i
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
EFEKTIVITAS PROGRAM BIMBINGAN KELOMPOK DALAM MENGEMBANGKAN KONSEP DIRI SISWA (Studi Kuasi Eksperimen pada Siswa SMP Terbuka Kota Serang)
TESIS
Diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat untuk memperoleh Gelar Magister Pendidikan
Program Studi : Bimbingan dan Konseling
Disusun oleh :
NINING FITRIYANINGSIH 0908843
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH PASCASARJANA
ii
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
EFEKTIVITAS PROGRAM BIMBINGAN
KELOMPOK DALAM MENGEMBANGKAN
KONSEP DIRI SISWA
(Studi Kuasi Eksperimen pada
Siswa SMP Terbuka Kota Serang)
Oleh
Nining Fitriyaningsih
Sebuah tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Bimbingan dan Konseling
© Nining Fitriyaningsih 2013 Universitas Pendidikan Indonesia
iii
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.
LEMBAR PENGESAHAN
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH :
PEMBIMBING I
Dr. AGUS TAUFIK M.Pd NIP 19590331198031002
PEMBIMBING II
Dr. NANI SUGANDHI M.Pd NIP 19570830 198101 2 001
Mengetahui
iv
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
i
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Efektivitas Program Bimbingan Kelompok dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen pada Siswa SMPN Terbuka Kota Serang). Tujuan penelitian adalah menemukan efektivitas program bimbingan kelompok untuk mengembangkan konsep diri siswa. Metode penelitian menggunakan eksperimen kuasi. Populasi yang diambil adalah siswa kelas VIII SMP Negeri Terbuka Kota Serang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pemberian pretest, posttest dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan : (1) konsep diri siswa kelas VIII SMP Negeri Terbuka Kota Serang tergolong sedang yaitu siswa yang masih mudah dipengaruhi orang lain (teman sebaya), merasa belum percaya diri akan kemampuannya, kadang-kadang merasa rendah diri, (2) bimbingan kelompok berpengaruh signifikan dalam mengembangkan konsep diri siswa. Dengan demikian, peneliti merekomendasikan agar bimbingan kelompok dapat digunakan guru BK di sekolah dalam mengembangkan konsep diri siswa.
ii
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
i
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR ISI
1. Pengertian Bimbingan Kelompok ... 28
2. Pelaksanaan Bimbingan Kelompok ... 31
3. Tujuan dan Manfaat Bimbingan Kelompok ... 33
4. Karakteristik Bimbingan Kelompok ... 35
ii
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
6. Tahapan Bimbingan Kelompok ... 45
C. Upaya Pengembangan Konsep Diri Siswa melalui Bimbingan Kelompok ……….………. 48
BAB III. METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian ... 53
B. Prosedur Penelitian ... 55
C. Lokasi dan Subyek Penelitian ... 58
D. Variabel Penelitian ... 59
E. Pengembangan Instrumen Penelitian ... 62
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian ... 77
1. Profil Konsep Diri Siswa Kelas VIII SMPT 13 ... 77
2. Profil Aspek dan Indikator Konsep Diri Siswa ... 79
3. Analisis Kebutuhan Bimbingan ... 88
B. Pembahasan Hasil Penelitian ………... 103
C. Pengamatan Pelaksanaan Bimbingan dan Hasil yang Dicapai ……… 111
BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan ... 121
B. Rekomendasi …….………. 122
DAFTAR PUSTAKA ……… 124
LAMPIRAN LAMPIRAN ……… 128
iii
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR TABEL
Tabel
2.1 Karakteristik Bimbingan Kelompok ………. 37
3.1 Kisi-Kisi Instrumen Konsep Diri Siswa (sebelum uji coba)…. 63
3.2 Kriteria Penilaian (skor) Alternatif Jawaban untuk Setiap Item 65
3.3 Metode Pengumpulan Data ………... 65
3.4 Hasil Uji Coba Validitas Instrumen Konsep Diri ………. 68
3.5 Hasil Uji Coba Reliabilitas Instrumen Konsep Diri ………….. 69
3.6 Kisi-Kisi Instrumen Konsep Diri Siswa (setelah uji coba)…… 71
3.7 Hasil Nilai Rata-Rata Pretest 10 Siswa per Indikator dan urutannya 75 3.8 Materi Layanan ……….. 77
3.9 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Bimbingan Kelompok ………… 78
3.10 Rencana Operasional ………. 79
4.1 Profil Konsep Diri Siswa SMPN Terbuka 13 Kota Serang …… 73
4.2 Aspek dan Indikator Penelitian Konsep Diri Siswa ……… 75
4.3 Skor Konsep Diri per Aspek dan Indikator ……… 76
4.4 Profil Aspek Fisik Siswa ……… 77
4.5 Profil Aspek Psikis Siswa ……….. 79
4.6 Profil Aspek Moral Siswa ……….. 81
4.7 Profil Aspek Sosial Siswa ……….. 82
4.8 Skor Konsep Diri 10 Siswa Terendah ……… 84
4.9 Hasil Rata-rata Nilai Pretest 10 Siswa Tiap Indikator ………… 85
4.10 Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Bimbingan Kelompok ………… 98
4.11 Hasil Perbandingan Rata-rata Nilai Sebelum dan Sesudah Layanan ……….. 106
iv
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR GAMBAR
Gambar
2.1 Tahap Pertumbuhan Kelompok ……… 47
3.1 Alur Penelitian ……… 58
3.2 Hubungan antar Variabel.……… 60
4.1 Profil Konsep Diri Siswa SMPT 13 Kota Serang ………... 74
4.2 Skor Konsep Diri Siswa Sebelum Pelaksanaan Bimbingan Kelompok ……… 77
4.3 Profil Aspek Fisik Konsep Diri Siswa ……… 78
4.4 Profil Aspek Psikis Konsep Diri Siswa ……… 80
4.5 Profil Aspek Moral Konsep Diri Siswa ……… 81
4.6 Profil Aspek Sosial Konsep Diri Siswa ……… 83
4.7 Hasil Rata-rata Nilai Pretest 10 Siswa Tiap Indikator ……. 86
4.8 Hasil Pretest Responden 1 ……… 87
4.9 Hasil Pretest Responden 2 ……… 88
4.10 Hasil Pretest Responden 3 ……… 89
4.11 Hasil Pretest Responden 4 ……… 90
4.12 Hasil Pretest Responden 5 ……… 91
4.13 Hasil Pretest Responden 6 ……… 92
4.14 Hasil Pretest Responden 7 ……… 93
4.15 Hasil Pretest Responden 8 ……… 94
4.16 Hasil Pretest Responden 9 ……… 95
v
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
vi
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
1
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB I
PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis menguraikan tentang latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, asumsi penelitian, hipotesis penelitian,
metode penelitian dan lokasi serta sampel penelitian. Adapun uraiannya sebagai
berikut:
A. Latar Belakang Masalah
Fase remaja adalah masa kehidupan individu menjelang dewasa. Pada
jenjang ini kebutuhan remaja telah semakin kompleks, interaksi sosial dan
pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuain diri terhadap
lingkungannya, remaja mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma
pergaulan yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam
keluarganya. Remaja menghadapi berbagai lingkungan dan bergaul dengan
berbagai kelompok umur. Dengan demikian, remaja mulai memahami norma
pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, dewasa, dan orang tua.
Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi
cukup sulit, karena disamping harus memperhatikan norma pergaulan sesama
remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih
teman hidup.
Setiap fase dalam kehidupan individu memiliki tugas perkembangan.
2
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
seyogyanya dimiliki oleh individu sesuai dengan fase perkembangannya. Adapun
munculnya tugas perkembangan disebabkan adanya faktor-faktor kematangan
fisik, tuntutan masyarakat secara kultural, tuntutan dan dorongan dari individu itu
sendiri dan tuntutan norma agama. Jika remaja sanggup melaksanakan tugas
perkembangannya dengan baik, maka ia akan merasa bahagia dan puas.
Sebaliknya, jika ia gagal, maka tugas perkembangan fase berikutnya dapat
terganggu.
Siswa sekolah menengah pertama (SMP) dikategorikan sebagai remaja.
Masa ini dapat diperinci menjadi beberapa masa yaitu : (1) masa praremaja
(remaja awal), (2) masa remaja (remaja madya) dan (3) masa remaja akhir, seperti
dikemukakan oleh Syamsu Yusuf (2009:29). Sedangkan menurut Hurlock
(1964), rentangan usia remaja itu antara 13 sampai dengan 21 tahun dan dibagi
menjadi usia masa remaja awal 13-17 tahun dan remaja akhir 17-21 tahun. WHO
menetapkan batas usia 19-20 tahun sebagai batasan usia remaja, dengan
pembagian fase remaja awal antara 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.
Kehidupan sosial pada jenjang remaja ditandai dengan menonjolnya
fungsi intelektual, emosional dan sosial. Remaja sangat membutuhkan dan
dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Ketika seorang remaja mengalami suatu
masalah hingga ia menutup hubungan sosialnya dengan lingkungannya hal ini
dinyatakan sebagai suatu krisis identitas (Erick Erickson,1982). Proses
pembentukan identitas diri dan konsep diri seseorang adalah suatu hal yang
3
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
tentang keberadaan dirinya tapi juga bagaimana orang lain percaya terhadap
keberadaan dirinya. Erickson menyimpulkan bahwa masa remaja adalah fase
dimana anak ingin menentukan jati dirinya dan penemuan jati diri ini dipengaruhi
oleh pengaruh sosiokultural.
Masa remaja sering juga disebut sebagai masa yang penuh gejolak.
Berbagai tuntutan di sekelilingnya dapat menimbulkan masalah bagi remaja, baik
secara pribadi maupun secara sosial. Bila remaja memiliki pertahanan diri yang
kuat maka ia dapat terhindar dari pengaruh yang tidak baik. Begitu juga
sebaliknya. Pertahanan diri ini dapat berupa rasa percaya diri yang positif atau
dengan kata lain remaja dapat merespon segala sesuatu secara positif. Keadaan
ini berawal dari kemampuan seseorang untuk memahami serta menilai dirinya
secara positif, atau menurut istilah yang lebih popular remaja memiliki konsep diri
yang baik atau positif.
Konsep diri merupakan inti dari kepribadian yang menjadi landasan bagi
terwujudnya perilaku remaja. Dengan kata lain cara remaja
berperilaku/berpenampilan akan banyak ditentukan oleh kualitas konsep dirinya.
Konsep diri merupakan konsep gambaran pandangan mengenai diri sendiri yang
bersumber dari suatu perangkat keyakinan dan sikap terhadap dirinya sendiri.
Setiap individu akan memiliki konsep diri dalam berbagai bentuk yang berlainan
yang akan menentukan perwujudan kualitas kepribadiannya. Konsep diri dapat
4
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
konsep diri yang positif sehingga mampu menampilkan kepribadian yang positif
pula.
Dalam perkembangannya konsep diri dipengaruhi oleh banyak hal.
Konsep diri terbentuk melalui proses belajar. Hal ini sesuai dengan yang
dikemukakan oleh Cooley (Calhoun & Acocella, 1995:77) bahwa konsep diri
seseorang akan menggunakan orang lain sebagai cermin dalam menunjukkan diri
yang sebenarnya atau dikenal sebagai diri yang tampak sebagai cermin. Pendapat
ini dikembangkan kembali oleh Mead (1995:77) yang mengungkapkan bahwa
diri ini berkembang melalui dua tahap yaitu internalisasi sikap orang lain
terhadap diri dan tahap selanjutnya adalah internalisasi norma masyarakat. Hal ini
didukung oleh Baldwin & Holmes (Calhoun & Acocella, 1995:79) yang
menyatakan bahwa konsep diri adalah ciptaan sosial, hasil belajar melalui
hubungan dengan orang lain.
Penulisan tesis ini menitikberatkan pada remaja di sekolah menengah
pertama terbuka (SMPT) berdasarkan anggapan bahwa SMPT merupakan sekolah
dimana siswanya pada umumnya berasal dari golongan menengah ke bawah baik
secara ekonomi dan sosial. Hal ini sesuai dengan Panduan Pelaksanaan
Penyelenggaraan SMP Terbuka yang dikeluarkan Direktorat Jenderal
Mandikdasmen Departemen Pendidikan Nasional Januari 2008 bahwa latar
belakang berdirinya SMP Terbuka adalah sebagai salah satu cara menjangkau
5
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
cukup besar dan kondisi sosial ekonominya lemah dan kenyataan di lapangan
bahwa 30% siswa SD/MI tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Kebijakan yang dikeluarkan Direktorat Pembinaan SMP untuk mengatasi
masalah di atas selain dengan mendirikan sekolah baru, mengoptimalkan daya
tampung SMP yang sudah ada, adalah dengan mendirikan SMP Terbuka baik
regular maupun mandiri.
Menurut Panduan Pelaksanaan Penyelenggaraan SMP Terbuka, sampai
dengan tahun 2008 ada 2.574 SMPT. Dalam periode 1998 sampai dengan 2008
ada 1.071 SMPT tutup atau berhenti beroperasi. Hal ini antara lain dikarenakan
kurangnya pembinaan dari instansi terkait. Selain itu dari segi kemampuan
akademik, pada umumnya siswa SMP Terbuka berada di bawah prestasi SMP
Reguler. Hal ini dapat dipahami karena rata-rata masukan siswa SMPT memang
lebih rendah daripada SMP Reguler.
Latar belakang siswa yang berasal dari golongan menengah ke bawah
menjadi salah satu faktor siswa menjadi minder, rendah diri dan tertutup atau
bahkan sebaliknya menjadi asosial dan berani melanggar peraturan dan bersikap
seenaknya. Hal ini dikarenakan siswa memiliki konsep diri yang negativ. Masalah
yang sering ditemui di SMP Terbuka melalui wawancara dengan kepala sekolah
dan guru kelas delapan pada tanggal 05 September 2011 antara lain :
1. Pada umumnya siswa bersikap tertutup, pendiam dan minder
2. Siswa cenderung cuek dan acuh tak acuh terhadap peraturan sekolah
6
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4. Kurangnya tata krama, dan etika sopan santun baik terhadap guru maupun
dengan sesama siswa (berkata kotor, kasar, membentak)
5. Banyak siswa yang masuk sekolah hanya saat menjelang ulangan, ujian dan
saat pemberian beasiswa dari sekolah
6. Peran dan dukungan orangtua sangat kurang, dan lainnya.
Permasalahan tersebut tentunya harus segera mendapatkan penanganan
yang menyeluruh. Penanganan yang menyeluruh tersebut dapat dilakukan oleh
berbagai pihak baik keluarga, sekolah maupun masyarakat. Sekolah sebagai
lembaga pendidikan berkewajiban membantu siswa dalam proses
perkembangannya. Dimana tujuan pendidikan antara lain menjadikan manusia
sebagai manusia yang baik.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang didalamnya melibatkan banyak
pihak yaitu peserta didik, pendidik, administrator, masyarakat dan orangtua
peserta didik. Karena itu untuk dapat mencapai tujuan pendidikan, semua pihak
harus berperan dan berpartisipasi secara aktif. Salah satu komponen penting
dalam penyelenggaraan pendidikan adalah bimbingan dan konseling.
Dengan adanya bimbingan dan konseling, berupa program layanan yang
mengarah pada pengembangan konsep diri diharapkan dapat membantu siswa
dalam mengenali dirinya, mampu mengarahkan dirinya secara tepat, dapat
mengembangkan segala potensi yang dimilikinya agar dapat berkembang secara
7
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Di samping program yang disusun secara komprehensif, adanya suatu
teknik atau strategi khusus yang digunakan seorang konselor juga sangat penting.
Karena dengan adanya teknik yang tepat, hasil yang didapat akan sesuai dengan
yang diharapkan.
Bimbingan kelompok adalah bimbingan yang dilaksanakan secara
kelompok terhadap sejumlah individu sekaligus. Hal ini dilaksanakan jika
masalah yang dihadapi mempunyai kesamaan atau saling memiliki hubungan,
serta mempunyai kesediaan untuk dilayani secara kelompok. Bimbingan
kelompok memungkinkan setiap anggota untuk berpartisipasi aktif dan berbagi
pengalaman dalam upaya untuk mencegah timbulnya masalah dan pengembangan
pribadinya. Bimbingan kelompok lebih bersifat efektif dan efisien karena
dilaksanakan sekaligus terhadap lebih dari seorang individu.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan dalam bimbingan kelompok
yaitu pemberian informasi, diskusi kelompok, pemecahan masalah, bermain
peran, simulasi, dan karyawisata. Dalam penelitian ini penulis menggunakan
metode permainan, diskusi kelompok serta pemberian informasi.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri sangat penting
dalam perkembangan kepribadian remaja. Dan salah satu cara untuk
mengembangkan/mengarahkannya adalah melalui layanan bimbingan kelompok
dengan teknik diskusi dan pemberian informasi Berdasar hal tersebut penulis
8
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Bimbingan Kelompok Untuk Mengembangkan Konsep Diri Siswa. Studi Kuasi
Eksperimen Terhadap Siswa SMP Terbuka Kota Serang”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat disimpulkan bahwa konsep
diri adalah hal yang sangat penting bagi remaja/siswa. Berdasarkan pra penelitian
berupa wawancara dengan guru dan kepala sekolah yang dilakukan, masih
banyak siswa kelas VIII yang memiliki konsep diri yang belum positif seperti
membolos saat jam belajar, berkelahi di sekolah, tidak mengerjakan tugas-tugas
dari guru, datang terlambat, berkata-kata kasar seperti membentak dan kata-kata
kotor, menipu, berbohong, rendah diri dan merasa tidak bisa bergaul, kurang
menghormati guru, dan sering melanggar tata tertib sekolah. Siswa belum
memiliki pemahaman yang baik dan positif tentang bagaimana berperilaku.
Sebagai upaya mengembangkan konsep diri siswa maka diupayakan melalui
bimbingan dan konseling. Masalah yang dihadapi oleh Guru Bimbingan dan
Konseling adalah bimbingan dan konseling yang bagaimana yang lebih efektif,
sehingga dapat diaplikasikan di sekolah. Untuk menemukan bimbingan dan
konseling yang efektif dan tepat maka penulis melakukan penelitian dengan
metode bimbingan kelompok dengan teknik diskusi, permainan, klasikal, serta
sosiodrama. Agar penelitian lebih terarah maka disusun rumusan masalahnya
yaitu: “Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Untuk Mengembangkan
Konsep Diri Siswa ”. Mengacu pada rumusan masalah tersebut, penjabarannya
9
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 1. Bagaimana gambaran konsep diri siswa SMP Terbuka?
2. Bagaimanakah rumusan program bimbingan kelompok yang dapat
meningkatkan konsep diri siswa?
3. Bagaimana efektivitas bimbingan kelompok untuk mengembangkan konsep
diri siswa SMP Terbuka?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan secara umum adalah mengetahui efektivitas bimbingan kelompok
untuk mengembangkan konsep diri siswa di SMP Terbuka.
Tujuan khusus penulisan tesis ini adalah :
1. Mengetahui konsep diri siswa SMP Terbuka
2. Rancangan program bimbingan kelompok yang dapat meningkatkan konsep
diri siswa.
3. Efektivitas bimbingan kelompok untuk meningkatkan konsep diri siswa
SMP Terbuka
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoretis : memberikan sumbangan secara ilmiah bagi pengembangan
dunia pendidikan pada umumnya dan bagi bimbingan konseling di SMP
khususnya SMP Terbuka.
2. Manfaat praktis : sebagai masukan bagi guru-guru bimbingan dan konseling,
sebagai masukan bagi siswa, dan bagi peneliti diharapkan mampu menambah
wawasan dalam pengembangkan program bimbingan konseling di sekolah.
10
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Penelitian ini mempunyai asumsi sebagai berikut:
1. Siswa kelas VIII SMP berada pada fase remaja yang ditandai dengan
menonjolnya fungsi intelektual, sosial dan emosional sehingga membutuhkan
perhatian dan pengakuan dari kelompoknya (Erick Erickson, 1982).
2. Bimbingan kelompok dimaksudkan sebagai arahan bagi siswa berperilaku dan
mencegah berkembangnya masalah atau kesulitan pada siswa (Rochman,
1987:32).
3. Dalam bimbingan kelompok siswa didorong untuk berpartisipasi aktif sehingga
meningkatkan kepercayaan dirinya (Nandang, 2009:14).
4. Bimbingan kelompok bersifat memberi kemudahan dalam pertumbuhan dan
perkembangan individu, mendorong individu mengoptimalkan perilaku positif
dan perwujudan dirinya (Gazda et al, 1967).
5. Perilaku positif individu sebagai perwujudan konsep diri positif. Konsep diri
merupakan inti dari pola perkembangan kepribadian individu (Hurlock,
1990:238).
6. Konsep diri berperan sentral dalam tingkah laku manusia, bahwa semakin
besar kesesuaian antara konsep diri dan realitas semakin meningkatkan
penerimaan dirinya (Rogers, 1993:353).
F. Hipotesis Penelitian
Bimbingan kelompok cukup efektif untuk meningkatkan konsep diri siswa
atau dengan kata lain bimbingan kelompok memiliki pengaruh yang signifikan
11
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu G. Metode Penelitian
1. Pendekatan penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui keefektifan bimbingan
kelompok untuk meningkatkan konsep diri siswa. Pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan kuantitatif, dimana teknik pengumpulan data menggunakan
instrumen penelitian, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan.
2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah quasi eksperimental research/penelitian
eksperimental semu. Quasi eksperimen adalah bentuk pengembangan dari true
eksperiment. Menurut Sugiyono (2010:14) desain ini mempunyai kelompok
kontrol, tapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel
luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Eksperimen dilakukan untuk
melihat perkembangan konsep diri siswa. Pengujian dilakukan sebelum siswa
diberikan treatment (perlakuan) melalui bimbingan kelompok dengan pre test
berupa instrumen, kemudian setelah dilakukan bimbingan dengan tekhnik
bimbingan kelompok, diadakan pengujian kembali dengan melakukan pasca test.
Hasil perlakuan diharapkan dapat lebih akurat, karena dapat membandingkan
dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.
Dalam desain ini, peserta penelitian adalah tidak dipilih secara acak untuk
menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, setiap peserta kelompok
12
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Pre test Treatment Posttest
Kelompok eksperimen O1 X O2
Desain penelitian dipilih seluruh siswa kelas VIII. Sebelum bimbingan
kelompok dilakukan, siswa diminta untuk mengisi instrument konsep diri agar
didapat gambaran konsep diri siswa. Instrumen konsep diri dianalisis, hasilnya
untuk mengetahui kebutuhan siswa yang dijadikan tujuan, diberikannya layanan
bimbingan kelompok. Setelah program dibuat, maka siswa diberi
perlakuan/treatment melalui strategi bimbingan kelompok. Setelah pemberian
perlakuan, maka dilakukan pasca test untuk mengetahui seberapa besar peranan
bimbingan kelompok dalam mengembangkan konsep diri siswa.
H. Lokasi dan Subyek Penelitian
Lokasi penelitian di SMPN Terbuka 13 (SMPN Terbuka Lukmanul
Hakim) Kota Serang, Jalan Lontar Baru Serang. SMPN Terbuka 13 menginduk
langsung ke SMPN 13, sedangkan kegiatan pembelajaran sehari-hari berlangsung
di Mushola Kampus UPI Kaujon Serang yaitu siang hari dari pukul 13.00 WIB
sampai dengan pukul 17.00 WIB.
Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII (delapan) yang berjumlah
kurang lebih 23 siswa. Adapun alasan ditunjuknya siswa kelas VIII sebagai
sampel karena siswa kelas IX (sembilan) sedang disibukan dengan persiapan
53
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan penelitian
dalam rangka penyusunan tesis. Bab ini membahas tentang metode dan desain
penelitian , prosedur penelitian, lokasi dan subyek penelitian, definisi operasional
variabel, pengembangan instrument penelitian dan prosedur pengolahan data.
A.Metode dan Desain Penelitian
Proses suatu penelitian ilmiah dimulai dari perencanaan, pengumpulan
data dan pengolahan data yang harus diputuskan secara tepat dalam bentuk
metode penelitian yang sesuai. Ketepatan dimaksudkan mengenai relevansi antara
metode penelitian yang digunakan dengan masalah yang diteliti, sehingga
penelitian akan berjalan efektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena tujuan
akhir penelitian adalah memecahkan masalah dan menghasilkan kesimpulan yang
sebenarnya serta tidak diragukan lagi. Hal cukup penting bagi seorang peneliti
adalah menggunakan metode yang tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian yang
ingin dicapai. Dengan penggunaan metode penelitian yang tepat dan sesuai
diharapkan penelitian dapat berjalan dengan baik, terarah dan sistematis.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Borg menjelaskan bahwa
eksperimen adalah salah satu metode penelitian kuantitatif yang membuktikan
hubungan sebab akibat antara dua atau lebih variabel. Lebih lanjut dikutip sebagai
54
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
The experiment is one of the quantitative research method for establishing cause and effect relationship between two or more variables (Borg,2003;365).
Tidak berbeda jauh dengan yang dijelaskan oleh Nana (2004:232) bahwa
penelitian eksperimen mengukur pengaruh satu atau beberapa variabel terhadap
variabel yang lain. Dalam penelitian ini yang akan diukur adalah apakah variabel
bimbingan kelompok memiliki pengaruh terhadap peningkatan konsep diri siswa.
Sedangkan desain yang digunakan menggunakan one group pretest posttest
design dengan tiga langkah sebagai berikut :
a.Administration of a pretest measuring the dependet variable
b.Implementation of the experimental treatment (independent variable) for participants, and;
c.Administration of a posttest that measures the dependent variable again.
The effects of the experimental treatment are determined by comparing the pretest and posttest scores. (Borg,2003; 389)
Borg menjelaskan bahwa langkah awal yang dilakukan adalah melakukan pretest
untuk mengukur variabel terikat, dalam penelitian ini yaitu konsep diri. Langkah
selanjutnya adalah melakukan tindakan/perlakuan terhadap subyek penelitian
sesuai dengan hasil pretest yang didapatkan. Tindakan yang dilakukan berupa
metode diskusi kelompok yang dalam penelitian ini merupakan variabel bebas.
Langkah yang terakhir adalah melakukan posttest terhadap subyek penelitian.
Sedangkan hasil dari metode eksperimen adalah perbandingan antara hasil pretest
dan postest yang diperoleh. Apakah dengan adanya tindakan/perlakuan terhadap
55
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dengan kata lain apakah dengan digunakannya metode diskusi kelompok dapat
meningkatkan konsep diri siswa.
B. Prosedur Penelitian
Prosedur merupakan tata cara yang dilakukan dalam melakukan penelitian.
Adapun prosedur kegiatan penelitian yang dilakukan adalah.
1. Tahap Persiapan
Persiapan merupakan tahap awal dari penelitian, oleh karena itu harus ada
persiapan yang matang sehingga penelitian berjalan dengan lancar. Adapun tahap
persiapan yang dilakukan adalah:
a. Melakukan penjajagan terhadap subjek dan lokasi penelitian untuk
memperoleh data awal sehingga mendapat gambaran yang lengkap dan jelas
mengenai masalah yang akan diteliti.
b. Melakukan pendalaman materi bacaan yang berhubungan dengan masalah
penelitian.
c. Penyusunan desain penelitian.
d. Penyusunan kisi-kisi dan instrumen penelitian.
e. Mengajukan permohonan izin penelitian kepada Direktur Pascasarjana UPI
untuk melakukan penelitian di SMP Terbuka 13 Kota Serang.
f. Menghubungi Kepala SMP Terbuka 13 Kota Serang.dengan memberikan surat
izin penelitian dari Direktur Pascasarjana UPI untuk melakukan penelitian di
56
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
g. Penyempurnaan instrumen jika diperlukan setelah diujicobakan. Dalam hal ini
instrumen yang akan digunakan dinilai oleh dua orang tim penilai ahli dan
berkompeten di bidangnya meliputi substansi, struktur bahasa dan isi. Setelah
disetujui, instrument tersebut diujicobakan kepada responden yaitu siswa kelas
VIII SMPN Satap Curug Kota Serang. Selanjutnya dilakukan uji validitas dan
reliabilitasnya. Hanya instrumen hasil uji coba yang valid dan reliabel yang
akan digunakan dalam pretest bagi subyek penelitian yang sesungguhnya.
2. Tahap Pelaksanaan
Setelah persiapan cukup, penelitian dilaksanakan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Setelah terpilih subjek penelitian, diberikan pretest.
b. Melaksanakan bimbingan kelompok dengan metode diskusi kelompok.
Pelaksanaan oleh guru Bimbingan dan Konseling didampingi oleh peneliti dan
dilakukan sesuai jadwal pelajaran bimbingan dan konseling di SMP Terbuka
13 Kota Serang yaitu pada setiap hari Kamis pukul 13.00 WIB dan ditambah
pada hari Sabtu pukul 16.00 WIB.
c. Melakukan posttest.
d. Mengumpulkan dan mengolah data.
e. Membuat kesimpulan.
f. Merekomendasikan hasil temuan penelitian kepada pihak yang berkepentingan
57
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Bagan 3.1 Alur Penelitian
Studi Pendahuluan
Perumusan Masalah
Studi Literatur Konsep Diri dan Layanan Bimbingan Kelompok
Penyusunan Instrumen konsep diri siswa
Penyusunan Rencana layanan bimbingan
Validasi, uji coba, revisi
Test awal / Pretest
Layanan bimbingan kelompok
Test akhir / Postest
Pengolahan dan analisa data
Pembahasan
58
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu C. Lokasi dan Subyek Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian bertempat di SMP Terbuka 13 Kota Serang, jalan
Batokbali, depan Kampus UPI Serang. SMP Terbuka dianggap layak untuk
dijadikan tempat penelitian karena belum memiliki program kegiatan yang khusus
dilaksanakan untuk mengembangkan konsep diri. Selain itu berdasar hasil
observasi beberapa fakta menunjukan adanya pelanggaran dilakukan siswa yang
mengarah pada konsep diri yang negative diantaranya banyak siswa yang
membolos, sering berkata-kata kasar, dan cenderung acuh/tidak peduli terhadap
peraturan yang ditetapkan di sekolah.
2. Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini subyek penelitian meliputi populasi siswa kelas VIII
SMPN Terbuka 13 Kota Serang sebanyak 23 orang. Populasi dikutip dari
Sugiyono (2006:90) adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek
yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
59
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
(2002:6) menyatakan bahwa populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin,
hasil menghitung ataupun pengukuran mengenai karakteristik tertentu dari semua
anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Jadi
disimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan subyek yang memiliki
karakteristik tertentu untuk dipelajari dan diambil kesimpulannya.
D. Variabel Penelitian.
Variabel menurut Sugiyono (2006:37) diartikan sebagai atribut seseorang
atau obyek yang memiliki variasi antara satu orang dengan yang lain, atau satu
obyek dengan obyek yang lain. Adapun variabel dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel Bebas (x)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang diteliti
pengaruhnya. Atau bisa dikatakan bahwa variabel bebas adalah variabel yang
menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Dalam penelitian ini
variabel bebas adalah metode diskusi kelompok.
2. Variabel Terikat (y)
Berupa variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya
variabel bebas (x) dalam penelitian ini adalah konsep diri siswa. Hubungan antar
variabel dapat dijelaskan sebagai berikut :
Metode bimbingan kelompok (x)
60
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Variabel Bebas Variabel Terikat
Gambar 3.2: Hubungan antar variabel
3. Definisi Operasional Variabel a. Konsep Diri
Konsep diri menurut Burns (1978:3), adalah suatu gambaran campuran dari
apa yang kita pikirkan tentang bagaimana orang-orang lain berpendapat mengenai
diri kita dan harapan kita terhadap diri kita. Brooks (Burns, 1978:40)
mendefinisikan konsep diri sebagai pandangan dari perasaan kita tentang diri kita,
sebagai ‘those physical, social and psychological perceptions of ourselves that we
have derived from experiences and our interaction with others’. Persepsi terhadap
diri ini boleh bersifat psikologi, sosial dan fisik yang diperoleh dari berbagai
pengalaman dan hasil interaksinya dengan orang lain. Rogers (Nelson dan
Jones,2006:141) menyatakan bahwa konsep diri adalah persepsi terhadap diri kita.
Konsep diri adalah diri seperti yang dipersepsi dan nilai-nilai yang dilekatkan
pada persepsi tersebut. Konsep diri berperan sentral dalam tingkah laku manusia.
Bahwa semakin besar kesesuaian antara konsep diri dan realitas akan semakin
meningkatkan penerimaan terhadap dirinya sendiri.
Dari berbagai pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa konsep diri
adalah inti dari pola kepribadian seseorang, berupa gambaran pikiran tentang
61
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
harapannya terhadap dirinya. Persepsi terhadap diri ini terus berkembang, bersifat
psikologi, sosial dan fisik yang diperoleh dari berbagai pengalaman dan hasil
interaksinya dengan orang lain dan akan mempengaruhi berbagai bentuk perilaku
individu.
Setiap individu akan bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan
konsep dirinya. Jika konsep diri yang dimiliki positif, maka individu akan
mengembangkan sikap yang juga positif dan sebaliknya.
b. Metode Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada
individu melalui suasana kelompok yang memungkinkan setiap anggota untuk
belajar berpartisipasi aktif dan berbagi pengalaman dalam upaya pengembangan
wawasan, sikap, dan atau ketrampilan yang diperlukan dalam upaya mencegah
timbulnya masalah atau mengembangkan pribadi (Nandang, 2009:13). Bimbingan
kelompok menggunakan situasi kelompok sebagai media dalam memberikan
layanan bantuan kepada individu. Menurut Gazda (Prayitno dan Amti, 1999:309)
bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada
sekelompok siswa untuk membantu siswa menyusun rencana dan keputusan yang
tepat. Pengertian ini menekankan pada kegiatan pemberian informasi dalam
suasana kelompok dan adanya penyusunan rencana untuk mengambil keputusan.
Menurut Prayitno (1995:61) bahwa bimbingan kelompok adalah memanfaatkan
dinamika kelompok. Untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingan dan konseling,
bimbingan kelompok kebih menekankan suatu upaya bimbingan kepada individu
62
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu E. Pengembangan Instrumen Penelitian
1. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian sangat diperlukan karena dipergunakan untuk
mengumpulkan informasi atau keterangan-keterangan tentang obyek penelitian.
Instrumen yang dikembangkan bertujuan untuk mengukur konsep diri siswa
sebelum dan setelah dilakukan treatment berupa bimbingan kelompok. Indikator
dari setiap aspek yang ada dalam konsep diri dijadikan bahan penyusunan
butir-butir pernyataan dalam angket. Kisi-kisi instrumen konsep diri yang digunakan
dalam penelitian ini sebagai berikut :
Tabel 3.1.
Kisi-Kisi Instrumen Konsep Diri Siswa (Sebelum Uji Coba)
Mampu menerima dirinya
(penampilan fisiknya) apa adanya
Mampu menjaga kesehatan /kondisi
tubuhnya sendiri
diri sendiri (memiliki kematangan
63
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 3
.
Moral Memiliki keyakinan terhadap
moral, nilai nilai prinsip yang
dengan sesama anggota keluarga
Memiliki hubungan yang baik
dengan sesama anggota
masyarakat
Mampu melakukan tugas di
sekolah
Memiliki hubungan yang baik
dengan teman sebaya dan guru
32, 33,34,
2. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan cara-cara atau langkah-langkah yang
ditempuh untuk memperoleh data dalam usaha pemecahan masalah penelitian.
Dalam pengumpulan data digunakan teknik-teknik tertentu sehingga data yang
diharapkan dapat terkumpul dan benar-benar relevan dengan permasalah yang
akan dipecahkan.
Penelitian ini menggunakan tiga macam cara pengumpulan data yaitu
observasi, angket dan wawancara. Angket (kuesioner) sebagai salah satu teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaaan
64
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
memberikan alternatif jawaban dengan lima skala dari 1 sampai dengan 5.
Pilihan jawaban tertinggi adalah SS (Sangat Setuju) dengan nilai 5, kemudian S
(Setuju) dengan nilai 4 dan seterusnya adalah RR (Ragu Ragu), KS (Kurang
Setuju) dan STS (Sangat Tidak Setuju). Setiap pernyataan dijawab dengan
disesuaikan pada kesan, perasaan, ataupun penilaian subyek terhadap dirinya
sendiri. Butir pernyataan dibuat positif untuk menghindari kerancuan jawaban
responden.
Tabel 3.3.
Kriteria Penilaian (Skor) Alternatif Jawaban Untuk Setiap Item
No Option Skor
Adapun metode pengumpulan data secara lengkap dapat dilihat pada tabel
3.3 di bawah ini :
Pretest dan postes Angket
2 Siswa dan Guru Aktifitas keseharian
65
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Dari aspek yang ada dalam konsep diri meliputi aspek fisik, psikis, moral dan
social disusun indikator-indikator yang kemudian dikembangkan menjadi
butir-butir pernyataan/instrumen. Instrumen yang ada dinilai oleh ahli uji instrumen
dalam hal ini adalah para dosen yang kompeten di bidangnya. Instrumen yang
telah dinilai dan disetujui dalam segi konstruk, isi dan bahasa akan digunakan
untuk uji coba. Adapun uji coba yang dilakukan meliputi uji validitas dan
reliabilitas. Proses yang dilakukan bagi keperluan analisa data sebagai berikut:
a. Uji Instrumen Penelitian
Ukuran bagi memadai atau tidaknya instrumen sebagai alat pengumpul data dan
sebagai alat pengukur variabel penelitian harus memenuhi syarat utama adalah
syarat validitas atau keshahihan dan syarat reliabilitas atau keajegan. Seperti yang
dijelaskan oleh Nana (2004:250) sebagai berikut :
Suatu instrumen dikatakan valid atau memiliki validitas bila instrumen tersebut benar-benar mengukur aspek atau segi yang akan diukur. Sedangkan suatu instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang memadai bila instrumen tersebut digunakan mengukur aspek yang diukur beberapa kali hasilnya sama/ajeg.
Item yang digunakan sebanyak 50 butir pernyataan diujicobakan kepada
siswa kelas VIII SMP Satu Atap Curug, Kota Serang. Item ini kemudian diuji
validitas dan reliabilitasnya.
1) Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk menentukan tingkat kelayakan instrumen yang
akan digunakan dalam penelitian. Sugiyono (2006:137) menjelaskan maksud
66
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat.
Validitas butir instrumen digunakan untuk mengetahui dukungan suatu butir
instrumen observasi terhadap skor total. Untuk menguji validitas setiap butir
instrumen, skor-skor yang ada pada butir soal yang dimaksud dikorelasikan
dengan skor total. Adapun rumus yang digunakan adalah rumus korelasi product
moment sebagai berikut:
∑ ∑ ∑
√{ ∑ ∑ }{ ∑ ∑ }
Keterangan:
= koefisien korelasi antara variabel X (jawaban responden untuk item yang
akan dicari validitasnya) dan variabel Y (skor total yang dicapai)
= banyaknya sampel
∑ = jumlah variabel item soal tertentu
∑ = jumlah variabel keseluruhan
∑ = jumlah variabel item soal dan jumlah keseluruhan
Berdasarkan ujicoba instrumen yang sudah dilakukan terhadap 50 butir
pernyataan dan dianalisa menggunakan rumus product moment maka didapatkan
10 pernyataan yang tidak valid yaitu pada nomor 1, 3, 5, 6, 9, 10, 11, 25, 37 dan
47. Butir pernyataan yang tidak valid tidak digunakan sebagai instrumen
67
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
mewakili. Dengan demikian maka item yang digunakan dalam penelitian ini
berjumlah 40 pernyataan. Untuk lebih jelasnya data pernyataan yang valid dapat
dilihat pada tabel 3.4.
Tabel 3.4.
Hasil Uji Coba Validitas Instrumen Konsep Diri Siswa
No butir pernyataan
‘t hitung ‘ t tabel Keputusan Hitungan validitas
1 0.164 0.404 Tidak Valid
2 0.574 0.404 Valid
3 0.319 0.404 Tidak Valid
4 0.458 0.404 Valid
5 0.276 0.404 Tidak Valid Setelah ditabulasikan
6 0.343 0.404 Tidak Valid menggunakan rumus
7 0.458 0.404 Valid Product moment
8 0.465 0.404 Valid maka kaidah keputusan
9 0.046 0.404 Tidak Valid adalah :
10 0.118 0.404 Tidak Valid Jika ‘t hitung > ‘t tabel,
11 0.276 0.404 Tidak Valid berarti VALID
12 0.594 0.404 Valid Jika ‘t hitung < ‘t tabel,
13 0.539 0.404 Valid Berarti TIDAK VALID
14 0.626 0.404 Valid
‘t hitung ‘ t tabel Keputusan No butir pernyataan
68
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
33 0.562 0.404 Valid
dalam penelitian. Dalam uji reliabilitas ini hanya digunakan instrument yang
terbukti valid saja, yaitu sebanyak 40 butir instrumen. Untuk itu peneliti
menggunakan rumus alpha Cronbach sebagai berikut :
rkk =
Adapun variansi skor total dan jumlah varians butir soal didapat sebagai berikut :
Tabel 3.5.
Hasil Uji Coba Reliabilitas Instrumen Konsep Diri Siswa
No butir pernyataan
69
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2 0.799 1 150
Harga – harga yang diperlukan
70
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu St2 = 455.8615
Arikunto (1997: 260) memberikan kategori tingkat reliabilitas sebagai
berikut:
Jadi dapat disimpulkan bahwa reliabilitas instrumen konsep diri adalah 0.9421
yang berarti cukup tinggi. Karena berdasarkan uji coba instrumen ini dinyatakan
cukup valid dan reliabel seluruh butirnya, maka instrumen dapat digunakan untuk
pengukuran dalam rangka pengumpulan data.
Tabel 3.6.
71
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu (Setelah Uji Coba)
Mampu menerima dirinya
(penampilan fisiknya) apa adanya
Mampu menjaga kesehatan /kondisi
tubuhnya sendiri
diri sendiri (memiliki kematangan
emosi) terhadap pikiran,
dengan sesama anggota keluarga
Memiliki hubungan yang baik
dengan sesama anggota
masyarakat
Mampu melakukan tugas di
sekolah
Memiliki hubungan yang baik
dengan teman sebaya dan guru
72
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 3) Pengelompokkan Konsep Diri Siswa
Berdasarkan hasil pretest, siswa dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu
tinggi, sedang dan rendah. Rakhmat dan Solehuddin (1988) mengelompokkan
tiga kategori dengan menggunakan rumus:
Tinggi : > Mean + Standard Deviasi (0,5).
Sedang : Mean - Standard Deviasi (0,5) sampai Mean + Standard Deviasi (0,5).
Rendah : < Mean - Standard Deviasi (0,5).
F. Rencana Pengembangan Program
Perencanaan dan pengembangan program perlu dipertimbangkan hal-hal
sebagai berikut yaitu karakteristik siswa serta kebutuhan bimbingan dan
konseling, dasar dan tujuan lembaga pendidikan tersebut, kemampuan
lembaga menyediakan dana dan fasilitas yang diperlukan, lingkup sasaran dan
prioritas kegiatan, jenis kegiatan serta layanan yang menjadi prioritas serta
ketersediaan tenaga profesional untuk melaksanakan kegiatan bimbingan dan
konseling (Nurikhsan, 2005:40).
Karakteristik serta kebutuhan siswa menjadi hal utama yang harus
diperhitungkan. Berdasar hal tersebut perencanaan program dalam penelitian
ini didasarkan atas analisa kebutuhan siswa, berdasarkan profil konsep diri
yang diukur menggunakan 40 butir instrumen yang telah diuji validitas dan
reliabilitasnya. Tahapan rencana pengembangan program yang disusun adalah
73
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
1. Melakukan pretest terhadap 23 siswa menggunakan instrumen konsep diri
yang telah valid dan reliable.
2. Hasil pretest yang diperoleh dianalisa untuk mengetahui analisa kebutuhan
bimbingan baik secara individu maupun kelompok.
3. Berdasar analisa pretest siswa disusun rumusan program hipotetik untuk
mengembangkan konsep diri siswa. Landasan pengembangan program
disusun berdasar hasil analisa kebutuhan konsep diri siswa yang memiliki
kategori terendah seperti ditunjukan dalam tabel 3.7 di bawah ini.
Tabel 3.7
Aspek Indikator Penelitian dan Hasil rata-Rata Nilai Pretest
No. Aspek Indikator Mean
Rangking Rendah ke
Tinggi
1 Fisik
1. Mampu menerima dirinya apa
adanya
2. Memiliki pandangan positif 3.62 3
3 Moral Keyakinan terhadap moral 3.73 4
1. Hubungan baik dengan keluarga 3.85 7
2. Hubungan baik dengan
Adapun rumusan program hipotetik untuk mengembangkan konsep diri
siswa berdasar rambu-rambu penyelenggaraan bimbingan dan konseling
74
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Pendidik dan Kependidikan Depdiknas memiliki struktur program yang
memuat rasional, visi misi, deskripsi kebutuhan, tujuan program, komponen,
materi, pelaksanaan, rencana operasional dan evaluasi program. Penjabaran
struktur program adalah sebagai berikut :
1. Rasional berupa penjelasan tentang dasar teori serta dasar empiris sebagai
need assessment pembuatan program bimbingan kelompok untuk
mengembangkan konsep diri siswa.
2. Visi dan Misi menjelaskan tentang visi misi sekolah serta visi misi
program bimbingan kelompok.
3. Deskripsi Kebutuhan berupa penjelasan tentang pencapaian konsep diri
siswa, sebagai dasar pembuatan satuan layanan bimbingan kelompok.
Rumusan hasil needs assessment (penilaian kebutuhan) siswa
diaplikasikan ke dalam rumusan perilaku-perilaku yang diharapkan
dikuasai siswa.
4. Tujuan Program adalah rumusan tujuan yang akan dicapai dalam bentuk
perilaku yang harus dikuasai oleh siswa setelah memperoleh layanan
bimbingan kelompok. Selain itu penyadaran dilakukan untuk membangun
pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap perilaku yang harus
dipelajari dan dikuasai. Pada akhirnya adalah proses tindakan yaitu
mendorong siswa untuk mewujudkan perilaku yang harus dikuasai dalam
75
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
5. Komponen Program adalah penjelasan tentang empat komponen layanan
yaitu layanan dasar, responsif, perencanaan individual serta dukungan
sistem.
6. Materi Program berupa penjelasan tentang rencana materi yang akan
disampaikan sesuai dengan deskripsi kebutuhan yang telah dibuat.
7. Pelaksana Program adalah pihak-pihak yang turut terlibat dalam
penelitian.
8. Rencana Operasional Bimbingan Kelompok diperlukan untuk menjamin
layanan program bimbingan kelompok dapat berjalan efektif dan efisien.
Rencana program adalah uraian detil program yang menggambarkan
struktur isi program.
9. Evaluasi program diperlukan untuk memperoleh umpan balik terhadap
keefektivan layanan bimbingan yang telah dilaksanakan. Melalui evaluasi
dapat diketahui tingkat keberhasilan layanan yang dilakukan serta
ditetapkan langkah-langkah tindak lanjut untuk memperbaiki dan
mengembangkan program selanjutnya. Adapun aspek yang dievaluasi
meliputi aspek proses dan hasil layanan berupa (1) kesesuaian antara
program dan pelaksanaan, (2) keterlaksanaan program, (3) kendala yang
dihadapi, (4) respon siswa terhadap layanan bimbingan, (5) perubahan
kemajuan siswa ditinjau dari pencapaian tujuan layanan bimbingan
kelompok.
Perumusan program bimbingan kelompok yang efektif dapat diketahui
76
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
praktisi bidang bimbingan dan konseling dalam hal ini adalah Prof. Dr.
Syamsu Yusuf, M.Pd, Dr. Ipah Sarpah M.Pd serta Dra. Ida Farida M.Pd.
Validasi dilakukan untuk mengetahui ketepatan isi program dengan tujuan
penelitian, sistematika perumusan program serta bahasa/redaksional program.
Selain itu validasi juga dilakukan untuk mengetahui keefektivan layanan yang
diberikan.
Penimbang dimohon untuk memeriksa dan memberikan masukan bagi
perbaikan program sebelum diujikan ke lapangan. Berdasarkan hasil
pertimbangan tersebut, diperoleh program yang layak diujicobakan.
Hasil validasi program bimbingan kelompok berupa perbaikan substansi
maupun redaksional, diantaranya aspek rasional agar dibuat menjadi lebih
ringkas, visi dan misi dihilangkan, pembuatan action plan serta evaluasi
program agar lebih spesifik. Program yang telah divalidasi diujicobakan
kepada siswa berdasarkan analisa kebutuhan siswa. Tabel 3.8 memuat
rancangan materi layanan yang diberikan pada siswa sebagai berikut.
Tabel 3.8
Materi Layanan berdasar Analisa Kebutuhan Siswa
No. Aspek/Indikator
77
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
terhadap moral 7. Beribadah dengan baik
4 Sosial/Hubungan baik
dengan guru dan teman
5 3.8 8. Komunikasi dan
hubungan antar pribadi
Deskripsi implementasi program bimbingan kelompok dilaksanakan
melalui delapan pertemuan tatap muka dengan metode klasikal, permainan,
diskusi, menulis serta pemutaran video yang menunjang pengembangan
konsep diri siswa.Pemberian layanan bimbingan kelompok dilaksanakan pada
bulan November dan Desember 2012 sebanyak delapan kali pertemuan,
dengan jadwal sebagai berikut.
Tabel 3.9.
Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok
No Tanggal Materi Layanan
1 14 Oktober 2012 Pretest
2 22 November 2012 Pengertian konsep diri
3 24 November 2012 Pemahaman diri
4 29 November 2012 Bersikap percaya diri
No Tanggal Materi Layanan
5 1 Desember 2012 Bersikap optimis
6 6 Desember 2012 Etika pergaulan remaja
7 8 Desember 2012 Beribadah dengan baik
8 17 Desember 2012 Komunikasi dan hubungan antar pribadi
9 20 Desember 2012 Menjadikan diri pribadi berkonsep diri positif
10 21 Desember 2012 Posttest
Penjelasan secara operasional tentang kegiatan layanan bimbingan kelompok
yang dituangkan dalam Satuan Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling
121
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan pada bab sebelumnya,
maka kesimpulan dan rekomendasi diuraikan sebagai berikut:
A. Kesimpulan
Berdasar hasil penelitian dan analisa data maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Profil Konsep Diri Siswa
Hasil analisa data awal menunjukkan bahwa dari 23 siswa kelas VIII SMPT
13 Kota Serang yang dijadikan responden penelitian, sebanyak 1 orang memiliki
konsep diri sangat tinggi, 2 orang berkonsep diri tinggi, 10 orang sedang, 9 orang
rendah dan 1 orang sangat rendah. Responden dengan konsep diri rendah dan
sangat rendah seluruhnya berjumlah 10 orang mendapat layanan bimbingan
kelompok dengan metode diskusi. Dari hasil pretest maka 3 indikator mendapat
nilai terendah yaitu pada aspek fisik (indikator mampu menerima diri apa adanya),
aspek psikis (indikator memiliki sikap positif dan memiliki pandangan positif).
Berdasar hasil pretest maka disusunlah program bimbingan dan konseling yang
sesuai dengan kebutuhan siswa.
2. Program Bimbingan Kelompok
Fokus penyusunan program diutamakan pada upaya mengatasi masalah
konsep diri siswa yang rendah, untuk selanjutnya sebagai upaya pencegahan,
penyaluran dan pengembangan. Setelah mendapat layanan berupa bimbingan
122
Nining Fitriyaningsih, 2013
Efektivitas Program Bimbingan Kelompok Dalam Mengembangkan Konsep Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMPT Kota Serang)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
indikator penerimaan terhadap diri sendiri yang semula 3.1 menjadi 3.75 setelah
mendapat layanan. Untuk indikator memiliki sikap positif semula 3.53 menjadi
3.93. Sedangkan indikator memiliki pandangan positif semula 3.62 meningkat
menjadi 4.27 setelah mendapat bimbingan kelompok. Sedangkan bagi siswa yang
mendapat layanan, hasil konsep diri yang semula rendah dan sangat rendah dapat
meningkat menjadi “sedang” setelah layanan.
Dari hasil uji tes Wilcoxon dengan tingkat signifikan 0.05 untuk indikator 1
adalah 0.016, indikator 2 adalah 0.014 dan indikator 3 adalah 0.042. Hasil yang
didapat < 0.05 yang berarti Ho ditolak. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan
yang signifikan pada konsep diri siswa setelah adanya layanan bimbingan
kelompok. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode bimbingan
kelompok cukup efektif dalam mengembangkan konsep diri siswa.
B. Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka rekomendasi yang disampaikan adalah
sebagai berikut :
1. Bagi Kepala Sekolah
Kepala Sekolah diharapkan dapat memberikan dukungan secara penuh bagi
terselenggaranya layanan bimbingan kelompok di SMPT 13 Kota Serang.
Sehingga proses penyelenggaraan bimbingan kelompok dapat berlangsung
efektif, berdayaguna, dan berkontribusi secara nyata dalam upaya
pengembangan diri siswa pada umumnya, dan peningkatan konsep diri siswa