i
SKRIPSI – ME141501
ANALISA KEBUTUHAN LISTRIK AKIBAT MODIFIKASI KAPAL PENANGKAP IKAN KM. MINA JAYA NIAGA 11 MENJADI FLOATING COLD STORAGE
Monnika Indra Cahyanti NRP 04211440000002
Dosen Pembimbing
Juniarko Prananda, S.T., M.T Dr. Ir. A.A. Masroeri, M.Eng
DEPARTEMEN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2018
i SKRIPSI – ME 141501
ANALISA KEBUTUHAN LISTRIK AKIBAT MODIFIKASI KAPAL PENANGKAP IKAN KM. MINA JAYA NIAGA 11 MENJADI FLOATING COLD STORAGE
Monnika Indra Cahyanti NRP 04211440000002 Dosen Pembimbing
Juniarko Prananda, S.T., M.T.
Dr. Ir. A.A. Masroeri, M.Eng.
DEPARTEMEN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER 2018
ii
“Halaman ini sengaja dikosongkan”
iii SKRIPSI – ME 141501
ANALYSIS OF ELECTRICITY DEMAND DUE TO MODIFICATION OF FISHING VESSELS KM. MINAJAYA NIAGA 11 TO FLOATING COLD STORAGE
Monnika Indra CAhyanti NRP 04211440000002
Supervisors
Juniarko Prananda., S.T., M.T Dr. Ir. A.A. Masroeri., M.Eng
DEPARTEMEN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER 2018
iv
“Halaman ini sengaja dikosongkan”
v
LEMBAR PENGESAHAN
vi
“Halaman ini sengaja dikosongkan”
vii
LEMBAR PENGESAHAN
viii
“Halaman ini sengaja dikosongkan”
ix
Analisa Kebutuhan Listrik Akibat Modifikasi Kapal Penangkap Ikan KM.
Minajaya Niaga 11 menjadi Floating Cold Storage Nama Mahasiswa : Monnika Indra Cahyanti
NRP : 04211440000002
Departemen : Teknik Sistem Perkapalan ITS Dosen Pembimbing 1 : Juniarko Prananda, S.T., M.T Dosen Pembimbing 2 : Dr. Ir. A.A. Masroeri, M.Eng
Abstrak
KM. Minajaya Niaga 11 merupakan kapal ikan jenis tuna long-liner yang diproduksi oleh PT. PANN. KM. Minajaya Niaga 11 memiliki ukuran 512 GT, namun sejak diterbitkannya surat dari pemerintah No. B.1234/ DJPT / P.I.410.D4/31/12/2015 tentang larangan kapal ikan diatas 150 GT beroperasi, menjadikan KM.Minajaya tidak bisa dioperasikan lagi. Oleh karena itu, KM.Minajaya Niaga 11 ini akan dimodifikasi menjadi floating cold storage yang berfungsi untuk menyimpan dan mengawetkan ikan tuna sebelum diekspor ke luar negeri. Floating cold storage ini diletakkan disisi pelabuhan, dan tetap mengapung di permukaan air layaknya sebuah kapal. Modifikasi KM. Minajaya ini difokuskan untuk membekukan ikan tuna hingga -600C. Sebelumnya, KM.Minajaya Niaga 11 hanya memiliki empat freezing room dengan kapasitas 2 ton tiap freezing room.
Perencanaan modifikasi ini yaitu dengan mengubah fungsi beberapa ruangan yang sudah terdapat insulasi seperti fish hold, bait hold, cold store, dan dry provision store. Selain itu, penambahan freezing room di bagian main deck. Sehingga jumlah freezing room setelah modifikasi yaitu empat belas freezing room dengan kapasitas total 93,6 ton. Oleh karena KM.Minajaya Niaga sudah lama tidak digunakan, kodisi engine menjadi usang dan dalam penilitian ini diasumsikan bahwa engine tidak digunakan. Dari hasil perhitungan, total kebutuhan listrik pada floating cold storage adalah 517,25 kW, sehingga diberikan dua pilihan generator yaitu tetap menggunakan generator existing atau berganti dengan generator baru, mengingat generator existing sudah lama tidak digunakan. Generator existing pada kapal yaitu dengan kapasitas 415 Hp atau 309 kW dengan load factor 83,7 % sedangkan generator baru berkapasitas 350 kW dengan load factor 73,9%. Pada floating cold storage ini terdapat 3 buah generator, yaitu 2 buah generator utama dan 1 buah standby generator.
Kata kunci : KM.Minajaya Niaga 11, Floating Cold Storage, modifikasi, sistem pendingin, sistem kelistrikan, generator.
x
“Halaman ini sengaja dikosongkan”
xi
Analysis of Electricity Demand due to Modification Fishing Vessels KM. Minajaya Niaga 11 to Floating Cold Storage
Name of Student : Monnika Indra Cahyanti
NRP : 04211440000002
Department : Marine Engineering
Supervisor 1 : Juniarko Prananda., S.T., M.T.
Supervisor 2 : Dr. Ir. A.A. Masroeri., M.Eng Abstract
KM. Minajaya Niaga 11 is long liner fishing vessels that is producted by PT.PANN. The size of ship is 512 GT. However, it is forbid operation since publication of letter from government Numb. B.1234/DJPT/P.I.410.D4/31/12/2015 about prohibited for operating the fishing vessels what have size more than 150 GT. Therefore, KM. Minajaya Niaga 11 will modification became floating cold storage. But it has the impacts on refrigeration and electrical system. The function of floating cold storage is to store and preserve tuna until -600C before explore to aboard. It is placed in side of port and still floats in the water surface like a ship. The plan of modification is changes the function of some room what have insulation before and addition of freezing room in the main deck. So, amount of freezing room after modification is 14 freezing rooms with the total of cooling load is 2200952,02 Btu/hr and capacity of fish is 93,6 tons. Even though before modification, it has 4 freezing roms with the total capacity of fish is 8 tons. Therefore KM. Minajaya Niaga have long time no use, the condition of engine broken, so author take assumption that engine is no use. From the calculate, electrical demand of floating cold storage is 517,25 kW, so author give two choice, use existing generator or change with new generator. Existing generator is 415 Hp or 309 kW with load factor 83,7 % , and the new generator is 350 kW with load factor 73,9%. In this floating cold storage, there are 3 generators, two main generators and a standby generator.
Keywords : KM.Minajaya Niaga 11, Floating Cold Storage, Modification, Refrigeration System, Electrical system, generator.
xii
“Halaman ini sengaja dikosongkan”
xiii
KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah SWT atas limpahan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisa Kebutuhan Listrik KM. Minajaya Niaga 11 menjadi Floating Cold Storage” dengan baik dan tepat waktu.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak- pihak yang mendukung dan senantiasa membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Ucapan teimakasih ini, penulis tujukan kepada :
1. Kedua orang tua penulis dan keluarga besar, Ibu Rismiati dan Bapak Tri Cahyo Budianto, juga Adik Penulis Yogik Dwi Ardianto yang selalu memberikan doa, semangat, dan motivasi kepada penulis
2. Bapak Dr. Eng. Badrus Zaman, ST., MT selaku Kepala Departemen Teknik Sistem Perkapalan
3. Bapak Juniarko Prananda, ST.,MT. dan Bapak Ir. A.A. Masroeri.,M.Eng., selaku dosen pembimbing yang senantiasa memberikan kritik, saran, dan motivasi kepada penulis demi kelancaran pengerjaan skripsi ini
4. Bapak Ir. Agoes Santoso, M.Sc selaku dosen wali penulis selama menempuh perkuliahan di Departemen Teknik Sistem Perkapalan
5. Pak Ede Mehta Wardhana, ST.,MT dan Mas Danang Cahyagi, ST.,MT yang banyak membantu penulis dalam mengerjakan skripsi ini
6. Seluruh dosen, tenaga kependidikan serta manajemen Departemen Teknik Sistem Perkapalan FTK-ITS
7. Mas Irfan Byna dan mas Danuja Wijayanto yang telah sangat membantu penulis dalam mendapatkan referensi dan data-data yang diperlukan pada skripsi ini 8. Bidadari Surga (Safira Chika Nurul Imania, Halimah Puspitasari, dan Nabilah
Amirah) yang selalu memberikan bantuan,dukungan, dan motivasi bagi penulis 9. Teman-teman seperjuangan skripsi: Zeela, Abyan, Desi Ann, Dinar, Revian, Soleh, Sekti, Rizal, Shanty, Mariana, Luthfi Maulidya, Anindya yang banyak membantu dan memotivasi penulis
10. Keluarga besar UKM Maritime Challenge, yang selalu memberi semangat dan dukungan kepada penulis
11. Teman-teman Lab MEAS dan MMS yang selalu memberikan tawa dan candaan sepanjang hari
12. Teman-teman Mercusuar seperjuangan yang saling membantu, menyamangati dan mengingatkan di dunia perkuliahan ini
13. Pihak-pihak lainnya yang sangat berperan dalam penyelsaian skripsi ini.
Surabaya, Juli 2018
Penulis
xiv
“Halaman ini sengaja dikosongkan”
xv DAFTAR ISI
SKRIPSI – ME141501 ... i
LEMBAR PENGESAHAN ...v
KATA PENGANTAR... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR TABEL ...xix
BAB I PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Perumusan Masalah ...2
1.3 Batasan Masalah ...2
1.4 Tujuan Penelitian ...3
1.5 Manfaat ...3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...5
2.1 Sejarah KM Minajaya Niaga ...5
2.2 Kapal Tuna Long-Liner ...6
2.3 Floating Cold Storage ...8
2.4 Sistem Pendingin ... 10
2.4.1. Sistem Pendingin Kompresi Uap ... 10
2.4.2. Komponen Sistem Pendingin ... 13
2.4.3. Beban Pendinginan ... 16
2.5 Sistem Kelistrikan ... 17
2.5.1 Faktor-faktor Pemilihan Generator ... 18
2.6 Studi Hasil Penelitian Sebelumnya ... 19
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
3.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 24
3.2 Studi Literatur ... 24
3.3 Pengumpulan Data ... 24
3.4 Modifikasi ... 26
3.5 Perhitungan Kapasitas Muat Hasil Modifikasi ... 27
3.6 Perencanaan Sistem Pendingin ... 27
3.7 Perencanaan dan Perhitungan Kebutuhan Listrik... 28
3.9 Kesimpulan dan Saran ... 29
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN ... 31
4.1 KM. Minajaya Niaga 11 ... 31
4.2 Rencana Modifikasi ... 32
4.3 Perhitungan Kapasitas Muat Floating Cold Storage... 34
4.4 Modifikasi Sistem Pendingin ... 36
4.4.1 Perhitungan Beban Pendingin ... 36
4.4.2 Perhitungan Daur Kompresi Uap ... 42
4.4.2 P&ID Sistem Pendingin Floating Cold Storage ... 45
4.5 Analisa Sistem Kelistrikan pada Floating Cold Storage ... 46
4.5.1 Perhitungan Generator ... 46
xvi
4.5.2 One Line Diagram pada Floating Cold Storage ...47
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...51
5.1 Kesimpulan ...51
5.2 Saran ...51 LAMPIRAN 1
LAMPIRAN 2 LAMPIRAN 3 BIODATA PENULIS
xvii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Kebutuhan dan Ketersediaan Cold Storage di Indonesia ... 1
Gambar 2. 1. KM. Minajaya Niaga ... 5
Gambar 2. 2. Teknik Penangkapan Ikan ... 7
Gambar 2. 3. Bagian Alat Tangkap Long-Liner ... 7
Gambar 2. 4. Tempat Pendinginan Ikan ... 9
Gambar 2. 5. Desain Rak pada Cold Storage ... 10
Gambar 2. 6. Konsep Sistem Pendingin Kompresi Uap ... 11
Gambar 2. 7. Diagram P-h ... 11
Gambar 2. 8. Bitzer Compressor ... 14
Gambar 2. 9. Evaporator ... 14
Gambar 2. 10. Kondensor... 15
Gambar 2. 11. Recevoir ... 15
Gambar 2. 12. Thermostat Expantion Valve ... 15
Gambar 3. 1. Metodelogi Penelitian ... 23
Gambar 3. 2. Tampak Samping GA ... 26
Gambar 3. 3. Modifikasi KM.Minajaya Niaga 11 menjadi floating cold storage ... 26
Gambar 3. 4. Diagram p-h R134a... 28
Gambar 4. 1. Floating Cold Storage ... 32
Gambar 4. 2. KM. Minajaya Niaga 11 ... 32
Gambar 4. 3. Modifikasi Tampak Samping ... 33
Gambar 4. 4. Modifikasi Main Deck ... 34
Gambar 4. 5. Modifikasi Tank Top ... 34
Gambar 4. 6. Ikan Tuna Sirip Kuning ... 35
Gambar 4. 7. Desain Rak Cold Storage ... 35
Gambar 4. 8. Insulasi Cold Storage ... 39
Gambar 4. 9. Skema Evaporator ... 42
Gambar 4. 10. Skema Kondensor ... 43
Gambar 4. 11. Skema Kompresor ... 43
Gambar 4. 12. Diagram P-h R134a ... 44
Gambar 4. 13. P&ID Sistem Pendingin pada Floating Cold Storage ... 45
Gambar 4. 14. One Line Diagram (Power)-Main Deck ... 48
Gambar 4. 15. One Line Diagram (Power)-Tank Top ... 48
Gambar 4. 16. One Line Diagram (Power) ... 49
xviii
“Halaman ini sengaja dikosongkan”
xix
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1. Extended Self Life Komoditas Perikanan ... 8
Tabel 2. 2. Perbandingan Karakteristik R22 dan R134a ... 13
Tabel 4. 1. Data Utama KM. Minajaya Niaga 11 ... 31
Tabel 4. 2. Space Ikan pada Rak ... 35
Tabel 4. 3. Perhitungan Kapasitas Cold Storage ... 36
Tabel 4. 4. Nilai dan Besaran untuk Perhitungan Product Load ... 37
Tabel 4. 5. Beban Pendinginan terhadap Produk ... 38
Tabel 4. 6. Besaran dan Nilai untuk Perhitungan Wall-Heat-Gain-Load... 38
Tabel 4. 7. Wall-Heat-Gain-Load... 40
Tabel 4. 8. Miscellaneous Load ... 41
Tabel 4. 9. Total Beban Pendinginan Tiap-tiap Cold Storage ... 42
Tabel 4. 10. Data Hasil Perhitungan Komponen Kompresi Uap ... 45
Tabel 4. 11. Summary Kebutuhan Listrik... 46
Tabel 4. 12. Pemilihan Generator ... 47
xx
“Halaman ini sengaja dikosongkan”
1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Ikan tuna merupakan hasil laut yang melimpah di Indonesia dan banyak diburu oleh sebagian besar negara, dikarenakan ikan tuna memiliki kandungan protein yang tinggi serta harganya cukup mahal. Indonesia harus bangga karena mayoritas ikan tuna ada disini. Namun, melimpahnya hasil laut tersebut tidak sebanding dengan ketersediaan cold storage di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. /PERMEN_KP/2017/ Tentang Rencana Kerja Kementrian Kelautan diajukan pengadaan cold storage ukuran 30-100 ton sebanyak 14 unit dan cold storage ukuran 1000 ton sebanyak 1 unit. Gambar 1.1 merupakan grafik yang menunjukkan perbandingan kebutuhan dan ketersediaan cold storage di Indonesia.
Sumber : KKP (2016)
Pada gambar 1.1. menunjukkan bahwa kapasitas ketersediaan cold storage di Indonesia tidak sebanding dengan kebutuhan cold storage. Hanya sekitar 15% cold storage yang terpenuhi.
Di samping itu, pada tahun 1996, Pemerintah Indonesia memiliki proyek pengadaan kapal sebanyak 31 buah kapal tuna long-liner dari Spanyol guna memperkuat sektor maritim di Indonesia. Untuk proyek tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan PT Industri Kapal Indonesia (PT IKI) di Makasar. Namun, dua tahun berlalu terjadi krisis moneter yang menyebabkan proyek tersebut terhenti. Alhasil hanya 16 kapal yang berhasil diselesaikan, termasuk KM. Mina Jaya Niaga 11.
Gambar 1.1. Kebutuhan dan Ketersediaan Cold Storage di Indonesia
Kapal Mina Jaya Niaga 11 merupakan kapal jenis Tuna Long Liner. Kapal tersebut digunakan untuk menyimpan hasil tangkapan nelayan ke dalam Cold Storage dengan fasilitas pendingin -600C yang berfungsi mengawetkan ikan hasil tangkapan dengan kapasitas muat 350 ton/kapal dan berukuran 512 GT (IMO).
Kapal Mina Jaya Niaga 11 memiliki kapasitas fish hold sebesar 312 m3, bait hold 27 m3, freezing room 111 m3 (teridiri dari 4 freezing room yang masing-masing hanya dapat memuat 2 ton ikan tuna). Sistem existing pendingin pada KM. Minajaya Niaga 11 yaitu dengan menggunakan refrigrant R-22. Komponen sistem pendinginnya antara lain : main refrigerator (RAMON VIZCAINO,S.A);
compressor (MYCOM, SFW-62). Sedangkan untuk main engine menggunakan BAZAN MAN B & W 8L 20/27, 800 kW, 1000 rpm) dan generator (GUASCOR F -180 TA, 2 x 415 Hp, 1500 rpm).
Namun saat ini, izin baru kapal penangkapan ikan yang beroperasi di laut lepas dibatasi 150 GT. Pemerintah juga mengkaji peningkatan ukuran kapal penangkapan ikan di wilayah lepas dari 150 GT menjadi 200 GT. Hal itu dilakukan untuk memperkuat kapasitas penyimpanan ikan hasil tangkapan. Direktur Pengendalian Penangkapan Ikan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Saifuddin mengemukakan ha tersebut di Jakarta, Minggu, 16/10/2016 (sumber: kompas.com).
Namun, meskipun peratutan tentang ukuran kapal penangkapan ikan dicanangkan akan dinaikkan, Kapal Mina Jaya Niaga 11 tetap saja masih terlalu besar ukurannya. Jadi KM. Mina Jaya Niaga 11 tidak bisa dioperasikan sebagai kapal penangkap ikan.
Oleh karena itu, KM. Mina Jaya Niaga 11 akan dimodifikasi menjadi floating cold storage yang akan digunakan untuk menyimpan ikan yang akan diekspor ke luar negeri. Dengan penambahan cold storage, akan didapatkan kapasitas muat yang lebih besar dari sebelumnya. Modifikasi ini juga sebagai solusi menambah jumlah cold storage di Indonesia. Namun, modifikasi akan berpengaruh terhadap kebutuhan listrik, sehingga penulis mengajukan judul “Analisa Kebutuhan Listrik akibat Modifikasi Kapal Penangkap Ikan KM. Minajaya Niaga 11 menjadi Floating Cold Storage.”
1.2 Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang diangkat berdasarkan uraian latar belakang diatas adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana modifikasi kapal penangkapan ikan KM. Mina Jaya Niaga 11 menjadi Floating Cold Storage?
2. Bagaimana desain perubahan pola operasi kelistrikan dan analisa kebutuhan listrik pada modifikasi kapal penangkapan ikan KM. Mina Jaya Niaga 11 menjadi Floating Cold Storage?
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada tugas akhir ini adalah sebagai berikut :
1. Modifikasi kapal penangkapan ikan KM. Mina Jaya Niaga 11 tidak menghitung stucture
2. Modifikasi kapal penangkapan ikan KM. Mina Jaya Niaga 11 tidak memperhitungkan stabilitas
3
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penyusunan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Melakukan modifikasi kapal penangkap ikan KM. Mina Jaya Niaga 11 menjadi Floating Cold Storage
2. Merencanakan sistem pendingin dan menentukan kebutuhan listrik pada modifikasi KM.Mina Jaya Niaga 11 menjadi Floating Cold Storage
1.5 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :
1. KM. Mina Jaya Niaga 11 bisa digunakan lebih efektif untuk menyimpan hasil tangkapan ikan di laut
2. Memberikan referensi kepada Pemerintah, desain modifikasi kapal penangkapan ikan menjadi Floating Cold Storage
3. Memberikan analisa tentang kebutuhan listrik yang dibutuhkan untuk operasional Floating Cold Storage
“Halaman Ini Sengaja Dikosongkan”
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah KM Minajaya Niaga
Gambar 2. 1. KM. Minajaya Niaga
Sumber : Spesifikasi Teknis KM. Minajaya Niaga 11
Gambar 2.1. merupakan bentuk asli KM. Minajaya Niaga 11 yang beroperasi sebagai kapal ikan. Berdasarkan Surat Menteri Keuangan No. S-493/MK.016 / 1994 yang diterbitkan pada tanggal 30 Juni 1994 dikatakan bahwa Menteri Keuangan RI menunjuk PT PANN sebagai badan pelaksana proyek pengadaan kapal ikan Mina Jaya Niaga. Kapal-kapal ini tidak dibangun dari awal melainkan dibeli dari Spanyol.
Pada SLA No. 779/ DP3/ 1994 yang diterbitkan tanggal 26 Desember 1994, dituliskan janji bahwa kapal-kapal tersebut diselesaikan oleh PT Industri Kapal Indonesia (PT.
IKI).
Dari 31 kapal yang ada, hanya 14 yang berhasil diselesaikan. Hal ini disebabkan karena PT. PANN sebagai pelaksana sedang mengalami kesulitan dalam hal pendanaan, ditambah lagi PT. IKI juga tidak mempunyai modal untuk menjamin proses perakitan kapal. Pada tahun 1998, Indonesia sedang mengalami krisis moneter dan berdampak keseluruhan proyek dibiarkan terdampar. Akhirnya dari 14 kapal, hanya 2 yang bisa disewakan. Kapal yang belum selesai diparkir dan ditinggalkan di area PT. IKI.
Pada tanggal 22 Maret 2005, dituliskan surat No. S-117 / MBU / 2005 yang berisi tentang pemindahan proyek KM Mina Jaya Niaga dari PT.PANN ke PT. IKI.
Perjanjian tersebut disetujui oleh Menteri Negara BUMN dan Menteri Keuanga yang ditulis di Surat Dirjen Perbendaharaan No. S-3715 / MK.6 / 2006. Berlanjut tahun
2013, dikatakan bahwa pemerintah akan menghentikan pinjaman kepada PT. PANN dan beralih ke PT. IKI serta akan memperluas usaha PT. IKI.
Pada tahun 2014 dan 2015, PT. Perikanan Nusantara memiliki rencana untuk menyewa 4 kapal Mina Jaya Niaga. Dengan rincian jadwal yaitu KM. Mina Jaya Niaga 6 (24 April 2014), KM. Mina Jaya Niaga 12 (3 Nopember 2014), KM. Mina Jaya Niaga 11 (9 April 2015) , dan KM. Mina Jaya Niaga 6 (9 April 2015). Namun sayangnya, pengoperasian kapal hanya bertahan satu tahun saja dan hanya dua kapal yang beroperasi. Hal ini dikarenakan pada tahun 2015 diterbitkann Surat No. B.1234/
DJPT / P.I.410.D4/31/12/2015 tentang larangan kapal ikan diatas 150 GT beroperasi.
Sedangkan KM. Mina Jaya ini memliki ukuran 512 GT. Akhirnya dua kapal tersebut berada di Ambon dan Papua, sedangkan dua kapal lain masih di PT. IKI.
Menteri Keuangan RI menunjuk PT PANN sebagai bdan pelaksana pada proyek pengadaan kapal ikan KM Mina Jaya Niaga. Pengankatan ditulis pada Surat Menteri Keuangan No. S-493/MK.016/1994 yang diterbitkan pada tanggal 30 Juni 1994.
Kapal tersebut dibeli dari Spanyol dalam bentuk shipet, bukan kapal yang dirakit sepenuhnya. Kemudian kapal tersebut rencananya akan dirakit dan selesai di PT.
Industri Kapal Indonesia (PT. IKI). Perjanjian ini ditulis pada SLA No. 779/DP3/1994 yang diterbitkan pada tanggal 26 desember 1994. Ada 31 kapal yang siap untuk dirakit. Seiring berjalannya waktu, PT IKI hanya bisa menyelesaikan 14 kapal dikarenakan PT PANN sebagai lemmbaga pelaksana memliki beberapa kesulitan pendanaan. Sayangnya pada tahun 1998, Indonesia mengalami krisis moneter dan kondisi ini membuat keseluruhan proyek terhenti. Akhirnya dari 14 kapal hanya 2 kapal yang diopersikan, termasuk KM. Mina Jaya Niaga 11.
2.2 Kapal Tuna Long-Liner
Berdasarkan UU No. 31 Tahun 2004 dijelaskan bahwa kapal perikanan adalah kapal, perahu, atau alat apung lain yang digunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan, dan penellitian / eksplorasi perikanan. Menurut Setianto (2007), terdapat beberapa jenis kapal perikanan, antara lain :
1. Kapal Purse seine merupakan kapal ikan yang menggunakan alat tangkap jenis purse seine atau pukat cincin, kapal ini digunakan untuk mendinginkan, menyimpan, dan mengangkut hasil tangkapan.
2. Kapal Longline adalah kapal ikan yang alat tangkapnya jenis long line atau rawaii, kapal ini digunakan untuk mendinginkan, menyimpan dan mengangkut hasil tangkapan. Kapal longline yang memiliki ukuran 30- 100 GT umumnya digunakan untuk menagkap ikan tuna.
3. Kapal Trawl adalah kapal ikan yang alat tangkapnya jenis trawl atau pukat harimau, namun tujuan utama penangkapan adalah udang dengan hasil sampingan ikat demersal.
7
4. Kapal pole and liner adalah kapal ikan yang alat tangkapnya jenis pole and line atau huhate. Kapal dengan ukuran 30-100 GT ini pada umumnya untuk menangkap ikan cakalang (skipjack) dan yellow fin tuna.
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014
Berdasarakan Gambar 2.2, teknik menangkap ikan yang banyak digunakan di Indonesia yaitu teknik long-liner dengan prosentase 37 % dari semua metode yang diterapkan. Pada tahun 2014 tercatat 1.139.795 unit penangkapan ikan di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2015).
Metode long-liner merupakan metode yang menggunakan garis panjang yang melayang di permukaan laut. Garis tersebut disebut main line dan memiliki garis cabang yang disebut branch line yang terdapat hook atau mata pancing. Pada garis ini terdapat buoy yang sudah ditentukan jaraknya, seperti pada Gambar 2.3.
Gambar 2. 3. Bagian Alat Tangkap Long-Liner Sumber : Rahman.Rauf, 2010
Gambar 2. 2. Teknik Penangkapan Ikan
Teknik pengoperasian metode long liner yaitu dengan menyesuaikan kondisi pancing dan kedalaman perairan. Pancing dapat mencapai hingga kedalaman 450 m. Secara singkat, setelah kapal ikan sampai di fishing ground, maka dilakukan setting yang diawali dengan penurunan pelampung nemdera dan penebaran main line diikuti penebaran pancing yang sudah diberi umpan. Rata- rata waktu yang digunakan untuk menyebar pancing yaitu 0,6 menit/pancing.
Pelepasan pancing harus tegak lurus terhadap arus. Alat tangkap ditarik setelah 3-6 jam pelepasan dan dapat menggunakan line hauler sehingga dapat diatur kecepatannya. Beberapa hal yang menyebabkan penarikan berlangsung lama yaitu banyaknya hasil tangkapan dan faktor cuaca, kira-kira membutuhkan waktu 3 menit/pancing.
2.3 Floating Cold Storage
Cold storage merupakan ruangan yang dirancang khusus dengan kondisi suhu tertentu dan digunakan untuk menyimpan berbagai macam produk untuk mempertahankan kesegarannya. Indonesia yang terkenal dengan melimpahnya hasil ikan laut, tentu sangat memerlukan sebuah cold storage yang dapat digunakan untuk menyimpan hasil tangkapan laut. Pengendalian atau pengaturan suhu di cold storage dapat memperpanjang umur komoditanya (ikan) atau bisa disebut extended shelf life. Seperti pada tabel 2.1. berikut dijelaskan bahwa semakin rendah suhu cold storage, maka umur ikan akan semakin panjang.
Sumber : Capt. Pawanexh Kohli, Cross Three techno-visors Tabel 2. 1. Extended Self Life Komoditas Perikanan
9
Floating cold storage merupakan cold storage (kulkas raksasa) yang mengapung di permukaan laut, bisa juga diletakkan di pelabuhan. Dengan adanya floating cold storage akan menambah jumlah cold storage di Indonesia yang jumlahnya tidak sebanding dengan hasil laut para nelayan. Floating cold storage digunakan untuk menyimpan hasil tangkapan ikan tuna yang ditampung sebelumnya sebelum di ekspor ke luar negeri. Ikan tuna harus didinginkan terlebih dahulu hingga mencapai -60 derajat celcius, sebagai syarat ikan tuna tetap terjaga kesegarannya.
Floating cold storage memiliki konstruksi yang sama seperti kapal namun penggunaan ruang muat lebih didominasi untuk freezing room atau ruang pendingin, selain itu floating cold storage ini juga hanya mengapung dan bersandar di pelabuhan.
Sumber : Akbar.Taufiq, 2013 Gambar 2. 4. Tempat Pendinginan Ikan
Gambar 2.4. merupakan salah satu contoh tempat pendinginan ikan atau cold storage. Di dalam cold storage terdapat rak-rak untuk meletakkan ikan dan tentunya untuk memudahkan sirkulasi pendinginan cod storage tersebut. Lebih jelasnya, berikut ini merupakan salah satu contoh desain rak pada cold storage.
Sumber : Hari dan Taufik, 2014
Gambar 2.5. merupakan contoh desain rak untuk meletakkan ikan pada cold storage. Perencanaan rak tersebut disesuaika dengan ukuran ikan yang akan didinginkan dan juga ukuran dari cold storage itu sendiri.
2.4 Sistem Pendingin
Sistem pendingin (Refrigeration system) merupakan suatu sistem yang dapat menurunkan dan menjaga temperatur pada suhu yang relatif rendah daripada temperatur lingkungan dengan cara memindahkan kalor/panas dari ruang tersebut ke luar sistem.
2.4.1. Sistem Pendingin Kompresi Uap
Sistem pendingin pada cold storage menggunakan sistem pendingin kompresi uap yang menggunakan media pendinginnya yaitu refrigerant. Sistem ini disebut sistem pendingin kompresi uap karena menggunakan kompresor untuk memompa uap refrigrant dari tekanan rendah ke tekanan tinggi. Proses pendinginan terjadi ketika tekanan rendah sebab temperaturnya juga rendah sehingga dapat menyerap panas dari lingkungan sekitar.
Sistem pendingin kompresi uap secara umum terdapat 4 komponen utama, yaitu kompresor; kondensor; alat ekspansi; dan evaporator. Penghubung dari keempat komponen tersebut yaitu pipa besi/tembaga sehingga menjadi satu rangkaian tertutup dan membentuk suatu siklus transfer panas dari lingkungan ke sistem atau dari sistem ke lingkungan. Refrigran digunakan sebagai media transfer panas yang dapat dikompresi maupun di ekspansi untuk menaikkan dan
Gambar 2. 5. Desain Rak pada Cold Storage
11
menurunkan temperatur. Secara sederhana, sistem pendingin kompresi uap dapat dilihat pada gambar 2.6 dan gambar 2.7. berikut ini,
Gambar 2. 6. Konsep Sistem Pendingin Kompresi Uap Sumber : BINA TEKIKA, 2007
Sumber : BINA TEKNIKA, 2007
Gambar 2.6. dan gambar 2.7. menjelaskan siklus pendinginan seperti berikut,
1. Proses 1-2 (kompresi), merupakan proses kompresi uap refrigerasi dari kondisi awal temperatur dan tekanan rendah yang dikompresi secara reversibel dan isentropik sehingga mengakibatkan temperatur dan tekanan menjadi lebih tinggi dari temperatur lingkungan 2. Proses 2-3 (kondensasi), merupakan proses yang terjadi di
kondensor dimana uap refrigran dengan tekanan dan temperatur tinggi tersebut kemudian masuk ke kondensor untuk melepas panas
Gambar 2. 7. Diagram P-h
ke lingkungan sehingga berubah menjadi refrigan cair bertekanan tinggi
3. Proses 3-4 (ekspansi), pada proses ini, refrigan cair dengan tekanan tinggi masuk ke alat ekspansi untuk diturunkan tekanannya sehingga temperaturnya juga ikut turun dan sebagian refrigan cair berubah menjadi uap
4. Proses 4-1 (evaporasi), pada proses ini terjadi penguapan refrigran cair menjadi uap jenih kembali akibat penambahan panas dari beban yanng ada di evaporator untuk selanjutnya di kommpresi kemballi ke kompresor.
Penetuan komponen pada sistem pendingin untuk mencapai temperatur dan kelembapan yang diinginkan yaitu dengan cara sebagai berikut :
1. Laju aliran massa refrigrant (mref)
... (2.1)
2. Kapasitas kompresor (Qkom)
…….. (2.2)
3. Kapasitas kondensor (Qkon)
…….. (2.3)
Dimana :
h1 = entalpi keluar evaporator h2 = entalpi masuk kondensor h3 = entalpi keluar kondensor h4 = entalpi masuk evaporator
𝑚 = 𝑐𝑜𝑜𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑙𝑜𝑎𝑑 ℎ1 − ℎ4
𝑘𝑔 𝑠
Qkom = m x (h2-h1) (kW)
Qkon = m x (h2-h3) (kW)
13
Pengondisian udara atau yang biasa disebut sistem refrigerasi yang mengatur temperatur dan kelembapan udara memerlukan fluida yang mudah menyerap dan melepas kalor. Refrigant yang sering digunakan untuk mesin pendingin yaitu jenis R22, namun sekarang digantikan oleh R134a. R22 merupakan jenis CFC (cloro fluoro carbon) yang memiliki kestabilan tinggi, tidak mudah terbakar dan mudah didapat. Sedangkan R134a adalah jenis refrigrant HFC (Hidro fluoro carbon) yang memilliki sifat hampir sama dengan R22 namun lebih ramah lingkungan.
Sumber : www.e-journal.upstegal.ac.id
Pada tabel 2.2. dijelaskan mengenai perbedaan karakteristik antara R22 dengan R134a. terlihat bahwa perbedaan antara keduanya tidak begitu signifikan.
2.4.2. Komponen Sistem Pendingin
Sistem udara bertekanan merupakan suatu system yang digunakan untuk mendistribusikan udara pada tempat yang didinginkan. Sistem pendingin kompresi uap terdiri dari beberapa komponen utama yaitu kompresor, evaporator, kondensor, katup ekspansi dan komponen penunjang lainnya seperti pipa, dll. Berikut ini merupakan penjelasan dari komponen-komponen tersebut.
a. Kompresor
Kompresor merupakan alat mekanik untuk meningkatkan tekanan fluida mampu mampat, yaitu gas atau udara. Cara kerja dari kompresor yaitu dengan menyerap udara atau gas dari lingkungan melalui inlet valve, kemudian dikompresi dan pada akhirnya dikeluarkan melalui discharge untuk pendistribusian gas atau udara bertekanan tersebut.
Tabel 2. 2. Perbandingan Karakteristik R22 dan R134a
Sumber : coldstoragejakarta.wordpress.com
Gambar 2.8. adalah salah satu jenis kompresor yang digunakan pada sistem pendingin cold storage.
b. Evaporator
Evaporator berfungsi untuk menguapkan cairan refrigran pada tekanan dan temperature rendah. Refrigran pada evaporator ini menyerap kalor dari lingkungan atau produk yang akan didinginkan. Salah satu jenis evaporator yang sering digunakan yaitu shell and tube seperti Gambar 2.9.
Sumber : klinikac.co.id c. Kondensor
Kondensor merupakan komponen sistem pendingin yang berfungsi untuk mengembunkan uap refrigerant agar kembali menjadi cair dengan cara melepakan kalor ke lingkungan. Gambar 2.10. berikut ini adalah bentuk dari kondensor shell and tube.
Gambar 2. 8. Bitzer Compressor
Gambar 2. 9. Evaporator
15
Sumber : www.maritimeworld.web.id d. Recevoir
Recevoir digunakan untuk menyimpan cairan refrigran yang berasal dari kondensor, yang nantinya akan didistribusikan ke evaporator. Gambar 2.11. adalah bentuk dan bagian-bagian dari recevoir.
Sumber : www.maritimeworld.web.id e. Katup Ekspansi
Thermostat expantion valve berfungsi untuk menurunkan temperatur dan tekanan refrigran cair serta mengatur laju aliran refrigran agar sesuai dengan beban pendinginan. Gambar 2.12. adalah thermostat expantion valve.
Sumber : www.maritimeworld.web.id Gambar 2. 10. Kondensor
Gambar 2. 11. Recevoir
Gambar 2. 12. Thermostat Expantion Valve
f. Pipa Instalansi
Pipa instalasi digunakan sebagai perantara atau penguhubung antar komponen dan difungsikan juga sebagai tempat pendistribusian refrigran.
Pemilihan pipa instalasi didasarkan pada beban pendinginan. Pipa ini terdiri dari pipa suction, pipa liquid, dan pipa discharge.
2.4.3. Beban Pendinginan
Beban yaitu jumlah energi panas yang harus dikeluarkan dari dalam ruangan oleh mesin pendinginuntuk mendapatkan kondisi ruangan yang diingikan. Beban pendingin pada cold storage dibedakan menjadi tiga yaitu product load, wall heat gain load, dan miscellaneous load.
a. Product load
Berdasarkan buku berjudul “Cold Storage Design and Refrigeration Equipment” karya Fred a. Seaton dan John L. Farley, dijelaskan bahwa terdapat beberapa step untuk menghitung beban pendingin pada produk.
- Beban pendingin dari temperatur awal ke temperatur 00C
…... (2.4) - Beban pendingin pada temperatur 00C
.……. (2.5) - Beban pendingin dari freezing point ke temperatur dalam cold
storage
………(2.6)
Jadi, total beban pendingin pada produk adalah
………(2.7) Dimana,
W = berat produk (pound)
C = panas spesifik ikan di atas freezing (Btu/lb.F) Ci = panas spesifik ikan di bawah freezing (Btu/lb.F) L = panas laten (Btu/lb)
T = temperatur (F)
Q1f = Wc (T1-T2)
Qf = WL
Q2f = Wci (Tf – T2)
Q = Q1f + Qf + Q2f
17
b. Wall-Heat-Gain-Load
Beban pendingin ini bersumber dari dinding, atap, dan lantai.
Perhitungan untuk beban pendingin ini adalah sebagai berikut : ...(2.8)
...(2.9)
Dimana,
Q = laju panas pada cold storage (Btu/24 hr) A = luas (ft2)
T2 = Temperatur udara luar (F)
T1 = Temperatur dalam cold storage (F) X = ketebalan insulasi (inch)
K = konstanta konduktivitas (Btu/hr)/(ft2.F/in) c. Miscellaneous Load
Miscellaneus Load merupakan beban panas yang dihasilkan oleh komponen listrik dan manusia yang berada di dalam cold storage.
Dalam tugas akhir ini, penulis mengasumsikan beban panas dari komponen listrik berupa lampu, kemudian untuk beban dari manusia diabaikan karena jumlah crew yang sangat sedikit yaitu tiga orang.
Lampu yang digunakan dalam cold storage ini memiliki daya 20 watt.
Adapun rumus untuk menghitung beban panas pada lampu yaitu
……..(2.10)
Dimana,
N = banyaknya lampu
P = daya lamu (Watt)
3,41 = faktor beban lampu
Jadi, total beban pendingin dapat dirumuskan sebagai berikut : ....(2.11)
2.5 Sistem Kelistrikan
Sistem kelistrikan merupakan suatu sistem terpenting demi beroperasinya suatu alat atau benda yang sumber utamanya menggunakan listrik. Parameter utama pada
Q elec = n x P x 3,41 x 24 (Btu/hr)
Q total = (Qproduk + Qwall + Qelectrical)/t Q = U x A x (T2 – T1) x 24 hr
1/U = 1/fo + X1/k1 +X2/k2 +1/f1
kelistrikan yaitu tegangan dan frekuensi. Penyuplai listrik pada bidang industri bisa menggunakan PLN dan juga generator.
Generator merupakan mesin yang dapat mengubah tenaga mekanis menjadi tenaga listrik melalui proses induksi elektromagnetik. Generator memeroleh energi mekanik yaitu dari putaran motor listrik. Generator juga berkaitan erat dengan hukum faraday yaitu “Gaya Gerak Listrik pada kawat akan terbentuk, ketika kawat tersebut berada dalam medan magnet dengan kondisi yang berubah-ubah”.
2.5.1 Faktor-faktor Pemilihan Generator a. Load Factor
Untuk menentukan kapasitas generator, perlu diketahui besarnya load factor, karena tidak semua peralatan listrik di kapal bekerja pada beban penuh dalam waktu yang bersamaan. Load factor sangat erat hubungannya dengan nilai ekonomis operasional. Semakin kecil nilai load factor, maka semakin besar biaya produksi listrik per kWh, dan sebaliknya semakin besar load factor, maka akan semakin kecil biaya produksi listrik per kWh. (Theraja, 1994).
Load factor pada pemilihan generator dibagi menjadi dua yaitu load factor generator dan load factor equipment.
- Load factor generator : merupakan perbandingan antara daya yang digunakan pada suatu kondisi dengan jumlah daya yang dihasilkan generator secara keseluruhan yang sedang beroperasi.
…(2.12)
- Load factor equipment : merupakan perbandingan antara waktu pemakaian peralatan pada suatu kondidi dengan total waktu dalam suatu kondisi.
...(2.13)
b. Faktor Diversity
Peralatan listrik pada kapal memiliki karakter beban masing-masing.
Beberapa peralatan digunakan pada waktu yang sama dan beberapa pada periode tertentu. Oleh karena itu, tipe beban pada operasi peralatan listrik dibagi menjadi berikut :
- Continous load : peralatan yang dioperasikan secara terus-menerus, seperti sistem pendingin, pompa untuk CPP, dll.
- Intermittent load : peralatan yang dioperasikan secara tidak terus-menerus namun pada periode tertentu, seperti pompa transfer bahan bakar, pompa fresh water, dll.
𝐿𝐹 = 𝑃𝑜𝑤𝑒𝑟 𝑖𝑠 𝑢𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑓𝑜𝑟 𝑥 𝐶𝑜𝑛𝑑𝑖𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑔𝑒𝑛𝑒𝑟𝑎𝑡𝑜𝑟 (𝑖𝑛 𝑝𝑜𝑤𝑒𝑟)𝑓𝑜𝑟 𝑥 𝐶𝑜𝑛𝑑𝑖𝑡𝑖𝑜𝑛
𝐿𝐹 =𝑈𝑠𝑎𝑔𝑒 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑝𝑚𝑒𝑛𝑡′𝑠 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑓𝑜𝑟 𝑥 𝐶𝑜𝑛𝑑𝑖𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑓𝑜𝑟 𝑥 𝐶𝑜𝑛𝑑𝑖𝑡𝑖𝑜𝑛
19
Faktor ketidaksamaan (diversity factor) merupakan perbandingan antara jumlah dari kebutuhan daya intermittent yang beroperasi selama waktu tertentu dengan jumlah dari kebutuhan daya total dari beban-beban pada waktu yang sama. Menurut BKI vol.IV 1978, dikatakan bahwa besarnya diversity factor tidak boleh lebih kecil dari 0,5. Maka dari itu, nilai yang diijinkan adalah sebesar 0,5- 0,7. (Sarwito,1995)
c. Distribusi Daya
Pendistribusian daya pada sistem listrik merupakan hubungan antara generator dan beban. Berdasarkan buku Marine Engineering karya Roy. L.
Harrington, daya listrik didistribusikan ke kapal menggunakan konsep radial, zona, atau gabungan dari radial dan zonal.
- Sistem distribusi radial : beban dan power panel menerima daya secara langsung dari main switchboard. Beban secara radial terhubung ke sumber daya, seperti jari-jari wheel ke hub (pusat). Distribusi daya radial lebih ekonomis untuk kapal kecil dan dayanya hingga ratusan kW.
- Sistem distribusi zona : pendistribusian daya dengan membagi kapal menjadi beberapa zona. Masing-masing zona mengonsumsi daya dari satu atau dua load center switchboard yang mana berasal dari main switch board. Sistem distribusi ini biasanya diaplikasikan pada kapal-kapal besar.
Dan dikombinasikan dengan radial.
Beban listrik pada kapal dapat disuplay secara individual dan secara langsung dari main switch board atau dikelompokkan kedalam panel dan load- center switchboard. Penyaluran individu dari main switchboard biasanya untuk beban yang sangat besar seperti sistem bantu propulsi. Sedangkan untuk beban yang dikelompokkan, disuplay melalui bus feeders atau melalui load-center switchboard, panel yang diletakkan di tengah beban-beban tersebut dan dapat diakses dengan mudah.
2.6 Studi Hasil Penelitian Sebelumnya
Byna.Irfan (2017) telah membuat modifikasi desain KM. Minajaya 11 sebagai kapal pengangkut yang diskenario untuk mengangkut ikan hasil tangkapan di fishing ground dari kapal nelayan berukuran 40-50 GT. Selain itu, kapal modifikasi ini melayani dan menjual logistic kepada kapal nelayan 40-50 GT tersebut, seperti bahan bakar, umpan, es untuk pendingin ikan, serta pertukaran ABK. Kapal ini juga dimodifikasi dengan penambahan adsorption system, yaitu sebuah sistem pendingin yang memanfaatkan gas buang main engine untuk menghasilkan 500 kg es dalam 1 hari.
“Halaman Ini Sengaja Dikosongkan”
23 BAB III
METODE PENELITIAN
Gambar 3. 1. Metodelogi Penelitian
Pada Gambar 3.1. dilihatkan metodelogi penelitian mengenai Analisa Kebutuhan Listrik Akibat Modifikasi Kapal Penangkap Ikan menjadi Floating Cold Storage. Adapun tahapan-tahapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
3.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah
Pada tahap ini dilakukan perumusan masalah mengenai kebutuhan listrik akibat adanya modifikasi dari perubahan fungsi kapal penangkap ikan menjadi floating cold storage. Dikarenakan KM. Minajaya Niaga 11 tidak diijinkan beroperasi sebagai kapal penangkap ikan karena memiliki ukuran GT yang melebihi batas peraturan pemerintah. Batas ukuran yang diperbolehkan beroperasi yaitu tidak boleh melebihi 150 GT, sedangkan KM. Minajaya Niaga 11 memiliki ukuran 512 GT.
Selain itu, ketersediaan cold storage di Indonesia tidak sebanding dengan kebutuhan cold storage. Cold storage yang tersedia sangat minim, sehingga penanganan hasil tangkap ikan kurang maksimal. Cold storage dengan suhu rendah -600C pun belum ada di Indonesia, padahal ikan tuna dapat dijaga kesegarannya dengan disimpan pada ruangan bersuhu -600C.
3.2 Studi Literatur
Studi literatur merupakan tahap mengumpulkan informasi dan teori-teori yang sesuai dengan penelitian di atas. Adapun sumber dari studi literatur dapat berupa : 1. Jurnal
2. Paper 3. Buku 4. Internet
Studi literatur pada penelitian ini adalah mencari informasi mengenai sejarah KM. Mina Jaya Niaga, literatur sistem pendingin dan literatur sistem kelistrikan.
.
3.3 Pengumpulan Data
Pada tahap ini yaitu mengumpulkan data yang digunakan pada proses analisis. Data-data yang harus dikumpulkan seperti spesifikasi teknis beserta komponen-komponen existing KM.Minajaya Niaga 11.
a. Data KM. Minajaya Niaga 11
KM. Minajaya Niaga 11 merupakan kapal penangkap ikan tipe tuna long-liner.
Ship name : Minajaya Niaga 11 Year of Built : 1999
IMO No. : 9210543
Type : Tuna Long Liner
25
Hull Material : Steel
LOA : 50,7 m
LPP : 43 m
Breadth : 8,4 m
Height : 3,6 m
Draft : 3,2 m
Gross Tonage : 512 Ton Service Speed : 11 Knot Complement : 25 persons Classification : BKI
b. Sistem Permesinan KM.Minajaya Niaga 11
KM. Minajaya Niaga 11 menggunakan satu buah engine tipe Bazan MAN B
& W, 8 silinder dengan kapasitas 800 kW. Dua buah generator tipe Guascor F-180 TA dengan kapasitas 415 Hp. Sedangkan untuk main refrigerator yaitu Ramon Vizcaino.S.A dan kompresor tipe Mycom.
c. Kapasitas Kapal
Pada KM.Minajaya Niaga 11, kapasitas pada kapal dibagi sebagai berikut : Cargo Hold Capacity : 311,95 m3
Bait Hold Capacity : 27 m3 Freezer Capacity
- Freezer Handling Room : 40,66 m3 - Frezeer handling Room Lobby : 9,09 m3 - Freezing Room Aft (P) : 27,61 m3 - Freezing Room Aft (S) : 27,61 m3 - Freezing Room Fwd (P) : 27,61 m3 - Freezing Room Fwd (S) : 27,61 m3 d. General Arrangement
General Arrangement merupakan gambar rancang kapal KM.Minajaya Niaga 11 yang didapatkan dari PT. Industri Kapal Indonesia untuk dianalisa dan dipakai sebagai acuan modifikasi. General arrangement ini terdiri dari prespektif tampak samping, tampak atas. Selain itu, general arrangement juga menunjukkan tata letak peralatandan ruangan-ruangan tiap dek pada kapal.
3.4 Modifikasi
Pada tahap ini dilakukan modifikasi ruangan-ruangan yang notabene sudah ada insulasi pendinginnya, seperti : fish hold, bait hold, cold store dan dry provision store. Ruangan-ruangan tersebut dialih fungsikan menjadi freezing room. Kemudian untuk cutting area dan preparing area, dihilangkan dan diganti dengan penambahan enam buah cold storage yang difungsikan juga sebagai cold storage. Sehingga total freezing room menjadi empat belas buah. Pada modifikasi ini, struktur tidak diperhitungkan. Sehingga penambahan cold storage diasumsikan tidak mempengaruhi bentuk dari kapal tersebut.
Sumber : Spesifikasi KM.Minajaya Niaga 11 PT. Industri Kapal Indonesia
Gambar 3. 3. Modifikasi KM.Minajaya Niaga 11 menjadi floating cold storage Gambar 3. 2. Tampak Samping GA
27
3.5 Perhitungan Kapasitas Muat Hasil Modifikasi
Pada tahap ini yaitu menghitung kapasitas muat ikan yang bisa dimasukkan ke dalam cold storage hasil modifikasi tersebut. Ikan yang diangkut pada floating cold storage ini yaitu ikan tuna jenis yellow fin dengan berat kira-kira 200 kg.
Sebelumnya, diukur dimensi tiap cold storage, dan dirancang rak penyimpanan ikan sesuai ukuran cold storage tersebut. Rancangan rak penyimpanan ikan adalah sebagai berikut :
Panjang : 2 m
Lebar : 0,5 m
Tinggi : 0,6 m
Volume : 0,2 ton/ikan 3.6 Perencanaan Sistem Pendingin
Perencanan sistem pendingin akibat modifikasi KM. Mina Jaya Niaga 11 menjadi floating cold storage yang telah diperbesar volumenya dengan tetap mempertahankan temperatur -600C. Langkah awal yaitu menghitung beban pendingin yang terdiri dari tiga beban yaitu product load, wall-hait-gain load, dan miscellaneous load.
a. Perhitungan product load : 1. Persamaan (2.4) 2. Persamaan (2.5) 3. Persamaan (2.6)
b. Perhitungan wall-heat-gain-load 1. Persamaan (2.8)
2. Persamaan (2.9)
c. Perhitungan miscellaneous load 1. Persamaan (2.10)
2. Persamaan (2.11)
Setelah perhitungan beban pendingin, dilakukan perhitungan analisa komponen pendingin yang meliputi evaporator, kondensor, compressor, dan katup ekspansi.
Oleh karena system pendingin pada floating cold storage ini menggunakan refrigran jenis r143a, maka dianalisa terlebih dahulu menggunakan diagram p-h, seperti pada gambar 3.2. berikut ini
Sumber : www.chemours.com Setelah diketahui niai entalpi, maka dihitung :
1. Laju aliran massa refrigran : persamaan (2.1) 2. Kapasitas kompresor : persamaan (2.2) 3. Kapasitas kondensor : persamaan (2.3) 3.7 Perencanaan dan Perhitungan Kebutuhan Listrik
Akibat dari modifikasi tersebut, distribusi listrik dan perhitungan kebutuhan listrik perlu dihitung kembali. Serta perencanaan one line diagram untuk sistem kelistrikan pada floating cold storage tersebut. Faktor-faktor pemilihan generator yaitu :
a. Load factor
Perhitungan load factor dibagi dua, sebagai berikut : 1. Load factor generator : persamaan (2.12) 2. Load factor equipment : persamaan (2.13) b. Factor diversity
c. Distribusi daya
Gambar 3. 4. Diagram p-h R134a
29
3.8 Kesimpulan dan Saran
Setelah semua tahap selesai yaitu disimpulkan hasil dari penelitian tersebut.
Diharapkan hasil kesimpulan dapat menjawab semua rumusan masalah pada penelitian ini. Saran yang ditulis penulis, sebagai masukan untuk penulisan penelitian lebih lanjut.
“Halaman Ini Sengaja Dikosongkan”
31 BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 KM. Minajaya Niaga 11
KM. Minajaya Niaga 11 merupakan kapal penangkap ikan yang memiliki ukuran lebih dari 500 GT. KM. Minajaya Niaga 11 salah satu dari empat kapal shipsister yang masih layak dioperasikan, namun karena diterbitkannya surat pemerintah No. B.1234/
DJPT / P.I.410.D4/31/12/2015 tentang larangan kapal ikan diatas 150 GT beroperasi, KM. Minajaya Niaga 11 terpaksa tidak dioperasikan dan sekarang berada di PT. IKI Makasar. Pada tabel 4.1. dijelaskan data utama kapal KM. Minajaya Niaga 11 sebagai berikut :
Tabel 4. 1. Data Utama KM. Minajaya Niaga 11
General :
Ship Name : Mina Jaya Niaga 11
Year of Built : 1999
IMO No : 9210543
Type : Tuna Long Liner
Hull Material : Steel
Length Overall (LOA) : 50.70 m Length Between Perpendicular
(LPP)
: 43.00 m
Breadth (B Moulded) : 8.40 m
Height : 3.60 m
Design Draft : 3.20 m
Gross Tonnage : 360 Ton (Oslo Regulation)
512 Ton (IMO Regulation)
Service Speed : 11.00 Knot
Complement : 25 persons
Classification : BKI
Class Notation : + A 100 I “Fishing Vessel”
+ SM
SMPF “Quick Freezing”
Sumber : Spesifikasi KM.Minajaya Niaga 11
KM. Minajaya Niaga 11 dengan spesifikasi sebagai kapal ikan, tentu memiliki beberapa fasilitas penunjang penangkap dan penyimpanan ikan. Cara penangkapan
dengan memakai tuna long-liner, merupakan teknik penangkapan yang digunakan pada kapal ini. Dengan bait hold capacity sebesar 27 m3 mampu menampung ikan-ikan kecil sebagai umpan selama penangkapan. Selain itu, fasilitas penyimpanan ikan hasil tangkapan juga disediakan pada kapal KM. Minajaya Niaga 11. Ikan-ikan hasil tangkapan akan dibersihkan dahulu di cutting area, kemudian disimpan dengan suhu mencapai -600C di dalam freezing room. Freezing room yang dimiliki sebesar 111 m3, dengan freezer lobby 10 m3. Terdapat juga fish hold sebesar 312 m3 yang digunakan untuk menampung ikan sebelum dimasukkan ke dalam freezing room.
4.2 Rencana Modifikasi
Perlunya cold storage untuk penyimpanan ikan tuna yang akan diekspor merupakan salah satu permasalahan yang diangkat dalam tugas akhir ini. Sehnigga penullis akan memodifikasi KM. Minajaya Niaga 11 menjadi floating cold storage.
Floating cold storage merupakan tempat penyimpanan dan pembekuan ikan tuna hasil tangkapan dengan suhu mencapai -600C sesuai sistem existing dari kapal itu sendiri.
Modifikasi ini akan memanfaatkan area atau ruangan yang sudah terdapat insulasi seperti bait hold, cold store, dry provision store dan fish hold. Kemudian penambahan cold storage pada cutting area sejumlah enam buah. Sehingga KM.Minajaya Niaga 11 memiliki cold storage yang difungsikan sebagai freezing room sebanyak (empat belas) freezing room. Karena KM. Minajaya Niaga 11 dialihfungsikan sebagai floating cold storage, maka dari itu kapal tersebut diletakkan di pelabuhan dan tidak dioperasikan ke tengah laut.
Gambar 4.1. merupakan KM. Minajaya yang masih beroperasi untuk menangkap ikan di tengah laut. Sedangkan gambar 4.2. merupakan kapal yang diambil contoh sebagai floating cold storage, yang mengapung dan bersandar di pelabuhan untuk menyimpan ikan hasil tangkapan.
Gambar 4. 2. KM. Minajaya Niaga 11 Gambar 4. 1. Floating Cold Storage
33
Dengan dijadikannya kapal minajaya menjadi floating cold storage, maka untuk kebutuhan logistik penangkapan ikan sudah tidak diperlukan, selain itu kebutuhan logistik untuk crew juga berkurang, dilihat dari tugas crew yang hanya memindahkan ikan tuna dari kapal ikan yang sudah beroperasi ke floating cold storage, sehingga diperkirakan hanya butuh tiga orang crew untuk mengoperasikan floating cold storage tersebut.
Kebutuhan bahan bakar juga tidak begitu besar, dikarenakan floating cold storage hanya mengapung di pelabuhan. Sehingga main engine tidak difungsikan. Sumber listrik pada floating cold storage hanya menggunakan generator.
Fungsi utama dari floating cold storage ini yaitu untuk menampung dan mengawetkan (membekukan) ikan tuna hasil tangkapan kapal ikan-kapal ikan sebelum diekspor ke luar negeri. Sehingga selama menunggu waktu pengeksporan, ikan tuna masih segar.
Berikut merupakan rencana modifikasi KM. Minajaya Niaga menjadi Floating Cold Storage,
a. Tampak Samping
Pada gambar 4.3. dapat dilihat bahwa warna biru merupakan freezing room existing pada KM. Minajaya Niaga 11, sedangkan warna merah merupakan tambahan freezing room, serta pengalihan fungsi ruangan menjadi freezing room. Bagian cutting area dihilangkan dan diganti dengan ditambahkannya freezing room.
Gambar 4. 3. Modifikasi Tampak Samping
b. Main Deck
Pada gambar 4.4. merupakan modifikasi bagian main deck. Enam freezing room berwarna merah bagian depan merupakan freezing room tambahan yang terletak di bagian cutting area, namun karena floating cold storage hanya digunakan untuk menyimpan, maka cutting area dihilangkan dan dipastikan sebelum masuk floating cold storage, ikan sudah bersih. Kemudian freezing warna merah sebelah starboard, awalnya merupakan cold store, sedangkan sebelah portside merupakan bait hold dan dry provision store.
c. Tank Top
Pada gambar 4.5. merupakan tank top bagian fish hold yang dialihfungsikan sebagai freezing room. Pada awalnya fish hold hanya digunakan sebagai penyimpanan ikan hasil tangkapan sebelum masuk ke freezing room, sehingga suhu dalam fish hold tidak begitu rendah.
4.3 Perhitungan Kapasitas Muat Floating Cold Storage
Floating cold storage didesain untuk menyimpan dan mengawetkan ikan tuna hasil tangkapan hingga mencapai temperatur -600C, guna menjaga kondisi ikan tuna tetap dalam kondisi segar. Dalam suatu penelitian dijelaskan bahwa ikan tuna memiliki sifat yang mudah hancur ketika sudah dalam keadaan mati. Oleh karena itu, pembekuan pada temperatur rendah sangat dianjurkan. Ikan tuna yang dibahas dalam tugas akhir ini yaitu dikhususkan ikan tuna sirip kuning. Ukuran rata-rata ikan tuna sirip yaitu 2,4 m dan beratnya 200 kg. The International Game Fish Association (IGFA) rekor untuk spesies
Gambar 4. 4. Modifikasi Main Deck
Gambar 4. 5. Modifikasi Tank Top
35
ini yaitu 176 kg, untuk ikan yang ditangkap pada tahun 1977 di dekat San Benecdicto, sebuah pulau di Peraian Pasifik Meksiko.
Sumber :IOTC
Pada perancangan cold storage, terdapat alur pendingin di atas ikan. Sehingga penulis merancang terdapat satu rak dengan tiga lapis dalam satu cold storage. Tujuan ikan tuna diletakkan di rak, agar penyebaran dingin merata ke semua ikan. Space untuk rak dengan dinding yaitu 1 m. Asumsi untuk satu ikan dan space alur pendingin yaitu :
Tabel 4. 2. Space Ikan pada Rak
Panjang 3 m
Lebar 0,5 m
Tinggi 0,6 m
Volume 1 ikan 0,9 m3 Berat 1 ikan 0,2 ton
Gambar 4. 6. Ikan Tuna Sirip Kuning
Gambar 4. 7. Desain Rak Cold Storage
Tabel 4.2. menjelaskan ukuran satu ikan pada rak, sehingga desain rak tiap cold storage disesuaikan dengan jumlah ikan yang ditampung, seperti pada gambar 4.7.
Gambar 4.7. merupakan desain dari rak pada cold storage.
Perhitungan Kapasitas Cold Storage Hasil Modifikasi
Tabel 4.3. menjelaskan detail perhitungan jumlah ikan yang bisa ditampung dalam cold storage sesuai ukuran ikan tuna secara umum. Ukuran rak ikan berbeda tiap cold storage didasarkan pada dimensi cold storage itu sendiri. Dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa floating cold storage ini dapat menampung hingga 93,6 ton ikan tuna.
4.4 Modifikasi Sistem Pendingin
Sistem pendingin pada floating cold storage ini tidak berbeda jauh dengan sistem existing kapal Minajaya, hanya saja penggunaan refrigant pada Minajaya menggunakan R22, sedangkan pada floating cold storage menggunakan R134a (Hidro fluoro carbon).
Sistem pendingin didesain independent tiap cold storage. Sehingga tiap cold storage memiliki komponen pendingin masing-masing. Untuk mengetahui komponen yang digunakan di setiap cold storage, maka perlu perhitungan beban pendingin.
4.4.1 Perhitungan Beban Pendingin
Bebarapa hal yang perlu diperhitungkan dalam menentukan besarnya beban pendingin yaitu product load (beban panas yang dihasilkan oleh produk yang didinginkan), wall-heat-gain load (beban panas yang berasal dari suhu luar cold storage melalui dinding, atap, dan lantai cold storage tersebut), dan
Tabel 4. 3. Perhitungan Kapasitas Cold Storage
37
miscellaneous (beban panas yang berasal dari komponen listrik, seperti lampu).
Berikut ini merupakan perhitungan beban pendinginan tersebut : a. Product Load
Beban pendinginan dari product load yaitu beban produk ikan tuna yang akan didinginkan dari 150C hingga -620C. Dihitung menggunakan tiga tahapan, yaitu penurunan temperatur dari 150C hingga 00C, kondisi konstan saat 00C, dan penurunan temperatur dari 00C hingga -620C. Berikut ini tabel nilai-nilai yang diperlukan untuk menghitung product toad.
Tabel 4. 4. Nilai dan Besaran untuk Perhitungan Product Load
Besaran Nilai Satuan
Berat produk (W) lampiran 1 pounds
Panas spesifik diatas freezing (c) 0,8 Btu/lb.0F Panas spesifik di bawah freezing (ci) 0,4 Btu/lb.0F
Panas laten (L) 115 Btu/lb
Temperatur awal (T1) 15 ; 59 0C ; 0F Temperatur pembekuan (Tf) 0 ; 57,6 0C ; 0F Temperatur akhir (T2) -62 ; -80 0C ; 0F
Sebagai contoh perhitungan, akan dilakukan untuk perhitungan beban pendinginan terhadap produk (product load) pada cold storage 1.
- Beban pendingin dari 150C hingga temperatur 00C Q1f = Wc (T1-Tf)
= 4000 x 0,8 x (59 – 57,6) = 4480 Btu
- Beban pendingin pada temperatur 00C Qf = WL
= 4000 x 115
= 460000 Btu
- Beban pendingin dari freezing point ke temperatur -620C Q2f = Wci (Tf-T2)
= 4000 x 0,4 x (57,6 – (-80)) = 220160 Btu
Total beban pendingin pada produk
Q = (Q1f + Qf + Q2f) x 24 hr/24 hr = (4480 + 460000 + 220160) x 24/24 hr = 684640 Btu/24hr
Perhitungan beban pendinginan terhadap produk ikan tuna untuk masing-masing cold storage akan ditampilkan pada tabel 4.5 sebagai berikut :
Dari tabel 4.5. diperoleh nilai beban pendingin yang berasal dari ikan tuna yang akan didinginkan mulai 150C hingga -600C pada masing-masing cold storage.
Ke-empat belas cold stirage memiliki beban produk yang berbeda-beda, sehingga berpengaruh terhadap beban pendinginannya. Dapat dilihat bahwa cold storage 11 memiliki nilai beban pendinginan yang terbesar, karena produk yang didinginkan sebesar 38,4 ton.
b. Wall-Heat-Gain Load
Beban pendinginan yang berasal dari dinding, lantai, dan atap cold storage.
Dalam perhitungan ini, penulis megasumsikan bahan dan susunan insulasi pada dinding, lantai, dan atap adalah sama. Insulasi pada ketiganya yaitu aluminium dan polyurethane. Berikut ini merupakan besaran-besaran dan nilai yang diperlukan dalam menghitung wall-heat-gain-load.
Tabel 4. 6. Besaran dan Nilai untuk Perhitungan Wall-Heat-Gain-Load
Besaran Nilai Satuan
Laju Perpindahan Panas (q) Btu/hr
Koefisien Panas Menyeluruh (U) Btu/hr.Ft2.0F
Luas (A) Ft2
Temperatur Dalam Cold Storage (T1) -60 ; -76 0C ; 0F Temperatur Luar cold storage (T2) 28 ; 82,4 0C ; 0F
Tabel 4. 5. Beban Pendinginan terhadap Produk
39
Perhitungan Koefisien Panas Menyeluruh (U)
Pada modifikasi cold storage ini, digunakan aluminium dan polyurethane sebagai bahan isolasi panas.
Gambar 4.8. merupakan desain isolasi pada cold storage. Bagian luar yaitu aluminium, kemudian penyekat, dan bagian dalam terdapat insulasi berbahan polyurethane.
1. Aluminium + penyekat (k) = 2,1 2,4 inch 2. Polyurethane (k) = 0,18 7,87 inch 3. Koefisien konveksi sisi luar (f) = 4 1 inch 4. Koefisien konveksi sisi dalam (f) = 1,65 1 inch
1/U = 1/fo + X1/k1 +X2/k2 +1/f1
1 𝑈=1
4+2,4
2,1+7,87
0,18+ 1
1,65 U = 0,02 Btu/hr.Ft2.0F
Perhitungan Wall-Heat-Gain Load
Berikut ini merupakan contoh perhitungan wall-heat-gain-load atau beban pendinginan pada dinding, lantai, dan atap cold storage 1.
Temperatur lingkungan = 280C = 82,40F Temperatur cold storage = -600C = -760F
Cold Storage 1 Dimensi
p = 5 m = 16,4 ft
l = 3 m = 9,84 ft
t = 2 m = 6,56 ft
Gambar 4. 8. Insulasi Cold Storage
A1 = 322,752 ft2
A2 = 215,168 ft2
A3 = 129,1008 ft2
Atotal = 667,0208 ft2 Q = U x A x (T1-T2) x 24 hr
= 0,02 x 667,0208 x (82,4- (-76)) x 24
= 55461,13 Btu/24 hr
Tabel 4. 7. Wall-Heat-Gain-Load
Pada tabel 4.7. dituliskan besar beban pendinginan yang berasal dari dinding, lantai, dan atap pada tiap-tiap cold storage.
c. Miscellaneous
Beban pendinginan yang berasal dari komponen listrik yang terdapat pada cold storage. Penulis mengasumsikan hanya lampu yang dihitung dalam perhitungan ini.
Lampu LED = 20 Watt
Load per lampu = 68,4 Btu/hr
Contoh perhitungan miscellaneous pada cold storage 1. Terdapat 2 buah lampu LED pada cold storage 1, sehingga,
Q elec = n x P x 3,41 x 24 hr (Btu/ 24 hr)
= 2 x 20 x 3,41 x 24
= 136,40 Btu/24hr
Pada tabel 4.8. diperoleh hasil perhitungan miscellaneous load atau beban pendinginan terhadap lampu pada tiap-tiap cold storage.
41
Dari semua pehitungan beban di atas, yaitu product load, wall-heat-gain-load, dan miscellaneous load dijumlahkan untuk mendapatkan total beban pendinginan pada tiap-tiap cold storage. Untuk mendapatkan beban pendinginan dengan lama waktu tertentu, maka penulis mengasumsikan bahwa dibutuhkan waktu 15 jam dalam mendinginkan produk dari 150C hingga -600C. Sehingga pada cold storage 1 didapatkan :
Q = 2109517,53 Btu/24 hr , karena didinginkan selama 15 jam (15 hr), maka Q =2109517,53
15
𝐵𝑡𝑢/24ℎ𝑟 24 ℎ𝑟 Q = 140634,5 Btu/hr
Berikut ini pada tabel 4.9. dapat dilihat total beban pendinginan tiap-tiap cold storage.
Tabel 4. 8. Miscellaneous Load
4.4.2 Perhitungan Daur Kompresi Uap
Sebagai contoh perhitungan, diambil sampel cold storage 1. Sedangkan hasil perhitungan tiap-tiap cold storage, ditampilkan pada tabel.
Perhitungan Laju Aliran Massa Refrigran
𝑚̇ = 𝑄𝑒𝑣𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑡𝑜𝑟
ℎ1−ℎ4 ; 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑄𝑒𝑣𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑡𝑜𝑟 = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛
Pada perhitungan sebelumnya, beban pendingin menggunakan satuan Btu/hr, maka dari itu harus dikonversi ke J/s, sehingga
𝑚̇ = 40784,01 𝐽/𝑠 (211254−93040) 𝐽/𝑘𝑔
Tabel 4. 9. Total Beban Pendinginan Tiap-tiap Cold Storage
Gambar 4. 9. Skema Evaporator
43
𝑚̇ = 0,35 𝐽/𝑠 Analisa Kondensor
Perhitungan kalor yang keluar dari kondensor 𝑄𝑐𝑜𝑛𝑑 = 𝑚 𝑥 (ℎ3 − ℎ2)
𝑄𝑐𝑜𝑛𝑑 = 0,35𝑥 |93040 − 294139|
𝑄𝑐𝑜𝑛𝑑 = 69379,45 𝑊𝑎𝑡𝑡
Analisa Kompresor
Perhitungan kerja kompresor 𝑄𝑐𝑜𝑚𝑝 = 𝑚 𝑥 (ℎ2 − ℎ1)
𝑄𝑐𝑜𝑚𝑝 = 0,35 𝑥 (294139 − 211254)
Gambar 4. 10. Skema Kondensor
Gambar 4. 11. Skema Kompresor