63
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
4.1.1 Letak dan Keadaan Perumahan Graha Puspa
Perumahan Graha Puspa terletak di Jalan sersan Bajuri KM 5, desa Sukaja
kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Graha Puspa de Ville ini
terwujud oleh Gapura Prima Group selaku pengembang. Perumahan megah yang
di desain dengan lingkungan yang nyaman dan diciptakan dengan konsep rumah
taman yang berwawasan lingkungan sesuai dengan program pemerintah untuk
pelestarian wilayah Bandung.
4.1.2 Kependudukan
Kependudukan merupakan hal yang penting dalam menentukan
karakteristik suatu wilayah. Karakteristik kependudukan dari suatu wilayah pasti
akan berubah tiap tahunnya. Berdasarkan data tahun 2009 jumlah penduduk di
Perumahan Graha Puspa adalah sebanyak 345 jiwa dengan jumlah laki-laki
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Komplek Graha Puspa Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2009
No Jenis Kelamin Jumlah Persen
1 Laki-Laki 168 48,69 %
2 Perempuan 177 51,31 %
Total 345 100 %
Sumber : Profil Perumahan Graha Puspa
Berdasarkan tabel di atas jumlah persentasi penduduk laki-laki adalah
48,69 % dan penduduk perempuan sebesar 51,31 %. Persentasi jumlah penduduk
perempuan lebih besar 2,62 % dibandingkan dengan penduduk laki-laki.
4.1.3 Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu hal yang bisa dijadikan sebagai tolak
ukur kemajuan suatu bangsa melalui perhitungan IPM (Indeks Pembangunan
Manusia). Pendidikan yang ditempuh masyarakat di Perumahan Graha Puspa
beranekaragam. Di bawah ini tabel karakteristik gambaran tingkat pendidikan
Tabel 4.2
Jumlah Penduduk Komplek Graha Puspa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2009
No Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah %
1 Tidak/belum sekolah 26 29 55 16 2 TK - 1 1 0,3 3 SD 20 10 30 8,7 4 SMP 15 12 27 7,8 5 SMA 49 58 107 31 6 Akademi/Sarjana Muda 9 16 25 7,2 7 S1 35 39 74 21,4 8 S2 11 5 16 4,6 9 S3 8 2 10 3 Jumlah 168 177 345 100
Sumber: Profil Perumahan Graha Puspa
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan masyarakat di
Perumahan Graha Puspa yaitu 0,3% TK, 8,7% SD, 7,8% SMP, 31% SMA,
akademi/sarjana muda 7,2%, S1 21,4%, S2 4,6%, S3 3%, dan sisanya sebanyak
4.1.4 Status Sosial
Status sosial suatu masyarakat dapat dilihat dari mata pencahariannya.
Berikut tabel jenis mata pencaharian masyarakat di Perumahan Graha Puspa:
Tabel 4.3
Jumlah Penduduk Komplek Graha Puspa Berdasarkan Status Sosial Tahun 2009
No Status Sosial Laki-laki Perempuan Jumlah %
1. Wiraswasta 23 12 35 10 2. Ibu Rumah Tangga - 40 40 11 3. Pensiunan 13 3 16 4,5 4. PNS 11 7 18 5 5. Dokter 3 2 5 2 6. Pegawai Swasta 15 11 26 8 7. DPR 1 - 1 0,3 8. Pegawai BUMN 3 2 5 2 9. Arsitek 1 - 1 0,3 10. Advokat 1 - 1 0,3 11. Notaris - 1 1 0,3 12. Pegawai Telkom 1 - 1 0,3 13. Pelajar 96 99 195 56 Jumlah 168 177 345 100
Sumber: Profil Perumahan Graha Puspa
Dari data di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar masyarakat di
Perumahan Graha Puspa masih bersekolah, yaitu sebanyak 56%, wirawsasta 11%,
pegawai swasta 8%, PNS 5%, dan sisanya bermatapencaharian sebagai dokter,
4.1.5 Spesifikasi Objek Penelitian
Sepesifikasi objek penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga yang
bertempat tinggal di Perumahan Graha Puspa Desa Sukajaya Kecamatan Lembang
Kabupaten Bandung Barat. Dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 81 dan yang
dijadikan sampel sebanyak 50 kepala keluarga.
4.2 Gambaran Khusus Hasil Penelitian 4.2.1 Karakteristik Responden
Karakteristik distribusi responden yang berhasil diperoleh adalah
berdasarkan jenis mata pencaharian. Berikut dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Mata pencaharian No Jenis Mata Pencaharian Frekuensi %
1 PNS 7 14
2 Wiraswasta 22 44
3 Pegawai Swasta 19 38
4 Pegawai BUMN 2 4
Jumlah 50 100
Sumber: Data Angket Penelitian (diolah)
Berdasarkan tabel di atas, distribusi responden hanya dibagi ke dalam
empat mata pencaharian agar data yang diperoleh bervariasi, terdiri dari PNS
14%, wiraswasta 44%, pegawai swasta 38%, dan pegawai BUMN 4%. ,mata
pencaharian tersebut merupakan mata pencaharian terbanayk yang ada di
4.3 Gambaran Variabel Penelitian
Penelitian yang dilakukan terdiri dari empat variabel yang terbagi menjadi
tiga variabel bebas dan satu variabel terikat. Ketiga variabel bebas tersebut adalah
Pendapatan (X1), pajak (X2), dan demontration effect (X3) sedangkan variabel
terikat adalah marginal propensity to save atau MPS (Y). Berikut akan diuraikan
secara terperinci untuk masing-masing variabel.
4.3.1 Pendapatan
Pendapatan adalah sejumlah balas jasa yang diterima seseorang dari
kegiatan produksinya atau usahanya. Factor yang paling mempengaruhi terhadap
pengeluaran konsumsi masyarakat adalah pendapatan.
Menurut Keynes tabungan adalah pendapatan yang dikurangi
pengeluaran-pengeluaran konsumtif. Berikut rata-rata pendapatan yang diperoleh responden
pada tahun 2007-2008:
Tabel 4.5
Jawaban Responden Untuk Rata-rata Pendapatan Tahun 2007-2008
No Pendapatan Frekuensi % 1 ≤ 50.000.000 1 2 2 51.000.000 – 100.000.000 20 40 3 101.000.000 – 150.000.000 20 40 4 151.000.000 – 200.000.000 5 10 5 ≥ 201.000.000 4 8 Jumlah 50 100
Berdasarkan data di atas rata-rata pendapatan paling tinggi dengan
persentasi 40% yaitu antara Rp.51.000.000 - Rp.100.000.000 dan antara
Rp.101.000.000 – Rp.150.000.000, 10% antara Rp.151.000.000 –
Rp.200.000.000, pada kisaran ≥ Rp.201.000.000 sebesar 8%. Sedangkan untuk
pendapatan terendah sebesar 2% yaitu berkisar ≤ Rp.50.000.000.
4.3.2 Pajak
Kebijakan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah salah satunya adalah
penetapan pajak. Pajak yang dibayarkan oleh masyarakat tentu akan menyebabkan
menurunnya pendapatan yang berdampak terhadap berkurangnya konsumsi dan
tabungan masyarakat. Berikut jawaban responden atas besarnya pajak yang harus
dibayar setiap tahun:
Tabel 4.6
Jawaban Responden Untuk Rata-rata Pengeluaran Pajak Tahun 2007-2008
No Pajak Frekuensi % 1 ≤ 2.500.000 14 28 2 2.600.000 – 5.000.000 13 26 3 5.100.000 – 7.500.000 10 20 4 7.600.000 – 10.000.000 5 10 5 ≥ 10.100.000 8 16 Jumlah 50 100
Berdasarkan data di atas, pengeluaran pajak terbesar sebesar 28% yaitu
≤ Rp.2.500.000, dan terendah anntara Rp.7.600.000 – Rp.10.000.000 sebesar
10%. Sisanya sebesar 26% pada kisaran antara Rp.2.600.000 – Rp.5.000.000,
20% antara Rp.5.100.000 – Rp.7.500.000, dan 16% pada kisaran ≥ 10.100.000.
4.3.3 Demontration Effect
Duesenberry (Muana Nanga, 2000:114) demonstration effect adalah
masyarakat berpendapatan rendah cenderung meniru atau mengkopi pola
konsumsi dari masyarakat yang ada di sekelilingnya yang cenderung menaikkan
pengeluaran konsumsinya.
Menurut ML.Jhingan (Suryana, 2000: 39) demonstration effect tidak
hanya mengurangi kemampuan untuk menabung, tetapi juga mempersulit
pemerintah dalam menggunakan keuangan Negara sebagai sarana pembentukkan
modal. Disini terlihat Negara akan mengeluarkan sejumlah dana karena adanya
permintaan barang-barang tertentu dari masyarakat sebagai akibat dari mengkopi
kehidupan masyarakat luar negeri.
Di bawah ini jawaban responden untuk rata-rata pengeluaran konsumsi
Tabel 4.7
Jawaban Responden Untuk Rata-rata Pengeluaran Konsumsi Barang Mewah (Demontration Effect) Tahun 2007-2008
No Demontration Effect Frekuensi %
1 ≤ 7.500.000 7 14 2 7.600.000 – 15.000.000 23 46 3 15.100.000 – 22.500.000 16 32 4 22.600.000 – 30.000.000 2 4 5 ≥ 30.100.000 2 4 Jumlah 50 100
Sumber: Data Angket Penelitian (diolah)
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa pengeluaran untuk konsumsi barang
mewah (demontration effect) tertinggi yaitu sebesar 46% berada pada kisaran
antara Rp.7.600.000 – Rp.15.000.0000, dan terendah yaitu sebesar 4% pada
kisaran antara Rp.22.600.000 – Rp.30.000.000 dan pada kisaran ≥ Rp.30.100.000.
Sisanya sebesar 32% pada kisaran Rp.15.100.000 – Rp.22.500.000, dan 14% pada
kisaran ≤ Rp.7.500.000.
4.3.4 Marginal Propensity to Save (MPS)
Marginal Propensity To Save atau MPS adalah angka pecahan yang
menunjukkan besarnya kenaikan pendapatan yang ditabung, atau dapat juga
didefinisikan sebagai kecenderungan untuk menabung marginal sebagai
pertambahan dalam penabungan yang disebabkan karena sesuatu pertambahan
sebesar Rp. 1 dalam pendapatan (Sadono Sukirno: 2002)
Perekonomian masyarakat dapat dikatakan berjalan dengan stabil apabila
pendapatan yang diperoleh masyarakat mengalami peningkatan atau minimal
berada pada kondisi yang stabil. Dari besarnya pendapatan yang diperoleh
tersebut, hendaknya masyarakat dapat menyisihkan dari sebagian pendapatannya
untuk ditabung, karena tabungan masyarakat adalah salah satu sumber investasi
yang dapat digunakan untuk menjalankan pembangunan, semakin besar tabungan
masyarakat, tingkat investasi pun semakin besar dan semakin tinggi pula
kesempatan untuk melaksanakan pembangunan diberbagai sector.
Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat maka akan merangsang
meningkatnya jumlah tabungan masyarakat dan kecenderungan masyarakat untuk
mengkonsumsi akan menjadi berkurang.
Berikut data Marginal Propensity to Save masyarakat di perumahan Graha
Puspa, yang diambil dari jawaban responden tentang besarnya pendapatan yang
Tabel 4.8
Perbandingan Perubahan Pendapatan dan Perubahan Tabungan
(Marginal Propensity to Save atau MPS)
No Pendapatan (Y) (dalam ribuan) ∆Y (dalam ribuan) Tabungan (S) (dalam ribuan) ∆S (dalam ribuan) MPS (∆S/∆Y) 2007 2008 2007 2008 1 60000 72000 12000 2000 3000 1000 0,08 2 85000 96000 11000 2500 3000 500 0,05 3 126000 144000 18000 5000 7500 2500 0,14 4 78000 72000 -6000 2400 1500 -900 0,15 5 120000 108000 -12000 5000 6000 1000 0,08 6 162000 180000 18000 12000 12000 0 0 7 108000 120000 12000 12000 15000 3000 0,25 8 216000 240000 24000 12500 15000 2500 0,1 9 60000 60000 0 12000 10000 -2000 0 10 96000 90000 -6000 5000 4000 -1000 0,17 11 44400 54000 9600 6000 9000 3000 0,06 12 42500 60000 17500 8000 9000 1000 0,06 13 96000 120000 24000 6000 7500 1500 0,06 14 72000 78000 6000 5000 6000 1000 0,16 15 54000 60000 6000 5000 6000 1000 0,16 16 54000 66000 12000 7500 9000 1500 0,12 17 96000 110400 14400 12000 15000 3000 0,2 18 120000 132000 12000 18000 17500 -500 0,12 19 108000 126000 18000 12000 15000 3000 0,16 20 114000 132000 18000 18000 24000 6000 0,3 21 138000 156000 18000 21000 24000 3000 0,16 22 144000 168000 24000 27000 33000 6000 0,25 23 228000 252000 24000 36000 40000 4000 0,16 24 252000 276000 24000 30000 32000 2000 0,08 25 140000 153000 13000 12000 15000 3000 0,23 26 102000 114000 12000 9000 12000 3000 0,25 27 72000 90000 18000 7500 9000 1500 0,08 28 66000 78000 12000 8000 9000 1000 0,08 29 132000 120000 -12000 12000 10000 -2000 0,16 30 90000 96000 6000 6000 7500 1500 0,25 31 150000 168000 18000 3000 36000 33000 0,3 32 180000 192000 12000 32000 36000 4000 0,3 33 168000 186000 18000 21000 24000 3000 0,16 34 126000 108000 -1800 18000 12000 -6000 0,3 35 96000 110400 14400 10000 15000 5000 0,35
Sumber: Data Angket Penelitian (diolah)
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kecenderungan menabung
masyarakat di Perumahan Graha Puspa sangat beragam, nilai MPS terbesar yaitu
sebesar 0,27, yang mana responden tersebut bermatapencaharian sebagai
wiraswasta. Tingginya nilai MPS ini karena responden mengalami kenaikan
dalam pendapatannya, sehingga jumlah pendapatan yang disisihkan untuk
ditabung pun mengalami peningkatan.
36 117000 126000 9000000 9000 10000 1000 0,1 37 114000 132000 18000000 18000 24000 6000 0,3 38 102000 114000 12000000 9000 12000 3000 0,25 39 126000 144000 18000000 5000 7500 2500 0,14 40 96000 90000 -6000000 5000 4000 -1000 0,16 41 140000 153000 13000000 18000 21000 3000 0,23 42 234000 252000 18000000 25000 30000 5000 0,27 43 72000 90000 18000000 7500 9000 1500 0,1 44 156000 138000 -18000000 21000 17500 -3500 0,19 45 75000 90000 15000000 18000 21000 3000 0,2 46 42500 60000 17500000 8000 9000 1000 0,05 47 60000 72000 12000000 2000 3000 1000 0,08 48 51120 52920 1800000 6800 7200 400 0,2 49 66000 78000 12000000 8000 9000 1000 0,08 50 96000 110400 14400000 7500 8500 1000 0,7
4.4 Analisis Data Hasil Penelitian 4.4.1 Uji Normalitas Sebaran Data
Data yang baik adalah data yang mempunyai pola seperti distribusi normal
(data terbesar secara normal). Distribusi data dikatakan tersebar secara normal
apabila nilai sig > α. Sebaliknya, data dikatakan tidak tersebar secara normal
apabila nilai sig < α.
Berdasarkan pengolahan data dengan bantuan SPSS (Statistical Product
and service sollution) yang dilakukan dengan menggunakan rumus One–Sample Kolmogorov-Smirnov, diperoleh hasil bahwa semua data dalam penelitian ini
adalah normal. Sebab, nilai signifikansi masing-masing variabel yakni pendapatan
(X1) sebesar 0,952, pajak (X2) sebesar 0,209, demontration effect (X3) sebesar
0,309, dan variabel Marginal Propensity to Save (Y) sebesar 0,246. Dengan
demikian, karena signifikansi semua variabel > α (0,05) maka data semua variabel
dapat dikatakan berdistribusi normal sehingga layak untuk dianalisis dengan
menggunakan statistik parametrik yaitu analisis regresi. Hasil pengujian data yang
dilakukan dengan One-Sample Kolmogorov-Smirnov sebagaimana telah diuraikan
di atas dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 4.9
Hasil Uji Normalitas dengan One- Sample Kolmogorov - Smirnov
Variabel Signifikansi Keterangan
Pendapatan (X1) Pajak (X2) Demontration Effect (X3) MPS (Y) 0,952 0,209 0,309 0,246 Normal Normal Normal Normal
4.4.2 Hasil Estimasi Regresi Berganda
Analisis dalam model penelitian ini berupa model regresi linear berganda.
Analisis ini digunakan untuk mengetahui kontribusi masing-masing variabel
bebas terhadap variabel terikat. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui besarnya
pengaruh pendapatan, pajak dan demontration effect terhadap tingkat marginal
propensity to save (MPS) masyarakat di komplek Graha Puspa Desa Sukajaya
Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.
Hasil analisis regresi atas tiga variabel independen terhadap variabel
dependen dalam penelitian ini adalah sebagaimana akan diuraikan berikut ini.
a. Uji Koefisien Determinasi
Hasil uji koefisien determinasi dalam model persamaan regresi ini adalah
sebagaimana ditunjukkan tabel 4.12 berikut.
Tabel 4.10
Koefisien Determinasi antara Variabel X dengan Variabel Y
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .715a .511 .479 .08221 1.521
a. Predictors: (Constant), DE, Pajak, Pendapatan
b. Dependent Variable: MPS
Sumber: hasil perhitungan dengan SPSS
Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa Nilai R2 adalah sebesar 0,511.
Hal ini menunjukkan bahwa koefisien determinasi variabel-variabel independen
terhadap variabel dependen adalah sebesar 51,1%. Dengan kata lain, hal ini berarti
effect) terhadap variabel Y adalah sebesar 51,1% sedangkan sisanya dipengaruhi
oleh faktor lain sebesar 48,9%.
b. Model Persamaan Regresi
Hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil analisis statistik atas tiga
variabel X terhadap variabel Y menghasilkan persamaan regresi sebagaimana
ditunjukkan tabel berikut.
Tabel 4.11
Nilai Penduga Koefesien Regresi
Variabel Koefisien Nilai thitung Sig Ket
(Constant) -1,382 -
X1 0,136 3,919 0,000 Signifikan
X2 -0,007 -0,336 0,738 Tidak
signifikan
X3 -0,053 -2,129 0,039 signifikan
Berdasarkan Tabel di atas dapat dibuat persamaan regresi linear berganda
sebagai berikut :
Y = -1,382 + 0,136X1– 0,007X2 – 0,053X3 R2 = 0,511
Berdasarkan persamaan regresi yang dihasilkan, nilai konstanta sebesar
-1,382 berarti bahwa tanpa adanya pendapatan (X1), pajak (X2) dan demontration
effect (X3), Marginal Propensity to Save masyarakat di komplek Graha Puspa
Desa Sukajaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat adalah sebesar
-1,382. Koefisien 0,136 pada pendapatan (X1) menunjukkan bahwa apabila
pendapatan naik sebesar satu satuan, maka tingkat MPS masyarakat akan
maka semakin tinggi pula Marginal Propensity to Save masyarakat dengan asumsi
cateris paribus.
Bentuk pengaruh pajak (X2) terhadap marginal propensity to save
masyarakat di Indonesia (Y) adalah negatif dengan koefisien regresinya adalah
-0,007. Apabila Pajak meningkat sebesar satu satuan, maka marginal propensity
to save masyarakat di Indonesia akan menurun pula sebesar 0,007 satuan. Hal ini
berarti bahwa semakin tinggi pajak maka marginal propensity to save masyarakat
di Komplek Graha Puspa akan semakin rendah dengan asumsi cateris paribus.
Adapun bentuk pengaruh Demontration Effect (X3) terhadap marginal
propensity to save di Komplek Graha Puspa (Y) adalah negatif dengan koefisien
regresinya adalah -0,053. Apabila tingkat demontration effect masyarakat secara
nominal meningkat sebesar satu satuan, maka marginal propensity to save
masyarakat akan menurun sebesar 0,053 satuan. Hal ini berarti semakin tinggi
tingkat demontration effect masyarakat, maka marginal propensity to save
masyarakat akan semakin rendah dengan asumsi cateris paribus.
c. Uji Signifikansi 1) Uji F
Hasil uji F atas model persamaan regresi yang dihasilkan adalah sebagai
beikut:
Tabel 4.12 Hasil Uji F
Model Fhitung FTabel Sig. Keterangan
1 15,998 3,489 0,000 Signifikan
Uji hipotesis melalui uji F diperoleh melalui tabel anova. Pada tabel di
atas tampak bahwa nilai F test adalah sebesar 15,998 dengan tingkat signifikansi
sebesar 0.000. Uji hipotesis dilakukan dengan membandingkan antara F hitung
terhadap F tabel dengan langkah-langkah sebagaimana telah diuraikan pada
bagian sebelumnya. Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa nilai Fhitung sebesar
15,998 > Ftabel sebesar 3,489. Oleh karena itu, maka semua variabel secara
simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap marginal propensity to save
masyarakat di komplek Graha Puspa Desa Sukajaya Kecamatan Lembang
Kabupaten Bandung Barat.
2) Uji t
Hasil pengujian pengaruh masing-masing variabel secara parsial terhadap
kecenderungn menabung marginal (marginal propensity to save) masyarakat
adalah sebagaimana ditunjukkan tabel berikut.
Tabel 4.13 Hasil Uji t
Variabel Independen Thitung ttabel Sig. Keterangan
pendapatan (X1) 3,919 2,000 0,000 Signifikan
Pajak (X2) 0,336 2,000 0,738 Tidak Signifikan
Demontration Effect (X3) 2,129 2,000 0,039 Signifikan
Gambar 4.1 Hasil Uji t (uji dua arah)
Berdasarkan gambar di atas, tampak bahwa hasil uji t pada variabel
pendapatan (X1) dan variabel demontration effect (X3) signifikan. Hal tersebut
dapat dilihat dari nilai thitung pada masing-masing variabel yaitu 3,919, dan 2,129
berada di daerah penerimaan Ha dan menolak H0, yaitu lebih besar daripada ttabel
sebesar 2,000. Dengan demikian, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya kedua
variabel tersebut yakni pendapatan (X1) dan Demontration Effect (X3) secara
parsial memiliki pengaruh yang sigifikan terhadap Marginal Propensity to Save
masyarakat.
Adapun untuk variabel pajak, tampak bahwa nilai thitung sebesar 0,336
berada di daerah penerimaan H0 dan menolah Ha. Nilai thitung lebih kecil daripada
2,000 dan lebih besar daripada -2,000. Dengan demikian, khusus untuk variabel
X2 (pajak), H0 diterima dan Ha ditolak. Artinya variabel pajak (X2) secara parsial
tidak memiliki pengaruh yang sigifikan terhadap Marginal Propensity to Save
masyarakat. Terima Ha tolak H0 (signifikan) Terima Ha tolak H0 (signifikan) Tolak Ha terima H0 (tidak signifikan) -2 0,336 2 2,129 3,919
d. Uji Asumsi Klasik
1) Multikolinieritas
Satu dari asumsi model regresi linier klasik adalah bahwa tidak terdapat
multikolinieritas diantara variabel-variabel independent yang termasuk dalam
model. Istilah multikolinieritas menunjukkan adanya derajat kolinieritas yang
tinggi diantara variabel-variabel bebas. Bila variabel-variabel bebas berkorelasi
secara sempurna, maka koefisien regresi dari variabel bebas tidak dapat
ditentukan dan memiliki standar error yang tak hingga. Namun, apabila
keterkaitan linier ini kurang sempurna, maka meskipun koefisien regresi dapat
ditentukan, tetapi memiliki standar error yang sangat besar, yang berarti koefisien
regresi tidak dapat diestimasi dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Tabel 4.14 Nilai VIF & Tolerance
Model Collinearity Statistic
Tolerance VIF
I Pendapatan 0,619 1,617
Pajak 0,890 1,123
Demontration Effect 0,673 1,486
sumber : hasil perhitungan dengan SPSS
Salah satu alternatif untuk mendeteksi multikolinieritas yaitu melalui
faktor varian inflasi (VIF, Variance Inflation Factor) yang bisa dilihat pada tabel
di atas. Hasil pengolahan data menunjukkan nilai VIF untuk variabel X1
(pendapatan), X2 (pajak), dan X3 (demontration effect) adalah sebesar 1,617,
1,123, dan 1,486. Karena nilai VIF dari semua variabel bebas adalah kecil, yaitu
di bawah 5, dengan demikian variabel-variabel tersebut tidak mempunyai
2) Heteroskedastisitas
Beberapa akibat yang ditimbulkan akibat adanya heteroskedastisitas
(Sumodiningrat, 1994:266) :
a) Penaksir-penaksir OLS tidak akan bias (unbiased)
b) Artinya, penaksir-penaksir kuadrat terkecil adalah unbiased, sekalipun
dalam kondisi heteroskedastisitas. Hal ini disebabkan karena di sini
tidak digunakan asumsi homoskedastisitas.
c) Varian dari koefisien-koefisien OLS salah.
d) Penaksir-penaksir OLS akan menjadi tidak efisien.
Kriteria pengujian untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastis bisa
dilakukan melalui analisis grafik hasil output SPSS dengan kriteria berikut :
1) Jika grafik mengikuti pola tertentu misal linier, kuadratik atau
hubungan lain berarti pada model tersebut terjadi heteroskedastisitas.
2) Jika pada grafik plot tidak mengikuti pola atau aturan tertentu maka
pada model tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas.
-3 -2 -1 0 1 2
Regression Standardized Predicted Value
-2 0 2 4 R e g re s s io n St a n d a rd iz e d R e s id u a l Dependent Variable: MPS Scatterplot Gambar 4.2 Uji Heteroskedastis
Grafik plot untuk model regresi di atas tidak menunjukkan pola tertentu
sehingga tidak terjadi heterokedastisitas.
3) Autokorelasi
Pengujian yang digunakan untuk mengetahui autokorelasi adalah dengan
uji Durbin-Watson. Hasil pengujian Durbin-Watson dengan bantuan SPSS
diperoleh nilai Durbin-Watson 1,521. Nilai dU = 1,67dan dL = 1,42 pada k = 3 dan
n = 50 dan taraf signifikansi 5%.
Berdasarkan kriteria penentuan adanya autokorelasi atau tidak dalam
model yang telah dibahas pada bab III, maka nilai dW berada pada rentang 0<d<du
atau 0<1,521<1,67 diperoleh model pada daerah keragu-raguan (tidak ada
Gambar 4.3 Uji Durbin Watson
4.5 Pembahasan
Pembahasan ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang telah didapat
dari lapangan beserta kajian teori yang telah dijelaskan dalam bab II. Pembahasan
dalam penelitian ini bertujuan untuk menerangkan dan menginterprestasikan hasil
penelitian dan tujuan penelitian.
Setelah dilakukan analisis tehadap masing-masing variabel kemudian
dilakukan perhitungan analisis regresi untuk melihat pengaruh dan kontribusi
masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat, berikut adalah
pembahasannya. Menolak H0 Bukti Autokorelasi Daerah keragu-raguan Menerima H0 Daerah keragu-raguan Menolak H0 Bukti Autokorelasi 0 1,42 1,52 1,67 2 2,3 2,58 4
4.5.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Marginal Propensity to Save (MPS) Masyarakat
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan ditemukan bahwa
pendapatan, mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap marginal propensity
to save masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa marginal propensity to save
masyarakat ditentukan oleh tinggi rendahnya persentase pendapatan yang
diperoleh.
Dengan kata lain naik turunnya pendapatan akan berpengaruh terhadap
marginal propensity to save masyarakat. Apabila pendapatan naik maka hal
tersebut akan mengkibatkan marginal propensity to save masyarakat juga naik,
sebaliknya apabila pendapatan turun maka tingkat marginal propensity to save
masyarakat juga akan mengalami penurunan.
Menurut Keynes tabungan adalah pendapatan yang dikurangi
pengeluaran-pengeluaran konsumtif. Oleh karena itu, pendapatan merupakan
faktor yang mempengaruhi terhadap tabungan. Tabungan merupakan bagian dari
pendapatan yang tidak dikonsumsikan, maka menurut Keynes tabungan
merupakan fungsi dari pendapatan. Pendapatan yang digunakan dalam hipotesis
tersebut merupakan pendapatan absolute. Pendapatan absolute ini didefinisikan
sebagai pendapatan nasional yang terjadi atau current income, bukannya
pendapatan yang terjadi sebelumnya (Yt-1), bukan pula pendapatan yang
diramalkan terjadi di masa datang (Yt+1). Pendapatan itu sendiri dapat berupa
Pendapatan Domestik Bruto (PDB) atau juga pendapatan domestik bruto
Menurut Keynes tidak seluruh bagian pendapatan yang diterima
seseorang akan digunakan untuk konsumsi, melainkan sebagian akan disimpan
sebagai tabungan (saving). Lebih jauh dikatakan bahwa perilaku konsumsi dan
menyimpan dari seseorang sangat dipengaruhi oleh pendapatannya. Suatu
kenaikan dalam pendapatan akan meningkatkan konsumsi dan tabungan. Dengan
demikian ada hubungan yang positif antara pendapatan nasional dengan tabungan
(saving).
4.5.2 Pengaruh Pajak Terhadap Marginal Propensity to Save (MPS) Masyarakat
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan ditemukan bahwa
hubungan antara pajak dengan marginal propensity to save bersifat negatif. Hal
ini berarti bahwa jika pajak meningkat, maka marginal propensity to save
masyarakat akan turun. Sadono Sukirno (2004) mengemukakan bahwa penurunan
pendapatan disposibel atau pendapatan nasional yang telah dikurangi oleh pajak
akan mengurangi konsumsi dan tabungan rumah tangga.
Namun demikian, hasil uji signifikansi secara parsial menunjukkan bahwa
pajak tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap marginal propensity to
save masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa marginal propensity to save
Secara makro pengenaan pajak akan mengurangi tingkat pendapatan yang
siap dibelanjakan (disposable income) dan tentu mengurangi tingkat konsumsi
dan tingkat tabungan masyarakat. Turunnya konsumsi (C) dan tabungan (S)
masyarakat akan ditentukan oleh hasrat konsumsi marginal (MPC) dan hasrat
tabungan marginal (MPS), dimana MPC+MPS=1. Pajak mempunyai pengaruh
terhadap kemampuan dan kemauan untuk bekerja, konsumsi, menabung, maupun
untuk investasi (www.angkringanmaswied.blogspot.com).
Berbeda dengan pendapat Friedman (Thomas F. Dernberg, 1998) yang
dikutip oleh Dewi Chahyani (2005), yang mengatakan bahwa kenaikan konsumsi
akibat penurunan tingkat pajak sangat kecil pengaruhnya. Akan tetapi
pengurangan pajak yang besar akan mempunyai pengaruh langsung terhadap
pembelanjaan masyarakat.
Yang menjadi alasan mengapa pajak tidak tidak berpengaruh signifikan
dalam penelitian ini, yaitu karena kekayaan responden yang terkena pajak dibayar
dalam jangka waktu tahunan seperti pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan
bangunan. Responden telah mengantisipasi sebelumnya akan adanya beban pajak
yang harus dibayar, sehingga bentuk antisipasi tersebut dengan menyisihkan
pendapatan yang diperoleh dalam rangka untuk membayar pajak, sehingga
pendapatan yang digunakan untuk konsumsi dan tabungan tidak terpengaruhi
4.5.3 Pengaruh Demontration Effect Terhadap Marginal Propensity to Save
(MPS) Masyarakat
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan ditemukan bahwa
hubungan antara demontration effect dengan marginal propensity to save bersifat
negatif. Hal ini berarti bahwa jika tingkat demontration effect masyarakat
meningkat, maka marginal propensity to save masyarakat akan turun. Selain itu,
diketahui bahwa demontration effect, mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap marginal propensity to save masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa
marginal propensity to save masyarakat ditentukan oleh tinggi rendahnya demontration effect. Dengan kata lain naik turunnya demontration effect akan
berpengaruh terhadap marginal propensity to save masyarakat. Apabila
demontration effect meningkat, maka hal tersebut akan mengkibatkan marginal propensity to save masyarakat turun, begitu pula sebaliknya.
Dengan adanya demonstration effect maka konnsumsi masyarakat akan
meningkat. Sehingga kemampuan masyarakat untuk menabung menjadi
berkurang. Seperti yang diungkapkan oleh ML.Jhingan (Suryana, 2000: 39)
bahwa demonstration effect tidak hanya mengurangi kemampuan untuk
menabung, tetapi juga mempersulit pemerintah dalam menggunakan keuangan
4.6. Implikasi Pendidikan
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya, pendidikan
merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan oleh
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Setiap penelitian yang dilakukan pada akhirnya akan memberikan
pengaruh terhadap berbagai bidang. Dalam penelitian yang dilakukan penulis
diarahkan agar memberikan implikasi (pengaruh) khususnya pada bidang
pendidikan. Dengan adanya hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan khususnya bidang kajian ekonomi, dalam upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
Masalah yang diangkat dalam penelitian ini menyangkut tentang
kecenderungan menabung marginal (Marginal Propensity to Save) masyarakat di
Komplek Graha Puspa desa Sukamaju Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung
Barat, yang mana rata-rata nilai MPS masih rendah bila dibandingkan dengan
pendapatan yang mereka peroleh. Oleh karena itu, melalui penelitian ini kemudian
dianalisis serta dicari factor-faktor social ekonomi yang mempengaruhi terjadinya
masalah kurangnya hasrat menabung dalam masyarakat, dan pada akhirnya
Implikasi hasil penelitian terhadap pendidikan akan secara nyata dan jelas
dari kesimpulan hasil penelitian di bawah ini:
1. Variabel pandapatan besar pengaruhnya terhadap besar kecilnya tabungan
yang dilakukan masyarakat. Oleh karena itu agar tingkat tabungan
masyarakat tinggi maka harus meningkatkan pendapatan.
2. Variabel pajak tidak berpengaruh terhadap besar kecilnya tabungan yang
dilakukan oleh masyarakat, khususnya di Komplek Graha Puspa. Namun
secara teori variabel pajak ini berpengaruh terhadap konsumsi dan tabungan
masyarakat.
3. Variabel Demontration Effect berpengaruh terhadap tabungan tabunagn
masyarakat, apabila Demontration Effect tinggi maka tabungan masyarakat
akan turun. Sehingga untuk meningkatkan tabungan maka masyarakat harus
dapat melakukan pengelolaan terhadap keuangannya sehingga pendapatan
yang diperoleh dapat digunakan dengan sebaik-baiknya.
Hendaknya masyarakat jangan berperilaku konsumtif, hal tersebut juga
dilarang oleh agama yang tercantum dalam Q.S Al Isra : 26 bahwa ”...dan
janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”. Berdasarkan
ayat tersebut, maka hendaknya kita jangan bersikap hidup yang boros dalam
membelanjakan harta yang kita miliki. Gunakanlah harta yang dimiki dengan
sebaik-baiknya. Sisipkan sebagian dari pendapatan untuk ditabung. Hal tersebut
bisa dimulai dari pendidikan kepada anak-anak sejak dini, biasakanlah agar
bersikap hidup yang hemat dan belajar untuk berusaha menyisihkan sebagian dari