Universitas Kristen Maranatha
Bandung merupakan kota kreatif yang menghasilkan berbagai macam jenis fesyen, salah satunya fesyen patchwork. Kraviti merupakan salah satu rumah produksi kerajinan patchwork di Bandung yang berhasil menciptakan teknik patchwork baru ke dalam segi fesyen. Fesyen patchwork produk Kraviti selalu membawa aksen lokal Indonesia, yaitu batik. Selain itu, fesyen patchwork produk Kraviti juga memiliki nilai jual serta kualitas yang tinggi.
Namun, fesyen patchwork Kraviti belum mempunyai identitas yang jelas di kalangan pecinta fesyen Kota Bandung. Oleh karena itu, perlu dibuat sebuah perancangan branding fesyen patchwork Kraviti. Perancangan ini bertujuan untuk menarik minat masyarakat, khususnya kaum wanita dewasa muda di Kota Bandung agar lebih menghargai brand lokal daripada brand luar, serta mengubah pola pikir mereka tentang brand fesyen lokal yang masih buruk. Manfaat dari perancangan ini adalah agar nilai-nilai budaya lokal Indonesia tetap dihargai dan tidak dipandang rendah.
Karena produk fesyen patchwork Kraviti selalu diaplikasikan dengan kain batik, maka perancangan branding fesyen patchwork Kraviti ialah elegan serta etnik. Konsep kreatif yang digunakan yaitu dengan menampilkan foto-foto produk fesyen patchwork Kraviti yang elegan serta memiliki kesan etnik. Selain itu, perancangan juga terdiri dari corporate branding hingga media promosi launching fesyen patchwork Kraviti, seperti website, media sosial, hang tag, buku katalog, packaging, dan window display.
Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT
THE BRANDING DESIGN OF PATCHWORK FASHION FROM KRAVITI
Submitted by Athalia Nur Alifa
NRP 1164059
Bandung is a creative city with various kinds of fashions, one of which is patchwork fashion. Kraviti is a production house specializing in the designing patchwork fashions in Bandung with innovative techniques. The patchwork fashion products always foreground local Indonesian taste like batik. The products are also of high value and quality.
And yet, Kraviti has yet to gain identity in the world of local fashion in Bandung. Thus, branding design for Kraviti patchwork needs to be arranged in order to gain the attraction of women and to make them appreciate the local product more and to change their perception towards the local brand fashion which somehow is still questioned. The purpose of this design is to maintain the local value of Indonesia so as to be well appreciated and not to be undervalued.
Kraviti patchwork always makes use of batik in its application to make it elegant and ethnical. The design also involves corporate branding and the promotional media for the launching of the products like websites, hang tag, catalogue books, packaging and window display.
Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA DAN LAPORAN ... iii
PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
1.4 Sumber dan Teknik Pengumpulan Data ... 3
1.5 Skema Perancangan ... 4
Universitas Kristen Maranatha
3.1.5 Institusi Terkait, Partner Kraviti ... 29
3.1.6 Tinjauan Terhadap Proyek Sejenis ... 30
3.2 Analisis Terhadap Permasalahan Berdasarkan Data dan Fakta ... 32
3.2.1 Analisis SWOT Fesyen Patchwork Kraviti ... 32
3.2.2 Analisis STP Fesyen Patchwork Kraviti ... 33
Universitas Kristen Maranatha
4.4.7 Packaging ... 44
4.4.8 Katalog Buku ... 45
4.4.9 Katalog Lipat ... 46
4.4.10 Window Display ... 47
4.4.11 Iklan ... 48
4.4.12 Umbul-Umbul ... 49
4.4.13 X-Banner ... 49
BAB V : PENUTUP ... 50
5.1 Kesimpulan ... 50
5.2 Saran ... 50
DAFTAR PUSTAKA ... 52
Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Skema perancangan ... 4
Gambar 3.1 Logo Kraviti ... 15
Gambar 3.2 Bagan alur produksi ... 17
Gambar 3.3 Lokasi pusat produksi Kraviti ... 18
Gambar 3.4 Piagam-piagam penghargaan Kraviti ... 18
Gambar 3.5 Papan projek Kraviti ... 19
Gambar 3.6 Contoh motif yang akan Kraviti olah ... 19
Gambar 3.7 Lokasi pemasaran di Cascade Bandung ... 20
Gambar 3.8 Produk-produk yang dipasarkan Kraviti ... 21
Gambar 3.10 Diagram usia responden ... 22
Gambar 3.11 Diagram produk yang lebih mewakilkan responden ... 22
Gambar 3.12 Diagram selera terhadap motif batik ... 23
Gambar 3.13 Diagram responden mengenai perkembangan fesyen ... 23
Gambar 3.14 Diagram media informasi responden ... 24
Gambar 3.15 Diagram jumlah nominal uang yang dikeluarkan untuk sebuah penampilan diri responden ... 24
Gambar 3.16 Diagram pendapat responden terhadap jumlah nominal uang demi sebuah fesyen ... 25
Gambar 3.17 Diagram pengetahuan responden terhadap motif pada gambar ... 25
Gambar 3.18 Diagram pengetahuan responden terhadap patchwork quilting ... 26
Gambar 3.19 Diagram ketertarikan responden terhadap patchwork quilting ... 27
Gambar 3.20 Diagram pengetahuan responden terhadap nama Kraviti ... 27
Gambar 3.21 Diagram penilaian brand luar dan brand lokal di mata responden ... 28
Universitas Kristen Maranatha
Gambar 3.23 Logo Galeri Batik Tasik Deden... 29
Gambar 3.24 Logo Galeri HB Batik ... 30
Gambar 3.25 Logo Dowa ... 30
Gambar 3.26 Contoh produk Dowa ... 31
Gambar 4.1 Warna ... 35
Gambar 4.2 Arti warna pada logo ... 35
Gambar 4.3 Font ... 36
Gambar 4.4 Logo Vrouw ... 39
Gambar 4.5 Stationery Vrouw ... 39
Gambar 4.5 Stationery Vrouw ... 40
Gambar 4.6 Hang Tag ... 40
Gambar 4.7 Label Baju ... 41
Gambar 4.8 Website diperbesar ... 41
Gambar 4.9 Website keseluruhan ... 42
Gambar 4.10 Media Sosial ... 43
Gambar 4.11 Packaging ... 44
Gambar 4.12 Katalog Buku ... 45
Gambar 4.13 Katalog Lipat ... 46
Gambar 4.14 Window Display ... 47
Gambar 4.15 Iklan Majalah ... 48
Gambar 4.16 Umbul-Umbul ... 49
Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR DIAGRAM
Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR TABEL
Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A Hasil Wawancara dengan Owner Kraviti ... 53
Universitas Kristen Maranatha 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Patchwork Quilting merupakan seni tradisional yang berasal dari Eropa dan
berkembang di benua Amerika Serikat. Patchwork dengan quilting adalah dua hal
yang berbeda, namun selalu berkaitan. Patchwrok dalam kamus Bahasa Indonesia yang berarti “kain perca”, sedangkan quilting berarti “merajut”. Namun pengertian lengkapnya, patchwork adalah teknik menyusun atau menggabungkan aneka kain
perca dengan cara dijahit biasa. Sedangkan quilting adalah teknik yang berfungsi
sebagai penyempurnaan hasil kain melalui teknik jahit bernama “jahit tindas”, yaitu
teknik jahit yang mengikuti alur jahit yang telah dibuat dalam tahap patchwork.
Teknik quilting dilakukan setelah menyisipkan atau memasukkan busa dakron
diantara helai kain, dan membuat hasil kain menjadi sangat tebal dan hangat
(www.bisnisukm.com).
Pada awalnya kerajinan ini muncul dikarenakan faktor kebutuhan masyarakat Eropa
dengan iklim yang dingin untuk melindungi diri mereka. Produk-produk patchwork
juga hanya berkembang di lingkungan produk living atau biasa disebut produk
rumahan, seperti sarung bantal, selimut, tempat tissue, taplak meja, dan lain
sebagainya.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, pengaplikasian produk-produk
patchwork sudah semakin luas, salah satunya ke bidang fesyen, salah satunya di Kota
Bandung, yaitu Kraviti. Kraviti bertempat di Jalan Ligar Mayang No 7, Awiligar
Bandung. Pada awalnya Kraviti memproduksi dan mengembangkan patchwork
hanya seputar produk living saja, sama dengan rumah-rumah produksi lain pada
umumnya. Namun ketika Kraviti ikut serta dalam acara Indonesia Fashion Week
(IFW) tahun 2014 lalu, mereka mulai mengembangkan yang dinamakan fesyen
Universitas Kristen Maranatha 2 Produk fesyen patchwork Kraviti terbilang cukup banyak, yakni hampir 100 produk
seperti baju, tote bag atau tas, dan dompet-dompet kosmetik unik yang selalu
dipadukan dengan batik. Namun yang menjadi permasalahan adalah masih banyak
kaum wanita di Bandung khususnya dalam ruang lingkup dewasa muda, yakni usia
antara 20 sampai dengan 39 tahun (www.psychoshare.com) yang belum mengenal
atau kurang mengetahui fesyen patchwork. Ketika mereka bertemu dengan kain
patchwork yang diaplikasikan dengan batik, cenderung mereka lebih mengira dan
mengambil kesimpulan bahwa itu adalah kain batik, bukan patchwork. Menurut
Yuffie (desainer fesyen dari Kraviti), hal ini lebih besar terjadi di Kota Bandung
ketimbang di Jakarta, dikarenakan kaum wanita di Kota Bandung sebagian besar
masih lebih menghargai brand luar daripada brand lokal. Hal ini dibuktikan dari
hasil pemasaran baik produk living maupun produk fesyen patchwork Kraviti lebih
laris di Jakarta.
Berdasarkan survey awal yang telah dilakukan, sebagian ada yang mengetahui apa
itu patchwork, tetapi rata-rata mereka tidak begitu tertarik dikarenakan desain,
warna, dan model yang terlalu monoton (Yuffie, Desainer Fesyen dari Kraviti).
Melalui kategori fesyen patchwork, saya mengangkat permasalahan ini kedalam
Tugas Akhir dengan cara mem-branding fesyen patchwork dari Kraviti, yang
bertujuan agar patchwork bisa lebih dikenal dan lebih dihargai di mata masyarakat
khususnya kaum wanita dewasa muda. Melihat kategori ini juga termasuk kategori
yang masih tergolong langka di dunia patchwork quilting.
1.2 Permasalahan dan Ruang Lingkup
1.2.1 Permasalahan
Bagaimana merancang strategi branding untuk produk fesyen patchwork dari Kraviti
agar terlihat menarik ?
1.2.2 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam perancangan ini adalah wanita berusia dewasa muda, yakni
Universitas Kristen Maranatha 3 1.3 Tujuan Perancangan
1) Fesyen patchwork produk dari Kraviti lebih dikenal di masyarakat Bandung
melalui salah satu alternatif pilihan produk fesyen patchwork.
1.4 Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
1.4.1 Observasi
Melakukan pengamatan langsung ke lokasi pusat produksi dan lokasi toko
pemasarannya, yang bertempat di Cascade Jalan Riau Bandung dan Alun-Alun
Indonesia, Grand Indonesia. Observasi di lokasi pusat produksi mengcakup
pengamatan keadaan lokasi, apa saja yang dikerjakan, serta bagaimana cara kerja
mereka dalam memproduksi fesyen patchwork. Observasi di lokasi toko mencakup
pengamatan kondisi dan kualitas pemasaran, bagaimana sistem pemasaran yang
mereka lakukan.
1.4.2 Wawancara
Wawancara dilakukan secara langsung dan mendalam kepada Titin Agustina atau
biasa dipanggil Mba Tina, selaku pemilik dan pendiri Kraviti. Wawancara juga
dilakukan secara langsung dan mendalam bersama Yuffie selaku Desainer Fesyen
Kraviti. Wawancara ini dilakukan demi mendapatkan data yang jauh lebih mendalam
ketimbang data-data yang ada di internet.
1.4.3 Studi Pustaka
Studi pustaka melalui internet, ebook, serta buku-buku yang berkaitan dengan
patchwork quilting, fesyen branding, serta promosi. Data didapatkan melalui internet
serta langsung dari Kraviti.
1.4.4 Kuesioner
Kuesioner dibagikan khusus kepada wanita yang tergolong usia dewasa muda
sebanyak 100 buah. Penyebaran kuesioner dilakukan Kota Bandung. Kuesioner ini
dilakukan untuk mengetahui perkembangan baik patchwork quilting maupun fesyen
Universitas Kristen Maranatha 4 perkembangan fesyen atau tidak, mengetahui media apa yang sering diakses oleh
golongan usia dewasa muda, mengetahui apakah mereka lebih memilih brand lokal
daripada brand luar negeri, serta mengetahui sejauh mana nama Kraviti dikenal.
Kuesioner ini dilakukan demi mendapatkan hasil data yang valid.
1.5 Skema Perancangan
Gambar 1.1 Skema Perancangan
Universitas Kristen Maranatha 50
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Produk fesyen Indonesia memang patut dibanggakan karena memiliki identitas etnik
dan keunikan tersendiri. Melalui ilmu Desain Komunikasi Visual, perancangan
branding Vrouw yang merupakan pengembangan dari produk fesyen Kraviti
merupakan ide kreatif untuk lebih mengenalkan keunikan produk fesyen Indonesia
ke masyarakat luas. Menggunakan perpaduan gaya modern dan etnik Indonesia yang
memberikan kesan dewasa muda yang feminin, tegas, dan modern pada brand
Vrouw.
5.2 Saran
Saya sangat terbuka untuk saran dan masukan dari para dosen penguji demi
kemajuan Tugas Akhir ini. Berikut saran-saran yang dikemukakan oleh dosen
penguji;
1) Warna ungu pada logo lebih nyaman dilihat bila diubah sedikit lebih terang atau
diubah dengan warna yang lebih cerah, seperti magenta atau warna-warna yang
cenderung lebih ke merah.
2) Bagian leher model pada katalog buku maupun katalog lipat terlihat
berlipat-lipat (berkerut) sehingga memberikan kesan kurang enak dilihat oleh mata.
Tampilan model juga perlu lebih di ekspos/ditonjolkan.
3) Keterangan pada katalog buku masih kurang lengkap.
4) Motif-motif patchwork pada katalog buku terlalu di-zoom, sehingga kurang
terlihat bagian keseluruhannya.
5) Motif pada packaging sedikit gelap.
6) Desain pada website kurang berwarna, terlalu bersih. Diharapkan memasukkan
Universitas Kristen Maranatha 51 7) Halaman kosong pada buku GSM seharusnya masih bisa diisi oleh gambar
media. Huruf pada buku juga harap dikecilkan agar lebih nyaman dilihat, serta
Universitas Kristen Maranatha 52
DAFTAR PUSTAKA
Clancy & Shulman, 1991
Darmaprawira W.A, Sulasmi. 2002. WARNA DAN KREATIVITAS
PENGGUNAANNYA. Bandung: ITB.
Healey, Matthew. 2010. What is Branding ?. Switzerland: RotoVision.
Morgan, Conway Lyoyd. 1999. Logos. Switzerland: RotoVision.
Radiosunu. 1994. Konsep, Sistem Dan Fungsi Manajemen Pemasaran. Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta.
Rustan, Surianto. 2009. Mendesain Logo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Svendsen, Lars. 2006. FASHION a Philosophy.
Tom Ford, 2013
http://bisnisukm.com/kerajinan-perca-unik-kreatif-dan-menguntungkan-2.html
Diunduh pada 23 Februari 2015.
http://www.psychoshare.com/file-119/psikologi-dewasa/perkembangan-dewasa-awal.html Diunduh pada 23 Februari2015.
http://www.kamusinternet.com/t/tipografi/ Diunduh pada 23 Februari 2015.
http://batik-komar.com/ Diunduh pada 1 Maret 2015.
http://batik-komar.com/about-us/strategy/ Diunduh pada 1 Maret 2015.
http://kraviti.com/id/home/partners/ Diunduh pada 1 Maret 2015.
http://st292025.sitekno.com/article/120410/batik-tasik-di-galeri-deden-
batikcom.html Diunduh pada 1 Maret 2015.
http://dowabag.com Diunduh pada 1 Maret 2015.
http://www.bestmannequins.be/en/GroupB.aspx?NodeID=001.005&SubNode=001.0