4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Minyak Kelapa Sawit (Crude Palm Oil)
Minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) adalah minyak nabati edibel yang didapatkan dari mesocarp buah kelapa sawit, yang umumnya diperoleh dari spesies Elaeis guineensis dan sedikit dari spesies Elaeis oleifera dan Attalea maripa (Reeves,1979 dalam wikipedia.org).
Minyak kelapa sawit secara alami berwarna merah karena kandungan beta- karoten yang tinggi. Minyak sawit berbeda dengan minyak inti kelapa sawit (palm kernel oil) yang dihasilkan dari inti buah yang sama. Minyak kelapa sawit juga berbeda dengan minyak kelapa yang dihasilkan dari inti buah kelapa (Cocos nucifera). Perbedaan ada pada warna (minyak inti sawit tidak memiliki karotenoid sehingga tidak berwarna merah), dan kadar lemak jenuhnya. Minyak sawit mengandung 41% lemak jenuh, minyak inti sawit 81%, dan minyak kelapa 86%. (Harold Mc Gee, 2004)
Minyak sawit kasar (Crude Palm Oil) merupakan minyak kelapa sawit mentah yang diperoleh dari hasil ekstraksi atau dari proses pengempaan daging buah kelapa sawit dan belum mengalami pemurnian. Minyak sawit biasanya digunakan untuk kebutuhan bahan pangan, industri kosmetik, industri kimia, dan industri pakan ternak. (Pamani A, 2014)
Standar kualitas adalah merupakan hal yang paling penting untuk menentukan minyak yang mempunyai kualitas yang bermutu baik. Sebagai acuan untuk mengetahui kualitas produksi yang dihasilkan, perlu ditetapkan standar kualitas minyak sawit dan inti sawit. Dengan demikian, bisa diketahui nilai efektifitas dan efesiensi mutu pabrik kelapa sawit (Pahan, 2006). Kadar Asam Lemak Bebas (ALB) sebanyak <3.50%, kadar air < 0.15%, kadar kotoran <0.02%, kandungan energi 902kkal, kandungan vitamin A 60.000 IU.
5
Saat ini ketersediaan minyak bumi semakin terbatas, menyebabkan perhatian terhadap penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar alternatif semakin diminati. Salah satu bahan alternatif yang digunakan adalah minyak kelapa sawit.
Minyak sawit digunakan sebagai kebutuhan bahan pangan, industri kosmetik, industri kimia, dan industri pakan ternak. Kebutuhan minyak sawit sebesar 90%
digunakan untuk bahan pangan seperti minyak goreng, margarin, shortening, pengganti lemak kakao dan untuk kebutuhan industri roti, cokelat, es krim, biskuit, dan makanan ringan. Kebutuhan 10% dari minyak sawit lainnya digunakan untuk industri oleokimia yang menghasilkan asam lemak, fatty alcohol, gliserol, dan metil ester (Sulastri,2010).
Tabel 2.1 Komponen dalam minyak kelapa sawit
No Komponen Kuantitas
1 Asam lemak bebas (%) 3,0-4,0
2 Karoten (%) 500-700
3 Fosfolipid (ppm) 500-1000
4 Dipalmitro stearin (%) 1,2
5 Tripalmitrin (%) 0,5
6 Dipalmitolein (%) 37,2
7 Palmito stearin olein (%) 10,7
8 Palmito olein (%) 42,8
9 Triolein linole (%) 3,1
Sumber : Pahan (2006)
Kebutuhan minyak sawit sebesar 90% digunakan untuk bahan pangan seperti minyak goreng, margarin, shortening, pengganti lemak kakao dan untuk kebutuhan industri roti, cokelat, es krim, biskuit, dan makanan ringan.
Kebutuhan 10% dari minyak sawit lainnya digunakan untuk industri oleokimia yang menghasilkan asam lemak, fatty alcohol, gliserol, dan metil ester serta surfaktan.
Asam lemak bersama-sama dengan gliserol merupakan penyusun utama minyak nabati dan hewani. Asam lemak yang terkandung di dalam CPO sebagian besar adalah asam lemak jenuh yaitu asam palmitat. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal diantara atom-atom karbon penyusunnya, sedangkan asam lemak tak jenuh mempunyai paling sedikit satu ikatan rangkap diantara atom-atom karbon penyusunnya.
6
Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah bereaksi) dari pada asam lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan oksigen (mudah teroksidasi). Keberadaan ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh menjadikannya memiliki dua bentuk: cis yang bersifat tidak stabil dan trans yang bersifat stabil.
Gambar 2.1 Minyak Kelapa Sawit (Crude Palm Oil)
2.2 Palm Fatty Acid Distillate
Palm fatty acid distillate (PFAD) adalah produk sampingan dari proses pemurnian minyak sawit kasar yang banyak mengandung asam lemak bebas (ALB) yaitu sebesar 80%. PFAD juga merupakan hasil samping dari proses pemurnian minyak sawit mentah.
Tabel 2.2 Karakteristik PFAD
Parameter Rata-rata
Asam lemak bebas (sebagai C16:0 berat) Kadar air ( berat)
Bahan tidak tersabunkan ( berat) Bilangan penyabunan
83,3 0,08 2,5 198 Sumber : Sukmawati (2012)
7
Sampai saat ini pemanfaatan PFAD masih sangat terbatas, yaitu digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun berkualitas rendah. Palm Fatty Acid Destilate (PFAD) mempunyai potensi yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai bahan baku pembuat produk-produk oleokimia salah satunya pembuatan sabun.
Hal ini disebabkan oleh komposisi asam lemak yang terdapat dalam PFAD tidak jauh berbeda dengan komposisi asam lemak yang terdapat dalam minyak sawit.
Tabel 2.3 Komposisi Palm Fatty Acid Distillate (PFAD)
Komponen Kadar (%) Kadar (%)
Asam lemak bebas 81,70 40
Gliserida 14,40 28,50
Trigliserida 4,10 13,20
Digliserida 7,10 10,50
Monogliserida 2,70 0,30
Sterol 0,37 -
Stigmasterol 0,01 -
Kampesterol 0,09 -
ß sitosterol 0,21 -
Hidrokarbon 1,47 0,50
Squalene 0,76 6,00
Lain-lain 0,71 -
Tokoferol+tokotrienol 0,48 1,00
Lain-lain 1,60 -
Sumber : Christina (2007)
8
Gambar 2.2 Palm Fatty Acid Distillate
2.3 Saponifikasi
Saponifikasi merupakan salah satu metode pemurnian secara fisik.
Saponifikasi dilakukan dengan menambahkan basa pada minyak yang akan dimurnikan. Sabun yang terbentuk dari proses ini dapat dipisahkan dengan 30 sentrifugasi. Penambahan basa pada proses saponifikasi akan bereaksi dengan asam lemak bebas membentuk sabun yang mengendap dengan membawa serta lendir, kotoran dan sebagian zat warna. Saponifikasi adalah suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (soap stock). Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Zulkifli M et al, 2014).
2.4 Sabun
Sabun adalah garam natrium dan kalium dari asam lemak yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun yang digunakan sebagai pembersih dapat berwujud padat (keras), lunak dan cair. Dewan Standarisasi Nasional menyatakan bahwa sabun adalah bahan yang digunakan untuk tujuan mencuci
9
dan mengemulsi, terdiri dari asam lemak dengan rantai karbon C12-C18 dan sodium atau potassium (DSN, 1994).
2.4.1 Karakteristik Sabun a) Warna
Lemak dan minyak yang berwarna terang merupakan minyak yang bagus untuk digunakan sebagai bahan pembuatan sabun.
b) Angka Saponifikasi
Angka saponifikasi adalah angka yang terdapat pada milligram kalium hidroksida yang digunakan dalam proses saponifikasi sempurna pada satu gram minyak. Angka saponifikasi digunakan untuk menghitung alkali yang dibutuhkan dalam saponifikasi secara sempurna pada lemak atau minyak.
c) Bilangan Iod
Bilangan iod digunakan untuk menghitung katidakjenuhan minyak atau lemak, semakin besar angka iod, maka asam lemak tersebut semakin tidak jenuh. Dalam pencampurannya, bilangan iod menjadi sangat penting yaitu untuk mengidentifikasi ketahanan sabun pada suhu tertentu.
Analisis yang dilakukan pada sabun yang dihasilkan mengacu pada SNI 06- 3532-1994 yang lengkapnya bisa dilihat pada tabel 2.4 (Pradipto, 2009).
Tabel 2.4 Syarat Mutu Sabun Mandi
Jenis uji Syarat mutu(%)
Kadar air dan zat menguap pada 105˚ C, Jumlah asam lemak,
Kadar fraksi tak tersabunkan,
Kadar bagian tak larut dalam alkohol,
kadar alkali bebas dihitung sebagai kadar NaOH Kadar minyak mineral,
Maks 15 Min 70 Maks 2,5 Maks 2,5 Maks 0,1 Negatif
10 2.4.2 Sifat-sifat Sabun
Sifat–sifat sabun yaitu :
a) Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa. CH3(CH2)16COONa + H2O → CH3(CH2)16COOH + NaOH
b) Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap.
CH3(CH2)16COONa + CaSO4 →Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2
c) Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air. Non polar : CH3(CH2)16 Polar : COONa+
(larut dalam miyak, hidrofobik, (larut dalam air, hidrofilik, memisahkan kotoran non polar) memisahkan kotoran polar) Molekul-molekul sabun terdiri dari rantai hidrokarbon yang panjang dengan satu gugus ionik yang sangat polar pada salah satu ujungnya.
Ujung ini bersifat hidrofilik (tertarik atau larut dalam air) dan ujung rantai hidrokarbon bersifat lipofilik (tertarik atau larut dalam minyak dan lemak).
Pengotor umumnya melekat pada pakaian atau badan dalam bentuk lapisan minyak yang sangat tipis. Jika lapisan minyak ini dapat dibuang, partikel- partikel pengotor dikatakan telah tercuci. Dalam proses pencucian, lapisan minyak sebagai pengotor akan tertarik oleh ujung lipofilik sabun, kemudian kotoran yang telah terikat dalam air pencuci karena ujung yang lain (hidrofilik) dari sabun larut dalam air.
11 2.4.3 Sabun dan Mutu Sabun
Sabun dan Mutu Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan sodium atau potasium. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani.
Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun keras, sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan sabun lunak. Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak.
Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol.
Sabun dikenal luas dan sangat penting sebagai penurun tegangan permukaan.
Karena itu sabun merupakan salah satu jenis surfaktan. Sabun asam lemak sangat baik menghilangkan kotoran (tanah) dan sangat baik mensuspensi minyak pada proses pencucian. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara basa natrium atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani. Pada umumnya sabun ditambahkan zat pewangi atau antiseptik. Alkali bebas adalah alkali dalam sabun yang tidak terikat sebagai senyawa sabun. Kelebihan alkali dalam sabun mandi tidak boleh melebihi 0.10 % untuk sabun natrium dan 0.14 % untuk KOH. Hal ini disebabkan karena alkali mempunyai sifat yang keras dan dapat mengakibatkan iritasi pada kulit. kelebihan alkali bebas pada sabun dapat disebabkan karena konsentrasi alkali yang pekat atau berlebih pada proses penyabunan. Sabun dengan kadar alkali yang lebih besar biasanya digolongkan ke dalam sabun cuci. (Izhar, H. 2009)
12 2.5 Pepaya (Carica papaya L.)
Tanaman pepaya merupakan herba menahun dan tingginya mencapai 8 meter.
Batang tidak berkayu, bulat, berongga, bergetah dan terdapat bekas pangkal daun dapat hidup pada ketinggian tempat 1 m – 1000 m dari permukaan laut dan pada suhu udara 22–26 0C. Pada umumnya semua bagian dari tanaman baik akar, batang, daun, biji dan buah dapat dimanfaatkan (Warisno, 2003).
Menurut Tjitrosoepomo (2004), sistematika tumbuhan pepaya (Carica papaya L.) berdasarkan taksonominya adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Class : Dicotyledoneae Ordo : Cistales
Family : Caricaeae Genus : Carica
Spesies : Carica papaya L.
Nama lokal : Pepaya
Buah pepaya kaya akan kandungan protein, mineral, vitamin, polisakarida, lectin, saponin, dan flavonoid. Akar tanaman pepaya memiliki kandungan karposid, dan enzim mirosin. Biji pepaya memiliki kandungan karpain, caricin, glikotropakolin, dan minyak papaya. (Krishna, 2008). Flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, steroid, dan tritepnoid juga terdapat di dalam daun pepaya (Yusha’u, dkk., 2009).
13
Gambar 2.3 Pepaya (Carica Papaya L.)
2.5.1 Ekstrak Pepaya
Ekstrak pepaya memiliki senyawa antioksidan dan kaya vitamin A yang sangat baik untuk kesehatan kulit. Ekstrak pepaya juga mengandung enzim papain yang mampu mengelupas sel kulit mati yang bandel dari lapisan teratas kulit. Menurut berbagai penelitian yang dilakukan, Ekstrak yang didapatkan dengan cara yang benar tidak akan mengurangi kandungan vitamin, mineral, dan enzim papain yang terdapat dalam buah pepaya. Bahkan berbagai vitamin, mineral, serta enzim tersebut akan lebih cepat diserap oleh kulit saat telah diubah menjadi ekstrak (Alboneh, F.
H. 2012).
2.5.2 Manfaat Ekstrak Pepaya
Di antara manfaat ekstrak pepaya untuk kulit adalah sebagai berikut:
a) Membantu pengelupasan sel kulit mati sehingga kulit jauh lebih sehat dan cerah bercahaya.
b) Melembutkan kulit yang kasar, karena sabun pepaya mengandung kakao.
c) Mengencangkan kulit tubuh dan wajah jika digunakan secara teratur.
d) Membersihkan sekaligus menyegarkan kulit.
14
e) Mengusir jerawat dan flek hitam dengan cara mengangkat sel sel kulit mati.
f) Menyamarkan kerutan dengan cara mengikis sel kulit yang menumpuk di epidermis sehingga regenerasinya lebih optimal.
g) Memutihkan kulit dengan bantuan enzim papain.
h) Menghilangkan bekas bekas luka (bekas jerawat).
i) Mencegah penuaan dini atau sebagai anti aging karena mengandung alpha hydroxil acids.
j) Mengatasi komedo yang membandel di wajah, khususnya pada bagian hidung dan dahi.
k) Menahan radikal bebas sehingga kulit tidak mudah kusam.
l) Mengurangi kadar minyak pada kulit wajah.