Bab IV. Analisa Sosial atas Kondisi Sosial Masyarakat Jakarta
4.4 Kompleksitas Masyarakat Metropolitan
4.4.1 Kondisi Demografi Jakarta
4.4.1.2 Jakarta Timur
Kotamadya Jakarta Timur terbagi dalam 10 kecamatan, 65 kelurahan, 697 Rukun Warga dan 7.810 Rukun Tetangga. Berdasarkan data BPS tahun 2010, tercatat jumlah penduduk berjumlah 2.693.896 jiwa, dengan rincian 1.372.300 penduduk laki-laki dan 1.321.596 penduduk perempuan. Jumlah rumah tangga sebanyak 690.608 rumah tangga.
Kotamadya Jakarta Timur mempunyai potensi pengembangan di sektor industri. Hal ini dapat dilihat dari terdapatnya sejumlah kawasan industri di wilayah Jakarta Timur. Pengembangan di sektor perdagangan juga diarahkan untuk memperlancar arus barang jasa dan penyediaan kebutuhan pokok dengan harga layak.88 Kotamadya Jakarta Timur dalam program pengembangannya dipersiapkan sebagai kota wisata belanja dengan menggali berbagai hal yang dapat dijadikan potensi obyek wisata.89
87 Ma‘mun I.R, Mengenal Banjir Jakarta, Referensi: Jakarta, 2012,47.
88 Ma‘mun I.R, Mengenal Banjir Jakarta, 48.
89 Ma‘mun I.R, Mengenal Banjir Jakarta, 48.
100 4.4.1.3 Jakarta Barat
Kotamadya Jakarta Barat terbagi menjadi 8 kecamatan, 56 kelurahan, 577 Rukun Warga, 6.376 Rukun Tetangga. Berdasarkan data BPS tahun 2010, tercatat jumlah penduduk berjumlah 2.281.945 jiwa, dengan rincian 1.164.446 penduduk laki-laki dan 1.117.499 penduduk perempuan. Jumlah rumah tangga sebanyak 608.342 rumah tangga.
Kotamadya Jakarta Barat merupakan bagian dari wilayah Ibukota Jakarta yang mempunyai kekhususan sebagai kota tua dan kota metropolitan yang serba megah. Di wilayah Jakarta Barat terdapat bangunan-bangunan kuno dan gedung-gedung mewah seperti hotel, plaza, apartemen, dsb.90 Industri yang berkembang di wilayah ini merupakan industri kecil yang terdiri dari industri hasil pertanian dan kehutanan, industri kimia, industri aneka, serta industri logam, mesin dan elektronika. Sentra-sentra industri kecil juga terdapat di seluruh wilayah Jakarta Barat.91
4.4.1.4 Jakarta Selatan
Kotamadya Jakarta Selatan terbagi dalam 10 kecamatan, 65 kelurahan, 676 Rukun Warga, dan 6.199 Rukun Tetangga. Berdasarkan data BPS tahun 2010, tercatat jumlah penduduk berjumlah 2.062.232 jiwa, dengan rincian 1.043.675 penduduk laki-laki dan1.018.557 penduduk perempuan. Jumlah rumah tangga sebanyak 532.887 rumah tangga.
90 Ma‘mun I.R, Mengenal Banjir Jakarta, 49.
91 Ma‘mun I.R, Mengenal Banjir Jakarta, 49.
101
Wilayah kotamadya Jakarta Selatan cocok digunakan sebagai daerah resapan air, dengan iklimnya yang sejuk sehingga ideal dikembangkan sebagai wilayah pemukiman secara terbatas. Di wilayah ini terdapat rawa dan situ sebagai tempat resapan air. Di wilayah ini juga banyak memiliki kegiatan usaha dan perkantoran sebagai sentra bisnis.92 Dalam pengembangan industri, kotamadya Jakarta Selatan mengembangkan industri kecil yang tidak berpolusi dan berwawasan lingkungan hidup. Selain itu juga terdapat sentra-sentra industri yang terdiri dari berbagai macam komoditi seperti sandang, pangan, kerajinan (mebel, kusen), sepatu/sandal, serta berbagai macam kue basah dan kue kering.93
4.4.1.5 Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Kotamadya Jakarta Utara terbagi dalam 6 kecamatan, 31 kelurahan, 419 Rukun Warga, dan 4.887 Rukun Tetangga. Berdasarkan data BPS tahun 2010, tercatat jumlah penduduk berjumlah 1.645.659 jiwa, dengan rincian 453.591 penduduk laki-laki dan 821.179 penduduk perempuan. Jumlah rumah tangga sebanyak 437.182 rumah tangga.
Sedangkan Kota Administratif Kepulauan Seribu terbagi dalam 2 kecamatan, 6 kelurahan, 24 Rukun Warga dan 119 Rukun Tetangga. Berdasarkan data BPS tahun 2010, tercatat jumlah penduduk berjumlah 21.082 jiwa, dengan rincian 10.711 penduduk laki-laki dan 10.371 penduduk perempuan. Jumlah rumah tangga sebanyak 4.870 rumah tangga.
92 Ma‘mun I.R, Mengenal Banjir Jakarta, 50.
93 Ma‘mun I.R, Mengenal Banjir Jakarta, 50.
102 4.4.2 Dampak Kemajemukan Masyarakat
Kondisi Kota Jakarta dengan tingkat kemajemukan yang tinggi melahirkan berbagai dampak bagi perkembangan kota dan bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya. Beberapa hal dapat dilhat sebagai dampak dari kemajemukan masyarakat di Jakarta. Pertama, Jakarta menjadi kota metropolitan yang masih memiliki ciri khas budaya kampung atau desa. Jakarta adalah kampung besar yang sedang berkembang menjadi metropolitan, tetapi tidak mampu menghilangkan ciri kampungnya. Di Jakarta berkembang dengan kuat pengaruh budaya kosmopolitan lewat media masa, kehadiran industri maupun interaksi dengan bangsa-bangsa lain. Tetapi pada saat yang sama, Jakarta juga dibanjiri migran daerah pedesaan yang miskin dan kurang berpendidikan serta berketerampilan rendah. Di kampung metropolitan ini bercampur aduk antara budaya kosmopolitan dengan budaya desa, urbanisasi dengan ruralisasi, meningkatnya rasionalisme berbarengan dengan bertahannya tradisionalisme.94
Kedua, pertambahan penduduk dengan variasi pekerjaan dan pendapatan mengakibatkan adanya sistem pelapisan sosial yang kompleks. Landasan sistem pelapisan sosial di kota ialah mereka yang mempunyai keahlian spesialisasi dan yang penekanan kerjanya dengan penggunaan pemikiran akan menduduki tempat tinggi.95
Ketiga, kompleksnya kehidupan sosial di Jakarta juga ditandai dengan kenyataan, di kota hidup anggota-anggota dari berbagai suku, bangsa, agama, dan
94 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 94-95.
95 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 96.
103
latar belakang. Semboyan Bhineka Tunggal Ika, menunjukkan Jakarta adalah
―Indonesia mini‖. Semboyan ini bukan sesuatu yang sudah mantap dan tak terganggu lagi, melainkan yang harus selalu diperjuangkan dan selalu diberi isi baru. Kebhinekaan yang tidak terpadu dalam kesatuan, akan menimbulkan perpecahan dan mengganggu ketenangan hidup bangsa serta jalannya pemerintahan dan kesemarakan hidup berbangsa dan bernegara.96
4.4.3 Tantangan-Tantangan
Sejumlah tantangan yang mungkin muncul dalam kondisi kemajemukan masyarakat di Kota Jakarta, antara lain:
1. Tantangan kesenjangan sosial. Keberhasilan pembangunan dalam bidang ekonomi dirasakan berhasil mengurangi jumlah orang miskin di Indonesia, namun jurang antara masyarakat golongan elite dan golongan sederhana sangat lebar. Di belakang gedung-gedung pencakar langit, mewah dan mentereng, berjubel pemukiman kumuh rakyat kecil.97
2. Tantangan yang bersifat sosial politik. Sejumlah gejala yang muncul di masyarakat menunjukkan adanya tantangan dalam hidup bernegara dan berbangsa. Adanya keinginan dari sejumlah kelompok orang yang ingin mendirikan negara bukan berdasarkan
96 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 96-97.
97 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 98.
104
Pancasila melainkan atas nama salah satu agama atau golongan tertentu.98
3. Korupsi dalam masyarakat. Kenyataan lain yang hidup dalam masyarakat adalah merajalelanya korupsi. Korupsi menggerogoti hasil pembangunan, menggagalkan perwujudan keadilan sosial dan memperlambat perbaikan nasib orang miskin.99
4. Tantangan modernisasi. Modernisasi yang dapat diartikan sebagai proses menyeluruh yang merombak cara hidup manusia menjadi pragmatis, efektif dan efisien yang berasal dari peradaban Barat, merasuk cepat di Indonesia. Modernisasi bisa menjadi peluang untuk membangun hidup bersama yang lebih sesuai dengan martabat manusia, sekaligus sebaliknya dapat merusak nilai-nilai luhur tradisional yang sudah ada.100
5. Tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu hasil modernisasi yang pada dasarnya netral tetapi dalam kenyataan bisa mengenyahkan manusia. Atas nama iptek demi kemaslahatan manusia, persoalan etik pun muncul. Sebagai contoh: demi efisiensi tenaga manusia digantikan mesin yang menimbulkan dampak hilangnya lapangan kerja; atas
98 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 98-99.
99 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 99.
100 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 99.
105
nama kesejahteraan keluarga dengan dua anak segala cara kontrasepsi dibolehkan; dll.101
6. Tantangan media massa. Media massa akan semakin menentukan nilai dan pandangan hidup masyarakat. Budaya yang diwujudkan oleh media massa terutama media audio visual merupakan budaya hedonistik, yakni hidup yang mengagung-agungkan kesenangan.
Dalam budaya ini, hidup punya arti dan diakui orang lain bila penuh kesenangan, kemewahan, dan kenikmatan. Informasi dan hiburan yang disampaikan melalui media-media tersebut sering melupakan segi-segi unsur pendidikan, dan dengan pertimbangan faktor bisnis sebagai pertimbangan utama, fungsi media massa pun bergeser bukan lagi edukatif tetapi destruktif.102
7. Tantangan krisis makna generasi muda. Krisis makna generasi muda mengancam masyarakat pada umumnya, dan terasa paling tajam diderita kaum muda. Putus sekolah atau universitas, kesulitan mencari pekerjaan, masa depan yang gelap, disorientasi, kesulitan komunikasi dengan generasi tua, kegamangan menghayati hidup di kota besar, mengakibatkan keretakan keluarga-keluarga di Jakarta.
Keadaan ini ditambah lagi dengan terjangkitinya dampak-dampak
101 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 100.
102 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 100.
106
negatif seperti sikap hidup hedonis lewat pemakaian obat-obat terlarang.103
8. Tantangan fanatisme agama. Sejalan dengan perkembangan orang kota yang serba instant, tak jarang mereka terjerumus pada berbagai sikap fanatik, termasuk fanatisme dalam kehidupan beragama.104
9. Tantangan menajamnya kontras-kontras sosial. Masyarakat Jakarta dapat dibagi antara mereka yang merasa mempunyai harapan dan mereka yang tidak mempunyai harapan atau sekurang-kurangnya merasa tetap mandeg, tetap tidak kebagian hasil pembangunan;
antara mereka yang maju bersamaan dengan kemajuan pembangunan dan mereka yang merasa hidup pas-pasan; antara mereka yang menikmati gaya hidup dan gaya kerja modern dan mereka yang hanya menjadi penonton atau paling-paling pelayan dalam dunia modern itu. Berbagai kontradiksi tersebut menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil masyarakat bisa berpartisipasi dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi, sedangkan bagian lebih besar menjadi marginal, didesak ke pinggir dan tidak mempunyai pengaruh serta tidak diperhatikan.105
103 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 102.
104 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 102.
105 Tonny D. Widiastono (ed), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman, Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, 102-103.
107 4.5 Permasalahan Sosial yang Khas di Jakarta
Kota Jakarta merupakan kota yang menarik. Fasilitas, modernitas serta laju pembangunan seakan-akan memusat di Jakarta. Maka, tidaklah mengherankan kalau banyak orang datang berbondong-bondong ke Jakarta. Meskipun demikian, di tengah gemerlapnya kehidupan Kota Jakarta tetap menyisakan sejumlah permasalahan sosial. Kontras tajam kehidupan masyarakat hadir secara mencolok di Jakarta. Penulis hendak membahas tiga permasalahan sosial yang erat kaitannya dengan penelitian lapangan yang telah dilakukan, yakni masalah kemiskinan, urbanisasi dan banjir.
4.5.1 Kemiskinan
Sebelum melihat kemiskinan yang ada di Jakarta penulis merasa perlu untuk melihat sejumlah perspektif terkait dengan masalah kemiskinan.Kemiskinan umumnya dipahami sebagai kondisi di mana kebutuhan-kebutuhan pokok tidak dapat terpenuhi, pendapatan amat rendah ataupun kehidupan di bawah garis kemiskinan. Orang yang dianggap miskin biasanya para gelandangan, pengemis, pedagang asongan, buruh harian, dst. Namun, masalah kemiskinan sebenarnya memiliki banyak segi dan dimensi, sehingga tidak mudah untuk menentukan tolok ukur yang tepat mengenai kemiskinan.106
Dalam ilmu-ilmu sosial dibedakan antara kemiskinan mutlak dan relatif yang umumnya memang saling berkaitan. Kemiskinan mutlak berarti bahwa kebutuhan-kebutuhan pokok yang primer seperti pangan, sandang, papan,
106 J. B. Banawiratma & J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, 124.
108
kesehatan (air bersih, sanitasi), kerja yang wajar dan pendidikan dasar tak terpenuhi, apalagi kebutuhan-kebutuhan sekunder seperti misalnya hak berpartisipasi, rekreasi atau lingkungan hidup yang menyenangkan.107 Kemiskinan relatif menyangkut pembagian pendapatan nasional dan berarti bahwa ada perbedaan yang mencolok antara berbagai lapisan atau kelas dalam masyarakat. Dengan demikian pasti ada orang yang bisa disebut miskin dibandingkan mereka yang sangat kaya raya.108
Sementara itu pendapat perihal munculnya kemiskinan dalam suatu masyarakat juga sangat beragam. Kemiskinan dapat dikaitkan dengan budaya yang hidup dalam suatu masyarakat. Dalam konteks pandangan ini maka kemiskinan dikaitkan dengan rendahnya etos kerja anggota masyarakat. Apabila seseorang rajin bekerja dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan hidup dengan kecukupan.109
Ada pandangan lain pula yang melihat bahwa kemiskinan dalam masyarakat disebabkan karena adanya ketidakadilan dalam pemilikan faktor produksi. Sebagai contoh, pemilikan tanah yang tidak merata dalam suatu masyarakat pedesaan akan menimbulkan kemiskinan dalam masyarakat itu.
Pembagian faktor produksi yang tidak merata itu menyebabkan masyarakat pedesaan terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok pemilik tanah dan kelompok yang tidak memiliki tanah. Kelompok yangmemiliki tanah akan
107 J. B. Banawiratma & J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu,126.
108 J. B. Banawiratma & J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, 126.
109 Loekman Soetrisno, Kemiskinan, Perempuan dan Pemberdayaan, Kanisius, Yogyakarta, 1997, 16.
109
mendominasi baik secara ekonomis maupun dalam kehidupan sosial masyarakat pedesaan.110
Perspektif lain tentang munculnya kemiskinan dalam masyarakat yakni kemiskinan dikaitkan dengan model pembangunan yang dianut suatu negara.
Model pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi suatu negara akan menimbulkan kemiskinan pada sekelompok orang dalam suatu negara. Model pembangunan ini akan menimbulkan kepincangan antara sektor ekonomi modern dan sektor ekonomi tradisional di mana sebagian besar penduduk suatu negara menggantungkan hidup mereka. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, sektor ekonomi modern akan memperoleh berbagai fasilitas ekonomi dan dukungan politik dari pemerintah agar mereka mampu membantu pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi. Sektor ekonomi tradisional akan mengalami kebijakan ekonomi yang menganaktirikan mereka.
Dalam situasi seperti ini maka pembangunan dan hasilnya akan dinikmati oleh sekelompok kecil orang, sedangkan mayoritas penduduk akan hidup tanpa menikmati hasil pembangunan.111 Ketiga perspektif itu memang tidak bisa menjawab secara keseluruhan penyebab terjadinya kemiskinan karena melihatnya dari satu faktor saja, namun sungguh membantu untuk memberi gambaran tentang situasi kemiskinan yang terjadi.
Untuk konteks kemiskinan yang ada di Jakarta, penulis menggunakan tolok ukur berdasarkan hasil olahan data yang dibuat oleh Badan Pusat Statistik.
Untuk mengukur jumlah dan prosentase penduduk miskin di DKI Jakarta, BPS
110 Loekman Soetrisno, Kemiskinan, Perempuan dan Pemberdayaan, 16.
111 Loekman Soetrisno, Kemiskinan, Perempuan dan Pemberdayaan, 16-17.
110
menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini dapat dihitung prosentase penduduk miskin terhadap total penduduk.112
Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan, yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan dan Garis Kemiskinan Non Makanan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.113 Sebagai contoh penulis mengambil data pada bulan Maret 2013.
Tabel 4.2 Garis Kemiskinan, Jumlah dan Prosentase Penduduk Miskin di DKI Sumber: Diolah dari data Susenas Maret 2012, September 2012 dan Maret 2013
Berdasarkan tabel tersebut, jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2013 sebesar 354.190 jiwa. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan pada
112 http://www.jakarta.go.id/web/news/2013/07/tingkat-kemiskinan-di-dki-jakarta-maret-2013
113 http://www.jakarta.go.id/web/news/2013/07/tingkat-kemiskinan-di-dki-jakarta-maret-2013
111
bulan Maret 2012. Dari seluruh penduduk DKI Jakarta, prosentase penduduk miskin bulan Maret 2013 sebesar 3,55 persen. Dari tabel tersebut juga terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan).
Untuk perkembangan tingkat kemiskinan di DKI Jakarta dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat dalam grafik berikut.
Jumlah dan persentase penduduk miskin menurun dari tahun 2003 ke 2004. Namun pada tahun 2005 sampai 2006 jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan. Kemudian mulai tahun 2007 sampai 2010 jumlah dan persentase penduduk miskin terus menurun. Tahun 2011 jumlah penduduk miskin naik, namun dari tahun 2012 dan 2013 kembali menurun.114
4.5.2 Urbanisasi
Untuk kota besar seperti Jakarta, masalah urbanisasi dan migrasi merupakan masalah serius yang perlu ditanggulangi. Ketidakseimbangan antara
114 http://www.jakarta.go.id/web/news/2013/07/tingkat-kemiskinan-di-dki-jakarta-maret-2013
112
pertambahan penduduk di satu pihak, baik secara alamiah maupun karena migrasi, dan kelangkaan lapangan kerja di lain pihak telah menimbulkan berbagai persoalan seperti pengangguran, pelacuran, kejahatan, pencemaran lingkungan, kenakalan remaja, dsb.115
Urbanisasi dapat didefinisikan sebagai proses perpindahan penduduk dari desa ke kota, sehingga terjadi konsentrasi pemukiman penduduk di kota.
Urbanisasi juga dapat diartikan sebagai pertambahan penduduk. Pertambahan penduduk berarti bertambahnya penghuni kota secara keseluruhan yang berasal dari penduduk baru, jadi tidak termasuk pertambahan secara alamiah.116
Apakah arus urbanisasi perlu dikhawatirkan atau merupakan suatu proses yang wajar? Bila kota dianggap merupakan faktor pemicu dalam tumbuhnya modernisasi, apalah salahnya penduduk mengalir ke kota untuk ―digodok‖ di sana dan menjadi manusia baru?117 Tetapi pada umumnya kekhawatiran akan proses urbaniasasi disebabkan karena pertambahan fasilitas dan lapangan kerja baru tidak sepadan dengan pertambahan penduduk. Pendatang-pendatang baru menimbulkan berbagai persoalan baru, diakibatkan oleh pola pemukiman mereka yang dianggap menurunkan derajat kota dan cara mereka mencari nafkah.118
115 Muljanto Sumardi & Hans Dieter Evers (ed), Urbanisasi Masalah Kota Jakarta, Pusat Pembinaan Sumber Daya Manusia (PPSM), Jakarta, 1979, I.
116 Agusfidar Nasution, ―Daya Tarik dan Daya Dorong Migrasi‖ dalam Muljanto Sumardi & Hans Dieter Evers (ed), Urbanisasi Masalah Kota Jakarta, Pusat Pembinaan Sumber Daya Manusia (PPSM), Jakarta, 1979, 25.
117 Masri Singarimbun, ―Urbanisasi: Apakah itu Suatu Problema?‖, dalam Majalah Prisma6 (1997:5), 4.
118 Masri Singarimbun, ―Urbanisasi: Apakah itu Suatu Problema?‖, 4.
113
Pembicaraan mengenai urbanisasi di Jakarta senantiasa dihubungkan dengan faktor penarik dan faktor pendorong. Adapun faktor penarik urbanisasi di Jakarta antara lain:
1. Jakarta sebagai pusat administrasi pemerintahan. Sistem administrasi pemerintahan di Indonesia dipusatkan di Jakarta.
Semua kegiatan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan umumnya dipusatkan di Jakarta.
Walaupun semua kegiatan tersebut diperuntukkan bagi kepentingan semua penduduk di seluruh tanah air, namun karena beberapa hal maka yang merasakan akibatnya pertama-tama adalah penduduk Jakarta. Orang tentu menginginkan perbaikan atau peningkatan berbagai aspek kehidupannya yang lebih cepat. Maka, banyak orang dengan berbagai macam latar belakang datang ke Jakarta berharap dapat menjalankan urusannya lebih cepat.119
2. Sistem politik pembangunan. Penanaman modal asing banyak direalisir di Jakarta, sehingga bentuk fisik kota Jakarta menjadi semakin mengagumkan. Hal ini juga membuka kesempatan kerja atau lapangan kerja baru. Lapangan kerja di kota akan memberikan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penghasilan di desa.120
3. Jakarta sebagai pusat perekonomian. Jakarta merupakan pusat perdagangan, pusat perindustrian, perusahaan, dsb. Hal ini juga
119Agusfidar Nasution, ―Daya Tarik dan Daya Dorong Migrasi‖, 28.
120Agusfidar Nasution, ―Daya Tarik dan Daya Dorong Migrasi‖, 28-29.
114
akan menarik penduduk di seluruh tanah air untuk datang ke Jakarta. Pemusatan dan pengembangan ekonomi dengan berbagai sektornya akan memberikan lapangan kerja yang lebih banyak lagi.
Kesempatan kerja yang lebih luas ini merupakan faktor utama yang menarik para migran untuk datang ke Jakarta.121
4. Jakarta sebagai pusat kegiatan sosial. Di Jakarta terdapat bermacam-macam kegiatan sosial karena di sini tempat berkumpulnya perantau dari berbagai pelosok Indonesia. Masing-masing perantau umumnya membentuk suatu hubungan kekerabatan atau kekeluargaan, entah itu berdasarkan daerah asal, suku, pekerjaan, dsb. Adanya lembaga sosial ini merupakan penarik bagi orang-orang daerah untuk datang ke Jakarta, karena adanya lembaga tersebut akan memudahkan kaum pendatang baru untuk datang dan bermukim.122
5. Jakarta sebagai pusat kebudayaan. Daya tarik para migran untuk datang ke Jakarta juga disebabkan karena Jakarta adalah pusat kebudayaan. Di Jakarta telah tersedia dan dibangun berbagai pusat kebudayaan dari segala macam bentuk dan jenisnya yang mencerminkan kebudayaan Indonesia secara keseluruhan. Para peminat kebudayaan dari seluruh pelosok Indonesia cukup pergi ke Jakarta untuk mengetahuinya.123
121Agusfidar Nasution, ―Daya Tarik dan Daya Dorong Migrasi‖, 29.
122Agusfidar Nasution, ―Daya Tarik dan Daya Dorong Migrasi‖, 29.
123Agusfidar Nasution, ―Daya Tarik dan Daya Dorong Migrasi‖, 29.
115
6. Sistem komunikasi. Jaringan komunikasi dan transportasi antara Jakarta dan daerah-daerah di seluruh tanah air sudah semakin baik.
Hal ini secara tidak langsung menjadi penarik bagi orang-orang di daerah untuk menuju Jakarta. 124
7. Fasilitas pendidikan. Fasilitas pendidikan di Jakarta jauh lebih banyak dan bermutu baik. Pengembangan bakat, minat dan berbagai jenis kebutuhan pendidikan lainnya akan lebih terjamin di sini.
Sementara itu, faktor pendorong terjadinya urbanisasi ke Jakarta antara lain:
1. Dorongan disebabkan faktor ekonomi. Bermacam-macam variasi yang dapat dimasukkan ke dalam alasan ekonomi para migran datang ke Jakarta, antara lain: 1) tidak ada pekerjaan di desa; 2) kesulitan ekonomi; 3) harapan akan mendapatkan pekerjaan; 4) memperbaiki kualitas kehidupan. Sistem perekonomian di daerah yang tidak memberi dan menciptakan ruang hidup baru bagi penduduknya menyebabkan ada di antara mereka yang meninggalkan desanya untuk kemudian menuju ke kota.125
2. Dorongan disebabkan faktor sosial. Salah satu masalah sosial di desa ialah masalah perkawinan. Terdapat suatu kecenderungan cukup besar bahwa migran laki-laki akan kawin dengan wanita sekampungnya. Mereka pulang untuk kawin atau menyuruh datang
124Agusfidar Nasution, ―Daya Tarik dan Daya Dorong Migrasi‖, 29.
125Agusfidar Nasution, ―Daya Tarik dan Daya Dorong Migrasi‖, 30-31.
116
calon istri ke Jakarta. Demikian juga migran wanitanya. Hal ini merupakan pendorong pula bagi orang-orang di desa untuk menuju Jakarta.
3. Dorongan disebabkan faktor ekologi dan demografi. Lingkungan alam daerah pedesaan sebagian besar sudah tidak mengizinkan lagi untuk pengembangan taraf kehidupan penduduk. Mata pencaharian penduduk di desa adalah bertani, namun lahan pertanian pada umumnya tidak bertambah. Akibatnya ruang gerak kaum petani sudah semakin terbatas. Masalah ini ditambah lagi dengan pertambahan penduduk yang mempunyai tendensi ke arah
3. Dorongan disebabkan faktor ekologi dan demografi. Lingkungan alam daerah pedesaan sebagian besar sudah tidak mengizinkan lagi untuk pengembangan taraf kehidupan penduduk. Mata pencaharian penduduk di desa adalah bertani, namun lahan pertanian pada umumnya tidak bertambah. Akibatnya ruang gerak kaum petani sudah semakin terbatas. Masalah ini ditambah lagi dengan pertambahan penduduk yang mempunyai tendensi ke arah