SIFAT DASAR DAN KEGUNAAN KAYU
SUMATERA
1. Dr. Krisdianto, S.Hut., M.Sc
2. Dra. Jasni, M.Si
3. Prof. Dr. Gustan Pari, MSi.
4. Ir. Nurwati Hadjib, M.Si
5. Ir. Efrida Basri, M.Sc.
6. Drs. Mohammad. Muslich., M.Sc
7. Dra. Sri Komarayati
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
i
SIFAT DASAR DAN KEGUNAAN KAYU SUMATERA
Bogor, Desember 2014
Mengetahui: Ketua Kelti,
Dr. Krisdianto, S.Hut, MSc. NIP. 19731001 199803 1 002
Ketua Tim Pelaksana,
Dr. Krisdianto, S.Hut, MSc. NIP. 19731001 199803 1 002 Menyetujui: Koordinator, Drs. Mohammad Muslich, MSc NIP. 19500808 198203 1 003 Mengesahkan: Kepala Pusat, Dr. Ir. Rufi’ie, MSc. NIP. 19601207 198703 1 005
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ... i DAFTAR TABEL ... ii DAFTAR GAMBAR ... iv Abstrak ... 1 BAB I. PENDAHULUAN ... 2 A. Latar Belakang ... 2
ii
1. Tujuan penelitian ... 3
2. Sasaran penelitian ... 3
C. Luaran ... 3
D. Hasil yang Telah Dicapai ... 4
E. Ruang Lingkup ... 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
BAB III. METODE PENELITIAN ... 9
A. Lokasi Penelitian ... 9
B. Bahan dan Peralatan ... 9
C. Pengujian Sifat Dasar Kayu ... 9
D. Analisis Data ... 22
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23
A. Pengambilan Contoh Uji ... 23
B. Struktur Anatomi dan Dimensi Serat ... 24
C. Pengujian Sifat Fisis dan Mekanis ... 31
E. Sifat Pemesinan ... 37
F. Pengujian Sifat Keawetan terhadap Serangga ... 37
G. Pengujian Sifat Ketahanan terhadap Penggerek di Laut ... 39
H. Pengujian Sifat Keterawetan ... 40
I. Pengujian Sifat Kimia dan Nilai Kalor ... 40
J. Sifat Pengolahan Pulp dan Kertas ... 41
K. Kegunaan Kayu ... 42
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 43
A. Kesimpulan ... 43
B. Saran ... 43
DAFTAR PUSTAKA ... 44
DAFTAR TABEL Tabel 1. Kriteria kualitas serat kayu untuk bahan baku pulp dan kertas ... 13
Tabel 2. Klasifikasi sifat pemesinan ... 15
Tabel 3. Penilaian derajat serangan rayap ... 16
Tabel 4. Klasifikasi ketahanan kayu tehadap rayap kayu kering berdasarkan penurunan berat ... 17
iii
Tabel 5. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap rayap tanah berdasarkan
penurunan berat ... 18
Tabel 6. Kelas keawetan kayu berdasarkan umur rata-rata pemakaian... 19
Tabel 7. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap penggerek kayu di laut ... 19
Tabel 8. Klasifikasi keterawetan kayu ... 21
Tabel 9. Rata-rata dimensi serat dan pembuluh bagian pangkal, tengah dan ujung (variasi secara vertikal) ... 31
Tabel 10. Nilai turunan serat ... 31
Tabel 11. Rata-rata kadar air, berat jenis dan penyusutan kedua jenis kayu ... 32
Tabel 12. Nilai rata-rata sifat mekanis kayu bira-bira dan kayu mahang putih ... 34
Tabel 14. Hasil pengujian pemesinan ... 37
Tabel 15. Rata-rata pengurangan berat, jumlah rayap tanah yang hidup (Natalitas) dan derajat serangan pada dua jenis kayu ... 37
Tabel 16. Rata-rata pengurangan berat, jumlah rayap kayu kering yang hidup (Natalitas) dan derajat serangan pada dua jenis kayu ... 38
Tabel 17. Rata-rata penetrasi dan retensi bahan pengawet CCB terhadap dua jenis kayu ... 40
Tabel 18. Komponen kimia dua jenis kayu ... 41
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Bagian-bagian pohon untuk sampel penelitian ... 10
Gambar 2. Tegakan, daun dan kulit pohon bira-bira (Barringtonia asiatica (L.) Kurz.) . 23 Gambar 3. Tegakan, daun dan kulit kayu mahang putih (Macaranga hypoleuca Miq.) ... 24
Gambar 4. Disk (A), sisi tangensial (B) dan penampang transversal (X) makro (C) kayu bira-bira (Barringtonia asiatica (L.) Kurz.) ... 26
Gambar 5. Penampang lintang (A), radial (B), tangensial (C) dan tangensial yang diperbesar (D) dari kayu bira-bira (Barringtonia asiatica (L.) Kurz.) ... 27
Gambar 6. Disk (A), sisi tangensial (B) dan penampang transversal (X) makro (C) kayu mahang putih (Macaranga hypoleuca Muell.Arg.) ... 29
Gambar 7. Penampang lintang (A), radial (B), tangensial (C) dan tangensial yang diperbesar (D) dari kayu mahang putih (M. hypoleuca Muell. Arg.) ... 30
Gambar 8. Cara penumpukan dengan pembebanan di permukaan tumpukan ... 36
Gambar 9. Hasil pengujian kayu bira-bira atas dan kayu mahang putih bawah ... 38
Gambar 10. Pengujian ketahanan terhadap penggerek di laut ... 39
Gambar 11. Hasil pengujian terhadap penggerek laut ... 39
Gambar 12. Hasil pengujian penetrasi bahan pengawet kayu mahang putih (A) dan kayu bira-bira (B) ... 40
1
SIFAT DASAR DAN KEGUNAAN KAYU SUMATERA
Krisdianto, Jasni, Gustan Pari, Nurwati Hadjib, Efrida Basri, Mohammad Muslich, Sri Komarayati
Abstrak
Salah satu usaha untuk mencukupi kebutuhan kayu komersial di lapangan adalah dengan meningkatkan pemanfaatan jenis-jenis kayu kurang dikenal. Data dan informasi sifat dasar kayu kurang dikenal diperlukan sebagai dasar dalam pemanfaatannya. Kegiatan penelitian sifat dasar kayu Sumatera Selatan tahun 2014 adalah kayu bira-bira (Barringtonia asiatica
(L.) Kurz.) dan kayu mahang putih (Macaranga hypoleuca Muell.Arg.). Kayu bira-bira memiliki warna kuning cerah menyerupai kayu ramin, namun mudah diserang jamur biru. Kayu mahang putih memiliki warna kuning merah keabu-abuan mirip dengan sengon. Berdasarkan dimensi seratnya, kedua jenis kayu berpotensi untuk pulp dan kertas dengan kelas kualitas I. Berdasarkan berat jenisnya kayu bira-bira termasuk kayu sedang dan kelas kuat III dan kayu mahang putih termasuk kayu sedang dengan kelas kuat IV. Pengeringan kayu mahang putih termasuk kelas 3 dan 4 (agak baik sampai sedang) dan kayu bira-bira termasuk kelas 5 dan 6 (agak buruk sampai buruk. Pemesinan kedua jenis kayu termasuk baik (II) kecuali pemboran kayu mahang putih. Kayu bira-bira termasuk kelas ketahanan II dan mahang putih kelas V terhadap rayap tanah, demikian juga terhadap rayap tanah. Kedua jenis kayu tidak tahan terhadap penggerek di laut (kelas IV). Keterawetan kedua jenis kayu termasuk sedang (II), dengan nilai kalor tinggi, yaitu 4.509 kal/g untuk kayu mahang putih dan 4.520 kal/g untuk kayu bira-bira. Untuk bahan kertas, konsumsi alkali kedua jenis kayu tergolong sedang, namun bilangan kappa kayu mahang lebih tinggi dari kayu bira-bira.
Kata kunci: Sifat kayu, bira-bira, mahang putih, Riau, kurang dikenal, komersial
2
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
‘Lesser Known Species’ (LKS) adalah jenis kayu kurang dikenal yang belum banyak dimanfaatkan. Salah satu penyebab belum dimanfaatkannya jenis kayu tersebut diduga adalah belum tersedianya data dan informasi teknis tentang jenis kayu tersebut. Dalam sistem pengelolaan hutan secara Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), sebagian besar kayu kurang dikenal tertinggal di dalam hutan, sedangkan dengan sistem Tebang Jalur Tanam Indonesia (TJTI), karena seluruh pohon yang masuk dalam jalur ditebang, maka kayu yang kurang dikenalpun ditebang dan dimasukan dalam kategori rimba campuran dengan tarif iuran (IHH) yang paling rendah. Dalam kelompok ini, kayu-kayu tersebut bercampur walaupun mungkin sifat-sifatnya bervariasi dari yang bagus maupun yang kurang bagus. Dalam tumpukan kayu campuran ini kadang juga ditemui kayu yang sifat-sifatnya lebih baik dari kayu komersial. Oleh karena itu data dan informasi kayu kurang dikenal sangat dibutuhkan untuk menentukan pemanfaatannya.
Data dan informasi sifat-sifat kayu yang kurang dikenal diharapkan dapat mendukung pemanfaatan kayunya. Sifat-sifat kayu yang perlu diketahui adalah sifat anatomi dan kualitas serat, fisis dan mekanis, penggergajian dan pengerjaan, keawetan dan keterawetan serta kimia kayu. Data struktur anatomi kayu dan kualitas seratnya berguna untuk proses identifikasi dan prediksi kualitasnya sebagai bahan pulp dan kertas. Data sifat fisis dan mekanis berguna untuk penggunaan kayu sebagai bahan konstruksi. Data penggergajian dan pengerjaan memberikan informasi tentang kualitas pemesinan dan pengerjaan yang berhubungan dengan pengerjaan kayu tersebut seperti penggunaannya sebagai mebel. Data keawetan kayu berguna untuk memprediksi ketahanan kayu terhadap
3
organisme perusak tertentu, sedangkan keterawetan kayu berguna untuk mengetahui mudah tidaknya bahan pengawet masuk ke dalam kayu. Data kandungan kimia kayu tidak hanya berguna untuk pengolahan pulp dan kertas, tetapi juga untuk memprediksi ketahanan kayu terhadap serangan organisme perusak kayu.
Kegiatan penelitian sifat dasar kayu Sumatera tahun 2010, mengambil sampel jenis kemenyan toba (Styrax sumatrana) dan kemenyan bulu (Styrax parallenourum) dari Sumatera Utara. Pada tahun 2011, penellitian sifat dasar mengambil sampel dari jenis kemenyan durame (Styrax benzoin) dan cep-cepan (Castanopsis costata) yang berasal dari Sumatera Utara. Kegiatan tahun 2012 penelitian sifat dasar mengambil sampel dari Riau, yaitu jenis tampui beras (Baccaurea macrocarpa (Miq.) Muell.) dan manggis hutan (Garcinia cornea Miq.). Kegiatan penelitian tahun 2013 mengambil sampel kayu dari jenis kayu bawang (Azadirachta excelsa Jack) Jacobs) dan bambang lanang (Michelia champaca L. var pubinervia). Untuk kegiatan penelitian tahun 2014, penelitian sifat dasar ditujukan untuk jenis kayu bira-bira (Barringtonia asiatica (L.) Kurz.) dan kayu mahang putih (Macaranga hypoleuca Miq.).
B. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan penelitian
Menyediakan informasi tentang sifat dasar 2 (dua) jenis kayu Sumatera sebagai dasar pemanfaatannya untuk berbagai tujuan dalam rangka efisiensi pemanfaatan sumberdaya hutan.
2. Sasaran penelitian
Tersedianya informasi ilmiah mengenai sifat dasar dan kemungkinan penggunaan 2 (dua) jenis kayu Sumatera.
C. Luaran
Laporan hasil penelitian yang berisi data dan informasi tentang sifat dasar 2 (dua) jenis kayu Sumatera dan kemungkinan penggunaannya serta draft karya tulis ilmiah.
4
D. Hasil yang Telah Dicapai
Kegiatan penelitian tahun 2010, difokuskan pada penelitian sifat dasar kayu Kemenyan Toba (S. sumatrana) dan kemenyan bulu (S. parallenourum) dari Sumatera Utara. Kedua jenis kayu memiliki struktur anatomi yang khas sebagai identitas jenisnya. Kualitas serat kedua jenis kayu tersebut sebagai bahan baku pulp masuk kualitas I. Berdasarkan berat jenisnya, kedua kayu ini tergolong kayu dengan berat sedang, dengan penyusutan sedang dan besar. Kedua kayu ini mudah untuk dikerjakan dan termasuk kelas baik sampai sangat baik. Keduanya pun cocok digunakan untuk konstruksi ringan, mebel dan barang kerajinan (Anonim, 2010). Komponen kimia kedua jenis kayu ini khususnya holoselulosa, lignin dan pentosan mengindikasikan bahwa kayu cukup baik untuk bahan baku pulp dan kertas. Kedua jenis kayu termasuk kelas awet I untuk rayap kayu kering dan kelas V untuk rayap tanah, maka yang dalam penggunaannya perlu diawetkan agar umur pakai kayu dapat lebih panjang.
Pada tahun 2011, penellitian difokuskan pada kayu kemenyan durame (S. benzoin) dan cep-cepan (C. costata) yang berasal dari Sumatera Utara. Berdasarkan sifat anatomi dapat digunakan untuk pulp dan kertas dengan kualitas I. Sedangkan berdasarkan sifat fisis mekanis, kayu kemenyan termasuk kelas kuat III dan kayu cep-cepan masuk kelas kuat V. Kedua kayu ini mempunyai kelas awet V untuk rayap tanah kelas awet I rayap kayu kering. Kedua jenis kayu ini mudah diawetkan. Sedangkan komponen kimia kedua jenis kayu ini, terutama selulosa kedua jenis kayu ini cukup baik bahan baku pulp.
Penelitian sifat dasar kayu Sumatera tahun 2012 mengambil sampel dari Riau, yaitu untuk jenis kayu tampui beras (Baccaurea macrocarpa (Miq.) Muell.) dan manggis hutan (Garcinia cornea Miq.). Tampui beras (Baccaurea bracteata) dan Manggis hutan (Garcinia cornea). Kedua kayu merupakan jenis penghasil buah yang dapat
5
dikonsumsi, namun pohonnya juga menghasilkan kayu yang dapat digunakan sebagai konstruksi. Kedua jenis kayu termasuk kayu keras dengan kelas kuat II untuk kayu tampui beras dan kelas I untuk jenis manggis hutan. Kayu tampui agak kurang awet, sehingga perlu diawetkan untuk penggunaannya sedangkan kayu manggis hutan agak awet. Kegunaan kedua jenis kayu tersebut meliputi untuk mebel dan konstruksi. Kedua kayu memiliki sifat pemesinan yang baik, namun karena adanya kandungan silika dalam sel-sel kayu tampui beras, maka dalam pengerjaannya dianjurkan menggunakan dengan pisau yang benar-benar tajam dengan sudut kontak pisau 20°. Hasil pengujian terhadap serangga rayap tanah (Coptotermes curvignatus) menunjukkan keduanya kurang awet (kelas II – IV). Kedua jenis kayu tahan terhadap serangan rayap kayu kering. Kedua jenis kayu relatif mudah diawetkan. Kayu agak tahan terhadap pengkaratan. Dalam pembuatan kertas, konsumsi alkali kayu manggis hutan lebih tinggi dibandingkan konsumsi alkali kayu tampui. Konsumsi alkali tinggi biasanya disebabkan karena kayu tersebut memiliki berat jenis tinggi, kadar lignin tinggi dan ekstraktif tinggi. Bilangan kappa kayu tampui lebih tinggi dibandingkan bilangan kappa kayu manggis hutan. Bilangan kappa tinggi indikasi kadar lignin dan ekstraktif tinggi.
Penelitian sifat dasar kayu Sumatera tahun 2013 mengambil sampel dari Sumatera Selatan, yaitu untuk jenis kayu bawang (Azadirachta excelsa Jack) Jacobs) dan bambang lanang (Michelia champaca L. var pubinervia).
E. Ruang Lingkup
Kegiatan penellitian tahun 2014 difokuskan pada pengumpulan data dan informasi 2 (dua) jenis kayu kurang dikenal dari Riau. Sifat dasar yang diteliti mencakup:
1. Struktur anatomi dan dimensi serat kayu 2. Sifat fisis dan mekanis kayu
6 4. Sifat pengeringan
5. Sifat keawetan kayu terhadap serangga
6. Sifat keawetan kayu terhadap penggerek di laut 7. Sifat keterawetan kayu
8. Sifat kimia dan nilai kalor
9. Sifat pengolahan pulp dan kertas
Kayu yang akan diteliti merupakan kayu yang akan digunakan untuk mebel dan konstruksi, sehingga penelitian tentang ketahanan terhadap jamur, sifat pengkaratan dan pembuatan venir serta kayu lapis tidak dilakukan.
7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Indonesia memiliki sekitar 4.000 jenis tumbuhan dengan diameter batang 40 cm ke atas. Dari 4.000 tumbuhan tersebut di atas 400 diantaranya dianggap penting karena merupakan jenis penghasil kayu yang sekarang telah dimanfaatkan atau karena secara alami terdapat dalam jumlah besar sehingga memegang peranan penting (Whitmore, 1980 dalam Soedjito dan Uji, 1987). Dari 400 jenis, 267 jenis diantaranya sudah dikenal sebagai penghasil kayu dan diperdagangkan. Sisanya digolongkan ke dalam kelompok kayu kurang dikenal meski mempunyai potensi yang cukup besar dan cepat tumbuh (Suryokusumo, 1987).
Jenis-jenis kayu yang berasal dari hutan alam biasa digunakan sebagai bahan baku industri kayu lapis untuk ekspor, bahan bangunan, mebel dan produk-produk kayu lainnya seperti papan partikel dan barang kerajinan. Ketersediaan bahan industri dewasa ini semakin terbatas dan tidak seimbang dibandingkan dengan kebutuhan yang semakin meningkat. Untuk memenuhi keperluan tersebut, harus digunakan jenis-jenis kayu yang lain yang mudah didapat. Diantaranya adalah jenis-jenis kayu kurang dikenal yang berasal dari hutan alam maupun yang ditanam masyarakat, jenis kayu hasil pemuliaan yang sudah dibudi dayakan, maupun jenis-jenis kayu komersial yang sudah ditanam. Kayu-kayu tersebut perlu diketahui sifat dasar dan pemanfaatannya mengingat belum diketahui sifatnya atau adanya perubahan sifat yang disebabkan oleh umur pohon, faktor lingkungan dan tempat tumbuh.
Jenis-jenis kayu yang berasal dari hutan tanaman mempunyai kandungan kayu muda yang cukup besar dibandingkan dengan kayu berasal dari hutan alam, sehingga kayu yang berasal dari hutan tanaman mempunyai kualitas yang rendah (Brunden, 1964; Senft et al., 1986).
8
Sifat dasar sangat penting diketahui sebelum suatu jenis kayu digunakan untuk suatu tujuan, karena setiap jenis kayu memiliki sifat yang berbeda dan setiap penggunaannya membutuhkan persyaratan tertentu. Dengan data-data tersebut akan diperoleh diversifikasi dalam pemanfaatan kayu, baik untuk bahan industri maupun keperluan lain. Pemanfaatan kayu tidak hanya terbatas pada jenis tertentu saja, tetapi akan lebih meluas meliputi jenis-jenis lain. Upaya ini dapat memberikan informasi mengenai pemanfaatan berbagai jenis kayu yang selama ini tidak atau kurang digunakan, khususnya sebagai penghara industri.
9
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Pengambilan bahan kayu dilakukan di Desa Bantaian, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Rokan Hilir, Riau (1°55,878” LU; 100°55.569’ BT), sedangkan penelitian laboratorium dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah). Pengujian ketahanan terhadap penggerek laut dilakukan di perairan Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, sedangkan pengujian ketahanan terhadap rayap tanah dilakukan di Cikampek, Jawa Barat.
B. Bahan dan Peralatan
Bahan utama yang digunakan adalah 2 jenis kayu kurang dikenal dari Riau: kayu bira-bira (Barringtonia asiatica (L.) Kurz.) dan kayu mahang putih (Macaranga hypoleuca Miq.) Bagian kayu yang diteliti adalah bagian batang bebas cabang. Pemilihan jenis dilakukan berdasarkan potensi jenis di Rokan Hilir, Riau dan belum banyak diketahui sifat dasarnya. Bahan kimia yang diperlukan bervariasi dari ethanol, gliserin, alkohol-benzena, safranin dan lain-lain. Peralatan yang digunakan antara lain gergaji potong dan belah, timbangan, oven, dial-kaliper, pisau mikrotom, cutter, alat foto, vakum tekan, salinometer dan mesin Universal Testing Machine
(UTM).
C. Pengujian Sifat Dasar Kayu
1. Identifikasi jenis dan pemilihan pohon uji
Jenis pohon yang akan dijadikan contoh uji diidentifikasi dengan pengambilan contoh uji herbarium yang kemudian diidentifikasi jenis pohonnya berdasarkan kunci identifikasi dan koleksi herbarium di laboratorium yang relevan. Penebangan dilakukan pada bagian pangkal pohon atau 20 cm di atas banir dengan menggunakan chain saw. Setelah ditebang dolok sebanyak
10
6 m3 diangkut ke Bogor dan selanjutnya dipersiapkan contoh ujinya untuk pengujian masing-masing aspek penelitian seperti Gambar 1.
Gambar 1. Bagian-bagian pohon untuk sampel penelitian
Agar seluruh bagian pohon terwakili, contoh uji untuk pengukuran serat diambil pada bagian pangkal, tengah dan ujung
C → 10 cm → Disk Ujung C1 → 200 cm C2 C3 C4 B3 B1 → 200 cm B → 10 cm → Disk Tengah B2 → 200 cm B4 A4 A3 A2 A1 → 200 cm A → 10 cm → Disk Pangkal Keterangan: A : Bagian Pangkal B : Bagian Tengah C : Bagian Ujung
11
batang bebas cabang. Untuk pengujian sifat mekanis, bagian batang yang diambil mengikuti pola bersilangan seperti pada Gambar 1, berupa balok berukuran 200 cm x 5 cm x 5 cm, sedangkan untuk sampel pengujian sifat anatomi dan kimia kayu diambil dalam bentuk lempengan dengan ketebalan 10 cm. Untuk membedakan antar jenis dan bagian, pada setiap pohon diberi tanda (kode). Jenis pohon diberi lambang huruf sesuai namanya. Untuk bagian batang diberi lambang huruf A (pangkal), B (tengah) dan C (ujung).
2. Pengenalan struktur anatomi dan dimensi serat
Pengenalan ciri jenis kayu dilakukan dengan dua pendekatan yaitu makroskopis dan mikroskopis. Hasil yang diperoleh dikombinasikan menjadi satu kesatuan ciri pengenalan suatu jenis kayu. Pengamatan ciri makroskopis dilakukan langsung pada contoh uji yang telah diketam. Ciri makroskopis atau ciri umum yang diamati dengan mata telanjang atau dengan bantuan kaca pembesar (loupe) dengan perbesaran 5 – 10 kali meliputi warna, corak, tekstur, arah serat, kesan raba, kilap, kekerasan, bau, dan ciri khusus lainnya.
Pengamatan ciri mikroskopis dilakukan pada sayatan mikrotom dan preparat maserasi yang dipersiapkan secara khusus. Pengamatan mikroskopis dilakukan tiga tahap yaitu pembuatan preparat, pengamatan, pengolahan dan analisa data. Untuk pembuatan preparat sayatan, contoh uji diambil dari lempengan bagian pangkal, tengah, dan ujung batang. Dari setiap bagian batang diambil 1 contoh uji dengan ukuran 2 x 2 x 2 cmyang terletak di tengah-tengah antara kulit dengan empulur (3 sampel per batang). Untuk memudahkan penyayatan, sampel uji dilunakkan terlebih dahulu dengan merebus dalam air suling dengan suhu ≤60o
C selama 10 menit, kemudian didinginkan. Perebusan dilakukan berulang-ulang sampai contoh kayu tenggelam, sehingga kayunya menjadi lunak dan jenuh air. Sesudah itu dilakukan perendaman dalam campuran alkohol-gliserin, berturut-turut dengan perbandingan 2:1; 1:1 dan 1:2 dengan selang 2 – 3 hari. Kayu dibiarkan dalam
12
campuran terakhir sampai lunak sehingga mudah disayat. Dari setiap contoh uji kayu dibuat sayatan mikrotom setebal 15-20 mikron pada arah radial, tangensial dan transversal. Dari sejumlah sayatan yang diperoleh dipilih masing-masing 5 sayatan terbaik untuk ketiga arah. Sayatan ini selanjutnya dicuci dengan air suling dan diwarnai dengan safranin menurut metode dalam Sass (1961). Setelah itu didehidrasi secara bertingkat dengan alkohol 30%, 50%, 70%, dan 96%. Selanjutnya sayatan dibeningkan dengan cara merendam dalam karboxylene dan toluene selama 3 menit berturut-turut. Setelah itu sayatan direkat dengan Entelan pada gelas obyek secara pelan-pelan agar tidak ada gelembung udara kemudian dibiarkan mengering pada udara terbuka.
Untuk pembuatan preparat maserasi dilakukan berdasarkan metode Forest Product Laboratory (Rulliaty, 1994). Contoh uji diambil dari setiap lempeng batang sebanyak 3 contoh uji yaitu dekat empulur, tengah dan dekat kulit (9 sampel per batang). Cacahan kayu sebesar batang korek api yang diambil dari masing-masing contoh uji tersebut dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang diberi larutan 60% asam asetat glasial dan 30% hidrogen peroksida dengan perbandingan 1:1 kemudian direbus dalam waterbath
dengan suhu ± 80C selama 1-2 hari atau sampai cacahan berubah menjadi bubur serat dengan warna putih dan lunak. Bubur serat kemudian dicuci dengan air kran sampai bebas asam. Setelah itu disimpan dalam tabung plastik dengan ditetesi safranin (± 3 – 5 tetes) dan dibiarkan selama kurang lebih 3 jam. Serat-serat yang diukur kemudian diletakkan pada gelas obyek yang sudah ditetesi gliserin dan diatur sedemikian rupa sehingga tidak menumpuk satu dengan lainnya. Lalu ditutup dengan gelas penutup. Setelah itu dilakukan pengukuran dimensi serat dan pembuluh berdasarkan IAWA (Wheeler et al., 1989). Dimensi yang diukur adalah panjang serat sebanyak 30 contoh serta diameter serat dan diameter lumen masing-masing sebanyak 15 contoh. Sedangkan untuk pembuluh
13
diukur panjang dan diameternya sebanyak 25 contoh. Penetapan dimensi serat dan perhitungan nilai turunnya dilakukan berdasarkan Silitonga et al. (1972), sedangkan kualitas seratnya ditetapkan dengan mengikuti laporan Nurachman dan Siagian (1976). Turunan dimensi serat meliputi Runkel Ratio (RR), Felting Power (FP),
Muhlsteph Ratio (MR), Coefficient Rigidity (CR) dan Flexibility Ratio
(FR). Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
dimana, w: tebal dinding; l: diameter lumen; L: panjang serat; d : diameter Kualitas serat diklasifikasikan berdasarkan kriteria yang disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria kualitas serat kayu untuk bahan baku pulp dan kertas
Kriteria Kelas I Kelas II Kelas III
Syarat Nilai Syarat Nilai Syarat Nilai L (mm) > 2.000 100 1.000-2.000 50 < 1.000 25 RR < 0,25 100 0,25-0,50 50 0,50-1,0 25 FP > 90 100 50-90 50 < 50 25 MR < 30 100 30-60 50 60-80 25 FR > 0,80 100 0,50-0,80 50 < 0,50 25 CR < 0,10 100 0,10-0,15 50 > 0,15 25 Interval 450-600 225-449 < 225
Sumber: Nurachman dan Siagian (1976)
Pengamatan ciri mikroskopis dilakukan dengan bantuan mikroskop berkekuatan 25 – 1000 kali meliputi:
a) Pori: susunan, bentuk, sebaran, diameter, frekuensi, tipe bidang porforasi dan tipe ceruk
b) Jari-jari: tipe, ukuran, frekuensi, isi sel dan ada tidaknya susunan bertingkat
c) Parenkim: tipe, bentuk, frekuensi, isi sel dan tipe ceruk d) Saluran interselular, ukuran, susunan dan isi
e) Dimensi serat
Di luar pengukuran dimensi serat, untuk ciri-ciri mikroskopis yang diukur dilakukan 30 pengamatan atau kurang. Persentase pori
d L FP ( ) 100% 2 2 2 d l d MR d l FR d w CR l w RR2
14
soliter diperoleh dari lima kali penetapan perbandingan jumlah pori soliter terhadap jumlah pasangan, gabungan atau kelompok pori. Setiap penetapan dilakukan pada seluruh bidang pandang lensa okuler pada penampang lintang.
Pengamatan ciri-ciri anatomi dilakukan bedasarkan standar identifikasi dari International Association of Wood Anatomists (IAWA)
dalam Wheeler et al. (1989). Nilai rata-rata, nilai maksimum dan kisaran suatu ciri anatomi ditetapkan menurut petunjuk Metcalfe dan Chalk (1950), sedangkan untuk jumlah atau frekuensi digunakan klasifikasi menurut Den Berger (1923).
3. Pengujian sifat fisis dan mekanis
Pengambilan pohon, dolok dan contoh uji dilakukan mengikuti standar ASTM D 5536-94 (reapproved 2004) dalam ASTM (2006a) yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Pembuatan contoh uji, ukuran dan pengujian sifat fisis dan mekanis kayu mengacu pada ASTM D 143-94 (reapproved 2000) dalam ASTM (2006b). Pengujian tersebut dilakukan pada contoh uji dalam keadaan basah dan kering udara.
Pengujian sifat fisis meliputi kadar air kayu segar; berat jenis berdasarkan berat basah dan volume basah, berat kering tanur dan volume basah, berat dan volume kering udara, berat dan volume kering tanur; penyusutan arah radial dan tangensial dari basah ke kering udara dan dari basah ke kering tanur. Pengujian sifat mekanis meliputi keteguhan lentur statis; keteguhan pukul; keteguhan tekan sejajar dan tegak lurus serat; keteguhan tarik; geser, belah, dan kekerasan. Nilai hasil pengujian dihitung rata-rata, standar deviasi dan koefisien variasinya kemudian dibandingkan dengan klasifikasi kekuatan kayu Indonesia (Den Berger, 1923 dalam Oey, 1990).
4. Pengujian sifat pemesinan
Sifat pemesinan yang diuji meliputi sifat pengetaman, pembentukan, pemboran, pengampelasan dan pembubutan. Metode pengujian, ukuran, bentuk dan cara pengambilan contoh uji
15
dilakukan menurut metode ASTM D1666-87 (ASTM, 2004) yang telah dimodifikasi oleh Abdurachman dan Karnasudirdja (1982) sesuai kondisi bahan dan peralatan yang tersedia.
Setiap jenis kayu disediakan 25 buah contoh uji bebas cacat berukuran 125 cm x 12,5 cm x 2 cm. Contoh uji tersebut dikeringkan di udara terbuka sampai mencapai kadar air lebih kurang 15%, lalu diuji dengan mesin. Hasil pemesinan diamati secara okuler dengan bantuan loupe berukuran sepuluh kali. Cacat yang diamati meliputi serat terangkat, berbulu, tersobek dan bekas serpih. Setiap contoh uji yang mengandung salah satu dari keempat cacat tersebut di atas dianggap cacat. Untuk tiap cara pemesinan pada masing-masing jenis kayu ditetapkan banyaknya contoh yang cacat dari 25 contoh yang diuji. Sifat pemesinan ditetapkan menurut metode klasifikasi yang tertera dalam Tabel 2.
Tabel 2. Klasifikasi sifat pemesinan Jumlah contoh yang
cacat
Nilai cacat Sifat mesin
0 – 10 5 Sangat baik
11 – 20 15 Baik
21 – 30 25 Sedang
31 – 40 35 Buruk
41 – 50 45 Sangat buruk
5. Pengujian sifat pengeringan
Pengujian sifat pengeringan dilakukan dengan metode suhu tinggi (quick rying test). Contoh uji dengan ukuran 2,5 x 10 x 20 cm dipanaskan dalam oven sesuai dengan metode Terazawa yang telah dimodifikasi seperti tercantum dalam Basri (2011).
6. Pengujian sifat keawetan terhadap serangga
Pengujian ketahanan kayu terhadap serangga dilakukan secara laboratoris. Pengujian dilakukan terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light.) dan rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren).
16
1). Pengujian ketahanan terhadap rayap kayu kering
Pengujian ketahanan terhadap rayap kayu kering dilakukan sesuai dengan metode SNI 01-7207-2006 (Badan Standardisasi Nasional, 2006). Contoh uji yang berukuran 5 cm x 2,5 cm x 2,5 cm, pada salah satu sisi yang terlebar dipasang tabung gelas yang berdiameter 1,8 cm dengan ukuran tinggi 3 cm. Ke dalam tabung gelas tersebut dimasukkan 50 ekor kasta pekerja rayap kayu kering yang sehat dan aktif, kemudian contoh uji yang sudah berisi rayap itu disimpan di tempat yang gelap selama 12 minggu.
Pada akhir pengujian ditetapkan jumlah rayap yang hidup (natalitas), penurunan berat akibat serangan rayap, dan derajat serangan mengacu pada SNI 01-7207-2006 (Badan Standardisasi Nasional, 2006) dan AWPA (1972) yang dimodifikasi.
Penilaian terhadap derajat serangan rayap disajikan pada Tabel 3 dan klasifikasi ketahanan rayap berdasarkan penurunan berat seperti pada Tabel 4.
Tabel 3. Penilaian derajat serangan rayap
Tingkat Kondisi Contoh Uji Nilai A Utuh, tidak ada serangan (<5 %) 0 B Ada bekas gigitan rayap (6 % - 15 %) 40 C Serangan ringan berupa saluran yang tidak dalam
dan lebar (16 % - 35 %)
70 D Serangan berat, berupa saluran yang dalam dan
lebar (36 % – 50 %)
90 E Kayu hancur, kayu habis dimakan rayap (> 50 %) 100
17
Tabel 4. Klasifikasi ketahanan kayu tehadap rayap kayu kering berdasarkan penurunan berat
Kelas Ketahanan Penurunan Berat (%) I Sangat tahan < 2,0
II Tahan 2,0 – 4,4 III Sedang 4,4 – 8,2 IV Tidak tahan 8,2 – 28,1
V Sangat tidak tahan >28,1
2). Pengujian keawetan terhadap rayap tanah
Pengujian ketahanan terhadap rayap tanah dilakukan sesuai dengan metode SNI 01-7207-2006 (Badan Standardisasi Nasional, 2006). Contoh uji berukuran 2,5 cm x 2,5 cm x 0,5 dimasukkan ke dalam jampot dengan cara berdiri pada dasar jampot dan disandarkan sedemikian rupa sehingga salah satu bidang terlebar contoh uji tersebut menyentuh dinding jampot. Ke dalam jampot tersebut dimasukkan pasir sebanyak 200 gram yang mempunyai kadar air 7% di bawah kapasitas menahan air (water holding capacity). Selanjutnya ke dalam setiap jampot dimasukkan 200 ekor rayap yang sehat dan aktif terdiri dari 90% pekerja, kemudian jampot yang sudah berisi rayap disimpan ditempat gelap selama 4 minggu. Jika kadar air pasir turun 2% atau lebih, maka ke dalam jampot tersebut ditambahkan air secukupnya sehingga kadar air kembali seperti semula. Pengamatan contoh uji dilakukan setelah mencapai waktu pengujian selama 4 minggu. Pada akhir pengujian ditetapkan jumlah rayap yang hidup (natalitas), penurunan berat akibat serangan rayap, dan derajat serangan yang mengacu pada SNI 01-7207-2006 (Badan Standardisasi Nasional, 2006), ASTM D 3345-74 (ASTM, 1999) dan AWPA (1972) yang dimodifikasi. Penilaian derajat serangan rayap seperti Tabel 3 dan klasifikasi ketahanan terhadap rayap tanah seperti Tabel 5.
18
Tabel 5. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap rayap tanah berdasarkan penurunan berat
Kelas Ketahanan Penurunan Berat (%) I Sangat tahan < 3,52
II Tahan 3,52 – 7,50 III Sedang 7,50 – 10,96 IV Tidak tahan 10,96 – 18,94 V Sangat tidak tahan 18,94 – 31,89
3). Pengujian keawetan di lapangan
Pengujian keawetan di lapangan (graveyard test) menggunakan metode ASTM D 1758-02 (ASTM, 2002). Sepuluh contoh uji berukuran (50 x 2 x 2) cm dikubur secara vertikal di lapangan terbuka sedalam 25 cm di dalam tanah dan dibiarkan 25 cm tetap timbul di atas permukaan, dengan jarak di antara masing-masing contoh uji sekitar 30-60 cm. Masing-masing-masing contoh uji diperiksa setiap 6 bulan sekali dan pada setiap pemeriksaan diukur kedalaman pelapukannya yang dinyatakan dalam satuan mm dan ditetapkan derajat serangan rayapnya dengan menggunakan skala sebagai berikut:
ta = tidak ada serangan tps = tipis sekali tp = tipis sd = sedikit sdn = sedang hb = hebat hbs = hebat sekali
Pengujian dianggap selesai jika contoh uji sudah lapuk atau sudah diserang rayap dengan kriteria sebagai berikut:
1) Paling sedikit 50% dari volumenya rusak dimakan rayap (derajat serangan hb atau hbs).
2) Dalamnya pelapukan sudah mencapai 25 mm.
3) Patah jika dipukulkan ke lantai karena lapuk dan pada saat itu ditetapkan umur pakai contoh uji tersebut yang dinyatakan dalam bulan atau tahun dan ditetapkan nilai rata-ratanya.
19
Berdasarkan nilai rata-rata tersebut ditetapkan kelas awet jenis kayu yang bersangkutan berdasarkan kriteria Martawijaya (1990) pada Tabel 6.
Tabel 6. Kelas keawetan kayu berdasarkan umur rata-rata pemakaian
Kelas Keawetan Umur rata-rata (tahun)
I Sangat awet > 8
II Awet 5 – 8
III Sedang 3 – 5
IV Kurang awet 15 – 3
V Tidak awet < 1,5
7. Pengujian sifat keawetan terhadap penggerek di laut
Sepuluh contoh uji kayu berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm diuji ketahanannya terhadap penggerek di laut yang direndam secara horizontal di perairan Pulau Rambut. Setelah 3 dan 6 bulan diambil dan diamati intensitas serangannya dan diidentifikasi organisme yang menyerangnya (Turner, 1966). Pengamatan contoh uji dilakukan dengan membelah menjadi dua bagian dan dinilai intensitas serangannya menurut standar SNI 01-7207-2006 (Badan Standardisasi Nasional, 2006). Klasifikasi ketahanan kayu terhadap penggerek kayu di laut disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap penggerek kayu di laut Kelas Intensitas serangan
(%) Selang intensitas serangan
I < 7,3 Sangat tahan
II 7,3 - 27,1 Tahan
III 27,1 - 54,8 Sedang
IV 54,8 - 79,1 Buruk
V > 79,1 Sangat buruk
Jenis organisme penggerek yang menyerang dapat dikenali dengan melihat bekas lubang gerek, bentuk palet dan struktur cangkuk pada contoh uji menurut Turner (1971).
20
8. Pengujian sifat keterawetan
Pengujian sifat keterawetan dilakukan dengan metode IUFRO (Smith dan Tamblyn, 1970). Tiap jenis kayu diusahakan diwakili oleh 3 pohon dan dari masing-masing pohon diambil 3 batang contoh uji. Selanjutnya dibuat contoh uji berukuran 100 cm x 5 cm x 5 cm dan dikeringkan sampai mencapai kadar air kering udara. Bahan pengawet yang digunakan yaitu CCB dengan komposisi sebagai berikut: CuSO4 34% w/w, K2CrO7 38% w/w, H3BO3 25% w/w. Garam CCB tersebut dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 3% untuk selanjutnya diimpregnasikan ke dalam contoh uji dengan proses sel penuh menurut bagan sebagai berikut:
Vakum awal : 50 cm Hg 15 menit Tekanan : 10 atm 60 menit Vakum akhir : 50 cm Hg 15 menit
Absorpsi larutan bahan pengawet dan berat jenis larutan pada konsentrasi yang sama pada masing-masing contoh uji digunakan untuk menetapkan retensi bahan pengawet dalam kayu yang dinyatakan dalam kg/m3. Contoh uji yang sudah diawetkan diangin-anginkan di dalam ruangan sampai mencapai kadar air kering udara untuk kemudian diukur penetrasinya.
Penetrasi diukur pada permukaan potongan melintang yang dibuat di bagian tengah contoh uji. Dalamnya penetrasi dinyatakan dalam persentase luas bidang yang ditembus bahan pengawet. Batas penembusan bahan pengawet diperjelas dengan jalan melabur penampang contoh uji dengan pereaksi chrome azural atau
rubeanic acid.
Klasifikasi keterawetan kayu ditetapkan berdasarkan kriteria seperti pada Tabel 8.
21 Tabel 8. Klasifikasi keterawetan kayu
Kelas Keterawetan Luas Penetrasi (%)
I Mudah >90
II Sedang 50-90
III Sukar 10-50
IV Sangat sukar <10
9. Pengujian sifat kimia dan nilai kalor
Analisis komponen kimia kayu dilakukan menurut metode standar sebagai berikut:
Kadar selulosa menurut metode Norman dan Jenkins (Wise, 1944).
Kadar lignin menurut standar SNI 14-0492-1989 (Badan Standardisasi Nasional, 1989a).
Pentosan menurut standar TAPPI T 19m-50 (TAPPI, 1992). Kadar abu menurut standar SNI 14-1031-1989 (Badan
Standardisasi Nasional, 1989b).
Kadar silika menurut standar SNI 14-1031-1989 (Badan Standardisasi Nasional, 1989b).
Kelarutan dalam alkohol benzena menurut standar SNI 14-1032-1989 (Badan Standarisasi Nasional, 14-1032-1989c).
Kelarutan dalam air dingin dan panas standar SNI 14-1305-1989 (Badan Standardisasi Nasional, 1989d).
Kelarutan dalan NaOH 1% menurut standar SNI 14-1838-1990 (Badan Standardisasi Nasional, 1990).
Selain itu ditetapkan juga nilai kalor kayu dan data-data lain yang diperoleh dalam proses destilasi kering. Untuk pengujian destilasi kering diambil lempengan kayu dari ujung dolok setebal 10 cm, lalu dibelah melalui titik pusatnya menjadi beberapa potong juring. Potongan juring tersebut dibiarkan beberapa waktu atau dikeringkan dalam oven sampai mencapai kadar air sekitar 20%. Nilai kalor ditetapkan dengan kalorimeter.
22
10. Pengujian sifat dan pengolahan pulp dan kertas
Pulp dari setiap jenis kayu diolah dengan proses sulfat. Sifat yang diuji pada masing-masing jenis adalah sifat pengolahan dan sifat pulp yang dihasilkan. Sifat pengolahan yang diamati meliputi rendemen pulp, konsumsi alkali, dan bilangan kappa. Rendemen ditetapkan menurut standar TAPPI T 214 su 71 (TAPPI, 1972 dan 1993), bilangan kappa menurut standar TAPPI T 525 hm 85 (TAPPI, 1993). Metode yang digunakan pada setiap pengujian berdasarkan metode terbaru yang dilaksanakan oleh Laboratorium Terpadu Pustekolah dalam rangka mendukung pelaksanaan ISO/IEC 17025:2008.
D. Analisis Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian di analisa secara deskriptif meliputi rata-rata dan standar deviasinya, sedangkan faktor yang diduga berpengaruh adalah ketinggian contoh uji faktor dimensi serat, dianalisa menggunakan faktor rancangan faktorial 2 x 3 (ketinggian: ujung, tengah, pangkal) dengan ulangan 30 kali. Pengujian statistik menggunakan software SPSS versi 17.0.
23
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengambilan Contoh Uji
Tegakan, gambar kulit dan penampang sisi kayu bira-bira disajikan dalam Gambar 1 sedangkan untuk kayu mahang putih ditampilkan dalam Gambar 2.
Gambar 2. Tegakan, daun dan kulit pohon bira-bira (Barringtonia asiatica (L.) Kurz.)
24
Gambar 3. Tegakan, daun dan kulit kayu mahang putih (Macaranga hypoleuca Miq.)
B. Struktur Anatomi dan Dimensi Serat
Kayu Bira-bira (Barringtonia asiatica (L.) Kurz.) Ciri umum
Warna kayu kuning cerah, bagian terasnya tidak dipisahkan secara jelas dengan kayu gubalnya yang berwarna kekuningan.
Corak polos.
Tekstur halus sampai agak halus.
Arah serat lurus, bergelombang, kadang dijumpai berpadu. Kilap kusam (tidak mengkilap).
Kesan raba permukaan tangensial agak licin Kekerasan keras.
Pada saat ditebang kayunya mengeluarkan bau kurang sedap, namun menghilang pada saat dikeringanginkan.
Ciri anatomi
Lingkar tumbuh tidak jelas, kadang tampak samar akibat adanya parenkim pita.
25
Pembuluh difus, sebagian besar tunggal dan berganda 2 – 5, bentuk
oval dengan diameter 120 – 210 µm. Frekuensi pembuluh 8 – 18 per mm2. Bidang perforasi sederhana, noktah antar pembuluh selang seling, berumbai, bentuk bundar sampai oval dengan ukuran 8 – 10 µm, noktah antar pembuluh dan jari-jari serupa dengan noktah antar pembuluhnya. Panjang pembuluh 850,54 ± 108,17 ; diameter 281,33 ± 19,42. Tyloses banyak ditemukan dalam pembuluh.
Parenkim selubung, pita memanjang dengan lebar lebih dari 1 - 3 sel. Pada parenkima pita membentuk garis memanjang kadang bergelombang dan terputus (tidak berlanjut).
Jari-jari uniseriat, tinggi 0,7 – 1,7 mm, heteroseluler, terdiri dari sel tegak dan sel berbentuk kubus. Frekuensi jari-jari 7 ± 2 per mm.
Serat dengan noktah sederhana, tidak bersekat, panjang 1.435,54 ± 223,9 mikron, diameter 38,50 ± 5,64 mikron, tebal dinding 2,68 ± 0,5 mikron.
Saluran interseluler tidak dijumpai. Gambar penampang disk dan lintang (x) dan sisi tangensial kayu bira-bira disajikan dalam Gambar 4. Gambar penampang lintang (x), radial (r) dan tangensial (t) disajikan dalam Gambar 5.
26
A B
C
Gambar 4. Disk (A), sisi tangensial (B) dan penampang transversal (X) makro (C) kayu bira-bira (Barringtonia asiatica (L.) Kurz.)
27
A B
C D
Gambar 5. Penampang lintang (A), radial (B), tangensial (C) dan tangensial yang diperbesar (D) dari kayu bira-bira (Barringtonia
28
Kayu Mahang putih (Macaranga hypoleuca (Rchb.f.&Zoll.) Mull.Arg. Ciri umum
Warna kayu kuning keabu-abuan, tidak dipisahkan secara jelas dengan kayu gubalnya yang berwarna lebih pucat.
Corak polos.
Tekstur halus dan rata. Arah serat lurus.
Kilap kusam (tidak mengkilap).
Kesan raba permukaan tangensial kesat. Kekerasan lunak.
Ciri anatomi
Lingkar tumbuh tidak jelas, kadang tampak serat yang lebih padat.
Pembuluh difus, sebagian besar tunggal, kadang berganda 2 – 4, bentuk oval dengan diameter rata-rata 199 + 5 µm. Frekuensi pembuluh 1 – 5 per mm2
. Bidang perforasi sederhana, noktah antar pembuluh selang seling, polygonal sampai bentuk bundar, diameter 12 – 17 µm, noktah antar pembuluh dan jari-jari serupa dengan noktah antar pembuluhnya bentuk elips, bundar dan angular. Tyloses kadang dijumpai.
Parenkim difus, scanty paratrakeal dan unilateral paratrakeal, 7 – 15
sel per utas.
Jari-jari heteroselular dengan satu atau lebih dari empat sel tegak, 1 – 3 baris sel per lebar jari-jari. Dijumpai juga sel jari-jari uniseriat. Tinggi jari-jari rata-rata 1.695 µm dengan frekuensi 8 – 14 jari-jari per mm.
Serat dengan noktah sederhana sampai berhalaman, tidak bersekat, panjang 1.705,9 ± 33,2 µm, diameter 41,97 ± 1,4 µm, tebal dinding 2,9 ± 0,1 µm.
Saluran interseluler tidak dijumpai. Sel kristal prismatik dijumpai terselubung dalam sel jari-jari. Gambar penampang disk dan lintang (x) dan sisi tangensial kayu mahang putih disajikan dalam Gambar 6.
29
Gambar penampang lintang (x), radial (r) dan tangensial (t) disajikan dalam Gambar 7.
A B
C
Gambar 6. Disk (A), sisi tangensial (B) dan penampang transversal (X) makro (C) kayu mahang putih (Macaranga hypoleuca Muell.Arg.)
0,2 mm 1 mm
30
A B
C D
Gambar 7. Penampang lintang (A), radial (B), tangensial (C) dan tangensial yang diperbesar (D) dari kayu mahang putih (M.
31
Tabel 9. Rata-rata dimensi serat dan pembuluh bagian pangkal, tengah dan ujung (variasi secara vertikal)
Jenis Kayu
SERAT (µm) Pembuluh (µm) Panjang Diameter Ø Lumen Tebal Dinding Panjang Diameter
Bira-bira pangkal 1949 30,9 23,8 3,59 888,55 136,91 tengah 1814 28,9 22,1 3,41 922,66 162,99 ujung 1709 26,7 19,1 3,78 767,7 138,99 Rata-rata 1824 28,8 21,6 3,59 859,63 146,29 Mahang putih pangkal 1673 42,9 37,7 2,58 354,09 159,44 tengah 1724 43,5 37,4 3,03 414,64 215,17 ujung 1720 39,6 33,3 3,12 385,70 190,77 Rata-rata 1705 41,9 36,1 2,91 384,81 188,46
Tabel 10. Nilai turunan serat
Jenis Kayu Panjang
Serat Bil. runkel Daya Tenun Perb. Fleksibi litas Koefisien Kekakuan Perb. Muhlstep Total Skor/ Kelas Kualitas Barringtonia asiatica 1.824,49 0,34 63,78 0,75 0,13 43,91 550 Nilai 100 100 50 100 100 100 I Macaranga hypoleuca 1.705,28 0,37 60,08 0,73 0,13 45,86 500 Nilai 50 100 50 100 100 100 I
Berdasarkan nilai turunan dimensi serat, kedua jenis termasuk kelas kualitas I untuk penggunaan sebagai pulp dan kertas.
Dari ciri umum kayu bira-bira yang berwarna kuning gading agak pucat dan mempunyai permukaan yang halus dapat digunakan sebagai pengganti kayu ramin, namun kayu ini mudah diserang jamur biru, sehingga harus diawetkan secara propilaktis dan penanganan anti jamur biru secepatnya.
C. Pengujian Sifat Fisis dan Mekanis
Perhitungan rata-rata kadar air, berat jenis dan penyusutan kedua jenis kayunya disajikan dalam Tabel 11.
32
Tabel 11. Rata-rata kadar air, berat jenis dan penyusutan kedua jenis kayu Jenis kayu Kadar air (%) Berat Jenis (g/cm 3 ) berdasar Penyusutan (%) Basah-KU Basah - KO Basah KU Bb/Vb Bu/Vu Bo/Vo Bo/Vu Bo/Vb R T R T Bira-bira N 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Rata-rata 77,375 12,234 0,991 0,661 0,618 0,589 0,560 1,095 3,156 3,002 6,940 Min. 59,932 11,773 0,920 0,600 0,561 0,536 0,511 0,875 2,459 2,510 5,470 Max. 89,568 12,519 1,057 0,699 0,653 0,624 0,591 1,451 3,809 3,611 7,825 Mahang putih N 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Rata-rata 81,774 13,700 0,575 0,383 0,347 0,337 0,317 0,730 2,231 2,133 4,631 Min. 64,951 13,235 0,553 0,363 0,324 0,319 0,301 0,640 2,017 1,978 4,309 Max. 98,936 14,031 0,608 0,407 0,372 0,359 0,339 0,800 2,448 2,248 4,897
Keterangan: Bb= Berat basah, Vb= Volume basah, Bu=Berat kering udara, Vu= Volume kering udara, Bo= Berat setelah dioven, Vo= Volume setelah dioven, R= radial, T=tangensial, KU= kering udara, KO= kering oven
Tabel 11 menunjukkan bahwa kadar air basah berkisar antara 64,5-89.6%. Kadar air basah kayu mahang putih lebih tinggi dibandingkan kayu bira-bira, sementara kadar air kering udara kedua jenis kayu tersebut berkisar antara 11-14%. Kayu bira-bira lebih berat dibandingkan kayu mahang putih, hal ini ditunjukkan oleh nilai berat jenisnya. Berdasarkan nilai berat jenisnya, kayu bira-bira tergolong mempunyai berat sedang (medium), sedangkan kayu mahang putih tergolong kayu ringan.
Penyusutan kayu merupakan perbandingan perubahan dimensi kayu karena adanya penurunan kadar air di bawah titik jenuh serat terhadap dimensi basahnya. Penysutan kayu bira-bira lebih tinggi dibandingkan kayu mahang putih. Penyusutan kayu bira-bira tergolong sedang-agak berat, sedangkan kayu mahang putih tergolong sedang.
Hubungan regresi linier sederhana antara berat jenis dan penyusutan total kayu yang dibuat adalah y = 17,218x - 3,7126 (R² = 0,4249), dimana y= penyusutan total, sedangkan x =berat jenis. Dari koefisien regresinya dapat dijelaskan bahwa hanya 42% dari nilai
33
penyusutan dapat dijelaskan dari nilai berat jenisnya. Semaikin tinggi berat jenis semakin tinggi penyusutan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Brown et al. (1952), bahwa semakin tinggi berat jenis, semakin tebal dinding sel dan semakin banyak gugus OH dalam rantai selulosa yang dapat mengikat air, sehingga semakin tinggi pula kemungkinan penyusutannya. Nilai rata-rata sifat mekanis kayu mahang putih dan bira-bira pada kondisi basah dan kering udara masing-masing disajikan pada Tabel 12.
34
Tabel 12. Nilai rata-rata sifat mekanis kayu bira-bira dan kayu mahang putih
Jenis Kayu No
Keteguhan Lentur Statis (kg/cm2) Ket. Tekan (kg/cm2) Ket. Geser (kg/cm2) Ket. Belah (kg/cm2) Ket. Tarik ┴ (kg/cm2) Ket. Tarik // (kg/cm2) Kekerasan (kg) Ket. Pukul (kg/dm3)
MPL MOE MOR // ┴ R T R T R T R T Ujung Sisi R T
Bira-bira Bsh n 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 . Rata2 304,950 60.379,1 463,164 246,413 143,859 85,202 84,489 62,961 69,012 35,299 41,823 453,191 396,232 404,200 385,450 32,428 34,475 Min 243,243 48.988,6 412,781 193,157 118,167 29,999 58,533 45,987 57,143 20,281 25,815 183,458 142,518 351,000 338,000 23,232 29,520 Max 341,436 66.129,7 499,322 294,387 185,616 100,685 111,420 84,146 81,113 49,724 55,274 786,395 764,235 471,000 450,500 38,743 41,517 Stdev 27,286 5.549,9 24,747 34,995 22,227 20,086 15,133 12,103 8,805 9,973 9,710 205,107 204,553 40,911 32,765 4,969 4,137 KU n - - - 10 10 10 10 10 - - 10 10 - - 10 10 Rata2 - - - 367,192 97,691 107,875 44,346 71,747 - - 523,532 493,626 - - 29,959 26,285 Min - - - 280,994 73,344 58,116 26,851 55,645 - - 196,774 204,082 - - 24,329 21,433 Max - - - 429,181 114,257 136,328 66,531 106,400 - - 872,703 1152,993 - - 37,879 33,222 Stdev - - - 55,790 13,410 23,108 11,735 15,607 - - 206,409 298,475 - - 3,796 3,419 Mahang putih Bsh n 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Rata2 203,337 62.500,0 310,022 171,323 58,717 51,222 56,353 28,445 27,617 20,624 21,720 373,972 392,039 233,600 118,200 26,138 27,361 Min 187,123 6.098,9 291,516 155,892 46,701 41,573 48,187 24,390 25,806 16,500 17,735 317,073 231,187 207,000 100,500 23,770 19,037 Max 218,634 5.457,3 327,673 185,501 91,939 59,451 65,726 31,707 30,957 27,494 24,289 427,696 494,331 255,000 148,000 29,173 30,607 Stdev 12,321 3.936,6 14,672 13,145 18,932 7,260 6,526 3,220 2,249 4,424 2,754 46,433 111,964 21,303 20,315 2,477 4,923 KU n - - - 5 5 5 5 5 - - 5 5 - - 5 5 Rata2 - - - 264,874 68,248 77,052 24,258 31,103 - - 391,114 485,793 - - 24,577 27,989 Min - - - 255,520 50,489 62,794 20,548 26,139 - - 315,341 324,919 - - 21,552 23,268 Max - - - 272,203 87,620 87,654 28,571 36,832 - - 479,447 621,811 - - 29,224 33,835 Stdev - - - 6,909 14,648 10,879 3,081 5,197 - - 60,927 111,235 - - 2,961 5,104
Keterangan: KA= kadar air, BJ= Berat Jenis, MPL=Keteguhan pada batas proporsi limit, MOE=modulus elastisitas, MOR=tegangan patah, //=sejajar serat; tegak lurus serat, R=radial, T=tangensial
35
Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa kayu bira-bira lebih kuat dibandingkan kayu mahang putih. Berdasarkan nilai kerapatan dan nilai rata-rata sifat mekanisnya, maka kayu bira-bira tergolong kayu kelas kuat III-IV sedangkan kayu mahang putih tergolong kayu kelas kuat IV. (Oey, 1991). Berdasarkan kelas kuatnya, maka kayu-kayu tersebut hanya sesuai untuk konstruksi ringan, atau barang kerajinan.
Hubungan regresi linier sederhana antara kerapatan dan MOE maupun kerapatan dengan MOR adalah sebagai berikut :
- Kerapatan-MOR : y = 489,52x + 142,16 (R² = 0,7945), dimana y = MOR dan x = kerapatan
- Kerapatan-MOE : y = 64440x + 18883 (R² = 0,829), dimana y = MOR dan x = kerapatan
- MOE-MOR : y = 6,9402x + 34,435 (R² = 0,8), dimana y = MOR dan x = MOE
Regresi tersebut menunjukkan bahwa nilai kerapatan dapat digunakan sebagai penduga terbaik dari kekuatan kayu. Demikian pula MOE dapat menjadi penduga terbaik untuk kekuatan patahnya (MOR).
D. Sifat Pengeringan
Kadar air awal kayu mahang putih berkisar antara 66% - 93% (rerata 80%) dan bira-bira berkisar antara 99% - 112% (rerata 103%). Hasil percobaan pengeringan suhu tinggi kedua jenis kayu, disajikan dalam Tabel 13.
Tabel 13. Sifat pengeringan suhu tinggi dua jenis kayu
Jenis kayu Kadar air awal (%)
Klasifikasi cacat pengeringan Sifat pengeringan Retak/pe-cah awal Perubahan bentuk Pecah dalam Mahang putih Bira-bira 66 – 93 (80) 99 – 112 (103) 4 5 3 5 - 6 4 5
Agak baik- sedang Agak buruk -buruk Data di atas merupakan rata-rata pengamatan dari 6 contoh uji; klasifikasi sifat pengeringan berdasarkan cacat terparah
Keterangan : 1= sangat baik; 2 = baik; 3 = agak baik; 4 = sedang; 5 = agak buruk; 6 = buruk; 7= sangat buruk
Kayu mahang putih termasuk kayu ringan. Cacat terparah kayu tersebut pada percobaan pengeringan suhu tinggi adalah pecah permukaan (surface
36
checks) dan pecah di bagian dalam kayu (honeycombing), sehingga dalam penetapan skedul pengeringan (terutama di awal proses) perlu kehati-hatian karena sangat berpengaruh (terutama cacat pecah dalam) terhadap penurunan kekuatan kayu.
Kayu bira-bira termasuk kayu keras. Pada percobaan suhu tinggi, kayu tersebut mengalami pecah permukaan, memangkuk (perubahan bentuk pada arah lebar kayu), dan pecah dalam yang cukup parah, sehingga perlu kehati-hatian dalam menetapkan skedul pengeringan dan penumpukan (Gambar 14). Pemberian beban yang cukup pada permukaan tumpukan kayu teratas dapat menekan terjadinya perubahan bentuk pada kayu.
Lazimnya kayu mudah mengering jika kadar airnya masih di atas 40% - 50%. Pada kondisi yang sangat basah, mempercepat proses pengeringan dapat merusak kayu. Oleh karena itu, amannya kayu sebelum dimasukkan dalam kiln drying dikeringkan dulu secara alami (air drying) sampai mencapai kadar air tersebut. Khusus untuk kayu bira-bira, dengan kondisi kadar air yang sangat basah sebaiknya dikukus atau diuapi sebelum dikeringkan agar dapat mempercepat waktu pengeringan tanpa penurunan kualitas.
Gambar 8. Cara penumpukan dengan pembebanan di permukaan tumpukan
Sifat pengeringan kayu mahang putih termasuk kelas 3 dan 4 (agak baik sampai sedang) dan kayu bira-bira termasuk kelas 5 dan 6 (agak buruk sampai buruk). Dari kedua jenis yang diteliti, kayu mahang putih memiliki sifat pengeringan lebih baik dari kayu bira-bira.
37
E. Sifat Pemesinan
Hasil pengamatan pemesinan disajikan dalam Tabel 14. Tabel 14. Hasil pengujian pemesinan
Sifat Pemesinan Bira-bira Mahang Putih
Bebas cacat (%) Kualitas Bebas cacat (%) Kualitas
Pengetaman 67,8 Baik (II) 69,5 Baik (II)
Pembentukan 75,3 Baik (II) 66,3 Baik (II)
Pengampelasan 78,3 Baik (II) 77,0 Baik (II)
Pemboran 74,3 Baik (II) 59,5 Sedang (III)
Pembubutan 75,3 Baik (II) 63,0 Baik (II)
Hasil pengujian pemesinan kedua jenis kayu menunjukkan hasil yang baik (II) kecuali pembiran kayu mahang yang mask kelas kualitas sedang (III). Kedua jenis kayu mengandung silika namun tidak terlalu tinggi, sehingga hasil pemesinan relatif halus. Pengerjaan dengan mesin menunjukkan persentase cacat permukaan berupa serat berbulu, serat patah, bekas garukan yang relatif kecil.
F. Pengujian Sifat Keawetan terhadap Serangga
Hasil pengujian terhadap serangga rayap tanah (Coptotermes curvignatus) di laboratorium dapat dilihat pada Tabel 8, sedangkan ketahanan terhadap rayap kayu kering (Coptotermes cynocephalus) disajikan dalam Tabel 15.
Tabel 15. Rata-rata pengurangan berat, jumlah rayap tanah yang hidup (Natalitas) dan derajat serangan pada dua jenis kayu
Jenis kayu Pengurangan berat (%) Natalitas (%) Nilai derajat serangan Kelas ketahanan Mahang putih 19,97 89,7 37,2 V Bira-bira 15,40 80,4 17,6 II
Dari Tabel 8 tampak bahwa ketahanan kayu mahang putih terhadap rayap tanah (C. curvignatus) termasuk kelas V (tidak tahan), sedangkan kayu bira-bira termasuk kelas II (agak tahan). Hasil pengujian ketahanan terhadap rayap tanah menunjukkan natalitas (jumlah rayap yang hidup) pada kayu mahang putih adalah 89,7% dan bira-bira 80,4% (sangat banyak). Nilai derajat serangan pada kayu mahang putih adalah 37,2 dan kayu bira-bira 17,6 dengan nilai serangan 90 untuk kayu mahang putih dan 70 untuk kayu bira-bira. Untuk menghindari serangan rayap tanah, kayu bira-bira dan kayu mahang putih
38
sebaiknya diawetkan sebelum digunakan. Hasil pengujian terhadap rayap kayu kering (C. cynocephalus) dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Rata-rata pengurangan berat, jumlah rayap kayu kering yang hidup (Natalitas) dan derajat serangan pada dua jenis kayu
Jenis kayu Pengurangan berat (%)
Natalitas (%)
Nilai derajat serangan Kelas ketahanan
Mahang putih 18,63 56 20,4 IV
Bira-bira 7,86 14,8 10 II
Berdasarkan hasil pengamatan yang disajikan dalam Tabel 9, kayu mahang putih termasuk kelas ketahanan IV (tidak tahan) sedangkan kayu bira-bira termasuk kelas ketahanan II. Kayu bira-bira-bira-bira lebih baik dari kayu mahang, baik dilihat dari natalitas (jumlah rayap yang hidup) 14,8% pada kayu bira-bira sedangkan kayu mahang putih adalah 20,4%, dengan nilai serangan 70 (sedang, berupa saluran-ssaluran yang dangkal dan sempit), sedangkan derajat serangan kayu bira-bira adalah 10% dengan nilai 40 (serangan ringan). Penggunaan kayu mahang putih dan bira-bira sebaiknya diawetkan terlebih dahulu.
Hasil pengujian kuburan (graveyard test) selama 3 bulan menunjukkan bahwa kedua jenis kayu bira-bira lebih tahan terhadap kayu mahang putih. Kayu mahang putih lebih cepat diserang oleh rayap tanah (Gambar 9).
Gambar 9. Hasil pengujian kayu bira-bira atas dan kayu mahang putih bawah Setekah tiga bulan, hasil analisa menunjukkan kayu mahang putih hamper semuanya terserang oleh rayap tanah (100%), sedangkan kayu
bira-39
bira hanya sedikit terserang (20%). Pada percobaan kayu yang diawetkan dengan CCB 3% menunjukkan tidak ada serangan pada kedua kayu tersebut. Untuk itu, penggunaan kayu mahang putih dan bira-bira yang berhubungan dengan tanah, harus diawetkan.
G. Pengujian Sifat Ketahanan terhadap Penggerek di Laut
Pengujian sifat ketahanan kayu terhadap penggerek dilakukan di perairan Pulau Rambut (Gambar 10).
Gambar 10. Pengujian ketahanan terhadap penggerek di laut
Kayu mahang putih
Kayu bira-bira
40
Hasil pengujian di laut setelah tiga bulan menunjukkan kedua jenis kayu termasuk kelas awet IV, yaitu tidak tahan terhadap serangan penggerek di laut. Persentase kerusakan akibat penggerek di laut adalah 77,54% untuk kayu bira-bira dan 79,92% untuk kayu mahang. Organisme perusak yang dijumpai pada kedua jenis kayu adalah Pholadidae dan Teredinidae.
H. Pengujian Sifat Keterawetan
Penembusan dan retensi bahan pengawet CCB dan kelas keterawetan dua jenis kayu tercantum pada Tabel 17.
Tabel 17. Rata-rata penetrasi dan retensi bahan pengawet CCB terhadap dua jenis kayu
Jenis kayu Kelas
keterawetan Kadar air (%) Retensi kg/m3 Penembusan (%)
Mahang putih 10,09 16,9 100 Mudah (I)
Bira-bira 29,9 11,3 80 Sedang (II)
Dari Tabel 10 dapat disimpulkan bahwa kayu mahang putih termasuk mudah diawetkan sedangkan kayu bira-bira termasuk kelas sedang (II).
A B
Gambar 12. Hasil pengujian penetrasi bahan pengawet kayu mahang putih (A) dan kayu bira-bira (B)
I. Pengujian Sifat Kimia dan Nilai Kalor
Hasil analisis komponen kimia dari dua jenis kayu disajikan pada Tabel 18.
41 Tabel 18. Komponen kimia dua jenis kayu
Jenis kayu Lignin (%) Pento san (%) Selulosa (%) Kelarutan ekstraksi (%) Air (%) Abu (%) Silika (%) Air Dingin Air Panas Alkohol benzen NaOH 1 % Bira-bira 34,55 15,68 51,12 1,78 4,95 3,65 22,90 7,75 0,41 0,090 Mahang pth 35,80 15,48 48,61 0,68 2,85 4,50 14,54 14,42 1,10 0,455
Nilai kalor untuk kayu mahang putih adalah 4.509 kal/g, sedangkan kayu bira-bira adalah 4.520 kal/g.
J. Sifat Pengolahan Pulp dan Kertas
Dalam pengolahan kayu menjadi pulp, data dan informasi yang dibutuhkan meliputi konsumsi alkali dan bilangan kappa. Konsumsi alkali dan bilangan kappa untuk kedua jenis kayu tersebut disajikan dalam Tabel 19.
Tabel 19. Konsumsi alkali dan bilangan kappa dua jenis kayu Sumatera No. Kode Contoh KONSUMSI
ALKALI Rata-rata BILANGAN KAPPA Rata-rata Rendemen (%) 1. Mahang putih 13,92 13,92 44,69 45,10 24,73 13,92 45,52 2. Bira-bira 13,92 13,92 19,67 19,30 30,07 13,92 18,93
Konsumsi alkali adalah banyaknya pemakaian bahan kimia pemasakan selama proses pemasakan (dengan sulfat atau soda). Konsumsi alkali yang dikehendaki diusahakan serendah mungkin. Kalau konsumsi alkali tinggi perlu dipertimbangkan melakukan daur ulang bahan kimia. Dalam penelitian ini, konsumsi alkali kayu mahang putih sama dengan kayu bira-bira tergolong sedang. Konsumsi alkali tinggi biasanya disebabkan karena kayu tersebut memiliki berat jenis tinggi, kadar lignin tinggi dan ekstraktif tinggi.
Bilangan kappa menunjukkan indikasi sisa lignin dalam pulp. Untuk pembuatan kertas, bilangan kappa yang dikehendaki adalah serendah mungkin, karena terkait dengan kebutuhan bahan pemutih. Dalam penelitian ini, bilangan kappa kayu mahang putih lebih tinggi dibandingkan bilangan kappa kayu bira-bira. Bilangan kappa tinggi merupakan indikasi kadar lignin dan ekstraktif kayu tersebut relatif tinggi.
42
Dalam penelitian ini, nilai konsumsi alkali kedua jenis kayu relatif sama, sehingga secara keseluruhan pulp yang baik untuk dibentuk lembaran berdasarkan bilangan kappa dan yang rendah dan rendemen yang tinggi adalah kayu bira-bira. Walaupun kayu bira-bira memiliki bilangan kappa yang lebih rendah dari kayu mahang, namun rendemen pulp dan kertas kayu bira-bira lebih tinggi dari kayu mahang putih. Untuk melihat karakteristik pulp yang baik untuk dibentuk lembaran harus diuji juga sifat fisik lembarannya, tidak cukup hanya melihat data bilangan kappa, konsumsi alkali dan rendemennya.
K. Kegunaan Kayu
Kayu bira-bira termasuk kayu keras dan dapat digunakan untuk konstruksi berat dan dapat digunakan di luar ruangan. Beberapa bentuk produk kayu yang dapat dikembangkan untuk kayu bira-bira addalah tiang rumah, jembatan kayu, bangunan kapal, pagar, pintu, kusen, papan lantai, mebel dan produk bubutan. Kayu bira-bira mudah dikerjakan dengan kualitas hasil permukaan kayu yang halus dan mudah di finishing. Dalam penggunaannya dalam bentuk utuh, kelemahan kayu bira-bira adalah mudah terserang jamur biru. Untuk itu, kayu bira-bira harus diawetkan secara propilaktik setelah ditebang agar tidak terserang jamur biru.
Kayu mahang putih termasuk kayu sedang sehingga tidak cocok untuk konstruksi berat. Kayu mahang putih dapat digunakan untuk konstruksi ringan dan yang bersifat tidak permanen. Kayu mahang putih dapat digunakna untuk konstruksi ringan di dalam rumah, seperti moulding dan mebel dalam rumah yang tidak berhubungan dengan tanah. Kayu mahang putih dianjurkan digunakan untuk kayu pembungkus, perahu kecil dan batang korek api. Kayu mahang putih juga dapat digunakan untuk bahan kerajinan seperti topeng dan sandal kayu.
Berdasarkan dimensi seratnya, kedua jenis kayu dapat dimanfaatka sebagai bahan baku pulp dan kertas. Nilai konsumsi alkali kedua jenis kayu relatif sama, sehingga secara keseluruhan pulp yang dihasilkan baik untuk dibentuk lembaran berdasarkan bilangan kappa dan yang rendah.
43
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Kayu bira-bira memiliki warna kuning cerah menyerupai kayu ramin, namun mudah diserang jamur biru. Kayu mahang putih memiliki warna kuning merah keabu-abuan mirip dengan sengon.
2. Berdasarkan dimensi seratnya, kedua jenis kayu berpotensi untuk pulp dan kertas dengan kelas kualitas I.
3. Berdasarkan berat jenisnya kayu bira-bira termasuk kayu sedang dan kelas kuat III dan kayu mahang putih termasuk kayu sedang dengan kelas kuat IV.
4. Pengeringan kayu mahang putih termasuk kelas 3 dan 4 (agak baik sampai sedang) dan kayu bira-bira termasuk kelas 5 dan 6 (agak buruk sampai buruk.
5. Pemesinan kedua jenis kayu termasuk baik (II) kecuali pemboran kayu mahang putih.
6. Kayu bira-bira termasuk kelas ketahanan II dan mahang putih kelas V terhadap rayap tanah, demikian juga terhadap rayap kayu kering.
7. Kedua jenis kayu tidak tahan terhadap penggerek di laut (kelas IV). 8. Keterawetan kedua jenis kayu termasuk sedang (II).
9. Nilai kalor kedua jenis kayu tinggi, yaitu 4.509 kal/g untuk kayu mahang putih dan 4.520 kal/g untuk kayu bira-bira.
10. Untuk bahan kertas, konsumsi alkali kedua jenis kayu tergolong sedang, namun bilangan kappa kayu mahang lebih tinggi dari kayu bira-bira.
B. Saran
1. Kedua jenis kayu direkomendasikan untuk dikembangkan di Propinsi Riau terutama daerah rawa gambut karena memiliki potensi sebagai jenis andalan setempat untuk bahan baku konstruksi dan mebel.
2. Untuk pengerjaan kayu agar memberikan hasil yang baik, disarankan untuk memperhatikan ketajaman pisau dan menggunakan sudut kontak 20°.