2. LANDASAN TEORI
Estimasi biaya adalah penentuan dari kemungkinan biaya konstruksi yang dibutuhkan dari suatu proyek. Banyaknya jenis pekerjaan mempunyai pengaruh dan kontribusi untuk biaya suatu proyek, setiap pekerjaan harus dianalisis, dihitung, dan ditetapkan harganya. Karena estimasi disiapkan sebelum pelaksanaan proyek konstruksi, sehingga diperlukan adanya proses penelitian di lapangan. (Dagostino and Feigenbaum, 2003).
Estimasi biaya pada pekerjaan konstruksi biasanya memberikan indikasi tertentu terhadap biaya total proyek. Estimasi biaya mempunyai peranan penting dalam suatu proyek, karena tanpa adanya estimasi biaya suatu proyek tidak akan berhasil. Estimasi biaya merupakan perekat yang menyatukan pemilik, perencana, dan kontraktor menjadi satu. (Gould,1983).
Estimasi biaya juga mempunyai peranan penting dalam suatu tender. Agar kontraktor dapat bertahan dalam bisnis konstruksi, maka seorang kontraktor harus mempunyai kualifikasi penawaran terendah dalam beberapa proyek, dimana keuntungan batasannya disetujui. (Dagostino and Feigenbaum, 2003).
Kualitas suatu estimasi biaya proyek tergantung pada tersedianya data dan informasi, teknik atau metode yang digunakan, serta kecakapan dan pengalaman estimator. Tersedianya data dan informasi memegang peranan penting dalam hal kualitas estimasi biaya proyek yang dihasilkan. Maka dari itu pekerjaan estimasi biaya sangat penting sekali dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Keakuratan pekerjaan estimasi biaya tergantung dari estimator yang membuat, estimasi biaya semakin sama dengan kenyataan di lapangan maka semakin akurat. (Soeharto, 1995).
Estimasi biaya untuk pekerjaan konstruksi baja berbeda dari estimasi untuk pekerjaan sipil, karena pada konstruksi baja banyak menggunakan bahan jadi yang memiliki ukuran, bentuk, jenis, berat, mutu yang telah pasti. Tetapi pada pelaksanaannya bahan tersebut harus dibentuk terlebih dahulu, misalnya dipotong, disambung dan dicat.
2.1. Harga Satuan Pekerjaan
Harga satuan pekerjaan memegang peranan penting dalam estimasi biaya.
Harga satuan pekerjaan adalah harga yang harus dibayar untuk menyelesaikan satu jenis pekerjaan, yang terdiri dari harga bahan dan upah pekerjaan per unit pekerjaan, misal per m’, m2, m3. (SNI 2002). Harga satuan pekerjaan merupakan jumlah dari harga material, upah pekerjaan, harga alat, harga subkontrak, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
Harga satuan pekerjaan yang ada pada setiap proyek konstruksi terdiri dari sejumlah faktor yang memiliki proporsi yang berbeda-beda. Ada faktor dengan proporsi yang lebih besar daripada faktor lain. Pemahaman dan pengenalan faktor- faktor biaya tersebut akan membantu estimator dalam mengambil keputusan yang lebih baik.
Pada Tugas Akhir ini, harga satuan pekerjaan baja direncanakan untuk dirangkai (link) dengan menggunakan program Steel Construction Cost Estimating (SteelCoEst) dari Tugas Akhir sebelumnya yang dibuat oleh Tanto Gunawan dan Nico Stephanus.(Gunawan dan Stephanus, 2006). Pada program SteelCoEst ini, harga satuan pekerjaan yang ada merupakan penjumlahan dari harga satuan material dan harga satuan upah.
Harga satuan material seperti profil, baut, ataupun plat telah ada pada database dan bisa diupdate bila harga material tersebut telah berubah. Selain harga material tersebut, juga diperhitungkan tambahan harga akibat beberapa faktor yaitu waste, contingency, resiko, lokasi, eskalasi, overhead, dan profit.
Faktor-faktor ini bisa diisi bobotnya sesuai dengan kebutuhan dari proyek.
Untuk perhitungan harga satuan upah pada progam SteelCoEst ini, ada 2 metode yang digunakan yaitu berdasarkan upah borongan atau berdasarkan produktifitas. Pada program ini, jenis pekerjaan dibedakan menjadi pekerjaan struktural, pekerjaan pengecatan, dan pemasangan baut. Pekerjaan struktural meliputi shop drawing (gambar kerja), fabrikasi, delivery (transportasi), assembling (merakit), erecting (mendirikan). Fabrikasi sendiri meliputi marking (penandaan), bending and forming, cutting (pemotongan), holing (melubangi), fit up (penyetelan), dan welding (pengelasan). Sedangkan untuk pekerjaan pengecatan terdiri dari pekerjaan pembersihan permukaan yang meliputi
pembersihan secara mekanis dan dngan menggunakan sand blasting. Pengecatan lapisan primer, middle, top, dan pekerjaan lain-lain seperti galvanis.
Untuk menghitung harga satuan upah secara borongan cukup mengisi harga satuan dari tiap-tiap pekerjaan kemudian mengisi kolom faktor terhadap harga satuan upah pekerjaan.
Untuk menghitung harga satuan upah pekerjaan berdasarkan produktifitas diperlukan data-data upah kerja rata-rata/jam/orang, yang kemudian dilakukan adalah menentukan jam kerja efektif (5, 6, 7 jam/hari) terlebih dahulu, kemudian menentukan banyaknya orang yang dibutuhkan pada kolom komposisi pekerja serta mengisi upah masing-masing pekerja tersebut. Setelah didapatkan upah kerja rata-rata/jam/orang, hal yang harus dilakukan adalah mengisi faktor-faktor tambahan. Maka, upah kerja rata-rata/jam/orang akan ditambahkan dengan tambahan harga terhadap faktor yang akan menjadi total akhir harga satuan upah pekerjaan.
2.2. Bill of Quantity
Estimasi biaya dalam suatu proyek konstruksi disajikan dalam bentuk Bill of Quantity. Dalam Bill of Quantity, terdapat 3 unsur penting, yaitu:
jenis/deskripsi pekerjaan, perhitungan kuantitas/volume masing-masing jenis pekerjaan dan juga analisa harga satuan untuk masing-masing jenis pekerjaan konstruksi baja tersebut.
Deskripsi pekerjaan memuat pekerjaan–pekerjaan apa saja yang ada pada proyek. Kuantitas terdiri dari dua hal yaitu volume dan unit yang menjelaskan banyaknya volume/berat dari tiap item pekerjaan. Sedangkan harga satuan pekerjaan adalah harga yang harus dibayar untuk menyelesaikan satu jenis pekerjaan atau konstruksi yang terdiri dari harga bahan dan upah pekerjaan berdasarkan per unit pekerjaan (misal per m1, m2, m3)
Lembar Bill of Quantity sendiri terdiri dari 6 kolom, yaitu:
1. Nomor item pekerjaan /kode yang digunakan. Kode pekerjaan ini dapat diambil dari lembar dimensi, yang berfungsi untuk mempermudah dalam meninjau ulang hasil perhitungan volume.
2. Deskripsi/uraian pekerjaan yang akan berisi klasifikasi/kelompok pekerjaan dan item/jenis pekerjaan yang akan dikerjakan.
3. Satuan/Unit.
4. Kuantitas/Volume.
5. Harga Satuan Pekerjaan.
6. Jumlah, merupakan hasil perkalian antara Kuantitas dan Harga Satuan Pekerjaan.
Berikut adalah tabel 2.1. yang merupakan contoh dari lembar Bill of Quantity yang akan dipakai dalam Tugas Akhir ini dan disertai dengan contoh pekerjaan kolom.
Tabel 2.1. Contoh Bill of Quantity.
BILL OF QUANTITY
Project no.: Perusahaan :
Project name : Tanggal :
Location : Estimator :
Unit/Package : Pemeriksa :
Lingkup pekerjaan : Halaman :
Jenis Pekerjaan : Revisi :
No Deskripsi/Uraian Volume Unit
Harga
Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 1. Kolom
1. 1 Profil WF 300.150.6,5.9 3435.12 kg 1. 2 Plat Kaki t=16mm 285.74 kg 1. 3 Angker dia 3/4'' 156.00 bh
Jumlah
Dalam mengisi kolom-kolom pada lembar Bill of Quantity, yang pertama adalah menyiapkan dan mengisi kolom deskripsi atau uraian. Kolom deskripsi berisikan daftar pekerjaan yang diurut sesuai dengan daftar pekerjaan yang ada.
Untuk pengisian kolom quantity, dimana angka yang ada pada kolom quantity ini berasal dari angka yang ada pada kolom volume lembar dimensi. Selanjutnya adalah pengisian kolom harga satuan pekerjaan. Harga satuan pekerjaan didapat dari program SteelCoEst. Harga satuan pekerjaan yang dimasukkan sudah meliputi harga material dan upah pekerja untuk satu satuan unit dari item
pekerjaan. Yang terakhir adalah cara pengisian kolom jumlah. Kolom jumlah ini digunakan untuk menulis harga akhir tiap item pekerjaan. Sebagai contoh yaitu pekerjaan kolom yang terdiri dari profil WF, plat kaki, angker. Profil WF, plat kaki, angker masing-masing memiliki kuantitas dan harga satuan pekerjaan.
Kuantitas dan harga satuan pekerjaan dari tiap bagian tersebut dikalikan, dan hasil perkalian inilah yang ditulis pada kolom jumlah. Untuk memperoleh hasil akhir dari pekerjaan kolom, maka dilakukan penjumlahan terhadap bagian-bagian pekerjaan yang ada pada pekerjaan kolom tersebut dan hasil penjumlahannya ditulis pula pada kolom jumlah dan diberi garis bawah ganda.
2.3. Lembar Dimensi
Dalam melakukan estimasi biaya, ada dua hal yang harus dihitung yaiu volume pekerjaan yang akan dikerjakan atau pengukuran (measuring) dan penentuan harga satuan dari masing-masing pekerjaan (pricing). Untuk memudahkan perhitungan volume pekerjaan digunakan lembar khusus dalam memasukkan data (input) agar lebih efektif dan mempermudah pengecekan ulang.
Banyak istilah untuk menyatakan lembar tersebut. Beberapa diantaranya adalah lembar dimensi, lembar perhitungan data (data calculation sheet), measurement sheet, dan quantity sheet. Namun dalam Tugas Akhir ini, pada program akan digunakan istilah , lembar perhitungan data (data calculation sheet).
Dalam membuat lembar dimensi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan atau menentukan daftar pekerjaan apa saja yang akan dihitung pada proyek dengan cara melihat gambar dan spesifikasi dari proyek.Pada dokumen kontrak terdapat rincian mengenai unit pekerjaan, dan dari unit pekerjaan dijabarkan lagi menjadi jenis pekerjaan untuk menentukan lingkup pekerjaan yang harus diukur dan diberi harga. Daftar pekerjaan tersebut menentukan bagian mana yang menjadi tugas langsung dari seorang estimator, agar bisa membedakan bagian pekerjaan yang sudah disubkan, misalnya bagian pekerjaan dari subkontraktor.
Selanjutnya adalah pemilihan jenis lembar dimensi yang tepat sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan diukur. Lembar dimensi hanya dapat digunakan untuk mengukur kuantitas dari jenis pekerjaan atau material yang terdaftar,
sedangkan lembar Bill of Quantity mencantumkan kuantitas dan harga pada halaman yang sama. Pada beberapa lembar dimensi, item pekerjaan yang diukur ditulis pada suatu format vertikal dengan dimensi dan hasil ditulis di samping.
Sedangkan pada lembar dimensi yang lain, item pekerjaan yang diukur ditulis pada suatu format horizontal, dengan dimensi dan hasil ditulis dibawah item pekerjaan. Untuk format kolom dimensi sendiri, ada dua versi yang digunakan.
Yang pertama adalah penulisan dengan menggunakan 1 buah kolom saja, yang artinya semua dimensi dalam item pekerjaan tersebut ditulis secara vertikal ke bawah dalam 1 buah kolom. Yang kedua adalah penulisan dengan menggunakan 3 buah kolom yang terbatas hanya dimensi panjang, lebar, dan tinggi. Penulisan pada versi kedua ini ditulis secara horizontal ke kanan. Kolom dimensi yang penulisannya vertikal tentu lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengukuran. Sebenarnya, setiap perusahaan konstruksi dapat merencanakan dan mencetak lembar dimensinya sendiri, walaupun lembar dimensi tersebut tidak sesuai dengan standar umum yang ada. Jika peralatan elektronik seperti komputer digunakan untuk melakukan estimasi, tentunya estimator harus dapat merencanakan dan memilih program komputer yang akan dipakai agar dapat menyajikan lembar kerja yang tepat dan mudah.
Berikut ini adalah beberapa contoh dari lembar dimensi yang sering digunakan pada pekerjaan konstruksi pekerjaan sipil yang akan dimodifikasi dan digunakan pada pekerjaan konstruksi baja.
Tabel 2.2. Contoh Lembar Dimensi (Versi 1)
LEMBAR DIMENSI
Nomor Proyek : Perusahaan :
Nama Proyek : Tanggal :
Lokasi : Estimator :
Paket : Halaman :
Jenis Pekerjan :
Pengali Dimensi Hasil Keterangan Kode
2/5 p=2m Galian tanah plat pondasi
l=2m
t=1,5m 6 m3
Pada contoh lembar dimensi ini, bagian atas halaman lembar dimensi merupakan bagian identifikasi yang terdiri dari nomor proyek, nama proyek, lokasi proyek, paket, jenis pekerjaan, nama perusahaan, tanggal perhitunga estimasi, nama estimator, dan penomoran halaman.
Kolom-kolom pada lembar dimensi ini memiliki fungsi dan peranan masing-masing. Kolom-kolom tersebut adalah kolom pengali, kolom dimensi, kolom hasil, kolom keterangan, dan kolom kode.
Kolom pengali memuat banyaknya jumlah pekerjaan sama yangdiulang, dimaksudkan untuk menghindari perhitungan berulang untuk jenis pekerjaan yang sama. Dalam pemakaiannya apabila faktor pengalinya lebih dari satu, maka untuk memisahkan faktor pengali yang satu dengan yang lain digunakan tanda garis miring atau slash ( / ).
Kolom dimensi berisi dimensi-dimensi tiap pekerjaan yang diukur.
Sebagai contoh untuk menghitung volume benda, maka ada tiga dimensi yang harus ditulis yaitu dimensi panjang, lebar, dan tinggi, dimana penulisan ketiga dimensi tersebut harus diurutkan mulai dari panjang, lebar, dan tinggi. Penulisan ketiga dimensi tersebut ditulis ke bawah atau secara vertikal. Untuk menghitung luasan, terdapat dua dimensi yang perlu ditulis, yaitu panjang dan lebar.
Sedangkan untuk satuan panjang yang ditulis pada kolom dimensi adalah dimensi panjang saja. Setiap dimensi yang diukur dan ditulis harus disertakan juga satuan atau unitnya.
Kolom hasil memuat hasil perkalian antara dimensi yang ada pada kolom dimensi, dan hasil perkalian dari kolom dimensi tersebut dikalikan juga dengan faktor pengali pada kolom pengali. Hasil dari perkalian ini ditulis pada kolom hasil yang merupakan jumlah akhir pekerjaan yang akan dikerjakan. Dalam penulisan nilai hasil akhir pekerjaan disertakanjuga satuan atau unitnya.
Uraian mengenai informasi dari setiap item pekerjaan ditulis di kolom keterangan. Informasi yang ditulis haruslah jelas agar mempermudah dalam melakukan pengecekan, pengeditan, dan perbaikan.
Kolom yang terakhir adalah kolom kode yang berisi nomor atau kode dari tiap pekerjaan. Pemberian kode ini bertujuan untuk mempermudah estimator
maupun pihak pengguna yang lain dalam melakukan pencarian dan pengecekan terhadap pengukuran yang telah dilakukan.
Berikut adalah contoh lembar dimensi yang lain
Tabel 2.3. Contoh Lembar Dimensi (Versi 2) MEASUREMENT SHEET
JOB TITLE : JOB NO. :
ESTIMATOR : EXTENSION : CHECKED : PAGE NO.
DATE : SECTION NO : SECTION TITLE :
ITEM DESCRIPTION NO. DIMENSION EXTENSION QUANTI
TY UNIT
l w h
Galian tanah pondasi 10 2m 2m 1,5m 2x2x1,5 60 M3 plat setempat
Sumber: Glenn M. Hardie, Construction Estimating Techniques (Englwood Cliffs, N.J. Prentice Hall, Inc.,1987)
Tabel 2.4. Contoh Lembar Dimensi (Versi 3)
QUANTITY SHEET
PROJECT : ESTIMATOR : ESTIMATE NO.
LOCATION : EXTENSION : SHEET NO.
ARCHITECT : CHECKED : DATE
ENGINEER :
CLASSIFICATION :
DESCRIPTION NO DIMENSION EXTENSION ESTIMATE UNIT
l w h QUANTITY
Galian tanah pondasi 10 2m 2m 1,5m 2x2x1,5 60 M3
plat setempat
Sumber: Glenn M. Hardie, Construction Estimating Techniques (Englwood Cliffs, N.J. Prentice Hall, Inc.,1987).
Untuk lembar dimensi versi 2 dan 3 ini sebenarnya memiliki prinsip kerja yang sama dengan lembar dimensi versi 1. Yang membedakan hanyalah penulisan kolom dimensi yang terdiri dari 3 kolom yaitu kolom panjang, lebar, dan tinggi
dan ditulis secara horizonal ke kanan. Lembar dimensi versi 2 dan 3 ini lebih cocok digunakan untuk menghitung volume.
Berikut adalah contoh lembar dimensi versi 4 yang merupakan modifikasi dari 3 versi lembar dimensi yang akan coba digunakan pada pekerjaan konstruksi baja.
Tabel 2.5. Contoh Lembar Dimensi (Versi 4)
DATA CALCULATION SHEET
Project no.: Perusahaan :
Project name : Tanggal :
Location : Estimator :
Unit/Package : Pemeriksa :
Lingkup pekerjaan : Halaman :
Jenis Pekerjaan : Revisi :
No Uraian Satuan Kuantitas Volume
1 KOLOM
1.1 Profil WF 300.150.6,5.9 kg/m' 36.70
Panjang (L) m 3.60
Banyak (n) bh 26.00
Volume kg 3435.12
1.2 Plat Kaki t=16mm kg/m2 125.60
Tebal (t) mm 16.00
Panjang (L) mm 350.00
Lebar (l) mm 250.00
Luas (A) m2 0.09
Banyak (n) bh 26.00
Volume kg 285.74
1.3 Angker dia 3/4''
Panjang (L) : 60mm
Banyak Kaki Kolom bh 26.00
Banyak Angker per Kaki Kolom bh 6.00
Total Baut bh 156.00
Bagian atas dari lembar dimensi versi 4 ini berisi identifikasi proyek yang memuat hal-hal yang berhubungan dengan proyek, diantaranya adalah nomor proyek yang menjelaskan nomor urut proyek yang diestimasi oleh pihak kontraktor, nama proyek sebagai nama dari proyek yang diestimasi, lokasi dimana
proyek dibangun, unit atau paket yang berisikan tentang pekerjaan yang sama untuk lebih dari satu proyek agar tidak dilakukan perhitungan ulang untuk proyek yang sama, ruang lingkup pekerjaan yang dibedakan menjadi dua yaitu pekerjaan sipil atau pekerjaan baja (dalam Tugas Akhir ini lingkup pekerjaan ini adalah pekerjaan baja). Jenis pekerjaan yaitu nama dari pekerjaan yang diestimasi, nama perusahaan kontraktor yang mengestimasi, tanggal pembuatan estimasi, nama estimator, nama pemeriksa, nomor urut halaman, dan urutan nomor revisi jika ada perubahan.
Pada lembar dimensi, terdapat beberapa kolom yaitu kolom nomor, uraian atau deskripsi, satuan, kuantitas, dan volume. Kolom nomor digunakan untuk menulis nomor urut dari jenis pekerjaan yang ada pada kolom uraian/deskripsi.
Pada kolom nomor ini juga memperbolehkan penulisan sub nomor pekerjaan.
Sebagai contoh pekerjaan kolom. Untuk pekerjaan kolom digunakan nomor 1.
Kolom itu sendiri terdiri dari beberapa bagian seperti profil baja yang digunakan, plat kaki, baut, dan angker. Bagian-bagian tersebut merupakan sub pekerjaan dari kolom baja. Untuk sub pekerjaan kolom diberi nomor juga. Sebagai contoh, jenis dan ukuran profil baja yang digunakan diberi sub nomor 1, plat kaki diberi sub nomor 2, dan jumlah angker yang diperlukan diberi sub nomor 3. Contohnya bisa dilihat pada contoh lembar perhitungan data yang telah disertakan di atas.
Kolom uraian berisi tentang penjelasan mengenai pekerjaan yang diukur.
Untuk mendeskripsikan pekerjaan itu dapat dilakukan dengan metode Work Breakdown Structure. Kolom uraian harus dapat memberikan informasi yang jelas, agar estimator maupun pihak lain yang membacanya dapat mengerti atau memahami dengan mudah.
Kolom satuan memuat satuan-satuan dari pekerjaan yang diukur. Sebagai contoh yaitu pengukuran profil kolom baja. Untuk mengukur berat profil baja digunakan satuan dasar kg/m. Untuk mengukur panjang profil yang diperlukan, satuan panjang yang diperlukan, satuan panjang yang digunakan adalah meter.
Untuk menghitung jumlah profil baja yang dibutuhkan maka digunakan satuan buah.
Kolom berikutnya adalah kolom Kuantitas. Kolom ini berisi angka-angka hasil pengukuran dari pekerjaan yang tertera di kolom deskripsi. Penulisan angka
kuantitas ditulis ke bawah atau secara vertikal. Sebagai contoh pada lembar dimensi, berat profil WF 300.150.6,5.9 per meter larinya adalah 36,7 kg. Angka 36,7 ini ditulis di kolom kuantitas. Begitu juga untuk penulisan panjang profil WF yang diperlukan adalah 3,60 m, angka ini yang ditulis di kolom kuantitas untuk menentukan panjang profil WF 300.150.6,5.9 yang diperlukan. Yang terakhir adalah penulisan dari banyak kolom, pada contoh lembar dimensi diatas banyak kolom ada 26 buah.
Kolom yang terakhir pada lembar dimensi adalah kolom volume . Kolom volume ini menjelaskan hasil akhir pengukuran dari sub pekerjaan yang telah diukur. Angka yang ada di kolom volume ini diperoleh dari perkalian antara angka yang ada pada kolom kuantitas selanjutnya angka ini diberi garis bawah double line. Sebagai contoh pada lembar dimensi, sub pekerjaan dari kolom baja adalah perhitungan berat dari profil WF 300.150.6,5.9 yang diperlukan maka dilakukan perkalian antar angka yang ada pada kolom kuantitas yang terdiri dari berat profil WF 300.150.6,5.9 per meter larinya (36,7 Kg/m), panjang satu buah kolom (3,60 m), dan jumlah kolom yang diperlukan (26 buah). Maka berat profil WF 300.150.6,5.9 yang diperlukan adalah 26 buah x 3,60m x 36,7 kg/m = 3435,12 kg.
Dari contoh-contoh lembar dimensi yang telah disertakan diatas, masing- masing tentu memiliki kelebihan dan kekurangan bila diaplikasikan pada Tugas Akhir ini. Oleh karena itu, dipilih lembar dimensi versi 4 karena lembar dimensi ini lebih fleksibel dibandingkan dengan versi yang lain misalnya seperti pada versi 2 dan 3 dimana kolom dimensinya hanya terdiri dari panjang, lebar, dan tinggi saja sehingga lebih sesuai untuk menghitung volume. Sedangkan pada lembar dimensi versi 4 ini, format kolomnya tidak terbatas sehingga cocok untuk digunakan menghitung kuantitas pekerjaan-pekerjaan pada Tugas Akhir ini yaitu pekerjaan konstruksi baja.