11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Modal sosial
Menurut Hasbullah (dalam Handoyo,2012:89-90) ada dua tipe modal sosial yaitu modal sosial terikat (bonding social capital) dan modal sosial yang menjembatani (bridging social capital). Modal sosial terikat cenderung bersifat ekslusif dan berorientasi ke dalam (inward lingking). Individu yang menjadi anggota kelompok cenderung homogen dan bersifat konservatif. Pada kelompok ini para anggotanya terhubung secara kuat, positif, dan bersifat timbal balik. Sedangkan bentuk modal sosial yang menjembatani merupakan bentuk modern dari suatu pengelompokan, grup, asosiasi atau masyarakat. Prinsip – prinsip yang dianut didasarkan pada nilai-nilai universal, seperti persamaan, kebebesan, kemajemukan, kemanusiaan, terbuka dan mandiri.
Menurut Hanifan (Dalam Alfitri,2011:45), Modal sosial merupakan aset nyata yang penting dalam hidup bermasyarakat, termasuk kemauan baik, rasa bersahabat, saling empati, hubungan sosial, kerjasama, dan sebagainya.
Pretty dan Ward (dalam Rustiadi,2009: 450-451), mengidentifikasi empat aspek utama modal sosial yakni (a) hubungan saling percaya (relations of trust), (b) adanya pertukaran (reciprocity and exchanges), (c) aturan umum (common rules), norma-norma (norms) dan sanksi-sanksi
12
(sanctions), dan (d) keterkaitan (connectedness), jaringan (networks) dan kelompok-kelompok (groups).
Menurut Putnam (Dalam Field, 2010: 51-52), modal sosial adalah bagian dari kehidupan sosial yaitu berupa jaringan, norma, dan kepercayaan yang mendorong partisipan bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan – tujuan bersama. Menurut Putnam ada dua bentuk modal sosial yaitu modal sosial mengikat atau bonding social capital dan modal sosial yang menjembatani atau bridging social capital. Modal sosial mengikat mendorong identitas ekslusif dan mempertahankan homogenitas. Modal sosial mengikat ini merupakan kapital baik untuk menopang reprositas spesifik dan mobilisasi solidaritas serta memperkuat identitas dan kesetiaan kelompok. Sebaliknya, modal yang menjembatani (bridging social capital) cenderung menyatukan orang dari beragam ranah sosial. Hubungan yang menjembatani ini baik untuk menghubungkan aset eksternal dan untuk penyebaran informasi.
Menurut Abdullah (dalam Suwartiningsih dan Hapsari, 2009: 43-44) mengidentifikasi tiga bentuk modal sosial yang ada dalam masyarakat yaitu: 1. Ideologi dan tradisi lokal yang mengacu pada paham tertentu dalam menyikapi hidup dan menentukan tatanan sosial. Hal ini dapat berupa kepercayaan setempat yang merupakan basis bagi legimitasi tindakan sosial, ajaran yang menjadi sistem acuan dalam tingkah laku yang terwujud: etika sosial yang mengatur hubungan antar manusia dengan
13
manusia atau lingkungan: etos kerja, nilai tradisi, dan norma yang merupakan perangkat aturan tingkah laku.
2. Hubungan dan jaringan sosial yang merupakan pola-pola hubungan antara orang dan ikatan sosial dalam suatu masyarakat seperti kerabat atau ikatan ketetanggaan.
3. Jaringan terdapat dalam masyarakat, menjangkau institusi lokal yang berfungsi bagi kepentingan kelompok dan masyarakat. Ini dapat berupa kelembagaan adat atau pranata sosial yang berperan secara langsung ataupun tidak langsung.
Lang dan Hornburg (dalam Suwartiningsih dan Hapsari, 2009: 43-44) mengungkapkan bahwa konsep modal sosial menyandang dua dimensi yaitu social glue dan social bridge. Kerekatan sosial, disamping berisi kepercayaan sosial, juga mencakup kesediaan atau keikhlasan berpartisi. Sedangkan jembatan sosial tidak sekedar diartikan jalinan antar kelompok, tetapi juga keterbukaan akses bagi seluruh anggota masyarakat untuk berhubungan dengan daya diluar sirkel mereka.
Dari berbagai definisi modal sosial yang sudah ada di atas maka penelitian tentang peran modal sosial dalam pencapaian keberhasilan Keaksaraan Usaha Mandiri Mawar V akan menggunakan dua bentuk modal sosial yaitu modal sosial mengikat (bonding social capital) dan modal sosial menjembatani (bridging social capital). Modal sosial mengikat terdapat kerjasama, kepercayaan, norma, nilai, tindakan yang proaktif, sumber daya. Sedangkan modal sosial menjembatani terdapat jaringan (di luar kelompok).
14
Modal sosial tersebut yang mendorong keberhasilan Keaksaraan Usaha Mandiri Mawar V dalam bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama.
2.2 Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM)
Keaksaraan Usaha Mandiri merupakan sebuah kegiatan peningkatan kemampuan keberaksaraan melalui pembelajaran keterampilan dasar usaha yang dilatihkan melalui pembelajaran produktif dan keterampilan bermata pencaharian yang dapat meningkatkan keaksaraan dan penghasilan peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok sebagai salah satu upaya penguatan keaksaraan sekaligus pengentasan kemiskinan.
Tujuan Keaksaraan Usaha Mandiri adalah pertama, untuk menggerakkan seluruh elemen masyarakat guna memberikan pelayanan pendidikan keaksaraan (aksara dan angka) bagi penduduk yang masih buta huruf menjadi melek huruf yaitu mampu membaca, menulis berhitung dan memiliki ketrampilan yang dapat diusahakan sebagai bekal hidup sehari – hari. Kedua meningkatkan kualitas SDM yang memiliki kemampuan calistung (Baca, tulis dan menghitung) yang berorientasi pada kehidupan sehari–hari dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya.
Selain itu manfaat Keaksaraan Usaha Mandiri antara lain pertama, memberikan bekal kemampuan dasar yang merupakan perluasan serta peningkatan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari program
15
Keaksaraan Fungsional yang bermanfaat bagi warga belajar. Kedua, meningkatkan akses, mutu dan citra publik terhadap pendidikan jalur nonformal. ketiga, memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dijangkau dan dipenuhi oleh jalur pendidikan formal. Keempat, mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Dan kelima, memberikan berbagai pelayanan pendidikan untuk setiap warga masyarakat memperoleh pendidikan sepanjang hayat1.
Salah satu Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) di Salatiga yang masih aktif adalah Keaksaraan Usaha Mandiri Mawar V yang berada di wilayah Nogosari Kelurahan Bugel Kecamatan Sidorejo. Keaksaksaraan Usaha Mandiri (KUM) Mawar V adalah suatu kegiatan ketrampilan yang dapat meningkatkan keaksaraan dan penghasilan peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok sebagai salah satu upaya penguatan keaksaraan sekaligus pengentasan kemiskinan yang berada di wilayah Nogosari.
Kegiatan Keaksaraan Usaha Mandiri Mawar V memiliki 4 kelompok yaitu Keaksaraan Usaha Mandiri Mawar V-a, Keaksaraan Usaha Mandiri Mawar V-b, Keaksaraan Usaha Mandiri Mawar V-c, dan Keaksaraan Usaha Mandiri Mawar V-d. Setiap kelompok terdiri 1 (satu) tutor dan 10 (sepuluh) orang anggota yang didalamnya ada ketua kelompok, sekretaris, dan
1
16
bendahara2. Kegiatan Keaksaraan Usaha Mandiri Mawar V dilaksanakan
seminggu sekali dengan setiap pertemuan 2x60 menit yang bertempat di Balai Pertemuan rukun warga (RW). Jika materi Keaksaraan Usaha Mandiri berupa teori, maka akan di laksanakan di balai pertemuan rukun warga (RW), sedangkan jika materi Keaksaraan Usaha Mandri berupa praktek, maka akan di laksanakan secara bergantian dirumah anggota dan tutor.
2.3 Indikator Keberhasilan Keaksaraan Usaha Mandiri
Indikator Keberhasilan Kegiatan Keaksaraan Usaha Mandiri yaitu : a. Jumlah peserta didik yang mengikuti kegiatan
Semua peserta mengikuti kegiatan KUM Mawar V dengan antusias dan rajin dalam kedatangan pada setiap kegiatan.
b. Kegiatan dilanjutkan dengan ketrampilan secara mandiri
Adanya kegiatan tersebut menjadi suatu usaha yang dapat menghasilkan pendapatan dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup. c. Tingkat kompetensi yang dikuasai oleh warga belajar
Penguasaan materi oleh warga belajar tercermin dari pengetahuan ketrampilan memasak resep masakan roti basah maupun kering dan ketrampilan tangan yang kemudian dipraktekkan kembali dirumah maupun dijual.
2 Hasil wawancara prapenelitian dengan Ibu Sri Sayekti Jumarno selaku koordinasi kelompok KUM Mawar V (19 Juli 2013)
17 2.4 Orisinalitas Penelitian
Originalitas penelitian adalah berisi tentang topik penelitian yang akan dilaksanakan benar – benar asli dan tidak merupakan hasil jiplakan dari naskah atau karya penelitian orang lain, meskipun dalam beberapa hal mempunyai kesamaan terutama yang berhubungan dengan metode tetapi ada hal – hal lain dalam penelitian yang berbeda. Hal yang berbeda inilah yang akan menunjukan keaslian penelitian.
Tabel 2.1
Perbandingan Dengan Penelitian Sebelumnya
Peneliti Judul Tujuan Metode Hasil
Benny Kurniaw an Membang un Modal Sosial Melalui Credit Union (2013) Menjelaskan peran modal sosial dalam mewujudkan kesejahteraan sosial-ekonomi Desa Kendel Jenis penelitian adalah deskripsi, dengan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data dengan wawancara dan observasi kepada informan kunci
Modal sosial yang kuat membangun
perekonomian kokoh untuk dapat menentukan nasib masyarakat Kendel yang secara administratif merupakan daerah pedesaan. Kedua, Modal sosial digunakan sebagai alat ukur ketika
melakukan interaksi untuk kepentingan kegiatan CUUS. Regina Titis Kusuma ningtyas Identifikas i Modal Sosial Kelompok Tani Padi Organik Dan Penggunaa nnya Dalam mendukun g Usahatani (2010) pertama untuk mengidentifikasi dan menjelaskan modal sosial yang dimiliki kelompok tani padi organik. Kedua menjelaskan manfaat dari modal sosial yang dimiliki kelompok tani dalam menunjang Jenis dari penelitianini adalah penelitian eksplanatori dengan metode studi kasus sedangkan pengambilan data menggunakan metode wawancara informan kunci, observasi
Kelompok Tani Ngudi Mulyo 2 memiliki kepercayaan sebagai modal sosial yang bermanfaat untuk membangun hubungan kerjasama, Kelompok Tani Ngudi Mulyo 2 memiliki nilai sebagai modal sosial yang bermanfaat untuk
menciptakan keteraturan dalam melakukan usahatani, Kelompok Tani Ngudi Mulyo 2
18
usahatani partisipatif dan studi
dokumentasi
memiliki jaringan sossial sebagai modal sosial yang bermanfaat untuk membantu dalam bidang pemasaran dan untuk mendapatkan informasi dalam meningkatkan usahatani. Setyo Winanto Strategi Perjuanga n Pedagang Kaki Lima dalam Berusaha di Salatiga (studi kasus di Jl Taman Pahlawan) (2006) Untuk mendeskripsika n perilaku pedagang kaki lima yang dilakukan melalui pemanfaatan modal sosial dan untuk mengetahui strategi perjuangan dalam berusaha yang tepat sesuai kebutuhan dan harapan dagang kaki lima Pendekatan kualitatif Dalam berusaha ditemukan adanya
kelompok sub paguyuban turut berperan dalam modal sosial, nilai-nilai kekeluargaan ditujukan dengan gotong royong.
Fitrio Bayu Gangg Murti Nilai ekonomis modal sosial budaya pada sektor informal penjual kue serabi di Desa Ngampin Kecemata n Ambarawa Kabupaten Semarang (2006) Mendeskripsika n sektor informal pedagang kue serabi di Desa Ngampin, Mendeskripsika n manfaat nilai ekonomis modal sosial dalam kegiatan usaha pedagang kue serabi Metode observasi, Teknik analisis data deskriptif kualitatif
Pertama, bahwa sektor informal penjual kue serabi di Desa Ngampin sebanyak 60 orang dan bernaung dibawah suatu paguyuban “Mekar Lestari”. Kedua, kegiatan usaha penjual kue serabi lebih banyak menyerap tenaga kerja perempuan dari kalangan bahwa dengan tingkat pendidikan dan
ketrampilan kerja yang relatif terbatas.
19 Nuellita Jatiningti yas Peran Modal Sosial dalam pencapaia n keberhasil an Keaksaraa n Usaha Mandiri (KUM) Mendeskripsika n peran modal sosial dalam pencapaian keberhasilan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) di wilayah Nogosari Jenis penelitian deskriptif, dengan pendekatan kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi,doku mentasi. Pertama, Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) Mawar V dapat
dikatakan berhasil karena sejak berdiri sampai penelitian ini dilakukan keanggotaan tidak berkurang disamping itu anggota sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran produktif dan ketrampilan bermata pencarian yang
merupakan kegiatan pokok dalam kelompok ini. Keberhasilan juga bisa dilihat dari beberapa anggota yang sudah mempraktekan ilmunya yang diperoleh melalui keterlibatan mereka dalam kelompok ini, kemudian mempraktekan sehingga bisa secara nyata meningkatkan pendapatan. Kedua, keberhasilan kelompok ini tidak terlepas dari peran modal sosial yang dipraktekan dalam kelompok ini. Modal sosial yang dimaksud adalah dua bentuk modal sosial yaitu modal sosial mengikat (bonding social capital) dan modal sosial menjembatani (bridging social capital). Modal sosial mengikat terdapat kerjasama, kepercayaan, norma, nilai, tindakan yang proaktif, sumber daya. Sedangkan modal sosial menjembatani terdapat jaringan (di luar kelompok).
20 2.5 Kerangka Pikir Penelitian
Keterangan :
Berangkat dari kerangka teoritis yang telah diuraikan di atas dan melihat persoalan yang akan dikaji dalam penelitian ini mengenai bagaimana peran modal sosial dalam pencapaian keberhasilan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) di Desa Nogosari. Bagan di atas merupakan kerangka pikir yang dipakai sebagai dasar dalam penelitian.