• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anak Berkebutuhan Khusus

Anakdengansegalakeistimewaan didunia ini merupakan titipan dari yang Maha Kuasa untuk dapatmenjalani kehidupan dimuka bumi ini,adapun anak yang memiliki kebutuhan khusus bukanlah anak yang memiliki segala kekurangan dengan dibandingkan dengan anak normal pada umumnya.Anak Berkebutuhan Khusus(ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan istilah Anak Luar Biasa(ALB) yang menandakan kelainan khusus. Baik ABK maupun ALB adalah mereka yang membutuhkan penanganan khusus dalam kesehariannya ataupun dalam memaksimalkan berbagai potensi yang dimiliki. Delphie(2006:1)Anak adalah seorang laki-laki dan perempuan yang belum dewasa, anak juga merupakan salah satu sebutan untuk masa periode perkembangan yang dilalui oleh setiap orang.

Semua anak yang lahir berbeda dengan individu yang lain, mereka diciptakan dalam bentuk sebaik mungkin dengan berbagai kemampuan atau potensi yang dimiliki. Berbagai perbedaan yang dimiliki oleh setiap anak dapat dilihat dari bentuk fisik, emosi, kebutuhan, karakteristik ataupun potensi yang berbeda-beda antara satu individu anak dengan individu anak yang lain. Berbagai perbedaan yang ada dalam diri anak tersebut biasanya tercermin melalui suatu bentuk perbedaan yang tidak miliki oleh anak pada umumnya.Terlebih pada suatu bentuk perbedaan karakteristik khusus yang

(2)

dimiliki olehanak untuk memungkinkananakmemilikigangguan serta membutuhkan kebutuhan ataupun penanganan yang khusus dalam praktik kesehariannya dimana bentuk perbedaan tersebut seringkali diartikan sebagai jenis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pada dasarnya juga merupakan sebutan lain bagi mereka Anak Luar Biasa (ALB). ABK adalah mereka anak-anak yang memiliki perbedaan dalam beberapa hal dibandingkan dengan rata-rata anak seusianya pada umumnya.Perbedaan yang dimiliki biasanya berupa permasalahan atau penyimpangan dari kondisi rata-rata anak umumnya.Macam-macam ABK dapat digolongkan menjadi beberapa jenis diantaranya yaitu retardasi mental, kesulitan belajar, gangguan emosi, gangguan bicara, pendengaran, penglihatan, fisik dan juga anak berbakat.Kesulitan belajar merupakan salah satu jenis gangguan yang banyak diderita oleh sebagian ABK di Indonesia. Hal ini sering terjadi atau diketahui ketika anak masih menempuh jenjang pendidikan, karena pada proses pembelajarannya akan terlihat berbagai hambatan atau kekurangan yang dialami anak.

Kesulitan Belajar(Slow Learning)

a. Pengertian Kesulitan Belajar

Salah satu jenis kebutuhan khusus yang banyak dialami oleh anak Indonesia yaitu ABK jenis kesulitan belajar.Seorang anak yang kesulitan dalam belajar biasanya memiliki ketidakmampuan dalam belajar atau kurang dalam aktifitas belajar, mereka membutuhkan usaha

(3)

dan bantuan yang lebih agar dapat memperoleh hasil belajar yang baik. Sukarno (2006:72) menjelaskan kesulitan belajar sebagai berikut :

"Kesulitan belajar merupakan istilah umum (generik term) yang menunjukan sekelompok kesulitan yang heterogen diwujudkan melalui kesulitan yang signifikan dalam akuisisi (kemahiran) dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, dan matematika."

Dari berbagai uraian tersebut dapat dinyatakan bahwa berbagai kesulitan belajar yang ada dapat dimanifestasi menjadi beberapa jenis kebutuhan yaitu hiperaktif, ADHD, Dysgraphia atau gangguan dalam menulis, Dyslexia gangguan baca, Dysphasia gangguan bicara, Dyscalculia gangguan hitung, dan Hyspraxiaa gangguan motorik. Berbagai jenis kesulitan belajar tersebut tentu bukan menjadi penentu bahwa anak yang memiliki gangguan maka tidak akan mampu dalam hal tersebut. Mereka sesungguhnya dapat mengatasi kekurangan yang ada namun hanya, saja membutuhkan penanganan serta bantuan yang lebih untuk mereka dapat mengatasi berbagai kekurangan yang ada melalui cara yang salah satunya dengan memaksimalkan potensi lain yang ada dalam diri mereka. Fokus masalah yang akan diteliti yaitu mengenai kesulitan belajar peserta didik yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus yaitu kesulitan belajar (slow learning) di dalam bidang non akademik contohnya yaitu ketrampilan tari, ketrampilan musik, ketrampilan seni.

(4)

b. Karakteristik Anak Berkesulitan Belajar

Secara umum layaknya siswa yang berkebutuhan pada dasarnya anak yang memiliki hambatan atau kesulitan belajar memiliki karakteristik tersendiri yang menjadi pembeda dengan jenis kebutuhan

lainnya. Ellis (2008:234)

berbagaikarakteristikitudapatdinyatakansebagaiberikut:

1) Kesulitan mempertahankan atensi ketika menghadapi distraksi. 2) Keterampilan membaca yang buruk.

3) Strategi belajar dan memori yang tidak efektif.

4) Kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang melibatkan penalaran abstrak.

5) Kurangnya pemahaman akan diri dan memiliki motivasi yang rendah dalam menyelesaikan tugas–tugas akademik.

6) Keterampilan motorik yang buruk. 7) Keterampilan sosial yang buruk.

Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa ABK dengan jenis gangguan kesulitan belajar atau yang memiliki hambatan belajar dalam berbagai kegiatannya yang berhubungan dengan daya fikir atau kemampuan intelegensi biasanya memliki kekurangan yang dapat terlihat dari penjelasan diatas.

c. Klasifikasi Anak Berkesulitan Belajar

ABK dengan jenis berkesulitan belajar juga memiliki klasifikasi tersendiri yang dapat diuraikan menjadi beberapa tipe. Krik dan Calfant dalam (Sukarno, 2006:78) "mengusulkan dua tipe kesulitan belajar yaitu kesulitan belajar perkembangan dan kesulitan belajar akademik". Kesulitan belajar pada klasifikasi perkembangan merupakan kesulitan

(5)

yang dialami oleh siswa dalam menguasi mata pelajaran, akademik seperti pada segi perhatian, memori, keterampilan persepsi, berfikir, dan bahasa lisan.Sedangkan kesulitan belajar dalam bidang akademik mengacu pada pemerolehan siswa yang kurang dalam hasil belajarnya seperti membaca, berhitung, menulis, mengeja serta mengeksplorasi tulisan.

B. Pelaksanaan Model Pembinaan Minat dan Bakat

Komponen model pelaksanaan pembinaan minat dan bakat untuk anak berkesulitan belajar ada tujuh (1) motivasi, (2) target pengajaran akademik dan ketrampilan kognitif yang khusus dan mendetail, (3) generalisasi penguasaan ketrampilan untuk isi materi dan latar yang lain, (4) isi yang dikuasai, (5) komunikasi yang memungkinkan suatu pelayanan yang dikordinasikan siswa dari berbagai macam profesional, (6) transisi dari sekolah ke kehidupan setelah sekolah, (7) evaluasi untuk memperoleh intervensi balikan. Sukarno (2006:148).

Abdurahman ( 2009:293). Ada tiga model didalam mendorong pertumbuhan dan perkembangan minat serta bakat siswa :

1. Program Pengayaan

Program pengayaan bertolak dengan pandangan bahwa anak sebagai satu keseluruhan yang utuh dan karena itu pengembanganya harus mencangkup seluruh aspek fisik, emosi, bahasa, sosial dan kognitif. Teori-teori perkembangan merupakan landasan dari jenis program ini, dan kata

(6)

kunci dari konsep ini adalah penekanan pada perkembangan alami anak-anak. Dasar pemikiran dari program pengayaan adalah bahwa di bawah kondisi lingkungan yang menyenangkan dan terbuka, dorongan dari dalam diri anak sendiri dan kebutuhan untuk belajar secara alami muncul dan berkembang.

2. Program Pengajaran Langsung

Program pengajaran langsung didasarkan atas psikologi behavioral, yang memusatkan perhatian pada pengajaran langsung berbagai ketrampilan belajar khusus yang dipilih oleh guru. Peran guru dalam program pengajaran langsung adalah merancang dan menstruktur pengalaman secara hati-hati untuk membangun ketrampilan praakademik dan akademik. Berbagai bahan adan aktivitas dirancang secara hati-hati untuk mengembangkan berbagagi ketrampilan tersebut.

3. Program Yang Menekankan Kognitif

Perhatian utama dari program ini adalah mengembangkan kemampuan kognitif mencangkup mengingat, membedakan, pemecahan masalah, pembentukan konsep, belajar verbal dan melatih ketrampilan.

Pembelajaraan sebagai suatu proses belajar dan mengajar ditentukan oleh aktivitas guru dan siswa. Pembelajaran yang efektif ditentukan oleh peran atau posisi yang sentral dari guru sama halnya pembelajaran pembinaan juga berada pada sentral yaitu seorang guru sebagai pengelola pembelajaran maupun kegiatan pembinaan. Berdasarkan aktivitas guru dan siswa ini strategi belajar mengajar dikelompokan menjadi dua kelompok

(7)

yaitu pengajaran yang terpusat pada guru dan pengajaran yang terpusat pada siswa. Sikap dan ketrampilan tertentu dengan proses belajar dan pembinaan secara efektif akan berjalan apabila semua mendungkung mulai dari guru dan siswa itu sendiri.

C. Minat

1. Pengertian Minat Anak Kesulitan Belajar (Slow Learning)

Seseorang yang memiliki ketertarikan lebih yang diiringi rasa suka bahkan keinginan untuk dapat mendalami atau lebih mengetahui hal yang mampu membuat tertarik dapat disebut dengan minat.Minat merupakan sesuatu yang tumbuh pada sebuah ketertarikan akan suatu hal baik berupa sebuah aktivitas ataupun benda lainya yang mampu memikat atau menjadikan seseorang memiliki rasa ingin tahu yang lebih terhadap hal tersebut menurutDesmita (2009:109).

Slameto (2010;180) minat merupakan suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal aktivitas,tanpa ada yang menyuruh. Minat seseorang dapat muncul tanpa dapat diduga atau diperkirakan terlebih dahulu,melainkan muncul karena adanya akibat dari suatu partisipasi maupun pengalaman seseorang terhadap suatu hal yang mampu mendorong orang tersebut menjadi tertarik atau memberikan perhatian lebih pada hal tersebut.

Dari berbagai definisi yang telah dibahas diatas dapat dipahami bahwa minat anak berkebutuhan khusus yaitu Slow Learning dan

(8)

Tunalaras sesungguhnya suatu kecenderungan yang tinggi dan timbul dari dalam diri seseorang terhadap sesuatu baik yang berupa aktivitas maupun benda yang mampu memberikan rasa ketertarikan,rasa ingin tahu,dan kesukaan sehingga orang tersebut memberikan perhatian yang lebih pada hal tersebut.

Seseorang yang memiliki minat pada sesuatu dengan yang tidak memiliki minat akan dapat terlihat dengan jelas bila diamati hal ini terjadi karena orang yang memiliki ketertarikan pada suatu hal tersebut akan memberikan rangsangan ataupun perilaku yang lebih memperhatikan. Melalui minat yang dimilikiseseorang dapat mengapresiasikan berbagai hal. Bahkan banyak orang dengan menekuni minat yang dia miliki mampu memberikan sebuah keuntungan baik bagi dirinya maupun orang lain. Minat juga mampu memberikan peran dalam menentukan arah,pola dan dimensi berfikir seseorang dalam beraktifitas.

2. Jenis Minat Anak Kesulitan Belajar (Slow Learning)

Evreyone is uniq diartikan sebagai kata bahwa setiap orang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan yang dimiliki oleh setiap orang dapat tercermin dari perbedaan minat yang dimiliki antar individu.Setiap orang memiliki minat tersendiri namun dari berbagai macam minat yang dimiliki oleh banyak orang dapat dikelompokan dalam beberapa jenis minat. Ellis (2008: 102). Minat terbagi dalam dua jenis yang dapat dilihat dari segi waktu yaitu minat situasional dan minat pribadi. Kedua jenis minat

(9)

tersebut berbeda antara satu dengan yang lain. Berikut adalah penjelasan terkait dua jenis minat tersebut :

a. Minat Situasional

Salah satu jenis minat pertama yaitu minat situasional.Minat situasional merupakan minat yang dipicu oleh sesuatu dilingkungan sekitar. Minat situasional sesuai dengan nama minat jenis ini diartikan sebagai minat yang sifatnya sesaat.

b. Minat Pribadi

Berbeda dengan jenis minat situasional pada minat pribadi dapat dikatakan sebagai kebalikan dari minat situasional.Pada minat pribadi yang dimiliki oleh setiap individu lebih bersifat jangka panjang dan relatif stabil pada suatu topik atau aktivitas tertentu yang konsisten.

D. Kepala Sekolah

Apabila secara cermat mempelajari makna yang terkandung di dalam bab dan pasal Peraturan Pemerintah yang mengatur pelaksanaan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional, ditegaskan bahwa pelaksanaan ketentuan menyangkut pengelolaan, penilaian, bimbingan, pengawasan dan pengembangan bagi sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah menjadi tanggung jawab pemerintah. Artinya pemerintah mengeluarkan peraturan dan pedoman tentang bagaimana pengelolaan, penilaian, bimbingan, pengawasan dan pengembangan pendidikan tersebut dilaksanakan.

(10)

Menurut Wahjosumidjo (2005:204). Betapa pentingnya pembinaan pengajaran sebagai suatu usaha memperbaiki program npengajaran untuk dipahami oleh setiap kepala sekolah. Dengan mengetahui dan memahami tahap-tahap proses perbaikan pengajaran akan membantu para kepala sekolah untuk melaksanakan pembinaan program pengajaran. Di antara penyelenggaraan pendidikan yang harus selalu dibina secara terus menerus oleh kepala sekolah adalah:

1. Program Pengajaran 2. Sumber Daya Manusia

3. Sumber Daya yang Bersifat fisik

4. Hubungan kerjasama antara sekolah yang diatur oleh pemerintah tersebut.

Memahami arti pendidik tidak cukup dengan berpegangan konotasi yang terkadang dalam definisi pendidik tidak cukup dengan berpegangan konotasi yang terkandung dalam definisi pendidik, melainkan harus dipelajari keterkaitanya dengan makna pendidik itu dilaksanakan. Terkait yang perlu diperhatikan oleh setiap kepala sekolah untuk dapat memahami peranya juga sebagai pendidik mencangkup dua pokok yaitu sasaran dan kepada siapa.

(11)

E. Bakat

1. Pengertian Bakat Anak Kesulitan Belajar (Slow Learning)

Setiap orang memiliki bakatnya masing-masing menjadi sebuah kata umum yang hampir setiap orang mengetahui dengan pasti bahwa dalam diri individu yang lahir kedunia memiliki atau membawa bakat ataupun potensi tersendiri.Allah menciptakan manusia dengan sedemikian rupa dengan berbagai kelebihan dan juga kekurangannya masing-masing.

Kelebihan yang diberikan oleh Allah dapat berupa potensi, kemampuan, minat dll.Potensi terpendam yang dimiliki oleh manusia sendiri sering disebut dengan bakat. Menurut Semiwan dalam (Sobur, 2010:181) mengungkap bahwa "bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau ketermpilan, yang relatif bisa bersifat umum (misalnya bakat intelektual umum) atau khusus (bakat akademis khusus)". Dari uraian tersebut dapat diartikan bahwa bakat sesungguhnya merupakan potensi yang dimiliki manusia sejak lahir, dimana potensi tersebut tidak dengan mudah dapat diketahui oleh setiap individu.Bakat yang terdapat dalam diri manusia dapat diketahui dengan usaha dan kerja keras dari individu tersebut untuk dapat memunculkan dan mengembangkan bakat yang ada.Usaha menjadi hal yang sangat memberikan pengaruh besar pada bakat seseorang. "Thomas Alfa Edison, penemu terkenal mengatakan suatu penemuan, 99% adalah hasil keja keras, sedangkan 1% nya adalah bakat". (Subhi, 2014:16). Contoh lain yang dapat kita ambil seperti pemain bulu tangkis Taufik Hidayat yang

(12)

berbakat dalam bidang olah raga bulu tangkis, dia tidak akan mampu menjadi juara dan berbakat dalam bidang bulu tangkis apabila tidak melakukan usaha keras untuk dapat menjadi pemain bulu tangkis yang berbakat seperti sekarang melalui latihan yang dilakukan dengan rutin.

F. Hubungan Minat dan Bakat Anak Kesulitan Belajar (Slow Learning)

Minat dan bakat dua hal yang berbeda namun masih banyak orang yang belum dapat membedakan antara kedua hal tersebut.Meski jelas antara keduanya merupakan hal yang berbeda adanya hubungan yang saling mempengaruhi keberadaan antara satu dengan yang lainnya menjadikan banyak orang sulit dalam membedakan minat dengan bakat. Penjelasan hubungan minat serta bakat sendiri dapat tergambarkan memalui cerita pengalaman Einstein sang tokoh mendunia ketika dia kecil. Ternyata ketika kecil Einstein sangat menyukai benda yang dihadiahkan oleh ayahnya yaitu sebuah kompas.Mata Einsten tidak luput dengan kompas hadiah dari ayahnya itu, benda tersebut ternyata tidak hanya menjadi milestones namun mampu mengarahkannya padaminat saintisnya sehingga berbagai perubahan besar dapat terjadi.Siapa yang menyangka bahwa berawal pada minat sains akibat melihat kompas mampu menjadikan Einsten seorang yang berbakat dalam menemukan rumus yang sekarang dikenal oleh banyak orang. Dari hal tersebut dapat dinyatakan bahwa sebelum seseorang menemukan seperti apa minat serta bakat yang dimiliki oleh setiap individu biasanya orang tersebut

(13)

melewati masa rasa ingin tahu terhadap suatu hal yang nantinya akan mengarahkan pada minat serta bakatnya.

Menurut Chatib (2014:130) menyatakan bahwa "bakat anak akan muncul jika dia menyukai sebuah aktifitas". Jika rasa ingin tahu tersebut telah dilakukan muncul rasa suka atau ketertarikan tersendiri maka dapat dikatakan bahwa rasa suka tersebut merupakan minat yang dimiliki oleh seseorang terhadap hal yang baru saja dia lakukan.

Gambaran singkat terkait hubungan minat bakat dari berbagai uraian yang telah disajikan diatas dapat disajikan dalam bentuk gambar 2.1:

Noviyanti (2014:13) menyatakan bahwa "minat yang ditunjukkan anak, esensinya adalah bayangan dari bakat".Terlebih apabila rasa ingin tahu dan suka tersebut dilakukan oleh mereka yang berada diusia dini. Biasanya seorang anak akan dengan mudah memilih hal apa yang disukai dan yang tidak sehingga akan dengan mudah bagi orang dewasa untuk dapat

Rasa ingin tahu

Dilakukan sesekali Dilakukan berulangkali

Minat situasional Minat pribadi

Bakat

(14)

mendeteksi bakat anak melalui minatnya ketika kecil. Hal ini juga diperkuat melalui pernyataan Hurlock (1980:167) yang menyatakan "minat yang terbentuk dalam masa kanak-kanak sering kali menjadi minat seumur hidup, karena minat menimbulkan kepuasaan".Sehingga perlu adanya kesadaran bagi orang dewasa agar dapat lebih memperhatikan segala minat anak yang dapat menjadi petunjuk untuk dapat membina potensi bakat anak tersebut.

G. Kendala Pelaksanaan Pembinaan

Ma’mur (2012: 122)yang menyatakan bahwa peran guru antara lain sebagai inspirator, observer, fasilitator, dinamisator dan motivator.Pada hal ini segala kendala akan dapat dirasa tidak ada jika guru mampu menjadi pelengkap keberlangsungan proses pembinaan minat dan bakat yang baik. Pada hasil penelitian guru melakukan hal tersebut mulai dari pengamatan hingga membina dan memberikan motivasi kepada siswa anak berkesulitan belajar dalam mengembangkan minat bakat mereka meski dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada.

Pengecekan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi teknik pengumpulan data dari berbagai sumber yang berbeda yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi dalam menentukan validitas. Dari hasil wawncara yang peneliti lakukan dengan 14 partisipan baik primer maupun sekunder, serta dari hasil observasi yang dilakukan dalam kegiatan baik dikelas khusus maupun reguler dan juga hasil dokumentasi penelitian dapat dinyatakan antara satu dengan yang lainya saling memiliki hubungan atau saling

(15)

berkaitan. Hal ini terlihat dengan hasil penelitian yang saling mendukung antara satu teknik dengan teknik yang lain sehingga data yang diperoleh dari semua teknik berjalan pada satu fokus hasil penelitian yaitu Pembinaan minat dan bakat terhadap peserta didik anak kesulitan belajar, sehingga dapat dinyatakan dengan adanya keterkaitan antara satu teknik dengan yang lain dalam penelitian ini menjadi sebuah pernyataan yang dapat disimpulkan.

H. Penelitian yang Relevan

Slow learner has limited intellectual abilities, they need more time to learn. They tend to lack of academic motivation because of their academic failure experiences(kanznowski, 2004;shaw, 2008). Their capability can be more optimal if they supported by good motivation (reddy, Rama &Kusuma, 2006). there are some ways to improve students motivation, one of them is involving parent training program. Effective parent training program change not only parent's behavior, but also children's behavior (matthewa & hudson, 2001).Siswa lambat belajar memiliki keterbatasan kemampuan intelektual, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar.

Mereka mengalami masalah motivasi karena sering mengalami kegagalan (Kanzanowski, 2004). jika didukung dengan motivasi yang baik, kemampuan anak lambat belajar bisa lebih optimal (Reddy, Ramar & Kusuma, 2006). intervensi guna meningkatkan motivasi pada minat dan bakat anak lambat belajar perlu dilakukan salah satunya dengan melibatkan guru dan orang tua.

(16)

Beberapa penelitian terkait dengan ABK telah dilakukan, di antaranya penelitian oleh El-Zeaigat (2012) tentang "Counseling Gifted and Talented Students In Jordanian Indusivee Schools: Condusion and Implication" tentang bimbingan konseling bagi siswa berbakat pada sekolah inklusi di Yordania hasil dan implikasi. Penelitian tersebut merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan hasil penelitian menyatakan seperti berikut "The review indicated that counseling this group of students at Jordanian indusive schools still faces a variety challenges. Foremost were lack of qualified teachers, few of gifted educational programs, and lack of skilled counselors" yang artinya dapat dikatakan bahwa konseling atau bimbingan pada siswa inklusi di Yordania masih menghadapi berbagai tantangan terutama pada kurangnya guru yang berkualitas serta program pendidikan bagi mereka yang berbakat.

Penelitian lain oleh Malak (2013) tentang penelitian "Indusive Education Reform in Bangladesh: Pre-Service Teachers' Responses to Indude Students with Special Educational Needs in Regular Dassrooms" yang dianalisis dengan pendekatakn kulalitatif menyimpulkan penelitian yang menyatakan "Further large dass size, high workloads, inflexible curriculum policy of primary education and inadequate experiential learning facilities of teacher education program are identified as barriers to IE reform." Dari uraian ini dapat dikatakan bahwa, dalam aplikasi pendidikan inklusi masih banyak memiliki hambatan yang di antaranya yaitu adanya kurang memadainya pengalaman fasilitas belajar serta program pendidikan bagi guru

(17)

yang mendampingi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam proses pendidikan inklusi sangat membutuhkan berbagai persiapan mengingat melalui pendidikan inklusi ini menjadi sebuah harapan bare bagi ABK untuk dapat memaksimalkan berbagai potensi yang ada.

Penelitian di atas dikatakan relevan karena fokus dalam penelitian ini sama-sama membahas terkait dengan ABK pada anak Kesulitan Belajar (Slow Learning) pada sekolah inklusi khususnya pada bidang pengembangan kemampuan potensi yang dimiliki. Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang relevan sebelumnya adalah bahwa penelitan sebelumnya membahas terkait berbagai kendala dalam melaksanakan pendidikan inklusi, sedangkan penelitian ini mencari tabu terkait seperti cara guru dalam melaksanakan pendidikan inklusi khususnya dalam membimbing siswanyamenemukansertamembinabakat yang dimiliki.

I. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir dalam penelitian ini yaitu bahwa sesungguhnya semua individu sejatinya memiliki potensi masing-masing khususnya dalam bentuk minat serta bakat yang apabila dikembangkan dengan baik mampu menjadikan seseorang menjadi sukses, hal tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Mereka ABK juga memiliki minat dan bakatnya dibalik segala kekurangan yang dimiliki dan sama dengan individu lainnya tak terkecuali juga bagi anak yang berkesulitan belajar (slow learning) mereka juga memiliki hak untuk dapat sukses dengan potensi minat serta

(18)

bakat yang dimiliki. Hanya saja dibutuhkan usaha serta bantuan yang lebih dari berbagai aspek seperti orangtua, pemerintah terlebih guru yang memiliki peran besar dalam membimbing siswanya yaitu anak dengan kebutuhan berkesulitan belajar (slow learning) anak dengang kebutuhan seperti ini juga memiliki ketertarikan atau minat serta terpendam bakat yang harusnya bisa atau mampu untuk dapat dikembangkan dengan baik guna memunculkan kreativitas serta kemampuan anak kesulitan belajar (slow learning) anak dengan kebutuhan ini memiliki konsentrasi yang tidak terlalu fokus agar dapat memunculkan serta mengembangakan berbagai minat serta bakat yang dimiliki perlu adanya pengarahan serta bimbingan dari beberapa pihak yang terkait dengan anak berkesulitan belajar ini contohnya saja guru, orang tua dan orang-orang disekitarnya .

Maka dari itu pentingdilakukan penelitian untuk mencari tahu startegi guru di sekolah inklusi dalam melaksanakan model pembinaan minat serta bakat yang dimiliki oleh anak Kesulitan Belajar (Slow Learning) baik dilihat dari cara awal guru mengetahui karakteristik dan juga minat bakat yang dimiliki siswa kesulitan belajar (slow learning), startegi pembinaan minat serta bakat ABK serta kendala yang dihadapi oleh guru tersebut. Hasil penelitian ini nantinya diharapkan mampu menjadi sebagai bahan informasi bagi guru lain di sekolah lain ataupun calon guru serta pihak terkait lainnya dalam melakukan pembinaan minat serta bakat anak berkebutuhan khusus yang khususnya pada anak berkesulitan belajar (slow learning).

Referensi

Dokumen terkait

Walaupun proses mulainya rangsangan fisik hingga interprestasi yang begitu cepat, maka untuk mempelajari persepsi kita dapat membaginya menjadi dua bagian besar

Peran keluarga terhadap peroses penyembuhan pasien gangguan jiwa, diantaranya: memberikan bantuan utama terhadap penderita gangguan jiwa, pengertian dan pemahaman tentang

Pemerintah atau organisasi top management (di Indonesia disebut PUPR) harus mempunyai peran yang besar dalam implementasi disebuah negara, mengganti dari metode konvensional

Posyandu adalah bentuk peran serta masyarakat yang digerakan oleh PKK dan lembaga swadaya masyarakat lainya dengan bantuan teknis dari petugas Puskesmas dan Keluarga Berencana

Aspek Kualitas Aktiva Produktif adalah aspek yang digunakan untuk mengukur kualitas kekayaan perusahaan atau badan usaha yang dapat menghasilkan pendapatan.

Pengertian-pengertian pendidikan agama Islam di atas, memberi pemahaman bahwa, pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar untuk membimbing, mengajar dan mengasuh anak didik

Kemitraan adalah kerjasama antara usaha kecil dengan menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan yang berkelanjutan oleh usaha menengah atau usaha

Dalam hal ini pengertian peran difokuskan dari Pemerintah Pusat Provinsi Lampung ke Pemerintah Daerah Kabupaten, sebagai apa yang telah dilakukan Dinas