DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT KEUANGAN UMUM
2007
PENGELOLAAN KEKAYAAN NEGARA
(Diklat Jarak Jauh)
MODUL
Prinsip dan Teknik Manajemen
Kekayaan Negara
Proses pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu sarana yang senantiasa diperlukan oleh setiap orang, termasuk mereka yang tengah bekerja dalam rangka meningkatkan karir kerja dalam kehidupannya, karena proses pembelajaran pada hakekatnya adalah salah satu cara untuk terjadinya peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia dalam rangka mengantisipasi permasalahan dan pemenuhan kebutuhan kerja di masa depan.
Modul ‘Prinsip dan Teknik Manajemen Kekayaan Negara’ yang ditulis oleh Saudara Arik Hariyono, SPI, M.Si. ini disusun dan digunakan dalam Diklat Teknis Substantif Spesialisasi (DTSS) Pengelolaan Kekayaan Negara yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Keuangan Umum bagi pegawai dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Departemen Keuangan, dan dirancang untuk memberi bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bagi pegawai DJKN dalam bidang kekayaan negara guna meningkatkan motivasi dan memperlancar kemampuan dalam rangka penugasan tugas di lingkungan kerja DJKN. Modul ini sudah mendapatkan masukanmasukan dari berbagai pihak, diantaranya Saudara Iwan Hindawan Dadi, MBP (dari DJKN) dan Ibu Dr. Durri Andriani (dari Universitas Terbuka).
Kami menghargai dan berterima kasih atas upaya penulis dan pereview dalam mempersiapkan dan menyusun modul ini sehingga turut membantu memberikan kemudahan bagi peserta pendidikan dan pelatihan di lingkungan Pusdiklat Keuangan Umum Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan. Jakarta, November 2007 Kepala Pusdiklat Keuangan Umum, ttd Agus Hermanto NIP 060048497
PRINSIP DAN TEKNIK
MANAJEMEN KEKAYAAN NEGARA
DISUSUN OLEH : ARIK HARIYONO SP.I., MSi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii PENGANTAR ... 1 TINJAUAN MATA PELATIHAN ... 1 TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM... 1 TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS... 1 KEGIATAN BELAJAR 1 PENGANTAR MANAJEMEN ASET/KEKAYAAN NEGARA ... 3 1.1. Definisi Manajemen Aset... 3 1.2. Sasaran Manajemen Aset ... 4 1.3. Tujuan Manajemen Aset ... 7 1.4. Tanggung Jawab Manajemen Aset ... 8 A. Entitas... 8 B. Kontrol ... 9 C. Akuntabilitas... 9 1.5. Langkah Awal Manajemen Aset ... 9 RANGKUMAN ... 10 LATIHAN... 10 KEGIATAN BELAJAR 2 KONSEP DASAR MANAJEMEN ASET ... 11 2.1. Pengertian Aset ... 11 2.2. Kerangka Manajemen Aset ... 13 2.3. Reformasi Manajemen Aset ... 14 2.4. Kerangka Kerja Reformasi Manajemen Aset... 16 2.5. Siklus Hidup Aset ... 18 2.6. Konsep Manajemen Keuangan dan Akuntansi... 21 A. Manajemen Keuangan dan Akuntansi ... 22 B. Konsep Akuntansi... 22 1. Pengakuan Aset... 22 2. Potensi Manfaat ... 23 RANGKUMAN ... 27 LATIHAN... 27KEGIATAN BELAJAR 3 PRINSIP DAN TEKNIK MANAJEMEN ASET ... 28 3.1. Pentingnya Manajemen Aset ... 28 3.2. Aktivitas Utama Manajemen Aset ... 29 A. Analisis Kebutuhan (Needs Analysis) ... 29 B. Penilaian Ekonomis (Economic Appraisal) ... 29 C. Perencanaan (Planning)... 30 D. Penganggaran (Budgeting) ... 30 E. Penentuan Harga (Pricing) ... 30 F. Pengadaan dan Penghapusan (Acquisition and Disposal) ... 30 G. Pencatatan, Penilaian, dan Pelaporan (Recording, Valuation, and Reporting) . 30 H. Manajemen dalam Penggunaan (Management in Use)... 31 3.3. Prinsip dan Teknik Manajemen Aset ... 31 A. Perencanaan Terintegrasi ... 32 B. Pengadaan... 32 C. Akuntabilitas untuk Aset ... 33 D. Penghapusan Aset ... 33 E. Pengendalian Manajemen ... 34 3.4. Strategi Manajemen Aset ... 35 A. Menentukan Kebutuhan Aset ... 36 B. Mengevaluasi AsetAset yang Telah Ada ... 37 C. Membandingkan antara Permintaan dan Penawaran ... 38 D. Strategi Manajemen Aset ... 38 RANGKUMAN ... 39 LATIHAN... 39 KEGIATAN BELAJAR 4 PROFESIONALISME MANAJEMEN ASET... 40 4.1. Struktur Pengendalian Internal ... 40 4.2. Kebijakan dan Prosedur ... 40 4.3. Daftar Aset (Asset Registered) ... 41 RANGKUMAN ... 43 LATIHAN... 43 KEGIATAN BELAJAR 5 PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN ASET ... 44 5.1. Menentukan Kebutuhan Aset ... 44 A. Strategi Penyediaan Pelayanan ... 45 B. Alternatif nonaset ... 45
5.2. Mengevaluasi AsetAset yang Ada... 46 A. Mengevaluasi Kinerja Aset ... 46 B. Proyek yang sedang Berjalan ... 47 5.3. Menyesuaikan/Menyelaraskan Aset dengan Penyediaan Pelayanan... 47 5.4. Mengembangkan Strategi Aset... 48 A. Membandingkan Aset yang Telah Ada dengan Kebutuhan... 48 B. Strategi Aset ... 48 C. Elemen Penyusunan Strategi Aset ... 50 D. Asuransi... 51 5.5. Pendanaan dan Penganggaran Modal ... 52 A. SumberSumber Pendanaan Modal ... 52 B. Transparansi Pendanaan untuk Suatu Aset ... 52 RANGKUMAN ... 52 LATIHAN... 53 KEGIATAN BELAJAR 6 PENGADAAN ASET ... 54 6.1. Rencana Pengadaan ... 54 6.2. Keputusan Pengadaan ... 55
A. Alternatif untuk Kepemilikan Aset... 55
B. Menyusun LifeCycle Cost ... 56 6.3. Metode Pengadaan... 57 A. Sewa versus Beli... 58 B. Keputusan Pengadaan ... 59 C. Pengadaan Tanah ... 60 6.4. Metode Kontrak/Perjanjian ... 62 A. Kontrak Lump Sump... 62 B. Kontrak Desain dan Konstruksi... 62 C. BangunOperasikanTransfer (Built OperateTransfer/BOT)... 62 RANGKUMAN ... 63 LATIHAN... 63 KEGIATAN BELAJAR 7 PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN ASET... 64 7.1. Kinerja Aset... 65 A. Kondisi Fisik ... 65 B. Pemanfaatan (Utilisation)... 65 C. Fungsionalitas ... 66 D. Kinerja Finansial... 67 7.2. PrinsipPrinsip Akuntabilitas ... 67
A. Akuntabilitas Finansial... 68 B. Akuntabilitas Kinerja ... 69 7.3. Kebijakan Pemeliharaan Aset... 69 A. Strategi Pemeliharaan ... 71 B. Rencana Operasional dan Pemeliharaan ... 72 C. Kriteria untuk Menilai Kinerja Pemeliharaan ... 73 RANGKUMAN ... 73 LATIHAN... 74 KEGIATAN BELAJAR 8 PENGHAPUSAN ASET ... 75 8.1. Keputusan Penghapusan ... 76 8.2. Metode Penghapusan ... 77 8.3. Penilaian Kinerja ... 78 RANGKUMAN ... 78 LATIHAN... 78 KEGIATAN BELAJAR 9 PENCATATAN, PENILAIAN, DAN PELAPORAN ASET ... 79 9.1. Kebutuhan Informasi Aset ... 79 A. Sistem Informasi Aset ... 80 B. Data Kinerja Aset... 80 9.2. Pencatatan Aset ... 81 A. Pertanggungjawaban ... 81 B. Ambang Pencatatan ... 81 C. Aset Core dan NonCore ... 82 D. Mengelompokkan Aset (Grouping of Assets)... 82 E. Pengumpulan Aset (Aggregation of Assets) ... 82 9.3. Perekaman Informasi Aset ... 83 A. Data aset pada waktu pengadaan ... 83 B. Pengeluaran atas Aset yang Telah Ada ... 83 C. Inventarisasi (stocktaking) ... 84 9.4. Akuntansi dan Penilaian Aset... 84 A. Definisi Aset ... 84 B. Penilaian Aset ... 84 RANGKUMAN ... 85 SOALSOAL LATIHAN ... 86 DAFTAR PUSTAKA... 87
TINJAUAN MATA PELATIHAN
Mengingat keterbatasan referensi, maka penyusunan modul ini khususnya untuk manajemen kekayaan negara, contoh penerapannya banyak mengacu pada praktik terbaik (best practices) manajemen kekayaan negara dari negara lain seperti Australia dan Amerika Serikat. Manajemen kekayaan negara ini pada prinsipnya ditujukan sebagai pendukung aktivitas penyediaan/pemberian pelayanan kepada stakeholder sehingga diperlukan manajemen yang efektif. Tentunya, hal ini bertujuan untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dan biaya yang minimal dalam penyediaan pelayanan kepada
stakeholder.
Kehadiran modul ini diharapkan dapat memberikan bekal sekaligus kontribusi kepada pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) untuk membantu memberikan pemahaman kerangka konseptual (conceptual framework) atau wacana tentang manajemen kekayaan negara, khususnya aset tetap (fixed assets). Harapannya, aset tetap tersebut dapat dikelola dengan intensif sehingga mengurangi potensi kerugian yang dapat dialami negara bila tidak ada manajemen aset yang optimal.
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Secara umum modul ini sebagai pengantar bagi Anda untuk melengkapi pengetahuan dan keahlian yang mendukung tupoksi DJKN terutama berkaitan dengan manajemen kekayaan negara. Modul ini bertujuan juga untuk menjadi stimulus terciptanya:
1. Perencanaan siklus hidup aset dan prinsipprinsip manajemen aset yang lebih baik; 2. Kebijakan dan peraturan perundangan terkait manajemen kekayaan negara;
3. Standar operasi yang lebih baik untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat atau stakeholder.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah membaca dan mempelajari modul ini, Anda diharapkan mampu untuk:
1. Menjelaskan tentang manfaat, tujuan, kegiatan, dan ruang lingkup manajemen aset/ kekayaan negara.
2. Menguraikan secara ringkas tentang definisi, maksud, konsep dasar serta kerangka manajemen aset/ kekayaan negara
3. Menjelaskan tentang aktivitas utama, prinsipprinsip, dan metodologi yang disarankan dalam manajemen aset/ kekayaan negara
4. Menguraikan siklus hidup aset, tanggung jawab, konsep manajemen keuangan dan akuntansi dalam manajemen aset/ kekayaan negara.
5. Menjelaskan tentang analisis kebutuhan, evaluasi atas aset yang telah ada, pengembangan strategi, serta pendanaan dan penganggaran modal dalam manajemen aset/ kekayaan negara.
6. Menjelaskan tentang rencana pengadaan, alternatif kepemilikan, pembangunan, metode kontrak, dan kontrol atas aset/ kekayaan negara.
7. Menjelaskan tentang kinerja aset, prinsipprinsip akuntabilitas, rencana operasional serta kebijakan pemeliharaan aset / kekayaan negara.
8. Dapat menentukan kapan keputusan penghapusan aset, menentukan metode penghapusan aset, dan melakukan penilaian kinerja.
9. Menjelaskan pentingnya kebutuhan informasi tentang aset, pencatatan aset, maupun perlunya penilaian aset
Berikut ini petunjuk untuk memudahkan Anda mempelajari materi dalam modul Prinsip dan Teknik Penglolaan Kekayaan Negara.
1. Baca pendahuluan setiap modul dengan cermat sebelum membaca materi kegiatan belajar.
2. Baca materi kegiatan belajar dengan cermat, jika dalam kegiatan belajar diberikan contoh, cobalah untuk mencari contoh dari pengalaman Anda sendiri.
3. Kerjakan latihan sesuai dengan petunjuk yang diberikan. Kunci latihan tidak disediakan, untuk itu Anda diharapkan untuk membaca ulang modul ini setelah mengerjakan latihan.
4. Buat rangkuman dan bandingkan rangkuman yang Anda buat dengan rangkuman yang disediakan.
KEGIATAN BELAJAR 1
PENGANTAR MANAJEMEN ASET/KEKAYAAN NEGARA
Materi dalam Kegiatan Belajar 1 akan mengantarkan Anda untuk lebih memahami tentang definisi , sasaran, tujuan, tanggung jawab dan langkahlangkah yang diperlukan dalam manajemen aset terutama untuk pengelolaan kekayaan negara.
1.1. Definisi Manajemen Aset
Dalam pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah menyebutkan (1) pengelolaan barang milik negara/daerah dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi dan keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai. (2) Pengelolaan barang milik negara/daerah meliputi: perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian. Definisi pengelolaan atau manajemen aset dalam Ketentuan Umum Peraturan Pemerintah tersebut tidak ada. Namun demikian ada beberapa definisi yang berbeda tentang manajemen aset.
Pemerintah South Australia mendefinisikan manajemen aset sebagai “… a
process to manage demand and guide acquisition, use and disposal of assets to make the most of their service delivery potential, and manage risks and costs over their entire life”. 1
Sedangkan Departemen Transportasi Amerika Serikat mendefinisikan manajemen aset sebagai “…a systematic process of maintaining, upgrading, and
operating physical assets costeffectively. It combines engineering principles with sound business practices and economic theory, and it provides tools to facilitate a more organized, logical approach to decisionmaking. Thus, asset management provides a framework for handling both short and longrange planning”. 2
Sementara itu, Asosiasi Transportasi Kanada mendefinisikan manajemen aset sebagai “…a comprehensive business strategy employing people, information and
1
Strategic Asset Management Framework, Second Edition (Government of South
Australia, 1999), hal. 1.
2 Asset Management: Advancing the State of the Art Into the 21st Century Through
Public‐Private Dialogue (Federal Highway Administration and the American Association of State
technology to effectively and efficiently allocate available funds amongst valued and competing asset needs.” 3
Definisi lain dari manajemen aset menurut Danylo, N.H. and A. Lemer adalah
“… a methodology to efficiently and equitably allocate resources amongst valid and competing goals and objectives.” 4 Kaganova dan McKellar mendefinisikan manajemen aset sebagai: ”Property asset management can be defined as the process of decision
making and implementation relating to the acquisition, use, and disposal of real property” 5
Walaupun manajemen aset dapat dipresentasikan sesuai dengan jenis aset atau konsentrasi kegiatannya tetapi beberapa ahli tidak ingin membuat definisi manajemen aset secara spesifik dengan menyatakan tidak ada definisi yang pasti mengenai manajemen aset (working definition). 6
Meskipun demikian, dari beragam definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen aset mencakup proses mulai dari proses perencanaan sampai dengan penghapusan (disposal) dan perlunya monitoring terhadap asetaset tersebut selama umur penggunaannya oleh suatu organisasi atau Kementerian/Lembaga.
1.2. Sasaran Manajemen Aset
Sasaran manajemen aset adalah untuk mencapai kecocokan/kesesuaian sebaik mungkin antara aset dengan strategi penyediaan pelayanan. Hal ini diprediksikan pada saat pemeriksaan/pengujian kritikal dari alternatifalternatif penggunaan aset. Misalnya dengan solusi nonaset akan memungkinkan penyediaan pelayanan dengan biaya terendah. 7 Jadi, dengan manajemen aset akan dapat diketahui apakah suatu aset sesuai dengan strategi penyediaan pelayanan ataukah tidak. Solusi nonaset dimaksudkan sebagai alternatifalternatif penggunaan aset tanpa harus memiliki aset tersebut serta menghindari alternatif yang hanya terfokus pada pengadaan aset yang tanpa disertai optimalisasi asetaset yang telah ada.
3
Primer on Asset Management, Transportation Association of Canada, 1999.
4 Danylo, N.H. and A. Lemer. APWA Task Force on Asset Management reveals reliminary
findings to members, APWA Reporter, December 1998/January 1999.
5 Olga Kaganova dan James Mc Kellar, Managing Government Property Assets:
International Experiences, (The Urban Institute Press, 2006), hal.2.
6
Atep Adya Barata, Memposisikan Aset dalam Aktivitas Organisasi Publik, Swasta dan
Individu, Seminar Nasional, 20 September 2005, Timor Room Hotel Borobudur Jakarta, hal. 7.
7
Australian National Audit Office, Asset Management Handbook, (Commonwealth of Australia, 1996), hal. 2.
Departemen Keuangan sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9/2005 mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di bidang keuangan dan kekayaan negara. Dalam tugas tersebut terkandung beberapa peran yang sangat strategis, diantaranya adalah membina, mengelola, dan menatausahakan kekayaan negara untuk lebih meningkatkan dayaguna dan hasilguna serta pengamanannya.
Dalam menghadapi tantangan perubahan di level lokal, nasional, dan internasional, telah disepakati suatu elemen perekat guna menyamakan langkah yang dituangkan dalam visi dan misi (fiskal) Departemen Keuangan, yaitu:
"Menjadi pengelola keuangan dan kekayaan negara bertaraf internasional yang
dipercaya dan dibanggakan masyarakat, serta instrumental bagi proses transformasi bangsa menuju masyarakat adil, makmur, dan berperadaban tinggi".
“Mengembangkan kebijakan fiskal yang sehat dan berkelanjutan serta mengelola
kekayaan dan utang negara secara hatihati (prudent), bertanggungjawab, dan transparan”. Dalam rangka menuju visi tersebut maka dioperasionalkan tahapan pencapaiannya ke dalam beberapa misi, dimana khusus untuk kekayaan negara tercakup dalam misi kelembagaan yaitu mendorong optimalisasi penerimaan, efisiensi pengeluaran, dan efektivitas pengelolaan kekayaan negara. Urgensi dan pentingnya visi dan misi tersebut diwujudkan, salah satunya, melalui langkah konkrit dengan melakukan reorganisasi Departemen Keuangan (roadmap Depkeu 20052009).
Salah satu wujud reformasi birokrasi di Departemen Keuangan tersebut berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 2006 tentang Unit Organisasi adalah terbentuknya unit organisasi eselon I baru yaitu Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) sebagai transformasi bentuk dari Direktorat Jenderal Piutang Lelang Negara (DJPLN) dan Direktorat Barang Milik Negara (BMKN) yang semula merupakan bagian dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
Sebagai satu unit organisasi baru, DJKN dihadapkan pada kompleksitas permasalahan dan beragam kesenjangan/gap yang ada dalam upaya optimalisasi penerimaan, efisiensi pengeluaran, dan efektivitas pengelolaan kekayaan negara 8 .
8
Lihat Majalah Anggaran, Laporan Utama: Banyak Instansi Tidak Mengamankan Kekayaan Negara, Edisi
No.77 Tahun 2001 dan Buletin PemeriksaBPK dalam artikel yang ditulis Yasmadi Yoedodibroto, Masalah Barang Inventaris Milik Negara Terus Berkembang, Edisi 88, BPK, 2003 antara lain disebutkan masalah
terkait kekayaan negara seperti: - Para penanggung jawab atau fungsifungsi organisasi dalam pengelolaan dan penatausahaan barang pada lembaga/departemen beserta jajarannya tidak berjalan secara optimal seperti pembina barang inventaris, unit pengurus barang, dan pemakai barang. - Ketidaklengkapan dokumen pembukuan dan pelaporan. - Kurangnya pengetahuan keterampilan petugas pelaksana pengelola barang.
Paradigma baru harus dibentuk untuk membuat reformasi birokrasi berjalan dengan baik sebagai wujud Good Governance dan sekaligus mengamankan fiscal sustainability. Upaya ini memerlukan penanganan yang serius dari pemerintah, antara lain melalui pencapaian Excellence Performance.
Untuk menerjemahkan visi dan misi organisasi ke dalam strategi dan kebijakan secara komprehensif, koheren, seimbang, dan terukur diperlukan strategi dan kebijakan yang tepat. Perombakan segera diperlukan terutama dalam hal menerapkan strategi dan kebijakan (peraturanperaturan yang ada dan yang akan ada) terutama berkaitan dengan masalah manajemen aset.
Kondisi saat ini menunjukkan masih banyak penanganan aset negara di berbagai kementerian/lembaga yang perlu dibenahi, antara lain melalui kegiatan inventarisasi dan penilaian sebagaimana diamanatkan dalam Keputusan Presiden Nomor17 Tahun 2007 tentang Penertiban Barang Milik Negara (BMN).
Dengan tekanan/keterbatasan sumber daya yang tersedia untuk menyediakan pelayanan, upaya mengoptimalkan aset negara/kekayaan negara merupakan hal yang penting bagi DJKN yang bertindak sebagai pengelola aset aset negara untuk meningkatkan pemahaman sumber daya manusia (SDM)nya di bidang manajemen aset. Dan sekaligus memahami dan mengerti betapa pentingnya konsumsi aset yang merupakan hal nyata dan menjadi biaya yang signifikan dari penyediaan pelayanan. Aplikasi dari teknik biaya siklus hidup (lifecycle costing) dan penyusunan kerangka akuntabilitas yang memadai merupakan hal yang signifikan untuk mencapai pemahaman tersebut.
- Terdapatnya unitunit tertentu yang kelebihan peralatan dan perlengkapan sedangkan di unit lain kekurangan.
- Tidak diketahuinya dengan pasti nilai kekayaan negara baik secara keseluruhan maupun per departemen/lembaga ataupun instansi pemerintah.
- Laporan tahunan inventaris/kekayaan negara tidak/belum menggambarkan data yang benar/wajar dari instansi departemen/lembaga bila dicocokan data pendukungnya seperti sertifikat.
- Ribuan hektar tanah milik negara tanpa bukti kepemilikan yang sah dan tidak bersertifikat.
- Penggunaan rumah dan gedung yang sudah dibangun tidak terurus tanpa penghuni atau tidak dimanfaatkan.
- Rumahrumah dinas dihuni oleh orangorang yang tidak berhak.
- Tanah dan rumah dinas ataupun gedung berubah status kepemilikan menjadi milik pribadi, yayasan, swasta tanpa diketahui proses perubahan atau tanpa melalui prosedur yang sah.
- Berhektarhektar tanah milik negara terbengkalai tidak terurus oleh instansi yang bersangkutan karena berubahnya struktur organisasi atau karena perubahan/mutasi pegawai tanpa menyerahkan dokumen kepemilikan suatu instansi kepada pegawai atau petugas yang baru.
- Barang inventaris yang tidak diberikan kode berpindahtangan menjadi milik pribadi.
- Pemanfaatan kekayaan negara berupa tanah dan gedung oleh koperasi departemen/lembaga dan beberapa perusahaan swasta untuk tujuan pure bisnis seperti toko, department store, ruko, bank, hotel, restoran, perkantoran, ruang konvensi, ruang resepsi dan sebagainya dimana secara umum hasilnya sedikit masuk ke kas negara.
Hal ini sesuai dengan Implementasi yang efektif dari prinsipprinsip manajemen aset dan akan mengarahkan biayabiaya penyediaan pelayanan kepada:
Penurunan permintaan terhadap aset baru dengan mengadopsi solusi nonaset; Maksimalisasi potensi manfaat dari asetaset yang telah ada (existing asset);
Penekanan biaya keseluruhan (overall cost) dari pemilikan aset melalui penggunaan teknik biaya siklus hidup (life cycle costing); dan
Memastikan perhatian/ fokus yang tajam atas hasil dengan penyusunan pertanggungjawaban (responsibility) dan akuntabilitas (acountability) yang jelas untuk aset.
Manajemen Aset merupakan suatu proses yang sistematik dan terstruktur yang mencakup seluruh umur aset. Asumsi yang mendasari adalah bahwa aset ada untuk mendukung penyediaan pelayanan. 9
1.3. Tujuan Manajemen Aset
Tujuan utama manajemen aset adalah membantu suatu entitas (organisasi) dalam memenuhi tujuan penyediaan pelayanan secara efektif dan efisien. Hal ini mencakup panduan pengadaan, penggunaan, dan penghapusan aset, dan pengaturan risiko dan biaya yang terkait selama siklus hidup aset.
Agar efektif, dalam prinsip dan teknik manejemen kekayaan negara sebagai aktivitas yang komprehensif dan multidisiplin perlu dikaitkan beberapa faktor terkait berikut ini. Kebutuhan dari para pengguna aset. Kebijakan dan peraturan perundangan. Kerangka manajemen dan perencanaan organisasi. Kelayakan teknis dan kelangsungan komersial. Pengaruh eksternal/pasar (seperti komersial, teknologi, lingkungan, dan industri). Persaingan permintaan dari para stakeholder dan kebutuhan merasionalisasikan operasi untuk memperbaiki pemberian pelayanan atau untuk meningkatkan keefektifan biaya.
DJKN selaku pengelola aset aset negara yang bertanggung jawab atas optimalisasi pengelolaan aset negara perlu mensinkronisasikan berbagai teknik manajemen aset yang ada untuk membantu pelaksanaan tugasnya dan mengkoordinasikannya dengan seluruh Kementerian/Lembaga yang menangani aset di lingkungan masingmasing. Teknikteknik itu berupa manajemen nilai, manajemen permintaan, penilaian ekonomis, biaya siklus
hidup (life cycle costing), dan manajemen risiko. Manajemen risiko sendiri sangat penting karena menyokong berbagai keputusan penting tentang aset. 10
Sampai sejauh ini, kita telah membahas sasaran manajemen aset dan tujuan utama najamenen aset. Dikatakan bahwa sasaran manajemen aset adalah untuk mencapai kecocokan/kesesuaian sebaik mungkin antara aset dengan strategi penyediaan pelayanan. Sementara itu, tujuan utama manajemen aset adalah membantu suatu entitas (organisasi) dalam memenuhi tujuan penyediaan pelayanan secara efektif dan efisien. Menurut Anda, apakah ada perbedaan antara sasaran dengan tujuan manajemen aset? Jika perlu, diskusikan jawaban pertanyaan ini dengan teman lain. Tuliskan jawaban Anda (atau hasil diskusi Anda) pada kotak berikut ini.
1.4. Tanggung Jawab Manajemen Aset
Tanggung jawab manajemen aset ini sangat penting dalam kaitannya untuk mencapai maksud dan tujuan dari manajemen aset. Dalam prakteknya masih terdapat entitas yang tidak memiliki standar yang pasti dan jelas tentang tanggung jawab manajemen aset. Sehingga di beberapa Kementerian/Lembaga masih ditemukan asetaset yang belum dikelola dengan baik dan belum dioptimalisasikan dalam penggunaan atau pemanfaatannya.
A. Entitas
Aset harus dikontrol oleh entitas. Bidang yang menangani aset di entitas pelaporan diharapkan dapat menggunakan laporan keuangan dan aset untuk membantu mereka dalam mengevaluasi dan membuat keputusan mengenai alokasi sumber daya yang ada maupun yang diperlukan.
10
Victorian Government, Asset Management Series, Bagian 2 (Victorian Government, Melbourne, 1995), butir 1.3
B. Kontrol
Suatu entitas dianggap mengontrol aset apabila entitas tersebut memiliki kapasitas untuk mendapatkan potensi pelayanan atau manfaat ekonomi di masa mendatang dari aset tersebut, dan dapat meniadakan atau mengatur akses entitas lain atas manfaat tersebut. Bagaimanapun, suatu entitas yang bertanggung jawab atas pengawasan (kontrol) terhadap asetaset publik tidak harus entitas yang memiliki aset tersebut. Dengan kata lain, organisasi yang mengelola asetaset publik tidak harus organisasi yang memiliki asetaset publik itu sendiri; mengelola disini termasuk dalam konteks menguasai asetaset tersebut.
C. Akuntabilitas
Akuntabilitas mencakup mekanisme/prosedur (termasuk imbalan dan sanksi) untuk meyakinkan bahwa seseorang atau organisasi telah bekerja sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Sebagai contoh, akuntabilitas finansial mencakup kewajiban untuk menjelaskan bahwa pengeluaran yang dilakukan telah efisien, efektif, etis, dan sesuai dengan hukum/peraturan yang berlaku.
Entitas yang mengontrol aset bertanggung jawab atas manajemen yang mereka lakukan. Standar akuntansi pemerintahan berisi panduan/pedoman untuk menentukan apakah entitas telah mengontrol aset dan apakah aset itu harus dilaporkan dalam laporan keuangan tahunan dari entitas tersebut.
Bidang yang secara khusus diserahi tugas untuk menangani aset harus bertanggung jawab atas perencanaan, manajemen, dan kinerja dari asetaset yang mereka kontrol. 11
1.5. Langkah Awal Manajemen Aset
Dalam prinsip dan teknik manajemen aset/kekayaan negara harus dipahami secara jelas ruang lingkup tanggung jawab manajemen aset dan dapat menggunakan informasi di bagian ini untuk mempertimbangkan tiga hal berikut.
Apakah mereka telah memanfaatkan secara optimal pelayanan aset atau belum. Sifat/karakteristik organisasi yang menaunginya.
Aset mana yang mereka gunakan di bawah kontrol pengawasan entitas.
Pertimbanganpertimbangan tersebut akan membantu bidang yang menangani aset dalam menyusun daftar asetaset yang berada di bawah tanggung jawabnya. Sebagai langkah pertama dalam memenuhi tanggung jawabnya, mereka perlu membuat daftar aset
yang memadai jika sebelumnya tidak ada. Asetaset harus diidentifikasi, diklasifikasikan, dinilai, dan selanjutnya dimasukkan dalam daftar aset. Langkah seperti ini akan membantu dalam memenuhi kewajiban pelaporan aset. 12
RANGKUMAN
Maksud dari manajemen aset adalah untuk mencapai kecocokan/kesesuaian sebaik mungkin antara aset dengan strategi program penyediaan pelayanan. Hal ini diprediksikan pada saat pemeriksaan/pengujian kritis terhadap alternatifalternatif penggunaan aset. Harapannya adalah bahwa “solusi nonaset” akan memungkinkan penyediaan pelayanan dengan biaya terendah.
Tujuan utama dari manajemen aset adalah membantu suatu entitas (organisasi) dalam memenuhi tujuan penyediaan pelayanan secara efektif dan efisien. Hal ini mencakup panduan pengadaan, penggunaan, dan penghapusan aset, dan pengaturan risiko dan biaya yang terkait selama siklus hidup aset. LATIHAN 1. Jelaskan definisi dari manajemen aset dan berikan contoh di lingkungan tempat kerja Anda! 2. Jelaskan sasaran dan tujuan utama manajemen aset! 3. Hal apa saja yang tercakup dalam akuntabilitas aset? 4. Faktor apa saja yang perlu dipertimbangkan agar manajemen aset menjadi efektif dan efisien? 5. Apakah aset harus sesuai dengan pelayanan yang akan diberikan? Jelaskan pendapat Anda! 12 Ibid., butir 1.5
KEGIATAN BELAJAR 2
KONSEP DASAR MANAJEMEN ASET
Pembahasan mengenai manajemen aset ini mengasumsikan bahwa Anda telah memahami apa yang dimaksud dengan aset dalam arti luas —tidak hanya sebatas dalam pengertian akuntansi tetapi apakah pada saat aset itu mewakili organisasi dan bagaimana asetaset tersebut memberikan kontribusi terhadap penyediaan pelayanan. Manajemen aset tidak terlepas dari akuntansi. Banyak konsepkonsep akuntansi maupun manajemen keuangan yang dapat diterapkan dalam manajemen aset. Beberapa konsep dasar yang perlu dipahami dalam manajemen aset akan diuraikan pada Kegiatan Belajar 2.
2.1. Pengertian Aset
Pengertian umum dari aset adalah sesuatu yang memiliki nilai. Dua elemen dari definisi tersebut —nilai dan umur manfaat— merupakan hal yang fundamental jika suatu departemen/organisasi mengidentifikasi dan mencatat seluruh aset. 13 Oleh karena pembahasan Modul ini terkait dengan aset pada organisasi pemerintah (publik) maka pendefinisiannyapun perlu merujuk pada peraturan yang berlaku. Peraturan dimaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
Standar Akuntansi Pemerintahan di Indonesia telah menetapkan definisi yang tegas tentang aset. Dalam Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan paragraf 60 (a) dan 61 diuraikan dengan jelas tentang definisi aset, yaitu bahwa:
”Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumbersumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.” 14
”Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah, berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah." 15
13
Australian National Audit Office, op. cit., hal. 3.
14
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan (Jakarta: Tunas Widya Press, 2005), paragraf 60 huruf a.
Berdasarkan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan (paragraf 60), sesuatu harus memiliki nilai agar dapat dikategorikan sebagai aset. 16 Nilai dari suatu aset harus diukur dan dinyatakan dalam satuan moneter (yakni rupiah) sehingga aset tersebut dapat diakui (recognized) dalam laporan keuangan.
Dalam sektor publik mungkin lebih penting untuk menghargai aspek nonmoneter dari nilai suatu aset. Istilah potensi manfaat digunakan untuk menjelaskan manfaat/kegunaan dari suatu aset dalam memenuhi tujuan penyediaan pelayanan dan merupakan suatu konsep yang bermanfaat untuk dipakai di saat aset tidak menghasilkan pemasukan (income). Istilah ini juga ditujukan sebagai manfaat yang akan datang (future
benefit) yang diharapkan akan diperoleh.
Aset memiliki berbagai macam bentuk. Dalam akuntansi, aset dibedakan menjadi aset lancar (current assets) dan aset nonlancar (noncurrent assets). Adapun klasifikasi aset secara lebih detail dapat dilihat di Standar Akuntansi Pemerintahan. Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan paragraf 62—67 telah secara ringkas menegaskan tentang klasifikasi aset sebagai berikut.
”Aset diklasifikasikan ke dalam aset lancar (current asset) dan aset nonlancar (noncurrent asset). Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kiteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset nonlancar. ” 17
”Aset lancar meliputi kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang, dan persediaan.” 18
”Aset nonlancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang. Dan aset tak berwujud yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum. Aset nonlancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, aset tetap, dana cadangan, dan aset lainnya.” 19
”Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan dengan maksud untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat sosial dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi (umumnya 12 bulan). Investasi jangka panjang meliputi investasi nonpermanen dan permanen. Investasi nonpermanen antara lain investasi dalam Surat Utang Negara (SUN), penyertaan modal dalam proyek pembangunan, dan investasi nonpermanen lainnya. Investasi permanen antara lain penyertaan modal pemerintah dan investasi permanen lainnya.” 20
16
Australian National Audit Office, op. cit., hal. 4.
17 Ibid., paragraf 62. 18 Ibid., paragraf 63. 19 Ibid., paragraf 64. 20 Ibid., paragraf 65.
”Aset tetap meliputi tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan, aset tetap lainnya, dan konstruksi dalam pengerjaan. 21 Aset nonlancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya. Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tak berwujud dan aset kerja sama (kemitraan).” 22
Sumber: Diolah dari Asset Management Series, 1995,
Victorian Government, Melbourne.
Gambar 1. Klasifikasi Aset Manajemen
2.2. Kerangka Manajemen Aset
Pemahaman terhadap bidang aset sangat penting untuk memahami hubungan antara strategi aset dan strategi lainnya, yang secara bersamasama membentuk rencana operasi dan bisnis dari suatu organisasi/departemen. Setelah mendefinisikan aset, penting untuk melihat aspek dalam perspektif yang tepat dalam suatu organisasi. Asetaset seharusnya hanya ada untuk mendukung penyediaan pelayanan/jasa. Titik permulaan yang utama untuk memastikan hal tersebut adalah menyusun hubungan antara penyediaan pelayanan dan aset. Tujuan organisasi diterjemahkan ke dalam tujuan program, strategi penyediaan pelayanan, keluaran (outputs), dan hasil (outcomes). Asetaset suatu departemen merupakan satu masukan (input) bagi penyediaan pelayanan.
Strategi manajemen aset bukan merupakan suatu penjumlahan sederhana dari rencanarencana individual yang dibuat untuk masingmasing fase dari siklus hidup aset. Strategi manajemen aset harus konsisten dengan tujuan organisasi dan terintegrasi dengan strategi manajemen lainnya.
Keputusan manajemen aset hendaknya tidak dibuat secara terpisah, melainkan harus sebagai bagian dari kerangka keseluruhan pembuatan keputusan dalam suatu
21
Ibid., paragraf 66.
22 Ibid., paragraf 67.
( ) (Noncurrent )
(Financial ) (Physical ) (Intangible )
ASET
Aset Lancar
Current
Aset Nonlancar
organisasi. Perencanaan aset harus dipertimbangkan bersamaan dengan kebutuhan sumber daya lainnya yang digunakan dalam pencapaian tujuan penyediaan pelayanan. Hal ini mensyaratkan organisasi untuk mengkonversi/mengubah strategi penyediaan pelayanan ke dalam strategi aset yang spesifik. Hal ini memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi metode peningkatan kinerja aset serta untuk menata asetaset yang digunakan dan mencari solusi yang tidak memerlukan kepemilikan aset. Keutamaan dari kerangka manajemen aset adalah: manajemen aset dipicu/didorong oleh pelayanan atau output; manajemen aset memakai pendekatan yang terstruktur dan sistematis; dan manajemen aset didasarkan pada konsep ”wholeoflife”. 23 Sumber: Australian National Audit Office, Asset Management Handbook, 1996, hal. 6. Gambar 2. Kerangka Manajemen Aset 2.3. Reformasi Manajemen Aset
Kebutuhan akan reformasi manajemen aset khususnya aset publik (kekayaan negara) timbul di negaranegara yang belum melakukan reformasi manajemen asetnya. Menurut pengamatan Kaganova dan McKellar 24 , sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2003, pemerintah Cina, Indonesia, Maroko, Cili, Kuwait, dan beberapa negara bekas Uni Soviet meminta bantuan teknis tentang manajemen aset publik kepada organisasi donornya.
23
Australian National Audit Office, op. cit., hal. 3.
24 Olga Kaganova dan James Mc Kellar, op.cit, hal.5 ü Kebijakan Pemerintah ü Rencana Organisasi ü Lingkungan Rencana Strategis/Bisnis Strategi (Output) Program Rencana Pendanaan Modal dan Operasi Strategi Sistem Informasi Strategi Sumber Daya Manusia Strategi Keuangan Strategi Aset Solusi Nonaset: ü Manajemen Permintaan ü Kontrak Keluar (outsourcing) ü Penggunaan Alternatif Rencana Pengadaan Rencana Penghapusan Rencana Operasi dan Pemeliharaan Standar & Tingkat Pelayanan Rencana Pemeliharaan Organisasi Anggaran Sistem
Halhal yang mendorong dilakukannya reformasi di negaranegara tersebut (pre
reform countries) antara lain sebagai berikut 25 .
1. Adanya manajemen publik baru (New Public Management/NPM). Istilah ini diperkenalkan sejak tahun 1995 yang menyatakan bahwa tujuan dari NPM adalah agar pemerintah mengimplementasikan beberapa aktivitas kunci sebagai berikut.
Meningkatkan kinerja, khususnya efisiensi keuangan dan efektivitas biaya, yang didukung oleh pemantauan kinerja dan insentif.
Pendefinisian ulang dan pengurangan peran pemerintah dalam ekonomi, termasuk privatisasi atau komersialisasi BUMN/D dan aplikasi manajemen perusahaan dalam sektor publik Pemisahan antara fungsi pembuatan kebijakan dengan pemberian pelayanan. Desentralisasi atau devolusi (devolution) atas tanggung jawab pelayanan dari level yang lebih tinggi ke level yang lebih rendah di dalam pemerintahan. Fleksibilitas pengelola asetial yang lebih besar dalam manajemen keuangan, dan Transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar dalam operasi pemerintahan.
2. Adanya pengakuan tentang keuntungan finansial (financial payoff) bagi pemerintah apabila manajemen aset publik dilakukan dengan lebih baik. 3. Reformasi di bidang akuntansi. Di Indonesia hal ini ditandai dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. 4. Dilibatkannya para profesional di bidang Real Estate ke dalam manajemen aset publik. Adapun beberapa permasalahan umum yang dihadapi oleh PreReform Countries adalah sebagai berikut 26 .
1. Tidak adanya kerangka kebijakan manajemen aset publik yang terpusat. Di Indonesia, pembentukan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) di bawah Departemen Keuangan pada tahun 2006 adalah salah satu upaya pemerintah untuk menjawab masalah ini.
2. Manajemen aset publik yang terpecahpecah. Sebagai ilustrasi, di Amerika Serikat sendiri ada lebih dari 30 instansi pemerintah yang menangani manajemen dari ratusan ribu aset pemerintah federal.
3. Inefisiensi ekonomi terkait dengan aset publik. Inefisiensi ini bersumber pada beberapa hal yaitu:
25
Ibid, hal.6‐10.
Pemanfaatan aset yang belum optimal baik secara fisik maupun secara ekonomis (physical and economic underutilization).
Biaya pemeliharaan dan perbaikan yang kurang memadai.
Banyaknya properti yang kosong (vacant) dan kurang termanfaatkan (underused) Biaya kepemilikan aset dan biaya kesempatan (opportunity cost) seringkali diabaikan dalam proses pengambilan keputusan.
Kegagalan dalam memahami penggunaan tertinggi dan terbaik (highest and best
use) atas aset publik.
4. Kurangnya informasi yang dibutuhkan untuk dapat melakukan manajemen aset publik.
5. Kurangnya transparansi dan akuntabilitas.
Semua hal dan masalah tersebut di atas memicu dipercepatnya reformasi di bidang manajemen aset publik di hampir seluruh negara di dunia. Pelopor dari pelaksanaan reformasi di bidang manajemen aset publik adalah Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Prancis yang masingmasing telah memulainya sejak tahun 1990an.
Kaganova dan McKellar menyatakan bahwa beberapa prereform countries, termasuk Indonesia, meminta bantuan teknis tentang manajemen aset publik kepada organisasi donornya. Menurut Anda, jika dikaitkan dengan faktor yang mendorong dilakukannya reformasi di prereform countries, apa yang menjadi penyebab utama Indonesia melakukan reformasi dalam manajemen aset? Tuliskan jawaban Anda pada kotak berikut ini.
2.4. Kerangka Kerja Reformasi Manajemen Aset
Untuk mengatasi masalahmasalah yang mendorong dilakukannya reformasi manajemen aset sebagaimana dipaparkan pada sub bab 2.3 diperlukan suatu kerangka kerja sehingga reformasi yang dilakukan dapat mencapai tujuannya. Berdasarkan pengalaman dari empat negara (Australia, Kanada, Selandia Baru dan Prancis) yang telah melakukan reformasi di bidang manajemen aset publik, ditemukan bahwa ada tujuh faktor kunci yang menentukan keberhasilan pelaksanaan reformasi manajemen aset sebagai berikut 27 .
27 Ibid. Hal. 128‐ 133
1. Kebijakan Publik yang Jelas (Explicit Public Policy). Harus ada kebijakan publik yang formal dan jelas tentang manajemen aset publik yang dilaksanakan oleh pemerintah dan dapat diaplikasikan untuk semua aset publik yang berada dalam pengendalian pemerintah. Sebagai contoh di Australia dikenal kebijakan formal yang disebut ”principles on real assets”. 2. Pengakuan atas Biaya Kepemilikan Aset Tetap dan Penggunaannya. Ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu Aset apa saja yang termasuk dalam pengendalian pemerintah. Biayabiaya apa saja yang harus diakui. Bagaimana cara menutup biayabiaya tersebut.
3. Sistem Informasi. Salah satu penyebab gagalnya reformasi manajemen aset adalah kurang atau tidak lengkapnya data aset publik. Data aset yang tidak akurat, baik dari segi jumlah, jenis, tingkat penggunaan, kondisi, biaya operasi, dan informasi terkait lainnya merupakan penghalang utama bagi kemajuan reformasi. Bidang yang menangani aset harus mengetahui semua data tersebut dengan akurat sehingga pengambilan keputusan menjadi tepat sasaran.
4. Mekanisme Akuntabilitas. Harus ada mekanisme yang jelas tentang akuntabilitas pemerintah dalam hal manajemen aset publik sehingga pembuatan keputusan terkait manajemen aset menjadi efektif.
5. Desentralisasi tanggung jawab manajemen Memperkuat Peran Kepemimpinan Pusat – Pemberian Insentif. Harus ada pendelegasian wewenang dari pemerintah kepada instansiinstansi di bawahnya dengan diiringi pengawasan yang ketat dari pemerintah pusat dan pemberian insentif dan sanksi yang jelas terkait dengan kinerja instansiinstansi yang diberikan kewenangan tersebut.
6. Inisiatif untuk Privatisasi. Ada dua sisi privatisasi yaitu: (i) identifikasi dan pelepasan aset milik pemerintah yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh pemerintah dalam pelayanan kepada publik (surplus property), (ii) keterlibatan sektor privat dalam mengelola aset yang dimiliki oleh pemerintah dimana penghematan biaya dan efisiensi pelayanan kepada publik oleh sektor privat dapat dibuktikan (private asset
management).
7. Sistem Akuntansi. Harus ada sistem akuntansi pemerintahan yang baru mengenai aset yang dimiliki oleh pemerintah karena sistem lama yang berbasis pada kas (cash
basis) sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini. Untuk itu, sistem akuntansi
yang berdasarkan akrual (accrual basis) dan adanya kebutuhan penilaian aset bisa mengatasi masalahmasalah manajemen aset.
Tahaptahap yang dianjurkan dalam melakukan reformasi manajemen aset seperti yang telah diolah oleh Kaganova dan McKellar 28 berdasarkan penelitian Jack Diamond (2005) dan Allen Schick (1998) adalah sebagai berikut. Tahap Reformasi Manajemen Aset LangkahLangkah Manajemen Aset Tahap 1 : Pengendalian Eksternal (Schick)/ Meminimalkan Biaya Masukan Buat Kebijakan Formal. Kenali Biaya terkait aset publik.
Bangun dan catat informasi tentang aset publik.
Tahap 2 :
Kendalikan Keluaran (Schick)/Efisiensi ekonomis dan teknis
Bangun mekanisme akuntabilitas dan patokan kinerja (performance
benchmarks).
Desentralisasi tanggung jawab manajemen – perkuat peran kepemimpinan pusat. Lepaskan aset yang tidak digunakan lagi untuk pelayanan publik (surplus
property).
Beralihlah ke sektor privat jika penghematan biaya dan pencapaian efisiensi dimungkinkan.
Tahap 3:
Kendalikan Hasil (Schick)/Efektivitas ekonomis dan teknis
Implementasikan sistem akuntansi full
accrual.
2.5. Siklus Hidup Aset
Siklus hidup fisik dari suatu aset atau kelompok aset memiliki tiga fase yang berbeda—pengadaan (acquisition), operasi, dan penghapusan (disposal). Kemudian ditambahkan fase keempat—perencanaan—yang merupakan proses lanjutan dimana
output informasi dari setiap fase digunakan sebagai input untuk perencanaan.
Fakta bahwa aset memiliki siklushidup membedakannya dari input sumber daya lainnya. Secara khusus, tanggung jawab untuk keputusan pengadaan (dan biaya) dalam suatu organisasi, berbeda dengan tanggung jawab untuk operasi dan pemeliharaan aset; dan kedua tanggung jawab tadi berbeda dengan tanggung jawab untuk penghapusan. Masalah mungkin dapat timbul dari pemisahan tanggung jawab manajemen selama masa siklushidup aset. Gambar 3 di bawah ini menunjukkan siklushidup aset.
OPERASI (OPERATION) PENGHAPUSAN (DISPOSAL) PENGADAAN (ACQUISITION) PERENCANAAN (PLANNING) Sumber: Australian National Audit Office, Asset Management Handbook, 1996, Hal.7. Gambar 3. Siklus Hidup Aset
Memahami fasefase dari siklushidup aset dan biayabiaya yang menyertainya merupakan langkah penting pertama dalam mengelola aset atas dasar konsep wholeof
life. Biaya siklushidup (lifecycle costing) merupakan komponen penting dari
perencanaan aset.
Penggunaan teknik biaya siklus hidup mengarahkan pada evaluasi penuh terhadap biaya total dari pemilikan dan pemeliharaan sebelum dilakukan pengadaan. Hal ini menimbulkan peluang untuk menentukan solusi pemberian pelayanan yang efektif biaya (hal ini bisa saja berupa solusi nonaset). Mengestimasi biaya siklus hidup sebelum dilakukan pengadaan juga menyusun standar yang akan menjadi dasar untuk mengontrol dan memonitor biaya setelah pengadaan. Biaya modal adalah biaya dari pengadaan dan mungkin dapat timbul dalam perbaikan berikutnya.
Biaya siklus hidup terdiri dari biaya modal dan biaya berulang (recurrent). Biaya modal adalah biaya pengadaan aset. Biaya ini mencakup tidak hanya harga pembelian tetapi semua ongkos dan beban yang terkait, dan biaya pengiriman dan pemasangan yang terjadi sampai aset tersebut siap untuk dioperasikan. Biaya tersebut mencakup juga biaya perencanaan seperti biayabiaya untuk studi kelayakan dan pelaksanaan tender.
Biaya modal signifikan yang tidak secara rutin diakui oleh anggaran organisasi adalah biaya finansial (finance cost) yang terkait dengan dana yang ‘tersimpan’ dalam nilai aset. Pengecualian dari ini adalah situasi di saat organisasi meminjam untuk appropriasi di masa mendatang sebagai bagian dari biaya berjalan dan dibebani bunga. Bagaimanapun, hal ini mencerminkan biaya finansial pada marjin dan umumnya tidak memperpanjang umur manfaat suatu aset. Ketika mengevaluasi solusi nonaset dan alternatif strategi pengadaan, sangat penting untuk mengakui biaya ini. Hal tersebut
terutama penting ketika mempertimbangkan alternatif sektor privat, dalam konteks kebutuhan akan produk yang kompetitif.
Biaya berulang (recurrent) — yang juga mengarah sebagai biaya operasi atau biaya berjalan — mencakup biaya energi, pemeliharaan, dan biaya pembersihan. Biaya ini juga mencakup biaya pegawai dimana pegawai spesialis ditugaskan untuk mengoperasikan aset. Perbaikan dan pembaharuan yang direncanakan selama umur manfaat aset, yang bersifat modal, juga dimasukkan sebagai bagian dari biaya operasi untuk tujuan perencanaan. Biaya penghapusan hendaknya juga dimasukkan, terutama jika biaya tersebut diperkirakan signifikan jumlahnya. Mungkin akan menjadi masalah ketika suatu aset, proses yang berkaitan dengan aset, atau outputnya, menimbulkan dampak yang tidak diinginkan sehingga memerlukan pekerjaan pembetulan atau perbaikan. Pertimbangan lingkungan dapat signifikan dalam menanggapi hal itu.
Signifikansi biaya modal dan biaya operasi sebagai proporsi/bagian dari total biaya siklushidup akan tergantung pada sifat aset. Sebagai contoh, komisi Audit
Victoria—Australia pada tahun 1993 mengestimasikan bahwa biaya pemilikan saham
pemerintah (dengan mengabaikan biaya finansial dan biaya pegawai) adalah 4% dari nilai aset yang dimiliki.
Biaya pengoperasian dan pemeliharaan aset selama umur manfaatnya seringkali lebih besar daripada biaya pengadaan. Dalam kasus yang demikian biaya penuh siklus hidup dalam mengevaluasi alternatif untuk memastikan keseluruhan biaya program pemberian pelayanan tidak boleh tidak harus diakui dan diminimalkan. 29
Aset fisik nonlancar—yang disebut juga aset tetap (fixed asstes)—secara khas memiliki umur yang panjang. Asetaset ini memerlukan sumber dayasumber daya untuk mendapatkan atau membuatnya dan untuk mempertahankan kondisinya agar tetap bisa beroperasi selama umur hidupnya. Kebanyakan keputusan tentang aset ini bertahan lama, dan memiliki implikasi jangka panjang. Karena karakteristik seperti ini, maka penting untuk mempertimbangkan kegunaan aset dalam jangka waktu siklus hidupnya.
Fasefase yang dilalui suatu aset selama siklus hidupnya antara lain:
Identifikasi kebutuhan (fase perencanaan), yaitu ketika permintaan atas aset direncanakan dan dibuat; Fase pengadaan, yaitu ketika aset dibeli, dibangun atau dibuat; Fase pengoperasian dan pemeliharaan, yaitu ketika aset digunakan untuk tujuan yang telah ditentukan. Fase ini mungkin diselingi dengan pembaruan atau perbaikan besar besaran secara periodik, penggantian atas aset yang rusak dalam periode penggunaan, dan Fase penghapusan (disposal), yaitu ketika umur ekonomis suatu aset telah habis atau ketika kebutuhan atas pelayanan yang disediakan aset tersebut telah hilang.
Tambahan umur dari suatu aset memiliki implikasi yang penting bagi pengelola aset program penyediaan pelayanan. Keputusan pengadaan yang didasarkan pada harga pembelian yang paling rendah tetapi mengabaikan potensi biaya operasi, dapat mengakibatkan total biaya yang lebih tinggi selama umur hidup aset. Merupakan hal yang sangat penting bagi pengelola bidang aset untuk memahami fasefase dari siklus hidup aset dan dampak dari masingmasing fase terhadap biaya dan keluaran (output) dari program penyediaan pelayanan. 30
Keputusan tentang aset yang diambil pada suatu fase dapat mempengaruhi kinerja aset tersebut pada fase yang lainnya. Sebagai contoh, bila kita berupaya memilih solusi biaya modal yang minimum di fase pengadaan, maka dapat berdampak merugikan pada biaya operasi jangka panjang. Perhatian yang tidak memadai atas pemeliharaan akan dapat mempercepat kebutuhan perbaikan secara besarbesaran, atau memperpendek umur operasional aset. Hal itu juga dapat merugikan usaha pencapaian pengembalian maksimum atas penghapusan aset. Sebaliknya, manajemen yang hatihati atas asetaset yang ada dapat menambah umur efektif aset dan menghindari atau menunda kebutuhan pengadaan aset baru.
Konsep siklus hidup aset berawal dari pemahaman atas pengaruhpengaruh tersebut, dan membantu pengelola aset untuk membuat keputusan tentang aset dalam konteks umurhidup aset. Alat evaluasi ekonomis seperti arus kas yang didiskontokan (discounted cash flow) seringkali berguna dalam menentukan pengaruh jangka panjang dari keputusan individu tentang aset.
Suatu entitas (kesatuan usaha/organisasi) harus mempertimbangkan apakah pertanggungjawaban manajemen aset dari para pengelola aset mencerminkan pendekatan siklus hidup aset. Pembatasan tanggung jawab pengelola aset pada satu fase saja (misalnya pengadaan, atau pengoperasian dan pemeliharaan) tidak akan mendukung pembuatan keputusan jangka panjang tentang aset. Pengelola aset harus bertanggung jawab (accountable) atas pengaruh siklus hidup dari keputusan mereka. 31
2.6. Konsep Manajemen Keuangan dan Akuntansi
Kaidahkaidah manajemen keuangan dan akuntansi memberikan kerangka (framework) yang disiplin dan konsisten bagi pencatatan dan pelaporan berbagai informasi yang diperlukan untuk manajemen aset. Kaidahkaidah akuntansi dan kewajiban pelaporan berpengaruh pada seluruh fase dari siklus hidup aset. Sub bab ini mengumpulkan dan menjelaskan konsepkonsep utama manajemen keuangan dan akuntansi yang mempengaruhi manajemen aset.
30
Ibid., hal. 3.
A. Manajemen Keuangan dan Akuntansi
Kaidah akuntansi tradisional yang sebelumnya digunakan oleh pemerintah adalah basis kas dan tidak menghasilkan informasi yang dibutuhkan untuk tujuan manajemen aset. Namun, sekarang ini Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang berlaku di Indonesia menganut basis akuntansi akrual yang dimodifikasi (modified accrual). Hal ini ditempuh dengan menerapkan basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dalam Neraca.
Akuntansi akrual, bersamaan dengan sistem informasi manajemen keuangan yang diperbaiki, dapat memberikan informasi yang diperlukan secara komprehensif dan tepat waktu. Pendekatan ini memerlukan pemeliharaan terhadap daftar aset yang lengkap dan akurat, penilaian dan revaluasi secara reguler atas asetaset yang dimiliki. Biaya sesungguhnya (true cost) dari pemilikan dan pengoperasian aset selanjutnya dapat ditentukan dengan cepat.
Akuntansi keuangan bukanlah satusatunya, dan pengelola aset akan memerlukan informasi lain untuk mengukur beberapa aspek kinerja (performance) aset seperti fungsionalitas dan utilitas. Terdapat hubungan khusus antara manajemen keuangan dengan catatan lain yang terkait dengan kinerja aset, dan pengelola aset perlu memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep fundamental manajemen keuangan dan akuntansi yang berlaku.
B. Konsep Akuntansi
1. Pengakuan Aset. Suatu aset harus diakui dalam laporan keuangan suatu entitas apabila memenuhi seluruh kriteria berikut ini: 32 Aset memiliki potensi manfaat bagi entitas. Entitas memiliki kapasitas untuk mengontrol/mengendalikan potensi manfaat dari aset. Peristiwa pemberian kontrol entitas atas jasa/manfaat aset telah terjadi. Sangat besar kemungkinan bahwa potensi manfaat aset akan digunakan. Aset memiliki biaya atau nilai yang dapat diukur dengan andal.
Estimasi nilai aset berada di atas (melebihi) ambang/batas pengakuan dari suatu entitas.
Sementara itu, Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan di negara kita, khususnya paragraf 78—80, telah menegaskan mengenai definisi pengakuan dan kriterianya, yang hampir sama dengan kriteria di atas, yaitu:
Pengakuan dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, belanja, dan pembiayaan, sebagaimana akan termuat pada laporan keuangan entitas pelaporan yang bersangkutan. Pengakuan diwujudkan dalam pencatatan jumlah uang terhadap pospos laporan keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait. 33
Kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk diakui yaitu:
terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan kejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau masuk ke dalam entitas pelaporan yang bersangkutan;
kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur atau dapat diestimasi dengan andal. 34
Dalam menentukan apakah suatu kejadian atau peristiwa memenuhi kriteria pengakuan, perlu dipertimbangkan aspek materialitas. 35
Lebih lanjut, Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan pada paragraf 84 menegaskan tentang waktu pengakuan aset, yaitu sebagai berikut:
Aset diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. 36
2. Potensi Manfaat. Konsep potensi manfaat berkaitan dengan sifat dasar suatu aset— aset ada atau diperoleh untuk mendukung suatu pelayanan. Pelayanan khusus mungkin berupa persediaan air bersih (suling), akomodasi bagi pegawai administratif, pelayanan klinis untuk pasien, atau pemprosesan dan pentransferan informasi.
Istilah potensi dipakai karena aset itu sendiri tidak memberikan pelayanan—aset hanya berkontribusi pada penyediaan pelayanan. Selain itu, kapasitas aset untuk mendukung penyediaan pelayanan mungkin tidak sepenuhnya digunakan. Potensi manfaat merupakan sebuah ukuran kemampuan dari suatu aset untuk memenuhi peranannya dalam penyediaan pelayanan.
Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan pun, khususnya paragraf 61, menyinggung tentang potensi manfaat dari suatu aset, yaitu sebagai berikut:
33
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, op. cit., paragraf 78.
34 Ibid., paragraf 79. 35
Ibid., paragraf 80.
Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah, berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah. 37
Penurunan potensi manfaat dari suatu aset khususnya terjadi pada suatu waktu setelah melalui:
Pemakaian secara fisik, dan/atau
Keusangan teknikal atau fungsional, dan/atau Keusangan komersial.
Pengakuan finansial dari penurunan potensi manfaat selama umur hidup suatu aset berupa penggunaan depresiasi/penyusutan, yang akan diuraikan dibawah ini. Penurunan potensi pelayanan suatu aset dapat ditahan atau dicegah dengan memperbaiki atau memperbarui aset tersebut. Ketika penurunan ini terjadi, aset harus dinilai kembali (revaluasi). Potensi pelayanan juga disebut sebagai manfaat ekonomis masa depan. 38
3. Depresiasi. Depresiasi mengakui biaya dari pemakaian potensi manfaat suatu aset selama waktu tertentu, dan memberikan alat akuntansi untuk biaya suatu aset selama umur manfaatnya.
Pengakuan beban depresiasi diperlukan untuk penilaian aset dan biaya penyediaan pelayanan, dan juga digunakan untuk alokasi sumber daya, dan penentuan
performance aset. Depresiasi secara normalnya tidak didanai dan tidak mengeluarkan
kas untuk penggantian aset. Jadi, walaupun beban depresiasi muncul di laporan keuangan suatu entitas, tetapi sesungguhnya tidak ada pengeluaran kas riil untuk beban tersebut.
Depresiasi dapat dihitung dengan beberapa cara. Beberapa metode diantaranya adalah aritmatika, seperti metode garis lurus atau saldo menurun. Metode lainnya dirancang untuk menggambarkan kondisi atau kapasitas aktual dari suatu aset sebagaimana keadaan pada waktu tertentu (seperti metode unit produksi, atau depresiasi berdasarkankondisi). Metode manapun yang dipilih haruslah sebisa mungkin sesuai dengan pola potensi manfaat yang dihasilkan oleh suatu aset, dan beban depresiasi selanjutnya akan menjadi gambaran realistis dari biaya penyediaan pelayanan dengan penggunaan aset tersebut.
Tingkat (rate) depresiasi harus direview setiap tahun, bila perlu, disesuaikan untuk menggambarkan penentuan terkini dari umur manfaat suatu aset (perhatikan topik
37 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan, op. cit., paragraf 61.