EFEKTIFITAS AKUPRESUR TERHADAP
KELUHAN MUAL MUNTAH PADA IBU
HAMIL TRIMESTER PERTAMA DI KOTA
MAKASSAR TAHUN 2013
BALAI KESEHATAN TRADISIONAL MASYARAKAT (BKTM) MAKASSAR
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Sesuai dengan UU NO.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,pada pasal 1 ayat 16 mengatur bahwa pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Pada pasal 59 ayat 1 berdasarkan pada cara pengobatannya ,pelayanan kesehatan tradisional terbagi menjadi pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan keterampilan dan ramuan.Akupresur merupakan salah satu pelayanan kesehatan tradisional keterampilan.
Pada pasal 61 disebutkan juga bahwa masyarakat diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan,meningkatkan dan menggunakan pelayanan kesehatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.
Upaya pelayanan kesehatan tradisional merupakan pelayanan kesehatan yang secara tidak langsung memiliki peranan dalam menunjang pencapaian indikator Renstra Kementerian Kesehatan melalui pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional ramuan dan keterampilan dalam tumbuh kembang balita,kesehatan ibu hamil dan nifas,maupun pemanfaatan pijat untuk kesegaran tubuh.Di samping itu menunjang upaya pelayanan kesehatan terutama pencapaian Millenium Development Goals ( MDGs ) untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi .
Mual muntah merupakan salah satu tanda kehamilan sekitar 70% wanita hamil akan mengalaminya dan hiperemesis adalah bentuk yang paling parah. Ini ditandai dengan mual muntah persisten dengan ketosis yang dapat menyebabkan depresi volume elektrolit dan asam basa elektrolit ketidakseimbangan, kekurangan gizi bahkan kematian pada ibu.
Pada trimester pertama terjadi peningkatan sekresi human chorionic gonadotropin dalam jumlah banyak yang berasal dari plasenta,invasi tropoblas yang cepat ke endometrium dan sekresi estrogen dalam jumlah banyak dari plasenta,di mana keadaan –keadaan tersebut merupakan keadaan yang menyertai mual muntah pada ibu hamil yang sering disebut sebagai emesis gravidarum.O”Brien juga telah menemukan beberapa bukti yang menyatakan bahwa produksi hormon estrogen dan metabolisme diubah oleh kehamilan pertama seorang wanita sehingga banyak estriol bebas yang mengakibatkan rasa mual dan muntah dan akan lebih rendah pada kehamilan berikutnya.
Mual muntah atau emesis gravidarum dialami oleh 50%-90% wanita hamil pada trimester pertama. Sekitar 70 % mengalami rasa mual yang mengganggu kenyamanan,di mana rasa mual biasanya dimulai pada minggu-minggu pertama kehamilan dan berakhir pada bulan ke -4,namun 12 % ibu hamil masih merasakan sampai pada bulan ke-9 kehamilannya.
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) sebenarnya merupakan gejala wajar yang sering dialami wanita di awal kehamilannya atau trimester pertama, kurang lebih selama 10 minggu. Namun mual-muntah menjadi tak wajar lagi apabila kondisi ini terus dialami sepanjang kehamilan, bahkan sesudah melewati trimester pertama. Jika mual dan muntah ini dialami sepanjang hari dan sering, maka kondisi ini akan menjadi lebih serius.Ibu hamil dikhawatirkan mengalami hiperemesis gravidarum.
Insiden kondisi ini sekitar 3,5 per 1000 kelahiran. Walaupun kebanyakan kasus hilang dengan sendirinya seiring dengan perjalanan waktu, satu dari setiap 1000 wanita hamil akan menjalani rawat inap. Hiperemesis gravidarum umumnya hilang dengan sendirinya (self-limiting), tetapi penyembuhan berjalan lambat dan relaps sering umum terjadi. Kondisi sering terjadi diantara wanita primigravidarum dan cenderung terjadi lagi pada kehamilan berikutnya.
Pengobatan terhadap mual muntah jarang berhasil memperoleh kesembuhan sempurna tapi perasaan tidak enak biasanya dapat dikurangi dengan terapi farmakologis maupun non farmakologis.Terapi non farmakologis yang sering dilakukan adalah pemberian nutrisi dan vitamin dengan tepat,pengaturan
aktifitas,relaksasi,edukasi dan atau dukungan psikologi,herbal dan penggunaan akupuntur atau akupresur.
Akupresur aman dilakukan sendiri walaupun belum pernah melakukan sebelumnya asalkan mengikuti petunjuk yang ada.Tidak ada efek samping,tidak menimbulkan bahaya karena tidak menggunakan bahan kimia sehingga diyakini tidak terdapat efek negatif pada ibu maupun bayinya ( BRATMAN,2001 )
Salah satu terapi akupresur yang dimaksud adalah dengan melakukan penekanan pada titik PC 6 ( Perikardium 6 ),penekanan titik PC 6 selama sepuluh menit atau lebih,empat sehari terbukti efektif menghilangkan mual meskipun terapi ini tidak mempengaruhi berapa responden muntah pada 60 wanita hamil dibandingkan kelompok control yang dilakukan penekanan pada titik placebo ( Belluomi 1992 dalam Wesson,2002 ).
Menurut Nadia Ellis,stimulus pada titik PC 6 merupakan titik penting yang diberikan akupresur pada pasien dengan hiperemesis.Hal ini juga didukung oleh Koosnadi Saputra yang menuliskan bahwa titik PC 6 merupakan salah satu titik yang digunakan untuk kasus darurat dengan mual muntah.
Untuk mengetahui keefektifan pengaruh akupresur terhadap emesis gravidarum pada ibu hamil maka Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat akan melakukan pengkajian dalam rangka mengetahui efektifitas akupressur terhadap keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester pertama di puskesmas di kota Makassar.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang telah dijelaskan di atas,maka permasalahan yang akan dikaji adalah :
Bagaimana efektifitas akupressur terhadap keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester pertama di Puskesmas kota Makassar.
C. Tujuan Pengkajian Tujuan Umum :
Mengetahui efektifitas akupresur terhadap keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester pertama di Puskesmas di kota Makassar.
Tujuan Khusus :
1. Mengetahui gambaran frekuensi keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester pertama sebelum dilakukan akupresur.
2. Mengetahui gambaran frekuensi keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester pertama setelah dilakukan akupresur.
3. Mengetahui gambaran penurunan frekuensi keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester pertama setelah dilakukan akupresur.
D. Manfaat Pengkajian
1. Memperoleh gambaran efektifitas akupresur pada ibu hamil trimester pertama yang mengalami mual muntah.
2. Memperkenalkan ke masyarakat untuk melaksanakan akupresur secara mandiri dan benar untuk mengatasi mual muntah pada kehamilan.
3. Memperoleh data dasar untuk pengembangan pelayanan tradisional khususnya akupresur pada ibu hamil.
4. Sosialisasi tugas dan fungsi Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat (BKTM) Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. KEHAMILAN
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.
Menurut Winkjosastro (2005), kehamilan dibagi dalam 3 triwulan : 1. Triwulan I ( Umur kehamilan 0 – 12 minggu )
2. Triwulan II ( Umur kehamilan 12 minggu – 28 minggu ) 3. Triwulan III ( Umur kehamilan 28 minggu – 40 minggu ) 1. Proses Kehamilan
Fertilisasi ovum manusia oleh sebuah spermatozoa terjadi di Tuba Falopii dalam waktu singkat (beberapa menit hingga beberapa jam) setelah ovulasi. Enam hari setelah fertilisasi, blastokista mulai menanamkan diri di dalam endometrium uterus dan kehamilan telah dimulai.
Produksi hCG pada blastokista dimulai sangat dini, bahkan mendahului nidasi. Setelah implantasi, kadar hCG dalam plasma dan urin ibu meninggi sangat cepat. Produksi hCG oleh trofoblas janin sangat penting. Hal ini dikarenakan kerja hCG pada ovarium untuk mencegah involusi korpus luteum, yang berfungsi sebagai tempat pembentukan progesteron yang utama pada kehamilan 6-8 minggu pertama. Dengan uji radio imunoassai, hormon kehamilan tersebut dapat ditemukan 8 hingga 9 minggu setelah ovulasi. Kadar hCG dalam darah dan urin meningkat dari hari terjadinya implantasi sampai usia kehamilan 60-70 hari (Cunningham, Donald, Gant., 1995).
Selama kehamilan terjadi perubahan pada sistem gastrointestinal ibu hamil. Tingginya kadar progesteron mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolesterol darah. Selain itu sekresi saliva menjadi lebih asam, lebih banyak dan asam lambung menurun.
Dapat terjadi penurunan tonus dan motilitas saluran gastrointestinal yang menimbulkan pemanjangan waktu pengosongan lambung dan transit usus. Ini mungkin akibat jumlah progesteron tinggi selama kehamilan, menurunnya kadar motalin yang merupakan suatu peptida yang diketahui mempunyai efek terhadap perangsangan otot-otot halus. Perbesaran uterus menekan diafragma, lambung dan intestine.
Menurunnya gerakan peristaltik tidak hanya menyebabkan mual tetapi juga konstipasi. Konstipasi juga disebabkan oleh tekanan uterus pada usus bagian bawah pada awal kehamilan dan kembali pada masa akhir kehamilan.
Perubahan gastrointestinal lainnya adalah pirosis. Pirosis mungkin disebabkan refluks asam esofagus bagian bawah, selain itu posisi lambung yang berubah mungkin ikut menyumbang terjadinya pirosis. Tonus esofagus dan lambung berubah selama kehamilan, dengan tekanan intraesofagus menjadi lebih rendah dan tekanan lambung menjadi lebih tinggi, maka akan memicu terjadinya refluks esofageal (Cunningham, Donald, Gant., 1995).
B. MUAL DAN MUNTAH (EMESIS GRAVIDARUM) 1. Pengertian
emesis gravidarum atau gejala yang sering disebut sebagai morning sickness (perasaan mual dan ingin muntah). Akan tetapi, dokter obstetric dan dokter umum menganggap mual dan muntah hanya semata-semata merupakan sebuah gejala fisiologis, dan sebuah masalah yang sering membuat mereka merasa tidak berdaya untuk membantu mengatasinya. Mual dan Muntah sering diabaikan karena dianggap sebagai sebuah konsekuensi normal di awal kehamilan tanpa mengakui dampak hebat yang ditimbulkannya pada wanita dan keluarga mereka.
Seperti halnya nyeri, mual merupakan gejala yang dikatakan subjektif dan jika gejala tersebut menyebabkan stres pada wanita, ia berhak diberi cara yang paling memungkinkan untuk mengatasi gejala tersebut. Akibat meremehkan mual dan muntah yang dirasakan wanita pada saat kehamilan terbukti berkontribusi dalam meningkatkan ketegangan emosional, stress psikologis dan keterlambatan yang tidak semestinya dalam menemukan penanganan yang tepat, terutama jika kondisi menjadi patologis (Munch 2000). Pendidikan professional secara tradisional mengenai mual dan muntah dalam kehamilan sama dengan persepsi yang dialami pasien onkologi yang sedang menjalani kemoterapi
2. Insidensi
Koren (2000) menggambarkan mual dan muntah sebagai gangguan medis tersering selama kehamilan. Power et al (2001) mencatat sekitar 51,4% wanita mengalami mual dan 9,2% wanita mengalami muntah. Glick dan Dick (1999) beranggapan bahwa sekitar 50% wanita mengalami gejala. Emelianova et al (1999) menemukan frekuensi mual sebesar 67% dan 22% insidensi muntah dalam sekelompok wanita yang berjumlah 193 orang, sementara O’Brien dan Naber (1992) mengatakan bahwa 70% wanita mengalami mual dan 28% mengalami muntah. Gadsby et al (1993) melaporkan ada 80% insidensi, yaitu 28% hanya mengalami gejala mual dan 52 % mengalami mual dan muntah. Tinjauan sistematis dari Jewel dan Young (2000) mengidentifikasi angka mual antara 70 dan 85%, dengan sekitar setengah dari presentase ini mengalami muntah.
3. Waktu dan Durasi
Istilah “morning sickness” adalah tidak benar, meremehkan dan tidak tepat bagi beberapa wanita, gejala dapat berlangsung sepanjang hari, atau mungkin tidak terjadi sama se pada saat bangun tidur di pagi hari. Studi prospektif pada 160 wanita oleh Lacroix et al (2000) menemukan bahwa 74% melaporkan mual walaupun hanya 1,8% mengalaminya sebagai gejala yang hanya terjadi di pagi hari, pada 80% penderita, mual dapat berlangsung sepanjang hari. Sebanyak 76% wanita terbukti mengalami mual dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Vellacott et al (1988). Dalam survei ini ditemukan juga bahwa, meskipun praktik tradisional berupa menyampaikan informasi kepada wanita bahwa mual atau muntah saat kehamilan biasanya mereda atau meningkat pada akhir trimester pertama, hanya 27% yang melaporkan hilangnya gejala pada minggu ke dua belas, meskipun sebagian besar merasa lebih baik pada minggu ke-22 kehamilan. Lacroix et al (2000) menemukan bahwa episode mual dan muntah berlangsung sekitar 34 hari, dari awitan sampai resolusi.
Mual muntah yang berlebihan sehingga tidak ada makanan atau minuman yang masuk ke tubuh, disebut hiperemesis gravidarum. Keadaan ini dibagi 3 tingkatan.
1. Tingkat 1, muntah terjadi terus menerus hingga ibu hamil merasa lemas, tidak nafsu makan, BB turun, dan nyeri ulu hati.
2. Tingkat 2, keadaan ibu semakin lemah, apatis, kulit keriput, mata cekung, bau aseton pada napas.
3. Tingkat 3, kesadaran ibu bisa menurun bahkan bisa sampai koma. Peristiwa hiperemesis gravidarum ini sudah tak wajar karena bisa membuat ibu kekurangan cairan yang juga tak menguntungkan janin. Akibat dehidrasi, maka aliran darah ke janin pun ikut berkurang.
4. Fisiopatologi
Mual dan muntah selama kehamilan biasanya disebabkan oleh perubahan dalam sistem endokrin yang terjadi selama kehamilan, terutama disebabkan oleh tingginya fluktuasi kadar hCG (human chorionic gonadotrophin), khususnya karena periode mual atau muntah gestasional yang paling umum adalah pada 12-16 minggu pertama, yang pada saat itu, hCG mencapai kadar tertinggi. hCG sama dengan LH (luteinizing hormone) dan disekresikan oleh sel-sel trofoblas blastosit. hCG melewati kontor ovarium di hipofisis dan menyebabkan korpus luteum terus memproduksi estrogen dan progesteron, suatu fungsi yang nantinya diambil alih oleh lapisan korionik plasenta. hCG dapat dideteksi dalam darah wanita dari sekitar tiga minggu gestasi (yaitu satu minggu setelah fertilisasi), suatu fakta yang menjadi dasar bagi sebagian besar uji kehamilan.
Teori hCG tampak didukung oleh fakta mola hidatidosa disertai oleh muntah berlebihan pada sekitar 26% kasus yang diduga disebabkan oleh peningkatan kadar serum beta-hCG (Glick dan Dick, 1999). Peningkatan jumlah jaringan plasenta dalam kasus ini terbukti meningkatkan total jam terjadinya rasa mual di awal kehamilan (Gadsby et al, 1997).
HCG tampak bertanggung jawab atas penurunan TSH (thyroid stimulating hormone) dan peningkatan jumlah tiroksin bebas (T4) antara usia gestasi 10 dan 12 minggu (Hersman, 1999; Tareen et al; 1995; Goodwin et al, 1992; Lao et al, 1998). Banyak wanita yang mengalami hiperemesis gravidarum terbukti mengalami peningkatan fungsi tiroid, dengan sejumlah kecil mengalami tirotoksidosis gestasional, dengan serum hCG melebihi 200 IU/ml (Hershman, 1999). Penemuan serupa terjadi pada keadaan tumor trofoblastik, mola hidatidosa atau koriokarsinoma, dengan hipertiroidisme yang berespon terhadap terapi dipengaruhi oleh stressor yang terjadi pada periode pramenstruasi atau dipengaruhi oleh pil kontrasepsi.
Terdapat juga peningkatan insidensi mual dan muntah pada wanita yang telah mengalami beberapa kehamilan, karena kedua hormon tersebut memiliki kadar yang lebih besar dibandingkan wanita yang baru pertama hamil yang mendukung adanya pengaruh estrogen dan progesteron sebagai penyebab rasa mual dan muntah. Akan tetapi, Jarnfelt-Samsioe et al (1986) menunjukkan bahwa wanita yang mengalami emesis memiliki kadar progesteron yang lebih rendah secara signifikan, begitu juga kadar kortisol, di trimester pertama, sementara wanita yang sama di trimester ketiga mengalami peningkatan kadar dehidroepiandrosteron (DHEA-S) dan penurunan kadar testosteron. Gadsby et al (2000) telah menunjukkan adanya korelasi positif antara emesis di awal kehamilan dan kadar serum prostaglandin E2 maternal. Goodwin (2002) menyatakan bahwa respon wanita terhadap stimulus hormonal primer yang memulai mual bergantung pada kerentangan yang dihantarkan oleh kombinasi faktor-faktor gastrointestinal, olfaktorius, vestibular, dan perilaku.
Perubahan dalam metobolisme karbohidrat dan lipid menyebabkan hipoglikemia, terutama saat bangun tidur. Istilah yang terkenal tetapi sangat tidak tepat jika disebut dengan “morning sicknes”, meskipun hipoglikemia tampaknya tidak menyebabkan hasil yang membahayakan pada saat perinatal (Calfee et al, 1999). Rasa sangat menyukai dan sangat
tidak menyukai makanan tampak lebih jelas pada wanita muntah lebih hebat (Crystal et al, 1999), mungkin sebagai upaya untuk menggantikan nutrien yangkurang dikonsumsi saat prakonsepsi atau yang hilang akibat muntah. Flaxman dan Sherman (2000) mengulas kembali serangkaian literatur yang terkait dan menemukan bahwa mual terjadi paling buruk saat organogenesis embrio paling rentan terhadap gangguan zat kimia; Angka aborsi spontan lebih sedikit pada wanita yang mengalami gejala ini dan muntah tampaknya merupakan perlindungan terkuat melawan keguguran dibandingkan rasa mual yang dialami tanpa muntah. Rasa sangat menyukai makanan yang paling sering terjadi adalah terhadap minuman beralkohol dan berkafein, serta terhadap sayuran yang memiliki rasa kuat, hasil penemuan mereka bahwa rasa sangat menyukai makanan paling menonjol adalah terhadap daging,ikan,unggas dan telur yang dianggap diperlukan untuk organogenesis.
Teori bahwa rasa mual dimasa kehamilan mungkin merupakan cara alamiah untuk melindungi janin dengan mencagah ibu untuk tidak memakan makanan yang berbahaya juga telah diajukan (Sherman dan Flaxman, 2002; Brown et al, 1997), dengan wanita menjadi merasa mual saat melihat, mencium atau merasakan makanan yang mungkin berpotensi mempengaruhi janin, dan jika makanan dimakan menyebabkan wanita muntah agar makanan dikeluarkan. Wanita yang memiliki kadar hCG di bawah rentang normal lebih sering mengalami hasil kehamilan yang buruk, termasuk keguguran, kelahiran prematur atau retardasi pertumbuhan intrauterus (IUGR).
5. Faktor Fisiopatologis yang Menyebabkan Muntah Perubahan karbohidrat dan metabolisme lemak Situasi korpus luteum
Faktor genetik
Adaptasi saluran gastrointestinal Infeksi helicobacter pylori
hCG (human chorionic gonadotrophin) Hipotensi dan penurunan sirkulasi serebri Faktor imunologis
Dampak pada kemampuan mencium atau melihat Migren dan sakit kepala
Estrogen dan progesteron
Stimulasi saraf sensorik di lambung dan duodenum Serotonin
Perubahan hormon tiroid
Distensi, trauma atau infeksi uterus, kandung kemih atau pelvis ginjal Gangguan aparatus vestibular
6. Faktor Prediposisi Peningkatan Keparahan Mual dan Muntah Keletihan
Janin wanita
Refluks gastroesofagus
Mual dan muntah di kehamilan sebelumnya Penggunaan pil kontrasepsi saat prakonsepsi Mual pramenstruasi
Merokok
Stress,cemas dan takut Masalah sosio-ekonomi
Kesulitan dalam membina hubungan
Wanita yang memiliki ibu yang mengalami mual dan muntah saat hamil (genetic)
Hal tersebut sebagian menjelaskan mengapa wanita primigravida tampak lebih sering memerlukan hospitalisasi dibandingkan wanita multigravida (Atanackovic, Wolpin dan Koren, 2001), meskipun wanita dalam kehamilan berikutnya dapat disibukkan dengan anak lain dan tidak dapat sama se mengelak hospitalisasi.
Perjalanan ke tempat kerja yang mungkin terburu-buru di pagi hari tanpa waktu yang cukup untuk sarapan guna mengatasi hipoglikemia, dapat mencetuskan mual dan muntah. Perjalanan ke tempat kerja seperti yang telah dijelaskan di atas mungkin meningkatkan upaya koping terhadap transportasi umum yang sangat padat yang mungkin mengharuskan wanita berdiri, berdesak-desakkan di mobil angkutan umum yang sangat penuh yang dikelilingi oleh orang yang bau, baik bau yang menyenangkan maupun bau yang tidak enak (parfum, losion yang digunakan setelah bercukur, keringat, bau napas, bau asap rokok atau makanan dan minuman yang mungkin dikonsumsi) sehingga dapat mempengaruhi keparahan mualnya.
Bergantung pada sifat pekerjaan wanita, aroma, zat kimia atau lingkungan dapat menambah rasa mual wanita dan menyebabkan mereka muntah. Hiperolfaksi (kemampuan mencium yang berlebihan) dalam kaitannya dengan hiperemesis gravidarum dieksplorasi oleh Erick (1995) yang berdalil bahwa hal tersebut mungkin merupakan sebuah mekanisme yang mendorong calon ibu untuk menemukan lingkungan yang lebih baik. Merokok terbukti memperburuk gejala mual dan muntah (Gadsby et al, 1997), tetapi tidak jelas apakah ini disebabkan oleh efek olfaktorius (penciuman) atau efek nutrisi atau apakah dapat dibuat asumsi mengenai hubungan antara kebiasaan praktik dan distress psikoemosional. Tentu saja banyak wanita yang mengalami mual dan muntah atau membenci bau asap rokok dan tembakau. Bau seperti bau masakan, jika bekerja di toko makanan atau restoran, atau karena kantor berventilasi, serta pekerjaan dalam jarak dekat seperti pekerjaan di depan komputer yang mempengaruhi mata wanita hamil dan menyebabkan sakit kepala, juga dapat memicu mual. Zat kimia yang berbahaya di beberapa pekerjaan, seperti tinta untuk mencetak, gas anestesi atau cairan pembersih dapat juga memperburuk masalah, baik secara fisiologis maupun patologis.
Terdapat bukti yang menyatakan bahwa wanita yang mengandung anak perempuan lebih rentan mengalami hiperemesis gravidarum
dibandingkan wanita yang mengandung anak laki-laki (del Mar Melero-Montes dan Jick, 2001), terutama jika terdapat kehamilan kembar atau disertai preeklamsia (Basso dan Olsen, 2001), meskipun tidak ada penelitian lain yang ditemukan dalam literatur akademis yang dapat membuktikan hal ini. Saat wanita mengetahui jenis kehamilan janin, ia dapat mengalami emosi positif atau negatif secara ekstrem yang mungkin berhubungan dengan keinginannya untuk memperoleh bayi berjenis kelamin tertentu, hal ini pada akhirnya dapat memunculkan gejala fisik seperti mual dan muntah
Akan tetapi, kemampuan koping wanita yang mengalami mual dan muntah selama kehamilan sangat beragam, yang akan dipengaruhi oleh kepribadian dan sikapnya terhadap penyakit, komitmen keluarga dan pekerjaan, kesehatan umum dan ketersediaan mekanisme pendukung. Seorang ibu dapat mengeluh mengalami gejala yang berat, merasa nyaman meskipun mungkin hanya muntah dua atau tiga sehari, dan karena masuk ke rumah sakit dan mendapat perhatian, sementara orang lain mungkin menjalankan kehidupan sehari-hari dengan perasaan mual yang konstan dan sering muntah.
7. Juran Profesional Kesehatan Mengenai Mual dan Muntah Fisiologis Sebagian besar wanita akan berupaya untuk mengatasi sedikit gejala yang mereka rasakan, kadang meminta saran dari bidan, terapis, dokter umum atau ahli obstetri, Dilorio et al, (1994) menemukan bahwa praktisi medis melihat wanita sebagai sumber informasi primer berkenaan dengan masalah yang mereka rasakan. Pendekatan profesional tenaga kesehatan yang paling konvensional biasanya memasukkan saran untuk mengkonsumsi makanan dalam jumlah sedikit, namun sering untuk mempertahankan kadar gula darah (Power et al, 2001; Stables, 1993; Broussard dan Ritchter, 1998; Lindsay, 1997; Dilorio et al, 1994; Iatrakis, et al, 1988). Saran ini mencakup banyaknya anjuran untuk memakan biskuit kering atau sepotong roti bakar sebelum bangun dari tempat tidur di pagi
hari. Lindsay (1997) mengatakan ber- bahwa saran diet konvensional seharusnya disampaikan oleh bidan dan petugas kesehatan yang terkait, seperti menghindari makanan berlemak, pedas atau berbau tajam,makanan yang berbumbu dan menyatakan bahwa buah segar serta makanan lezat “biasanya dapat diterima”.
C. PENANGANAN MUAL DAN MUNTAH DENGAN TEKNIK AKUPRESUR Mual dan muntah pada kehamilan biasanya diterapi secara konservatif dengan istirahat dan pemberian keyakinan serta nasehat untuk mengkonsumsi makanan yang kaya karbohidrat, mudah dicerna dan rendah lemak dengan jumlah yang sedikit tetapi sering. Daging dan bau yang keras dapat memperparah mual dan muntah (Coad & Dunstall, 2001).
Mual di trimester pertama kehamilan tidak memerlukan terapi obat. Pada situasi yang jarang terjadi jika muntah bersifat berat, suatu antihistamin misal prometazin atau fenotiazin mungkin dibutuhkan. Jika gejala tidak teratasi dalam 24-48 jam, minta opini dari dokter spesialis (Tiran, 2008). Terapi non-farmakologis yang dapat dilakukan untuk mengatasi mual dan muntah pada kehamilan adalah melalui perubahan pada diet, pengobatan herbal, aromaterapi, akupresur, refleksiologi, osteopati, homeopati dan hipnoterapi.
Menurut Sukanta (2008), pijat akupuntur atau akupresur adalah cara pijat berdasarkan ilmu akupuntur atau bisa juga disebut akupuntur tanpa jarum. Teori akupuntur menjadi dasar praktek akupresur. Akupuntur menggunakan jarum sebagai alat bantu praktek, sedangkan akupresur menggunakan jari tangan, bagian tubuh lainnya atau alat tumpul sebagai pengganti jarum. Pemijatan dilakukan pada titik akupuntur di bagian tertentu tubuh untuk menghilangkan keluhan atau penyakit yang diderita.
1. Tujuan Akupresur
Pemijatan ditujukan untuk mengembalikan keseimbangan yang ada di dalam tubuh, dengan memberikan rangsangan agar aliran energi kehidupan dapat mengalir dengan lancar (DEPKES, 1996).
2. Manfaat Akupresur
Dalam Sukanta (2001) dikatakan bahwa akupresur bermanfaat untuk pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, rehabilitasi dan promotif.
3. Teori Dasar Akupresur
Adapun teori yang mendasari tindakan akupresur adalah adalah teori Yin dan Yang. Yin dan Yang merupakan dua aspek yang saling mempengaruhi, saling bertentangan dan membentuk satu kesatuan yang utuh dalam suatu keseimbangan yang dinamis. Terganggunya keseimbangan akan mengakibatkan suatu keadaan yang abnormal. Dalam ilmu akupresur keadaan ini disebut sebagai suatu kelainan yang menyebabkan orang merasa sakit. Tugas pemijat adalah mengembalikan keseimbangan Yin dan Yang tadi (DEPKES, 1996).
Cara kerja akupresur maupun akupuntur pada titik saluran energi tidak dipahami sepenuhnya. Bagi banyak praktisi pengobatan ortodoks barat, konsep saluran energi ini tampak tidak beralasan meskipun berbagai eksperimen untuk menegaskan keadaan meridian ini telah dilakukan. Zhang et al (1982) dalam Tiran (2008) menganalisis 324 titik akupuntur dan menemukan bahwa 304 sesuai dengan nervus superfisialis, 155 sesuai dengan nervus kutaneus profunda dan 137 titik disuplai oleh nervus superfisialis dan nervus kutaneus. Litscher et al., 2002 dalam Tiran (2008) melakukan studi silang acak yang dikendalikan plasebo untuk menunjukkan perbedaan secara statistik antara perfusi kulit di ujung jari setelah akupuntur di titik Neiguan (Perikardium 6) dan titik plasebo (kosong) dengan menggunakan pencitraan perfusi Doppler laser.
4. Akupresur Untuk Mual dan Muntah
• Titik perikardium 6 (Nei Guan)
Nei berarti medial sedangkan Guan berarti (pass) melewati. Titik ini merupakan lokasi yang penting pada bagian lengan bawah. Stimulasi titik perikardium ini dilakukan pada posisi telapak tangan menghadap ke atas. Titik ini berada pada garis tengah lengan bawah, dua ibu jari menuju siku dari lipatan pergelangan tangan (Albana, 2009). Titik
perikardium 6 berada pada 2 inchi China (5 cm) dari distal lipatan pergelangan tangan, antara tendon flexi karpi radialis dan palmaris longus (Dundee, 1990).
Akupresur berbeda dari akupuntur karena pada akupresur dilakukan penekanan secara konstan pada akunpuntur point dan tidak menusuk kulit. Akupresur point disebut juga potent point yang terdapat pada kulit (Hickman, Bell, Preston., 2005 ). Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) definisi akupuntur secara luas adalah stimulasi point tertentu pada tubuh (akupuntur point) menggunakan jarum, moksibusi, elektris, laser ataupun akupresur untuk tujuan terapeutik (Shang, 2007). Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dikatakan akupresur merupakan bagian dari akupuntur sehingga prinsip kerja akupresur dan akupuntur adalah sama.
Titik Neiguan (titik pericardium 6) digunakan dalam akupuntur untuk mencegah mual dan muntah yang berlokasi di antara tendon yaitu flexor carpi radialis dan otot palmaris longus, kira-kira 3 jari di atas lipatan tangan. Akupuntur dengan jarum, akupresur maupun akustimulasi bisa digunakan untuk menstimulasi titik pericardium 6 ini. Efek stimulasi titik tersebut belum mampu dipahami sepenuhnya, tetapi stimulasi pada titik tersebut diyakini mampu meningkatkan pelepasan beta-endorphin di hipofise dan ACTH sepanjang chemoreceptor trigger zone (CTZ) menghambat pusat muntah (Tarcin dkk, 1992).
Stimulasi pada titik akupuntur mengaktifkan tiga pusat yaitu spinal cord, midbrain dan pituitari untuk melepaskan neurokimia seperti endorphin, serotonin dan norepinehrin yang mampu memblok pesan nyeri. Selain endorphin, stimulasi pada titik akupuntur juga terjadi pelepasan adrenocorticotropin hormone (ACTH) dari pituitari. ACTH menstimulasi adrenal untuk memproduksi kortisol (Pearl, 1999). Di bawah ini adalah teori terkait mekanisme kerja akupuntur/ akupresur.
1. Teori neurotransmitter. Akupuntur mempengaruhi area otak, menstimulilasi sekresi beta-endorphin dan enkepalin pada otak dan spinal cord. Pelepasan neurotransmitter mempengaruhi sistem imun dan sistem antinoceptive.
2. Teori sistem syaraf otonom. Akupuntur menstimulasi pelepasan norepinephrin, acetylcholine dan beberapa tipe opoid, menormalkan sistem syaraf otonom dan mengurangi nyeri.
3. Teori gate control. Akupuntur mengaktifkan reseptor antinoceptive yang menghambat transmisi sinyal nociceptive pada dorsal horn.
4. Teori vascular-interstisial akupuntur memanipulasi sistem elektris tubuh dengan menciptakan atau meningkatkan transpor sirkuit tertutup pada jaringan. Hal ini memfasilitasi penyembuhan yang diikuti oleh transfer material dan energi elektris di antara jaringan yang normal dan jaringan yang terluka.
5. Teori kimia darah. Akupuntur mempengaruhi konsentrasi trigliserida, kolesterol dan phospholipid dalam darah, oleh karena itu akupuntur bisa menaikkan dan menurunkan komponen darah di perifer, dengan cara demikian akupuntur mengatur tubuh menuju homeostasis (National Institute of Health, 1997). Pemijatan dilakukan dengan cara membuat lingkaran yang lembut pada titik tersebut. Pada awalnya tidak dianjurkan untuk menekan terlalu keras karena bisa menyebabkan muntah menjadi lebih buruk. Bila merasa nyaman, maka tekanan dapat dilakukan lebih keras. Gosokan ini dilakukan selama 30 detik sampai dua menit. Akupresur bekerja dengan cukup cepat, biasanya satu sampai dua menit, bagi penderita yang mengalami gangguan pencernaan (Albana, 2009).
Menurut pengobatan tradisional China titik perikardium 6 terhubung dengan internal pathways yang mengalirkan energi melalui tubuh, sehingga stimulasi pada titik ini mampu meningkatkan kesehatan seseorang dengan cara memperlancar aliran energi (chi). Kedokteran modern mulai memahami konsep ini, mereka berpendapat bahwa akupuntur bekerja dengan cara mengubah jalan sinyal sel saraf satu dengan yang lainnya
sehingga berpengaruh pada sistem saraf pusat, dan memicu sistem saraf pusat untuk melepaskan suatu zat kimia tertentu ke tubuh (Mortin, 2009).
Stimulasi pada median nerve di P6 atau titik akupuntur Nei Guan banyak dilakukan dengan melakukan penekan pada lokasi tersebut (akupresur) telah banyak dipelajari untuk tujuan mengetahui keefektifan stimulasi titik tersebut dalam menurunkan mual dan muntah (Rosen dkk., 2009). Dundee, Sourial, Ghaly, Bell (1988) dalam JRSM (2009), melakukan sebuah studio prospektif yang didesain untuk mengetahui kemanjuran penekanan titik perikardium 6 dalam mencegah mual dan muntah selama kehamilan. Wanita yang mengalami mual dan muntah di awal kehamilan dibagi dalam tiga kelompok, kemudian dicatat keparahan dan frekuensi mual dan muntah yang terjadi selama 4 hari secara berurutan mendapat penekanan pada titik perikardium 6. Penekanan dilakukan pada titik dekat siku kanan dan tanpa pengobatan apapun. Terjadi pengurangan mual dan muntah pada kelompok intervensi maupun kelompok plasebo ketika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Ketika data diproses, hanya kelompok dengan penekanan titik perikardium 6 yang menunjukkan penurunan mual dan muntah secara signifikan. Tidak ada efek samping yang terjadi pada kelompok lain. Penekanan pada titik perikardium 6 tampaknya memiliki efek terapeutik yang spesifik.
Studi lain yang dilakukan oleh Shin, Seong, Soe (2007) dalam BMJ (2009), pada wanita hamil yang dirawat di rumah sakit baik mengalami mual dan muntah yang berat maupun ringan, wanita hamil melakukan akupresur pada pada titik perikardium 6 kemudian dibandingkan dengan wanita hamil lain yang tidak melakukan tindakan akupresur. Wanita dalam studi ini melakukan akupresur pada titik perikardium 6, tiga dalam sehari selama 10 menit. Hasilnya menunjukkan bahwa akupresur dapat menurunkan keparahan mual dan muntah.
Di luar negeri misalnya di kota London, telah tersedia gelang tangan ’sea sickness’ yang menggunakan prinsip akupresur/akupuntur, khususnya pada titik akupuntur perikardium 6 di pergelangan tangan bagian dalam. Gelang ini dapat dibeli di toko farmasi atau toko makanan sehat. Toko-toko tersebut juga menyediakan magnet akupresur kecil, dilekatkan pada pergelangan tangan dengan menggunakan plester, meski gulungan ini lebih mahal dibanding gelang, biasanya lebih efektif (Tiran, 2007).
Menurut Shin, Seong, Soe (2007, dalam BMJ, 2009) bahwa akupunturis meyakini bahwa perangsangan pada titik perikardium 6 ini sangat berguna uuntuk mencegah semua jenis mual dan muntah, termasuk mual dan muntah selama kehamilan dan mual dan muntah dalam perjalanan. Manset yang bisa diletakkan pada pergelangan
tangan seperti sea band biasanya digunakan untuk mencegah mual dan muntah selama perjalanan.
5 Syarat Tindakan Akupresur
Adapun beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam melakukan tindakan akupresur yaitu :
• Persiapan responden :
1. Pasien sebaiknya dalam keadaan berbaring, duduk atau dalam posisi yang nyaman.
2. Pasien dalam keadaan rileks, tidak emosional (marah, takut, terlalu gembira, atau sedih),tidak terlalu lapar atau terlalu kenyang.
• Persiapan akupresuris :
1. Sebelum memijat tangan dicuci bersih, kuku jari tidak boleh panjang dan tajam.
2. Pemijat dalam keadaan bebas bergerak dengan posisi yang nyaman sehingga bisa melakukan pemijatan dengan bebas dan tepat.
3. Menggunakan alat bantu pijat tidak tajam, tidak menyakitkan dan bersih
4. Tidak memijat daerah luka atau bengkak
• Persiapan lingkungan :
1. Ruangan tempat pemijatan hendaknya tidak pengap dan mempunyai sirkulasi yang baik.
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. KERANGKA KONSEP
B. Variabel Pengkajian
1. Variabel Independen: akupresur pada titik perikardium 6
2. Variabel Dependen: Mual dan muntah pada ibu hamil trimester pertama C. Definisi Operasional
a.i.1. Ibu hamil trimester pertama adalah seorang wanita yang sedang mengandung atau hamil dimana kandungannya atau kehamilannya tersebut sudah berjalan 1-3 bulan.
a.i.2. Mual dan muntah adalah gejala perasaan mual dan ingin muntah atau gejala yang sering disebut sebagai morning sickness (emesis gravidarum).
a.i.3. Akupresur pada titik PC 6 adalah Penekanan sedalam 1-2cm menggunakan ibu jari yang menghadap ke siku dengan kekuatan maksimal pada titik akupresur yang berada pada lengan bawah bagian depan, tepatnya kurang lebih 3 jari penderita di atas pergelangan tangan dan
berada di antara dua penonjolan ujung otot yang terlihat jelas saat menggenggam tangan dengan erat. Penekanan dilakukan selama 15 menit pada masing-masing lengan bawah. Apabila klien mengeluh nyeri, penekanan dapat dihentikan sejenak setelah 3 menit penekanan dan kemudian diteruskan kembali hingga lama total penekanan sama dengan 15 menit.
a.i.4. Keluhan berkurang adalah pernyataan perasaan spesifik seseorang yang dirasakan sebagai ungkapan rasa tidak nyaman/tidak enak dan keluhan tersebut dirasa berkurang frekuensinya setelah diberikan terapi akupresur pada titik PC 6
a.i.5. Keluhan menetap adalah pernyataan spesifik seseorang yang dirasakan sebagai ungkapan rasa tidak nyaman/tidak enak dan keluhan mual dan muntah tersebut frekuensinya tidak berkurang atau tetap sesudah terapi akupresur pada titik PC 6 .
a.i.6. Keluhan meningkat adalah pernyataan spesifik seseorang yang dirasakan sebagai ungkapan rasa tidak nyaman/tidak enak dan keluhan mual dan muntah tersebut frekuensinya malah meningkat sesudah terapi akupresur pada titik PC 6.
BAB IV
METODOLOGI PENGKAJIAN
A. Jenis Pengkajian
Jenis pengkajian yang digunakan Deskriptif dengan metode kualitatif terhadap ibu hamil trimester pertama yang mengalami mual muntah. B. Waktu dan Lokasi Pengkajian:
Waktu : Maret sampai dengan Juni 2013 Lokasi : 3 Puskesmas Kota Makassar,yaitu :
1. Puskesmas Patingaloang 2. Puskesmas Bara-barayya 3. Puskesmas Tamamaung C. Populasi dan sampel pengkajian
Populasi dalam pengkajian ini adalah keseluruhan ibu hamil di Puskesmas Kota Makassar.
D. Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah bagian dari populasi ibu hamil yang mengalami mual muntah di Puskesmas Kota Makassar.
E. Responden
Ibu hamil trimester pertama yang mengalami mual muntah. F. Kriteria inklusi
1. Ibu hamil trimester pertama yang mengalami mual muntah 2. Tidak mengkonsumsi obat-abatan anti emetik
3. Kooperatif dan bersedia menjadi subjek pengkajian G. Alat dan Bahan
a. kuesioner b.ATK
c. Komputer dan perangkat pengolah data d.Buku pedoman akupresur
H. Jalannya Pengkajian a. Tahap persiapan
1. Rapat Persiapan 2. Penyusunan Proposal 3. Presentasi Proposal 4. Perbaikan Proposal 5. Penetapan Proposal b. Tahap koordinasi
1. Pengurusan ijin ke Balitbangda Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan
2. Rapat koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar, Puskesmas Patingalloang, Puskesmas Bara - Baraya dan Puskesmas Tamamaung
I. Tahap Pelaksanaan
1. Mengambil data sekunder dari puskesmas 2. Wawancara responden menggunakan kuesioner J. Tehnik Pengumpulan Data
1. Data sekunder
Data diperoleh dari puskesmas 2. Data Primer
Data diperoleh dari hasil wawancara terhadap responden dengan menggunakan kuesioner
K. Tehnik Analisa Data
Tehnik yang digunakan adalah analisis univariat yang digunakan untuk memberikan gambaran umum mengenai variabel pengkajian dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan atau grafik disertai dengan penjelasan.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. KARAKTERISTIK UMUM
Tabel 1
Distribusi Responden Berdasarkan Umur N o Umur N Persen (%) 1 <20 Tahun 1 4 2 20 - 35 Tahun 23 92 3 >36 Tahun 1 4 Jumlah 25 100
Dari tabel di atas terlihat bahwa responden terbanyak pada pengkajian ini adalah kelompok umur 20 – 35 tahun yaitu berjumlah sebanyak 23 orang (92%), umur <20 tahun sebanyak 1 orang (4 %), dan yang terendah umur >36 tahun (4 %)
Kehamilan merupakan hal yang didambakan setiap wanita setelah menikah. Kehamilan harus direncanakan dengan baik agar bisa menghasilkan keturunan yang optimal. Bagi seorang wanita usia kehamilan yang ideal berada pada rentang umur 20-35 tahun. Wanita yang hamil pada usia di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun memiliki risiko tinggi seperti perceraian, kematian pada anak, dan abortus spontan. Pakar obstetri dan ginekologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof.Dr.dr Biran Affandi, Sp.OG mengatakan bahwa ibu yang hamil pada usia di bawah 20 tahun belum siap secara emosional dan mental. Kondisi tersebut dapat berakibat buruk bagi ibu hamil dan kandungannya.
Begitu pula dengan wanita hamil yang berusia di atas 35 tahun. Menurut pakar obstetri dan ginekologi tersebut, pada usia di atas 35 tahun, bibit kesuburan wanita akan menurun. Akibatnya, ketika mereka hamil akan timbul kelainan pada janin dan menyebabkan abortus spontan. Kemungkinan aborsi pada wanita hamil usia di atas 35 tahun sebesar 40 persen.
Tabel 2
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
No Tingkat Pendidikan N Persen (%)
1 Sekolah 3 12
2 Tidak Sekolah 22 88
Jumlah 25 100
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa responden terbanyak berdasarkan pendidikan adalah yang tidak bersekolah sebanyak 22 orang (88%) dan yang ber sekolah sebanyak 3 orang (12%).
Suminah dan Anantanya (2002), menyatakan bahwa sebagian besar kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang terbentuk melalui proses pendidikan. Kognitif merupakan bagian dari komponen aspek sikap yang mendorong orang untuk berperilaku. Selanjutnya, Kardjati (1985) mengatakan bahwa tinggi rendahnya pendidikan Ibu hamil erat kaitannya dengan tingkat pengertian terhadap perawatan kesehatan, serta kesadaran terhadap kesehatan anak-anak dan keluarganya.). Salah satu faktor yang banyak memberi pengetahuan pada manusia adalah pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non formal. Tidak adanya pendidikan pada seseorang dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan. Demikian juga dengan ibu hamil yang tidak mengalami atau memperoleh pendidikan tentu saja akan berakibat pada kurangnya pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehamilannya tersebut.. Akibat dari rendahnya pengetahuan dari ibu hamil tidak jarang kehamilan banyak menimbulkan adanya kematian baik pada ibu maupun pada bayi yang dilahirkan atau bahkan kedua-duanya
Tabel 3
Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan
No Pekerjaan N Persen (%)
1 Bekerja 3 12
2 Tidak Bekerja 22 88
Jumlah 25 100
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa responden terbanyak adalah yang tidak bekerja sebanyak 22 orang (88%), dan yang bekerja sebanyak 3 orang (12%).
Dari hasil tabel diatas dapat dilihat bahwa ibu yang tidak bekerja lebih banyak di banding ibu bekerja, hal ini dapat menyebabkan ibu yang tidak bekerja lebih sering
merasakan mual muntah di banding ibu bekerja. Karena ibu yang bekerja dapat mengendalikan dan mengalihkan perasaan emesisnya dengan bekerja.
Tabel 4
Distribusi Responden Berdasarkan Status Kehamilan
No Status Kehamilan N Persen (%)
1 Primigravida 8 32
2 Multigravida 17 68
Jumlah 25 100
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa responden yang terbanyak adalah responden multigravida sebanyak 17 orang (68%), dan yang terendah adalah responden primigravida sebanyak 8 orang (32%).
Secara fisik primigravida belum mampu beradaptasi dengan hormon estrogen dan koreonik gonadotropin sehingga lebih sering terjadi emesis gravidarum. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Luvlyna (2009) mengatakan bahwa secara psikologis setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap diagnosis kehamilan. Faktor psikologis pada ibu hamil akan berbeda seiring dengan frekuensi bayi yang dikandung. Pada ibu yang sudah memiliki anak sebelumnya, pengalaman tentang kehamilan akan menjadi sangat berharga. Kehamilan keduanya ini mungkin tidak banyak mengandung simpati, perhatian dan nasihat sehingga ibu bisa lebih menikmati kehamilannya. Sementara ibu dengan kehamilan pertama memiliki respon dan asumsi tertentu yang diciptakan oleh ibu lain yang sudah memiliki pengalaman dalam kehamilan. Multigravida atau grandemultigravida dianggap berpengalaman dalam kehamilan, menangani anak-anaknya dan tidak akan membiarkan perubahan-perubahan serta ketidaknyamanan kehamilan mengganggu konsentrasi dan kehidupannya.
Tetapi dalam penelitian ini ternyata responden multigravida lebih banyak di banding responden primigravida yang masih mengalami emesis di trimester I kehamilannya.
Tabel 5
Distribusi Responden Berdasarkan Umur Kehamilan
No Umur kehamilan N Persen (%)
1 1 - 6 minggu 3 12
2 7 – 12 minggu 22 88
Jumlah 25 100
Berdasarkan tabel 5 di atas terlihat bahwa sebagian besar responden mempunyai umur kehamilan antara 7 – 12 minggu berjumlah 22 orang (88%) dan sisanya 1 - 6 minggu sebanyak 3 orang ( 12 % ).
Mual dan muntah selama kehamilan biasanya disebabkan oleh perubahan dalam sistem endokrin yang terjadi selama kehamilan, terutama disebabkan oleh tingginya fluktasi kadar HCG (human chorionic gonadotrophin), khususnya karena periode mual atau muntah gestasional yang paling umum adalah pada 12-16 minggu pertama, yang pada saat itu, HCG mencapai kadar tingginya. HCG sama dengan LH (luteinzing hormone) dan disekresikan oleh sel-sel trofoblas blastosit. HCG melewati kontrol ovarium di hipofisis dan menyebabkan korpus luteum terus memproduksi estrogen dan progesteron, suatu fungsi yang nantinya diambil alih oleh lapisan korionik plasenta.
Tabel 6
Distribusi Responden Berdasarkan Awal Mual Muntah
No Umur Kehamilan N Persen (%)
1 1 - 6 Minggu 20 80
2 7 – 12 Minggu 5 20
Jumlah 25 100
Berdasarkan tabel 6 distribusi kejadian awal mual muntah yang terbanyak adalah pada umur kehamilan 1 – 6 minggu sebanyak 20 orang (80%), dan yang terendah adalah pada umur kehamilan 7 – 12 minggu sebanyak 5 orang(20%).
Emesis gravidarum adalah gejala yang wajar dan sering didapatkan pada ibu hamil trimester I. Mual dan muntah biasanya terjadi pada pagi hari tetapi dapat pula timbul setiap saat pada malan hari. Emesis gravidarum kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan
keadaan ini, meskipun gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan (Prawirohardjo, 2005:275).
Tabel 7
Distribusi Responden Berdasarkan Rangsangan Organoleptik Ibu Hamil
No Rangsangan organoleptik N Persen (%)
1 Ya 22 88
2 Tidak 3 12
Jumlah 25 100
Berdasarkan hasil tabel 7 di atas ternyata sekitar 22 0rang (88%) ibu hamil mual muntah jika mendapat rangsangan organoleptik (bau tertentu) dan hanya 3 orang (12%) yang tidak mual muntah jika mendapat rangsangan organoleptik (bau tertentu).
Pada awal kehamilan terjadi peningkatan kadar hormon beta HCG (hormone Chorionic Gonadotropin) yang berfungsi untuk menjaga kehamilan sebelum plasenta terbentuk. Hormon HCG memicu tingginya produksi asam lambung dengan gejala kembung, mual, muntah, dan nyeri ulu hati. Hormon HCG juga mengurangi gerakan lambung dan usus. Peningkatan hormon beta HCG disertai peningkatan sensitifitas wanita hamil terhadap bau akibat efek hormon progesterone yang juga meningkat semasa hamil, terkadang menyebabkan mual dan muntah hebat pada masa awal kehamilan(Utami, 2008:3)
Tabel 8
Distribusi Responden Berdasarkan
Riwayat Keluhan Sakit Kepala & Migren Sebelum Hamil
No Sakit Kepala & Migren N Persen (%)
1 Ya 21 84
2 Tidak 4 16
Jumlah 25 100
Berdasarkan Tabel diatas terlihat bahwa responden yang terbanyak adalah yang mengeluh sakit kepala dan migren sebanyak 21 orang(84%), dan yang terendah sebanyak 4 orang (16%).
Ibu hamil yang mengalami sakit kepala dan migren sebelum hamil memiliki kecenderungan lebih besar untuk mual dan muntah ketika hamil.
Tabel 9
Distribusi Responden Berdasarkan Pemakaian Kontrasepsi Hormonal Sebelum Hamil
No Kontrasepsi N Persen (%)
1 Ya 11 44
2 Tidak 14 56
Jumlah 25 100
Berdasarkan Tabel 9 di atas yang menggunakan kontrasepsi sebelum hamil sebanyak 11 orang (44%), dan3sebanyak 14 orang (56%). yang tidak menggunakan kontrasepsi sebelum hamil.
Beberapa studi menghubungkan tingginya kadar estradiol terhadap beratnya mual dan muntah pada wanita hamil, sementara yang lain menemukan tidak adanya korelasi antara kadar estrogen dengan beratnya mual dan muntah pada wanita hamil, intoleransi terhadap kontrasepsi oral terkait dengan mual dan muntah dalam kehamilan. Progesteron juga mencapai puncaknya pada trimester pertama dan menurunkan aktivitas otot polos, tetapi penelitian gagal untuk menunjukkan keterkaitan antara kadar progesteron dan gejala mual muntah pada wanita hamil. Namun demikian dipercaya bahwa peningkatan kadar hormon estrogen dapat meningkatkan pengeluaran asam lambung. Sementara itu peningkatan kadar hormon progesteron akan menurunkan motilitas usus sehingga memicu mual dan muntah.
Tabel 10
Distribusi Responden Berdasarkan Kebiasaan Merokok
No Merokok N Persen (%)
1 Ya 3 12
2 Tidak 22 88
Jumlah 25 100
Dari hasil tabel 10 diatas responden ibu hamil yang memiliki kebiasaan merokok berjumlah 3 orang (12%), dan yang tidak merokok berjumlah 22 orang (88%).
Merokok terbukti memperburuk gejala mual dan muntah, tetapi tidak jelas apakah ini di sebabkan oleh efek olfaktorius (penciuman) atau efek nutrisi, atau apakah dapat di buat asumsi mengenai hubungan antara kebiasaan praktik dan distress
psikoemosional. Tentu saja banyak wanita hamil yang mengalami mual dan muntah akan membenci bau asap rokok dan tembakau (Tiran, 2009:17)
Tabel 11
Distribusi Responden Berdasarkan Kehamilan Yang Direncanakan
No Kehamilan yang
direncanakan N Persen (%)
1 Ya 22 88
2 Tidak 3 12
Jumlah 25 100
Berdasarkan hasil tabel 11 diatas responden ibu hamil yang merencanakan kehamilannya berjumlah 22 orang (88%), dan yang tidak direncanakan berjumlah 3 orang (12%).
Bagi sebagian wanita mungkin timbul perasaan gembira yang sangat dengan kehamilan yang sudah direncanakan, tetapi bagi sebagian lainnya yang belum siap, kehamilan dapat menjadi peristiwa yang mengejutkan karena mendengar berita tersebut dan membayangkan masalah sosial serta finansial yang harus ditanggungnya. Dengan adanya respon yang berbeda tersebut akan memunculkan masalah dan ketidaknyamanan umum pada kehamilan yaitu emesis gravidarum.
Kehamilan yang tidak di rencanakan, tidak di inginkan, atau tidak nyaman akan menyebabkan penderitaan batin,ambivalensi dan konflik, sehingga menjadi faktor emosional yang membuat mual dan muntah menjadi lebih berat. Sedang dari hasil kajian ternyata ada 3 responden ibu hamil trimester pertama yang tidak merencanakan kehamilannya juga mengalami mual – muntah.
B. Gambaran Frekuensi Mual – muntah pada Ibu Hamil Trimester Pertama Sebelum Dilakukan Tindakan Akupresur.
Tabel 12
Frekuensi Mual Pada Ibu Hamil Trimester I sebelum Tindakan
No Frekuensi Mual N Persen (%)
1 Tidak Mual 0 0
2 1 – 3 4 20
3 4 – 9 14 56
4 >9 6 24
Jumlah 25 100
Berdasarkan hasil tabel 12 di atas responden ibu hamil yang mengalami frekuensi mual 1 - 3 sebanyak 5 orang(20%), yang mengalami frekuensi mual 4 - 9 sebanyak 14 orang(56%), yang mengalami frekuensi mual > 9 sebanyak 6 orang (24%).
Tabel 13
Frekuensi Muntah Pada Ibu Hamil Trimester I sebelum Tindakan
No Frekuensi Muntah N Persen (%)
1 Tidak muntah 0 0
2 1 - 3 4 16
3 4 – 9 17 68
4 >9 4 16
Jumlah 25 100
Berdasarkan hasil tabel 13 di atas responden ibu hamil yang mengalami frekuensi muntah 1 - 3 sebanyak 4 orang(16%), yang mengalami frekuensi muntah 4 - 9 sebanyak 17 orang(68%), yang mengalami frekuensi muntah >9 sebanyak 4 orang (16%).
C. Gambaran Frekuensi Mual – muntah pada Ibu Hamil Trimester Pertama Setelah Dilakukan Tindakan Akupresur
Frekuensi Mual – muntah pada ibu hamil trimester pertama setelah di lakukan tindakan akupresur dapat di lihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 14
Frekuensi Mual Pada Ibu Hamil Trimester I Setelah Tindakan
No Frekuensi Mual N Persen (%)
1 Tidak mual 10 40
2 1 – 3 15 60
3 4 – 9 0 0
4 > 9 0 0
Jumlah 25 100
Berdasarkan hasil tabel 14 diatas responden ibu hamil yang tidak mengalami mual lagi sebanyak 10 orang(40%), frekuensi mual 1 - 3 setelah tindakan sebanyak 15 orang(60%), dan tidak ada yang mengalami frekuensi mual 4 - 9 dan frekuensi mual >9 .
Tabel 15
Frekuensi Muntah Pada Ibu Hamil Trimester I Setelah Tindakan
No Frekuensi Muntah N Persen (%)
1 Tidak muntah 16 64
2 1 – 3 9 36
3 4 – 9 0 0
4 > 9 0 0
Jumlah 25 100
Berdasarkan hasil tabel 15 diatas responden ibu hamil yang tidak mengalami muntah sebanyak 16 orang (64%), frekuensi muntah 1 - 3 setelah tindakan sebanyak 9 orang (36%), dan tidak ada yang mengalami frekuensi muntah 4 - 9 dan frekuensi muntah >9 .
D. Gambaran Penurunan Frekuensi Keluhan Mual – Muntah pada Ibu Hamil Trimester Pertama Setelah Tindakan Akupresur
Tabel 16
Hubungan Tindakan Akupresur Terhadap Penurunan Frekuensi Mual No Frekuensi Mual Sebelum AkupresurN (%) Sesudah AkupresurN (%)
1 Tidak Mual 0 0 10 40
2 1 – 3 5 20 15 60
3 4 – 9 14 56 0 0
4 >9 6 24 0 0
Jumlah 25 100 25 100
Dari hasil tabel 16 di atas menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian tindakan akupresur terhadap penurunan frekuensi mual ibu hamil trimester pertama (P=0.000), tindakan akupresur dapat mengurangi frekuensi mual ibu hamil trimester pertama (95% CI=1.199-1.681).
Tabel 17
Hubungan Tindakan Akupresur Terhadap Penurunan Frekuensi Muntah No Frekuensi Muntah Sebelum Akupresur Sesudah Akupresur
N (%) N (%) 1 Tidak Muntah 0 0 16 64 2 1 – 3 4 16 9 36 3 4 – 9 17 68 0 0 4 >9 4 16 0 0 Jumlah 25 100 25 100
Dari hasil tabel 17 di atas menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian tindakan akupresur terhadap penurunan frekuensi muntah ibu hamil trimester pertama (P=0.000) akupresur juga dapat mengurangi frekuensi muntah ibu hamil (95%CI=1.405-1.875)
Tabel 18
Distribusi Penurunan Frekuensi Mual Berdasrkan Kelompok Umur Umur Responden (Tahun) Frekuensi Mual (Kali) Sebelum Tindakan Persen (%) Sesudah Tindakan Persen (%) <20 Tidak Mual 0 0 1 4 1 – 3 0 0 0 0 4 – 9 1 4 0 0 >9 0 0 0 0 20 – 35 Tidak Mual 0 0 9 36 1 – 3 5 20 14 56 4 – 9 12 48 0 0 >9 6 24 0 0 >35 Tidak Mual 0 0 0 0 1 – 3 0 0 1 4 4 – 9 1 4 0 0 >9 0 0 0 0 Jumlah 25 100 25 100
Dari hasil tabel 18 di atas menunjukkan bahwa umur responden <20 tahun setelah kunjungan ke-lima mengalami penurunan frekuensi mual dari 4 – 9 menjadi tidak mual lagi, umur responden 20 – 35 tahun setelah kunjungan kelima 9 orang (36%) tidak mengalami mual, 14 orang (56%) mengalami penurunan frekuensi mual dari 4 – 9 menjadi 1 - 3 , dan dari umur responden > 36 tahun mengalami penurunan frekuensi dari 4 – 9 menjadi 1 - 3 .
Tabel 19
Distribusi Penurunan Frekuensi Muntah Berdasrkan Kelompok Umur Umur Responde n (Tahun) Frekuensi Muntah (Kali) Sebelum Tindakan Persen (%) Sesudah Tindakan Persen (%) <20 Tidak Muntah 0 0 1 4 1 – 3 0 0 0 0 4 – 9 1 4 0 0 >9 0 0 0 0 20 – 35 Tidak Muntah 0 0 15 60 1 – 3 4 16 8 32 4 – 9 15 60 0 0 >9 4 16 0 0 >35 Tidak Muntah 0 0 0 0 1 – 3 0 0 1 4 4 – 9 1 4 0 0 >9 0 0 0 0 Jumlah 25 100 25 100
Dari hasil tabel 17 di atas menunjukkan bahwa umur responden <20 tahun setelah kunjungan ke-lima mengalami penurunan frekuensi muntah dari 4 – 9 menjadi tidak muntah lagi, umur responden 20 – 35 tahun setelah kunjungan kelima 15 orang (60%) tidak mengalami muntah dan 8 orang (32%) mengalami penurunan mual dari 4– 9 menjadi 1 – 3 ,1 orang (4%) mengalami penurunan dari >9 menjadi 4 – 9 , dan dari umur responden >36 tahun mengalami penurunan frekuensi dari 4 - 9 menjadi 1 – 3
Tabel 20
Distribusi Penurunan Frekuensi Mual Berdasrkan Kelompok Umur Kehamilan Umur Kehamilan (Minggu) Frekuensi Mual (Kali) Sebelum Tindakan Persen (%) Sesudah Tindakan Persen (%) 1 – 6 Tidak Mual 0 0 1 4 1 – 3 2 8 2 8 4 – 9 1 4 0 0 >9 0 0 0 0 7 – 12 Tidak Mual 0 0 9 36 1 – 3 3 12 13 52 4 – 9 13 52 0 0 >9 6 24 0 0 Jumlah 25 100 25 100
Dari hasil tabel 21 di atas menunjukkan bahwa penurunan frekuensi mual terbesar berada pada usia kehamilan 7 – 12 minggu yaitu 13 orang (52%) mengalami frekuensi mual 1-3 kali, dan 9 orang (32%) sudah tidak mual, sedangkan pada usia kehamilan 1-6 minggu yaitu 2 orang (8%) mengalami penurunan frekuensi mual 1-3 kali dan 1 orang (4%) sudah tidak mual.
Tabel 19
Distribusi Penurunan Frekuensi Muntah Berdasrkan Kelompok Umur Umur Kehamilan (Minggu) Frekuensi Muntah Sebelum Tindakan Persen (%) Sesudah Tindakan Persen (%) 1 – 6 Tidak Muntah 0 0 3 12 1 – 3 1 4 0 0 4 – 9 2 8 0 0 >9 0 0 0 0 7 – 12 Tidak Muntah 0 0 13 52 1 – 3 3 12 9 36 4 – 9 15 60 0 0 >9 4 16 0 0 Jumlah 25 100 25 100
Dari hasil tabel 21 di atas menunjukkan bahwa penurunan frekuensi muntah terbesar berada pada usia kehamilan 7 – 12 minggu yaitu 13 orang (52%) tidak
mengalami muntah lagi dan 9 orang (36%) mengalami penurunan menjadi 1 – 3 . Sedang pada usia kehamilan 1 – 6 minggu terjadi penurunan muntah dari 4 – 9 menjadi tidak muntah lagi.
DISTRIBUSI PENURUNAN FREKUENSI MUAL – MUNTAH SEBELUM DAN SESUDAH TINDAKAN AKUPRESUR NAMA
RESPOND EN
MUAL MUNTAH
Sebelum Sesudah Persentase Sebelum Sesudah
R01 4 0 100 4 0 R02 5 1 80 5 1 R03 5 1 80 5 0 R04 5 0 100 5 0 R05 6 1 83.33 6 0 R06 7 1 85.71 5 0 R07 3 0 100 5 0 R08 10 2 80 5 0 R09 5 0 100 5 1 R10 10 2 80 5 1 R11 7 1 85.71 5 0 R12 3 0 100 3 0 R13 5 1 80 3 1 R14 10 2 80 10 2 R15 5 0 100 5 0 R16 8 1 87.5 8 0 R17 10 2 80 10 3 R18 6 1 83.33 6 1 R19 5 0 100 5 0 R20 8 3 62.5 10 2 R21 3 1 66.67 5 0 R22 3 0 100 2 0 R23 10 3 70 10 2 R24 5 0 100 5 0 R25 3 0 100 2 0
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan frekuensi mual muntah setelah dilakukan tindakan akupresur. Hal ini terjadi karena adanya efek stimulasi pada titik PC 6 yang diyakini mampu meningkatkan pelepasan beta-endorphin di hipofise dan ACTH sepanjang chemoreceptor trigger zone (CTZ) untuk menghambat pusat muntah. Stimulasi ini juga mampu membantu melepaskan neourokimia seperti endorphin,
serotonin, dan norephinerin yang mampu memblok nyeri dan pelepasan neurotransmitter juga mempengaruhi system imun dan system antinoseptiv.
GRAFIK 1
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.01
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.E, umur 27 tahun, umur kehamilan 12 minggu, tidak pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, tidak pernah mengalami migren sebelum hamil ,tidak ada riwayat penyakit sebelum hamil, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 6 – 12 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual dan muntah mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2.
GRAFIK 2
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.02
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.N, umur 37 tahun, umur kehamilan 10 minggu, tidak pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah
tangga, pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelum hamil, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1-6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 3, sedangkan pada frekuensi muntah terjadi penurunan pada saat kunjungan ke 2.
GRAFIK 3
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.03
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.R, umur 28 tahun, umur kehamilan 11 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelum hamil, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1-6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 4, sedangkan pada frekuensi muntah terjadi penurunan pada saat kunjungan ke 2.
GRAFIK 4
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.04
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.L, umur 26 tahun, umur kehamilan 7 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai karyawan swasta, pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelum hamil, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1-6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2, sedangkan pada frekuensi muntah terjadi penurunan pada saat kunjungan ke 3.
GRAFIK 5
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.05
Berdasarkan grafik diatas responden atas nama Ny.R, umur 28 tahun, umur kehamilan 6 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelum
hamil, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual dan muntah mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2.
GRAFIK 6
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.06
Berdasarkan grafik diatas responden atas nama Ny.P, umur 27 tahun, umur kehamilan 4 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai tenaga kesehatan (perawat), pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelum hamil, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2, sedangkan pada frekuensi muntah terjadi penurunan pada saat kunjungan ke 3.
GRAFIK 7
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.07
Berdasarkan grafik diatas responden atas nama Ny.H, umur 20 tahun, umur kehamilan 11 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelum hamil, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 6 - 12 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual dan muntah mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2.
GRAFIK 8
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.08
Berdasarkan grafik diatas responden atas nama Ny.R, umur 22 tahun, umur kehamilan 9 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelum hamil,
tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual dan muntah mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2.
GRAFIK 9
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.09
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.N, umur 28 tahun, umur kehamilan 8 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, pernah mengalami migren sebelum hamil , sering sakit kepala sebelum hamil, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2, sedangkan pada frekuensi muntah terjadi penurunan pada saat kunjungan ke 1
GRAFIK 10
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.10
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.R, umur 31 tahun, umur kehamilan 10 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelumnya, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2, sedangkan pada frekuensi muntah terjadi penurunan pada saat kunjungan ke 3.
GRAFIK 11
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.11
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.N, umur 27 tahun, umur kehamilan 12 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga,
pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelumnya, mempunyai kebiasaan merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual dan muntah mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2.
GRAFIK 12
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.12
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.N, umur 33 tahun, umur kehamilan 11 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelumnya,tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 6 - 12 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual dan muntah mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2.
GRAFIK 13
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.13
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.N, umur 33 tahun, umur kehamilan 12 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, tidak pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelumnya, mempunyai kebiasaan merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2, sedangkan pada frekuensi muntah terjadi penurunan pada saat kunjungan ke 3.
GRAFIK 14
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.14
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.A, umur 23 tahun, umur kehamilan 9 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga,
pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelumnya, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual dan muntah mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 3.
GRAFIK 15
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.15
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.N, umur 26 tahun, umur kehamilan 11 minggu, tidak pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, sering sakit kepala sebelum hamil, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2 yaitu dari 5 menjadi 3 sehari, sedangkan pada frekuensi muntah terjadi penurunan pada saat kunjungan ke 2 yaitu dari 3 menjadi 2 sehari
GRAFIK 16
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.16
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.H, umur 25 tahun, umur kehamilan 9 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, pernah mengalami migren sebelum hamil , tidak ada riwayat penyakit sebelumnya, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual muntah mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2.
GRAFIK 17
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.17
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.H, umur 30 tahun, umur kehamilan 11 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga,
pernah mengalami migren sebelum hamil , sedang menderita penyakit gondok, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual muntah mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2.
GRAFIK 18
Gambaran Mual Muntah Sebelum Dan Sesudah Tindakan Responden R.18
Berdasarkan grafik di atas responden atas nama Ny.A, umur 35 tahun, umur kehamilan 9 minggu, pernah sekolah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, pernah mengalami migren sebelum hamil , menderita penyakit maag, tidak pernah merokok, dan mengalami mual muntah pada saat umur kehamilan 1 - 6 minggu menggambarkan bahwa frekuensi mual muntah mengalami penurunan pada saat kunjungan ke 2