• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL ILMIAH BAGIAN DARI TESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARTIKEL ILMIAH BAGIAN DARI TESIS"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL ILMIAH BAGIAN DARI TESIS

Efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) Dan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) Terhadap Hasil Belajar Kognitif Dan Keterampilan Berpikir Kritis Materi Pokok Pencemaran Lingkungan

Siswa SMP Negeri 1 Wawotobi

The Effectiveness of Project Based Learning Model and Problem Based Learning Model on Cognitive Learning Outcomes and Critical Thinking Skills

Students on the of Main Topic Environmental Pollution of SMP Negeri 1 Wawotobi

Yuliana1), H. Muh. Anas2), La Harimu3)

1)

Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA Program Pascasarjana UHO

2)

Dosen Program Studi Pendidikan IPA Program Pascasarjana UHO

3)

Dosen Program Studi Pendidikan IPA Program Pascasarjana UHO

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI 2017

(2)
(3)

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PBP) DAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) TERHADAP HASIL BELAJAR

KOGNITIF DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS MATERI POKOK PENCEMARAN LINGKUNGAN SISWA SMP NEGERI 1 WAWOTOBI

YULIANA ABSTRACT

This study aims to find out: 1) description of cognitive learning outcomes of students following learning with Project Based Learning Model, 2) description of cognitive learning outcomes of students following learning with Problem Based Learning Model, 3) description of critical thinking skills of students following learning with Project Based Learning Model , 4) description of critical thinking skills of students following learning with Problem Based Learning Model, 5) the significance of the differences in cognitive learning outcomes in Model Project Based Learning and Problem Based Learning Model, 6) the significance of the differences in critical thinking skills in Project Based Learning Model and Problem Based Learning Model. The population in this research was all students of class VII of SMP Negeri 1 Wawotobi in Konawe regency which was registered in the even semester of academic year 2016/2017. The sample in this research was the students of class VII of SMP Negeri 1 Wawotobi that was class VII.G with the total 21 students as class of experiment 1 and VII.H with the total 22 students as class of experiment 2, which previously conducted analysis that was barlett test to know whether all the population in a homogeneous state. In this research, the following results were obtained: 1) The improvement of cognitive learning outcomes of students who follow the learning with Project Based Learning Model was 0.67 in the medium category 2) The improvement of cognitive learning outcomes of students who Problem Based Learning Model was 0.54 in the medium category 3) The improvement of critical thinking skills of students who follow the learning with Project Based Learning Model was 0.73 in the high category 4) the improvement of critical thinking skills of students who follow the learning with Learning Problem Based Learning Model was 0.61 in the medium category 5) There was an improvement significant difference of cognitive learning outcomes of students following Learning with Project Based Learning Model and the students following learning with Problem Based Learning Model 6) There was an improvement significant difference in the critical thinking skills of students following Project Based Learning Model and the students following the learning with Problem Based Learning Model.

Keywords: Project Based Learning Model, Problem Based Learning Model, Cognitive Learning Outcomes and Critical Thinking Skills.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) gambaran hasil belajar kognitif siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model PBP, 2) gambaran hasil belajar kognitif siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model PBM, 3) gambaran keterampilan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model PBP, 4) gambaran keterampilan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model PBM, 5) signifikansi perbedaan hasil belajar kognitif pada model PBP dan model PBM, 6) signifikansi perbedaan keterampilan berpikir kritis pada model PBP dan model PBM . Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Wawotobi di Kabupaten Konawe yang terdaftar pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Wawotobi yaitu kelas VII.G sebanyak 21 siswa sebagai kelas eksperimen 1 dan VII.H sebanyak 22 siswa sebagai kelas

(4)

eksperimen 2, yang mana sebelumnya dilakukan analisis yaitu dengan uji barlett untuk mengetahui apakah semua populasi dalam keadaan yang homogen. Dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut: 1) Peningkatan hasil belajar kognitif siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) sebesar 0,67 dengan kategori sedang 2) Peningkatan hasil belajar kognitif siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) sebesar 0,54 dengan kategori sedang 3) Peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) sebesar 0,73 dengan kategori tinggi 4) Peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) sebesar 0,61 dengan kategori sedang 5) Terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan hasil belajar kognitif siswa yang mengikuti pembelajaran model PBP dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model PBM 6) Terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan keterampilan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran model PBP dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model PBM.

Kata Kunci: Model PBP, Model PBM, Hasil Belajar Kognitif dan Keterampilan Berpikir Kritis. PENDAHULUAN

IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di kurikulum 2013. IPA hakekatnya merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah (Kemdikbud, 2013). Oleh karena itu diperlukan model pembelajaran yang membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang dibutuhkan adalah yang mampu menghasilkan kemampuan untuk belajar agar dapat memberikan hasil belajar yang baik dan berpikir kritis siswa (Joyce&Weil, 1980).

Di SMP Negeri 1 Wawotobi kurikulum 2013 sudah diberlakukan sejak tahun ajaran 2014/2015. Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan bahwa Guru lebih banyak memberikan latihan yang mengacu pada buku paket, hal ini menyebabkan peserta didik kurang terlatih mengembangkan keterampilan berpikir dalam memecahkan masalah dan menerapkan konsep-konsep yang dipelajari di sekolah ke dalam dunia nyata. Dalam pembelajaran di kelas pun dapat terlihat saat diberikan pertanyaan, hanya beberapa peserta didik saja yang menjawab pertanyaan dari guru. Peran serta peserta didik dalam proses pembelajaran masih kurang, yakni hanya sedikit peserta didik yang menunjukkan keaktifan berpendapat dan bertanya. Pertanyaan yang dibuat peserta didik juga

belum menunjukkan pertanyaan-pertanyaan kritis berkaitan dengan materi yang dipelajari. Kemudian jawaban dari pertanyaan masih sebatas ingatan dan pemahaman saja, belum terdapat sikap peserta didik yang menunjukkan jawaban analisis terhadap pertanyaan guru. Hal ini berdampak pada hasil belajar yang rendah. Hasil belajar yang diperoleh dari observasi awal untuk materi pencemaran lingkungan pada kelas VIII yakni rata-rata nilai 67 hasil belajar ini tergolong masih rendah.

Pelajaran IPA di kalangan peserta didik kelas VIII masih dianggap sebagai produk, yaitu berupa kumpulan konsep yang harus dihafal sehingga berdampak pada rendahnya kemampuan peserta didik pada aspek kognitif. Aspek kognitif terdiri dari enam aspek yakni mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Namun, pada kenyataannya aspek tingkat tinggi seperti analisis mengolah masalah, mengevaluasi, dan menciptakan belum biasa dilatihkan kepada peserta didik. Peserta didik masih kesulitan dalam menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari- hari. Peserta didik juga belum biasa menyelesaikan suatu permasalahan yang didahului dengan kegiatan penyelidikan. Jika prinsip penyelesaian masalah ini diterapkan dalam pembelajaran, maka peserta didik dapat terlatih dan

(5)

membiasakan diri berpikir kritis secara mandiri.

Diharapkan dengan model pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah yang menggunakan pendekatan saintifik dimana mempunyai langkah-langkah sistematis dan ilmiah. Dua diantara model pembelajaran yang memiliki tahapan saintifik diantaranya adalah model pembelajaran berbasis proyek dan model pembelajaran berbasis masalah.

Model pembelajaran berbasis proyek sebagai pengajaran yang komprehensif yang melibatkan siswa dalam kegiatan penyelidikan yang kooperatif dan berkelanjutan. Model pembelajaran berbasis proyek memusatkan diri terhadap adanya sejumlah masalah yang mampu memotivasi, serta mendorong siswa berhadapan pada konsep dan prinsip pokok pengetahuan secara langsung sebagai pengalaman tangan pertama /hands-on experience (Warsono, 2013). Model pembelajaran ini siswa mengalami tahap yang terdiri atas tahap pertanyaan, perencanaan, menyusun jadwal, monitoring, menguji hasil dan evaluasi.

Bell (2010), PBP sebagai inovasi pembelajaran yang banyak mengajarkan untuk menjadi sukses diabad ke-21 ini, siswa didorong untuk mereka belajar sendiri melalui penyelidikan serta kerja secara kolaboratif untuk meneliti dan membuat project yang mencerminkan pengetahuan siswa itu sendiri, memotivasi siswa untuk belajar mandiri mendapatkan keterampilan yang berharga sebagai dasar pengetahuan yang kuat di abad 21. Melalui PBP siswa diajarkan keterampilan komunikasi, negosiasi dan kolaborasi, siswa yang ada dalam satu kelompok harus mengemukakan ide-ide mereka dan bertindak sebagai pendengar yang baik untuk kelompok mereka sendiri sehingga mengajarkan siswa keterampilan mendengarkan dengan aktif meningkatkan kemampuan kolaboratif serta mengasah kreativitas siswa, siswa mempelajari keterampilan dasar untuk berkomunikasi dengan baik, menghormati orang lain dan bekerjasama dengan tim untuk menghasilkan ide-ide secara bersama.

Model pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang berlandaskan konstruktivisme dan mengakomodasikan keterlibatan siswa dalam belajar serta terlibat dalam pemecahan masalah yang kontekstual. Untuk memperoleh informasi dan mengembangkan konsep-konsep sains, siswa akan mengalami tahap belajar orientasi masalah, melakukan penelitian, melakukan investigasi, mempresentasikan hasil karya dan evaluasi (Kemdikbud, 2013).

Penelitian telah dilakukan beberapa penelitian tentang model pembelajaran berbasis proyek dan model pembelajaran berbasis masalah Mukra (2016) menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model problem based learning (PBL) dan model project based learning (PJBL). Rahmawati (2014) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan siswa artinya perilaku siswa mengalami peningkatan yang cukup dengan menerapkan strategi project based learning (PJBL) berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M. Saragih (2015), menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari model pembelajaran (berbasis masalah, inkuiri dan konvensional) terhadap hasil belajar. Model problem based learning (PBL) dan model pembelajaran inkuiri memberikan pengaruh yang lebih baik dalam meningatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu, disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis proyek dan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa, keaktifan siswa dalam proses belajar-mengajar, motivasi siswa untuk belajar, dan membuat siswa berpikir kritis dalam belajar karena siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui tugas-tugas berbasis proyek dan berbasis masalah yang telah mereka kerjakan.

(6)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Wawotobi Kec. Wawotobi Kab. Konawe. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2016/2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Wawotobi tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak 197 orang. Uji barlett dilakukan untuk mengetahui apakah semua populasi dalam keadaan yang homogen, dengan menggunakan nilai ulangan tengah semester semua populasi.

Jenis penelitian ini adalah Kuasi Eksperimen, dengan melibatkan dua kelompok subjek yaitu kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2. Kelompok eksperimen 1 diberi perlakuan penerapan model PBP dan kelompok eksperimen 2 diberi perlakuan penerapan PBM. Desain yang digunakan hasil perluasan dari desain yang melibatkan dua metode mengajar (Suryabrata, 2008). Sehingga desain yang akan digunakan

sebagai acuan dalam pelaksanaan penelitian yaitu Rendomized pretest postest comparison group design yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Tabel 4.1. Desain Penelitian

(R)E1 T1 X1 T2 (R)E2 T1 X2 T2 Keterangan: E1 = Kelas Eksperimen 1 E2 = Kelas Eksperimen 2 X1 = Penerapan model PBP X2 = Penerapan model PBM

R = Pemilihan Subjek secara random

T1 = Tes awal sebelum penerapan model PBP danPBM T2 = Tes akhir setelah penerapan model PBP dan PBM Pengujian hipotesis untuk mengetahui perbedaan peningkatan hasil belajar kognitif siswa dan keterampilan berpikir kritis menggunakan aplikasi SPSS versi 16,0 dengan uji Independet Samples T-test.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Belajar Kognitif

Hasil analisis deskriptif hasil belajar kognitif siswa pada materi pencemaran lingkungan ini meliputi nilai maksimum, minimum, rata-rata, standar deviasi dan varians.

Perbandingan nilai rata-rata pretest, posttes, dan N-gain hasil belajar kognitif materi Pencemaran Lingkungan dengan model PBP dan model PBM dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Deskripsi data hasil belajar kognitif siswa materi Pencemaran Lingkungan dengan model PBP dan model PBM.

Komponen

PBP PBM

Pretest Posttest N-Gain Pretest Posttest N-Gain

Jumlah Sampel 21 21 21 22 22 22 Nilai Minimum 21,33 62,00 0,15 17,33 44,00 0,25 Nilai Maksimum 62,00 96,00 0,91 66,67 92,67 0,85 Nilai Rata-rata 43,27 81,36 0,67 37,97 71,06 0,54 Standar Deviasi 13,83 9,43 0,18 14,17 14,18 0,18 Varians 191,4 88,86 0,03 200,8 201,3 0,04

Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil belajar kognitif siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM). Berdasarkan hasil analisis N-gain yang dilakukan terlihat

bahwa terdapat keragaman pada peningkatan hasil belajar kognitif siswa, ada yang mengalami peningkatan yang tinggi, sedang dan rendah. Oleh karena itu, presentasi peningkatan hasil belajar kognitif siswa yang diajar dengan model PBP dan PBM dapat dilihat pada Gambar 1.

(7)

Gambar. 1 Presentase hasil belajarkognitif siswa pada setiap kategori N-gain Gambar 1, memperlihakan bahwa

persentasi siswa yang mengalamai peningkatan kategori tinggi untuk kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) lebih tinggi dibanding dengan kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM). Pada persentasi siswa yang mengalami peningkatan untuk kategori sedang yang diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) sama dengan kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM). Sedangkan persentasi siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar kognitifnya pada katagori rendah terlihat bahwa kelompok siswa yang diajar dengan

model pembelajaran berbasis proyek (PBP) lebih rendah dibandingkan dengan kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM).

2. Keterampilan Berpikir Kritis

Tes keterampilan berpikir kritis terdiri atas 6 butir soal pada materi Pencemaran Lingkungan. Perbandingan rata-rata nilai pretest, posttest, dan N-gain keterampilan berpikir kritis pada konsep Pencemaran Lingkungan kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) dan kelompok siswa yang diajar dengan pembelajaran berbasis masalah (PBM) dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Deskripsi data keterampilan berpikir kritis siswa materi pencemaran lingkungan dengan model

PBP dan model PBM.

Komponen PBP PBM

Pretest Posttest N-Gain Pretest Posttest N-Gain

Jumlah Sampel 21 21 21 22 22 22 Nilai Minimum 9,79 64,68 0,54 13,96 42,39 0,15 Nilai Maksimum 43,19 97,35 0,96 39,88 86,77 0,82 Nilai Rata-Rata 25,59 80,38 0,73 23,68 70,18 0,61 Standar Deviasi 8,85 8,82 0,12 7,62 13,08 0,16 Varians 78,34 77,84 0,01 58,12 171,1 0,02

Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa yang pertama, nilai rata-rata keterampilan berpikir kritis kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) dan pembelajaran berbasis masalah (PBM) mengalami peningkatan, hal tersbut dapat kita lihat pada peningkatan nilai dari pretest ke posttest yang

meningkat signifikan dan juga ditunjukkan dengan rata-rata nilai N-gain yang menunjukkan bahwa peningkatan 0,73 dan 0,61 yang masing-masing berada pada kategori sedang. Kedua, data tersebut juga menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00%

Tinggi Sedang Rendah

Kategori N-Gain % Sis w a PBP PBM

(8)

secara keseluruhan lebih baik jika dibandingkan dengan kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM).

Berdasarkan hasil analisis N-gain yang dilakukan terlihat bahwa terdapat keragaman

pada peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa, ada yang mengalami peningkatan yang tinggi, sedang dan rendah. Oleh karena itu, persentase peningkatan hasil keterampilan berpikir kritis siswa yang diajar dengan model PBP dan PBM dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Grafik Persentase Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis pada Setiap Kategori N-gain

Gambar 2 dan rata-rata N-gain keterampilan berpikir kritis kita dapat melihat bahwa rata-rata peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa baik itu yang diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) berada pada kategori tinggi sedangkan kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) berada pada kategori sedang. Perbedaan tersebut secara spesifik dapat kita lihat perbedaan persentase peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang berada pada kategori tinggi lebih banyak diperoleh dari kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) dibanding kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM). Tetapi, berbeda halnya pada peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa pada kategori sedang, ternyata lebih banyak diperoleh dari kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) dibanding kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP). Sedangkan peningkatan rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa pada kategori rendah masih

terdapat pada kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM). Berdasarkan perbandingan skor rata-rata posttest siswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis proyek terhadap skor rata-rata posttest siswa yang menggunakan model PBM dapat disimpulkan bahwa kelas yang menggunakan model PBP lebih baik daripada kelas yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah. Artinya pembelajaran dengan model PBP sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kritis siswa pencemaran lingkungan. hal ini dimungkinkan karena tingginya peran aktif siswa dalam kegiatan observasi penyusunan proyek untuk mengumpulkan data yang diperoleh guna merancang suatu produk disamping itu siswa mendapatkan pengalaman pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek dan membuat alokasi waktu serta perlengkapan dalam menyelesaikan tugasnya. Pengalaman pembelajaran yang melibatkan siswa pada dunia nyata membuat suasana belajar menjadi menyenangkan sehingga pengetahuan siswa pun berkembang. 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00%

Tinggi Sedang Rendah

Kategori N-Gain % S is w a PBP PBM

(9)

3. Hasil Pengujian Hipotesis Hasil Belajar Kognitif

Hasil analisis uji-t mengenai perbedaan peningkatan hasil belajar kognitif siswa yang diajar dengan menggunakan model PBP dan model PBM disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Hasil uji hipotesis hasil belajar kognitif Variabel

Hasil Uji Statistik Independent Samples Test

thit ttabel db Sig. (2-tailed) Perbedaan rata-rata H0 Hasil Belajar Kognitif 2,22 1,68 41 0,032 0,13 Ditolak

Berdasarkan Tabel 3 di atas, diperoleh thit > ttab dan nilai probabilitas sig < α sehingga H0 ditolak. Artinya terdapat perbedaan pada nilai rata-rata peningkatan hasil belajar kognitif siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek dan model pembelajaran berbasis masalah.

4. Hasil Pengujian Hipotesis pada Keterampilan Berpikir Kritis Siswa

Berikut ini adalah hasil analisis data menggunakan uji Independent Samples T-Test untuk mengetahui perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang diajar dengan model PBP dan PBM. Hasil analisisnya dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Hasil uji hipotesis keterampilan berpikir kritis Variabel

Hasil Uji Statistik Independent Samples Test

thit ttabel db Sig. (2-tailed) Perbedaan rata-rata H0 Keterampilan

Berpikir Kritis 2,72 1,68 41 0,01 0,13 Ditolak

Pada Tabel 4 di atas, menerangkan bahwa nilai thit > ttab dan probabilitas signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari α = 0,05 sehingga H0 ditolak. Artinya terdapat perbedaan peningkatan nilai rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM).

Apakah kedua model tersebut memiliki perbedaan dalam meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kritis siswa maka dilakukanlah uji hipotesis menggunakan uji statistik Independent Samples T-Test yang menunjukkan bahwa kedua model pembelajaran tersebut memiliki perbedaan dalam meningkatkan hasil belajar kognitif siswa.

Berdasarkan hasail uji hipotesis pada data peningkatan hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kritis, ternyata kedua model pembelajaran tersebut memiliki

perbedaan yang signifikan dalam meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kritis siswa.

Terdapatnya perbedaan pada kedua model pembelajaran tersebut, jika ditinjau dari rata-rata N-gain terlihat bahwa kelompok siswa yang diajar dengan model PBP mengalami peningkatan yang jauh lebih besar dari kelompok siswa yang diajar dengan model PBM. seperti kita ketahui, bahwa model PBP dan model PBM merupakan merupakan pembelajaran yang bersifat penemuan. Akan tetapi yang menjadi perbedaan dalam pembelajaran ini di mana PBP lebih menekankan kemandirian siswa dalam proses belajarnya (Thomas, 2000) dan proyek menjadi inti dari kegiatan pembelajarannya yang didesain dan dikembangkan sendiri oleh siswa sehingga siswa merasa memiliki atas proyek yang dibuat. Hasil nilai rata-rata yang berbeda, yaitu PBP lebih tinggi dibandingkan dengan PBM. Perbedaan ini dikarenakan

(10)

model PBP memiliki keunggulan yaitu menurut Moursund yang dikutip dalam Ngalimun ( 2014) keuntungan pembelajaran berbasis proyek adalah: Meningkatkan motivasi, Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, Meningkatkan kemampuan studi pustaka, Meningkatkan kolaborasi, Meningkatkan keterampilan manajemen sumber daya.

Hasil penelitian relevan dengan Mukra (2016) Berdasarkan rata-rata nilai hasil belajar siswa pada postes dengan model Project Based Learning lebih tinggi dibandingkan dengan model Problem Based Learning. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa model Project Based Learning sebesar 80,00 dengan standart deviasi 8,65 sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa model Problem Based Learning sebesar 76,30 dengan standart deviasi 7,86. Dari uji t yang dilakukan bahwa terdapat perbedaan dimana thitung = 2,021 terletak diluar daerah penerimaan HO yaitu (-1,995 dan 1,995) yang berarti terdapat perbedaan antara hasil belajar siswa menggunakan model Project Based Learning dan hasil belajar siswa menggunakan Problem Based Learning.

Namun demikian bukan berarti model PBM tidak mempunyai keunggulan menurut Wina yang dikutip dalam Istarani (2012) bahwa model PBM memiliki kelebihan yaitu : Pembelajaran berbasis masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran, dapat menantang kemampuan siswa serta memberi keputusan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa, dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa, dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupannya, dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan, dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru, dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata, dapat

mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah beakhir. Model PBM pun dapat meningkatkan hasil belajar. Hal itu didukung oleh Bryant (2011) yang mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analisis, dan hasil belajar. Model PBM memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.

Sejalan dengan hal tersebut maka terdapat hasil penelitian mengenai model pembelajaran berbasis masalah yaitu penelitian Octaviani (2015) tentang Perbedaan Hasil Belajar Biologi Antara Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Pembelajaran Berbasis Proyek Pada Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 2 Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015. Dari hasil penelitian ditarik kesimpulan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model Problem Based Learning (PBL) dapat menunjukkan hasil belajar biologi yang lebih tinggi dibandingkan dengan model Project Based Learning (PJBL) maupun dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. Hasil penelitian Fatkhah (2014) tentang Perbedaan Hasil Belajar Biologi Antara Pembelajaran Berbasis Berbasis Proyek Dengan Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Siswa Kelas VIII SMPN 2 Kartasura Tahun Pelajaran 2013/2014. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil belajar biologi antara model pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran berbasis proyek maupun pembelajaran konvensional. Model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang paling efektif digunakan dalam pembelajaran pada kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura.

(11)

KESIMPULAN

Berdasarkan rumusan masalah, hasil analisis data dan pembahasan dapat buat beberapa simpulan sebagai berikut.

1. Peningkatan hasil belajar kognitif siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) sebesar 0,67 dengan kategori sedang. 2. Peningkatan hasil belajar kognitif siswa

yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) sebesar 0,54 dengan kategori sedang.

3. Peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis proyek (PBP) sebesar 0,73 dengan kategori tinggi.

4. Peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) sebesar 0,61 dengan kategori sedang.

5. Terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan hasil belajar kognitif siswa yang mengikuti pembelajaran model PBP dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model PBM.

6. Terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan keterampilan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran model PBP dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model PBM.

DAFTAR PUSTAKA

Bell, S. 2010.Project-Based Learning for the 21st Century: Skills for the Future. Routledge Taylor & Francis Group. Bryant, L. H. 2011. A Re-Examination of the

Argument Against Problem Based Learning in the Classroom. Virginia Tech. Journal of Research in Education. diakses tanggal 6 Januari 2017.

Fatkha, M. 2014. Perbedaan Hasil Belajar Biologi Antara Pembelajaran Berbasis Proyek dengan Pembelajaran Berbasis Masalah pada Siswa Kelas VIII SMPN 2 Kartasura Tahun Pelajaran 2013/2014. Jurnal Pendidikan Kimia: Program Studi

Pendidikan Biologi Universitas

Muhammadiyah Surakarta.

Istarani. 2012. Model Pembelajaran Inovatif. Medan: Media Persada.

Joyce, B dan Weil, M. 1980. Models of Teaching. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Kemdikbud. 2013. Permendikbud No. 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud.

_______, 2014. Materi pelatihan guru implementasi kurikulum 2013 tahun ajaran 2014/2015: Mata pelajaran IPA SMP/MTs. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mukra, R. 2016. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Project Based Learning pada Materi Pencemaran dan PelestarianLingkungan Hidup di Kelas X SMA Prayatna Medan T.P. 2015/2016. Tesis. Program Pascasarjana. Medan: Universitas Negeri Medan.

Ngalimun, 2014. Strategi dan Model Pembelajaran. Aswaja Pressindo: Yogyakarta.

Octaviani, S, A. 2015. Perbedaan Hasil Belajar Biologi Antara Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Pembelajaran Berbasis Proyek Pada Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 2 Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015. Tesis. Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Rahmawati, F. 2014. Penerapan Strategi

Project Based Learning (PjBL) Berbantuan Modul Pengelolaan Sampah Berbasis 6M Untuk Meningkatkan

(12)

Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Siswa SMPN 26 Malang Guna Menuju Program Sekolah Adiwiyata. Tesis. Program Studi Pendidikan Biologi. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Saragih, S. Z. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran terhadap Kemampuan Berpikir Kritis,Kecakapan Sosial dan Hasil BelajarPengetahuan Lingkungan.

Tesis. Program Pascasarjana. Medan: Universitas Negeri Medan.

Suryabrata, S. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Thomas, J.W. (2000). A Review of Research

on Project Based Learning. California : The Autodesk Foundation.

Warsono & Hariyanto. 2013. Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Gambar

Tabel 1. Deskripsi data hasil belajar kognitif siswa materi Pencemaran Lingkungan dengan  model PBP dan model PBM
Tabel 2 Deskripsi data keterampilan berpikir kritis siswa materi pencemaran lingkungan dengan model  PBP dan model PBM
Gambar 2 Grafik Persentase Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis pada Setiap Kategori N- N-gain

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) apakah pencapaian hasil belajar siswa aspek kognitif yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual lebih

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran hasil belajar siswa dan respon siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan multimedia model

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar fisika siswa, aktifitas siswa selama mengikuti pembelajaran, dan pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe team

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, yang bertujuan untuk untuk mengetahui: (1) gambaran hasil belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif field

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar aspek kognitif siswa setelah mengikuti remediasi pembelajaran dengan.. model

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran generatif dan siswa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan Kemampuan Metakognisi dan Hasil Belajar Kognitif Siswa yang belajar dengan: 1) Model Pembelajaran Berbasis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif terhadap hasil belajar kognitif ditinjau dari kemampuan akademik