• Tidak ada hasil yang ditemukan

PPh Badan Brevet AB 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PPh Badan Brevet AB 2015"

Copied!
200
0
0

Teks penuh

(1)

PPh Badan

Anang Mury Kurniawan

[email protected]

+6289604575476

(2)

Subjek Pajak

7_6”

a.

1.

orang pribadi;

2.

warisan yang belum terbagi

sebagai satu kesatuan,

menggantikan yang berhak

b.

Badan

(3)

Pengertian Badan

• Badan adalah

– sekumpulan orang dan/atau modal

– yang merupakan kesatuan

– baik yang melakukan usaha maupun yang tidak

melakukan usaha

– yang meliputi

• perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan

lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik

daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma,

kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan,

yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau

organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya

termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

(4)

Bukan Subjek Pajak Badan

Unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:

1. pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan

perundang-undangan;

2. pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan

Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah;

3. penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah

Pusat atau Pemerintah Daerah; dan

4. pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional

negara; dan

(5)

Termasuk Subjek Badan

• Badan usaha milik negara

dan badan usaha milik

daerah merupakan subjek pajak tanpa

memperhatikan nama dan bentuknya sehingga

setiap unit tertentu dari badan Pemerintah,

– misalnya lembaga, badan, dan sebagainya yang dimiliki

oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang

menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk

memperoleh penghasilan merupakan subjek pajak.

(6)

Subjek Pajak Badan Dalam Negeri dan

Luar Negeri

• Badan Dalam Negeri

– badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia

• Badan Luar Negeri

– badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di

Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia

– badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di

Indonesia, yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

(7)

Didirikan di Indonesia

• pendirian atau

pembentukannya:

– berdasarkan ketentuan

perundang-undangan di

Indonesia

– didaftarkan di Indonesia

berdasarkan ketentuan

perundang-undangan di

Indonesia

– di dalam wilayah hukum

Indonesia.

:98

• tempat kedudukan sesuai

akta pendirian

• kantor pusat

• pusat administrasi dan/atau

pusat keuangan

• tempat kantor pimpinan yang

melakukan pengendalian

• pengurusnya melakukan

pertemuan untuk membuat

keputusan strategis

• pengurusnya bertempat

tinggal atau berdomisili

Bertempat Kedudukan di

Indonesia

(8)

Perbedaan Subjek Pajak dalam negeri

dan luar negeri

• Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh dari Indonesia maupun dari luar Indonesia,

sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia.

• Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif umum, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak sepadan; dan

• Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak, sedangkan Wajib Pajak luar negeri tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak

Penghasilan karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.

(9)

Bentuk Usaha Tetap

• Bentuk usaha tetap adalah

– bentuk usaha

– yang dipergunakan oleh

• orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan

• badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia

– untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di

Indonesia

(10)

BUT dapat berupa…. (1)

 tempat kedudukan manajemen;

 cabang perusahaan;

 kantor perwakilan;

 gedung kantor;

 pabrik;

 bengkel;

 gudang;

 ruang untuk promosi dan penjualan;

 pertambangan dan penggalian sumber alam;

 wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;

 perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau

(11)

BUT dapat berupa… (2)

 proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;

 pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh

orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh)

hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;

 orang atau badan yang bertindak selaku agen yang

kedudukannya tidak bebas;

 agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak

didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang

menerima premi asuransi atau menanggung resiko di

Indonesia; dan

 komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang

dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi

elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui

(12)

Perlakuan Perpajakan BUT

• Bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak

yang perlakuan perpajakannya

dipersamakan

dengan subjek pajak badan

(13)

Tidak termasuk subjek pajak

(1) Yang tidak termasuk subjek pajak adalah : a. kantor perwakilan negara asing;

b. pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;

c. organisasi-organisasi internasional dengan syarat : 1. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; dan

2. tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota;

d. pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud pada huruf c, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.

(2) Organisasi internasional yang tidak termasuk subjek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

(14)

Dari Segi Cara Pengenaan Pajak Atas

Penghasilan

• Penghasilan Objek Pajak

o Penghasilan

Objek PPh Final

(Pasal 4 ayat

(2))

o Penghasilan

Objek PPh Tidak Final

(Objek

PPh Badan)

• Penghasilan

Bukan Objek Pajak

(Pasal 4

(15)

skema

TOTAL SELURUH PENGHASILAN …….

A

dikurangi Penghasilan yang merupakan Objek Pajak yang dipotong PPh Final (Pasal

4 ayat (2))………

(B)

dikurangi Penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak (Pasal 4 ayat (3))……….

(C)

=

Penghasilan yang merupakan Objek Pajak PPh tidak bersifat Final (Pasal

(16)

Objek Pajak

Ps. 4 ayat (1)

• Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan

• Penghasilan yaitu

– setiap tambahan kemampuan ekonomis

– yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak,

– baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar

Indonesia,

– yang dapat dipakai untuk

• konsumsi atau

• untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,

(17)

Bentuk Penghasilan

• Dalam bentuk uang (Benefit in Cash)

• Dalam bentuk barang (natura) / kenikmatan

(18)

Pengelompokan Penghasilan

• Penghasilan dari pekerjaan dalam

hubungan kerja

dan

pekerjaan bebas

,

– seperti ; gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter,

notaris, aktuaris, pengacara, dsb.

• Penghasilan dari

usaha

dan kegiatan.

• Penghasilan dari

modal

yang berupa harta gerak

ataupun harta tak gerak

– seperti ; bunga, dividen, royalty, sewa, keuntungan

penjualan harta atau hak yang dipergunakan untuk usaha,

dsb.

• Penghasilan

lain-lain

,

(19)

Objek Pajak

Termasuk penghasilan (1)

• Penggantian atau imbalan berkenaan dengan

pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh

termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi,

bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam

bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam

Undang-undang ini;

• hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan

penghargaan;

(20)

Objek Pajak

Termasuk penghasilan (2)

• keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk :

– keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;

– keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya;

– keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apa pun;

– keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan; dan

– keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam perusahaan pertambangan;

(21)

Objek Pajak

Termasuk penghasilan (3)

• penerimaan kembali pembayaran pajak yang

telah dibebankan sebagai biaya dan

pembayaran tambahan pengembalian pajak;

– Contoh: Pajak Bumi dan Bangunan yang sudah

dibayar dan dibebankan sebagai biaya, yang

karena sesuatu sebab dikembalikan, maka jumlah

sebesar pengembalian tersebut merupakan

(22)

Objek Pajak

Termasuk penghasilan (3)

• bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan

karena jaminan pengembalian utang;

– Premium terjadi apabila misalnya surat obligasi dijual di

atas nilai nominalnya

– sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli di

bawah nilai nominalnya.

– Premium tersebut merupakan penghasilan bagi yang

menerbitkan obligasi

– dan diskonto merupakan penghasilan bagi yang membeli

obligasi

• dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun,

termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada

pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha

koperasi;

(23)

Objek Pajak

Termasuk penghasilan (4)

• Termasuk Deviden

– pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama dan dalam bentuk apapun;

– pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor; – pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk saham

bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham; – pembagian laba dalam bentuk saham;

– pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran;

– jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang bersangkutan;

– pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetorkan, jika dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika

pembayaran kembali itu adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan secara sah;

– pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut;

– bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi; – bagian laba yang diterima oleh pemegang polis;

– pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi;

– pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan.,

(24)

Objek Pajak

Termasuk penghasilan (5)

• royalti atau imbalan atas penggunaan hak;

– Royalti adalah suatu jumlah yang dibayarkan atau terutang dengan cara atau

perhitungan apa pun, baik dilakukan secara berkala maupun tidak, sebagai imbalan atas

1. penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan, kesenian atau karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia, merek dagang, atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya;

2. penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial, komersial, atau ilmiah;

3. pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah, teknikal, industrial, atau komersial; 4. pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan atau hak

menggunakan hak-hak tersebut pada angka 1, penggunaan atau hak menggunakan peralatan/ perlengkapan tersebut pada angka 2, atau pemberian pengetahuan atau informasi tersebut pada angka 3, berupa :

– penerimaan atau hak menerima rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya, yang disalurkan kepada masyarakat melalui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa;

– penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya, untuk siaran televisi atau radio yang disiarkan/dipancarkan melalui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa;

– penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spektrum radio komunikasi;

– penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup (motion picture films), film atau pita video untuk siaran televisi, atau pita suara untuk siaran radio; dan

5. pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya sebagaimana tersebut di atas.

(25)

Objek Pajak

Termasuk penghasilan (6)

• sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan

harta;

• penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;

• keuntungan karena pembebasan utang, kecuali

sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan

dengan Peraturan Pemerintah

– PP NOMOR 130 TAHUN 2000; utang usaha yang jumlahnya tidak lebih dari Rp 350.000.000, Kukesra, KUT, KPRSS, KUK

• keuntungan selisih kurs mata uang asing;

(26)

Objek Pajak

Termasuk penghasilan (7)

• premi asuransi;

• iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari

anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang

menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;

• tambahan kekayaan neto yang berasal dari

penghasilan yang belum dikenakan pajak.

• penghasilan dari usaha berbasis syariah;

• imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam

Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan

umum dan tata cara perpajakan; dan

(27)

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)

– bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang

dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh

penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah; (PP No 18 Tahun 2009) dan

– harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis

keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil (kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000, hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000), yang ketentuannya diatur

dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan,(KEPMENKEU NO. 604/KMK.04/1994, PER MENKEU NO. 245/PMK.03/2008)

• sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan;

(28)

Hubungan antara Wajib Pajak pemberi dan Wajib

Pajak penerima bantuan atau, sumbangan atau zakat

• Hubungan di antara pihak-pihak yang bersangkutan

(Wajib Pajak pemberi dan Wajib Pajak penerima bantuan atau, sumbangan, termasuk zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, dan atau harta hibahan)

dapat terjadi karena

ketergantungan atau keterikatan satu dengan yang lain secara

langsung atau tidak langsung berkenaan dengan:

a. Usaha  dapat terjadi apabila terdapat transaksi yang

bersifat rutin antara kedua belah pihak

b. Pekerjaan  terjadi apabila terdapat hubungan yang

berupa pekerjaan, pemberian jasa, atau pelaksanaan

kegiatan secara langsung atau tidak langsung antara kedua

pihak tersebut

c.

kepemilikan atau penguasaan  terjadi apabila terdapat:

a. penyertaan modal secara langsung atau tidak

langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat

(4) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan; atau

b. hubungan penguasaan secara langsung atau tidak

langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat

(4) huruf b Undang-Undang Pajak Penghasilan.

(29)

Contoh hubungan berkenaan dengan pekerjaan

• Tn. Bambang merupakan direktur PT ABC dan Tn.

Cahyono merupakan pegawai PT ABC. Dalam hal ini,

antara PT ABC dengan Tn. Bambang dan/atau Tn.

Cahyono terdapat hubungan pekerjaan langsung.

• Jika Tn. Bambang dan/atau Tn. Cahyono menerima

bantuan sumbangan dari PT ABC atau sebaliknya,

maka bantuan sumbangan tersebut

merupakan

objek Pajak Penghasilan bagi yang menerima

karena

antara PT ABC dengan Tn. Bambang dan/atau Tn.

(30)

Contoh hubungan berkenaan dengan pekerjaan

• Tn Amir bekerja sebagai petugas dinas luar asuransi

dari perusahaan asuransi PT ABC. Meskipun Tn Amir

tidak berstatus sebagai pegawai PT ABC, namun antara

PT ABC dan Tn Amir dianggap mempunyai hubungan

pekerjaan tidak langsung.

• Jika Tn Amir menerima bantuan atau sumbangan dari

PT ABC atau sebaliknya, maka bantuan atau

sumbangan tersebut

merupakan objek Pajak

Penghasilan bagi pihak yang menerima

karena antara

PT ABC dan Tn Amir mempunyai hubungan pekerjaan

tidak langsung.

(31)

Penguasaan manajemen secara langsung

• Tuan Amir dan Tuan Bambang, adalah direktur PT PRIMA TAMA, sedangkan Tuan Cahyono adalah komisaris PT PRIMA TAMA.

• Selain itu, Tuan Cahyono juga menjadi direktur di PT AMAN SENTOSA, dan Tuan Bambang sebagai komisaris di PT AMAN SENTOSA.

• Tuan Bambang Junior adalah direktur PT SUMBER REJEKI, sedangkan Tuan Edi sebagai komisaris PT SUMBER REJEKI.

• Tuan Bambang Junior adalah anak dari Tuan Bambang yang menjadi direktur PT PRIMA TAMA dan komisaris PT AMAN SENTOSA.

(32)

BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK

TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN (PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)

• Harta hibah, bantuan, atau sumbangan yang diterima

oleh :

a. keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu

derajat;

b. badan keagamaan;

c. badan pendidikan;

d. badan sosial termasuk yayasan dan koperasi; atau

e. orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil

(kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000, hasil

penjualan tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000)

(33)

BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK

TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN (PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)

• Keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat

adalah orang tua dan anak kandung.

• Badan keagamaan adalah badan keagamaan yang kegiatannya

semata-mata mengurus tempat-tempat ibadah dan/atau

menyelenggarakan kegiatan di bidang keagamaan, yang tidak

mencari keuntungan.

• Badan pendidikan adalah badan pendidikan yang kegiatannya

semata-mata menyelenggarakan pendidikan yang tidak

(34)

BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK

TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN (PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)

• Badan sosial termasuk yayasan dan koperasi adalah badan

sosial yang kegiatannya semata-mata menyelenggarakan :

– pemeliharaan kesehatan;

– pemeliharaan orang lanjut usia (panti jompo);

– Pemeliharaan anak yatim-piatu, anak atau orang terlantar, dan anak atau orang cacat;

– santunan dan/atau pertolongan kepada korban bencana alam, kecelakaan, dan sejenisnya;

– pemberian beasiswa;

– pelestarian lingkungan hidup; dan/atau – kegiatan sosial lainnya.

(35)

BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK

TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN (PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)

• Orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan

usaha kecil adalah orang pribadi yang menjalankan

usaha mikro dan usaha kecil yang memiliki dan

menjalankan usaha produktif yang memenuhi

kriteria sebagai berikut :

– memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000

tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;atau

– memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp

(36)

BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK

TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN (PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)

• Ketentuan pengecualian harta hibah, bantuan, atau

sumbangan dari objek Pajak Penghasilan berlaku

apabila pihak pemberi hibah, bantuan, atau

sumbangan tidak mempunyai hubungan usaha,

pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan dengan

penerima hibah, bantuan, atau sumbangan.

• Harta hibah, bantuan, atau sumbangan dibukukan

oleh pihak penerima sesuai dengan nilai buku harta

hibah, bantuan, atau sumbangan dari pihak pemberi.

(37)

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)

• warisan

;

• harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b UU PPh

sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti

penyertaan

moda

l;

• penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa

yang diterima atau diperoleh dalam bentuk

natura dan/atau

kenikmatan

dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang

diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak

secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma

penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 15 UU PPh;

• pembayaran dari perusahaan asuransi

kepada orang pribadi

sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan,

asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;

(38)

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)

• dividen

atau bagian laba yang diterima atau diperoleh

perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri,

koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik

daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang

didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan

syarat :

– dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan

– bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor;

(39)

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)

• iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun

yang

pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan, baik yang

dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;

• penghasila

n dari modal yang ditanamkan oleh

dana pensiun,

dalam bidang-bidang tertentu

yang ditetapkan dengan

Keputusan Menteri Keuangan;

• bagian laba

yang diterima atau diperoleh anggota dari

perseroan

komanditer

yang modalnya tidak terbagi atas

saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi,

termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi

(40)

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)

• penghasilan yang diterima atau diperoleh

perusahaan

modal ventura

berupa bagian laba dari

badan pasangan usaha yang didirikan dan

menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia,

dengan syarat badan pasangan usaha tersebut :

– merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang

menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang

diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri

Keuangan; dan

(41)

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)

• beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;  Peraturan

Menteri Keuangan Nomor 246/PMK.03/2008 stdtd. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2009

– Atas penghasilan berupa beasiswa yang diterima atau diperoleh Warga Negara Indonesia dari Wajib Pajak pemberi beasiswa dalam rangka mengikuti pendidikan formal dan/atau pendididikan nonformal yang dilaksanakan di dalam negeri dan/atau di luar negeri

dikecualikan dari objek Pajak Penghasilan.

– Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

– Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

– Tidak berlaku apabila penerima beasiswa mempunyai hubungan istimewa dengan :

• Pemilik; • Komisaris; • Direksi; atau • Pengurus,

(42)

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)

• sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan

pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan

– PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

80/PMK.03/2009, PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 44/PJ./2009

• Badan atau lembaga nirlaba wajib menyampaikan pemberitahuan (bersamaan dg penyempaian SPT) mengenai rencana fisik sederhana dan rencana biaya

pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dengan tindasan kepada instansi yang membidanginya.

(43)

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)

• bantuan atau santunan

yang dibayarkan oleh

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

kepada

Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya

diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan

Peraturan Menteri Keuangan. (Peraturan

(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)

PPh FINAL

Penghasilan Usaha WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu

PP No 46 Tahun 2013

• Atas penghasilan

dari usaha

yang diterima atau diperoleh Wajib

Pajak yang memiliki

peredaran bruto tertentu

, dikenai Pajak

Penghasilan yang bersifat final

• Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu adalah Wajib

Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap; dan

b. menerima, penghasilan dari usaha, tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 dalam 1 Tahun Pajak

• Besarnya tarif Pajak Penghasilan yang bersifat final adalah 1%

• Dasar pengenaan pajak yang digunakan untuk menghitung Pajak

Penghasilan yang bersifat final adalah jumlah peredaran bruto

setiap bulan, untuk setiap tempat kegiatan usaha.

(51)

Tidak termasuk Wajib Pajak Badan

Dikenakan PPh FINAL

• Wajib Pajak badan yang belum beroperasi

secara komersial; atau

• Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1

tahun setelah beroperasi secara komersial

memperoleh peredaran bruto melebihi

Rp4.800.000.000,00

(52)

Penentuan Saat Beroperasi Komersial

SE - 32/PJ/2014

• saat Wajib Pajak melakukan kegiatan operasi secara

komersial untuk pertama kali bagi Wajib Pajak yang

bergerak di sektor:

– jasa, adalah saat pertama kali dilakukannya penjualan jasa

dan/atau saat diterima atau diperolehnya pendapatan/

penghasilan; dan/atau

– dagang dan industri, adalah saat pertama kali dilakukannya

penjualan barang dan/atau saat diterima atau

(53)

Peredaran Bruto yang Menjadi Dasar

• Pengenaan PPh FINAL didasarkan pada peredaran bruto

dari usaha dalam 1 tahun dari Tahun Pajak terakhir

sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan

(tahun

sebelumnya)

• Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4.800.000.000,00

ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha

seluruhnya termasuk dari usaha cabang, tidak termasuk

peredaran bruto dari:

a.

jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas;

b.

penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri;

c.

usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak

Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan perpajakan tersendiri; dan

(54)

Peredaran Bruto yang Menjadi Dasar

bagi WP Baru

• didasarkan pada jumlah peredaran bruto pada

bulan pertama

diperolehnya penghasilan dari

(55)

Peredaran Bruto Sebelumnya

Kurang Dari 12 Bulan

• Dalam hal peredaran bruto dari usaha pada Tahun

Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan

tidak meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan,

pengenaan Pajak Penghasilan didasarkan pada

jumlah

peredaran bruto Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun

Pajak bersangkutan yang disetahunkan

• Contoh :

• WP A terdaftar sebagai WP tanggal 1 Oktober 2013. Peredaran

bruto Oktober sd Desember Rp300.000.000.

• Untuk menentukan peredaran bruto sebagai dasar penerapan

PP-46 :

– 300.000.000 x 12/3 = 1.200.000.000

(56)

Peredaran Bruto Kumulatif Wajib Pajak Pada Suatu

Bulan Telah Melebihi Jumlah Rp4.800.000.000,00

• Dalam hal peredaran bruto kumulatif Wajib Pajak pada suatu

bulan telah melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 dalam suatu

Tahun Pajak, Wajib Pajak

tetap dikenai tarif PPh FINAL

sampai dengan akhir Tahun Pajak yang bersangkutan

• Contoh :

– Peredaran bruto tahun 2013 Rp4.000.000.000

– Peredaran bruto Januari sd Juni 2014 mencapai Rp4.800.000.000 – Peredaran bruto Juli sd Desember 2014 Rp5.000.000.000

– Wajib pajak selama bulan Juli sd Desember 2014 tetap penghitung sesuai PP-46 dikenakan tarif PPh FINAL

(57)

Peredaran Bruto Kumulatif Wajib Pajak Pada Suatu

Bulan Telah Melebihi Jumlah Rp4.800.000.000,00

• Dalam hal peredaran bruto Wajib Pajak telah

melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 pada suatu

Tahun Pajak, atas penghasilan yang diterima atau

diperoleh Wajib Pajak pada

Tahun Pajak

berikutnya

dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan

tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan

• Contoh :

– Peredaran bruto tahun 2013 Rp4.000.000.000

– Peredaran bruto Januari sd Juni 2014 mencapai Rp4.800.000.000 – Peredaran bruto Juli sd Desember 2014 Rp5.000.000.000

– Peredaran bruto tahun 2015 Rp3.000.000.000

(58)

Wajib Pajak badan yang belum

beroperasi secara komersial

• Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara

komersial dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan

tarif umum

Undang-Undang Pajak Penghasilan

sampai dengan jangka waktu

1 (satu) tahun sejak

beroperasi secara komersial

.

• Dalam hal Jangka waktu 1 (satu) tahun

melewati

Tahun Pajak yang bersangkutan

, ketentuan

pengenaan PPh dengan tarif umum berlaku

sampai dengan akhir Tahun Pajak berikutnya.

(59)

SE - 42/PJ/2013

• Penentuan peredaran bruto untuk dikenakan Pajak

Penghasilan yang bersifat final bagi

Wajib Pajak

badan

yang baru beroperasi secara komersial untuk

pertama kali ditentukan berdasarkan peredaran

bruto dari usaha 1 (satu) Tahun Pajak setelah Tahun

Pajak beroperasi secara komersial, pengenaan Pajak

Penghasilan yang bersifat final selanjutnya untuk

Wajib Pajak yang bersangkutan ditentukan

berdasarkan peredaran bruto Tahun Pajak

sebelumnya

(60)

Penyetoran dan Pelaporan

• Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan terutang ke kantor

pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, dengan

menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain

yang dipersamakan dengan Surat Setoran Pajak, yang telah

mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara,

paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa

Pajak berakhir.

• Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Penghasilan wajib

menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling

lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.

• Wajib Pajak yang telah melakukan penyetoran Pajak Penghasilan,

dianggap telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak

Penghasilan, sesuai dengan tanggal validasi Nomor Transaksi

(61)

Contoh

2014 Omset Rp0 2015 Omset Rp1M 2016 Omset Rp4M 2017 Omset Rp5M 2018 Omset Rp3M Perusahaan Didirikan 10 Agustus 2014 Perusahaan Beroperasi Komersial 15 April 2015 Pertanyaan :

a. Tahun kapan dikenakan PPh Final PP-46 ? b. Tahun kapan dikenakan PPh Badan ?

(62)

Penilaian Harta

Pasal 10 ayat (1)

• Harga perolehan atau harga penjualan dalam

hal terjadi jual beli harta yang tidak

dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) adalah

jumlah yang

sesungguhnya

dikeluarkan atau

diterima, sedangkan apabila terdapat

hubungan istimewa adalah jumlah

yang

(63)

Penilaian Harta Tukar Menukar

Pasal 10 ayat (2)

• Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal

terjadi

tukar-menukar harta

adalah jumlah

yang seharusnya dikeluarkan atau diterima

berdasarkan

harga pasar

(64)

Penilaian Harta

likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau

pengambilalihan usaha

• Nilai perolehan atau pengalihan harta yang

dialihkan dalam rangka likuidasi,

penggabungan, peleburan, pemekaran,

pemecahan, atau pengambilalihan usaha

adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan

atau diterima berdasarkan

harga pasar

, kecuali

ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan

(65)

Penilaian Harta

Hibah

• Apabila terjadi pengalihan harta :

– yang

BUKAN OBJEK PAJAK

(memenuhi syarat sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b),

maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan

sama dengan nilai sisa buku dari pihak yang melakukan

pengalihan atau nilai yang ditetapkan oleh Direktur

Jenderal Pajak;

– Yang

OBJEK PAJAK

(tidak memenuhi syarat sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a), maka dasar

penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan

nilai pasar dari harta tersebut.

(66)

Penilaian Harta

Hibah

• Dalam hal terjadi penyerahan harta karena hibah, bantuan,

sumbangan yang

bukan objek pajak

atau warisan, maka nilai

perolehan bagi pihak yang menerima harta adalah nilai sisa

buku harta dari pihak yang melakukan penyerahan. Apabila

Wajib Pajak tidak menyelenggarakan pembukuan sehingga

nilai sisa buku tidak diketahui, maka nilai perolehan atas harta

ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.

• Dalam hal terjadi penyerahan harta karena hibah, bantuan,

sumbangan yang

objek pajak

, maka nilai perolehan bagi pihak

yang menerima harta adalah harga pasar

(67)

Penilaian Harta

harta yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham

atau sebagai pengganti penyertaan modal

• Apabila terjadi pengalihan harta sebagai

penyertaan modal (sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 4 ayat (3) huruf c), maka dasar

penilaian harta bagi badan yang menerima

pengalihan sama dengan

nilai pasar

dari harta

tersebut

(68)

Penilaian Persediaan

• Persediaan dan pemakaian persediaan untuk

penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan

harga perolehan yang dilakukan secara

rata-rata

atau dengan cara

mendahulukan

persediaan yang diperoleh pertama

(69)

• Sekali Wajib Pajak memilih salah satu cara

penilaian pemakaian persediaan untuk

penghitungan harga pokok tersebut, maka

untuk tahun-tahun selanjutnya harus

(70)

Penghitungan harga pokok penjualan dan nilai

persediaan dengan menggunakan cara rata-rata

(71)

Penghitungan harga pokok penjualan dan nilai

persediaan dengan menggunakan cara FIFO

(72)

Komersial Vs Fiskal

(73)

Deductible Expense

Ps. 6 ayat (1)

• biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak (tidak final)

• biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha, antara lain:

– biaya pembelian bahan;

– biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang;

– bunga, sewa, dan royalti; – biaya perjalanan;

– biaya pengolahan limbah; – premi asuransi;

– biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;

– biaya administrasi; dan

(74)

Deductible Expense

Ps. 6 ayat (1)

• penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh

harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran

untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang

mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal

11A;

– Kelompok Harta  Per Menkeu No 96/PMK.03/2009

– Penyusutan Bidang tertentu  Per Menkeu

249/PMK.03/2008

(75)

Penyusutan

• Metode penyusutan

• Masa manfaat

• Saat dimulainya penyusutan

• Nilai sisa

• Renovasi menambah masa manfaat

• Tukar menukar aktiva

(76)

Penyusutan Menurut Ketentuan

Fiskal

• Harta yg dpt disusutkan adalah harta berwujud yang memiliki

masa manfaat lebih dari 1 tahun

yang digunakan untuk

mendapatkan menagih, dan memelihara penghasilan (obyek

pajak), kecuali tanah

• Harta yang tidak digunakan untuk mendapatkan, menagih,

dan memelihara penghasilan tidak boleh disusutkan secara

fiskal.

• Dalam hal harta yang tidak boleh disusutkan secara fiskal

tersebut dijual (dialihkan),

– keuntungannya merupakan obyek PPh, yang dihitung dari selisih antara harga jual (nilai pasar) dengan harga perolehan.

– Dalam hal selisihnya negatif (rugi), kerugian tersebut tidak dapat

(77)

Penyusutan Menurut Ketentuan

Fiskal

• Penyusutan aktiva

dimulai pada bulan

dilakukannya pengeluaran

kecuali untuk harta

yang masih dalam proses pengerjaan,

penyusutannya dimulai pada bulan selesainya

pengerjaan harta tesebut

(78)

Metode Penyusutan Aktiva Tetap

• Terhadap aktiva yang temasuk Kelompok I s.d.

Kelompok IV, wajib pajak diperkenankan untuk

memilih antara metode garis lurus (straight line

methode) atau metode saldo menurun (decline

balance methode).

• Terhadap aktiva kelompok bangunan, wajib pajak

harus menerapkan metode garis lurus.

• Penggunaan metode penyusutan tersebut harus

dilakukan secara taat azas.

(79)

Metode penyusutan

• Garis lurus (straight line)  mengalokasikan

biaya penyusutan dalam bagian yg sama besar

selama masa manfaat yg ditetapkan dari harta

• Saldo menurun  mengalokasikan biaya

penyusutan dalam bagian-bagian yg menurun

dg cara menerapkan tarif penyusutan atas

(80)

masa manfaat dan tarif penyusutan

Kelompok Harta

Masa

Manfaat

Tarif Garis

Lurus

Tarif Saldo

Menurun

Kelompok I

4 Th

25 %

50 %

Kelompok II

8 Th

12,5 %

25 %

Kelompok III

16 Th

6,25 %

12,5 %

Kelompok IV

20 Th

5 %

10 %

Bangunan

permanen

20 Th

5 %

-

Bangunan tidak

permanen

10 Th

10 %

-

(81)

contoh

• PT A membeli 1 unit mobil truck untuk

distribusi barang pada tanggal 5 Januari 2011

senilai Rp 200.000.000

• PT A membeli 1 unit mesin fotocopy pada

(82)

contoh

• PT ABC membeli mobil pick up untuk distribusi

barang dagangan tanggal 10 Oktober 2011

seharga 100.000.000

• Pada tanggal 5 April 2014 mobil tersebut

dijual seharga Rp 60.000.000

(83)

PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN ATAS BIAYA PEMAKAIAN TELEPON

SELULER DAN KENDARAAN PERUSAHAAN

KEP - 220/PJ./2002

• Atas biaya perolehan atau pembelian telepon seluler yang

dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu

karena jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan sebagai

biaya perusahaan sebesar

50%

(lima puluh persen) dari

jumlah biaya perolehan atau pembelian melalui

penyusutan

aktiva tetap kelompok I

• Atas biaya berlangganan atau pengisian ulang

pulsa

dan

perbaikan telepon seluler yang dimiliki dan dipergunakan

perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau

pekerjannya, dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan

sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah biaya

berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan dalam

tahun pajak yang bersangkutan

(84)

• Atas biaya perolehan atau pembelian atau

perbaikan besar kendaraan bus, minibus, atau

yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan

perusahaan untuk antar jemput para pegawai,

dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya

perusahaan melalui penyusutan aktiva tetap

kelompok II

(85)

• Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin

kendaraan bus, minibus atau yang sejenis

yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan

untuk

antar jemput

para pegawai, dapat

dibebankan seluruhnya sebagai biaya

perusahaan dalam tahun pajak yang

bersangkutan

(86)

• Atas biaya perolehan atau

pembelian

atau

perbaikan

besar

kendaraan sedan atau yang sejenis yang

dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai

tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat

dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar

50%

(lima puluh persen) dari jumlah biaya perolehan atau

pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan

aktiva tetap kelompok II

(87)

• Atas biaya

pemeliharaan atau perbaikan rutin

kendaraan yang dimiliki dan dipergunakan

perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan

atau pekerjaannya dapat dibebankan sebagai biaya

perusahaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari

jumlah biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin

dalam tahun pajak yang bersangkutan.

(88)

Revaluasi

• Apabila Wajib Pajak melakukan penilaian

kembali aktiva, maka dasar penyusutan atas

harta adalah

nilai setelah dilakukan penilaian

(89)

Keuntungan Pengalihan/Penarikan

Harta

• Apabila terjadi pengalihan atau penarikan

harta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4

ayat (1) huruf d atau penarikan harta karena

sebab lainnya, maka jumlah nilai sisa buku

harta tersebut dibebankan sebagai kerugian

dan jumlah harga jual atau penggantian

asuransinya yang diterima atau diperoleh

dibukukan sebagai penghasilan pada tahun

terjadinya penarikan harta tersebut

(90)

• Pada dasarnya keuntungan atau kerugian karena pengalihan harta dikenai pajak dalam tahun dilakukannya pengalihan harta tersebut.

• Apabila harta tersebut dijual atau terbakar, maka penerimaan neto dari penjualan harta tersebut, yaitu selisih antara harga penjualan dan biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan penjualan tersebut dan atau

penggantian asuransinya, dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penjualan atau tahun diterimanya penggantian asuransi, dan nilai sisa buku dari harta tersebut dibebankan sebagai kerugian dalam tahun pajak yang bersangkutan

• Dalam hal penggantian asuransi yang diterima jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti pada masa kemudian, Wajib Pajak dapat

mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak agar jumlah sebesar kerugian tersebut dapat dibebankan dalam tahun penggantian asuransi tersebut

(91)

• Apabila terjadi pengalihan harta yang

bukan

objek pajak

(memenuhi syarat sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan

huruf b), yang berupa harta berwujud, maka

jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak

boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak

yang mengalihkan

(92)

Amortisasi harta tak berwujud 1

• Pengeluaran untuk memperoleh harta tak

berwujud dan pengeluaran lainnya

• yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu

tahun, yang digunakan untuk mendapatkan,

(93)

Amortisasi harta tak berwujud 2

• Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya

perluasan modal (dapat dipilih apakah diamortisasi

dengan metode di atas atau langsung dibebankan

seluruhnya pada tahun terjadinya).

• Pengeluaran yang dilakukan sebelum perusahaan

beroperasi komersial yang memiliki masa manfaat

lebih dari satu tahun, dikapitalisasi (sebagai biaya

praoperasi) kemudian dimortisasi

(94)

Amortisasi harta tak berwujud 3

• pengeluaran praoperasi adalah biaya-biaya yang

dikeluarkan sebelum perusahaan beroperasi

komersial, misalnya biaya study kelayakan dan biaya

produksi percobaan,

• tetapi tidak termasuk biaya-biaya operasional yang

sifatnya rutin, seperti gaji pegawai, rekening listrik

dan telepon, dan biaya kantor lainnya.

• Pengeluaran yang rutin tersebut harus dibebankan

sekaligus pada tahun terjadinya

(95)

masa manfaat dan tarif amortisasi

Kelompok Harta

Masa

Manfaat

Tarif Garis

Lurus

Tarif Saldo

Menurun

Kelompok I

4 Th

25 %

50 %

Kelompok II

8 Th

12,5 %

25 %

Kelompok III

16 Th

6,25 %

12,5 %

Kelompok IV

20 Th

5 %

10 %

(96)

Amortisasi Hak

Penambangan Migas

• Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan

pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1

tahun di bidang

penambangan minyak dan gas

bumi dilakukan

dengan menggunakan

metode satuan produksi.

• Contoh

– PT A mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp10 Milyar. Taksiran jumlah kandungan minyak di daerah tersebut adalah sebanyak 200 juta barel

(97)

Amortisasi

Hak Penambangan Lainnya

• Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak

penambangan

– selain migas,

– hak pengusahaan hutan, dan

– hak pengusahaan sumber alam serta hasil alam lainnya

• yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun,

dilakukan dengan menggunakan metode satuan

produksi setinggi-tingginya 20% setahun.

(98)

Contoh

• Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan,

yang mempunyai potensi 10.000.000 ton kayu, sebesar

Rp500.000.000 diamortisasi sesuai dengan persentase satuan

produksi yang direalisasikan dalam tahun yang bersangkutan.

• Jika dalam 1 tahun pajak ternyata jumlah produksi mencapai

3.000.000 ton yang berarti 30% dari potensi yang tersedia,

• walaupun jumlah produksi pada tahun tersebut mencapai

30% dari jumlah potensi yang tersedia, besarnya amortisasi

yang diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan

bruto pada tahun tersebut adalah 20% dari pengeluaran atau

Rp100.000.000,00

(99)

Pengalihan hak

• Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud

atau hak, maka nilai sisa buku harta atau

hak-hak tersebut dibebankan sebagai kerugian dan

jumlah yang diterima sebagai penggantian

merupakan penghasilan pada tahun terjadinya

pengalihan tersebut.

(100)

• PT X mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp500.000.000,00. Taksiran jumlah kandungan minyak di daerah tersebut adalah sebanyak 200.000.000 (dua ratus juta) barel. Setelah produksi minyak dan gas bumi mencapai

100.000.000 (seratus juta) barel, PT X menjual hak penambangan tersebut kepada pihak lain dengan harga sebesar Rp300.000.000,00. Penghitungan penghasilan dan kerugian dari penjualan hak tersebut adalah sebagai

berikut :

– Harga perolehan Rp 500.000.000,00 – Amortisasi yang telah dilakukan

100.000.000/200.000.000 barel (50%) Rp 250.000.000,00

– Nilai buku harta Rp 250.000.000,00 – Harga jual harta Rp 300.000.000,00

• Dengan demikian jumlah nilai sisa buku sebesar Rp 250.000.000,00 dibebankan sebagai kerugian dan jumlah sebesar Rp300.000.000,00 dibukukan sebagai penghasilan.

(101)

PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGELUARAN/BIAYA PEROLEHAN PERANGKAT LUNAK (SOFTWARE) KOMPUTER

KEP - 316/PJ./2002

• Perangkat lunak (software) komputer adalah semua program

yang (lapat digunakan pada sistem operasi komputer .

• Program aplikasi umum adalah program yang dapat

dipergunakan oleh pengguna (users) umum untuk memproses

berbagai pekerjaan dengan komputer .

• Program aplikasi khusus adalah program yang dirancang

khusus untuk keperluan otomatisasi sistem administrasi,

pekerjaan atau kegiatan usaha tertentu, seperti di bidang

perbankan, pasar modal, perhotelan, rumah sakit atau

penerbangan.

(102)

• Perangkat lunak komputer merupakan harta tak

berwujud (intangible asset) yang mempunyai masa

manfaat lebih dari satu tahun dan termasuk dalam

kelompok-1 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11A

ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan.

• Perangkat lunak komputer berupa program aplikasi

umum diperlakukan sebagai pengeluaran atau biaya

operasional rutin

(103)

• Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat

lunak komputer berupa program aplikasi umum yang dimiliki

dan digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara

penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan

umum Undang-undang Pajak Penghasilan, pembebanannya

dilakukan sekaligus dalam bulan pengeluaran

• Dalam hal program aplikasi umum tersebut diperoleh sebagai

bagian dari harga pembelian perangkat keras komputer, maka

pembebanannya sudah termasuk dalam penyusutan

(104)

• Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat

lunak komputer berupa program aplikasi khusus yang dimiliki

dan dipergunakan untuk mendapatkan, menagih dan

memelihara penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan

ketentuan umum Undang-undang Pajak Penghasilan,

pembebanannya dilakukan melalui amortisasi harta tak

berwujud (Kelompok-1).

• Dalam hal pengeluaran/biaya upgrade program aplikasi

khusus tersebut pada ayat (3). pengeluaran/biaya tersebut

terlebih dahulu ditambahkan pada nilai sisa buku fiskal yang

masih ada dan amortisasinya dilakukan dengan masa manfaat

baru/penuh terhitung mulai bulan dilakukan upgrade.

(105)
(106)

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1 Nomor Jenis Usaha Jenis Harta

1 Semua jenis usaha a. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk meja, bangku, kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan bagian dari bangunan.

b. Mesin kantor seperti mesin tik, mesin hitung, duplikator, mesin fotokopi, mesin akunting/pembukuan, komputer, printer, scanner dan sejenisnya.

c. Perlengkapan lainnya seperti amplifier, tape/cassette, video recorder, televisi dan sejenisnya.

d. Sepeda motor, sepeda dan becak.

e. Alat perlengkapan khusus (tools) bagi industri/jasa yang bersangkutan.

f. Dies, jigs, dan mould.

g. Alat-alat komunikasi seperti pesawat telepon, faksimile, telepon seluler dan sejenisnya.

2 Pertanian, perkebunan, kehutanan,

Alat yang digerakkan bukan dengan mesin seperti cangkul, peternakan, perikanan, garu dan lain-lain.

3 Industri makanan dan minuman

Mesin ringan yang dapat dipindah-pindahkan seperti, huller, pemecah kulit, penyosoh, pengering, pallet, dan sejenisnya. 4 Transportasi dan

Pergudangan

Mobil taksi, bus dan truk yang digunakan sebagai angkutan umum.

5 Industri semi konduktor Falsh memory tester, writer machine, biporar test system, elimination (PE8-1), pose checker.

6 Jasa Persewaan Peralatan Tambat Air Dalam

Anchor, Anchor Chains, Polyester Rope, Steel Buoys, Steel Wire Ropes, Mooring Accessoris.

7 Jasa telekomunikasi selular

(107)

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 2 Nomor Jenis Usaha Jenis Harta

1 Semua jenis usaha a. Mebel dan peralatan dari logam termasuk meja, bangku, kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan merupakan bagian dari bangunan. Alat pengatur udara seperti AC, kipas angin dan sejenisnya.

b. Mobil, bus, truk, speed boat dan sejenisnya. c. Container dan sejenisnya.

2 Pertanian, perkebunan,

kehutanan, perikanan

a. Mesin pertanian/perkebunan seperti traktor dan mesin bajak, penggaruk, penanaman, penebar benih dan sejenisnya.

b. Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau memproduksi bahan atau barang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.

3 Industri makanan dan minuman

a. Mesin yang mengolah produk asal binatang, unggas dan perikanan, misalnya pabrik susu, pengalengan ikan . b. Mesin yang mengolah produk nabati, misalnya mesin

minyak kelapa, margarin, penggilingan kopi, kembang gula, mesin pengolah biji-bijian seperti penggilingan beras, gandum, tapioka.

c. Mesin yang menghasilkan/memproduksi minuman dan bahan-bahan minuman segala jenis.

d. Mesin yang menghasilkan/memproduksi bahan-bahan makanan dan makanan segala jenis.

4 Industri mesin Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin ringan (misalnya mesin jahit, pompa air).

5 Perkayuan, kehutanan a. Mesin dan peralatan penebangan kayu.

b. Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau memproduksi bahan atau barang kehutanan.

6 Konstruksi Peralatan yang dipergunakan seperti truk berat, dump truck, crane buldozer dan sejenisnya.

(108)

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 2

7 Transportasi dan Pergudangan

a. Truk kerja untuk pengangkutan dan bongkar muat, truk peron, truck ngangkang, dan sejenisnya;

b. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk pengangkutan barang tertentu (misalnya gandum, batu - batuan, biji tambang dan sebagainya) termasuk kapal pendingin, kapal tangki, kapal penangkap ikan dan sejenisnya, yang mempunyai berat sampai dengan 100 DWT;

c. Kapal yang dibuat khusus untuk menghela atau mendorong kapal-kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, keran terapung dan sejenisnya yang mempunyai berat sampai dengan 100 DWT;

d. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai berat sampai dengan 250 DWT;

e. Kapal balon.

8 Telekomunikasi a. Perangkat pesawat telepon;

b. Pesawat telegraf termasuk pesawat pengiriman dan penerimaan radio telegraf dan radio telepon.

9 Industri semi konduktor Auto frame loader, automatic logic handler, baking oven, ball shear tester, bipolar test handler (automatic), cleaning machine, coating machine, curing oven, cutting press, dambar cut machine, dicer, die bonder, die shear test, dynamic burn-in system oven, dynamic test handler, eliminator (PGE-01), full automatic handler, full automatic mark, hand maker, individual mark, inserter remover machine, laser marker (FUM A-01), logic test system, marker (mark), memory test system, molding, mounter, MPS automatic, MPS manual, O/S tester manual, pass oven, pose checker, re-form machine, SMD stocker, taping machine, tiebar cut press, trimming/forming machine, wire bonder, wire pull tester.

10 Jasa Persewaan Peralatan Tambat Air Dalam

Spoolling Machines, Metocean Data Collector 11 Jasa Telekomunikasi

Seluler

Mobile Switching Center, Home Location Register, Visitor Location Register. Authentication Centre, Equipment Identity Register, Intelligent Network Service Control Point, intelligent Network Service Managemen Point, Radio Base Station, Transceiver Unit, Terminal SDH/Mini Link, Antena

Referensi

Dokumen terkait

Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah garis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, sosial termasuk yayasan, koperasi, atau

Perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke

Sehubungan dengan pertanyaan Fraksi Persatuan Pembangunan mengenai harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat

harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau

Harta hibahan bagi pihak yang menerima bukan Obyek Pajak apabila diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan

Kecuali dalam hal perolehan hak karena waris, atau hibah, wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus

objek pajak apabila diterima keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu sederajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial

harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang