• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Belitung Final

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prosiding Belitung Final"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN KONSERVASI BAHAN GALIAN DI WILAYAH BEKAS TAMBANG MENGGUNAKAN CITRA SATELIT DI PULAU BELITUNG,

PROVINSI BANGKA BELITUNG

Yuman Pertamana

Kelompok Penyelidikan Konservasi dan Unsur Tanah Jarang

SARI

Penelitian konservasi bahan galian di wilayah bekas tambang menggunakan citra satelit di Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang potensi bahan galian di wilayah bekas tambang serta kemungkinan pemanfaatannya. Lokasi penelitian secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur dan secara geografis terletak pada 107°30’ BT - 108°22’ BT dan 2°30’ LS - 3°20’ LS.

Sebagian daerah bekas tambang timah di Belitung masih memiliki bahan galian timah yang potensial diusahakan. Potensi timah pada daerah bekas tambang berada di daerah : Air Seruk, Air Batu Buding, Badau, Membalong, Mengku-bang, Sukamandi, Selingsing dan Air Madu; dengan sumber daya hipotetik bijih timah sebesar 115.364,34 ton dimana sumberdaya hipotetik logam timahnya sendiri sebesar 90.869,22 ton.

Bijih timah terkandung dalam lapisan aluvial kaya timah (kaksa), lokasi yang potensial adalah daerah Selingsing dengan kadar kasiterit 59,57% (16,2 kg/m3) dan sumberdaya hipotetik 108.486,40 ton. Bijih timah terdapat pula dalam tailing pengolahan timah, lokasi yang potensial adalah daerah Sukamandi dengan kadar kasiterit 31,75% (0,364 kg/m3) dan sumber daya hipotetik 2.457 ton.

Bahan galian lain dan mineral ikutan yang potensial pada daerah bekas tambang timah adalah : pasir kuarsa, mineral ilmenit dan mineral tanah jarang (LTJ) berupa monasit dan zirkon. Potensi mineral monasit berada di daerah Air Seruk dengan sumberdaya hipotetik sebesar 5.525,73 ton dimana potensi LTJ-nya sebesar : Cerium 1.140,5 ton, Lantanum 1.130,5 ton, Yttrium 723,6 ton, Thorium 1.888,6 ton. Potensi mineral ilmenit terdapat di daerah Air Seruk, Membalong dan Air Madu dengan sumber daya hipotetik sebesar 33.959,3 ton dimana potensi logam titaniumnya sebesar 10.708,7 ton.

Sampai saat ini belum ada usaha memanfaatkan LTJ dan ilmenit ini padahal permintaan dunia terus meningkat dari waktu ke waktu yang sebagian besar diserap kebutuhan teknologi maju, seperti komponen mesin mobil balap, komponen pesawat udara – satelit, elektronika dan telekomunikasi.

(2)

PENDAHULUAN

Kegiatan penambangan dan pengolahan mineral umumnya tidak dapat mengambil (menangkap) semua bahan galian berharga dan selalu menyisakan potensi tertinggal dan terbuang. Di samping amanat UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang menjadikan konservasi sebagai salah satu asas pengelolaan sumberdaya mineral, juga kecenderungan peningkatan harga timah dan perkembangan teknologi penambangan dan pengolahan; menjadikan bahan galian timah, bahan galian lain dan mineral ikutan pada wilayah bekas tambang kemungkinan berpotensi untuk dimanfaatkan.

Salah satu teknologi yang dapat digunakan dalam survei bahan galian yang berkembang pesat dewasa ini adalah remote sensing (penginderaan jauh). Kelebihan metode ini antara lain : kemampuan mendapatkan informasi dari jauh, cakupannya luas, dapat menjangkau daerah yang sulit dicapai dan biaya persatuan luas yang murah. Pada umumnya, perpaduan antara teknologi penginderaan jauh dan survei lapangan akan memberikan hasil penelitian bahan galian yang optimal.

Dalam rangka mendorong penerapan konservasi sumber daya mineral, Pusat Sumber Daya Geologi melakukan kegiatan penelitian konservasi bahan galian di wilayah bekas tambang menggunakan citra satelit di Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Kegiatan penelitian ini dibiayai dari dana Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) - Pusat Sumber Daya Geologi Tahun Anggaran 2010.

Lokasi penelitian terletak di Pulau Belitung yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung, secara geografis terletak antara 107°30’ BT - 108°22’ BT dan 2°30’ LS - 3°20’ LS (Gambar 1).

GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Geologi

Pulau Belitung terletak di sebelah timur dari bagian jalur batuan granitik wilayah timur yang erat hubungannya dengan Raub Bentang Structure. Struktur ini mempengaruhi dan berperan penting dalam

pembentukan mineralisasi timah, ubahan-ubahan hidrotermal pada batuan granit yang membawa bijih timah dan bentang alam Pulau Belitung.

Sebagian Pulau Belitung ditempati oleh bentang alam perbukitan rendah dengan beberapa tonjolan bukit, yang ditempati oleh satuan batuan intrusi granit yang menerobos batuan sedimen seperti satuan batu pasir, lempung dan tufa, gabro, granodiorit, tonalit / diorit kuarsa, adamelit, basal, dasit dan sedimen.

Dengan kondisi geologi tersebut, wilayah Pulau Belitung merupakan daerah mineralisasi kasiterit-wolfram (Jura-Trias). Jalur mineralisasi ini merupakan busur mineralisasi kasiterit terkaya di dunia yang memanjang dari Thailand-Malaysia-Singkep-Bangka-Belitung. Di samping itu terdapat mineralisasi timah hitam yang berasosiasi dengan urat kuarsa yang menerobos tubuh granit.

Formasi Batuan yang mengandung timah primer antara lain Granit Tanjungpandan dan Adamelit Baginda. Granit Tanjungpandan, terdaunkan kelabu muda, holokristalin, berbutir, kasar-sangat kasar, butir hipidiomofik terdiri atas kuarsa, felspar, plagioklas, biotit, horenblenda. Batuan ini termasuk kedalam granit tipe ”S”, mengandung greisen yang kaya mineral kasiterit primer.

Adamelit Baginda; Adamelit, kelabu sampai kehijauan, holokristalin, ekui-granular, berbutir kasar dengan mineral penyusun terdiri atas kuarsa, felspar, plagioklas, biotit, horenblenda serta mineral sekunder seperti klorit, karbonat, limonit dan oksida besi. Batuan ini termasuk kedalam tipe granit ”I” yang mengandung mineral kasiterit.

Peta Geologi Belitung dapat dilihat pada Gambar 2.

Pertambangan

Sejak berakhirnya eksploitasi timah oleh PT Timah pada tahun 1991/1992, penambangan timah di Belitung dilakukan oleh Tambang Inkonvensional dengan metode tambang semprot (hydraulicking).

(3)

penyemprotan, pengangkutan dan pengolahan. Peralatan yang digunakan umumnya terdiri dari : pompa semprot dan monitor sebagai alat gali, pompa tanah sebagai alat angkut, sakhan sebagai alat konsentrasi bijih timah dan pembangkit tenaga listrik. Pada beberapa lokasi, untuk penggalian digunakan pula alat berat berupa excavator

Pengusahaan bahan galian timah tersebut dikerjakan oleh perusahaan subkontraktor PT Timah dan masyarakat setempat. Penambangan timah oleh perusahaan subkontraktor PT Timah dilakukan pada wilayah KP PT Timah dengan ketentuan, konsentrat timah yang dihasilkan harus dijual kepada PT Timah sesuai harga yang ditetapkan PT Timah. Sedangkan penambangan oleh masyarakat secara perorangan atau kelompok dilakukan di lokasi-lokasi tertentu, baik di dalam atau di luar wilayah KP PT Timah dan sebagian besar di antaranya tanpa izin.

PENGOLAHAN CITRA SATELIT Pengolahan citra merupakan manipulasi dan interpretasi dari citra penginderaan jauh (Hardiyanti S., 2001). Pengolahan citra satelit umumnya dilakukan secara digital menggunakan perangkat lunak tertentu. Pengolahan citra digital berguna untuk mengkoreksi, meningkatkan atau menajamkan citra sehingga dapat dimengerti dan mudah diambil informasi yang dibutuhkan. Pada penelitian ini jenis pengolahan citra yang digunakan adalah penyusunan komposit citra berwarna, penajaman citra dan pricincipal component analysis.

Principal Component Analysis (Analisis Komponen Utama) adalah transformasi citra berupa pemadatan informasi dengan cara mengurangi dimensi data menjadi kombinasi linier band spektral yang lebih sedikit yang tidak berkorelasi dan lebih mudah diinterpresi dari pada data spektral asal (Jensen, 1996). Pada penelitian ini, band-band ETM+ (band 1, band 2, band 3, band 4, band 5 dan band 7) ditransformasi dengan PCA menghasilkan citra baru yang dinamakan komponen 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Tiga komponen pertama memiliki tingkat variabilitas yang paling tinggi sehingga

kenampakan citranya paling baik. Pada penelitian ini digunakan komposit komponen 1, 2, dan 4 (PC 124) (Gambar 3 dan Gambar 4).

Adapun citra yang digunakan pada penelitian ini adalah LANDSAT ETM+ yang mencakup keseluruhan wilayah Pulau Belitung, data tersebut direkam oleh satelit Landsat 7 pada tanggal 6 Agustus 2009 yang dikeluarkan oleh USGS (United States Geological Survey).

PEMBAHASAN

Potensi Timah pada Bekas Tambang Berakhirnya operasi penambangan timah PT Tambang Timah di Belitung pada tahun 1992 bukan berarti seluruh timah di Belitung telah habis. Penambangan oleh PT Tambang Timah dilakukan secara selektif (selective mining) pada lokasi-lokasi dengan cadangan yang besar berkadar di atas cut off grade cadangan timah yang tersisa yang mungkin berpotensi ditambang di kemudian hari.

Hasil penelitian menunjukkan bijih timah pada lapisan aluvial kaya timah (kaksa) yang berpotensi dikembangkan terdapat di Desa Selingsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur. Analisis laboratorium terhadap conto aluvial timah di daerah ini menunjukkan kandungan bijih timah (kasiterit) 16.192 gram/m3 atau 16,19 kg/m3 dengan sumber daya hipotetik 108.486,40 ton.

(4)

pemisahan menyebabkan recovery pengolahan selalu kurang dari 100%. Sisa-sisa bijih timah tersebut bercampur dengan material lainnya membentuk lapisan aluvial yang terhampar cukup luas di Belitung. Bukti nyata kandungan timah pada aluvial adalah ditambangnya kembali tailing tersebut oleh masyarakat.

Berdasarkan hasil analisis terhadap tailing ini, terdapat beberapa lokasi yang

Tabel 1. Sumber Daya Hipotetik Bijih Timah di Belitung

No.

Lokasi

Kadar (%)

Sumber daya (ton)

1

Air Seruk – Lokasi 1

7,02

3.168,00

2

Air Seruk – Lokasi 2

22,84

125,16

3

Air Batu Buding

17,04

818,40

4

Badau

2,78

139,38

5

Membalong

0,62

16,88

6

Mengkubang

3,04

140,40

7

Sukamandi

31,75

2.457,00

8

Selingsing

59,57

108.486,40

9

Air madu

0,46

12,72

Total

115.364,34

Revitalisasi Kawasan Bekas Tambang Lokasi bekas tambang yang umumnya berupa kolong, di samping menyimpan banyak persoalan ternyata mempunyai beberapa peluang bila dikelola dengan baik, antara lain :

1) Pemanfaatan kolong untuk kawasan pertanian

Contoh pemanfaatan kolong untuk pertanian berhasil dilakukan di Desa Kampung Jeruk, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah. Seorang petani kreatif bernama Megah Hasan berhasil merubah bekas tambang menjadi sawah dengan hasil produksi 3 sampai 4 ton gabah kering per hektar-nya. Keberhasilan ini dapat menjadi contoh bagi dinas terkait dan masyarakat Belitung untuk mengembangkan

kawasan bekas tambang menjadi lahan produktif penghasil padi dan komoditas pertanian lainnya.

Jenis tanaman lain yang bisa dikembangkan di sekitar bekas tambang adalah tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L) yang berdasarkan hasil penelitian dosen dari Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung, dapat tumbuh dengan baik pada lahan marjinal pasca penambangan timah.

(5)

yang menggunakan sumber air baku dari melibatkan masyarakat sekitar sebagai mitra.

3) Pemanfaatan kolong untuk cadangan air bersih

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, penambangan dan pengolahan timah tidak melibatkan bahan-bahan kimia. Dengan demikian, lahan dan air pada kawasan bekas tambang umumnya tidak tercemar bahan-bahan berbahaya dan di lokasi-lokasi tertentu memenuhi baku mutu air untuk kebutuhan manusia. Oleh sebab itu, sebagian kolong dengan cadangan air yang melimpah ini menjadi sumber air bagi kebutuhan masyarakat, termasuk yang dikelola oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) di Kabupaten Belitung Timur.

4) Pemanfaatan kolong untuk pariwisata Kawasan bekas tambang berupa kolong dapat dipandang sebagai danau buatan datang ke Negeri Laskar Pelangi ini dan menjadi bagian yang dipromosikan pemerintah Provinsi Bangka Belitung dalam mencanangkan ”Visit Bangka pemancingan ikan, wisata perahu hingga usaha penangkaran buaya. pertanian. Oleh sebab itu, terlepas dari penetapan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), bekas tambang dapat dijadikan wilayah pemukiman atau bahkan perkotaan.

Potensi Bahan Galian Lain dan Mineral Ikutan

Timah terbentuk sebagai endapan primer pada batuan granit dan pada daerah sentuhan batuan endapan metamorf yang ilmenit, plumbum, bismut, arsenik, stibnite, kalkopirit, kuprit, xenotim, dan monasit kaolinit (Al2Si2O5(OH)4), muskofit (KAl2(AlSi3O10)(F,OH)2) dan alumina (Al2O3).

Dari mineral-mineral tersebut yang memiliki kadar yang cukup menonjol adalah kuarsa, kaolinit, monasit dan zirkon. Sedangkan yang lainnya memiliki kadar yang kecil atau bahkan hanya sebagai unsur jejak saja.

Logam Tanah Jarang

(6)

Yttrium (Y) 723,6 ton dan thorium (Th) 1.888,6 ton.

Saat ini 95% LTJ dunia dihasilkan oleh Republik Rakyat China (Gambar 5), hal ini cukup signifikan dalam menunjang kemajuan teknologi negara tersebut, khususnya dalam industri elektronika dan telekomunikasi. Dari jumlah produksi tersebut, hampir semuanya terserap kebutuhan dalam negerinya.

Di sisi lain permintaan LTJ dunia tumbuh secara eksponensial dimana pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 160.000 ton, akibatnya harga LTJ terus melambung dari waktu ke waktu. Hampir semua industri teknologi maju memerlukan LTJ antara lain :  Industri otomotif dan perminyakan  Industri gelas, optik, lensa kualitas

tinggi, fiber oftik

 Elektronika performa tinggi, senjata teknologi tinggi, teknologi satelit dan yang tumbuh 22% selama 5 tahun terakhir diperkirakan meningkatkan permintaan konsentrat ilmenit.

Harga ilmenit sendiri dipengaruhi oleh kualitasnya yang berhubungan dengan jumlah pengotor seperti besi, uranium, kromium dan vanadium. Namun faktor utama yang menentukan adalah ongkos transportasi dari negara produsen yang bisa mencapai 50% dari harga jual ilmenit. Ilmenit diperdagangkan dalam bentuk ilmenit sulfat dan ilmenit klorit. Beberapa sebesar 10.708,7 ton. Titanium digunakan untuk membuat bermacam-macam komponen logam yang memerlukan kekuatan tinggi sekaligus ringan, seperti komponen pesawat terbang dan satelit, mesin mobil balap, alat olahraga seperti rangka sepeda balap dan stik golf. Karena sifatnya yang tahan air garam, logam ini banyak dipakai pada rekayasa bawah laut dan instalasi desalinasi. Penggunaan lainnya antara lain : perhiasan, sambungan tulang manusia, ultrasonic welding, wave soldering, bingkai kaca mata dan alat memasak.

Pengusahaan Mineral Ikutan

Berdasarkan data yang dikemukakan sebelumnya, merupakan tantangan bagi Indonesia untuk berkiprah lebih banyak dalam penyediaan dan pengembangan mineral ikutan, khususnya LTJ dan ilmenit. Berbeda dengan bahan galian lain seperti Di samping itu perlu dilakukan pembenahan kebijakan pengelolaan mineral ikutan termasuk kemudahan perizinan serta insentif bagi pengusahaannya.

(7)

/ina/anak- perusahaan/1610052010142752/pt-timah-eksplomin/).

KESIMPULAN

1) Daerah bekas tambang timah di Belitung masih memiliki bahan galian yang potensial berupa : mineral bijih timah, mineral logam tanah jarang (monasit dan zirkon), mineral ilmenit dan pasir kuarsa. Daerah penelitian juga memiliki potensi pasir besi, galena, batu granit, lempung dan kaolin.

2) Potensi timah pada daerah bekas tambang berada di daerah : Air Seruk, Air Batu Buding, Badau, Membalong, Mengkubang, Sukamandi, Selingsing dan Air Madu; dengan sumber daya hipotetik bijih timah sebesar 115.364,34 ton dimana sumberdaya hipotetik logam timahnya sendiri sebesar 90.869,22 ton. 3) Bijih timah terkandung dalam lapisan

aluvial kaya timah (kaksa), lokasi yang potensial adalah daerah Selingsing dengan kadar kasiterit 59,57% (16,2 kg/m3) dan sumberdaya hipotetik 108.486,40 ton. Bijih timah terdapat pula dalam tailing pengolahan timah, lokasi yang potensial adalah daerah Sukamandi dengan kadar kasiterit 31,75% (0,364 kg/m3) dan sumber daya hipotetik 2.457 ton.

4) Potensi mineral logam tanah jarang (monasit) berada di daerah Air Seruk dengan sumberdaya hipotetik sebesar 5.525,73 ton (Cerium 1.140,5 ton, Lantanum 1.130,5 ton, Yttrium 723,6 ton, Thorium 1.888,6 ton).

5) Logam tanah jarang berpotensi dikembangkan karena permintaannya yang terus meningkat padahal pasokannya sendiri masih terbatas (95% diproduksi China). Indonesia diharapkan dapat berkiprah lebih banyak dalam

penyediaan dan pengembangan logam tanah jarang ini dengan mengintensifkan eksplorasi dan penelitian logam tanah hipotetik logam titaniumnya sendiri sebesar 10.708,7 ton.

7) Penambangan kembali daerah bekas penambangan PT Timah oleh perusahaan subkontraktor PT Timah dan masyarakat merupakan salah satu usaha pemanfaatan marginal deposit guna memperoleh manfaat yang optimal dari bahan galian timah, tetapi tentu saja harus diiringi dengan usaha meminimalisasi dampak lingkungan yang ditimbulkannya.

8) Revitalisasi daerah bekas tambang dapat dilakukan dengan mengembangkan daerah tersebut untuk : pertanian, perikanan, cadangan air bersih, pariwisata dan pemukiman atau perkotaan. Program yang dilakukan harus melibatkan lintas instansi pemerintah, pelaku usaha, serta masyaratkan secara luas.

9) Berdasarkan hasil interpretasi citra satelit, bekas tambang yang teridentifikasi berjumlah 78 dengan luas antara 0,2 km2 sampai 8,5 km2 serta luas keseluruhan 143 km2.

10) Aplikasi citra satelit di bekas tambang pada penelitian ini tidak dapat dilakukan secara maksimal disebabkan keterbatasan ketersediaan dan kualitas data. Namun demikian karena aplikasi citra ini hanya sebagai alat (tools) saja, maka seyogyanya tidak menghalangi pencapaian tujuan dari penelitian ini.

PUSTAKA

Cobbing, E.J., Malick, D.I.J., Pitfield, P.E.J., Teoh, L.H. 1986. The granites of the Southeast Asian Tin Belt. Journ. Geol. Soc. 143 : 537-550.

(8)

Direktorat Inventarsisasi Sumberdaya Mineral 2002, Pengawasan, Pemantauan dan Evaluasi Konservasi Sumber Daya Mineral Kabupaten Belitung Propinsi Bangka Belitung, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral, Bandung.

Dori Jukandi, Dampak Penambangan Timah Bagi Masyarakat Bangka Belitung Univer-sitas Negeri Bangka Belitung, 2009. http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?

judul=DAMPAK%20PENAMBANGAN%20TIMAH%20BAGI%20MASYARAKAT %20BANGKA%20BELITUNG&&nomorurut_artikel=363.

Endang Bidayani, Pemberdayaan Kolong Bekas Galian Tambang Timah Sebagai Usaha Perikanan Terpadu

http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Pemberdayaan%20Kolong%20 Bekas %20Galian%20Tambang%20Timah%20%20Sebagai%20 Usaha%20Perikanan %20Terpadu&&nomorurut_artikel=51.

Karno, E. Suganda & N. Adiwinata, 1996, Eksplorasi mineral logam langka di daerah Pelawan - Toboali, Kabupaten Bangka Manggar - Gantung, Kabupaten Belitung Propinsi Sumatera Selatan, Direktorat Sumber Daya Mineral, Bandung.

Katili, J.A. 1973. Geologi Indonesia, Memoir 60 th J.A. Katili, IAGI.

PT. Tambang Timah (Persero), 1978, Penelitian cebakan timah primer dengan metoda magnetik permukaan (ground magnetic) di daerah T 65.VIII/ab-Rautan, wilasi manggar UPT Belitung.

Safei Siregar dan Sutomo Riadi, 1999. Eksplorasi Endapan Pasir Kuarsa di Tanjung Batu Itam, Pulau Belitung, Jurnal Teknologi Indonesia Jilid XXII, No. 1-2. Puslitbang Geoteknologi LIPI. Bandung.

Suhandi dkk., 2009, Penelitian Bahan Galian Lain dan Mineral Ikutan pada Wilayah Usaha Pertambangan Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung, Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.

Tiar Delimawati T., 2008, Pembuatan Keramik Berfori sebagai Filter Gas Buang dengan Aditif Karbon Aktif, Tesis Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Situs Bangka Goes Green, http://www.bangkagoesgreen.co.cc/2008/12/ mengolah -bekas-lahan-tambang-timah.html

Situs PT Timah, http://www.timah.com/ina/anak-perusahaan/1610052010142752/ pt-timah-eksplomin/.

Supriatna Suhala dan M. Arifin, 1997, Bahan Galian Industri, ISBN : 979-8641-04-03, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, Bandung.

Majalah Peluang No. 43 Th III September 2010. http://tre-ag.com/en/rare-earths_importance.php http://www.usgs.gov

http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=398642

(9)

Gambar 1. Peta Lokasi Pulau Belitung

(10)

Gambar 3. Citra hasil komposit dari komponen 1, 2 dan 4 (PC 124)

(11)

Gambar

Gambar 1. Peta Lokasi Pulau Belitung
Gambar 3. Citra hasil komposit dari komponen 1, 2 dan 4 (PC 124)
Gambar 5. Produksi LTJ dunia ( x 1000 ton) 1950 - 2006  (http://www.usgs.gov)

Referensi

Dokumen terkait

(1) Kepala Teknik Tambang wajib melakukan penanaman kembali daerah bekas penambangan dan daerah yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan studi

Sasaran dan obyek Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI ini Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang usaha pertimahan, yaitu PT Timah Tbk. Hal ini

Program tanggung jawab sosial dalam PKBL ini sudah dirasakan manfaatnya bagi masyarakat, baik yang dirasakan para mitra binaan PT Timah usaha kecil/UMKM yang

Program tanggung jawab sosial dalam PKBL ini sudah dirasakan manfaatnya bagi masyarakat, baik yang dirasakan para mitra binaan PT Timah usaha kecil/UMKM yang

Pengaruh Ekspektasi Kinerja, Ekspektasi Usaha, dan Kepercayaan Terhadap Niat Pemanfaatan Teknologi Informasi (Studi Kasus pada PT Timah (Persero) Tbk

Dan Kepercayaan Teknologi Sistem Informasi Terhadap Niat Pemanfaatan Teknologi Informasi (Studi Kasus pada PT Timah (Persero) Tbk Pangkalpinang)”. 1.2

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,