7 2.1 Akuntansi
Pengertian akuntansi menurut Accounting Principle Board (APB) Statement No. 4 yang dikutip oleh Abdul Halim (2004:26) menyebutkan bahwa:
“Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang entitas ekonomi yang dimaksudkan agar berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi dalam membuat pilihan-pilihan yang nalar diantara berbagai alternatif arah tindakan.”
Dari pengertian di atas, dapat diketahui bahwa akuntansi akan memberikan informasi terutama mengenai informasi keuangan yang bermanfaat bagi yang membutuhkan dalam pengambilan keputusan ekonomi dan menentukan pilihan yang terbaik dari alternatif yang tersedia.
Menurut American Institute of Certified Public Accounting (AICPA) yang dikutip oleh Sofyan Syafri (2004:4) menyebutkan bahwa:
“Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.”
Dari kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian akuntansi adalah sebagai berikut:
1. Akuntansi merupakan suatu kegiatan pelayanan yang akan memberikan informasi terutama mengenai informasi keuangan yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan dan dalam penentuan pilihan yang terbaik dari alternatif yang tersedia.
2. Akuntansi merupakan seni dan sekaligus sebagai ilmu tentang penyusunan laporan keuangan yang dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam suatu organisasi.
3. Akuntansi dapat dikatakan sebagai bahasa yang digunakan untuk menggambarkan hasil dari kegiatan ekonomi suatu organisasi yang terutama melibatkan usaha pengubahan sumber daya yang ada menjadi barang atau jasa yang dapat dikonsumsi.
4. Objek akuntansi adalah transaksi atau kejadian yang setidak-tidaknya dapat diukur dengan uang dan yang tidak dapat diukur dengan uang bukan merupakan objek akuntansi.
5. Akuntansi diterapkan dalam suatu entitas, organisasi atau lembaga.
6. Di dalam akuntansi terjadi proses penyusunan dari transaksi dan kejadian keuangan menjadi laporan keuangan.
7. Hasil akuntansi yang berupa laporan keuangan dapat dijadikan alat pengawasan dan pertanggungjawaban
2.2 Dana
2.2.1 Pengertian Dana
Pengertian dana disini berbeda dengan dana pada perusahaan bisnis. Pada perusahaan bisnis, dana diartikan sebagai kas atau sumber daya keuangan yang disisihkan dan ditetapkan akan digunakan untuk tujuan tertentu, tetapi bukan merupakan entitas terpisah, melainkan masih menjadi bagian dari entitas akuntansi perusahaan yang merupakan entitas tunggal.
Menurut Governmental Accounting Standards Boards yang dikutip oleh Siregar (2001:9) definisi dana adalah sebagai berikut:
“A fund is a fiscal and accounting entity with a self-balancing set of accounts recording cash and other financial resources, together with all related liabilities and residual equities or balances, and changes therein, which are segregated for the purpose of carrying on specific activities or attaining certain objectives in accordance with special regulations, restrictions or limitations.”
Dengan demikian, yang diartikan dengan dana berbeda dengan kas atau dana sumber lainnya yang bersifat sempit, sebab pengertian dana mencakup: 1. Kesatuan fiskal dan kesatuan akuntansi yang berdiri sendiri.
2. Terdapat sekumpulan rekening (set of accounts) untuk mencatat mutasi kas atau sumber-sumber lainnya yang bersifat saling berimbang dengan melakukan pencatatan terhadap semua transaksi, baik harta, modal, hutang, pendapatan dan pengeluaran.
3. Mempunyai tujuan penggunaan tertentu.
4. Ada ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pembentukan dana dan penggunaannya serta pembatas-pembatasnya.
2.2.2 Jenis-jenis Dana
Jenis-jenis dana yang digunakan dalam organisasi nirlaba selain pemerintahan dan universitas yaitu yang bergerak dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan (voluntary, health and welfare organization) dan organisasi nirlaba lainnya menurut Wilson dan Kattelus (2004:547) adalah sebagai berikut: 1. Dana Lancar Umum (Current Unrestricted Fund)
Yaitu dana untuk mencatat semua perkiraan yang berkaitan dengan sumber daya yang tidak dibatasi (unrestricted) yang digunakan sesuai dengan batasan yang ada, kecuali untuk jumlah yang diinvestasikan dalam tanah, bangunan dan peralatan.
2. Dana Lancar Terbatas (Current Restricted Fund)
Yaitu dana untuk mencatat semua perkiraan yang berkaitan dengan sumber daya yang dibatasi (restricted) yaitu yang dapat dibelanjakan (expendable) dan tersedia untuk digunakan, tetapi hanya untuk operasi sebagaimana dimaksud oleh pemberinya.
3. Dana Endowmen (Endowment Fund)
Yaitu dana untuk mencatat semua perkiraan yang berkaitan dengan hadiah dan warisan yang diterima dari pemberi dana dengan ketentuan:
a. Jumlah pelaku yang dipertahankan tetap (utuh) selama periode tertentu sampai peristiwa yang khusus terjadi.
b. Semua pendapatan dari investasi dana yang dapat dibelanjakan sesuai dengan maksud dari pemberi dana.
4. Dana Pemeliharaan (Custodian Fund)
Yaitu dana untuk mencatat semua aktiva yang diterima dan dipegang serta dibelanjakan sesuai dengan perintah dari orang atau organisasi yang memberi aktiva tersebut.
5. Dana Pinjaman (Loan and Annuity Fund)
Yaitu dana untuk mencatat semua perkiraan yang berhubungan dengan pembuatan pinjaman dan rencana pembayaran.
6. Dana Aktiva Tetap (Loan, Building and Equipment Fund)
Yaitu dana untuk mencatat semua perkiraan yang berhubungan dengan: a. Sumber daya yang dibatasi (resticted) yang direncanakan untuk
memperoleh atau mengganti aktiva tetap yang dipakai untuk operasi organisasi.
b. Aktiva yang dipakai untuk operasi organisasi.
c. Hutang atau hipotek yang berhubungan dengan aktiva tetap. d. Investasi bersih (net investment) dalam aktiva tetap.
2.3 Akuntansi Dana
Akuntansi pada organisasi nirlaba berhubungan dengan pembentukan dana-dana, maka akuntansi yang digunakan disebut akuntansi dana (Fund Accounting). Akuntansi dana ini merupakan hal yang spesifik bagi organisasi nirlaba. Menurut Wilson dan Kattelus (2004:693) akuntansi dana adalah:
“Accounting system organized on the basis of funds, each of which is considered a separate accounting entity. The operations of each fund are accounted for with a separate set of self-balancing account that comprise its assets, liabilities, fund equity, revenues and expenditures or expenses as appropriate.” Dari pengertian yang diungkapkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntansi dana merupakan suatu sistem akuntansi yang diatur berdasarkan dana-dana yang mana masing-masing dana merupakan kesatuan akuntansi yang terpisah. Operasi setiap dana dicatat secara terpisah dalam saldo akun sendiri yang terdiri dari aktiva, kewajiban, dana pribadi, pendapatan dan belanja yang tepat.
Kesatuan akuntansi (Accounting entity) adalah asumsi bahwa akuntansi hanya membatasi diri pada kesatuan usaha dimana ia mempunyai kepentingan dan kesatuan usaha tersebut dianggap berdiri sendiri terlepas dari pihak-pihak yang lain.
Semua kegiatan ekonomi diselenggarakan melalui suatu kesatuan dari berbagai macam bentuk, individu, keluarga (kelompok), toko, perusahaan besar, lembaga sosial atau unit pemerintah. Maka akan memerlukan suatu pencatatan yang terpisah satu dengan yang lainnya. Pencatatan tersebut memerlukan saldo akun sendiri.
Bila dalam akuntansi komersial perkiraan-perkiraan yang digunakan adalah perkiraan neraca dan perkiraan laba rugi, pada akuntansi dana disamping perkiraan neraca terdapat juga perkiraan-perkiraan anggaran dan perkiraan aktiva, hutang, pendapatan dan belanja.
Pencatatan setiap aktiva, hutang dan saldo dana dilakukan dalam perkiraan-perkiraan atau akun-akun. Pencatatan setiap transaksi akan mempengaruhi aktiva atau modal suatu dana dalam perkiraan maupun dalam aktivitas pencatatannya. Pencatatan yang lengkap dan rinci ini dimaksudkan agar dapat membantu dalam melakukan analisis terhadap perubahan saldo dana.
Pendapatan dan belanja merupakan perkiraan-perkiraan sementara, kedua perkiraan tersebut merupakan bagian dari rekening saldo dana. Belanja yang dilakukan biasanya dicatat dalam setiap perkiraan yang menunjukan tujuan belanja tersebut, maka secara tidak langsung akan diketahui siapa yang bertanggungjawab terhadap pengeluaran tersebut.
Perubahan yang terjadi pada rekening pendapatan dan belanja disebabkan oleh adanya perubahan yang terjadi karena adanya kenaikan dan penurunan yang berhubungan dengan saldo dana. Pendapatan menyebabkan saldo dana menjadi naik dan belanja akan mengurangi saldo dana.
2.4 Organisasi Nirlaba
2.4.1 Ruang Lingkup Organisasi Nirlaba
Organisasi nirlaba dalam beberapa hal mempunyai kesamaan bila dibandingkan dengan organisasi komersial yang bermotifkan mencari laba.
Menurut Sabeni dan Ghozali (2001:6-7) beberapa kesamaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kedua jenis organisasi tersebut adalah merupakan bagian dari suatu sistem ekonomi yang sama dan menggunakan sumber daya yang sama pula untuk memenuhi tujuannya.
2. Kedua jenis organisasi tersebut harus menggunakan sumber daya yang langka untuk menciptakan barang dan jasa.
3. Kedua jenis organisasi tersebut masing-masing memiliki proses manajemen keuangan yang sama.
4. Kedua jenis organisasi tersebut memerlukan analisis biaya dan pengendalian biaya guna menetapkan bahwa sumber daya yang langka tersebut telah digunakan secara efisien dan efektif.
5. Dalam beberapa hal, kedua jenis organisasi tersebut menghasilkan pru=oduk yang sama, seperti pemerintah maupun perusahaan komersial yang keduanya dapat mengelola sistem transportasi, sanitasi, listrik dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui secara umum bahwa persamaan kedua jenis organisasi tersebut yaitu berada dalam suatu sistem ekonomi dan memerlukan sumber daya untuk menjalankan segala aktivitasnya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh masing-masing organisasi, serta memerlukan analisis dan pengendalian biaya guna menetapkan bahwa sumber daya yang langka tersebut telah digunakan secara efisien dan efektif.
Walaupun keduanya memiliki beberapa kesamaan, namun ada beberapa hal pokok yang membedakan kedua jenis organisasi ini, yaitu dalam hal tujuan organisasi, sumber dana dan peraturan atau pengendalian barang dan jasa.
Secara ringkas perbedaan antara organisasi komersial dan organisasi nirlaba dapat dipandang dari beberapa hal sebagai berikut:
Perbedaan Organisasi Komersial Organisasi Nirlaba Tujuan
Organisasi
Menentukan laba bersih dan untuk mendapatkan laba per lembar saham yang setinggi-tingginya
Menghimpun dana dan menggunakannya untuk
masyarakat secara keseluruhan
Sumber Dana Perseorangan atau sekelompok orang yang membentuk sejumlah modal yang disetor untuk
memperoleh pendapatan
Berbagai sumber dan digunakan untuk berbagai macam tujuan tanpa adanya penekanan pada penentuan laba Peraturan dan Pengendalian Barang dan Jasa
Barang dan jasa yang
ditawarkan kepada konsumen umum, akan ditarik dari pasaran apabila barang dan jasa tersebut tidak
menguntungkan lagi
Menyediakan barang dan jasa yang tidak ada harga pasarnya dan ini dapat digunakan sebagai pengukur kepuasan konsumen karena barang dan jasa
tersebut bersifat unik
Sumber: Sabeni dan Ghozali, (2001:6), Pokok-pokok Akuntansi Pemerintahan, Edisi Keempat, Yogyakarta, BPFE
2.4.2 Karakteristik Organisasi Nirlaba
Pemerintah dan organisasi-organisasi nirlaba mempunyai perbedaan dengan organisasi-organisasi lain yang bertujuan untuk mencari laba sehingga organisasi nirlaba memiliki karakteristik yang berbeda dengan organisasi komersial.
Menurut Sabeni dan Ghozali (2001:5) menyatakan beberapa karakteristik organisasi nirlaba, yaitu:
1. Organisasi non profit tidak mempunyai motif mencari laba atau dengan kata lain motif mendapatkan keuntungan bukanlah tujuan bagi organisasi jenis ini. 2. Organisasi non profit ini dimiliki secara kolektif, artinya adalah hak pemilikan tidak ditunjukkan oleh saham yang dapat dimiliki secara perorangan yang dapat diperjual-belikan.
3. Pihak-pihak yang memberikan sumber keuangan kepada organisasi non profit ini, tidak harus menerima imbalan langsung, baik berupa barang, uang atau jasa.
Menurut Jan Hoesada (2005:3) beberapa karakteristik organisasi nirlaba adalah sebagai berikut:
1. Para pengurus organisasi nirlaba secara ideal mempunyai tujuan tulus mendukung organisasi untuk mencapai tujuan, namun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Maka akuntansi dan laporan keuangan bertugas meminta pertanggungjawaban pengurus.
2. Para karyawan organisasi nirlaba sebagian besar atau pada umumnya ingin diperlakukan setara karyawan profesional organisasi komersial, memperoleh karir, jabatan dan masa depan. Maka akuntansi nirlaba bertugas menginformasikan kesinambungan hidup organisasi nirlaba.
3. Yayasan tidak mempunyai anggota. Namun pada organisasi nirlaba lain bukan yayasan, para anggota secara serius mungkin ikut serta dalam suatu organisasi nirlaba untuk mencapai suatu idaman tertentu organisasi nirlaba sejalan dengan aspirasinya.
4. Para pelanggan atau pihak yang menjadi sasaran diuntungkan oleh organisasi, berharap manfaat yang dijanjikan organisasi perlu mendapat informasi sasaran yang berhasil diraih oleh organisasi.
5. Bagi pemerintah, organisasi nirlaba harus mematuhi ketentuan undang-undang nirlaba, diharapkan memberi sumbangan positif bagi kehidupan sosial dan ekonomi nasional dan memberi citra baik bagi bangsa. Laporan keuangan berfungsi sebagai umpan balik kepada pemerintah.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik organisasi nirlaba yang utama adalah bahwa motif mencari laba bukan merupakan tujuan utama, kepemilikan organisasi ini dimiliki secara umum dan para anggota tidak mendapat balasan secara langsung atas dana yang diserahkan serta adanya suatu keyakinan bahwa apa yang dilakukan anggota untuk organisasinya akan mendapat balasan dari Tuhan.
2.4.3 Laporan Keuangan Organisasi Nirlaba
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002: no 45) secara rinci menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah untuk menyajikan informasi mengenai:
a. Jumlah dan sifat aktiva, kewajiban dan aktiva bersih suatu organisasi
b. Pengaruh transaksi, peristiwa dan situasi lainnya yang mengubah nilai dan sifat aktiva bersih
c. Jenis dan jumlah arus masuk dan arus keluar sumber daya dalam satu periode dan hubungan antara keduanya
d. Cara suatu organisasi mendapatkan dan membelanjakan kas, memperoleh pinjaman dan melunasi pinjaman dan faktor lainnya yang berpengaruh pada likuiditasnya
e. Usaha jasa suatu organisasi
Para pengguna laporan keuangan organisasi nirlaba memiliki kepentingan bersama yang tidak jauh berbeda dengan organisasi bisnis. Pada organisasi komersial pemakai laporan keuangan menaruh perhatian terhadap kelangsungan hidup organisasi dalam menghasilkan laba demi keuntunga pemilik, atau kelangsungan hidup perusahaan dalam menggaji karyawannya atau hal lainnya tergantung kepentingan para pemakai laporan keuangan.
Para pemakai laporan keuangan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Pemberi Sumber Daya Keuangan
Pemberi sumber daya keuangan adalah orang yang secara langsung menerima balas jasa atau penggantian atas sumber daya uang yang diserahkannya.
2. Pemberi Suara
Pemberi suara adalah orang yang memakai dan memperoleh manfaat pelayanan yang diberikan organisasi.
3. Badan Pengatur dan Pengawas
Badan pengatur dan pengawas adalah badan yang bertanggung jawab menyusun kebijakan dan melakukan pengawasan serta penilaian terhadap manajemen organisasi.
4. Manajemen
Manajemen organisasi nirlaba mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan seluruh kebijaksanaan pemerintah dan mengelola operasi
sehari-hari organisasi. Manajemen merupakan pemakai intern laporan keuangan yang sekaligua sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam penyusunan laporan keuangan yang bersangkutan.
2.4.4 Jenis-jenis Organisasi Nirlaba
Menurut Sabeni dan Ghozali (2001:6) jenis-jenis organisasi nirlaba terbagi menjadi:
a. Pemerintahan (Governmental) : Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. b. Lembaga Pendidikan (Educational) : Sekolah Dasar, Sekolah Menengah
Tingkat Pertama, Sekolah Menengah Tingkat Atas dan Perguruan Tinggi. c. Kesehatan dan Kesejahteraan (Hospital and Welfare) : Rumah Sakit,
Puskesmas, Poliklinik, Palang Merah Indonesia dan Panti Asuhan Yatim Piatu. d. Keagamaan (Religious) : Mesjid, Pondok Pesantren, Gereja dan Kuil.
e. Lembaga Amal (Charitable) : Yayasan Jantung Sehat, Yayasan Ginjal dan Yayasan Amal lainnya.
f. Lembaga Dana (Foundation) : yaitu lembaga yang dikelola untuk memberikan dana bagi lembaga pendidikan, lembaga keagamaan dan lembaga amal.
Pengelompokkan organisasi nirlaba ini adalah pengelompokan secara umum. Dalam praktiknya, sering terjadi tumpang tindih. Misalnya gereja akan berhubungan dengan lembaga amal, pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah sering terlibat dalam kegiatan seperti membangun Rumah Sakit atau dalam bidang pendidikan dan lembaga-lembaga lain yang dibutuhkan oleh masyarakat.
2.5 Gereja
2.5.1 Pengertian Gereja
Kata gereja dalam bahasa Indonesia memiliki arti:
1. Gereja adalah rumah ibadah umat Kristen, dimana umat bisa berdoa dan bersembahyang.
2. Umat atau lebih tepat perhimpunan orang Kristen yang mengatur dirinya sendiri.
Maka dapat disimpulkan bahwa gereja merupakan organisasi umat Kristen yang sama halnya dengan organisasi yang mengatur dirinya sendiri.
Suatu organisasi memerlukan adanya manajemen yang baik untuk dapat mencapai tujuannya, begitu juga dengan gereja yang memerlukan pengelolaan keuangan yang memadai agar dapat membuat keputusan yang berkenaan dengan kegiatannya secara efektif.
2.5.2 Pengelolaan Keuangan Gereja
Pengelolaan keuangan gereja yang baik dapat mendukung pelaksanaan rencana kerja gereja dengan cara menyediakan informasi mengenai ketersediaan dana di gereja.
Menurut Alberto Daniel dalam makalah Seminar Akuntansi Keuangan Gereja : Pengelolaan Keuangan Gereja (1993), tanggung jawab gereja berkenaan dengan pengelolaan keuangan gereja yang baik adalah penyusunan anggaran, perkiraan sumber dana, pengalokasian dana dan pertanggungjawaban pemakaian dana.
2.5.2.1 Penyusunan Anggaran
Anggaran sangat berperan dalam pengelolaan keuangan gereja karena semua penerimaan dan pengeluaran keuangan gereja selalu mengacu pada anggaran yang dibuat. Sebagai bahan acuan bagi pelaksanaan kegiatan gereja, maka penyusunan anggaran diusahakan sesuai dengan kebutuhan gereja dan memberikan suatu peluang untuk terus berkembang dalam arti anggaran tiap tahun diusahakan mengalami kenaikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Secara lebih terperinci, proses penyusunan anggaran antara lain:
1. Pengumpulan data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun anggaran. 2. Pengolahan dan penganalisisan data dan informasi tersebut untuk
mengadakan taksiran-taksiran dalam rangka menyusun anggaran. 3. Menyusun anggaran serta menyajikannya secara teratur dan sistematis. 4. Pengkoordinasian pelaksanaan anggaran.
5. Pengumpulan data dan informasi untuk keperluan pengawasan kerja, yaitu untuk mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan anggaran.
6. Pengolahan dan penganalisisan data tersebut untuk mengadakan interpretasi dan memperoleh kesimpulan-kesimpulan dalam rangka mengadakan penilaian terhadap kerja yang telah dilaksanakan serta menyusun kebijaksanaan-kebijaksanaan sebagai tindak lanjut dari kesimpulan-kesimpulan tersebut.
Di dalam menyusun suatu anggaran perlu diperhatikan beberapa syarat, yaitu:
1. Realistis, artinya tak terlalu optimis dan tidak pula terlalu pesimis.
2. Luwes, artinya tidak terlalu kaku, mempunyai peluang untuk disesuaikan dengan keadaan yang mungkin berubah.
3. Kontinyu, artinya membutuhkan perhatian secara terus-menerus dan bukan merupakan suatu usaha yang insidentil.
Pada dasarnya yang berwenang dan bertanggung jawab dalam penyusunan anggaran adalah pempinan tertinggi organisasi. Tetapi dalam gereja yang berwenang dan bertanggung jawab dalam penyusunan anggaran adalah panitia yang sudah dibentuk untuk menyusun anggaran.
Menurut Sofyan Syafri (2001:83) ditinjau dari siapa yang menyusun anggaran, maka penyusunan anggaran dapat dilakukan dengan cara:
1. Otoriter atau top down
Pada metode ini, penyusunan dan penetapan anggaran dilakukan oleh pimpinan tertinggi organisasi, dengan sedikit bahkan tanpa keterlibatan bawahan dalam penyusunannya.
2. Demokrasi atau bottom up
Pada metode ini, penyusunan anggaran disiapkan oleh pihak yang melaksanakan anggaran tersebut, kemudian anggaran akan diberikan kepada pihak yang lebih tinggi untuk mendapat persetujuan dan pengesahan.
3. Campuran atau top down dan bottom up
Pada metode ini, penyusunan anggaran dimulai dari pimpinan tertinggi organisasi dan kemudian untuk selanjutnya dilengkapi dan dilanjutkan oleh pihak yang melaksanakan anggaran.
Kebanyakan gereja menggunakan metode campuran atau top down dan bottom up, dengan pertimbangan anggaran yang tersusun nanti merupakan hasil
kesepakatan bersama, sesuai dengan kondisi, fasilitas serta kemampuan masing-masing bagian secara terpadu.
2.5.2.2 Perkiraan Sumber Dana
Sumber dana yang tersedia bagi organisasi nirlaba adalah terbatas. Dana tersebut hanya dapat digunakan untuk tujuan tertentu atau jenis kegiatan tertentu. Dengan adanya keterbatasan tersebut, masalah yang dihadapi organisasi nirlaba adalah bagaimana menggunakan dana tersebut agar sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh pemberi dana dan melaporkan hasilnya sebagai pertanggungjawaban kepada pemberi dana.
Sumber-sumber dana dalam gereja menurut Ruth Selan (1999:43-44) adalah sebagai berikut:
1. Persembahan anggota jemaat a. Persepuluhan
b. Persembahan sukarela 2. Bantuan dari luar gereja
a. Dari pemerintah b. Dari antar Negara c. Dari para dermawan
Sumber keuangan gereja adalah jemaat itu sendiri. Oleh karena itu, anggota jemaat bertanggung jawab untuk kehidupan gerejanya.
2.5.2.3 Pengalokasian Dana
Pengelolaan keuangan sangat terkait erat dengan pengalokasian dana. Pada organisasi nirlaba, pengalokasian dana didasarkan atas tujuan sosial dan politik serta batasan-batasan lain yang ada dan bukan atas dasar tingkat laba yang akan dicapai.
2.5.2.4 Pertanggungjawaban Pemakaian Dana
Pengelolaan keuangan terutama dilakukan untuk mencatat semua penerimaan dan pengeluaran terhadap semua dana yang ada. Pengelolaan yang dilakukan bertujuan untuk dapat menghasilkan suatu pertanggungjawaban secara keseluruhan.
Pertanggungjawaban pemakaian dana dapat berupa laporan keuangan. Menurut Jan Hoesada (2005:3) laporan keuangan tersebut meliputi:
1. Laporan Posisi Keuangan 2. Laporan Aktivitas
3. Laporan Arus Kas
4. Catatan atas Laporan Keuangan
Laporan keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Laporan Posisi Keuangan
Tujuan laporan posisi keuangan adalah untuk menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban dan aktiva bersih dan informasi mengenai hubungan diantara unsur-unsur tersebut pada waktu tertentu. Informasi dalam laporan posisi keuangan yang digunakan bersama pengungkapan dan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditur dan pihak-pihak lain untuk menilai kemampuan organisasi untuk memberikan jasa secara berkelanjutan dan likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi kewajibannya dan kebutuhan pendanaan eksternal.
Informasi tersebut umumnya disajikan dengan pengumpulan aktiva dan kewajiban yang memiliki karakteristik serupa dalam suatu kelompok yang relatif homogen. Sebagai contoh, orang biasanya melaporkan masing-masing unsur aktiva dalam kelompok yang homogen, seperti:
a. Kas dan setara kas
b. Piutang pasien, pelajar, anggota dan penerima jasa lain c. Persediaan
d. Sewa, asuransi dan jasa lainnya yang dibayar dimuka e. Surat berharga dan investasi jangka panjang
f. Tanah, gedung, peralatan serta aktiva tetap lainnya yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa
2. Laporan Aktivitas
Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai: a. Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat
aktiva bersih
c. Bagaimana penggunaan sumber daya dalam pelaksanaan berbagai program atau jasa, informasi dalam laporan aktivitas yang digunakan bersama dengan pengungkapan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditur dan pihak lainnya untuk:
1) Mengevaluasi kinerja dalam suatu periode
2) Menilai upaya, kemampuan dan kesinambungan organisasi dan memberikan jasa
3) Menilai pelaksanaan tanggung jawab dan kinerja manajer
3. Laporan Arus Kas
Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu periode.
a. Aktivitas Pendanaan
1) Penerimaan kas dari penyumbang yang penggunaannya dibatasi untuk jangka panjang
2) Penerimaan kas dari sumbangan dan penghasilan investasi yang penggunaannya dibatasi untuk pemerolehan, pembangunan dan pemeliharaan aktiva tetap atau peningkatan dana abadi (endowment) b. Pengungkapan informasi mengenai aktivitas investasi dan pendanaan non
kas: sumbangan berupa bangunan atau aktiva investasi.
4. Catatan atas Laporan Keuangan
Tujuan utama catatan atas laporan keuangan:
a. Menyediakan informasi yang relevan mengenai cara suatu organisasi memperoleh sumber dana yang diterima oleh suatu organisasi
b. Mengungkapkan informasi mengenai metode penyusutan aktiva dan juga jasa yang dihasilkan oleh suatu organisasi
2.6 Akuntansi Dana bagi Gereja
Setelah menguraikan pengertian masing-masing, dapat disimpulkan bahwa antara akuntansi dana dan pengelolaan keuangan organisasi nirlaba mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan.
Gereja dapat dipandang sebagai salah satu segmen organisasi nirlaba yang sistem akuntansinya mengutamakan pada arus kas masuk dan arus kas keluar. Gereja beroperasi sebagai organisasi yang tidak mencari laba. Aktivitas gereja dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya secara ketat dikendalikan dengan penganggaran yang dibuat gereja. Pembelanjaan yang dianggarkan biasanya disusun oleh gembala sidang atau pendeta. Akan tetapi kadang disusun oleh pegawai yang bekerja untuk dapat mencapai jasa layanan yang dilakukan gereja melalui program-program yang dibuat.
Akuntansi yang digunakan oleh organisasi nirlaba dalam pengelolaan keuangan adalah akuntansi dana, karena akuntansi ini berhubungan dengan pembentukan dana-dana. Penerapan akuntansi dana ini akan menghasilkan laporan keuangan yang dibutuhkan oleh organisasi nirlaba. Sehingga laporan keuangan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan juga mempunyai ketelitian yang tinggi serta sistem yang efektif.
Diterbitkannya laporan keuangan tersebut dapat memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban dan sumber daya bersih serta pengaruh transaksi atau kejadian yang berkaitan dengan sumber daya tersebut juga jasa atau produk yang dihasilkan serta bagaimana pengelolaannya untuk menilai kinerja serta bagaimana organisasi memperoleh sumber daya yang likuid, peminjaman dan pembayarannya dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi likuiditasnya. Dengan demikian diharapkan bahwa pemakai laporan keuangan organisasi nirlaba dapat membuat keputusan yang rasional mengenai pengalokasian sumber daya dan memperkirakan jasa dan kemampuan organisasi dalam menyediakan jasa serta pengelola memberi pertanggungjawaban dengan memperhatikan aspek-aspek kenerja lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkannya akuntansi dana yang memadai dapat menunjang pengelolaan keuangan organisasi nirlaba secara efektif.