KAJIAN SEJARAH MARITIM: PERANAN SUNGAI KALIMAS SEBAGAI JALUR PERDAGANGAN DAN PENGARUHNYA BAGI
ETNIS ARAB DI SURABAYA TAHUN 1902-1930 M
SKRIPSI
DiajukanuntukMemenuhiSebagianSyaratMemperoleh GelarSarjanadalamProgram Strata Satu (S-1) Pada JurusanSejarahdanKebudayaan Islam (SKI)
Oleh
Ahmad AgusUbaidillah NIM: A0.22.12.033
FAKULTAS ADAB DANHUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERISUNAN AMPEL
viii
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Kajian Sejarah Maritim: Peranan Sungai Kalimas sebagai Jalur Perdagangan dan Pengaruhnya bagi Etnis Arab di Surabaya tahun 1902-1930 M)”. Masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana perkembangan sungai Kalimas sebagai pusat perdagangan di Surabaya tahun 1902-1930? 2) Bagaimana peran sungai Kalimas sebagai pusat perdagangan di Surabaya tahun 1902-1930? dan, 3) Bagaimana pengaruh sungai Kalimas bagi etnis Arab disekitar Kalimas Surabaya?.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian sejarah, yang meliputi beberapa langkah yaitu heuristic (penelitian ini adalah penelitian kepustakaan/Library Research), verifikasi, interpretasi dan historiografi. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis yang digunakan untuk mendeskripsikan peristiwa masa lampau dan juga pendekatan sosiologis yang digunakan untuk mengungkapkan interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Peranan dari Brice J. Biddle and Edwin J. Thomas.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan: 1) Sungai Kalimas pada masa prakolonial tepatnya pada masa kerajaan Majapahit merupakan pelabuhan transit untuk menuju pelabuhan besar, kemudian pada masa kolonial pemerintah Hindia-Belanda menjadi pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi, akhirnya pada tahun 1902-1930 Kalimas mengalami beberapa kali perbaikan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah Hindia-Belanda, 2) Sungai Kalimas Surabaya menjadi jalur transportasi laut yang dimanfaatkan oleh para pedagang dengan menggunakan tongkang kecil untuk membawa barang-barang dagangannya masuk ke daerah pedalaman sampai ke pusat kota karena kapal-kapal kargo hanya bisa berlabuh sampai di mulut sungai, dan 3) Adanya sungai Kalimas sebagai jalur perdagangan sangat berpengaruh bagi kelangsungan kehidupan perdagangan etnis Arab di Surabaya yang notabennya adalah seorang pedagang.
ix
ABSTRACT
This thesis is under title A study of Maritime History: the role of Kalimas river as treading track and its effect toward Arabic ethnics in Surabaya year of 1902-1930 M. The problems of this research are: 1) what is the development of Kalimas river as treading track in Surabaya year of 1902-1930? 2) what is the role of Kalimas river as treading track in Surabaya year of 1902-1930? And 3) what is the effect of Arabic ethnics around Kalimas river Surabaya?.
This research used historical research method which covered several steps. They are heuristic (library research), verification, interpretation and histography. This research approach are historical approach which used to describe last phenomenon and social approach which used to reveal social interaction in social life. The theory of this research is role theory deived by Brice J. Biddle and Edwin J. Thomas.
The result of this research are 1) In pre-colonial exactly in period of Majapahit Kingdom, Kalimas river was the transit harbour before to the main harbour. It became international harbour which had much visitors in colonial goverment of Dutch east Indies. In 1902-1930, Kalimas river had many times repairment related with the policy goverment of Durch east Indies, 2) Kalimas river became treading track over a river which is benefit for the treaders to pick up their commodities used barge going to the central city because the ship is only anchored at the river bank, and 3) The existence of Kalimas river as trading track is affected to the life of Arabic ethnics in Surabaya who are dominantly treader.
xv
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv
PEDOMAN TRANSLITERASI ... v
MOTTO ... vi
PERSEMBAHAN ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR DAN TABEL ... xiv
DAFTAR ISI ... xv
BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Kegunaan Penelitian ... 8
E. Penelitian Terdahulu ... 8
F. Pendekatan Dan Kerangka Teoritik ... 10
H. Metode Penelitian ... 11
xvi
BAB II: SUNGAI KALIMAS TAHUN 1902-1930
A.Deskripsi Lokasi: Sungai Kalimas Surabaya ... 19
B.Sejarah Kalimas Surabaya ... 21
1. Kalimas pada Zaman Prakolonial ... 22
2. Kalimas pada Masa Kolonial ... 27
3. Kalimas pada tahun 1902-1930 M ... 36
BAB III: PERANAN KALIMAS SEBAGAI PUSAT PERDAGAGAN DI SURABAYA TAHUN 1902-1930 M A.Peranan Kalimas sebagai Jalur Perdagangan di Surabaya ... 41
B.Kebijakan Pemerintah Belanda terhadap Pelabuhan Kalimas Surabaya ... 47
C.Menulusuri Jejak Kalimas Surabaya ... 58
BAB IV: PENGARUH KALIMAS BAGI ETNIS ARAB SURABAYA A.Penyebaran Islam di Surabaya ... 69
B.Keberadaan Etnis Arab di Surabaya ... 76
C.Etnis Arab dalam Struktur Kota Bawah di Surabaya ... 83
D.Pengaruh Kalimas bagi Etnis Arab di Surabaya ... 86
BAB V: PENUTUP A.Kesimpulan ... 90
B.Saran ... 92
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia sebagai wilayah kepulauan, dua pertiga lautan dan
sepertiga daratan, mempunyai letak wilayah yang strategis dan potensial
bagi pertembuhan dan perkembangan di sektor perdagangan. Menyebut
pertumbuhan dan perkembangan tersebut dipengaruhi oleh lautan yang
dijadikan jalur pelayaran atar pulau (lokal) atau juga antar negara
(internasional). Pengembangan dari sektor maritim antara lain dapat
menyumbangkan1: integrasi ekonomi dari kepulauan, dengan pergerakan
komoditas yang diperdagangkan dan tenaga kerja yang bebas hambatan
antar pulau-pulau serta integrasi sosial dan politik dari bangsa dengan
pergerakan warga negara yang bebas hambatan diantara pulau-pulau untuk
berbagai tujuan.
Menyebut Nusantara berarti mengacu pada area kepulauan
Prakolonial yang menjadi cikal bakal Indonesia, menurut laporan Bilveer
Singh pada konferensi tahunan di Hawaii tentang Indonesia menyangkut
masalah Indonesia secara geografis terletak pada jalur perdagangan
Internasional2, karena merupakan bagian wilayah yang dilewati oleh Jalur
Sutra Laut yang merupakan jalur perdagangan purba sejak masa Nabi Isa.
Jika berangkat dari Laut Arab atau Teluk Persia, melalui teluk Benggala,
1
Elfrida Gultom, Refungsionalisasi Pengaturan Pelabuhan untuk meningkatkan Ekonomi
Nasional (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), 1. 2
2
Selat Malaka. Dari Selat Malaka menuju China bisa melalui China
Selatan, lalu tiba di Guangzhou, Yangzhou, dan Kanton. Namun, Laut
China Selatan terlalu besar ombaknya sehingga agar aman sebuah kapal
dagang harus melalui Laut Jawa, Selat Malaka atau Perairan Maluku, terus
ke Manila dan menuju Kanton3. Laut China selatan termasuk laut
bergelombang besar, sehingga pelayaran dunia cenderung ke selatan
melalui Palembang, Banten, Cirebon, Tuban (Majapahit), Warugasik atau
Gresik (Majapahit), Watugaluh atau Surabaya (Majapahit), Banjarmasin,
melalui selat Makassar atau perairan Maluku (gerbang timur Nusantara),
terus ke Ma’manallah (Manila) sampai ke Kanton4
.
Sudah dari dulu Indonesia ikut dalam perhubungan perdagangan
di jalur sutra, sejak dulu kala barang-barang yang diperdagangkan adalah
rempah-rempah yakni lada dari Sumatera, Cengkih dan buah pala dari
Indonesia Timur, jenis kayu yang berharga (terutama dari pulau-pulau
Sunda kecil) serta hasil hutan lainnya seperti kapur barus dari Sumatera5.
Indonesia menjadi negara yang sangat sering dikunjungi oleh saudagar
dari luar negeri untuk melakukan transaksi jual-beli.
Secara geografis wilayah Indonesia merupakan kawasan kepulauan
yang menempatkan laut sebagai jembatan penghubung bukan sebagai
pemisah. Sehingga adanya pelabuhan sebagai sarana perpindahan
transportasi dari laut ke darat begitupun atau dari pelabuhan satu ke
3 Ibid., 3. 4
Ibid., 4. 5
Burger dan Prajudi, Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia (Djakarta: P.N Pradnja Paramita
3
pelabuhan yang lain, sangat berperan aktif dan sangat penting
keberadaanya sebagai jalur penghubung. Pelabuhan merupakan sepenggal
air laut yang terlindungi dari angin, arus dan gelombang sehingga cocok
untuk dijadikan tempat berlabuh kapal6. Pelabuhan juga merupakan pintu
gerbang untuk masuk ke suatu daerah tertentu dan sebagai sarana
penghubung atau distributor barang dari pelabuhan ke pedalaman daerah,
baik melalui jalur darat mauapun jalur air (sungai/kali).
Banyak kota diawali dan berkembang dari tepi sungai, karena
memang sungai sebagai kebutuhan utama masyarakat untuk
melangsungkan hidupnya. Kebutuhan sumber air yang menjadi sumber
kehidupan manusia untuk selanjutnya berkembang menjadi pemenuhan
kebutuhan lain. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan
teknologi yang ada, sungai selain sebagai menjadi tumpuan utama untuk
konsumsi, juga berkembang sebagai sarana transportasi air untuk
mengangkut dan mendistribusikan banyak kebutuhan manusia.
Ketersediaan jasa transportasi berkolerasi positif dengan kegiatan ekonomi
dan pembangunan dalam masyarakat7. Berkaitan dengan sangat
pentingnya fungsi transportasi telah timbul banyak pernyataan, salah
satunya menganggap bahwa transportasi merupakan urat nadi
perekonomian.
Sungai sebagai pemenuhan kebutuhan utama untuk hidup yang
kemudian juga berfungsi sebagai jalur transportasi air juga terjadi di
6Ensiklopedi Nasional Indonesia
, vol 12 (Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990), 292. 7
4
Surabaya salah satunya adalah Kalimas. Berawal dari Kalimas inilah
Surabaya berkembang menjadi kota besar. Pada masa Belanda
pemanfaatan fungsi Kalimas sebagai sungai dilakukan secara optimal,
sehingga Kalimas juga berfungsi sebagai sarana transportasi air untuk
kegiatan perdagangan. Pemerintah Belanda yang ada di Surabaya
menggembangkan muara Kalimas sebagai pelabuhan besar untuk kegiatan
perdagangan bangsa Eropa. Kalimas menjadi penting, karena kegiatan
yang dilakukan meliputi pelayaran dan bongkar muat barang-barang yang
diperdagangkan dari dan ke Surabaya.
Sebagai koridor dengan keadaan geografinya sebagai sungai yang
membela kota Surabaya. Pada saat itu, Surabaya melakukan pembagian
koridor menjadi sebelah Barat Kalimas dan Timur Kalimas. Belahan Barat
Kalimas diperuntukkan bagi orang Belanda dan Eropa secara umum,
sedangkan sebelah Timur Kalimas diperuntukkan kepada pribumi, Cina,
Melayu dan Arab. Pembagian tempat tinggal atau pembagian etnis yang di
lakukan oleh Belanda di Surabaya membuat perubahan dan memberikan
dampak yang besar bagi beberapa etnis, tidak terkecuali etnis Arab yang
berada disekitar Kalimas. Pengaruh Kalimas yang pada saat itu menjadi
pusat perdagangan atau sebagai jalur perdagangan di Surabaya tentunya
memberikan dampak positif bagi penduduk yang berada disekitar Kalimas
khususnya dalam bidang mata pencaharian dan lain-lain.
Dalam berita harian Kompasiana (19/10/2010) Pada saat ini,
5
berkembangnya area perdagangan ke seluruh penjuru kota, Kalimas
terabaikan oleh kemajuan zaman dan teknologi yang tidak lagi
memerlukan sungai sebagai sarana aktifitas perdagangan. Kalimas menjadi
beban tersendiri bagi kota Surabaya untuk memelihara dan memperhatikan
keadaan fisiknya8. Dengan beban pengelolaan tersebut maka pemeliharan
terhadap Kalimas sebagai tempat bersejarah yang pernah mengalami masa
keemasan sebagai sungai sangat penting bagi kota Surabaya, semakin
terabaikan. Fungsi Kalimas tidak lagi sebagai sarana transportasi air yang
penting bagi masyarakatnya seperti yang dulu.
Kalimas menjadi salah satu tempat yang menjadi tujuan
masyarakat pinggiran untuk bermukim secara ilegal dengan pemukiman
ilegal yang tidak sehat dan kumuh. Hal itu menambah fakta bahwa
Kalimas tidak lagi menjadi bagian dari kota yang dianggap layak untuk
dikelola secara benar sehingga Kalimas dianggap tidak memiliki makna
penting untuk menggangkat citra kota Surabaya, padahal pada zaman
Belanda Kalimas merupakan pusat perdagangan yang besar dan
eksistensinya sangat penting sekali bagi kelangsungan kehidupan warga
Surabaya khususnya masyarakat sepanjang Kalimas.
Berangkat dari aspek menghargai tempat bersejarah yang
dilupakan oleh zaman, penulis mencoba untuk mendapatkan
gambaran-gambaran yang jelas mengenai Kalimas pada saat itu. Sehingga dapat
kembali direkontruksi secara utuh keadaan Kalimas pada saat itu, yang
8
Muh Budiawan Guntur, “Kalimas, Sumber Air Warga Surabaya”, dalam: www.kompasiana.com
6
nantinya juga akan memberikan wawasan pada masyarakat luas arti
penting tempat bersejarah serta bersama-sama menjaga dan melestarikan
peninggalan sejarah.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang peran Kalimas
serta pengaruhnya bagi etnis Arab disekitarnya, dalam peneitian ini akan
mendeskripsikan gambaran Kalimas pada kurun waktu 1902-1930
sehingga nantinya pembaca dapat memahami serta membayangkan
bagaimana kondisi Kalimas pada saat itu, yang keberadaannya sangat
penting bagi kelangsungan hidup penduduk sekitarnya. Ruang lingkup
pembahasan yang akan dijadikan pusat perhatian peneliti dapat dibatasi
sehingga permasalahan yang dibahas tidak terlalu melebar9. Oleh sebab
itu, dalam penelitian ini masyarakat yang diteliti adalah etnis Arab yang
berada dan menetap sekitar Kalimas dalam kurun waktu antara tahun
1902 sampai 1930. Dengan batasan ruang dan waktu yang jelas seperti
yang dipaparkan di atas akan lebih memudahkan penulis dalam
mendapatkan gambaran yang jelas mengenai objek yang diteliti.
Arti penting penelitian ini dilakukan adalah untuk menjadi bentuk
tulisan sejarah yang baru di Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas
Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Karena dari banyak
tema dalam sejarah khsusunya di Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, satu diantaranya yang
belum banyak digarap adalah tema sejarah maritim, yang mencakup
9
7
tentang sejarah perekonomian dan perniagaan yang memang sangat erat
hubungannya dengan kemaritiman. Oleh sebab itu, bahasan tentang
sejarah kemaritiman perlu untuk dibahas dan diteliti.
B. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang yang telah dipaparkan pada
sub-bab sebelumnya, maka dapat dirumuskan tiga masalah yang akan
dijawab melaluipenelitian ini, ketiga rumusan masalah tersebut adalah:
1. Bagaimana perkembangan sungai Kalimas sebagai pusat perdagangan
di Surabaya tahun 1902-1930?
2. Bagaimana peran sungai Kalimas sebagai pusat perdagangan di
Surabaya tahun 1902-1930?
3. Bagaimana pengaruh sungai Kalimas bagi kehidupan etnis Arab
disekitar Kalimas Surabaya?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan pelabuhan Kalimas
sebagai pusat perdagangan di Surabaya tahun 1902-1930?
2. Untuk mengetahui peranan apa saja yang diberikan pelabuhan Kalimas
sebagai pusat perdagangan di Surabaya tahun 1902-1930?
3. Untuk mengetahui pengaruh sungai Kalimas bagi kehidupan etnis
8
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan
sumbangan bagi beberapa aspek. Acuan Tri Dharma Perguruan Tinggi
menjadi pegangan dalam penelitian ini.
1. Sebagai sarana pendidikan, dengan diketahuinya fakta mengenai
pelabuhan Kalimas sebagai pusat perdagangan di Surabaya tahun
1902-1930 dapat memberikan khazanah pendidikan sejarah baik bagi
peneliti maupun bagi pembaca.
2. Sebagai sarana penelitian, dalam hal ini adalah untuk pengembangan
pengetahuan, yang diharapkan dapat berguna bagi pengayaan dan
pengembangan ilmu sejarah dan kebudayaan, khususnya kebudayaan
Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya.
3. Sebagai sarana pengabdian masyarakat, atau manfaat praktis yang
diharapkan dapat berguna bagi pengembangan budaya maupun juga
sebagai wawasan sejarah yang nantinya menjadikan masayrakat peduli
akan tempat-tempat bersejarah juga guna mendukung pembangunan
Nasional dalam membangun manusia yang seutuhnya.
E. Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai “Peranan Pelabuhan Kalimas Sebagai Pusat
Perdagangan Surabaya dan Pengaruhnya bagi Etnis Arab disekitarnya
tahun 1902-1930” sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan.
9
1. Sebuah jurnal yang di tulis oleh Handinoto dan Samuel Hartono Staf
Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Jurusan Arsitektur,
Universitas Kristen Petra, Surabaya dengan judul” Surabaya Kota
Pelabuhan (‘Surabaya Port City’)Studi tentang perkembangan ‘bentuk
dan struktur’ sebuah kota pelabuhan ditinjau dariperkembangan
transportasi, akibat situasi politik dan ekonomi dari abad 13 sampai
awal abad 21” Vol. 35, No. 1, Juli 2007. Dari hasil pengkajian yang
dilakukan oleh Handinoto dan Samuel Hartono memberikan manfaat
terhadap kajian penulis tentang nilai estetika. Secara umum kajian
yang dilakukan telah banyak mengupas tentang tata letak atau
struktur bangunan sebuah kota (lebih kepada unsur arsitektur
bangunan). Sehingga sangat berbeda dengan kajian yang ditulis oleh
penulis yang membahas mengenai peranan pelabuhan Kalimas itu
sendiri sebagai pusat perdagangan.
2. Penulis belum menemukan tulisan ilmiah yang memfokuskan kajian
tentang pengaruh Kalimas terhadap Masyarakat Arab disekitar.
Penulis hanya mendapati skripsi yang berjudul “Masyarakat Arab
Islam di Ampel Surabaya dalam Struktur Kota Bawah tahun
1816-1918” yang ditulis oleh Maslakhatul Khurul Aini tahun 2013
mahasiswa Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Ampel
Surabaya, yang berbeda pembahasan dengan karya ilmiah ini.
Pembahasan skripsi tersebut lebih terkosentrasi pada perkembangan
10
lebih terkosentrasi pada terbentuknya komunitas Arab di Kota Bawah
(Benedenstad) sedangkan inti dari skripsi ini lebih menitik beratkan
pada pengaruh Kalimas sebagai pusat perdagangan bagi etnis Arab
yang berada di sekitarnya.
3. Skripsi yang ditulis Anik Mukardaya “Komunitas Masyarakat Arab di
Ampel Surabaya (Sejarah Munculnya Masyarakat Arab di Ampel
Surabaya) pada tahun 2004. Pembahasan skripsi lebih membahas pada
sejarah munculnya komunitas Arab di Ampel Surabaya.
F. Pendekatan dan Kerangka Teoritik
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan
historis dan sosiologis. Pendekatan historis dilakukan dengan menelesuri
sumber-sumber masa lampau yang akan membantu merekontruksi kembali
suatu peristiwa berdasarkan urutan waktu secara tepat. Sedangkan
pendekatan sosiologis menggunakan ilmu bantu sosial yang berupa ilmu
sosiologi dapat membantu mengungkapkan proses-proses sosial10 dalam
menganalisis pengaruh yang ditimbulkan oleh Sungai Kalimas yang
menjadi jalus pusat perdagangan di Surabaya bagi etnis Arab di Surabaya
Peran teori sangat penting bagi kelangsungan penelitian, teori
merupakan bagian dari konstruk umum berpikir akan masalah yang
menjadi fokus penelitian yang dapat menjadi cantelan penting bagi
pelaksanaan penelitian11. Teori yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teori peranan. Adapun makna dari kata “peran” dapat merujuk pada
10
Dudung Abdurahman, Metode Penelitian Sejarah (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 12.
11
Uhar Suharsaputra, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Tindakan (Bandung: PT
11
sebuah penjelasan yang berkonotasi ilmu sosial, yang mengartikan peran
sebagai suatu fungsi yang dibawakan ketika menduduki suatu karakterisasi
(posisi) dalam struktur sosial12.
Menurut Brice J. Biddle dan Edwin J. Thomas dalam buku mereka
yang berjudul Role Theory: Concept and Research memaparkan
konsep-konsep dasar sari fenomena peran. Mereka menyepadankan peristiwa
peran dengan pembawaan “lakon” oleh seorang pelaku dalam panggung
sandiwara. Sebagaimana patuhnya seorang pelaku terhadap script,
instruksi dari sutradara, peran dari sesame pelaku, pemdapat reaksi umum
penonton serta dipengaruhi bakat pribadi si pelaku. Peran dalam
kehidupan sosial pun mengalami hal yang hampir sama13. Dalam
kehidupan sosial nyata, membawakan peran berarti menduduki suatu
posisi sosial dalam masyarakat. Dalam hal ini peran diartikan sebagai
sebuah kedudukan posisi di tengah-tengah masyarakat yang sangat
berhubungan.
G. Metode Penelitian
Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk menghasilkan
tulisan sejarah, lebih khusus lagi adalah untuk mendapatkan gambaran
yang jelas tentang “Peranan Sungai Kalimas sebagai Pusat Perdangangan
Surabaya dan Pengaruhnya Etnis Arab disekitarnya tahun 1902-1830 M”
sehingga untuk merealisasikannya harus melalui metode penelitian
12
Edy Suhardono, Teori Peran Konsep, Derivasi, dan Implikasinya (Jakarta: PT Gramadia
Pustaka Utama, 1994), 3. 13
12
sejarah. Dalam penelitian sejarah ada empat tahapan14, yaitu:
pengumpulan sumber (heuristic); kritik sumber (verifikasi); analisis dan
sintesis (interpretasi); dan yang terakhir adalah penulisan sejarah
(historiografi). Sebagai langkah untuk menghasilkan tulisan sejarah yang
lebih objektif, peneliti akan berpegang teguh dengan langkah-langkah
yang telah dipaparkan. Lebih jelasnya tentang tahapan-tahapan yang
dilaksanakan sebagai berikut:
1. Heuristik (mencari dan menemukan sumber)
Heuristik atau pengumulan sumber merupakan suatu proses
yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan sumber-sumber
untuk mendapatkan data-data atau jejak sejarah15, atau materi sejarah,
atau evidensi sejarah. baik itu yang berasal dari sumber primer
maupun sekunder.
a. Sumber Primer, merupakan sumber yang diperoleh secara langsung
dari objek penelitian, perorangan, kelompok dan organisasi16.
Adapun sumber primer terdiri atas arsip yang didapat dari Badan
Arsip Daerah Njager Wonokromo Surabaya. Arsip tersebut berupa
catatan sipil Hindia Belanda mulai tahun 1902-1930 mengenai
pembangunan jembatan dan pelabuhan. Arsip-arsip tersebut
berjudul “Verslag over de Burgelijke Openbare Werken in
14
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2013), 69.
15
Saefur Rochmat, Ilmu Sejarah dalam Perspektif Ilmu Sosial (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009),
153. 16
Rosady Ruslan, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi (Jakarta: PT raja Grafindo
13
Nederlandsch-Indie”. Arsip tersebut memuat mengenai kegiatan
Belanda di pelabuhan-pelabuhan yang ada di Indonesia khususnya
di Jawa.
b. Sumber sekunder, yakni sumber dalam bentuk yang sudah jadi
(tersedia) melalui publikasi dan informasi yang dikeluarkan
termasuk buku, jurnal, majalah, dll17. Adapun sumber sekunder
diperoleh melalui sumber kepustakaan (literature), yakni
mengambil data dari beberapa buku yang membahas mengenai
sungai Kalimas, sejarah kota Surabaya, disertasi-disertasi, laporan
penelitian, majalah, surat kabar yang di dalamnya memuat
pembahasan mengenai sungai Kalimas.
2. Kritik Sumber
Kritik sumber adalah kegiatan meneiliti sumber-sumber yang
diperoleh agar memperoleh kejelasan apakah sumber tersebut kredibel
atau tidak, dan apakah sumber terseburt autentik atau tidak. Kritik
sumber terbagi menjadi 2 macam, yaitu:
a. Kritik Ektern (Kredibilitas), yaitu melihat atau meneliti apakah
sumber yang ada dapat dipercaya. Di sini penulis hanya melihat
penulis, penerbit dan tahun terbit dari sumber yang penulis
temukan. Dalam tahap kritik ekstern mencoba mengkaji kesejatian,
keaslian atau keotentikan sumber-sumber yang ada18 Misalnya,
meneliti tentang peranan pelabuhan Kalimas sebagai pusat
17
Ibid., 30. 18
14
perdagangan tahun 1902-1930 di Surabaya, maka yang perlu
penulis perhatikan adalah orang yang menulis buku tersebut adalah
orang yang mengerti dan faham mengenai seluk beluk Kalimas
atau pengamat perkembangan Kalimas dari masa ke masa.
b. Kritik Intern (Otentitas), yaitu membuktikan keaslian sumber atau
dokumen yang sudah dikumpulkan. Mengenai kritik intern yang
dilakukan setelah kritik ekstern, yakni mencoba mengkaji seberapa
jauhkah kesaksian sumber yang telah lolos tadi dapat dipercaya.
Dalam kritik intern biasanya dilakukan dengan cara: 1). Penilaian
instrik dari sumber-sumber, 2). Membanding-bandingkan kesaksian
satu sumber dengan sumber lainnya19 Menurut kuntowijoyo
otentitas di sini adalah meneliti tentang kertas, tinta, gaya tulisan,
bahasa, kalimat, huruf dan semua penampilan luarnya untuk
mengetahui otentitasnya20. Penulis tidak melakukan kritik tersebut
sebagaimana yang dikemukakan Kuntowijoyo, Karena buku-buku
yang penulis gunakan sebagai sumber dalam penenilitian ini berupa
buku-buku lama yang diperbarui atau dicetak ulang. Jadi, penulis
tidak perlu melakukan kritik atau meneliti kertas, gaya tulisan atau
lainnya
3. Interpretasi
Interpretasi atau penafsiran sering disebut sebagai biang
subjektivitas. Itu sebagian benar, tetapi sebagian salah. Benar, karena
19
Ibid.,148-149. 20
15
tanpa penafsiran penulis, data tidak bisa berbicara. Penulis yang jujur
akan mencantumkan data dan keterangan dari mana data dan
keterangan diperoleh21. Sebaiknya penulis dalam proses
interpretasinya melibatkan kemampuan menerapkan pandangan
dasarnya. Tanpa penerapan ini maka proses apresiasi tidak terjadi,
demikian pula dengan kesadaran sejarah.
Kedudukan interpretasi ada di antara verifikasi dan eksposisi.
Subjetivitas adalah hak sejarawan. Namun, ini berarti sejarawan dapat
melakukan interpretasi semaunya sendiri. Sejarawan tetap ada di
bawah bimbingan metodologi sejarah, sehingga subjektivitas dapat
dieliminasi22. Metodologi mengharuskan sejarawan mencantumkan
sumber datanya. Hal ini dimaksudkan agar pembaca dapat melacak
kebenaran data dan konsisten dengan interpretasinya.
4. Historiografi
Historiografi atau penulisan sejarah adalah usaha rekontruksi
peristiwa yang terjadi di masa lampau. Penulisan itu bagaimanapun
baru dapat dikerjakan setelah dilakukannya penelitian, karena tanpa
penelitian penulisan menjadi rekontruksi tanpa pembuktian23. Setelah
penulis melewati tahapan-tahapan yang dikemukakan di atas, untuk
selanjutnya penulis melakukan pemaparan atau pelaporan sebagai
hasil penelitian sejarah. Dalam penyusunan historiografi ini selalu
memperhatikan aspek kronologis, dengan menghubungkan peristiwa
21
Ibid., 78. 22
Suhartono W. Pranoto, Teori & Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Garaha Ilmu, 2010), 55.
23
16
yang satu dengan yang lain, sehinggah menjadi satu kesatuan
rangkaian sejarah yang utuh. Menurut Muin Umar dalam bukunya
“Historiografi Islam” mengatakan bahwa historiorafi atau penulisan
sejarah harus disertai uraian mengenai pertumbuhan, perkembangan
dan kemunduran yang digunakan dalam penyajian bahan-bahan
sejarah24, sehingga akan didapat urutan kronologis yang tepat sesuai
dengan kaidah penulisan sejaran yang benar. Sehubungan dengan
penelitian ini maka penyampaiaannya secara garis besar terdiri atas
tiga bagian yaitu: pendahuluan, hasil penelitian, dan kesimpulan.
Yang terdiri dari lima bab yang dalam penjabarannya akan saling
berhubungan antara satu bab dengan bab yang lain.
H. Sistematika Pembahasan
Untuk menyajikan tulisan yang mudah dipahami, laporan
penelitian ini akan disusun secara sistematis dalam lima bab. Dibaginya
pelaporan dalam penelitian ini dalam lima bab untuk mempermudah dalam
pembacaan dan pemahaman penelitian ini. Adapun sistematikanya adalah
sebagai berikut :
Bab pertama, merupakan pendahuluan yang berisi tentang latar
belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,
pendekata dan kerangka teori, penelitian terdahulu, metode penelitian, dan
sistematika pembahasan yang akan memberikan gambaran umum tentang
24
17
seluruh rangkaian penulisan penelitian sebagai dasar pijakan bagi
pembahasan berikutnya.
Bab kedua, membahas mengenai keadaan geografis Kalimas di
Surabaya, sejarah perkembangan Kalimas yang terbagi dalam tiga subbab
yaitu, Kalimas pra Kolonial, Kalimas pada masa Kolonial dan Kalimas
pada tahun 1902-1930.
Bab ketiga, membahas mengenai peranan pelabuhan Kalimas
sebagai pusat perdagangan di Surabaya tahun 1900-1930. Dalam bab ini
akan dipaparkan data-data yang diperoleh, baik dari sumber primer (arsip)
maupun sekuder (kajian pustaka). Dalam bab ini terdiri dari tiga subbab,
yaitu peranan Kalimas sebagai jalur perdagangan di Surabaya, kemudian
pada subbab ke-dua akan dipaparkan kebijakan pemerintah
Hindia-Belanda terhadap Kalimas Surabaya dan pada subbab ke-tiga berjudul
menulusuri jejak Kalimas Surabaya yang akan memaparkan beberapa
gambar Kalimas untuk memudahkan pemahaman terhadap Kalimas
Surabaya.
Bab keempat, dalam bab ini penulis akan mencoba menganalisis
mengenai etnis arab yang berada disekitar bantaran sungai Kalimas serta
pengaruh sungai Kalimas bagi kehidupan etnis Arab. Dalam bab ini
terdapat empat subbab, yaitu penyebaran Islam di Surabaya, keberadaan
etnis arab di Surabaya, etnis Arab dalam struktur kota bawah Surabaya,
18
Bab kelima, penutup. Bab ini merupakan bab terakhir dari
pembahasan dalam laporan penelitian ini yang terdiri dari kesimpulan dan
saran. Pada bab ini diharapkan penulis dapat mengambil benang merah
19
BAB II
SUNGAI KALIMAS TAHUN 1902-1930
A.Deskripsi Lokasi: Sungai Kalimas Surabaya
Surabaya terletak pada kedudukan sentral dan strategis di Indonesia
Timur. Terletak pada dataran rendah dengan ketinggian 3-6 meter di atas
permukaan laut, kota ini di bagian selatannya memiliki dua bukit yang
membujur dari Barat ke Timur, yaitu bukit Lidah dan Gayungan25. Keadaan
ini sangat memungkinkan bagi pengembangan kota Surabaya sendiri untuk
tetap memperhatikan keserasian tatanan kota serta kelestarian lingkungan
hidup.
Sebagian besar area tanah di kota Surabaya sendiri terdiri dari beberapa
lapisan tanah alluvial yang merupakan hasil dari endapan sungai atau pantai,
dan tanah di daerah perbukitan serta sebelah Barat kota mengandung kadar
kapur yang cukup tinggi26. Adapun curah hujan di Surabaya rata-rata 1.411
mm per tahun. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan-bulan Januari dan
Februari. Pada musim kemarau angin bertiup dari arah tenggara dengan
kecepatan rata-rata 10 knots dari barat daya.
Kondisi geografis seperti di Surabaya hampir sama dengan
wilayah-wilayah yang ada di Jawa Timur, sehingga kondisi seperti ini telah
menempatkan posisi Jatim sebagai salah satu wilayah transit dan pintu gerbang
yang penting untuk menghubungkan wilayah-wialayah di Indonesia khususnya
25Surabaya dalam Lintasan Pembangunan
(Surabaya: Sub Bagian Humas & Protokol Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya, 1980), 42.
26
20
Indonesia bagian Barat dan Timur27. Dengan demikian ketersidiaan
sarana-prasarana dan jasa penunjang transportasi yang memadai tidak saja dibutuhkan
oleh masyarakat daerah tetapi juga untuk mendukung kepentingan nasional
yang lebih luas.
Status yang dimiliki kota Surabaya sebagai kota industri dan
perdagangan memang cukup pantas bila dilihat dari kegiatan ekonomi yang
mengalami peningkatan tiap tahunnya28. Selain itu, sebagai kota pelabuhan
dagang yang termashur sejak masa kolonial Belanda29, Surabaya memilki
pelabuhan tradisional Kalimas dan juga pelabuhan Tanjung Perak yang
beroprasi di Surabaya.
Kali/Sungai merupakan sumber daya alam, yang wajib dikelola dalam
rangka kehidupan manusia dan makhluk hidup. Sebagai sumber daya perairan,
kali/sungai mempunyai fungsi konservasi, ekonomi dan sosial budaya yang
sangat penting bagi kehidupan masyarakat30. Seperti halnya Kalimas yang ada
di Surabaya yang keberadaanya sangat sentral sekali bagi kehidupan
masyarakat Surabaya terlebih dalam bidang transportasi air.
Kalimas merupakan muara dari sungai Brantas (sungai terbesar di Jawa
yang pecah menjadi 9 cabang besar yakni: Kali Greges, Kali Anak, Kali
Krembangan, Kali Mas, Kali Pegiringan, Kali Anda, Kali Palaka, Kali Bokor,
27Profil Propinsi Republik Indonesia:Jawa Timur
(Jakarta: PT Intermasa, 1992), 245. 28
Profil Daerah Kabupaten dan Kota Jilid I , ed. F. Harianto Santoso (Jakarta: Kompas, 2001), 290.
29
Ibid., 291. 30
Himawan Estu Bagijo, Model Kebijakan Penataan Sungai di Perkotaan: Studi Kasus Penataan
21
dan Kali Pacekan31) yang memecah belah kota Surabaya, Kalimas menjadi
Bandar pelabuhan tradisional di Surabaya sejak masa kolonial Belanda. Dalam
buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe wilayah Kalimas dimulai dari
Gunungsari, kemudian menelusur ke arah Timur. Lantas di dekat Wonokromo
terpecah menjadi dua, yang satu ke arah Jagir Wonokromo sedang yang
satunya menuju ke arah Darmokali, Dinoyo, Kaputran dan Kayoon. Berbelok
ke arah Ketabangkali dan Ngemplak32.
Lantas, di pertemuan jalan antara Plampitan dan jalan Ambengan,
Kalimas terpecah lagi. Yang sebelah Timur menyusuri Ngemplak, Kalisari,
Penyindilan, gembong, Srengganan, Kertopaten, Tenggumung, terus
berliku-liku hingga bermuara di Selat Madura. Sedangkan yang satunya setelah
Plampitan, Peneleh, Pandean, jalan Semut, lurus saja tidak berbelok-belok
menuju kearah utara hingga ke Dermaga Ujung33, jalur sampai ke Dermaga
Ujung inilah yang merupakan pelabuhan tradisional Kalimas Surabaya.
B.Sejarah Kalimas Surabaya
Berbicara mengenai sejarah Kalimas memang tidak luput dari
pembahasan mengenai sejarah Kota Surabaya, dimana memang pembahasan
tentang Kalimas masih temasuk dalam studi pembahasan sejarah kota karena
termasuk bagian dari ekologi kota, yaitu interaksi antara manusia dengan alam
sekitarnya. Permasalahan dalam pembangunan di perkotaan tentang ekologi
bukan hanya terbatas pada pengertian lingkungan dan alam atau fisik semata,
31Tjanjo Purnomo W, “Surabaya, Sebuah Kisah Awal”, Jawa Pos (29 Mei 1982) . 32
Dukut Imam Widodo, Hikajat Soerabaia Tempo Doelo (Surabaya: Dukut Publishing, 2013),
422. 33
22
melainkan juga mencakup masalah sosial budaya34. Dalam hal ini, hubungan
masyarakat Surabaya dengan sungai Kalimas merupakan hal yang perlu
dibahas sehingga untuk mempermudah kiranya juga perlu disertakan mengenai
sejarah Kota Surabaya, karena keduanya (Kota Surabaya dan Kalimas)
memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan.
1. Kalimas pada Zaman Prakolonial
Surabaya adalah salah satu kota tertua di Indonesia. Bukti sejarah
menunjukkan bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial.
Secara terlutis, bukti menyebutkan adanya Surabaya tercantum dalam
prasasti Trowulan I35, yang berangka tahun 1358 M. Dari prasasti tersebut
dapat diketahui bahwa Surabaya pada waktu itu masih berupa desa di tepian
sungai yang berfungsi sebagai tempat penyeberangan.
Tetapi ada pendapat lain mengenai kemunculan Surabaya,
Handinoto menyebutkan dalam bukunya, Von Faber membuat hipotesis
bahwa Surabaya didirikan pada tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara
sebagai tempat pemukiman baru bagi para parjuritnya yang berhasil
menumpas pemberontakan Kemuruhan di tahun 1270 M. Pemukiman
tersebut diberi nama Surabaya yang terletak di Utara Glagah Arum, dengan
batas Kalimas. Di sebelah Barat Kalimas dan Kali Pegiringan di sebelah
34
Sri Ana Handayani, Sejarah Kota :Suatu Pengantar (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta,
2013), 88. 35
Di dalam prasasti tersebut dicantumkan nama-nama tempat penyebrangan penting sepanjang
sungai Brantas, yang antara lain tertulis “… I trung, I kambangancri, I tda, igsang, I bukul, I
curabhaya, muwuh praharaning nadisira pradaca athananing anambangi I madansen…” yang
artinya “… (di) Terung, Kambangan Sri, Teda, Gesang, Bukul, Surabaya, demikian pula halnya
desa-desa tepian sungai tempat penyebrangan (seperti) Madansen…”. Handinoto, Perkembangan
23
Timur36. Dengan dalih tersebut menunjukkan bahwa awal dari
perkembangan kota Surabaya berawal dari bantaran sungai Kalimas yang
berhulu di Mojokerto dan bermuara di Surabaya tepatnya di Selat Madura.
Di masa kejayaan Majapahit antara abad ke-14 dan 15, Surabaya
masih merupakan pelabuhan sungai yang penting (sedangkan pelabuhan laut
ketika itu berada di Tuban)37. Dengan dasar bahwa awal dari sebuah
peradaban masyarakat adalah sungai, seperti peradaban dari Mesir kuno
yang berawal dari Sungai Nil. Tidak mengherankan bahwa awal munculnya
masyarakat di Surabaya juga berawal dari tepian Sungai. Salah satunya
Kalimas, di mana pada awalnya kosentrasi pemukiman berada di sekitar
Kalimas yang kemudian baru menyebar kearah Selatan dan Barat.
Jalan lalu lintas pelayaran dan perdagangan yang paling utama di
Kerajaan Majapahit adalah sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo, Kali
Brantas dan lainnya. Sungai-sungai tersebut menghubungkan kota-kota dan
dan tempat-tempat perdagangan yang berada di daerah sepanjang perairan
sungai tersebut38. Daerah-daerah sepanjang perairan sungai dan
muara-muara sungai dekat pantai, lama-kelamaan muncul desa-desa yang
kemudian berkembang menjadi kota pusat perdagangan, pelayaran dan
penyebrangan antardaerah. Kota semacam ini ternyata sudah ada pada
zaman Raja Airlangga dan bahkan sudah ada sejak zaman sebelumnya39.
36 Ibid., 5. 37
Nanang Purwono, Mana Soerabaia Koe: Mengais Butiran Mutiara Masa Lalu (Surabaya:
Pustaka Eureka, 2006), 18. 38
Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit; Girindrawarddhana & Masalahnya (Jakarta: Komunitas
Bambu, 2012), 79. 39
24
Beberapa kota pelabuhan yang penting pada masa Majapahit abad XIV ialah
Cangu40, Surabhaya41, Gresik42, Sidhayu, Tuban43 dan Pasuruan.
Perluasan wilayah pada zaman Majapahit membawa akibat
peningkatan hubungan dagang antara pusat dan daerah terlebih lagi di
pelabuhan Tuban, Gresik dan Surabaya yang ramai dikunjungi pedagang
dari daerah dan Negara-negara asing tetangga44. Komoditas ekspor di
Majapahit dan Jawa khususnya, pada saat itu adalah lada, garam, kain dan
burung kakak tua. Sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas,
perak, sutra, barang keramik dan barang besi. Sedangkan mata uangnya
dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam dan tembaga45.
Di akhir abad ke-15 tercatat bahwa penduduk kota Surabaya
kira-kira mencapai 5000 jiwa yang tersebar dibeberapa tempat. Di tepi Sungai
Kalimas, tepatnya di sekitar kawasan Pasar Besar yang merupakan pusat
administratur Majapahit, yakni pusat pimpinan di bidang pelaksanaan
40
Catatan Ma Huan (1433 M) menyebutkan secara ekspilisit bahwa pelabuhan Canggu (Chang-ku) yang terletak 70-80 li (25 mil) disebelah Barat Daya Surabaya, lokasinya ditepian kiri Kalimas. Dari tempat ini diperlukan waktu sekitar setengah hari berjalan kaki untuk mencapai
Ibukota Majapahit. Supratikno Rahardjo, Peradaban Jawa dari Mataram Kuno sampai Majapahit
Akhir (Jakarta: Komunitas Bambu, 2011), 324.
41
Dalam sebuah prasasti dari masa Hayam Wuruk, nama “Surabhaya” juga disebut sebagai
salahsatu tempat dalam jaringan lalulintas air yang disebut sebagai nusa. Surabhaya merupakan
salah satu saja dari 33 tempat serupa yeng terletak di tepi pantai. Pada awal abad ke-15 nama
Surabahaya disebut lagi dalam catatan Ma Huan (1433 M) dengan sebutan ‘Su-erh-pa-yah”. Dari sumber yang sama juga disebut pelabuhan-pelabuhan lainnya seperti Tu-pan (Tuban) dan Ko-erh-His (Gresik). Ibid., 321.
42
Tentang Gresik, sumber berita Cina itu mengatakan bahwa tempat ini merupakan desa baru yang didirikan oleh pedagang-pedangan Cnia. Memasuki abad ke-16, pelabuhan-pelabuhan di Pantai Utara jawa Timur berkembang dengan pesat. Ibid., 321.
43
Berdasarkan sumber prasasti, wilayah tuban merupakan pelabuhan tertua di Jawa Timur. Dugaan ini didasarkan atas penemuan prasasti di dekat Tuban, yakni prasasti Kembang putih yang diperkirakan berasal dari tahun 1015. Teks prasasti ini antara lain menyebutkan perbaikan pelabuhan di Kembang Putih yang tentunya terletak dekat prasasti ditemukan. Ibid., 320.
44
Megandaru W. Kawuryan, Tata Pemerintahan Negara Kertagama Kraton Majapahit (Jakarta:
Panji Pustaka, 2006), 189. 45
Yudhi Irawan, Agung Kriswanto dan Nindya Noegraha, Babad Majapahit Jilid I:
25
peraturan, prosedur dan kebijakan, di kawasan ini pula sekaligus menjadi
perkampungan penduduk Majapahit46. Sementara itu disebelah utara,
tepatnya si sebalah timur Sungai Kalimas, terdapat pusat perdagangan yang
banyak dihuni oleh saudagar dari Cina dan Arab. Pada saat itu Surabaya
menjadi kota pelabuhan kerajaan Majapahit yang paling sibuk, termasuk
masuknya pedagang dari Arab dan Cina.
Setelah kerajaan Majapahit runtuh tahun 1526, Surabaya berada
dalam kekuasaan Kesultanan Islam di Demak, Jawa Tengah, sehingga pada
tahun 1546 dibangunlah Kraton Surabaya di wilayah bekas lahan
administrasi Majapahit47. Sesudah itu kurang lebih 30 tahun Surabaya ada di
bawah kekuasaan supremasi48 Madura dan antara 1570-1587 Surabaya ada
di bawah Kraton Pajang, pada masa ini Surabaya masih memerankan
peranan penting di sektor perdagangan bersama Tuban dan Gresik yang
menjadi kota-kota dagang besar di Laut Jawa. Kapal –kapal dagang yang
muatanya berharga yakni rempah-rempah pada saat itu mengarungi Laut
Jawa dari dan ke kota-kota dagang tersebut untuk sekedar singgah atau
melakukan proses perdagangan49. Setelah tahun 1625 Surabaya jatuh ke
tangan Kerajaan Mataram, Surabaya berada dalam supermasi Mataram
sampai tahun 1743. Pada rentang waktu tersebut Mataram memandang
perlunya menyatukan wilayah-wilayah pesisir dikarenakan di daerah pesisir
46
Purwono, Mana Soerabaia Koe, 18.
47
Ibid., 19. 48
Supremasi /suprémasi/ n kekuasaan tertinggi (teratas). Lihat Tim Penyusun Kamus Pusat
Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 1394.
49
Purwadi, Kraton Pajang; Titik Temu Dinasti Besar Kerajaan Jawa yang Menempuh Jalan
26
pada waktu itu memunculkan suatu masyarakat baru yang terdiri dari
pedagang yang diislamkan di daerah pesisir. Sehingga, ekspansi yang
dilakukan oleh raja-raja Mataran untuk menyatuhkan negeri-negeri Jawa
dan memperkukuh kekuasaan mereka atas kota-kota pesisir seperti Demak,
Pati, Lasem, Gresik, Giri dan Surabaya50.
Dilihat dari babakan waktu keberadaan kerajaan Surabaya dengan
Kratonnya yang tidak langgeng, namun fakta sejarah yang situs-situsnya
masih ada hingga sekarang menjadi catatan penting bagi kota Surabaya.
Salah satunya, yang sangat menarik adalah posisi letak Kraton dan Keputran
(tempat khusus untuk keluarga kraton) bahwa keduanya berada di tepian
sungai Kalimas51. Dengan posisi yang berada di tepian Sungai Kalimas,
maka dengan aliran sungai itulah keluarga kraton berhilir mudik dari rumah
ke kraton. Ini diperkuat dengan dengan sebuah tempat di dekat kraton yang
bernama Gemblongan, yang berasal dari kata ’gemblong’ yang mempunyai
arti tempat pendaratan para raja.
Pada tanggal 11 November 1743 Pakubuwono II dari Kerajaan
Mataram di Surakarta menandatangani sebuah persetujuan yang menyatakan
bahwa ia menyerahkan haknya atas seluruh pantai Utara P. Jawa dan
Madura kepada pihak VOC yang telah memberikan bantuan kepadanya
hingga ia berhasil naik tahta Mataram52. Dengan diserahkannya pantai Utara
50
Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya Warisan Kerajaan-Kerajaan Kosentris (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1996), 36. 51
Purwono, Mana Soerabaia Koe, 19.
52
27
P. Jawa kepada VOC maka Belanda mendirikan struktur pemerintahan baru
di daerah pantai Utara P. Jawa dan Madura.
2. Kalimas pada Masa Kolonial
Pada tahun 1748, VOC memperoleh konsesi baru dari raja
Pakubowono II. Konsesi itu antara lain adalah diserahkannya kedaulatan
penuh kepada VOC atas Madura Barat, Surabaya, Rembang, Jepara, serta
Ujung Timur53, dan pada tahun itu pula Surabaya berada di bawah
kekuasaan VOC.
Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) adalah badan dagang
Belanda yang istimewa. Badan ini didukung oleh Negara dengan diberi
fasilitas-fasilitas istimewa. VOC merupakan perserikatan perusahaan Hindia
Timur yang didirikan pada 20 Maret 1602 dan merupakan perserikatan
perusahaan yang memiliki monopoli dalam melakukan aktivitas dagangnya
di wilayah Asia. Pimpinan kongsi dagang VOC terdiri atas tujuh belas
anggota, yang disebut Heeren Zeventien54.
Karena letaknya yang sangat strategis, Surabaya dipilih menjadi
tempat penguasa Jawa bagian Timur “Gezaghebber in den Oosthoek” oleh
pemerintah Belanda pusat yang merupakan hasil keputusan dari Gubernur
Jendral van Imhoff yang berkunjung ke Surabaya55. Daerah pemukiman
Belanda di Surabaya pada waktu itu sekarang letaknya di sekitar kompleks
kantor Gubernur Jl. Pahlawan, serta pemukiman keluarga tentara yang
53
M.C, Ricklef, Sejarah Indonesia Modern (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1994),
141. 54
Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru; 1500-1900 dari Emporium sampai
Imperum Jilid I (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1987), 71. 55
28
letaknya di Selatan benteng Retrachement, kemudian terus berkembang ke
arah Utara yang pusatnya ada di depan Jembatan Merah, dimana di depan
jembatan tersebut kemudian dibangun Kantor Dinas Residen Surabaya.
Dalam beberapa literatur menyebutkan daerah sekitar Jembatan Merah ini
yang selanjutnya menjadi pusat pemerintahan serta berkembang menjadi
pusat perdagangan karena letaknya yang berada di pinggir Kalimas dan
berada di pusat Kota Surabaya. Dalam beberapa konteks dapat dilihat bahwa
sungai Kalimas masih sangat berpengaruh bagi kelangsungan pemerintahan
Belanda di Surabaya. Pada masa itu Surabaya dengan Kalimasnya menjadi
pusat perdagangan yang sangat penting bagi pemerintah Hindia-Belanda.
Kekuatan armada dan perdagangan Belanda mengalami penurunan
yang cukup parah pada abad ke-18. Periode ini dikenal dengan Pruikentijd
atau Periwig Period. Pada masa ini pula Belanda mengalami kekalahan
dengan Inggris tepatnya pada tahun 1780. Kekalahan ini membuat
berakhirnya tampuk kekuasaan Belanda di dunia Internasional56. Hal
tersebut berpengaruh terhadap wilayah-wilayah kekuasaan Belanda, alhasil
pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, VOC mengalami kebangkrutan
tepatnya pada tahun 1799. Maka pada tahun 1800 pemerintahan Belanda
langsung mengambil alih kekuasaan di Surabaya sampai pada tahun 180857.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang diterapkan oleh VOC, kebijakan
pemerintah Belanda pada bidang ekonomi-perdagangan pun tidak begitu
mengalami perubahan yang signifikan .
56
Bayu Widiyatmoko, Kronik Peralihan Nusantara Liga Raja-raja Hingga Kolonial (Yogyakarta:
Mata Padi Persindo, 2014), 569. 57
29
Pada tahun 1808 sebagai akibat ditaklukannya Belanda oleh Perancis
dalam perang Napoleon di daratan Eropa, menyebabkan pergantian
penguasa atas wilayah Surabaya. Herman Willem Daendels58 oleh
pemerintahan “boneka” Perancis dikirim ke Hindia-Belanda sebagai
Gubernur Jenderal. Yang memerintah pada tahun 1808 sampai 1811. Pada
tanggal 28 Januari 1807, Daendels yang berkarakter energiknya, bakat
militer dan administrasinya dipilih dan dilantik sebagai Gubenur Jenderal
Hindia-Belanda dan Komandan tertinggi dari Angkatan Laut Prancis di
bagian barat Tanjung Harapan59. Sekitar satu tahun setelah
pengangkatannya sebagai gubernur, Daendels baru bisa menguasai
pemerintahannya. Kemudian pada tahun 1808, Daendels berhasil tiba di
Jawa, dan tepatnya pada tanggal 14 Januari 1808 secara resmi Herman
Willem Daendels resmi menjabat sebagai Gubernur Jenderal
Hindia-Belanda.
Revolusi yang direncanakan oleh Daendels sebenarnya singkat dan
tegas, yakni mempersiapkan pertahanan Jawa dari invasi Inggris serta
membenahi tata negara60. Dalam kurun waktu tiga tahun, Daendels berhasil
membangun sarana pertahanan Pula Jawa serta menyiapkan tentara sebesar
58
Daendels dilahirkan di Hattem, Negeri Belanda, tanggal 21 Oktober 1762. Gubernur di Hindia Timur (Hindia Belanda) 1808-1811. Ia diangkat oleh raja Belanda Louis Napoleon (adik Napoleon Bonaparte). Semula menjadi pengacara di kota kelahirannya. Tahun 1794 sebagai brigader jenderal menggabungkan diri pada tentara Perancis yang masuk ke Negeri Belanda. Ia memerintah Indonesia dengan tangan besi, dan terkenal dengan nama sindiran Marsekal Besi, Tuan Besar Guntur, atau Mas Galak. Akibatnya ia ditarik dari Indonesia (1811) dan meninggal di St. George
d’Elmina tahun 1818. 59
Jean Rocher dan Iwan Santosa, Sejarah Kecil Indonesia-Prancis 1800-2000 (Jakarta: PT
Kompas Media Nusantara, 2013), 14. 60
30
15.000 orang, termasuk sekitar 4.000 orang Eropa yang bersemangat
bertempur untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan Inggris.
Daendels merupakan orang yang sangat berpengaruh terhadap
perkembangan kota dan arsitektur di Surabaya. Disamping memberikan
gebrakan pada birokrasi pemerintahan di Surabaya, Daendels juga
melakukan banyak pembangunan disana. Daendels berhasil merubah wajah
Surabaya dari sebuah ‘desa’, menjadi sebuah kota Eropa kecil. Pada masa
pemerintahan Daendles, kota Surabaya dijadikan sebagai pusat pertahanan
terhadap serangan bangsa asing (Inggris). Untuk ini Surabaya dibangun
pabrik senjata (altellerie constructive winke), serta benteng Lodewijk.
Pembangunan jalan raya dari Anyer sampai Panarukan, membuat Surabaya
terhubung dengan kota-kota pantai pulau Jawa. Sarana dan prasarana kota
mulai dibangun dengan gaya Eropa, Selain itu juga dibangun asrama militer
dan rumah sakit militer61.
Arti kota Surabaya bagi perdagangan saat itu makin meningkat
dengan semakin meningkatnya eksplotasi perkebunan-perkebunan
(cultures) dan perkebunan pabrik-pabrik gula di daerah pedalaman dari kota
Surabaya62Daendles juga melengkapi kota dagang ini dengan prasarana
jalan pemukiman Eropa di sekitar Jembatan Merah, serta sarana kota
lainnya.
Usaha-usaha Daendles untuk mempertahankan Surabaya dari bangsa
Inggris tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pada bulan Mei 1811
61
Handinoto, Perkembangan Kota, 35.
62R. Singgih, “Perkembangan Surabaya sebagai Kota Dagang”
31
kedudukan Deandels sebagai Gubernur jenderal digantikan oleh Jan Willem
Janssens. Pada tahun 1811, Inggris masuk ke Surabaya tanpa perlawanan.
Pada tahun 1811 Jawa termasuk Surabaya dinyatakan ditaklukan oleh
Inggris. Penaklukan ini bukan hanya atas penduduk pribumi melainkan juga
atas pemilikan tanah63. Bagi para direktur perusahaan Inggris (yang harus
menyediakan kapal dan pasukan) prospek menyerang Jawa tidaklah
menarik, karena mereka memandang rendah nilai ekonomis pulau Jawa.
Pemerintah Britania melakukan ekspedisi itu hanya karena alasan strategis,
yakni ekspedisi penghukuman untuk mengusir musuh dari semua wilayah
pemukiman mereka, menghancurkan benteng, merampas semua senjata dan
amunisi.64
Dalam perkembanganya semua bekas jajahan Belanda di Asia
Tenggara oleh Inggris dibagi menjadi empat bagian yaitu Sumatera Barat,
Malaka, Maluku dan Jawa. Seluruhnya dikuasai oleh Gubernur Jenderal EIC
(East India Company) Lord Minto yang berkedudukan di Calcutta (India).
Pulau Jawa diserahkan pada Thomas Stamford Raffles65 wakil Lord Minto
dengan pangkat Letnan Gubernur.
63
Nasution, Ekonomi Indonesia, 26.
64
Bernard H.M. Vlekke, Nusantara Sejarah Indoensia (Jakarta: PT Gramedia, 2008), 286-287.
65
Sir Thomas Stanford Raffles, lahir di Yamaica, 6 Juli 1781. Pejabat kolonial Inggris yang mendirikan Singapura (1819). Karyawan East India Company (EIC) sejak usia 14 tahun. Menjabat pembantu sekretaris EIC untuk Penang (Malaya) pada tahun 1805. Karena dinilai cakap oleh atasannya, maka ia diberi tugas ikut memimpin invasi Inggris ke Hindia Belanda, dan menjabat letnan gubernur Jawa dan daerah seberang (1811-1816). Karena dianggap berpihak pada kaum pribumi, maka ia dipanggil ke London (1816). Kembali ke Hindia Belanda (1818), dan bertugas di pos kecil di Bangkahulu (Bengkulu). Atas anjurannya, Inggris membeli Singapura dari Sultan Johor (1819) dan membangunnya menjadi Bandar yang strtageis, baik ekonomi maupun militer. Ia
meninggal di Barnet, Inggris pada tanggal 5 Juli 1826. Thomas Stamford Raffles, The History of
32
Pemerintahan Raffles (1881-1816) didasarkan atas prinsip-prinsip
liberal, jadi politik kolonial yang hendak mewujudkan kebebasan dan
kepastian hokum. Prinsip kebebasan mencakup kebebasan menanam dan
kebebasan perdagangan, menurut Raffles politik kolonial seperti ini sudah
dijalankan oleh Inggris di India66, sistem seperti ini kemudian terkenal
dengan sistem pajak-tanah (landrent-system). Raffles menginginkan
kesejahteraan rakyat tercapai dengan memberikan kebebasan serta jaminan
hukum kepada rakyat sehingga rakyat tidak menjadi korban
kesewenang-wenangan oleh para penguasa setempat serta ada dorongan bagi rakyat
untuk menambah penghasilan serta perbaikan tingkat kehidupan.
Pokok-pokok sistem Raffles salah satunya adalah penyewaan tanah
di beberapa daerah dilakukan berdasarkan kontrak dan terbatas waktunya
serta pemerintah secara langsung mengawasi tanah-tanah, yang hasilnya
dipungut langsung oleh pemerintah tanpa perantara bupati yang pada saat itu
terbatas pada dinas-dinas umum67. Raffles menerapkan sistem-sistem
Inggris, bahwa tanah adalah milik raja sedangkan rakyat sebagai penyewa.
Dengan sistem ini, Raffles mengharapkan terjaminnya pendapatan negeri
karena pemasukan pemerintah tetap dan pasti dalam bentuk pajak yang
dibayar sebagai uang sewa. Ia juga membedakan antara golongan
masyarakat yang istimewa dan golongan rakyat kecil, serta menyatakan
bahwa tujuan pemerintahannya di Jawa adalah “untuk mengangkat derajat
66
Kartodirdjo, Pengantar Sejarah, 292.
67
33
kaum tani”68
. Namun sistem ini mengalami kegagalan dikarenakan beberapa
penyebab diantaranya, kurangnya pegawai yang cakap, rakyat Indonesia
masih terikat pada feodalisme dan belum mengenal ekonomi uang, adanya
pegawai pemerintah yang melakukan manipulasi uang, singkatnya masa
jabatan Raffles sehingga ia belum sempat mempebaiki kelemahan dan
penyimpanan dalam sistem sewa tanah, sehingga sitem ini berakhir dengan
cepat.
Pada tahun 1816 sesuai dengan konvensi London 1814, Inggris
harus menyerahkan kembali jajahannya di Indonesia kepada Belanda.
Adapun yang melatarbelakangi adalah perang koalisi berakhir dengan
kekalahan Prancis. Negara-negara Eropa yang menjadi lawan Prancis
mengadakan kongres di Wina, mengambil keputusan bahwa sebagai
benteng untuk menghadapi Prancis, Belanda harus kuat. Oleh karena itu,
dalam Traktak London 1814 ditetapkan bahwa Indonesia harus
dikembalikan kepada Belanda69. Jadi pengembalian Indonesia ke tangan
Belanda bukan dikarenakan Inggris kalah perang, akan tetapi dikarenakan
kedua Negara tersebut merupakan sekutu dalam perang Eropa.
Pada tahun 1830-1850 saat Belanda menjadi penguasa di Surabaya
lagi, Surabaya betul-betul berbentuk sebagai kota benteng dengan benteng
Prins Hendrik yang ada di muara Kalimas. Di bagian Selatan benteng Prins
Hendrik tersebut berdiri sebuah kota pemukiman orang-orang Eropa yang
68
Akira Nagazumi, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918 (Jakarta: Pustaka
Utama graffiti, 1989), 12. 69
34
berkembang secara pesat70. Surabaya tumbuh menjadi kota pelabuhan yang
penting. Tembok pertahanan melingkupi daerah seluas kurang dari lebih
300 ha dari kota Surabaya. Di sebelah Barat Jembatan Merah yang terdiri
dari City Hall, kantor pos, rumah took, barak militer, bengkel, dan gereja.
Di sebelah Timur dari Kalimas (yang dihubungkan dengan jembatan
Merah), terdapat pemukiman orang asing lainnya seperti Chinese Kamp,
Arabische Kamp dan Malaise Kamp (perkampungan Melayu). Sedangkan
penduduk asli kebanyakan bermukim di luar benteng.
Kota Surabaya baru mempunyai arti sebagai kota maritim pada
tahun 1864, dengan semakin berkembangnya perdagangan di Surabaya
maka juga semakin berkembanglah arti kota Surabaya sebagai kota maritim.
Jumlah tonase dari kapal-kapal layar besar yang singgah di pelabuhan
Surabaya pada tahun 1864 seberat 656½ ton71. Banyak sekali kapal layar
besar yang singgah di pelabuhan Surabaya antara lain, kapal dari Belanda,
Inggris, Amerika, Denmark, Prancis, Belgia, Hamburg, Bali, China dan
Serawak.
Surabaya benar-benar berstatus sebagai kota pelabuhan yang
keberadaannya sangat penting dan letaknya sangat strategis bagi
pemerintahan Belanda. Pelabuhan tersebut menghubungkan daerah pesisir
dan pedalaman yang berada di sekitar kota Surabaya, yang saat itu
berkaratker sebagai pemukiman para pedagang yang terus berkembang ke
dalam kota dengan makin banyaknya penduduk yang bermukin di sepanjang
70
Handinoto, Perkembang Kota, 37.
35
sungai Kalimas. Daerah Selatan kota Surabaya merupakan daerah
pertahanan dan perbentengan sampai tahun 1871 ketika benteng tersebut
mulai digusur.
Tahun 1870 merupakan titik awal perkembangan kota-kota besar di
Jawa Timur, termasuk juga Surabaya. Hal-hal yang ikut mendorong
kejadian ini menurut Handinoto antara lain72:
a. Adanya Undang-undang Gula (Suikerwet) dan undang-undang Agraria
(Agrarischewet) pada tahun 1870.
b. Dibukanya terusan Suez pada tahun 1869, pembukaan terusan Suez ini
sangat mempermudah pelayaran yang dilakukan oleh beberapa Negara73.
Sehingga perjalanan antara negeri Belanda dan Indonesia menjadi lebih
singkat.
c. Keputusan untuk membongkar benteng yang mengelilingi Surabaya pada
tanggal 19 April 1871, memberi peluang bagi perluasan Kota Surabaya.
Dengan demikian arti kota Surabaya bagi perdagangan menjadi
bertambah penting dengan meningkatnya eksploitas perkebunan dan
pembukaan pabrik-pabrik gula di daerah pedalaman. Semakin meningkatnya
perdagangan di Surabaya, prospek kota ini sebagai kota dagang semakin
cerah. Dengan dibukanya undang-undang Agraira yang memberi kesematan
pada pihak swasta untuk menyewa tanah-tanah yang berada di wilayah
pedalaman yang digunakan untuk perkebunan. Maka di Surabaya banyak
dibangun kantor dagang serta bank untuk mendukung kegiatan perkebunan
72
Handinoto, Perkembang Kota, 45.
73
36
tersebut. Dibukanya terusan Suez juga ikut berpengaruh bagi kelangsungan
perdagangan di Surabaya, sejak saat itu banyak kapal dagang dari Eropa
yang berlabuh di muara Kalimas untuk melakukan transaksi perdagangan.
3. Kalimas tahun 1902-1930 M
Tahun ini merupakan inti dari pembahasan yang akan dibahas,
diketahui bahwa sebelumnya Surabaya merupakan daerah kerasidenan74
dari Madura, Sidoarjo, Gresik, Jombang dan Mojokerto. Kemudian atas
dasar pertimbangan dari eksitensi dan potensi wilayah yang mulai tumbuh
sebagai kota modern dengan potensi sebagai kota industri, dagang dan
maritim, maka pemerintahan pusat yang ada di Batavia mengeluarkan
keputusan yang lebih konkrit terhadap posisi Surabaya dikarenakan tidak
adanya pejabat khusus yang mengurusi dan mengatur perkembangan kota.
Sehingga pada tahun 1906 berdasarkan Decentralistie Besluit dan dikuatkan
dalam ketentuan Pasal-I dalam Instellings Ordonatie, Staatblad. 1906/No.
149 maka dibentuklah pemerintahan Kota (Ressort Gemeente)75.
Undang-undang Desentralisasi ini memberikan semacam otonomi pemerintahan kota
74
Karesidenan adalah sebuah pembagian administratif dalam sebuah provinsi di Hindia-Belanda
(Indonesia) hingga tahun 1950-an. Sebuah karesidenan (regentschappen) terdiri atas beberapa
afdeeling (kabupaten). Tidak di semua provinsi di Indonesia pernah ada karesidenan. Hanya di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Lombok dan Sulawesi saja. Biasanya ini daerah-daerah
yang penduduknya banyak. Kata karesidenan berasal dari Bahasa Belanda Residentie. Sebuah
karesidenan dikepalai oleh residen, yang berasal dari Bahasa Belanda Resident. Di atas residen
adalah Gubernur Jenderal, yang memerintah atas nama Raja dan Ratu Belanda.Semenjak krisis pada tahun 1950-an, sudah tidak ada karesidenan lagi dan yang muncul faktor kekuasaannya adalah kabupaten. Karesidenan kemudian dikenal dengan istilah "Pembantu Gubernur" (istilah ini sekarang tidak digunakan lagi). Namun, sebutan "eks-karesidenan" masih dipakai secara informal.Sebuah sisa pemakaian karesidenan adalah tanda kendaraan bermotor (pelat nomor).
Pembagiannya, terutama di pulau Jawa masih banyak berdasarkan karesidenan. “Keresidenan”
dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Karesidenan (10 April 2016, 10.44 WIB) 75
Rintoko, Refiandeta dan Exocet, Seri Sejarah Soerabaja: Studi Birokrasi & Persebaran Trah
Majapahit di Keresidenan Surabaya Periode 1860-1960 (Surabaya: PCTAI DPD Jawa Timur,
37
sendiri pada beberapa kota besar di Jawa seperti Batavia, Semarang,
Surabaya dan lain-lain.
Sebagai konsekuensi atas pembentukan pemerintahan yang otonom,
maka beberapa kewajiban yang sebelumnya dijalankan oleh pemerintah
pusat dalam rangka mengelola kota Surabaya, selanjutnya akan diserahkan
kepada Gemeente Surabaya76Seiring diberlakukannya asas Desentralisasi
dan Otonomi Kota maka wilayah Surabaya yang semula hanya sebagai Kota
Kabupaten sekaligus sebagai pusat pemerintahan Kolonial wilayah Jawa
bagian Timur meningkat menjadi Kota besar yang mandiri. Dengan
pergantian pemerintahan di Surabaya, menyebabkan beberapa dampak
positif bagi Kota Surabaya salah satunya meningkatnya pemasukan
ekonomi bagi pemerintah, dikarenakan sebagaian besar pendatang dari luar
daerah maupun luar Jawa menjadikan Surabaya sebagai target untuk
berimirgrasi dengan alasan lowongan pekerjaan di Surabaya lebih
menjanjikan dari pada di daerah asal.
Hanya dalam waktu yang singkat penduduk Surabaya berkembang
[image:46.595.137.515.257.539.2]lebih dari dua kali lipat. Dengan data-data yang menunjukkan ha