• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Parameter Kualitas Air

2.1.1 Salinitas

Salinitas merupakan konsentrasi seluruh larutan garam yang diperoleh dalam air laut atau dapat dikatakan sebagai kadar garam terlarut dalam air.

Konsentrasi garam jumlahnya relatif sama dengan setiap contoh air laut, walaupun pengambilannya dilakukan di tempat yang berbeda. Salinitas diukur dalam gram mineral padat dalam 1 kilogram air laut atau bagian per seribu (Purnomo dkk., 2013). Salinitas dapat mempengaruhi keberadaan logam berat di perairan, sehingga penurunan salinitas dapat menyebabkan meningkatnya daya toksik logam berat dan tingkat akumulasi logam berat semaikin besar (Eshmat, 2014). Menurut Arisandy (2012) , penurunan salinitas juga dapat menurunkan pH namun pada suhu naik, sehingga salinitas memiliki sifat berbanding lurus dengan pH, namun pada suhu memiliki sifat berbanding terbalik.

Menurut Patty (2013), salinitas mempunyai sifat yang berbanding terbalik dengan suhu, karena salinitas merupakan salah satu parameter oseanografi yang nilainya relatif konstan. Salinitas yang terdapat disekitar pantai maupun aliran sungai mempunyai salinitas rendah karena dapat pengaruh dari air darat dan buangan limbah yang mengandung logam berat. Sebaliknya, salinitas di perairan lepas mempunyai salinitas yang tinggi karena tidak ada pengaruh dari daratan.

Salinitas diperairan Indonesia umumnya berkisar antara 30 – 35 % dan salinitas untuk kehiduan biota laut berkisar antara Selain itu, menurut As-Syakur dan Wiyanto (2016), terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi nilai salinitas yaitu cuaca, penguapan, dan curah hujan sehingga salinitas dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup organsime laut.

2.1.2 Total Suspended Solid (TSS)

Total Suspended Solid (TSS) atau padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut, dan tidak dapat mengendap yang terdiri dari lumpur dan jasad renik yang berasal dari kikisan tanah atau erosi, dan umumnya terdiri dari fitoplankton, zooplankton, kotoran hewan, sisa tanaman dan sisa hewan yang sudah mati, kotoran manusia dan limbah industry yang terbawa kedalam air. Padatan tersuspensi berupa partikel-partikel yang dibawa oleh aliran

(2)

air akan memengaruhi jumlah kadar TSS. Dampak TSS terhadap kualitas air dapat menyebabkan penurunan kualitas air. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan, kerusakan dan bahaya bagi manusia jika digunakan sebagai air minum yang akan berdampak terhadap kesehatan (Hidayat, 2021).

Peningkatan TSS akan meningkatkan tingkat kekeruhan yang akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke dalam kolom perairan. Padatan tersuspensi bisa berdampak negatif terhadap ekosistem perairan. Jika suatu perairan memiliki nilai kekeruhan atau total suspended solid yang tinggi maka semakin rendah nilai produktivitas suatu perairan tersebut. Hal ini berkaitan erat dengan proses fotosintesis dan respirasi organisme perairan. (Winnarsih dan Emiyarti, 2016).

Analisis sampel total suspended solid menggunakan metode Gravimetri, dimana untuk mengetahui sebaran nilai TSS diperairan, maka sampel yang diperoleh dianalisis dengan rumus menurut Badan Standardisasi Nasional (2004) 𝑇𝑆𝑆 (𝑚𝑔

𝑙 ) =(𝐴−𝐵) 𝑥 1000

𝑉 ………...(2.1) Keterangan :

TSS = Total Suspended Solid (mg/l)

A = berat kertas saring + residu kering (mg) B = berat kertas saring (mg)

V = volume contoh (l)

Persamaan 2. 1 Total Suspended Solid (TSS)

2.1.3 Total Dissolved Solid (TDS)

Kandungan TDS juga merupakan faktor penting bagi kondisi kualitas air di perairan. Kondisi perairan itu sendiri bisa mempengaruhi nilai TDS dan konduktivitas. Pada perairan yang asin akan memiliki nilai TDS yang tinggi, artinya tingkat salinitas bisa ditunjukkan melalui nilai TDS (Sukwika dan Putra, 2018).

2.1.4 Arah dan Kecepatan Arus

Arah dan kecepatan arus sangat penting untuk mengetahui proses perpindahan dan pengadukan dalam perairan. Sistem perairan akan memindahkan dan mengencerkan cemaran kimia termasuk logam berat sejauh mana air tersebut bergerak, baik zat-zat tersebut dalam larutan atau terserap pada sebuah partikel.

(3)

Arus merupakan parameter yang sangat penting dalam lingkungan laut dan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan laut dan biota yang hidup didalamnya, termasuk menentukan pola migrasi ikan. Arus di laut dipengaruhi oleh banyak faktor salah satu nya adalah suhu permukaan laut yang selalu berubah-ubah (Jalil, 2013). Arah arus diukur menggunakan kompas.

2.1.5 Kedalaman

Kedalaman merupakan parameter fisik yang menunjukan ukuran ketinggian air dari dasar perairan (Koniyo dan Kasim, 2015). Menurut Kordi (2013) nilai optimum untuk kedalaman adalah sekitar 1,5 sampai dengan 8 meter. Hasil kedalaman yang berbeda-beda pada perairan disebabkan oleh keadaan kontur tanah pada dasar perairan. Kedalaman perairan sangat berpengaruh terhadap kualitas air di perairan tersebut.

2.2 Sedimentasi

Menurut Wicaksono (2016), sedimen adalah partikel organik dan anorganik yang terakumulasi secara bebas. Sedimen didefinisikan secara luas sebagai material yang diendapkan di dasar (air dan udara), atau secara sempit sebagai material yang diendapkan oleh air, angin, atau glister/es. Sedangkan endapan sedimen adalah akumulasi mineral dan fragmen batuan dari daratan yang bercampur dengan tulang-tulang organisme laut dan beberapa partikel yang terbentuk melalui proses kimiawi yang terjadi di dalam laut.

Menurut asalnya sedimen dibagi menjadi tiga macam yaitu;

1. Sedimen lithogenous ialah sedimen yang berasal dari sisa pengikisan batu- batuan didarat

2. Sedimen biogenous ialah sedimen yang berasal dari sisa rangka organism hidup juga akan membentuk endapan-endapan halus yang dinamakan ooze yang mengendap jauh dari pantai kearah laut, dan

3. Sedimen hydrogenous yakni sedimen yang dibentuk dari hasil reaksi kimia dari air laut.

Salah satu parameter fisika perairan yang sangat berpengaruh terhadap sebaran biologi dan kimia adalah partikel sedimen dan arus pasang surut.

Sedimentasi sangat erat hubungannya dengan pendangkalan. Sedimentasi ini merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

(4)

Sedimen didefinisikan sebagai jenis endapan yang terdapat di sungai, pesisir dan laut. Jika diperhatikan secara terperinci, sedimen didefinisikan sebagi bahanbahan yang terendapkan dalam air serta di kategorikan sebagai kumpulan dari batu, pasir, lumpur, dan sebagainya. Menurut ahli geologi, sedimen digolongkan sebagai butiran atau serpihan halus yang diangkut atau dibawah oleh agen pengankut, kemudian terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan- lapisan yang mempunyai bentuk tertentu. Sedimen ini ada yang terendapkan di dasar sungai dan ada juga yang terbawa oleh arus yang kuat dan kemudian mengendap di kawasan baru yang arusnya melemah (Alfah, 2017).

Proses sedimentasi di perairan dapat menimbulkan pendangkalan dan penurunan kualitas air. Banyaknya partikel sedimen yang dibawa oleh aliran sungai ke laut akan diendapkan di sekitar muara sungai, sehingga potensial menggangu alur pelayaran dan menyebabkan banjir apabila musim hujan tiba.

Selain itu, tingginya konsentrasi sedimen dalam badan air akan menyebabkan kekeruhan yang tidak hanya membahayakan biota tetapi juga menyebabkan air tidak produktif lagi (Alfah, 2017). Selain itu sedimen tidak hanya berfungsi sebagai reservoir bagi kontaminasi tetapi juga sebagai sumber toksikan bagi organisme laut. Uji biologis sedimen merupakan salah satu tahap penting dalam penilaian kualitas lingkungan laut melalui informasi toksisitas terhadap biota (Puspitasari, 2011).

Menurut Alfah (2017), proses sedimentasi dibedakan menjadi dua bagian yaitu:

1. Proses sedimentasi secara geologis

Sedimentasi secara geologis adalah proses erosi tanah yang masih berjalan secara normal, dimana proses pengendapan yang terjadi berlangsung masih dalam batas yang diperkenankan atau dalam keseimbangan alam dari proses degradasi dan agradasi pada perataan kulit bumi akibat pelapukan.

2. Proses sedimentasi yang dipercepat

Sedimentasi yang dipercepat adalah proses yang terjadi akibat penyimpangan dari proses secara geologis dan berlangsung dalam waktu yang cepat, dimana proses ini bersifat sangat merusak atau merugikan bagi keseimbangan alam atau kelestarian lingkungan hidup.

(5)

2.3 Fraksi Sedimen

Sedimen merupakan material yang berasal dari perombakan batuan, pecahan mineral dan material organik yang melayang-layang dalam air atau dalam bentuk larutan kimia yang kemudian akan mengendap didasar perairan akibat gravitasi bumi (Usman, 2014). Sedimen yang ada dilaut dapat terjadi akibat sedimentasi (Santosa, 2013).

Menurut Arifin dan Fadhlina (2009), sedimen digunakan sebagai indikator pencemar karena sebagai tempat tenggelamnya terakhir bahan-bahan pencemar dari daratan khususnya logam berat. Menurut Rifardi (2010), kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air laut. Hal ini menunjukkan adanya akumulasi logam berat dalam sedimen dan mengalami proses pengenceran. Selain itu, ukuran butir sedimen mempengaruhi penyerapan logam berat. Semakin halus butir sedimen dasar perairan semakin kuat daya absorbsinya dan sebaliknya.

Menurut Alfah (2017), fraksi sedimen perairan terdiri dari 4 jenis yaitu : kerikil, pasir, lumpur dan tanah liat. Butiran kasar banyak dijumpai dekat pantai, sedangkan butiran halus banyak terdapat di perairan dalam atau perairan yang relatif tenang. Menurut Putri dkk., (2016), daerah pesisir mempunyai substrat yang cenderung berlumpur karena mempuyai kecepatan arus dan gelombang yang lemah, biasanya terdapat di daerah muara sungai, teluk, dan pantai terbuka.

Substrat yang lumpur mengandung sedikit oksigen sehingga organisme yang hidup harus dapat beradaptasi pada keadaan tersebut. Menurut Alfah (2017), konsentrasi logam berat yang tinggi terdapat pada sedimen yang bertekstur lumpur dibandingkan dengan sedimen yang berpasir, karena logam cenderung terikat dalam sedimen dengan butiran yang halus dan bahan oganik. Persamaan 2. 2 Berat Subsampel Basah Persamaan 2. 3 Berat Subsampel Kering Persamaan

2.4 Logam Berat

Istilah logam berat hanya ditujukan kepada logam yang mempunyai berat jenis lebih besar dari 5 g/cm3. Namun pada kenyataannya, unsur-unsur metaloid yang mempunyai sifat berbahaya juga dimasukkan ke dalam kelompok tersebut.

Dengan demikian, yang termasuk dalam kriteria logam berat saat ini mencapai 40 jenis unsur. Beberapa contoh logam yang beracun bagi manusia yaitu arsen (As), kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal (Pb), merkuri (Hg), nikel (Ni), dan seng

(6)

(Zn). Logam berasal dari kerak bumi berupa bahan-bahan murni organik dan anorganik. Secara alami siklus perputaran logam adalah dari kerak bumi ke lapisan tanah, ke mahkluk hidup, ke dalam air, selanjutnya mengendap dan akhirnya kembali ke kerak bumi (Apriadi, 2005). Logam berat masih termasuk golongan logam dengan kriteria yang sama dengan logam-logam lain.

Perbedaannya terletak pada pengaruh yang diakibatkan apabila logam tersebut masuk ke dalam tubuh organisme hidup. Logam berat tidak semua dapat mengakibatkan keracunan pada makhluk hidup, tetapi sebagian logam berat tersebut tetap dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil. Jika jumlah yang sangat kecil itu tidak terpenuhi maka dapat berakibat fatal bagi kelangsungan hidup organisme (Setiawan, 2013).

Logam berat termasuk zat pencemar karena sifatnya yang stabil dan sulit untuk terurai. Banyaknya sumber logam berat di alam mengakibatkan pencemaran logam berat pada perairan meningkat sangat pesat yang akan terakumulasi pada rantai makanan hingga biota laut. Biota laut yang telah tercemar oleh logam berat akan mengalami gangguan pertumbuhan hingga kematian (Sandro dkk., 2013).

Banyak logam berat baik yanng bersifat toksik maupun esensial terlarut dalam air dan mencemari air tawar maupun air laut. Sumber pencemaran ini banyak bersumber dari pertambangan, pelabuhan, jenis industri lainnya dan dapat juga berasal dari lahan pertanian yang menggunakan pupuk atau anti hama yang mengandung logam (Darmono, 1995). Fitriyah dkk., (2013), menjelaskan dalam penelitiannya bahwa adanya logam berat pada sungai Surabaya disebabkan oleh kegiatan pertambangan, rumah tangga, limbah pertanian dan limbah industri.

Beberapa industri seperti industri testil, pelapisan logam, peleburan logam dan kertas yang terdapat di DAS Brantas bagian hilir berpotensi menghasilkan limbah sebagai sumber polutan logam berat.

Logam berat yang masuk ke dalam lingkungan perairan akan mengalami pengendapan, kemudian akan diserap oleh organisme yang hidup di perairan tersebut. Logam berat memiliki sifat yang mudah mengikat bahan organik dan dapat mengendap di dasar perairan kemudian bersatu dengan sedimen sehingga mengakibatkan kadar logam berat pada sedimen lebih tinggi dibandingan kadar logam berat pada air (Setiawan, 2013). Logam berat yang ada pada perairan suatu

(7)

saat akan turun dan mengendap pada dasar perairan, membentuk sedimen dan hal ini akan menyebabkan biota laut yang mencari makan di dasar perairan (udang, kerang, kepiting) akan memiliki peluang yang sangat besar untuk terkontaminasi logam berat tersebut (Setiawan, 2013).

Kandungan logam berat yang menumpuk pada air laut dan sedimen akan masuk ke dalam sistem rantai makanan dan berpengaruh pada kehidupan organisme. Logam berat ini dapat menimbulkan efek kesehatan manusia tergantung pada bagian mana logam tersebut terikat dalam tubuh. Daya racun yang dimiliki logam berat akan bekerja sebagai penghalang kerja enzim, sehingga proses pada metabolisme tubuh terputus. Kemudian logam berat ini akan bertindak sebagai alergen, mutagen atau karsinogen bagi manusia yang masuk melalui jalur kulit, pernafasan dan pencernaan. Jika logam berat tersebut dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama akan berdampak negatif terhadap manusia (Ika dkk, 2012).

Rumus yang digunakan untuk menentukan kadar logam Pb, Cd dan Cu adalah sebagai berikut (Supriatno dan Lelifajri, 2009).

𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑙𝑜𝑔𝑎𝑚𝑚𝑔

⁄𝑘𝑔=𝐶𝑟𝑒𝑔𝑥𝑃𝑋𝑉

𝐺 ………...……(2.10)

Keterangan :

Creg = Konsentrasi terbaca (mg/L) P = Faktor pengenceran

G = Berat sampel2. 4 Kandungan Air Persamaan 2.

V = Volume larutan sampel (L) 5 Persentase Fraksi Pasir Persamaan 2. 6 Fraksi Lumpur Persamaan 2. 7 Persentase Fraksi Lumpur8 Fraksi Kerikil Persamaan 2. 9 Fraksi Pasir Persamaan 2.

2.4.1 Timbal (Pb)

Timbal (Pb) atau dikenal dengan timah hitam dan dalam bahasa ilmiah dinamakan plumbum umumnya berwarna abu-abu kebiruan, mempunyai sifat lunak sehingga mudah dibentuk, mempunyai titik cair yang rendah sehingga apabila digunakan dalam bentuk cair akan membutuhkan teknik sederhana dan murah, mempunyai sifat kimia yang aktif sehingga dapat digunakan sebagai pelapis logam untuk mencegah perkaratan, mempunyai densitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan logam lain kecuali dengan emas dan merkuri, dan mudah larut dalam asam nitrat yang kemudian menghasilkan senyawa timbal nitrat dan air (Purnomo dan Muchyiddin, 2007).

(8)

Menurut Arisandy dkk., (2012), penggunaan Pb terbesar dalam pembuatan bahan bakar bensin, sehingga limbah paling banyak dihasilkan dari kegiatan perkapalan. Pb digunakan sebagai proses produksi bahan bakar bensin dengan menambahkan timbal tatreil (tetra ethy lead /TEL) dan timbal titrametril lead (tetra metril lead/TML). Penambahan TEL dan TML berfungsi sebagai meningkatkan kualitas bahan bakar (oktan) dan juga untuk mencegah terjadinya ledakan saat berlangsungnya pembakaran dalam mesin yang dilepaskan ke atmosfer melalui alat pembuangan asap dan kemudian terlarut dalam air. Tingginya aktfitas transportasi maupun industri akan menghasilkan emisi gas buangan yang menyebabkan pencemaran udara. Pencemaran tersebut masuk ke perairan melalui pengkristalan di udara dan kemudian jatuh ke perairan dengan bantuan hujan.

Menurut Ahmad (2013), konsentrasi logam berat Pb yang normal dipermukaan bumi adalah 12,5 ppm, sedangkan konsentrasi Pb dalam sedimen untuk perlindungan biota adalah 35 ppm – 36,8 ppm. Selain itu, menurut Greenwood dan Earnshaw (1997), konsentrasi logam berat Pb alami (background) yang terdapat dikerak bumi adalah 13 ppm.

Pembakaran bahan bakar minyak oleh kapal-kapal merupakan sumbangan terbesar polusi timbale di perairan. Logam berat timbale yang terkandung dalam bahan bakar sebagai anti pemecah minyak (seperti Pb tertraethyl dan tetramethyl) ini kemudian dilepaskan ke atmosfer melalui alat-alat pembuangan asap dan bagian ini kemudian terlarut dalam laut. Logam berat Pb di perairan yang melebihi konsentrasi ambang batas dapat menyebabkan kematian bagi biota.

2.4.2 Cadmium (Cd)

Kadmium (Cd) dalam Sistem Periodik merupakan logam berat golongan IIB yang mempunyai nomor atom 48 dengan berat atom 112,40, mempunyai masa jenis sebesar 8,65 g/cm3 dan memiliki titik lebur 321˚C. Selain itu, kadmium mempunyai penyebaran yang sangat luas di alam, namun dalam konsentrasi rendah, terutama berasosiasi dengan bijih sulfida seng (Zn), timbah (Pb), dan tembaga (Cu). Kadmium (Cd) mempunyai karakteristik berbentuk kristal putih keperakan seperti logam aluminium, mempunyai sifat lunak sehingga dapat dibentuk, mengkilap, mudah bereaksi, dan tahan terhadap korosi.

Menurut Herman (2006), Kadmium merupakan hasil sampingan dari biji

(9)

logam seng (Zn), sehingga Cd juga dapat digunakan sebagai pengganti seng.

Kadmium juga dapat dimanfaatkan untuk pencampuran logam lain seperti nikel, perak, tembaga, dan besi. Kadmium umumnya terdapat dalam kombinasi klor (Cd klorida) atau belerang (Cd sulfit), sehingga kadmium yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia tersebut dapat ditemukan dilingkungan perairan dalam bentuk ion-ion bebas Cd2+.

Secara alami konsentrasi logam berat Cd yang terdapat di lapisan permukaan bumi adalah 0,2 ppm, sedangkan konsentrasi Cd dalam sedimen untuk perlindungan biota adalah 0,6 ppm - 6,2 ppm. Selain itu, menurut Greenwood dan Earnshaw (1997), konsentrasi logam berat Cd alami (background) yang terdapat dikerak bumi adalah 0,16 ppm (Ahmad, 2013).

Kimia logam berat kadmium (Cd), adalah elemen toksik yang dapat berpengaruh pada sistim ekologi perairan sebab dikuatirkan limbah tersebut mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), yang dapat mengancam keseimbangan ekologi dan kelansungan hidup yang berlangsung di sekitar perairan laut tersebut.

2.4.3 Tembaga (Cu)

Cu merupakan elemen mikro yang sangat dibutuhkan oleh organisme, baik darat maupun perairan, namun dalam jumlah yang sedikit. Keberadaan Cu di suatu perairan umum dapat berasal dari daerah industri yang berada di sekitar perairan tersebut. Logam ini akan terserap oleh biota perairan secara berkelanjutan apabila keberadaannya dalam perairan selalu tersedia.

(Cahyani.dkk, 2012).

Tembaga bersumber dari peristiwa pengikisan (erosi) dari batuan mineral, debu, dan partikel-partikel Cu yang ada dalam lapisan udara yang di bawah turun oleh hujan. Cu masuk ke dalam lingkungan perairan akibat dari aktivitas manusia seperti buangan limbah industri yang mengandung Cu, campuran bahan pengawet, industri pengelolaan kayu, buangan rumah tangga, dan sebagainya.

Sebagai contoh, unsur logam Tembaga (Cu), bila masuk ke dalam tubuh dalam jumlah berlebihan akan menimbulkan pengaruh-pengaruh buruk terhadap fungsi fisiologi tubuh. Apabila logam Cu ada berlebihan pada perairan dapat mengganggu organisme lain bahkan bisa mematikan.

(10)

2.5 Indeks Pencemaran

Penilaian indeks pencemaran logam berat di suatu perairan digunakan untuk mengetahui tingkat kontaminasi logam berat berdasarkan konsentrasinya pada sedimen. Analisis tingkat pencemaran logam berat dalam sedimen dapat ditentukan menggunakan beberapa indikator, yang dikelompokkan ke dalam indeks tunggal dan indeks terpadu. Indeks tunggal adalah indikator yang digunakan untuk menghitung kontaminasi dari logam tunggal (hanya satu logam berat) yang meliputi: faktor pengkayaan (Enrichment Factor), faktor kontaminasi (Contamination Factor), dan indeks geoakumulasi (Index of Geo-accumulation).

Indeks terpadu adalah kumpulan dari indeks tunggal yang ditentukan secara terpisah dan kemudian digabungkan untuk menentukan keseluruhan kualitas sedimen yang dapat diketahui berdasarkan perpaduan beberapa logam berat yang terkadung di dalamnya seperti indeks beban polusi (Pollution Load Index) (Mulyaningsih, 2016).

Tingkat kontaminasi logam berat di sedimen dapat dinyatakan dalam faktor Kontaminasi (CF). Faktor kontaminasi digunakan untuk menggambarkan tingkat kontaminasi yang diakibatkan oleh bahan toksik (logam berat) pada sedimen (Mulyaningsih, 2016). CF juga digunakan untuk menggambarkan pencemaran logam berat tunggal dalam sedimen, namun tidak dapat mengungkap efek ekologi dan bahayanya. Apabila Cx ≥ Cn(Bn) dapat didefinisikan bahwa zat/material tersebut sebagai kontaminasi dan jika Cx < Cn(Bn) maka unsur tersebut tidak dapat menunjukan sifat kontaminasi. Nilai background (Bn) atau latar belakang logam berat dalam sedimen berdasarkan pada penelitian sebelumnya dan digunakan sebagai nilai referensi yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 2.1 Nilai Background (Bn) Lingkungan Logam Berat di Sedimen (Greenwood dan Earnshaw, 1997)

Unsur Pb Cd

Nilai background (Bn) 13 0,16

(11)

Faktor kontaminasi (CF) dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :

𝐶𝐹 = 𝐶𝑥

𝐶𝑏𝑎𝑐𝑘𝑔𝑟𝑜𝑢𝑛𝑑(𝐵𝑛)………...…(2.11)

Keterangan :

CF : Faktor Kontaminasi

Cx (Heavy Metal) : Konsterasi logam X yang terukur pada sedimen

Cbackground (Bn) : Konsentrasi normal logam yang secara alami ada dalam kerak bumi

Nilai CF jika :

CF < 1 = Tingkat kontaminasi rendah 1 < CF < 3 = Tingkat kontaminasi sedang 3 < CF < 6 = Tingkat kontaminasi cukup

CF > 6 = Tingkat kontaminasi sangat tinggi Persamaan 2. 10 Menentukan Kadar Logam Persamaan 2. 11 Faktor Kontaminasi

2.6 Analysis of Variance (ANOVA)

Uji anova adalah analisis statistik yang menguji perbedaan rata-rata lebih dari dua kelompok. Anova satu arah (one way anova) digunakan apabila yang akan dianalisis terdiri dari satu variabel terikat dan satu variabel bebas. Ada 2 jenis anova yaitu analisis varian satu faktor (one way anova) dan analisis varian 2 faktor (two way anova). Metode anova digunakan untuk membandingkan perbedaan rata-rata kandungan logam berat terhadap Fraksi sedimen. Uji signifikan menggunakan nilai 0,05 atau tingkat kepercayaan 95%. Sebelum melakukan uji anova terlebih dahulu lakukan uji normalitas, uji hommogenitas kemudian uji one way anova dan jika terdapat perbedaan signifikan dilakukan uji lanjutan yaitu uji lanjutan post hoc.

Uji post hoc adalah analisis lanjutan dari uji anova untuk mengetahui kelompok mana saja yang berbeda bilamana pada pengujian anova dihasilkan ada perbedaan bermakna. Uji lanjutan post hoc dilakukan bila terdapat perbedaan yang bermakna antar variabel.

Hipotesis untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara konsentrasi logam berat dengan ukuran butir sedimen adalah sebagai berikut :

H0 : tidak terdapat hubungan antara konsentrasi logam berat pada sedimen dengan ukuran butir sedimen.

(12)

H1 : terdapat hubungan antara konsentasi logam berat pada sedimen dengan ukuran butir sedimen (Rosyadewi, 2020).

Kriteria pada pengujian 1. Uji normalitas

Signifikan > 0.05 maka data berdistribusi normal Signifikan < 0.05 maka data tidak berdistribusi normal 2. Uji homogenitas

Signifikan > 0.05 maka H0 diterima Signifikan < 0.05 maka H0 ditolak 3. Untuk uji anova

Jika signifikan > 0.05 maka H0 diterima Jika signifikan < 0.05 maka H0 ditolak

Gambar

Tabel 2.1 Nilai Background (Bn) Lingkungan Logam Berat di Sedimen  (Greenwood  dan Earnshaw, 1997)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji konsep pemasaran tentang bauran pemasaran dalam meningkatkan kinerja pemasaran, studi kasus ini dilakukan pada

Wagh, Amanpreet Kaur, Nitin Mehta, Pavan Kumar, and Malav 2019 “A New Vista for Waste Management and Animal Feed” Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan mereview dari

Pola penggunaan internet yang melampaui batas membuat individu memiliki waktu yang lebih banyak dalam bermain internet, kurang berisitrahat, tidak mampu menjaga pola makan,

Judul Tesis PERTANGGUNGJA WABAN PIDANA BAGI NOTARIS SEBAGAI PEJABA T UMUM YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA DALAM PEMBUATAN AKTA OTENTIK.. Disetujui Oleh

749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis (sudah tidak berlaku) dijelaskan bahwa rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas

Penyusunan Laporan Keuangan dan Penilaian Kinerja Usahanya yang sesuai berdasarkan SAK-ETAP pada UMKM dalam hal ini yaitu Pengrajin Endek Mastuli “Ayu Lestari”

1) Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama didepan koma dan angka kedua di belakang koma. Jika angka yang ketiga.. sama dengan atau lebih

Besarnya dosis serapan merupakan konsep fisika yang sangat berguna, tetapi dalam sistem biologi tidak dapat diterapkan karena dalam sistem biologi derajat kerusakan yang sama