• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

19 BAB III

METODE PENELITIAN 1.1 Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujuan meningkatkan kinerja guru serta hasil belajar siswa. PTK bertujuan tidak hanya mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan yang dihadapi, kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahanya (Sarwiji Suswandi, (2011).

Penelitian ini menggunakan rancangan dari Arikunto (2010) yaitu berbentuk bagan dari siklus kesiklus berikutnya, yang dimulai dari perencanaan, tindakan, observasi, refleksi. Prosedur Penelitian Kelas (PTK) dilakukan dalam proses sebagai beriku:

Gambar 3.1 Siklus PTK

Desain penelitian Arikunto (2010)

Siklus I Pengamatan 1 Pengamatan 2

Siklus II

Pengamatan 2

Pelaksanaan 1

Pelaksanaan 2 Refleksi 1

Refleksi 2

? Perencanaan

(2)

20

1.2 Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Taman Kanak-kanak Laboratorium Kristen Satya Wacana Salatiga, Jalan Diponegoro 40 salatiga yang berjudul peningkatan kemampuan motorik halus anak usia 4-5 tahun melalui kegiatan menggunting.

2. Waktu Penelitian

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada semester II bulan Mei 2015 sampai selesai tahun ajaran 2014/2015, sesuai dengan jam pembelajaran di kelompok A1 Taman Kanak-kanak Laboratorium Kristen Satya Wacana Salatiga.

1.3 Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah peserta didik Taman Kanak-kanak (TK) Laboratorium Kristen Satya Wacana. Penulis untuk meneliti TK A1 yang usia 4-5 tahun, di TK A1 memiliki satu kelas dan satu ruangan.

Jumlah anak didiknya yang diteliti 13 anak, terdiri dari 6 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Penentuan subjek penelitian tersebut dikarenakan pada Taman Kanak-kanak kegiatan menggunting dan mempunyai satu ruangan kelas. Yang terjadi suatu masalah yaitu kemampuan motorik halus masih kurang sehingga perlu dicari pemecahan masalah.

(3)

21

1.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel Penelitian:

1. Variabel terikat disebut variabel dependen, yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu kemampuan motorik halus

2. Variabel bebas disebut variabel independen, variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu kegiatan memggunting.

Definisi Operasional:

Definisi operasional diperlukan untuk menghindari salah pengertian dan penafsiran yang terdapat variabel-variabel penelitian. Beberapa definisi operasional tersebut sebagai berikut:

1. Motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan koordinasi otot-otot halus atau kecil dan koordinasi mata dan tangan.

2. Menngguntig adalah memotong beraneka kertas, pingiran kertas atau bahan-bahan lain yang mengikuti alur bentuk garis. Pada saat menggunting menggunakan mengkoordinasi mata dan tangan, dapat melatih jari jemari untuk mengerakan tangan agar gunting sesuai mengikuti pola.

1.5 Rancangan Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini direncanakan dengan dua siklus dengan masing-masing siklus.

(4)

22 1. Siklus I

Siklus 1 dilaksanakan 3 kali pertemuan, adapun kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran pada siklus I yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi diuraikan sebagai berikut:

a. Tahap Rancangan

Pada siklus I, perencanaan penelitian tindakan kelas dimulai dari penyusunan RKH (Ratuan Kegiatan Harian) yang memfokuskan pembelajaran kegiatan menggunting dengan benar dan menggunting sesuai pola. Dengan indikator meremas, menjumput, menempel dan menggunting. Dapat melatih kemampuan motorik halus, kemudian, guru menyiapkan peralatan yang akan dalam proses pembelajarn seperti menyiapkan lembar observasi kemampuan motorik halus anak.

Hal ini dimaksud agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar.

b. Pelaksanaan

Penulis sebagai guru dibantu teman sejawat, guru kelas dan guru pendamping sebagai observasi dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran yang bepedoman pada Rencana Kegiatan Harian (RKH), langkah-langkah pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak sebagai berikut yaitu:

1. Pertemuan I:

a. Kegiatan awal:

Pembukaan: berbaris, berdoa, salam, bernyanyi dan absen.

(5)

23 b. Kegiatan inti:

Menjelaskan metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pokok bahasan ini adalah meremas tisu dengan satu tangan, menjumput dan menempel dengan lima jari, tiga jari dua jari menempel sesuai pola, memegang gunting dengan benar dan menggunting sesuai pola.

c. Kegiatan akhir:

Memberi pesan dan motivasi, dan mengimformasikan bahwa anak semuanya hebat-hebat.

2. Pertemuan II:

a. Kegiatan awal:

Pembukaan yaitu berbaris, berdoa, salam, bernyanyi dan absen.

b. Kegiatan inti:

Menjelaskan metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pokok bahasan ini adalah meremas kertas koran dengan, menjumput dan menempel kertas koran dengan lima jari tiga jari, dua jari, menempel sesuai pola, memegang gunting dengan benar dan menggunting sesuai pola.

c. Kegiatan akhir

Memberi pesan dan motivasi, mengimformasikan bahwa anak semuanya hebat-hebat.

3. Pertemuan III:

a. Kegiatan awal:

Pembukaan: berbaris, berdoa, salam, bernyanyi dan absen.

(6)

24 b. Kegiatan inti:

Menjelaskan metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pokok bahasan ini adalah meremas kertas kado dengan satu tangan, menjumput dan menempel kertas kado, denga lima jari, tiga jari, dua jari, menempel sesuai pola, memegang gunting dengan benar dan menggunting sesuai pola.

c. Kegiatan akhir:

Memberi pesan dan motivasi, mengimformasikan bahwa anak semuanya hebat-hebat.

c. Observasi

Selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus I, penulis mengobservasi, mengamati dan melihat perkembangannya melalui kemampuan anak dalam melakukan pembelajaran dibantu oleh teman sejawat, guru pendamping dan guru kelas. Observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data sebagai bahan atau analisis dan refleksi yang dilakukan dalam pembelajaran kegiatan menggunting. Dari 3 kali pertemuan yang telah dilakukan pada siklus I diperoleh hasil observasi anak yang mampu mencapai tingkat kemampuan motorik halus.

d. Refleksi

Refleksi berupa koreksi terhadap tindakan yang telah dilaksanakan ini dilakukan untuk mengetahui kekurangan yang ada pada siklus I.

Berdasarkan hasil refleksi, ditemukan bahwa dari permasalahan yang ada, peneliti mengembangkan cara agar anak berkembang dalam motorik halus pada proses belajar mengajar dengan cara menggunakan

(7)

25

kertas yang berupa tulisan, dengan harapan proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan baik dan tertib.

2. Siklus II

Siklus II dilaksanakan 2 kali pertemuan, adapun siklus II kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran pada siklus yang meliputi tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi diuraikan sebagai berikut:

a. Tahap rancangan

Pada siklus II, perencanaan penelitian tindakan kelas dimulai dari penyusunan RKH (Ratuan Kegiatan Harian) yang memfokuskan.

Pembelajaran kegiatan menngguting dengan benar dan menggunting sesuai pola. Dengan indikator meremas, menjumput, menempel dan menggunting untuk melatih koordinasi, pergelangan tangan, jari-jari dan mata. Kemudian, peneliti menyiapkan peralatan yang akan dalam proses pembelajaran seperti menyiapkan lembar observasi kemampuan motorik halus anak. Hal ini dimaksud agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar.

b. Pelaksanaan

Peneliti sebagai guru dibantu teman sejawat, guru pendamping, dan guru kelas sebagai observer untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran kegiatan menggunting yang berpedoman pada rencana, langkah-langkah pembelajaran dalam meningkatkan

(8)

26

kemampuan motorik halus anak sebagai berikut yang dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan.

1. Pertemuan I a. Kegiatan awal:

Pembukaan yaitu berbaris, berdoa, salam, bernyanyi dan absen.

b. Kegiatan inti:

Menjelaskan metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pokok bahasan ini adalah meremas biji jagung dan menenyakan kepada anak perbedaan meremas keras dan biji jagung. Meminta anak menjumput dan menempel biji jagung dengan lima jari, tiga jari, dua jari, menempel sesuai pola, memegang gunting dengan benar dan menggunting sesuai pola.

c. Kegiatan akhir

Memberi pesan dan motivasi, mengimformasikan bahwa anak semaunya hebat-hebat dan beri tepuk hebat.

2. Pertemuan II a. Kegiatan awal:

Pembukaan yaitu berbaris, berdoa, salam, bernyanyi dan absen.

b. Kegiatan inti:

Menjelaskan metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pokok bahasan adalah sagu mutiara, peneliti

(9)

27

menyanyakan perbedaan kertas dan sagu mutiara. Meminta anak untuk menjumput dan menempel sagu mutiara dengan lima jari, tiga jari, dan dua jari, menempel sesuai pola, memegang gunting dengan benar dan menggunting sesuai pola.

c. Kegiatan akhir

Memberi pesan dan motivasi, menginformasikan bahwa anak semuannya hebat-hebat dan beri tepuk hebat, berdoa, salam dan pulang.

c. Observasi

Selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus II, penulis mengobservasi, mengamati dan melihat perkembangannya melalui kemampuan anak dakam melakukan kegiatan menggunting, peneliti dibantu oleh teman sejawat, guru pendamping dan guru kelas untuk jadi observer. Observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data atau analisis dan refleksi yang dilakukan pada siklus II diperoleh hasil observasi memperoleh hasil anak yang mampu mencapai tingkat kemampuan motorik halus dalam kegiatan menggunting.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap peningkatan kemampuan motorik halus anak dalam proses pembelajaran yang menggunakan metode kegiatan menggunting untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak.

(10)

28 1.6 Teknik Pengumpulan Data.

Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, dokumentasi dan penugasan dalam mengembangkan pembelajaran yang diberikan:

1. Observasi (Pengamatan)

Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung serta ikut terlibat dalam pengamatan tersebut. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi tentang objek yang diteliti, pengamat mencatat apa yang terjadi selama proses kegiatan berlangsung. Peneliti melakukan pengamatan bersama teman sejawat untuk memahami apa yang terjadi pada anak selama proses belajar mengajar.

2. Dokumentasi

Teknik dokumentasi untuk mengumpulkan data yang bersumber dari arsip dan dokumen. Menurut Arikunto (2010) metode dokumentasi data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. Dalam penelitian ini teknik dokumentasi yang dilakukan berupa dokumentasi foto kegiatan pembelajaran anak dan dokumentasi hasil karya anak.

3.7 Teknis Analisis.

Subjek penelitian ini adalah peserta didik Taman Kanak-kanak (TK) Laboratorium Kristen Satya Wacana. Peneliti untuk meneliti TK A1 yang usia 4-5 tahun, di TK A1 memiliki satu kelas dan satu ruangan. Jumlah anak didiknya yang diteliti 13 anak, terdiri dari 6 anak laki-laki dan 7 anak

(11)

29

perempuan. Penentuan subjek penelitian tersebut dikarenakan pada Taman Kanak-kanak kegiatan menggunting dan mempunyai satu ruangan kelas, yang terjadi suatu masalah yaitu kemampuan motorik halus masih kurang sehingga perlu dicari pemecahan masalah.

Dalam penelitian tindakan kelas ini penulis menggunakan analisis deskritif kualitatif yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh, dan tujuan untuk mengetahui peningkatan motorik halus anak serta mengetahui peningkatan keterampilan peneliti dalam mengolah kelas, data yang dianalisis menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan: f = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya N = Jumlah frekuensi/banyaknya individu P = Angka persentase

Diadaptasi dari Sujiono (2010) 3.8 Indikator Keberhasilan

Indikator dengan kategori Baik (B) dari hasil penelitian mencapai tingkat keberhasilan 84,62% yang berjumlah 13 anak dan melebihi target 80%

yang diinginkan, maka penelitian ini dikatakan berhasil.

Menurut Permendiknas tahun 2013 terdapat indikator anak usia 4-5 tahun dalam perkembangan motorik halus adalah dapat dilihat tabel dibawah ini:

𝑃 = 𝑓

N x 100%

(12)

30

Tabel 3.1

Tabel Indikator Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4-5 Tahun

No Indikator Aspek yang diamati

Kriteria Ya Tidak 1 Meremas Anak mampu meremas dengan satu

tangan

Menjumput Anak mampu menjumput dengan lima jari

Anak mampu menjumpu dengan tiga jari Anak mampu menjumput dengan dua jari Menempel Anak mampu menempel dengan lima jari

Anak mampu menempel dengan tiga jari Anak mampu menempel dengan dua jari Anak mampu menempel sesuai pola dengan benar

Menggunting Anak mampu memegang gunting dengan benar

Anak mampu menggunting sesuai pola Keterangan : Ya : Jika anak dapat melakukannya

Tidak : Jika anak kurang dapat melakukannya

Gambar

Gambar 3.1  Siklus PTK

Referensi

Dokumen terkait

Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif, Untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam

Terakhir peserta disajikan Pos-Test tentang materi akuntansi secara umum untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman akuntansi masing-masing pelaku IKM KUB RRT

Kemudian secara terminologis yang berdasarkan pada pendapat para ahli bahwa politik hukum adalah kebijakan dasar penyelenggara negara dalam bidang hukum yang akan, sedang dan

Untuk memahami komunikasi yang baik antara suami yang berasal dari papu dan istri yang berasal dari jawa haruslah keduanya adanya saling mengerti satu masa

Disajikan gambar penampang melintang salah satu organ pada tumbuhan, siswa dapat menjelaskan fungsi bagian yang ditunjuk.

Bersama ini diumumkan daftar nama peserta yang dinyatakan lulus tes laboratorium dan penunjang dan berhak mengikuti wawancara Rekrutmen Terbuka Bandung Melalui

Orang perseorangan warga Indonesia dan/ atau Badan Hukum Indonesia yang telah memiliki sertifikat operasi pelayanan jasa terkait untuk menunjang kegiatan pelayanan