DI PAVILIUN AL FARISI RUMAH SAKIT ISLAM SUKAPURA JAKARTA UTARA
Disusun Oleh : PUTRI PULI ROSTIANA
2015750034
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
iii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada An.N Dengan Gangguan Sistem Pencernaan: Demam Typhoid di Paviliun Al Farizi Rumah Sakit Islam JakartaSukapura Jakarta Utara”. Shalawat serta salam juga tidak lupa penulis sampaikan selalu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam seorang ploklamator Islam yang telah membawa umat dari kegelapan manusia kepada jalan yang terang yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Tujuan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan pendidikan Diploma III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Meski banyak hambatan yang dialami selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, tetapi diyakini bahwa segala yang diawali dengan baik akan berakhir dengan baik pula. Namun berkat adanya bimbingan, pengarahan dan bantuan serta pengalaman dari berbagai pihak, juga ilmu pengetahuan yang penulis dapatkan selama mengikuti perkuliahan di Program Studi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, maka penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Dalam kesempatan ini juga perkenankan penulis untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini, terutama kepada :
1. Bapak Dr. Muhammad Hadi, SKM. M.Kep selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
2. Ibu Ns. Titin Sutini, M. Kep., Sp.Kep.An selaku Ka. Prodi D III Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta dan pembimbing dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
iv
3. Ibu Ns. Medya Aprilia Astuti, S.Kep., selaku pembimbing klinik penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
4. Ibu Nur’aenah, M.Kep selaku wali Akademik tingkat III Angkata 33 Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
5. Kepala Ruangan dan Staff Perawat di Paviliun Al Farizi Rumah Sakit IslamJakartaSukapura Jakarta Utara.
6. Seluruh Staff Pendidikan Program Studi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
7. Untuk Orang Tua Tercinta, kakak dan adik terima kasih atas do’a, perhatian, kesabaran, serta kasih sayang dan pengorbanannya baik secara moril maupun materi yang selama ini diberikan kepada penulis.
8. Teman-teman vokasi angkatan XXXIII yang selalu menjaga kekompakan, keceriaan selama 3 tahun ini, terima kasih telah memberikan warna kehidupan yang tidak akan pernah terlupakan, sukses terus untuk kita semua.
9. Untuk semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dan semangatnya kepada penulis yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari betul kekurangan dan kelemahan dalam penyajian Karya Tulis Ilmiah ini. Hal ini terjadi karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki, namun demikian besar harapan penulis agar hal yang kecil ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu keperawatan, khususnya dilingkungan Universitas Muhammadiyah Jakarta dan masyarakat pada umumnya.
Wassalamu’alaikum.Wr.Wb.
Jakarta, 21 Mei 2018
v DAFTAR ISI Hal LEMBARPERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN KATAPENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang... B. Tujuan penulisan... 1. Tujuan umum... 2. Tujuan Khusus... C. Ruang lingkup... D. Metode penulisan... E. Sistematika penulisan ……….. 1 3 3 3 4 4 5 BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep kebutuhan dasar manusia... B. Konsep dasar demam typhoid ...
1. Pengertian... 2. Etiologi... 3. Patofisiologi... 4. Manifeatasi klinis... 5. Komplikasi... 6. Penatalaksanaan... 7. Pemeriksaan penunjang... C. Konsep tumbuh kembang anak... D. Konsep dampak hospitalisasi... E. Konsep asuhan keperawatan... 1. Pengkajian keperawatan... 2. Diagnosa keperawatan... 3. Perencanaan keperawatan... 4. Penatalaksanaan keperawatan... 5. Evaluasi keperawatan... 7 10 10 11 11 13 13 15 16 17 19 21 21 24 25 28 29 BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian keperawatan... B. Diagnosa keperawatan... C. Perencanaankeperawatan... D. Penatalaksanaan keperawatan... E. Evaluasi keperawatan... 36 24 37 40 57 BAB IV PEMBAHASAN A.Pengkajian keperawatan... B. Diagnosa keperawatan... C.Perencanaan keperawatan... D.Penatalaksanaan keperawatan... E. Evaluasi keperawatan... 62 64 66 67 68
vi BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... B. Saran... 70 71 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP FORMAT PENGKAJIAN SAP
1 A. Latar belakang
Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhi atau salmonella paratyphi A, B, dan C. Penularan demam typhoid melalui fecal dan oral yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Widoyono, 2011). Penyakit ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah, serta akan mati pada pemanasan 57ᴼC selama beberapa menit (Ranuh, 2013).
Berdasarkan data kesehatan dunia yang didapat dari World Health Organization (WHO) tahun 2015, demam typhoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan jumlah kasus sebanyak 22 juta pertahun di dunia dan menyebabkan kematian. Di Indonesia dilaporkan bahwa penderita demam typhoid sebanyak 81.7/100.000 penduduk, pada usia 0-1 tahun tidak ditemukan anak dengan demam typhoid, pada usia 2-4 tahun 148,7/100.000 penduduk, pada usia 5-15 tahun 180,3/100.000 penduduk dan pada usia lebih dari 16 tahun sebesar 51,2/100.000 penduduk, angka ini menunjukan bahwa penderita demam typhoid terbanyak adalah pada kelompok usia 5-15 tahun. Menurut catatan Medical Record Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura khususnya di Paviliun Alfarisi selama satu tahun 4 bulan terakhir, terhitung dari bulan Januari–Desember 2017 didapatkan data bahwa anak yang menderita demam typhoid sebanyak (6,8%) kasus dari 2.422 anak yang pernah dirawat, dengan uraian sebagai berikut: 0-1 tahun sebanyak (11,7%) anak, usia 1-3 tahun (21,5%)anak, usia 4-6 tahun sebanyak (26,1%) anak dan usia 7-12 anak sebanyak (40,5%) anak. Sedangkan untuk bulan Januari– April 2018 didapatkan data bahwa sebanyak (16,9%) kasus dari 473 anak yang pernah dirawat, dengan uraian sebagai berikut : 0-1 (13,7%) anak,
usia 1-3 tahun sebanyak (20%) anak, usia 4-6 tahun sebanyak (27,5%)anak dan usia 7-12 tahun sebanyak (38,7%) anak. Maka dari itu penanganan demam typhoid pada anak harus dioptimalkan untuk mencegah terjadinya peningkatan angka kejadian anak dengan demam typhoid.
Pada umumnya anak yang menderita demam typhoid mengalami masalah pemenuhan kebutuhan dasar seperti defisit volume cairan, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan resiko terjadinya infeksi berulang, jika masalah tersebut tidak ditangani secara adekuat akan menimbulkan komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus. Komplikasi tersebut dapat dilihat apabila suhu badan dan tekanan darah mendadak turun dan kecepatan nadi meningkat. Perforasi dapat ditunjukkan lokasinya dengan jelas, yaitu didaerah perut kanan disertai dengan nyeri perut, muntah-muntah dan adanya gejala peritonitis yang dapat berlanjut menjadi sepsis. Komplikasi ini ditemukan sekitar 10% pada anak-anak (Ranuh, 2013, hal 184).
Sehubung dengan hal tersebut peran perawat sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif yang meliputi bio, psiko, sosio, kultural dan spiritual yang diberikan oleh seorang perawat yang profesional untuk membantu klien mencapai kondisi kesehatan yang optimal. Upaya yang diberikan untuk mengurangi jumlah penderita demam typhoid peran perawat mencakup upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Upaya promotif dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan kesehatan atau penjelasan tentang penyakit terkait kepada pasien dan keluarga. Sedangkan upaya preventif merupakan upaya untuk pencegahan agar tidak terjadi demam typhoid yaitu dengan cara mengajarkan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan serta menghindari makanan yang tidak sehat serta menjaga lingkungan rumah. Sedangkan dalam upaya kuratif yaitu dengan memberikan pengobatan pada klien. Upaya rehabilitatif merupakan upaya
yang dilakukan untuk mempercepat penyembuhan melalui istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang sehat.
Mengingat banyaknya angka kejadian demam typhoid pada anak maka penulis tertarik untuk mengaplikasikan teori dan konsep yang telah didapatkan selama perkuliahan tentang Asuhan Keperawatan dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar pada Anak dengan Gangguan Sistem Pencernaan: Demam Typhoid, oleh sebab itu penulis mengambil judul Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar pada Anak dengan Gangguan Sistem Pencernaan: Demam Typhoid di Paviliun Al Farisi Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura”.
B. Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan umum
Setelah melakukkan asuhan keperawatan selama 3 hari diharapkan penulis mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata dalam memberikan Pemenuhan Kebutuhan Dasar pada Anak dengan Gangguan Sistem Pencernaan: Demam Typhoid melalui proses pendekatan keperawatan tanpa mengabaikan dampak hospitalisasi.
2. Tujuan khusus
a. Mampu melakukan pengkajian dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan gangguan sistem pencernaan: demam typhoid. b. Mampu menentukan masalah keperawatan dalam pemenuhan
kebutuhan dasar pada anak dengan gangguan sistem pencernaan: demam typhoid.
c. Mampu merumuskan rencana tindakan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan gangguan sistem pencernaan: demam typhoid.
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan gangguan sistem pencernaan: demam typhoid.
e. Mampu melakukan evaluasi dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan gangguan sistem pencernaan: demam typhoid. f. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori
dan kasus.
g. Mampu mengidentifikasi faktor-faktor pendukung, penghambat serta dapat mencari solusi.
C. Lingkup masalah
Mengingat banyaknya masalah ganggaun sistem pencernaan yang terjadi pada anak, maka penulis membatasi pembahasan hanya pada satu masalah yaitu Asuhan Keperawatan dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar pada Anak dengan Ganggaun Sistem Pencernaan: Demam Typhoid di Paviliun Al Farisi selama 3 hari, dimulai dari tanggal 27-29 April 2018.
D. Metode penulisan
Metode penulisan yang di gunakan dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode yang dipelajari, menganalisa, dan menarik kesimpulan dari hasil pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan dan membandingkan dengan studi kepustakaan.
Adapun data diperoleh dengan menggunakan teknik: 1. Studi Kepustakaan
Suatu kegiatan untuk memperoleh data dengan cara mempelajari buku-buku dan literatur yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan demam typhoid.
2. Studi Kasus
a. Wawancara: wawancara dan diskusi dengan klien, keluarga, perawat, dokter dan petugas kesehatan lain yang terkait.
b. Observasi: observasi kasus melalui partisipasi aktif terhadap klien yang bersangkutan mengenai penyakit, pengobatan dan keperawatan serta hasil dari tindakan yang dilakukan.
E. Sistemastika penulisan
karya tulis ilmiah ini disusun secara sistematis yang terdiri dari 5 bab yaitu:
Bab 1 : Pendahuluan
Meliputi latar belakang, tujuan penulisan, lingkup masalah, metode penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II : Tinjauan Teoritis
A. Konsep kebutuhan dasar.
B. Konsep dasar terdiri dari: definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, dan penatalaksanaan.
C. Konsep tumbuh kembang anak. D. Konsep hospitalisasi.
E. Konsep asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan sistem pencernaan: demam typhoid melalui pendekatan proses keperawatan meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, penatalaksanaan keperawatan, dan evaluasi keperawatan.
Bab III : Tinjauan Kasus
Merupakan hasil asuhan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan gangguan sistem pencernaan: demam typhoid yang meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, penatalaksanaan keperawatan, dan evaluasi keperawatan.
Bab IV : Pembahasan
Membahas kesenjangan yang terjadi antara Bab II dan Bab III yang meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, penatalaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
Bab V : Penutup
A.Kesimpulan
Berisi uraian singkat mengenai Asuhan Keperawatan dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar pada Anak dengan Gangguan Sistem Pencernaan: Demam Typhoid mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, penatalaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
B. Saran
Berisi tentang usulan-usulan mengenai hal-hal yang harus diperbaiki dalam melaksanaan asuhan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan gangguan sistem pencernaan: demam typhoid serta meningkatkan mutu dalam pelayanan kesehatan.
7
7 BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Pada bab ini penulis menguraikan mengenai konsep dasar kebutuhan manusia dan konsep dasar yang berhubungan dengan asuhan keperawatan pada anak dengan demam thypoid. Adapun uraian tersebut sebagai berikut:
A. Konsep kebutuhan dasar manusia
Menurut Hidayat & Musrifatul (2014), kebutuhan manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Kebutuhan menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta, harga diri, dan aktualisasi diri. Seorang psikolog dari Amerika yaitu Abraham Maslow yang mengembangkan teori tentang kebutuhan dasar manusia yang lebih dikenal dengan istilah Hierarki Kebutuhan Dasar Manusia Maslow: Hierarki tersebut meliputi lima kategori kebutuhan dasar, sebagai berikut: 1. Kebutuhan fisiologis
Merupakan kebutuhan paling dasar dalam Hierarki Maslow. Umumnya, seorang yang memiliki beberapa kebutuhan yang belum terpenuhi akan lebih dulu memenuhi kebutuhan fisiologisnya dibandingkan kebutuhan yang lain. Sebagai contoh, orang yang kekurangan makan, keselamatan, dan cinta biasanya akan berusaha memenuhi kebutuhan akan makan sebelum memenuhi kebutuhan akan cinta. Kebutuhan fisiologis merupakan hal yang mutlak dipenuhi manusia untuk bertahan hidup. Manusia memiliki delapan macam kebutuhan, yaitu:
a. Kebutuhan oksigen dan pertukaran gas b. Kebutuhan cairan dan elektrolit
c. Kebutuhan makanan
d. Kebutuhan istirahat dan tidur e. Kebutuhan aktivitas
f. Kebutuhan kesehatan temperatur tubuh g. Kebutuhan seksual
2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan, yang dimaksud adalah aman dari berbagai aspek, baik fisiologis, maupun psikologis. Kebutuhan ini meliputi:
a. Perlindungan fisik meliputi perlindungan atas ancaman terhadap tubuh dan hidup. Ancaman tersebut berupa penyakit, kecelakaan, bahaya dari lingkungan, dan sebagainya.
b. Perlindungan psikologis, yaitu perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang baru dan asing. Misalnya, kekhawatiran yang dialami seseorang ketika masuk sekolah pertama kali karena merasa terancam oleh keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain, dan sebagainya.
3. Kebutuhan rasa cinta serta rasa memiliki dan dimiliki. a. Memberi dan menerima kasih sayang
b. Mendapatkan kehangatan keluarga c. Memiliki sahabat
d. Diterima oleh kelompok sosial, dan sebagainya
4. Kebutuhan akan harga diri ataupun perasaan dihargai oleh orang lain. a. Keinginan untuk mendapatkan kekuatan
b. Meraih prestasi c. Rasa percaya diri d. Kemerdekaan diri
e. Orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain
5. Kebutuhan aktualisasi diri merupakan kebutuhan tertinggi dalam Hierarki Maslow. Kebutuhan ini meliputi:
a. Dapat mengenal diri sendiri dengan baik (mengenal dan memahami diri sendiri)
b. Belajar memenuhi kebutuhan diri sendiri c. Tidak emosional
d. Mempunyai dedikasi yang tinggi e. Kreatif
f. Mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan sebagainya
Adapun gangguan kebutuhan dasar pada anak dengan demam typhoid mencakup:
1. Gangguan kebutuhan fisiologis
Masalah yang terjadi pada gangguan kebutuhan fisiologis diantaranya: a. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan
Pada umumnya anak mengalami peningkatan suhu tubuh sebagai salah satu manifestasi adanya proses infeksi kuman salmonella typhosa. Meningkatnya metabolisme tubuh dan kehilangan cairan karena meningkatnya Insensibel Water Loss (IWL) juga merupakan penyebab dari gangguan pemenuhan kebutuhan cairan. Gangguan kebutuhan cairan juga dapat terjadi sebagai akibat diare dan muntah pada anak yang mengalami demam typhoid, yang biasanya terjadi pada minggu pertama timbulnya panas. Hal ini karena proliperasi pada sistem pencernaan yang dimanifestasikan dengan diare, maka gangguan pemenuhan kebutuhan cairan dapat terjadi.
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi juga biasanya menyertai anak yang mengalami demam typhoid, hal ini karena terjadi infeksi dan proses inplamasi pada saluran pencernaan oleh kuman salmonella typhosa terutama pada usus halus yang berfungsi untuk mengabsorbsi makanan secara adekuat. Selain itu sering muncul manifestasi lidah kotor atau putih yang menyebabkan nafsu makan menurun, maka gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi dapat terjadi.
c. Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Pada umunya anak dengan demam typhoid mengalami takut pada orang asing dan prosedur tindakan, hal ini terjadi pada setiap anak
yang dirawat di rumah sakit dan akan menyebabkan gangguan kebutuhan rasa aman dan nyaman. Orang tua akan mengalami kecemasan, yang termasuk dalam kebutuhan keselamatan dan keamanan. Hal ini terjadi pada orang tua karena kurangnya informasi tentang penyakit anak tersebut dan kurangnya pengetahuan pada orang tua.
B. Konsep dasar demam typhoid 1. Definisi
Demam typhoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan kuman salmonella typhi yang menyerang pencernaan, terutama di perut dan usus. Demam typhoid sendiri merupakan penyakit infeksi akut yang sering ditemukan dimasyarakat Indonesia. Penderita juga beragam mulai dari usia balita, anak-anak, dan dewasa (Suratun & Lusianah 2010, hal 225).
Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhi atau salmonella paratyphi A, B, dan C. Penularan demam typhoid melalui fecal dan oral yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Widoyono, 2011).
Tifus abdominalis atau demam typhoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran (Ngastiyah, 2012).
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa penyakit demam typhoid adalah infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella typhi yang menyerang pencernaan melalui fecal dan oral mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa dengan gejala demam satu minggu.
2. Etiologi
Menurut Ranuh (2013), penyakit ini disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Salmonela adalah bakteri gram negatif, tidak berkapsul, mempunyai flagela dan tidak membentuk spora. Bakteri ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah, serta akan mati pada pemanasan 57ᴼC selama beberapa menit. Sampai saat ini, diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia.
3. Patofisiologi
Kuman masuk melalui mulut, sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus, kejaringan limfoid dan berkembang biak menyerang usus halus kemudian kuman masuk keperedaran darah (bakterimia primer), dan mencapai sel-sel retikuloendoteleal, hati, limpa dan organ-organ lainnya.
Proses ini terjadi dalam masa tunas dan berakhir saat sel-sel retikuloendoteleal melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk kebeberapa jaringan organ tubuh, terutama limpa, usus dan kandung empedu.
Pada minggu pertama sakit, terjadi peningkatan jumlah sel dalam tubuh, ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus. Minggu ke dua terjadi kematian sel dan minggu ke tiga terjadi luka terbuka yang sulit sembuh. Pada minggu ke empat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan penonjolan kulit akibat penggantian jaringan normal. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan, bahkan sampai bocornya isi usus ke dalam abdomen. Selain itu hepar, kelenjar getah bening dan limpa membesar. Gejala demam disebabkan oleh endotoksil, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus halus (Suriadi, 2010).
Pathway demam typhoid
(Suriadi, 2010) Salmonella Typhosa
Saluran Pencernaan
Diserap oleh usus halus
Bakteri masuk aliran darah sistemik
hepatomegali Endotoksin kelenjar limfoid usus halus splenomegali Perdarahan dan perforasi Tukak Hati Mual/tidak nafsu makan Limpa Nyeri perabaan Perubahan nutrisi Demam
4. Manifestasi klinik
Menurut Ngastiyah (2012), manifestasi yang muncul pada anak dengan demam typhoid, yaitu:
a. Demam yang tidak terlalu tinggi dan berlangsung selama 3 minggu, minggu pertama peningkatan suhu tubuh berfluktuasi. Biasanya suhu meningkat pada malam hari dan menurun pada siang hari. Pada minggu kedua suhu tubuh terus meningkat, dan pada minggu ketiga suhu berangsur-angsur turun dan kembali normal pada akhir minggu ketiga. b. Gangguan pada saluran cerna: bau nafas yang tidak sedap, bibir kering
dan pecah-pecah, lidah ditutupi selaput putih kotor, kembung, mual dan tidak napsu makan, pembesaran ukuran hati yang disertai nyeri perabaan.
c. Gangguan kesadaran: penurunan kesadaran (apatis, somnolen). d. Relaps: terjadi pada minggu kedua setelah suhu badan normal.
5. Komplikasi
Menurut Rampengan (2008) komplikasi yang mungkin muncul pada demam typhoid yaitu:
a. Perdarahan usus
Perdarahan usus yang terjadi pada penderita demam typhoid biasanya terjadi pada awal minggu ke-3. Angka kejadian berbeda-beda berkisar antara 0,8-8,6%. diagnosis yang dapat di tegakkan dengan penurunan tekanan darah, denyut nadi bertambah cepat dan kecil, kulit pucat, penurunan suhu tubuh, serta mengeluh nyeri perut.
b. Perforasi usus
Komplikasi ini sering terjadi pada minggu ke-3 serta angka kejadian bervariasi, yaitu antara 0,4-2,5%. Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya tanda dan gejala yang sering didapatkan, penderita mendadak tampak kesakitan didaerah perut, perut kembung, tekanan darah menurun, suara bising usus melemah, dan pekak hati berkurang.
c. Bronkitis
Bronkitis terjadi pada akhir minggu pertama dari perjalanan penyakit pada kasus yang berat dapat terjadi bronkopneumonia.
d. Kolesistitis
Kolesistitis adalah peradangan yang terjadi pada kandung empedu. Kolesistitis jarang terjadi pada anak, bila terjadi umumnya pada akhir minggu ke-2 dengan gejala klinis yang tidak khas. Angka kejadian pada anak berkisar antara 0,2%. Bila terjadi kolesistitis, penderita cenderung menjadi seorang karier.
e. Meningitis
Meningitis disebabkan oleh salmonella typhosa yang lebih sering didapatkan pada neonatus ataupun bayi dibandingkan pada anak, dengan gejala klinis sering tidak jelas sehingga diagnosis sering terlambat.
f. Karier kronik
Typhoid karier adalah seseorang yang tidak menunjukkan gejala penyakit demam typhoid, tetapi mengandung kuman salmonella typhosa didalam tinjanya. Mengingat karier sangat penting dalam hal penularan yang tersembunyi, penemuan kasus sedini mungkin serta pengobatannya sangat penting dalam hal menurunkan angka kematian. Pengobatan karier merupakan masalah yang sulit, kadang-kadang dengan pemberian obat-obatan antimikroba didapatkan kegagalan karena salmonella typhosa bersarang dalam saluran empedu intrahepatik sehingga diperlukan pengobatan kombinasi obat-obatan dan operasi.
6. Penatalaksanaan
Menurut Widoyono (2011). Penderita yang dirawat dengan diagnosis observasi demam typhoid harus dianggap dan diperlukan langsung sebagai demam typhoid dan diberikan pengobatan memakai prinsip trilogi penatalaksanaan demam typhoid, yaitu:
a. Pemberian antibiotik
Terapi ini dimaksudkan untuk membunuh kuman penyebab demam typhoid. Obat yang sering digunakan adalah:
1) Kloramfenikol 100 mg/kg berat badan/hari/4 kali dalam 14 hari. 2) Amoksilin 100 mg/kg berat badan /hari/4 kali.
3) Kotrimoksazol 480mg, 2 x 2 tablet selama 14 hari.
4) Sefalosporin generasi II dan III (ciprofloxacin 2 x 500 mg selama hari, ofloxacin 600 mg/hari selama 7 hari, ceftriaxon 4 gram/hari selama 3 hari).
b. Istirahat dan perawatan
Langkah ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Penderita sebaiknya beristirahat total di tempat tidur selama 1 minggu setelah bebas dari demam. Mobilisasi dilakukan secara bertahap, sesuai dengan keadaan penderita. Mengingat mekanisme penularan penyakit ini, kebersihan perorangan perlu dijaga karena ketidakberdayaan pasien untuk buang air besar dan buang air kecil.
c. Terapi penunjang secara simptomatis dan suportif serta diet
Agar tidak memperberat kerja usus, pada tahap awal penderita diberi makanan berupa bubur saring. Selanjutnya penderita dapat diberi makanan yang lebih padat dan akhirnya nasi biasa, sesuai dengan kemampuan dan kondisinya. Pemberian kadar gizi dan mineral perlu dipertimbangkan agar dapat menunjang agar dapat menunjang kesembuhan penderita.
7. Pemeriksaan penunjang
Dikutip dari buku NANDA (2015), pemeriksaan penunjang pada anak dengan demam typhoid, yaitu:
a. Pemeriksaan darah perifer lengkap
Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal. Leukositosis dapat terjadi walaupun disertai infeksi sekunder.
b. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus.
c. Pemeriksaan uji widal
Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Slmonella typhi. Uji widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita demam typhoid. Akibat adanya infeksi oleh salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin).
d. Kultur
Kultur darah : bisa positif pada minggu pertama Kultur urin : bisa positif pada akhir minggu kedua
Kultur feses : bisa positif dari minggu kedua hingga minggu ketiga
e. Anti salmonella typhi
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi secara dini infeksi akut salmonella typhi, karena muncul pada hari ke-3 dan 4 terjadinya demam.
C. Konsep tumbuh kembang anak
Menurut Hidayat & Musrifatul (2014) konsep tumbuh kembang sebagai berikut:
Pertumbuhan (growth) merupakan peningkatan jumlah dan besar sel diseluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri dan mensintesis protein-protein baru, menghasilkan penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau sebagian. Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur-ansur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh, meningkat dan meluasnya kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, kematangan, atau kedewasaan, dan pembelajaran.
Menurut Cahyaningsih dan Dwi Suliastyo (2011), perkembangan pada anak usia sekolah sebagai berikut:
1. Pertumbuhan biologis
Saat usia 6-12 tahun, pertumbuhan serta 5 cm pertahun untuk tinggi badan dan meningkat 2-3 kg pertahun untuk berat badan. Selama usia tersebut anak laki perempuan memiliki perbedaan ukuran tubuh. Anak laki-laki cenderung kurus dan tinggi, sedangkan anak perempuan cenderung gemuk. Pada usia ini, pembentukan jaringan lemak lebih cepat perkembangannya dari otot.
2. Perkembangan psikososial
Masa kanak-kanak pertengahan adalah periode perkembangan psikoseksual yang dideskripsikan oleh Freud sebagai periode laten, yaitu waktu tenang antara fase odipus pada masa kanak-kanak awal dan erotsme masa remaja. Selama waktu ini, anak-anak membina hubungan dengan teman sebaya sesama jenis setelah pengabaian pada tahun-tahun sebelumnya dan didahului ketertarikan pada lawan jenis yang menyertai pubertas. Anak-anak usia sekolah ingin sekali mengembangkan keterampilan dan berpartisipasi dalam pekerjaan berarti dan berguna secara sosial.
3. Perkembangan kognitif
Ketika anak memasuki usia sekolah, mereka mulai memperoleh kemampuan untuk menghubungkan serangkaian kejadian untuk menggambarkan mental anak yang dapat diungkapkan secara verbal ataupun simbolik. Tahapan ini diistilahkan sebagai oprasional konkret, ketika anak mampu mengungkapkan proses berfikir untuk mengalami peristiwa dan tindakan. Pemikiran egosentris yang kaku pada tahun-tahun prasekolah digantikan dengan proses berfikir yang memungkinkan anak melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.
4. Perkembangan moral
Pada saat pola pikir anak mulai berubah dari egosentrisme kepola pikir lebih logis, mereka juga bergerak melalui tahap perkembangan kesadaran diri dan standar moral. Walaupun anak usia 6-8 tahun mengetahui peraturan dan perilaku yang diharapkan dari mereka, mereka tidak memahami alasannya. Penguatan dan hukuman mengarahkan penilaian mereka suatu “tindakan yang buruk” adalah yang melanggar peraturan dan membahayakan. Oleh karena itu anak usia 6-8 tahun kemungkinan mengintreprestasikan kecelakaan dan ketidak beruntungan sebagai hukuman atau akibat tindakan “buruk” yang dilakukan anak.
5. Perkembangan spiritual
Anak-anak usia dini berfikir dalam batasan konkrit tetapi merupakan pelajaran yang baik. Mereka tertarik dengan konsep surga dan neraka dan dengan perkembangan kesadaran diri dan perhatian terhadap peraturan, anak takut akan masuk neraka karena kesalahan dalam berperilaku. Oleh karena itu konsep agama harus dijelaskan kepada anak dalam istilah yang konkrit. Mereka merasa nyaman dengan berdoa atau melakukan ritual agama dan jika aktivitas ini merupakan bagian dari kegiatan sehari-hari anak, hai ini membantu anak dalam melakukan koping dalam menghadapi situasi sehari-hari.
6. Perkembangan sosial
Salah satu agen sosial penting dalam kehidupan anak usia sekolah kelompok teman sebaya. Selain orang tua dan sekolah, kelompok teman sebaya memberi sejumlah hal yang penting kepada anggotanya. Melalui hubungan teman sebaya, anak belajar bagaimana menghadapi kombinasi dan permusuhan berhubungan dengan pemimpin dan kekuasaan serta menggali ide-ide dari lingkungan fisik. Walaupun kelompok sebaya berpengaruh dan penting untuk perkembangan anak secara normal, orang tua merupakan pengaruh utama dalam membentuk kepribadian anak, membuat standar perilaku dan menetapkan sistem nilai.
D. Konsep dampak hospitalisasi
Konsep hospitalisasi menurut Rekawati Susilaningrum (2013).
Sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis yang utama tampak pada anak. Anak yang dirawat di rumah sakit mudah mengalami krisis diakibatkan: 1. Anak mengalami perubahan, baik terhadap status kesehatan maupun
lingkungan dari kebiasaan sehari-hari.
2. Anak mempunyai sejumlah keterbatasan dalam mekanisme koping untuk mengatasi masalah kejadian-kejadian yang bersifat menekan.
Reaksi anak dalam mengatasi krisis tersebut dipengaruhi oleh tingkat perkembangan usia, pengalaman sebelumnya terhadap sakit dan dirawat, sistem pendukung yang tersedia, serta keterampilan koping dalam menangani stress.
Adapun dampak hospitalisasi pada anak usia sekolah menurut Wong, Donna I (2008).
Anak usia sekolah tidak begitu khawatir terhadap nyeri jika dibandingkan dengan disabilitas, pemulihan yang tidak pasti, atau kemungkinan kematian. Anak yang menderita penyakit kronis lebih cenderung mengidentifikasi prosedur intrusif sebagai hal yang menderita penyakit akut cenderung mengidentifikasinya dengan gejala fisik. Anak perempuan
cenderung mengekspresikan ketakutan yang lebih banyak dan lebih kuat dibandingkan dengan anak laki-laki, dan hospitalisasi sebelumnya tidak berdampak pada frekuensi ketakutan tersebut, karena kemampuan kognitif mereka sedang berkembang. Anak usia sekolah waspada terhadap pentingnya berbaga penyakit yang berbeda. Kemungkinan bahaya pengobatan, konsekuensi seumur hidup akibat cedera permanen atau kehilangan fungsi tubuh, dan makna kematian. Pencarian informasi cenderung menjadi salah satu cara koping atau mempertahankan rasa kendali walau stress dan kondisinya yang tidak pasti.
Anak usia sekolah mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap kemungkinan efek menguntungkan dan merugikan suatu prosedur. Selain ingin tahu apakah prosedur tersebut akan menyakitkan atau tidak, mereka juga ingin tahu untuk apa prosedur itu, bagaimana prosedur tersebut dapat membuat mereka lebih baik, dan cedera atau bahaya yang mungkin terjadi. Pada usia 9 atau 10 tahun, sebaian besar anak usia sekolah menunjukan ketakutan yang lebih sedikit atau resistensi yang lebih terbuka terhadap nyeri dibandingkan anak-anak yang lebih kecil. Secara umum mereka telah mempelajari metode koping untuk menghadapi rasa tidak nyaman, seperti berpegangan dengan erat, mengepalkan tangan atau mengatupkan gigi, atau mencoba bertindak berani dengan “meringis”. Jika anak menunjukan tanda-tanda resisten yang terbuka, seperti menggigit, menendang, menarik, mencoba melarikan diri, menangis atau tawar-menawar, mereka akan menyangkal reaksi tersebut, terutama dihadapan teman-teman sebayanya karena merasa malu.
Anak usia sekolah juga menggunakan kata-kata untuk mengendalikan reaksi mereka terhadap nyeri. Misalnya, anak memilih berpartisipasi dalam prosedur, sedangkan yang lainnyamemilih menjauhkan diri dengan tidak melihat pada apa yang sedang terjadi. Sebagian besar menghargai penjelasan prosedur yang diberikan dan tampak tidak begitu takut jika mereka mengetahui apa yang akan terjadi.
E. Konsep asuhan keperawatan pada anak dengan demam typhoid 1. Pengkajian keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Semua data dikumpulkan secara sistematis guna menentukan status kesehatan klien saat ini. Pengkajian harus dilakukan secara komprehensif terkait dengan aspek biologis, fisikologis, sosial maupun spiritual klien. Tujuan pengkajian adalah untuk mengumpulkan informasi dan membuat data dasar klien. Pengkajian dilakukan saat klien masuk instansi layanan kesehatan. Data yang diperoleh sangat berguna untuk menentukan tahap selanjutnya dalam proses keperawatan. Kegiatan yang utama dalam tahap pengkajian adalah pengumpulan data, pengelompokan data, dan analisa datauntuk merumuskan diagnosa keperawatan. Metode utama yang dapat digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik serta diagnostik (Asmadi, 2008).
a. Pengumpulan data 1) Identitas
Nama, tempat/tanggal lahir, umur, jenis kelamin, nomor medrek, tanggal masuk, tanggal pengkajian, ruangan dan diagnosa medis. 2) Biodata orang tua
Nama ayah, ibu, umur, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, agama, alamat, hubungan dengan anak (kandung atau adopsi).
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan masa lalu
Keluhan utama yang biasa terjadi pada anak demam typhoid yaitu terjadinya demam atau peningkatan suhu tubuh terjadi pada hari ke 3 minggu pertama, suhu berangsur angsur naik setiap hari pada pagi hari dan meningkat pada sore hari dan malam hari, nafsu makan menurun, bibir kering dan pecah pecah, ujung lidah kotor dan tepinya kemerahan, pada minggu kedua anak terus dalam keadaan demam, pada minggu ketiga suhu berangsur angsur turun dan normal kembali.
2) Riwayat kesehatan sekarang
a) Riwayat penyakit yang pernah diderita yang berkaitan dengan penyakit sekarang atau pernah kontak dengan penyakit demam typhoid sebelumnya.
b) Riwayat pemberian imunisasi: kelengkapan anak terhadap penyakit imunisasi yang diberikan pada usia 0 sampai 14 bulan. 3) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat kesehatan keluarga kemungkinan didapati salah satu anggota keluarga yang pernah menderita demam typhoid yang dapat menularkan atau sebagai carier melalui feses atau urine dan makanan yang terkontaminasi oleh tangan penderita sehingga secara tidak langsung keluarga dapat terinfeksi.
4) Riwayat imunisasi
Kelengkapan anak terhadap penyakit imunisasi diberikan pada usia 0 14 bulan dengan macam macam iminusasi yaitu: hepatitis, BCG, BPT 1,2,3, polio dan campak.
c. Kebutuhan dasar 1) Kebutuhan nutrisi
Anak penderita dema typhoid biasanya mengalami gangguan pada nutrisi karena adanya rasa mual, muntah, dan tidak nafsu makan sehingga menyebabkan menurunnya berat badan.
2) Kebutuhan eliminasi
Kebutuhan eliminasi pada penderita demam typhoid mengalami gangguan dalam pola eliminasi defekasi. Pada minggu kedua akan terjadi konstipasi.
3) Kebutuhan istirahat dan tidur
Kebutuhan istirahat dan tidur pada minggu pertama, penderita demam typhoid cenderung mengalami susah tidur terutama pada malam hari berhubungan adanya peningkatan suhu tubuh yang terjadi pada sore hari dan malam hari.
4) Kebutuhan aktivitas
Kebutuhan aktivitas penderita dema typhoid akan terganggu dikarenakan pada anak dengan demam typhoid akut harus mengalami istirahat total.
5) Kebutuhan hygine
Kebutuhan hygine pada anak dengan demam typhoid umumnya mengalami kelemahan dan harus istirahat total maka dalam hal ini kebutuhan personal hygine memerlukan bantuan.
d. Pemeriksaan fisik 1) Inspeksi
Dilihat apakah pada penderita demam typhoid terjadinya muntah, diare, demam, tidak nafsu makan, lidah yang khas (lidah putih kotor pada pertengahan lidah dan ujung yang hiperemisis) dan suhu tubuh yang meningkat.
2) Palpasi
Diraba apakah kulit teraba halus dan lembab, pada bagian abdomen kembung dan terasa tegang, nyeri perut pada bagian kanan atas. 3) Auskultasi
Frekuensi usus dapat melemah atau meningkat. 4) Perkusi
Kadang ditemukan adanya distensi abdomen.
e. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan darah perifer lengkap
Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leuksitosis atau kadar leukosit normal. Eukstosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder.
2) Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus.
3) Pemeriksaan uji widal
Uji widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Slmonella typhi. Uji widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita demam typhoid. Akibat adanya infeksi oleh salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin).
4) Kultur
Kultur darah: bisa positif pada minggu pertama Kultur urin: bisa positif pada akhir minggu kedua
Kultur feses: bisa positif dari minggu kedua hingga minggu ketiga 5) Anti salmonella typhi
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi secara dini infeksi akut salmonella typhi, karena muncul pada hari ke-3 dan 4 terjadinya demam (NIC-NOC, 2015).
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang dibuat oleh perawat profesional yang memberi gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien, baik aktual maupun potensial, yang ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi dan hasil pengkajian. Pernyataan diagnosis keperawatan harus jelas, singkat dan lugas terkait masalah kesehatan klien berikut penyebabnya yang dapat diatasi melalui tindakan keperawatan. Diagnosa keperawatan berfungsi untuk mengidentifikasi, memfokuskan, dan memecahkan masalah klien secara spesifik. Komponen-komponen dalam pernyataan diagnosis keperawatan meliputi masalah (problem), penyebab (etiologi), dan data (sign and symptom) (Asmadi, 2008).
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada anak dengan demam typhoid menurut Suriadi (2010) adalah sebagai berikut:
a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan, mual dan kembung.
c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan, dan peningkatan suhu tubuh.
d. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan kesadaran e. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan istirahat total.
3. Perencanaan keperawatan
Perencanaan adalah proses keperawatan yang penuh pertimbangan, sistematis, mencakup pembuatan keputusan dan penyelesaian masalah. Dalam perencanaan perawat merujuk pada data pengkajian klien dan pernyataan diagnosis sebagai petunjuk dalammerumuskan tujuan klien dan merencanakan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan masalah kesehatan klien. Intervensi keperawatan adalah setiap tindakan berdasarkan penilaian klinis dan pengetahuan yang perawat lakukan untuk meningkatkan hasil pada klien (Kozier, Erb, Bermain, & Snyder, 2010).
Tiga komponen umum yang harus ada dalam sebuah rencana asuhan keperawatan adalah sebagai berikut. Diagnosa keperawatan atau masalah yang diprioritaskan, kriteria hasil yaitu apa hasil yang diharapkan dan kapan ingin mengetahui hasil yang diharapkan tersebut, intervensi yaitu apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan atau kriteria hasil.
Adapun intervensi yang dilakukan setiap keperawatan pada anak dengan demam typhoid menurut Suriadi (2010) adalah sebagai berikut:
a. Diagnosa I: hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan:
Mempertahankan suhu dalam batas normal. Kriteria hasil:
Intervensi:
1) Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipertermi 2) Observasi suhu, nadi, tekanan darah dan pernafasan 3) Berikan kompres air biasa
4) Beri minum yang cukup
5) Pakaikan baju yang tipis dan menyerap keringat 6) Pemberian obat antipireksia
7) Pemberian cairan parenteral (IV) yang adekuat
b. Diagnosa II: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan, mual dan kembung. Tujuan:
Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan. Kriteria hasil:
Kebutuhan nutrisi pada klien dapat terpenuhi. Intervensi:
1) Menilai status nutrisi anak
2) Ijinkan anak untuk memakai makanan yang dapat ditoleransi anak 3) Rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera anak
meningkat
4) Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
5) Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tapi sering
6) Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, dan dengan teknik porsi kecil tapi sering
7) Mempertahankan kebersihan mulut anak
8) Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan
9) Kolaborasikan untuk pemberian makanan melalui perentral ika pemberian makanan melalui oral tidak memenuhi kebutuhan gizi anak
c. Diagnosa III: Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan peningkatan suhu tubuh. Tujuan:
Kebutuhan cairan klien dapat terpenuhi Kriteria hasil:
Mencegah kurangnya volume cairan Intervensi:
1) Mengobservasi tanda-tanda vital (suhu tubuh) paling sedikit setiap empat jam
2) Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan: turgor kulit tidak elastis, ubun-ubun cair produksi urine minimal, membran mukosa kering, bibir pecah-pecah
3) Mengobservasi dan mencatat intake dan output dan mempertahankan intake dan output yang adekuat
4) Monitor dan mencatat berat badan pada waktu yang sama dan skala yang sama
5) Monitor kehilangan cairan yang tidak terlihat dengan memberikan kompres dingin atau dengan terapi sponge
6) Memberikan antibiotik sesuai program
d. Diagnosa IV: Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan kesadaran.
Tujuan:
Mempertahankan fungsi persepsi sensori Kriteria hasil:
Klien tidak menunjukan tanda-tanda penurunan kesadaran yang lebih lanjut
Intervensi:
1) Kaji status neurologis
2) Istirahatkan anak hingga suhu dan tanda-tanda vital stabil 3) Hindari aktivitas berlebihan
e. Diagnosa V: Kurang pengetahuan diri berhubungan dengan istirahat total.
Tujuan:
Kebutuhan perawatan diri terpenuhi Kriteria hasil:
Klien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tingkat kembang anak
Intervensi:
1) Mengkaji aktivitas yang dapat dilakukan anak sesuai dengan tugas perkembangan anak
2) Menjelaskan kepada anak dan keluarga aktivitas yang dapat dan tidak dapat dilakukan hingga demam berangsur-angsur turun
3) Membantu memenuhi kebutuhan dasar anak
4) Melibatkan peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar anak
4. Penatalaksanaan keperawatan
Implementasi adalah fase ketika perawat mengimplementasikan intervensi keperawatan. Implementasi terdiri atas melakukan dan mendokumentasikan tindakan yang merupakan tindakan perawatan khusus yang diperlukan untuk melaksanakan intervensi. Perawat melakukan tindakan untuk intervensi yang disusun dalam tahap perencanaan dan kemudian mengakhiri tahap implementasi dengan mencatat tindakan keperawatan dan respon klien terhadap tindakan tersebut (Kozier, Erb, Bermain, & Snyder 2010).
Tujuan dari implementasi adalah:
a. Membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan b. Mencakup peningkatan kesehatan
c. Mencakup pencegahan penyakit d. Mencakup pemulihan kesehatan e. Memfasilitasi koping klien
Adapun prinsi-prinsip implementasi pada tiap-tiap diagnosa sebagai berikut: a. Mencegah terjadinya peningkatan suhu tubuh
b. Mempertahankan status nutrisi
c. Mempertahankan suatu dehidrasi anak d. Mempertahankan fungsi persepsi sensori e. Membantu kebutuhan perawatan diri anak
5. Evaluasi keperawatan
Menurut Asmadi (2008). Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi dilakukan adalah untuk melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan, menentukan apakah tujuan keperawatan telah mencapai atau belum, mengkaji penyebab bila tujuan asuhan keperawatan belum tercapai. Evaluasi dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
a. Evaluasi formatif (proses)
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah perawat mengimplementasikan rencana keperawatan untuk menilai keefektifan tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Perumusan evaluasi formatif ini meliputi empat komponen yang dikenal dengan istilah SOAP, yaitu subyektif (data berupa keluhan pasien), obyektif (data hasil pemeriksaan), analisa data (perbandingan data dengan teori), dan perencanaan.
b. Evaluasi Sumatif (akhir)
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah semua aktivitas proses keperawatan dilakukan, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam tujuan untuk dapat menilai bahwa tujuan itu tercapai.
Masalah sebagian tercapai atau belum tercapai dapat dibuktiakan dari hasil perilaku klien. Ada tiga hasil evaluasi yang terkait dengan pencapaian tujuan yaitu:
1) Tujuan tercapai
Masalah tercapai apabila klien menunjukkan perubahan sesuai dengan waktu dan tanggal yang telah ditentukan sesuai dengan pernyataan tujuan.
2) Tujuan tercapai sebagian
Masalah tercapai sebagian apabila klien menunjukan perubahan pada sebagian yang sesuai dengan pernyataan tujuan yang telah ditentukan.
3) Tujuan tidak tecapai
Masalah tidak tercapai apabila klien hanya menunjukan sedikit perubahan dan tidak ada kemajuan sama sekali yang diharapkan atau tidak sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Adapun evaluasi pada anak dengan demam typhoid adalah sebagai berikut:
a) Suhu dalam batas normal b) Status nutrisi adekuat
c) Defisit cairan dalam batas normal d) Perubahan persepsi sensori tidak terjadi e) Kebutuhan perawatan diri terpenuhi
32
Pada bab ini penulis akan mengutarakan kasus tentang asuhan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada An.N dengan gangguan sistem pencernaan: demam typhoid di ruang anak paviliun Al Farisi Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura. Dalam memberikan asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, penyusunan rencana tindakan, penatalaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
A. Pengkajian keperawatan 1. Data dasar (terlampir) 2. Resume kasus
An.N laki-laki berusia 8 tahun 8 bulan datang dibawa oleh orang tuanya ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura pada tanggal 25 April 2018 pukul 11.00 WIB, dengan keluhan demam naik turun sejak 3 hari yang lalu, mual muntah 1 kali sekitar ½ gelas berisi air, tidak nafsu makan, lemas, pusing. Dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil: pemeriksaan laboratorium tanggal 25 April 2018 dengan hasil Hemoglobin 12.0 g/dl, Leukosit 8.60 103/µL, Anti Salmonella IgM (Tubek TF) 6.0 positif. Pukul 17.00 Klien dianjurkan untuk dirawat di Paviliun Al Farisi untuk mendapatkan perawatan selanjutnya.
Di Paviliun Al Farisi dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan data: keadaan umum sakit sedang, kesadaran composmentis, nadi: 100 x/menit, suhu: 380C, RR: 22 x/menit, berat badan 23 kg, tinggi badan 120 cm, LILA 18 cm, konjungtiva ananemis, kelopak mata tidak cekung, mukosa bibir kering, cubitan dinding abdomen kembali segera < 3 detik, kapilary refil kembali < 2 detik, akral teraba hangat. Masalah keperawatan yang muncul adalah resiko defisit volume cairan. Intervensi yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah: mengobservasi TTV, memonitor status hidrasi, menganjurkan kepada keluarga agar anak banyak minum, memonitor kepatenan infus, memberikan terapi oral proris/ibuprofen 1 sdm
3x sehari, isoprinosin ¾ sdm, vitamin elkana 1 sdm 2x sehari dan terapi injeksi ceftriaxone 1x1,5gr jam 13, paracetamol drip 250mg 3x sehari
3. Data fokus
Pengkajian dilakukan pada tanggal 27 April 2018 jam 20.00 WIB, didapatkan hasil pengkajian sebagai berikut:
a. Data subyektif Ibu klien mengatakan
1) “Demam masih naik turun”
2) “Anaknya muntah 1 kali sekitar ½ gelas berisi air”
3) “An.N mengatakan tidak nafsu makan karena mulutnya terasa pahit”
4) “Anaknya makan habis 4-5 sendok makan”
5) “Anaknya malas minum, minum hanya menghabiskan 3 gelas” 6) “Sebelum sakit berat badan 28 kg”
7) “BAK 4-5 kali sehari dengan warna kuning jernih” 8) “BAB 1 kali/hari, lembek warna kuning kecoklatan”
9) “Anak tidak mudah berinteraksi dengan orang asing karena pemalu” 10)“An.N mengatakan sering jajan sembarangan disekitar rumah, jika
makan tidak cuci tangan dulu”
11)“Tidak mengerti tentang penyakit yang diderita anaknya”
b. Data obyektif
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan data: 1) Keadaan umum sakit sedang
2) Kesadaran composmentis
3) Nadi: 100 x/menit, suhu: 380C, RR: 22x/menit 4) Berat badan: 23 kg, Tinggi badan 120 cm 5) LILA: 18 cm
6) Rambut: Hitam berkilau, bersih, tidak rontok
8) Mulut: Mukosa bibir kering, lidah tampak bersih, mukosa mulut tidak ada stomatitis
9) Abdomen: Cubitan dinding abdomen kembali segera < 2 detik dan tidak kembung
10)Akral terasa hangat, kapilary refil < 3 detik
11)Klien tampak tidak nafsu makan, terdapat sisa makanan ½ porsi, diit nasi rendah serat dan TKTP
12) Klien tampak kurus dan tampak lemas
13) Klien tampak malu berinteraksi dengan perawat, saat ditanya klien hanya menjawab singkat
14) Ibu klien tampak cemas
15) Ibu klien tampak kurang mengetahui tentang penyakit yang diderita anaknya
16) Status nutrisi Berat Badan Ideal:
2n+8 = 2 x 8,8 + 8 = 25.6 kg Status nutrisi:
25.6 - 23 : 25.6 x 100% = 10% 17) Kebutuhan cairan dan kalori
An.N usia 8 tahun 8 bulan, berat badan 23 kg - 10 x 100 = 1000
- 10 x 50 = 500 - 3 x 50 = 60 +
Jumlah 1560 cc
18) Intake dan output dalam 24 jam Intake:
Minum 3 x 200 = 600 cc AM 6 x 23 = 138 cc Infus 14 x 3 x 24 = 1008 cc + Jumlah = 1746 cc
Output: BAB 1 x 200 cc = 200 cc BAK 5 x 50 = 250 cc IWL (30-8) x 23 = 506 cc Muntah 100 cc = 100 cc Kenaikan suhu (380C-36.80C) x 12% x 1560 cc = 224.6 cc + Jumlah = 1280.6 cc
Balance cairan: intake – output = 1746 – 1280.6 = + 465.4 cc 19) Data penunjang
Hasil laboratorium tanggal 27 April 2018: a) Hemoglobin : 11,6 g/dl
b) Leukosit : 2,55 103/µL c) Tubek TF 6.0 positif
20) Penatalaksanaan
a) Terapi infus : RL 14 tetes per menit b) Terapi oral
Proris/ibuprofen :1 sdm 3x1 (jam 18, 02, 10) Isoprinosin : ¾ sdm 3x1 (jam 08, 14, 20) Vit elkana : 2x1 sdm (jam 06, 18) c) Terapi injeksi
Ceftriaxone : 1x1,5 gr (jam 13)
Paracetamol drip : 250 mg 3x1 (jam 06, 14, 22)
4. Analisa data
No Data Masalah Etiologi
1 Subjektif
Ibu An.N mengatakan demam masih naik turun, anaknya muntah 1x sekitar ½ gelas berisi air, anaknya malas minum hanya menghabiskan 3 gelas, BAK 4-5 kali sehari warnanya
Resiko defisit volume cairan
Peningkatan suhu tubuh
No Data Masalah Etiologi
kuning jernih.
Objektif
Keadaan umum sakit sedang, kesadaran composmentis, anak tampak lemas, suhu 380C, nadi 100 x/menit, RR 22 x/menit, kelopak mata tidak cekung, konjungtiva ananemis, mukosa bibir kering, kapilary refil <3 detik, akral hangat, cubitan dinding abdomen kembali segera < 2 detik, Tubek TF 6.0, leukosit 8.60 103/µL
2 Subjektif
Ibu An.N mengatakan makan hanya habis 4-5 sendok makan, berat badan sebelum sakit 28 kg. An.N mengatakan tidak nafsu makan karena mulutnya terasa pahit.
Objektif
A. A. BB saat sakit 23 kg, TB 120 cm, LILA 15 cm,
Penurunan berat badan 5 kg status nutrisi 10%
B. BBI 25.6 kg, An.N
tampak Kurus. C. HB : 12.0 g/dl
D. Rambut hitam berkilau, tidak rontok, konjungtiva ananemis, cubitan dinding abdomen kembali segera < 3 detik. E. Makanan yang tersisa hanya ¼
porsi, An.N di rumah biasanya makan habis 1 porsi.
Resiko perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Intake yang tidak adekuat
3 Subjektif
Ibu An.N mengatakan anak tidak mudah berinteraksi dengan orang asing
Subjektif
Klien tampak pendiam, saat ditanya klien hanya menjawab singkat, An.N tampak menolak setiap perawat melakukan tindakan
Takut pada anak Dampak hospitalisasi: prosedur tindakan dan takut pada orang asing)
No Data Masalah Etiologi
4 Subjektif
Orang tua An.N mengatakan tidak mengerti tentang penyakit yang diderita anaknya, tidak mengerti cara mencegahan
demam typhoid. An.N
mengatakan Sering jajan sembarangan disekitar rumah, jika makan tidak cuci tangan dulu.
Objektif
Orang tua An.N tampak tidak menegtahui tentang penyakit yang diderita anaknya, ibu klien tampak cemas dengan kondisi anaknya
Resiko penyakit berulang
Kurang pengetahuan orang tua tentang pencegahan penyakit demam typhoid
B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan dapat membantu untuk mengklarifikasi intervensi keperawatan yang akan dilakukan dalam rangka mencapai hasil akhir. Setelah melakukan pengkajian selanjutnya penulis merumuskan diagnosa keperawatan pada An.N dengan demam typhoid sebagai beriku:
1. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh 2. Resiko perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat
3. Takut pada anak berhubungan dengan dampak hospitalisasi: (prosedur tindakan dan takut pada orang asing)
4. Resiko penyakit berulang berhubungan dengan kurang pengetahuan orang tua tentang pencegahan penyakit demam typhoid
C. Perencanaan keperawatan
Perencanaan keperawatan setelah diagnosa keperawatan, tahap berikutnya adalah perencanaan. Perencanaan adalah suatu tindakan profesional perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien. Perencanaan meliputi prioritas masalah yang sedang dihadapi klien dan keluarganya. Dari masalah keperawatan yang ada, maka rencana keperawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. DX. 1 : Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada An.N selama 3x24 jam diharapkan defisit volume cairan tidak terjadi
Kriteria Hasil :
a. Tanda-tanda vital dalam batas normal (suhu 36oC-37,5oC, nadi 80-140 x/menit, RR 20 x/menit)
b. Status hidrasi baik (kelopak mata tidak cekung, mukosa bibir lembab, turgor kulit elastis, akral hangat)
c. Intake dan output seimbang d. Anak tidak lemas
e. Nilai laboratorium leukosit normal 4.23-9.07% Rencana Tindakan :
a. Observasi tanda-tanda vital klien
b. Kaji status hidrasi klien (kelopak mata, mukosa bibir, turgor kulit, akral) c. Monitor intake dan output selama 24 jam
d. Monitor kepatenan tetesan infus (RL 14 tetes/menit)
e. Libatkan orang tua untuk memberikan kompres air hangat bila suhu anak masih tinggi
f. Libatkan keluarga agar klien minum banyak kurang lebih 400cc/hari g. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi oral:
1) Proris/ibuprofen : 3x1 sdm (jam 18, 02, 10) 2) Isoprinosin : 3x¾ sdm (jam 08, 14, 20)
Pemberian terapi injeksi:
1) Ceftriaxone : 1x1,5 gr (jam 13)
2) Paracetamol drip : 250 mg 3x1 (jam 06, 14, 22) h. Pantau hasil laboratorium leukosit
2. DX 2 : Resiko perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
Tujuan : setelah dilakukan tindakankeperawatan kepada An.N selama 3x24 jam diharapkan resiko perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi
Kriteria Hasil :
a. Nafsu makan meningkat b. Tidak ada mual dan muntah c. Konjungtiva ananemis
d. Dapat menghabiskan 1 porsi makanan yang disajikan e. Nilai laboratorium Hb normal 13.7-17.5 g/dl
Rencana Tindakan : a. Kaji status nutrisi
b. Catat intake nutrisi klien per shift
c. Timbang berat badan klien (bila memungkinkan) d. Pantau adanya mual dan muntah
e. Berikan makanan rendah serat dan TKTP sesuai dengan program f. Berikan terapi oral vitamin elkana 1 sdm 2x1 (jam 06, 18)
g. Anjurkan kepada keluarga untuk mendampingi dan memotivasi anak saat makan
h. Anjurkan orang tua untuk memberikan makanan dengan porsi sedikit tapi sering
3. DX 3 : Takut pada anak berhubungan dengan dampak hospitalisasi: (prosedur tindakan dan takut pada orang asing)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada An.N selama 3x24 jam diharapkan dampak hospitalisasi pada anak dapat teratasi
Kriteria Hasil :
a. Anak mau berkomunikasi dengan perawat
b. Anak kooperatif saat dilakukan prosedur tindakan c. Merasa nyaman saat hospitalisasi
Rencana Tindakan :
a. Bina hubungan saling percaya antara anak dengan perawat b. Lakukan kunjungan singkat tapi sering
c. Panggil nama anak dan beri sentuhan
d. Alihkan perhatian anak saat melakukan prosedur tindakan
e. Anjurkan orang tua untuk selalu dampingi anak saat melakukan prosedur tindakan
f. Libatkan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit
4. DX 4 : Resiko penyakit berulang berhubungan dengan kurang pengetahuan orang tua tentang pencegahan penyakit demam typhoid
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada An.N selama 3x24 jam diharapkan orang tua mampu mengetahui pencegahan demam typhoid.
Kriteria Hasil :
a. Keluarga klien mampu mengetahui tentang penyakit demam typhoid b. Keluarga klien mampu mengetahui cara pencegahan penyakit demam
typhoid berulang
c. Kecemasan pada orang tua berkurang, ekspresi wajah rileks dan tenang Rencana tindakan :
a. Kaji tingkat pendidikan klien b. Kaji tingkat pengetahuan keluarga
c. Berikan edukasi dan penyuluhan kesehatan tentang penyakit demam typhoid kepada keluarga dan orang tua
d. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya tentang hal yang tidak dimengerti
e. Anjurkan orang tua dan keluarga agar membiasakan untuk mencuci tangan sebelum makan dan setelah BAB
D. Penatalaksanaan keperawatan
Dalam rangka memberikan asuhan keperawatan pada An.N dengan demam typhoid serta rencana yang sudah dibuat oleh penulis, penulis melakukan implementasi selama 3 hari masa perawatan mulai dari tanggal 27 April -29 April 2018.
Hari/tanggal Jam No Dx Tindakan dan respon Paraf
Jumat, 27 April 2018 12.00 12.30 12.35 12.35 1 1 2 2
Memberikan obat paracetamol drip 250 mg kepada An.N
DS: - DO:
-Obat paracetamol drip sudah diberikan sesuai dosis 250 mg
Memantau TTV DS:
- Ibu klien mengatakan An.N demam masih naik turun
DO:
- Nadi: 102 x/menit - Suhu: 37,6 C - RR: 21 x/menit
Memonitor intake dan output DS:
-Ibu klien mengatakan An.N minumhabis 2 gelas
- An.N mengatakan dari pagi belum BAB dan BAK sudah 2 kali
DO:
- - BAK 400, AM 138, infus 300 Memonitor intake nutrisi DS:
-Ibu klien mengatakan An.N makan habis ½ porsi
DO:
- - Makan tampak tersisa ½ porsi
TIM
TIM
TIM
Hari/tanggal Jam No Dx Tindakan dan respon Paraf 13.00 14.00 16.00 16.00 17.00 17.00 1 1 1 1 2 2
Memberikan antibiotik ceftriaxone 1,2 gr kepada An.N
DS: - DO:
-Obat ceftriaxone telah diberikan sesuai dengan dosis 1,5 gr, tidak ada tanda-tanda alergi seperti kemerahan dan gatal-gatal.
Memberikan obat oral isoprinosin ¾ sdm kepada An.N
DS: - DO:
-Obat telah diberikan sesuai dosis ¾ sdm
Mengganti cairan infus RL 14 tetes/menit
DS: - DO:
-Cairan RL 14 tetes/ menit sudah diganti
Memonitor kepatenan tetesan infus RL 14 tetes permenit
DS: - DO:
-Tetesan infus lancar 14 tetes/menit, area pemasangan infus tidak bengkak Memberikan makanan diit rendah serat TKTP
DS:
-Ibu klien mengatakan An.N makan sudah habis ½ porsi
- DO:
-Makan sudah diberikan kepada An.N Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan porsi sedikit tapi sering
DS:
-Ibu klien mengatakan anak mau makan sedikit-sedikit tapi sering DO:
-Ibu klien tampak mengerti dan mau memberikan makanan sedikit-sedikit tapi sering TIM TIM TIM TIM TIM TIM
Hari/tanggal Jam No Dx Tindakan dan respon Paraf 17.30 17.35 17.35 18.00 18.00 20.00 1 2 2 2 1 3 Memantau TTV DS:
-Ibu klien mengatakan An.N sudah mulai demam lagi
DO:
-Nadi : 90 x/menit -Suhu : 37,5 C -RR : 20 x/menit
Memonitor intake dan output DS:
-Ibu klien mengatakan An.N minum habis 1 gelas
-An.N mengatakan dari pagi belum BAB dan BAK sudah 1 kali
DO:
-Infus 400cc, urine 200, minum 200 Memonitor intake nutrisi
DS:
-Ibu klien mengatakan An.N makan habis ½ porsi
DO:
-Makan tampak tersisa ½ porsi
Memberikan obat oral vitamin elkana 1 sdm kepada An.N
DS: - DO:
-Obat oral vitamin elkana sudah diberikan kepada An.N sesuai dosis Memberikan obat oral proris/ibuprofen 1 sdm kepada An.N
DS:
-Ibu klien mengatakan obat sudah diberikan kepada An.N, An.N mulai sedikit demam
DO:
-Obat proris/ibuprofen sudah diberikan kepada An.N sesuai dosis
Membina hubungan saling percaya antara anak dan perawat
DS:
-Ibu klien mengatakan senang jika ada perawat yang mengunjungi
DO:
-Anak tampak diam saat perawat datang, ibu klien tampak kooperatif
TIM TIM TIM TIM TIM Putri
Hari/tanggal Jam No Dx Tindakan dan respon Paraf 20.00 20.05 20.10 20.15 20.30 21.00 22.00 3 1 1 1 1,2 1 1
Memanggil nama An.N dan beri sentuhan
DS: -
DO: An.N tampak diam Memantau TTV
DS:
-Ibu klien mengatakan An.N masih demam
DO:
-Nadi : 100 x/menit -Suhu : 38oC -RR : 22 x/menit Mengkaji status hidrasi DS: -
DO:
-Klopak mata An.N tidak cekung, mukosa bibir kering, turgor kulit elastis, akral hangat
Menganjurkan kepada keluarga agar anak banyak minum ±400 cc/hari DS:
-Ibu klien mengatakan An.N minum habis ½ gelas kecil
DO:
-Ibu klien tampak mengerti dan memberikan munum kepada An.N 100 cc
Memantau hasil laboratorium L dan Hb DS: -
DO:
-Hasil laboratorium L : 2,55 103/µL -Hasil laboratorium Hb : 11.6 g/dl Melibatkan orang tua untuk memberikan kompres air hangat bila suhu anak masih tinggi
DS:
-Ibu klien mengatakan An.N masih demam
DO:
-Ibu klien tampak sedang mengompres air hangat, ibu klien tampak kooperatif Memberikan obat paracetamol drip 250mg kepada An.N DS: - DO: Putri Putri Putri Putri Putri Putri Putri