3. METODE PENELITIAN
3.1. Definisi Konseptual
Definisi konseptual adalah “batasan tentang pengertian yang diberikan peneliti terhadap variabel-variabel (konsep) yang hendak diukur, diteliti dan digali datanya” (Hamidi, 2007, p.141). Topik yang akan diambil untuk melakukan penelitian ini adalah Efektivitas Kampanye 9 Nilai Anti Korupsi melalui Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali. Oleh karena itu, konsep dari topik ini adalah efektivitas komunikasi.
3.1.1. Efektivitas
Menurut Grunig (1984, p. 118), efektivitas adalah ketika setiap tujuan atau goal yang dibuat dapat tercapai melalui kegiatan yang dilaksanakan.
Terdapat empat efek yang dapat diteliti untuk melihat efektivitas dalam Public Relations yang juga disebut sebagai the hirarchy of effects (hirarki efek).
Dalam hirarki ini setiap tahapan merupakan tahap yang penting yang harus dilalui. Setiap tahapan tersebut seringkali disebut sebagai (Grunig, 1984, p. 125):
1. Tahap pertama adalah awareness (Responden sadar terhadap adanya pesan tersebut)
2. Tahap kedua adalah comprehension/interest (Responden memahami pesan tersebut)
3. Tahap ketiga adalah conviction/desire (Responden meyakini pesan tersebut)
4. Tahap keempat adalah action (Responden bertindak sesuai dengan pesan tersebut)
3.1.2. Kampanye PR
Kampanye PR adalah usaha yang terkoordinasi yang dibuat untuk mencapai suatu tujuan yang spesifik atau menjawab misi suatu organisasi
(Newsom, 2004, p. 301). Suatu kampanye public relations setidaknya harus mengandung lima hal yaitu :
1. Adanya aktivitas proses komunikasi kampanye untuk memengaruhi khalayak
2. Untuk membujuk dan memotivasi khalayak untuk berpartisipasi 3. ingin menciptakan efek atau dampak tertentu
4. dilaksanakan dengan tema spesifik
5. dalam waktu tertentu atau telah ditetapkan serta dilaksanakan secara terorganisir dan terencana baik untuk kepentingan kedua belah pihak atau sepihak.
3.2. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah petunjuk pelaksanaan bagaimana mengukur variabel (Singarimbun dan Effendi, 1985, p.46). Menurut Silalahi (2003, p.45), variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai, konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai, segala sesuatu yang diselidiki. Variabel dalam penelitian ini adalah efektivitas komunikasi.
1. Awareness. Awareness berkaitan dengan kesadaran terhadap pesan yang dikirimkan. Poin ini akan dihubungkan dengan 9 elemen nilai anti korupsi. Dapat dijabarkan seperti dibawah ini :
a. Responden menyadari bahwa Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” mengandung nilai kejujuran.
b. Responden menyadari bahwa Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” mengandung nilai kedisiplinan.
c. Responden menyadari bahwa Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” mengandung nilai tanggungjawab.
d. Responden menyadari bahwa Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” mengandung nilai kerja keras.
e. Responden menyadari bahwa Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” mengandung nilai kesederhanaan.
f. Responden menyadari bahwa Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” mengandung nilai kemandirian.
g. Responden menyadari bahwa Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” mengandung nilai keadilan.
h. Responden menyadari bahwa Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” mengandung nilai keberanian.
i. Responden menyadari bahwa Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” mengandung nilai kepedulian.
2.Comprehension/interest. Poin ini berbicara mengenai pemahaman responden terhadap pesan yang dikirimkan. Dalam film ini terdapat pesan mengenai 9 elemen nilai anti korupsi yaitu jujur, disiplin, tanggungjawab, kerjakeras, sederhana, mandiri, adil, berani, dan peduli. Sehingga akan dibahas mengenai 9 poin yang tersirat dalam film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” tersebut. Dapat dijabarkan seperti dibawah ini :
a. Responden memahami nilai kejujuran dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” secara praktis.
b. Responden memahami nilai kedisiplinan dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” secara praktis.
c. Responden memahami nilai tanggung jawab dalam Film
“Sebelum Pagi Terulang Kembali” secara praktis.
d. Responden memahami nilai kerja keras dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” secara praktis.
e. Responden memahami nilai kesederhanaan dalam Film
“Sebelum Pagi Terulang Kembali” secara praktis.
f. Responden memahami nilai kemandirian dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” secara praktis.
g. Responden memahami nilai keadilan dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” secara praktis.
h. Responden memahami nilai keberanian dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” secara praktis.
i. Responden memahami nilai kepedulian dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” secara praktis.
3. Conviction/desire. Poin ini berkaitan dengan kepercayaan responden terhadap pesan yang diterima. Dapat dijabarkan seperti dibawah ini :
a. Responden meyakini nilai kejujuran dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
b. Responden meyakini nilai kedisiplinan dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
c. Responden meyakini nilai tanggung jawab dalam Film
“Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
d. Responden meyakini nilai kerja keras dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
e. Responden meyakini nilai kesederhanaan dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
f. Responden meyakini nilai kemandirian dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
g. Responden meyakini nilai keadilan dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
h. Responden meyakini nilai keberanian dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
i. Responden meyakini nilai kepedulian dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
4. Action. Dalam poin ini responden melakukan aktivitas sesuai dengan pesan yang dikirimkan. Dapat dijabarkan seperti dibawah ini :
a. Responden menerapkan nilai kejujuran setelah menonton Film
“Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
b. Responden menerapkan nilai kedisiplinan setelah menonton Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
c. Responden menerapkan nilai tanggung jawab setelah menonton Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
d. Responden menerapkan nilai kerja keras setelah menonton Film
“Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
e. Responden menerapkan nilai kesederhanaan setelah menonton Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
f. Responden menerapkan nilai kemandirian setelah menonton Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
g. Responden menerapkan nilai keadilan setelah menonton Film
“Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
h. Responden menerapkan nilai keberanian setelah menonton Film
“Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
i. Responden menerapkan nilai kepedulian setelah menonton Film
“Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
3.3. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif.
Penelitian kuantitatif deskriptif adalah metode yang hanya memberikan gambaran atau deskripsi tentang variabel dari sebuah fenomena (Ardianto, 2010, p. 48). Menurut Ardianto (2010, p.48), Jenis penelitian kuantitatif deskriptif merupakan penelitian yang bersifat menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variabel yang timbul dimasyarakat yang menjadi objek penelitian tersebut. Sehingga dapat dipahami bahwa penelitian ini hanya bersifat menjelaskan suatu peristiwa, dan tidak mencari atau menjelaskan hubungan atau membuat perkiraan. Dari penelitian deskriptif ini, dapat dijelaskan atau digambarkan bagaimana efektivitas kampanye 9 nilai anti korupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”.
3.4. Metode Penelitian
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Ciri khas metode ini adalah data dikumpulkan dari responden yang jumlahnya banyak dengan menggunakan kuesioner (Ardianto, 2010, p.51).
Metode ini dipilih karena penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana efektivitas kampanye 9 nilai anti korupsi Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) melalui Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”. Metode pengumpulan data adalah cara atau teknik bagaimana data itu bisa ditemukan, digali, dikumpulkan, dikategorikan, dan dianalisis, sedangkan instrumen
pengumpulan data adalah alat yang digunakan untuk mengukur data yang hendak dikumpulkan (Ardianto, 2010, p. 161).
Dalam penelitian kuantitatif, instrumen pengumpulan data yang utama adalah angket atau kuesioner, sedangkan wawancara dan dokumenter adalah teknik penunjang data saja (Ardianto, 2010, p. 162). Sehingga, dalam penelitian ini akan digunakan kuesioner untuk memperoleh data dari responden. Angket atau kuesioner merupakan serangkaian atau daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis, untuk diisi oleh responden.
Dalam perkembangannya metode survei memungkinkan menggunakan wawancara sebagai instrumen riset di samping kuesioner, tujuannya adalah untuk memperdalam analisis dan interpretasi data (Kriyantono, 2007, p.60).
Wawancara adalah sebuah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan responden atau orang yang diwawancarai dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara (Kriyantono, 2007, p.60).
Untuk mempermudah pengumpulan data, maka peneliti menggunakan bantuan teknologi informasi seperti website yang dapat diakses oleh responden kapan saja dan dimana saja. Sistem hanya mengijinkan responden mengisi 1 (satu) kali saja. Hal ini dibuat oleh peneliti dengan tujuan agar angket atau kuesioner yang diisi benar-benar valid. Responden dalam penelitian ini merupakan penonton Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” yang menonton film tersebut di bioskop CINEMA XXI Pakuwon City dan Lenmarc Surabaya.
3.5. Populasi dan Sampel
Populasi adalah semua bagian atau anggota dari objek yang akan diamati. Populasi ditentukan oleh topik dan tujuan survey (Ardianto, 2010, p.170). Menurut List (2000, p.38), populasi berarti jumlah orang yang tinggal di dalam suatu kawasan. Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah Penonton Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” di bioskop CINEMA XXI Pakuwon City atau Lenmarc Surabaya.
Sampel merupakan wakil yang bersifat representatif dari populasi, khususnya dalam pendataan (Bulaeng, 2004, p.156). Peneliti akan
menggunakan purposive sampling, yaitu teknik memilih orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian (Singarimbun dan Effendi, 1989, p. 169). Kriteria yang dibuat antara lain : Penonton film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” di bioskop CINEMA XXI Pakuwon City atau Lenmarc Surabaya. Selain itu, mengingat sasaran kampanye adalah anak muda dan keluarga, maka dalam penelitian ini ditujukan bagi anak muda yang berusia 17 hingga 26 tahun, dan keluarga.
Ukuran sampel yang dapat diterima tergantung pada jenis penelitian Fraenkel dan Wallen dalam Sigit (1999, p.191) menyatakan bahwa sampel minimum untuk penelitian deskriptif adalah sebanyak 100 responden. Dalam penelitian ini jumlah penonton masuk dalam kategori infinit (tidak diketahui jumlahnya).
Oleh karena itu digunakan rumus sebagai berikut : Sehingga jumlah sampelnya adalah :
𝞼 =
(
)
=
(
)
= ( ) = 0,0026 n ≥
(
( )( ))
≥
(
( )
)
= 96,15Dari rumus tersebut ditemukan hasil jumlah sampel untuk penelitian ini yaitu 100 responden.
3.6. Teknik Penarikan Sampling
Sampling merupakan proses memilih sejumlah elemen dari populasi yang mencukupi untuk mempelajari sampel dan memahami karakteristik elemen populasi (Ruslan 2004, p. 149). Penelitian dengan menggunakan sampel yang representatif dapat memberikan hasil untuk dapat digeneralisir,
dan kriteria sampel yang representatif tersebut tergantung pada aspek akurasi dan presisi yang tinggi dari sampelnya (Ruslan, 2004, p. 143).
Teknik penarikan sampling yang digunakan adalah non probability sampling, dimana teknik ini digunakan karena peneliti tidak mengetahui dengan pasti dan memiliki data pasti tentang ukuran populasi serta informasi lengkap tentang setiap elemen populasi (Sngarimbun, 1995). Tipe teknik non probability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe purposive sampling, yaitu teknik memilih orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian (Singarimbun dan Effendi, 1989, p. 169). Kriteria yang dibuat antara lain : Penonton Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” di bioskop CINEMA XXI Pakuwon City atau Lenmarc Surabaya.
3.7. Jenis Sumber Data
Ada dua jenis sumber data yang biasanya digunakan dalam penelitian sosial, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
1. Sumber data primer, yaitu pertama dimana sebuah data dihasilkan (Ardianto, 2010, p.162). Dalam penelitian ini data primer adalah hasil kuesioner yang dibagikan kepada penonton Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” di bioskop CINEMA XXI Pakuwon City atau Lenmarc Surabaya.
2. Sumber data sekunder, yaitu data pendukung selain data primer. Sumber data sekunder diharapkan dapat berperan membantu mengungkap data yang diharapkan (Ardianto, 2010, p.162). Dalam penelitian ini, data sekunder adalah hasil wawancara dengan penonton Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” di bioskop CINEMA XXI Pakuwon City atau Lenmarc Surabaya dan pihak-pihak yang terkait dalam penelitian ini. Selain itu juga dilengkapi dengan menggali teori-teori yang telah ada dalam penelitian sejenis, serta menghindari terjadinya duplikasi yang tidak diinginkan.
3.8. Distribusi Frekuensi
Distribusi frekuensi digunakan untuk mengetahui bagaimana distribusi frekuensi sebuah data, bertujuan untuk menampilkan dan mendeskripsikan data yang terdiri dari satu variabel saja. Dengan prosedur frekuensi pada program SPSS maka akan ditampilkan deskriptif statistik berupa nilai frekuensi, presentase valid dan kumulatif. Perhitungan data dengan distribusi frekuensi dilakukan dengan menghitung frekuensi data tersebut kemudian dipresentasikan (Bungin, 2006, p. 171)
Skor masing-masing variabel dijumlahkan berdasarkan skor yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga didapatkan skor total. Untuk membagi kelas menjadi beberapa klasifikasi yang diingankan, dapat menggunakan rumus berikut ini (Singgih, 2003, p. 75).
Rumus Interval :
Keterangan :
I = Interval
Range = Skor jawaban tertinggi –skor jawaban terendah K = Kriteria yang diinginkan
Interval Kategori
1,00 ≤ mean ≤ 3,00 Tidak Efektif
3,01 ≤ mean ≤ 5,00 Efektif
Tabel 3.1. Kategori Mean Dari Skor Interval Sumber : Olahan Peneliti
3.9. Skala Interval Kelas
Skala yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah skala likert. Skala ini dipergunakan untuk mengukur data kuesioner (Umar, 2002, p.94). Dalam kuesioner akan digunakan lima kategori skala pengukuran, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, sangat setuju.
Pembagian interval kelas efektivitas menggunakan rumus : Besar interval = nilai tertinggi – nilai terendah = 5-1 = 0,8
Jumlah kategori 5
Dengan demikian skala pengukuran dalam kuesioner adalah :
Status Mean Kategori
1,00 ≤ mean ≤ 1,80 Sangat Tidak Setuju
1,81 ≤ mean ≤ 2,60 Tidak Setuju
2,61 ≤ mean ≤ 3,40 Netral
3,41 ≤ mean ≤ 4,20 Setuju
4,21 ≤ mean ≤ 5,00 Sangat Setuju
Tabel 3.2. Skala Pengukuran Efektivitas Sumber : Olahan Peneliti
3.10. Teknik Analisis Data
Tahapan yang dilakukan dalam menganalisa data adalah (Ardianto, 2010, p.201-208) :
1. Editing
Editing adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah peneliti selesai menghimpun data di lapangan. Kegiatan ini menjadi penting karena pada kenyataannya data yang terhimpun masih belum memenuhi harapan peneliti. Proses editing dimulai dengan memberikan identitas pada instrumen penelitian yang telah terjawab. Kemudian memeriksa satu per satu lembaran instrumen pengumpulan data, poin-poin serta jawaban yang tersedia. Ketika editing dilakukan sendiri, maka sebaiknya peneliti memiliki daftar koreksi yang dapat mempermudah pencarian instrumen yang harus mendapat pemeriksaan ulang (Ardianto, 2010, p.202).
2. Tahap Pengodean
Apabila semua data telah terkumpul dan selesai diedit di lapangan, tahap berikutnya adalah mengode data berdasarkan buku kode yang telah disusun. Tahap awal dalam mengode adalah
mempelajari jawaban responden, memutuskan perlu tidaknya jawban tersebut dikategorikan terlebih dahulu dan memberikan kode pada jawaban yang ada.
Pada tahapan ini, data yang telah diedit diberi identitas sehingga memiliki arti tertentu pada saat dianalisis. Pengodean ini menggunakan tiga cara yaitu pertanyaan tertutup, pertanyaan terbuka dan pertanyaan semi terbuka. Untuk memudahkan melakukan analisis data, maka diperlukan kode yang mewakili setiap jawaban. Biasanya kode jawaban berbentuk angka yang ada pada tiap jawaban.
3. Membuat Tabulasi
Tabulasi adalah bagian terakhir dari pengolahan data, yaitu memasukkan data pada tabel-tabel tertentu dan mengatur angka-angka serta menghitungnya. Ada beberapa langkah yang perlu dikerjakan dalam tabulasi yaitu :
a. Memasukkan data ke dalam kartu atau berkas (file) data b. Membuat tabel frekuensi
c. Mengedit/mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ditemukan setelah membuat tabel frekuensi.
3.11. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Tingkat reliabilitas dan validitas menunjukkan kualitas seluruh proses pengumpulan data dalam suatu penelitian, mulai dari penjabaran konsep- konsep sampai pada saat data siap untuk dianalisa (Singarimbun dan Effendi, 1985, p.87)
3.11.1. Uji Validitas
Dalam menilai validitas suatu alat ukur, peneliti mempertanyakan apakah alat ukur ini memang mencerminkan variabel atau konsep yang hendak diukur (Singarimbun, Effendi, 1985, p.87).
Validitas suatu butir pertanyaan dapat dilihat pada hasil output SPSS pada tabel Item-Total Statistics. Untuk menentukan kevalidan tiap pertanyaan, dapat dilihat pada nilai Corrected Item-Total Statistics. Suatu butir pernyataan
dikatakan valid jika nilai r yang merupakan nilai dari Corrected Item-total Statistics > dari r-tabel (Nugroho, 2005, p.67)
3.11.2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas merupakan ukuran yang menunjukkan konsistensi dari alat ukur dalam mengukur gelaja yang sama di lain kesempatan. Pengukuran akan dilakukan dengan metode Croncbanch Alpha, dimana suatu kuesioner dikatakan reliabel jika nilai Croncbanch Alpha lebih besar dari r-tabel (Nazir, 1998, p. 89)