• Tidak ada hasil yang ditemukan

FOKUS KESEJAHTERAAN SOSIAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FOKUS KESEJAHTERAAN SOSIAL"

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR

Daftar Isi

DAFTAR ISI ... I DAFTAR GAMBAR ... II DAFTAR TABEL ... III

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. LATAR BELAKANG ... 1

1.2. DASAR HUKUM PENYUSUNAN ... 10

1.3. HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN ... 11

1.4. SISTEMATIKA DOKUMEN RKPD ... 12

1.5. MAKSUD DAN TUJUAN ... 14

BAB II. EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN ... 15

2.1. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH ... 15

2.1.1.ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI ... 15

2.1.2.ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ... 19

2.1.2.1.FOKUS KESEJAHTERAAN DAN PEMERATAAN EKONOMI ... 19

2.1.2.2.FOKUS KESEJAHTERAAN SOSIAL ... 30

2.1.3.ASPEK KESEJAHTERAAAN MASYARAKAT ... 40

2.1.3.1.FOKUS LAYANAN URUSAN WAJIB ... 40

2.1.3.2.FOKUS LAYANAN URUSAN PILIHAN ... 48

2.1.4.ASPEK DAYA SAING DAERAH ... 57

2.1.4.1.FOKUS KEMAMPUAN EKONOMI DAERAH ... 57

2.1.4.2.FOKUS FASILITAS WILAYAH/INFRASTRUKTUR ... 57

2.1.4.3.FOKUS IKLIM BERINVESTASI ... 60

2.1.4.4.FOKUS SUMBER DAYA MANUSIA ... 63

2.2. EVALUASI KINERJA TAHUN LALU ... 78

2.3. PERMASALAHAN PEMBANGUNAN DAERAH ... 80

BAB III. RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH ... 98

3.1. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI DAERAH ... 98

3.1.1.KONDISI EKONOMI DAERAH TAHUN 2015 DAN PERKIRAAN TAHUN 2016 .... 99

3.1.2.TANTANGAN DAN PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH TAHUN 2016 ... 101

3.2. ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH ... 104

3.2.1.KINERJA KEUANGAN MASA LALU ... 104

3.2.2.PROYEKSI KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN ... 106

3.2.2.1.PROYEKSI PENDAPATAN ... 106

3.2.3.ARAH KEBIJAKAN BELANJA DAERAH ... 108

3.2.4.ARAH KEBIJAKAN PEMBIAYAAN DAERAH ... 119

BAB IV. PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH ... 120

4.1. TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN ... 122

4.2. PRIORITAS PEMBANGUNAN ... 132

BAB V. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH ... 153

BAB VI. PENUTUP ... 155

DAFTAR

(2)

Daftar Gambar

Gambar 1. 1 Penyusunan RKPD Provinsi Kalimantan Utara ... 5 Gambar 1. 2 Hubungan Antar Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah .. 12 Gambar 2. 1 Persentase Luas Daratan Menurut Kabupaten/Kota

di Provinsi Kalimantan Utara ... 16 Gambar 2. 2 Peta Administratif Provinsi Kalimantan Utara ... 17 Gambar 2. 3 PDRB dari Tahun 2010 s.d 2014 Berdasarkan ADHK

Tahun Dasar 2010 ... 21 Gambar 2. 4 Laju Inflasi Tahun 2009-2014 di Provinsi Kalimantan Utara ... 23 Gambar 2. 5 PDRB ADHB perkapita 2010-2014 Provinsi Kalimantan Utara ... 24 Gambar 2. 6 Persentase Penduduk diatas Garis Miskin

Tahun 2007-2014 ... 27 Gambar 2. 7 Persentase Penduduk Di atas Garis Miskin per Kabupaten/Kota .. 28 Gambar 2. 8 Grafik Angka Kematian Bayi Tahun 2007-2015 ... 36 Gambar 2. 9 Grafik Angka Usia Tahun 2007-2015 ... 38

(3)

Daftar Tabel

Tabel 2. 1 Wilayah Administrasi Provinsi Kalimantan Utara ... 15

Tabel 2. 2 Perkembangan Jumlah Penduduk ... 18

Tabel 2. 3 Penduduk Kepadatan Kabupaten / Kota ... 19

Tabel 2. 4 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB ... 22

Tabel 2. 5 PDRB ADHK Perkapita ... 23

Tabel 2. 6 PDRB ADHB Perkapita ... 24

Tabel 2. 7 Koefisien Gini Tahun ... 25

Tabel 2. 8 Indeks Williamson Tahun 2010-2014 ... 26

Tabel 2. 9 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, serta Persentase Penduduk di atas Garis Kemiskinan ... 27

Tabel 2. 10 Persentase penduduk miskin Tahun 2010-2014 ... 28

Tabel 2. 11 Angka Kriminalitas yang Tertangani di Provinsi Kalimantan Utara . 29 Tabel 2. 12 Indeks Pembangunan Manusia ... 31

Tabel 2. 13 Angka Usia Harapan Hidup Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara ... 32

Tabel 2. 14 Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara ... 33

Tabel 2. 15 Angka Usia Harapan Lama Sekolah Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara ... 33

Tabel 2. 16 Angka Kematian Bayi ... 35

Tabel 2. 17 Angka Kelangsungan Hidup Bayi ... 35

Tabel 2. 18 Angka Usia Harapan Hidup... 37

Tabel 2. 19 Persentase Balita Gizi Buruk Tahun 2007-2015 ... 39

Tabel 2. 20 Persentase Balita Gizi Buruk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 ... 39

Tabel 2. 21 Perkembangan Sekolah dengan Kondisi Baik ... 40

Tabel 2. 22 Perkembangan Rasio Guru/Murid SMA/SMK/MA ... 41

Tabel 2. 23 Angka Putus Sekolah (APS) Jenjang SMA/MA/SMK ... 42

Tabel 2. 24 Rasio Rumah Sakit per 100.000 Penduduk Tahun 2007-2015 ... 44

Tabel 2. 25 Rasio Puskesmas, Poliklinik, dan Puskesmas Pembantu per 100.000 Penduduk ... 45

Tabel 2. 26 Rasio Puskesmas, Poliklinik, dan Puskesmas Pembantu per 100.000 Penduduk Menurut Kabupaten/Kota ... 46

Tabel 2. 27 Rasio Dokter per 100.000 Penduduk Tahun 2008-2015... 46

Tabel 2. 28 Kontribusi PDRB Kategori Industri Pengolahan ... 55

Tabel 2. 29 Penempatan Transmigrasi Tahun 1972-2015... 56

Tabel 2. 30 Rencana Penempatan Transmigrasi Tahun 2016 ... 56

Tabel 2. 31 Panjang Jalan Nasional dan Provinsi (Km)... 59

Tabel 2. 32 Rasio Luas Wilayah Produktif (Pertanian, Perkebunan dan Permukiman) terhadap Luas Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBNK) ... 60

Tabel 2. 33 Jumlah Demo Tahun 2007 – 2015 Provinsi Kalimantan Utara ... 62

Tabel 2. 34 Jenis-Jenis Perijinan dan Lama Proses Pembuatan Kota Tarakan ... 62

Tabel 2. 35 Jenis-Jenis Perijinan dan Lama Proses Pembuatan Kabupaten Bulungan ... 63

Tabel 2. 36 Rasio Lulusan S1/S2/S3 Tahun 2010-2013 ... 63

Tabel 2. 37 Aspek, Fokus dan Indikator Kinerja Menurut Bidang Urusan Penyelenggaraan Pemerintahan ... 64

(4)

Tabel 2. 38 Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2012 s.d 2014 Atas Dasar Harga Kontan Provinsi Kalimantan Utara ... 77 Tabel 2. 39 Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2012 s.d 2014 Atas Dasar Harga Berlaku Provinsi Kalimantan Utara ... 77 Tabel 2. 40 Hasil Pelaksanaan Program RKPD Provinsi Kalimantan Utara

Tahun 2015 ... 78 Tabel 2. 41 Identifikasi Permasalahan untuk Penentuan Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara ... 95 Tabel 3. 1 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi

Kalimantan Utara ...106 Tabel 3. 2 Proyeksi/Target Penerimaan Daerah Provinsi Kalimantan Utara ....107 Tabel 3. 3 Realisasi dan Proyeksi/Target Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Daerah Tahun 2014 s/d Tahun 2018 Provinsi Kalimantan Utara ...112 Tabel 3. 4 Rencana Belanja Daerah Provinsi Kalimantan Utara Berdasarkan Usulan Renja SKPD ...116

(5)

Bab I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2017 merupakan pelaksanaan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016-2021 tahun pertama, sebagaimana diamanatkan dalam Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa RPJMD dijadikan dasar bagi penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) sebagai program pembangunan tahunan.

Dalam rangka mencapai tujuan jangka panjang Provinsi Kalimantan Utara dan memenuhi amanat sesuai dengan aturan yang berlaku, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara berkewajiban untuk melaksanakan perencanaan pembangunan untuk setiap tahapan pembangunan. Secara umum Perencanaan Pembangunan Daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. Untuk merealisasikan pelaksanaan Visi dan Misi Provinsi Kalimantan Utara. Pada tataran operasional pelaksanaan pembangunan, perencanaan tersebut ditetapkan untuk memberikan arah terhadap kegiatan pembangunan yang hendak dilaksanakan. Di samping itu juga dalam rangka memberikan kepastian operasionalisasi dan keterkaitan terhadap peran masing-masing misi yang telah ditetapkan. Praktek umuk perencanaan pembangunan dilaksanakan dengan menempuh beberapa tahap berikut ini: 1) Secara terus menerus menganalisis kondisi dan pelaksanaan pembangunan daerah sebelumnya; 2) menentukan perkiraan-perkiraan potensi-potensi daerah dan prospek-prospek perkembangan terkait keadaan daerah dan masyarakat baik di lingkungan internal dan eksternal; 3) Merumuskan tujuan dan kebijakan pembangunan daerah sesuai dengan arahan perencanaan pada tahap di atasnya dan 4) Menyusun

(6)

konsep strategi bagi pemecahan masalah melalui penentuan program dan kegiatan pembangunan.

Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Evaluasi dan Pengendalian Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, RKPD Provinsi sekurang-kurangnya memuat tentang kerangka ekonomi daerah, program prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaanya serta prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif, baik yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Penetapan program prioritas berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat dan pencapaian keadilan yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Selain itu dokumen RKPD yang disusun mengacu RKP dan berkaitan erat dengan RPJMD, RPJPD Provinsi serta RPJM dan RPJP Nasional. RKPD sebagaimana dimaksud di atas, disusun dengan tahapan sebagai berikut:

1. Persiapan penyusunan RKPD;

Pada tahap persiapan ini serangkaian aktivitas yang dilakukan meliputi:

a. Penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RKPD;

b. Orientasi mengenai RKPD oleh tim penyusun RKPD; c. Penyusunan agenda kerja tim penyusun RKPD;

d. Penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah.

2. Penyusunan rancangan awal RKPD;

Pada tahap penyusunan rancangan awal RKPD aktivitas yang dilakukan terdiri atas perumusan dan penyajian rancangan awal RKPD.

a. Perumusan rancangan awal RKPD.

Dilakukan melalui serangkaian kegiatan berikut: 1. Pengolahan data dan informasi.

2. Analisis gambaran umum kondisi daerah. 3. Analisis ekonomi dan keuangan daerah.

(7)

4. Evaluasi kinerja tahun lalu.

5. Penelaahan terhadap kabijakan pemerintah nasional. 6. Penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD Prov.

Kalimantan Utara.

7. Perumusan permasalahan pembangunan Prov. Kalimantan Utara.

8. Perumusan rancangan kerangka ekonomi dan kebijakan

9. Keuangan daerah.

10. Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah beserta

11. Pagu indikatif.

12. Perumusan program prioritas beserta pagu indikatif. 13. Pelaksanaan forum konsultasi publik.

14. Penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif.

b. Penyajian rancangan awal RKPD.

Rancangan awal RKPD disajikan dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut:

1. Pendahuluan.

2. Evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu.

3. Rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan.

4. Prioritas dan sasaran pembangunan. 5. Rencana program prioritas daerah.

3. Penyusunan rancangan RKPD;

Penyusunan rancangan RKPD merupakan proses penyempurnaan rancangan awal RKPD menjadi rancangan RKPD berdasarkan hasil verifikasi Renja SKPD. Verifikasi sebagaimana dimaksud, adalah mengintegrasikan program, kegiatan, indikator kinerja dan dana indikatif pada setiap rancangan Renja SKPD Prov. Kalimantan Utara sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD Prov. Kalimantan Utara.

(8)

4. Pelaksanaan musrenbang RKPD;

Musrenbang RKPD dalam pelaksanaannya dilakukan penggabungan antara pelaksanaan musrenbang dengan pelaksanaan Forum SKPD. Selain itu juga diadakan kesepakatan bersama antara SKPD, Bappeda Prov. Kalimantan Utara dan Bappeda Kabupaten-kota mengenai kegiatan sharing dengan mekanisme kesepakatan Trilateral Desk. Proses dan tahapan pelaksanaan yang cukup banyak serta panjang dilaksanakan untuk penajaman, penyelarasan, klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RKPD. Penajaman, penyelarasan, klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud, mencakup:

a. Program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah Prov. Kalimantan Utara dengan arah kebijakan, prioritas dan sasaran pembangunan nasional serta usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kabupaten/kota.

b. Usulan program dan kegiatan yang telah disampaikan masyarakat kepada pemerintah daerah Prov. Kalimantan Utara pada musrenbang RKPD kabupaten/kota dan/atau sebelum musrenbang RKPD Prov. Kalimantan Utara dilaksanakan.

c. Indikator dan target kinerja program dan kegiatan pembangunan Prov. Kalimantan Utara.

d. Prioritas pembangunan daerah serta rencana kerja dan pendanaan.

e. Sinergi dengan RKP.

5. Perumusan rancangan akhir RKPD;

Berita acara hasil kesepakatan musrenbang RKPD dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RKPD.

6. Penetapan RKPD.

RKPD ditetapkan dengan Peraturan Gubernur setelah RKP ditetapkan, hal ini diharapkan agar terjadi keselarasan antara perencanaan ditingkat pusat dengan daerah.

(9)

Gambar 1. 1 Penyusunan RKPD Provinsi Kalimantan Utara

Sumber : Permendagri No. 54 Tahun 2010

Secara umum dalam proses pembangunan, RKPD merupakan acuan bagi daerah dalam menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD), dengan demikian Kepala daerah dan DPRD dalam menentukan Kebijakan Umum APBD (KUA), serta penentuan Prioritas dan Pagu Anggaran. KUA dan PPAS yang telah disepakati selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam proses penyusunan APBD.

Lebih lanjut, RKPD mempunyai kedudukan yang strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah mengingat beberapa hal sebagai berikut:

1. RKPD merupakan dokumen yang secara substansial merupakan penerjemahan dan penjabaran dari visi, misi dan program kepala daerah yang ditetapkan dalam RPJMD kedalam program dan kegiatan pembangunan tahunan daerah.

(10)

2. RKPD memuat arahan operasional pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan tahunan bagi seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD).

3. RKPD merupakan acuan Kepala Daerah dan DPRD dalam menentukan Kebijakan Umum APBD dan penentuan prioritas serta pagu anggaran sementara yang selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

4. RKPD merupakan salah satu instrumen evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah. Melalui evaluasi terhadap pelaksanaan RKPD ini dapat diketahui sampai sejauh mana capaian kinerja RPJMD sebagai wujud dari kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah hingga tahun berkenaan.

Adapun prinsip penyusunan RKPD adalah sebagai berikut:

1. Proses perencanaan dilakukan melalui keterpaduan pendekatan diantaranya melalui participatory, comprehensiveness, serta proses buttom up dan top down planning. Proses top down planning merupakan langkah langkah penyampaian batasan umum oleh Pemerintah Pusat mengenai prioritas pembangunan nasional dan usulan kebutuhan dana kepada Kementrian/Lembaga maupun dari Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Sedangkan proses buttom up planning berarti Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota diberi keleluasaan untuk merancang kegiatan kegiatan pembangunan demi tercapainya sasaran pembangunan kepada Pemerintah Pusat.

2. Prioritas dan sinergitas

Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah, baik Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota terdistribusikan dengan mempertimbangkan prioritas dan menciptakan sinergitas antara Kabupaten, Provinsi dan Nasional melalui Forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan.

(11)

3. Mempertimbangkan kemampuan fiskal daerah

Proses penyusunan RKPD Provinsi Kalimantan Utara juga merupakan proses penyatuan persepsi SKPD Provinsi tentang prioritas pembangunan daerah dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.

4. Mempertimbangkan kondisi eksternal

Tidak kalah pentingnya adalah mempertimbangkan kondisi eksternal yang memberikan pengaruh cukup kuat terhadap proses penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah seperti kondisi politik, hukum, ekonomi, serta budaya. Kondisi ekonomi misalnya dengan inflasi tentu akan mempengaruhi beberapa asumsi yang mendasari penyusunan kondisi perekonomian di daerah.

Mengingat posisi strategis dokumen RKPD dalam penyelenggaraan pemerintahan sebagaimana telah dikemukakan di atas, Provinsi Kalimantan Utara memberikan perhatian dan daya upaya optimal sejak awal tahapan penyusunan hingga penetapan dokumen RKPD agar dapat menghasilkan dokumen RKPD yang berkualitas. Berkualitas dalam hal ini berarti dapat memberikan acuan yang efektif bagi pembangunan serta memenuhi kriteria sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Karakter RKPD yang berkualitas dimaknai dengan RKPD yang memenuhi kriteria antara lain:

1. Disusun berdasarkan evaluasi pelaksanaan RKPD tahun sebelumnya.

2. Program prioritas dalam RKPD harus sesuai dengan program prioritas sebagaimana tercantum dalam dokumen RPJMD pada tahun berkenaan.

3. Program dan kegiatan prioritas dalam RKPD harus konsisten dengan program dan kegiatan yang disepakati oleh seluruh pemangku kepentingan dalam forum Musrenbang.

4. Program dan kegiatan prioritas dalam RKPD harus dilengkapi dengan indikator kinerja hasil (outcome) untuk program dan

(12)

indikator kinerja keluaran (output) untuk kegiatan, yang bersifat realistis dan terukur.

5. Program dan kegiatan dalam RKPD harus dilengkapi dengan pendanaan yang menunjukkan prakiraan maju.

Adapun kerangka berpikir dalam penyusunan RKPD tahun 2017, secara normatif adalah Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Nomor 1 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2005-2025. Acuan lain dalam penyusunan RKPD adalah Prioritas Pembangunan Nasional yang juga didasarkan pada permasalahan daerah yang dihadapi tahun sebelumnya dan kemungkinan tantangan yang akan dihadapi daerah pada tahun 2017. Berdasarkan prioritas pembangunan daerah tersebut, dijabarkan sasaran, arah kebijakan dan kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2017.

Proses penyusunan RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2017 dilakukan dengan memperhatikan berbagai pendekatan perencanaan, yaitu:

1. Perencanaan dari bawah

Perencanaan dari bawah dilaksanakan dengan memperhatikan hasil kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Kabupaten / Kota Provinsi Kalimantan Utara

2. Perencanaan dari atas

Perencanaan dari atas dilakukan dengan mengupayakan sinkronisasi dan sinergitas kebijakan antara Pemerintah, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, yang tertuang dalam berbagai dokumen nasional terkait dengan perencanaan pembangunan Tahun 2017. Sinkronisasi dan sinergitas ditekankan pada aspek tujuan, sasaran, isu strategis dan prioritas pembangunan.

3. Perencanaan Partisipatif

Perencanaan partisipatif dilakukan dengan mengikutsertakan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam

(13)

proses perencanaan pembangunan, utamanya keikutsertaan dalam Konsultasi Publik, Forum SKPD dan Musrenbang. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan aspirasi dan mewujudkan rasa ikut memiliki dari para pemangku kepentingan. Ikut serta dalam kesempatan tersebut adalah kalangan Perguruan Tinggi, BUMN/Perusda/BUMD, Perbankan, Organisasi Profesi, Asosiasi Dunia Usaha dan Organisasi Sosial, Organisasi Kemasyarakatan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Wanita, Lembaga Bentukan Pemerintah Pusat dan Daerah, dan Lembaga Donor.

4. Perencanaan Teknokratik

Perencanaan melalui pendekatan teknokratik dilaksanakan dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah. Dalam proses penyusunan RKPD Tahun 2017, dimulai dengan penyusunan Rancangan Awal RKPD Tahun 2017 mencakup berbagai aktivitas antara lain:

a. Pengolahan data dan informasi;

b. Analisis gambaran umum kondisi daerah;

c. Analisis kondisi perekonomian dan keuangan daerah; d. Evaluasi kinerja pembangunan tahun 2017;

e. Telaah kebijakan Pemerintah; f. Telaah pokok-pokok pikiran DPRD;

g. Perumusan permasalahan pembangunan daerah;

h. Perumusan rancangan kerangka ekonomi dan kebijakan keuangan daerah;

i. Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah serta pagu indikatif;

j. Perumusan program prioritas dan pagu indikatif; k. Penyajian dan sosialisasi Rancangan Awal RKPD; dan l. Penyelarasan rencana program prioritas dan pagu

indikatif.

(14)

Perencanaan dengan pendekatan politik dilakukan dengan merujuk pada visi dan misi kepala daerah terpilih yang didukung oleh DPRD. Dukungan DPRD tercermin antara lain pada saat diselenggarakan Musrenbang Tahun 2016 dalam rangka penyusunan RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2017. Dalam kesempatan tersebut telah disampaikan Pokok-Pokok Pikiran DPRD Provinsi Kalimantan Utara sebagai masukan dalam penyusunan RKPD Tahun 2017.

Lebih lanjut, dokumen RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2017 dilengkapi dengan Program dan Kegiatan beserta indikasi pagu untuk masing-masing program.

1.2. Dasar Hukum Penyusunan

Landasan riil penyusunan RKPD Tahun 2017 adalah Pancasila dan landasan konstitusionalnya adalah Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sedangkan landasan operasionalnya meliputi peraturan perundang- undangan yang berlaku, antara lain :

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;

4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;

5. Undang–Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah;

(15)

8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional; 11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang

Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;

12. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan;

14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2017; 15. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Nomor 1

Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2005-2025;

1.3. Hubungan Antar Dokumen

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, RKPD Provinsi Kalimantan Utara disusun mengacu kepada RPJPD Provinsi

(16)

Kalimantan Utara Tahun 2005-2025 dan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016-2021 yang merupakan penjabaran dari visi, misi, program kepala daerah terpilih serta memperhatikan RPJM Nasional dan RKP Tahun 2017. Selanjutnya RKPD tersebut oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara dijadikan sebagai pedoman bagi penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Provinsi Kalimantan Utara. RKPD Provinsi Kalimantan Utara juga diarahkan untuk mendukung pelaksanaan Kebijakan Pemerintah, sebagaimana tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pembangunan yang berkeadilan, secara garis besar mencakup Program Pro Rakyat, Keadilan untuk semua (justice for all). Acuan tambahan dalam penyusunan RKPD Tahun 2017 adalah Kebijakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun 2016, serta Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2017.

Gambar 1. 2 Hubungan Antar Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah

1.4. Sistematika Dokumen RKPD

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2017 disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi

(17)

Rencana Pembangunan daerah dan Permendagri No. 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah dengan sistika sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan

Memuat gambaran umum tentang penyusunan RKPD yang meliputi latar belakang, dasar hukum penyusunan, hubungan antar dokumen, sistika dokumen RKPD, serta maksud dan tujuan.

Bab II Evaluasi Hasil Pelaksanaan RKPD Tahun Lalu dan Capaian Kinerja penyelenggaraan Pemerintahan

Memuat evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu menguraikan tentang hasil evaluasi RKPD tahun lalu, selain itu juga memperhatikan dokumen RPJMD dan dokumen RKPD tahun berjalan sebagai bahan acuan. Sedangkan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan menguraikan tentang kondisi geografi demografi, pencapaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan, dan permasalahan pembangunan.

Bab III Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah dan Kebijakan Keuangan Daerah

Memuat penjelasan tentang kondisi ekonomi tahun lalu dan perkiraan tahun berjalan, yang antara lain mencakup indikator pertumbuhan ekonomi daerah, sumber-sumber pendapatan dan kebijakan pemerintah daerah yang diperlukan dalam pembangunan perekonomian daerah meliputi pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah, rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan.

Bab IV Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah

Memuat secara eksplisit perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah berdasarkan hasil analisis terhadap hasil evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja yang direncanakan dalam RPJMD, identifikasi isu strategis dan masalah mendesak ditingkat daerah dan

(18)

nasional, dan capaian kinerja yang direncanakan dalam RPJMD.

Bab V Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah

Memuat tentang rencana program dan kegiatan prioritas daerah yang disusun berdasarkan evaluasi pembangunan tahunan, kedudukan tahun rencana (RKPD) yang disertai dengan rencana pendanaan.

Bab VI Penutup

Memuat harapan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan guna terlaksananya kegiatan pembangunan daerah tahun 2017.

1.5. Maksud dan Tujuan

RKPD yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, program prioritas pembangunan daerah, rencana kerja, pendanaan dan prakiraan maju, adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun yang disusun dimaksudkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki guna peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia dalam kurun waktu 1 (satu) tahun ke depan.

Adapun tujuannya adalah untuk acuan bagi seluruh Instansi/Kantor Wilayah/Lembaga Teknis Daerah/Dinas Daerah/Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan di Provinsi Kalimantan Utara dalam menyusun program dan kegiatan yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Tahun Anggaran 2017.

(19)

Bab II. Evaluasi Hasil

Pelaksanaan RKPD Tahun Lalu

Dan Capaian Kinerja

Penyelenggaraan Pemerintahan

2.1. Gambaran Umum Kondisi Daerah

2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi

Provinsi Kalimantan Utara adalah provinsi ke 34 di Indonesia yang merupakan Provinsi termuda yang berdiri berdasarkan Undang-undang nomor 20 tahun 2012. Daerah Kalimantan Utara terdiri dari Empat Kabupaten yaitu Kabupaten Bulungan beribukota di Tanjung Selor, Kabupaten Malinau beribukota di Malinau, Kabupaten Nunukan beribukota di Nunukan dan Kabupaten Tana Tidung beribukota di Tideng Pale Serta Satu Kota Tarakan. Provinsi Kalimantan Utara berada di paling utara Pulau Kalimantan dengan luas wilayah total 75.467,70 Km2, terletak antara 114°35'22" dan 118°03'00" Bujur Timur, dan antara 1°21'36" dan 4°24'55" Lintang Utara, berbatasan diutara dengan Negara Malaysia, Khususnya Negara Sabah dan Sarawak, Laut Sulawesi disebelah Timur, Kalimantan Timur di sebelah Selatan, dan Malaysia di sebelah Barat. Provinsi Kalimantan Utara merupakan Provinsi yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia baik wilayah darat dan Laut yang juga merupakan Alur Laut kepulauan Indonesia (ALKI) II dari Laut Sulawesi ke Samudra Hindia melalui Selat Makasar dan Selat Lombok yang memeiliki potensi strategis sebagai pendukung perekonomian wilayah.

Adapun pembagian wilayah administratif Provinsi Kalimantan Utara menurut kabupaten/kota dapat dirinci sebagai berikut:

Tabel 2. 1 Wilayah Administrasi Provinsi Kalimantan Utara

Kabupaten/Kota Ibukota Luas Daratan (Km2) Kecamatan Jumlah Jumlah Desa

(20)

Malinau Malinau 42.620,70 15 109

Nunukan Nunukan 13.841,90 16 240

Tana Tidung Tideng Pale 4.828,58 5 29

Tarakan Tarakan 250,80 4 20

Kalimantan Utara 75.467,70 50 479

Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2015 dan kaltara.bps.go.id, diakses pada Maret 2016

Berdasarkan informasi di atas, diketahui bahwa Kabupaten Malinau merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Provinsi Kalimantan Utara, yakni mencapai 56% dari total luasan, sedangkan daerah dengan luas wilayah terkecil ditempati oleh Kota Tarakan karena persentasenya tidak mencapai angka 1% dari total luasan Provinsi Kalimantan Utara. Kondisi geografis Provinsi Kalimantan Utara selain berupa pegunungan adalah juga merupakan daerah kepulauan. Pulau-pulau kecil di Provinsi Kalimantan Utara terletak di Kabupaten Nunukan, Bulungan, Tana Tidung dan Kota Tarakan. Jumlah pulau-pulau kecil di Provinsi Kalimantan Utara adalah 161 pulau dengan luas total mencapai 3597 m2. Pulau-pulau terbesar diantaranya yaitu Pulau Tarakan (249 m2), Pulau Sebatik (245 m2), Pulau Nunukan (233 m2), Pulau Tanah Merah (352 m2). Sementara, panjang garis pantai provinsi ini adalah 3.955 Km, 908 Km (23%) merupakan garis pantai daratan, dan 3.047 Km (77%) merupakan garis pantai kepulauan. Secara lebih jelas, persentase luas daratan menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada diagram dan Peta Cakupan Wilayah di bawah ini:

Gambar 2. 1 Persentase Luas Daratan Menurut Kabupaten/Kota

di Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Hasil Olahan, 2016

18.45% 56.48% 18.34% 6.40% 0.33% Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung

(21)

Iklim di Provinsi Kalimantan Utara beriklim Tropis dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan, musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober, sedang musim penghujan terjadi pada bulan November sampai dengan bulan April, namun dalam tahun-tahun terakhir ini, keadaan musim di Kalimantan Utara kadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan dalam kenyataannya tidak ada hujan sama sekali ataupun sebaliknya.Selain itu karen letaknya di daerah khatulistiwa maka iklim di Kalimantan Utara juga dipengaruhi oleh angin Muson Barat Nopember -April dan Angin Muson Timur Mei-Oktober.

Gambar 2. 2 Peta Administratif Provinsi Kalimantan Utara

Sumber Bappeda Kalimantan Utara

Secara umum Provinsi Kalimantan Utara beriklim panas dangan suhu pada tahun 2013 berkisar antara 23,9°C di Tanjung Selor pada bulan Februari sampai 33,9°C pada bulan September. Rata-rata suhu terendah adalah 24,1°C di Tanjung Selor dan tertinggi 32,8°C terjadi di Tanjung Selor.

(22)

Pada beberapa stasiun pengamat memantau kondisi angin di Kalimantan Utara pada tahun 2013, pengamatan menunjukan bahwa kecepatan angin antara 3 sampai 5 knot. Kecepatan tertinggi adalah 5 knot terjadi di Tanjung Selor dan Tarakan, sementara yang terendah adalah 3 knot di Nunukan.

Penduduk dalam suatu wilayah merupakan potensi sumberdaya manusia (SDM) yang dibutuhkan dalam proses pembangunan, disamping juga sebagai penerima manfaat pembangunan. Dalam konteks pengembangan wilayah, penduduk sebagai potensi sumberdaya manusia berperan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya yang ada di wilayahnya secara bijaksana dan berkelanjutan. Peran penduduk dalam pembangunan adalah sebagai subyek dan obyek pembangunan. Selain itu, penduduk juga dapat menjadi potensi dan beban pembangunan. Jumlah penduduk akan menjadi potensi pembangunan apabila disertai dengan kualitas yang tinggi. Dan sebaliknya, apabila memiliki kualitas yang rendah maka penduduk menjadi beban pembangunan.

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk sehingga akan diketahui pula kebutuhan dasar penduduk seperti fasilitas pelayanan publik dan sebagainya. Jika dilihat secara umum, jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Utara dari tahun 2010 sampai 2014 selalu mengalami peningkatan. Rincian jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Utara yang terbagi kedalam penduduk laki-laki dan perempuan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2. 2 Perkembangan Jumlah Penduduk Tahun 2000-2014 di Provinsi Kalimantan Utara

Jumlah Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 Laki-laki (jiwa) 278395 290839 303278 316057 328602 Perempuan (jiwa) 245752 256538 267626 278925 289605 Total (jiwa) 524147 547377 570904 594982 618207 Pertumbuhan (%) 3,09 4,43 4,30 4,22 3,90

(23)

Pola persebaran penduduk Kalimantan Utara menurut luas wilayah sangat timpang. Sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan tingkat kepadatan penduduk yang mencolok antar daerah, terutama antara kabupaten dengan kota. Tingkat kepadatan penduduk Kalimantan Utara adalah 8,82 jiwa/Km2.

Tabel 2. 3 Penduduk Kepadatan Kabupaten / Kota Tahun 2012-2014 :

Kabupaten/Kota Wilayah Luas (Km2) Jumlah Penduduk 2010 2011 2012 2013 2014 Bulungan 13181,92 9 9 9 12 12 Malinau 40088,41 2 2 2 2 2 Nunukan 14247,5 10 11 11 11 12 Tana Tidung 4828,58 5 5 4 4 4 Tarakan 250,8 777 808 840 872 906 Kalimantan Utara 72597,21 7 8 8 8 9

Tabel di atas menunjukkan adanya kesenjangan dalam hal persebaran penduduk di Provinsi Kalimantan Utara, terutama antar kabupaten dengan kota. Kepadatan penduduk di Kota Tarakan mencapai ratusan jiwa/km2 akan tetapi berbeda dengan kabupaten/kota lainnya yang memiliki kepadatan hanya 1-12 jiwa/km2. Kota Tarakan merupakan daerah paling padat dibandingkan dengan daerah lainnya yaitu dengan kepadatan 906 jiwa/km2 sampai tahun 2014. Sedangkan kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki kepadatan penduduk paling rendah adalah Kabupaten Malinau, yakni hanya 2 jiwa/km2.

2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.1.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi A. PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi

Laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Kalimantan Utara Menurut Lapangan Usaha pada tahun 2013 sebesar 4,56 persen dengan migas dan non migas sebesar 6,20 persen. Jika dibandingkan dengan tahun

(24)

sebelumnya sebesar 10,41 persen dengan migas dan non migas 10,71 persen, maka pada tahun 2013, laju pertumbuhan PDRB dengan migas dan tanpa migas mengalami penurunan. Hampir semua sektor ekonomi di Kalimantan Utara pada Tahun 2013 mengalami percepatan pertumbuhan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hanya sektor industri pengolahan yang mengalamai perlambatan.

PDRB dengan migas menunjukan bahwa sektor ekonomi yang sangat berperan dalam pembentukan PDRB Kalimantan Utara adalah sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan (10,94 Persen), Perdagangan, Hotel & Restoran (10,01 persen), Jasa-jasa (9,71 Persen), serta sektor Bangunan (8,42 Persen).

Struktur PDRB non migas didominasi oleh empat sektor yaitu sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan (1094 Persen), sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (10,01 Persen), sektor Jasa-jasa (9,71 persen), serta sektor Industri Pengolahan (4,86 Persen).

PDRB Kalimantan Utara menurut penggunaan pada tahun 2013, masih didominasi oleh komponen ekspor impor dengan kontribusi 50,14 persen (net ekspor). Disusul pengeluaran Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 21,17 persen dan pengeluaran untuk komsumsi rumahtangga yaitu 19,44 persen. Sedangkan pertumbuhan untuk semua komponen tahun 2013 mengalami percepatan dibandingkan tahun sebelumnya kecuali pada penggunaan perubahan inventori dan ekspor-impor.

PDRB dengan migas menurut Kabupaten/Kota pada tahun 2013 terbesar ada di Kota Tarakan dengan nilai PDRB sebesar 10,00 triliun Rupiah disusul Kabupaten Nunukan dengan nilai 5,82 triliun Rupiah, dan Kabupaten Bulungan dengan nilai 3,23 triliun Rupiah. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tertinggi menurut Kabupaten/Kota pda tahun 2012 ada di Kabupaten Malinau sebesar 11,18 persen.

(25)

Gambar 2. 3 PDRB dari Tahun 2010 s.d 2014 Berdasarkan ADHK Tahun Dasar 2010

Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Hasil Olahan, 2016

Sektor perekonomian yang paling dominan dan menunjang perekonomian daerah di Provinsi Kalimantan Utara masih dipegang oleh sektor primer yaitu sektor pertambangan dan penggalian yang memiliki peranan sebesar 30,33% pada tahun 2010. Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB terus meningkat mencapai 33,68 % di tahun 2013. Meski mengalami penurunan sampai 31,53% di tahun 2014, sektor ini tetap menjadi sektor yang berkontribusi paling besar selama lima tahun berturut-turut. Sektor primer penyumbang terbesar selain pertambangan dan penggalian adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 17,02% di tahun 2014. Sektor pertanian kemudian disusul oleh sektor sekunder, yaitu sektor konstruksi. Sektor sekunder ini terus tumbuh dari 11,68% di tahun 2010 dan mencapai 11,91% pada tahun 2014, yang kemudian diikuti oleh perkembangan sektor perdagangan 9,95% di tahun 2014 dan industri pengolahan sebesar 9,31% pada tahun yang sama.

34.9 37.8 40.7 44.1 47.6 2010 2011 2012 2013 2014 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0 40.0 45.0 50.0 Tahun Triliun Rp

(26)

Tabel 2. 4 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2010 s.d 2014

Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) di Provinsi Kalimantan Utara

No Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk % % % % % % % % % % 1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 17,8 6 17,86 16,72 17,65 16,5 2 16,52 16,23 16,23 17,02 17,02 2 Pertambangan dan Penggalian 30,3 3 30,33 33,92 30,25 33,2 5 33,25 33,68 33,68 31,53 31,53 3 Industri Pengolahan 10,23 10,23 9,8 9,95 9,42 9,42 9,21 9,21 9,31 9,31 4 Pengadaan

Listrik dan Gas 0,05 0,05 0,04 0,05 0,04 0,04 0,03 0,03 0,03 0,03 5 Pengadaan Air, Pengolahan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 0,07 0,07 0,07 0,07 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 6 Konstruksi 11,6 8 11,68 10,77 11,45 11,6 6 11,66 11,64 11,64 11,91 11,91 7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 10,7 10,70 10,37 10,81 10,11 10,11 9,73 9,73 9,95 9,95 8 Transportasi dan Pergudangan 5,43 5,43 5,1 5,62 5,23 5,23 5,53 5,53 5,87 5,87 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,27 1,27 1,23 1,26 1,28 1,28 1,29 1,29 1,31 1,31 10 Informasi dan Komunikasi 2,11 2,11 1,97 2,19 1,99 1,99 2 2 1,95 1,95 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 1,13 1,13 1,05 1,15 1,11 1,11 1,12 1,12 1,1 1,1 12 Real Estate 0,91 0,91 0,83 0,96 0,8 0,8 0,82 0,82 0,84 0,84 13 Jasa Perusahaan 0,29 0,29 0,29 0,31 0,29 0,29 0,28 0,28 0,29 0,29 14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 5,01 5,01 4,86 5,13 5,11 5,11 5,12 5,12 5,48 5,48 15 Jasa Pendidikan 1,61 1,61 1,76 1,81 1,94 1,94 2,07 2,07 2,15 2,15 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,82 0,82 0,76 0,83 0,75 0,75 0,74 0,74 0,74 0,74 17 Jasa Lainnya 0,52 0,52 0,47 0,51 0,46 0,46 0,44 0,44 0,45 0,45 PDRB 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

(27)

B. Inflasi

Selama Tahun 2014, provinsi Kalimantan Utara mengalami inflasi sebesar 11,91 % persen, atau tejadi perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 159,96 pada bulan Desember 2013 menjadi 176,52 pada bulan Desember 2014. Penghitungan angka inlasi Provinsi Kalimantan Utara sudah terwakili oleh Kota Tarakan

Gambar 2. 4 Laju Inflasi Tahun 2009-2014 di Provinsi Kalimantan Utara

Sumber: Hasil Olahan, 2016 C. PDRB Per Kapita

PDRB per kapita digunakan untuk menunjukkan nilai PDRB per-kepala atau satu orang penduduk. PDRB per kapita digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. PDRB ADHK per kapita Provinsi Kalimantan Utara selama rentang tahun 2010-2014 menjadi bukti nyata pertumbuhan ekonomi per kapita yang positif. Pertumbuhan rata-rata PDRB ADHK per kapita penduduk Provinsi Kalimantan Utara sebesar 3,73%.

Tabel 2. 5 PDRB ADHK Perkapita Tahun 2010 s.d 2014 di Provinsi Kalimantan Utara

Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 Nilai PDRB (Juta Rp) 34.918.578 37.829.038 40.768.541 44.087.345 47.683.295 Jumlah Penduduk (jiwa) 524.147 547.377 570.904 594.982 618.207 PDRB perkapita (Rp/jiwa) 66.619.818 69.109.660 71.410.502 74.098.620 77.131.601 Sumber: Disperindagkop Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan

7.21 7.92 6.43 5.99 10.35 11.91 0 2 4 6 8 10 12 14 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 % Tahun

(28)

Nilai PDRB per satu penduduk dapat diketahui melalui PDRB ADHB per kapita. Pada tahun 2010 PDRB per kapita penduduk Provinsi Kalimantan Utara sebesar 66 juta. Angka ini terus meningkat hingga mencapai 95,5 juta pada tahun 2014 atau meningkat 8,15% dibanding tahun 2013.

Tabel 2. 6 PDRB ADHB Perkapita Tahun 2010 s.d 2014 Provinsi Kalimantan Utara

Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 Nilai PDRB (Juta Rp) 34.918.578 42.410.932 47.334.832 52.574.854 59.080.463 Jumlah Penduduk (jiwa) 524.147 547.377 570.904 594.982 618.207 PDRB perkapita (Rp/jiwa) 66.619.818 77.480.297 82.912.069 88.363.773 95.567.445 Sumber: Disperindagkop Provinsi Kalimantan Utara, 2016 dengan hasil olahan

Gambar 2. 5 PDRB ADHB perkapita 2010-2014 Provinsi Kalimantan Utara

D. Indeks Gini /Koefisien Gini

Indeks gini/koefisien gini merupakan salah satu indikator tingkat pemerataan distribusi pendapatan atau dengan kata lain indikator pengukur ketimpangan pendapatan. Koefisien gini merupakan suatu ukuran kemerataan yang dihitung dengan membagi penduduk berdasarkan tingkat pendapatannya kemudian menetapkan proporsi pendapatan yang diterima masing-masing kelompok penduduk. Angka koefisien gini berkisar antara nol

66.6 76.9 82.9 88.3 95.5 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 2010 2011 2012 2013 2014 Juta Rp Tahun

(29)

(pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Angka koefisien gini yang semakin mendekati nol berarti dapat diartikan bahwa pemerataan semakin baik. Sebaliknya, apabila angka koefisien semakin mendekati 1, maka dapat diartikan bahwa ketimpangan pendapatan semakin besar.

Tabel 2. 7 Koefisien Gini Tahun 2010 s.d 2014 Provinsi Kalimantan Utara

Kabupaten/Provinsi 20101 20111 20121 20132 2014 Bulungan 0,31 0,34 0,40 0,36 0,302 Malinau 0,23 0,33 0,35 0,33 Nunukan 0,27 0,34 0,35 0,25 Tana Tidung 0,26 0,31 0,30 0,24 0,273 Tarakan 0,19 0,27 0,31 0,33 Kalimantan Utara2 0,33 0,36 0,33 0,33 Nasional5 0,38 0,41 0,41 0,41 0,41 Sumber: 1) RPJP Kaltara

2) Kaltara Dalam Angka Tahun 2014 dan 2015

Koefisien gini Provinsi Kalimantan Utara pada periode tahun 2011-2014 relatif tetap. Hal ini mengindikasikan bahwa ketimpangan pendapatan yang terjadi masih dalam kategori ketimpangan rendah, yaitu antara 0,33-0,36. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa koefisien gini Provinsi Kalimantan Utara masih lebih kecil dibanding tingkat nasional. Artinya, kondisi distribusi pendapatan penduduk di Kalimantan Utara masih dapat dikatakan lebih baik dibanding rata-rata wilayah lain se-Indonesia.

E. Indeks Williamson (Indeks Ketimpangan Regional)

Indeks Williamson merupakan pendekatan kuantitatif yang digunakan untuk mengukr tingkat ketimpangan wilayah. Perhitungan Indeks Williamson didasarkan pada PDRB per kapita dan jumlah penduduk. Hasil pengukuran Indeks Williamson kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu:

a. IW <0,4 artinya tingkat ketimpangan rendah.

b. 0,4 < IW< 0,5 artinya tingkat ketimpangan moderat. c. IW > 0,5 artinya tingkat ketimpangan tinggi.

(30)

Jika indeks Williamson semakin mendekati angka 0 maka semakin kecil ketimpangan pembangunan ekonomi. Sebaliknya apabila indeks Williamson semakin mendekati angka 1 maka semakin besar ketimpangan pembangunan ekonomi.

Tabel 2. 8 Indeks Williamson Tahun 2010-2014 Provinsi Kalimantan Utara

Indikator Kabupaten /Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014

PDRB Perkapita Bulungan 1 65.242.285 68.464.033 71.694.894 74.343.814 76.088.963 Malinau2 79.048.416 78.214.964 76.320.500 83.447.507 88.420.984 Nunukan3 61.450.168 70.223.000 77.619.221 84.118.275 93.045.425 Tana Tidung4 186.569.464 174.993.430 169.184.885 161.528.529 159.914.224 Tarakan5 58.022.536 62.199.107 65.836.664 68.238.746 71.415.722 Jumlah Penduduk Bulungan1 112663 117019 120600 122985 126096 Malinau2 59555 62580 66845 71501 74469 Nunukan3 141927 148822 155680 162711 170042 Tana Tidung4 15202 16356 17079 18985 20400 Tarakan5 194800 202600 210700 218800 227200 Kalimantan Utara 524147 547.377 570904 594982 618207 Indeks

Williamson Kalimantan Utara6 0,35 0,3 0,26 0,24 0,23 Sumber:

1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun 2011, 2012, 2013, 2014, 2015 2) Kabupaten Malinau Dalam Angka 2013, 2014, 2015

3) Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2013, 2014, 2015

4) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun 2012, 2013, 2015 5) Kota Tarakan Dalam Angka 2015

6) Hasil Olahan 2016

Berdasarkan tabel di atas, Indeks Williamson Provinsi Kalimantan Utara tergolong rendah dan cenderung menurun dari tahun ke tahun. Indeks Williamson Provinsi Kalimantan Utara tercatat sebesar 0,35 pada tahun 2010 dan berhasil menurun hingga angka 0,23 di tahun 2014. Rendahnya nilai Indeks Williamson menunjukkan bahwa telah terwujudnya pemerataan pendapatan penduduk atau rendahnya ketimpangan pendapatan penduduk di Provinsi Kalimantan Utara.

F. Tingkat Kemiskinan

Dari jumlah penduduk miskin, dapat diketahui seberapa banyak penduduk yang telah berada di atas garis kemiskinan. Pada tahun 2007, persentase penduduk di atas garis kemiskinan Provinsi Kalimantan Utara mencapai 82,94% dari

(31)

total penduduk. Angka ini terus mengalami Kenaikan hingga mencapai angka 92,3% di tahun 2013. Jumlah penduduk di atas garis kemiskinan sedikit menurun di tahun 2014, yakni menjadi 90,6%.

Tabel 2. 9 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, serta Persentase Penduduk di atas Garis Kemiskinan Tahun 2007-2014 di Provinsi Kalimantan Utara

Tahun Jumlah penduduk miskin (000 jiwa) penduduk miskin Persentase Persentase penduduk di atas garis kemiskinan3

20071 77,8 17,06 82,94 20081 69,66 14,38 85,62 20091 66,15 12,97 87,03 20101 65,9 12,47 87,53 20111 57 10,33 89,67 20121 56,7 9,7 90,3 20132 46,4 7,73 92,3 20142 38,5 6,24 93,8 Sumber:

1) RPJP Provinsi Kalimantan Utara

2) Kalimantan Utara Dalam Angka 2014, 2015 3) Hasil Olahan 2016

Gambar 2. 6 Persentase Penduduk Di atas Garis Miskin Tahun 2007-2014 Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Hasil Olahan, 2016 82.94 85.62 87.03 87.53 89.67 90.3 92.3 93.8 76 78 80 82 84 86 88 90 92 94 96 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 %

(32)

Tabel 2. 10 Persentase penduduk miskin Tahun 2010-2014 Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara

Indikator Kabupaten/Provinsi 20101 20111 20121 20132 20142

Persentase

penduduk miskin Bulungan Malinau 14,58 15,31 12,14 12,67 11,76 11,68 12,04 10,48 12,03 10,26

Nunukan 12,45 10,38 9,62 9,51 8,69 Tana Tidung 13,89 11,41 9,81 10,21 9,48 Tarakan 10,23 8,41 7,95 7,9 7,79 Persentase penduduk di atas garis kemiskinan8 Bulungan 85,42 87,86 88,24 87,96 87,97 Malinau 84,69 87,33 88,32 89,52 89,74 Nunukan 87,55 89,62 90,38 90,49 91,31 Tana Tidung 86,11 88,59 90,19 89,79 90,52 Tarakan 89,77 91,59 92,05 92,1 92,21 Sumber:

1) RPJP Provinsi Kalimantan Utara

2) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun 2015 Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun 2015 Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun 2015 Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2015 Kota Tarakan Dalam Angka 2015

3) Hasil Olahan 2016

Gambar 2. 7 Persentase Penduduk Di atas Garis Miskin per Kabupaten/Kota

Tahun 2007-2014 Provinsi Kalimantan Utara

Sumber: Hasil Olahan, 2016

Tabel di atas menunjukkan dapat dilihat bahwa jumlah penduduk di atas garis kemiskinan paling tinggi ada di Kota Tarakan dengan tren pertumbuhan yang fluktuatif. Sedangkan yang terendah berada di Kabupaten Bulungan. Dengan kata

75 80 85 90 95 100 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 %

(33)

lain kesejahteraan penduduk saat ini masih dominan di Kota Tarakan dibanding Kabupaten yang lain.

G. Angka Kriminalitas yang Tertangani

Angka Kriminalitas merupakan variabel yang penting untuk diperhatikan. Kriminalitas merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi terkait dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, di sisi lain kriminalitas yang semakin tinggi dapat juga menjadi indikator bahwa belum terciptanya kesejahteraan masyarakat. Keduanya merupakan hubungan yang saling terkait. Angka kejahatan yang relatif tinggi dapat mengganggu terciptanya stabilitas keamanan di Provinsi Kalimantan Utara. Angka tersebut harus ditekan dengan upaya mengaktifkan berbagai pihak terkait dalam pengelolaan kelembagaan sosial di masyarakat. Terlebih Kalimantan Utara memiliki kawasan perbatasan yang berpotensi memiliki kerentanan tinggi terhadap kejahatan lintas negara. Berikut adalah angka kriminalitas Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2010 hingga 2015.

Tabel 2. 11 Angka Kriminalitas yang Tertangani di Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010-2015

Kabupaten/Kota 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Bulungan 11 13 14 n/a 9 n/a

Malinau 15 18 19 12 n/a n/a

Nunukan n/a 14 15 9 8 n/a

Tana Tidung 3 0 0 n/a n/a n/a

Tarakan 15 27 21 13 n/a n/a

Kalimantan Utara 10 18 17 9 4 n/a

Sumber :

1) Kabupaten Bulungan dalam Angka Tahun 2009,2010,2011,2012,2013, 2015 2) Kabupaten Malinau dalam Angka Tahun 2009,2010,2011,2012,2013,2014 3) Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun 2009, 2011, 2012,2013,2014,2015 4) Kabupaten Tana Tidung dalam Angka Tahun 2011,2012,2013

5) Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2008,2009,2011,2012,2013,2014,2015 6) Provinsi Kaimantan Timur dalam Angka Tahun 2009, 2013

7) Provinsi Kalimantan Utara dalam Angka Tahun 2015

Data di atas merupakan jumlah kriminalitas di Provinsi Kalimantan Utara meliputi kejahatan konvensional, kejahatan transnasional, kejahatan pelanggaran HAM, dan gangguan

(34)

Kamtibnas. Angka-angka yang tertera menunjukkan tindak kriminalitas yang fluktuatif sejak tahun 2007 hingga 2015, pernah menurun drastis pada tahun 2010 namun meningkat tajam pada tahun 2011, Akan tetapi perbedaan angka kriminal yang cukup tajam dalam tabel di atas juga dipengaruhi oleh perbedaan dari data yang diperoleh, Kendati demikian dilihat dari angka mutlak jumlah kriminalitas pada dua tahun terakhir aspek penanganan mengalami penurunan, artinya perlu diwaspadai secara terus menerus. Angka kriminalitas yang tertangani sedikitnya dipengaruhi oleh tiga faktor penting yaitu tidak kriminalitas yang terjadi itu sendiri, tindak penanganan kriminal yang terjadi, dan jumlah penduduk. Sebagai upaya tindaklanjut kedepan angka kriminalitas yang tertangani perlu tingkatkan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat preventif atau pencegahan tindak kriminalitas.

2.1.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial

A. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Kondisi umum kesejahteraan masyarakat Kalimantan Utara dapat dilihat dari pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai barometer indikasi peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang meliputi angka harapan hidup dan rata-rata pengeluaran riil per kapita (daya beli). Pencapaian IPM Tahun 2014 sebesar 68,64 poin

Berdasarkan tingkat keberhasilan pembangunan manusia pada suatu negara maka Human Development Report mengelompokkan tingkat keberhasilan pembangunan negara-negara dalam tiga golongan, yaitu :

a. Tingkat pembangunan manusia rendah, adalah negara-negara dengan IPM nya 0 – 49 (kurang dari 50);

b. Tingkat pembangunan manusia menengah, adalah Negara negara dengan nilai IPM 50 – 80;

c. Tingkat pembangunan manusia tinggi, adalah negara-negara dengan nilai IPM nya 80 ke atas

(35)

Sehingga menjadikan Provinsi Kalimantan Utara termasuk kategori/kelas pembangunan manusia menengah ke atas (UNDP; nilai IPM 66-80 termasuk kategori/kelas pembangunan manusia menengah ke atas). Selama kurun waktu Tahun 2013-2014 komponen indeks pendidikan, indeks kesehatan dan daya beli mengalami peningkatan.

Tabel 2. 12 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota

Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010-2014

2010 2011 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Nilai (ranking) 66,9 (2) 68,15 (2) 68,88 (2) 69,84 (2) 70 (2) La ju Pe rtumbuha n 1,87 1,07 1,39 0,23 Nilai (ranking) 66,79 (3) 67,63 (3) 68,16 (3) 68,66 (3) 69,25 (3) La ju Pe rtumbuha n 1,26 0,78 0,73 0,86 Nilai (ranking) 61,16 (4) 61,92 (4) 62,91 (4) 63,79 (4) 64,7 (4) La ju Pe rtumbuha n 1,24 1,6 1,4 1,43 Nilai 60,33 (5) 60,64 (5) 61,18 (5) 62,18 (5) 63,13 (5) La ju Pe rtumbuha n 0,51 0,89 1,63 1,53 Nilai (ranking) 70,95 (1) 71,6 (1) 72,53 (1) 73,58 (1) 74,6 (1) La ju Pe rtumbuha n 0,92 1,3 1,45 1,39 Nilai (ranking) 67,99 (14) 68,64 (14) La ju Pe rtumbuha n 0,96 KALTARA Tarakan Nunukan Tana Tidung Bulungan

Ka bupa te n/Kota IPM

Malinau

Sumber BPS Provinsi Kalimantan Timur

Komponen penyusun untuk menghitung IPM terdiri dari angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah, dan rata-rata pengeluaran riil. Perbandingan komponen penyusun IPM antar kabupaten/kota menunjukkan angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah dan rata-rata pengeluaran riil tertinggi terjadi di Kota Tarakan.

(36)

1) Angka Usia Harapan Hidup

Salah satu komponen penting pembentuk IPM dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah Angka Harapan Hidup yang merupakan indikator di bidang kesehatan dimana angka tersebut mengindikasikan peluang bayi baru lahir akan mencapai usia harapan hidup tertentu. Angka harapan hidup Provinsi Kalimantan Utara setiap tahun semakin meningkat dimana pada tahun 2010, angka harapan hidup di Kalimantan Utara sebesar 71,39 tahun dan pada tahun 2014 meningkat hingga mencapai angka 72,12 tahun yang berarti bayi baru lahir pada tahun 2014 akan memiliki peluang hidup hingga usia 71-72 tahun.

Tabel 2. 13 Angka Usia Harapan Hidup Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara

Tahun 2010-2014

Kabupaten /Kota

Angka Harapan Hidup

2010 2011 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Malinau 70,17 70,40 70,63 70,82 70,93 Bulungan 71,45 71,64 71,84 72,02 72,11 Tana Tidung 70,03 70,26 70,47 70,68 70,80 Nunukan 70,08 70,30 70,53 70,74 70,82 Tarakan 72,77 73,00 73,23 73,41 73,50 KALTARA 71,39 71,60 71,82 72,02 72,12

Sumber BPS Provinsi Kalimantan Timur

2) Rata-rata Lama Sekolah

Beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial adalah indikator di bidang pendidikan. Faktor pendidikan merupakan kunci peningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berujung pada kesejahteraan masyarakat karena tingginya pendidikan masyarakat akan berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusia khususnya di Kalimantan Utara. Terkait dengan IPM, indikator makro yang digunakan dalam menentukan keberhasilan pendidikan adalah rata-rata lama sekolah.

(37)

Tabel 2. 14 Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara

Tahun 2010-2014

Kabupaten /Kota

Rata-Rata Lama Sekolah

2010 2011 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Malinau 7,13 7,43 7,75 8,27 8,27 Bulungan 7,64 7,65 7,88 7,90 8,27 Tana Tidung 7,13 7,37 7,62 7,79 7,84 Nunukan 6,83 6,92 7,01 7,07 7,21 Tarakan 8,99 9,06 9,16 9,28 9,90 KALTARA 8,10 8,35

Sumber BPS Provinsi Kalimantan Timur

3) Harapan Lama Sekolah

Angka rata-rata lama sekolah di Provinsi Kalimantan Utara yang hanya mencapai 8.35 pada tahun 2014 dinilai masih cukup jauh dari sasaran rata-rata lama sekolah penduduk usia di atas 15 tahun nasional 20191 yang sebesar 8,8

tahun. Provinsi Kalimantan Utara secara umum perlu mengejar ketertinggalan untuk mencapai target tersebut. Hal ini dapat diusahakan dengan meningkatkan angka rata-rata lama sekolah di 4 kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu Kabupaten Bulungan, Malinau, Nunukan, dan Tana Tidung. Berikut ini merupakan grafik angka rata-rata lama sekolah di Provinsi Kalimantan Utara.

Tabel 2. 15 Angka Usia Harapan Lama Sekolah Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara

Tahun 2010-2014

Kabupaten/Kota Harapan Lama Sekolah

2010 2011 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Malinau 12,39 13,08 13,12 13,17 13,22 Bulungan 11,67 12,33 12,44 12,48 12,53 Tana Tidung 10,84 11,07 11,30 11,54 12,14 Nunukan 11,25 11,30 11,58 11,86 12,39 Tarakan 11,78 12,17 12,57 13,28 13,39 KALTARA 12,30 12,52

Sumber BPS Provinsi Kalimantan Timur

(38)

4) Pengeluaran Per Kapita

Dari tahun 2008-2014, diketahui bahwa pengeluaran per kapita di Provinsi Kalimantan Utara mengalami perkembangan positif. Dalam sebulan pada tahun 2013, pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita adalah sebesar 837 ribu rupiah. Angka ini meningkat menjadi 1 juta rupiah di tahun 2014 atau mengalami peningkatan 20% dari tahun sebelumnya. Di tingkat Kabupaten/Kota, pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Kabupaten Bulungan mencapai 600ribu rupiah per kapita per bulan. Sedangkan Kabupaten Malinau dan Kabupaten Tana Tidung telah mencapai kurang lebih satu juta rupiah.

Kenaikan angka pengeluaran rumah tangga per kapita dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kompleksitas kebutuhan dan inflasi. Jenis kebutuhan per kapita yang semakin kompleks dapat langsung mempengaruhi kenaikan pengeluaran. Di samping itu, inflasi tinggi yang merupakan dampak dari kenaikan harga barang-barang juga menjadi penyebab semakin tingginya angka pengeluaran rumah tangga per kapita. Untuk menjaga kesejahteraan masyarakat dan kestabilan ekonomi, laju inflase mestinya lebih rendah dibandingkan besar pengeluaran konsumsi.

B. Angka Kematian Bayi

Kematian bayi adalah kematian yang terjadi pada saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.

Angka kematian bayi (AKB) menunjukkan banyaknya kematian bayi berusia di bawah satu tahun, per 1.000 kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu. Kegunaan dari indikator ini adalah untuk menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat di mana angka kematian itu dihitung. Data AKB ini dapat digunakan untuk dasar merencanakan program-program pelayanan kesehatan ibu hamil dan bayi. Sedangkan Angka kelangsungan hidup bayi (AKHB) adalah probabilitas bayi hidup sampai dengan usia 1 tahun. Angka ini dihitung dari nilai 1

(39)

dikurangi dengan AKB, di mana angka 1 mewakili per 1.000 kelahiran hidup.

Tabel 2. 16 Angka Kematian Bayi tahun 2010-2015 Provinsi Kalimantan Utara

Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Jumlah kematian bayi 146 154 191 146 236 154

Jumlah bayi lahir hidup 11400 12547 11347 12298 11848

Angka Kematian Bayi per

1.000 kelahiran hidup 12,8 12,3 16,8 19,2 13,00

Angka Kelangsungan

Hidup Bayi 987,19 987,73 983,17 980,81 987,00

Sumber:

1) Profil Kesehatan Kalimantan Timur 2011-2012 2) Profil Kesehatan Kabupaten Bulungan 2008-2012,

3) Kabupaten Malinau dalam angka 2008-2011; Profil Kesehatan Malinau 2012-2013 4) Renstra Dinkes Tarakan 2008-2009; Profil Kesehatan Tarakan 2010-2012 5) IPM Kabupaten Tana Tidung 2009-2010; Profil Kesehatan Tana Tidung 2012-2013 6) Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2014

7) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016

Berdasarkan tabel Tabel 2.15, AKB di Provinsi Kalimantan Utara pada tahun Pada tahun 2010 dan 2011, meskipun jumlah bayi meninggal bertambah banyak, AKB sempat mengalami penurunan sedikit menjadi 12,8 dan turun lagi menjadi 12,3 di tahun 2011 karena peningkatan jumlah kelahiran hidup yang cukup tinggi. Kemudian AKB di tahun 2012 naik cukup signifikan menjadi 16,8 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2014 AKB naik kembali hingga 19,2 per 1.000 kelahiran hidup dan AKHB sebesar 981. Jumlah kematian di tahun 2014 ini (236 kasus) adalah yang terbanyak sejak 7 tahun terakhir, begitupula AKB di tahun ini juga yang tertinggi dan AKHB terendah sejak 2008.

Tabel 2. 17 Angka Kelangsungan Hidup Bayi menurut Kabupaten Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara

Kabupaten Jumlah Kematian Bayi Jumlah Bayi Lahir Hidup Angka Kematian Bayi per 1000 kelahiran hidup AKHB Kabupaten Bulungan 45 2580 17,4 982,6 Kabupaten Malinau 12 1234 9,7 990,3 Kabupaten Nunukan 32 3747 8,5 991,5 Kabupaten Tana Tidung 1 400 2,5 997,5 Kota Tarakan 64 3887 16,5 983,5 Jumlah 154 11848 13,0 987,0

(40)

Data per kabupaten di tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel 2.16. Kondisi terkini di Provinsi Kalimantan Utara untuk urusan kematian bayi mengalami perbaikan. Jumlah kematian bayi pada tahun ini mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu menjadi 154 kasus sehingga angka kematian bayi turun menjadi 13 per 1.000 kelahiran hidup. Dari kelima kabupaten/kota, jumlah kematian dan kelahiran hidup terbanyak berada di Kota Tarakan, namun AKB tertinggi berada di Kabupaten Bulungan karena jumlah kematian tidak jauh beda dengan Kota Tarakan dengan jumlah kelahiran hidup jauh lebih rendah dari Tarakan sehingga angka kematiannya menjadi tinggi. Hal ini serupa dengan yang terjadi di Kabupaten Tana Tidung tahun 2012 -2014. Kematian di kabupaten ini tidaklah lebih dari 20 kasus namun karena jumlah kelahiran hidup sangat kecil menyebabkan AKB menjadi tinggi sekali hingga mencapai 45 di tahun 2014 (Gambar 2.8).

Gambar 2. 8 Grafik Angka Kematian Bayi Tahun 2007-2015 Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Hasil Analisis 2016

Secara umum, angka kematian bayi dari tahun 2008-2015 berada di bawah batas yang ditetapkan MDG’s untuk tahun 2015. Semua kabupaten/kota pada tahun ini berada di bawah batas MDG’s. Upaya-upaya untuk mempertahankan keadaan ini

13.5 12.8 12.3 16.8 19.2 13.0 34 32 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00 50.00 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 An gka Ke m at ian Bay i Tahun

Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung

Gambar

Gambar 1. 2  Hubungan Antar Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah
Gambar 2. 2  Peta Administratif Provinsi Kalimantan Utara
Tabel 2. 3  Penduduk Kepadatan Kabupaten / Kota Tahun 2012-2014 :   Kabupaten/Kota  Luas  Wilayah  (Km 2 )  Jumlah Penduduk 2010 2011 2012  2013  2014  Bulungan  13181,92  9  9  9  12  12  Malinau  40088,41  2  2  2  2  2  Nunukan  14247,5  10  11  11  11
Gambar 2. 3  PDRB dari Tahun 2010 s.d 2014 Berdasarkan ADHK Tahun Dasar 2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian-uraian dan penelitian empiris di atas, maka rumusan hipotesis penelitian ini adalah: (1) tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada profitabilitas

Dari hasil penelitian yang yang telah dianalisis secara statstik dipeoleh hasil akhir yang menunjukkan ada hubungan positif antara prestasi aqidah akhlak dengan budi

Pengolahan data menggunakan sistem yang baru memiliki kelebihan dibanding yang lama, seperti dalam pengolahan data menjadi lebih cepat, data lebih aman karena

Risiko pasar dalam investasi ORI dapat dihindari apabila pembeli ORI di Pasar Perdana tidak menjual ORI sampai dengan jatuh tempo dan hanya menjual ORI jika harga jual (pasar)

Namun demikian yang sebenarnya tidak demikian, karena hal ini disebabkan relativitas khusus menyatakan bahwa kita tidak dapat menghubungkan waktu yang ditunjukkan oleh jam pada

[r]

Diagram pencar atau disebut juga dengan diagram titik ( diagram sebaran ) ialah diagram yang menunjukan gugusan titik titik setelah garis koordinat sebagai penghubung dihapus..

kegiatan penempatan atau pemberangkatan calon transmigran yang merupakan. warga Kota Semarang minat transmigrasi ke lokasi permukiman transmigrasi