commit to user
ANALISIS POSTUR KERJA DI CV. CAHYO NUGROHO JATI
SUKOHARJO
Skripsi
Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
DIDIK PRIYADI
I1306032
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
commit to user
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... .. i
DAFTAR ISI... ii
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... ... v
BAB I PENDAHULUAN………...………...
1.1 Latar Belakang………...
1.2 Perumusan Masalah………
1.3 Tujuan Penelitian………
1.4 Manfaat Penelitian……….
1.5 Batasan Masalah……….
1.6 Sistematika Penulisan……….
I-1 I-1 I-2 I-2 I-3 I-3 I-3
BAB II LANDASAN TEORI………...………
2.1 Sejarah dan Latar Belakang Berdirinya Perusahaan....……...
2.2 Produk………...
2.3.1 Pengertian Ergonomi...
2.3.2 Faktor Resiko Sikap Kerja Terhadap Gangguan
Musculoskeletal...
2.4 Nordic Body Map (NBM)………..…...
2.5 Fisiologi Kerja………...
2.6 Konsumsi Energi (energy expenditure) ...
2.7 Perhitungan Besarnya Pengeluaran Energi (energy cost)...
2.8 Konsumsi energi berdasarkan kapasitas oksigen terukur...
2.9 Konsumsi energi berdasarkan denyut jantung (heart rate)...
2.10 Postur Kerja...
2.11 Rapid Entire Body Assesment (REBA)... II-1 II-1 II-1 II-2 II-4 II-8 II-2 II-10 II-11 II-12 II-12 II-12 II-16
BAB III METODOLOGI PENELITIAN………..………...
3.1 Tahap Identifikasi Masalah………...
3.1.1 Studi Literatur...
3.1.2 Studi Lapangan……….……….….
III-1
III-2
III-2
commit to user
iii
3.1.3 Perumusan Masalah ………...….
3.1.4 Tujuan Penelitian……….………
3.1.5 Manfaat Penelitian…………..……….…...
3.2 Tahap Pengumpulan Data ……….………….….
3.2.1 Wawancara...
3.2.2 Data Postur Kerja……...
3.2.3 Data Fisiologi ...
3.2.4 Data Beban Kerja ...
3.3 Evaluasi Kondisi Awal...
3.3.1 Penilaian Postur Kerja Berdasarkan Rapid Entire Body
Assesment (REBA)...
3.3.2 Perhitungan Fisiologi ...
3.3.3 Usulan Perbaikan...
3.4 Tahap Analisa dan Interpretasi Hasil...
3.5 Tahap Kesimpulan dan Saran... III-2 III-3 III-3 III-3 III-3 III-4 III-4 III-4 III-5 III-5 III-6 III-7 III-7 III-7
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA...
4.1 Pengumpulan Data……….…..….
4.1.1 Dokumentasi……….….…...
4.1.2 Wawancara ……….
4.1.3 Kuisioner …...………..………
4.1.4 Data Postur Kerja……….
4.1.5 Data Fisiologi………...
4.2 Tahap Pengolahan Data……….……
4.2.1 Perhitungan Hasil Kuisioner Nordic Body Map ………..
4.2.2 Perhitungan Hasil Kuisioner Keluhan dan Keinginan…..
4.2.3 Perhitungan Postur Kerja Operator Menggunakan
Metode Rapid Entire Body Assesment (REBA)…………
4.2.4 Perhitungan Fisiologi ………...
4.2.5 Usulan Perbaikan………..
IV-1 IV-1 IV-2 IV-4 IV-4 IV-5 IV-8 IV-9 IV-9 IV-9 IV-12 IV-39 IV-39
BAB V ANALISA DAN INTERPRESTASI HASIL……….
5.1 Analisa Penilaian Sikap Kerja Awal dengan Metode REBA.... V-1
commit to user
iv
5.2 Analisis Beban Kerja Berdasarkan Energi Expenditure………
5.3 Analisis Usulan Perbaikian Kerja………..
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN………...
6.1 KESIMPULAN………
6.2 SARAN………
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
V-2
V-3
VI-1
VI-1
commit to user
vii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Kriteria pekerjaan berdasar konsumsi energi, denyut
jantung, dan energyexpenditure ... II – 9
Tabel 2.2 Skor pergerakan punggung (batang tubuh)... II – 17
Tabel 2.3 Skor pergerakan leher... II – 18
Tabel 2.4 Skor postur kaki... II – 19
Tabel 2.5 Skor pergerakan lengan atas... II – 19
Tabel 2.6 Skor pergerakan lengan bawah ... II – 20
Tabel 2.7 Skor pergelangan tangan... II – 21
Tabel 2.8 Tabel A……… II – 22
Tabel 2.9 Tabel B... II – 22
Tabel 2.10 Tabel C... II – 23
Tabel 2.11 Load atau force……… II – 23
Tabel 2.12 Coupling……….. II – 23
Tabel 2.13 Activity………. II – 24
Tabel 2.14 Level resiko dan tindakan... II – 25
Tabel 4.1 Data karyawan CV. Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo... IV – 1
Tabel 4.2 Data karyawan di stasiun kerja ... IV – 2
Tabel 4.3 Data umur dan masa kerja kerja karyawan CV. Cahyo
Nugroho Jati Sukoharjo... IV – 4
Tabel 4.4 Postur kerja pada stasiun kerja accecories... IV – 5
Tabel 4.5 Postur kerja pada stasiun kerja sewing... IV – 6
Tabel 4.6 Postur kerja pada stasiun kerja quality control... IV – 6
Tabel 4.7 Postur kerja pada stasiun kerja cutting... IV – 7
Tabel 4.8 Postur kerja pada stasiun kerja steam... IV – 7
Tabel 4.9 Postur kerja pada stasiun kerja packing... IV – 8
Tabel 4.10 Data Keluhan di setiap stasiun kerja... IV – 10
Tabel 4.11 Data Keinginan operator di setiap stasiun kerja...... IV – 11
Tabel 4.12 Skor REBA grup A untuk Gambar 4.8... IV – 14
Tabel 4.13 Skor REBA grup B untuk Gambar 4.8... IV – 15
commit to user
viii
Tabel 4.15 Skor REBA grup A untuk Gambar 4.10... IV – 18
Tabel 4.16 Skor REBA grup B untuk Gambar 4.10... IV – 19
Tabel 4.17 Tabel REBA skor C untuk Gambar 4.10………. IV – 20
Tabel 4.18 Skor REBA grup A untuk Gambar 4.12... IV – 22
Tabel 4.19 Skor REBA grup B untuk Gambar 4.12... IV – 23
Tabel 4.20 Tabel REBA skor C untuk Gambar 4.12... IV – 24
Tabel 4.21 Skor REBA grup A untuk Gambar 4.14... IV – 27
Tabel 4.22 Skor REBA grup B untuk Gambar 4.14... IV – 28
Tabel 4.23 Tabel REBA skor C untuk Gambar 4.14... IV – 28
Tabel 4.24 Skor REBA grup A untuk Gambar 4.16……….. IV – 31
Tabel 4.25 Skor REBA grup B untuk Gambar 4.16... IV – 32
Tabel 4.26 Tabel REBA skor C untuk Gambar 4.16... IV – 33
Tabel 4.27 Skor REBA grup A untuk Gambar 4.18... IV – 36
Tabel 4.28 Skor REBA grup B untuk Gambar 4.18... IV – 37
Tabel 4.29 Tabel REBA skor C untuk Gambar 4.18... IV – 38
Tabel 4.30 Perhitungan energyexpenditure operator... IV – 40
commit to user
ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Kondisi invertebratal disc bagian lumbar saat duduk .. II-5 Gambar 2.2 Mekanisme rasa nyeri pada posisi membungkuk ... II-5 Gambar 2.3 Pengaruh sikap kerja pengangkatan yang salah ... II-7 Gambar 2.4 Nordic Body Map……….. II-8 Gambar 2.5 Rest allowance... II-13 Gambar 2.6 Jangkauan gerakan korset bahu... II-13 Gambar 2.7
Gambar 2.8
Jangkauan persendian bahu... Jangkauan gerakan persendian siku...
II-14 II-15 Gambar 2.9 Jangkauan gerakan pergerakan tangan... II-15 Gambar 2.10 Range pergerakan punggung... II-18 Gambar 2.11 Range pergerakan leher... II-18 Gambar 2.12 Range pergerakan kaki ... II-19 Gambar 2.13 Range Pergerakan lengan atas... II-20 Gambar 2.14 Range Pergerakan lengan atas... II-20 Gambar 2.15 Range pergerakan lengan bawah………... II-21 Gambar 2.16 Range pergerakan pergelangan tangan... II-21 Gambar 2.17
Gambar 3.1
Langkah-langkah perhitungan metode REBA... Metodologi penelitian...
commit to user
x
commit to user
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Biodata Operator CV. Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo L1-2 Lampiran 2 Rekapitulasi Kuisioner Nordic Body Map L2-4 Lampiran 2 Kuisioner Operator CV. Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo L2-6 Lampiran 3 Gambar Pengukuran Denyut Jantung Operator CV. Cahyo
Nugroho Jati Sukoharjo L3-9 Lampiran 3 Gambar Pengukuran Tekanan Darah Operator CV. Cahyo L3-10
Nugroho Jati Sukoharjo
Lampiran 3 Rekap Pengukuran Denyut Jantung Operator CV. Cahyo L3-12 Nugroho Jati Sukoharjo
Lampiran 4 Rekapitulasi Persentase Keluhan Pekerja Melalui Kusioner L4-14
commit to user
I-1
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang masalah, perumusan
masalah yang diangkat, tujuan dan manfaat dari penelitian yang dilakukan.
Berikutnya diuraikan mengenai batasan masalah, dan sistematika penulisan untuk
menyelesaikan penelitian.
1.1 LATAR BELAKANG
CV. Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo adalah perusahaan garmen yang
berdiri tahun 1998 yang pada awalnya bergerak di bidang furniture, craft,
exportir, importir, dan industri garmen namun pada saat ini perusahaan tersebut
fokus ke industri garmen karena mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Dalam aktivitas produksi CV. Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo terbagi
menjadi enam stasiun kerja, di antaranya stasiun kerja accecories, cutting, sewing,
quality control, steam dan packing. Setiap stasiun kerja melakukan aktivitas
produksi yang berbeda-beda. Stasiun kerja accecories melakukan pengecekan
aksesoris kebutuhan pakaian dengan sikap kerja duduk secara terus menerus
sehingga kalau dibiarkan terlalu lama resiko yang diterima operator akan semakin
besar.
Stasiun kerja cutting bertugas memotong kain berdasar pola yang di buat
cara kerja operator memotong kain dengan sikap kerja berdiri secara terus
menerus sehingga kalau dibiarkan terlalu lama resiko yang diterima operator akan
semakin besar. Stasiun kerja sewing merupakan bagian yang terpenting dari
garmen yang mana tugasnya adalah menjahit cara kerja di stasiun kerja cutting
adalah operator memotong kain dengan sikap kerja berdiri secara terus menerus
sehingga kalau dibiarkan terlalu lama resiko yang diterima operator akan semakin
besar.
Stasiun kerja quality control bertugas mengecek kualitas hasil material
produksi dengan sikap kerja berdiri secara terus menerus sehingga kalau dibiarkan
terlalu lama resiko yang diterima operator akan semakin besar. Stasiun kerja steam
bertugasmenyeterika hasil material produksi operator menyeterika pada proses ini
commit to user
I-2
waktu mesin di operasikan dalam kondisi seperti ini akan berdampak pada energi
yang di keluarkan akan semakin besar.
Stasiun kerja packing bertugas melakukan pengepakan material produksi
ke dalam kardus aktivitas tersebut tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga
sehingga energi yang di keluarkan sedikit.
Berdasar penelitian sodara Miftahudin ternyata bahwa pekerjaan dengan
sikap kerja seperti itu menimbulkan ketidaknyamanan seperti pegal, kesemutan
dan nyeri pada tulang. Hasil penyebaran kuesioner dengan menunjukkan Nordic
Body Map kepadakepada 18 operator CV. Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo tentang
keluhan kerja diperoleh tingkat keluhan terjadi pada organ tubuh leher bagian atas
sebesar 61 %, organ tubuh bagian punggung sebesar 61 % pinggul kebelakang
sebesar 39 %, pada bagian bahu sebesar 72 %, pergelangan tangan kanan sebesar
28 % dan pinggang kebelakang sebesar 28 %, telapak kaki kiri dan kanan 61%.
Selain beban pekerjaan yang cukup besar, postur tubuh saat bekerja sangat
berpengaruh dengan konsumsi energi.
Penelitian ini menggunakan metode REBA (Rapid Entire Body
Assessment), karena metode ini dapat digunakan untuk menilai faktor resiko
gangguan tubuh operator (McAtamney dan Hignett, 2000). Selanjutnya akan
dievaluasi dengan perhitungan energi expenditure dan energi cost dengan
mengukur denyut jantung operator, perhitungan energi expenditure dan energi
cost pada operator digunakan karena saat tubuh operator melakukan aktivitas
kerja fisik akan terjadi perubahan denyut jantung dan konsumsi oksigen sehingga
dapat diketahui tingkat kelelahan kerja dan konsumsi energi yang dibutuhkan saat
beraktivitas dengan cara membandingkan denyut jantung sebelum beraktivitas dan
setelah beraktivitas.
Berdasar permasalahan tersebut maka perlu dilakukan analisa dan
perbaikan pada aktivitas baik dari segi postur kerja maupun metode kerja operator
dengan menggunakan metode REBA, perhitungan energi expenditure, dan energi
cost dengan pendekatan fisiologi. Hal ini sebagai upaya untuk mengurangi
keluhan-keluhan yang dirasakan oleh operator selama proses bekerja dan
mengurangi tingkat konsumsi energi sesuai dengan harapan operator CV. Cahyo
commit to user
I-3 1.2 PERUMUSAN MASALAH
Bagaimana menganalisa postur kerja dan metode kerja berdasarkan
metode REBA, perhitungan energy expenditure dan energy cost CV. Cahyo
Nugroho Jati Sukoharjo.
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Adapun maksud dan tujuan yang ingin dicapai dari hasil penelitian dan
penulisan laporan ini adalah melakukan analisa postur kerja operator di CV.
Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo di setiap stasiun kerja.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah menghasilkan postur
kerja operator dengan tingkat konsumsi energi yang lebih rendah dibandingkan
konsumsi energi sebelumnya pada operator CV. Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo.
1.5 BATASAN MASALAH
Agar dalam menyelesaikan masalah tidak menyimpang dari tujuan dan
menghindari kemungkinan meluasnya pembahasan dari yang seharusnya diteliti,
maka penulis memberi batasan masalah sebagai berikut :
1. Pekerja yang diukur adalah operator di semua stasiun kerja masing-masing 3
pekerja di karenakan keterbatasan alat.
2. Energy cost dan energy expenditure diukur berdasarkan denyut jantung
menggunakan omron meter.
I.6. ASUMSI
Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Operator mempunyai postur kerja yang sama disetiap stasiun kerja.
2. Kondisi semua di CV. Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo dalam keadaan sehat
saat dilakukan penelitian.
I.7. SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan penelitian dalam laporan tugas akhir ini mengikuti uraian yang
commit to user
I-4
Dari pokok-pokok permasalahan dapat dibagi menjadi enam bab seperti
dijelaskan, di bawah ini.
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan permasalahan serta perumusan masalah yang melatar
belakangi penulisan ini. Selain itu, diungkapkan pula tujuan penelitian,
manfaat, batasan masalah, asumsi dan sistematika penulisan penelitian
yang digunakan dalam penyusunan penelitian ini.
BAB II LANDASAN TEORI
Merupakan pembahasan secara terperinci mengenai metode maupun
teori-teori yang digunakan sebagai landasan untuk pemecahan
masalah. Beberapa di antaranya adalah penjelasan mengenai sistem
kerja, keluhan musculoskeletal, REBA, fisiologi, dan lain-lain.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi tentang garis besar langkah– langkah pemecahan masalah
yang ditetapkan dalam penelitian. Bentuk metodologi penelitian
disesuaikan dengan masalah yang diteliti dan teknik pemecahan
masalah yang digunakan.
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Dalam bab ini berisi tentang data-data yang diperlukan yang
selanjutnya akan diproses melalui pengolahan data untuk
menyelesaikan masalah penelitian. Adapun data-data pokok yang
dikumpulkan antara lain: data sikap kerja pekerja, energy expenditure, dan
lain-lain.
BAB V ANALISA DAN INTERPRETASI HASIL
Berisi tentang analisis hasil pengolahan data dan perancangan metode
kerja yang didapat dari rekomendasi perbaikan sikap kerja menggunakan
pendekatan energy expenditure (fisiologi kerja) dan postur kerja.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan berisi pokok-pokok hasil penelitian dan uraian singkat hasil
analisa yang dilakukan serta mengemukakan saran yang sekiranya dapat
commit to user
II-1
BAB II
LANDASAN TEORI
Bab ini membahas mengenai konsep dan teori yang digunakan dalam
penelitian, sebagai landasan dan dasar pemikiran untuk membahas serta
menganalisa permasalahan yang ada.
2.1 Sejarah dan Latar Belakang Berdirinya Perusahaan
CV.Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo di dirikan pada tahun 1998 oleh Bapak Gunawan Yulianto, CV.Cahyo Nugroho Jati mempunyai dua cabang yaitu
CV.Cahyo Nugroho Jati yang berada di Solobaru Sukoharjo dan CV.Cahyo
Nugroho Jati II yang berada di Boyolali, kedua perusahaan ini bergerak di bidang
exporter dan producen garmen. CV.Cahyo Nugroho Jati berdiri diatas sebidang
tanah seluas 5800 m² dengan dua bangunan utama yang digunakan untuk proses
produksi dan kantor.
Jenis produk garmen yang dihasilkan perusahaan ini bervariasi beberapa
diantaranya; kemeja, jaket, pakaian anak, t-shirt, celana training, baju koko, dan
lain-lain. Perusahaan ini memproduksi pakaian jadi untuk memenuhi pasar dalam
negeri maupun pasar internasional, sedangkan daerah pemasarannya meliputi
kawasan Amerika, Asia, Eropa, dan pasar dalam negeri.
CV.Cahyo Nugroho Jati memperkerjakan kuarang lebih 300 karyawan pada
tahun 2011, perusahaan ini termasuk dalam industri garmen berskala besar, dalam
sebulan perusahaan ini mampu berproduksi mencapai 150.000 unit produk
garmen.
2.2 Produk
Produk adalah penawaran berwujud perusahaan kepada pasar, yang
mencakup kualitas, rancangan bentuk, merek dan kemasan. Produk yang di
hasilkan CV.Cahyo Nugroho Jati adalah produk pakaian jadi, produk tersebut
antara lain :
a. Jerseys, Pullovers, Cardigans, knitted/ Crocheted barang-barang rajutan.
b. Blouses, Shirts & Shirts-blouses, knitted/ Crocheted barang-barang rajutan.
c. Womens/ Girls Blouses, Shirts & Shirts-blouses pakaian jadi bukan rajutan.
commit to user
II-2 e. Panties pakaian jadi bukan rajutan.
f. Skirts & Divided Skirts pakaian jadi bukan rajutan.
g. Jackets pakaian jadi bukan rajutan.
h. Womens/ Girls Overcoat, Car-coats, Capes. etc, Knitted/ Crocheted
barang-barang rajutan.
2.3
Landasan Teori
2.3.1 Pengertian Ergonomi
Istilah Ergonomi berasal dari bahasa latin yaitu ergos (kerja) dan nomos
(hukum alam). Ergonomi didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia
dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi,
engineering, manajemen dan perancangan/desain (Nurmianto, 1996). Perhatian
ergonomi ditujukan pada kemampuan dan kesanggupan kerja tenaga kerja untuk
melakukan pekerjaannya (Vaughan, 1980). Ergonomi terdiri dari berbagai disiplin
ilmu seperti fisiologi, anatomi, biologi, psikologi, dan sosiologi. Terlihat jelas
bahwa ergonomi adalah suatu keilmuan yang multi-disipliner.
Ergonomi sebagai ilmu yang bersifat multi-disipliner berhubungan dengan
aspek manusia yang sedang bekerja. Perkembangan dan prakteknya bertujuan
untuk :
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan
cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban fisik dan mental,
mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak
sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan
meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu produktif maupun
setelah tidak produktif.
3. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek
teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang
dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.
Perancangan stasiun kerja merupakan salah satu output studi ergonomi di
bidang industri. Inputnya dapat berupa kondisi manusia yang tidak aman dalam
bekerja, kondisi fisik lingkungan kerja yang tidak nyaman, dan adanya hubungan
commit to user
II-3
kesehatan dan keselamatan kerja mulai terganggu. Kelelahan dan keluhan pekerja
pada musculoskeletal merupakan salah satu indikasi adanya gangguan kesehatan
dan keselamatan pekerja.
Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot
menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang
apabila pembebanan dihentikan.
2. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap
walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot
masih terus berlanjut.
Ada beberapa aspek dari pendekatan ergonomi yang harus
dipertimbangkan untuk melakukan pendekatan ergonomi, antara lain :
1. Sikap dan Posisi Kerja
Pertimbangan ergonomis yang berkaitan dengan sikap atau posisi kerja, baik
duduk ataupun berdiri merupakan suatu hal yang sangat penting. Adanya
sikap atau posisi kerja yang tidak mengenakkan dan berlangsung dalam waktu
yang lama, akan mengakibatkan pekerja cepat mengalami kelelahan serta
membuat banyak kesalahan.
2. Kondisi Lingkungan Kerja
Faktor yang mempengaruhi kemampuan kerja, terdiri dari faktor yang
berasal dari dalam diri manusia (intern) dan faktor dari luar diri manusia
(ekstern). Salah satu faktor yang berasal dari luar adalah kondisi lingkungan yang
meliputi semua keadaan yang terdapat di sekitar tempat kerja seperti
temperatur, kelembaban udara, getaran mekanis, warna, bau-bauan dan
lain-lain. Adanya lingkungan kerja yang bising, panas, bergetar atau atmosfer yang
tercemar akan memberikan dampak yang negatif terhadap kinerja operator.
3. Efisiensi Ekonomi Gerakan dan Pengaturan Fasilitas Kerja.
Perancangan sistem kerja haruslah memperhatikan prosedur-prosedur
untuk membuat gerakan kerja yang memenuhi prinsip-prinsip ekonomi gerakan.
Gerakan kerja yang memenuhi prinsip ekonomi gerakan dapat memperbaiki
commit to user
II-4
2.3.2 Faktor Resiko Sikap Kerja Terhadap Gangguan Musculoskeletal
Sikap kerja merupakan salah satu faktor resiko penyebab terjadinya
gangguan muscolosceletal. Sikap kerja yang sering dilakukan oleh manusia antara
lain berdiri, duduk, membungkuk, jongkok, berjalan, dan lain-lain. Sikap kerja
dilakukan tergantung kepada jenis pekerjaan dan sistem kerja yang ada.
1. Sikap Kerja Berdiri
Sikap kerja berdiri merupakan sikap kerja yang paling sering
dilakukan saat bekerja. Berat tubuh akan ditopang oleh satu atau kedua kaki.
Aliran berat tubuh mengalir pada kedua kaki menuju tanah karena adanya
gaya gravitasi bumi. Kestabilan posisi tubuh saat berdiri dipengaruhi posisi
kedua kaki. Posisi kaki yang sejajar lurus dengan jarak sesuai tulang pinggul
akan menjaga tubuh sehingga tidak tergelincir. Selain itu perlu menjaga
kelurusan antara anggota tubuh bagian atas dengan tubuh bagian bawah.
Sikap kerja berdiri memiliki beberapa kondisi permasalahan Work
Related Musculoskeletal Disorders (WMSDs). Nyeri punggung bagian
bawah (low back pain) adalah salah satu masalah pada sikap kerja berdiri
dengan sikap punggung condong ke depan. Sikap kerja berdiri terlalu lama
akan mengakibatkan penggumpalan darah di vena, karena aliran darah
berlawanan dengan gravitasi. Kejadian ini dapat mengakibatkan
pembengkakan pergelangan kaki.
2. Sikap Kerja Duduk
Sikap kerja duduk mengakibatkan munculnya keluhan pada punggung
bagian bawah, karena pada saat duduk maka otot bagian paha tertarik dan
bertentangan dengan bagian pinggul. Akibatnya tulang pelvis akan miring
ke belakang dan tulang belakang bagian lumbar L3/L4 akan mengendor.
Kondisi ini akan membuat sisi depan invertebral disk tertekan dan
sekelilingnya melebar. Hal ini menyebabkan rasa nyeri pada punggung
commit to user
II-5
Gambar 2.1 Kondisi invertebratal disc bagian lumbar pada saat duduk Sumber : Bridger RS, 1995
Ketegangan dan rasa sakit saat bekerja dengan sikap duduk dapat dikurangi
dengan merancang tempat duduk yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
posisi duduk tanpa sandaran menaikkan tekanan pada invertebral disk sebanyak
1
/3 sampai ½ lebih banyak daripada posisi berdiri (Bridger, 1995). Sikap kerja
duduk pada kursi membutuhkan sandaran untuk menopang punggung, yang
memungkinkan pergerakan maju-mundur untuk melindungi bagian lumbar.
Sandaran harus dirancang dengan tonjolan ke depan untuk memberi ruang bagi
lumbar yang menekuk.
3. Sikap Kerja Membungkuk
Salah satu sikap kerja yang tidak nyaman dan juga sering menimbulkan rasa
sakit adalah sikap kerja membungkuk. Posisi ini menimbulkan ketidaknyamanan
karena tidak adanya keseimbangan dan tidak menjaga kestabilan tubuh saat
bekerja. Sikap kerja membungkuk yang dilakukan berulang dan dalam waktu
yang lama akan mengakibatkan pekerja mengalami nyeri pada punggung bawah
(low back pain ).
Gambar 2.2 Mekanisme rasa nyeri pada posisi membungkuk Sumber: Bridger RS, 1995
Pada saat membungkuk, tulang belakang bergerak ke sisi depan tubuh. Otot
commit to user
II-6
Pada bagian ligamen sisi belakang dari invertebral disk justru mengalami
regangan. Kondisi ini menyebabkan nyeri pada punggung bagian bawah (low back
pain).
Sikap kerja membungkuk akan mengakibatkan ”slipped disk”, bila diikuti
dengan pengangkatan beban berlebih. Prosesnya sama dengan sikap kerja
membungkuk, tetapi karena beban yang berlebih menyebabkan ligamen pada sisi
belakang lumbar rusak dan ada penekanan pembuluh syaraf. Kerusakan ini
disebabkan keluarnya material pada invertebral disk akibat desakan lumbar.
4. Pengangkatan Beban
Kegiatan mengangkat beban memberikan kontribusi terbesar dalam
kecelakaan kerja pada bagian punggung. Penelitian yang dilakukan NIOSH
memperlihatkan sebuah statistik yang menyatakan bahwa dua-pertiga dari
kecelakaan akibat tekanan secara berlebihan berkaitan dengan aktivitas
menaikan/mengangkat barang (lifting loads activity). Pengangkatan beban yang
melebihi kekuatan manusia menyebabkan penggunaan tenaga yang lebih besar
pula atau over exertion (Bernard dan Fine, 1997). Dari penelitian tersebut
menunjukkan bahwa over exertion menjadi penyebab cedera bagian punggung
paling besar, presentasenya sekitar 64% - 74%. Adapun pengangkatan beban akan
mempengaruhi lumbar, dimana akan ada penekanan pada bagian L5/S1.
Penekanan pada daerah ini mempunyai batas tertentu untuk menahan
tekanan. Invertebral disk pada bagian L5/S1 lebih banyak menahan tekanan
dibandingkan tulang belakang. Bila pengangkatan ynag dilakukan melebihi
kemampuan maka akan menyebabkan disc herniation akibat lapisan pembungkus
pada invertebral disc pada bagian L5/S1 pecah.
commit to user
II-7
Cara untuk mengurangi resiko cedera yang mungkin ditimbulkan saat
mengangkat beban adalah :
a. Pikirkan dan rencanakan cara mengangkat beban. Usahakan untuk tidak
mengangkat beban melebihi batas kemampuan dan jangan mengangkat
beban dengan gerakan cepat dan tiba-tiba.
b. Tempatkan beban sedekat mungkin dengan pusat tubuh. Karena makin
dekat beban, makin kecil pengaruhnya dalam memberi tekanan pada
punggung, bahu dan lengan. Makin dekat beban maka makin mudah untuk
menstabilkan tubuh.
c. Tempatkan kaki sedekat mungkin dengan beban saat mulai mengangkat
dan usahakan dalam posisi seimbang. Tekuk lutut dalam posisi setengah
jongkok sampai sudut paling nyaman.
d. Jaga sikap punggung dan bahu tetap lurus, artinya tidak membungkuk,
menyamping atau miring (bending and twist).
e. Turunkan beban dengan menekuk lutut dalam posisi setengah jongkok
dengan sudut paling nyaman.
5. Membawa Beban
Membawa beban merupakan pekerjaan manual handling yang sering
dilakukan saat bekerja. Penentuan beban normal untuk tiap orang ada
perbedaannya. Hal ini dipengaruhi oleh frekuensi pekerjaan yang dilakukan.
Faktor yang paling berpengaruh dari kegiatan membawa beban adalah jarak. Jarak
yang ditempuh makin jauh akan menurunkan batasan beban yang dapat dibawa.
6. Mendorong Beban
Hal terpenting dari kegiatan mendorong beban adalah tinggi tangan saat
mendorong. Tinggi pegangan antara siku dan bahu selama mendorong beban
dianjurkan dalam kegiatan mendorong beban. Hal ini bertujuan untuk
menghasilkan tenaga maksimal untuk mendorong beban dan menghindari
kecelakaan kerja bagian tangan dan bahu.
7. Menarik Beban
Kegiatan menarik beban biasanya tidak dianjurkan dalam memindahkan
commit to user
II-8
melukai pekerja. Kesulitan lain yang timbul adalah pengawasan beban yang
dipindahkan dan perbedaan jalur lintasan. Menarik beban akan aman untuk jarak
pendek.
2.4 Nordic Body Map (NBM)
Salah satu alat ukur ergonomik sederhana yang dapat digunakan untuk
mengenali sumber penyebab keluhan musculoskeletal adalah nordic body map.
Melalui nordic body map dapat diketahui bagian-bagian otot yang mengalami
keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari rasa tidak nyaman (agak sakit) sampai
sangat sakit (Corlett, 1992). Melihat dan menganalisis peta tubuh seperti pada
Gambar 2.4, maka dpat diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot skeletal yang
dirasakan oleh pekerja. Cara ini sangat sederhana namun kurang teliti karena
mengandung subjektivitas yang tinggi.
Gambar 2.4 Nordic Body Map
Sumber : Corlett, 1992
2.5 Fisiologi Kerja
Fisiologi kerja adalah studi tentang fungsi organ manusia yang dipengaruhi
stress otot. Saat seseorang melakukan kerja fisik diperlukan gaya otot, dan
aktivitas otot ini memerlukan energi dimana suplai energi memberi beban kepada
sistem pernafasan dan sistem kardiovaskular. Sistem pernafasan dibebani oleh
kerja fisik karena adanya peningkatan ventilation (inhalation dan exhalation)
untuk mensuplai kebutuhan oksigen pada otot yang melakukan pekerjaan.
Sedangkan pembebanan pada sistem kardiovaskular dikarenakan jantung
commit to user
II-9
melalui pembuluh darah. Kesimpulannya bahwa saat tubuh melakukan kerja fisik
akan terjadi perubahan pada kecepatan denyut jantung dan konsumsi oksigen.
Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan berat ringannya suatu pekerjaan dalam
hubungannya dengan perubahan konsumsi oksigen, kecepatan denyut jantung dan
energyexpenditure (Sanders, 1993).
Tabel 2.1 Kriteria pekerjaan berdasar konsumsi oksigen, denyut jantung, dan energyexpenditure
Energy Expenditure
(kcal/min)
Light Work < 0.5 <90 <2,5
Moderate Work 0.5 – 1.0 90-110 2,5-5,0
Heavy Work 1.0 – 1.5 110-130 5,0-7,5
Very Heavy Work 1.5 – 2.0 130-150 7,5-10,0
Extremely Heavy Work > 2.0 150-170 >10,0
Work Severity
Heart Rate (beats/min)
2 VO
Sumber: Sanders, 1993
Ketika seseorang mulai bekerja, denyut jantung dan tingkat konsumsi
oksigen meningkat sampai memenuhi kebutuhan. Peningkatan ini tidak terjadi
tiba-tiba, sehingga kebutuhan ini akan dipenuhi terlebih dahulu oleh energi yang
tersimpan di otot. Dengan cara yang sama, ketika seseorang berhenti bekerja,
kecepatan denyut jantung dan konsumsi oksigen akan menurun secara
perlahan-lahan sampai kondisi normal. Untuk melakukan penilaian beban fisik dalam
bekerja dengan metode fisiologi maka pengukuran harus dimulai sebelum pekerja
melakukan pekerjaannya. Pengukuran terus dilakukan selama waktu bekerja
sampai sebelum variable fisiologi kembali ke level awal.
Metode yang biasa dipakai untuk mengukur energi expenditure adalah
mengukur denyut jantung dengan memakai omronmeter. Kemudian dilakukan
penghitungan konsumsi energi (energi expenditure). Pengukuran seperti ini
disebut pengukuran langsung. Selain mengukur secara langsung dengan
mengetahui tingkat konsumsi oksigen, dapat juga dilakukan pengukuran secara
tidak langsung yaitu dengan mengukur kecepatan denyut jantung seseorang.
Kecepatan denyut jantung akan meningkat saat seseorang bekerja, karena
jantung harus memompa lebih cepat untuk memberikan oksigen pada otot melalui
pembuluh darah. Dengan kata lain denyut jantung seperti sinyal yang
commit to user
II-10 untuk mengetahui fisiologi kerja.
Pengukuran energi expenditure dengan mengukur denyut jantung, lebih
mudah dilakukan dibanding mengukur perubahan konsumsi oksigen. Penting
untuk diingat bahwa pengukuran harus dilakukan sebelum dan sesudah bekerja.
2.6 Konsumsi Energi (Energy Expenditure)
Bilangan nadi atau denyut jantung merupakan peubah yang penting dalam
penelitian lapangan maupun penelitian laboratorium. Dalam hal penentuan
konsumsi energi, biasa digunakan parameter indeks kenaikan bilangan kecepatan
denyut jantung. Indeks ini merupakan perbedaan antara kecepatan denyut jantung
pada waktu kerja tertentu dengan kecepatan denyut jantung pada waktu istirahat.
Untuk merumuskan hubungan antara energy expenditure dengan kecepatan
denyut jantung, dilakukan pendekatan kuantitatif hubungan antara energy
expenditure dengan kecepatan denyut jantung dengan menggunakan analisis
regresi. Menurut Marks, Sanders (1993) bentuk regresi hubungan energi dengan
kecepatan denyut jantung adalah regresi kuadratis dengan persamaan dibawah ini:
Y = 1,80411 – (0,0229038)X + (4,71733 x 10
-4
)X
2
dimana :
Y = energi (kilokalori per menit)
X = kecepatan denyut jantung (denyut per menit)
Setelah besaran kecepatan denyut jantung disetarakan dalam bentuk energi,
maka konsumsi energi untuk suatu kegiatan kerja tertentu bisa dituliskan dalam
bentuk matematis sebagai berikut :
KE = Et - Ej
Dimana :
KE = konsumsi energi untuk kegiatan kerja tertentu (kilokalori per menit)
Et = pengeluaran energi pada waktu kerja tertentu (kilokalori per menit)
Ej = pengeluaran energi pada saat istirahat (kilokalori per menit)
Dengan demikian, konsumsi energi pada waktu kerja tertentu merupakan
selisih antara pengeluaran energi pada waktu kerja dengan pengeluaran energi
pada saat istirahat.
2.7 Perhitungan Besarnya Pengeluaran Energi (Energy Cost)
commit to user
II-11
kecepatan denyut jantung adalah regresi kuadratis dengan persamaan dibawah ini:
E – Cost = -1967 + 8,58 HR + 25,1 HT + 4,5 A – 7,47 RHR + 67,8 G
dimana :
E – Cost = Energy Cost (watt)
HR = Working Heart Rate (bpm)
HT = Height (inch)
A = Age (yrs)
RHR = Resting Heart Rate (bpm)
G = Gender (m = 0 ; f = 1)
1 watt » 0.0143 kcal / min
Berikut ini adalah tabel (nilai) dari pekerjaan fisik yang menunjukkan berat
ringannya suatu pekerjaan dalam hubungannya dengan perubahan konsumsi
energi, kecepatan denyut jantung dan energy expenditure (E – Cost) berdasarkan
penggolongan jenis kelamin pria / wanita.
Gambar 2.5 Rest allowance
Sumber : Sanders dkk, 1993
2.8 Postur Kerja
Postur kerja adalah pengaturan sikap pada saat tubuh sedang melakukan
pekerjaan. Sikap kerja pada saat bekerja sebaiknya dilakukan secara normal
sehingga dapat mencegah timbulnya musculoskeletal. Rasa nyaman dapat
commit to user
II-12 a. Korset bahu
Korset bahu memiliki macam-macam gerakan normal yaitu : abduction,
adduction, elevation, depression.
Gambar 2.6 Jangkauan gerakan korset bahu
Sumber: Nurmianto, 2004
· Abduction adalah pergerakan menyamping menjauhi sumbu tengah tubuh
(the median plane).
· Adduction adalah pergerakan ke arah sumbu tengah tubuh (the median
plane).
· Elevasition adalah pergerakan kearah atas (bahu diangkat keatas)
· Depression adalah pergerakan kearah bawah (bahu diturunkan kebawah.
b. Persendian bahu
Persendian bahu memiliki jangkauan gerakan normal yaitu : flexion,
extension, abduction, adductio, rotation.
commit to user
II-13
· Flexion adalah gerakan dimana sudut antara dua tulang terjadi
pengurangan.
· Extension adalah gerakan merentangkan dimana terjadi peningkatan sudut
antara dua tulang.
· Abduction adalah pergerakan menyamping menjauhi dari sumbu tengah
tubuh.
· Adduction adalah pergerakan kearah sumbu tengah tubuh.
· Rotation adalah gerakan perputaran bagian atas lengan atau kaki depan.
· Circumduction adalah gerakan perputaran lengan menyamping secara
keseluruhan.
c. Persendian siku
Persendian siku memiliki gerakan normal yaitu : supination, pronation,
flexion, extension.
Gambar 2.8 Jangkauan gerakan persendian siku Sumber: Nurmianto, 2004
· Supination adalah perputaran kearah samping dari anggota tubuh.
· Pronation adalah perputaran bagian tengah dari anggota tubuh.
· Flexion adalah gerakan dimana sudut antara dua tulang terjadi pengurangan.
· Extension adalah gerakan merentangkan dimana terjadi peningkatan sudut
antara dua tulang.
d. Persendian pergelangan tangan
Persendian siku memiliki gerakan normal yaitu: flexion, ekstension,
commit to user
II-14
Gambar 2.9 Jangkauan gerakan pergerakan tangan Sumber: Nurmianto, 2004
· Flexion adalah gerakan dimana sudut antara dua tulang terjadi pengurangan.
· Extension adalah gerakan merentangkan dimana terjadi peningkatan sudut
antara dua tulang.
· Abduction adalah pergerakan menyamping menjauhi dari sumbu tengah
tubuh.
· Adduction adalah pergerakan kearah sumbu tengah tubuh.
· Circumduction adalah pergerakan pergerakan tangan secara memutar.
2.9 Rapid Entire Body Assesment (REBA)
Rapid Entire Body Assessment adalah sebuah metode yang dikembangkan
dalam bidang ergonomic dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai postur
kerja atau postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang
operator. Selain itu metode ini juga dipengaruhi oleh faktor coupling, beban
eksternal yang ditopang oleh tubuh serta aktivitas pekerja. Penilaian dengan
menggunakan REBA tidak membutuhkan waktu lama untuk melengkapi dan
melakukan scoring general pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu
adanya pengurangan resiko yang diakibatkan postur kerja operator (McAtamney,
2000).
Teknologi ergonomi tersebut mengevaluasi postur, kekuatan, aktivitas dan
faktor coupling yang menimbulkan cidera akibat aktivitas yang berulang-ulang.
Penilaian postur kerja dengan metode ini dengan cara pemberian skor resiko
antara satu sampai lima belas, yang mana skor yang tertinggi menandakan level
yang mengakibatkan resiko yang besar (bahaya) untuk dilakukan dalam bekerja.
Hal ini berarti bahwa skor terendah akan menjamin pekerjaan yang diteliti bebas
commit to user
II-15
beresiko dan melakukan perbaikan sesegera mungkin. Pemeriksaan REBA dapat
dilakukan di tempat yang terbatas tanpa mengganggu pekerja.
Pengembangan REBA terjadi dalam empat tahap. Tahap pertama adalah
pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto,
tahap kedua adalah penentuan sudut-sudut dari bagian tubuh pekerja, tahap ketiga
adalah penentuan berat benda yang diangkat, penentuan coupling, dan penentuan
aktivitas pekerja.
Tahap keempat adalah perhitungan nilai REBA untuk postur yang
bersangkutan. REBA tersebut digunakan untuk mengetahui level resiko dan
kebutuhan akan tindakan yang perlu dilakukan untuk perbaikan kerja. Penilaian
menggunakan metode REBA yang telah dilakukan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr.
Lynn McAtamney melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
Tahap 1 : Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan
bantuan video atau foto.
Untuk mendapatkan gambaran sikap (postur) pekerja dari leher, punggung,
lengan, pergelangan tangan hingga kaki secara terperinci dilakukan dengan
merekam atau memotret postur tubuh pekerja. Hal ini dilakukan supaya peneliti
mendapatkan data postur tubuh secara detail (valid), sehingga dari hasil rekaman
dan hasil foto bisa didapatkan data akurat untuk tahap perhitungan serta analisis
selanjutnya.
Tahap 2 : Penentuan sudut-sudut dari bagian tubuh pekerja.
Setelah didapatkan hasil rekaman dan foto postur tubuh dari pekerja
dilakukan perhitungan besar sudut dari masing-masing segmen tubuh yang
meliputi punggung (batang tubuh), leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan
tangan dan kaki. Pada metode REBA segmen-segmen tubuh tersebut dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu grup A dan B. Grup A meliputi punggung (batang
tubuh), leher dan kaki. Sementara grup B meliputi lengan atas, lengan bawah dan
pergelangan tangan. Dari data sudut segmen tubuh pada masing-masing grup
[image:30.595.111.512.233.493.2]dapat diketahui skornya, kemudian dengan skor tersebut digunakan untuk melihat
tabel A untuk grup A dan tabel B untuk grup B agar diperoleh skor untuk
masing-masing tabel.
commit to user
II-16
Tabel 2.2 Skor pergerakan punggung (batang tubuh)
P
Peerrggeerraakkaann SSkkoorr PPeerruubbaahhaann S
Skkoorr
Tegak 1
+1 jika memutar atau kesamping
0⁰ - 20⁰Flexion
2
0⁰ - 20⁰Extension
20⁰ - 60⁰Flexion
3
>20⁰ Extension
>60⁰Flexion 4
Sumber : McAtamney dan Hignett, 2000
[image:31.595.135.511.108.488.2]Pada Tabel 2.2 di atas, pergerakan punggung dapat ditunjukkan pada
Gambar 2.10 berikut ini :
(a) (b) (c) (d)
Gambar 2.10 Range pergerakan punggung (a) postur alamiah, (b) postur 0o– 20oflexion, (c) postur 20o - 60o flexion, (d) postur 60o atau lebih
flexion
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Skor pergerakan leher dapat ditunjukkan seperti pada Tabel 2.3 di bawah ini.
Tabel 2.3 Skor pergerakan leher
P
Peerrggeerraakkaann SSkkoorr PPeerruubbaahhaannsskkoorr
00 - 200 Flexion 1
> 200 Flexion atau Extension 2
+1 jika memutar atau
miring kesamping
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Pada Tabel 2.3 di atas, pergerakan leher dapat ditunjukkan pada Gambar
commit to user
II-17
(a) (b)
Gambar 2.11 Range pergerakan leher (a) postur 200 atau lebih flexion, (b) postur
extension
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
[image:32.595.135.502.235.481.2]Skor postur kaki dapat ditunjukkan seperti pada Tabel 2.4 di bawah ini.
Tabel 2.4 Skor postur kaki
P
Peerrggeerraakkaann SSkkoorr PPeerruubbaahhaannsskkoorr
Kaki tertopang ketika
berjalan atau duduk dengan
bobot seimbang rata - rata
1
1 jika lutut antara
300 - 600 Flexion
Kaki tidak tertopang atau
bobot tubuh tidak tersebar
merata
2
2 jika lutut > 600
Flexion
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Pada Tabel 2.4 di atas, postur kaki dapat ditunjukkan pada Gambar 2.12
berikut ini.
(a) (b)
Gambar 2.12 Range pergerakan kaki (a) kaki tertopang, bobot tersebar merata (b) kaki tidak tertopang, bobot tidak tersebar merata
commit to user
II-18
Skor pergerakan lengan atas dapat ditunjukkan seperti pada Tabel 2.5 di
bawah ini.
Tabel 2.5 Skor pergerakan lengan atas
Pergerakan
skor
Perubahan skor
60 Extension - 60 Flexsion
1
+ 1 jika lengan atas abduction > 20 Extension20 - 45 Flexion
45 - 90 Flexion
3
> 90 Flexion
4
2
+ 1 jika pundak atau bahu ditinggikan-1 jika operator bersandar atau bobot lengan ditopang
0 0
0
0 0
0 0
0
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
[image:33.595.114.516.143.497.2]Pada Tabel 2.5 di atas, pergerakan lengan atas dapat ditunjukkan pada
Gambar 2.14 berikut ini.
(a) (b) (c)
Gambar 2.13 Range Pergerakan lengan atas (a) postur 200flexion dan extension, (b) postur 200 atau lebih extension dan postur 20°-45° flexion, (c) postur 45°-90° flexion, (d) postur 90° atau lebih flexion
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
(c) (d)
Gambar 2.14 Range Pergerakan lengan atas (a) postur 200flexion dan extension, (b) postur 200 atau lebih extension dan postur 20°-45° flexion, (c) postur 45°-90° flexion, (d) postur 90° atau lebih flexion (lanjutan)
commit to user
II-19
Skor pergerakan lengan bawah dapat ditunjukkan seperti pada Tabel 2.6
di bawah ini.
Tabel 2.6 Skor pergerakan lengan bawah
P
Peerrggeerraakkaann SSkkoorr
600- 1000 Flexsion 1
< 600Flexsion atau > 1000Flexsion 2
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
[image:34.595.119.513.195.494.2]Pada Tabel 2.6 di atas, pergerakan lengan bawah dapat ditunjukkan pada
gambar 2.16 berikut ini.
(a) (b)
Gambar 2.15 Range pergerakan lengan bawah (a) postur 600- 1000 flexsion,
extension, (b) postur 600 atau kurang flexsion dan 1000 atau lebih
flexio.
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Skor pergelangan tangan dapat ditunjukkan seperti pada Tabel 2.7 di bawah ini.
Tabel 2.7 Skor pergelangan tangan
Pergerakan Skor Perubahan Skor 0°-15° Flexion atau Extension 1 +1 jika pergelangan tangan
> 15° Flexion atau Extension 2 menyimpang atau berputar
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Pada Tabel 2.7 di atas, pergelangan tangan dapat ditunjukkan pada
commit to user
II-20
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 2.16 Range pergerakan pergelangan tangan (a) postur alamiah, (b) postur 0-15° flexion maupun extension, (c) postur 15° atau 1ebih
flexion, (d) postur 15° atau 1ebih extension.
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Grup A meliputi punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Hasil penilaian
dari pergerakan punggung (batang tubuh), leher dan kaki kemudian digunakan
untuk menentukan skor A dengan menggunakan Tabel 2.8 di bawah ini.
Tabel 2.8 Tabel A
Trunk Legs 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 1 2 3 4 1 2 3 4 3 3 5 6
2 2 3 4 5 3 4 5 6 4 5 6 7
3 2 4 5 6 4 5 6 7 5 6 7 8
4 3 5 6 7 5 6 7 8 6 7 8 9
5 4 6 7 8 6 7 8 9 7 8 9 9
Table A Neck
1 2 3
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Sementara grup B meliputi lengan atas, lengan bawah dan pergelangan
tangan. Hasil penilaian dari pergerakan lengan atas, lengan bawah dan
pergelangan tangan kemudian digunakan untuk menentukan skor B dengan
menggunakan Tabel 2.9 di bawah ini.
Tabel 2.9 Tabel B
Upper Arm Wrist 1 2 3 1 2 3
1 1 2 3 1 2 3
2 1 2 3 1 2 4
3 3 4 5 4 5 5
4 4 5 5 5 6 7
5 6 7 8 7 8 8
6 7 8 8 8 9 9
Table B
Lower Arm
1 2
commit to user
II-21
Hasil skor yang diperoleh dari Tabel A dan Tabel B digunakan untuk melihat
Tabel C sehingga didapatkan skor dari Tabel C
Tabel 2.10 Tabel C
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 1 1 1 2 3 3 4 5 6 7 7 7
2 1 2 2 3 4 4 5 6 6 7 7 8
3 2 3 3 3 4 5 6 7 7 8 8 8
4 3 4 4 4 5 6 7 8 8 9 9 9
5 4 4 4 5 6 7 8 8 9 9 9 9
6 6 6 6 7 8 8 9 9 10 10 10 10
7 7 7 7 8 9 9 9 10 10 11 11 11
8 8 8 8 9 10 10 10 10 10 11 11 11
9 9 9 9 10 10 10 11 11 11 12 12 12
10 10 10 10 11 11 11 11 12 12 12 12 12
11 11 11 11 11 12 12 12 12 12 12 12 12
12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
Score A (score from teble A+load/force score)
Table C
Score B, (table B value + coupling score)
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Tahap 3: Penentuan berat benda yang diangkat, coupling dan aktivitas pekerja.
Selain skoring pada masing-masing segmen tubuh, faktor lain yang perlu
disertakan adalah berat beban yang diangkat, coupling dan aktivitas pekerjanya.
Masing-masing faktor tersebut juga mempunyai kategori skor.
Besarnya skor berat beban yang diangkat dapat ditunjukkan seperti pada tabel
2.11 di bawah ini.
Tabel 2.11 Load atau force
0 1 2 1
<5kg 5-10kg >10kg shock or rapid
build up
Load/Force
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Besarnya skor coupling dapat ditunjukkan seperti pada Tabel 2.12 di
bawah ini.
Tabel 2.12 Coupling
0 Good 1 fair 2 Poor 3 Unacepptable
Coupling
Well-fitting handle and a mid-range power grip
hand hold acceptable but not ideal, or coupling is acceptable via another part of the body
Hand hold not acceptable although possible
Awkward, unsafe grip, no handles;coupling is
unaceptable using other parts of the body
commit to user
II-22
Sementara itu besarnya skor activity dapat ditunjukkan seperti pada Tabel
2.13 di bawah ini.
Tabel 2.13 Activity
Activity
+1 1 more body parts static
(held>1 min)
+1 repeated>4 per min in
small range (not walking)
+1 rapid large changes in
posture or unstable base Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Tahap 4: Perhitungan nilai REBA untuk postur yang bersangkutan.
Setelah didapatkan skor dari Tabel A kemudian dijumlahkan dengan skor
untuk berat beban yang diangkat sehingga didapatkan nilai bagian A. Sementara
skor dari Tabel B dijumlahkan dengan skor dari tabel coupling sehingga
didapatkan nilai bagian B. Nilai bagian A dan bagian B dapat digunakan untuk
mencari nilai bagian C dari Tabel C yang ada.
Nilai REBA didapatkan dari hasil penjumlahan nilai bagian C dengan nilai
aktivitas pekerja. Nilai REBA tersebut dapat diketahui level resiko pada
musculoskeletal dan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi resiko serta
perbaikan kerja. Lebih jelasnya, alur cara kerja dengan menggunakan metode
REBA dapat dilihat pada Gambar 2.17 di bawah ini.
[image:37.595.114.511.114.721.2]Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
commit to user
II-23
Level resiko yang terjadi dapat diketahui berdasarkan nilai REBA. Level
resiko dan tindakan yang harus dilakukan dapat dilihat pada tabel 2.14 berikut ini.
Tabel 2.14 Level resiko dan tindakan
Action Level Skor REBA Level Resiko Tindakan perbaikan
0 1 Bisa diabaikan Tidak perlu
1 2 – 3 Rendah Mungkin perlu
2 4 – 7 Sedang Perlu
3 8 – 10 Tinggi Perlu segera
4 11 - 15 Sangat tinggi Perlu saat ini juga
Sumber: McAtamney dan Hignett, 2000
Pada Tabel 2.14 yang merupakan tabel resiko diatas dapat diketahui dengan
nilai REBA yang didapatkan dari hasil perhitungan sebelumnya dapat diketahui
level resiko yang terjadi dan perlu atau tidaknya tindakan dilakukan untuk
perbaikan. Perbaikan kerja yang mungkin dilakukan antara lain berupa
commit to user
III-1
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini diuraikan secara sistematis mengenai langkah-langkah yang
dilakukan dalam penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam
penelitian ditunjukan pada flowchart Gambar. 3.1.
commit to user
III-2
Langkah-langkah penyelesaian masalah pada flowchart Gambar 3.1,
diuraikan sebagai berikut :
3.1 TAHAP IDENTIFIKASI MASALAH
Tahap identifikasi masalah merupakan tahap awal dalam kegiatan
penelitian ini. Pada langkah ini dilakukan identifikasi di CV. Cahyo Nugroho Jati
selanjutnya melakukan perumusan masalah yang terjadi di CV. Cahyo Nugroho
Jati dalam upaya memecahkan masalah dengan menggunakan metode REBA
untuk mencapai tujuan penelitian.
3.1.1 Studi Literatur
Studi literatur dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai
teori-teori dan konsep-konsep yang terkait dengan REBA dan fisiologi yang berkaitan
dengan permasalahan yang ada di CV. Cahyo Nugroho Jati, seperti kuisioner
Nordic Body Map, postur kerja dan fisiologi (beban kerja), sebagai landasan
dalam tahap-tahap penelitian selanjutnya, sebagai kerangka berpikir untuk
menyelesaikan permasalahan yang ada.
3.1.2 Studi Lapangan
Tahap ini merupakan observasi langsung di lapangan, yaitu di CV. Cahyo
Nugroho Jati. Observasi dilakukan dengan melihat aktivitas operator dan
mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di CV. Cahyo Nugroho Jati untuk
mencari penyelesaian mengenai masalah tersebut. Kegiatan untuk mendapatkan
data awal dilakukan dengan cara pengamatan langsung, dokumentasi gambar,
wawancara, kuisioner Nordic Body Map, dan pengukuran denyut nadi operator
sebelum dan sesudah melakukan aktivitas. Pengamatan ini bertujuan untuk
memperbaiki postur kerja dan mengurangi konsumsi energi (fisiologi kerja).
3.1.3 Perumusan Masalah
Masalah yang diteliti dalam penelitian ini yaitu bagaimana menganalisa
sikap kerja operator di CV. Cahyo Nugroho Jati berdasarkan (Rapid Entire Body
commit to user
III-3 3.1.4 Tujuan Penelitian
a) Menganalisa sikap kerja di CV. Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo
dengan metode REBA
b) Mengusulkan perbaikan postur kerja berdasarkan analisis energy cost
dan energy expenditure.
3.1.5 Manfaat Penelitian
menghasilkan postur kerja operator dengan tingkat konsumsi energi yang
lebih rendah dibandingkan konsumsi energi sebelumnya pada operator di CV.
Cahyo Nugroho Jati dengan pendekatan REBA dan penghitungan energy cost dan
energy expenditure.
3.2 TAHAP PENGUMPULAN DATA
Tahap-tahap pengumpulan data yang diperlukan untuk mendukung
penelitian mengenai perbaikan sikap kerja di CV. Cahyo Nugroho Jati, sebagai
berikut :
3.2.1 Wawancara
Wawancara dilakukan dengan cara menggali informasi kondisi awal
mengenai aktivitas kerja, biodata, aktivitas jam kerja, identitas, dan lama bekerja
operator di setiap stasiun kerja. Kegiatan wawancara tersebut dilakukan pada hari
Senin tanggal 7 Februari 2011 pukul 08.30 WIB.
3.2.2 Data Postur Kerja
Data ini digunakan untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan oleh
operator CV. Cahyo Nugroho Jati yang terjadi pada aktivitas padaproses cutting,
sewing, steam, quality control, packing, dan accesoris. Pencatatan data postur
kerja tesebut berupa dokumentasi foto-foto postur kerja, dan video saat melakukan
aktivitas kerja.
3.2.3 Data Fisiologi
Pengumpulan data fisiologi tersebut meliputi, nama, umur, penggolongan
jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, pengukuran denyut jantung sebelum dan
sesudah bekerja melalui omronmeter. Pengukuran denyut jantung dilakukan
commit to user
III-4
diketahui selisih antara denyut jantung sebelum dan sesudah bekerja. Pengukuran
denyut jantung tersebut dilakukan melalui beberapa tahap, antara lain:
v Mengukur denyut jantung operator pada saat sebelum dan sesudah bekerja dilakukan pada pada hari Kamis tanggal 24 Februari 2011 pukul 07.00 s/d
12.00 WIB.
Pengukuran tersebut dilakukan melalui beberapa tahap, karena diharapkan
kondisi operator pada saat dilakukan pengukuran melalui omronmeter tidak
mengalami gangguan secara psikologis dan mendapatkan nilai pengukuran denyut
jantung dengan tepat (valid).
3.3 TAHAP PENGOLAHAN DATA
3.3.1 Perhitungan Postur Kerja Berdasarkan Metode Rapid Entrie Body Assessment (REBA)
Hasil pengambilan gambar digunakan untuk menentukan sudut-sudut dari
posisi kerja pada operator, kemudian dilakukan penyusunan skor dengan
menggunakan REBA scoresheet yaitu menggunakan diagram atau gambar postur
tubuh dan kategori level tindakan REBA. Proses penilaian dengan metode REBA
adalah menterjemahkan sikap kerja dari hasil rekaman sesuai dengan sikap kerja
menjadi dua grup yaitu:
a. grup A terdiri atas postur tubuh atas dan bawah batang tubuh (trunk),
Leher (neck), dan kaki (legs)
b. grup B terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri dari lengan atas (upper
arm), lengan bawah (lower arm), dan pergelangan tangan (wrist).
Pada masing-masing grup, diberikan suatu skala skor postur tubuh dan
suatu pernyataan tambahan. Diberikan juga faktor beban/kekuatan dan Coupling
(kopling). Dengan melihat pada tabel penilaian untuk masing-masing postur, tabel
A untuk grup A, dan tabel B untuk grup B. skor A adalah jumlah dari hasil pada
tabel A dan skor beban/ kekuatan. Skor B adalah jumlah skor dari tabel B dan
skor kopling untuk masing-masing tangan. Skor C dibaca dari tabel C dengan
memasukkan skor A dan skor B, sehingga diperoleh skor REBA dengan jumlah
dari skor C dan skor tindakan. Akhirnya diperoleh suatu hasil berupa tingkatan
commit to user
III-5
Pada metode REBA sikap kerja dinyatakan dengan ukuran sudut,
penentuan sudut dilakukan secara manual dengan bantuan busur derajat, spidol
dan mika. Proses penilaian metode REBA digambarkan sebagai berikut.
Gambar 3.2. REBA scoresheet
Sumber : McAtamney, 1993
Selain menggunakan penilaian REBA, penentuan kategori sikap kerja dapat
dianalisa menggunakan bantuan software REBA. Penggunaan REBA
memudahkan penentuan kategori sikap kerja, dan lebih lengkap dalam
menganalisa jika dibandingkan metode manual menggunakan tabel.
Data input yang dibutuhkan untuk menganalisa menggunakan REBA adalah
data sikap kerja dan beban yang diangkat. Setelah proses pemasukan data selesai,
maka akan terlihat hasil analisa REBA.
3.3.2 Perhitungan Fisiologi
A. Perhitungan EnegyExpenditure
Penghitungan energy expenditure dilakukan dengan menggunakan data
denyut jantung sebelum dan sesudah bekerja. Denyut jantung sebelum bekerja
commit to user
III-6 dilakukan setelah melakukan aktivitas.
Tujuan dari perhitungan energy expenditure adalah mengukur besarnya
energi (tenaga yang dikeluarkan) yang dikeluarkan oleh pada saat sebelum
maupun sesudah bekerja dan menentukan kriteria penggolongan beban kerja.
Menurut (Sanders & Cormick, 1993) bentuk regresi hubungan energi dengan
kecepatan denyut jantung adalah regresi kuadratis dengan persamaan sebagai
berikut :
Y = 1,80411 – (0,0229038)X + (4,71733 x 10-4) X2
KE = Et - Ej
dimana :
Y = energi operator (kilokalori per menit)
X = kecepatan denyut jantung operator (denyut per menit)
B. Perhitungan Besarnya Pengeluaran Energi (energy cost)
Menurut (Kamalakannan, 2007) bahwa bentuk regresi hubungan energi
dengan kecepatan denyut jantung adalah regresi kuadratis dengan persamaan
dibawah ini:
E - Cost = -1967 + 8,58 HR + 25,1 HT + 4,5 A – 7,47 RHR + 67,8 G
dimana :
E – Cost = Energy Cost operator (watt)
HR = Working Heart Rate operator (bpm)
HT = Height operator (inch)
A = Age operator (yrs)
RHR = Resting Heart Rate operator (bpm)
G = Gender operator (m = 0 ; f = 1)
1 watt » 0,0143 kcal / min
3.4 TAHAP ANALISA DAN INTERPRETASI HASIL
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, maka langkah
selanjutnya adalah melakukan analisis dan interpretasi hasil. Pada tahap ini
dilakukan analisis terhadap hasil-hasil pengolahan data, yaitu menganalisa postur
kerja melalui metode REBA, menganalisa pengukuran denyut jantung sebelum
commit to user
III-7
operator, memberikan hasil rekomendasi sikap kerja serta validasi hasil terhadap
lingkungan sekitar.
3.5 TAHAP KESIMPULAN DAN SARAN
Bagian ini menguraikan target pencapaian tujuan penelitian dan kesimpulan
yang diperoleh dari pembahasan bab-bab sebelumnya. Bab ini juga menguraikan
saran dan masukan bagi kelanjutan penelitian yang telah dilakukan dan masukan
commit to user
IV-1
BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Pada bab ini akan diuraikan proses pengumpulan dan pengolahan data
dalam penelitian. Proses pengumpulan dan pengolahan data meliputi
dokumentasi, wawancara, penyebaran Nordic Body Map, penyebaran kuisioner
keluhan dan keinginan operator, pengumpulan data operator dan pengolahan data
yang telah di dapat. Data yang dikumpulkan dan diolah akan digunakan sebagai
dasar analisis terhadap penyelesaian permasalahan yang dihadapi.
4.1 PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data studi pendahuluan dilakukan selama bulan Februari–
Maret 2011 yang bertujuan untuk memperoleh informasi awal di tempat
penelitian. Untuk mendapatkan data awal dilakukan beberapa tahapan,
diantaranya: pengamatan langsung, dokumentasi gambar, wawancara, dan
penyebaran kuesioner dengan tujuan untuk mengetahui keluhan atau rasa tidak
nyaman yang dirasakan pada masing-masing bagian operator di CV. Cahyo
Nugroho Jati Sukoharjo. Berikut ini data karyawan yang diperoleh di CV. Cahyo
Nugroho Jati Sukoharjo.
Tabel 4.1 Data Karyawan CV. Cahyo Nugroho Jati Sukoharjo
1 Sri Sejati 27 47 155
2 Sukasmi 28 50 150
3 Saryanti 30 44 155
4 Sartini 32 65 155
5 Paiyem 33 57 158
6 Rini Wulan Sari 28 53 147 7 Ika Fitri Utami 23 42 155
8 Nevi Andriani 31 56 155
9 Warsini 37 42 150
10 Unik Susanti 28 48 145
11 Sri Nandang Sih 24 55 160
12 Hartatik 26 45 163
13 Sulati 39 55 145
14 Poniyati 25 40 150
15 Ratih Indah Sari 28 49 150
16 Is Cahyowati 25 43 145
17 Sri Wijini 32 33 152
18 Suparmi 26 46 155
NO Nama Umur Berat
Badan
Tinggi Badan
commit to user
IV-2
Data karyawan pada tabel 4.1 di bagi menjadi 6 stasiun kerja, berikut data
karyawan di setiap stasiun kerja :
Tabel 4.2 Data karyawan di setiap stasiun kerja
Berat
Tinggi
Badan
Badan
1
Unik Susanti
28
48
145
2
Sri Nandang Sih
24
55
160
3
Hartatik
26
45
163
4
Sri Sejati
27
47
155
5
Sukasmi
28
50
150
6
Saryanti
30
44
155
7
Sartini
32
65
155
8
Paiyem
33
57
158
9
Rini Wulan Sari
28
53
147
10 Sulati
39
55
145
11 Poniyati
25
40
150
12 Ratih Indah Sari
28
49
150
13 Is Cahyowati
25
43
145
14 Sri Wijini
32
33
152
15 Suparmi
26
46
155
16 Ika Fitri Utami
23
42
155
17 Nevi Andriani
31
56
155
18 Warsini
37
42
150
Quality
Control
Bagian
Accessories
Cutting
Sewing
Steam
Packing
No
Nama
Umur
Sumber: Pengolahan Data, 2011
4.1.1 Dokumentasi
Dokumentasi sikap kerja yang dilakukan oleh karyawan di masing masing
stasiun kerja dan rekaman video. Pengambilan dokumentasi gambar yang
bertujuan m