Subjek Pajak
7_6”
a.
1.
orang pribadi;
2.
warisan yang belum terbagi
sebagai satu kesatuan,
menggantikan yang berhak
b.
Badan
Pengertian Badan
• Badan adalah
– sekumpulan orang dan/atau modal
– yang merupakan kesatuan
– baik yang melakukan usaha maupun yang tidak
melakukan usaha
– yang meliputi
• perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan
lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik
daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma,
kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan,
yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau
organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya
termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
Bukan Subjek Pajak Badan
Unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
1. pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
2. pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah;
3. penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah
Pusat atau Pemerintah Daerah; dan
4. pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional
negara; dan
Termasuk Subjek Badan
• Badan usaha milik negara
dan badan usaha milik
daerah merupakan subjek pajak tanpa
memperhatikan nama dan bentuknya sehingga
setiap unit tertentu dari badan Pemerintah,
– misalnya lembaga, badan, dan sebagainya yang dimiliki
oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk
memperoleh penghasilan merupakan subjek pajak.
Subjek Pajak Badan Dalam Negeri dan
Luar Negeri
• Badan Dalam Negeri
– badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia
• Badan Luar Negeri
– badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia
– badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
Indonesia, yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.
Didirikan di Indonesia
• pendirian atau
pembentukannya:
– berdasarkan ketentuan
perundang-undangan di
Indonesia
– didaftarkan di Indonesia
berdasarkan ketentuan
perundang-undangan di
Indonesia
– di dalam wilayah hukum
Indonesia.
:98
• tempat kedudukan sesuai
akta pendirian
• kantor pusat
• pusat administrasi dan/atau
pusat keuangan
• tempat kantor pimpinan yang
melakukan pengendalian
• pengurusnya melakukan
pertemuan untuk membuat
keputusan strategis
• pengurusnya bertempat
tinggal atau berdomisili
Bertempat Kedudukan di
Indonesia
Perbedaan Subjek Pajak dalam negeri
dan luar negeri
• Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh dari Indonesia maupun dari luar Indonesia,
sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia.
• Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif umum, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak sepadan; dan
• Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak, sedangkan Wajib Pajak luar negeri tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.
Bentuk Usaha Tetap
• Bentuk usaha tetap adalah
– bentuk usaha
– yang dipergunakan oleh
• orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan
• badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
– untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di
Indonesia
BUT dapat berupa…. (1)
tempat kedudukan manajemen;
cabang perusahaan;
kantor perwakilan;
gedung kantor;
pabrik;
bengkel;
gudang;
ruang untuk promosi dan penjualan;
pertambangan dan penggalian sumber alam;
wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;
perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau
BUT dapat berupa… (2)
proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh
orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh)
hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;
orang atau badan yang bertindak selaku agen yang
kedudukannya tidak bebas;
agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang
menerima premi asuransi atau menanggung resiko di
Indonesia; dan
komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang
dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi
elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui
Perlakuan Perpajakan BUT
• Bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak
yang perlakuan perpajakannya
dipersamakan
dengan subjek pajak badan
Tidak termasuk subjek pajak
(1) Yang tidak termasuk subjek pajak adalah : a. kantor perwakilan negara asing;
b. pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
c. organisasi-organisasi internasional dengan syarat : 1. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; dan
2. tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota;
d. pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud pada huruf c, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.
(2) Organisasi internasional yang tidak termasuk subjek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
Dari Segi Cara Pengenaan Pajak Atas
Penghasilan
• Penghasilan Objek Pajak
o Penghasilan
Objek PPh Final
(Pasal 4 ayat
(2))
o Penghasilan
Objek PPh Tidak Final
(Objek
PPh Badan)
• Penghasilan
Bukan Objek Pajak
(Pasal 4
skema
•
TOTAL SELURUH PENGHASILAN …….
A
•
dikurangi Penghasilan yang merupakan Objek Pajak yang dipotong PPh Final (Pasal
4 ayat (2))………
(B)
•
dikurangi Penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak (Pasal 4 ayat (3))……….
(C)
•
=
Penghasilan yang merupakan Objek Pajak PPh tidak bersifat Final (Pasal
Objek Pajak
Ps. 4 ayat (1)
• Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan
• Penghasilan yaitu
– setiap tambahan kemampuan ekonomis
– yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak,
– baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia,
– yang dapat dipakai untuk
• konsumsi atau
• untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,
Bentuk Penghasilan
• Dalam bentuk uang (Benefit in Cash)
• Dalam bentuk barang (natura) / kenikmatan
Pengelompokan Penghasilan
• Penghasilan dari pekerjaan dalam
hubungan kerja
dan
pekerjaan bebas
,
– seperti ; gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter,
notaris, aktuaris, pengacara, dsb.
• Penghasilan dari
usaha
dan kegiatan.
• Penghasilan dari
modal
yang berupa harta gerak
ataupun harta tak gerak
– seperti ; bunga, dividen, royalty, sewa, keuntungan
penjualan harta atau hak yang dipergunakan untuk usaha,
dsb.
• Penghasilan
lain-lain
,
Objek Pajak
Termasuk penghasilan (1)
• Penggantian atau imbalan berkenaan dengan
pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh
termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi,
bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam
bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam
Undang-undang ini;
• hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan
penghargaan;
Objek Pajak
Termasuk penghasilan (2)
• keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk :
– keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
– keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya;
– keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apa pun;
– keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan; dan
– keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam perusahaan pertambangan;
Objek Pajak
Termasuk penghasilan (3)
• penerimaan kembali pembayaran pajak yang
telah dibebankan sebagai biaya dan
pembayaran tambahan pengembalian pajak;
– Contoh: Pajak Bumi dan Bangunan yang sudah
dibayar dan dibebankan sebagai biaya, yang
karena sesuatu sebab dikembalikan, maka jumlah
sebesar pengembalian tersebut merupakan
Objek Pajak
Termasuk penghasilan (3)
• bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan
karena jaminan pengembalian utang;
– Premium terjadi apabila misalnya surat obligasi dijual di
atas nilai nominalnya
– sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli di
bawah nilai nominalnya.
– Premium tersebut merupakan penghasilan bagi yang
menerbitkan obligasi
– dan diskonto merupakan penghasilan bagi yang membeli
obligasi
• dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun,
termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada
pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha
koperasi;
Objek Pajak
Termasuk penghasilan (4)
• Termasuk Deviden
– pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama dan dalam bentuk apapun;
– pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor; – pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk saham
bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham; – pembagian laba dalam bentuk saham;
– pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran;
– jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang bersangkutan;
– pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetorkan, jika dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika
pembayaran kembali itu adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan secara sah;
– pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut;
– bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi; – bagian laba yang diterima oleh pemegang polis;
– pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi;
– pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan.,
Objek Pajak
Termasuk penghasilan (5)
• royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
– Royalti adalah suatu jumlah yang dibayarkan atau terutang dengan cara atau
perhitungan apa pun, baik dilakukan secara berkala maupun tidak, sebagai imbalan atas
1. penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan, kesenian atau karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia, merek dagang, atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya;
2. penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial, komersial, atau ilmiah;
3. pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah, teknikal, industrial, atau komersial; 4. pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan atau hak
menggunakan hak-hak tersebut pada angka 1, penggunaan atau hak menggunakan peralatan/ perlengkapan tersebut pada angka 2, atau pemberian pengetahuan atau informasi tersebut pada angka 3, berupa :
– penerimaan atau hak menerima rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya, yang disalurkan kepada masyarakat melalui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa;
– penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya, untuk siaran televisi atau radio yang disiarkan/dipancarkan melalui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa;
– penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spektrum radio komunikasi;
– penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup (motion picture films), film atau pita video untuk siaran televisi, atau pita suara untuk siaran radio; dan
5. pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya sebagaimana tersebut di atas.
Objek Pajak
Termasuk penghasilan (6)
• sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta;
• penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
• keuntungan karena pembebasan utang, kecuali
sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah
– PP NOMOR 130 TAHUN 2000; utang usaha yang jumlahnya tidak lebih dari Rp 350.000.000, Kukesra, KUT, KPRSS, KUK
• keuntungan selisih kurs mata uang asing;
Objek Pajak
Termasuk penghasilan (7)
• premi asuransi;
• iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari
anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang
menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
• tambahan kekayaan neto yang berasal dari
penghasilan yang belum dikenakan pajak.
• penghasilan dari usaha berbasis syariah;
• imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan
umum dan tata cara perpajakan; dan
Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)
– bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang
dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh
penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah; (PP No 18 Tahun 2009) dan
– harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil (kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000, hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000), yang ketentuannya diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan,(KEPMENKEU NO. 604/KMK.04/1994, PER MENKEU NO. 245/PMK.03/2008)
• sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan;
Hubungan antara Wajib Pajak pemberi dan Wajib
Pajak penerima bantuan atau, sumbangan atau zakat
• Hubungan di antara pihak-pihak yang bersangkutan
(Wajib Pajak pemberi dan Wajib Pajak penerima bantuan atau, sumbangan, termasuk zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, dan atau harta hibahan)dapat terjadi karena
ketergantungan atau keterikatan satu dengan yang lain secara
langsung atau tidak langsung berkenaan dengan:
a. Usaha dapat terjadi apabila terdapat transaksi yang
bersifat rutin antara kedua belah pihak
b. Pekerjaan terjadi apabila terdapat hubungan yang
berupa pekerjaan, pemberian jasa, atau pelaksanaan
kegiatan secara langsung atau tidak langsung antara kedua
pihak tersebut
c.
kepemilikan atau penguasaan terjadi apabila terdapat:
a. penyertaan modal secara langsung atau tidak
langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat
(4) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan; atau
b. hubungan penguasaan secara langsung atau tidak
langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat
(4) huruf b Undang-Undang Pajak Penghasilan.
Contoh hubungan berkenaan dengan pekerjaan
• Tn. Bambang merupakan direktur PT ABC dan Tn.
Cahyono merupakan pegawai PT ABC. Dalam hal ini,
antara PT ABC dengan Tn. Bambang dan/atau Tn.
Cahyono terdapat hubungan pekerjaan langsung.
• Jika Tn. Bambang dan/atau Tn. Cahyono menerima
bantuan sumbangan dari PT ABC atau sebaliknya,
maka bantuan sumbangan tersebut
merupakan
objek Pajak Penghasilan bagi yang menerima
karena
antara PT ABC dengan Tn. Bambang dan/atau Tn.
Contoh hubungan berkenaan dengan pekerjaan
• Tn Amir bekerja sebagai petugas dinas luar asuransi
dari perusahaan asuransi PT ABC. Meskipun Tn Amir
tidak berstatus sebagai pegawai PT ABC, namun antara
PT ABC dan Tn Amir dianggap mempunyai hubungan
pekerjaan tidak langsung.
• Jika Tn Amir menerima bantuan atau sumbangan dari
PT ABC atau sebaliknya, maka bantuan atau
sumbangan tersebut
merupakan objek Pajak
Penghasilan bagi pihak yang menerima
karena antara
PT ABC dan Tn Amir mempunyai hubungan pekerjaan
tidak langsung.
Penguasaan manajemen secara langsung
• Tuan Amir dan Tuan Bambang, adalah direktur PT PRIMA TAMA, sedangkan Tuan Cahyono adalah komisaris PT PRIMA TAMA.
• Selain itu, Tuan Cahyono juga menjadi direktur di PT AMAN SENTOSA, dan Tuan Bambang sebagai komisaris di PT AMAN SENTOSA.
• Tuan Bambang Junior adalah direktur PT SUMBER REJEKI, sedangkan Tuan Edi sebagai komisaris PT SUMBER REJEKI.
• Tuan Bambang Junior adalah anak dari Tuan Bambang yang menjadi direktur PT PRIMA TAMA dan komisaris PT AMAN SENTOSA.
BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK
TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN (PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)
• Harta hibah, bantuan, atau sumbangan yang diterima
oleh :
a. keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat;
b. badan keagamaan;
c. badan pendidikan;
d. badan sosial termasuk yayasan dan koperasi; atau
e. orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil
(kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000, hasil
penjualan tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000)
BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK
TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN (PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)
• Keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat
adalah orang tua dan anak kandung.
• Badan keagamaan adalah badan keagamaan yang kegiatannya
semata-mata mengurus tempat-tempat ibadah dan/atau
menyelenggarakan kegiatan di bidang keagamaan, yang tidak
mencari keuntungan.
• Badan pendidikan adalah badan pendidikan yang kegiatannya
semata-mata menyelenggarakan pendidikan yang tidak
BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK
TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN (PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)
• Badan sosial termasuk yayasan dan koperasi adalah badan
sosial yang kegiatannya semata-mata menyelenggarakan :
– pemeliharaan kesehatan;
– pemeliharaan orang lanjut usia (panti jompo);
– Pemeliharaan anak yatim-piatu, anak atau orang terlantar, dan anak atau orang cacat;
– santunan dan/atau pertolongan kepada korban bencana alam, kecelakaan, dan sejenisnya;
– pemberian beasiswa;
– pelestarian lingkungan hidup; dan/atau – kegiatan sosial lainnya.
BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK
TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN (PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)
• Orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan
usaha kecil adalah orang pribadi yang menjalankan
usaha mikro dan usaha kecil yang memiliki dan
menjalankan usaha produktif yang memenuhi
kriteria sebagai berikut :
– memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;atau
– memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp
BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK
TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN (PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)
• Ketentuan pengecualian harta hibah, bantuan, atau
sumbangan dari objek Pajak Penghasilan berlaku
apabila pihak pemberi hibah, bantuan, atau
sumbangan tidak mempunyai hubungan usaha,
pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan dengan
penerima hibah, bantuan, atau sumbangan.
• Harta hibah, bantuan, atau sumbangan dibukukan
oleh pihak penerima sesuai dengan nilai buku harta
hibah, bantuan, atau sumbangan dari pihak pemberi.
Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)
• warisan
;
• harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b UU PPh
sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti
penyertaan
moda
l;
• penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa
yang diterima atau diperoleh dalam bentuk
natura dan/atau
kenikmatan
dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang
diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak
secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma
penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 15 UU PPh;
• pembayaran dari perusahaan asuransi
kepada orang pribadi
sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan,
asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;
Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)
• dividen
atau bagian laba yang diterima atau diperoleh
perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri,
koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik
daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang
didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan
syarat :
– dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
– bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor;
Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)
• iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun
yang
pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan, baik yang
dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;
• penghasila
n dari modal yang ditanamkan oleh
dana pensiun,
dalam bidang-bidang tertentu
yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan;
• bagian laba
yang diterima atau diperoleh anggota dari
perseroan
komanditer
yang modalnya tidak terbagi atas
saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi,
termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi
Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)
• penghasilan yang diterima atau diperoleh
perusahaan
modal ventura
berupa bagian laba dari
badan pasangan usaha yang didirikan dan
menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia,
dengan syarat badan pasangan usaha tersebut :
– merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang
menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang
diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan; dan
Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)
• beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 246/PMK.03/2008 stdtd. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2009
– Atas penghasilan berupa beasiswa yang diterima atau diperoleh Warga Negara Indonesia dari Wajib Pajak pemberi beasiswa dalam rangka mengikuti pendidikan formal dan/atau pendididikan nonformal yang dilaksanakan di dalam negeri dan/atau di luar negeri
dikecualikan dari objek Pajak Penghasilan.
– Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
– Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
– Tidak berlaku apabila penerima beasiswa mempunyai hubungan istimewa dengan :
• Pemilik; • Komisaris; • Direksi; atau • Pengurus,
Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)
• sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
– PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
80/PMK.03/2009, PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 44/PJ./2009
• Badan atau lembaga nirlaba wajib menyampaikan pemberitahuan (bersamaan dg penyempaian SPT) mengenai rencana fisik sederhana dan rencana biaya
pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dengan tindasan kepada instansi yang membidanginya.
Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)
• bantuan atau santunan
yang dibayarkan oleh
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
kepada
Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya
diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan. (Peraturan
PPh FINAL
Penghasilan Usaha WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu
PP No 46 Tahun 2013
• Atas penghasilan
dari usaha
yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak yang memiliki
peredaran bruto tertentu
, dikenai Pajak
Penghasilan yang bersifat final
• Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu adalah Wajib
Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap; dan
b. menerima, penghasilan dari usaha, tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 dalam 1 Tahun Pajak
• Besarnya tarif Pajak Penghasilan yang bersifat final adalah 1%
• Dasar pengenaan pajak yang digunakan untuk menghitung Pajak
Penghasilan yang bersifat final adalah jumlah peredaran bruto
setiap bulan, untuk setiap tempat kegiatan usaha.
Tidak termasuk Wajib Pajak Badan
Dikenakan PPh FINAL
• Wajib Pajak badan yang belum beroperasi
secara komersial; atau
• Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1
tahun setelah beroperasi secara komersial
memperoleh peredaran bruto melebihi
Rp4.800.000.000,00
Penentuan Saat Beroperasi Komersial
SE - 32/PJ/2014
• saat Wajib Pajak melakukan kegiatan operasi secara
komersial untuk pertama kali bagi Wajib Pajak yang
bergerak di sektor:
– jasa, adalah saat pertama kali dilakukannya penjualan jasa
dan/atau saat diterima atau diperolehnya pendapatan/
penghasilan; dan/atau
– dagang dan industri, adalah saat pertama kali dilakukannya
penjualan barang dan/atau saat diterima atau
Peredaran Bruto yang Menjadi Dasar
• Pengenaan PPh FINAL didasarkan pada peredaran bruto
dari usaha dalam 1 tahun dari Tahun Pajak terakhir
sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan
(tahun
sebelumnya)
• Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4.800.000.000,00
ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha
seluruhnya termasuk dari usaha cabang, tidak termasuk
peredaran bruto dari:
a.
jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas;
b.
penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri;
c.
usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak
Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan tersendiri; dan
Peredaran Bruto yang Menjadi Dasar
bagi WP Baru
• didasarkan pada jumlah peredaran bruto pada
bulan pertama
diperolehnya penghasilan dari
Peredaran Bruto Sebelumnya
Kurang Dari 12 Bulan
• Dalam hal peredaran bruto dari usaha pada Tahun
Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan
tidak meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan,
pengenaan Pajak Penghasilan didasarkan pada
jumlah
peredaran bruto Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun
Pajak bersangkutan yang disetahunkan
• Contoh :
• WP A terdaftar sebagai WP tanggal 1 Oktober 2013. Peredaran
bruto Oktober sd Desember Rp300.000.000.
• Untuk menentukan peredaran bruto sebagai dasar penerapan
PP-46 :
– 300.000.000 x 12/3 = 1.200.000.000
Peredaran Bruto Kumulatif Wajib Pajak Pada Suatu
Bulan Telah Melebihi Jumlah Rp4.800.000.000,00
• Dalam hal peredaran bruto kumulatif Wajib Pajak pada suatu
bulan telah melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 dalam suatu
Tahun Pajak, Wajib Pajak
tetap dikenai tarif PPh FINAL
sampai dengan akhir Tahun Pajak yang bersangkutan
• Contoh :
– Peredaran bruto tahun 2013 Rp4.000.000.000
– Peredaran bruto Januari sd Juni 2014 mencapai Rp4.800.000.000 – Peredaran bruto Juli sd Desember 2014 Rp5.000.000.000
– Wajib pajak selama bulan Juli sd Desember 2014 tetap penghitung sesuai PP-46 dikenakan tarif PPh FINAL
Peredaran Bruto Kumulatif Wajib Pajak Pada Suatu
Bulan Telah Melebihi Jumlah Rp4.800.000.000,00
• Dalam hal peredaran bruto Wajib Pajak telah
melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 pada suatu
Tahun Pajak, atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak pada
Tahun Pajak
berikutnya
dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan
tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan
• Contoh :
– Peredaran bruto tahun 2013 Rp4.000.000.000
– Peredaran bruto Januari sd Juni 2014 mencapai Rp4.800.000.000 – Peredaran bruto Juli sd Desember 2014 Rp5.000.000.000
– Peredaran bruto tahun 2015 Rp3.000.000.000
Wajib Pajak badan yang belum
beroperasi secara komersial
• Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara
komersial dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan
tarif umum
Undang-Undang Pajak Penghasilan
sampai dengan jangka waktu
1 (satu) tahun sejak
beroperasi secara komersial
.
• Dalam hal Jangka waktu 1 (satu) tahun
melewati
Tahun Pajak yang bersangkutan
, ketentuan
pengenaan PPh dengan tarif umum berlaku
sampai dengan akhir Tahun Pajak berikutnya.
SE - 42/PJ/2013
• Penentuan peredaran bruto untuk dikenakan Pajak
Penghasilan yang bersifat final bagi
Wajib Pajak
badan
yang baru beroperasi secara komersial untuk
pertama kali ditentukan berdasarkan peredaran
bruto dari usaha 1 (satu) Tahun Pajak setelah Tahun
Pajak beroperasi secara komersial, pengenaan Pajak
Penghasilan yang bersifat final selanjutnya untuk
Wajib Pajak yang bersangkutan ditentukan
berdasarkan peredaran bruto Tahun Pajak
sebelumnya
Penyetoran dan Pelaporan
• Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan terutang ke kantor
pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain
yang dipersamakan dengan Surat Setoran Pajak, yang telah
mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara,
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa
Pajak berakhir.
• Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Penghasilan wajib
menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling
lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
• Wajib Pajak yang telah melakukan penyetoran Pajak Penghasilan,
dianggap telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Penghasilan, sesuai dengan tanggal validasi Nomor Transaksi
Contoh
2014 Omset Rp0 2015 Omset Rp1M 2016 Omset Rp4M 2017 Omset Rp5M 2018 Omset Rp3M Perusahaan Didirikan 10 Agustus 2014 Perusahaan Beroperasi Komersial 15 April 2015 Pertanyaan :a. Tahun kapan dikenakan PPh Final PP-46 ? b. Tahun kapan dikenakan PPh Badan ?
Penilaian Harta
Pasal 10 ayat (1)
• Harga perolehan atau harga penjualan dalam
hal terjadi jual beli harta yang tidak
dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) adalah
jumlah yang
sesungguhnya
dikeluarkan atau
diterima, sedangkan apabila terdapat
hubungan istimewa adalah jumlah
yang
Penilaian Harta Tukar Menukar
Pasal 10 ayat (2)
• Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal
terjadi
tukar-menukar harta
adalah jumlah
yang seharusnya dikeluarkan atau diterima
berdasarkan
harga pasar
Penilaian Harta
likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau
pengambilalihan usaha
• Nilai perolehan atau pengalihan harta yang
dialihkan dalam rangka likuidasi,
penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, atau pengambilalihan usaha
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan
atau diterima berdasarkan
harga pasar
, kecuali
ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan
Penilaian Harta
Hibah
• Apabila terjadi pengalihan harta :
– yang
BUKAN OBJEK PAJAK
(memenuhi syarat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b),
maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan
sama dengan nilai sisa buku dari pihak yang melakukan
pengalihan atau nilai yang ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak;
– Yang
OBJEK PAJAK
(tidak memenuhi syarat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a), maka dasar
penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan
nilai pasar dari harta tersebut.
Penilaian Harta
Hibah
• Dalam hal terjadi penyerahan harta karena hibah, bantuan,
sumbangan yang
bukan objek pajak
atau warisan, maka nilai
perolehan bagi pihak yang menerima harta adalah nilai sisa
buku harta dari pihak yang melakukan penyerahan. Apabila
Wajib Pajak tidak menyelenggarakan pembukuan sehingga
nilai sisa buku tidak diketahui, maka nilai perolehan atas harta
ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
• Dalam hal terjadi penyerahan harta karena hibah, bantuan,
sumbangan yang
objek pajak
, maka nilai perolehan bagi pihak
yang menerima harta adalah harga pasar
Penilaian Harta
harta yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham
atau sebagai pengganti penyertaan modal
• Apabila terjadi pengalihan harta sebagai
penyertaan modal (sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (3) huruf c), maka dasar
penilaian harta bagi badan yang menerima
pengalihan sama dengan
nilai pasar
dari harta
tersebut
Penilaian Persediaan
• Persediaan dan pemakaian persediaan untuk
penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan
harga perolehan yang dilakukan secara
rata-rata
atau dengan cara
mendahulukan
persediaan yang diperoleh pertama
• Sekali Wajib Pajak memilih salah satu cara
penilaian pemakaian persediaan untuk
penghitungan harga pokok tersebut, maka
untuk tahun-tahun selanjutnya harus
Penghitungan harga pokok penjualan dan nilai
persediaan dengan menggunakan cara rata-rata
Penghitungan harga pokok penjualan dan nilai
persediaan dengan menggunakan cara FIFO
Komersial Vs Fiskal
Deductible Expense
Ps. 6 ayat (1)
• biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak (tidak final)
• biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha, antara lain:
– biaya pembelian bahan;
– biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang;
– bunga, sewa, dan royalti; – biaya perjalanan;
– biaya pengolahan limbah; – premi asuransi;
– biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
– biaya administrasi; dan
Deductible Expense
Ps. 6 ayat (1)
• penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh
harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran
untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal
11A;
– Kelompok Harta Per Menkeu No 96/PMK.03/2009
– Penyusutan Bidang tertentu Per Menkeu
249/PMK.03/2008
Penyusutan
• Metode penyusutan
• Masa manfaat
• Saat dimulainya penyusutan
• Nilai sisa
• Renovasi menambah masa manfaat
• Tukar menukar aktiva
Penyusutan Menurut Ketentuan
Fiskal
• Harta yg dpt disusutkan adalah harta berwujud yang memiliki
masa manfaat lebih dari 1 tahun
yang digunakan untuk
mendapatkan menagih, dan memelihara penghasilan (obyek
pajak), kecuali tanah
• Harta yang tidak digunakan untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan tidak boleh disusutkan secara
fiskal.
• Dalam hal harta yang tidak boleh disusutkan secara fiskal
tersebut dijual (dialihkan),
– keuntungannya merupakan obyek PPh, yang dihitung dari selisih antara harga jual (nilai pasar) dengan harga perolehan.
– Dalam hal selisihnya negatif (rugi), kerugian tersebut tidak dapat
Penyusutan Menurut Ketentuan
Fiskal
• Penyusutan aktiva
dimulai pada bulan
dilakukannya pengeluaran
kecuali untuk harta
yang masih dalam proses pengerjaan,
penyusutannya dimulai pada bulan selesainya
pengerjaan harta tesebut
Metode Penyusutan Aktiva Tetap
• Terhadap aktiva yang temasuk Kelompok I s.d.
Kelompok IV, wajib pajak diperkenankan untuk
memilih antara metode garis lurus (straight line
methode) atau metode saldo menurun (decline
balance methode).
• Terhadap aktiva kelompok bangunan, wajib pajak
harus menerapkan metode garis lurus.
• Penggunaan metode penyusutan tersebut harus
dilakukan secara taat azas.
Metode penyusutan
• Garis lurus (straight line) mengalokasikan
biaya penyusutan dalam bagian yg sama besar
selama masa manfaat yg ditetapkan dari harta
• Saldo menurun mengalokasikan biaya
penyusutan dalam bagian-bagian yg menurun
dg cara menerapkan tarif penyusutan atas
masa manfaat dan tarif penyusutan
Kelompok Harta
Masa
Manfaat
Tarif Garis
Lurus
Tarif Saldo
Menurun
Kelompok I
4 Th
25 %
50 %
Kelompok II
8 Th
12,5 %
25 %
Kelompok III
16 Th
6,25 %
12,5 %
Kelompok IV
20 Th
5 %
10 %
Bangunan
permanen
20 Th
5 %
-
Bangunan tidak
permanen
10 Th
10 %
-
contoh
• PT A membeli 1 unit mobil truck untuk
distribusi barang pada tanggal 5 Januari 2011
senilai Rp 200.000.000
• PT A membeli 1 unit mesin fotocopy pada
contoh
• PT ABC membeli mobil pick up untuk distribusi
barang dagangan tanggal 10 Oktober 2011
seharga 100.000.000
• Pada tanggal 5 April 2014 mobil tersebut
dijual seharga Rp 60.000.000
PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN ATAS BIAYA PEMAKAIAN TELEPON
SELULER DAN KENDARAAN PERUSAHAAN
KEP - 220/PJ./2002
• Atas biaya perolehan atau pembelian telepon seluler yang
dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu
karena jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan sebagai
biaya perusahaan sebesar
50%
(lima puluh persen) dari
jumlah biaya perolehan atau pembelian melalui
penyusutan
aktiva tetap kelompok I
• Atas biaya berlangganan atau pengisian ulang
pulsa
dan
perbaikan telepon seluler yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau
pekerjannya, dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan
sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah biaya
berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan dalam
tahun pajak yang bersangkutan
• Atas biaya perolehan atau pembelian atau
perbaikan besar kendaraan bus, minibus, atau
yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk antar jemput para pegawai,
dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya
perusahaan melalui penyusutan aktiva tetap
kelompok II
• Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin
kendaraan bus, minibus atau yang sejenis
yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan
untuk
antar jemput
para pegawai, dapat
dibebankan seluruhnya sebagai biaya
perusahaan dalam tahun pajak yang
bersangkutan
• Atas biaya perolehan atau
pembelian
atau
perbaikan
besar
kendaraan sedan atau yang sejenis yang
dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai
tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar
50%
(lima puluh persen) dari jumlah biaya perolehan atau
pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan
aktiva tetap kelompok II
• Atas biaya
pemeliharaan atau perbaikan rutin
kendaraan yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan
atau pekerjaannya dapat dibebankan sebagai biaya
perusahaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari
jumlah biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin
dalam tahun pajak yang bersangkutan.
Revaluasi
• Apabila Wajib Pajak melakukan penilaian
kembali aktiva, maka dasar penyusutan atas
harta adalah
nilai setelah dilakukan penilaian
Keuntungan Pengalihan/Penarikan
Harta
• Apabila terjadi pengalihan atau penarikan
harta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
ayat (1) huruf d atau penarikan harta karena
sebab lainnya, maka jumlah nilai sisa buku
harta tersebut dibebankan sebagai kerugian
dan jumlah harga jual atau penggantian
asuransinya yang diterima atau diperoleh
dibukukan sebagai penghasilan pada tahun
terjadinya penarikan harta tersebut
• Pada dasarnya keuntungan atau kerugian karena pengalihan harta dikenai pajak dalam tahun dilakukannya pengalihan harta tersebut.
• Apabila harta tersebut dijual atau terbakar, maka penerimaan neto dari penjualan harta tersebut, yaitu selisih antara harga penjualan dan biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan penjualan tersebut dan atau
penggantian asuransinya, dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penjualan atau tahun diterimanya penggantian asuransi, dan nilai sisa buku dari harta tersebut dibebankan sebagai kerugian dalam tahun pajak yang bersangkutan
• Dalam hal penggantian asuransi yang diterima jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti pada masa kemudian, Wajib Pajak dapat
mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak agar jumlah sebesar kerugian tersebut dapat dibebankan dalam tahun penggantian asuransi tersebut
• Apabila terjadi pengalihan harta yang
bukan
objek pajak
(memenuhi syarat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan
huruf b), yang berupa harta berwujud, maka
jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak
boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak
yang mengalihkan
Amortisasi harta tak berwujud 1
• Pengeluaran untuk memperoleh harta tak
berwujud dan pengeluaran lainnya
• yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu
tahun, yang digunakan untuk mendapatkan,
Amortisasi harta tak berwujud 2
• Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya
perluasan modal (dapat dipilih apakah diamortisasi
dengan metode di atas atau langsung dibebankan
seluruhnya pada tahun terjadinya).
• Pengeluaran yang dilakukan sebelum perusahaan
beroperasi komersial yang memiliki masa manfaat
lebih dari satu tahun, dikapitalisasi (sebagai biaya
praoperasi) kemudian dimortisasi
Amortisasi harta tak berwujud 3
• pengeluaran praoperasi adalah biaya-biaya yang
dikeluarkan sebelum perusahaan beroperasi
komersial, misalnya biaya study kelayakan dan biaya
produksi percobaan,
• tetapi tidak termasuk biaya-biaya operasional yang
sifatnya rutin, seperti gaji pegawai, rekening listrik
dan telepon, dan biaya kantor lainnya.
• Pengeluaran yang rutin tersebut harus dibebankan
sekaligus pada tahun terjadinya
masa manfaat dan tarif amortisasi
Kelompok Harta
Masa
Manfaat
Tarif Garis
Lurus
Tarif Saldo
Menurun
Kelompok I
4 Th
25 %
50 %
Kelompok II
8 Th
12,5 %
25 %
Kelompok III
16 Th
6,25 %
12,5 %
Kelompok IV
20 Th
5 %
10 %
Amortisasi Hak
Penambangan Migas
• Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan
pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1
tahun di bidang
penambangan minyak dan gas
bumi dilakukan
dengan menggunakan
metode satuan produksi.
• Contoh
– PT A mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp10 Milyar. Taksiran jumlah kandungan minyak di daerah tersebut adalah sebanyak 200 juta barel
Amortisasi
Hak Penambangan Lainnya
• Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak
penambangan
– selain migas,
– hak pengusahaan hutan, dan
– hak pengusahaan sumber alam serta hasil alam lainnya
• yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun,
dilakukan dengan menggunakan metode satuan
produksi setinggi-tingginya 20% setahun.
Contoh
• Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan,
yang mempunyai potensi 10.000.000 ton kayu, sebesar
Rp500.000.000 diamortisasi sesuai dengan persentase satuan
produksi yang direalisasikan dalam tahun yang bersangkutan.
• Jika dalam 1 tahun pajak ternyata jumlah produksi mencapai
3.000.000 ton yang berarti 30% dari potensi yang tersedia,
• walaupun jumlah produksi pada tahun tersebut mencapai
30% dari jumlah potensi yang tersedia, besarnya amortisasi
yang diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan
bruto pada tahun tersebut adalah 20% dari pengeluaran atau
Rp100.000.000,00
Pengalihan hak
• Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud
atau hak, maka nilai sisa buku harta atau
hak-hak tersebut dibebankan sebagai kerugian dan
jumlah yang diterima sebagai penggantian
merupakan penghasilan pada tahun terjadinya
pengalihan tersebut.
• PT X mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp500.000.000,00. Taksiran jumlah kandungan minyak di daerah tersebut adalah sebanyak 200.000.000 (dua ratus juta) barel. Setelah produksi minyak dan gas bumi mencapai
100.000.000 (seratus juta) barel, PT X menjual hak penambangan tersebut kepada pihak lain dengan harga sebesar Rp300.000.000,00. Penghitungan penghasilan dan kerugian dari penjualan hak tersebut adalah sebagai
berikut :
– Harga perolehan Rp 500.000.000,00 – Amortisasi yang telah dilakukan
100.000.000/200.000.000 barel (50%) Rp 250.000.000,00
– Nilai buku harta Rp 250.000.000,00 – Harga jual harta Rp 300.000.000,00
• Dengan demikian jumlah nilai sisa buku sebesar Rp 250.000.000,00 dibebankan sebagai kerugian dan jumlah sebesar Rp300.000.000,00 dibukukan sebagai penghasilan.
PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGELUARAN/BIAYA PEROLEHAN PERANGKAT LUNAK (SOFTWARE) KOMPUTER
KEP - 316/PJ./2002
• Perangkat lunak (software) komputer adalah semua program
yang (lapat digunakan pada sistem operasi komputer .
• Program aplikasi umum adalah program yang dapat
dipergunakan oleh pengguna (users) umum untuk memproses
berbagai pekerjaan dengan komputer .
• Program aplikasi khusus adalah program yang dirancang
khusus untuk keperluan otomatisasi sistem administrasi,
pekerjaan atau kegiatan usaha tertentu, seperti di bidang
perbankan, pasar modal, perhotelan, rumah sakit atau
penerbangan.
• Perangkat lunak komputer merupakan harta tak
berwujud (intangible asset) yang mempunyai masa
manfaat lebih dari satu tahun dan termasuk dalam
kelompok-1 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11A
ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan.
• Perangkat lunak komputer berupa program aplikasi
umum diperlakukan sebagai pengeluaran atau biaya
operasional rutin
• Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat
lunak komputer berupa program aplikasi umum yang dimiliki
dan digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan
umum Undang-undang Pajak Penghasilan, pembebanannya
dilakukan sekaligus dalam bulan pengeluaran
• Dalam hal program aplikasi umum tersebut diperoleh sebagai
bagian dari harga pembelian perangkat keras komputer, maka
pembebanannya sudah termasuk dalam penyusutan
• Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat
lunak komputer berupa program aplikasi khusus yang dimiliki
dan dipergunakan untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan
ketentuan umum Undang-undang Pajak Penghasilan,
pembebanannya dilakukan melalui amortisasi harta tak
berwujud (Kelompok-1).
• Dalam hal pengeluaran/biaya upgrade program aplikasi
khusus tersebut pada ayat (3). pengeluaran/biaya tersebut
terlebih dahulu ditambahkan pada nilai sisa buku fiskal yang
masih ada dan amortisasinya dilakukan dengan masa manfaat
baru/penuh terhitung mulai bulan dilakukan upgrade.
JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1 Nomor Jenis Usaha Jenis Harta
1 Semua jenis usaha a. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk meja, bangku, kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan bagian dari bangunan.
b. Mesin kantor seperti mesin tik, mesin hitung, duplikator, mesin fotokopi, mesin akunting/pembukuan, komputer, printer, scanner dan sejenisnya.
c. Perlengkapan lainnya seperti amplifier, tape/cassette, video recorder, televisi dan sejenisnya.
d. Sepeda motor, sepeda dan becak.
e. Alat perlengkapan khusus (tools) bagi industri/jasa yang bersangkutan.
f. Dies, jigs, dan mould.
g. Alat-alat komunikasi seperti pesawat telepon, faksimile, telepon seluler dan sejenisnya.
2 Pertanian, perkebunan, kehutanan,
Alat yang digerakkan bukan dengan mesin seperti cangkul, peternakan, perikanan, garu dan lain-lain.
3 Industri makanan dan minuman
Mesin ringan yang dapat dipindah-pindahkan seperti, huller, pemecah kulit, penyosoh, pengering, pallet, dan sejenisnya. 4 Transportasi dan
Pergudangan
Mobil taksi, bus dan truk yang digunakan sebagai angkutan umum.
5 Industri semi konduktor Falsh memory tester, writer machine, biporar test system, elimination (PE8-1), pose checker.
6 Jasa Persewaan Peralatan Tambat Air Dalam
Anchor, Anchor Chains, Polyester Rope, Steel Buoys, Steel Wire Ropes, Mooring Accessoris.
7 Jasa telekomunikasi selular
JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 2 Nomor Jenis Usaha Jenis Harta
1 Semua jenis usaha a. Mebel dan peralatan dari logam termasuk meja, bangku, kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan merupakan bagian dari bangunan. Alat pengatur udara seperti AC, kipas angin dan sejenisnya.
b. Mobil, bus, truk, speed boat dan sejenisnya. c. Container dan sejenisnya.
2 Pertanian, perkebunan,
kehutanan, perikanan
a. Mesin pertanian/perkebunan seperti traktor dan mesin bajak, penggaruk, penanaman, penebar benih dan sejenisnya.
b. Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau memproduksi bahan atau barang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.
3 Industri makanan dan minuman
a. Mesin yang mengolah produk asal binatang, unggas dan perikanan, misalnya pabrik susu, pengalengan ikan . b. Mesin yang mengolah produk nabati, misalnya mesin
minyak kelapa, margarin, penggilingan kopi, kembang gula, mesin pengolah biji-bijian seperti penggilingan beras, gandum, tapioka.
c. Mesin yang menghasilkan/memproduksi minuman dan bahan-bahan minuman segala jenis.
d. Mesin yang menghasilkan/memproduksi bahan-bahan makanan dan makanan segala jenis.
4 Industri mesin Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin ringan (misalnya mesin jahit, pompa air).
5 Perkayuan, kehutanan a. Mesin dan peralatan penebangan kayu.
b. Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau memproduksi bahan atau barang kehutanan.
6 Konstruksi Peralatan yang dipergunakan seperti truk berat, dump truck, crane buldozer dan sejenisnya.
JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 2
7 Transportasi dan Pergudangan
a. Truk kerja untuk pengangkutan dan bongkar muat, truk peron, truck ngangkang, dan sejenisnya;
b. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk pengangkutan barang tertentu (misalnya gandum, batu - batuan, biji tambang dan sebagainya) termasuk kapal pendingin, kapal tangki, kapal penangkap ikan dan sejenisnya, yang mempunyai berat sampai dengan 100 DWT;
c. Kapal yang dibuat khusus untuk menghela atau mendorong kapal-kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, keran terapung dan sejenisnya yang mempunyai berat sampai dengan 100 DWT;
d. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai berat sampai dengan 250 DWT;
e. Kapal balon.
8 Telekomunikasi a. Perangkat pesawat telepon;
b. Pesawat telegraf termasuk pesawat pengiriman dan penerimaan radio telegraf dan radio telepon.
9 Industri semi konduktor Auto frame loader, automatic logic handler, baking oven, ball shear tester, bipolar test handler (automatic), cleaning machine, coating machine, curing oven, cutting press, dambar cut machine, dicer, die bonder, die shear test, dynamic burn-in system oven, dynamic test handler, eliminator (PGE-01), full automatic handler, full automatic mark, hand maker, individual mark, inserter remover machine, laser marker (FUM A-01), logic test system, marker (mark), memory test system, molding, mounter, MPS automatic, MPS manual, O/S tester manual, pass oven, pose checker, re-form machine, SMD stocker, taping machine, tiebar cut press, trimming/forming machine, wire bonder, wire pull tester.
10 Jasa Persewaan Peralatan Tambat Air Dalam
Spoolling Machines, Metocean Data Collector 11 Jasa Telekomunikasi
Seluler
Mobile Switching Center, Home Location Register, Visitor Location Register. Authentication Centre, Equipment Identity Register, Intelligent Network Service Control Point, intelligent Network Service Managemen Point, Radio Base Station, Transceiver Unit, Terminal SDH/Mini Link, Antena