SMK NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN
MODUL
Mata Pelajaran : Sejarah
Kelas / Semester : X (Sepuluh) / Genap
BAB :10/ Perkembangan Kehidupan Politik dan Ekonomi pada Masa Awal Kemerdekaan Sampai Masa Demokrasi Terpimpin
Sub Tema : a. Perkembangan Kehidupan Bangsa Indonesia pada masa Awal Kemerdekaan b. Indonesia Masa Demokrasi Liberal
KB. 09
Tahun Pelajaran 2020/2021
A. Kompetensi Dasar
3.10. Mengevaluasi perkembangan kehidupan politik dan ekonomi Bangsa Indonesia pada masa awal kemerdekaan sampai dengan masa Demokrasi Terpimpin
4.10. Menyajikan hasil telaah tentang perkembangan kehidupan politik dan ekonomi Bangsa Indonesia pada masa awal kemerdekaan sampai masa Demokrasi Terpimpin
B. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu:
1. Mengevaluasi perkembangan kehidupan politik dan ekonomi bangsa Indonesia pada masa awal kemerdekaan
2. Mengevaluasi perkembangan kehidupan politik dan ekonomi bangsa Indonesia pada masa Demokrasi Liberal
3. Melakukan penelitian sederhana tentang kehidupan politik dan ekonomi bangsa Indonesia pada masa awal kemerdekan dan masa Demokrasi Liberal
C. Uraian Materi Pembelajaran
A. Perkembangan Kehidupan Bangsa Indonesia pada Masa Awal Kemerdekaan
Di awal masa kemerdekaannya, Indonesia harus mengalami masalah baru di berbagai bidang, dan pemerintah harus menyandarkan diri pada orang-orang yang berpengalaman, seperti Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Dr. Ong Eng Die, Ignatius Joseph Kasimo, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain.
Terlepas dari peran para ahli ternyata Indonesia dapat bertahan juga karena partisipasi para petani, dapat dibayangkan bahwa pada saat itu kas negara kosong dan pemasukan yang berjalan saat itu dari hasil pertanian.
Foto: llustrasi Indonesia Awal Kemerdekaan
Untuk pertama kalinya dalam kehidupan rakyat Indonesia kebanyakan, segala sesuatu yang serba paksaan dari bangsa asing hilang secara tiba-tiba. Di pihak Belanda sendiri menganggap Revolusi Indonesia sebagai suatu zaman yang merupakan kelanjutan dari masa lampau, mereka bertujuan menghancurkan sebuah negara yang baru saja memproklamirkan kemerdekaan mulai dengan cara blokade ekonomi salah satunya.
Meskipun telah dibacakan proklamasi, banyak raja-raja luar Jawa yang telah didukung dan dijadikan kaya oleh Belanda sehingga tidak tertarik kepada Revolusi. Mereka tidak menyukai pimpinan di Jakarta sebagai wakil-wakil kekuatan Revolusi, meskipun tidak semua raja bersikap demikian, seperti Raja Bone di Sulawesi Selatan menyatakam dukungannya dan mengakui kekuasaan G.S.S.J. Ratulangi sebagai Gubernur Republik di sana.
Perubahan di masa awal kemerdekaan diantaranya meliputi perubahan di bidang pendidikan dengan berdirinya Universitas Gadjah Mada yang merupakan Sekolah Tinggi teknik di Bandung serta lembaga pendidikan lain yang berdiri pada waktu yang hampir bersamaan di tahun 1946 adalah Perguruan Tinggi Kedokteran, Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan, Sekolah Tinggi Farmasi, dan Perguruan Tinggi Pertanian yang kesemuanya berada di Klaten, sekitar 20 kilometer dari Yogyakarta.
Di bidang sosial dan budaya ditandai dengan lahirnya seniman dan sastrawan nasional, seperti penyair Chairil Anwar, penulis prosa Pramoedya Ananta Toer, yang sebagian tulisannya dikerjakan di penjara Belanda pada tahun 1947-1949, Wartawan Mochtar Lubis, dan lain-lain serta terbentuknya PWI dan PGRI sebagai upaya untuk melakukan perjuangan melalui organisasi.
Kemudian dalam bidang ekonomi yaitu Konferensi Ekonomi Indonesia, Pembentukan Badan Perancang Ekonomi, Rencana Kasimo, Program Pinjaman Nasional, Pengurangan Defesit Anggaran, dan yang paling signifikan yakni dicetaknya Oeang Repoeblik Indonesia, uang adalah lambang utama suatu negara merdeka serta sebagai alat untuk memperkenalkan diri kepada khalayak umum.
Kemudian dalam bidang politik sebagai bangsa yang baru merdeka, amatlah wajar bila para tokoh bangsa, seperti Ir. Soekarno. Moh. Hatta, Sutan Sjahir dan lain-lain berusaha untuk merumuskan berbagai macam kebijakan di bidang politi. Rumusan kebijakan itu diharapkan dapat menjadi pendorong dalam penyelenggaraan negara menjadi lebih baik. Kebijakan di bidang politik itu antara lain yaitu Pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Pendirian Partai-Partai Politik, Dimulainya Sistem Parlementer, Pemindahan Ibu Kota Republik Indonesia, dan Pembentukan Tentara Nasional,
Meskipun tengah menghadapi inflasi dan blokade ekonomi, Indonesia dapat bertahan dengan segala upayanya melalui para ahli di bidang ekonomi, satu hal yang menarik adalah ketika tengah mengatasi blokade ekonomi, Indonesia berhasil mengirimkan bantuan beras ke India, ini berkat dukungan dari para petani karena penghasilan pemerintah hanya bergantung kepada produksi pertanian. sehingga pemerintah RI bertahan sekalipun keadaan ekonomi sangat buruk.
B. Indonesia Masa Demokrasi Liberal
Dalam perjalanannya, bangsa Indonesia telah mengalami banyak perubahan baik secara konstitusi maupun sistem pemerintahan. Dimana, pasca kemerdekaan tahun 1945, Indonesia masih mencari sistem pemerintahan yang dirasa sesuai dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu sistem pemerintahan yang pernah diterapkan di Indonesia adalah sistem Demokrasi Liberal. Demokrasi Liberal sendiri merupakan sistem politik yang melindungi secara konstitusional hak-hak individu dari kekuasaan pemerintah.
Berawal dari pengakuan kedaulatan, bangsa Indonesia mulai mengadakan penataan kehidupan politik dan ekonomi. Masa demokrasi liberal adalah masa dimana sistem parlementer Indonesia masih mencontoh sistem parlementer barat yang dibentuk setelah dibubarkannya Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1950.
Masa demokrasi liberal ini ditandai dengan tumbuh suburnya partai politik dan berlakunya kabinet parlementer. Dimana, pada masa itu Indonesia sebagai “negara baru” harus banyak belajar dalam berbagai hal, sehingga negara semakin kuat. Salah satunya dalam bidang ekonomi, yang akibat sering terjadinya perubahan kabinet berdampak negatif terhadap kehidupan ekonomi Indonesia.
Demi memperbaiki kondisi tersebut, beberapa kebijakan ekonomi pun dikeluarkan oleh pemerintah. Adapun program-program di masa demokrasi liberal itu meliputi Gunting Starifudi, Program Banteng, Nasionalisasi De Javasche Bank dan Kebijakan Ekonomi Ali-Baba.,
Gunting Syarifudin
Gunting Syarifudin adalah kebijakan pemotongan nilai uang atau senering yang diambil Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara. Pada 20 Maret 1950, semua uang yang bernilai Rp.2,50 keatas dipotong nilainya hingga setengahnya. Hal ini bertujuan guna menanggulangi deficit anggaran sebesar Rp.5,1 miliar dan bisa mengurangi jumlah uang yang beredar.
Program Benteng
Program Benteng adalah sistem ekonomi yang bertujuan mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional, dengan menumbuhkan pengusaha Indonesia lewat kredit. Sayangnya, program ini gagal karena pengusaha tak mampu bersaing dan malah berdampak negative terhadap deficit anggaran yang membengkak menjadi 3 miliar pada tahun 1952.
Nasionalisasi De Javasche Bank
Pada tahun 1951, pemerintah menasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menaikan pendapatan, menurunkan biaya ekspor, dan menghemat secara drastis. Dengan nasionalisasi bank yang semula milik Belanda ini maka pemerintah lebih leluasa dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan moneter.
Kebijakan Ekonomi Ali-Baba
Sistem ekonomi Ali Baba ini melibatkan pengusaha pribumi (Ali) dan pengusaha keturunan Tionghoa (Baba). Lewat program ini, pengusaha keturuanan Tionghoa diwajibkan melatih tenaga pribumi, dan imbalannya mereka akan mendapat bantuan kredit dan lisensi dari pemerintah.
Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Setelah pemilu berakhir, badan konstituante yang terbentuk kemudian bertugas membuat undang-uindang Dasar baru sebagai pengganti UUDS (1950). Ternyata setelah bersidang selama tiga tahun, badan itu gagal menyelesaikan tugasnya. Akhirnya Badan Konstituante mengadakan reses untuk waktu yang tidak ditentukan. Dengan demikian, kondisi politik pada saat itu sangat membahayakan keselamatan bangsa dan negara. Oleh karena itu, pada tanggal 5 Juli 1959 presiden Soekarno mengeluarkan sebuah dekrit yang kemudian dikenal dengan sebutan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dikeluarkan pada hari minggu 17.00 di Istana Negara, berdasarkan Keppres No.150/1959. Isi Dekrit Presiden sebagai berikut.
a. Pembubaran Badan Konstituante
b. Tidak berlakunya lagi UUDS 1950 dan berlakunya kembali UUD 1945 c. Pembubaran MPRS dan DPAS
Pemilihan Umum Pertama
Pada masa demokrasi liberal ini tahun 1955, pemerintah untuk pertama kalinya melakukan pemilihan umum nasional. Pada bulan September rakyat memilih wakil untuk DPR dan pada bulan Desember pemilih kembali memilih wakil-wakil yang lebih banyak lagi yang akan bekerja di sebuah institusi yang dikenal dengan konstituante.
Disamping itu, terjadi beberapa krisis politik dimana banyak pergantian kabinet diakibatkan situasi politik yang tidak stabil. Tercatat ada 7 kabinet pada masa itu yaitu, kabinet Natsir (6 September 1950-21 Maret 1951), Kabinet Sukiman-Suwirjo (26 April 1951-3 April 1952), Kabinet Wilopo (3 April 1952-3 Juni 1953), Kabinet Ali Sastroamidjojo (31 Juli 1953-12 Agustus 1955), Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955-3 Maret 1956), Kabinet Ali Sastroamidjojo II (20 Maret 1956-4 Maret 1957), Kabinet Djuanda (9 April 1957-5 Juli 1959).
D. Tugas
1. Tuliskan Ciri-ciri Parlementer!
2. Bagaimana peran Presiden setelah Dekrit 5 Juli 1959? Jelaskan secara singkat! 3. Tuliskan tujuh kabinet pada masa Demokrasi Liberal!
4. Jelaskan apa yang menjadi latar belakang keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959?
5. Jelaskan secara singkat kehidupan politik dan ekonomi bangsa Indonesia pada masa awal kemerdekan dan masa Demokrasi Liberal