DAFTAR ISI
Hal. PERSETUJUAN PEMBIMBING... PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... ABSTRAK... ABSTRACT... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I PENDAHULUAN...
i ii iii iv vi vii viii xi xiii xiv 1 A. Latar Belakang Masalah... B. Rumusan Masalah... C. Tujuan Penelitian... D. Manfaat Penelitian... E. Penjelasan Istilah...
1 15 16 16 17 BAB II UPAYA MEMBANGUN KUALITAS SUMBER DAYA
MANUSIA MELALUI PEMBELAJARAN FISIKA DI SEKOLAH... 20 A. B. C. D. E. F. G.
Pentingnya Sumber Daya Manusia Berkualitas... Tujuan Mata Pelajaran Fisika di Sekolah Menengah Pertama.. Kemampuan-kemampuan Fisika yang Dapat Dikembangkan Melalui Pembelajaran Fisika di Tingkat SMP... Identifikasi Kemampuan Generik Sains yang Dapat Dikembangkan Melalui Materi Gerak Lurus... Kemampuan-kemampuan yang Dapat Ditumbuhkembangkan Melalui Upaya Peningkatan Kemampuan Generik Sains... Proses Belajar-Mengajar Fisika di Sekolah... Program Pembelajaran Fisika Berbasis IT2PK untuk
H. I. J.
Meningkatkan PK dan KGS Siswa... Strategi Pembelajaran yang Dapat Dikembangkan... Model Evaluasi... Hipotesis-hipotesis Statistik... 51 53 58 59 BAB III METODE PENELITIAN... 62
A. Pendekatan Penelitian... B. Subyek Penelitian... C. Instrumen Penelitian... D. Teknik Pengumpulan Data... E. Teknik Analisis Data... F. Analisis Hasil Uji Coba... G. Perbaikan Rancangan Program Pembelajaran...
62 68 69 78 79 83 86 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 90 A. Hasil Penelitian... 90 1. 2. 3. 4. 5. 6.
Uji Persyaratan Analisis... Deskripsi Pemahaman Konsep (PK) dan Kemampuan Generik Sains (KGS) Awal Siswa... Deskripsi Pemahaman Konsep (PK) dan Kemampuan Generik Sains (KGS) Siswa Setelah Memperoleh Pengalaman Belajar... Efektivitas Program Pembelajaran Fisika Berbasis Inkuiri Terbimbing Tipe Penyelidikan Kelompok (IT2PK) Kemampuan Kerja Laboratorium (KKL) Siswa Kelompok Eksperimen... Respon Siswa Terhadap Pembelajaran dengan Program Pembelajaran Fisika Berbasis Inkuiri Terbimbing Tipe Penyelidikan Kelompok (IT2PK)...
2. 3.
4.
5.
Kemampuan Kerja Laboratorium Siswa... Keunggulan dan Keterbatasan Program Pembelajaran Fisika Berbasis IT2PK Berdasarkan Hasil Implementasi.... Respon Siswa Terhadap Pembelajaran dengan Program Pembelajaran Fisika Berbasis IT2PK... Kendala-kendala dalam Implementasi Program...
124
126
128 130 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 133
A. Kesimpulan... B. Saran...
133 134 DAFTAR PUSTAKA...
DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.1. Tabel 2.1. Tabel 2.2. Tabel 3.1. Tabel 3.2. Tabel 3.3. Tabel 3.4. Tabel 3.5. Tabel 3.6. Tabel 3.7. Tabel 3.8. Tabel 3.9. Tabel 3.10. Tabel 3.11. Tabel 4.1. Tabel 4.2. Tabel 4.3. Tabel 4.4. Tabel 4.5.
Kelangsungan Studi Anak-anak Indonesia... Identifikasi Kemampuan Generik Sains yang Dapat Dikembangkan Melalui Topik Gerak Lurus ... Kemampuan-kemampuan yang Dapat Ditumbuhkembangkan Melalui Kemampuan Generik Sains... Rancangan Penelitian Eksperimen Kuasi... Distribusi Sampel Penelitian... Kisi-kisi Tes Pemahaman Konsep (PK)... Kisi-kisi Tes Kemampuan Generik Sains (KGS) yang
Dikembangkan Melalui topik Gerak Lurus... Pedoman Konversi Norma Absolut Skala Lima... Pedoman Konversi Norma Absolut Skala Lima untuk Skor PK dan Skor KGS... Pedoman Konversi Peningkatan Perolehan Skor PK dan KGS. Pedoman Konversi Norma Absolut Skala Lima untuk Skor Kemampuan Kerja Laboratorium dan Skor Respon Siswa... Analisis Deskriptif Hasil Uji Coba... Rangkuman Analisis Deskriptif Perkonsep Skor PK... Rangkuman Analisis Deskriptif Aspek-aspek Kemampuan Generik Sains (KGS)... Data Skor PK Siswa Kelompok Eksperimen dan Kontrol... Data Skor KGS Siswa Kelompok Eksperimen dan Kontrol... Hasil Analisis Uji Normalitas Data Pemahaman Konsep dan Kemampuan Generik Sains Siswa... Hasil Analisis Uji Homogenitas Varians Kemampuan Awal Siswa... Hasil Analisis Uji Perbedaan Rerata Skor Pretest PK antara
Tabel 4.6.
Tabel 4.7.
Tabel 4.8.
Tabel 4.9.
Tabel 4.10.
Tabel 4.11.
Tabel 4.12.
Hasil Analisis Uji Perbedaan Rerata Skor Pretest KGS antara Siswa Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol... Hasil Analisis Uji Perbedaan Rerata Skor Posttest PK antara Siswa Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol... Hasil Analisis Uji Perbedaan Rerata Skor Posttest KGS antara Siswa Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol... Hasil Analisis Uji Perbedaan Rerata Skor N-Gain PK antara Siswa Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol... Hasil Analisis Uji Perbedaan Rerata Skor N-Gain KGS antara Siswa Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol... Hasil Analisis Data Skor Kemampuan Kerja Laboratorium (KKL) Siswa Kelompok
Eksperimen...
Variasi Respon Siswa Terhadap Program Pembelajaran Fisika Berbasis IT2PK...
99
101
103
105
107
109
DAFTAR GAMBAR Hal. Gambar 2.1. Gambar 2.2. Gambar 2.3. Gambar 2.4. Gambar 2.5. Gambar 3.1. Gambar 3.2. Gambar 4.1. Gambar 4.2. Gambar 4.3. Gambar 4.4. Gambar 4.5. Gambar 4.6. Gambar 4.7.
Lintasan Gerak Benda... Hubungan Kemiringan Garis Lurus P1P2 dengan
Kecepatan Rata-rata... Grafik Gerakan Benda yang Bergerak Lurus Beraturan... Hubungan Kemiringan Garis Lurus P1P2 dengan
Percepatan Rata-rata... Grafik Gerakan Benda yang Bergerak Lurus Berubah Beraturan... Kaitan Antar Komponen-Komponen Program
Pembelajaran Fisika... Langkah-Langkah Penelitian... Perbedaan Rerata Skor Pretest PK antara Siswa
Kelompok Eksperimen dan Siswa Kelompok Kontrol...
Perbedaan Rerata Skor Pretest KGS antara Siswa
Kelompok Eksperimen dan Siswa Kelompok Kontrol... Perbedaan Rerata Skor Posttest PK antara Siswa
Kelompok Eksperimen dan Siswa Kelompok Kontrol... Perbedaan Rerata Skor Posttest KGS antara Siswa
Kelompok Eksperimen dan Siswa Kelompok Kontrol... Perbedaan Rerata Skor N-Gain PK antara Siswa Kelompok Eksperimen dan Siswa Kelompok Kontrol... Perbedaan Rerata Skor N-Gain KGS antara Siswa
Kelompok Eksperimen dan Siswa Kelompok Kontrol... Variasi Respon Siswa terhadap Program Pembelajaran Fisika Berbasis IT2PK...
DAFTAR LAMPIRAN Hal. Lampiran 01. Lampiran 02. Lampiran 03. Lampiran 04. Lampiran 05. Lampiran 06. Lampiran 07. Lampiran 08. Lampiran 09. Lampiran 10. Lampiran 11. Lampiran 12. Lampiran 13. Lampiran 14. Lampiran 15. Lampiran 16. Lampiran 17. Lampiran 18.
Perangkat Pembelajaran-01 (Subtopik Gerak Benda)... Perangkat Pembelajaran-02 (Subtopik Gerak Benda)... Perangkat Pembelajaran-03 (Subtopik Gerak Lurus
Beraturan)... Perangkat Pembelajaran-04 (Subtopik Gerak Lurus Berubah Beraturan)... Petunjuk-Petunjuk Praktikum... Tes Pemahaman Konsep (PK)... Tes Kemampuan Generik Sains (KGS)... Kunci Jawaban Tes kemampuan Generik Sains (KGS)... Kuesioner untuk Siswa... Data Skor Pretest Pemahaman Konsep (PK) Tiap Butir Soal Siswa Kelompok Eksperimen... Data Skor Pretest Pemahaman Konsep (PK) Tiap Butir Soal Siswa Kelompok Kontrol... Data Skor Posttest Pemahaman Konsep (PK) Tiap Butir Soal Siswa Kelompok Eksperimen... Data Skor Posttest Pemahaman Konsep (PK) Tiap Butir Soal Siswa Kelompok Kontrol... Analisis Nilai N-Gain (<g>) Pemahaman Konsep
Perkonsep Siswa Kelompok Eksperimen... Analisis Nilai N-Gain (<g>) Pemahaman Konsep
Perkonsep Siswa Kelompok Kontrol... Hasil Tes Pemahaman Konsep Pada Masing-Masing
Kelompok Siswa... Menguji Reliabilitas dan Validitas Item Tes Pemahaman Konsep (PK) Pasca Implementasi... Data Skor Pretest Kemampuan Generik Sains (KGS) Tiap
Lampiran 19.
Lampiran 20.
Lampiran 21.
Lampiran 22.
Lampiran 23.
Lampiran 24.
Lampiran 25. Lampiran 26. Lampiran 27.
Lampiran 28.
Lampiran 29.
Lampiran 30.
Butir Soal untuk Siswa Kelompok Eksperimen... Data Skor Pretest Kemampuan Generik Sains (KGS) Tiap Butir Soal untuk Siswa Kelompok Kontrol... Data Skor Posttest Kemampuan Generik Sains (KGS) Tiap Butir Soal untuk Siswa Kelompok Eksperimen... Data Skor Posttest Kemampuan Generik Sains (KGS) Tiap Butir Soal untuk Siswa Kelompok Kontrol... Data Skor KGS dan Nilai N-Gain (<g>) Tiap Aspek
Kemampuan Untuk Siswa Kelompok Eksperimen... Data Skor KGS dan Nilai N-Gain (<g>) Tiap Aspek
Kemampuan Untuk Siswa Kelompok Kontrol... Data Hasil Tes KGS dan Nilai N-Gain Secara Keseluruhan pada Masing-Masing Kelompok Siswa... Menguji Validitas Tes KGS Pasca Implementasi... Menguji Reliabilitas Tes KGS Pasca Implementasi... Data Skor Respon Siswa Kelompok Eksperimen Terhadap Program Pembelajaran yang Dikembangkan... Data Skor Kemampuan Kerja Laboratorium (KKL) Siswa Kelompok Eksperimen... Hasil Analisis Respon Siswa terhadap Pembelajaran dengan Program Pembelajaran Fisika Berbasis IT2PK... Uji Normalitas Data Hasil Penelitian...
218
221
224
227
230
233
237 240 243
246
249
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini kita telah memasuki abad XXI. Era globalisasi harus dilalui oleh siapapun yang hidup di abad ini. Abad XXI merupakan abad yang sarat dengan kompetisi, dan pemenangnya sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Persiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas merupakan kunci untuk memetik kemenangan dalam persaingan di era globalisasi. Berkaitan dengan hal ini, Tilaar (1999) menyebutkan ada tiga tuntutan terhadap SDM abad XXI, yaitu: (1) Abad XXI menuntut maanusia yang unggul; (2) SDM abad XXI adalah manusia yang terus menerus belajar; dan (3) SDM abad XXI adalah manusia yang mengembangkan nilai-nilai.
Tugas di masa depan menuntut manusia-manusia berkualitas. Secara kuantitatif, tolok ukur tentang kualitas SDM suatu bangsa digambarkan oleh nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam UNDP (United Nations Development Programme), IPM salah satunya ditentukan oleh faktor pendidikan di samping faktor kelangsungan hidup (faktor kesehatan) dan faktor daya beli (faktor ekonomi) (Tim Bappeda Jabar, 2003). Artinya bahwa kualitas pendidikan merupakan salah satu indikator kemajuan suatu masyarakat/bangsa.
Menurut data dari UNDP seperti dilaporkan tanggal 5 oktober 2009, IPM Indonesia berada pada peringkat 111 dari 180 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yaitu sebesar 0,734, satu tingkat di bawah Palestina dengan IPM sebesar 0,737. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia masih tergolong rendah. Oleh karena itu sebagai salah satu indikator kualitas SDM, kualitas pendidikan harus terus ditingkatkan agar tidak tertinggal oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Pendidikan Fisika bagi siswa diharapkan dapat mengembangkan pemahaman, keterampilan, kemampuan, dan sikap ilmiah (Sharma, 1981).
Terkait dengan upaya peningkatan mutu pendidikan berbagai hal telah dilakukan pemerintah, antara lain: penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku ajar, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi pendidikan mereka, peningkatan manajemen pendidikan, serta pengadaan fasilitas pendidikan. Meskipun upaya-upaya seperti yang disebutkan di atas telah dilakukan, namun hasilnya belumlah seperti yang diharapkan. Mutu pendidikan sains (khususnya Pendidikan Fisika) di berbagai jenjang pendidikan masih tergolong rendah. Hal ini tercermin dari relatif rendahnya nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) siswa dalam bidang ini yang dari tahun ke tahun tidak mengalami peningkatan yang signifikan.
pada tahun 2000, melaporkan prestasi siswa SMP di Indonesia dalam bidang sains menempati posisi ke-38 dari 41 negara (OECD, 2003). Studi yang sama pada tahun 2003 menempatkan prestasi siswa SMP di Indonesia pada bidang sains pada urutan ke-38 dari 40 negara (OECD, 2004), dan studi pada tahun 2006 pada urutan ke-53 dari 57 negara (OECD, 2007).
Pada kesempatan lain, Hinduan (2003) mengungkapkan bahwa secara kasar penilaian terhadap masih rendahnya mutu pendidikan sains di sekolah dapat diamati melalui berbagai kejadian atau gejala dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Banyak tingkah laku anggota masyarakat yang menunjukkan bahwa seakan-akan mereka belum pernah menerima pendidikan sains. Dengan kata lain, pendidikan sains di sekolah-sekolah di Indonesia seakan tidak berdampak dalam cara hidup dan cara berpikir sebagian besar rakyat Indonesia.
Ditinjau dari tingkat kelangsungan studi anak-anak Indonesia, kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua anak dapat melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat dalam hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) untuk tiga tahun terakhir (periode 2006 – 2008) seperti pada tabel 1.1. Bila mengacu pada program wajib belajar sembilan tahun (Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 6 ayat 1), seharusnya setiap warga negara harus pernah belajar minimal sampai SMP tanpa terputus di tengah jalan. Namun, hasil survei memperlihatkan bahwa persentase anak-anak Indonesia yang tidak bisa melanjutkan sampai jenjang SMP masih cukup besar. Apalagi kalau dilihat sampai jenjang sekolah yang lebih tinggi, tampak persentase yang tidak dapat melanjutkan semakin besar.
Tabel 1.1. Kelangsungan Studi Anak-Anak Indonesia
Kelompok Umur (tahun) / Jenjang
Sekolah
Tahun
2006 2007 2008
Bersekolah
(%)
Tidak Sekolah/ Berhenti
(%)
Bersekolah
(%)
Tidak Sekolah/ Berhenti
(%)
Bersekolah
(%)
Tidak Sekolah/ Berhenti
(%)
7 – 12/SD 97,39 2,61 97,60 2,40 97,83 2,17
13 – 15/SMP 84,08 15,92 84,26 15,74 84,41 15,59
16 – 18/SMA 53,92 46,08 54,61 45,39 54,70 45,30
19 – 24/PT 11,38 88,62 12,20 87,80 12,43 87,57
(Sumber: BPS Indonesia – 2009)
di sekolah peserta didik perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan wawasan yang cukup memadai agar kelak kalau tidak melanjutkan sekolah dapat segera memasuki dunia kerja sehingga setidaknya mampu menghidupi dirinya, syukur kalau dapat turut menghidupi keluarga. Fisika sebagai salah satu bidang studi di SMP diharapkan dapat berperan dalam menambah wawasan, meningkatkan pola pikir, serta sikap peserta didik sebagai bekal mereka terjun ke masyarakat ataupun untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Dalam praktek pembelajaran sains di sekolah yang terjadi selama ini, kebanyakan guru menekankan pada pembelajaran sains untuk kepentingan peserta didik yang akan melanjutkan studinya sampai ke perguruan tinggi dan mengambil bidang IPA (menjadi saintis) yang jumlahnya mungkin tidak banyak. Sementara siswa yang tidak melanjutkan ke bidang IPA atau bahkan tidak melanjutkan pendidikan kurang mendapatkan perhatian. Padahal mereka inilah yang menjadi anggota masyarakat Indonesia yang jumlahnya jauh lebih besar. Bagi mereka ini sains pelajaran sains (khususnya Fisika) tetap merupakan pelajaran yang sulit dan menakutkan. Hal ini tentu tidak dapat dibiarkan terus. Pembelajaran sains harus memberikan manfaat untuk semua siswa. Karena itu perlu dipikirkan bagaimana pembelajaran sains khususnya Fisika yang sesuai untuk semua siswa (Physics educations for all).
atau untuk terjun ke masyarakat (Pemerintah RI, 1989). Namun selama ini, dirasakan ada kesalahan penafsiran terhadap kedua tujuan itu. Disadari atau tidak, tujuan untuk menyiapkan peserta didik melanjutkan studi, seringkali ditafsirkan sebagai pemberian materi yang sebanyak-banyaknya agar peserta didik dapat memperoleh nilai Ujian Nasional (UN) yang tinggi. Sebagai akibatnya, materi menjadi sangat padat. Menurut Reif (1995), sebetulnya yang terpenting dalam pembelajaran Fisika adalah bagaimana membantu siswa menguasai konsep-konsep dasar dan strategis (dalam jumlah yang tidak terlalu banyak), agar mereka dapat menggunakan pengetahuannya secara fleksibel. Untuk maksud ini siswa dituntut mampu menginterpretasikan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar secara benar, serta mampu memahami hubungan fungsional antar konsep dan prinsip itu (pada tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan). Jadi yang diperlukan adalah mengembangkan kemampuan berpikir, kemampuan analisis, kemampuan pemecahan masalah. Di samping itu juga dibutuhkan kemampuan-kemampuan seperti kemampuan membaca, kemampuan mencari informasi yang dibutuhkan, kemampuan dan kemauan bekerja keras dan mandiri, yang kesemuanya dapat dilatih melalui pembelajaran Fisika di sekolah.
kemampuan berpikir tingkat tinggi, kemampuan dan kemauan bekerja keras, melatih sikap jujur, kritis, skeptis, runtut dalam berpikir, dan sebagainya.
Jadi sebetulnya, yang terpenting dalam pembelajaran Fisika di sekolah adalah bagaimana mengembangkan kemampuan berpikir siswa, kemampuan dan kemauan bekerja keras dan mandiri, kemampuan untuk mencari informasi yang diperlukan, melatih berbagai keterampilan dasar dan sifat jujur, disiplin, tanggungjawab, kritis, runtut dalam berpikir, dan sebagainya. Kemampuan-kemampuan serta sikap-sikap positif inilah yang dianggap sebagai ciri-ciri SDM berkualitas (Hinduan, 2003). Hal senada juga diungkapkan oleh Tilaar (1999), bahwa manusia berkualitas adalah manusia yang dapat mengembangkan nilai-nilai “DJITU” (berdedikasi dan berdisiplin, jujur, inovatif, tekun, dan ulet).
Mata pelajaran Fisika mempunyai potensi yang sangat besar untuk dijadikan wahana guna mengembangkan kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap yang mencirikan kualitas SDM seperti disebutkan di atas. Hal ini berarti membangun kualitas SDM dapat diupayakan diantaranya melalui peningkatan kualitas pembelajaran Fisika di sekolah. Hal senada juga diungkapkan oleh Sidi (2000), bahwa upaya membangun kualitas sumber daya manusia dapat dilakukan melalui peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Mutu pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis,
Membangun kualitas SDM melalui pembelajaran Fisika di SMP dapat diupayakan melalui upaya peningkatan kemampuan-kemampuan fisika siswa. Kemampuan-kemampuan dimaksud antara lain: (1) pemahaman konsep-konsep dan prinsip-prinsip penting dalam Fisika, atau disebut dengan kemampuan pemahaman konsep (PK), (2) kemampuan generik sains (KGS), karena aspek-aspek kemampuan generik ini merupakan kemampuan-kemampuan yang dapat digunakan untuk mempelajari berbagai konsep dan menyelesaikan berbagai persoalan fisika. Kemampuan generik sains melibatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan (3) kemampuan kerja laboratorium siswa, karena sikap-sikap ilmiah dapat dilatih melalui berbagai kegiatan ilmiah di laboratorium. Jadi, peningkatan pemahaman konsep, peningkatan kemampuan generik sains, serta peningkatan kemampuan kerja laboratorium siswa selama dan sesudah proses pembelajaran dijadikan sebagai indikator peningkatan kemampuan-kemampuan yang mencirikan kualitas SDM.
pula kesulitan dalam hal mengaplikasikan konsep-konsep yang telah mereka terima dalam menyelesaikan permasalahan sederhana. Ternyata temuan ini juga tidak berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Karim (2000) pada mahasiswa calon guru bahwa sebegian besar mahasiswa mengalami kesulitan dalam hal: (1) memahami konsep-konsep fisika, (2) membaca grafik dan menafsirkannya, (3) menginterpretasikan persamaan-persamaan matematis yang merepresentasikan hubungan antar besaran-besaran, (4) membaca data, dan (5) mengaitkan suatu konsep dengan konsep yang lainnya. Hal ini berarti masih kurangnya pemahaman konsep dan kemampuan generik sains juga dialami oleh peserta didik pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Berdasarkan hasil observasi dan pembicaraan informal dengan beberapa orang guru dan siswa tentang pembelajaran Fisika di sejumlah SMP di Bandung serta hasil observasi langsung ke sebuah SMP di Mataram-NTB, terungkap beberapa karakteristik pembelajaran yang terjadi di sekolah selama ini, yaitu: 1. Pembelajaran Fisika masih didominasi oleh metode ceramah, dengan alasan
padatnya materi yang dituntut oleh kurikulum.
2. Pembelajaran Fisika lebih berorientasi pada buku teks. Guru cenderung menuntaskan materi yang terdapat dalam buku teks. Siswa diajak menyelesaikan semua soal-soal yang ada dalam buku teks tersebut, dengan alasan agar bisa menjawab soal-soal Ujian Nasional (UN).
4. Guru kurang memperhatikan bahkan mengabaikan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa sebelum proses pembelajaran. Umumnya langsung masuk ke materi pelajaran.
5. Pembelajaran Fisika di sekolah tampaknya lebih menekankan pada manipulasi matematis daripada konsep-konsep fisisnya, sehingga belajar Fisika bagi siswa tidak ubahnya seperti belajar Matematika.
6. Masih belum ada pembelajaran Fisika di sekolah yang dengan sengaja ditujukan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan generik sains, nilai-nilai, dan sikap sebagai tujuan pembelajaran.
7. Jarang sekali guru Fisika menyediakan waktu khusus untuk kegiatan remedial/pengayaan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam kemampuan pemahaman konsep (PK) dan kemampuan generik sains (KGS) secara sistematis, seperti: kemampuan membuat grafik, kemampuan membaca grafik, kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep fisika dalam persoalan-persoalan sederhana.
8. Guru kurang memberikan kesempatan bertanya kepada siswa. Guru juga kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkomunikasikan gagasannya.
9. Seringkali guru terlalu dini memberi tahu siswanya bila mengalami kesulitan, kurang diberikan waktu untuk berusaha mencoba mengatasi masalahnya sendiri.
11.Setiap kali memberikan tugas-tugas atau soal-soal latihan kepada siswa, guru jarang sekali menginformasikan hasil pekerjaan siswa.
12.Kadangkala guru juga memiliki kesalahan konsep, ataupun kurang menguasai konsep yang diajarkan. Terkadang kesalahan konsep juga terdapat pada buku-buku pelajaran yang digunakan siswa.
Kondisi-kondisi di atas barangkali yang turut andil menjadikan hasil belajar Fisika dalam berbagai aspeknya masih tergolong rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya perubahan. Proses belajar-mengajar (PBM) harus berubah dari “memberi tahu” menjadi “membantu peserta didik agar menjadi tahu” melalui proses inkuiri ilmiah. Melibatkan siswa secara aktif dalam proses inkuiri ilmiah selama pembelajaran merupakan tuntutan dasar dalam pembelajaran fisika. Siswa diberi kesempatan untuk berlatih menganalisis masalah yang dihadapi, mencari informasi yang diperlukan, mengambil sari dari suatu bacaan, bertanya dan mempertanyakan informasi yang dianggap janggal, untuk akhirnya dapat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Pembelajaran dengan melibatkan siswa secara aktif dalam menyelesaikan masalah merupakan modal bagi siswa untuk memiliki kompetensi yang pada gilirannya dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, lebih mandiri dalam mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya, dan mandiri dalam pekerjaan.
awal pembelajaran guru masih banyak memberikan proses bimbingan, kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur.
Melalui kegiatan inkuiri ilmiah secara terbimbing ini siswa dapat melakukan penyelidikan secara berkelompok (group investigation) dalam rangka membangun konsep yang diinginkan. Penyelidikan secara berkelompok ini dapat melatih siswa bagaimana bekerja dalam tim, sebab banyak pekerjaan di masa sekarang yang tidak mungkin dikerjakan sendiri. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk berlatih berdiskusi, mengkomunikasikan hasil pikirannya secara lisan maupun tertulis.
inkuiri secara berkesinambungan dalam pembelajaran Fisika akan mengembangkan keterampilan berinkuiri bagi siswa yang pada gilirannya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari (Hinduan, 2003).
Beberapa temuan yang dihasilkan oleh para peneliti terdahulu tentang pembelajaran inkuiri terbimbing, antara lain seperti dilakukan oleh Broto (2009) pada siswa SMP kelas IX, mengungkapkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dengan metode eksperimen dan demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar Fisika siswa. Hasil penelitian Mubayatun (2008) pada siswa SMP kelas VII juga mengungkapkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing melalui problem base learning (PBL) dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Kemudian, hasil penelitian Santyasa (2009) pada siswa SMA kelas X tentang pembelajaran berseting penyelidikan kelompok (group investigation) mengungkapkan bahwa pembelajaran model perubahan konseptual berseting penyelidikan kelompok dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika dan kemampuan pemecahan masalah siswa.
yang dikembangkan untuk selanjutnya dinamakan dengan Program Pembelajaran Fisika berbasis Inkuiri Terbimbing Tipe Penyelidikan Kelompok (IT2PK).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang seperti dikemukakan di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mencari jawaban atas permasalahan berikut: “Bagaimanakah Program Pembelajaran Fisika untuk meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan generik sains siswa Sekolah Menengah Pertama Sebagai upaya membangun kualitas sumber daya manusia?” Selanjutnya masalah penelitian tersebut dijabarkan dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Apakah implementasi Program Pembelajaran Fisika berbasis Inkuiri
Terbimbing Tipe Penyelidikan Kelompok (IT2PK) lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan generik sains siswa jika dibandingkan dengan Program Pembelajaran Tradisional?
2. Bagaimanakah profil kemampuan kerja laboratorium (KKL) siswa dalam proses pembelajaran dengan Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK? 3. Apakah keunggulan dan keterbatasan dari Program Pembelajaran Fisika
berbasis IT2PK berdasarkan hasil implementasinya?
4. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Mengetahui efektivitas Program Pembelajaran Fisika berbasis Inkuiri Terbimbing Tipe Penyelidikan Kelompok (IT2PK) dalam meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan generik sains siswa jika dibandingkan dengan Program Pembelajaran Tradisional.
2. Mengetahui profil kemampuan kerja laboratorium (KKL) siswa dalam proses pembelajaran dengan Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK.
3. Menemukan keunggulan dan keterbatasan dari Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK berdasarkan hasil implementasinya.
4. Mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK.
5. Menemukan kendala-kendala yang dijumpai dalam implementasi Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada guru
mengajar Fisika, sehubungan dengan fungsinya sebagai wahana pendidikan untuk membangun kualitas sumber daya manusia.
3. Program pembelajaran yang dikembangkan dapat dipertimbangkan untuk diterapkan pada topik-topik Fisika lainnya yang memungkinkan ditumbuh-kembangkannya aspek-aspek kemampuan generik sains yang lebih banyak.
E. Penjelasan Istilah
Ada beberapa istilah dalam penelitian ini yang perlu diberi penjelasan agar diperoleh kesamaan persepsi. Istilah-istilah dimaksud antara lain:
1. Membangun kualitas sumber daya manusia melalui pembelajaran Fisika maksudnya adalah meningkatkan kemampuan-kemampuan, keterampilan-keterampilan, serta sikap atau nilai yang menjadi ciri manusia berkualitas, melalui upaya peningkatan kemampuan-kemampuan fisika.
kemampuan siswa pada aspek-aspek kemampuan generik yang teridentifikasi dari topik gerak lurus, meliputi: kemampuan mendeskripsikan konsep, kemampuan menginterpretasi representasi ilmiah, kemampuan inferensi logika, dan kemampuan mengaplikasikan konsep pada permasalahan-permasalahan fisika sederhana. Adapun yang dimaksudkan dengan kemampuan kerja laboratorium (KKL) adalah kemampuan-kemampuan dalam melaksanakan kegiatan praktikum di laboratorium, meliputi: kemampuan mengamati, kemampuan merepresentasikan data dalam bentuk tabel atau grafik, kemampuan menginterpretasi data, kemampuan mengkomunikasikan hasil percobaan, serta sikap siswa dalam melakukan kegiatan laboratorium. 3. Program Pembelajaran Fisika berbasis Inkuiri Terbimbing Tipe Penyelidikan
Kelompok (IT2PK), didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan belajar -mengajar pada tingkat SMP berbasis inkuiri (terbimbing) dengan bentuk pembelajaran kooperatif tipe penyelidikan kelompok yang dikembangkan untuk meningkatkan pemahaman konsep (PK), kemampuan generik sains (KGS), serta kemampuan kerja laboratorium (KKL) siswa melalui topik gerak lurus, sebagai bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan sains. Melalui kegiatan inkuiri ini siswa melakukan pengamatan, mengumpulkan data hasil pengamatan, menganalisis dan menginterpretasi data, melakukan prediksi serta menyimpulkan dan mengkomunikasikan hasil yang diperoleh.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis Penelitian dan Pengembangan Pendidikan (Educational Research and Development) yang disingkat R&D. Menurut Borg & Gall (1983), R&D diarahkan untuk mengembangkan dan memvalidasikan produk-produk pendidikan. Produk pendidikan dalam hal ini adalah Program Pembelajaran Fisika berbasis Inkuiri Terbimbing Tipe Penyelidikan Kelompok (IT2PK) meliputi rencana pembelajaran, skenario pembelajaran, bahan ajar, lembar kerja siswa serta alat-alat evaluasi . Validasi program dilakukan melalui ilmplementasi program pembelajaran yang dikembangkan.
Borg & Gall mengemukakan 10 (sepuluh) langkah kegiatan penelitian dan pengembangan, yang terbagi atas 7 (tujuh) langkah utama. Namun tim dosen pengembangan kurikulum UPI mengadakan sedikit modifikasi dari langkah-langkah yang dikemukakan oleh Borg & Gall menjadi tiga langkah-langkah (Sukmadinata, 2002) yaitu: studi pendahuluan, pengembangan program, dan validasi program. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing langkah tersebut:
Tahap I: Studi Pendahuluan
lapangan diarahkan untuk menemukan program-program yang terkait dengan program pembelajaran sejenis atau embrio dari program tersebut dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah.
Tahap II: Pengembangan Program
Pada tahap ini terdiri atas penyusunan rancangan program pembelajaran dan uji coba.
1. Penyusunan Rancangan Program Pembelajaran
2. Uji Coba Rancangan Program dan Instrumen Penelitian
Uji coba program pembelajaran yang telah dikembangkan dalam penelitian ini dilakukan di sebuah SMP Negeri di Kota Bandung pada siswa kelas VII(E) semester genap tahun ajaran 2007/2008 dengan jumlah siswa 40 orang, yang terdiri dari 20 orang laki-laki dan 20 orang perempuan. Uji coba program dilaksanakan pada bulan April s/d Mei 2008. Dilakukannya uji coba ini pada akhir semester genap dikarenakan harus disesuaikan dengan urutan topik yang telah
Topik-topik Fisika SMP kelas VII semester 2 Kemampuan-kemampuan
yang harus dikuasai siswa SMP dalam belajar Fisika
Kemampuan-kemampuan yang dapat ditumbuhkan melalui topik Fisika SMP kelas VII semester 2 yang dipilih
Bahan Ajar
Strategi Pembelajaran
Pembelajaran berbasis aktivitas
Remedial/ Pengayaan
Tugas-tugas mandiri
EVALUASI Kemampuan-kemampuan
[image:30.595.117.511.97.598.2]yang mencirikan kualitas SDM
yang menempatkan topik gerak lurus pada kelas VII akhir semester genap. Kegiatan pembelajaran pada uji coba ini terdiri dari pembelajaran berbasis aktivitas yang dilaksanakan sesuai jam pelajaran resmi di sekolah, remedial/pengayaan dilaksanakan pada sore hari sesuai kesepakatan dengan siswa, dan tugas-tugas mandiri dalam bentuk Pekerjaan Rumah (PR). Pada akhir pembelajaran topik gerak lurus ini, siswa diberikan tes untuk mengukur pemahaman konsep dan kemampuan generik sains siswa setelah belajar dengan program pembelajaran yang dikembangkan.
Tahap III: Validasi Program Pembelajaran
Program pembelajaran yang telah diperbaiki berdasarkan hasil uji coba, diimplementasikan dan diuji efektivitasnya. Pada tahap ini diuji seberapa besar peningkatan pemahaman konsep dan kemampuan generik sains yang diperoleh siswa setelah pembelajaran dengan program pembelajaran yang dikembangkan, kemudian dibandingkan dengan peningkatan kemampuan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan Program Pembelajaran Tradisional.
Agar program pembelajaran dapat diimplementasikan secara efektif di sekolah, terlebih dahulu peneliti memberikan pelatihan kepada guru Fisika yang akan ditugaskan untuk melaksanakan misi studi eksperimental ini. Kemudian, terhadap guru tersebut ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain: 1. Menguasai materi/bahan ajar dengan baik, dalam arti bahwa guru yang
bersangkutan tidak terdapat miskonsepsi.
3. Memiliki keinginan untuk mengaplikasikan program pembelajaran yang dikembangkan, serta kesanggupan untuk merubah pembelajaran yang biasa dilakukan.
Prosedur yang ditempuh pada tahap III ini adalah sebagai berikut:
1. Pemberian pretest kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk mengetahui kemampuan awal kedua kelompok siswa, baik mengenai pemahaman konsep (PK) maupun mengenai kemampuan generik sains (KGS). Hasil tes ini nanti dijadikan sebagai acuan awal untuk melihat sejauh mana peningkatan kemampuan pada masing-masing kelompok siswa pasca implementasi program.
2. Melaksanakan proses pembelajaran dengan Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK untuk siswa kelompok eksperimen dan dengan Program Pembelajaran Tradisional untuk kelompok kontrol.
dengan Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK dilakukan pada siswa kelompok eksperimen.
4. Melakukan analisis data dan interpretasi. Data yang telah diperoleh dalam penelitian baik berupa data kualitatif maupun data kuantitatif, dianalisis untuk melihat keefektifan program pembelajaran yang dikembangkan serta untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari program tersebut serta mengetahui kendala-kendala yang dialami selama implementasi program.
5. Merumuskan temuan-temuan penelitian dan rekomendasi.
[image:33.595.117.511.415.623.2]Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain eksperimen kuasi dengan kelompok kontrol tidak ekivalen (nonequivalent control group design), disertai pemberian tes awal dan tes akhir. Pada desain ini subyek penelitian tidak dikelompokkan secara acak. Desain ini dipilih mengingat membuat pengelompokan baru di lapangan seringkali tidak dimungkinkan. Adapun rancangan penelitiannya adalah seperti berikut ini:
Tabel 3.1. Rancangan Penelitian Eksperimen Kuasi
(Diadaptasi dari Ruseffendi, 2001). Kelompok Pretest Treatment Posttest
Kelompok Eksperimen O X1 O
Kelompok Kontrol O X2 O
Catatan: X1 adalah pembelajaran untuk kelompok eksperimen (pembelajaran dengan
program yang dikembangkan), X2 adalah pembelajaran untuk kelompok kontrol
(Pembelajaran Tradisional), serta O adalah berupa pretest ataupun posttest.
B. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII semester 2 di sebuah Sekolah Menengah Pertama Negeri di kota Mataram- Nusa Tenggara Barat tahun pelajaran 2008/2009. Siswa ini terdiri dari sembilan kelas, yang tergolong dalam 2(dua) kelas akselerasi dan 7(tujuh) kelas reguler. Oleh karena dua kelas akselerasi sudah mendapatkan perlakuan yang “khusus”, maka sampel hanya dipilih dari beberapa kelas reguler saja. Berdasarkan penentuan kelas secara random terpilihlah kelas VII(C) dan kelas VII(I) menjadi kelas eksperimen serta kelas VII(D) dan kelas VII(H) menjadi kelas kontrol.
Alasan dipilihnya SMP kelas VII sebagai subyek penelitian, oleh karena
PENGEMBANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN STUDI PENDAHULUAN TAHAP PERANCANGAN • Mengidentifikasi kemampuan2 yang dapat dikembangkan dari topik yang dipilih
• Menyusun perangkat pembelajaran
• Membuat bahan ajar
• Menyusun instrumen-instrumen penelitian
UJI COBA
• Uji coba program pembelajaran
• Uji coba instrumen
VALIDASI PROGRAM PEMBELAJARAN
STUDI LITERATUR
• Landasan teoritis dari program pembelajaran yang dikembangkan
• Hasil penelitian terdahulu
STUDI LAPANGAN
• Implementasi pembelajaran fisika di sekolah
• Kondisi kinerja siswa dan guru
• Sarana-prasarana
• Lingkungan belajar
Kelompok Eksperimen
• Tes awal
• Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK • Tes akhir
Kelompok Kontrol
• Tes awal
• Pembelajaran Tradisional
• Tes akhir
Analisis Data
[image:34.595.116.508.112.477.2]Kesimpulan UJI PROGRAM
yang tepat untuk memberikan pemahaman konsep-konsep fisika secara lebih mendalam kepada siswa agar mereka tidak mengalami kesulitan untuk memahami materi Fisika pada tingkatan yang lebih tinggi ataupun pada jenjang pendidikan selanjutnya. Tabel 3.2 menunjukkan distribusi sampel penelitian.
Tabel 3.2. Distribusi Sampel Penelitian Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah
(orang) Kelompok Laki-laki
(orang)
Perempuan (orang)
VII(C) 19 21 40
Eksperimen
VII(I) 18 22 40
VII(D) 18 23 41
Kontrol
VII(H) 16 23 39
Jumlah 71 89 160 -
C. Instrumen Penelitian
Instumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Program pembelajaran dan bahan belajar. Program pembelajaran terdiri
dari rencana pembelajaran, pengalaman belajar, dan skenario pembelajaran. Sedangkan bahan belajar terdiri dari materi pelajaran, panduan praktikum, dan tugas-tugas latihan.
2. Pedoman observasi, digunakan untuk mengobservasi keterlaksanaan program pembelajaran. Tiap aspek yang diobservasi akan dinilai dengan empat kategori, yaitu: angka (4) jika terlaksana dengan sangat baik, angka (3) jika terlaksana dengan baik, angka (2) jika kurang terlaksana dengan baik, dan angka (1) jika tidak terlaksana.
pembelajaran yang dikembangkan. Variasi skor untuk setiap pertanyaan dibedakan atas empat kategori yaitu: sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS), dengan skor masing-masing 4, 3, 2, dan 1.
4. Catatan-catatan harian peneliti, digunakan untuk menilai proses pembelajaran dan kendala-kendala apa saja yang dialami selama pembelajaran dengan program yang dikembangkan. Setiap kejadian penting selama pembelajaran dicatat dalam catatan harian ini.
5. Tes hasil belajar, terdiri dari a) tes pemahaman konsep (PK) dalam bentuk tes objektif pilihan ganda; dan b) tes kemampuan generik sains (KGS) yang disusun dalam bentuk tes uraian. Langkah-langkah penyusunan tes hasil belajar ini meliputi penyusunan kisi-kisi, menyusun tes PK dan tes KGS, melakukan validasi pakar, dan melakukan uji coba empiris.
a. Menyusun kisi-kisi soal
Tabel 3.3. Kisi-kisi Tes Pemahaman Konsep (PK) Subtopik
Konsep-konsep
Nomor soal Jenjang kemampuan
Kunci jawaban
(1) (2) (3) (4) (5)
Tabel 3.4. Kisi-kisi Tes Kemampuan Generik Sains (KGS) yang dikembangkan melalui topik Gerak Lurus
Aspek-aspek Kemampuan Generik Sains
Indikator Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Subtopik Soal No.
Alokasi Waktu
Bobot Soal
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1. Menggambarkan (mendeskripsikan) pengetahuan fisika secara efektif
Mendeskripsikan situasi fisika ke dalam bentuk kata-kata, gambar, tabel, diagram, atau simbol-simbol matematik. Siswa dapat membedakan konsep perpindahan dan jarak tempuh. Siswa dapat membedakan konsep kecepatan dan kelajuan. Siswa dapat menjelaskan percepatan untuk benda yang bergerak lurus beraturan. Siswa dapat menggambarkan grafik v-t dari gerak benda. Definisi gerak benda Gerak lurus beraturan (GLB) Definisi gerak benda 1 2 6 10 2 menit 3 menit 2 menit 10 menit 2 3 2 10 2. Menginterpretasi-kan konsep atau prinsip dan representasi ilmiah
Memaknai grafik, diagram, atau representasi ilmiah lainnya. Siswa dapat mengidentifikasi kecepatan benda yang bergerak lurus beraturan. Siswa dapat mengidentifikasi apakah benda mengalami percepatan atau tidak, berdasarkan data yang ada.
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
3. Inferensi logika - Menjelaskan fakta hasil pengamatan. -Menyimpulkan
berdasarkan data.
lalu jatuh lagi ke tanah. Siswa dapat menjelaskan hasil observasi tentang hubungan kemiringan grafik
x-t dengan besar kecepatan benda. Siswa dapat menjelaskan hasil observasi tentang hubungan kemiringan grafik
v-t dengan besarnya percepatan benda. Gerak lurus beraturan (GLB) Gerak lurus berubah beraturan (GLBB) 12 13 5 menit 5 menit 5 5 4. Mengaplikasikan konsep Mengaplikasikan konsep pada persoalan-persoalan sederhana. Siswa dapat mengaplikasikan konsep kelajuan rata-rata dalam menyelesaikan persoalan- persoalan fisika sederhana. Siswa dapat membedakan konsep kecepatan dan kelajuan. Siswa dapat mengaplikasikan konsep kecepatan rata-rata dalam menyelesaikan persoalan-persoalan fisika sederhana. Definisi gerak benda Definisi gerak benda Definisi gerak benda 3 4 5 11 5 menit 5 menit 8 menit 7 menit 5 5 8 7
b. Menyusun tes PK dan tes KGS
(nol) untuk jawaban yang salah. Tes ini terdiri dari 20 soal, sehingga dengan demikian skor minimal ideal adalah 0 (nol) dan skor maksimal idealnya 20.
Tes kemampuan generik sains (KGS) disusun dalam bentuk tes uraian. Pada tes ini siswa diminta untuk menjawab pertanyaan secara benar dan jelas baik berupa jawaban secara kuantitatif maupun kualitatif, karena pada dasarnya tes ini dibuat untuk mengembangkan kemampuan penalaran baik secara kuantitatif maupun penalaran secara kualitatif. Alokasi waktu dan bobot setiap jenis soal didasarkan atas tingkat kompleksitas jawaban yang diminta. Mengingat skor tes uraian tidaklah diskrit, maka untuk setiap soal ditetapkan pedoman penentuan skor bagi tahapan-tahapan penyelesaian soal yang dilakukan siswa. Pada kolom (6) dan kolom (7) Tabel 3.4 dapat dilihat berturut-turut alokasi waktu dan bobot setiap butir soal yang dijawab dengan utuh dan benar. Dengan demikian skor minimal ideal untuk tes ini adalah 0 (nol) dan skor maksimal idealnya 80.
c. Melakukan Validasi Pakar
tiap item soal dengan aspek kemampuan generik yang hendak diukur, tujuan pembelajaran khusus, alokasi waktu, dan skor maksimal tiap item soal.
Atas dasar hasil penilaian para pakar tersebut dilakukan revisi atau bahkan dilakukan penggantian terhadap soal yang dinilai belum sesuai dengan apa yang hendak diukur.
d. Melakukan Uji Coba Empiris
Uji coba secara empiris dari tes hasil belajar yang telah memenuhi validitas pakar ini dilakukan di sebuah SMP Negeri di Bandung pada siswa kelas VII semester genap tahun pelajaran 2007/2008. Sebelum uji coba tes dilakukan, terlebih dahulu siswa tersebut memperoleh pembelajaran topik gerak lurus dengan program pembelajaran yang dikembangkan. Hal ini dilakukan karena pada pembelajaran tradisional tidak dengan sengaja diarahkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan tertentu melalui topik yang diajarkan, sehingga kalau uji coba dilakukan pada siswa yang tidak dibelajarkan dengan program pembelajaran yang dengan sengaja dibuat untuk mengembangkan kemampuan tertentu, akan terjadi ketidaksesuaian antara tujuan tes dengan proses pembelajaran. Hasil uji coba kemudian dianalisis reliabilitas dan validitas internal tiap item soal.
tampak harga koefisien reliabilitas yang diperoleh dengan kedua rumus itu lebih besar dari harga r tabel. Hal ini menandakan bahwa tes PK hasil uji coba cukup reliabel. Validitas internalnya diuji dengan mencari nilai koefisien korelasi antara skor seluruh siswa pada tiap item dan skor total masing-masing siswa. Dengan cara ini diperoleh nilai koefisien validitas berkisar antara 0,087 s/d. 0,756. Soal-soal yang memiliki koefisien konsistensi rendah direvisi atau bahkan ada yang diganti, kemudian dilakukan kembali validasi pakar. Soal-soal yang telah melewati fase inilah yang kemudian digunakan dalam implementasi. Setelah digunakan, tes ini kembali diuji reliabilitas dan validitasnya. Dengan rumus Hoyt diperoleh koefisien reliabilitas = 0,233 atau dengan rumus K-R 20 diperoleh = 0,244. Pengujian dengan kedua rumus ini tetap reliebel, karena nilai koefisien reliabilitas dengan kedua rumus tersebut masih berada di atas nilai kritis (untuk N=80 dan α = 5%, yaitu r = 0,220). Sedangkan nilai koefisien validitas berkisar antara 0,220 s/d. 0,340, yang berarti semua butir soal dalam tes PK yang digunakan dalam implementasi memenuhi validitas internal karena koefisien validitas setiap soal berada di atas nilai r kritis.
item soal dengan skor total masing-masing siswa. Nilai koefisien korelasi antara skor siswa pada setiap item dengan skor total berkisar antara 0,33 sampai dengan 0,85, yang berarti semua butir soal tes KGS memenuhi validitas internal. Namun demikian peneliti tetap meminta judgment dari pakar kembali (validasi pakar) dengan maksud untuk mendapatkan butir soal yang lebih baik. Soal-soal yang menurut pakar masih dianggap kurang sesuai dengan hal yang hendak diukur dilakukan revisi atau bahkan diganti. Ada beberapa soal yang direvisi atau bahkan dihilangkan dan diganti dengan soal yang lain. Setelah hasil revisi dikonsultasikan kembali dan disetujui oleh para pakar barulah kemudian digunakan sebagai instrumen untuk memperoleh informasi tentang kemampuan generik sains baik pada siswa kelompok eksperimen maupun siswa kelompok kontrol.
Setelah digunakan, tes KGS diuji lagi reliabilitas dan validitasnya. Ternyata setelah proses pengujian ini tes KGS tetap reliabel dan valid, dengan koefisien reliabilitas 0, 695 (dikonsultasikan dengan harga r kritis untuk N=80 dan α = 5%, yaitu r = 0,220) dan koefisien korelasi antara skor item dengan skor total masing-masing siswa yang berjumlah 80 orang berkisar antara 0,25 s/d 0,64.
Kedua tes yang sudah memenuhi persyaratan-persyaratan validitas dan reliabilitas ini dapat dilihat pada Lampiran 6 dan Lampiran 7.
kecermatan pengamatan, keterampilan membaca alat dengan tepat, melakukan pengorganisasian menurut suatu aturan pengurutan tertentu, serta mencatat data hasil pengamatan tersebut secara akurat: 2) keterampilan merepresentasikan data dalam bentuk tabel dan grafik, yaitu menyajikan data hasil pengamatan dalam bentuk tabel dan grafik; (3) keterampilan menginterpretasi data hasil pengamatan (ketepatan menginterpretasi data) dan menyimpulkannya; (4) keterampilan komunikasi (keterampilan mengkomuni-kasikan hasil percobaan baik secara lisan maupun tertulis), dan (5) sikap siswa dalam melakukan kegiatan laboratorium, meliputi sikap antusias terhadap materi praktikum dan kerjasama siswa dengan anggota kelompok praktikum. Tiap aspek kegiatan laboratorium ini dinilai dengan empat kategori, yaitu: angka (4) jika terlaksana dengan sangat baik, cepat, dan teliti; angka (3) jika terlaksana dengan baik, tepat waktu; angka (2) jika terlaksana dengan baik, tapi kurang tepat waktu dan kurang teliti; dan angka (1) jika tidak terlaksana dengan baik.
D. Teknik Pengumpulan Data
skor kemampuan generik sains siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes PK dan tes KGS.
Data kualitatif terdiri dari data tentang sikap dan perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung, dan data tentang respon atau tanggapan siswa mengenai pembelajaran dengan program yang dikembangkan. Data kualitatif termasuk pula mengenai keunggulan-keunggulan dan keterbatasan dari program yang dikembangkan berdasarkan hasil implementasinya, serta kendala-kendala yang dijumpai sehubungan dengan implementasi program. Data kualitatif ini dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, serta catatan-catatan harian peneliti.
E. Teknik Analisis Data
[image:45.595.114.509.339.467.2]Data tentang hasil belajar siswa yaitu tentang pemahaman konsep (PK) dan kemampuan generik sains (KGS), dianalisis dengan statistika deskriptif dan statistika inferensial. Analisis deskriptif terhadap hasil belajar siswa dilakukan dengan mengkonversi skor rerata siswa pada kedua jenis tes tersebut ke dalam pedoman konversi yang didasarkan pada kriteria Penilaian Acuan Patokan (PAP). Pedoman konversi secara umum ditunjukkan pada Tabel 3.5.
Tabel 3.5. Pedoman Konversi Norma Absolut Skala Lima (Diadaptasi dari Arikunto, 2003)
Kriteria Kategori Kemampuan
) 0 , 3 ( ) 5 , 1
(Xi+ SDi ≤ X ≤Smax = Xi+ SDi
) 5 , 1 ( ) 5 , 0
(Xi+ SDi ≤X< Xi+ SDi
) 5 , 0 ( ) 5 , 0
(Xi− SDi ≤X < Xi+ SDi
) 5 , 0 ( ) 5 , 1
(Xi− SDi ≤X < Xi − SDi
) 5 , 1 ( ) 0 , 3 (
min Xi SDi X Xi SDi
S = − ≤ < −
Sangat baik Baik
Keterangan: Xi =
2 1
(Smax + Smin); SDi = 6 1
(Smax – Smin); dan X adalah rerata skor siswa,
dapat berupa rata-rata skor pretest (Spre) ataupun berupa rata-rata skor posttest (Spost); dengan Xi = rata-rata ideal, SDi = simpangan baku ideal, Smax = skor
maksimum ideal, dan Smin = skor minimum ideal.
[image:46.595.114.511.415.625.2]Tes pemahaman konsep (PK), skor minimalnya adalah 0 (nol) dan skor maksimal 20. Sedangkan untuk tes kemampuan generik sains (KGS) memiliki skor minimal 0 (nol) dan skor maksimal 80. Agar pedoman konversi yang dibuat dapat berlaku untuk kedua jenis kemampuan, sebaiknya kriteria skor dibuat dalam skala seratus. Dengan demikian berarti skor maksimal ideal untuk kedua jenis tes setelah diadaptasikan adalah 100 dan skor minimal ideal adalah 0, yang berarti pula skor rata-rata ideal 50 dan simpangan baku ideal 16,67. Dengan mengacu pada pedoman konversi umum seperti Tabel 3.5 dapat dibuat pedoman konversi norma absolut skala lima untuk skor PK dan skor KGS seperti pada Tabel 3.6.
Tabel 3.6. Pedoman Konversi Norma Absolut Skala Lima untuk Skor PK dan Skor KGS
Kriteria Kategori Kemampuan 00
, 100 00
,
75 ≤ X ≤
00 , 75 33
,
58 ≤ X < 33 , 58 67
,
41 ≤ X < 67 , 41 00
,
25 ≤ X < 00 , 25 00
,
0 ≤ X <
baik Sangat Baik Cukup Kurang Sangat kurang
Adapun kriteria peningkatan perolehan skor kemampuan dikategorikan seperti dalam Tabel 3.7.
Tabel 3.7. Pedoman Konversi Peningkatan Perolehan Skor PK dan KGS
Nilai N-Gain (<g>) Kategori Peningkatan Perolehan Skor 0,70 < (<g>) ≤ 1,00 Tinggi 0,30 < (<g>) ≤ 0,70 Sedang (<g>) ≤ 0,30 Rendah
Setelah melakukan analisis deskriptif terhadap skor PK dan KGS siswa maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis inferensial. Analisis statistika inferensial ini dicirikan dengan adanya pengujian hipotesis (Spiegel, 2002). Analisis ini dilakukan terhadap uji perbedaan rerata kemampuan awal maupun terhadap uji perbedaan rerata kemampuan kedua kelompok siswa (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol) setelah memperoleh pengalaman belajar yang berbeda. Analisis inferensial juga dilakukan terhadap uji efektivitas program atau keunggulan komparatif dari program yang dikembangkan terhadap Program Pembelajaran Tradisional, yaitu dengan menguji perbedaan rerata skor n-gain pemahaman konsep maupun n-gain kemampuan generik sains antara siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
dan skor minimal ideal 25. Dengan demikian (dalam bentuk persentase) tes ini memiliki skor rerata ideal 62,5 dan simpangan baku ideal 12,5.
Terhadap tanggapan atau respon siswa mengenai program pembelajaran yang dikembangkan, juga dianalisis secara deskriptif kuantitatif, yaitu dengan cara menganalisis persentase siswa yang memberikan pernyataan sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS) pada masing-masing pernyataan. Penilaian tentang tanggapan siswa secara umum terhadap Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK juga menggunakan kriteria PAP dengan skor maksimal ideal 60 (jika seorang siswa mendapatkan skor 4 pada setiap nomor pernyataan) dan skor minimal ideal 15 (jika seorang siswa mendapatkan skor 1 pada setiap nomor pernyataan). Jika dikonversi ke dalam persen, maka skor maksimal ideal menjadi 100 dan skor minimal ideal 25. Dengan demikian (dalam bentuk persentase) tes ini memiliki skor rerata ideal 62,5 dan simpangan baku ideal 12,5.
Tabel 3.8. Pedoman Konversi Norma Absolut Skala Lima untuk Skor Kemampuan Melakukan Kegiatan Laboratorium (KKL) dan Skor Respon Siswa
Kriteria Kategori Kemampuan 00
, 100 25
,
81 ≤X ≤ 25 , 81 75
,
68 ≤ X < 75 , 68 25
,
56 ≤ X < 25 , 56 37
,
43 ≤ X < 37 , 43 00
,
25 ≤X <
Sangat baik Baik
Cukup Kurang Sangat kurang
Selanjutnya, untuk data kualitatif mengenai kendala-kendala yang dijumpai dalam implementasi program, serta keunggulan dan keterbatasan program berdasarkan hasil implementasi diolah secara desktiptif naratif (kualitatif).
F. Analisis Hasil Uji Coba
[image:49.595.118.513.118.498.2]Pada akhir pembelajaran topik gerak lurus ini, siswa diberikan tes untuk mengukur pemahaman konsep (PK) dan kemampuan generik sains (KGS) setelah belajar dengan Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK. Adapun hasilnya ditunjukkan pada Tabel 3.9.
Tabel 3.9. Analisis Deskriptif Hasil Uji Coba
Kemampuan-kemampuan Fisika Skor Total yang Diharapkan
Persentase Skor Rata-Rata
Standar Deviasi
Jumlah Siswa dengan Skor di atas Rata-Rata
Pemahaman konsep (PK) 20
(100 %)
10,6 (53,0%)
3,6 20 orang (50,0 %)
Kemampuan generik sains (KGS) 80 (100 %)
43,5 (54,4 %)
[image:49.595.120.510.525.703.2]Dari tabel di atas, tampak rata-rata skor pemahaman konsep dan skor kemampuan generik sains siswa peserta uji coba berada dalam rentang nilai (41,67 % – 58,33 %) berdasarkan Tabel 3.6, yang berarti keduanya dalam kualifikasi cukup. Persentase siswa yang memiliki nilai di atas skor rata-rata adalah 50 % untuk PK dan 45 % untuk KGS.
[image:50.595.114.511.324.500.2]Jika skor pemahaman konsep dianalisis secara perkonsep, rangkuman hasil analisisnya dapat dilihat pada Tabel 3.10.
Tabel 3.10. Rangkuman Analisis Deskriptif Perkonsep Skor PK
Konsep-konsep atau Prinsip-prinsip dalam topik Gerak Lurus
Skor Total yang Diharapkan
Persentase Skor Rata-rata
Standar Deviasi
Jumlah Siswa dengan Skor di atas Rata-rata
Perpindahan dan jarak tempuh 3 2,0
(66,67%)
0,78 30 orang (75%)
Kecepatan dan kelajuan 7 3,9
(55,71%)
1,14 26 orang (65%)
Kecepatan tetap 4 2,3
(55,5%)
1,13 20 orang (50%)
Percepatan tetap 6 2,5
(41,67%)
1,85 22 orang (55%)
Persentase jumlah siswa yang memiliki skor di atas rata-rata pada ketiga konsep mencapai lebih dari 50 % peserta uji coba.
Terhadap skor kemampuan generik sains jika dianalisis peraspek, rangkuman hasil analisisnya dapat dilihat pada Tabel 3.11.
Tabel 3.11. Rangkuman Analisis Deskriptif Aspek-aspek Kemampuan Generik Sains (KGS)
Aspek-aspek Kemampuan Generik Sains (KGS)
Skor Total yang Diharapkan
Persentase Skor Rata-rata
Standar Deviasi
Jumlah Siswa dengan Skor di atas Rata-rata Mendeskripsikan Pengetahuan fisika
secara efektif
17 10,1
(59,41%)
2,65 20 orang (50 %)
Menginterpretasi konsep atau prinsip dan representasi ilmiah lainnya
28 13,9
(49,64%)
5,52 20 orang (50 %)
Inferensi logika 10 6,3
(63,00%)
2,50 17 orang (42,50%)
Mengaplikasikan konsep 25 13,3
(53,20%)
5,00 19 orang (47,50%)
[image:51.595.116.509.233.480.2]Terkait dengan pelaksanaan uji coba ini terdapat beberapa keterbatasan yang dijumpai, antara lain: (1) Keterbatasan peralatan laboratorium yang menyebabkan pelaksanaan kegiatan pembelajaran kurang sesuai dengan yang diharapkan, (2) Kemampuan matematik siswa yang lemah juga merupakan kendala yang cukup berarti. Masih banyak diantara siswa yang belum bisa mengkonversi skala satuan, misalnya dari m/s menjadi km/jam. Siswa juga masih belum mahir membuat grafik, terutama dalam hal memberi skala pada sistem koordinat kartesius sesuai keperluan, menghubungkan antar titik koordinat secara smooth, termasuk juga kesulitan dalam membaca grafik. Kesulitan siswa juga terbaca pada saat menerjemahkan kecepatan benda dari potongan hasil rekaman pita ketik, misalnya dari 10 cm/5ketik menjadi cm/detik, (3) Pelaksanaan remedial dan pengayaan yang diadakan pada sore hari tidak diikuti oleh semua siswa yang mungkin disebabkan karena radius rumah mereka jauh dari sekolah atau faktor-faktor lainnya, sehingga siswa yang tidak hadir tersebut tidak ikut mendapatkan pendalaman pada pemahaman konsep dan melatih kemampuan-kemampuan generik sains yang ditumbuhkembangkan, dan (4) Tugas-tugas siswa yang cukup banyak pada mata pelajaran lainnya juga mengakibatkan tugas-tugas dan latihan-latihan yang diberikan dari uji coba ini menjadi kurang dikerjakan sesuai harapan.
G. Perbaikan Rancangan Program Pembelajaran
Secara umum strategi pembelajaran yang diterapkan dengan pembelajaran berbasis aktivitas kegiatan laboratorium, kegiatan remedial dan pengayaan, serta latihan-latihan mandiri yang diberikan dapat diikuti oleh siswa. Penjelasan-penjelasan serta pertanyaan-pertanyaan arahan yang ada pada LKS dapat diikuti dengan baik. Siswa juga umumnya cukup menyenangi kegiatan laboratorium yang mereka alami, karena konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang harus mereka pahami langsung diperoleh melalui pengolahan data hasil pengamatan. Berbeda halnya kalau hanya belajar dari buku paket yang langsung diberikan rumus tanpa tahu darimana datangnya rumus tersebut.
Kebanyakan siswa cukup senang dengan kegiatan-kegiatan pemantapan pemahaman konsep dan latihan-latihan untuk memperdalam kemampuan generik sains melalui kegiatan remedial dan pengayaan, sehingga hal ini perlu dipertahankan. Hanya saja pelaksanaannya harus disepakati serta disesuaikan dengan kegiatan-kegiatan siswa lainnya agar diharapkan semua siswa bisa mengikuti. Pengembalian dengan segera tugas-tugas yang telah dikoreksi oleh guru juga sangat disenangi oleh siswa. Mereka selalu ingin mengetahui hasil dari pekerjaan yang telah dia kerjakan. Hal ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan mengingat kebiasaanan seperti ini dipercaya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Guru harus mengupayakan untuk selalu meluangkan waktunya mengoreksi setiap tugas yang diberikan kepada siswanya.
perlu membuat persiapan-persiapan terlebih dahulu sebelum melaksanakan kegiatan. Tabel-tabel pengamatan, kerangka- kerangka grafik yang dibutuhkan dipersiapkan terlebih dahulu dari rumah agar tidak menyita banyak waktu pada saat melakukan kegiatan di sekolah. Untuk itu materi-materi kegiatan harus diberikan jauh-jauh hari agar siswa mengetahui hal-hal apa saja yang harus mereka persiapkan. Ada baiknya guru juga mempersiapkan keperluan-keperluan sebelum kegiatan laboratorium kalau sekiranya siswa merasa kesulitan membuatnya, sepanjang hal itu tidak menjadi fokus penilaian penelitian.
Diharapkan kepada siswa juga agar mempelajari terlebih dahulu topik yang akan dibahas. Untuk memotivasi siswa agar mau mempelajarinya, ada baiknya guru memberikan tugas-tugas awal dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan konsep atau prinsip dan aspek-aspek kemampuan generik sains yang hendak ditumbuhkembangkan.
Sehubungan dengan proses pembelajaran, pada kegiatan pembelajaran tentang definisi gerak benda, penekanan pemahaman tentang titik acuan perlu dilakukan melalui pemberian contoh-contoh, karena hal ini menjadi dasar pijakan untuk memahami definisi tentang gerak benda. Sedangkan pemahaman tentang gerak semu harus dihilangkan mengingat konsep ini kontra produktif dengan pengertian gerak relatif.
secukupnya. Mengingat kemampuan membuat skala menjadi salah satu aspek penilaian dalam penelitian ini, maka guru juga harus memperhatikan hal ini terutama pada saat siswa membuat garis yang mewakili besar atau nilai suatu besaran, jangan sampai melukis garis yang mewakili jarak 20 km misalnya dibuat lebih panjang dari garis yang mewakili jarak 30 km. Kesalahan semacam ini sering dilakukan oleh guru-guru di sekolah.
Setelah siswa memahami dengan cukup baik tentang perbedaan perpindahan dan jarak tempuh, maka tidaklah terlalu sulit untuk membimbing mereka memahami tentang konsep kecepatan dan kelajuan serta mendefinisikan sendiri secara operasional. Pemberian contoh-contoh harus lebih diintensifkan agar siswa mampu mengaplikasikannya pada berbagai contoh yang lainnya. Mengaplikasikan konsep atau prinsip pada kasus-kasus sederhana lainnya merupakan salah satu aspek penilaian dalam penelitian ini.
Perlu dilakukan latihan secara lebih intensif tentang membuat grafik serta menginterpretasi grafik ataupun tabel dengan waktu yang khusus, mengingat kebanyakan siswa memiliki kesulitan dalam kasus ini. Kemampuan ini sangat penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan selanjutnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam bab IV di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK lebih efektif daripada Pembelajaran Tradisional dalam hal meningkatkan pemahaman konsep maupun kemampuan generik sains siswa.
2. Secara umum kemampuan siswa melakukan kegiatan laboratorium termasuk dalam kategori baik. Keterampilan siswa menyajikan data hasil pengamatan dalam bentuk tabel dan grafik, menginterpretasi data, serta mengkomunikasikan hasil percobaannya, termasuk dalam kategori baik. Keterampilan mengamati dikategorikan cukup, serta sikap siswa dalam melakukan kegiatan laboratorium sangat baik.
[image:56.595.110.514.237.568.2]lain: (a) Kemampuan-kemampuan fisika yang dikembangkan hanya terbatas pada yang teridentifikasi dari topik kinematika gerak lurus, (b) jumlah siswa yang cukup banyak menyebabkan guru kurang optimal dalam membimbing siswa, dan (c) guru harus senantiasa meluangkan waktunya mengoreksi setiap tugas yang diberikan kepada siswanya, dan hal ini dirasa sangat memberatkan bagi guru.
4. Secara umum siswa memberikan respon yang baik terhadap pembelajaran dengan program yang dikembangkan. Sebagian besar siswa setuju dengan pembelajaran yang dikembangkan.
5. Kendala-kendala yang dijumpai dalam implementasi program pembelajaran yang dikembangkan antara lain: (a) rendahnya pengetahuan penunjang siswa seperti matematika, (b) siswa kurang terbiasa menyelesaikan soal-soal yang menuntut penalaran kualitatif maupun kuantitatif, (c) membutuhkan waktu yang cukup banyak, (d) tidak semua siswa bisa mengikuti kegiatan remedial dan pengayaan, dan (e) tugas-tugas siswa yang cukup banyak pada mata pelajaran lainnya mengakibatkan pengerjaan tugas-tugas dan latihan-latihan yang diberikan menjadi kurang optimal.
B. Saran
Bertolak dari hasil penelitian ini, maka sehubungan dengan pembelajaran fisika di sekolah dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:
menumbuhkembangkan kemampuan generik sains siswa. Guru hendaknya mengidentifikasi aspek-aspek kemampuan generik sains yang dapat dikembangkan dari topik yang diajarkan, kemudian dijabarkan dalam tujuan-tujuan pembelajaran. Kemampuan-kemampuan yang dirumuskan harus diketahui oleh siswa agar belajar mereka menjadi lebih terarah.
2. Program, strategi, metode pembelajaran serta sistem evaluasinya hendaknya dirancang secara sengaja untuk menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan fisika yang teridentifikasi. Hendaknya dipilih strategi dan pendekatan yang menyediakan kondisi bagi terjadinya pembelajaran yang berpusat pada siswa, serta memberikan pengalaman langsung dalam pembentukan konsep-konsep maupun prinsip-prinsip penting.
3. Program Pembelajaran Fisika berbasis IT2PK ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif program pembelajaran dalam rangka meningkatkan pemahaman konsep siswa serta menumbuhkembangkan kemampuan generik sains, sebagai bagian dari upaya upaya membangun kualitas SDM melalui pendidikan sains.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. (1997). Strategi Belajar-Mengajar. Bandung : Pustaka Setia
Amien, M. (1987). Mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Dengan Menggunakan Metode “Discovery” dan “Inquiri”. Jakarta : Dekdikbud. Anwar. (2004). Pendidikan Kecakapan Hidup, Konsep dan Aplikasi. Bandung:
Alfabeta.
Arikunto, Suharsimi. (2003). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
_______________. (2006). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2010). Statistik Indonesia 2009. Jakarta: BPS. Balitbang, Depdiknas. (2002). Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Fisika Sekolah
Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Depdiknas. _________________. (2004). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta:
Depdiknas.
Borg, W.L. and Gall, M.D. (1989). Educational Research. New York: Longman. Broto, W. (2009). Pembelajaran Fisika Menggunakan Pendekatan Inkuiri
Terbimbing dengan Metode Eksperimen dan Demonstrasi Pada Materi Pokok Listrik Dinamis ditinjau dari Kemampuan Awal Siswa. Tesis Program Studi Pendidikan Sains Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta: tidak diterbitkan.
Covey, S.R. (2002). The Seven Habits of Highly Effective People. (terjemahan). Jakarta: Binarupa Aksara.
Ditjen Dikdasmen Depdiknas. (2003). Memberi Bekal Kecakapan hidup Peserta Didik. Jakarta: Depdiknas.
Djoyonegoro, D. dan Suryadi, A. (1995). Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia untuk Pembangunan. Jakarta: Depdikbud.
Gardner, H. (1999). The dicipline mind: What All Student Should Understand?. New York: Simon & Schuster Inc.
Statistics. [Online]. Tersedia: http://nces.ed.gov/pubs2009/2009001.pdf. [12 Februari 2001].
Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Harun, C.Z. (2000). Pendidikan dan Pelatihan sebagai Sarana pengembangan Sumber Daya Manusia di PT. Pos In