Gambaran Kadar Kolesterol Total pada Pasien Terapi Bekam di tempat
Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam Herbal Center (BHC)
Kedaton Kota Bandar Lampung
Yoga Rahmanda Risang Seto, Mimi Sugiarti
Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Tanjungkarang
Abstrak
Bekam merupakan salah satu pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisonal (yankestrad). Bekam diartikan sebagai peristiwa penghisapan darah dengan alat menyerupai tabung, serta mengeluarkannya dari permukaan kulit dengan penyayatan/penusukkan yang kemudian ditampung di dalam gelas. Salah satu manfaat dari bekam yaitu berperan dalam penurunan kadar kolesterol total dalam darah. Dalam prosesnya, plak-plak kolesterol berlebih dalam darah akan terbawa keluar tubuh. Hal ini dimaksudkan untuk memperbaiki sirkulasi darah. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran kadar kolesterol total pada pasien terapi bekam di tempat Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam Herbal Center (BHC) Kedaton Kota Bandar Lampung. Penelitian bersifat deskriptif dengan variabel penelitian adalah pasien terapi bekam dan kadar kolesterol total serum pasien bekam di tempat Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam Herbal Center (BHC) Kedaton Kota Bandar Lampung, sampel 30 orang dari keseluruhan populasi sebesar 292 orang pada bulan Juli 2015. Pengambilan darah vena pertama dilakukan sebelum pembekaman, pengambilan darah vena kedua dilakukan 1 hari setelah pembekaman pada sampel yang sama, dibandingkan hasil pemeriksaan kadar kolesterol total sebelum dan setelah pembekaman. Pemeriksaan kadar kolesterol total menggunakan metode fotometer enzimatik. Analisa data menggunakan analisa univariat. Hasil penelitian didapatkan kadar kolesterol sampel sebelum bekam memiliki nilai terendah 128,3 mg/dL, nilai tertinggi 356,7 mg/dL, dan nilai rata-rata 206 mg/dL. Kadar kolesterol total sampel setelah bekam memiliki nilai terendah 119,9 mg/dL, nilai tertinggi 278,2 mg/dL, dan nilai rata-rata 177,5 mg/dL. Dari total 30 sampel, pasien terapi bekam 93,33% mengalami penurunan kadar kolesterol total dan 6,67% tidak mengalami penurunan (tetap) kadar kolesterol total.
Kata Kunci : Bekam, Kolesterol Total
Overview Total Cholesterol Levels in Patients Cupping Therapy in Place
Cupping Traditional Herbal Health Care Center ( BHC)
Kedaton Bandar Lampung
AbstractCupping is one of the traditional health care utilization (yankestrad). Cupping is defined as an event with a blood sucking tube-like instrument, and remove it from the skin surface with an incision / penusukkan which are housed in the glass. One of the benefits of cupping is instrumental in lowering total cholesterol levels in the blood. In the process, excess cholesterol plaques in the blood to be carried out of the body. It is intended to improve the circulation of blood. Has conducted research that aims to know the description total cholesterol levels in patients with cupping therapy in place Cupping Traditional Herbal Health Care Center (BHC) Kedaton Bandar Lampung. This research is descriptive. The research variables were patient procedure and total serum cholesterol levels in a patient cupping Cupping Traditional Herbal Health Care Center (BHC) Kedaton Bandar Lampung with the number of 30 samples of the entire population of 292 people in July 2015. Taking venous blood was first performed before cupping , Then the second venous blood sampling was performed 1 day after cupping on the same sample, which will be compared to results of the total cholesterol levels before and after cupping. The level of total cholesterol using enzymatic methods photometer. Analysis in this study using univariate analysis. The result showed the sample before cupping cholesterol levels had the lowest value of 128.3 mg / dL, the highest value of 356.7 mg / dL, and the average value of 206 mg / dL. Total cholesterol levels of the samples after cupping has the lowest value 119.9 mg / dL, the highest value of 278.2 mg / dL, and the average value of 177.5 mg / dL. Of the total 30 samples, 93.33% of cupping therapy patients experienced a decrease in total cholesterol and 6.67% did not decrease (fixed) total cholesterol levels.
Keywords : Cupping, Total Cholesterol
Korespondensi : Mimi Sugiarti, Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Tanjungkarang, Jl. Soekarno-Hatta No. 1 Bandar Lampung, mobile : 085669736699, e-mail : [email protected]
Pendahuluan
Kolesterol adalah prekursor semua senyawa steroid lainnya di dalam tubuh (kortikosteroid, hormon seks, asam empedu, dan vitamin D) (Murray, dkk, 2003:270). Selain kolesterol yang diabsorpsi setiap hari dari saluran pencernaan, yang disebut kolesterol eksogen, suatu jumlah yang bahkan lebih besar dibentuk dalam sel tubuh, disebut kolesterol endogen. Pada dasarnya semua kolesterol endogen yang beredar dalam lipoprotein plasma dibentuk oleh hati, tetapi semua sel tubuh lain setidaknya membentuk sedikit kolesterol, yang sesuai dengan kenyataan bahwa banyak struktur membran dari seluruh sel, sebagian disusun dari zat ini (Guyton dan Hall, 2008:890).
Dewasa ini, banyak timbul kasus penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas kolesterol dalam darah. Asupan makanan yang kurang sehat (berlemak/berkolesterol, dsb.) dan tidak terkontrol, pola hidup yang tidak sehat, menjadi beberapa faktor pemicunya. Abnormalitas kadar lipid dalam darah merupakan salah satu faktor risiko timbulnya penyakit kardiovaskular dan metabolik, misalnya aterosklerosis, penyakit jantung koroner, stroke, sindrom metabolik dan sebagainya.
Pada bulan Mei-Juni 2013 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di bawah naungan Kementerian Kesehatan telah melaksanakan pengumpulan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013 yang dilakukan di 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota. Dalam laporan tersebut dimunculkan perkembangan status kesehatan masyarakat Indonesia khususnya yang berkaitan indikator yang telah disepakati pada Millenium Development Goals (MDG) untuk tingkat nasional dan tingkat provinsi. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa proporsi penduduk >15 tahun dengan kadar kolesterol total di atas nilai normal merujuk nilai yang ditentukan pada NCEP-ATP III adalah sebesar 35,9 persen, yang merupakan gabungan penduduk kategori borderline (nilai kolesterol total 200-239 mg/dl) dan tinggi (nilai kolesterol total >240 mg/dl) (Riskesdas, 2013:259).
Menanggapi masalah kesehatan-kesehatan yang muncul di tengah masyarakat, beragam metode pengobatan dilakukan, baik dari yang modern hingga tradisional. Berdasarkan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di bawah naungan Kementerian Kesehatan, masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan
pelayanan kesehatan tradisonal (yankestrad) terdiri dari 4 jenis, yaitu yankestrad ramuan (pelayanan kesehatan yang menggunakan jamu, aromaterapi, gurah, homeopati dan spa); keterampilan dengan alat (akupunktur, chiropraksi, kop/bekam, apiterapi, ceragem, dan akupresur); keterampilan tanpa alat (pijat-urut, pijat-urut khusus ibu/bayi, pengobatan patah tulang, dan refleksi); dan keterampilan dengan pikiran (Riskesdas, 2013:85).
Bekam merupakan salah satu pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisonal (yankestrad). Bekam diartikan sebagai peristiwa penghisapan darah dengan alat menyerupai tabung, serta mengeluarkannya dari permukaan kulit dengan penyayatan yang kemudian ditampung di dalam gelas. Tidak hanya di Indonesia, bekam juga sudah trend di negara-negara barat. Penelitian dan pembuktian tentang bekam telah dilakukan oleh beberapa ahli dari negara-negara barat, di antaranya: DR. Michael Reed Gach dari California dengan bukunya Potents Poins, a Guide to Self Care for Common Ailments (Titik-titik Berkhasiat sebagai Panduan Perawatan Diri dan Pengobatan yang Umum), Kohler D (1990) dengan bukunya The ConnectiveTiisue as The Physical Medium for Conduction of Healing Energy in Cupping Therapeutic Method (Jaringan Ikat sebagai Media Fisik untuk Menghantarkan Energi Pengobatan dengan Bekam), dan Thomas W. Anderson (1985) yang berjudul 100 Diseases Treated by Cupping Method (100 Penyakit yang Dapat Diobati dengan Pengobatan Bekam) (Yasin, 2005:xiv).
Sekelompok tim medis di Syiria telah mengadakan penelitian terhadap 300 penyakit yang berhasil diobati dengan bekam, dengan menjelaskan kondisi yang terjadi pada setiap kasus. Salah satu hasil studi menyimpulkan bahwa terjadi penurunan kadar kolesterol darah pada 83,6% kasus penderita kelebihan kolesterol (Sharaf, 2012:36). Pada kasus penyumbatan pembuluh darah koroner, efek terapi bekam memberikan gambaran pengurangan lemak dan kolesterol berbahaya (LDL) dalam darah maupun yang mengendap di dinding pembuluh darah sehingga meningkatkan suplai darah ke otot jantung (Sharaf, 2012:194).
Pada terapi bekam, tekanan negative yang ditimbulkan dari penghisapan menyebabkan congesti pasif dari jaringan lokal di permukaan superficial dan meningkatkan dilatasi pembuluh darah (Umar, 2008:65). Terjadi efek anti peradangan, penurunan serum trigliserida, fosfolipida, dan kolesterol LDL,
merangsang proses lipolisis jaringan lemak, dan mengatur kadar glukosa darah agar normal (Umar, 2008: 64). Plak-plak kolesterol berlebih dalam darah akan terbawa keluar tubuh. Hal ini dimaksudkan untuk memperbaiki sirkulasi darah. Hal ini sesuai teori homeostasis (Umar, 2012: 145).
Di Lampung sendiri, bekam sudah menjadi salah satu alternatif pengobatan yang cukup populer bagi masyarakat. Salah satu tempatnya yaitu di Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam Herbal Center (BHC) Kota Bandar Lampung.
Menurut kedokteran tradisional, bahwa di bawah kulit, otot, maupun fascia terdapat satu poin atau titik yang mempunyai sifat istimewa. Antara poin satu dengan lainnya saling berhubungan membujur dan melintang membentuk jaring-jaring atau jala. Dengan adanya jala ini, maka terdapat hubungan yang erat antara bagian tubuh sebelah atas dengan sebelah bawah, antara bagian dalam dengan bagian luar, antara bagian kiri tubuh dengan bagian kanan, antara organ yang satu dengan organ lainnya, sehingga membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan dan dapat bereaksi secara serentak.
Dunia kedokteran modern pun tertarik untuk melakukan penelitian tentang bekam. Poin istimewa di atas setelah dilakukan penelitian ternyata merupakan “motor points” pada perlekatan neuromuskular (neuromuscular attachments) yang mengandung banyak mitokondria, kaya pembuluh darah, mengandung tinggi mioglobin, sebagian besar selnya menggunakan metabolisme oksidatif, dan lebih banyak mengandung mast cell, kelenjar limfe, kapiler, venula, bundle, dan pleksus saraf serta ujung saraf akhir, dibanding dengan daerah yang bukan poin istimewa (Yasin, 2005:xvi).
Penelitian kedokteran modern membuktikan bahwa apabila dilakukan pembekaman pada satu titik poin, maka di kulit (kutis), jaringan di bawah kulit (sub kutis), fascia, dan ototnya akan terjadi kerusakan dari mast cell dan lain-lain. Akibat dari kerusakan tersebut maka akan dilepaskan beberapa zat seperti serotinin, histamin, bradikinin, slow reacting substance (SRS), serta zat-zat lain yang belum diketahui. Zat-zat tersebut menyebabkan terjadinya dilatasi kapiler dan arteriol, serta flare reaction pada daerah yang dibekam. Dilatasi kapiler juga dapat terjadi di tempat yang jauh dari daerah pembekaman. Hal ini menyebabkan terjadi perbaikan mikrosirkulasi pembuluh darah. Akibatnya timbul efek
relaksasi otot-otot yang kaku serta akibat vasodilatasi umum akan menurunkan tekanan darah secara stabil. Hal utama ialah adanya pelepasan corticotrophin releasing factor (CRF), serta pelepasan faktor lainnya oleh adenohipofise. CRF selanjutnya akan menyebabkan terbentuknya acth, corticotrophin, dan corticosteroid. Corticosteroid ini mempunyai efek menyembuhkan peradangan serta menstabilkan permeabilitas sel (Yasin, 2005: xvii).
Sedangkan golongan histamin yang ditimbulkannya mempunyai manfaat dalam proses perbaikan sel dan jaringan yang rusak, serta memacu pembentukan reticulo endothelial cell, yang akan meninggikan daya resistensi dan imunitas tubuh. Sistem imun ini terjadi melalui pembentukan interleukin dari sel karena faktor neural, peningkatan jumlah sel T karena peningkatan set-enkephalin, enkephalin, dan endorphin yang merupakan mediator antara susunan saraf pusat dan sistem imun, susbtansi P yang mempunyai fungsi parasimpatis dan sistem imun, serta peranan kelenjar pitiutary dan hypothalamus anterior yang memproduksi CRF.
Pembekaman di kulit juga menunjukkan stimulasi kuat syaraf permukaan kulit yang akan dilanjutkan pada cornu posterior medulla spinalis melalui syaraf A-delta dan C, serta traktus spino thalamicus ke arah thalamus yang akan menghasilkan endorphin. Sedangkan sebagian rangsangan lainnya kan diteruskan melalui serabut aferen simpatik menuju ke motor neuron dan menimbulkan reflek intubasi nyeri. Efek lainnya adalah dilatasi pembuluh darah kulit dan peningkatan kerja jantung (Umar, 2012:13).
Pada sistem endokrin terjadi pengaruh pada sistem sentral melalui hypothalamus dan pitiutari sehingga menghasilkan ACTH, TSH, FSH-LH, ADM. Sedangkan melalui sistem perifer langsung berefek pada organ untuk menghasilkan hormon-hormon insulin, thyroxin, adrenalin, corticotropin, estrogen, progesteron, testoteron. Hormon-hormon inilah yang bekerja di tempat jauh dari daerah pembekaman (Umar, 2012:14).
Metode
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif. Variabel penelitian adalah pasien terapi bekam dan kadar kolesterol total serum pasien tersebut. Populasi pada penelitian ini adalah pasien terapi bekam dengan jumlah 292 orang di tempat
Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam Herbal Center (BHC) Kedaton Kota Bandar Lampung.
Sampel pada penelitian ini berjumlah 30 dengan kriteria: laki-laki, pasien tetap, tidak mengkonsumsi obat penurun kolesterol, dan bersikap kooperatif dalam penelitian.
Lokasi penelitian
a. Sampel diambil di tempat Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam Herbal Center (BHC) Kedaton Kota Bandar Lampung.
b. Pemeriksaan serum di laboratorium Kimia Klinik Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Tanjungkarang
Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2015.
Pengumpulan Data
Data primer adalah data pasien terapi bekam yang diambil dengan cara observasi dan survei tempat penelitian, menentukan populasi, pengajuan kuesioner, menentukan sampel sesuai kriteria dan tujuan penelitian, sampling; yang dilakukan di tempat Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam Herbal Center (BHC) Kota Bandar Lampung pada bulan Juli 2015, dan pemeriksaan serum sebelum dan setelah bekam di laboratorium Kimia Klinik Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Tanjungkarang.
Teknik menentukan sampel
Sampel ditentukan berdasarkan hasil pendataan sesuai dengan kriteria dan kuesioner. Pengambilan darah vena pertama dilakukan sebelum pembekaman. Kemudian pengambilan darah vena kedua dilakukan 1 hari setelah pembekaman pada sampel yang sama, yang nantinya akan dibandingkan hasil pemeriksaan kadar kolesterol total sebelum dan setelah pembekaman.
Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian gambaran kadar kolesterol total pasien terapi bekam di tempat pelayanan kesehatan tradisional bekam herbal center (BHC) Kedaton Kota Bandar Lampung diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Distribusi Hasil Pemeriksaan Kadar Kolesterol Total
Pemeriksaan
Kadar Kolesterol Total (mg/dL) Nilai Terendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-rata Sebelum Bekam 128,3 356,7 206 Setelah Bekam 119,9 278,2 177,5
Nilai normal kadar kolesterol total yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada brosur kit reagen kolesterol diasys yaitu ≤ 200 mg/dL. Dari tabel di atas diketahui bahwa kadar kolesterol sampel sebelum bekam memiliki nilai terendah 128,3 mg/dL, nilai tertinggi 356,7 mg/dL, dan nilai rata-rata 206 mg/dL. Kadar kolesterol total sampel setelah bekam memiliki nilai terendah 119,9 mg/dL, nilai tertinggi 278,2 mg/dL, dan nilai rata-rata 177,5 mg/dL.
Tabel 2. Persentase Pasien Dengan Kondisi Kadar Kolesterol Total Akibat Terapi
Bekam Kondisi Kadar Kolesterol Total Jumlah Sampel Persentase Menurun 28 93,33% Tetap 2 6,67% Total 30 100%
Jumlah keseluruhan sampel pada penelitian ini adalah 30 sampel. Diketahui 28 sampel mengalami penurunan kadar kolesterol total pasca bekam dengan persentase 93,33%; dan 2 sampel tidak mengalami penurunan (tetap) kadar kolesterol total pasca bekam dengan persentase 6,67%.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan, 28 sampel (93,33%) mengalami penurunan kadar kolesterol total setelah terapi bekam. Bekam merupakan suatu metode pengobatan yang dilakukan dengan cara mengeluarkan darah yang sudah tua melalui pembuluh-pembuluh kapiler. Bekam diawali dengan pembendungan lokal pada daerah kulit yang ingin dibekam. Pembendungan lokal tersebut sebagai hasil dari tekanan negatif oleh pengekopan dengan menggunakan tabung atau gelas (Umar, 2008:10).
Penurunan kadar kolesterol total pada pasien terapi bekam diakibatkan pengeluaran
plak-plak kolesterol berlebih yang menumpuk pada pembuluh darah serta perangsangan proses lipolisis jaringan lemak saat pembekaman. Pengekopan (penghisapan) pada kulit yang dibekam menimbulkan tekanan negatif sehingga membantu proses pengeluaran plak-plak kolesterol tersebut. Selain itu pula, tekanan negatif tersebut menyebabkan congesti pasif dari jaringan lokal di permukaan superfisial dan meningkatkan dilatasi pembuluh darah (Umar, 2008:65).
Pembekaman yang dilakukan pada satu titik poin, maka di kulit (kutis), jaringan di bawah kulit (sub kutis), fascia, dan ototnya akan terjadi kerusakan dari mast cell dan lain-lain. Akibat dari kerusakan tersebut maka akan dilepaskan beberapa zat seperti serotinin, histamin, bradikinin, slow reacting substance (SRS), serta zat-zat lain yang belum diketahui. Zat-zat tersebut menyebabkan terjadinya dilatasi kapiler dan arteriol, serta flare reaction pada daerah yang dibekam. Dilatasi kapiler juga dapat terjadi di tempat yang jauh dari daerah pembekaman. Hal ini menyebabkan terjadi perbaikan mikrosirkulasi pembuluh darah (Yasin, 2005: xvii). Perbaikan mikrosirkulasi darah juga dibantu oleh zat nitrit oksida (NO) yang terstimulasi saat pembekaman (Sharaf, 2012:43).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 2 (6,67%) dari 30 sampel kadar tidak mengalami penurunan (tetap) kolesterol total setelah terapi bekam. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol total dalam darah di antaranya: merokok dan kondisi psikis (stres), dapat menimbulkan kadar kolesterol total dalam tubuh tetap tinggi. Merokok dapat menimbulkan kecenderungan sel-sel darah untuk menggumpal di dalam pembuluh dan melekat pada lapisan dalam pembuluh darah. Kondisi psikis yang sedang stres dapat mempengaruhi kestabilan tekanan darah (Nilawati dkk, 2008:19).
Daftar Pustaka
1. Guyton, Arthur dan Hall, John E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC. 1179 halaman
2. Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta 3. Murray, Robert K, dkk. 2003. Biokimia
Harper Edisi 25. Jakarta: EGC. 883 halaman
4. Nilawati, Sri, dkk. 2008. Care Yourself, Kolesterol. Jakarta: Penebar Plus. 152 halaman
5. Sharaf, Ahmad Razak. 2012. Penyakit dan Terapi Bekamnya Dasar-Dasar Ilmiah Terapi Bekam. Surakarta: Thibbia. 304 halaman
6. Umar, A. Wadda. 2008. Sembuh dengan Satu Titik. Solo: Al Qowam. 258 halaman 7. Umar, A. Wadda. 2012. Sembuh dengan
Satu Titik 2: Bekam Untuk 7 Penyakit Kronis. Solo: Thibbia. 168 halaman 8. Yasin, Syibab Al-Badri. 2005. Bekam:
Sunnah Nabi dan Mukjizat Medis. Solo: Al-Qowam. 126 halaman