Jurnal Education and Economics (JEE) ISSN: 2654-9808 E-ISSN: 2615-448X
UPAYA MENIGKATKAN HASIL BELAJAR MENGANALISIS DATA BERDASARKAN DISTRIBUSI DATA, RATA-RATA, MEDIAN DAN MODUS
UNTUK MENGAMBIL SIMPULAN MELALUI METODE JIGSAW Laminto
SMP Negeri 1 Sukoharjo, Jawa Tengah
Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan melalui metode jigsaw pada siswa kelas VIII G Semester 2 SMP Negeri 1 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2019/2020. Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus setiap siklus terdiri dua kali pertemuan, dengan empat tahap penelitian: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VIII G semester 2 SMP Negeri 1 Sukoharjo tahun ajaran 2019/2020. Dengan jumlah 32 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I siswa yang berhasil mendapat nilai KKM, meningkat dari 16 siswa atau 50% menjadi 22 siswa atau 68,75% atau terdapat peningkatan sebesar 18,75% dibandingkan kondisi awal. Sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 27 siswa yang mendapat nilai diatas KKM atau 84,38% atau terdapat peningkatan sebesar 15,62% dari sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan pada siswa kelas VIII G Semester 2 SMP Negeri 1 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2019/2020.
Kata kunci: hasil belajar, menganalisis data, metode jigsaw
Abstract : This study aims to improve learning outcomes of analyzing data based on data distribution, average, median, and mode for drawing conclusions through the jigsaw method in class VIII G Semester 2 students of SMP Negeri 1 Sukoharjo 2019/2020 Academic Year. The research method uses Classroom Action Research conducted in two cycles each cycle consisting of two meetings, with four stages of research: planning, implementing, observing and reflecting. The subjects of this study were students of class VIII G semester 2 of SMP Negeri 1 Sukoharjo in the 2019/2020 school year. With a total of 32 students. Data collection techniques used were observation, interviews, tests, and documentation. Analysis of the data used in this study is a qualitative descriptive analysis. The results of this study are improving learning outcomes of analyzing data based on data distribution, averages, medians, and modes for drawing conclusions. This is evidenced by the increase in student learning outcomes in the first cycle of students who managed to get a KKM score, increased from 16 students or 50% to 22 students or 68.75% or there was an increase of 18.75% compared to the initial conditions. While in the second cycle increased to 27 students who scored above KKM or 84.38% or there was an increase of 15.62% from the previous. Based on the results of this
study it can be concluded that the application of the jigsaw method can improve learning outcomes of analyzing data based on data distribution, average, median, and mode for drawing conclusions in class VIII G students of Semester 2 SMP Negeri 1 Sukoharjo in 2019/2020 Academic Year.
Keywords: learning outcomes, analyzing data, jigsaw methods PENDAHULUAN
Kata matematika diduga sangat erat hubungannya dengan kata Sansekerta, medha atau widya yang artinya kepandaian, ketahuan atau intelegensia (Sri Subarinah, 2006: 1). Definisi matematika sebagaimana yang dinyatakan James dan James dalam Ruseffendi (1992: 27) bahwa “Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri”. Sedangkan menurut Hariwijaya (2009: 33) matematika secara umum didefinisikan sebagai bidang ilmu yang mempelajari pola dari struktur, perubahan dan ruang. Secara informal dapat pula disebut sebagai ilmu tentang bilangan dan angka.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. Ini berarti bahwa belajar matematika pada hakekatnya adalah belajar konsep, struktur konsep dan mencari hubungan antar konsep dan strukturnya.
Pembelajaran di sekolah terdapat banyak unsur yang saling berkaitan yang menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Salah satu mata pelajaran yang di ajarkan di sekolah adalah Matematika. Metematika merupakan pelajaran yang konsepnya tersusun secara hierarki dari yang mudah atau sederhana meningkat menuju ke yang sulit atau rumit. Dilihat dari keadaan di dalam kelas, masih banyak siswa yang kurang menyenangi pelajaran Metematika. Siswa menganggap pelajaran matematika merupakan hal yang sangat menakutkan, karena tingkat kesukaran yang sulit untuk di tanggulangi oleh siswa. Anggapan bahwa matematika sebagai ilmu yang sukar di kuasai, kurang bermakna, membosankan.
Matematika adalah sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini yang telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannya. Di samping itu matematika juga bisa menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi peserta didik yang terpadu mengikuti ilmu pengetahuan dan teknologi (Mulyadi, 2009:7).
Burhanuddin Salam mengemukakan pendapat beberapa ahli mengenai matematika, di antaranya: Menurut Wittgenstein, matematika tidak lain adalah metode berpikir logis. Menurut Whithead, matematika merupakan pengetahuan yang disusun secara konsisten dengan mempergunakan logika deduktif. Dalil-dalil matematika pada dasarnya adalah pertanyaan logika. Pembuktian dalil-dalil matematika tidak didasarkan atas metode ilmiah yang merupakan kombinasi antara logika deduktif dan induktif, melainkan didasarkan atas logika deduktif. Menurut Immenual Kant, matematika merupakan pengetahuan yang bersifat sintetik apriori yang eksistensinya tergantung kepada dunia pengalaman kita (Burhanudin Salam, 1997).
Tujuan matematika di sekolah adalah sebagai berikut: (1). Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efesien dan tepat, dalam pemecahan masalah, (2). Menggunakan penalaran pada pola sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (3). Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,merancang model matematika,menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang dperoleh, (4).
Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, table, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, (5). Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Pendidikan matematika di sekolah terlebih di tingkat SMP mempunyai peranan yang sangat penting sebab jenjang ini merupakan pondasi yang sangat menentukan dalam membentuk sikap, kepribadian, dan kecerdasan anak. Pentingnya pendidikan matematika di tingkat SMP menuntut guru lebih kreatif dalam proses pembelajaran matematika. Hal ini disebabkan matematika termasuk salah satu mata pelajaran yang tidak digemari sebagian besar siswa.
Rendahnya minat siswa terhadap matematika salah satunya karena para siswa menganggap matematika sebagai sesuatu yang sulit dipahami. Nawangsari (2007, 4) menyatakan bahwa matematika sejak dulu memang dianggap oleh siswa sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan. Karakteristik matematika yang abstrak dan sistematis menjadi salah satu alasan sulitnya siswa mempelajari matematika serta menjadikan kurang berminat dalam mempelajarinya.
Penyelenggaraan pendidikan di sekolah, termasuk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. Hal tersebut diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal. Untuk itu perlu disadari oleh guru bahwa dalam melaksanakan pembelajaran perlu pula diupayakan pembelajaran yang bersifat membangun dan memberikan pengalaman terhadap materi-materi yang diberikan.
Keterbatasan waktu yang tersedia menyebabkan guru mengejar target pencapaian kurikulum memilih jalan yang termudah untuk menginformasikan fakta dan konsep, yaitu melalui model ceramah kemudian latihan soal dan siswa memperhatikan penjelasan guru tanpa melakukan aktivitas sehingga siswa pasif. Guru dalam mengajarkan matematika materi menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan kepada siswa kurang melibatkan siswa secara aktif dalam interaksi belajar mengajar sehingga siswa kurang termotivasi dalam belajar. Guru juga kurang melibatkan lingkungan sebagai media sehingga siswa kurang mengenal lingkungan dan tidak dapat memperoleh pemahaman yang berarti. Disaat proses belajar mengajar berlangsung, guru kurang menggunakan model pembelajaran yang bervariasi sehingga hal tersebut dapat menyebabkan siswa jenuh dan kurang aktif dalam menerima pelajaran dari guru.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh lahir, dkk. Bahwa penggunaan model atau metode pembelajaran yang tepat dapat menjadikan peserta didik atau siswa menjadi lebih mudah dalam menerima dan menangkap materi yang disampaikan oleh guru (Lahir dkk., 2017). Sehingga hasil pembelajaran yang dilaksanakan akan jauh lebih maksimal jika penggunaan metodenya tepat dan sesuai dengan materi yang disampaikan, termasuk guru memahami karakter dan kemampuan dari para siswanya, dalam hal ini mata pelajaran matematika materi menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan akan lebih mudah dipahami oleh siswa.
Penggunaan berbagai macam model atau metode pembelajaran dapat memakan waktu yang lebih lama sementara waktu mengajarnya terbatas. Guru juga jarang sekali menggunakan pendekatan pembelajaran ketika sedang mengajarkan materi menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan. Terkait
belum optimalnya proses pembelajaran menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan di kelas VIII G Semester 2 SMP Negeri 1 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2019/2020, maka peneliti berupaya untuk menerapkan metode jigsaw sebagai salah satu alternatif pembelajaran bermakna yang bermuara pada pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi atau hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan di kelas VIII G Semester 2 SMP Negeri 1 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2019/2020.
Teori yang melandasi pembelajaran cooperative learning jigsaw adalah teori konstruktivitas. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktifisme dalam belajar adalah suatu pendekatan di mana siswa secara individu menemukan dan mentransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi sesuai dengan ketentuan dan merivisinya jika perlu (Soejadi dalam Teti Sobari, 2006). Secara etimologi Jigsaw berasal dari bahasa Inggris yaitu gergaji ukur dan ada juga yang menyebut dengan istilah Fuzzle, yaitu sebuah teka-teki yang menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model Jigsaw, mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (jigsaw), yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Manfaat tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
1. Bagi Siswa
Meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan serta meningkatkan motivasi dan prestasi belajar.
2. Bagi guru
Mengembangkan model pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Bagi Sekolah
Melalui penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan pada siswa kelas VIII G Semester 2 SMP Negeri 1 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2019/2020. KAJIAN TEORI
Hasil Belajar Siswa
Menurut R. Gagne seperti yang dikutip oleh Slameto (2000:78) memberikan dua definisi belajar, yaitu belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi. Menurut Skinner yang dikutip oleh Dimyati dan Mudjiono (2006:93) bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respon yang tercipta melalui proses tingkah laku. M. Sobry Sutikno (2010:35) mengemukakan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa belajar adalah perubahan serta peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang di berbagai bidang yang terjadi akibat interaksi terus menerus dengan lingkungannya.
Hasil belajar siswa menurut W. Winkel (2004:82) adalah keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni prestasi belajar siswa di sekolah yang mewujudkan dalam bentuk angka. Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi
dan keterampilan-keterampilan (Suprijono, 2011:5). Hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam bentuk angka atau skor setelah tes hasil belajar pada setiap akhir pembelajaran (Dimyati dan Mujiono, 2006:24).
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa di sekolah merupakan salah satu ukuran terhadap penguasaan materi pelajaran yang disampaikan. Peran guru dalam menyampaikan materi pelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa penting sekali untuk diketahui, artinya dalam rangka membantu siswa mencapai hasil belajar yang seoptimal mungkin. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor baik yang bersifat mendorong atau menghambat, demikian pula dalam belajar. Faktor yang mempengaruhi prestasi atau hasil belajar siswa yakni faktor dari dalam diri siswa (interen) dan faktor yang datang dari luar (eksteren). Ahmadi (1998:72) mengemukakan untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern) dan faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor ekstern).
a. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang tergolong faktor intern adalah kecerdasan, bakat, minat, dan motivasi. Kecerdasan atau intelegensia adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang diadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensia, intelegensia yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Slameto (2000:56) mengatakan bahwa “Tingkat intelegensia yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensia yang rendah.” Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ngalim Purwanto (1986:28) mengemukakan “bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan- kesanggupan tertentu.”
Menurut Syah Muhibbin (1999:136) “bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada pendidikan dan latihan.” Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada diri seseorang sangatlah ditentukan oleh bakat yang dimilikinya. Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenali beberapa kegiatan atau kecenderungan yang mantap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang tertentu. Siswa yang kurang berminat dalam pelajaran tertentu akan menghambat dalam hasil belajarnya. Menurut Winkel (2004:24) “Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang / hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.” Motivasi adalah dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi dalam belajar adalah faktor penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan kegiatan belajar.Seperti yang dikemukakan oleh Nasution (1995:73) “motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.”
b. Faktor Ekstern
Yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang bersifat dari luar diri siswa, yaitu keadaan keluarga, sekolah dan sekitarnya. Keadaan Keluarga dapat menentukan keberhasilan anak dalam belajar. Adanya rasa aman dan nyaman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang memperoleh belajar. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah pertama kali anak mendapatkan pendidikan dan bimbingan. Faktor Guru, guru sebagai tenaga berpendidikan memiliki tugas menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, membimbing, mengolah, meneliti, dan mengembangkan serta memberikan pelajaran kepada siswa. Keterampilan guru dalam mengajar, keprofesionalan guru dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran sangat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Sumber Belajar, merupakan faktor yang menunjang keberhasilan dalam proses belajar dan mengajar. Sumber belajar yang lengkap dan memadai adalah perangkat yang dapat digunakan siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga hasil belajar dapat meningkat.
Mean (Rata-rata), Median, dan Modus 1. Menentukan Nilai Mean (Rata-Rata)
Berdasarkan data pada masalah dan alternatif penyelesaian, dari interval 59- 63 dapat diartikan bahwa: 59 disebut batas bawah interval, 63 disebut batas atas interval.
Titik tengah interval (xi) diperoleh: xi = 1
2 (batas bawah interval ke-1 + batas atas interval ke-1)
Setiap interval memiliki batas bawah, batas atas dan titik tengah (xi). Dari pada
masalah dan alternatif penyelesaian dapat diperbarui sebagai berikut: Nilai Frekuensi (fi) xi fi.xi 59-63 6 61 366 64-68 10 66 660 69-73 18 71 1278 74-78 13 76 988 79-83 8 81 648 84-88 3 86 258 89-93 2 91 182 60 4380
Perhitungan rata-rata diatas dapat dirumuskan sebagai berikut: Rata-rata:
𝑥̅ =
𝑓1.𝑥1 + 𝑓2.𝑥2 + 𝑓3.𝑥3 +⋯+ 𝑓𝑛.𝑥𝑛𝑓1 + 𝑓2+ 𝑓3+⋯+ 𝑓𝑛
=
∑𝑛𝑖=1𝑓𝑖.𝑥𝑖 ∑𝑛𝑖=1𝑓𝑖
Keterangan: fi = frekuensi kelas ke-i.
xi = nilai tengah kelas ke-i.
Selain cara diatas, ada cara lain untuk menghitung rata-rata yaitu dengan menggunakan rata-rata sementara. Adapun langkah-langkah untuk menentukan rata-rata data dengan menggunakan rata-rata sementara adalah sebagai berikut:
a. Ambil nilai tengah dengan frekuensi sebesar sebagai rataan sementara xs. b. Kurangkan setiap nilai tengah kelas dengan rataan sementara (di = xi – xs). c. Hitung hasil kali fi.di.
d. Hitung rata-rata dengan menggunakan rumus rataan sementara. Jadi, rumus rata-rata dengan rataan sementara adalah:
𝑥̅ = 𝑥𝑠+
∑𝑛𝑖=1𝑓𝑖. 𝑑𝑖 ∑𝑛𝑖=1𝑓𝑖 Keterangan: xs = rata-rata sementara.
di = deviasai atau simpangan terhadap rata-rata.
fi = frekuensi kelas ke-i.
xi = nilai tengah kelas ke-i.
Rata-rata data pada masalah dan alternatif penyelesaian menggunakan rataan sementara adalah sebagai berikut:
Nilai Frekuensi (fi) xi di = xx i - xs s = 71 fi.di 59-63 6 61 -10 -60 64-68 10 66 -5 -50 69-73 18 71 0 0 74-78 13 76 5 65 79-83 8 81 10 80 84-88 3 86 15 45 89-93 2 91 20 40 60 4380
𝑥̅ = 𝑥
𝑠+
∑𝑛𝑖=1𝑓𝑖.𝑑𝑖 ∑𝑛𝑖=1𝑓𝑖𝑥̅ = 71 + 120 60 = 71 + 2 = 73 2. Menentukan Median
Median dari data yang telah diurutkan adalah nilai tengah yang membagi dua bagian yang sama banyaknya. Untuk data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, nilai mediannya dapat ditentukan dengan rumus:
𝑀𝑒 = 𝐿 + 1 2 𝑛 − 𝑓𝑘
𝑓𝑚 . 𝑝
Keterangan: L = tepi bawah kelas median. n = banyak/ukuran data.
fk = frekuensi kumulatif sebelum kelas median.
fm = frekuensi kelas median.
p = panjang kelas interval. 3. Menentukan Nilai Modus
Modus adalah nilai yang sering muncul atau nilai dengan frekuensi terbesar. Sekelompok data tunggal yang telah diurutkan:
20 20 20 30 30 30 30 30 40 40 50 50 50 60 60 70 70
mempunyai modus 30 karena 30 muncul 5 kali, sedangkan yang lain kurang dari 5 kali. Untuk menentukan modus dari data berkelompok, ada beberapa cara pendekatan di antaranya sebagai berikut.
a. Modus kasar, yaitu nilai titik tengah kelas interval yang memiliki frekuensi terbanyak. b. Menggunakan rumus.
𝑀𝑜 = 𝐿 + 𝑑1
𝑑1 + 𝑑2 . 𝑝
Keterangan: L = tepi bawah kelas median.
d1 = selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sebelumnya.
d2 = selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sesudahnya.
p = panjang kelas interval. Model Jigsaw
Model berasal dari Bahasa Yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Fungsi model berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pengetahuan tentang model-model sangat diperlukan oleh para pendidik, karena berhasil tidaknya siswa belajar sangat bergantung kepada tepat tidaknya model mengajar yang yang digunakan oleh guru.
Model mengajar mampu membangkitkan motivasi, minat atau gairah belajar siswa bahkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:740) model adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. Menurut Sudjana dalam Adang Heriawan dkk (2012:73) model mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungannya dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran, peranan model mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model adalah cara yang digunakan oleh seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Dalam hal ini adalah cara-cara yang dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Cooperative Learning adalah salah satu model pembelajaran berbasis teori belajar sosial Robert Bandura yang dipopulerkan oleh Spencer Kagan, Robert Slavin dan Johnson & Johnson. Cooperative Learning adalah model pembelajaran yang menekankan kepada proses kerja sama dalam suatu kelompok yang biasa terdiri dari 3 sampai 5 orang siswa untuk mempelajari suatu materi akademik yang spesifik sampai tuntas. (Adang Heriawan dkk, 2012:109). Menurut Slavin dalam Isjoni (2010 : 12) Cooperative Learning adalah model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. Inti dari pembelajaran kooperatif menurut Robert E.Slavin yang diterjemahkan oleh Narulita Yusron (2010: 8) “Dalam model pembelajaran kooperatif, para siswa akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru.” Menurut Johnson & Johnson dalam Isjoni (2010:17) Cooperataive Learning adalah mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja bersama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa model cooperatif learning adalah salah satu model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama kelompok dalam menyelesaikan materi pembelajaran, memecahkan masalah atau menyelesaikan sebuah tujuan. Ada beberapa model dalam model pembelajaran Cooperative Learning diantaranya adalah: Jigsaw, Student Team Achievement Division (STAD), Team Game Tornament (TGT), Number Head Together (NHT), Group Investigation, Team Assisted Individualization (TAI)
Pembelajaran Kooperatif JIGSAW merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal dengan cara membentuk tim ahli. Dalam model ini terdapat tahap-tahap dalam penyelenggaraannya, yaitu:
1) Pembentukan kelompok siswa yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen. 2) Setiap anggota dalam kelompok ditugaskan untuk mempelajari materi tertentu.
3) Setiap anggota kelompok yang mempelajari materi yang sama bertemu dalam satu kelompok baru membentuk ‘Tim Ahli’. Selanjutnya materi tersebut didiskusikan, dipelajari apabila menemukan masalah dibahas bersama.
4) Setelah masing-masing perwakilan dalam tim ahli tersebut dapat menguasai materi yang ditugaskannya, kemudian masing-masing perwakilan tersebut kembali ke kelompok masing-masing atau kelompok asalnya dan mengajarkan pada temannya.
5) Masing-masing anggota tersebut saling menjelaskan kepada teman satu kelompoknya sehingga teman dalam satu kelompoknya dapat memahami materi yang ditugaskan guru. 6) Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
7) Siswa diberi tes/kuis untuk mengetahui apakah siswa sudah dapat memahami suatu materi atau belum.
Dengan demikian melalui penyelenggaraan model Jigsaw dalam proses belajar mengajar dapat menumbuhkan tanggung jawab siswa sehingga terlibat langsung secara aktif dalam memahami suatu persoalan dan menyelesaikannya secara kelompok. Pada kegiatan ini ini keterlibatan guru dalam belajar mengajar semakin berkurang. dalam arti guru tidak lagi menjadi pusat kegiatan kelas. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan dan memotivasi siswa untuk belajar mandiri serta menumbuhkan rasa tanggung jawab serta siswa akan merasa senang berdiskusi tentang materi pelajaran dalam kelompoknya.
Model Jigsaw sangat cocok untuk mata pelajaran menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan, seperti yang dikemukakan oleh Isjoni (2010:58) model Jigsaw dapat digunakan secara efektif di tiap level dimana siswa telah mendapatkan keterampilan akademis dari pemahaman, membaca maupun keterampilan kelompok untuk belajar bersama.
METODE
Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus setiap siklus terdiri dua kali pertemuan, dengan empat tahap penelitian: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 32 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif.
Tabel 1. Jadwal Penelitian Tindakan Kelas No Kegiatan
Tahun Pelajaran 2019/2020
Januari Februari Maret April
1. Pembuatan Proposal 2. Penyusunan Instrumen 3. Pelaksanaan Siklus I 4. Pelaksanaan Siklus II 5. Analisis Data 6. Penyusunan Laporan
Dari tabel jadwal di atas, dapat diketahui bahwa tahapan kegiatan dalam penelitian ini adalah:
a. Pembuatan dan pengajuan proposal pada bulan Januari 2020. b. Penyusunan instrumen penelitian pada bulan Januari 2020. c. Pelaksanaan siklus I pada bulan Februari 2020.
d. Pelaksanaan siklus II pada bulan Maret 2020. e. Analisis data pada bulan April 2020.
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 32 siswa. Objek penelitian adalah meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan bagi siswa kelas VIII G Semester 2 SMP Negeri 1 Sukoharjo melalui penerapan metode jigsaw.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes tertulis. Metode tes tertulis digunakan untuk mengetahui data hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan melalui metode jigsaw pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo pada siklus I dan siklus II. Selain itu, pengumpulan data juga meliputi: (a) Teknik pengamatan (observasi) yang dilakukan oleh peneliti adalah pengamatan berperan serta secara pasif. Pengamatan tersebut dilakukan terhadap penggunaan media gambar oleh guru dan proses kegiatan diskusi oleh siswa di kelas. Peneliti yang sekaligus sebagai guru mengamati situasi kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. (b) Teknik analisis kritis dilakukan terhadap hasil hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan melalui metode jigsaw pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo.
Untuk menguji validitas data, digunakan teknik (a) Trianggulasi sumber data, misalnya data tentang kesulitan-kesulitan guru dan pembelajaran tidak komunikatif disampaikan kepada siswanya; (b) Trianggulasi metode, misalnya data tentang peningkatan prestasi belajar siswa, selain diperoleh melalui observasi langsung (pengamatan), terhadap sikapnya selama pembelajaran juga didapat dari wawancara dan analisis dokumen berupa pekerjaan siswa. (c) Terakhir, review informan, teknik ini digunakan cek kembali kepada informan, apakah data yang diperoleh dari hasil wawancara sudah valid atau belum.
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini dapat dilihat secara umum dengan membandingkan peningkatan nilai hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan melalui metode jigsaw siswa dari satu siklus ke siklus berikutnya. Keberhasilan tindakan siklus I diketahui dengan cara membandingkan dengan nilai hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan melalui metode jigsaw siswa pada kondisi awal. Sedangkan keberhasilan tindakan pada siklus II diketahui dengan cara membandingkan nilai hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan melalui metode jigsaw dengan siklus I. Sedangkan indikator kerja tindakan dapat dilihat dari kriteria yang telah ditentukan peneliti, sebagai berikut:
a. Adanya peningkatan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan melalui metode jigsaw pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo dari kondisi awal ke siklus I, dan dari siklus I ke siklus II. b. Minimal 80% siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo mencapai nilai KKM yang
ditentukan dalam pelajaran menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan melalui metode jigsaw yaitu 75.
c. Nilai rata-rata hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan melalui metode jigsaw siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo mencapai nilai KKM 75.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Prestasi Belajar Siswa Kondisi Awal
Gambar 1. Grafik Prestasi Belajar Siswa Kondisi Awal
60
80
70
Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata
Kondisi Awal
Dari data nilai hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan pada kondisi awal di atas, nilai rata-rata siswa kelas VIII G adalah 70, masih di bawah nilai KKM yang ditetapkan yaitu 75. Nilai tertinggi siswa 80, nilai terendah 60 dan jumlah siswa kelas VIII G yang mencapai nilai KKM hanya 16 siswa (50%) dari total 32 siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo. Melihat kondisi rendahnya hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo tersebut, maka peneliti sebagai guru di kelas VIII G akan melaksanakan suatu penelitian tindakan kelas melalui penerapan metode jigsaw.
Hasil Pembelajaran Siklus I
Gambar 2. Grafik Prestasi Belajar Siswa Siklus I
60
90
75
Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata
Siklus I
Pada siklus I guru peneliti sudah menerapkan metode jigsaw dalam pembelajaran menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan. Nilai rata-rata hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo adalah 75, nilai tertinggi 90 dan nilai terendah adalah 60. Sedangkan jumlah siswa yang mencapai nilai KKM sebanyak 20 siswa (64,52%) dari total 32 siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo. Dengan capaian hasil belajar pada siklus I yang belum mencapai indikator kinerja yang ditetapkan dalam penelitian ini, yaitu siswa yang tuntas belum mencapai 80% dari total seluruh siswa kelas VIII G, maka peneliti memutuskan untuk melanjutkan pada tindakan siklus II dengan tetap menerapkan metode jigsaw.
Hasil Pembelajaran Siklus II
Gambar 3. Grafik Prestasi Belajar Siswa Siklus II
70
90
85
Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata
Siklus II
Pada siklus II peneliti menerapkan metode pembelajaran metode jigsaw. Nilai rata-rata hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo adalah 85, nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 70. Jumlah siswa yang mencapai nilai KKM sebanyak 27 siswa (84,38%) dari total 32 siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo. Peningkatan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan pada siklus II ini sudah mencapai indikator kinerja penelitian. Sehingga peneliti memutuskan untuk menghentikan penelitian tindakan kelas ini.
Pembahasan
Setelah peneliti melaksanakan tindakan penelitian melalui penerapan metode jigsaw, secara empiris diperoleh data peningkatan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020 dari kondisi awal, siklus I dan siklus II sebagai berikut.
Tabel 2. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa
Uraian Kondisi awal Siklus I Siklus II
Tindakan Pembelajaran Belum menerapkan metode jigsaw Sudah menerapkan metode jigsaw Sudah menerapkan metode jigsaw Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata KKM Ketuntasan 60 80 70 75 16 siswa (50%) 60 90 75 75 22 siswa (68,75%) 70 90 85 75 27 siswa (84,38%) Melalui penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan. Pada kondisi awal peneliti belum metode jigsaw. Nilai rata-rata siswa kelas VIII G adalah 70, masih di bawah nilai KKM yang ditetapkan yaitu 75. Nilai tertinggi siswa 80, nilai terendah 60 dan jumlah siswa kelas VIII G yang mencapai nilai KKM hanya 16 siswa (50%) dari total 32 siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo.
Pada siklus I guru peneliti sudah menerapkan metode jigsaw dalam pembelajaran menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan. Nilai rata-rata hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo adalah 75, nilai tertinggi 90 dan nilai terendah adalah 60. Sedangkan jumlah siswa yang mencapai nilai KKM sebanyak 22 siswa (68,75%) dari total 32 siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo.
Pada siklus II, nilai rata-rata hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo adalah 85, nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 70. Jumlah siswa yang mencapai nilai KKM sebanyak 27 siswa (84,38%) dari total 32 siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo.
Jadi, melalui penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan dari kondisi awal nilai rata-rata 70 dengan ketuntasan 50% ke kondisi akhir pada siklus II nilai rata-rata 85 dengan ketuntasan 84,38% pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020.
Hasil tindakan secara empirik yaitu: melalui penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan dari kondisi awal nilai rata-rata 70 dengan ketuntasan 50% ke kondisi akhir pada siklus II nilai rata-rata 85 dengan ketuntasan 84,38% pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020.
SIMPULAN
Hipotesis menyatakan diduga melalui penerapan metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan bagi siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020. Dari data empirik menyatakan melalui penerapan metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan dari kondisi awal nilai rata-rata 70 dengan ketuntasan 50% ke kondisi akhir pada siklus II nilai rata-rata 85 dengan ketuntasan 84,38% bagi siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar menganalisis data berdasarkan distribusi data, rata-rata, median, dan modus untuk mengambil simpulan bagi siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Sukoharjo Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi. 1998. Psikologo Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Burhanudin Salam. 1997. Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan. (Jakarta: Rineka Cipta. Darmanto. 2018. Peningkatan Hasil Belajar Mendiskripsikan Sistem Pemerintah Indonesia
dan Peran Lembaga Negara melalui Metode Jigsaw. Jurnal Education and Economics. Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Handayani. 2008. Efektifitas penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dan pembelajaran kooperatif (cooperative Learning) tipe jigsaw untuk meningkatkan aktivitas belajar, hasil belajar dan respon belajar siswa pada mata perlajaran ekonomi di. Efektifitas penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dan pembelajaran kooperatif (cooperative Learning) tipe jigsaw untuk meningkatkan aktivitas belajar.
Heriawan, Adang dkk. 2012. Metodologi Pembelajaran Kajian Teoritis Praktis
Hariwijaya (2009). Meningkatkan Kecerdasan Matematika. Yogyakarta: Tugu Publiser Hertiavi, dkk. 2010. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk peningkatan
kemampuan pemecahan masalah siswa SMP. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. Isjoni. 2010. Cooperative Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta Kamus Besar Bahasa Indonesia 2008
Lahir, S., Ma’ruf, M. H., & Tho’in, M. (2017). Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Model Pembelajaran Yang Tepat Pada Sekolah Dasar Sampai Perguruan Tinggi. Jurnal Ilmiah Edunomika, 1(01).
M. Sobry Sutikno. 2010. Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Refika Aditama: Bandung.
Muhibbin, Syah.1999. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung:PT Remaja Rosdakarya
Mulyadi. 2009. Peningkatan Hasil Diklat Guru SD Pemandu Mata Pelajaran Matematika melalui Pemanfaatan Alat Peraga Sederhana bagi Guru SD Kelas Tinggi pada Diklat di LPMP Jawa Tengah.Vol 2,No 8.
Nasution. 1995. Metode Research. Jakarta : PT. Bumi Aksara
Nawangsari. 2007. Rendahnya Minat Siswa Terhadap Matematika. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar edisi 2, 2007.
Ngalim Purwanto. 1986. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Ruseffendi (1992), Pendidikan Matematika 3, Jakarta : Depdikbud.
Slameto. 2000. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Rineka Cipta, Jakarta Sri Subarinah. (2006). Inovasi Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Depdiknas.
Teti Sobari. 2006. Pembelajaran Kooperatif. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Winkel. 2004. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.