• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Singkat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas

Dalam dokumen GELAR MAGISTER TEOLOGI 2014 (Halaman 34-0)

Bab II. Karya Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi di Paroki Santo

2.4 Profil Paroki Santo Bonaventura, Pulomas

2.4.1 Sejarah Singkat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas

Tanggal 20 Agustus 1977 melalui Surat No. 589/B6-Pulomas/77, Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ mendirikan Paroki Pulomas dengan nama pelindung Santo Bonaventura. Santo Bonaventura merupakan seorang tokoh besar Ordo Fransiskan. Oleh karena itu, Santo Bonaventura dipilih oleh para perintis paroki yang berasal dari Ordo Fransiskan.34 Sementara itu bangunan gereja mulai

32I. Suharyo, ―Evangelisasi di Metropolitan‖, no. 3.

33I. Suharyo, ―Evangelisasi di Metropolitan‖, no. 5.

34Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, Paroki Santo Bonaventura Pulomas, Jakarta, 2007, 24.

22

digunakan sejak 24 Desember 1979 dan diberkati oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ pada tanggal 20 April 1980. Baru pada tanggal 12 Desember 1981, Gereja Paroki Santo Bonaventura, Pulomas diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak.

Tjokropranolo.35

Daerah Pulomas dahulu dikenal dengan nama Kampung Ambon dan sebagian besar daerahnya merupakan rawa atau empang. Pada waktu itu hanya sekitar 10 keluarga yang beragama Katolik. Mereka bernaung di bawah pastor-pastor dari Paroki Kramat. Atas dorongan Mgr. A. Djajaseputra, SJ selaku Uskup Agung Jakarta, oleh Pastor J. Wahyosudibyo, OFM selaku pemimpin Ordo Fransiskan dan juga Ketua Yayasan Santo Fransiskus, dibeli sebidang tanah di daerah Kampung Ambon. Pada tahun 1968, di atas tanah ini dibangun gedung sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar dengan penanggungjawab Bpk.

Soedarmo Soedibyo. Sekolah ini dikelola oleh para Suster Fransiskanes dari Pringsewu dan pada hari Minggu dan hari besar Katolik merupakan tempat ibadah bagi umat Katolik yang berjumlah ± 120 orang.36

Perkembangan umat Katolik bertambah hingga mencapai 500 orang seiring dengan pertambahan penduduk dan pembangunan real estate. Oleh karenanya perlu dibangun sebuah tempat ibadah. Pada tanggal 19 Juni 1977 dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja yang anggotanya terdiri dari Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ, selaku pelindung, Dewan Paroki Kramat selaku penasehat, Bpk. Drs. S. Soedarsono, selaku ketua, dan para anggota lain

35 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas,13.

36 Tim Buku Kenangan (ed), The Silver Book, 25 Tahun Paroki St. Bonaventura, Paroki Santo Bonaventura Pulomas, Jakarta, 2002, 14.

23

yang berdomisili di Kampung Ambon atau Pulomas, serta beberapa umat Gereja Kramat. Sedangkan Bpk. Ir. J. Adi Taruli ditunjuk sebagai pelaksana bidang fisik.37

Semula tanah untuk gereja terletak berdampingan dengan kolam renang Tirtamas di Kayu Putih, seluas 1200 m2 sedangkan pastorannya terletak di tempat lain. Namun pada rapat Tim Pembangunan Tempat Ibadah, Pemerintah DKI Jakarta mencabut izin yang sudah dikeluarkan. Akhirnya, atas bantuan Bpk.

Soepangat, SH dari Yayasan Perumahan Pulomas, diserahkan sebidang tanah seluas ± 3330 m2 di daerah Pulomas untuk dibangun kompleks gereja dan telah disetujui oleh Pemerintah DKI Jakarta. Lalu tanah tersebut diuruk dan menghabiskan biaya sekitar Rp 14.000.000. Maka berlanjutlah pembangunan gedung gereja dengan biaya yang tidak sedikit. Dana tersebut diperoleh antara lain dari hasil kolekte, pameran, bazar, sumbangan sukarela, dll.38

Pada tanggal 20 Agustus 1977, Mgr. Leo Soekoto, SJ mengeluarkan surat pendirian paroki dan mengangkat Pastor J. Partosudarmo, OFM sebagai pejabat Pastor Kepala sementara. Selanjutnya dengan surat no. 526A/3.25.2/78, tertanggal 5 Juni, Uskup Agung Jakarta menyatakan berdirinya PGDP (Pengurus Gereja dan Dana Papa) Gereja Santo Bonaventura sekaligus mengangkat Pengurus Dewan Paroki/PGDP dengan Pastor J. Partosudarmo, OFM sebagai ketua. Sejak saat itu paroki berjalan sebagaimana mestinya, termasuk membuat buku baptis sendiri.39

37 Tim Buku Kenangan (ed), The Silver Book, 25 Tahun Paroki St. Bonaventura, 14.

38 Tim Buku Kenangan (ed), The Silver Book, 25 Tahun Paroki St. Bonaventura, 14-15.

39 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 21.

24 2.4.2 Batas-batas Paroki

Paroki Pulomas memiliki luas wilayah ± 10 km2, mencakup 5 kelurahan yakni, Kelurahan Kayu Putih, Kelurahan Pulogadung, Kelurahan Jati, Kelurahan Rawa Mangun, Kelurahan Rawa Terate. Batas-batas Paroki Pulomas adalah40:

- Batas utara: berbatasan dengan Paroki Kelapa Gading, Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Bekasi Raya dijadikan batas paroki

- Batas timur: berbatasan dengan Paroki Pulo Gebang, Jalan Pulo Gadung dijadikan batas paroki

- Batas selatan: berbatasan dengan Paroki Rawa Mangun, Jalan Pemuda dijadikan sebagai batas paroki

- Batas barat: berbatasan dengan Paroki Cempaka Putih, Jalan Jendral Achmad Yani dijadikan batas paroki

40 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 13.

25 Peta Paroki Santo Bonaventura, Pulomas

26

2.4.3 Data umat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas

Jumlah umat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas per tanggal 18 April 2013 adalah 5514 jiwa terbagi dalam 1718 keluarga.41 Umat paroki dikoordinasikan dalam 11 wilayah (46 lingkungan). Persebaran umat paroki dapat dirinci dalam tabel berikut:

Tabel 2.3 Persebaran Umat Paroki

Wilayah Jumlah Lingkungan Jumlah Keluarga Jumlah Jiwa

I 4 139 424

II 5 198 589

III 4 188 635

IV 5 186 618

V 3 101 320

VI 5 174 540

VII 5 192 629

VIII 4 137 450

IX 3 127 476

X 4 118 374

XI 4 158 459

Jumlah 46 Lingkungan 1718 Keluarga 5514 Jiwa

41 Data umat diperoleh dari Sekretariat Paroki Santo Bonaventura, Pulomas per tanggal 18 April 2013

27

Pembagian umat berdasarkan jenis kelamin dan usiadapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 2.4 Jumlah umat paroki berdasarkan jenis kelamin No. Jenis kelamin Jumlah

1. Laki-laki 2582 jiwa

2. Perempuan 2932 jiwa

Total 5514 jiwa

Tabel 2.5 Jumlah umat paroki berdasarkan usia

No. Jenjang usia Jumlah

1. Balita 188 jiwa

2. Anak-anak (6-12 tahun) 422 jiwa

3. Remaja (13-20 tahun) 559 jiwa

4. Dewasa (21-59 tahun) 3252 jiwa

5. Lansia ( > 60 tahun) 1093 jiwa

Total 5514 jiwa

28

2.4.4 Reksa Pastoral Paroki Santo Bonaventura, Pulomas

Reksa pastoral Paroki Santo Bonaventura, Pulomas secara sistematis dirancang dalam rencana kerja paroki. Sejak tahun 1984, bidang operasional paroki selalu bertitik tolak dari Kerangka Dasar dan Rencana Kerja (KDRK) dan dalam perjalanan waktu selanjutnya disebut dengan Rencana Kerja Dewan Paroki (RKDP). RKDP ini disusun setiap tahun dan disahkan pada Rapat Dewan Pleno menjelang akhir tahun. RKDP ini mencatat seluruh rencana kegiatan paroki mulai dari pengurus dewan paroki, wilayah/lingkungan, seksi-seksi sampai pada kelompok kategorial dan dilengkapi dengan anggaran biaya yang dibutuhkan.42 Kegiatan pengurus dewan paroki, wilayah/lingkungan, seksi-seksi, kelompok kategorial sedapat mungkin diupayakan secara integratif untuk mendukung tema kegiatan tahunan paroki dan KAJ. Hal ini dimaksudkan agar seluruh organ paroki dan panitia yang bertugas dapat mempersiapkannya dengan lebih baik.43

Salah satu reksa pastoral penting yang diusahakan sejak lama adalah pemberdayaan umat basis. Pemberdayaan umat basis terus-menerus dilakukan paroki agar kehidupan menggereja tumbuh dan berkembang di dalam keluarga dan lingkungan. Pada tahun 2005 ditetapkan santo dan santa pelindung bagi tiap-tiap lingkungan, sedangkan wilayah dibedakan berdasarkan nomor (misalnya wilayah I, II, dst) dengan harapan lingkungan dapat lebih mandiri mempunyai identitas sendiri dan tidak bergantung pada wilayah. Dampak positifnya adalah munculnya koor lingkungan dan kesadaran untuk berpartisipasi pada kegiatan

42 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas,33.

43 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 33.

29

menggereja lainnya, misalnya ikut sebagai lektor, prodiakon, dll.44 Pada tahun 2013 usaha pemberdayaan umat basis diwujudkan salah satunya dengan membuat Aksi Nyata Prapaskah di masing-masing lingkungan. Selain itu juga telah direncanakan pengajaran iman di masing-masing lingkungan oleh gembala paroki dan anggota dewan paroki dalam rangka merayakan Tahun Iman.

Tata penggembalaan paroki dibagi ke dalam empat bidang karya yakni bidang pewartaan, bidang ibadat, bidang pelayanan, dan bidang persekutuan.

Pelayanan pada masing-masing bidang ini dilaksanakan dalam program kerja masing-masing seksi dan karya kategorial yang berada di bawah koordinasi dewan paroki. Karya Kerasulan PSE berada dalam koordinasi Bidang Pelayanan paroki. Bidang ini secara khusus akan dibahas pada bagian selanjutnya.

2.5 Karya Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi Paroki Santo Bonaventura, Pulomas

Karya Kerasulan PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas merupakan bagian dari bidang karya pelayanan di bawah koordinasi dewan paroki. Perhatian kepada mereka yang miskin diwujudkan dengan pembentukan Seksi Sosial Paroki Pulomas pada tahun 1981 (yang kemudian berubah menjadi Seksi Pelayanan Sosial Ekonomi atau Seksi PSE). Pada awalnya pelayanan Seksi Sosial Paroki hanya terbatas kepada umat paroki dan baru sejak tahun 1990-an dikembangkan pelayanan kepada masyarakat umum di sekitar paroki.45 Sampai dengan tahun

44 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 34.

45 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 37.

30

2013 karya kerasulan PSE paroki masih tetap berjalan bahkan berkembang dalam berbagai bidang karya.

Seksi PSE Paroki Santo Bonaventura, Pulomas didirikan dengan tujuan melayani dan membantu umat dalam hal pendidikan, kesehatan, perumahan, usaha, kematian serta segala hal yang berhubungan dengan aspek sosial ekonomi.46 Bantuan yang diberikan oleh seksi PSE dapat berupa pemberian yang sifatnya cuma-cuma (karitatif) atau berupa pinjaman. Seksi PSE juga mengelola poliklinik kecil untuk pelayanan kesehatan bagi umat paroki yang membutuhkan.

Setiap minggu secara bergantian para dokter, yang juga umat Paroki Pulomas dengan sukarela melayani umat yang membutuhkan pengobatan gratis. Setiap menjelang hari Natal, seksi PSE membagikan bingkisan Natal bagi umat paroki yang membutuhkan. Seksi PSE juga membagikan bingkisan kepada umat beragama lain dan mengadakan bakti sosial. Bantuan ini diberikan kepada mereka yang merayakan Lebaran atau warga non-katolik di sekitar wilayah atau lingkungan, sesuai dengan usulan dari ketua wilayah atau lingkungan masing-masing.47

Untuk memudahkan pelaksanaan berbagai macam kegiatan tersebut, seksi PSE paroki membentuk sebuah tim kerja. Pembagian tim kerja seksi PSE Paroki Santo Bonaventura, Pulomas adalah sebagai berikut:

1. Pengurus PSE yang terdiri dari: Ketua, Wakil Ketua I, Wakil Ketua II, Sekretaris, Bendahara I, dan Bendahara II

46 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 83.

47 Tim Buku Kenangan (ed), Lustrum 6, Buku Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura Paroki Pulomas, 116.

31 2. Sub seksi yang terdiri dari:

a. Pinjaman/Karitatif

b. Pendidikan/Beasiswa c. Orang Tua Asuh d. St. Yusuf/Perawatan Rumah Sakit

e. Kesehatan/Poliklinik

f. Sandang dan Pangan (Bantuan Sosial) g. Credit Union dan Koperasi h. Kesejahteraan Keluarga dan Usaha i. Penanggulangan Bencana Alam/Kebakaran dan Lingkungan Hidup

Pelayanan seksi PSE sendiri dibagi menjadi dua bidang pelayanan, yakni pelayanan rutin dan pelayanan non rutin. Pelayanan rutin dimaksudkan sebagai pelayanan yang dilaksanakan setiap minggu dan berlangsung dalam satu tahun periode pelayanan. Pelayanan non rutin dimaksudkan sebagai pelayanan/bentuk kegiatan yang diprogramkan dalam setiap bulan dan dianggarkan, sehingga dapat berubah sesuai kebutuhan. Selain dua bentuk pelayanan tersebut, seksi PSE paroki juga membawahi tiga bidang pelayanan lain yakni Balai Pelayanan Pengobatan, Credit Union (CU), dan Bonar Rescue. Kelima bidang pelayanan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut48:

48 Data ini diambil dari presentasi Program Kerja Tahun 2013 seksi PSE Paroki Santo Bonaventura di wilayah-wilayah Paroki Santo Bonaventura, Pulomas

32 I. Pelayanan rutin, yang terdiri dari

1. Bantuan hidup: sandang-pangan, perumahan, kesehatan, pendidikan/beasiswa, orang tua asuh

2. Bantuan ekonomi: lapangan kerja, ketrampilan/kursus, modal usaha, sarana/alat kerja

3. Bantuan sosial: musibah/bencana, santunan kematian (St.

Yusuf), santunan lansia, kunjungan, transportasi II. Pelayanan non rutin, yang terdiri dari

1. Seminar/penyuluhan: kesehatan/penyakit, hukum, lingkungan hidup/penghijauan, tenaga kerja/wiraswasta

2. Donor darah

3. Bakti sosial kesehatan masyarakat 4. Bakti sosial kebersihan lingkungan III. Balai Pelayanan Pengobatan, yang terdiri dari

1. Pelayanan kesehatan umum setiap hari Minggu 2. Rencana pengadaan pelayanan kesehatan gigi

IV. Credit Union (CU) ―Usaha Sejahtera Bonaventura‖ melayani umat berupa simpan pinjam dan koperasi bagi keperluan rumah tangga V. Bonar Rescue, merupakan relawan yang berasal dari umat paroki yang

bertugas membantu penanganan bencana/musibah dan menjaga kelestarian lingkungan.

33

Seksi PSE paroki diharapkan menjadi perpanjangan tangan dewan paroki dalam memberikan pelayanan kasih kepada umat paroki dan masyarakat.

Pelayanan kasih amat diperlukan mengingat umat paroki dan warga masyarakat di wilayah Paroki Pulomas memiliki latar belakang dan status sosial ekonomi yang berbeda-beda. Mereka yang mampu dan sejahtera hidup berdampingan dengan mereka yang miskin dan yang membutuhkan bantuan. Bencana banjir kerap kali melanda daerah Pulomas perlu menjadi perhatian serius dari seksi PSE paroki.

Dalam pelayanan dan kerasulan PSE paroki ini wajah sosial Gereja tampak nyata bagi umat paroki dan masyarakat.

2.6 Rangkuman

Karya kerasulan PSE tidak dapat dipisahkan dengan karya pelayanan Gereja, sebab karya PSE berusaha mewujudkan pelayanan Gereja di tengah umat beriman dan masyarakat. Karya ini menjadi sungguh-sungguh nyata dalam pelayanan di paroki, sebab karya PSE dapat menyentuh keprihatinan umat beriman dan masyarakat. Penulis memilih Paroki Santo Bonaventura, Pulomas sebagai tempat penelitian. Penelitian ini sendiri berusaha untuk mengetahui hubungan antara pemahaman para aktivis PSE paroki dengan keterlibatan mereka dalam karya kerasulan PSE paroki.

Konteks sosial dan pastoral memegang arti penting dalam penelitian ini.

Konteks sosial tersebut adalah situasi sosial di mana karya PSE dijalankan. Dalam hal ini, konteks sosial kota Jakarta memberi pengaruh yang besar bagi pelaksanaan karya PSE paroki. Kota Jakarta dengan beragam kompleksitasnya

34

telah melahirkan permasalahan sosial yang perlu ditanggapi oleh Gereja.

Tanggapan Gereja ini diwujudkan dalam reksa pastoral paroki dan konkretisasinya diwujudkan dalam program kerja dan pelayanan PSE di paroki.

Kedua konteks ini diharapkan dapat membantu untuk membaca dan menganalisa data yang diperoleh dari penelitian lapangan.

35 BAB III

PENELITIAN TERHADAP AKTIVIS PENGEMBANGAN SOSIAL EKONOMI DI PAROKI SANTO BONAVENTURA, PULOMAS

3.1 Pengantar

Pada bab II penulis telah memaparkan konteks sosial dan pastoral Paroki Santo Bonaventura, Pulomas. Konteks sosial dan pastoral tersebut berguna untuk memberikan gambaran umum mengenai situasi dan kondisi umat beriman yang terdapat di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas. Pada bab III ini penulis akan membahas penelitian terhadap para aktivis PSE paroki. Topik dari penelitian lapangan ini adalah keterlibatan para aktivis PSE Paroki dan pemahaman mereka atas prinsip-prinsip dasar Ajaran Sosial Gereja.

Lebih dahulu penulis akan membahas prosedur penelitian yang telah dilakukan lalu membuat analisa atas data hasil penelitian. Pembahasan tentang prosedur penelitian dimaksudkan untuk memberikan informasi terkait dengan proses penelitian. Sementara itu analisa atas data hasil penelitian merupakan usaha penulis untuk membaca data yang terkumpul dalam penelitian. Berdasarkan data tersebut, penulis mencoba menangkap fakta, permasalahan dan pokok-pokok penting yang didapat dalam penelitian. Analisa atas data hasil penelitian ini kemudian akan menjadi dasar untuk membuat refleksi teologis atas topik utama penelitian ini.

36 3.2 Prosedur Penelitian

Penelitian lapangan yang dilakukan oleh penulis merupakan bagian dari refleksi teologis seperti yang digunakan dalam teologi proyek. Pola refleksi yang digunakan dalam proses ini adalah to see, to judge dan to act. Penulis pertama-tama akan melihat realitas dengan berjumpa langsung dengan para aktivis PSE di paroki. Untuk mendapatkan kenyataan yang utuh dan terukur, penulis mengadakan penelitian. Penelitian di lapangan ini juga digunakan untuk mengetahui pengaruh dari Ajaran Sosial Gereja bagi para aktivis PSE. Penelitian lapangan ini dilaksanakan di Paroki St. Bonaventura, Pulomas. Berikut ini adalah beberapa aspek penting yang digunakan penulis dalam proses penelitian.

3.2.1 Metode dan Tipe Penelitian

Dalam penelitian terhadap para aktivis PSE paroki ini penulis menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif memiliki ciri khas yakni adanya deskripsi obyektif mengenai suatu fenomena tertentu. Tujuan dari penelitian kuantitatif yakni menjelaskan dan meramalkan fenomena tertentu melalui pengumpulan data-data numerik. Data yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan dianalisa. Data yang diperoleh dianalisa untuk mengetahui pengenalan umat beriman, khususnya para aktivis PSE, akan wajah sosial Gereja dan aplikasi Ajaran Sosial Gereja dalam pelaksanaan kerasulan PSE.

Proses interpretasi data didukung oleh pedoman Karya Kerasulan PSE dan Ajaran Sosial Gereja. Interpretasi atas data diperlukan untuk membuat kesimpulan

37

akhir dan melihat pengaruh Ajaran Sosial Gereja dalam dalam karya kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi di paroki.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan statistik. Metode ini digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu. Dalam pengumpulan data digunakan instrumen penelitian, analisa data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesa yang telah ditetapkan.49 Penelitian pada umumnya dilakukan pada populasi atau sampel tertentu yang representatif. Proses penelitian bersifat deduktif, di mana untuk menjawab masalah digunakan konsep atau teori sehingga dapat dirumuskan hipotesa. Hipotesa tersebut selanjutnya diuji melalui pengumpulan data lapangan. Data yang terkumpul dianalisa secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif sehingga dapat disimpulkan apakah hipotesa terbukti atau tidak.50

Berdasarkan tipenya maka penelitian terhadap aktivis PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas dapat digolongkan sebagai penelitian penjelasan/penelitian eksplanatif (explanatory atau confirmatory research). Penelitian penjelasan/penelitian eksplanatif menyoroti hubungan antara variabel-variabel penelitian dan menguji hipotesa yang telah dirumuskan sebelumnya. Walaupun uraiannya juga mengandung deskripsi, sebagai penelitian relasional fokusnya terletak pada penjelasan hubungan-hubungan antar variabel.51 Berdasarkan metode yang digunakan dalam penelitian, penelitian ini dapat digolongkan

49 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Alfabet, Bandung, 2011, 7-8.

50 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 8.

51 Masri Singarimbun, ―Tipe, Metode dan Proses Penelitian” dalam M. Singarimbun & S. Effendi (ed), Metode Penelitian Survai, LP3S, Jakarta, 1982, 3.

38

sebagai penelitian evaluasi. Yang mau diteliti dalam penelitian ini adalah: sampai seberapa jauh tujuan yang digariskan pada awal program tercapai atau mempunyai tanda-tanda akan tercapai.52 Dalam penelitian ini penulis memperhatikan dan meneliti hubungan antara beberapa variabel dan, kalau dapat, menentukan hubungan sebab akibat. Metode-metode yang dipakai dalam penelitian evaluasi antara lain wawancara, angket, pengamatan, pengujian dengan skala-skala, penelitian dokumen dan lain-lainnya.53

3.2.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas, Jakarta Timur. Paroki Santo Bonaventura merupakan salah satu paroki di Keuskupan Agung Jakarta, Dekenat Jakarta Timur. Saat ini umat paroki berjumlah kurang lebih 5514 jiwa. Paroki itu memiliki 46 lingkungan, yang dikoordinasikan dalam 11 wilayah. Wilayah-wilayah Paroki Santo Bonaventura memiliki kondisi sosial yang berbeda-beda. Ada wilayah-wilayah yang memiliki tingkat sosial ekonomi yang tinggi, ada wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan sosial yang tinggi. Penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal 24 Februari 2013 sampai dengan 24 Maret 2013.

3.2.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman para aktivis PSE mengenai Ajaran Sosial Gereja dan mengetahui keterlibatan aktivis PSE dalam

52 Masri Singarimbun,―Tipe, Metode dan Proses Penelitian‖, 5-6.

53 Masri Singarimbun, ―Tipe, Metode dan Proses Penelitian”, 6.

39

Kerasulan PSE di Paroki Santo Bonaventura, Pulomas. Kedua hal tersebut kemudian dihubungkan untuk melihat hubungan antara pemahaman akan ASG dan keterlibatan para aktivis dalam karya PSE.

3.2.4 Variabel Penelitian

Penelitian terhadap aktivis PSE Paroki Santo Bonaventura, Pulomas memiliki tiga variabel, yaitu:

a. Karya Kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi di Paroki

b. Prinsip-Prinsip dasar Ajaran Sosial Gereja: martabat pribadi manusia, kesejahteraan umum, solidaritas, dan subsidiaritas

c. Motivasi pelayanan sosial para aktivis PSE

Penelitian ini memiliki dua variabel utama yakni keterlibatan aktivis dalam kerasulan PSE di paroki dan pemahaman mereka mengenai Ajaran Sosial Gereja. Sementara itu variabel motivasi pelayanan sosial merupakan variabel pendukung. Ketiga variabel tersebut dijabarkan ke dalam beberapa pertanyaan tertutup, pertanyaan terbuka dan pertanyaan semi terbuka. Penelitian ini juga hendak melihat hubungan-hubungan yang terdapat di antara-antara variabel-variabel itu. Hubungan yang mungkin timbul di antara variabel-variabel-variabel-variabel tersebut adalah hubungan kausal dan hubungan timbal balik. Hubungan kausal adalah hubungan sebab akibat. Di sini ada variabel independen (mempengaruhi) dan variabel dependen (dipengaruhi). Hubungan timbal balik adalah hubungan saling mempengaruhi. Dalam hal ini sulit diketahui, mana variabel independen dan mana

40

variabel dependen.54 Dengan memahami hubungan yang ada di antara variabel-variabel itu, peneliti dapat menemukan inti permasalahan dalam penelitian.

3.2.5 Rumusan Masalah Penelitian

Idealnya para aktivis kerasulan Pengembangan Sosial Ekonomi melaksanakan karya mereka dengan berpedomankan Ajaran Sosial Gereja.

Namun tampaknya umat beriman belum mengetahui dan memahami Ajaran Sosial Gereja. Bagaimanakah peran ASG dalam kerasulan PSE? Bagaimana prinsip-prinsip ASG menjiwai para aktivis PSE di paroki?

3.2.6 Hipotesa Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, penulis coba merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: “Kurangnya pemahaman para aktivis PSE paroki terhadap prinsip-prinsip dasar Ajaran Sosial Gereja mempengaruhi tingkat keterlibatan para aktivis PSE dalam pelaksanaan kerasulan PSE di paroki”.

3.2.7 Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini penulis menyebarkan kuesioner untuk mendapatkan data kuantitatif yang kemudian dianalisa. Dalam melaksanakan pengumpulan data, penulis memberikan secara langsung kuesioner kepada para responden untuk menjawab semua pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner. Perjumpaan dengan

54 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 37.

41

para responden terlaksana dalam pertemuan dengan para aktivis PSE di masing-masing wilayah.

3.3 Analisa Hasil Penelitian

Langkah-langkah membuat analisa atas data-data hasil penelitian yaitu pertama, mendeskripsikan reponden penelitian yakni para aktivis PSE Paroki

Langkah-langkah membuat analisa atas data-data hasil penelitian yaitu pertama, mendeskripsikan reponden penelitian yakni para aktivis PSE Paroki

Dalam dokumen GELAR MAGISTER TEOLOGI 2014 (Halaman 34-0)