Menguak Dunia Hitam di Benjina: Multi Etnik - Kabupaten Kepulauan Aru

159 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

Menguak Dunia Hitam

Di Benjina:

Multi Etnik - Kabupaten Kepualauan Aru

Santi Dwiningsih M. Haerul Kasnodihardjo

Penerbit

(3)

Santi Dwiningsih, dkk

Menguak Dunia Hitam Di Benjina:

Multi Etnik - Kabupaten Kepulauan Aru

Diterbitkan Oleh

UNESA UNIVERSITY PRESS Anggota IKAPI No. 060/JTI/97

Anggota APPTI No. 133/KTA/APPTI/X/2015 Kampus Unesa Ketintang

Gedung C-15Surabaya

Telp. 031 – 8288598; 8280009 ext. 109 Fax. 031 – 8288598

Email: unipress@unesa.ac.id unipressunesa@yahoo.com Bekerja sama dengan:

PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Tlp. 0313528748 Fax. 0313528749 xiii, 145 hal., Illus, 15.5 x 23

ISBN: 978-979-028-943-7

copyright © 2016, Unesa University Press All right reserved

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun baik cetak, fotoprint, microfilm, dan sebagainya, tanpa izin tertulis dari penerbit

(4)

SUSUNAN TIM

Buku seri ini merupakan satu dari tiga puluh buku hasil kegiatan Riset Etnografi Kesehatan 2015 pada 30 etnik di Indonesia. Pelaksanaan riset dilakukan oleh tim sesuai Surat Keputusan Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Nomor HK.02.04/V.1/221/2015, tanggal 2 Pebruari 2015, dengan susunan tim sebagai berikut:

Pembina : Kepala Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI Penanggung Jawab : Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan

Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Wakil Penanggung Jawab : Prof. Dr.dr. Lestari Handayani, M.Med (PH) Ketua Pelaksana : dr. Tri Juni Angkasawati, M.Sc

Ketua Tim Teknis : drs. Setia Pranata, M.Si

Anggota Tim Teknis : Dr. Gurendro Putro, SKM. M.Kes Agung Dwi Laksono, SKM. M.Kes drg. Made Asri Budisuari, M.Kes dra. Rachmalina Soerachman, M.Sc.PH drs. Kasno Dihardjo

dr. Lulut Kusumawati, Sp.PK

Sekretariat : Mardiyah, SE. MM

(5)

Koordinator Wilayah:

1. Prof. Dr. dr. Lestari Handayani, M.Med (PH): Kab. Mesuji, Kab. Klaten, Kab. Barito Koala

2. dr. Tri Juni Angkasawati, M.Sc: Kab. Pandeglang, Kab. Gunung Mas, Kab. Ogan Komering Ulu Selatan

3. Dr.drg. Niniek Lely Pratiwi, M.Kes: Kab. Luwu, Kab. Timor Tengah Selatan

4. drs. Kasno Dihardjo: Kab. Pasaman Barat, Kab. Kep. Aru

5. Dr. Gurendro Putro, SKM. M.Kes: Kab. Aceh Utara, Kab. Sorong Selatan

6. dra. Suharmiati, M.Si. Apt: Kab. Tapanuli Tengah, Kab. Sumba Barat

7. drs. Setia Pranata, M.Si: Kab. Bolaang Mongondow Selatan, Kab. Sumenep, Kab. Aceh Timur

8. drg. Made Asri Budisuari, M.Kes: Kab. Mandailing Natal, Kab. Bantaeng

9. dra. Rachmalina Soerachman, M.Sc.PH: Kab. Cianjur, Kab. Miangas Kep.Talaud, Kab. Merauke

10.dr. Wahyu Dwi Astuti, Sp.PK, M.Kes: Kab. Sekadau, Kab. Banjar 11.Agung Dwi Laksono, SKM. M.Kes: Kab. Kayong Utara, Kab. Sabu

Raijua, Kab. Tolikara

12.drs. F.X. Sri Sadewo, M.Si: Kab. Halmahera Selatan, Kab. Toli-toli, Kab. Muna

(6)

KATA PENGANTAR

Penyelesaian masalah dan situasi status kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih dilandasi dengan pendekatan logika dan rasional, sehingga masalah kesehatan menjadi semakin kompleks. Disaat pendekatan rasional yang sudah mentok dalam menangani masalah kesehatan, maka dirasa perlu dan penting untuk mengangkat kearifan lokal menjadi salah satu cara untuk menyelesaikannya. Untuk itulah maka dilakukan riset etnografi sebagai salah satu alternatif mengungkap berbagai fakta kehidupan sosial masyarakat terkait kesehatan.

Dengan mempertemukan pandangan rasionalis dan kaum humanis diharapkan akan menimbulkan kreatifitas dan inovasi untuk mengembangkan cara-cara pemecahan masalah kesehatan masyarakat.simbiose ini juga dapat menimbulkan rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa kebersamaan (sense of togetherness) dalam menyelesaikan masalah untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat di Indonesia.

Tulisan dalam Buku Seri ini merupakan bagian dari 30 buku seri hasil Riset Etnografi Kesehatan 2015yang dilaksanakan di berbagai provinsi di Indonesia.Buku seri sangat penting guna menyingkap kembali dan menggali nilai-nilai yang sudah tertimbun agar dapat diuji dan dimanfaatkan bagi peningkatan upaya pelayanan kesehatan dengan memperhatikan kearifan lokal.

Kami mengucapkan terima kasih pada seluruh informan, partisipan dan penulis yang berkontribusi dalam penyelesaian buku seri ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI yang telah memberikan kesempatan pada Pusat Humaniora untuk melaksanakan Riset Etnografi Kesehatan 2015, sehingga dapat tersusun beberapa buku seri dari hasil riset ini.

(7)

Surabaya, Nopember 2015 Kepala Pusat Humaniora, kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan RI

(8)

DAFTAR ISI

SUSUNAN TIM ... iii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ixi

DAFTAR TABEL... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1.Latar Belakang ... 1 1.2.Tujuan Penelitian ... 5 1.3.Metode Penelitian ... 5 BAB II SEJARAH... 8 2. 1. Sejarah ... 8

2.1.1. Asal-usul Desa Benjina ... 8

2.1.2. Perkembangan Desa ... 9

2.2 Geografi Dan Kependudukan ... 14

2.2.1. Geografi ... 14

2.2.2. Kependudukan ... 16

2.2.3.Pola Tempat Tinggal ... 18

2.3. Religi ... 20

2.3.1.Kosmologi ... 20

2.4. Organisasi Sosial Dan Kemasyarakatan ... 24

2.4.1. Sistem Kekerabatan... 24

2.4.2. Sistem Kemasyarakatan dan Politik Lokal ... 29

2.5. Pengetahuan Tentang Kesehatan ... 37

2.5.1. Konsep Tentang Sehat dan Sakit ... 37

2.5.2. Penyembuhan Tradisional ... 38

2.5.3. Pengetahuan Tentang Makanan dan Minuman .... 43

(9)

BAB III POTRET KESEHATAN MASYARAKAT DESA BENJINA ... 49

3.1.Penyakit Tidak Menular ... 49

3.1.1. Diabetes Melitus ... 49

3.1.2. Stroke ... 50

3.1.3. TB ... 50

3.1.4. Malaria ... 53

3.1.5. Diare ... 54

3.2.Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) ... 55

3.2.1. Pertolongan Persalinan oleh Nakes ... 55

3.2.2. Penimbangan Bayi dan Balita ... 56

3.2.3. Asi Eksklusif ... 58

3.2.4. Cuci Tangan Menggunakan Sabun ... 59

3.2.5. Jamban Sehat ... 60

3.2.6. Aktivitas Fisik ... 60

3.2.7. Konsumsi Buah dan Sayur ... 63

3.2.8. Penggunaan Air Bersih ... 64

3.3.Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)... 66

3.3.1. Kehamilan ... 66

3.3.2. Kelahiran dan Nifas ... 68

3.3.3. Kesehatan Bayi dan Balita ... 72

BAB IV MENGUAK TABIR MENYONGSONG ASA DI BENJINA ... 74

4.1. Para Pelakon ... 74

4.2. Cékéran,Pampam,Kondom,dan Ketidakacuhan Emosional ... 81

4.3. Antara Patron dan Klien... 88

4.4. Standar Ganda Pelacuran ... 99

4.5. Sayur Asem atau Tomyum? ... 110

(10)

BAB V SASI ADAT SEBAGAI SEBUAH REKOMENDASI ... 126

DAFTAR PUSTAKA ... 133

DAFTAR INDEKS ... 135

(11)
(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Pasang Sasi Melawan PT. Menara Group ... 32

Gambar 3.1. Kegiatan Posyandu Keliling Puskesmas Benjina .. 57

Gambar 3.2. Jamban yang digunakan oleh masyarakat Benjina ... 60

Gambar 3.3. Orang mengangkat jaring ... 62

Gambar 3.4. Buah-buahan di Benjina ... 64

Gambar 3.5. Kolam Penampungan air ... 65

Gambar 3.6. Aktivitas mengambil air di sumur ... 66

Gambar 4.1. Seorang ABK Asing Asal Thailand Menumpang Speedboat Dari PBR Menuju Desa Benjina ... 92

(13)
(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Hasil Capaian Kegiatan Vct Tahun 2014 Menurut Jenis Kelamin ... 3 Tabel 2.1 10 Penyakit Teratas Di Puskesmas Perawata Benjina

BulanMaret 2015 ... 18

Tabel 4.1. Jumlah WPS di Benjina Berdasarkan Daerah Asal ... 76

Tabel 4.2. Jumlah WPS Berdasarkan Rentang Usia ... 77

Tabel 4.3. Hasil Capaian Kegiatan VCT tahun 2014 Menurut Jenis

(15)

1.1.

Latar Belakang

Sampai saat ini masalah kesehatan yang dihadapi Indonesia adalah masih merebaknya berbagai penyakit baik penyakit menular (PM) maupunpenyakit tidak menular (PTM), yang belum tertanggulangi secara tuntas dan menyeluruh. Masalah tersebut belum termasuk dengan munculnya kembali penyakit-penyakit lama (re-emerging diseases), ataupun penyakit baru (new-emerging diseases). Padahal program-program pembangunan dibidang kesehatan telah diupayakan oleh pemerintah dan ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat yang tinggal di daerah perdesaan dan daerah terpecil.

Program-program pembangunan di bidang kesehatan tersebut berupa pelayanan kesehatan dasar antara lain berupa pencegahan dan pemberantasan penyakit, peningkatan gizi, penyediaan dan pengelolaan air bersih serta penyehatan lingkungan pemukiman. Namun hingga kini upaya peningkatan kesehatan masyarakat yang dilakukan belum mencapai hasil yang diharapkan. Angka kesakitan dan angka kematian relatif masih tinggi.

Kondisi kesehatan suatu masyarakat tidak muncul begitu saja. Kondisi kesehatan tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, seperti faktor lingkungan, faktor fasilitas pendukung kesehatan, dan faktor kondisi sosial budaya yang ada dalam masyarakat. Ada kalanya permasalahan kesehatan tidak dapat dilihat dari sudut pandang medis saja. Namun dapat dilihat dan ditelisik dari sudut pandang budaya. Tentu saja pendekatan budaya yang dilakukan akan berbeda dengan pendekatan medis.

(16)

Riset etnografi kesehatan adalah riset yang menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjawab permasalahan kesehatan yang terkait dengan sosial budaya atau perilaku masyarakat tertentu. Tidak jarang, ditemukan juga adanya keterkaitan antara isu kesehatan dengan isu ekonomi, kelas (antara pemilik modal dan bukan pemilik pemilik modal), gender, bahkan isu hubungan internasional.

Benjina menjadi salah satu daerah Riset Etnografi Kesehatan 2015. Benjina adalah salah satu nama desa yang terletak di Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Desa Benjina terletak di Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Kabupaten Kepulauan Aru menempati peringkat IPKM 394 pada tahun 2007, dan turun menjadi peringkat 426 pada tahun 2013. Artinya dalam kurun waktu 6 tahun, peringkat IPKM Kabupaten Kepulauan Aru turun sebanyak 32 angka. Peringkat tersebut adalah salah satu peringkat terendah di Provinsi Maluku, setelah Kabupaten Seram Bagian Timur pada peringkat 434.

Apa yang menjadikan Benjina menjadi daerah yang menarik untuk didalami melalui sebuah riset? Benjina menjadi buah bibir pada sekitar awal tahun 2015, dan bahkan menjadi isu internasional karena kasus perbudakan tenaga kerja asing yang dituduhkan kepada sebuah perusahaan pengendali roda ekonomi di sana. Namun, bukan hal tersebut yang membuat Benjina terpilih menjadi salah satu lokasi Riset Etnografi Kesehatan 2015.

Adanya perusahaan, tenaga kerja asing, sumber daya alam yang kaya, dan perputaran uang yang cepat, menjadi sebuah potensi ekonomi yang menarik para pendatang dari berbagai sudut nusantara. Salah satu imbas dari keterkaitan semua hal yang telah disebutkan tadi adalah munculnya permasalahan kesehatan dan permasalahan sosial ekonomi serta budaya. Muncul para pendatang yang berprofesi sebagai wanita pekerja seks (WPS) yang dikaitkan dengan munculnya

(17)

kasus HIV/AIDS di Benjina. Muncul pula bisnis prostitusi/pelacuran yang menjanjikan pendapatan yang tinggi dan melibatkan beberapa pihak di Benjina. Muncul hal yang menarik di sini, HIV/AIDS begitu ditakuti tetapi tidak dengan bisnis pelacurannya.

Berdasarkan atas data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Aru, tercatat jika jumlah orang yang diperiksa HIV AIDS di Kepulauan Aru pada tahun 2014 sebanyak 1602 orang, dengan jumlah positif HIV AIDS sebanyak 28 orang, yang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 13 orang perempuan. Dari 28 orang yang dinyatakan postitif, 6 orang di antaranya berada di Benjina. Berikut data yang diperoleh dari Klinik VCT Dobo, yang tersaji dalam bentuk tabel.

TABEL 1.1

HASIL CAPAIAN KEGIATAN VCT TAHUN 2014 MENURUT JENIS KELAMIN

NO BULAN JUMLAH YANG DIPERIKSA JUMLAH YANG POSITIF L P 1 JANUARI 227 7 4 3 2 FEBRUARI 42 1 1 0 3 MARET 134 4 2 2 4 APRIL 61 7 5 2 5 MEI 201 0 0 0 6 JUNI 122 2 0 2 7 JULI 0 0 0 0 8 AGUSTUS 0 0 0 0 9 SEPTEMBER 330 1 0 1 10 OKTOBER 12 4 2 2 11 NOVEMBER 128 0 0 0 12 DESEMBER 345 2 1 1 JUMLAH 1602 28 15 13

(18)

Pada tanggal 27 Mei 2015 dilakukan pengambilan sampel darah di Benjina yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kab. Kepulauan Aru. Hasilnya hanya ada 1 orang yang masih terindikasi sebagai ODHA dan dia adalah orang ‘lama’, yaitu seorang wanita pekerja seks (WPS) yang masih aktif bekerja di salah satu rumah karaoke. Angka tersebut adalah angka yang belum pasti, mengingat cakupan pengambilan tes darah hanya dilakukan di dalam rumah karaoke, tidak mencakup keluar rumah karaoke yang juga didapati pihak pelanggan dan wanita pekerja seks (WPS) yang tidak bertuan.

Upaya yang dilakukan pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat dalam merangkul WPS serta memonitor kesehatan mereka, dilakukan dengan pengambilan sampel darah secara berkala dan membagi kondom cuma-cuma. Namun ternyata permasalahan tidak berhenti di tahap tersebut. Anjuran memakai kondom di kalangan wanita pekerja seks (WPS) dan pelanggan ternyata masih sering dilanggar. Alasan dibalik pelanggaran tersebut lebih sering dikarenakan alasan personal, dan dikarenakan iming-iming timbal balik yang besar dari pelanggan.

Hal tersebut sangat disayangkan karena kondom dapat diibaratkan sebagai perisai utama dalam memproteksi diri dari penularan penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan bagi perempuan. Jika kondom sebagai perisai utama telah sengaja disisihkan maka siapa yang akan mendapatkan akibat buruk dari hal tersebut? Lalu bagaimana upaya yang dapat dilakukan agar kondom dapat dijadikan sebagai sebuah prioritas utama, yang tidak boleh tersisihkan dalam semua motif hubungan seksual yang dilakukan di luar hubungan pernikahan? Dengan latar belakang masyarakat Benjina yang begitu majemuk, jalan keluar yang dapat diterima oleh berbagai kalangan masyarakat mutlak diperlukan.

Secara keseluruhan tulisan ini mengupas sedikit cerita dan gambaran tentang Benjina dari sisi kesehatan dan budaya. Pada Bab 2 menyangkut unsur-unsur budaya, dan Bab 3 membahas tentang

(19)

potret kesehatan masyarakat Benjina. Sedangkan pada Bab 4 membahas tentang seluk beluk pelacuran, WPS, dan kaitannya dengan keberadaan perusahaan serta tenaga kerja asing di Benjina.

1.2.Tujuan Penelitian

Riset Etnografi Kesehatan 2015 di Desa Benjina, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru bertujuan untuk memperoleh gambaran serta pengetahuan tentang unsur budaya masyarakat setempat. Selain itu juga berusaha mendalami permasalahan kesehatan yang terkait dengan kondisi sosial budaya masyarakat.

1.3.Metode Penelitian

Riset etnografi kesehatan adalah riset yang memakai metode penelitian kualitatif. Metode penelitian ini diharapkan mampu menangkap informasi dan menggambarkan situasi yang terjadi di Benjina. Ada beberapa langkah yang peneliti lakukan untuk mengambil data, yaitu;

1. Observasi Partisipasi dan Observasi Non Partisipasi

Metode observasi partisipasi yang peneliti lakukan yaitu ketika berusaha mencari tahu tentang unsur-unsur budaya yang ada di Benjina, terutama tentang mata pencaharian masyarakat setempat. Selain itu metode observasi non partisipasi peneliti lakukan yaitu ketika peneliti berusaha mendalami perilaku WPS, germo, dan ABK asing dalam keseharian mereka. Metode ini ditujukan untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana mereka melakukan transaksi dan berinteraksi satu sama lain.

Perlu waktu yang relatif lama untuk membuat mereka bersedia menerima peneliti di tengah-tengah mereka. Dengan waktu riset yang relatif singkat 40 hari, dan hanya 32 hari efektif saat berada di lokasi riset di Benjina, peneliti berkejaran dengan waktu untuk setidaknya menghapus prasangka buruk yang mereka sematkan kepada peneliti. Mereka menganggap peneliti adalah salah satu dari mata-mata

(20)

perusahaan atau wartawan yang mempunyai maksud buruk kepada mereka. Salah satu cara yang peneliti lakukan untuk melakukan pendekatan adalah dengan sering mendatangi tempat-tempat di mana mereka sering berkumpul, salah satu tempat tersebut adalah rumah/warung makan.

2. Wawancara Mendalam

Pada awal dilakukan riset, peneliti berusaha mendekatkan diri dan membuat mereka merasa nyaman berada di tengah peneliti, langkah selanjutnya adalah melakukan wawancara mendalam. Untuk wawancara yang dilakukan dengan para pelaku bisnis prostitusi terutama WPS dilakukan di kamar pribadi WPS yang terletak di rumah karaoke, rumah kos WPS, di rumah makan, dan di rumah kos tempat peneliti tinggal.

Sedangkan untuk wawancara dengan germo semuanya dilakukan di rumah karaoke yang mereka miliki. Wawancara yang melibatkan informan yang tidak masuk dalam kategori pelaku bisnis prostitusi lebih banyak dilakukan di rumah masing-masing informan.

3. Data Sekunder

Selain observasi dan wawancara mendalam, peneliti juga memanfaatkan adanya data sekunder untuk memperkaya data riset. Data sekunder tersebut didapatkan dari BPS Kab. Kepulauan Aru, Dinas Kesehatan Kab. Kepulauan Aru, Klinik VCT Dobo, dan Puksesmas Benjina.

4. Dokumentasi Visual, Audio, dan Audio Visual

Dokumentasi visual menggunakankamera untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa penting yang dapat digunakan untuk mendukung data dalam bentuk foto. Dokumentasi audio visual adalah berupa rekaman film beberapa peristiwa yang akan dijadikan film etnografi yang mendukung tulisan hasil riset ini. Dokumentasi audio merupakan rekaman hasil wawancara bersama informan yang diolah menjadi data. Proses perekaman dilakukan dengan menggunakan alat rekam.

(21)

Khusus untuk dokumentasi yang terkait dengan informan pelaku bisnis prostitusi, peneliti tidak menggunakan alat rekam suara (voice recorder) saat wawancara berlangsung. Hal tersebut untuk menghindari prasangka buruk dari informan yang masih menjaga jarak dengan para pendatang, dan tentu saja untuk membuat informan merasa nyaman dengan kehadiran peneliti. Untuk itu peneliti harus selalu mengingat setiap peristiwa atau keterangan penting dari informan dan mencatatnya dalam buku kecil yang selalu peneliti bawa.

Proses pencatatan keterangan atau cerita dari informan pun tidak dilakukan ketika peneliti masih berada di sekitar informan atau masih berbincang dengan informan. Hal tersebut untuk menghindari kesan seolah-olah peneliti sedang berperan sebagai wartawan yang sedang mencari sumber berita. Telah diceritakan sebelumnya jika sebagian besar masyarakat di Benjina terutama pelaku bisnis prostitusi masih enggan berbicara dengan orang asing yang mereka kira adalah wartawan.

5. Studi Literatur

Studi literatur diharapkan mampu memperkaya data dan mendukung teori dalam riset etnografi kesehatan ini.

(22)

BAB II

SEJARAH

2.1 SEJARAH

2.1.1 Asal-usul Desa Benjina

Benjina berasal dari 2 kata, yaitu ben yang berarti kabar, dan jinai

yang berarti besar. Sehingga secara garis besar arti dari Benjina adalah kabar besar. Dua kata yang merupakan asal-usul nama Benjina tersebut berasal dari bahasa Manumbai, yaitu bahasa asli masyarakat Benjina. Kabar besar yang akhirnya menjadi sebuah nama desa bermula dari cerita tentang leluhur atau tete nenek moyang orang Benjina yang dahulu dipercaya berdiam di suatu tempat. Tempat tersebut bernama Kongan Seli yang berada di dekat sungai. Karena terjadi pertikaian dengan suku lain (Orang Dobel), mereka akhirnya pindah menuju suatu tempat yang bernama Ekatoba.

Setelah bermukim beberapa lama di Ekatoba, tete nenek moyang

orang Benjina ini akhirnya memutuskan untuk kembali pindah ke lokasi lain karena tidak merasa cocok dengan lokasi tersebut. Tidak jelas apakah alasan yang pasti dari ketidakcocokkan mereka. Lokasi baru yang dituju adalah kampung lama atau disebut juga dengan

fanua ngari-ari. Ketika sudah tinggal di lokasi ini pun, tete nenek moyang kembali merasakan ketidakcocokkan, sehingga tete nenek moyang berusaha mencari tempat baru yang lebih baik.

Dalam perjalanan untuk mencari tempat baru tersebut, tete nenek moyang beristirahat di suatu tempat dan jatuh tertidur di bawah pohon. Ketika terbangun didapati ada beberapa rupa bahan makanan dan air yang terletak di sekitarnya. Akhirnya dia kembali ke tempat dia bermukim sebelumnya, dan memberi kabar kepada masyarakat jika ada tempat yang lebih baik yang dapat mereka tinggali. Kabar tersebut membahagiakan mereka sehingga akhirnya disebut dengan kabar besar, dan nama tempat yang mereka tinggali hingga sekarang ini dikenal dengan nama Benjina yang artinya adalah kabar besar.

(23)

Demikian menurut tetua adat dari marga Saytian, yaitu Bapak Martin Jala,

Tempat-tempat yang pernah menjadi tempat tinggal tete nenek moyang pada masa lampau masih dapat dilihat sampai sekarang ini. Ekatoba, yang menjadi lokasi pertama yang ditinggali tete nenek moyang ketika pindah dari Kongan Seli, kini berubah menjadi area makam atau kuburan umum di Benjina. Kampung lama atau fanua ngari-ari pun masih dapat dilihat. Lokasi tersebut ditandai dengan adanya bekas gereja Kristen yang kini hanya tersisa fondasi yang tampak lapuk dan berlumut.

2.1.2 Perkembangan Desa Parigi Benjina, nama tinggi o.. Mari rapat o.. orang dagang suka o..

Kalimat di atas adalah penggalan lagu yang dikenal dengan sebutan ‘Nyanyian Tanah’, dan menurut Bapak Martin Jala lagu tersebut termasuk dalam lagu adat orang Manumbai. Walaupun disebut sebagai lagu adat yang telah lama dinyanyikan, namun tidak banyak yang tahu tentang lagu tersebut. Lagu tersebut bercerita tentang sumur Benjina yang memikat para pendatang dari luar Benjina untuk datang, tinggal, lalu berdagang setelah meminum air yang berasal dari sumur Benjina (parigi Benjina). Menurut Bapak Martin Jala, ‘Nyanyian Tanah’ tersebut adalah bentuk keterbukaan masyarakat Benjina yang mempersilahkan orang asing masuk, tinggal, menetap, dan membangun Benjina.

“ini namanya ‘Nyanyian Tanah’, jadi tete nenek moyang memang sudah ingin supaya orang datang ke Benjina dari dulu. Supaya Benjina ramai to. Dulu kan Benjina hutan, orang masih sedikit”

Karena alasan tersebutlah tetua adat sebagai pemimpin tertinggi masyarakat dalam hal adat, dan tuan tanah sebagai pemilik tanah petuanan atau tanah ulayat membuka pintu lebar-lebar kepada para

(24)

pendatang untuk datang dan tinggal di Benjina. Datangnya pendatang dari luar Benjina konon sudah terjadi sejak lama. Tidak diketahui kapan pastinya hal tersebut terjadi, namun salah seorang tokoh masyarakat yang juga dikenal sebagai penyembuh tradisional yang kerap dipanggil Tete Kula bercerita jika hal tersebut sudah lama terjadi.

“Itu sudah lama. Misalnya saya ini umur su 70 tahun, saya lahir besar disini tapi saya punya bapa itu campuran Cina, ada Sulawesi juga. Kalau saya punya mama asli sini memang. Jadi kawin campur itu su lama juga”

Walaupun pendatang dimungkinkan sudah datang ke Benjina sejak lama, namun kedatangan pendatang secara masif ke Benjina baru terjadi ketika tuan tanah dan tetua adat mengijinkan PT. Daya Guna Samudera (DGS) masuk dan berinvestasi pada tahun 19791. Pendatang tersebut berasal dari berbagai suku bangsa dan agama dari penjuru Indonesia. Banyak perubahan yang terjadi di Benjina bermula dari datangnya DGS. Perusahaan yang bergerak di sektor perikanan ini mempekerjakan banyak karyawan yang sebagian besar didatangkan dari Pulau Jawa. Kedatangan mereka turut meramaikan Benjina yang tadinya sepi penduduk. Pada perkembangan selanjutnya jumlah karyawan yang semakin banyak membuat DGS berinisiatif membangun pemukiman dan rumah yang diperuntukkan untuk karyawan mereka di luar lingkungan perusahaan.

Pada sekitar tahun 1980-andibangunlah perumahan kayu yang dibuat oleh PT. RUMAH KAYU INDONESIA atau lebih sering disebut

1

Ada perbedaan pendapat mengenai tahun masuknya DGS ke Benjina. Tetua adat, tuan tanah, dan salah satu tokoh agama Kristen di Benjina merasa yakin jika DGS

masuk pada sekitar tahun 1979. Namun dalam

www.kepulauanarumaluku.blogspot.com, disebutkan jika DGS pertama kali masuk ke Benjina pada tahun 1990 sampai dengan tahun 2000)

(25)

RKI2. Pembangunan RKI diprakarsai oleh DJayanti Group Indonesia Timur, sebagai pemilik PT. Daya Guna Samudera.Nama perusahaan yang disingkat dengan nama RKI tersebut masih dipakai sampai sekarang ini sebagai nama tempat bermukim para pekerja yang pernah bekerja untuk DGS. RKI identik dengan rumah dengan bahan baku kayu dengan gaya panggung yang berjejer, dan sekilas tampak mirip satu sama lain. Dahulu hanya karyawan dan keluarga karyawan DGS yang menempati pemukiman tersebut.

Sekitar tahun 1990 diadakan program transmigrasi nelayan dari pemerintah yang disebarluaskan di beberapa kabupaten dari Pulau Jawa, terutama dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Informasi mengenai adanya transmigrasi nelayan tersebut disebarkan melalui PEMDA masing-masing kabupaten. Lokasi yang kemudian dipakai untuk menjadi pemukiman para transmigran nelayan disebut dengan Benjina Trans. Trans adalah akronim dari transmigrasi. Jadi Benjina Trans merujuk kepada lokasi yang dijadikan pemukiman masyarakat transmigran yang berprofesi sebagai nelayan.

Pemukiman untuk para transmigran nelayan dan keluarganya dibangun oleh pemerintah sebagai respon atas pesatnya industri eksplorasi sumber daya perikanan di perairan Aru yang dioperasikan DGS. Diharapkan akan terjadi kerjasama yang saling menguntungkan yang dapat meningkatkan kesejahteraan para nelayan transmigran tersebut. Selain karyawan DGS dan nelayan transmigran, menurut cerita dari Pendeta Nus Oraile yang merupakan salah satu tokoh agama Kristen di Benjina, dahulu semasa DGS masih berjaya pun ada tenaga kerja asing yang diperjakan DGS. Mereka sebagian besar berasal dari RRC, dan ada juga sedikit orang yang berasal dari

2Berdasarkan data yang diperoleh dari catatan ‘Data Sejarah Gereja Benjina’,

dituliskan jika masa pembangunan RKI dan pemukiman untuk transmigrasi nelayan dibangun pada sekitar tanggal 21 Juli-1982-3 Januari 1990 sejumlah 200 unit. Pemukiman tersebut terletak di antara desa Benjinadan Dusun Papakula Kecil.

(26)

Australia. “Jadi bukan hanya sekarang saja Benjina banyak orang asing, dulu dari cina (RRC) dari Australia juga ada. Ramai sekali” kata Pendeta Nus.

Munculnya RKI dan Benjina Trans berimplikasi secara langsung dengan jumlah penduduk Benjina yang semakin bertambah, “Benjina jadi ramai, tidak sepi lagi seperti dulu. Dulu kan sini hutan saja to” ujar tuan tanah Benjina dari marga Fukar. Sebelum RKI dan Benjina Trans ada dan dijadikan pemukiman, masyarakat asli Benjina bermukim di suatu tempat yang kini disebut Benjina Kampung. Jumlah mereka yang relatif sedikit saat itu menjadikan Benjina terkesan sepi.

Kesan sepi berubah ketika para pendatang tidak hanya menjalankan aktifitas mereka sebagai karyawan perusahaan dan menjadi nelayan. Selain itu bermunculan juga aktifitas perniagaan seperti pasar, warung makan, warung kelontong, dan tempat hiburan malam.Berbagai aktivitas perniagaan inilah yang justru membuat Benjina semakin ramai. Keberadaan DGS mengundang munculnya pendatang yang bekerja di luar sektor perniagaan atau sebagai karyawan. Mereka menekuni profesi yang sudah berusia sangat tua, yaitu sebagai wanita pekerja seks (WPS).

Pada sekitar tahun 2001, DGS dinyatakan pailit dan akhirnya menutup perusahaannya di Benjina. Pada tahun 2007 datanglah PT. Pusaka Benjina Resources (PBR). PBR merupakan perusahaan yang terkonsentrasi pada 3 hal, yaitu penangkapan ikan, pengemasan ikan, dan penjualan es untuk mengawetkan ikan. Penangkapan ikan yang dilakukan PBR masih dipasok juga oleh nelayan-nelayan tradisional. PBR sendiri memiliki sekitar 300 karyawan, 85 % merupakan karyawan lokal, dan sisanya 15 % adalah karyawan asing.3 Ikan-ikan yang didapatkan PBR dengan kualitas yang baik dijual kepada nelayan

3

(27)

Thailand, sedangkan ikan dengan kualitas yang kurang baik atau buruk akan dijual di dalam negeri.

Ketika PBR masuk ke Benjina, sudah ada 3 Sekolah Dasar yang dibangun dan 1 TK. Namun tahun pasti dari pembangunan fasilitas penunjang pendidikan masyarakat tersebut tidak diketahui secara pasti. Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dibangun pada tahun 2013. Sekitar akhir tahun 2014 juga sudah dibangun menara atau tower jaringan telekomunikasi dari salah satu

provider telekomunikasi di Indonesia. Sinyal dari menara tersebut menyebar di seluruh Desa Benjina dan dapat diakses oleh semua masyarakat. Padahal sebelumnya sinyal telekomunikasi hanya dapat dinikmati di lokasi tertentu saja, yaitu di daerah perbukitan.

Munculnya sinyal telekomunikasi yang dapat dinikmati secara merata di seluruh bagian Desa Benjina berpengaruh kepada banyak hal. Salah satunya pada meningkatnya pemakaian telepon seluler, yang juga berimplikasi pada lancarnya komunikasi dari Benjina ke luar Benjina yang sebelumnya sangat sulit dilakukan. Lancarnya arus telekomunikasi tentu saja menguntungkan masyarakat yang berkecimpung dalam bidang perniagaan, dan menggantungkan pasokan barang dari luar Benjina atau justru menjual barang dari Benjina menuju keluar Benjina.

Lancarnya telekomunikasi juga dirasakan sebagai keuntungan tersendiri bagi pelaku bisnis prostitusi di Benjina, baik untuk WPS atau pun germo. Saling bertukar informasi dengan rekan seprofesi di dalam atau di luar Benjina menjadi begitu mudah saat ini. Kabar baik atau kabar buruk dapat diterima atau dikirim kapan saja tanpa harus mendaki bukit terlebih dahulu. Kemudahan tersebut juga dirasakan dalam hal bertransaksi dengan pelanggan mereka, terutama para ABK asing.

(28)

2.2

GEOGRAFI DAN KEPENDUDUKAN

2.2.1 Geografi

Menurut data yang bersumber pada Profil Desa Benjina Tahun 2013, Desa Benjina terletak pada gugusan Pulau-Pulau Aru Tengah tepatnya di atas tanah Pulau Kobror. Secara geografis Desa Benjina dibatasi oleh :

 Sebelah Utara : Desa Selilau

 Sebelah Selatan : Desa Irloy

 Sebelah Timur : Hutan Pulau Kobror

 Sebelah Barat : Selat Barakay

Luas wilayah desa Benjina adalah 245.241 Ha. Secara geografis Desa Benjina berada di dataran rendah dengan ketinggian 7 meter di atas permukaan laut (dpl). Suhu yang terendah di Benjina sekitar 27 derajat celcius, dan suhu tertinggi bisa mencapai 35 derajat celcius. Karakteristik tanah di Benjina adalah tanah humus, semakin dalam akan ditemukan tanah yang semakin hitam, dengan kadar liat lebih dari 35 %. Musim hujan di Benjina biasanya dimulai dari bulan oktober sampai dengan januari, sedangkan musim kemarau biasanya dimulai pada bulan februari sampai dengan September. Namun iklim tersebut sudah tidak bisa dijadikan acuan karena musim yang lebih sering berubah4.

Benjina adalah desa yang terkepung air. Untuk itu moda transportasi yang dipakai masyarakat adalah ketinting dan speedboat. Ketinting yang dipakai untuk mobilitas warga dari atau menuju Benjina disebut dengan ketinting ojek. Pada tahun 2013 tercatat ada 8 buah ketinting ojek di Benjina5. Rute yang dilayani ketinting tersebut adalah Benjina-Dobo dan sebaliknya. Waktu yang ditempuh untuk melakukan perjalanan tersebut ± 3 jam jika menggunakan ketinting.

Biaya yang dibutuhkan untuk membayar ketinting sebesar 30 ribu

4

Berdasakan data dari Profil Desa Benjina Tahun 2013

(29)

rupiah. Waktu yang lebih cepat bisa dicapai jika menggunakan moda transportasi speedboat. Waktunya yang dibutuhkan hanya sekitar 1,5 jam saja. Karena lebih cepat dan lebih private, biaya untuk menyewa

speedboat pun relatif mahal yaitu sekitar 1 juta sampai dengan 3 juta rupiah.

Benjina merupakan desa induk di Kecamatan Aru Tengah. Letaknya relatif mudah untuk dijangkau jika dibandingkan dengan desa lain di kecamatan yang sama. Walaupun demikian, mobilitas dari atau menuju Benjina sangat tergantung pada kondisi angin. Jika musim angin timur datang, hampir tidak ada halangan berarti dalam melakukan perjalanan laut. Namun ketika musim angin barat, mobilitas penduduk dari atau menuju Benjina akan terhambat, karenaombak besar dan tinggi disertai angin kencang menjadi penghalang utama. Lautan menjadi tidak aman untuk dilalui oleh kapal, ketinting, atau speedboat. Bukan hanya mobilitas itu, sektor perniagaan menjadi macet, dan yang terparah adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan puskesmas keliling Benjina pun menjadi terhambat.

Ketika musim angin barat, puskesmas keliling akan kesulitan untuk mengunjungi desa-desa yang jangkauannya hanya bisa dilalui dengan moda transportasi laut. Mau tidak mau, desa-desa tersebut akan ‘terlantar’ tanpa pelayanan untuk beberapa lama. Padahal puskesmas keliling telah ditunggu oleh balita-balita yang membutuhkan pelayanan posyandu, dan masyarakat yang memerlukan perawatan serta obat-obatan. Kondisi geografis dan kondisi alamyang demikian menjadi tantangan dan hambatan tersendiri dalam hal pelayanan kesehatan.

Selain masalah tersebut di atas, pengadaan air bersih di Desa Benjina juga menjadi masalah yang pelik. Air bersih menjadi barang mahal dan sulit didapatkan. Pada saat DGS masih beroperasi di Benjina, perusahaan tersebut membangun saluran air yang bersumber pada bendungan buatan. Distribusi air tersebut dahulu diatur oleh

(30)

beberapa orang yang dipekerjakan DGS untuk membuka, menutup, dan mengontrol distribusi air yang akan dialirkan kepada masyarakat sesuai jadwal yang telah ditentukan. Setelah DGS dinyatakan pailit dan tutup pada sekitar tahun 2001 datanglah PT. PUSAKA BENJINA RESOURCES atau PBR yang akhirnya masuk dan menggantikan DGS pada tahun 2007.

Setelah DGS tidak beroperasi, kontrol dan distribusi air kepada masyarakat konon diserahkan kepada 3 orang. Pada akhirnya fungsi kontrol dan pendistribusian air hanya dipegang oleh 1 orang karena beberapa alasan. Karena hal tersebutlah terjadi kekacauan kontrol dan distribusi air di Benjina. dan terjadi pergeseran fungsi dari pemegang tugas pengontrol air tersebut. Pemegang tugas kontrol dan distributor air adalah laki-laki paruh baya yang diandalkan hampir semua masyarakat Benjina untuk mengurus dan memenuhi kebutuhan mereka akan air. Dengan imbalan sejumlah uang yang diberikan kepada petugas tersebut, biasanya air akan segera dialirkan kepada rumah yang membutuhkan.

Sulitnya mendapatkan air membuat masyarakat di Desa Benjina menganggap air sebagai barang mewah, sehingga masyarakat setempat jarang yang menguras bak penampungan yang mereka miliki. Dari hasil pengamatan, bak penampungan air banyak didapati jentik nyamuk karena jarang sekali dikuras.Bak air yang jarang dikuras menjadi tempat yang cocok untuk berkembangbiaknya nyamuk.Walaupun demikian, masyarakat penghuni rumah tampak tidak peduli karena bagi mereka uang terpenting adalah tetap ada air. Hal tersebut begitu ironis karena malaria masih menjadi ancaman terbesar di Benjina.

2.2.2 Kependudukan

Berdasarkan data Profil Desa Benjina Tahun 2013, diketahui jumlah penduduk Desa Benjina yang tercatat pada bulan April 2013 sejumlah 2686 jiwa. Terdiri dari 1403 laki-laki, dan 1283 perempuan,

(31)

atau sekitar 663 KK dengan jumlah anggota keluarga 2023 orang. Dari 2686 jiwa tersebut, 1761 (65%) jiwa memeluk agama Protestan, 712 jiwa (26%) memeluk agama Islam, 157 (6%) jiwa memeluk agama Katolik, dan sisanya 56 (3%) jiwa memeluk agama Pantekosta.

Dari seluruh jumlah yang tercatat tersebut, tidak diketahui data mengenai jumlah penduduk berdasar latar belakang etnis. Benjina adalah daerah yang heterogen. Ada banyak suku bangsa yang tinggal dan menetap di Benjina, antara lain Suku bangsa Aru, Kei, Tanimbar, Tepa, Ternate, Ambon, Jawa, Madura, Sunda, Bugis, Makassar, Minahasa, Tionghoa, Batak, dan Sumatera lainnya. Meskipun tidak diketahui berapa prosentase masing-masing suku bangsa tersebut, namun suku bangsa terbanyak yang mendiami Benjina justru suku bangsa Jawa. Salah satu penyebabnya adalah adanya para transmigran nelayan yang didatangkan dari Pulau Jawa pada sekitar tahun 1990.

Nomor Jenis Mata Pencaharian Jumlah

1 Petani Sendiri 733 orang (27%)

2 Nelayan 232 orang

3 Peternak 78 orang

4 Wirausaha 66 orang

5 Tukang kayu 31 orang

6 Tukang batu 18 orang

7 TNI/POLRI 25 orang

8 PNS 84 orang

9 Buruh industri 12 orang

10 Penjahit 15 orang 0

Sebagian besar masyarakat pendatang menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan dan perniagaan. Walaupun tidak ada data pasti mengenai hal tersebut, namun melalui observasi yang dilakukan dapat dilihat jika sebagian besar pelaku perniagaan dan perikanan adalah

(32)

suku bangsa pendatang. Berikut ini data tentang mata pencaharian masyarakat Desa Benjina yang diambil dari Data Profil Desa Benjina Tahun 2013.

Di desa Benjina sudah tersediasatu Puskesmas yang dapat diakses untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka akan fasilitas kesehatan. Walaupun fasilitas layanan kesehatan tersebut belum mampu berfungsi secara maksimal karena masih terkendala sarana, prasarana, serta letak geografis, namun keberadaannya diperlukan. Penyakit yang diderita masyarakat Desa Benjina secara garis besar dirangkum menjadi 10 penyakit teratas, yang berhasil dirangkum pada bulan Maret 2015 oleh Puskesmas Benjina. Berikut data yang diperoleh.

TABEL 2.1.

10 Penyakit Teratas Di Puskesmas Perawatan Benjina Bulan Maret 2015

No Jenis Penyakit Jumlah

1 Penyakit Lain Pada Saluran Pernafasan Atas 147 2 Infeksi Penyakit Usus Yang Lain 109 3 Penyakit Pada Sistim Otot dan Jaringan 100 4 Infeksi Akut Pada Saluran Pernafasan Bag.

Atas

93 5 Diare (termasuk tersangka kolera) 35

6 Penyakit Kardiovaskuler 32

7 Kecelakaan dan Rudapaksa 28

8 Karies Gigi 27

9 Anemia 27

10 Penyakit Kulit Karena Jamur 23

2.2.3 Pola Tempat Tinggal

Masyarakat Benjina yang heterogen karena terdiri dari berbagai suku bangsa memiliki karakteristik yang berbeda antara suku bangsa dengan suku bangsa lainnya. Sebagai contoh, masyarakat yang tinggal

(33)

di RKI.Rumah yang mereka tinggali yang berada tepat di pinggir atau di atas pantai adalah rumah kayu dengan model panggung.Sanitasi untuk pembuangan tinja berupa jamban cemplung yang langsung dibuang ke bawah, tanpa ada tempat penampungan khusus untuk tinja.Ketika air laut surut, tinja terlihat menumpuk dan tidak terbawa air laut. Hampir semua rumah tinggal dan rumah karaoke memiliki jamban seperti ini.

Bentuk jamban sangat sederhana, hanya berupa lubang berbentuk kotak yang besarnya sekitar 10 cm x 10 cm saja. Jamban ini menyatu dengan rumah. Letaknya biasanya di bagian belakang rumah. Keuntungan dari jamban seperti ini adalah kepraktisan, karena tidak membutuhkan biaya untuk membuat penampungan tinja, dan tentu saja hemat air karena tidak dibutuhkan air berlebih untuk menyiram tinja. Bagi masyarakat RKI yang rumahnya tidak berada di tepi atau di atas pantai, biasanya mereka akan membuat jamban sederhana yang diletakkan di tepi pantai.

Jamban tersebut berupa bilik yang ditutup kain atau rumbia, beralaskan papan dan ditumpu oleh kayu-kayu yang ditancapkan di tanah atau di atas batu. Sama halnya dengan jamban di atas, jamban bilik ini juga mengandalkan air laut untuk menyapu dan membawa tinja ke pantai. Sayangnya jika air laut surut, tinja akan menumpuk dan meninggalkan bau yang mengganggu indra penciuman.

Masyarakat di seklitar Benjina Trans dan Benjina Kampung pun banyak yang memiliki jamban cemplung yang terletak di tepi pantai. Namun tidak sedikit juga yang memiliki jamban leher angsa, walaupun jamban tersebut tidak selalu dapat dibersihkan setelah dipakai, dikarenakan sulitnya mendapatkan air untuk menyiram tinja. Akibatnya peneliti pernah menemukan jamban leher angsa milik beberapa masyarakat yang penuh dengan kotoran manusia, namun tetap digunakan.

(34)

2.3

RELIGI

2.3.1 Kosmologi

Benjina dihuni oleh masyarakat yang sebagian besar menganut agama Kristen Protestan. Pada umumnya agama ini dianut oleh suku bangsa Aru sebagai orang asli Benjina, dan suku bangsa lain yang juga berasal dari Maluku. Sebelum agama Kristen masuk, orang asli Benjina masih mengenal adanya budaya menyembah leluhur, yang mereka sebut dengan tete nenek moyang. Secara garis besar untuk suku bangsa yang berasal dari Maluku seperti Aru, Kei, Tanimbar, Tepa, Ternate, memiliki persamaan dalam memandang adanya leluhur, tete nenek moyang atau disebut juga datuk.

Khusus untuk orang asli Aru, kepercayaan terhadap tete nenek moyang pada masa kini adalah bentuk rasa hormatnya kepada leluhur. Namun posisi leluhur tetap berada di bawah keberadaan agama. Jika dahulu tete nenek moyang adalah segala-galanya, maka kini hal pertama yang dihormati, dicintai, disembah, dan dipercaya adalah Tuhan. Hal kedua baru tete nenek moyang.Pergeseran nilai kepercayaan tersebut dipengaruhi oleh datangnya misionaris Kristen asal Belanda.

Agama Kristen memang berpengaruh besar terhadap pergeseran kepercayaan masyarakat Aru pada masa sekarang ini. Agama Kristen datang pertama kali di tanah Aru pada sekitar tahun 1827, ditandai dengan masuknya Injil di Kongan Negeri Lama pada oleh Penginjil David Marthens yang merupakan penginjil berkebangsaan Belanda. Penginjilan ditandai dengan adanya prosesi pembaptisan masyarakat lokal yang dilakukan oleh David Marthens6.

Kristenisasi yang berlangsung damai dan tanpa adanya paksaan membuat agama Kristen masuk dan diterima oleh masyarakat Kongan yang kelak menjadi cikal bakal Benjina. Sejak saat itu juga banyak

6Berdasarkan catatan Data Sejarah Gereja Benjina yang ditulis oleh Pendeta Nus

(35)

praktek-praktek adat serta kepercayaan lokal yang tidak sesuai dengan agama Kristen beserta peninggalannya dilenyapkan oleh pihak gereja, karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen yang saat itu memang memandang adat sebagai praktek yang menyalahi agama. Berikut penjelasan dari Pendeta Nus Oraile.

“sudah dimusnahkan. Itu berhala yang disembah jadi perlu dimusnahkan. Tapi sebenarnya itu punya nilai-nilai sejarah, tapi itu tidak ada lagi bersamaan dengan penjajahan. Semua sudah hilang. Ada orang-orang tertentu yang secara tertutup dia ada itu sembah-sembah itu yang dianggap punya kekuatan magis”

Agama Kristen menanamkan pemahaman bahwa di atas segala-galanya, Tuhan adalah yang pertama disembah dan dipuja, baru kemudian menghormati leluhur, tete nenek moyang atau datuk. Hal tersebut akan terlihat pada ritual-ritual adat yang kini menyebut Tuhan terlebih dahulu, baru setelah itu menyebut leluhur. Pendeta Nus Oraile kembali memberikan penjelasan.

“Istilah leluhur disini, leluhur itu disebut tete nenek moyang. Umumnya orang Maluku menyebutnya begitu. Jadi sebelum ada agama, tete nenek moyang disembah, kalau sering melakukan penyembahan terhadap leluhur dia akan mendapatkan sesuatu yang baik, usahanya juga baik. Tapi kalau dia tidak taat, melanggar ketentuan-ketentuan, nilai-nilai dia akan mendapatkan kutukan. Jadi kalau ada upacara-upacara adat sering diucapkan pertama Tuhan, kedua datuk. Datuk itu sebutan untuk leluhur”

Istilah datuk setahu peneliti adalah istilah yang lekat dengan rumpun Melayu di Indonesia, misalnya suku bangsa Minang dan beberapa suku bangsa yang berasal dari Sumatera. Datuk dalam bahasa Melayu secara umum dapat berarti kakek, namun dalam bahasa Minang datuk yang dilafalkan datuak adalah gelar adat yang terhormat, sama halnya di Malaysia datuk atau dato juga merupakan

(36)

gelar kehormatan dari Sultan, di Moro Filipina Selatan, datuk adalah gelar pimpinan klan atau marga muslim disana. Datuk sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang berarti yang mulia atau sama dengan raja7.

Dimungkinkan istilah datuk adalah pengaruh dari budaya suku bangsa lain yang sudah menjalin hubungan dagang dengan Suku Bangsa Aru sejak lama. Sudah banyak yang tahu jika mutiara dari Aru adalah salah satu mutiara terbaik di dunia. Perdagangan mutiara konon sudah terjadi sejak sebelum Belanda masuk. Mutiara diperdagangkan atau ditukarkan dengan minuman keras atau dengan mangkuk-mangkuk keramik dari Cina. Bukan hanya dengan bangsa Cina, hubungan dagang juga terjalin dengan suku bangsa lain di nusantara. Kemungkinan besar sebutan datuk terpengaruh oleh pedagang dari luar Aru tersebut.

Kembali ke pembahasan sebelumnya yaitu tentang leluhur yang dihormati dan dipuja. Sebelum Kristen masuk berbagai upacara atau ritual persembahan dilakukan untuk menyembah leluhur. Penyembahan tersebut bertujuan untuk meminta berkah, keselamatan, atau sembuh dari suatu sakit atau penyakit yang disebabkan oleh guna-guna. Suku Bangsa Aru atau suku bangsa lain yang juga berasal dari Maluku yang tinggal di Benjina mengenal adanya suanggi. Orang Aru sendiri menganggap suanggi sebagai mahkluk jahat yang gentayangan dan bisa memakan manusia dan membuat sakit.

Sakit karena suanggi bisa disembuhkan melalui serangkaian rirual-ritual adat yang dipimpin oleh tetua adat. Ada juga istilah lain yang digunakan untuk menyebut sakit atau guna-guna yang disebabkan oleh suanggi, yaitu manakang. Tidak diketahui dari bahasa mana

7

(37)

istilah tersebut berasal. Secara garis besar manakang adalah istilah untuk menyebut praktek guna-guna, sedangkan media atau pembawa guna-guna tersebut adalah suanggi. Salah seorang informan TA, pernah mengalami sakit yang diakuinya disebabkan oleh suanggi.

Laki-laki yang berusia 80 tahun tersebut yakin jika suanggi dikirim untuk membuatnya sakit. Si pengirim sendiri adalah orang yang merasa iri hati kepadanya karena TA memperoleh posisi sebagai kepala tukang di kampungnya. Sakit yang dia rasakan berupa hosa

atau sesak nafas secara tiba-tiba setelah pulang bekerja. Saat itu TA langsung berpikir untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan ritual adat. Dia menyiapkan sirih, pinang, uang gobeng8dan tembakau yang diletakkan di dalam piring untuk sesaji atau syarat dari ritual tersebut. Menariknya meskipun ritual yang dipakai adalah ritual adat, namun dia juga dibantu didoakan oleh seorang pendeta dengan doa Kristen.

Suanggi menjadi momok yang menakutkan dalam kehidupan masyarakat Benjina. Bukan hanya karena dia dianggap mampu membunuh manusia dan membuat sakit, tetapi konon sosoknya tidak mampu dikenali secara kasat mata. Suanggi bisa berwujud manusia, namun kadang juga bisa berwujud anjing, babi, atau kucing. Ada satu cerita dari masa Kristen belum masuk ke Benjina, yang menyebut jika pada masa lampau ada beberapa leluhur atau tete nenek moyang

yang memiliki tradisi untuk menyembah berhala dan juga memuja

suanggi. Konon keturunan dari salah satu leluhur tersebut masih ada sampai sekarang ini di Benjina dan tetap enggan memeluk Kristen.

Sebenarnya bukan hanya Suku Bangsa Aru saja yang meyakini adanya suanggi. Suku bangsa lain yang ada di Benjina banyak juga yang mempercayai keberadaan suanggi, terutama suku bangsa yang juga berasal dari Maluku, seperti Kei, Tepa, Tanimbar, Ternate dll.

Suanggi yang dipercaya bersifat jahat, tidak jarang dipersalahkan sebagai penyebab dari sakit atau penyakit. Maka usaha untuk

8

(38)

menjauhkan diri agar tidak terkena suanggi sering dilakukan. Misalnya saja dengan tidak keluar tengah malam, atau melarang anak-anak tidak keluar pada malam jumat.

2.4 Organisasi Sosial dan Kemasyarakatan

Suku bangsa Aru yang mendiami Benjina hidup berdampingan dengan suku bangsa lain yang datang dan menetap di kepulauan tersebut. Keragaman suku bangsa di Benjina memang menjadi potensi besar yang harus dijaga.Walaupun riset etnografi yang dilakukan di Benjina tidak terbatas pada pembahasan 1 suku bangsa saja, namun penting juga untuk mengetahui budaya suku bangsa asli Benjina yaitu Suku Bangsa Aru. Untuk itu pembahasan pada sub Organisasi Sosial, pada sub bab sistem kekerabatan dan sub bab sistem kemasyarakatan serta politik lokal dikaitkan dengan suku bangsa Aru.

2.4.1 Sistem Kekerabatan

Benjina adalah rumah bagi berbagai macam suku bangsa. Sulit untuk melihat semua gambaran dari sistem kekerabatan dari masing-masing suku. Untuk itu dalam tulisan ini akan dibahas mengenai sistem kekerabatan dari Suku Bangsa Aru sebagai orang asli Benjina. Suku Bangsa Aru atau yang sering disebut masyarakat dengan sebutan Orang Aru menganut sistem kekerabatan patrilineal yaitu garis keturunan ditarik dari pihak laki-laki dan laki-laki lah yang meneruskan marga dari keluarganya. Karena itu pula, hak untuk pewarisan harta pada suku bangsa Aru di Benjina jatuh ke tangan laki-laki, terkecuali jika benar-benar tidak ada anak laki-laki lagi di keluarga tersebut. Jumlah harta yang diwariskan tidak diberikan sama rata kepada semua anak. Anak tertua akan mendapat jumlah yang lebih banyak daripada anak lain yang lebih muda. Selain mendapat jumlah warisan yang lebih besar, anak laki-laki tertua juga berhak mendapatkan pewarisan gelar dari ayahnya, misalnya untuk gelar tetua adat atau tuan tanah.

(39)

Jika anak dari tetua adat atau tuan tanah ternyata tidak ada yang berjenis kelamin laki-laki, maka yang berhak mendapatkan pewarisan gelar tersebut adalah adik laki-laki dari tetua adat atau tuan tanah. Hal tersebut dikarenakan anak perempuan tidak berhak memangku gelar tetua adat atau tuan tanah, kecuali jika benar-benar sudah tidak ada laki-laki sama sekali. Dalam budaya suku bangsa Aru di Benjina, perkawinan dengan orang yang berasal dari marga yang sama adalah sesuatu yang dilarang. Maka dari itu dianjurkan untuk melakukan perkawinan dengan marga lain. Perempuan yang menikah dan mengikuti marga dari suami dianggap sudah keluar dari marga ayahnya. Walaupun begitu si perempuan masih diperbolehkan untuk tinggal bersama dengan keluarganya meskipun sudah menikah. Tidak ada larangan atau tabu jika si perempuan dan suami yang sudah dinikahinya masih tinggal satu atap dengan orangtua si perempuan. Hal ini dialami oleh FM (40 tahun), seorang laki-laki Aru yang tinggal bersama dengan menantu laki-lakinya.

Dahulu hal demikian dianggap tidak pantas, tetapi sekarang ini semua sudah dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Sebagaimana dikemukakan FM;“ya kalau dulu tidak boleh, tapi kalau sekarang ya tidak apa-apa. Kan sekarang sekarang sudah mulai fleksibel to”.

Selain pola tempat tinggal yang tidak harus mengikuti suami, ada satu lagi perubahan berarti yang terjadi pada suku bangsa Aru, yaitu tentang pemilihan jodoh yang tidak terikat pada suku yang sama.

Pernikahan atau perjodohan laki-laki dan perempuan Aru pada masa lalu hanya dibatasi dengan sesama orang Aru, tetapi pada masa sekarang ini hal tersebut tidak berlaku lagi. Pernikahan campur atau menikah di luar dengan suku bangsa Aru memang sudah lama terjadi, namun hal tersebut masih dianggap tabu. Hingga DGS datang, pernikahan campur menjadi hal yang biasa dilakukan dan tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu oleh suku bangsa Aru itu sendiri. Pernikahan campur terjadi antara suku bangsa Aru dengan suku bangsa pendatang seperti Tepa, Kei, Tanimbar, Jawa, atau Bugis.

(40)

Pembagian peran pada keluarga terlihat pada keseharian orang Aru. Perempuan akan melakukan tugas domestik atau tugas rumahtangga seperti memasak atau mengurus anak. Namun ada juga dari mereka yang melakukan pekerjaan yang menghasilkan uang seperti berdagang. Selama peneliti berada di Benjina, banyak ditemukan kaum perempuan dari Suku Bangsa Aru atau suku yang lainnya yang juga berprofesi sebagai pedagang sekaligus ibu rumahtangga. Mereka mencari uang namun juga bertanggungjawab kepada urusan makan, dapur, memperhatikan kebutuhan suami dan perawatan anak-anaknya.

Nampaknya ‘atmosfer bisnis’ di Benjina yang menjanjikan untuk melakukan perniagaan ditanggapi banyak perempuan dengan melakukan kegiatan produktif yang menghasilkan uang. Kaum laki-laki pun banyak yang menghabiskan waktunya untuk mencari ikan atau menjadi supir ojek air. Walaupun laki-laki dan perempuan sama-sama melakukan pekerjaan yang menghasilkan uang, namun peran kepala rumahtangga tetap berada di tangan laki-laki. Laki-laki berperan sebagai ayah yang harus didengar dan dihormati anak-anaknya, dan berperan sebagai suami yang harus dipatuhi istrinya.

Tidak jarang ditemukan laki-laki yang memiliki kebiasaan minum minuman keras setelah selesai bekerja atau mencari ikan. Hal tersebut nampak menjadi hal yang biasa bagi istri mereka. Tidak sedikit juga dari mereka yang minum minuman keras tersebut di rumah karaoke atau rumah prostitusi yang ada di Benjina, seperti FM misalnya. FM kerap menghabiskan waktunya baik siang atau malam untuk bermabuk-mabukan di rumah karaoke. Dia bisa menghabiskan puluhan botol bir dan membayar ratusan ribu rupiah untuk membayar kesenangannya tersebut.

Peneliti pernah bertanya untuk kesekian kali kepada FM, apakah istrinya tidak akan marah dengan kebiasaan FM? Apa reaksi istrinya ketika tahu jika suaminya berteman dekat dengan banyak wanita pekerja seks? FM berkata:

(41)

“Tidak, tidak apa-apa. Kakak perempuan (istri FM) tidak marah, kan cuma minum dan ngobrol-ngobrol saja to. Kalau mabuk berat juga paling numpang tidur di kamar kosong, tidak bikin apa-apa kok dengan pramuria hehe”

Ketika berjumpa dengan istri FM di rumahnya, peneliti sempat menyinggung topik tersebut dengan nada bercanda. Istri FM berkata dengan nada datar jika dia tidak marah, dan memaklumi jika laki-laki memang sering menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan cara seperti itu. Tidak selamanya perempuan Benjina merasa aman dengan perilaku suaminya yang kerap kali datang ke rumah karaoke. Salah satu perempuan tersebut adalah AA.

“Jujur saja dek, kaka pung suami itu suka pi rumah karaoke. Dong

ada bikin begitu to.. (berhubungan seks) deng pramuria. Kaka marah, kaka datang ke rumah karaoke cari itu pramuria yang su

goda kakapung suami. Kaka bilang ‘ko jangan goda beta pung

suami’, tapi perempuan itu bilang deng kaka begini ‘eeh ko pung

suami yang datang pigi ke beta, dong bilang dong pung istri seng

bisa servis baik! Itu ko pung kesalahan! Jadi istri seng bisa kasih servis! Makanya dandan yang cantik, beta di sini diam-diam saja,

seng datang ke ko pung suami, ko pung suami yang datang ke beta!’. Dia (pramuria) bicara begitu deng kaka. Jadi kaka berpikir juga to, jangan-jangan kaka yang salah”

Cerita di atas memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat sudah terpengaruh dengan keberadaan bisnis prostitusi. Memiliki istri atau pasangan, tidak menghalangi laki-laki untuk berekreasi di area yang sesungguhnya tidak diperkenankan untuk didatangi oleh laki-laki yang telah berumahtangga. Padahal dahulu, adat dan norma telah mengatur tentang kesetiaan dan larangan untuk tidak melakukan zina

(42)

serta berhubungan dengan orang lain yang telah memiliki pasangan. Sekali lagi, sanksi yang dibebankan nantinya adalah sanksi adat.

Selain pergeseran pandangan tentang hubungan di luar pernikahan. Menikah pada usia dini banyak dilakukan di Benjina. Memang tidak ada catatan atau data pasti mengenai perilaku tersebut. Tetapi melalui observasi dan wawancara, beberapa pasangan suami istri yang masih berusia sekitar 30 tahun ternyata sudah memiliki anak-anak yang usianya sudah masuk belasan tahun. Artinya jika dirunut ke belakang, pernikahan yang mereka lakukan terjadi pada saat usia mereka masih kurang dari 20 tahun. Alasan dibalik perilaku pernikahan di usia dini tersebut sebagian besar adalah karena mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

Selain karena kehamilan yang tidak diinginkan, ada hal menarik yang pernah peneliti temui, hal ini menyangkut tentang perjodohan yang dilakukan karena alasan ekonomi. Seorang remaja perempuan dari Suku Jawa berusia 15 tahun yang baru saja lulus SMP menikah dengan seorang tekong Indonesia yang usianya terpaut jauh di atas si remaja perempuan tersebut. Orangtua dari remaja perempuan menerima sejumlah uang dari tekong tersebut sebagai tanda setuju. Ketika pasangan beda usia tersebut menikah, ibu dari si remaja perempuan menyadari jika anaknya masih terlampau muda untuk memiliki anak. Sehingga hampir setiap malam, si ibu selalu mengingatkan si anak untuk meminum pil KB dan bahkan meminumkannya dengan tangannya sendiri.

Fenomena tersebut di atas ternyata sudah sering terjadi walaupun tidak ada data yang pasti. Seorang remaja perempuan AN (15 tahun) dari Suku Jawa mengatakan jika ada remaja seusia dirinya yang menikah dengan tekong, baik tekong lokal maupun tekong dari Thailand biasanya memang karena telah tergiur dengan tawan sejumlah uang.

“ada temenku pas masih SMP sering pamer buku tabungannya mbak. Dia kan memang pacaran sama tekong, terus tiap bulan dia

(43)

dikirim uang berjuta-juta per bulan. Padahal tekong-nya itu udah tua lho mbak. Katanya sih ibunya juga dikasih uang banyak juga makanya mau (menikahkan anaknya dengan tekong)”

2.4.2 Sistem Kemasyarakatan dan Politik Lokal

Ada 4 marga besar yang terdapat di Benjina yang sebenarnya masih terkait satu sama lain. Marga tersebut adalah; Fukar, Nada, Selly, dan Saytian. Mereka dianggap sebagai orang asli Benjina dan memegang peranan penting dalam hal adat istiadat serta pengelolaan tanah ulayat. Orang asli Benjina adalah suku bangsa Aru. Marga Fukar adalah marga yang secara adat memiliki hak untuk pengelolaan serta kepemilikan tanah ulayat. Satu orang tokoh atau pemimpin dari marga Fukar memegang posisi sebagai tuan tanah.

Selain tuan tanah, ada juga posisi yang sama pentingnya, yaitu tetua adat. Kedua jabatan tersebut sama-sama diwariskan secara turun temurun oleh pihak Ayah kepada anak laki-laki. Jika ternyata tidak ada anak laki-laki sama sekali, maka saudara laki-laki dari tuan tanah atau tetua adat terdahulu berhak mendapatkan jabatan tersebut dan seterusnya.

Posisi tetua adat sama atau sejajar dengan tuan tanah. Kedua jabatan ini merupakan jabatan yang paling tinggi dalam masyarakat adat. Walaupun begitu, pengaruh mereka tidak terbatas pada ranah adat saja, karena pada persoalan yang menyangkut persoalan pemerintahan pun mereka kerap turut andil di dalamnya. Adat dan pemerintah dianggap berdiri sejajar, bahkan ada beberapa orang yang menyebut jika adat memiliki posisi lebih tinggi dari pemerintah. Maka dari itu hukum adat sering kali lebih dahulu dipatuhi jika dibandingkan dengan hukum negara atau pemerintah.

Hal semacam itu dapat ditemukan dalam tradisi sasi yang berlaku tidak hanya di Benjina, tetapi hampir di seluruh Maluku. Sasi adalah suatu bentuk larangan atau tabu untuk melindungi sumber daya alam tertentu. Sasi diberlakukan jika sudah ada ancaman eksploitasi yang

(44)

berlebihan atau tidak bertanggungjawab dari suatu pihak, kepada sumber daya alam yang dianggap sudah hampir habis atau hampir punah. Pelanggaran dari sasi adalah sanksi adat berupa denda atau kutukan dari leluhur.

Sasi dianggap sebagai kearifan lokal masyarakat Maluku pada umumnya dan masih dilakukan sampai sekarang, walaupun dalam perkembangannya ada sebagian masyarakat yang menganggap sasi

tidak mampu lagi diterapkan pada masyarakat yang sudah cenderung modern. Penerapan sasi di Benjina nampaknya belum mengalami perubahan makna yang berarti. Justru sasi yang sejatinya berada di ranah adat bisa diadopsi pihak gereja Kristen Benjina untuk melakukan beberapa intervensi kepada pihak tertentu yang dirasa ingin mengancam kelestarian sumber daya alam di Benjina. Jadi kolaborasi antara adat dan gereja bisa dilakukan, dan hal tersebut menunjukkan tidak ada jarak yang berarti antara adat dan agama di Benjina.

Sasi yang dilakukan di Benjina selama ini memang lebih banyak dilakukan untuk melindungi sumber daya alam dari ekspoitasi berlebih dari pihak yang tidak bertanggungjawab. Misalnya sasi yang dilakukan oleh tuan tanah untuk melindungi keberlangsungan hidup udang-udang kecil yang berada di laut di dekat tempat tinggalnya.

“kan ada orang-orang yang suka cari udang untuk dibikin terasi. Ada orang kampung, ada orang Jawa juga. Mereka datang lalu ambil banyak-banyak setiap hari, lama-lama ya bisa habis laah! Jadi saya marah, saya sasi itu udang!”

Untuk menunjukkan jika area hidup udang tersebut telah dipasang

sasi, maka tuan tanah melakukan ritual adat sasi. Ritual tersebut dilakukan oleh tetua adat dan pendeta. Ritual yang pertama kali dilakukan adalah ritual doa yang dituturkan dengan bahasa Manumbay, dan dipimpin oleh tetua adat. Doa ini ditujukan untuk

(45)

Tuhan lalu leluhur atau tete nenek moyang. Tetua adat memimpin doa dan memberikan persembahan berupa sirih, pinang, tembakau, dan uang gobeng. Setelah doa secara adat dengan bahasa Manumbay selesai, doa dilanjutkan oleh seorang pendeta dengan membacakan doa dalam agama Kristen.

Salah satu pendeta yang pernah turut dalam ritual sasi adalah Pendeta Nus Oraile. Kala itu daerah Aru sedang mengalami goncangan karena adanya perusahaan PT. Menara Group yang ingin membuka perkebunan tebu di tanah Aru. Rencana tersebut ditentang oleh masyarakat bukan saja karena berpotensi akan merusak alam dan kekayaan hayati di dalamnya, namun juga berpotensi merusak tatanan sosial masyarakat Aru9. Salah satu jalan yang ditunjukkan untuk menentang rencana tersebut adalah melakukan ritual sasi di area yang diincar oleh PT. Menara Group.

Melakukan ritual sasi lebih awam disebut dengan pasang sasi. Tanda adanya sasiyang sudah dipasang adalah pemasangan janur kuning atau daun kelapa yang masih muda di lokasi yang dikehendaki untuk pasang sasi. Ritual pasang sasi untuk menolak PT. Menara Group dipimpin oleh salah satu tetua adat yang memimpin ritual dengan bahasa ritual, lalu dilanjutkan dengan pembacaan Injil oleh Pendeta Nus Oraile. Proses terakhir setelah semua doa usai dipanjatkan adalah pemasangan janur kuning yang dipasang di beberapa puncak pohon.

(46)

Gambar 2.1. Pasang Sasi Melawan PT. Menara Group Dokumentasi Pribadi Pendeta Nus Oraile

Menurut Pendeta Nus Oraile, pemasangansasi tersebut bertujuan untuk menegaskan penolakan masyarakat adat dengan rencana keberadaan PT. Menara Group tersebut.

“Kami pernah pasang sasi untuk menolak PT. Menara Group yang akan buka perusahaan dan memakai hutan milik kami. Kami menolak dengan pasang sasi. Jadi kalau misalnya PT. Menara Group melanggar hutan yang telah kami sasi, berarti mereka sudah melanggar adat. Harus ada sanksi adat. Jadi yang kami sasi adalah hutannya. Kemungkinan sasi itu berhasil, karena sampai sekarang ini mereka (PT. Menara Group) tidak datang lagi”

Sasi yang sudah dipasang pantang untuk dilanggar karena selain dapat mengakibatkan sanksi denda bagi si pelanggar, sanksi yang lebih berat yaitu kutukan atau hukuman dari leluhur juga menanti. Sasi ini di satu sisi justru tampak lebih ditakuti daripada dan dipatuhi jika dibandingkan dengan hukum negara. Karenasasi cenderung lebih

(47)

dipatuhi, maka gereja pun mengadopsi untuk diterapkan di dalam masyarakat. Sasi yang dilakukan gereja tidak memakai janur kuning yang dipasang, melainkan papan yang ditulis pemberitahuan jika lokasi atau sumber daya alam di lokasi ini telah dipasang sasioleh gereja.

Pihak yang meminta untuk memasang sasi ternyata bukan hanya dari orang Aru saja, tetapi menurut Pendeta Nus Oraile, ada juga orang Jawa yang turut memasang sasi untuk melindungi tanaman miliknya yang telah berbuah.

“yang pasang sasi bukan hanya orang Maluku saja, di sini orang Jawa juga ikut pasang sasi. Biasanya mereka pasang sasi karena ada yang curi mereka punya hasil kebun atau buah”

Sasi ternyata tidak hanya dapat diberlakukan untuk melindungi sumber daya alam saja. Ada beberapa contoh sasi yang bertujuan untuk melindungi, menjaga, dan mengatur sumber daya manusia. Misalnya yang juga diceritakan oleh Pendeta Nus Oraile tentang sasi

yang dilakukan masyarakat adat di Aru Selatan. Sasi tersebut diberlakukan kepada kaum perempuan. Pemicunya ditengarai karena adanya angka kehamilan di luar nikah yang tinggi. Pihak yang dikenakan sasi adalah pihak perempuan. Sasi tersebut intinya melarang kaum perempuan melakukan hubungan seks sebelum menikah. Tujuannya untuk melindungi diri kaum perempuan itu sendiri. Sasi akan dilepas ketika perempuan sudah siap untuk menikah. Jika sasi dilanggar, sanksi yang menunggu adalah sanksi adat berupa denda dan sanksi sosial. Menurut cerita dari Pendeta Nus Oraile, sasi tersebut berhasil diterapkan dan dipatuhi.

Gambaran tentang sasi di atas mencerminkan besarnya pengaruh adat dalam tatanan sosial suku bangsa Aru. Adat menjadi kontrol sosial yang didengar dan dipatuhi. Bahkan ada juga yang menyebutkan jika kadang kala, pertimbangan-pertimbangan dari tetua adat atau tuan tanah terkait dengan suatu keputusan atau kebijakan pemerintah, akan lebih didengar. Misalnya saja terkait

Figur

Memperbarui...

Related subjects :