PENGARUH BERSYUKUR PADA KESEPIAN PERANTAU LUAR KOTA DEWASA AWAL
Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Gerardus Mayella Abdi Pangeran
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bersyukur pada kesepian perantau luar kota dewasa awal. Subjek penelitian ini adalah dewasa awal dengan kriteria seorang yang merantau ke luar kota, berusia sekitar 18 tahun sampai 40 tahun, dan belum menikah. Metode penelitian ini adalah survei dengan skala bersyukur dan kesepian yang dibuat oleh peneliti. Subjek penelitian sebanyak 172 orang terdiri dari 45 laki-laki dan 127 perempuan. Hasil uji regresi mendapat t hitung > t tabel (5,553 > 1,65387). Hal tersebut menunjukkan bahwa bersyukur memiliki pengaruh negatif pada kesepian perantau luar kota dewasa awal.
THE EFFECT OF GRATITUDE ON THE LONELINESS OF EARLY ADULTS WHO MOVE OUT TO OTHER TOWN
Psychology Faculty of Sanata Dharma University Gerardus Mayella Abdi Pangeran
ABSTRACT
This study aimed to measured the effect on gratitude with loneliness in early adult who move out to other town. The subject in this study is in early adulthood, moving out to other town, and single. The method in this study is survey which using a gratitude and loneliness scale created by the researcher. The subject in this study were 172 early adults who consist of 45 male and 127 female. linear regression test show that t arithmetic > t table (5,553 > 1,65387). The result show that there is a effect on gratitude to loneliness in early adults who moving out to other towns.
PENGARUH BERSYUKUR PADA KESEPIAN PERANTAU
LUAR KOTA DEWASA AWAL
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh:
Gerardus Mayella Abdi Pangeran 109114061
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
HALAMAN MOTTO
“Kerja Keras Mengalahkan Bakat”
-Anonymous-
“If you realize that you have enough, you are truly rich”
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini Saya Persembahkan untuk:
Untuk Orang Tua yang sudah sabar
menunggu saya menyelesaikan skripsi
Untuk Kakak-kakak saya yang juga menasehati
vii
PENGARUH BERSYUKUR PADA KESEPIAN PERANTAU LUAR KOTA DEWASA AWAL
Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Gerardus Mayella Abdi Pangeran
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bersyukur pada kesepian perantau luar kota dewasa awal. Subjek penelitian ini adalah dewasa awal dengan kriteria seorang yang merantau ke luar kota, berusia sekitar 18 tahun sampai 40 tahun, dan belum menikah. Metode penelitian ini adalah survei dengan skala bersyukur dan kesepian yang dibuat oleh peneliti. Subjek penelitian sebanyak 172 orang terdiri dari 45 laki-laki dan 127 perempuan. Hasil uji regresi mendapat t hitung > t tabel (5,553 > 1,65387). Hal tersebut menunjukkan bahwa bersyukur memiliki pengaruh negatif pada kesepian perantau luar kota dewasa awal.
viii
THE EFFECT OF GRATITUDE ON THE LONELINESS OF EARLY ADULTS WHO MOVE OUT TO OTHER TOWN
Psychology Faculty of Sanata Dharma University Gerardus Mayella Abdi Pangeran
ABSTRACT
This study aimed to measured the effect on gratitude with loneliness in early adult who move out to other town. The subject in this study is in early adulthood, moving out to other town, and single. The method in this study is survey which using a gratitude and loneliness scale created by the researcher. The subject in this study were 172 early adults who consist of 45 male and 127 female. linear regression test show that t arithmetic > t table (5,553 > 1,65387). The result show that there is a effect on gratitude to loneliness in early adults who moving out to other towns.
x
KATA PENGANTAR
Ungkapan rasa syukur penulis tujukan untuk Tuhan yang Maha Esa atas berkat rahmat kebijaksanaan yang Dia berikan kepada penulis. Rahmat kebijaksanaan dariNya membuat penulis dapat menyelesaikan skripsi penulis yang berjudul
“Pengaruh bersyukur pada kesepian perantau luar kota dewasa awal” dengan
sebaik-baiknya. Penulis juga sangat berterima kasih kepada para dosen baik dosen pembimbing maupun dosen penguji yang telah rela meluangkan waktunya untuk membimbing penulis sehingga dapat melengkapi kekurangan yang penulis miliki.
Selanjutnya, ucapan terima kasih penulis tujukan pada:
1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto M, Psi, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. (Alm) Dr. Ibu Lusi Prattidarmanastiti, Dosen Pembimbing Akademik Penulis
3. Bapak C. Wijoyo Adinugroho M,Psi, Psi, dosen pembimbing yang sudah sabar membimbing saya sampai selesainya skripsi ini.
4. Bapak/Ibu dosen yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah membimbing penulis selama proses perkuliahan dari awal semester hingga akhir semester.
xi
6. Teman-teman penulis di Fakultas Psikologi Sanata Dharma yang terdiri dari Andre, Cuki, Raras, Sela, Radit, David, Tiara, Bimo yang mendukung, menanyakan kemajuan skripsi, membantu menyebarkan data, dan yang utama, terima kasih atas kebersamaannya!
7. Untuk Nova, Tyas, Tirza, Irma, Silvi, Yoga, Abi, Gerry, Wendy, Bibin, Dita, Anin, Tirzayana, Engger, terima kasih atas dukungan dan bantuannya!
8. Yohana dan Dien, atas bantuannya dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga atas kebersamaannya!
9. Teman-teman geng bejo, yang menjadi penyemangat.
10. Teman-teman seperjuangan Psikologi angkatan 2010, atas kebersamaannya.
11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi saya.
Masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi penulis sehingga penulis membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN... .xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 4
C. TUJUAN PENELITIAN ... 4
D. MANFAAT PENELITIAN ... 4
1. Teoritis ... 4
xiii
BAB II LANDASAN TEORI ... 5
A. Bersyukur 1. Pengertian Bersyukur ... 5
2. Dimensi Bersyukur ... 6
3. Efek Pskologis Kebiasaan Bersyukur ... 7
B. Kesepian 1. Pengertian Kesepian ... 9
2. Manifestasi Kesepian ... 10
3.
Penyebab Kesepian ... 114.
Akibat Kesepian ... 145.
Solusi (coping) terhadap Kesepian ... 15C. Dewasa Awal ... 16
1. Pengertian Dewasa Awal ... 16
2. Ciri-ciri Masa Dewasa Awal ... 17
3. Tahap Perkembangan Dewasa Awal (Intimacy vs Isolation)... 20
4. Resiko Kesepian pada Masa Dewasa Awal ... 20
D. Dinamika ... 21
E. Hipotesis Penelitian ... 25
BAB III METODE PENELITIAN ... 26
A. Jenis Penelitian ... 26
B. Identifikasi Variabel ... 26
C. Definisi Operasional ... 27
xiv
2. Kesepian ... 27
D. Subjek Penelitian ... 28
E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 29
1. Metode ... 29
2. Alat Ukur ... 29
a. Skala Bersyukur ... 30
b. Skala Kesepian ... 31
F. Persiapan Penelitian ... 32
1. Pelaksanaan Uji Coba ... 32
2. Seleksi Item ... 33
3. Hasil Uji Coba alat ukur ... 36
a. Uji Validitas ... 36
b. Uji Reabilitas ... 36
G. Metode Analisis Data ... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38
A. Pelaksanaan Penelitian ... 38
B. Deskripsi Subjek Penelitian ... 38
C. Deskripsi Statistik Data Penelitian ... 40
D. Hasil Penelitian ... 41
1. Uji Asumsi Penelitian ... 41
a. Uji Normalitas Residu ... 41
xv
2. Uji Hipotesis ... 44
E. Pembahasan ... 45
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 50
A. KESIMPULAN ... 50
B. SARAN ... 50
1. Peneliti Selanjutnya …………... 50
DAFTAR PUSTAKA ... 51
xvi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1. Pemberian Skor Skala Bersyukur ... 30
Tabel 3.2. Blue Print Skala Bersyukur ... 31
Tabel 3.3. Pemberian Skor Skala Kesepian ... 32
Tabel 3.4. Blue Print skala kesepian ... 32
Tabel 3.5. Item skala bersyukur setelah ujicoba ... 34
Tabel 3.6. Item skala kesepian setelah uji coba ... 35
Tabel 4.1. Deskripsi Usia Subjek ... 39
Tabel 4.2. Deskripsi Jenis Kelamin Subjek ... 39
Tabel 4.3.Deskripsi Pekerjaan Subjek ... 39
Tabel 4.4. Deskripsi Daerah Asal ... 40
Tabel 4.5. Deskripsi Statistik Data Variabel Bersyukur dan Kesepian Perantau Luar Kota Dewasa Awal ... 41
Tabel 4.6. Uji Normalitas residu dengan Kolmogorov-Smirnov test ... 42
Tabel 4.7. Uji Homoskedastisitas dengan scatterplot ………... 43
Tabel 4.8.Uji Durbin Watson ... 44
xvii
DAFTAR GAMBAR
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman LAMPIRAN SKALA BERSYUKUR (SKALA A) DAN
KESEPIAN (SKALA B) UNTUK TRYOUT ... 54 LAMPIRAN SKALA BERSYUKUR (SKALA A) DAN
KESEPIAN (SKALA B) UNTUK PENGAMBILAN DATA ... 67
LAMPIRAN C. HASIL SELEKSI ITEM DAN
UJI REABILITAS SKALA BERSYUKUR ... 77 LAMPIRAN D. HASIL SELEKSI ITEM DAN
UJI REABILITAS SKALA KESEPIAN ... 80 LAMPIRAN E. ANALISIS DESKRIPTIF
1
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Bersyukur merupakan salah satu kajian dalam bidang psikologi positif. Bersyukur berasal dari bahasa latin yaitu “gratia” yang berarti berkat atau
terima kasih. Bersyukur dapat diartikan sebagai suatu bentuk penghargaan seseorang terhadap pemberian orang lain yang menyenangkan dan bermanfaat (Snyder, Lopez, & Pedrotti, 2011).
Pada tahun 2003 sebuah penelitian yang dilakukan McCullough dan Emmons (dalam Snyder, Lopez, & Pedrotti, 2011) mendapatkan hasil bahwa orang yang terbiasa bersyukur lebih bersikap optimis untuk hari esoknya dibandingkan dengan yang tidak. Orang yang terbiasa bersyukur lebih memberi perhatian kepada orang lain seperti memberikan dukungan emosional.
Algoe dkk (2008) juga melakukan sebuah studi eksperimen tentang pengaruh bersyukur terhadap relasi sosial dalam suatu komunitas perempuan. Hasil studi menunjukkan bahwa ketika anggota baru komunitas mensyukuri apa yang diberikan senior terhadap dirinya, mereka memiliki motivasi untuk membangun dan memelihara hubungan yang baik dengan anggota senior.
Beberapa penelitian di atas mengatakan bahwa kemampuan bersyukur memiliki efek positif terhadap kualitas relasi seseorang dengan orang lain. Fromm- Reichmann (dalam Peplau & Perlman, 1982) mengatakan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan keintiman seperti diterima dan dicintai orang lain. Seseorang akan mengalami kesepian jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Bersyukur membuat seseorang lebih mudah untuk merasa dicintai dan dihargai oleh orang lain (Emmons, McCullough, & Tsang 2003). Seseorang yang terbiasa bersyukur juga lebih aktif untuk menciptakan relasi dengan orang lain (Algoe, Haidt, & Gable 2008) dimana menurut Peplau dan Perlman (1982) bahwa solusi terbaik untuk mengatasi atau mencegah kesepian adalah dengan lebih aktif menciptakan relasi baru atau memperbaiki relasi yang sudah ada. Peneliti melihat bahwa kemampuan bersyukur mempengaruhi tingkat kesepian seseorang
Kesepian diartikan sebagai suatu perasaan tidak bahagia yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya keinginan untuk memiliki relasi sosial yang akrab dan bermakna (Baron & Bryne, 2005).
Perasaan kesepian mengakibatkan beberapa penyakit. Sebuah artikel yang berjudul “Loneliness: Causes, Effect, and Treatments for Loneliness” menjelaskan bahwa perasaan kesepian mengakibatkan
yang sebanding dengan obesitas, merokok, dan alkohol sehingga meningkatkan resiko kematian lebih dini (Indah, 2015).
Perasaan kesepian juga merupakan salah satu faktor yang membuat seseorang melakukan kejahatan atau bunuh diri. Sebuah studi kasus dilakukan oleh Martens dan Palermo (2005) terhadap dua subjek yang telah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan. Mereka mendapatkan hasil bahwa dua subjek yang mereka teliti pernah mengalami perasaan kesepian parah dalam hidup mereka. Suatu artikel yang berjudul,
“Kesepian saat Ulang Tahun, Gadis ini Nekat ingin Bunuh Diri.”
menceritakan seorang gadis bernama Jin yang mencoba terjun dari rumah susun tempat tinggalnya. Jin mengaku berusaha bunuh diri dengan alasan merasa kesepian setelah tidak mendapat ucapan selamat atau perayaan ulang tahun baik dari keluarga maupun teman-temannya (Parwito, 2015).
Penelitian ini mengenai perantau luar kota dewasa awal. Perantau luar kota menghadapi situasi yang memiliki resiko kesepian yaitu meninggalkan keluarga dan lingkungan pergaulan menuju lingkungan yang baru dan asing (Peplau & Perlman, 1982).
Masalah kesepian pada dewasa awal didukung oleh survei dari Mental
Health Foundation yang mengatakan bahwa orang dewasa yang berumur
Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui apakah kemampuan bersyukur dapat menurunkan tingkat kesepian pada perantau luar kota dewasa awal.
B. RUMUSAN MASALAH
Apakah bersyukur dapat menurunkan tingkat kesepian pada perantau ke luar kota dewasa awal?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara empiris apakah bersyukur dapat menurunkan tingkat kesepian pada perantau ke luar kota dewasa awal.
D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi untuk para pembaca termasuk para peneliti psikologi yang tertarik meneliti kesepian atau bersyukur.
2. Manfaat Praktis
5
BAB II
LANDASAN TEORI
A. BERSYUKUR
1.
Pengertian BersyukurSansone dan Sansone (2010) menjelaskan bahwa bersyukur merupakan penghargaan seseorang terhadap sesuatu yang bernilai dan bermakna bagi dirinya. Kemampuan bersyukur melebihi konteks interpersonal dan meliputi makna yang lebih luas seperti berterima kasih terhadap hidup atau alam.
Emmons (dalam Snyder, Lopez, & Pedrotti, 2011) mengatakan bahwa bersyukur adalah suatu emosi positif yang muncul ketika seseorang melihat bahwa dirinya menerima suatu yang bermanfaat atau menguntungkan dari orang lain dimana orang tersebut melakukan pengorbanan, berharga bagi penerima, dan diberikan secara sengaja. Penelitian Coffman (dalam Snyder, Lopez, & Pedrotti, 2011) menyatakan bahwa orang yang selamat dari bencana alam juga merasa bersyukur. Bersyukur berasal dari suatu peristiwa yang menyenangkan maupun menyakitkan.
Bersyukur adalah suatu perasaan menyenangkan atau penghargaan yang muncul karena persepsi bahwa dirinya menerima sesuatu yang bernilai positif atau bermakna dari orang lain, Tuhan, atau peristiwa yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan.
2.
Dimensi BersyukurBersyukur menurut Watkins dkk (2003) memiliki beberapa dimensi sebagai berikut :
a. Merasa Berkecukupan (Sense of Abundance)
Seseorang yang memiliki kecenderungan bersyukur tinggi akan merasa puas dengan apa yang dimiliki dalam hidupnya. Orang tersebut tidak merasa kekurangan sesuatu. Mereka merasa apa yang mereka miliki sudah cukup dan berguna.
b. Menghargai hal simpel (Simple Appreciation)
Seseorang yang memiliki kecenderungan bersyukur yang tinggi menikmati dan menghargai sesuatu yang sudah sering atau mudah dimiliki oleh kebanyakan orang. Contoh dari menikmati hal yang simpel adalah makanan, teknologi, tempat tinggal, dan sebagainya. c. Menghargai kontribusi orang lain (Appreciation of others)
yang menekankan bahwa perasaan bersyukur muncul salah satunya dikarenakan kontribusi orang lain terhadap seseorang.
3.
Efek Psikologis Kebiasaan BersyukurMcCullough, Emmons, dan Tsang (2003) menuturkan orang yang terbiasa bersyukur mengalami beberapa efek psikologis sebagai berikut :
a. Kecenderungan Bersyukur membuat seseorang lebih mudah untuk mencapai subjective well being yang lebih tinggi. Kondisi tersebut disebabkan orang tersebut lebih mudah merasa dicintai, diterima, dan dihargai. Orang yang memiliki kecenderungan bersyukur juga memiliki pandangan bahwa hidup adalah suatu anugrah dan dirinya tidak meremehkan apa yang dia miliki dan yang dia peroleh. Orang yang memiliki kecenderungan bersyukur yang tinggi cenderung lebih ekstrovert dan terhindar dari emosi negatif seperti depresi, kecemasan, dan cemburu. Kondisi tersebut didukung oleh studi Algoe, dkk (2008) bahwa seseorang yang merasa bahwa dirinya telah dibantu atau diberi hadiah oleh orang lain, akan lebih termotivasi untuk mengembangkan dan merawat hubungan yang baik dengan orang tersebut daripada orang yang tidak mensyukuri kontribusi orang lain.
memicu seseorang untuk berbuat baik kepada orang yang telah memperhatikan kesejahteraannya. Kecenderungan bersyukur membuat seseorang cenderung memiliki empati, bersedia memaafkan, dan memberikan dukungan atau pertolongan kepada orang lain.
c. Seseorang dengan kecenderungan bersyukur yang tinggi memiliki orientasi untuk menyadari bahwa terdapat kekuatan yang bukan berasal dari manusia (Tuhan, semesta). Orang tersebut juga mengakui bahwa kekuatan tersebut mempengaruhi kesejahteraan dirinya.
B. KESEPIAN
1. Pengertian Kesepian
Peplau dan Perlman (1982) menyatakan bahwa kesepian adalah suatu perasaan yang tidak menyenangkan ketika relasi sosial seseorang tidak cukup dari segi kuantitas maupun kualitas. Peplau dan Perlman (1982) menjelaskan tiga poin penting dalam membahas kesepian. Pertama, kesepian berasal dari ketidakcocokan antara relasi sosial yang diharapkan dan relasi yang dimiliki. Kedua, kesepian bersifat subjektif dan tidak sama dengan isolasi yang dilakukan terhadap seseorang. Ketiga, kesepian bersifat merusak. Pengalaman tersebut mengakibatkan seseorang tertekan dan mengalami konsekuensi negatif.
Gierveld (dalam Peplau & Perlman, 1982) mengatakan bahwa kesepian merupakan suatu pengalaman kesenjangan antara relasi yang diharapkan dan relasi yang diinginkan seseorang. Seseorang yang merasa kesepian tidak menerima kesenjangan relasi sosialnya.
Baron dan Bryne (2005) menegaskan bahwa kesepian adalah keadaan emosi dan kognitif yang tidak bahagia disebabkan oleh keinginan untuk memiliki hubungan akrab tidak tercapai.
Kesepian adalah perasaan tidak menyenangkan yang disebabkan relasi yang dimiliki tidak sesuai dengan harapan seseorang baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
2. Manifestasi Kesepian
Peplau dan Perlman (1982) mengatakan bahwa pengalaman kesepian terlihat dari beberapa manifestasi sebagai berikut :
a. Manifestasi afektif
Pengalaman kesepian disertai dengan perasaan yang tidak menyenangkan seperti perasaan tidak puas, tidak bahagia, depresi, dan lebih pesimis. Orang yang kesepian juga cenderung sering gelisah, cemas, dan bosan. Perasaan tersebut disebabkan oleh persepsi orang tersebut bahwa dirinya memiliki relasi sosial yang tidak memuaskan. Orang yang kesepian juga cenderung merasa bermusuhan dengan orang di sekitarnya.
b. Manifestasi kognitif
bentuk harga diri yang rendah disebabkan oleh merasa tidak mampu mendapat relasi yang memuaskan.
c. Manifestasi perilaku
Pengalaman kesepian terlihat dalam bentuk perilaku kurang asertif yang dipengaruhi oleh karakter pemalu dan social
risk-taking yang rendah.
3. Penyebab Kesepian
Peplau dan Perlman (1982) menjelaskan beberapa penyebab seseorang mengalami kesepian sebagai berikut :
a. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi mencakup beberapa karakteristik sebagai berikut :
1) Karakteristik individu
Pengalaman kesepian disebabkan oleh karakter yang membuat orang tersebut rentan akan kesepian seperti
self-esteem yang rendah, pemalu, terlalu memikirkan diri sendiri,
2) Karakteristik situasi
Situasi-situasi tertentu membuat seseorang rentan untuk mengalami kesepian. Situasi-situasi yang mempengaruhi adalah jarak, biaya, dan waktu. Contohnya adalah perpisahan dengan sahabat atau pacar. Orang yang lebih suka dengan kesendirian tidak merasa kesepian disebabkan mereka tidak berharap banyak terhadap pergaulannya.
3) Budaya
Slazer (dalam Peplau & Perlman, 1982) menjelaskan bahwa penyebab kesepian disebabkan oleh budaya tempat tinggal. Contohnya adalah budaya Amerika yang lebih menekankan kompetisi dan kebebasan individu membuat seseorang mengalami kesepian disebabkan dirinya kurang memperhatikan kebutuhan akan kedekatan dengan orang lain.
b. Faktor Presipitasi
c. Faktor Kognitif
Intensitas kesepian seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor sebagai berikut:
1) Attribusi sebab
Persepsi tentang penyebab kesepian mempengaruhi durasi perasaan kesepian. Contoh dari attribusi sebab adalah jika seseorang menilai bahwa faktor karakter menjadi penyebab kesepiannya dan tidak bisa diubah, dirinya mengalami kesepian yang berkepanjangan, depresi, dan lebih pesimis. Berbeda dengan seseorang menilai bahwa faktor yang menyebabkan kesepian bisa diubah, perasaan kesepian tidak begitu lama. 2) Perbandingan sosial
3) Perception of personal control
Persepsi tentang apa yang dilakukan terhadap kehidupan relasi mempengaruhi durasi kesepian. Seseorang yang berpikir bahwa dirinya melakukan sesuatu untuk kehidupan relasinya tidak akan merasa kesepian dalam waktu yang lama. Seseorang yang merasa tidak memiliki cara untuk mengatasi kesepian mengalami kesepian dalam jangka waktu yang lama.
4. Akibat Kesepian
Perasaan kesepian membuat seseorang mengalami konsekuensi negatif sebagai berikut:
a. Perasaan kesepian dalam jangka waktu lama mengakibatkan seseorang melakukan prilaku-prilaku yang menyimpang seperti konsumsi alkohol, dan obat-obatan. Kesepian juga menjadi salah satu faktor seseorang bunuh diri (Peplau & Perlman, 1982).
5. Solusi (coping) terhadap kesepian
Peplau dan Perlman (1982) menjelaskan tiga solusi untuk mengatasi perasaan kesepian sebagai berikut :
a. Memperbaiki kehidupan relasi sosial
Perasaan kesepian diatasi dengan memperbaiki kehidupan relasi yang sesuai dengan harapan. Peplau dan Perlman mengatakan bahwa solusi ini adalah solusi yang terbaik untuk mengatasi kesepian.
b. Memperlemah keinginan untuk memiliki relasi
Solusi ini dilakukan dengan cara mengalihkan perhatian terhadap kegiatan yang dapat dinikmati sendiri. Cara tersebut membuat seseorang terbiasa dengan keadaan sendiri dan tidak merasa kesepian.
c. Mengubah pandangan tentang pentingnya kehidupan relasi sosial.
C. DEWASA AWAL
1.
Pengertian Dewasa AwalIstilah adult berasal dari adultus yang berarti “telah tumbuh menjadi
kekuatan dan ukuran yang sempurna” atau “telah menjadi dewasa.”
Orang dewasa adalah orang yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya. Masa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai 40 tahun dan terjadi perubahan fisik dan psikologis yang disertai berkurangnya kemampuan reproduktif (Hurlock, 1991).
Santrock (2002) mengatakan bahwa seseorang yang memasuki masa dewasa awal adalah orang yang memenuhi dua kriteria yaitu kemandirian ekonomi dan kemandirian dalam mengambil keputusan. Seseorang dikatakan memiliki kemandirian ekonomi ketika dirinya memiliki pekerjaan penuh waktu yang tetap. Orang yang memasuki masa dewasa awal juga mengambil keputusan berkaitan dengan karir, nilai-nilai, gaya hidup, dan keluarga.
Orang dewasa awal adalah orang yang berada dalam rentang 18-40 tahun, mengalami perubahan fisik dan psikologis dan menurunnya kemampuan reproduktif. Orang dewasa awal juga menjalankan peran yang mandiri berkaitan dengan hal ekonomi, karir, gaya hidup, dan relasi terutama keluarga.
2.
Ciri-ciri masa Dewasa AwalHurlock (1991) menjelaskan beberapa ciri-ciri yang menonjol dalam masa dewasa awal sebagai berikut :
a. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Pengaturan”
Ketika seseorang telah mencapai usia dewasa awal, orang tersebut menerima tanggung jawab orang dewasa seperti pekerjaan dan rumah tangga. Baik pria atau wanita dewasa awal mencari pekerjaan yang benar-benar cocok baginya. Pria mendekati wanita yang cocok dengannya untuk membentuk keluarga yang baru sedangkan wanita mempersiapkan diri untuk bertanggung jawab menjadi ibu rumah tangga.
b. Masa Dewasa Awal sebagai “Usia Reproduktif”
c. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Bermasalah”
Masa dewasa awal adalah suatu masa seseorang menghadapi banyak masalah berkaitan dengan penyesuaian diri terhadap pola kehidupannya yang baru seperti masalah karir dan membentuk keluarga baru.
d. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Ketegangan Emosional”
Seseorang dalam masa dewasa awal yang menghadapi penyesuaian diri terhadap pola kehidupan baru sering mengalami kebingungan dan keresahan emosional. Jika mampu menyelesaikan masalah-masalah dengan baik, orang dewasa awal lebih stabil dan tenang secara emosional.
e. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Keterasingan Sosial”
Pendidikan formal dan menghadapi pola kehidupan orang dewasa seperi karir dan keluarga mengakibatkan seseorang dengan usia dewasa awal sering mengalami renggangnya hubungan dengan kelompok teman-teman sebaya pada masa sebelumnya.
Erikson (dalam Hurlock, 1991) disebut sebagai “krisis
keterasingan”. Apakah kesepian ini sementara atau tetap
bergantung dari kemampuan seseorang untuk membina hubungan dengan lingkungan yang baru.
f. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Komitmen”
jawab baru, dan membuat komitmen-komitmen baru untuk menghadapi aspek-aspek kehidupan orang dewasa.
g. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Ketergantungan”
Walaupun sudah diberikan kebebasan untuk mandiri, orang dewasa awal sering bergantung pada orang lain untuk menghadapi pola kehidupan orang dewasa.
h. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Perubahan Nilai”
Nilai-nilai yang sebelumnya dipegang pada masa muda akan berubah setelah pengalaman dan memiliki hubungan sosial baru. Perubahan tersebut terjadi disebabkan orang dewasa awal melakukan penyesuaian diri terhadap kelompok orang dewasa agar diterima oleh kelompok tersebut. Faktor lainnya adalah orang dewasa awal menyadari bahwa banyak kelompok sosial yang memegang nilai-nilai konvesional dalam hal pemikiran dan perilaku.
i. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Penyesuaian Diri dengan Cara
Hidup Baru”
j. Masa Dewasa Awal sebagai “Masa Kreatif”
Orang dewasa awal sudah tidak terikat lagi oleh ketentuan dari orang tua dan guru-gurunya, sehingga merasa bebas untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan.
3.
Tahap Perkembangan Dewasa Awal (Intimacy versus Isolation) Erikson (dalam Santrock, 2002) mengatakan bahwa tahap perkembangan masa dewasa awal adalah intimacy versus isolation. Seseorang dikatakan mencapai keintiman (intimacy) jika dirinya membangun dan menjalin hubungan yang hangat, terbuka, dan saling berbagi informasi personal walaupun tidak semuanya. Sebaliknya, seseorang yang tidak bisa membina hubungan dengan baik mengalami isolasi dan cenderung kesepian. Salah satu tugas penting seseorang pada masa dewasa awal adalah memiliki hubungan yang intim dengan seseorang dan hubungan sosial dengan suatu kelompok masyarakat.4.
Resiko Kesepian pada Masa Dewasa AwalPernyataan tersebut didukung oleh Peplau dan Perlman (1982) bahwa merantau ke luar kota untuk studi atau bekerja memicu kesepian. Orang terkadang susah untuk menemukan relasi yang cocok pada masa dewasa awal. Kondisi tersebut disebabkan oleh kesibukan atau ketidakmampuan untuk menciptakan relasi yang akrab.
Kesepian pada orang dewasa awal juga disebabkan oleh status pernikahan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Berg (dalam Peplau & Perlman, 1982) menunjukkan bahwa perasaan kesepian lebih banyak dialami oleh orang yang masih melajang daripada yang menikah.
D. DINAMIKA
Dewasa awal merupakan suatu masa seseorang melepaskan ketergantungan dari orang tua. Mereka menyusun rencana sendiri untuk mencapai kemapanan seperti pekerjaan apa yang akan dipilih dan pengaturan ekonomi. Orang pada masa dewasa awal membangun relasi yang lebih mendalam dengan orang lain seperti sahabat dan pasangan hidup (Hurlock, 1991)
Apakah perasaan kesepian bersifat sementara atau bertahan lama bergantung dari kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru (Hurlock, 1991). Erikson (dalam Santrock, 2002) juga mengatakan tugas perkembangan orang pada masa dewasa awal adalah mencapai keintiman yaitu mengembangkan hubungan yang lebih mendalam dengan orang lain seperti persahabatan atau pacaran yang berujung pada pernikahan. Tugas perkembangan dewasa awal disebut dengan intimacy vs isolation. Seseorang yang tidak menciptakan hubungan yang mendalam dengan orang lain mengalami perasaan terasing dan kesepian. Mereka hanya mendapatkan hubungan yang dangkal dengan orang sekitar.
motivasi untuk menjalin dan merawat hubungan yang baik dengan temannya ketika orang tersebut mampu menemukan hal-hal yang positif dari temannya seperti pertolongan atau hadiah yang diberikannya selama ini. Orang yang terbiasa bersyukur juga lebih merasa dicintai dan dihargai (McCullough, Emmons, & Tsang, 2002) sehingga kebutuhan akan keintiman dengan orang lain terpenuhi. Kondisi tersebut membuat seseorang terhindar dari kesepian.
SKEMA
Orang pada masa dewasa awal meninggalkan lingkungan pergaulan yang
lama menuju lingkungan pergaulan yang baru
Kebiasaan bersyukur yang rendah Kesepian rendah Kurang termotivasi untuk menjalin relasi dengan orang lain dan merasa terisolasi dan tidak dicintai
Kesepian tinggi Tidak mendapat pergaulan yang memuaskan Kebiasaan bersyukur yang tinggi Mendapat pergaulan yang memuaskan Lebih termotivasi untuk menjalin relasi dengan orang lain dan
lebih merasa dicintai dan
E. HIPOTESIS PENELITIAN
26
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang mengumpulkan data berupa angka dan menarik suatu kesimpulan dengan prosedur statistik (Creswell, 2009).
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode survei. Metode survei adalah suatu cara pengumpulan data dengan kuesioner terhadap sejumlah sampel dalam suatu populasi. Penelitian ini melihat pengaruh variabel bersyukur terhadap variabel kesepian perantau luar kota dewasa awal.
B. IDENTIFIKASI VARIABEL
Penelitian ini terdiri dari dua variabel sebagai berikut : Variabel Independen : Bersyukur
C. DEFINISI OPERASIONAL 1. Bersyukur
Bersyukur adalah suatu perasaan menyenangkan atau penghargaan yang muncul karena persepsi bahwa dirinya menerima sesuatu yang bernilai positif atau bermakna dari orang lain, Tuhan, atau peristiwa yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan.
Peneliti mengukur kemampuan bersyukur dengan menggunakan skala bersyukur yang dibuat oleh peneliti sendiri. Skala bersyukur dibuat berdasarkan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Watkins, dkk (2003). Kemampuan bersyukur menurut Watkins, dkk (2003), terdiri dari beberapa aspek seperti rasa berkecukupan (sense of abundance), penghargaan terhadap hal yang simpel (simple appreciation), dan penghargaan terhadap kontribusi orang lain (Appreciation for others). Skor yang tinggi dalam skala ini menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki kecenderungan bersyukur yang tinggi pula. Sebaliknya, skor yang rendah menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki kecenderungan bersyukur yang rendah.
2. Kesepian
kesepian seseorang berdasarkan dari manifestasi-manifestasi yang ditetapkan oleh Peplau dan Perlman (1982).
Tingkat kesepian diukur melalui skor total dari skala kesepian. Semakin besar skor yang diperoleh, maka semakin kuat pula rasa kesepian pada diri seseorang.
D. SUBJEK PENELITIAN
Subjek pada penelitian ini merupakan orang masa dewasa awal yang memiliki usia 18-40 tahun dan berpindah ke luar kota. Penelitian ini menggunakan teknik Purposive sampling. Teknik tersebut merupakan mengambil data pada sampel yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh peneliti (Winarsunu, 2013).
mendapat sahabat atau pasangan. Merupakan hal yang penting untuk orang pada masa dewasa awal menjalin relasi yang baik dengan lingkungan yang baru.
Peneliti memilih subjek yang belum menikah. Pemilihan tersebut berdasarkan survei yang dilakukan oleh Berg (dalam Peplau & Perlman, 1982) bahwa orang yang belum menikah memiliki resiko mengalami kesepian yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sudah menikah.
E. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
1. Metode
Metode pengumpulan data pada penelitian ini merupakan metode survei. Metode ini dilakukan dengan memberikan skala pada subjek dan diisi oleh subjek. Skala penelitian disebarkan kepada subjek yang memenuhi kriteria dengan bentuk booklet atau online. Peneliti menyebarkan skala dalam bentuk online agar lebih mudah mencari subjek dan menghemat dana. Peneliti juga meminta kepada beberapa subjek untuk menyebarkan skala kepada orang yang memenuhi kriteria yang ditentukan.
2. Alat Ukur
Alat Ukur yang dipakai dalam penelitian dibuat dalam bentuk Skala
Likert. Skala tersebut terdiri dari dua macam item yaitu item favorable,
unfavorable (item yang isinya bertentangan dengan variabel yang diukur).
Pilihan jawaban yang tersedia adalah Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Setuju (S), Sangat Setuju (SS).
Penelitian ini menggunakan dua skala yaitu skala bersyukur dan skala kesepian yang penjelasannya adalah sebagai berikut :
a. Skala Bersyukur
Skala ini disusun berdasarkan aspek-aspek yang dibuat oleh Watkins, dkk (2003) seperti merasa berkecukupan, menghargai hal yang simpel, dan menghargai kontribusi orang lain.
Penentuan penilaian untuk pernyataan favorable dan pernyataan
[image:50.595.88.519.228.627.2]unfavorable disusun sebagai berikut :
Tabel 3.1.
Pemberian Skor Skala Bersyukur
Alternatif Jawaban Pernyataan Favorable
Pernyataan Unfavorable
Sangat Tidak Setuju 1 4
Tidak Setuju 2 3
Setuju 3 2
Sangat Setuju 4 1
Tabel 3.2.
Blue Print Skala Bersyukur
Aspek Item Jumlah Persentase
(%) Favorable Unfavorable
Merasa Berkecukupan
2, 10, 22, 32, 24, 27
5, 8, 14, 16, 26, 36,
12 33,3
Jumlah 6 6
Menghargai Hal yang
Simpel
13, 18, 23, 30, 33, 34,
6, 12, 19, 25, 28, 29
12 33,3
Jumlah 6 6
Menghargai Kontribusi Orang lain
4, 7, 9, 11, 17, 35
1, 3, 15, 20, 21, 31
12 33,3
Jumlah 6 6
Jumlah 36 100
b. Skala Kesepian
Skala ini mengukur perasaan kesepian yang dialami individu. Skala ini disusun berdasarkan beberapa manifestasi yang dikemukakan oleh Peplau dan Perlman (1982). Manifestasi tersebut adalah manifestasi afektif, kognitif, dan prilaku.
Tabel 3.3.
Pemberian Skor Skala Kesepian Alternatif Jawaban Pernyataan
Favorable
Pernyataan Unfavorable Sangat Tidak
Setuju
1 4
Tidak Setuju 2 3
Setuju 3 2
[image:52.595.84.518.138.632.2]Sangat Setuju 4 1
Tabel 3.4.
Blue Print skala kesepian
ASPEK ITEM JUML
AH
PERSENTAS E (%) Favorable Unfavorable
Manifest asi Afektif
8, 17, 18, 21, 25, 27,
40
2, 6, 12, 15, 30, 32, 36
14 33,3
Jumlah 7 7
Manifest asi Prilaku
1, 11, 13, 19, 28, 38,
42
5, 7, 10, 24, 33, 37, 39
14 33,3
Jumlah 7 7
Manifest asi Kognitif
9, 16, 22, 23, 29, 31,
41,
3, 4, 14, 20, 26, 34, 35
14 33,3
Jumlah 7 7
Jumlah total 42 100
F. PERSIAPAN PENELITIAN 1. Pelaksanaan Uji coba
memiliki reabilitas yang cukup. Uji coba juga dilakukan untuk melihat apakah item-item yang telah dibuat memiliki daya beda yang tinggi.
Uji coba pada kedua skala dilakukan oleh peneliti pada tanggal 6 April 2016 dengan menyebarkan skala tersebut kepada beberapa mahasiswa dan mahasiswi Universitas Sanata Dharma. Peneliti juga meminta bantuan kepada beberapa teman untuk menyebarkan skala kepada orang lain yang memenuhi kriteria. Peneliti mengumpulkan 50 kuesioner dengan keadaan semua item terisi dan layak dianalisa.
2. Seleksi Item
Seleksi item dilakukan untuk memilih item-item yang layak digunakan untuk mengambil data yang sesungguhnya. Seleksi item dilakukan berdasarkan daya diskriminasi setiap item. Daya diskriminasi item adalah kemampuan suatu item untuk melihat apakah seseorang memiliki ciri-ciri attribut yang diukur. Daya beda item juga mempengaruhi reabilitas skala (Azwar, 2012).
Seleksi item pada setiap skala menggunakan program SPSS for
Windows 16.00. Item yang layak untuk digunakan memiliki nilai
koefisien > 0,30 sedangkan item yang tidak layak digunakan memiliki nilai koefisien < 0,30. Peneliti menggunakan standar nilai > 0,25 jika total item yang layak digunakan tidak sesuai yang diinginkan.
bersyukur terbagi dalam tiga aspek seperti merasa berkecukupan yang terdiri dari 12 item, menghargai hal simpel 12 item, dan menghargai kontribusi orang lain 12 item. Kalimat item-item tersebut disusun dengan bahasa yang sesuai dengan kehidupan subjek.
[image:54.595.84.512.245.678.2]Uji daya beda item dengan nilai koefisien > 0,30 menghasilkan 27 item yang layak digunakan. Item-item tersebut terdiri 6 item merasa berkecukupan, 10 item menghargai hal simpel, dan 11 item menghargai kontribusi orang lain. Peneliti memutuskan untuk menjadikan standar nilai koefisien menjadi > 0,25 agar mendapat jumlah item yang seimbang untuk setiap aspek. Dengan standar > 0,25, 2 item layak digunakan untuk mengambil data yaitu item no 8 dan 36.
Tabel 3.5.
Item skala bersyukur setelah ujicoba
Aspek Item Jumlah Persentase
(%) Favorable Unfavorable
Merasa Berkecukupan
2, 10, 22, 32, 24, 27
5, 8, 14, 16, 26, 36
8 33,3
Jumlah 4 4
Menghargai Hal yang Simpel
13, 18, 23, 30, 33, 34,
6, 12, 19, 25, 28, 29
8 33,3
Jumlah 4 4
Menghargai Kontribusi Orang lain
4, 7, 9, 11, 17, 35
1, 3, 15, 20, 21, 31
8 33,3
Jumlah 4 4
Jumlah total 24 100
Skala Kesepian dibuat oleh peneliti dengan total 42 item. Skala tersebut terbagi dalam 21 item favorable dan 21 item unfavorable. Skala kesepian terdiri dari tiga aspek seperti manifestasi afektif 14 item, manifestasi prilaku 14 item, dan manifestasi 14 item.
[image:55.595.86.517.188.695.2]Uji daya beda item dilakukan dengan standar nilai > 0,30 mendapatkan jumlah 25 item. Jumlah tersebut terbagi dalam 11 item manifestasi afektif, 5 manifestasi prilaku, dan 9 manifestasi kognitif. Peneliti memutuskan untuk merendahkan standar nilai koefisien menjadi > 0,25 agar menyeimbangkan jumlah item setiap aspek. Jumlah item yang layak dengan nilai koefisien > 0,25 adalah 26. Jumlah item setiap aspek adalah 11 item manifestasi afektif, 6 manifestasi prilaku, dan 9 manifestasi kognitif.
Tabel 3.6.
Item skala kesepian setelah uji coba
Aspek Item Jumlah Persentase
(%) Favorable Unfavorable
Manifestasi Afektif
8, 17, 18, 25, 27, 40
12, 15, 30,
32, 36 6 33,3
Jumlah 3 3
Manifestasi Prilaku
1, 19, 28, 42
24, 37
6 33,3
Jumlah 4 2
Manifestasi Kognitif
9, 16, 23, 29, 31
3, 4, 34, 35
6 33,3
Jumlah 3 3
Jumlah total 18 100
3. Hasil Uji Coba Alat Ukur a. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui ketepatan alat ukur dalam menjalankan fungsinya. Suatu alat ukur dikatakan valid jika alat ukur tersebut mengukur sesuai dengan apa yang ingin diukur. Uji validitas terhadap dua skala dalam penelitian ini menggunakan validitas isi. Validitas isi menggunakan perkiraan rasional dari
professional judgement. Peneliti meminta bantuan dosen pembimbing
untuk melihat apakah item-item setiap skala relevan dengan aspek-aspek yang hendak diukur (Azwar, 2012).
b. Uji Reabilitas
Uji reabilitas dilakukan untuk melihat apakah suatu alat ukur terpercaya dan konsisten dalam pengukuran (Azwar, 2012). Peneliti menggunakan reabilitas Alpha Cronbach dalam SPSS for Windows
16,00 untuk melihat reabilitas setiap skala. Koefisien reabilitas
memiliki rentang dari 0,00 sampai 1,00. Alat ukur yang memiliki reabilitas mendekati angka 1,00 memiliki reabilitas yang tinggi sedangkan alat ukur yang reabilitasnya mendekati 0,00 memiliki reabilitas yang rendah. Suatu alat ukur dikatakan reliabel jika memiliki koefisien reabilitas diatas 0,600.
item. Nilai tersebut menjelaskan bahwa skala bersyukur memiliki reliabilitas yang cukup baik.
Skala kesepian memiliki koefisien reabilitas 0,847 sebelum seleksi item dan memiliki koefisien 0,883 sesudah seleksi item. Nilai tersebut menunjukkan bahwa skala kesepian memiliki reabilitas yang baik.
G. Metode Analisa Data
Analisis data dilakukan untuk mengolah data yang diterima oleh peneliti untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang diteliti. Metode analisa data yang digunakan adalah uji asumsi klasik dan uji regresi linier sederhana. Uji asumsi klasik yang dilakukan adalah uji heteroskedastisitas, uji normalitas residu, dan uji autokorelasi (Priyatno, 2012). Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi linier dalam penelitian layak dipakai.
38
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. PELAKSANAAN PENELITIAN
Peneliti membuat skala dalam dua bentuk yaitu dalam bentuk booklet dan skala online yang dapat dikerjakan lewat internet. Pengambilan data dilakukan dengan membagikan skala penelitian kepada subjek yang memenuhi kriteria. Peneliti juga meminta bantuan kepada beberapa orang untuk menyebarkan sejumlah skala kepada orang yang memenuhi kriteria.
Pengambilan data dimulai pada tanggal 4 Mei 2016. Peneliti memnyebarkan skala kepada mahasiswa-mahasiswi Kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti juga meminta bantuan kepada beberapa teman untuk menyebarkan skala penelitian dalam bentuk
booklet maupun online.
B. DESKRIPSI SUBJEK PENELITIAN
Tabel 4.1.
Deskripsi Usia Subjek
Usia Jumlah (%)
18 4 2,32
19 22 12,79
20 31 18,02
21 21 12,2
22 25 14,53
23 37 21,51
24 17 9,88
25 4 2,32
26 4 2,32
27 5 2,9
29 1 0,58
37 1 0,58
Jumlah 172 100
Tabel 4.2.
Deskripsi Jenis Kelamin Subjek
Jenis Kelamin Jumlah (%)
Laki-Laki 45 26,16
Perempuan 127 73,84
Jumlah 172 100
Tabel 4.3.
Deskripsi Pekerjaan Subjek
Pekerjaan Jumlah (%)
Kuliah 130 75,58
Bekerja 38 22,09
Kuliah, Bekerja 4 2,33
Tabel 4.4.
Deskripsi Daerah Asal
Daerah Asal Jumlah (%)
Jakarta 8 4,65
Jawa Barat 23 13,37
Jawa Tengah 39 22,67
Jawa Timur 5 2,9
Yogyakarta 6 3,49
Banten 5 2,9
Bali 6 3,49
Sumatera 23 13,37
Papua 6 3,49
Kalimantan 34 19,77
NTT 13 7,56
Sulawesi 4 2,33
Jumlah 172 100
Catatan : semua subjek yang diteliti berasal dari luar kota, untuk data yang lebih lengkap lihat lampiran
C. DESKRIPSI STATISTIK DATA PENELITIAN
Tabel 4.5.
Deskripsi Statistik Data Variabel Bersyukur dan Kesepian Perantau
Luar Kota Dewasa Awal
Variabel
Mean teoritik Mean Empirik
Xmin Xmaks Mean Xmin Xmaks Mean
Bersyukur 24 96 60 55 87 70,27
Kesepian 18 72 45 19 55 35,87
Hasil di atas menunjukkan bahwa skala bersyukur memiliki nilai mean teoritik sebesar 60 dan nilai empirik sebesar 70,27. Hasil di atas menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki kemampuan bersyukur yang tinggi. Skala kesepian memiliki nilai mean teoritik sebesar 45 dan nilai empirik sebesar 35,87. Nilai di atas menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki perasaan kesepian yang rendah.
D. HASIL PENELITIAN 1. Uji Asumsi Penelitian
Uji asumsi penelitian yang dilakukan adalah uji normalitas residu, uji homoskedastisitas, dan uji autokorelasi.
a.Uji Normalitas Residu
Kolmogorov-Smirnov test melalui SPSS for Windows version 16.00. Uji
[image:62.595.85.519.185.646.2]normalitas menunjukkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.6.
Uji Normalitas Residu dengan Kolmogorov-Smirnov test
VAR00005
N 172
Normal Parameter Mean .00000000 Std. Deviation 5.55233E0 Most Extreme Differences Absolute .074
Positive .074
Negative -.070
Kolmogorov Smirnov Z .976
Asymp Sig. (2-tailed) .297
Hasil data diatas menunjukkan bahwa variabel bersyukur memiliki nilai signifikansi > 0,05. Nilai signifikansi menunjukkan bahwa data residu memiliki sebaran data yang normal.
b.Uji Homoskedastisitas
Tabel 4.7.
Uji Homoskedastisitas dengan Scatterplot
Scatterplot di atas menunjukkan keadaan homoskedastisitas
disebabkan titik-titik di scatterplot tersebar dan tidak membentuk pola yang jelas.
c.Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Durbin-Watson dengan program SPSS for Windows version
Tabel 4.8.
Uji Durbin-Watson
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the estimate
Durbin - Watson 1 0,392 0,154 0,149 5,569 1,854
Hasil uji Watson menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1,854. Tabel Durbin-Durbin-Watson dengan jumlah subjek (n) sebanyak 172 dan jumlah variabel (k) sebanyak 2, didapat nilai du sebesar 1,7741 dan nilai (4-du) sebesar 2,2259. Nilai Durbin-Watson lebih besar dari nilai du dan lebih kecil dari nilai 4-du. Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa autokorelasi tidak terjadi dalam penelitian.
2. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan dengan uji regresi linear sederhana. Uji regresi linear sederhana dilakukan untuk meneliti pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
Tabel 4.9.
Uji Hipotesis dengan Regresi Linear
Model Unstandarized Coefficients
Standarized Coefficients
T Sig B Std. Error Beta
Tabel data diatas menunjukkan nilai t sebesar -5,553. Nilai t tabel sebesar 1,65387. Nilai t hitung lebih besar dari t tabel (5,553>1,65387). Hasil di atas menunjukkan bahwa H0 ditolak dan hipotesis penelitian diterima yaitu bersyukur memiliki pengaruh negatif pada kesepian perantau luar kota masa dewasa awal. Hasil ini menunjukkan bahwa seseorang dengan kebiasaan bersyukur yang tinggi dirinya akan memiliki tingkat kesepian yang rendah. Dan sebaliknya, seseorang dengan kebiasaan bersyukur yang rendah memiliki tingkat kesepian yang tinggi.
E. PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukan bahwa hipotesis penelitian diterima, yaitu bersyukur memiliki pengaruh negatif pada kesepian dewasa awal yang merantau ke luar kota. Semakin tinggi kemampuan bersyukur seseorang mengakibatkan perasaan kesepian rendah. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah kemampuan bersyukur seseorang mengakibatkan perasaan kesepian tinggi.
[image:65.595.85.514.236.628.2]Seseorang tidak memiliki karakter tersebut jika memiliki kemampuan bersyukur. Seseorang yang mempunyai kemampuan bersyukur yang tinggi cenderung lebih perhatian dengan orang lain. Mereka memiliki motivasi untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Studi yang dilakukan oleh Algoe, dkk (2008) juga menghasilkan kesimpulan bahwa orang yang berusaha mensyukuri pemberian atau bantuan dari orang lain akan menilai orang tersebut lebih positif dan terdorong untuk mengembangkan dan merawat hubungan yang baik dengan orang tersebut.
Orang yang terbiasa bersyukur juga cenderung lebih mudah untuk merasa diterima dan dicintai oleh orang lain (McCullough, Emmons, & Tsang, 2002). Fromm-Reichmann (dalam Peplau & Perlman, 1982) mengatakan bahwa kebutuhan keintiman seperti dicintai oleh orang lain merupakan kebutuhan setiap orang. Seseorang yang terbiasa bersyukur membuat dirinya terhindar dari kesepian.
Nilai R square dalam penelitian ini adalah 0,154 atau 15,4 %. Nilai tersebut menunjukkan bahwa variabel bersyukur memiliki pengaruh terhadap kesepian sebesar 15,4% sedangkan 84,6% berasal dari faktor lain. Data diatas menunjukkan bahwa perasaan kesepian juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
Faktor lain yang mempengaruhi seseorang mengalami kesepian adalah masalah kecocokan dengan orang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan bersyukur yang tinggi lebih aktif dalam pergaulan dan lebih mudah untuk merasa dihargai dan dicintai. Namun, orang tersebut belum tentu cocok dengan lingkungannya. Ketidakcocokan dengan orang lain membuat seseorang merasa terisolasi dan kesepian. Masalah kecocokan dengan orang lain juga ditentukan oleh kesamaan latar belakang, minat dan nilai seseorang dengan orang lain. Seseorang yang tidak memiliki pandangan dan nilai hidup yang sama dengan orang di sekitarnya akan kesusahan untuk lebih akrab dengan lingkungannya (Sears, Freedman, & Peplau, 1985).
menyenangkan dalam interaksinya dengan orang lain contohnya bersikap hangat dan humoris daripada yang bersikap dingin dan pendiam.
Pengalaman kesepian juga dipengaruhi oleh gaya kelekatan seseorang. Seseorang yang memiliki gaya kelekatan insecure seperti preoccupied,
dismissive, atau fearful cenderung memiliki tingkat kesepian yang tinggi.
Kondisi tersebut disebabkan gaya kelekatan insecure lebih susah untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan pergaulannya sehingga orang dengan gaya kelekatan insecure cenderung merasa kesepian (Erozkan, 2011).
Hanya orang dengan kelekatan secure yang memiliki tingkat kesepian yang rendah. Orang dengan gaya kelekatan secure memiliki pandangan yang lebih positif tentang diri dan orang lain sehingga mereka merasa lebih dicintai dan dihargai. Orang dengan kelekatan secure terbukti merawat hubungan yang baik dengan orang lain sehingga memiliki tingkat kesepian yang rendah (Erozkan, 2011).
Penelitian ini belum menjelaskan apakah praktek bersyukur seperti studi yang dilakukan oleh Emmons dan McCullough (2003) menurunkan tingkat kesepian pada seseorang. Penelitian ini juga belum menjelaskan faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkat kesepian seseorang secara empiris.
50
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Peneliti menyimpulkan bahwa bersyukur memiliki pengaruh negatif pada perasaan kesepian perantau luar kota dewasa awal (5,553>1,65387). Pengaruh bersyukur tidak terlalu besar disebabkan masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkat kesepian seseorang.
B. Saran
Berdasarkan hasil dan pembahasan, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Peneliti Selanjutnya
51
DAFTAR PUSTAKA
Algoe, S. B., Haidt, J., & Gable, S. L. 2008. Beyond Reciprocity : Gratitude and Relationships in Everyday Life. National Institutes of Health. Vol 8. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2692821/pdf/nihms108394 .pdf. Diambil tanggal 25 April 2016.
Azwar, S. 2012. Penyusunan Skala Psikologi Edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Baron, R. A. & Byrne, D. 2005. Psikologi sosial (Edisi 10/Jilid 2). Jakarta: Erlangga. Cherry, K. 2016. Loneliness: Cause, Effect, and Treatments for Loneliness. 2016
https://www.verywell.com/loneliness-causes-effects-and-treatments-2795749. Diambil tanggal 13 Juni.
Creswell, J. W. 2009. Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed
Methods Approaches (3rd Edition). Thousand Oaks: SAGE.
Erozkan, A. 2011. The Attachment Styles Bases of Loneliness and Depression.
Academicjournals. Vol. 3(9).
http://www.academicjournals.org/article/article1380368284_Erozkan.pdf. 22 Juli 2016.
Gil, N. 2014. Loneliness: a Silent Plague that is hurting Young People Most. http://www.theguardian.com/lifeandstyle/2014/jul/20/loneliness-britains-silent-plague-hurts-young-people-most. Diambil tanggal 13 Januari 2016 Hurlock, E. B. 1991. Psikologi perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan (Edisi 5). Jakarta: Erlangga.
Indah, P. 2015. Hasil Penelitian: Efek Kesepian Sama dengan Obesitas. https://m.tempo.co/read/news/2015/03/17/060650773/hasil-penelitian-efek-kesepian-sama-dengan-obesitas. Diambil tanggal 13 November 2015. Martens, H. J. & Palermo G. B. 2005. Loneliness and Associated Violent
Antisocial Behavior: Analysis of the Case Reports of Jeffrey Dahmer and Dennis Nilsen. SAGE. Vol. 49. http://ijo.sagepub.com/content/49/3/298.
McCullough, M. E., Emmons, R. A., & Tsang, J. 2002. The Grateful Disposition : A Conceptual and Empirical Topography. American Psychological
Association, Inc. Vol. 82, no. 1,
http://greatergood.berkeley.edu/pdfs/GratitudePDFs/7McCullough-GratefulDisposition.pdf . Diambil tanggal 17 November 2015.
Papalia, D. E., Ruth D. 2014. Menyelami perkembangan manusia Edisi 12 Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.
Parwito. 2015. Kesepian Saat Ulang Tahun, Gadis Ini Nekat Ingin Bunuh Diri. http://www.vemale.com/ragam/79804-kesepian-saat-ulang-tahun-gadis-ini-nekat-ingin-bunuh-diri.html. Diambil tanggal 17 November 2015. Peplau, L. A., & Perlman, D. 1982. Perspectives on loneliness. In L. A. Peplau, &
D. Perlman (Eds.), Loneliness: A sourcebook of current theory, research and therapy (pp. 1-18). Wiley. New York.
Priyatno, D. 2012. Belajar Praktis Analisis Parametrik dan Non Parametrik
dengan SPSS. Yogyakarta: Gava Media.
Sansone, R. A, & Sansone, L. A. 2010. Gratitude and Well-Being : The Benefits of Appreciation. Psychiatry. Vol. 7, no. 11.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3010965/pdf/PE_7_11_18. pdf. Diambil Tanggal 17 November 2015.
Santrock, J. W. 2002. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup Edisi
Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Sears, D. O., Freedman, J. L. Peplau, L. A. 1985. Psikologi Sosial Edisi Kelima
Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Snyder, C.R. Lopez, S. J. Pedrotti, Jennifer T. 2011. Positive psychology : the
scientific and practical explorations of human strengths (2nd Edition). Los Angeles:
SAGE.
Watkins, P. C., Woodward, K., Stone, T., & Kolts, R. L. 2003. Gratitude and Happiness: Development of a Measure of Gratitude, and Relationships with Subjective Well-Being. Society for Personality Research. Vol. 31, no. 5.
http://greatergood.berkeley.edu/pdfs/GratitudePDFs/5Watkins-GratitudeHappiness.pdf. Diambil Tanggal 17 November 2015.
53
LAMPIRAN SKALA
BERSYUKUR (SKALA A)
DAN KESEPIAN (SKALA B)
PENGUKURAN SKALA PSIKOLOGIS
Disusun oleh :
Gerardus Mayella Abdi Pangeran
109114061
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
Dengan Hormat,
Dalam rangka memenuhi penyusunan tugas akhir dan menyelesaikan tugas saya sebagai mahasiswa, maka saya :
Nama : Gerardus Mayella Abdi Pangeran
NIM : 109114061
Fakultas : Psikologi
Universitas : Sanata Dharma
memohon kesediaan saudara-saudari sekalian untuk mengisi soal-soal dalam skala ini. Skala ini terbagi dalam beberapa bagian yaitu bagian A dan bagian B. Saya sangat berharap agar saudara-saudari memilih jawaban yang memang menggambarkan keadaan anda. Selain itu, jawaban yang anda berikan akan dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
Atas perhatian saudara-saudari sekalian, saya mengucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Pernyataan Kesediaan
Dengan ini, saya menyatakan bahwa saya bersedia untuk mengisi pernyataan-pernyataan dalam skala ini. partisipasi saya dalam pengisian skala ini atas inisiatif bukan paksaan dari pihak lain.
Selain itu, saya bersedia agar jawaban-jawaban saya digunakan untuk kepentingan penelitian.
..., ... 2016
Biodata Diri
Nama/inisial : ...
Jenis Kelamin : ...
Usia : ...
Kota Asal : ...
Domisili saat ini : ...
Pekerjaan saat ini : Kuliah/Bekerja*
Petunjuk Pengisian
Pada skala ini akan disajikan beberapa pernyataan. Baca dan pahamilah setiap pernyataan dengan seksama. Berikan jawaban dengan memberikan tanda
centang (√) pada kolom yang tersedia :
a. Jawaban Sangat Setuju (SS) jika anda sangat setuju dengan pernyataan tersebut.
b. Jawaban Setuju (S) jika anda setuju dengan pernyataan tersebut.
c. Jawaban Tidak Setuju (TS) jika anda tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
d. Jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) jika anda sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Sangat diharapkan agar saudara-saudari memilih jawaban yang menggambarkan keadaan anda. Selain itu, pastikan semua nomor dijawab dan tidak ada yang terlewat.
Contoh Pengerjaan :
No. Pernyataan STS TS S SS
1 Saya suka menghibur teman saya yang sedang bersedih
√
Berdasarkan contoh diatas, jika anda setuju dengan pernyataan tersebut, isilah tanda centang di kolom setuju.
SKALA A
No. Pernyataan STS TS S SS
1 Saya menganggap teguran orang tua mengganggu perkembangan saya 2 Saya tetap menikmati hidup saya
walaupun masih ada keinginan yang belum tercapai
3 Saya merasa teman-teman menghalangi saya untuk berkembang
4 Apa yang diberikan orang tua saya rasa cukup untuk hidup saya
5 Saya sering membeli barang untuk mengikuti trend masa kini
6 Saya tidak merasa terganggu ketika telat kuliah/kerja
7 Saya terbuka terhadap nasehat orang lain
8 Saya membutuhkan uang saku/gaji yang lebih banyak untuk kebutuhan dan keinginan saya
9 Perhatian dari teman-teman saya rasa cukup
10 Saya merasa handphone yang saya miliki masih berguna dan tidak perlu diganti
11 Saya merasa teman-teman mendukung saya untuk lebih berkembang
12 Saya merasa bentuk tubuh saya belum sesuai dengan harapan saya
14 Saya baru merasa bahagia setelah keinginan-keinginan saya tercapai 15 Saya merasa keluarga kurang mencintai
saya
No. Pernyataan STS TS S SS
16 Saya sedih dan marah saat teman-teman tidak bisa bermain bersama saya karena mereka sibuk
17 Saya berpikir bahwa teguran orang tua berguna agar saya hidup lebih baik 18 Saya berusaha mengerjakan tugas-tugas
saya tepat waktu
19 Saya kurang dapat merawat barang-barang yang saya miliki
20 Nasehat orang lain tidak penting buat saya
21 Saya merasa orang tua tidak memperhatikan kebutuhan saya 22 Saya hanya membeli barang-barang
yang memang saya butuhkan 23 Tubuh saya sekarang ini ideal
24 Saya merasa bahwa uang saku/ gaji saya sudah mencukupi
25 Saya berpikir bahwa potensi saya akan berkembang dengan sendirinya
26 Saya ingin mengganti handphone saya dengan handphone terbaru
dengan saya, saya bersedia untuk mencari hiburan sendiri
28 Saya sering menunda untuk menyelesaikan tugas saya
29 Saya sering membiarkan kamar/ kos saya berantakan
30 Saya berusaha agar saya datang kuliah/kerja tepat waktu
No. Pernyataan STS TS S SS
31 Saya merasa orang lain kurang mencintai saya
32 Saya merasa bahwa tempat tinggal saya sekarang cukup nyaman ditinggali 33 Saya berusaha mengembangkan
potensi-potensi yang saya miliki 34 Saya selalu berusaha menjaga
kebersihan kos/rumah
35 Keluarga saya penuh perhatian dan dukungan terhadap saya
SKALA B
No. Pernyataan STS TS S SS
1 Saya sungkan memberikan pendapat terhadap pembicaraan orang lain 2 Saya dapat menerima kritik dari teman
saya
3 Saya merasa teman-teman senang ketika bersama saya
4 Teman-teman saya dapat menjadi pendengar yang baik untuk saya 5 Saya berani untuk mengatakan tidak
setuju terhadap ide orang lain
6 Saya merasa senang dengan pergaulan saya sekarang
7 Saya suka mengutarakan pendapat saya kepada orang lain
8 Saya merasa jenuh ketika berkumpul dengan teman-teman
9 Saya merasa orang lain meremehkan saya
10 Saya senang memberikan komentar terhadap pembicaraan orang lain 11 Saya hanya ingin membahas masalah
saya ketika bersama orang lain
12 Saya merasa bahwa saya dicintai oleh teman-teman saya
13 Saya cenderung memenuhi permintaan orang lain walaupun sebenarnya saya ingin melakukan kegiatan lain
15 Berkenalan dengan orang baru adalah hal yang menyenangkan bagi saya
No. Pernyataan STS TS S SS
16 Saya merasa teman-teman tidak memahami saya
17 Saya merasa canggung ketika bertemu dengan orang baru
18 Saya merasa malu ketika berkumpul dengan teman-teman
19 Saya lebih banyak diam saat berkumpul dengan teman-teman saya
20 Saya merasa orang lain menghargai saya
21 Pergaulan yang saya miliki menyebalkan
22 Saya sering tidak dapat fokus pada tugas/pekerjaan saya
23 Saya merasa hanya dimanfaatkan oleh teman-teman
24 Saya nyaman mengajak teman-teman untuk jalan-jalan
25 Saya merasa ragu bahwa akan ada orang yang mau menerima saya
26 Saya berpikir bahwa ketidakcocokan dengan seseorang bukan karena kesalahan saya
27 Perilaku teman-teman membuat saya kecewa
untuk jalan-jalan
29 Saya merasa teman-teman tidak nyaman dengan keberadaan saya
30 Saya menikmati waktu bersama dengan teman-teman saya
No. Pernyataan STS TS S SS
31 Saya merasa ada yang salah pada diri saya sehingga teman-teman menjauhi saya
32 Saya senang ketika berkumpul dengan teman-teman
33 Saya berani menolak permintaan tolong orang lain ketika saya memiliki urusan lain
34 Saya merasa teman-teman menerima saya dengan tulus
35 Saya mudah untuk menjalin hubungan yang menyenangkan dengan orang lain 36 Saya senang dengan perlakuan
teman-teman terhadap saya
37 Saya senang membahas topik yang beragam bersama teman saya
38 Saya menuruti ide orang lain walaupun saya sebenarnya tidak setuju
39 Saya meminta bantuan kepada teman ketika sedang berada dalam kesulitan 40 Saya merasa tidak nyaman ketika
buruk tentang saya
41 Saya merasa kesulitan untuk menjalin hubungan pertemanan dengan orang lain
42 Saya lebih suka menyelesaikan masalah saya seorang diri
Periksa semua jawaban anda
Jangan sampai ada yang terlewatkan/belum terjawab
LAMPIRAN SKALA
BERSYUKUR (SKALA A)
DAN KESEPIAN (SKALA B)
PENGUKURAN SKALA PSIKO