i
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM MAGISTER TEOLOGI
PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP DASAR AJARAN SOSIAL GEREJA DALAM KARYA KERASULAN PENGEMBANGAN
SOSIAL EKONOMI DI TINGKAT PAROKI
Penelitian terhadap Para Aktivis PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas
Tesis diajukan oleh : Albertus Yogo Prasetianto NPM : 116312020/PPs/M.Th.
untuk memperoleh
GELAR MAGISTER TEOLOGI
2014
iv Kata Pengantar
Seorang beriman Katolik adalah juga bagian dari warga masyarakat, sebab hidup beriman dan hidup bermasyarakat tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.
Gereja yang kita alami dan kita hayati pun tidak hanya terjadi dalam doa dan perayaan, namun juga dihayati dalam kebersamaan bersama dengan saudara/i seiman dan juga dengan seluruh masyarakat. Gereja ini pula bertumbuh dalam masyarakat yang dipenuhi dengan permasalahan dan keprihatinan-keprihatinan sosial.
Permasalahan sosial tersebut tidak senantiasa dapat dituntaskan dengan doa dan ibadat melainkan perlu ada tindakan nyata. Dalam arti inilah Gereja juga dipandang memiliki wajah sosial.
Karya kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi dimaksudkan untuk menampilkan wajah sosial Gereja di tengah masyarakat. Aktivis-aktivis PSE menjadi ujung tombak untuk menjalankan karya kerasulan PSE di tengah umat.
Pemberdayaan, bantuan, dan kerasulan PSE menjadi salah satu usaha Gereja untuk berbuat nyata bagi permasalahan sosial dalam masyarakat. Syukur bahwa di tengah- tengah umat beriman terdapat orang-orang yang tergerak untuk terlibat dalam pelayanan sosial kepada sesama yang membutuhkan. Tulisan ini dimaksudkan untuk melihat hubungan antara pemahaman para aktivis PSE akan prinsip-prinsip dasar ASG dan keterlibatan mereka dalam karya kerasulan PSE di paroki.
Pertama-tama penulis ingin mengungkapkan syukur kepada Allah yang Mahakasih yang berkat rahmat dan penyertaan-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini. Dalam perjalanan penulisan tesis ini penulis merasa dipertemukan dengan banyak orang baik yang rela untuk membantu, mengkritisi, mendampingi,
v
mengingatkan dan mendoakan dalam seluruh perjalanan penulisan tesis. Inilah peran serta Allah sendiri yang penulis rasakan. Ungkapan syukur dan terima kasih juga ingin penulis tujukan kepada sejumlah pihak yang dengan caranya masing-masing ikut membantu penyelesaian penulisan tesis. Oleh karena itu, penulis juga mengucapkan syukur dan terimakasih kepada:
1. Mgr. Ignatius Suharyo, Pr yang telah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk mengenyam pendidikan di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta.
2. Dr. A. Purwahadiwardaya, MSF selaku dosen pembimbing utama, yang berkenan menerima pengajuan tesis di awal pengerjaan dan berkenan mendampingi selama masa pengerjaan. Kesabaran dan ketelitian beliau dalam memeriksa seluruh tesis sungguh amat membantu penulis untuk menggali lebih dalam hal-hal penting dalam tesis.
3. Dr. F. Purwanto, SCJ, selaku dosen pembimbing II, yang memperkenalkan penulis dengan penelitian lapangan sehingga dapat diaplikasikan dalam penulisan tesis. Koreksi kritis selama pengerjaan sungguh-sungguh membantu penulis.
4. Dr. St. Suratman Gitowiratmo, Pr selaku penguji III yang telah memberikan ketajaman penilaian saat ujian terhadap penulisan karya tulis ini
5. Keluarga Besar Seminari Tinggi Yohanes Paulus II, Seminari Tinggi St.
Paulus, Kentungan, Yogyakarta beserta seluruh staff, UNIO kecil KAJ serta para rekan Imam Diosesan Keuskupan Agung Jakarta yang tidak henti-
vi
hentinya memberi dukungan penuh hingga akhirnya saya menyelesaikan penulisan tugas akhir ini.
6. Alm. Bapak R. B Djiman E.S dan Ibu Theresia Karsinah sebagai orang tua yang dengan segala upaya mendukung saya dengan kekuatan doa dan sapaan yang memberi semangat. Juga kepada Stevanus Bambang dan Bernadeta Siwi sebagai kakak serta kedua ponakan yang selalu mendukung dengan caranya masing-masing.
7. Rm. Albertus Hendaryono, Pr (Pastor Paroki St. Bonaventura, Pulomas), Rm. Josef Natalis Kurnianto, Pr (Pastor Rekan Paroki St. Bonaventura, Pulomas), dan Rm. Adrianus Steve Winarto, Pr (Pastor rekan pada saat mengadakan penelitian) yang telah memberikan kesempatan untuk tinggal dan mengadakan penelitian di Paroki St. Bonaventura, Pulomas.
8. Seksi PSE Paroki St. Bonaventura, Pulomas dan juga seksi PSE lingkungan yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk diwawancarai dan mengisi angket penelitian.
9. Bpk. F. Sunardi selaku pegawai sekretariat program magister teologi, yang sangat membantu dalam hal administrasi.
10. Bapak R. B Suwandi dan mas Petrus Lismiyanto selaku pegawai Perpustakaan Seminari Tinggi St. Paulus, Yogyakarta yang sungguh-sungguh membantu penulis dalam keperluan pencarian dan peminjaman buku.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam penulisan karya tulis ini. Penulis masih membutuhkan masukan serta saran yang membangun dari semua
vii
pihak. Akhir kata, semoga karya tulis ini dapat menjadi bahan refleksi lebih lanjut terutama terkait dengan pengembangan kerasulan awam di bidang politik.
Yogyakarta, 20 Mei 2014
Albertus Yogo Prasetianto
viii ABSTRACT
The Church receives the mission of proclaiming and establishing among all peoples the Kingdom of God. Apostolic work for PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) is the one of the church‘s ministry in bringing the works of God in the world. Concerning the human life, the church promotes the dignity of the human being. Because of various social problems in the human community, the dignity of human being is being threatened and subordinated. Respect for human dignity, with regard to the principle of solidarity, the common good and subsidiarity are integrated in the pastoral life and ministry of the church.
The purpose of apostolic work for PSE bringing the salvation of God in real situation of human life, preserving those who live in poverty, crisis, inequitable situation and difficulties caused by economic and social pressures. ―In the economic and social realms, too, the dignity and complete vocation of human person and the welfare of society as a whole are to be respected and promoted‖
(GS 63).
The apostolic work for PSE is to take its direction from the Social Doctrine of the Church. In regards, to develop the ministry of PSE, the activists of PSE need to acknowledge the principles and values of the Social Doctrine of the Church. The observation in this study is intended to look the connection between the understanding of the Social Doctrine of Church and their involvement in the work of PSE. This observation took place in the Parish of St. Bonaventure, Pulomas, West Jakarta.
The results of this observation show that (1) there is no significant influence between the activist‘s level of understanding the Social Doctrine of the Church and their involvement in work of PSE; (2) a low level of understanding about the Social Doctrine of the Chruch among the activists of PSE, caused the lack of teaching; (3) however, the activists actively involved in the pastoral life and social ministry in the parish.
ix ABSTRAK
Gereja menerima tugas perutusan untuk mewartakan dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah umat manusia. Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi merupakan salah satu bentuk usaha Gereja untuk membawa karya keselamatan itu. Dalam keprihatinan mengenai hidup manusia, Gereja mempromosikan keluhuran martabat pribadi manusia. Oleh karena berbagai macam permasalahan sosial yang ada di tengah masyarakat, martabat pribadi manusia telah terancam dan direndahkan. Penghormatan terhadap martabat pribadi manusia, bersamaan dengan prinsip solidaritas, kesejahteraan umum dan subsidiaritas merupakan satu kesatuan dalam karya pastoral dan pelayanan Gereja.
Kerasulan PSE bertujuan untuk menghadirkan karya keselamatan Allah dalam situasi konkret kehidupan manusia, melindungi mereka yang hidup dalam kemiskinan, situasi krisis, situasi berkekurangan dan sulit yang disebabkan tekanan sosial dan ekonomi. ―Dalam kehidupan sosial ekonomi martabat pribadi manusia serta panggilannya seutuhnya, begitu pula kesejahteraan seluruh masyarakat, harus dihormati dan dikembangkan‖ (GS art. 63).
Karya kerasulan PSE menjalankan pelayanannya dengan berpedoman pada Ajaran Sosial Gereja. Dalam rangka untuk mengembangkan pelayanan dari kerasulan PSE, para aktivis PSE perlu memahami prinsip-prinsip dan nilai-nilai dari ajaran sosial ini. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat keterkaitan antara pemahaman para aktivis mengenai ASG dan keterlibatan mereka dalam karya PSE. Penelitian ini mengambil lokasi penelitian di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas, Jakarta Timur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) tingkat pemahaman para aktivis terhadap ASG tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keterlibatan para aktivis dalam kerasulan PSE; 2) rendahnya tingkat pemahaman para aktivis terhadap ASG disebabkan kurangnya pembekalan dan pengajaran tentang ASG;
3) meskipun demikian, para aktivis PSE sungguh-sungguh terlibat aktif dalam karya PSE di paroki.
x DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Halaman Pengesahan ... ii
Halaman Keaslian Karya... iii
Kata Pengantar ... iv
Abstract ... viii
Abstrak ... ix
Daftar Isi... x
Bab I. Pendahuluan ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan dan Batasan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penulisan ... 5
1.4 Metode Penulisan ... 5
1.5 Sistematika Penulisan ... 9
Bab II. Karya Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas, Jakarta Timur ... 12
2.1 Pengantar ... 12
2.2 Paroki Santo Bonaventura, Pulomas sebagai Tempat Penelitian ... 13
2.3 Keberadaan Paroki Santo Bonaventura, Pulomas di Kawasan Timur Jakarta ... 14
2.3.1 Konteks Sosial Kemasyarakatan di Jakarta Timur ... 15
2.3.2 Dinamika Permasalahan Sosial Kota Jakarta ... 18
2.4 Profil Paroki Santo Bonaventura, Pulomas ... 21
2.4.1 Sejarah Singkat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas ... 21
xi
2.4.2 Batas-Batas Paroki ... 24
2.4.3 Data Umat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas ... 26
2.4.4 Reksa Pastoral Paroki Santo Bonaventura, Pulomas ... 28
2.5 Karya Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi Paroki Santo Bonaventura, Pulomas ... 29
2.6 Rangkuman ... 33
Bab III.Penelitian terhadap Aktivis Pengembangan Sosial Ekonomi di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas ... 35
3.1 Pengantar ... 35
3.2 Prosedur Penelitian ... 36
3.2.1 Metode dan Tipe Penelitian ... 36
3.2.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 38
3.2.3 Tujuan Penelitian ... 39
3.2.4 Variabel Penelitian ... 39
3.2.5 Rumusan Masalah Penelitian ... 40
3.2.6 Hipotesa Penelitian ... 40
3.2.7 Pengumpulan Data ... 41
3.3 Analisa Hasil Penelitian ... 41
3.3.1 Deskripsi Responden ... 41
3.3.2 Analisa Berdasarkan Tiga Variabel Penelitian ... 46
3.3.2.1 Dinamika Karya PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas ... 46
3.3.2.1.1Analisa Dinamika Karya PSE ... 46
3.3.2.1.2 Kekuatan dan Kelemahan ... 64
3.3.2.2 Pemahaman akan Prinsip-Prinsip Dasar ASG ... 66
3.3.2.2.1 Analisa Prinsip-Prinsip Dasar ASG ... 66
3.3.2.2.2 Kekuatan dan Kelemahan ... 74
3.3.2.3 Motivasi Pelayanan Sosial ... 75
3.3.2.3.1Analisa Motivasi Pelayanan Sosial ... 76
xii
3.3.2.3.2 Kekuatan dan Kelemahan ... 83
3.4 Rangkuman ... 84
Bab IV. Analisa Sosial atas Kondisi Sosial Masyarakat Jakarta ... 87
4.1 Pengantar ... 87
4.2 Konteks Historis Kota Jakarta ... 88
4.3 Konteks Historis Masyarakat Betawi ... 93
4.4 Kompleksitas Masyarakat Metropolitan ... 96
4.4.1 Kondisi Demografi Jakarta ... 99
4.4.1.1 Jakarta Pusat ... 100
4.4.1.2 Jakarta Timur ... 101
4.4.1.3 Jakarta Barat ... 102
4.4.1.4 Jakarta Selatan ... 102
4.4.1.5 Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu ... 103
4.4.2 Dampak Kemajemukan Masyarakat ... 104
4.4.3 Tantangan-Tantangan ... 105
4.5 Permasalahan Sosial yang Khas di Jakarta... 109
4.5.1 Kemiskinan ... 109
4.5.2 Urbanisasi ... 113
4.5.1 Banjir ... 118
4.5.1 Rangkuman ... 123
Bab V. Refleksi Teologis atas Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi dan Peluang Pastoral bagi Karya Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi di Tingkat Paroki ... 126
5.1 Pengantar ... 126
xiii
5.2 Prinsip-Prinsip Dasar Ajaran Sosial Gereja dan Kerasulan Pengembangan
Sosial Ekonomi ... 127
5.2.1 Prinsip-Prinsip Dasar Ajaran Sosial Gereja ... 128
5.2.2.1 Prinsip Martabat Pribadi Manusia ... 129
5.2.1.2 Prinsip Kesejahteraan Umum ... 135
5.2.1.3 Prinsip Solidaritas ... 138
5.2.1.4 Prinsip Subsidiaritas ... 141
5.2.2 Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi ... 143
5.2.2.1 Gereja dan Pengembangan Sosial Ekonomi ... 144
5.2.2.2 Dasar Pelayanan Sosial Gereja ... 146
5.2.2.3 Mekanisme Pelayanan Kerasulan PSE ... 150
5.2.2.4 Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi Tingkat Paroki ... 152
5.2.2.5 Pengajaran Sosial Gereja dan Pengembangan Sosial Ekonomi ... 159
5.3 Refleksi Teologis ... 160
5.4 Peluang Pastoral Karya Kerasulan PSE ... 169
5.4.1 Paroki sebagai Tempat Pelaksanaan Tugas Perutusan Sosial Gereja ... 170
5.4.2 Peluang Pastoral ... 176
5.4.2.1 Pedoman dan Arah Pastoral Gereja Keuskupan Agung Jakarta ...176
5.4.2.2 Peluang Pastoral Karya Kerasulan PSE Paroki ... 179
5.4.3 Usulan untuk Paroki Santo Bonaventura, Pulomas ... 185
5.5 Rangkuman ... 189
Bab VI. Penutup ... 192
6.1 Kesimpulan Tesis ... 192
6.2 Penutup ... 196
Daftar Pustaka ... 200
Lampiran ... 206
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Praksis hidup menggereja tidak dapat dilepaskan dari kehidupan bermasyarakat. Umat beriman Kristiani tinggal di tengah masyarakat dan berinteraksi dengan warga masyarakat. Umat beriman dipanggil untuk terlibat dengan permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Umat beriman percaya bahwa dalam diri Yesus Kristus, Allah sendiri datang untuk menyelamatkan manusia. Dengan taat sampai mati di salib, Yesus membuktikan cinta kasih Allah kepada manusia. Ia mengajak semua orang untuk bertobat dan mengikuti jejak-Nya agar selamat. Gereja dipanggil untuk melanjutkan karya penyelamatan itu.
Panggilan Gereja untuk terlibat di tengah masyarakat sudah muncul sejak awal perkembangan Gereja. Sejak Gereja perdana, kesadaran dan kepedulian akan kesejahteraan manusia sudah bertumbuh dan berkembang. Pada awal Gereja perdana, pemilihan ketujuh diakon (pelayan) untuk memperhatikan kehidupan sosial umat (Kis 6:3) membuktikan perhatian Gereja dalam hidup sehari-hari.1 Dengan berfungsinya diakon, jemaat perdana memberikan kesaksian bahwa ada kesatuan yang erat sekali antara fungsi-fungsi sakramental dan fungsi-fungsi pelayanan Gereja.2 Menjelang akhir abad ke-19, Gereja Katolik kembali menyuarakan kepedulian dan keprihatinannya atas pelbagai masalah sosial.
1 William Chang, ―Mengenal Ajaran Sosial Gereja‖ dalam A. Eddy Kristiyanto (ed), Spiritualitas Sosial: Suatu Kajian Kontekstual, Kanisius, Yogyakarta, 2010, 28.
2 LPPS KWI, Pelayanan Sosial Paroki (Seri Forum LPPS No. 8), LPPS KWI, Jakarta, 1987, 11.
2
Keadaan hidup buruh pabrik, kesenjangan sosial antara konglomerat dan kaum proletar, sistem penggajian yang jauh dari keadilan dan kesejahteraan hidup yang memprihatinkan mendorong Gereja untuk bersuara.3 Kepedulian dan perhatian Gereja tersebut kemudian hadir dalam ajaran-ajaran yang disebut sebagai Ajaran Sosial Gereja (ASG). Karena yang disalurkan adalah ajaran, maka Gereja berperan sebagai guru (magistra) atau pengajar yang menyampaikan arahan- arahan dalam hidup bersama masyarakat.4
Ajaran ini membutuhkan kontektualisasi, mengingat bahwa Gereja hadir dan berkarya di tengah masyarakat yang terus berubah dengan berbagai macam permasalahan sosial di dalamnya. Kontektualisasi ASG secara konkret terjadi jika ASG mampu menyapa umat di tingkat paroki. Kontekstualisasi itu membutuhkan kepekaan Gereja terhadap perubahan yang berlangsung dalam masyarakat sebagai tanda-tanda zaman, yang merupakan tantangan dan tuntutan, yang harus ditanggapi dan dijawab secara tepat dan benar.5
Sejak SINODE I Keuskupan Agung Jakarta tahun 1990, Gereja Keuskupan Agung Jakarta menyadari bahwa di tengah tantangan-tantangan hidup beriman dibutuhkan suatu spiritualitas sosial baru. Dikatakan dalam SINODE I Keuskupan Agung Jakarta,
―Ada jutaan saudara di dekat kita yang dililit kemiskinan. Mereka adalah saudara-saudara yang, meskipun sering kita bicarakan, namun ternyata kita singkirkan dan kita lupakan, tanpa harapan akan perbaikan nasib...oleh karena itu sinode, bersama dengan Gereja sedunia, meyakini bahwa Tuhan menghendaki umat-Nya di Jakarta-Tangerang-Bekasi memberikan
3 William Chang, ―Mengenal Ajaran Sosial Gereja‖, 28.
4 William Chang, ―Mengenal Ajaran Sosial Gereja‖, 29.
5 F. X Hadisumarta, ―Keadilan Sosial‖, dalam A. Eddy Kristiyanto (ed), Spiritualitas Sosial, Suatu Kajian Kontekstual, Kanisius, Yogyakarta, 2010, 60.
3
perhatian yang utama kepada saudara-saudara yang miskin dan lemah ini.‖6
Di tahun 2004 saat mengadakan SINODE II, Gereja Keuskupan Agung Jakarta dalam arah pastoralnya menyadari bahwa umat beriman dituntut membangun kesetiakawanan terhadap kaum miskin.7 Sementara itu dalam Arah Dasar (Ardas) Pastoral Keuskupan Agung Jakarta tahun 2011-2015 ditegaskan bahwa
―Seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta berkehendak untuk menyelenggarakan pelbagai kegiatan dalam rangka menghayati dan meneruskan nilai-nilai Injili, ajaran serta Tradisi Gereja Katolik dan melibatkan diri dalam berbagai permasalahan sosial, terutama kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup serta intoleransi dalam hidup bersama‖.8
Gereja Keuskupan Agung Jakarta sejak SINODE I sudah menyadari ada permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat dan dengan berbagai macam upaya Gereja berusaha menjawab permasalahan tersebut.
Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi melalui berbagai pelayanan sosialnya berupaya menjawab keprihatinan dan permasalahan sosial yang ada di masyarakat. Untuk konteks Gereja Katolik Indonesia, kerasulan dalam bidang sosial-ekonomi dijalankan oleh Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi di masing-masing keuskupan, Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi Paroki dan Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi Lingkungan. Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) merupakan upaya Gereja untuk menumbuhkan sikap cinta kasih dalam persekutuan kristiani menuju tegaknya kebenaran dan keadilan dalam
6 Keuskupan Agung Jakarta, Menggereja di Jakarta dan Sekitarnya pada Tahun 2000 (Laporan Hasil SINODE I KAJ), Keuskupan Agung Jakarta, Jakarta, 1990, 36-37.
7 Kelompok Kerja SINODE II KAJ, Hasil Sinode II KAJ, Keuskupan Agung Jakarta, Jakarta, 2004, 3.
8 Bdk. Ardas Pastoral KAJ Tahun 2011-2015,
4
tata dunia menurut dimensi sosial ekonomi.9Kerasulan ini diterangi dan dibimbing oleh Ajaran Sosial Gereja. Sebagai sebuah pedoman dan acuan, nilai-nilai ASG perlu diaplikasikan dalam karya kerasulan PSE.
Dalam peluang-peluang implementasi Ardas Pastoral KAJ tahun 2011- 2015 disadari bahwa Ajaran Sosial Gereja perlu terus didengungkan, mengingat bahwa Ajaran Sosial Gereja praktis tidak begitu dikenal.10 Perlu ada ―proyek‖
perkenalan dengan Ajaran Sosial Gereja, terutama terkait dengan tema keluarga, kerja, ekonomi, sosial-politik, lingkungan hidup dan perdamaian.11 Dengan latar belakang demikian penulis bermaksud melihat penerapan Ajaran Sosial Gereja dalam kehidupan umat beriman, kemudian melihat aplikasinya dalam kebijakan pastoral paroki melalui karya kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi.
1.2 Perumusan dan Batasan Masalah
Penelitian terhadap aktivis PSE ini berupaya untuk melihat hubungan antara kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi dan pemahaman para aktivis atas prinsip-prinsip dasar ASG. Para aktivis PSE paroki idealnya menjalankan pelayanannya dengan berpedoman Ajaran Sosial Gereja. Bagaimanakah peran ASG dalam kerasulan PSE? Bagaimana prinsip-prinsip ASG menjiwai para aktivis PSE di paroki?
9 Komisi PSE KWI, Katekismus PSE, Komisi PSE KWI, Jakarta, 2008, 5.
10 Tim Karya Pastoral KAJ, Menuju Gereja Keuskupan Agung Jakarta yang Dicita-citakan, Peluang-peluang Implementasi Ardas Pastoral KAJ Tahun 2011-2015, Sekretariat KAJ, Jakarta, 2011, 39.
11 Tim Karya Pastoral KAJ, Menuju Gereja Keuskupan Agung Jakarta yang Dicita-citakan, Peluang-peluang Implementasi Ardas Pastoral KAJ Tahun 2011-2015, 40.
5
Penelitian lapangan dalam tesis ini merupakan bagian awal dari ―lingkaran pastoral‖, yang dilanjutkan dengan analisa sosial dan refleksi teologis.
Perencanaan pastoral merupakan bagian terakhir dari ―lingkaran pastoral‖tersebut.
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan tesis ini adalah: pertama, menegaskan pentingnya kerasulan sosial ekonomi dalam hidup menggereja; kedua, untuk menggali kekayaan ASG sebagai panduan dan acuan bagi karya kerasulan PSE;
ketiga, untuk melakukan proses berteologi dengan menggunakan metode
―lingkaran pastoral‖;keempat, untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Teologi Program Pascasarjana di Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
1.4 Metode Penulisan
Dalam menyiapkan penulisan tesis ini, penulis mengadakan penelitian lapangan dan melakukan studi kepustakaan. Penulis mengadakan penelitian lapangan terhadap para aktivis PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas.
Penelitian itu menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mendapatkan sejumlah data yang kemudian dianalisa. Topik dari penelitian lapangan itu adalah keterlibatan para aktivis PSE Paroki dan pemahaman mereka atas prinsip-prinsip dasar ASG. Sebanyak 53 aktivis PSE paroki menjadi subyek penelitian dan mereka diminta untuk mengisi kuesioner yang dibagikan. Data yang didapatkan dari penelitian itu kemudian dianalisa berdasarkan tiga variabel penelitian yakni:
6
karya kerasulan PSE di paroki, prinsip-prinsip dasar ASG, dan motivasi pelayanan sosial para aktivis PSE.
Sumber kepustakaan yang dijadikan acuan dalam bagian refleksi teologis adalah Dokumen tentang Ajaran Sosial Gereja dan dokumen-dokumen tentang Pengembangan Sosial Ekonomi. Dokumen tentang Ajaran Sosial Gereja meliputi Dokumen Ajaran Sosial Gereja Tahun 1891-1991 dari Rerum Novarum sampai Centesimus Annus, Kompendium Ajaran Sosial Gereja, dan Dokumen Konsili
Vatikan II. Dokumen-dokumen tentang PSE meliputi kumpulan Seri PSE Komisi PSE KWI dan buku Panduan & Acuan PSE Keuskupan Agung Jakarta.
Proses berteologi yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah metode
―lingkaran pastoral‖. Proses berteologi ini mempunyai fungsi dalam jemaat kristen yang ingin menghayati dan menjadi saksi Injil Yesus Kristus dalam situasi masyarakat konkret.12 Metode teologi ―lingkaran pastoral‖ berkembang dari sebuah tulisan ilmiah berjudul Social Analysis: Linking Faith and Justice karangan Joe Holland dan Peter Henriot pada tahun 1980.13 Holland dan Henriot mengusulkan ―lingkaran pastoral‖ sebagai gambar dari proses teologi yang dimulai dengan sebuah usaha untuk menganalisa kenyataan yang ada di masyarakat. Proses teologi itu dimulai dari pengalaman hidup umat beriman.
Pengalaman hidup umat beriman itu lalu diolah dengan cara membuat analisa atas pengalaman tersebut. Keprihatinan yang muncul dari analisa itu kemudian direfleksikan berdasarkan Kitab Suci dan Ajaran Gereja. Iman kristiani diharapkan mendorong orang untuk melakukan transformasi/perubahan atas
12 J. B. Banawiratma & J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, Kanisius, Yogyakarta, 1993, 23.
13 Frans Wijsen (ed.), The Pastoral Circle Revisited, a Critical Quest for Truth and Transformation, Orbis Books, Maryknoll, New York, 2005, ix.
7
situasi hidup yang dialami. Umat beriman akhirnya menentukan pilihan-pilihan dan berkomitmen untuk bertindak. Tindakan tersebut selanjutnya memunculkan proses teologi yang baru. Dengan demikian ―lingkaran pastoral‖ ini akan terus berlanjut.14
Metode ―lingkaran pastoral‖ berjalan melalui empat tahap atau empat langkah metodis yang saling berkaitan. Empat tahap tersebut adalah15:
1. Tahap pertama adalah observasi lapangan. Tahap pertama bertujuan mengenal dan mengalami secara nyata dan langsung situasi atau masalah sosial melalui observasi partisipatif.
2. Tahap kedua adalah analisa sosial. Analisa sosial dimaksudkan untuk menempatkan pengalaman dalam konteks masyarakat yang lebih luas.
Dalam analisa sosial ini diolah secara kritis masalah-masalah yang dialami, sebab-musababnya serta hubunganya satu sama lain. Untuk itu diperlukan analisis mengenai kenyataan politik, ekonomi, maupun sosial-budaya, baik secara historis maupun struktural.
3. Tahap ketiga adalah refleksi teologis-sosial. Refleksi teologis sosial merupakan refleksi teologis atas hasil analisis sosial. Refleksi teologis adalah usaha mempertemukan kenyataan dengan iman kepada Yesus Kristus. Dalam tahap ini hasil analisa sosial dipertemukan dengan iman yang diterangi oleh Kitab Suci dan Tradisi Suci, termasuk Ajaran Sosial Gereja, agar kenyataan sosial dimengerti dalam terang Injil.
14 M. Amaladoss, ―From Experience to Theology‖ dalam Vidyajyoti Journal of Theological Reflection (VJTR) 61 (1997:6), 372.
15 J.B. Banawiratma & J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, 27-28.
8
4. Tahap keempat adalah tindakan sebagai perwujudan iman. Tindakan yang dimaksud merupakan perwujudan iman dalam menghadapi masalah-masalah sosial yang dianalisa dan direfleksikan sebelumnya.
Sintesis sesungguhnya dari dinamika teologi sosial terjadi dalam pengambilan keputusan dan tindakan ini, di mana iman sungguh ada dampaknya dalam hidup nyata. Tahap ini menuntut kebijaksanaan dan kepekaan pastoral untuk menentukan apa yang dapat dijangkau, agar tindakan yang dijalankan itu sungguh tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dinamika pokok yang menempuh empat tahap tersebut memuat hubungan timbal balik antara empat unsur, yaitu (1) tindakan, (2) Injil Yesus Kristus, (3) refleksi, dan (4) analisis mengenai kenyataan masyarakat yang ada. Jaringan- jaringan hubungan tersebut dapat kita lihat dalam bagan sebagai berikut16:
16 J.B. Banawiratma & J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, 29.
9
TINDAKAN - persekutuan - pewartaan - ibadat - pelayanan
inspirasi mengubah
INJIL YESUS KRISTUS: SITUASI SOSIAL
KERAJAAN ALLAH YANG DIALAMI
DAN YANG DIANALISA
REFLEKSI TEOLOGIS-SOSIAL
Tindakan hidup beriman dalam persekutuan (koinonia), pewartaan (kerygma), ibadat (leitourgia) maupun pelayanan dalam dunia (diakonia) saling berhubungan satu sama lain dan saling mempengaruhi. Keseluruhannya mempunyai arti bagi perubahan situasi yang dialami bersama.17
1.5 Sistematika Penulisan
Tulisan ini dibagi menjadi enam bab. Keenam bab tersebut tersusun sebagai berikut:
Bab pertama, berisi latar belakang penulisan, perumusan dan batasan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
17 J.B. Banawiratma & J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, 29.
10
Bab kedua berisi konteks sosial-kemasyarakatan wilayah Jakarta Timur dan konteks hidup menggereja di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas. Dalam dua konteks tersebut, karya kerasulan PSE Paroki Santo Bonaventura, Pulomas menjalankan karya pelayanannya.
Bab ketiga berisi hasil penelitian terhadap para aktivis PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas. Bab ini secara khusus akan membahas penelitian lapangan dan analisa data. Bagian pengantar bab membahas prosedur penelitian dengan sejumlah langkah-langkah dari penelitian yang dibuat. Selanjutnya data hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel-tabel dengan disertakan analisa dari masing-masing tabel. Analisa atas data berguna untuk menentukan sejumlah kekuatan dan tantangan pastoral dari karya PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas.
Bab keempat berisi analisa sosial atas kondisi sosial masyarakat di Kota Jakarta. Maksud dari analisa sosial ini yaitu melihat kondisi sosial masyarakat di Kota Jakarta dan kemudian membuat analisa atasnya. Dalam membuat analisa ini, penulis membahas mengenai konteks historis Kota Jakarta, konteks budaya dari masyarakat yang ada di Jakarta, dan melihat kompleksitas masyarakat Jakarta sebagai masyarakat metropolitan. Dalam konteks dan kondisi demikian terdapat pula sejumah permasalahan sosial yang mempengaruhi kondisi sosial masyarakat di Kota Jakarta.
Bab kelima berisi refleksi teologis dan peluang pastoral bagi karya PSE.
Bagian awal bab ini menyajikan pembahasan mengenai Prinsip-Prinsip Dasar ASG dan Kerasulan PSE. Dua pokok ini memiliki keterkaitan satu sama lain.
11
Pelaksanaan kerasulan PSE berpedoman pada ASG. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar ASG ingin diwujudkan dalam program-program kerja PSE. Dua pokok ini digunakan sebagai pendasaran dari refleksi teologis. Bagian selanjutnya merupakan hasil refleksi teologis atas penelitian yang telah dilakukan. Lalu pada bagian akhir, berdasarkan hasil refleksi teologis itu dibuat sejumlah perencanaan pastoral bagi karya PSE di tingkat paroki.
Bab enam merupakan kesimpulan dari tulisan ini.
12 BAB II
KARYA KERASULAN PENGEMBANGAN SOSIAL EKONOMI DI PAROKI SANTO BONAVENTURA, PULOMAS, JAKARTA TIMUR
2.1 Pengantar
Karya kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi di Gereja Indonesia hadir mulai dari tingkat nasional sampai dengan tingkat Paroki. Pada tingkat nasional terdapat Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) KWI, sementara itu di masing-masing keuskupan ada komisi PSE keuskupan. Pada tingkat paroki, karya kerasulan ini dilaksanakan oleh seksi PSE paroki dan seksi PSE lingkungan.
Secara khusus penulis menyoroti karya kerasulan PSE yang terdapat di paroki.
Pelayanan sosial paroki merupakan karya kerasulan sosial yang berada di tingkat paling bawah. Dalam paroki umat secara nyata membangun komunitas sebagai Gereja dan memberikan kesaksian bagi masyarakat. Pelayanan sosial paroki menjadi pelayanan dari umat untuk umat dan untuk masyarakat di sekitarnya.18
Dalam tesis ini penulis menjadikan Paroki Santo Bonaventura, Pulomas, Jakarta Timur sebagai lokasi penelitian. Paroki Santo Bonaventura, Pulomas merupakan salah satu paroki di Keuskupan Agung Jakarta yang berada di kawasan timur Jakarta. Paroki Pulomas kini berusia 35 tahun dan telah berkembang menjadi sebuah paroki yang cukup besar dengan dinamika umat yang sungguh hidup. Sebelum masuk lebih jauh dalam karya kerasulan PSE dan kaitannya dengan Ajaran Sosial Gereja (ASG), penulis akan melihat konteks
18 LPPS KWI, Pelayanan Sosial Paroki (Seri Forum LPPS No. 8), 6.
13
sosial dan pastoral dari Paroki Santo Bonaventura, Pulomas. Penggambaran konteks sosial dan pastoral dari Paroki Santo Bonaventura, Pulomas berguna sebagai landasan untuk menganalisa data yang diperoleh dari penelitian lapangan.
2.2 Paroki Santo Bonaventura, Pulomas sebagai Tempat Penelitian
Penelitian terhadap para aktivis PSE dilakukan di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas, Jakarta Timur. Paroki Santo Bonaventura dipilih sebagai tempat penelitian didasarkan atas sejumlah alasan yang melatarbelakangi. Dasar pemilihan Paroki Santo Bonaventura sebagai obyek penelitian adalah sebagai berikut: pertama, keanekaragaman tingkat sosial ekonomi umat paroki dan warga masyarakat di wilayah paroki ini. Keanekaragaman tingkat sosial ekonomi itu dapat dilihat pada perbedaan yang mencolok antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin. Hal ini perlu mendapat perhatian Gereja, terutama karena perbedaan itu dapat menimbulkan ketimpangan dan permasalahan sosial. Karya kerasulan PSE paroki mendapat peluang dan tantangan tersendiri terkait dengan hal-hal tersebut.
Alasan kedua terkait dengan konteks pastoral karya kerasulan PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas. Karya kerasulan PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas sudah berlangsung cukup lama dan bahkan berkembang dalam berbagai bidang kerja. Sejak semula pengurus karya kerasulan PSE di Paroki Santo Bonaventura bercita-cita memberikan pelayanan kepada mereka yang miskin dan membutuhkan. Cita-cita tersebut diwujudkan melalui berbagai bidang pelayanan PSE paroki. Karya kerasulan ini telah memiliki struktur dan
14
mekanisme pelayanan yang teratur dan berjalan dengan baik. Bagi penulis hal ini dapat membantunya dalam menjalankan proses penelitian di lapangan, khususnya saat mengadakan penelitian di antara para aktivis PSE paroki.
Alasan ketiga adalah untuk menjawab tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Menurut penulis konteks sosial-ekonomi dan konteks pastoral dari Paroki Santo Bonaventura, Pulomas menjawab kebutuhan dari penelitian yang dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat pemahaman para aktivis PSE mengenai ASG dan melihat keterlibatan aktivis PSE dalam Kerasulan PSE di paroki. Penelitian ini banyak berkutat dengan Kerasulan Seksi PSE paroki dan para aktivis PSE yang bergerak di dalamnya. Data-data penelitian dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner kepada para aktivis PSE. Data-data yang terkumpul selanjutnya diolah dan dianalisa.
2.3 Keberadaan Paroki Santo Bonaventura, Pulomas di Kawasan Timur Jakarta
Berdasarkan letak geografis, Paroki Santo Bonaventura terletak di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur, Kecamatan Pulogadung. Wilayah Paroki Santo Bonaventura mencakup 5 kelurahan yakni Kelurahan Kayu Putih, Kelurahan Pulogadung, Kelurahan Jati, Kelurahan Rawa Mangun dan Kelurahan Rawa Terate. Secara demografis, Kota Administrasi Jakarta Timur merupakan kota yang paling luas di antara kota-kota lainnya di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Kota Administrasi Jakarta Timur memiliki jumlah penduduk yang paling banyak.19
19www.timur.jakarta.go.id/v6 diunduh pada tanggal 17 April 2013, pukul 10.15 (situs ini merupakan situs resmi milik Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur)
15
Beberapa data tentang konteks sosial akan disajikan untuk memotret secara umum keadaan sosial masyarakat di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur.
2.3.1 Konteks Sosial Kemasyarakatan di Jakarta Timur
Pemerintah Kota Administrasi menyajikan secara umum kondisi sosial warga masyarakat di wilayah Jakarta Timur. Berikut ini beberapa data mengenai kondisi sosial masyarakat Jakarta Timur:
1. Penduduk Jakarta Timur
Berdasarkan data Sudin Kependudukan Jakarta Timur, jumlah penduduk Kota Administrasi Jakarta Timur sampai dengan Bulan September tahun 2012 adalah 2.932.653 jiwa, terdiri dari 1.152.963 laki- laki dan 1.419.690 perempuan. Sementara untuk rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kota Administrasi Jakarta Timur adalah 14.041 jiwa/km2, dengan kepadatan penduduk yang paling tinggi adalah Kecamatan Matraman mencapai 38.482 jiwa/km2 dan yang terendah adalah Kecamatan Makasar sebesar 7.140 jiwa/km2.20
Secara demografis Kota Administrasi Jakarta Timur mempunyai karakteristik yang unik dan berbeda dengan wilayah kota lainnya.
Penduduk Kota Administrasi Jakarta Timur terdiri dari beragam suku bangsa, agama, adat istiadat dan kebiasaan. Hampir semua suku di Indonesia terdapat di Jakarta Timur. Kondisi ini mengakibatkan bahwa strata sosial masyarakat Kota Administrasi Jakarta Timur berlapis-lapis,
20 www.timur.jakarta.go.id/v6 diunduh pada tanggal 17 April 2013, pukul 10.15
16
mulai dari strata kaya sampai dengan yang paling miskin. Profesi masyarakat Jakarta Timur bervariasi, mulai dari budayawan, wartawan, guru, konglomerat, guru besar, sampai artis.21
2. Statistik Ketenagakerjaan Penduduk Jakarta Timur
Dibidang ketenagakerjaan, jumlah angkatan kerja diperkirakan mencapai 1,17 juta orang yang terdiri atas 989 ribu pekerja dan 182 ribu penganggur. Hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut.22
Tabel 2.1 Jumlah penduduk berusiadi atas 10 tahun menurut jenis kegiatan
NO JENIS KEGIATAN
JENIS KELAMIN
JUMLAH LAKI-LAKI PEREMPUAN
1. Angkatan Kerja 772.440 398.937 1.171.377
2. Bekerja 669.291 319.809 989.100
3. Pengangguran 103.149 79.128 182.277
4. Bukan Angkatan Kerja 240.681 598.641 839.322
5. Sekolah 156.843 147.894 304.737
6. Mengurus Rumah Tangga 16.014 414.480 430.494
7. Lainnya 67.824 36.267 104.091
Jumlah 2.026.242 1.995.156 4.021.398
Sumber : BPS Jaktim
21 www.timur.jakarta.go.id/v6 diunduh pada tanggal 17 April 2013, pukul 10.15
22 www.timur.jakarta.go.id/v6 diunduh pada tanggal 17 April 2013, pukul 10.15
17
Profil pencari kerja didominasi oleh penduduk yang berpendidikan SLTA, dengan jumlah pencari kerja sebanyak 109.092 orang. Hal ini dapat dilihat tabel berikut.23
Tabel 2.2 Jumlah pencari kerja menurut pendidikan
NO PENDIDIKAN
JENIS KELAMIN
JUMLAH LAKI-LAKI PEREMPUAN
1 Tidak/Belum Pernah Sekolah 452 0 452
2 Tidak / Belum Tamat SD 452 577 1.029
3 SD 9.501 8.664 18.165
4 SLTP 16.287 9.819 26.106
5 SLTA 62.885 46.207 109.092
6 Akademi dan Universitas 13.572 13.382 27.434
JUMLAH 103.149 79.129 182.278
Sumber : BPS Jakarta Timur
3. Statistik Sosial Penduduk Jakarta Timur
Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur menentukan beberapa indikator bidang sosial untuk menggambarkan statistik sosial wilayah Jakarta Timur. Indikator tersebut adalah indikator sektor pendidikan, kesejahteraan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan kesehatan.
23 www.timur.jakarta.go.id/v6 diunduh pada tanggal 17 April 2013, pukul 10.15
18
Dalam bidang pendidikan, jumlah sarana pendidikan di wilayah Jakarta Timur cukup banyak. Sekolah Dasar (SD) berjumlah 863 sekolah, SLTP berjumlah 263 sekolah dan SLTA berjumlah 318 sekolah.24 Dalam bidang kesehatan, sebanyak 88 puskesmas tersebar di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur, dengan jumlah tenaga dokter sebagai berikut:
2355 dokter umum, 29 dokter spesialis dan 603 dokter gigi. Penyakit yang paling sering diderita adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Hal ini mencerminkan dampak buruk dari pertumbuhan industri terhadap lingkungan di wilayah Jakarta Timur. Peran serta masyarakat dalam pembangunan, dapat dilihat dengan adanya 75 unit karang taruna yang tersebar di 10 Kecamatan.25
Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur menyadari bahwa dengan kondisi latar belakang sosial yang demikian perlu diwaspadai munculnya hubungan yang kurang harmonis antara warga masyarakat. Hal ini dapat memicu pertikaian antar golongan dan lain-lain. Oleh karena itu, pembinaan masyarakat perkotaan oleh pamong praja dan seluruh pemangku kepentingan memegang peranan strategis di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur.26
2.3.2 Dinamika Permasalahan Sosial Kota Jakarta
Konteks sosial kota Jakarta yang demikian membawa dampak bagi timbulnya berbagai macam permasalahan sosial. Kompleksitas permasalahan pada
24www.timur.jakarta.go.id/v6 diunduh pada tanggal 17 April 2013, pukul 10.15
25www.timur.jakarta.go.id/v6diunduh pada tanggal 17 April 2013, pukul 10.15
26www.timur.jakarta.go.id/v6 diunduh pada tanggal 17 April 2013, pukul 10.15
19
kenyataannya jauh lebih luas dari data-data yang telah disampaikan. Meskipun demikian terdapat beberapa permasalahan utama yang kerap kali dihadapi warga masyarakat, seperti kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan hidup, banjir, buruknya tingkat kesehatan, anak-anak putus sekolah dan pemukiman kumuh dengan sanitasi yang buruk. Permasalahan ini perlu dilihat dari berbagai sudut pandang agar memudahkan kita melihat akar permasalahannya. Kota Jakarta pada awalnya tumbuh sebagai kota pelabuhan bernama Sunda Kelapa.
Pelabuhan Sunda Kelapa berjasa meningkatkan pendapatan rakyat dengan jalan mengumpulkan hasil bumi. Sementara itu, para pemuka masyarakat mendapat keuntungan ekonomis dan politis dengan menjadi perantara antara rakyat dengan pedagang luar negeri, orang Asia maupun orang Eropa. Lama kelamaan kota ini berkembang menjadi pusat pergaulan antar bangsa dan pintu gerbang budaya yang kaya. Masalah yang dihadapi menjadi bertumpuk-tumpuk.27 Kota Jakarta kemudian tumbuh berkembang menjadi kota padat, ditandai dengan munculnya gedung-gedung perkantoran pencakar langit. Penduduk Jakarta yang pada awalnya tinggal di pusat-pusat kota lama kelamaan tergusur ke daerah pinggiran.
Secara politis, Daerah Khusus Ibukota Jakarta memberi arah pada gerak daerah seluruh Indonesia. Reformasi politik yang dimulai di Jakarta kerap memberi inspirasi bagi orang daerah. Secara ekonomis, Jakarta juga menentukan pola kerja hampir seluruh daerah di Nusantara.28 Dari sudut keragaman budaya, Jakarta dihuni oleh penduduk dari berbagai macam latar belakang budaya. Selain
27 B.S. Mardiatmadja, ―Puber di Kota Besar Metropolitan‖ (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Ilmu Teologi disampaikan pada Sidang Terbuka Senat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta pada Tanggal 30 Oktober 2004), 24-25.
28 B.S Mardiatmadja, ―Puber di Kota Besar Metropolitan‖, 25.
20
itu Jakarta dipadati dengan orang-orang yang melaju dari daerah sekitar dan tidak tinggal di Jakarta. Banyak juga orang yang hanya ‗numpang lewat Jakarta‘.29 Orang-orang tersebut bekerja di Jakarta namun bertempat tinggal di luar Jakarta.
Situasi dan kondisi yang demikian kemudian memunculkan masalah-masalah sosial.
Permasalahan sosial di kota Jakarta muncul karena kota Jakarta merupakan kota tujuan urbanisasi. Salah satu ciri kota metropolitan adalah bahwa kota itu menjadi tujuan urbanisasi. Kota-kota besar menjadi pusat kehidupan ekonomi yang menjanjikan kesempatan kerja dan peningkatan hidup sekurang- kurangnya secara ekonomis. Arus urbanisasi yang mulai deras sejak revolusi industri rasanya tidak akan pernah bisa dibendung. Tetapi tidak seperti yang diharapkan, orang-orang yang membanjiri masuk ke kota-kota besar, tidak dengan sendirinya meningkat kehidupan ekonominya.30 Keadaan ini mengakibatkan kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin, kejahatan semakin meluas, dan masalah-masalah sosial lainnya. Hal ini membuat kehidupan menjadi semakin tidak manusiawi, pemerintah pun tidak mampu membuat rencana perbaikan dan mengelola keadaan secara memadai.31
Dalam kondisi demikian berbagai akibat dapat muncul. Salah satu akibat yang mungkin muncul yakni orang tercabut dari akar sosialnya, dengan segala konsekuensinya. Ketercabutan sosial ini berpengaruh pada kesadaran atau gambaran mengenai diri, pengalaman akan hidup secara kekeluargaan dan
29 B.S Mardiatmadja, ―Puber di Kota Besar Metropolitan‖,35.
30 I. Suharyo, ―Evangelisasi di Metropolitan‖, artikel ini menjadi salah satu bahan pembicaraan saat pertemuan unio Imam Diosesan KAJ di Paroki st. Gregorius Magnus Kota Bumi, Tangerang pada tanggal 26 Februari 2013, no. 2.
31 I. Suharyo, ―Evangelisasi di Metropolitan‖, no. 2.
21
bersahabat, bahkan pada gambaran dan pengalaman akan Allah.32 Akibat lain adalah ketidakberdayaan politis, yang akan memperparah keadaan di mana orang dapat menjadi korban berbagai kepentingan manipulatif. Orang-orang tersebut tidak mempunyai akses terhadap kekuasaan dan dengan mudah dapat menjadi korban keputusan-keputusan politik dan ekonomi yang berada di luar jangkauan kontrol mereka.33
Konteks dan analisa sosial atas permasalahan sosial yang terjadi di Jakarta tidak dapat dilepaskan begitu saja dari keberadaan Gereja di tengah masyarakat.
Potret umum atas keadaan sosial kota Jakarta tersebut perlu ditatapkan dengan situasi konkret hidup menggereja di paroki. Reksa pastoral paroki diharapkan menjawab permasalahan sosial yang dialami oleh umat dan masyarakat. Karya Kerasulan PSE paroki perlu ikut andil dalam menyelesaikan permasalahan sosial melalui berbagai macam karya pelayanan PSE.
2.4 Profil Paroki Santo Bonaventura, Pulomas
2.4.1 Sejarah singkat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas
Tanggal 20 Agustus 1977 melalui Surat No. 589/B6-Pulomas/77, Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ mendirikan Paroki Pulomas dengan nama pelindung Santo Bonaventura. Santo Bonaventura merupakan seorang tokoh besar Ordo Fransiskan. Oleh karena itu, Santo Bonaventura dipilih oleh para perintis paroki yang berasal dari Ordo Fransiskan.34 Sementara itu bangunan gereja mulai
32I. Suharyo, ―Evangelisasi di Metropolitan‖, no. 3.
33I. Suharyo, ―Evangelisasi di Metropolitan‖, no. 5.
34Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, Paroki Santo Bonaventura Pulomas, Jakarta, 2007, 24.
22
digunakan sejak 24 Desember 1979 dan diberkati oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ pada tanggal 20 April 1980. Baru pada tanggal 12 Desember 1981, Gereja Paroki Santo Bonaventura, Pulomas diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak.
Tjokropranolo.35
Daerah Pulomas dahulu dikenal dengan nama Kampung Ambon dan sebagian besar daerahnya merupakan rawa atau empang. Pada waktu itu hanya sekitar 10 keluarga yang beragama Katolik. Mereka bernaung di bawah pastor- pastor dari Paroki Kramat. Atas dorongan Mgr. A. Djajaseputra, SJ selaku Uskup Agung Jakarta, oleh Pastor J. Wahyosudibyo, OFM selaku pemimpin Ordo Fransiskan dan juga Ketua Yayasan Santo Fransiskus, dibeli sebidang tanah di daerah Kampung Ambon. Pada tahun 1968, di atas tanah ini dibangun gedung sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar dengan penanggungjawab Bpk.
Soedarmo Soedibyo. Sekolah ini dikelola oleh para Suster Fransiskanes dari Pringsewu dan pada hari Minggu dan hari besar Katolik merupakan tempat ibadah bagi umat Katolik yang berjumlah ± 120 orang.36
Perkembangan umat Katolik bertambah hingga mencapai 500 orang seiring dengan pertambahan penduduk dan pembangunan real estate. Oleh karenanya perlu dibangun sebuah tempat ibadah. Pada tanggal 19 Juni 1977 dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja yang anggotanya terdiri dari Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ, selaku pelindung, Dewan Paroki Kramat selaku penasehat, Bpk. Drs. S. Soedarsono, selaku ketua, dan para anggota lain
35 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas,13.
36 Tim Buku Kenangan (ed), The Silver Book, 25 Tahun Paroki St. Bonaventura, Paroki Santo Bonaventura Pulomas, Jakarta, 2002, 14.
23
yang berdomisili di Kampung Ambon atau Pulomas, serta beberapa umat Gereja Kramat. Sedangkan Bpk. Ir. J. Adi Taruli ditunjuk sebagai pelaksana bidang fisik.37
Semula tanah untuk gereja terletak berdampingan dengan kolam renang Tirtamas di Kayu Putih, seluas 1200 m2 sedangkan pastorannya terletak di tempat lain. Namun pada rapat Tim Pembangunan Tempat Ibadah, Pemerintah DKI Jakarta mencabut izin yang sudah dikeluarkan. Akhirnya, atas bantuan Bpk.
Soepangat, SH dari Yayasan Perumahan Pulomas, diserahkan sebidang tanah seluas ± 3330 m2 di daerah Pulomas untuk dibangun kompleks gereja dan telah disetujui oleh Pemerintah DKI Jakarta. Lalu tanah tersebut diuruk dan menghabiskan biaya sekitar Rp 14.000.000. Maka berlanjutlah pembangunan gedung gereja dengan biaya yang tidak sedikit. Dana tersebut diperoleh antara lain dari hasil kolekte, pameran, bazar, sumbangan sukarela, dll.38
Pada tanggal 20 Agustus 1977, Mgr. Leo Soekoto, SJ mengeluarkan surat pendirian paroki dan mengangkat Pastor J. Partosudarmo, OFM sebagai pejabat Pastor Kepala sementara. Selanjutnya dengan surat no. 526A/3.25.2/78, tertanggal 5 Juni, Uskup Agung Jakarta menyatakan berdirinya PGDP (Pengurus Gereja dan Dana Papa) Gereja Santo Bonaventura sekaligus mengangkat Pengurus Dewan Paroki/PGDP dengan Pastor J. Partosudarmo, OFM sebagai ketua. Sejak saat itu paroki berjalan sebagaimana mestinya, termasuk membuat buku baptis sendiri.39
37 Tim Buku Kenangan (ed), The Silver Book, 25 Tahun Paroki St. Bonaventura, 14.
38 Tim Buku Kenangan (ed), The Silver Book, 25 Tahun Paroki St. Bonaventura, 14-15.
39 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 21.
24 2.4.2 Batas-batas Paroki
Paroki Pulomas memiliki luas wilayah ± 10 km2, mencakup 5 kelurahan yakni, Kelurahan Kayu Putih, Kelurahan Pulogadung, Kelurahan Jati, Kelurahan Rawa Mangun, Kelurahan Rawa Terate. Batas-batas Paroki Pulomas adalah40:
- Batas utara: berbatasan dengan Paroki Kelapa Gading, Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Bekasi Raya dijadikan batas paroki
- Batas timur: berbatasan dengan Paroki Pulo Gebang, Jalan Pulo Gadung dijadikan batas paroki
- Batas selatan: berbatasan dengan Paroki Rawa Mangun, Jalan Pemuda dijadikan sebagai batas paroki
- Batas barat: berbatasan dengan Paroki Cempaka Putih, Jalan Jendral Achmad Yani dijadikan batas paroki
40 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 13.
25 Peta Paroki Santo Bonaventura, Pulomas
26
2.4.3 Data umat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas
Jumlah umat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas per tanggal 18 April 2013 adalah 5514 jiwa terbagi dalam 1718 keluarga.41 Umat paroki dikoordinasikan dalam 11 wilayah (46 lingkungan). Persebaran umat paroki dapat dirinci dalam tabel berikut:
Tabel 2.3 Persebaran Umat Paroki
Wilayah Jumlah Lingkungan Jumlah Keluarga Jumlah Jiwa
I 4 139 424
II 5 198 589
III 4 188 635
IV 5 186 618
V 3 101 320
VI 5 174 540
VII 5 192 629
VIII 4 137 450
IX 3 127 476
X 4 118 374
XI 4 158 459
Jumlah 46 Lingkungan 1718 Keluarga 5514 Jiwa
41 Data umat diperoleh dari Sekretariat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas per tanggal 18 April 2013
27
Pembagian umat berdasarkan jenis kelamin dan usiadapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 2.4 Jumlah umat paroki berdasarkan jenis kelamin No. Jenis kelamin Jumlah
1. Laki-laki 2582 jiwa
2. Perempuan 2932 jiwa
Total 5514 jiwa
Tabel 2.5 Jumlah umat paroki berdasarkan usia
No. Jenjang usia Jumlah
1. Balita 188 jiwa
2. Anak-anak (6-12 tahun) 422 jiwa
3. Remaja (13-20 tahun) 559 jiwa
4. Dewasa (21-59 tahun) 3252 jiwa
5. Lansia ( > 60 tahun) 1093 jiwa
Total 5514 jiwa
28
2.4.4 Reksa Pastoral Paroki Santo Bonaventura, Pulomas
Reksa pastoral Paroki Santo Bonaventura, Pulomas secara sistematis dirancang dalam rencana kerja paroki. Sejak tahun 1984, bidang operasional paroki selalu bertitik tolak dari Kerangka Dasar dan Rencana Kerja (KDRK) dan dalam perjalanan waktu selanjutnya disebut dengan Rencana Kerja Dewan Paroki (RKDP). RKDP ini disusun setiap tahun dan disahkan pada Rapat Dewan Pleno menjelang akhir tahun. RKDP ini mencatat seluruh rencana kegiatan paroki mulai dari pengurus dewan paroki, wilayah/lingkungan, seksi-seksi sampai pada kelompok kategorial dan dilengkapi dengan anggaran biaya yang dibutuhkan.42 Kegiatan pengurus dewan paroki, wilayah/lingkungan, seksi-seksi, kelompok kategorial sedapat mungkin diupayakan secara integratif untuk mendukung tema kegiatan tahunan paroki dan KAJ. Hal ini dimaksudkan agar seluruh organ paroki dan panitia yang bertugas dapat mempersiapkannya dengan lebih baik.43
Salah satu reksa pastoral penting yang diusahakan sejak lama adalah pemberdayaan umat basis. Pemberdayaan umat basis terus-menerus dilakukan paroki agar kehidupan menggereja tumbuh dan berkembang di dalam keluarga dan lingkungan. Pada tahun 2005 ditetapkan santo dan santa pelindung bagi tiap- tiap lingkungan, sedangkan wilayah dibedakan berdasarkan nomor (misalnya wilayah I, II, dst) dengan harapan lingkungan dapat lebih mandiri mempunyai identitas sendiri dan tidak bergantung pada wilayah. Dampak positifnya adalah munculnya koor lingkungan dan kesadaran untuk berpartisipasi pada kegiatan
42 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas,33.
43 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 33.
29
menggereja lainnya, misalnya ikut sebagai lektor, prodiakon, dll.44 Pada tahun 2013 usaha pemberdayaan umat basis diwujudkan salah satunya dengan membuat Aksi Nyata Prapaskah di masing-masing lingkungan. Selain itu juga telah direncanakan pengajaran iman di masing-masing lingkungan oleh gembala paroki dan anggota dewan paroki dalam rangka merayakan Tahun Iman.
Tata penggembalaan paroki dibagi ke dalam empat bidang karya yakni bidang pewartaan, bidang ibadat, bidang pelayanan, dan bidang persekutuan.
Pelayanan pada masing-masing bidang ini dilaksanakan dalam program kerja masing-masing seksi dan karya kategorial yang berada di bawah koordinasi dewan paroki. Karya Kerasulan PSE berada dalam koordinasi Bidang Pelayanan paroki. Bidang ini secara khusus akan dibahas pada bagian selanjutnya.
2.5 Karya Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi Paroki Santo Bonaventura, Pulomas
Karya Kerasulan PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas merupakan bagian dari bidang karya pelayanan di bawah koordinasi dewan paroki. Perhatian kepada mereka yang miskin diwujudkan dengan pembentukan Seksi Sosial Paroki Pulomas pada tahun 1981 (yang kemudian berubah menjadi Seksi Pelayanan Sosial Ekonomi atau Seksi PSE). Pada awalnya pelayanan Seksi Sosial Paroki hanya terbatas kepada umat paroki dan baru sejak tahun 1990-an dikembangkan pelayanan kepada masyarakat umum di sekitar paroki.45 Sampai dengan tahun
44 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 34.
45 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 37.
30
2013 karya kerasulan PSE paroki masih tetap berjalan bahkan berkembang dalam berbagai bidang karya.
Seksi PSE Paroki Santo Bonaventura, Pulomas didirikan dengan tujuan melayani dan membantu umat dalam hal pendidikan, kesehatan, perumahan, usaha, kematian serta segala hal yang berhubungan dengan aspek sosial ekonomi.46 Bantuan yang diberikan oleh seksi PSE dapat berupa pemberian yang sifatnya cuma-cuma (karitatif) atau berupa pinjaman. Seksi PSE juga mengelola poliklinik kecil untuk pelayanan kesehatan bagi umat paroki yang membutuhkan.
Setiap minggu secara bergantian para dokter, yang juga umat Paroki Pulomas dengan sukarela melayani umat yang membutuhkan pengobatan gratis. Setiap menjelang hari Natal, seksi PSE membagikan bingkisan Natal bagi umat paroki yang membutuhkan. Seksi PSE juga membagikan bingkisan kepada umat beragama lain dan mengadakan bakti sosial. Bantuan ini diberikan kepada mereka yang merayakan Lebaran atau warga non-katolik di sekitar wilayah atau lingkungan, sesuai dengan usulan dari ketua wilayah atau lingkungan masing- masing.47
Untuk memudahkan pelaksanaan berbagai macam kegiatan tersebut, seksi PSE paroki membentuk sebuah tim kerja. Pembagian tim kerja seksi PSE Paroki Santo Bonaventura, Pulomas adalah sebagai berikut:
1. Pengurus PSE yang terdiri dari: Ketua, Wakil Ketua I, Wakil Ketua II, Sekretaris, Bendahara I, dan Bendahara II
46 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 83.
47 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 116.
31 2. Sub seksi yang terdiri dari:
a. Pinjaman/Karitatif
b. Pendidikan/Beasiswa c. Orang Tua Asuh d. St. Yusuf/Perawatan Rumah Sakit
e. Kesehatan/Poliklinik
f. Sandang dan Pangan (Bantuan Sosial) g. Credit Union dan Koperasi h. Kesejahteraan Keluarga dan Usaha i. Penanggulangan Bencana Alam/Kebakaran dan Lingkungan Hidup
Pelayanan seksi PSE sendiri dibagi menjadi dua bidang pelayanan, yakni pelayanan rutin dan pelayanan non rutin. Pelayanan rutin dimaksudkan sebagai pelayanan yang dilaksanakan setiap minggu dan berlangsung dalam satu tahun periode pelayanan. Pelayanan non rutin dimaksudkan sebagai pelayanan/bentuk kegiatan yang diprogramkan dalam setiap bulan dan dianggarkan, sehingga dapat berubah sesuai kebutuhan. Selain dua bentuk pelayanan tersebut, seksi PSE paroki juga membawahi tiga bidang pelayanan lain yakni Balai Pelayanan Pengobatan, Credit Union (CU), dan Bonar Rescue. Kelima bidang pelayanan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut48:
48 Data ini diambil dari presentasi Program Kerja Tahun 2013 seksi PSE Paroki Santo Bonaventura di wilayah-wilayah Paroki Santo Bonaventura, Pulomas
32 I. Pelayanan rutin, yang terdiri dari
1. Bantuan hidup: sandang-pangan, perumahan, kesehatan, pendidikan/beasiswa, orang tua asuh
2. Bantuan ekonomi: lapangan kerja, ketrampilan/kursus, modal usaha, sarana/alat kerja
3. Bantuan sosial: musibah/bencana, santunan kematian (St.
Yusuf), santunan lansia, kunjungan, transportasi II. Pelayanan non rutin, yang terdiri dari
1. Seminar/penyuluhan: kesehatan/penyakit, hukum, lingkungan hidup/penghijauan, tenaga kerja/wiraswasta
2. Donor darah
3. Bakti sosial kesehatan masyarakat 4. Bakti sosial kebersihan lingkungan III. Balai Pelayanan Pengobatan, yang terdiri dari
1. Pelayanan kesehatan umum setiap hari Minggu 2. Rencana pengadaan pelayanan kesehatan gigi
IV. Credit Union (CU) ―Usaha Sejahtera Bonaventura‖ melayani umat berupa simpan pinjam dan koperasi bagi keperluan rumah tangga V. Bonar Rescue, merupakan relawan yang berasal dari umat paroki yang
bertugas membantu penanganan bencana/musibah dan menjaga kelestarian lingkungan.
33
Seksi PSE paroki diharapkan menjadi perpanjangan tangan dewan paroki dalam memberikan pelayanan kasih kepada umat paroki dan masyarakat.
Pelayanan kasih amat diperlukan mengingat umat paroki dan warga masyarakat di wilayah Paroki Pulomas memiliki latar belakang dan status sosial ekonomi yang berbeda-beda. Mereka yang mampu dan sejahtera hidup berdampingan dengan mereka yang miskin dan yang membutuhkan bantuan. Bencana banjir kerap kali melanda daerah Pulomas perlu menjadi perhatian serius dari seksi PSE paroki.
Dalam pelayanan dan kerasulan PSE paroki ini wajah sosial Gereja tampak nyata bagi umat paroki dan masyarakat.
2.6 Rangkuman
Karya kerasulan PSE tidak dapat dipisahkan dengan karya pelayanan Gereja, sebab karya PSE berusaha mewujudkan pelayanan Gereja di tengah umat beriman dan masyarakat. Karya ini menjadi sungguh-sungguh nyata dalam pelayanan di paroki, sebab karya PSE dapat menyentuh keprihatinan umat beriman dan masyarakat. Penulis memilih Paroki Santo Bonaventura, Pulomas sebagai tempat penelitian. Penelitian ini sendiri berusaha untuk mengetahui hubungan antara pemahaman para aktivis PSE paroki dengan keterlibatan mereka dalam karya kerasulan PSE paroki.
Konteks sosial dan pastoral memegang arti penting dalam penelitian ini.
Konteks sosial tersebut adalah situasi sosial di mana karya PSE dijalankan. Dalam hal ini, konteks sosial kota Jakarta memberi pengaruh yang besar bagi pelaksanaan karya PSE paroki. Kota Jakarta dengan beragam kompleksitasnya
34
telah melahirkan permasalahan sosial yang perlu ditanggapi oleh Gereja.
Tanggapan Gereja ini diwujudkan dalam reksa pastoral paroki dan konkretisasinya diwujudkan dalam program kerja dan pelayanan PSE di paroki.
Kedua konteks ini diharapkan dapat membantu untuk membaca dan menganalisa data yang diperoleh dari penelitian lapangan.
35 BAB III
PENELITIAN TERHADAP AKTIVIS PENGEMBANGAN SOSIAL EKONOMI DI PAROKI SANTO BONAVENTURA, PULOMAS
3.1 Pengantar
Pada bab II penulis telah memaparkan konteks sosial dan pastoral Paroki Santo Bonaventura, Pulomas. Konteks sosial dan pastoral tersebut berguna untuk memberikan gambaran umum mengenai situasi dan kondisi umat beriman yang terdapat di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas. Pada bab III ini penulis akan membahas penelitian terhadap para aktivis PSE paroki. Topik dari penelitian lapangan ini adalah keterlibatan para aktivis PSE Paroki dan pemahaman mereka atas prinsip-prinsip dasar Ajaran Sosial Gereja.
Lebih dahulu penulis akan membahas prosedur penelitian yang telah dilakukan lalu membuat analisa atas data hasil penelitian. Pembahasan tentang prosedur penelitian dimaksudkan untuk memberikan informasi terkait dengan proses penelitian. Sementara itu analisa atas data hasil penelitian merupakan usaha penulis untuk membaca data yang terkumpul dalam penelitian. Berdasarkan data tersebut, penulis mencoba menangkap fakta, permasalahan dan pokok-pokok penting yang didapat dalam penelitian. Analisa atas data hasil penelitian ini kemudian akan menjadi dasar untuk membuat refleksi teologis atas topik utama penelitian ini.
36 3.2 Prosedur Penelitian
Penelitian lapangan yang dilakukan oleh penulis merupakan bagian dari refleksi teologis seperti yang digunakan dalam teologi proyek. Pola refleksi yang digunakan dalam proses ini adalah to see, to judge dan to act. Penulis pertama- tama akan melihat realitas dengan berjumpa langsung dengan para aktivis PSE di paroki. Untuk mendapatkan kenyataan yang utuh dan terukur, penulis mengadakan penelitian. Penelitian di lapangan ini juga digunakan untuk mengetahui pengaruh dari Ajaran Sosial Gereja bagi para aktivis PSE. Penelitian lapangan ini dilaksanakan di Paroki St. Bonaventura, Pulomas. Berikut ini adalah beberapa aspek penting yang digunakan penulis dalam proses penelitian.
3.2.1 Metode dan Tipe Penelitian
Dalam penelitian terhadap para aktivis PSE paroki ini penulis menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif memiliki ciri khas yakni adanya deskripsi obyektif mengenai suatu fenomena tertentu. Tujuan dari penelitian kuantitatif yakni menjelaskan dan meramalkan fenomena tertentu melalui pengumpulan data-data numerik. Data yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan dianalisa. Data yang diperoleh dianalisa untuk mengetahui pengenalan umat beriman, khususnya para aktivis PSE, akan wajah sosial Gereja dan aplikasi Ajaran Sosial Gereja dalam pelaksanaan kerasulan PSE.
Proses interpretasi data didukung oleh pedoman Karya Kerasulan PSE dan Ajaran Sosial Gereja. Interpretasi atas data diperlukan untuk membuat kesimpulan