tabel berikut :
16 Tabel 6
Tingkat Aksesibilitas dan Pola Perkembangan Permukiman di Kecamatan Laweyan No Blok Kelurahan L (km) A (km²) Tingkat Aksesibilitas Keterangan Pola Perkembangan Permukiman 1 Rendah Karangasem 5,413 0,859143 6,30 Rendah Mengelompok Jajar 0,293 0,044333 6,61 Rendah Mengelompok Jajar 0,959 0,123576 7,76 Rendah Menyebar 2 Sedang Karangasem 2,088 0,239669 8,71 Rendah Menyebar Jajar 0,386 0,019146 20,18 Tinggi Menyebar Jajar 0,067 0,008174 8,19 Rendah Mengelompok Kerten 0,2428 0,018855 12,87 Sedang Mengelompok Pajang 1,9205 0,010949 17,54 Sedang Menyebar Pajang 0,135 0,015688 8,64 Sedang Mengelompok Pajang 0,843 0,047429 17,77 Sedang Mengelompok Sondakan 0,754 0,045324 16,63 Sedang Mengelompok Laweyan 1,81 0,163791 11,05 Sedang Mengelompok Bumi 0,135 0,009815 13,75 Sedang Mengelompok Bumi 0 0,01054 0 Rendah Mengelompok Panularan 0,616 0,051378 11,98 Sedang Mengelompok Panularan 0,076 0,002501 30,38 Tinggi Mengelompok 3 Tinggi Jajar 5,513 0,430499 12,80 Sedang Mengelompok
Kerten 5,131 0,310265 16,53 Sedang Seragam Pajang 16.119 0,105033 15,34 Sedang Menyebar Sondakan 2,848 0,237737 11,97 Sedang Mengelompok Laweyan 0 0,002673 0 Rendah Mengelompok Laweyan 0 0,003565 0 Rendah Mengelompok Purwosari 8,009 0,609772 13,13 Sedang Menyebar Bumi 2,161 0,216176 17,76 Sedang Seragam Penumping 3,156 0,223195 14,14 Sedang Mengelompok Sriwedari 3,013 0,352161 8,55 Rendah Mengelompok Panularan 1,446 0,091901 15,73 Sedang Menyebar Panularan 0,163 0,005609 29,07 Tinggi Mengelompok
Sumber : Hasil Perhitungan SIG diolah oleh Penulis
Ketiga adalah faktor lingkungan. Penelitian Yunus (1987) tentang Studi Pemekaran Kota Daerah Kotamadya Yogyakarta tahun 1981 bahwa pada daerah pemekaran terdapat sembilan belas faktor lingkungan yang merupakan faktor penarik (interesting factors) da nada Sembilan faktor utamanya yaitu : (1) mencari
17
tempat yang lebih luas karena harga tanah yang masih murah. (2) sebelumnya sudah mempunyai tanah dan rumah tetapi mencari lagi daerah pemekaran, (3) mendekati tempat kerja, (4) ingin berdiri sendiri, (5) mencari tempat tinggal yang menyenangkan, (6) mendekati pusat kegiatan pendidikan, (7) mencari tempat yang lebih bebas dari polusi udara, (8) mendapat bagian tanah dari tempat kerja, (9) mecari tempat yang lebih bebas dari polusi suasana sosial.
Sembilan faktor utama tersebut kemudian menjadi acuan dalam pembuatan kuesioner guna wawancara untuk menjawab tujuan penelitian yang ketiga dengan unit analisisnya adalah penduduk. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan cluster proportional random sampling dimana ada tiga wilayah yang diambil yaitu Kelurahan Karangasem, Kelurahan Pajang dan Kelurahan Laweyan. Pengambilan sampel dilakukan di tiga kelurahan ini karena kelurahan-kelurahan tersebut terdiri dari deliniasi blok dengan luas yang paling besar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 40 persen penduduk yang tinggal di Kecamatan Laweyan merasa senang dan memutuskan untuk menetap dalam jangka panjang, baik penduduk yang sudah tinggal di kecamatan tersebut maupun penduduk yang sebelumnya sudah pernah tinggal di kecamatan atau kabupaten lain namun memilih untuk mencari tempat yang lebih menyenangkan dan mereka menemukannya di Kota Surakarta khususnya Kecamatan Laweyan. Faktor lingkungan lain yang mempengaruhi perkembangan penduduk adalah mendekati pusat kegiatan pendidikan, mencari tempat yang lebih luas karena harga tanah yang masih murah, mendekati tempat bekerja dan ingin berdiri sendiri.
Hasil dari penelitian berupa persentase dari pengisian kuesioner yang dilakukan oleh penduduk adalah sebagai berikut:
18 Tabel 7
Data Responden berdasarkan Faktor Lingkungan atau Faktor Penarik Perkembangan Permukiman di Kecamatan Laweyan
No Faktor lingkungan Jumlah Frek (%)
1 2 3 4 5
Mencari tempat tinggal yang menyenangkan Mendekati pusat kegiatan pendidikan
Mencari tempat yang lebih luas karena harga tanah yang masih murah
Mendekati tempat bekerja Ingin berdiri sendiri
14 9 6 3 3 40 25 17 9 9 Jumlah 35 100
Sumber: Data Sekunder
4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan
Jumlah perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan dari tahun 2006 sampai dengan 2015 mengalami peningkatan. Perkembangan permukiman yang ada di Kecamatan Laweyan kemudian didasarkan pada tiga perubahan penggunaan lahan yang terjadi pada seluruh kelurahannya dan tersebar sehingga memiliki perubahan penggunaan lahan yang berbeda-beda yaitu perubahan penggunaan lahan dari sawah menjadi permukiman, lahan kosong menjadi permukiman dan perluasan. Pada setiap kelurahan ada beberapa kelurahan yang memiliki perubahan penggunaan lahan lebih dari satu macam seperti pada kelurahan yang terjadi perubahan penggunaan lahan dari sawah menjadi permukiman dan lahan kosong menjadi permukiman adalah Kelurahan Karangasem dan Kelurahan Jajar, kelurahan yang mengalami perubahan penggunaan lahan kosong menjadi permukiman dan perluasan adalah Kelurahan Jajar, Kelurahan Kerten, Kelurahan Pajang, Kelurahan Laweyan, Kelurahan Bumi dan Kelurahan Panularan.
Pola persebaran perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan kemudian disesuaikan dengan deliniasi blok sesuai dengan perubahan penggunaan lahannya menunjukkan bahwa sebagian besar pola yang terbentuk adalah
19
mengelompok. Namun ada beberapa kelurahan yang memiliki pola menyebar dan seragam yaitu Kelurahan Jajar, Kelurahan Pajang, Kelurahan Kerten, Kelurahan Purwosari, Kelurahan Bumi dan Kelurahan Panularan.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan dilihat dari dua faktor yaitu faktor fisik dan non fisik. Faktor fisik adalah kemiringan lereng dimana sebagian besar Kecamatan Laweyan memiliki kemiringan lereng yang landai dan agak miring. Faktor non fisiknya adalah pertumbuhan penduduk dimana luas wilayah yang tinggi akan memiliki pertumbuhan penduduk yang tinggi pula, namun ada kelurahan yang mengalami keadaan sebaliknya seperti pada Kelurahan Panularan yang memiliki luas wilayah yang rendah namun pertumbuhan penduduknya yang tinggi sedangkan Kelurahan Karangasem memiliki luas wilayah tinggi namun pertumbuhan penduduknya rendah. Faktor fisik lainnya adalah aksesibilitas dan transportasi, semakin padat aksesibiltasnya maka permukiman akan mengelompok, namun hal tersebut berbanding terbalik yang memiliki pola mengelompok pada aksesibiltas rendah pada Kelurahan Jajar, Kelurahan Bumi, Kelurahan Laweyan dan Kelurahan Sriwedari. Faktor non fisik terakhir adalah faktor lingkungan atau penarik dimana sebagian besar penduduk Kecamatan Laweyan memilih untuk tinggal dalam jangka waktu yang lama karena Kecamatan Laweyan merupakan kecamatan dengan wilayah yang menyenangkan. Ada faktor lainnya seperti Mendekati pusat kegiatan pendidikan, Mencari tempat yang lebih luas karena harga tanah yang masih murah, Mendekati tempat bekerja dan Ingin berdiri sendiri.
4.2Saran
Kondisi perkembangan permukiman di Kecamatan Laweyan yang selama sepuluh tahun mengalami peningkatan harus menjadi pertimbangan serius karena keadaan tersebut kemudian harus disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang sudah disusun oleh pemerintah Kota Surakarta sehingga keadaan yang ada dilapangan sesuai dengan yang direncanakan. Pemerintah harus fokus pada rencana pembangunan permukiman secara vertical karena semakin
20
sempitnya lahan namun tidak mengesampingkan pembangunan pelayanan yang sudah dibagi secara sub kota sesuai dengan RP3KP Kota Surakarta.
Publikasi data yang dilakukan oleh pemerintah untuk menunjukkan seluruh aspek yang berkaitan dengan pembangunan haruslah sesuai dengan keadaan dilapangan. Data publikasi yang tidak sesuai kemudian akan mempersulit dalam penelitian karena data tersebut akan digunakan sebagai data acuan maupun data utama sebagai data sekunder yang kemudian diolah dan disesuaikan dengan keadaan dilapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2006) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: Rineka Cipta.
Alfandi, Widodo. (2001) Epistemologi Geografi.Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press.
Banowati, Eva. (2006) Geografi Permukiman. Semarang : Universitas Negeri Semarang.
Bintarto dan Surastopo Hadisumarno. (1979) Metode Analisis Geografi. Jakarta : LP3ES.
BPS Surakarta. (2015) Kecamatan Laweyan Dalam Angka. Kota Surakarta : BPS. Catanese, Anthony J & Snider, James C. (1998) Perencanaan Kota. Jakarta :
Erlangga.
Daldjoeni. (1997) Pengantar Geografi. Bandung : Alumni.
Firdianti, Sri. (2010) Perkembangan Permukiman Penduduk di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali Tahun 1997-2007. Skripsi.Surakarta : FKIP Universitas Sebelas Maret.
Indaryono. (2015) Analisis Perkembangan Daerah Permukiman Di Kecamatan Balik Bukit Tahun 2005-2014. Skripsi. Lampung : FKIP Universitas Lampung.
Khakim, M.L. (2008) Pola Persebaran Permukiman di Kecamatan Kendal Kabupaten Kendal. Skripsi. Surakarta : Geografi Universitas Muhammadiyah.
Laporan Akhir Penyusunan Rencana Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan (RKP-KP) Kota Surakarta. (2015)
21
Saladi, Sumanto. (1984) Pengantar Kependudukan.Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press.
Sensus Penduduk. 1980. KBBI. Pengertian Analisis
KBBI. Permukiman Horisontal dan Vertikal
Koestoer, dkk. (2001) Dimensi Keruangan Kota.Jakarta : Universitas Indonesia Press
Mahardi. (2014) Pengantar Geografi Regional.Yogyakarta : Ombak. Mantra, Ida Bagoes. (2003) Demografi Umum. Yogyakarta :Pelajar. Nazir., Moh. (1983) Metode Penelitian. Jakarta :Ghalia Indonesia.
Ritohardoyo, Su. (1989) Beberapa Dasar Klasifikasi dan Pola Permukiman. Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM.
Sumaatmadja, Nursid. (1988) Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan. Bandung : Alumni.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan
(2007).
Yudohusodo, Siswono, dkk. (1991) Rumah untuk Seluruh Rakyat. Jakarta :INKOPPOL.
Yunus, Hadi Sabari. (1987) Subject Matter dan Metode Penelitian Geografi Permukiman Kota. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada
Yunus, Hadi Sabari. (1999) Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Yunus, Hadi Sabari. (2005) Struktur Spasial Perkotaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Yunus, Hadi Sabari. (2010) Metode Penelitian Wilayah Kontemporer. Yogyakarta : Pustaka Pelajar