• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Penelitian Terdahulu

Riawan dan Wawan Kusnawan (2018) mengkaji tentang pengaruh modal sendiri dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap pendapatan usaha (studi pada UMKM di Desa Platihan Kidul Kec. Siman) dengan tujuan untuk menguji seberapa besar pengaruh modal sendiri dan KUR dalam mempengaruhi pendapatan. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa modal sendiri dan KUR ada pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan usaha pada UMKM di Desa Platihan Kidul Kec. Siman. Artinya bahwa tinggi modal investasi dan jika utang dimanfaatkan dengan baik dalam usaha maka akan meningkatkan pendapatan yang diperoleh.

Hasyim Mochtar (2019) mengkaji tentang pengaruh pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap pendapatan usaha mikro pada PT. Bank Sulselbar Kantor Pusat Makassar dengan tujuan mengetahui pengaruh pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap peningkatan pendapatan usaha mikro pada PT. Bank Sulselbar Kantor Pusat Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) berpengaruh signifikan positif terhadap peningkatan pendapatan usaha mikro pada PT.

Bank Sulselbar Kantor Pusat Makassar.

Amelia Warni (2020) mengkaji tentang pengaruh Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap pendapatan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Liliriaja Kabupaten Soppeng dengan hasil penelitian membuktikan bahwa Kredit Usaha Rakyat (KUR) berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendapatan UMKM di Kecamatan Liliriaja Kabupaten Soppeng dengan nilai signifikan 0,000.

Dengan hasil yang sama oleh Tiara (2018) mengambil lokasi di Kota Metro. Hasil penelitian terdapat pengaruh positif dan signifikan pada KUR

(2)

dan lokasi usaha terhadap kinerja nilai produksi UMKM Industri Pengolahan di Kota Metro.

Hasil penelitian diatas didukung oleh Hakim (2019) yang mengambil lokasi Di BRI Syariah Kabupaten Kudus. Hasil penelitian menunjukkan kinerja UMKM dilihat dari modal, omzet penjualan, keuntungan, dan jumlah jam kerja terdapat perbedaan yang signifikan setelah menerima KUR BRI Syariah. KUR yang diberikan oleh BRI Syariah memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan UMKM sebelum dan sesudah menerima KUR BRI Syariah.

Relevansi peneliti ini dengan penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya adalah ingin memperkuat dukungan dampak positif KUR terhadap kinerja usaha mikro, akan tetapi mengambil lokasi di Dusun Sanan Jugo Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar yang merupakan nasabah BRI Kesamben dengan tujuan untuk memperoleh penyaluran profil KUR maupun tingkat keberhasilan dalam meningkatkan kinerja usaha mikro mengingat setiap daerah memiliki potensi keberhasilan yang berbeda. Disisi lain terdapat keberhasilan kinerja yang berbeda yaitu asset, omzet penjualan, dan pendapatan.

B. Teori dan Kajian Pustaka

Modal merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap pendapatan usaha. Modal yang dimaksud adalah modal secara menyeluruh, yaitu modal sendiri dan modal pinjaman (Priyandika, 2015).

Dalam suatu usaha tercipatnya hasil produksi tidak lepas adanya faktor-faktor produksi. Faktor yang dikorbankan untuk menghasilkan produk disebut dengan faktor produksi (Machfudz, 2007:96). Menurut Rosyidi (2004:56-58), faktor-faktor produksi terdiri atas tanah, tenaga kerja, modal, dan skills.

Semakin tinggi modal akan dapat menambah nilai produksi, sebab dalam proses produksi membutuhkan biaya yang digunakan untuk pembelian bahan baku serta peralatan sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan usaha mikro (Sulistiana, 2013).

(3)

1. Kredit Usaha Rakyat (KUR)

KUR merupakan program yang disalurkan pemerintah yang diperuntukkan bagi pelaku usaha disektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang sumber modalnya dari perbankan. Dalam usaha, sumber permodalan yang digunakan untuk keperluan operasional tidak lepas dari pemanfaatan modal dalam perbankan atau kredit. Hasyim Mochtar (2019) menyatakan bahwa Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan program prioritas pemerintah dalam mendukung UMKM berupa kebijakan pemberian kredit atau pembiayaan modal kerja dan atau permodalan kepada debitur perorangan atau perseorangan, badan usaha, dan kelompok usaha yang sifatnya produktif. Tujuan adanya program KUR ini untuk meningkatkan dan memperluas akses pembiayaan pada suatu usaha, meningkatkan kapasitas daya saing usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, serta mengembangkan suatu usaha mikro. Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai sumber modal untuk para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang bisa dimanfaatkan untuk fasilitas usaha yang akan digunakan dalam proses produksi.

2. Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah cukup besar dalam perekonomian nasional. Peran strategis Usaha Mikro Kecil bagi Bank Indonesia adalah: jumlahnya yang besar dan ada dalam setiap sektor ekonomi, menyerap banyak tenaga kerja dan setiap investasi menciptakan kesempatan kerja, dan menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat secara luas dengan harga yang terjangkau. Disisi lain UMKM masih mengalami banyak masalah dan hambatan dalam melakukan dan mengembangkan usahanya. Permasalahan dan kendala mengenai manajemen, permodalan, teknologi, bahan baku, dan pemasaran.

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) didefinisikan sebagai suatu usaha milik perorangan

(4)

dan atau pun badan usaha perorangan yang karakternya produktif yang memenuhi kriteria sektor mikro yang sudah diatur dalam hukum.

Sedangkan bagi Keputusan Menteri Keuangan No. 40/KMK.06/2003 tanggal 29 Januari 2003 UMKM bisa didefiniskan sebagai berikut.

a. Usaha Mikro

Usaha mikro merupakan suatu usaha yang sifatnya produktif milik perorangan atau keluarga yang berkedudukan sebagai warga negara Indonesia dengan mempunyai hasil penjualan paling banyak Rp 100.000.000 per tahun. Dan bisa mengajukan kredit di Bank paling banyak Rp 50.000.000.

b. Usaha Kecil

Menurut UU No. 9 Tahun 1995, usaha kecil merupakan usaha yang sifatnya produktif secara berskala kecil serta mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp 1.000.000.000 per tahun dan bisa menerima kredit dari Bank diatas Rp 50.000.000 sampai dengan Rp 500.000.000.

c. Usaha Menengah

Menurut Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1999, usaha menengah merupakan suatu usaha yang bersifat produktif dengan memenuhi kriteria kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) sampai dengan Rp 10.000.000.000 (sepuluh milyar rupiah) tetapi tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

3. Perkembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)

Dalam proses perkembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terhalangi dengan hambatan-hambatan yang dapat berbeda di satu wilayah dengan wilayah lain, antara pedesaan dan perkotaan, antar sektor, ataupun antar sesama perusahaan disektor yang sama. Demikian

(5)

permasalahan yang dihadapi oleh pengusaha mikro (Tambunan, 2003) adalah:

a. Kesulitan dalam pemasaran b. Keterbatasan Financial c. Keterbatasan Sumber Daya d. Masalah Bahan Baku e. Keterbatasan Teknologi f. Kemampuan Manajemen g. Kemitraan

h. Pengertian Wirausahawan

i. Keuntungan dan Kerugian Wirausaha 4. Omzet Penjualan

Omzet penjualan adalah keseluruhan jumlah pendapatan dari hasil penjualan suatu barang atau jasa dalam kurun waktu tertentu yang dihitung berdasarkan jumlah uang yang diperoleh. Menurut Purdi E. Chandra (2000:121) perkembangan usaha merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan omzet penjualan.

5. Pendapatan

Dalam kamus besar bahasa Indonesia pendapatan adalah hasil kerja (usaha). Sedangkan pendapatan dalam kamus manajemen adalah uang yang diterima oleh perorangan, perusahaan dan organisasi lain dalam bentuk upah, gaji, sewa, bunga, komisi, ongkos, dan laba. Soekartawi (2002:132) menjelaskan pendapatan akan mempengaruhi banyaknya barang yang dikonsumsikan, yang maksudnya dengan bertambahnya pendapatan maka barang yang dikonsumsi bukan hanya bertambah saja, namun juga kualitas barang tersebut ikut menjadi perhatian.

Dalam analisis Mikro Ekonomi, menurut Sadono Sukirno (2002:391) pendapatan pengusaha merupakan keuntungan. Dalam kegiatannya, keuntungan tersebut ditentukan dengan cara mengurangi

(6)

biaya-biaya yang dikeluarkan dari hasil penjualan yang diperoleh. Istilah pendapatan digunakan apabila berhubungan dengan aliran penghasilan pasar suatu periode tertentu yang berasal dari penyediaan faktor-faktor produksi (sumber daya alam, tenaga kerja, dan modal) masing-masing dalam bentuk sewa, upah dan bunga secara berurutan.

a. Unsur-Unsur Pendapatan

Unsur-unsur pendapatan disini yang dimaksud adalah asal darimana pendapatan itu diperoleh, dimana unsur-unsur tersebut meliputi (dalam Hasyim Mochtar, 2019) ialah:

1) Pendapatan hasil produksi barang atau jasa,

2) Imbalan yang diterima atas penggunaan aktiva atau sumber-sumber ekonomis perusahaan oleh pihak lain,

3) Penjualan aktiva diluar barang dagangan merupakan unsur-unsur pendapatan lain-lain dari suatu perusahaan.

b. Sumber-Sumber Pendapatan

Menurut Suwardjono (2011) dalam kajian Riawan sumber-sumber pendapatan, ialah:

1) Pendapatan Operasional, yaitu pendapatan yang berasal dari aktivitas utama perusahaan,

2) Pendapatan Non Operasional, pendapatan yang tidak terkait dengan aktivitas perusahaan yang merupakan pendapatan dari faktor eksternal,

6. Hubungan Antar Variabel

a. Hubungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap Aset

Menurut Harahap (2008:287) pemakaian atau penggunaan dana perusahaan dimaksudkan untuk:

a. Penggunaan dana dalam pembayaran utang b. Penurunan modal untuk pembelian treasury stock

c. Penambahan asset dalam hal pembelian atau perolehan asset.

(7)

Dalam penggunaan dana untuk penambahan aset tersebut dimaksudkan dalam pembelian barang untuk penjualan usaha. Artinya, dengan bertambahnya modal baik itu modal sendiri maupun modal pinjaman maka terdapat penambahan aset berupa perlengkapan maupun peralatan usaha.

b. Hubungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap Omzet Penjualan Dalam praktiknya, setiap usaha tentu saja akan menghasilkan omzet usaha sebagai tolak ukur besaran penjualan yang berhasil dicapai. Chaniago (1998) dalam (Satia, 2017) memberikan pendapat tentang omzet adalah keseluruhan jumlah pendapatan yang didapat dari hasil penjulan suatu barang/jasa dalam kurun waktu tertentu.

Swastha (1993) memberikan pengertian omzet penjualan adalah akumulasi dari kegiatan penjualan suatu produk barang barang dan jasa yang dihitung secara keseluruhan selama kurun waktu tertentu secara terus menerus atau dalam satu proses akuntansi. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Omzet penjualan adalah keseluruhan jumlah penjualan barang/jasa dalam kurun waktu tertentu, yang dihitung berdasarkan jumlah uang yang diperoleh.

Peningkatan omzet penjualan bagi suatu usaha sangat penting untuk mengukur keberhasilan pedagang kecil dalam mengatasi persaingan pasar. Karena itu, tujuan dari suatu usaha ialah mempertahankan dan meningkatkan omzet penjualannya. Omzet penjualan yang meningkat dapat mempertahankan kestabilan suatu usaha dalam menjalankannya. Namun dalam meningkatkan omzet penjualan juga dibutuhkan modal yang relatif cukup besar. Hal ini saperti yang dikatakan (Swastha dan Irawan, 2005:64) dalam (Arifin, 2017) bahwa dalam praktek kegiatan penjualan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satu faktor tersebut adalah modal. Tanpa adanya dukungan modal yang kuat pengusaha cenderung kalah dalam mengatasi persaingan pasar yang semakin ketat. Modal diperoleh dari

(8)

modal sendiri dan modal pinjaman, besar kecilnya kredit yang diambil memiliki pengaruh terhadap jumlah barang yang dijual. Seperti yang telah dikemukan oleh Riyanto (2013:42) jumlah kredit sebagai tambahan modal merupakan unsur terpenting dalam meningkatkan usaha bagi setiap perusahaan. Jumlah kredit ini apabila digunakan secara optimal maka dapat meningkatkan omzet penjualan usaha.

Upaya pengambilan kredit pada BRI tersebut diharapkan mampu meningkatkan omzet penjualan usaha mikro di Dusun Sanan Jugo seiring dengan bertambahnya modal yang mereka miliki serta diharapkan mampu memberikan motivasi untuk terus mengembangkan usahanya.

c. Hubungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap Pendapatan

Semakin besar kredit usaha rakyat yang diberikan dapat menambah modal usaha dan bertujuan untuk mengembangkan usahanya, maka pendapatan usaha yang didapatkan akan meningkat (Fitriyanto, 2015).

(9)

C. Kerangka Penelitian

Kerangka penelitian merupakan suatu alur untuk berpikir dengan menunjukan pemahaman pokok yang melandasi pemahaman lainnya. Adapun kerangka penelitian yaitu:

Gambar 2.1. Kerangka Penelitian

D. Perumusan Hipotesis

Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Pengaruh Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap asset pengusaha mikro dengan perumusan hipotesis sebagai berikut:

H0: Kredit Usaha Rakyat (KUR) tidak berpengaruh positif terhadap asset H1: Kredit Usaha Rakyat (KUR) berpengaruh positif terhadap asset

2. Pengaruh Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap omzet penjualan pengusaha mikro dengan perumusan hipotesis sebagai berikut:

H0: Kredit Usaha Rakyat (KUR) tidak berpengaruh positif terhadap omzet penjualan

H1: Kredit Usaha Rakyat (KUR) berpengaruh positif terhadap omzet penjualan

BRI Unit Kesamben

Asset Omzet Penjualan Pendapatan Kredit Usaha

Rakyat (KUR)

Perkembangan Usaha Mikro

(10)

3. Pengaruh Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap pendapatan pengusaha mikro dengan perumusan hipotesis sebagai berikut:

H0: Kredit Usaha Rakyat (KUR) tidak berpengaruh positif terhadap pendapatan

H1: Kredit Usaha Rakyat (KUR) berpengaruh positif terhadap pendapatan

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Piutang usaha/piutang terhadap langganan dalam perkiraan piutang usaha dicatat sebagai tagihan yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang merupakan usaha perusahaan

Penjualan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh penjual dalam menjual barang atau jasa dengan harapan akan memperoleh laba dari adanya transaksi-transaksi tersebut

Piutang usaha/piutang terhadap langganan dalam perkiraan piutang usaha dicatat sebagai tagihan yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang merupakan usaha

Kreditur yang dimaksud adalah pihak yang memiliki uang, barang, atau jasa untuk dipinjamkan kepada pihak lain, dengan harapan mendapatkan keuntungan dalam bentuk

Pajak tidak langsung, adalah pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain, contohnya adalah pajak pertambahan nilai untuk barang dan jasa serta pajak

MRP memberikan peningkatan efisiensi karena jumlah persediaan, waktu produksi,dan waktu pengiriman barang dapat direncanakan dengan lebih baik, karena ada keterpaduan

Metode peramalan digunakan agar peramalan jumlah permintaan suatu barang maupun jasa dimasa yang akan datang dapat direncanakan dan hasil yang diperoleh tidak

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa piutang merupakan hak atau klaim kepada pihak lain atas uang, barang atau jasa dalam satu siklus