• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 9 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 9 Universitas Kristen Petra"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Personal Finance

Manajemen keuangan pribadi adalah seni dan ilmu mengelola sumber daya (money) dari unit individual / rumah tangga (Gitman., 2000). Salah satu kecerdasan yang harus dimiliki oleh manusia modern adalah kecerdasan keuangan yaitu kecerdasan dalam mengelolala aset pribadi, khususnya dalam pengelolaan aset keuangan pribadi. Salah satu bentuk aplikasi dari manajemen keuangan adalah manajemen keuangan pribadi (personal finance) yaitu proses perencanaan dan pengendalian keuangan dari unit individu. (Held et al, 1999) menjelaskan ilmu ekonomi merupakan cabang ilmu sosial yang penting untuk dipelajari guna memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Pengetahuan ekonomi yang dipelajari merupakan asumsi yang mendasari mereka untuk dapat berpikir secara rasional dalam bidang ekonomi. Dalam personal finance dapat di jabarkan dengan pengelolaan keuangan yang diartikan sebagai proses seseorang individu dapat memenuhi kebutuhan hidup melalui pengelolaan sumber-sumber keuangan seacara tersusun dan sistematis. Selain itu ada juga yang mendefinisikan pengelolaan keuangan dan sasaran keuangan, guna membentuk dan melaksanakan rencana yang disiapkan. Dalam pengelolaan keuangan juga di tentukan oleh perilaku yang dimiliki oleh setiap individu, kemampuan seseorang untuk mengelola keuangan menjadi salah saru faktor penting untuk mencapai kesuksesan dalam hidup.

Sehingga perilaku akan pengelolaan keuangan yang baikd an benar menjadi penting bagi masyarakat khusunya individu. (Warsono, 2010).

2.2 Financial Management Behavior

Dalam setiap individu terdapat kemampuan dalam mengelola manajerial financial management behavior adalah perilaku tanggung jawab seseorang dalam pengelolahan keuangan, penganggaran, dan pencatatan keuangan (Ida dan Dwianita, 2010). Menurut Thaler (1999) berpendapat bahwa perilaku tersebut tidak hanya berhubungan dengan landasan teori keuangan dan hukum ekonomi yang ada, tetapi cenderung dipengaruhi dan/atau berdasarkan faktor psikologi. Finance behavioral mengkombinasikan keduanya, yaitu ekonomi dan psikologi. Menurut

(2)

Ricciardi (2000) finance behavioral merupakan suatu disiplin ilmu yang didalamnya melekat interaksi berbagai disiplin ilmu (interdisipliner) dan terus menerus berintegrasi sehingga dalam pembahasannya tidak bisa dilakukan isolasi.

Finance behavioral dibangun oleh berbagai asumsi dan ide dari perilaku ekonomi.

keterlibatan emosi, sifat, kesukaan dan berbagai macam hal yang melekat dalam diri manusia sebagai makhluk intelektual dan sosial akan berinteraksi melandasi munculnya keputusan melakukan suatu tindakan. Menurut Kholilah dan Iramani (2013), financial management behavior adalah kemampuan seseorang dalam mengatur perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolahan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana keuangan sehari-hari. Munculnya financial management behavior, merupakan dampak dari besarnya hasrat seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai dengan tingkat pendapatan yang diperoleh (Kholilah dan Iramani, 2013).

Menurut Godwin dan Koonce (1992), perilaku keuangan dapat di tunjukan dalam hal penganggaran belanja dan pencataan keuangan. Financial management behavior menunjukan pengelolahan keuangan pribadi yang berkaitan dengan arus kas, kredit, tabungan, dan investasi (Dew dan Xiao, 2011). Sedangkan menurut Parotta dan Johnson (1998), financial management behavior didefinisikan sebagai perilaku yang berkaitan tentang perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi di bidang cash management, credit management, retriment and estate planing, risk management, general management, dan capital accumulation. Aspek-aspek financial management behavior tersebut berbeda-beda setiap individu.

2.2.1 Aspek Financial Management Behavior

Menurut Dew dan Xiao (2011) terdapat lima aspek yang mempengaruhi financial management behavior, yaitu:

1. Consumption

Consumption adalah pengeluaran oleh rumah tangga atas berbagai barang dan jasa (Mankiw, 2003). Financial management behavior seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia melakukan kegiatan konsumsinya seperti apa yang di beli seseorang dan mengapa ia membelinya (Ida dan Dwinta, 2010).

(3)

2. Cash-flow Management

Cash-flow management adalah indikator utama dari kesehatan keuangan yaitu ukuran kemampuan seseorang untuk membayar segala biaya yang dimilikinya, manajemen arus kas yang baik adalah tindakan penyeimbangan, masukan uang tunai dan pengeluaran. Cash flow management dapat diukur dari apakah seseorang membayar tagihan tepat waktu, memperhatikan catatan atau bukti pembayaran dan membuat anggaran keuangan dan perencanaan masa depan (Hilgert dan Hogarth, 2003).

3. Saving and Investment

Tabungan dapat didefinisikan sebagai bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsi dalam periode tertentu. Karena seseorang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, uang harus disimpan untuk membayar kejadian tak terduga.

Investasi, yakni mengalokasikan atau menanamkan sumberdaya saat ini dengan tujuan mendapatkan manfaat di masa mendatang (Henry, 2009).

4. Credit Management

credit management adalah kemampuan seseorang dalam memanfaatkan utang agar tidak membuat anda mengalami kebangkrutan, atau dengan lain kata yaitu atau pemanfaatan utang untuk meningkatkan kesejahteraannya (Sina, 2014).

5. Insurance

Komponen terakhir dari financial management behavior adalah insurance.

Insurance merupakan salah satu teknik dalam mengelola risiko yang cukup banyak di gunakan oleh banyak individu. Asuransi dapat dipandang sebagai alat diamana individu dapat mentransfer risiko ke pihak lain, dimana pihak asuransi mengakumulasi dana dari individu untuk memenuhi kebutuhan keuangan yang berkaitan dengan kerugian yang akan timbul (Hanafi, 2009)

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Financial Management Behavior 2.3.1 Financial Literacy

(4)

Huston (2010), mendefinisikan financial literacy sebagai komponen sumber daya manusia yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan keuangan, selanjutnya Mandell dan Klein (2009), mendefinisikan financial literacy sebagai kemampuan untuk mengevaluasi instrumen keuangan yang baru dan kompleks, serta dapat membuat penilaian pada instrumen keuangan.

Financial literacy juga didefinisikan sebagai pengetahuan mengenai konsep-konsep dasar keuangan, termasuk pengetahuan bunga majemuk, perbedaan nilai nominal dan nilai riil, pengetahuan dasar mengenai diversifikasi risiko, nilai waktu dari uang dan lain-lain (Lusardi, 2008). Falahati dan Paim (2011) dalam mengukur financial literacy menggunakan aspek pengetahuan umum, investasi, tabungan, hutang, asuransi dan manajemen risiko. Sedangkan menurut Chen dan Volpe (1998), ada 4 aspek financial literacy yaitu, pengetahuan umum tentang personal finance, saving dan borrowing, insurance, serta investment. Financial literacy merupakan pemahaman informasi yang berkaitan dengan masalah keuangan, khususnya praktek manajemen keuangan yang di rekomendasikan (Parrotta dan Johnson 1998). Mien dan Thao (2015), menyatakan bahwa pengetahuan keuangan didefinisikan sebagai pengetahuan yang mencukupi mengenai kenyataan dari keuangan personal. Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa financial literacy atau pengetahuan akan keuangan merupakan kemampuan seseorang dalam memahami hal-hal yang berkaitan dengan keuangan dan praktek manajemen keuangan.

2.3.2 Financial Attitude

Financial attitude menunjukan sikap keuangan yang mengacu pada keyakinan dan nilai-nilai seseorang terkait dengan berbagai konsep keuangan, seperti apakah seseorang merasa bahwa mengehemat uang dan menabung adalah hal yang penting (Chowa, Despard, & Akoto, 2012). Menurut Pankow (2012), financial attitude dapat diartikan sebagai keadaan pikiran, persepsi, pendapat, serta penilaian terhadap keuangan. Seseorang yang tidak memiliki pandangan akan pentingnya menabung cenderung memiliki resiko yang lebih besar dalam menghadapi masalah keuangan (Madern & Schors, 2012).

(5)

Sedangkan, menurut Rajna dan Ezat (2011), financial attitude merupakan aplikasi dari prinsip keuangan dalam pengambilan keputusan agar dapat melakukan pengelolaan keuangan dengan tepat. Financial attitude yang dimiliki oleh seseorang akan membantu individu tersebut dalam menentukan sikap perilaku keuangan, yaitu pengelolaan keuangan, penganggaran keuangan pribadi, dan pengambilan keputusan individu mengenai bentuk investasi yang akan diambil (Budiono & Wibisono, 2015). Penelitian yang dilakukan Hayhoe, Leach, dan Turner (1999) menunjukan bahwa attitude seseorang terhadap keuangan diasosiasikan dengan financial behavior. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat di simpulkan bahwa financial attitude merupakan sikap seseorang dalam perilaku7 keuangan, dan pengelolaan keuangan (Yulianti dan Silvy, 2013).

2.3.3 Usia

Menurut Parotta Johnson (1998), individu yang lebih muda menunjukan praktek perilaku manajemen keuangan. Hal ini di karenakan perbedaaan usia antar individu berdampak pada tujuan keuangan yang berbeda. Usia merupakan tingkat kedewasaan individu yang di lihat dari individu lahir hingga sekarang. Semakin tinggi usia seseorang, individu harus semakin bertanggung jawab. Baker dan Hagdeorn’s (2008), menemukan bahwa usia berhubungan dengan perilaku keuangan seseorang. Chen and Volpe (1998), menemukan tingkat literasi keuangan yang rendah pada peserta yang berusia 18–22 tahun. Alasan untuk rendahnya tingkat pengetahuan dapat dikaitkan dengan usia muda 18 sampai 22 tahun dari peserta atau di bawah 30 tahun sebagai mayoritas dari mereka berada dalam tahap yang sangat awal siklus dari hidup finansial mereka.

2.3.4 Gender

Gender menjelaskan individu sebagai laki-laki atau perempuan atas dasar kriteria perilaku dan fisik (Ningsih dan Rita, 2010). Lim dan Teo (1997), menjelaskan seorang wanita akan cenderung lebih berhati-hati dalam menggunakan uang yang dimiliki dibadingkan pria. Hal ini di karenakan wanita cenderung memikirkan kebutuhan dimasa depan. Menurut Doda (2014), dalam berinvestasi wanita cenderung memilih jenis investasi yang diketahui dan dapat di prediksi.

(6)

Sedangkan, sifat ini berbeda dengan pria, pria cenderung lebih berani dalam mengambil keputusan investasi. Begitupun Konce et al (dalam Handi &

Mahastanti, 2012) mengungkapkan bahwa perbedaan gender akan menimbulkan perilaku yang berbeda terhadap uang. Chen & Volpe (1998) juga menyebutkan bahwa laki-laki memiliki pengetahuan keuangan lebih tinggi dari pada wanita karena laki-laki lebih berani untuk mengambil keputusan keuangan dari pada perempuan.

2.3.5 Income

Pendapatan merupakan penghasilan pribadi yang di kenal sebagai laba sebelum pajak di gunakan dalam perhitungan laba kotor di sesuaikan individu untuk tujuan pajak penghasilan (Ida dan Dwinta, 2010). Besar kemungkinan bahwa individu dengan pendapatan yang lebih akan menunjukkan perilaku manajemen keuangan lebih bertanggung jawab, mengingat dana yang tersedia memberi kesempatan untuk bertindak secara bertanggung jawab (Kholilah dan Iramani, 2013). Menurut John et al., (2009) terdapat hubungan yang positif antara pendapatan (income) dengan perilaku manajemen keuangan yang bertanggung jawab. Artinya semakin baik pendapatan maka semakin baik dan bertanggung jawab perilaku keuangannya.

2.3.6 Kepemilikan Kartu Kredit

Kartu kredit (KK) adalah alat pembayaran pengganti uang tunai, berbentuk kartu yang memberikan fasilitas kredit kepada pemiliknya, di mana saat jatuh tempo dapat dibayar keseluruhan secara tunai atau sejumlah minimum dan sisa- nya dijadikan kredit. Menurut peraturan Bank Indonesia nomor 7/52/PBI/2005 tentang penyelenggaran kegiatan alat pembayaran dengan menggunakan kartu, kartu kredit adalah alat pembayaran yang dapat digunakan, untuk melakukan pembayaran atas kewajiban dari kegiatan ekonomi, termasuk transaksi belanja atau tarik tunai, dimana kewajiban pembayaran tersebut pada waktu yang telah disepakati, baik secara kontan maupun angsuran.

2.3.7 Tempat Tinggal

Menurut KUH Perdata domisili/tempat tinggal itu ada dua jenis, yaitu

(7)

Tempat tinggal sukarela atau bebas:

1. Pasal 17 KUH Perdata menyatakan bahwa setiap orang dianggap mempunyai tempat tinggal di mana ia menempatkan kediaman utamanya. Dalam hal seseorang tidak mempunyai tempat kediaman utama maka tempat tinggal dimana ia benar- benar berdiam adalah tempat tinggal nya.

2. Pasal 21 dan 22 KUH Perdata Tempat tinggal yang bergantung pada orang lain, a) -wanita bersuami mengikuti suaminya

b) -anak di bawah umur mengikuti tempat tinggal orang tuanya/walinya c) -orang dewasa yang ada di bawah pengampuan mengikuti curatornya d) -pekerja /buruh mengikuti tempat tinggal majikannya

Dalam hal ini yang di maksud tempat tinggal dalam penelitian ini ialah rumah kost atau selain kos yang di tempati tinggal dengan adanya atau tanpa ada pengawasan dari orang tua atau wali dimana yang menjadi tempat tinggal dari anak luar pulau.

2.3.8 Parental Income

Keluarga sebagai sebuah lembaga pendidikan yang pertama dan utama, keluarga diharapkan senantiasa berusaha menyediakan kebutuhan, baik biologis maupun psikologis bagi anak, serta merawat dan mendidiknya. Nababan dan Sadalia (2012), menyatakan bahwa pendapatan orang tua adalah tingkat penghasilan yang diperoleh orang tua responden selama perbulan baik dari penerimaan gaji, upah, ataupun penerimaan dari hasil usaha. income diukur berdasarkan pendapatan dari semua sumber. Nidar dan Bestari (2012) menemukan bahwa pendapatan dari orang tua merupakan faktor yang signifikan terhadap tingkat literasi keuangan pada mahasiswa Jawa Barat.

2.3.9 IPK

Studi Meuthia dan Andriani (2003) menjelaskan bahwa IPK merupakan ukuran prestasi studi mahasiswa yang nilainya diperoleh dari hasil bagi angka mutu dengan jumlah satuan kredit semester (SKS), Cude et al. (2006) menjelaskan bahwa mahasiswa yang memiliki IPK yang tinggi akan memiliki keuangan yang lebih sehat atau lebih baik. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2014), hasil penilaian capaian pembelajaran pada akhir program studi dinyatakan

(8)

dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) yang dihitung dengan cara menjumlahkan perkalian antara nilai huruf setiap mata kuliah yang ditempuh dan SKS mata kuliah bersangkutan dibagi dengan jumlah SKS mata kuliah yang diambil yang telah ditempuh.

2.4 Hubungan antar Konsep

2.4.1 Pengaruh Financial Literacy terhadap Financial Management Behavior Financial Literacy merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi Financial Management Behavior. Hilgerth et al. (2003), menyatakan literasi keuangan secara langsung berkorelasi dengan perilaku keuangan yang positif dalam membuat penilaian informasi dan mengambil keputusan yang efektif tentang penggunaan dan pengelolaan uang, seperti pembayaran tagihan tepat waktu, angsuran pinjaman, tabungan sebelum habis dan menggunakan kartu kredit secara bijaksana. Individu yang memiliki pengetahuan keuangan yang baik akan dapat mengatur besar pengeluaran untuk pemenuhan kebutuhan (Ida dan Dwinta, 2010), literasi keuangan adalah kombinasi dari kemampuan individu, pengetahuan, sikap dan akhirnya perilaku individu yang berhubungan dengan uang.

Penelitian tentang mahasiswa dan keuangan pribadi yang cenderung memiliki hubungan dengan pembelian kompulsif. Roberts dan Jones (2001), berusaha untuk menemukan bagaimana sikap keuangan memiliki peran dalam pembelian kompulsif di kalangan mahasiswa. Sikap mahasiswa terhadap permasalahan keuangan pribadi, dan dalam pembahasan ini mebuat jelas bahwa literasi keuangan pribadi mahasiswa mempunyai keterkaitan dengan perilaku keuangan pribadi dan pengetahuan keuangan. Huston (2010), menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat literasi keuangan yang dimiliki seseorang akan menghasilkan perilaku keuangan yang bijak dan pengelolaan keuangan yang efektif. Menurut Chen dan Volpe (1998), pengetahuan keuangan adalah pengetahuan untuk mengelola keuangan dalam pengambilan keputusan keuangan. Indikator pengukurannya adalah sebagai berikut: pengetahuan umum keuangan pribadi, tabungan dan pinjaman, Asuransi, dan Investasi.

2.4.2 Pengaruh Financial Attitude terhadap Financial Management Behavior

(9)

Marsh (2006) menyatakan bahwa perilaku keuangan pribadi seseorang timbul dari sikap keuangannya, individu yang tidak bijaksana dalam menanggapi masalah keuangan pribadinya cenderung memiliki perilaku keuangan yang buruk. Penelitian yang dilakukan oleh Harder et al (2014) juga menunjukan sikap yang dimiliki seseorang yang didapat dari adanya sosialisasi tentang keuangan yang berasal dari orangtua akan mempengaruhi financial behavior seseorang. Financial attitude berpengaruh secara langsung terhadap financial behavior seseorang (Shim et al, 2009). Penelitian ini juga konsisten degan penelitian yang juga sudah dilakukan oleh Shim (2007) sebelumnya. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa financial attitude seorang anak yang baik akan meningkatkan financial behavior (Jorgensen & Savla, The Importance of Parental Influence, 2010).

Seseorang membutuhkan financial Management behavior yang tinggi untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Hung, Parker, dan Yoong (2009) mengatakan bahwa seseorang dengan financial behavior yang rendah, kurang terampil dalam menghadapi guncangan ekonomi.

2.4.3 Pengaruh Usia terhadap Financial Management Behavior

Usia memberikan pengaruh terhadap perilaku managemen keuangan individu. Hasil penelitian Parrotta dan Johnson (1998), membuktikan praktek perilaku manajemen keuangan yang lebih baik lebih ditunjukan oleh individu yang memiliki usia remaja. Penelitian shaari, et al. (2013), menunjukan bahwa usia memiliki pengaruh signifikan terhadap financial planning. Hal ini di karenakan usia seseorang mempengaruhi perencanaan keuangan yang di lakukan. Perencanaan keuangan merupakan salah satu perilaku dalam financial management behavior.

Setiap tingkat usia remaja, usia dewasa, dan usia tua dapat berbeda-beda sehingga mempengaruhi perencanaan keuangan yang di lakukan.

2.4.4 Pengaruh Gender terhadap Financial Management Behavior

Gender merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku keuangan, menurut penelitian Dewey dan Prince (2005), hal ini dapat dilihat dari perilaku keuangan wanita yang cenderung berhati-hati dalam menggunakan uang yang dimiliki. Robb & Sharpe dalam Setyawan (2011), menjelaskan bahwa

(10)

perbedaan karakteristik antara laki-laki dan perempuan yang menimbulkan perbedaan sifat, pola pikir dan tingkah laku mereka. Menurut Carpenter dan Moore (2008) laki-laki secara signifikan lebih mandiri secara finansial dan aman dibandingkan perempuan. Menurut Doda (2014), wanita lebih berorientasi untuk melakukan pencatatan keuangan secara terperinci. Sebaliknya dalam penelitian Rajna dan Ezat (2011), menunjukan pria lebih baik dalam hal pengelolahan keuangan dibandingkan wanita.

2.4.5 Pengaruh Income terhadap Financial Management Behavior

Income seseorang akan berdampak pada perilaku seseorang dalam hal keuangan. Income yang tinggi menunjukan perilaku keuangan yang baik. Hal ini dikarenakan dana yang dimiliki memberikan kesempatan individu untuk mengalokasikan dana dengan tujuan investasi (Parrotta dan Johnson, 1998). Perry dan Morris (2005), yang menyatakan Income berpengaruh positif terhadap Financial Management Behavior. Sebaliknya, Godwin dan Koonce (1992), menyatakan individu dengan pendapatan yang lebih rendah memiliki praktek perilaku keuangan yang lebih baik. Hal ini di karenakan jika individu yang memiliki pendapatan rendah maka ia akan dengan benar memikirkan dana yang dimiliki untuk tujuan keuangan.

2.4.6 Pengaruh Kepemilikan Kartu kredit terhadap Financial Management Behavior

Menurut Ida dan Dwinta (2010), perilaku keuangan dalam penggunaan kartu kredit dapat dilihat dari beberapa hal pertama, perilaku seseorang dalam mengontrol pengeluaran, seperti membayar tagihan tepat waktu. Selain itu, membuat perencanaan keuangan keluarga, serta pengelolaan semua cash inflow untuk kepentingan personal ataupun keluarga. Perilaku pembayaran kartu kredit termasuk dalam aspek financial behaviour, yaitu aspek perilaku ekonomi (Ricciadi, 2005), Menurut Ausubel (1991), kartu kredit memiliki lebih banyak kerugian dari- pada manfaat. Hal ini ditunjukkan adanya peningkatan pengeluaran bulanan yang lebih besar, akibat menggunakan kartu kredit. Selanjutnya, penggunaan kartu kredit

(11)

menyebabkan seseorang semakin konsumtif. Perilaku konsumtif tersebut akan menunjukkan pemenuhan keinginan yang melebihi kebutuhan seseorang.

2.4.7 Pengaruh Tempat Tinggal terhadap Financial Literacy

Tempat tinggal akan berdampak pada perilaku seseorang dalam hal keuangan . Seseorang yang tinggal sendiri memiliki pengetahuan keuangan lebih baik dari pada yang tinggal bersama pasangan atau orangtuanya (Keown, 2011).

Hal ini disebabkan orang yang tinggal sendiri memiliki tanggung jawab untuk transaksi keuangan sehari-hari mereka dan keputusan keuangan lainnya, dalam penelitian Nababan dan Sadalia (2012), menunjukan mahasiswa yang tinggal sendiri memiliki financial literacy yang lebih tinggi di banding dengan mahasiswa yang tinggal bersama dengan orang tua. Tempat tinggal dalam penelitian ini menjelaskan tempat ketika mahasiswa yang menjadi responden menetap selama masa perkuliahan. Variabel ini dibagi menjadi dua kategori: tinggal sendiri atau kos atau tinggal tidak kos baik bersama orang tua maupun kerabat.

2.4.8 Pengaruh Parental income terhadap Financial Literacy

Keown (2011) menjelaskan terdapat hubungan antara pendapatan orang tua dengan pengetahuan keuangan. Hal ini menunjukan bahwa orang tua dengan pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi karena mereka lebih sering menggunakan instrumen dan layanan finansial. Pendapatan orang tua memengaruhi pengeluaran mahasiswa.

Orang tua berpendapatan lebih tinggi cenderung lebih banyak memberikan kontribusi pada pembayaran kuliah maupun tabungan anaknya (Ipsos Public Affairs, 2014). Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa orang tua dengan pendapatan yang lebih tinggi akan lebih mampu memberikan kontribusi kepada anaknya untuk membayar berbagai tagihan serta perilaku keuangan bertanggung jawab lainnya seperti menabung maupun investasi. Aizcorbe et al (2003), menemukan bahwa keluarga yang memiliki pendapatan yang lebih rendah memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menabung.

(12)

2.4.9 Pengaruh IPK terhadap Financial Literacy

Sabri et al. (2008) menjelaskan bahwa mahasiswa yang memiliki IPK yang tinggi memiliki permasalahan keuangan yang lebih sedikit dibandingkan mahasiswa yang memiliki IPK yang rendah. Nababan dan Sadalia. (2012) mengakui bahwa tingkat intelektualitas mahasiswa dapat memberikan dampak positif terhadap literasi keuangan. Krishna et al. (2010) menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki IPK < 3 memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang memiliki IPK > 3. Margaretha dan Pambudhi (2015) menunjukkan bahwa IPK mahasiswa mempengaruhi literasi keuangan mahasiswa. Hasil yang diperoleh bahwa semakin tinggi IPK, maka mahasiswa akan semakin baik dalam mengelola keuangan pribadinya (literasi keuangan). menurut Mandell (2008) bahwa semakin tinggi pendidikan dan kecerdasan seseorang, semakin melek finansial orang tersebut. Cude et al. (2006) menjelaskan bahwa mahasiswa yang memiliki IPK yang tinggi akan memiliki keuangan yang lebih sehat atau lebih baik.

2.5 Kerangka Berpikir

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Financial Literacy

Financial Management Behavior

Financial Attitude

Kepemilikan Kartu Kredit Tempat Tinggal

IPK

Parental Income

Income Gender Usia

(13)

2.6 Hipotesa Penelitian

Hipotesa merupakan dugaan sementara terhadap rumusan penelitian dimana rumusan masalah telah dinyatak dalam bentuk kalimat pertanyaan. Berdasarkan teori penunjang hipotesa dari penelitian ini adalah

1. Financial Literacy berpengaruh signifikan terhadap Financial Management Behavior

2. Financial Attitude berpengaruh signifikan terhadap Financial Management Behavior

3. Usia berpengaruh signifikan terhadap Financial Management Behavior 4. Gender berpengaruh signifikan terhadap Financial Management

Behavior

5. Income berpengaruh signifikan terhadap Financial Management Behavior

6. Kepemilikan Kartu kredit berpengaruh signifikan terhadap Financial Management Behavior

7. Tempat tinggal berpengaruh signifikan terhadap Financial Literacy 8. Parental income berpengaruh signifikan terhadap Financial Literacy 9. IPK berpengaruh signifikan terhadap Financial Literacy

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Financial Literacy  Financial Management Behavior Financial Attitude Kepemilikan Kartu Kredit Tempat TinggalIPK Parental Income Income Gender Usia

Referensi

Dokumen terkait

Septiadi (2001:225) menyatakan: “Sesuatu yang dapat dijadikan patokan bagi perusahaan untuk tetap menjaga hubungan antara konsumen dan perusahaan adalah “kesesuaian”, yaitu

Wujud brand yang sebenarnya adalah apa yang terletak di benak konsumen, yang disebut dengan brand image. Brand image tercipta melalui brand associations, yaitu saat konsumen

Terdapat kemungkinan pemimpin membentuk hubungan secara merata pada seluruh bawahannya tetapi membentuk hubungan baik membutuhkan pengorbanan waktu dan energi dan karyawan

Lebih terutama pada penawaran tema dan suasana makan yang serupa merupakan pertimbangan khusus dalam menjadikan rumah makan lain menjadi pesaing Boyong Kalegan.. Kisaran harga

Ruang konser, opera, studio rekam, dan ruang lain dengan tingkat akustik yang sangat detail Rumah sakit, dan ruang tidur/istirahat pada rumah tinggal, apartemen, motel, hotel, dan

David (2010, p. 131), pemerintah pusat maupun pemerintah daerah merupakan pembuat regulasi, deregulasi, penyubsidi, pemberi kerja, dan konsumen utama organisasi. Karenanya faktor

Jika kinerja lingkungan perusahaan baik maka terdapat kemungkinan kinerja keuangan juga dapat meningkat, hal ini sejalan dengan teori legitimasi karena perusahaan yang

Konsumen yang merasa kurang puas dengan layanan yang diberikan, dapat membuat konsumen beralih atau mencari layanan yang dianggap lebih baik dari pelayanan