• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh bersyukur pada kesepian perantau luar kota dewasa awal.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh bersyukur pada kesepian perantau luar kota dewasa awal."

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH BERSYUKUR PADA KESEPIAN PERANTAU LUAR KOTA DEWASA AWAL

Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Gerardus Mayella Abdi Pangeran

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bersyukur pada kesepian perantau luar kota dewasa awal. Subjek penelitian ini adalah dewasa awal dengan kriteria seorang yang merantau ke luar kota, berusia sekitar 18 tahun sampai 40 tahun, dan belum menikah. Metode penelitian ini adalah survei dengan skala bersyukur dan kesepian yang dibuat oleh peneliti. Subjek penelitian sebanyak 172 orang terdiri dari 45 laki-laki dan 127 perempuan. Hasil uji regresi mendapat t hitung > t tabel (5,553 > 1,65387). Hal tersebut menunjukkan bahwa bersyukur memiliki pengaruh negatif pada kesepian perantau luar kota dewasa awal.

(2)

THE EFFECT OF GRATITUDE ON THE LONELINESS OF EARLY ADULTS WHO MOVE OUT TO OTHER TOWN

Psychology Faculty of Sanata Dharma University Gerardus Mayella Abdi Pangeran

ABSTRACT

This study aimed to measured the effect on gratitude with loneliness in early adult who move out to other town. The subject in this study is in early adulthood, moving out to other town, and single. The method in this study is survey which using a gratitude and loneliness scale created by the researcher. The subject in this study were 172 early adults who consist of 45 male and 127 female. linear regression test show that t arithmetic > t table (5,553 > 1,65387). The result show that there is a effect on gratitude to loneliness in early adults who moving out to other towns.

(3)

PENGARUH BERSYUKUR PADA KESEPIAN PERANTAU

LUAR KOTA DEWASA AWAL

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh:

Gerardus Mayella Abdi Pangeran 109114061

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(4)
(5)
(6)

iv

HALAMAN MOTTO

“Kerja Keras Mengalahkan Bakat”

-Anonymous-

“If you realize that you have enough, you are truly rich”

(7)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini Saya Persembahkan untuk:

Untuk Orang Tua yang sudah sabar

menunggu saya menyelesaikan skripsi

Untuk Kakak-kakak saya yang juga menasehati

(8)
(9)

vii

PENGARUH BERSYUKUR PADA KESEPIAN PERANTAU LUAR KOTA DEWASA AWAL

Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Gerardus Mayella Abdi Pangeran

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bersyukur pada kesepian perantau luar kota dewasa awal. Subjek penelitian ini adalah dewasa awal dengan kriteria seorang yang merantau ke luar kota, berusia sekitar 18 tahun sampai 40 tahun, dan belum menikah. Metode penelitian ini adalah survei dengan skala bersyukur dan kesepian yang dibuat oleh peneliti. Subjek penelitian sebanyak 172 orang terdiri dari 45 laki-laki dan 127 perempuan. Hasil uji regresi mendapat t hitung > t tabel (5,553 > 1,65387). Hal tersebut menunjukkan bahwa bersyukur memiliki pengaruh negatif pada kesepian perantau luar kota dewasa awal.

(10)

viii

THE EFFECT OF GRATITUDE ON THE LONELINESS OF EARLY ADULTS WHO MOVE OUT TO OTHER TOWN

Psychology Faculty of Sanata Dharma University Gerardus Mayella Abdi Pangeran

ABSTRACT

This study aimed to measured the effect on gratitude with loneliness in early adult who move out to other town. The subject in this study is in early adulthood, moving out to other town, and single. The method in this study is survey which using a gratitude and loneliness scale created by the researcher. The subject in this study were 172 early adults who consist of 45 male and 127 female. linear regression test show that t arithmetic > t table (5,553 > 1,65387). The result show that there is a effect on gratitude to loneliness in early adults who moving out to other towns.

(11)
(12)

x

KATA PENGANTAR

Ungkapan rasa syukur penulis tujukan untuk Tuhan yang Maha Esa atas berkat rahmat kebijaksanaan yang Dia berikan kepada penulis. Rahmat kebijaksanaan dariNya membuat penulis dapat menyelesaikan skripsi penulis yang berjudul

“Pengaruh bersyukur pada kesepian perantau luar kota dewasa awal” dengan

sebaik-baiknya. Penulis juga sangat berterima kasih kepada para dosen baik dosen pembimbing maupun dosen penguji yang telah rela meluangkan waktunya untuk membimbing penulis sehingga dapat melengkapi kekurangan yang penulis miliki.

Selanjutnya, ucapan terima kasih penulis tujukan pada:

1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto M, Psi, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. (Alm) Dr. Ibu Lusi Prattidarmanastiti, Dosen Pembimbing Akademik Penulis

3. Bapak C. Wijoyo Adinugroho M,Psi, Psi, dosen pembimbing yang sudah sabar membimbing saya sampai selesainya skripsi ini.

4. Bapak/Ibu dosen yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah membimbing penulis selama proses perkuliahan dari awal semester hingga akhir semester.

(13)

xi

6. Teman-teman penulis di Fakultas Psikologi Sanata Dharma yang terdiri dari Andre, Cuki, Raras, Sela, Radit, David, Tiara, Bimo yang mendukung, menanyakan kemajuan skripsi, membantu menyebarkan data, dan yang utama, terima kasih atas kebersamaannya!

7. Untuk Nova, Tyas, Tirza, Irma, Silvi, Yoga, Abi, Gerry, Wendy, Bibin, Dita, Anin, Tirzayana, Engger, terima kasih atas dukungan dan bantuannya!

8. Yohana dan Dien, atas bantuannya dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga atas kebersamaannya!

9. Teman-teman geng bejo, yang menjadi penyemangat.

10. Teman-teman seperjuangan Psikologi angkatan 2010, atas kebersamaannya.

11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi saya.

Masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi penulis sehingga penulis membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

(14)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN... .xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG ... 1

B. RUMUSAN MASALAH ... 4

C. TUJUAN PENELITIAN ... 4

D. MANFAAT PENELITIAN ... 4

1. Teoritis ... 4

(15)

xiii

BAB II LANDASAN TEORI ... 5

A. Bersyukur 1. Pengertian Bersyukur ... 5

2. Dimensi Bersyukur ... 6

3. Efek Pskologis Kebiasaan Bersyukur ... 7

B. Kesepian 1. Pengertian Kesepian ... 9

2. Manifestasi Kesepian ... 10

3.

Penyebab Kesepian ... 11

4.

Akibat Kesepian ... 14

5.

Solusi (coping) terhadap Kesepian ... 15

C. Dewasa Awal ... 16

1. Pengertian Dewasa Awal ... 16

2. Ciri-ciri Masa Dewasa Awal ... 17

3. Tahap Perkembangan Dewasa Awal (Intimacy vs Isolation)... 20

4. Resiko Kesepian pada Masa Dewasa Awal ... 20

D. Dinamika ... 21

E. Hipotesis Penelitian ... 25

BAB III METODE PENELITIAN ... 26

A. Jenis Penelitian ... 26

B. Identifikasi Variabel ... 26

C. Definisi Operasional ... 27

(16)

xiv

2. Kesepian ... 27

D. Subjek Penelitian ... 28

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 29

1. Metode ... 29

2. Alat Ukur ... 29

a. Skala Bersyukur ... 30

b. Skala Kesepian ... 31

F. Persiapan Penelitian ... 32

1. Pelaksanaan Uji Coba ... 32

2. Seleksi Item ... 33

3. Hasil Uji Coba alat ukur ... 36

a. Uji Validitas ... 36

b. Uji Reabilitas ... 36

G. Metode Analisis Data ... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38

A. Pelaksanaan Penelitian ... 38

B. Deskripsi Subjek Penelitian ... 38

C. Deskripsi Statistik Data Penelitian ... 40

D. Hasil Penelitian ... 41

1. Uji Asumsi Penelitian ... 41

a. Uji Normalitas Residu ... 41

(17)

xv

2. Uji Hipotesis ... 44

E. Pembahasan ... 45

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 50

A. KESIMPULAN ... 50

B. SARAN ... 50

1. Peneliti Selanjutnya …………... 50

DAFTAR PUSTAKA ... 51

(18)

xvi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1. Pemberian Skor Skala Bersyukur ... 30

Tabel 3.2. Blue Print Skala Bersyukur ... 31

Tabel 3.3. Pemberian Skor Skala Kesepian ... 32

Tabel 3.4. Blue Print skala kesepian ... 32

Tabel 3.5. Item skala bersyukur setelah ujicoba ... 34

Tabel 3.6. Item skala kesepian setelah uji coba ... 35

Tabel 4.1. Deskripsi Usia Subjek ... 39

Tabel 4.2. Deskripsi Jenis Kelamin Subjek ... 39

Tabel 4.3.Deskripsi Pekerjaan Subjek ... 39

Tabel 4.4. Deskripsi Daerah Asal ... 40

Tabel 4.5. Deskripsi Statistik Data Variabel Bersyukur dan Kesepian Perantau Luar Kota Dewasa Awal ... 41

Tabel 4.6. Uji Normalitas residu dengan Kolmogorov-Smirnov test ... 42

Tabel 4.7. Uji Homoskedastisitas dengan scatterplot ………... 43

Tabel 4.8.Uji Durbin Watson ... 44

(19)

xvii

DAFTAR GAMBAR

(20)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman LAMPIRAN SKALA BERSYUKUR (SKALA A) DAN

KESEPIAN (SKALA B) UNTUK TRYOUT ... 54 LAMPIRAN SKALA BERSYUKUR (SKALA A) DAN

KESEPIAN (SKALA B) UNTUK PENGAMBILAN DATA ... 67

LAMPIRAN C. HASIL SELEKSI ITEM DAN

UJI REABILITAS SKALA BERSYUKUR ... 77 LAMPIRAN D. HASIL SELEKSI ITEM DAN

UJI REABILITAS SKALA KESEPIAN ... 80 LAMPIRAN E. ANALISIS DESKRIPTIF

(21)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Bersyukur merupakan salah satu kajian dalam bidang psikologi positif. Bersyukur berasal dari bahasa latin yaitu “gratia” yang berarti berkat atau

terima kasih. Bersyukur dapat diartikan sebagai suatu bentuk penghargaan seseorang terhadap pemberian orang lain yang menyenangkan dan bermanfaat (Snyder, Lopez, & Pedrotti, 2011).

Pada tahun 2003 sebuah penelitian yang dilakukan McCullough dan Emmons (dalam Snyder, Lopez, & Pedrotti, 2011) mendapatkan hasil bahwa orang yang terbiasa bersyukur lebih bersikap optimis untuk hari esoknya dibandingkan dengan yang tidak. Orang yang terbiasa bersyukur lebih memberi perhatian kepada orang lain seperti memberikan dukungan emosional.

Algoe dkk (2008) juga melakukan sebuah studi eksperimen tentang pengaruh bersyukur terhadap relasi sosial dalam suatu komunitas perempuan. Hasil studi menunjukkan bahwa ketika anggota baru komunitas mensyukuri apa yang diberikan senior terhadap dirinya, mereka memiliki motivasi untuk membangun dan memelihara hubungan yang baik dengan anggota senior.

(22)

Beberapa penelitian di atas mengatakan bahwa kemampuan bersyukur memiliki efek positif terhadap kualitas relasi seseorang dengan orang lain. Fromm- Reichmann (dalam Peplau & Perlman, 1982) mengatakan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan keintiman seperti diterima dan dicintai orang lain. Seseorang akan mengalami kesepian jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Bersyukur membuat seseorang lebih mudah untuk merasa dicintai dan dihargai oleh orang lain (Emmons, McCullough, & Tsang 2003). Seseorang yang terbiasa bersyukur juga lebih aktif untuk menciptakan relasi dengan orang lain (Algoe, Haidt, & Gable 2008) dimana menurut Peplau dan Perlman (1982) bahwa solusi terbaik untuk mengatasi atau mencegah kesepian adalah dengan lebih aktif menciptakan relasi baru atau memperbaiki relasi yang sudah ada. Peneliti melihat bahwa kemampuan bersyukur mempengaruhi tingkat kesepian seseorang

Kesepian diartikan sebagai suatu perasaan tidak bahagia yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya keinginan untuk memiliki relasi sosial yang akrab dan bermakna (Baron & Bryne, 2005).

Perasaan kesepian mengakibatkan beberapa penyakit. Sebuah artikel yang berjudul “Loneliness: Causes, Effect, and Treatments for Loneliness” menjelaskan bahwa perasaan kesepian mengakibatkan

(23)

yang sebanding dengan obesitas, merokok, dan alkohol sehingga meningkatkan resiko kematian lebih dini (Indah, 2015).

Perasaan kesepian juga merupakan salah satu faktor yang membuat seseorang melakukan kejahatan atau bunuh diri. Sebuah studi kasus dilakukan oleh Martens dan Palermo (2005) terhadap dua subjek yang telah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan. Mereka mendapatkan hasil bahwa dua subjek yang mereka teliti pernah mengalami perasaan kesepian parah dalam hidup mereka. Suatu artikel yang berjudul,

“Kesepian saat Ulang Tahun, Gadis ini Nekat ingin Bunuh Diri.”

menceritakan seorang gadis bernama Jin yang mencoba terjun dari rumah susun tempat tinggalnya. Jin mengaku berusaha bunuh diri dengan alasan merasa kesepian setelah tidak mendapat ucapan selamat atau perayaan ulang tahun baik dari keluarga maupun teman-temannya (Parwito, 2015).

Penelitian ini mengenai perantau luar kota dewasa awal. Perantau luar kota menghadapi situasi yang memiliki resiko kesepian yaitu meninggalkan keluarga dan lingkungan pergaulan menuju lingkungan yang baru dan asing (Peplau & Perlman, 1982).

Masalah kesepian pada dewasa awal didukung oleh survei dari Mental

Health Foundation yang mengatakan bahwa orang dewasa yang berumur

(24)

Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui apakah kemampuan bersyukur dapat menurunkan tingkat kesepian pada perantau luar kota dewasa awal.

B. RUMUSAN MASALAH

Apakah bersyukur dapat menurunkan tingkat kesepian pada perantau ke luar kota dewasa awal?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara empiris apakah bersyukur dapat menurunkan tingkat kesepian pada perantau ke luar kota dewasa awal.

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi untuk para pembaca termasuk para peneliti psikologi yang tertarik meneliti kesepian atau bersyukur.

2. Manfaat Praktis

(25)

5

BAB II

LANDASAN TEORI

A. BERSYUKUR

1.

Pengertian Bersyukur

Sansone dan Sansone (2010) menjelaskan bahwa bersyukur merupakan penghargaan seseorang terhadap sesuatu yang bernilai dan bermakna bagi dirinya. Kemampuan bersyukur melebihi konteks interpersonal dan meliputi makna yang lebih luas seperti berterima kasih terhadap hidup atau alam.

Emmons (dalam Snyder, Lopez, & Pedrotti, 2011) mengatakan bahwa bersyukur adalah suatu emosi positif yang muncul ketika seseorang melihat bahwa dirinya menerima suatu yang bermanfaat atau menguntungkan dari orang lain dimana orang tersebut melakukan pengorbanan, berharga bagi penerima, dan diberikan secara sengaja. Penelitian Coffman (dalam Snyder, Lopez, & Pedrotti, 2011) menyatakan bahwa orang yang selamat dari bencana alam juga merasa bersyukur. Bersyukur berasal dari suatu peristiwa yang menyenangkan maupun menyakitkan.

(26)

Bersyukur adalah suatu perasaan menyenangkan atau penghargaan yang muncul karena persepsi bahwa dirinya menerima sesuatu yang bernilai positif atau bermakna dari orang lain, Tuhan, atau peristiwa yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan.

2.

Dimensi Bersyukur

Bersyukur menurut Watkins dkk (2003) memiliki beberapa dimensi sebagai berikut :

a. Merasa Berkecukupan (Sense of Abundance)

Seseorang yang memiliki kecenderungan bersyukur tinggi akan merasa puas dengan apa yang dimiliki dalam hidupnya. Orang tersebut tidak merasa kekurangan sesuatu. Mereka merasa apa yang mereka miliki sudah cukup dan berguna.

b. Menghargai hal simpel (Simple Appreciation)

Seseorang yang memiliki kecenderungan bersyukur yang tinggi menikmati dan menghargai sesuatu yang sudah sering atau mudah dimiliki oleh kebanyakan orang. Contoh dari menikmati hal yang simpel adalah makanan, teknologi, tempat tinggal, dan sebagainya. c. Menghargai kontribusi orang lain (Appreciation of others)

(27)

yang menekankan bahwa perasaan bersyukur muncul salah satunya dikarenakan kontribusi orang lain terhadap seseorang.

3.

Efek Psikologis Kebiasaan Bersyukur

McCullough, Emmons, dan Tsang (2003) menuturkan orang yang terbiasa bersyukur mengalami beberapa efek psikologis sebagai berikut :

a. Kecenderungan Bersyukur membuat seseorang lebih mudah untuk mencapai subjective well being yang lebih tinggi. Kondisi tersebut disebabkan orang tersebut lebih mudah merasa dicintai, diterima, dan dihargai. Orang yang memiliki kecenderungan bersyukur juga memiliki pandangan bahwa hidup adalah suatu anugrah dan dirinya tidak meremehkan apa yang dia miliki dan yang dia peroleh. Orang yang memiliki kecenderungan bersyukur yang tinggi cenderung lebih ekstrovert dan terhindar dari emosi negatif seperti depresi, kecemasan, dan cemburu. Kondisi tersebut didukung oleh studi Algoe, dkk (2008) bahwa seseorang yang merasa bahwa dirinya telah dibantu atau diberi hadiah oleh orang lain, akan lebih termotivasi untuk mengembangkan dan merawat hubungan yang baik dengan orang tersebut daripada orang yang tidak mensyukuri kontribusi orang lain.

(28)

memicu seseorang untuk berbuat baik kepada orang yang telah memperhatikan kesejahteraannya. Kecenderungan bersyukur membuat seseorang cenderung memiliki empati, bersedia memaafkan, dan memberikan dukungan atau pertolongan kepada orang lain.

c. Seseorang dengan kecenderungan bersyukur yang tinggi memiliki orientasi untuk menyadari bahwa terdapat kekuatan yang bukan berasal dari manusia (Tuhan, semesta). Orang tersebut juga mengakui bahwa kekuatan tersebut mempengaruhi kesejahteraan dirinya.

(29)

B. KESEPIAN

1. Pengertian Kesepian

Peplau dan Perlman (1982) menyatakan bahwa kesepian adalah suatu perasaan yang tidak menyenangkan ketika relasi sosial seseorang tidak cukup dari segi kuantitas maupun kualitas. Peplau dan Perlman (1982) menjelaskan tiga poin penting dalam membahas kesepian. Pertama, kesepian berasal dari ketidakcocokan antara relasi sosial yang diharapkan dan relasi yang dimiliki. Kedua, kesepian bersifat subjektif dan tidak sama dengan isolasi yang dilakukan terhadap seseorang. Ketiga, kesepian bersifat merusak. Pengalaman tersebut mengakibatkan seseorang tertekan dan mengalami konsekuensi negatif.

Gierveld (dalam Peplau & Perlman, 1982) mengatakan bahwa kesepian merupakan suatu pengalaman kesenjangan antara relasi yang diharapkan dan relasi yang diinginkan seseorang. Seseorang yang merasa kesepian tidak menerima kesenjangan relasi sosialnya.

(30)

Baron dan Bryne (2005) menegaskan bahwa kesepian adalah keadaan emosi dan kognitif yang tidak bahagia disebabkan oleh keinginan untuk memiliki hubungan akrab tidak tercapai.

Kesepian adalah perasaan tidak menyenangkan yang disebabkan relasi yang dimiliki tidak sesuai dengan harapan seseorang baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

2. Manifestasi Kesepian

Peplau dan Perlman (1982) mengatakan bahwa pengalaman kesepian terlihat dari beberapa manifestasi sebagai berikut :

a. Manifestasi afektif

Pengalaman kesepian disertai dengan perasaan yang tidak menyenangkan seperti perasaan tidak puas, tidak bahagia, depresi, dan lebih pesimis. Orang yang kesepian juga cenderung sering gelisah, cemas, dan bosan. Perasaan tersebut disebabkan oleh persepsi orang tersebut bahwa dirinya memiliki relasi sosial yang tidak memuaskan. Orang yang kesepian juga cenderung merasa bermusuhan dengan orang di sekitarnya.

b. Manifestasi kognitif

(31)

bentuk harga diri yang rendah disebabkan oleh merasa tidak mampu mendapat relasi yang memuaskan.

c. Manifestasi perilaku

Pengalaman kesepian terlihat dalam bentuk perilaku kurang asertif yang dipengaruhi oleh karakter pemalu dan social

risk-taking yang rendah.

3. Penyebab Kesepian

Peplau dan Perlman (1982) menjelaskan beberapa penyebab seseorang mengalami kesepian sebagai berikut :

a. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi mencakup beberapa karakteristik sebagai berikut :

1) Karakteristik individu

Pengalaman kesepian disebabkan oleh karakter yang membuat orang tersebut rentan akan kesepian seperti

self-esteem yang rendah, pemalu, terlalu memikirkan diri sendiri,

(32)

2) Karakteristik situasi

Situasi-situasi tertentu membuat seseorang rentan untuk mengalami kesepian. Situasi-situasi yang mempengaruhi adalah jarak, biaya, dan waktu. Contohnya adalah perpisahan dengan sahabat atau pacar. Orang yang lebih suka dengan kesendirian tidak merasa kesepian disebabkan mereka tidak berharap banyak terhadap pergaulannya.

3) Budaya

Slazer (dalam Peplau & Perlman, 1982) menjelaskan bahwa penyebab kesepian disebabkan oleh budaya tempat tinggal. Contohnya adalah budaya Amerika yang lebih menekankan kompetisi dan kebebasan individu membuat seseorang mengalami kesepian disebabkan dirinya kurang memperhatikan kebutuhan akan kedekatan dengan orang lain.

b. Faktor Presipitasi

(33)

c. Faktor Kognitif

Intensitas kesepian seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor sebagai berikut:

1) Attribusi sebab

Persepsi tentang penyebab kesepian mempengaruhi durasi perasaan kesepian. Contoh dari attribusi sebab adalah jika seseorang menilai bahwa faktor karakter menjadi penyebab kesepiannya dan tidak bisa diubah, dirinya mengalami kesepian yang berkepanjangan, depresi, dan lebih pesimis. Berbeda dengan seseorang menilai bahwa faktor yang menyebabkan kesepian bisa diubah, perasaan kesepian tidak begitu lama. 2) Perbandingan sosial

(34)

3) Perception of personal control

Persepsi tentang apa yang dilakukan terhadap kehidupan relasi mempengaruhi durasi kesepian. Seseorang yang berpikir bahwa dirinya melakukan sesuatu untuk kehidupan relasinya tidak akan merasa kesepian dalam waktu yang lama. Seseorang yang merasa tidak memiliki cara untuk mengatasi kesepian mengalami kesepian dalam jangka waktu yang lama.

4. Akibat Kesepian

Perasaan kesepian membuat seseorang mengalami konsekuensi negatif sebagai berikut:

a. Perasaan kesepian dalam jangka waktu lama mengakibatkan seseorang melakukan prilaku-prilaku yang menyimpang seperti konsumsi alkohol, dan obat-obatan. Kesepian juga menjadi salah satu faktor seseorang bunuh diri (Peplau & Perlman, 1982).

(35)

5. Solusi (coping) terhadap kesepian

Peplau dan Perlman (1982) menjelaskan tiga solusi untuk mengatasi perasaan kesepian sebagai berikut :

a. Memperbaiki kehidupan relasi sosial

Perasaan kesepian diatasi dengan memperbaiki kehidupan relasi yang sesuai dengan harapan. Peplau dan Perlman mengatakan bahwa solusi ini adalah solusi yang terbaik untuk mengatasi kesepian.

b. Memperlemah keinginan untuk memiliki relasi

Solusi ini dilakukan dengan cara mengalihkan perhatian terhadap kegiatan yang dapat dinikmati sendiri. Cara tersebut membuat seseorang terbiasa dengan keadaan sendiri dan tidak merasa kesepian.

c. Mengubah pandangan tentang pentingnya kehidupan relasi sosial.

(36)

C. DEWASA AWAL

1.

Pengertian Dewasa Awal

Istilah adult berasal dari adultus yang berarti “telah tumbuh menjadi

kekuatan dan ukuran yang sempurna” atau “telah menjadi dewasa.”

Orang dewasa adalah orang yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya. Masa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai 40 tahun dan terjadi perubahan fisik dan psikologis yang disertai berkurangnya kemampuan reproduktif (Hurlock, 1991).

Santrock (2002) mengatakan bahwa seseorang yang memasuki masa dewasa awal adalah orang yang memenuhi dua kriteria yaitu kemandirian ekonomi dan kemandirian dalam mengambil keputusan. Seseorang dikatakan memiliki kemandirian ekonomi ketika dirinya memiliki pekerjaan penuh waktu yang tetap. Orang yang memasuki masa dewasa awal juga mengambil keputusan berkaitan dengan karir, nilai-nilai, gaya hidup, dan keluarga.

(37)

Orang dewasa awal adalah orang yang berada dalam rentang 18-40 tahun, mengalami perubahan fisik dan psikologis dan menurunnya kemampuan reproduktif. Orang dewasa awal juga menjalankan peran yang mandiri berkaitan dengan hal ekonomi, karir, gaya hidup, dan relasi terutama keluarga.

2.

Ciri-ciri masa Dewasa Awal

Hurlock (1991) menjelaskan beberapa ciri-ciri yang menonjol dalam masa dewasa awal sebagai berikut :

a. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Pengaturan”

Ketika seseorang telah mencapai usia dewasa awal, orang tersebut menerima tanggung jawab orang dewasa seperti pekerjaan dan rumah tangga. Baik pria atau wanita dewasa awal mencari pekerjaan yang benar-benar cocok baginya. Pria mendekati wanita yang cocok dengannya untuk membentuk keluarga yang baru sedangkan wanita mempersiapkan diri untuk bertanggung jawab menjadi ibu rumah tangga.

b. Masa Dewasa Awal sebagai “Usia Reproduktif”

(38)

c. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Bermasalah”

Masa dewasa awal adalah suatu masa seseorang menghadapi banyak masalah berkaitan dengan penyesuaian diri terhadap pola kehidupannya yang baru seperti masalah karir dan membentuk keluarga baru.

d. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Ketegangan Emosional”

Seseorang dalam masa dewasa awal yang menghadapi penyesuaian diri terhadap pola kehidupan baru sering mengalami kebingungan dan keresahan emosional. Jika mampu menyelesaikan masalah-masalah dengan baik, orang dewasa awal lebih stabil dan tenang secara emosional.

e. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Keterasingan Sosial”

Pendidikan formal dan menghadapi pola kehidupan orang dewasa seperi karir dan keluarga mengakibatkan seseorang dengan usia dewasa awal sering mengalami renggangnya hubungan dengan kelompok teman-teman sebaya pada masa sebelumnya.

Erikson (dalam Hurlock, 1991) disebut sebagai “krisis

keterasingan”. Apakah kesepian ini sementara atau tetap

bergantung dari kemampuan seseorang untuk membina hubungan dengan lingkungan yang baru.

f. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Komitmen”

(39)

jawab baru, dan membuat komitmen-komitmen baru untuk menghadapi aspek-aspek kehidupan orang dewasa.

g. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Ketergantungan”

Walaupun sudah diberikan kebebasan untuk mandiri, orang dewasa awal sering bergantung pada orang lain untuk menghadapi pola kehidupan orang dewasa.

h. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Perubahan Nilai”

Nilai-nilai yang sebelumnya dipegang pada masa muda akan berubah setelah pengalaman dan memiliki hubungan sosial baru. Perubahan tersebut terjadi disebabkan orang dewasa awal melakukan penyesuaian diri terhadap kelompok orang dewasa agar diterima oleh kelompok tersebut. Faktor lainnya adalah orang dewasa awal menyadari bahwa banyak kelompok sosial yang memegang nilai-nilai konvesional dalam hal pemikiran dan perilaku.

i. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Penyesuaian Diri dengan Cara

Hidup Baru”

(40)

j. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Kreatif”

Orang dewasa awal sudah tidak terikat lagi oleh ketentuan dari orang tua dan guru-gurunya, sehingga merasa bebas untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan.

3.

Tahap Perkembangan Dewasa Awal (Intimacy versus Isolation) Erikson (dalam Santrock, 2002) mengatakan bahwa tahap perkembangan masa dewasa awal adalah intimacy versus isolation. Seseorang dikatakan mencapai keintiman (intimacy) jika dirinya membangun dan menjalin hubungan yang hangat, terbuka, dan saling berbagi informasi personal walaupun tidak semuanya. Sebaliknya, seseorang yang tidak bisa membina hubungan dengan baik mengalami isolasi dan cenderung kesepian. Salah satu tugas penting seseorang pada masa dewasa awal adalah memiliki hubungan yang intim dengan seseorang dan hubungan sosial dengan suatu kelompok masyarakat.

4.

Resiko Kesepian pada Masa Dewasa Awal
(41)

Pernyataan tersebut didukung oleh Peplau dan Perlman (1982) bahwa merantau ke luar kota untuk studi atau bekerja memicu kesepian. Orang terkadang susah untuk menemukan relasi yang cocok pada masa dewasa awal. Kondisi tersebut disebabkan oleh kesibukan atau ketidakmampuan untuk menciptakan relasi yang akrab.

Kesepian pada orang dewasa awal juga disebabkan oleh status pernikahan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Berg (dalam Peplau & Perlman, 1982) menunjukkan bahwa perasaan kesepian lebih banyak dialami oleh orang yang masih melajang daripada yang menikah.

D. DINAMIKA

Dewasa awal merupakan suatu masa seseorang melepaskan ketergantungan dari orang tua. Mereka menyusun rencana sendiri untuk mencapai kemapanan seperti pekerjaan apa yang akan dipilih dan pengaturan ekonomi. Orang pada masa dewasa awal membangun relasi yang lebih mendalam dengan orang lain seperti sahabat dan pasangan hidup (Hurlock, 1991)

(42)

Apakah perasaan kesepian bersifat sementara atau bertahan lama bergantung dari kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru (Hurlock, 1991). Erikson (dalam Santrock, 2002) juga mengatakan tugas perkembangan orang pada masa dewasa awal adalah mencapai keintiman yaitu mengembangkan hubungan yang lebih mendalam dengan orang lain seperti persahabatan atau pacaran yang berujung pada pernikahan. Tugas perkembangan dewasa awal disebut dengan intimacy vs isolation. Seseorang yang tidak menciptakan hubungan yang mendalam dengan orang lain mengalami perasaan terasing dan kesepian. Mereka hanya mendapatkan hubungan yang dangkal dengan orang sekitar.

(43)

motivasi untuk menjalin dan merawat hubungan yang baik dengan temannya ketika orang tersebut mampu menemukan hal-hal yang positif dari temannya seperti pertolongan atau hadiah yang diberikannya selama ini. Orang yang terbiasa bersyukur juga lebih merasa dicintai dan dihargai (McCullough, Emmons, & Tsang, 2002) sehingga kebutuhan akan keintiman dengan orang lain terpenuhi. Kondisi tersebut membuat seseorang terhindar dari kesepian.

(44)

SKEMA

Orang pada masa dewasa awal meninggalkan lingkungan pergaulan yang

lama menuju lingkungan pergaulan yang baru

Kebiasaan bersyukur yang rendah Kesepian rendah Kurang termotivasi untuk menjalin relasi dengan orang lain dan merasa terisolasi dan tidak dicintai

Kesepian tinggi Tidak mendapat pergaulan yang memuaskan Kebiasaan bersyukur yang tinggi Mendapat pergaulan yang memuaskan Lebih termotivasi untuk menjalin relasi dengan orang lain dan

lebih merasa dicintai dan

(45)

E. HIPOTESIS PENELITIAN

(46)

26

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang mengumpulkan data berupa angka dan menarik suatu kesimpulan dengan prosedur statistik (Creswell, 2009).

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode survei. Metode survei adalah suatu cara pengumpulan data dengan kuesioner terhadap sejumlah sampel dalam suatu populasi. Penelitian ini melihat pengaruh variabel bersyukur terhadap variabel kesepian perantau luar kota dewasa awal.

B. IDENTIFIKASI VARIABEL

Penelitian ini terdiri dari dua variabel sebagai berikut : Variabel Independen : Bersyukur

(47)

C. DEFINISI OPERASIONAL 1. Bersyukur

Bersyukur adalah suatu perasaan menyenangkan atau penghargaan yang muncul karena persepsi bahwa dirinya menerima sesuatu yang bernilai positif atau bermakna dari orang lain, Tuhan, atau peristiwa yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan.

Peneliti mengukur kemampuan bersyukur dengan menggunakan skala bersyukur yang dibuat oleh peneliti sendiri. Skala bersyukur dibuat berdasarkan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Watkins, dkk (2003). Kemampuan bersyukur menurut Watkins, dkk (2003), terdiri dari beberapa aspek seperti rasa berkecukupan (sense of abundance), penghargaan terhadap hal yang simpel (simple appreciation), dan penghargaan terhadap kontribusi orang lain (Appreciation for others). Skor yang tinggi dalam skala ini menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki kecenderungan bersyukur yang tinggi pula. Sebaliknya, skor yang rendah menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki kecenderungan bersyukur yang rendah.

2. Kesepian

(48)

kesepian seseorang berdasarkan dari manifestasi-manifestasi yang ditetapkan oleh Peplau dan Perlman (1982).

Tingkat kesepian diukur melalui skor total dari skala kesepian. Semakin besar skor yang diperoleh, maka semakin kuat pula rasa kesepian pada diri seseorang.

D. SUBJEK PENELITIAN

Subjek pada penelitian ini merupakan orang masa dewasa awal yang memiliki usia 18-40 tahun dan berpindah ke luar kota. Penelitian ini menggunakan teknik Purposive sampling. Teknik tersebut merupakan mengambil data pada sampel yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh peneliti (Winarsunu, 2013).

(49)

mendapat sahabat atau pasangan. Merupakan hal yang penting untuk orang pada masa dewasa awal menjalin relasi yang baik dengan lingkungan yang baru.

Peneliti memilih subjek yang belum menikah. Pemilihan tersebut berdasarkan survei yang dilakukan oleh Berg (dalam Peplau & Perlman, 1982) bahwa orang yang belum menikah memiliki resiko mengalami kesepian yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sudah menikah.

E. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA

1. Metode

Metode pengumpulan data pada penelitian ini merupakan metode survei. Metode ini dilakukan dengan memberikan skala pada subjek dan diisi oleh subjek. Skala penelitian disebarkan kepada subjek yang memenuhi kriteria dengan bentuk booklet atau online. Peneliti menyebarkan skala dalam bentuk online agar lebih mudah mencari subjek dan menghemat dana. Peneliti juga meminta kepada beberapa subjek untuk menyebarkan skala kepada orang yang memenuhi kriteria yang ditentukan.

2. Alat Ukur

Alat Ukur yang dipakai dalam penelitian dibuat dalam bentuk Skala

Likert. Skala tersebut terdiri dari dua macam item yaitu item favorable,

(50)

unfavorable (item yang isinya bertentangan dengan variabel yang diukur).

Pilihan jawaban yang tersedia adalah Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Setuju (S), Sangat Setuju (SS).

Penelitian ini menggunakan dua skala yaitu skala bersyukur dan skala kesepian yang penjelasannya adalah sebagai berikut :

a. Skala Bersyukur

Skala ini disusun berdasarkan aspek-aspek yang dibuat oleh Watkins, dkk (2003) seperti merasa berkecukupan, menghargai hal yang simpel, dan menghargai kontribusi orang lain.

Penentuan penilaian untuk pernyataan favorable dan pernyataan

[image:50.595.88.519.228.627.2]

unfavorable disusun sebagai berikut :

Tabel 3.1.

Pemberian Skor Skala Bersyukur

Alternatif Jawaban Pernyataan Favorable

Pernyataan Unfavorable

Sangat Tidak Setuju 1 4

Tidak Setuju 2 3

Setuju 3 2

Sangat Setuju 4 1

(51)
[image:51.595.82.560.117.634.2]

Tabel 3.2.

Blue Print Skala Bersyukur

Aspek Item Jumlah Persentase

(%) Favorable Unfavorable

Merasa Berkecukupan

2, 10, 22, 32, 24, 27

5, 8, 14, 16, 26, 36,

12 33,3

Jumlah 6 6

Menghargai Hal yang

Simpel

13, 18, 23, 30, 33, 34,

6, 12, 19, 25, 28, 29

12 33,3

Jumlah 6 6

Menghargai Kontribusi Orang lain

4, 7, 9, 11, 17, 35

1, 3, 15, 20, 21, 31

12 33,3

Jumlah 6 6

Jumlah 36 100

b. Skala Kesepian

Skala ini mengukur perasaan kesepian yang dialami individu. Skala ini disusun berdasarkan beberapa manifestasi yang dikemukakan oleh Peplau dan Perlman (1982). Manifestasi tersebut adalah manifestasi afektif, kognitif, dan prilaku.

(52)

Tabel 3.3.

Pemberian Skor Skala Kesepian Alternatif Jawaban Pernyataan

Favorable

Pernyataan Unfavorable Sangat Tidak

Setuju

1 4

Tidak Setuju 2 3

Setuju 3 2

[image:52.595.84.518.138.632.2]

Sangat Setuju 4 1

Tabel 3.4.

Blue Print skala kesepian

ASPEK ITEM JUML

AH

PERSENTAS E (%) Favorable Unfavorable

Manifest asi Afektif

8, 17, 18, 21, 25, 27,

40

2, 6, 12, 15, 30, 32, 36

14 33,3

Jumlah 7 7

Manifest asi Prilaku

1, 11, 13, 19, 28, 38,

42

5, 7, 10, 24, 33, 37, 39

14 33,3

Jumlah 7 7

Manifest asi Kognitif

9, 16, 22, 23, 29, 31,

41,

3, 4, 14, 20, 26, 34, 35

14 33,3

Jumlah 7 7

Jumlah total 42 100

F. PERSIAPAN PENELITIAN 1. Pelaksanaan Uji coba

(53)

memiliki reabilitas yang cukup. Uji coba juga dilakukan untuk melihat apakah item-item yang telah dibuat memiliki daya beda yang tinggi.

Uji coba pada kedua skala dilakukan oleh peneliti pada tanggal 6 April 2016 dengan menyebarkan skala tersebut kepada beberapa mahasiswa dan mahasiswi Universitas Sanata Dharma. Peneliti juga meminta bantuan kepada beberapa teman untuk menyebarkan skala kepada orang lain yang memenuhi kriteria. Peneliti mengumpulkan 50 kuesioner dengan keadaan semua item terisi dan layak dianalisa.

2. Seleksi Item

Seleksi item dilakukan untuk memilih item-item yang layak digunakan untuk mengambil data yang sesungguhnya. Seleksi item dilakukan berdasarkan daya diskriminasi setiap item. Daya diskriminasi item adalah kemampuan suatu item untuk melihat apakah seseorang memiliki ciri-ciri attribut yang diukur. Daya beda item juga mempengaruhi reabilitas skala (Azwar, 2012).

Seleksi item pada setiap skala menggunakan program SPSS for

Windows 16.00. Item yang layak untuk digunakan memiliki nilai

koefisien > 0,30 sedangkan item yang tidak layak digunakan memiliki nilai koefisien < 0,30. Peneliti menggunakan standar nilai > 0,25 jika total item yang layak digunakan tidak sesuai yang diinginkan.

(54)

bersyukur terbagi dalam tiga aspek seperti merasa berkecukupan yang terdiri dari 12 item, menghargai hal simpel 12 item, dan menghargai kontribusi orang lain 12 item. Kalimat item-item tersebut disusun dengan bahasa yang sesuai dengan kehidupan subjek.

[image:54.595.84.512.245.678.2]

Uji daya beda item dengan nilai koefisien > 0,30 menghasilkan 27 item yang layak digunakan. Item-item tersebut terdiri 6 item merasa berkecukupan, 10 item menghargai hal simpel, dan 11 item menghargai kontribusi orang lain. Peneliti memutuskan untuk menjadikan standar nilai koefisien menjadi > 0,25 agar mendapat jumlah item yang seimbang untuk setiap aspek. Dengan standar > 0,25, 2 item layak digunakan untuk mengambil data yaitu item no 8 dan 36.

Tabel 3.5.

Item skala bersyukur setelah ujicoba

Aspek Item Jumlah Persentase

(%) Favorable Unfavorable

Merasa Berkecukupan

2, 10, 22, 32, 24, 27

5, 8, 14, 16, 26, 36

8 33,3

Jumlah 4 4

Menghargai Hal yang Simpel

13, 18, 23, 30, 33, 34,

6, 12, 19, 25, 28, 29

8 33,3

Jumlah 4 4

Menghargai Kontribusi Orang lain

4, 7, 9, 11, 17, 35

1, 3, 15, 20, 21, 31

8 33,3

Jumlah 4 4

Jumlah total 24 100

(55)

Skala Kesepian dibuat oleh peneliti dengan total 42 item. Skala tersebut terbagi dalam 21 item favorable dan 21 item unfavorable. Skala kesepian terdiri dari tiga aspek seperti manifestasi afektif 14 item, manifestasi prilaku 14 item, dan manifestasi 14 item.

[image:55.595.86.517.188.695.2]

Uji daya beda item dilakukan dengan standar nilai > 0,30 mendapatkan jumlah 25 item. Jumlah tersebut terbagi dalam 11 item manifestasi afektif, 5 manifestasi prilaku, dan 9 manifestasi kognitif. Peneliti memutuskan untuk merendahkan standar nilai koefisien menjadi > 0,25 agar menyeimbangkan jumlah item setiap aspek. Jumlah item yang layak dengan nilai koefisien > 0,25 adalah 26. Jumlah item setiap aspek adalah 11 item manifestasi afektif, 6 manifestasi prilaku, dan 9 manifestasi kognitif.

Tabel 3.6.

Item skala kesepian setelah uji coba

Aspek Item Jumlah Persentase

(%) Favorable Unfavorable

Manifestasi Afektif

8, 17, 18, 25, 27, 40

12, 15, 30,

32, 36 6 33,3

Jumlah 3 3

Manifestasi Prilaku

1, 19, 28, 42

24, 37

6 33,3

Jumlah 4 2

Manifestasi Kognitif

9, 16, 23, 29, 31

3, 4, 34, 35

6 33,3

Jumlah 3 3

Jumlah total 18 100

(56)

3. Hasil Uji Coba Alat Ukur a. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui ketepatan alat ukur dalam menjalankan fungsinya. Suatu alat ukur dikatakan valid jika alat ukur tersebut mengukur sesuai dengan apa yang ingin diukur. Uji validitas terhadap dua skala dalam penelitian ini menggunakan validitas isi. Validitas isi menggunakan perkiraan rasional dari

professional judgement. Peneliti meminta bantuan dosen pembimbing

untuk melihat apakah item-item setiap skala relevan dengan aspek-aspek yang hendak diukur (Azwar, 2012).

b. Uji Reabilitas

Uji reabilitas dilakukan untuk melihat apakah suatu alat ukur terpercaya dan konsisten dalam pengukuran (Azwar, 2012). Peneliti menggunakan reabilitas Alpha Cronbach dalam SPSS for Windows

16,00 untuk melihat reabilitas setiap skala. Koefisien reabilitas

memiliki rentang dari 0,00 sampai 1,00. Alat ukur yang memiliki reabilitas mendekati angka 1,00 memiliki reabilitas yang tinggi sedangkan alat ukur yang reabilitasnya mendekati 0,00 memiliki reabilitas yang rendah. Suatu alat ukur dikatakan reliabel jika memiliki koefisien reabilitas diatas 0,600.

(57)

item. Nilai tersebut menjelaskan bahwa skala bersyukur memiliki reliabilitas yang cukup baik.

Skala kesepian memiliki koefisien reabilitas 0,847 sebelum seleksi item dan memiliki koefisien 0,883 sesudah seleksi item. Nilai tersebut menunjukkan bahwa skala kesepian memiliki reabilitas yang baik.

G. Metode Analisa Data

Analisis data dilakukan untuk mengolah data yang diterima oleh peneliti untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang diteliti. Metode analisa data yang digunakan adalah uji asumsi klasik dan uji regresi linier sederhana. Uji asumsi klasik yang dilakukan adalah uji heteroskedastisitas, uji normalitas residu, dan uji autokorelasi (Priyatno, 2012). Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi linier dalam penelitian layak dipakai.

(58)

38

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. PELAKSANAAN PENELITIAN

Peneliti membuat skala dalam dua bentuk yaitu dalam bentuk booklet dan skala online yang dapat dikerjakan lewat internet. Pengambilan data dilakukan dengan membagikan skala penelitian kepada subjek yang memenuhi kriteria. Peneliti juga meminta bantuan kepada beberapa orang untuk menyebarkan sejumlah skala kepada orang yang memenuhi kriteria.

Pengambilan data dimulai pada tanggal 4 Mei 2016. Peneliti memnyebarkan skala kepada mahasiswa-mahasiswi Kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti juga meminta bantuan kepada beberapa teman untuk menyebarkan skala penelitian dalam bentuk

booklet maupun online.

B. DESKRIPSI SUBJEK PENELITIAN

(59)
[image:59.595.86.517.145.706.2]

Tabel 4.1.

Deskripsi Usia Subjek

Usia Jumlah (%)

18 4 2,32

19 22 12,79

20 31 18,02

21 21 12,2

22 25 14,53

23 37 21,51

24 17 9,88

25 4 2,32

26 4 2,32

27 5 2,9

29 1 0,58

37 1 0,58

Jumlah 172 100

Tabel 4.2.

Deskripsi Jenis Kelamin Subjek

Jenis Kelamin Jumlah (%)

Laki-Laki 45 26,16

Perempuan 127 73,84

Jumlah 172 100

Tabel 4.3.

Deskripsi Pekerjaan Subjek

Pekerjaan Jumlah (%)

Kuliah 130 75,58

Bekerja 38 22,09

Kuliah, Bekerja 4 2,33

(60)
[image:60.595.82.519.133.632.2]

Tabel 4.4.

Deskripsi Daerah Asal

Daerah Asal Jumlah (%)

Jakarta 8 4,65

Jawa Barat 23 13,37

Jawa Tengah 39 22,67

Jawa Timur 5 2,9

Yogyakarta 6 3,49

Banten 5 2,9

Bali 6 3,49

Sumatera 23 13,37

Papua 6 3,49

Kalimantan 34 19,77

NTT 13 7,56

Sulawesi 4 2,33

Jumlah 172 100

Catatan : semua subjek yang diteliti berasal dari luar kota, untuk data yang lebih lengkap lihat lampiran

C. DESKRIPSI STATISTIK DATA PENELITIAN

(61)
[image:61.595.84.517.129.644.2]

Tabel 4.5.

Deskripsi Statistik Data Variabel Bersyukur dan Kesepian Perantau

Luar Kota Dewasa Awal

Variabel

Mean teoritik Mean Empirik

Xmin Xmaks Mean Xmin Xmaks Mean

Bersyukur 24 96 60 55 87 70,27

Kesepian 18 72 45 19 55 35,87

Hasil di atas menunjukkan bahwa skala bersyukur memiliki nilai mean teoritik sebesar 60 dan nilai empirik sebesar 70,27. Hasil di atas menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki kemampuan bersyukur yang tinggi. Skala kesepian memiliki nilai mean teoritik sebesar 45 dan nilai empirik sebesar 35,87. Nilai di atas menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki perasaan kesepian yang rendah.

D. HASIL PENELITIAN 1. Uji Asumsi Penelitian

Uji asumsi penelitian yang dilakukan adalah uji normalitas residu, uji homoskedastisitas, dan uji autokorelasi.

a.Uji Normalitas Residu

(62)

Kolmogorov-Smirnov test melalui SPSS for Windows version 16.00. Uji

[image:62.595.85.519.185.646.2]

normalitas menunjukkan hasil sebagai berikut :

Tabel 4.6.

Uji Normalitas Residu dengan Kolmogorov-Smirnov test

VAR00005

N 172

Normal Parameter Mean .00000000 Std. Deviation 5.55233E0 Most Extreme Differences Absolute .074

Positive .074

Negative -.070

Kolmogorov Smirnov Z .976

Asymp Sig. (2-tailed) .297

Hasil data diatas menunjukkan bahwa variabel bersyukur memiliki nilai signifikansi > 0,05. Nilai signifikansi menunjukkan bahwa data residu memiliki sebaran data yang normal.

b.Uji Homoskedastisitas

(63)
[image:63.595.85.547.187.619.2]

Tabel 4.7.

Uji Homoskedastisitas dengan Scatterplot

Scatterplot di atas menunjukkan keadaan homoskedastisitas

disebabkan titik-titik di scatterplot tersebar dan tidak membentuk pola yang jelas.

c.Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Durbin-Watson dengan program SPSS for Windows version

(64)
[image:64.595.83.515.99.695.2]

Tabel 4.8.

Uji Durbin-Watson

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the estimate

Durbin - Watson 1 0,392 0,154 0,149 5,569 1,854

Hasil uji Watson menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1,854. Tabel Durbin-Durbin-Watson dengan jumlah subjek (n) sebanyak 172 dan jumlah variabel (k) sebanyak 2, didapat nilai du sebesar 1,7741 dan nilai (4-du) sebesar 2,2259. Nilai Durbin-Watson lebih besar dari nilai du dan lebih kecil dari nilai 4-du. Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa autokorelasi tidak terjadi dalam penelitian.

2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan dengan uji regresi linear sederhana. Uji regresi linear sederhana dilakukan untuk meneliti pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.9.

Uji Hipotesis dengan Regresi Linear

Model Unstandarized Coefficients

Standarized Coefficients

T Sig B Std. Error Beta

(65)

Tabel data diatas menunjukkan nilai t sebesar -5,553. Nilai t tabel sebesar 1,65387. Nilai t hitung lebih besar dari t tabel (5,553>1,65387). Hasil di atas menunjukkan bahwa H0 ditolak dan hipotesis penelitian diterima yaitu bersyukur memiliki pengaruh negatif pada kesepian perantau luar kota masa dewasa awal. Hasil ini menunjukkan bahwa seseorang dengan kebiasaan bersyukur yang tinggi dirinya akan memiliki tingkat kesepian yang rendah. Dan sebaliknya, seseorang dengan kebiasaan bersyukur yang rendah memiliki tingkat kesepian yang tinggi.

E. PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukan bahwa hipotesis penelitian diterima, yaitu bersyukur memiliki pengaruh negatif pada kesepian dewasa awal yang merantau ke luar kota. Semakin tinggi kemampuan bersyukur seseorang mengakibatkan perasaan kesepian rendah. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah kemampuan bersyukur seseorang mengakibatkan perasaan kesepian tinggi.

[image:65.595.85.514.236.628.2]
(66)

Seseorang tidak memiliki karakter tersebut jika memiliki kemampuan bersyukur. Seseorang yang mempunyai kemampuan bersyukur yang tinggi cenderung lebih perhatian dengan orang lain. Mereka memiliki motivasi untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Studi yang dilakukan oleh Algoe, dkk (2008) juga menghasilkan kesimpulan bahwa orang yang berusaha mensyukuri pemberian atau bantuan dari orang lain akan menilai orang tersebut lebih positif dan terdorong untuk mengembangkan dan merawat hubungan yang baik dengan orang tersebut.

Orang yang terbiasa bersyukur juga cenderung lebih mudah untuk merasa diterima dan dicintai oleh orang lain (McCullough, Emmons, & Tsang, 2002). Fromm-Reichmann (dalam Peplau & Perlman, 1982) mengatakan bahwa kebutuhan keintiman seperti dicintai oleh orang lain merupakan kebutuhan setiap orang. Seseorang yang terbiasa bersyukur membuat dirinya terhindar dari kesepian.

(67)

Nilai R square dalam penelitian ini adalah 0,154 atau 15,4 %. Nilai tersebut menunjukkan bahwa variabel bersyukur memiliki pengaruh terhadap kesepian sebesar 15,4% sedangkan 84,6% berasal dari faktor lain. Data diatas menunjukkan bahwa perasaan kesepian juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.

Faktor lain yang mempengaruhi seseorang mengalami kesepian adalah masalah kecocokan dengan orang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan bersyukur yang tinggi lebih aktif dalam pergaulan dan lebih mudah untuk merasa dihargai dan dicintai. Namun, orang tersebut belum tentu cocok dengan lingkungannya. Ketidakcocokan dengan orang lain membuat seseorang merasa terisolasi dan kesepian. Masalah kecocokan dengan orang lain juga ditentukan oleh kesamaan latar belakang, minat dan nilai seseorang dengan orang lain. Seseorang yang tidak memiliki pandangan dan nilai hidup yang sama dengan orang di sekitarnya akan kesusahan untuk lebih akrab dengan lingkungannya (Sears, Freedman, & Peplau, 1985).

(68)

menyenangkan dalam interaksinya dengan orang lain contohnya bersikap hangat dan humoris daripada yang bersikap dingin dan pendiam.

Pengalaman kesepian juga dipengaruhi oleh gaya kelekatan seseorang. Seseorang yang memiliki gaya kelekatan insecure seperti preoccupied,

dismissive, atau fearful cenderung memiliki tingkat kesepian yang tinggi.

Kondisi tersebut disebabkan gaya kelekatan insecure lebih susah untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan pergaulannya sehingga orang dengan gaya kelekatan insecure cenderung merasa kesepian (Erozkan, 2011).

Hanya orang dengan kelekatan secure yang memiliki tingkat kesepian yang rendah. Orang dengan gaya kelekatan secure memiliki pandangan yang lebih positif tentang diri dan orang lain sehingga mereka merasa lebih dicintai dan dihargai. Orang dengan kelekatan secure terbukti merawat hubungan yang baik dengan orang lain sehingga memiliki tingkat kesepian yang rendah (Erozkan, 2011).

Penelitian ini belum menjelaskan apakah praktek bersyukur seperti studi yang dilakukan oleh Emmons dan McCullough (2003) menurunkan tingkat kesepian pada seseorang. Penelitian ini juga belum menjelaskan faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkat kesepian seseorang secara empiris.

(69)
(70)

50

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Peneliti menyimpulkan bahwa bersyukur memiliki pengaruh negatif pada perasaan kesepian perantau luar kota dewasa awal (5,553>1,65387). Pengaruh bersyukur tidak terlalu besar disebabkan masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkat kesepian seseorang.

B. Saran

Berdasarkan hasil dan pembahasan, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut :

1. Peneliti Selanjutnya

(71)

51

DAFTAR PUSTAKA

Algoe, S. B., Haidt, J., & Gable, S. L. 2008. Beyond Reciprocity : Gratitude and Relationships in Everyday Life. National Institutes of Health. Vol 8. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2692821/pdf/nihms108394 .pdf. Diambil tanggal 25 April 2016.

Azwar, S. 2012. Penyusunan Skala Psikologi Edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Baron, R. A. & Byrne, D. 2005. Psikologi sosial (Edisi 10/Jilid 2). Jakarta: Erlangga. Cherry, K. 2016. Loneliness: Cause, Effect, and Treatments for Loneliness. 2016

https://www.verywell.com/loneliness-causes-effects-and-treatments-2795749. Diambil tanggal 13 Juni.

Creswell, J. W. 2009. Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed

Methods Approaches (3rd Edition). Thousand Oaks: SAGE.

Erozkan, A. 2011. The Attachment Styles Bases of Loneliness and Depression.

Academicjournals. Vol. 3(9).

http://www.academicjournals.org/article/article1380368284_Erozkan.pdf. 22 Juli 2016.

Gil, N. 2014. Loneliness: a Silent Plague that is hurting Young People Most. http://www.theguardian.com/lifeandstyle/2014/jul/20/loneliness-britains-silent-plague-hurts-young-people-most. Diambil tanggal 13 Januari 2016 Hurlock, E. B. 1991. Psikologi perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang

kehidupan (Edisi 5). Jakarta: Erlangga.

Indah, P. 2015. Hasil Penelitian: Efek Kesepian Sama dengan Obesitas. https://m.tempo.co/read/news/2015/03/17/060650773/hasil-penelitian-efek-kesepian-sama-dengan-obesitas. Diambil tanggal 13 November 2015. Martens, H. J. & Palermo G. B. 2005. Loneliness and Associated Violent

Antisocial Behavior: Analysis of the Case Reports of Jeffrey Dahmer and Dennis Nilsen. SAGE. Vol. 49. http://ijo.sagepub.com/content/49/3/298.

(72)

McCullough, M. E., Emmons, R. A., & Tsang, J. 2002. The Grateful Disposition : A Conceptual and Empirical Topography. American Psychological

Association, Inc. Vol. 82, no. 1,

http://greatergood.berkeley.edu/pdfs/GratitudePDFs/7McCullough-GratefulDisposition.pdf . Diambil tanggal 17 November 2015.

Papalia, D. E., Ruth D. 2014. Menyelami perkembangan manusia Edisi 12 Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.

Parwito. 2015. Kesepian Saat Ulang Tahun, Gadis Ini Nekat Ingin Bunuh Diri. http://www.vemale.com/ragam/79804-kesepian-saat-ulang-tahun-gadis-ini-nekat-ingin-bunuh-diri.html. Diambil tanggal 17 November 2015. Peplau, L. A., & Perlman, D. 1982. Perspectives on loneliness. In L. A. Peplau, &

D. Perlman (Eds.), Loneliness: A sourcebook of current theory, research and therapy (pp. 1-18). Wiley. New York.

Priyatno, D. 2012. Belajar Praktis Analisis Parametrik dan Non Parametrik

dengan SPSS. Yogyakarta: Gava Media.

Sansone, R. A, & Sansone, L. A. 2010. Gratitude and Well-Being : The Benefits of Appreciation. Psychiatry. Vol. 7, no. 11.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3010965/pdf/PE_7_11_18. pdf. Diambil Tanggal 17 November 2015.

Santrock, J. W. 2002. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup Edisi

Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Sears, D. O., Freedman, J. L. Peplau, L. A. 1985. Psikologi Sosial Edisi Kelima

Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Snyder, C.R. Lopez, S. J. Pedrotti, Jennifer T. 2011. Positive psychology : the

scientific and practical explorations of human strengths (2nd Edition). Los Angeles:

SAGE.

Watkins, P. C., Woodward, K., Stone, T., & Kolts, R. L. 2003. Gratitude and Happiness: Development of a Measure of Gratitude, and Relationships with Subjective Well-Being. Society for Personality Research. Vol. 31, no. 5.

http://greatergood.berkeley.edu/pdfs/GratitudePDFs/5Watkins-GratitudeHappiness.pdf. Diambil Tanggal 17 November 2015.

(73)

53

(74)

LAMPIRAN SKALA

BERSYUKUR (SKALA A)

DAN KESEPIAN (SKALA B)

(75)

PENGUKURAN SKALA PSIKOLOGIS

Disusun oleh :

Gerardus Mayella Abdi Pangeran

109114061

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(76)

Dengan Hormat,

Dalam rangka memenuhi penyusunan tugas akhir dan menyelesaikan tugas saya sebagai mahasiswa, maka saya :

Nama : Gerardus Mayella Abdi Pangeran

NIM : 109114061

Fakultas : Psikologi

Universitas : Sanata Dharma

memohon kesediaan saudara-saudari sekalian untuk mengisi soal-soal dalam skala ini. Skala ini terbagi dalam beberapa bagian yaitu bagian A dan bagian B. Saya sangat berharap agar saudara-saudari memilih jawaban yang memang menggambarkan keadaan anda. Selain itu, jawaban yang anda berikan akan dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.

Atas perhatian saudara-saudari sekalian, saya mengucapkan terima kasih.

Hormat saya,

(77)

Pernyataan Kesediaan

Dengan ini, saya menyatakan bahwa saya bersedia untuk mengisi pernyataan-pernyataan dalam skala ini. partisipasi saya dalam pengisian skala ini atas inisiatif bukan paksaan dari pihak lain.

Selain itu, saya bersedia agar jawaban-jawaban saya digunakan untuk kepentingan penelitian.

..., ... 2016

(78)

Biodata Diri

Nama/inisial : ...

Jenis Kelamin : ...

Usia : ...

Kota Asal : ...

Domisili saat ini : ...

Pekerjaan saat ini : Kuliah/Bekerja*

(79)

Petunjuk Pengisian

Pada skala ini akan disajikan beberapa pernyataan. Baca dan pahamilah setiap pernyataan dengan seksama. Berikan jawaban dengan memberikan tanda

centang (√) pada kolom yang tersedia :

a. Jawaban Sangat Setuju (SS) jika anda sangat setuju dengan pernyataan tersebut.

b. Jawaban Setuju (S) jika anda setuju dengan pernyataan tersebut.

c. Jawaban Tidak Setuju (TS) jika anda tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

d. Jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) jika anda sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Sangat diharapkan agar saudara-saudari memilih jawaban yang menggambarkan keadaan anda. Selain itu, pastikan semua nomor dijawab dan tidak ada yang terlewat.

Contoh Pengerjaan :

No. Pernyataan STS TS S SS

1 Saya suka menghibur teman saya yang sedang bersedih

Berdasarkan contoh diatas, jika anda setuju dengan pernyataan tersebut, isilah tanda centang di kolom setuju.

(80)

SKALA A

No. Pernyataan STS TS S SS

1 Saya menganggap teguran orang tua mengganggu perkembangan saya 2 Saya tetap menikmati hidup saya

walaupun masih ada keinginan yang belum tercapai

3 Saya merasa teman-teman menghalangi saya untuk berkembang

4 Apa yang diberikan orang tua saya rasa cukup untuk hidup saya

5 Saya sering membeli barang untuk mengikuti trend masa kini

6 Saya tidak merasa terganggu ketika telat kuliah/kerja

7 Saya terbuka terhadap nasehat orang lain

8 Saya membutuhkan uang saku/gaji yang lebih banyak untuk kebutuhan dan keinginan saya

9 Perhatian dari teman-teman saya rasa cukup

10 Saya merasa handphone yang saya miliki masih berguna dan tidak perlu diganti

11 Saya merasa teman-teman mendukung saya untuk lebih berkembang

12 Saya merasa bentuk tubuh saya belum sesuai dengan harapan saya

(81)

14 Saya baru merasa bahagia setelah keinginan-keinginan saya tercapai 15 Saya merasa keluarga kurang mencintai

saya

No. Pernyataan STS TS S SS

16 Saya sedih dan marah saat teman-teman tidak bisa bermain bersama saya karena mereka sibuk

17 Saya berpikir bahwa teguran orang tua berguna agar saya hidup lebih baik 18 Saya berusaha mengerjakan tugas-tugas

saya tepat waktu

19 Saya kurang dapat merawat barang-barang yang saya miliki

20 Nasehat orang lain tidak penting buat saya

21 Saya merasa orang tua tidak memperhatikan kebutuhan saya 22 Saya hanya membeli barang-barang

yang memang saya butuhkan 23 Tubuh saya sekarang ini ideal

24 Saya merasa bahwa uang saku/ gaji saya sudah mencukupi

25 Saya berpikir bahwa potensi saya akan berkembang dengan sendirinya

26 Saya ingin mengganti handphone saya dengan handphone terbaru

(82)

dengan saya, saya bersedia untuk mencari hiburan sendiri

28 Saya sering menunda untuk menyelesaikan tugas saya

29 Saya sering membiarkan kamar/ kos saya berantakan

30 Saya berusaha agar saya datang kuliah/kerja tepat waktu

No. Pernyataan STS TS S SS

31 Saya merasa orang lain kurang mencintai saya

32 Saya merasa bahwa tempat tinggal saya sekarang cukup nyaman ditinggali 33 Saya berusaha mengembangkan

potensi-potensi yang saya miliki 34 Saya selalu berusaha menjaga

kebersihan kos/rumah

35 Keluarga saya penuh perhatian dan dukungan terhadap saya

(83)

SKALA B

No. Pernyataan STS TS S SS

1 Saya sungkan memberikan pendapat terhadap pembicaraan orang lain 2 Saya dapat menerima kritik dari teman

saya

3 Saya merasa teman-teman senang ketika bersama saya

4 Teman-teman saya dapat menjadi pendengar yang baik untuk saya 5 Saya berani untuk mengatakan tidak

setuju terhadap ide orang lain

6 Saya merasa senang dengan pergaulan saya sekarang

7 Saya suka mengutarakan pendapat saya kepada orang lain

8 Saya merasa jenuh ketika berkumpul dengan teman-teman

9 Saya merasa orang lain meremehkan saya

10 Saya senang memberikan komentar terhadap pembicaraan orang lain 11 Saya hanya ingin membahas masalah

saya ketika bersama orang lain

12 Saya merasa bahwa saya dicintai oleh teman-teman saya

13 Saya cenderung memenuhi permintaan orang lain walaupun sebenarnya saya ingin melakukan kegiatan lain

(84)

15 Berkenalan dengan orang baru adalah hal yang menyenangkan bagi saya

No. Pernyataan STS TS S SS

16 Saya merasa teman-teman tidak memahami saya

17 Saya merasa canggung ketika bertemu dengan orang baru

18 Saya merasa malu ketika berkumpul dengan teman-teman

19 Saya lebih banyak diam saat berkumpul dengan teman-teman saya

20 Saya merasa orang lain menghargai saya

21 Pergaulan yang saya miliki menyebalkan

22 Saya sering tidak dapat fokus pada tugas/pekerjaan saya

23 Saya merasa hanya dimanfaatkan oleh teman-teman

24 Saya nyaman mengajak teman-teman untuk jalan-jalan

25 Saya merasa ragu bahwa akan ada orang yang mau menerima saya

26 Saya berpikir bahwa ketidakcocokan dengan seseorang bukan karena kesalahan saya

27 Perilaku teman-teman membuat saya kecewa

(85)

untuk jalan-jalan

29 Saya merasa teman-teman tidak nyaman dengan keberadaan saya

30 Saya menikmati waktu bersama dengan teman-teman saya

No. Pernyataan STS TS S SS

31 Saya merasa ada yang salah pada diri saya sehingga teman-teman menjauhi saya

32 Saya senang ketika berkumpul dengan teman-teman

33 Saya berani menolak permintaan tolong orang lain ketika saya memiliki urusan lain

34 Saya merasa teman-teman menerima saya dengan tulus

35 Saya mudah untuk menjalin hubungan yang menyenangkan dengan orang lain 36 Saya senang dengan perlakuan

teman-teman terhadap saya

37 Saya senang membahas topik yang beragam bersama teman saya

38 Saya menuruti ide orang lain walaupun saya sebenarnya tidak setuju

39 Saya meminta bantuan kepada teman ketika sedang berada dalam kesulitan 40 Saya merasa tidak nyaman ketika

(86)

buruk tentang saya

41 Saya merasa kesulitan untuk menjalin hubungan pertemanan dengan orang lain

42 Saya lebih suka menyelesaikan masalah saya seorang diri

Periksa semua jawaban anda

Jangan sampai ada yang terlewatkan/belum terjawab

(87)

LAMPIRAN SKALA

BERSYUKUR (SKALA A)

DAN KESEPIAN (SKALA B)

(88)

PENGUKURAN SKALA PSIKO

Gambar

Tabel 3.1.
Tabel 3.2.
Tabel 3.4.
Tabel 3.5.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh seseorang wanita dewasa awal yang maskulin adalah rasionalisasi dan

Berdasarkan hasil wawancara awal data penelitian ini terhadap beberapa informan dan didukung oleh beberapa teori dari para ahli ditemukan bahwa ada orientasi

Subarkah, 2020) menyatakan bahwa aktivitas keagamaan memiliki hubungan dengan kesehatan mental, dimana semakin baik aktivitas keagamaan yang dilakukan seseorang

Individu yang memiliki penerimaan diri maka ia akan mampu menyesuaikan dirinya dengan baik dan tidak merasa bahwa ia akan di tolak oleh orang lain.. Respon atas penolakan

Pernyataan tersebut didukung oleh Putri, dkk., (2016) yang menyatakan bahwa meskipun pada suhu yang tinggi laju penyerapan kuning telur terjadi sangat cepat, diduga

Hal tersebut didukung oleh penelitian Kim dan McKenry (dalam Susanti, 2012) bahwa perempuan dewasa yang menikah memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi

Hasil penelitian ini didukung dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Pamungkas (2008), Rahayu (2005), yang menyatakan bahwa penerapan informasi akuntansi

Hasil ini berbeda dengan yang ditemukan oleh Jurniati dkk, (2008) dapatkan bahwa salah satu faktor psikologis yang menyebabkan kesepian adalah karena sebagian lansia